Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNIK PEMBENIHAN IKAN NILA (Oroechomis niloticus)

Modul : Teknik Pembenihan


Mata k. : Dasar-Dasar Akuakultur
Dosen : Ir. Ridwan, M.P.
Tekhnisi : Suryadi

Oleh:
Nama : EVI NURSANTI
Nim : 192201022
Kelas : A BDP
Kelompok : B

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERIKANAN


JURUSAN BUDIDAYA PERIKANAN
POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PANGKEP

2019/2020
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Indonesia memiliki jumlah perairan yang sangat luas dan berpotensi menjadi budidaya
perikanan. Potensi sumber daya perikanan meliputi keanekaragaman jenis ikan dan lahan
perikanan. perairan tawar menjadi salah satu perikanan yang cukup potensial dan prospek yang
tinggi. Salah satu perikana air tawar yaitu Ikan Nila adalah salah satu ikan air tawar yang banyak
dibudidayakan di seluruh pelosok tanah air dan menjadi ikan konsumsi yang cukup populer.
Penyebabnya yaitu ikan nila merupakan salah satu komoditas perikanan air tawar yang telah
memperoleh perhatian cukup besar dari pemerintah dan pemerhati masalah perikanan didunia,
terutama berkaitan dengan usaha peningkatan gizi masyarakat di negara-negara yang sedang
berkembang. (Khairuman dan Khairul, 2003).

Hal ini dapat tercapai dengan mudah karena tingkat produktivitas dan kemampuan
berkembang biak ikan mujair cukup tinggi. Namun, dalam hal ukuran tubuh, ikan mujair dinilai
masih kurang menguntungkan untuk diusahakan karena bobot tubuhnya relatif kecil dan tidak
dapat diupayakan lagi peningkatannya. Dengan demikian, penilaian tentang ikan nila sebagai
ikan yang memiliki laju pertumbuhan cepat didunia perikanan. Dalam perkembangannya, para
peneliti ternyata tidak puas dengan hanya menyebarluaskan ikan nila biasa atau nila lokal yang
sudah terbukti memiliki laju pertumbuhan jauh lebih cepat dibandingkan ikan mujair
(Khairuman dan Khairul, 2003).

Pembenihan air tawar merupakan salah satu prosedur pada budidaya ikan nila. pembenihan
memerlukan pekerjaan yang sangat intensif karena prosedur tersebut merupakan fase sangat
kritis alam budidaya. oleh sebab itu pembenihan ikan nila menjadi sangat penting untuk budiaya
ikan nila.

1.2 Tujuan
Mahasiswa mampu melakukan penihan ikan nila mulai dari pemijahan hingga
pendederan larva ikan nila.
BAB II
METODEOLOGI
2.1. Waktu dan Tempat

Waktu : 08.00-09.40 WITA


Tempat : LABORATORIUM PEMBESARAN IKAN
Hari/tanggal : SELASA / 3 September - 15 Oktober 2019

2.2. Alat dan Bahan


2.2.1. Alat
 Kolam
 Aerasi
 Pipa Besar
 Timbangan
 Baskom
 Bak Larva
 Seser

2.2.2. Bahan
 Air
 Pakan
 Eceng gondok /Asolla
2.3. Prosedur Kerja

2.3.1. Tahapan operasional pembenihan


1) Pemilihan lokasi
2) Pengadaan induk
3) Pemeliharaan induk / pematangan gonad
4) Pemijahan
5) Penanganan telur
6) Perawatan larva
7) Penyediaan pakan
8) Penanganan dan penanggulangan penyakit
9) Panen
2.3.2. Persyaratan lokasi

1) Persyaratan dan lokasi yang baik untuk budidaya ikan lele adalah sebagai berikut:
 Tanah yang baik untuk kolam pemeliharaan adalah jenis tanah liat/lempung, tidak
berporos. Jenis tanah tersebut dapat menahan massa air yang besar dan tidak
bocor sehingga dapat dibuat pematang/dinding kolam.
 Kemiringan tanah yang baik untuk pembuatan kolam berkisar antara 3-5% untuk
memudahkan pengairan kolam secara gravitasi.
 Ikan nila cocok dipelihara di dataran rendah sampai agak tinggi (500 m dpl).
 Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh dan
tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak/limbah pabrik. Kekeruhan
air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat pertumbuhan ikan.
Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya plankton. Air yang kaya
plankton dapat berwarna hijau kekuningan dan hijau kecokelatan karena banyak
mengandung Diatomae. Sedangkan plankton/alga biru kurang baik untuk
pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan air karena plankton harus dikendalikan
yang dapat diukur dengan alat yang disebut piring secchi (secchi disc). Untuk di
kolam dan tambak, angka kecerahan yang baik antara 20-35 cm.
 Debit air untuk kolam air tenang 8-15 liter/detik/ha. Kondisi perairan tenang dan
bersih, karena ikan nila tidak dapat berkembang biak dengan baik di air arus
deras.
 Nilai keasaman air (pH) tempat hidup ikan nila berkisar antara 6-8,5. Sedangkan
keasaman air (pH) yang optimal adalah antara 7-8.
 Suhu air yang optimal berkisar antara 25-30o C.
 Kadar garam air yang disukai antara 0-35 per mil.
2) Proses pengolahan lahan

 Pembersihan bak dari kotoran/sisa pembenihan sebelumnya.


 Penjemuran bak agar kering dan bibit penyakit mati. Pemasukan air langsung
penuh dan segera diberi perlakuan TON dengan dosis sama.

2.3.3. Pengadaan induk

Ciri-ciri induk bibit nila yang unggul adalah sebagai berikut:


a. Mampu memproduksi benih dalam jumlah yang besar dengan kwalitas
yang tinggi.
b. Pertumbuhannya sangat cepat.
c. Sangat responsif terhadap makanan buatan yang diberikan.
d. Resisten terhadap serangan hama, parasit dan penyakit.
e. Dapat hidup dan tumbuh baik pada lingkungan perairan yang relatif buruk.
f. Ukuran induk yang baik untuk dipijahkan yaitu 120-180 gram lebih per ekor
dan berumur sekitar 4-5 bulan.
2.3.4. Pemeliharaan induk / pematangan gonad

a. Ciri-ciri induk nila siap memijah

calon induk terlihat mulai berpasang-pasangan, kejar-kejaran antara


yang jantan dan yang betina. Induk tersebut segera ditangkap dan
ditempatkan dalam kolam tersendiri untuk dipijahkan.
b. Perawatan induk nila:

o Selama masa pemijahan dan masa perawatan, induk ikan nila diberi
makanan yang berkadar protein tinggi seperti makanan buatan (pellet).
o Makanan diberikan pagi hari dan sore hari dengan
o jumlah 5-10% dari berat total ikan.
o Setelah benih berumur seminggu, induk betina dipisahkan, sedangkan
induk jantan dibiarkan untuk menjaga anak-anaknya. Induk jantan baru
bias dipindahkan apabila anak-anak nila sudah berumur 2 minggu.
o Segera pisahkan induk-induk yang mulai lemah atau yang terserang
penyakit untuk segera diobati.
o Mengatur aliran air masuk yang bersih, walaupun kecepatan aliran tidak
perlu deras, cukup 5-6 liter/menit.

2.3.5. Pemijahan

a. Teknik pemijahan
 Siapkan indukan yang siap memijah (matang Gonad).
 Ikan nila matang gonad bisa dilihat dari bagian bawah perut ikan, pada nila
jantan jika diurut akan keluar cairan putih dan bentuk lebih panjang.
Sedangkan pada nila betina bentuk bulat pendek, jika diurut akan keluar telur
Selain itu nila betina yang siap memijah perut nampak gendut.
 Siapkan bak pemijahan.
 Bak pemijahan berukuran 2 x 3 x 0.8 meter atau ukuran lain menyesuaikan
dengan ukuran indukan yang akan dipijahkan dan situasi. Bak pemijahan bisa
menggunakan kolam terpal.
 Menyiapkan kakaban
 Kakaban merupakan media untuk bertelur ikan lele. Kakaban terbuat dari ijuk
yang dijepit memakai bambu. Diletakkan di dalam kolam dan diberi pemberat
agar tenggelam.
 Mengisi bak pemijahan dengan air.
 Isi bak pemijahan dengan air bersih dan bening, jangan lupa sebelum diisi air ,
kolam harus dipastikan bersih dan bebas penyakit. Telur ikan dan burayak
sensitif terhadap penyakit dan jamur.
 Memasukkan indukan
 Indukan dimasukkan pada kolam pemijahan pada sore hari dan akan memijah
pada malam hari. Jika dengan penyuntikan sebelum dimasukkan tentu harus
disuntik terlebih dahulu. Jangan lupa menutup bak pemijahan dengan kain
hafa/jaring untuk menghindari ikan nila melompat.
 Mengangkat indukan
 Pada pagi hari setelah semua telur menetas, angkat indukan dan pisahkan dari
telur. Jika tidak dipisahkan indukan akan memakan telur-telur tersebut. Ganti
sebagian air bak dengan air bersih.
2.3.6. Penanganan telur

Untuk penanganannya telur ikan nila biasanya telurnya dilekatkan pada substrat.
Telur yang telah menempel pada kakaban dapat ditetaskan dalam wadah budidaya
disesuaikan dengan sistem budidaya yang akan diaplikasikan. Selama penetasan telur, air
dialirkan terus menerus. Seluruh telur yang akan ditetaskan harus terendam air, kakaban
yang penuh dengan telur diletakan terbalik sehingga telur menghadap ke dasar bak.
Dengan demikian telur akan terendam air seluruhnya.

Telur yang telah dibuahi berwarna kuning cerah kecoklatan, sedangkan telur yang
tidak dibuahi berwarna putih pucat. Di dalam proses penetasan telur diperlukan suplai
oksigen yang cukup. Untuk memenuhi kebutuhan akan oksigen terlarut dalam air, setiap
bak penetasan di pasang aerasi. Telur akan menetas tergantung dari suhu air wadah
penetasan dan suhu udara. Jika suhu semakin panas, telur akan menetas semakin cepat.
Begitu juga sebaliknya, jika suhu rendah, menetasnya semakin lama. (Tucker, et al,2004).

Telur-telur akan menetas menjadi burayak dalam waktu kurng lebih 4 hari
kemudian, selama itu telur-telur yang akan menetas berwarna bening sedangkan yang
tidak akan menetas berwarna putih. Buang dan ambil telur-telur yang tidak menetas
dengan jaring, sedot dengan selang atau cara lain agar tidak mencemari kolam.
2.3.7. Perawatan larva

Telur yang sudah menetas akan menjadi larva, pada perawatan larva ini harus
dilakukan pengontrolan dengan baik, hal ini dikarenakan larva ikan sangat rentan
terhadap perubahan kualitas air, jika ini terjadi langkah yang harus dilakukan adalah
pemasangan kincir atau blower agar oksigen dapat masuk kedalamkolam dan karbon
dioksida berkurang dan tidak terjadi persaingan oksigen (Ongkeng, 2012).

Selama masa pemeliharaan larva, Pakan merupakan salah satu unsur yang sangat
penting dalam pemeliharaan larva ikan nila karena dapat mempengaruhi pertumbuhan
larva Ikan Nila. Benih berumur sehari belum perlu diberi makanan tambahan dari luar
karena masih mempunyai cadangan makanan berupa yolk sac atau kuning telur.

Pakan tambahan di berikan pada larva ikan pada saat berumur 7-10 hari, pakan
tambahan dapat berupa pelet yang di haluskan dengan cara di gerus kemudian di saring
tujuannya agar larva dapat mencerna dengan mudah, Selama pemeliharaan larva ikan
nila, pemberian pakan dilakukan 2 kali dalam sehari, yaitu: pagi antara 07.00-08.00
WITA, dan sore hari antara jam 16.00-17.00 WITA.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil

Panen pertama (1100 larva)

Panen Kedua (276 larva)

Panen Ketiga (385 larva)


3.2 Pembahasan

A. Klasifikasi dan Morfologi


Klasifikasi Ikan Nila menurut Pauji (2007) adalah sebagai berikut :
Philum : Chordata
Subphilum : Vertebrata
Kelas : Osteichthyes
Subkelas : Achantopterigii
Ordo : Perciformes
SubOrdo : Percoidei
Famili : Cichlidae
Genus : Oreochromis
Spesies : Oreochromisniloticus.
Awalnya, ikan nila dimasukkan ke dalam jenis Tilapia nilotica atau ikan dari
golongan tilapia yang tidak mengerami telur dan larva didalam mulut induknya. Dalam
perkembangannya, para pakar perikanan menggolongkan ikan nila kedalam
jenis sarotherdonniloticus atau kelompok ikan tilapia yang mengerami telur dan larvanya
didalam mulut jantan dan betinanya.

B. Daur Hidup dan Perkembangbiakan

Secara alami, Ikan Nila bisa memijah sepanjang tahun di daerah tropis,. Frekuensi
pemijahan yang terbanyak terjadi pada musim hujan. Di alamnya, ikan nila bisa memijah
6-7 kali dalam setahun. Berarti, rata-rata setiap dua bulan sekali, Ikan Nila akan
berkembang biak. Ikan ini mencapai stadium dewasa pada umur 4-5 bulan dengan
bobot sekitar 250 gram (Arie, 2000).

C. Makan dan Kebiasaan Makan

Nila tergolong ikan pemakan segala atau omnivora sehingga bisa mengomsumsi
makanan berupa hewan maupun tumbuhan. Karena itulah, ikan ini sangat mudah
dibudidayakan. Ketika masih benih, makanan yang disukai Ikan Nila
adalah zooplankton (plankton hewani), seperti Rotifera sp., Moina sp., Daphnia sp. Selain
itu juga memangsa alga atau lumut yang menempel pada benda-benda dihabitat
hidupnya. Ikan nila juga memakan tanaman air yang tumbuh di kolam budidaya. Jika
telah mencapai ukuran dewasa, ikan nila bisa diberi berbagai makanan tambahan,
misalnya Pellet (Arie, 2000).

D. Habitat dan Penyebaran

Ikan nila memiliki toleransi yang tinggi terhadap lingkungan hidupnya sehingga
bisa dipelihara di dataran rendah yang berair payau hingga di dataran tinggi yang berair
tawar. Habitat hidup ikan nila cukup beragam, dari sungai, danau, rawa, waduk, sawah,
kolam hingga tambak.

Ikan nila dapat tumbuh secara normal pada kisaran suhu 14-38ºC dan dapat
memijah secara alami pada suhu 22-37ºC. Untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan,
suhu optimal bagi ikan nila adalah 25-30ºC. Pertumbuhan ikan nila biasanya akan
terganggu jika suhu habitatnya lebih rendah dari 14ºC atau pada suhu tinggi 38ºC.
Ikan Nila akan mengalami kematian pada suhu 6ºC atau 42ºC (Sucipto dan Prihartono,
2007).

Secara alami ikan ini melakukan migrasi dari habitat aslinya, yakni dibagian hulu
sungai Nil yang melewati Uganda ke arah selatan melewati danau Raft dan Tanganyika.

Selain itu ikan nila juga terdapat di Afrika bagian tengah dan barat. Populasi
terbanyak ditemukan di kolam-kolam ikan di Chad dan Nigeria dengan campur tangan
manusia, saat ini ikan nila telah menyebar ke seluruh dunia, dari Benua Afrika, Amerika,
Eropa, Asia sampai Australia (Khairuman dan Khairul, 2003).
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Usaha pemeliharaan Ikan Nila (Oreochormis Niloticus) mempunyai prospek yang cukup
baik dikembangkan, karena permintaan pasar yang cenderung sangat meningkat dan rasanya
yang gurih serta ditunjang pula harganya yang relatif mahal dibandingkan dengan ikan hasil
budidaya air tawar lainnya. Pemeliharaan Ikan Nila (Oreochormis Niloticus) di kolam
merupakan salah satu cara budidaya ikan yang mudah dikembangkan karena wilayah yang
banyak air dan sungai serta pola budidaya ikan yang mulai digandrungi masyarakat. Juga sebagai
alternatif sumber pendapatan dan pemenuhan gizi keluarga.

Makanan bagi Ikan Nila (Oreochormis Niloticus) juga tidak sulit, menyantap segala jenis
makanan alami ataupun buatan (pellet), bahkan diberi dedak halus ataupun ampas tahu. Ikan Nila
(Oreochormis Niloticus) termasuk jenis ikan pemakan campuran (omnivora). Berbeda dengan
jenis ikan konsumsi lainnya, Ikan Nila(Oreochormis Niloticus) termasuk golongan pemakan
segala ini dapat di budidayakan (pembesaran) dengan berbagai sistem, antara lain : sistem air
deras, keramba, jaring terapung, longyam serta di kolam air tergenang (stagnat water). Oleh
karena dibudidayakan dengan banya kcara itulah, maka Ikan Nila (Oreochormis Niloticus) dapat
dijadikan alternatif pemilihan usaha.

4.2 Saran
Selama masa pemeliharaan perlu diawasi kemungkinan adanya serangan hama dan
penyakit. Cara yang paling aman untuk mengendalikan hama adalah secara fisik menangkap
langsung hewan liar/hama tadi atau mencegahnya masuk ke dalam kolam. Sedangkan penyakit
ikan dapat dicegah dengan pengapuran yang seimbang untuk mempertahankan kualitas air, serta
diupayakan suhu air tidak kurang dari 28 °C.
LAMPIRAN

Bak pemijahan Bak larva

Wadah larva Bak

Larva Eceng gondok

Wadah penampungan larva

Anda mungkin juga menyukai