Anda di halaman 1dari 22

i

SEKURITAS DILUSIAN DAN LABA PER SAHAM


(Makalah)

Disusun Oleh:

Kelompok 9:

1. Amatasya Rizky Agustin 1653031006 Penyaji 1


2. Bila Anggraini 1613031004 Moderator
3. Dewanti Nurul Azizah 1613031034 Penyaji 2
4. Putri Zul Andani 1613031030 Notulen

Mata kuliah : Akuntansi Keuangan Menengah


Dosen Pengampu : Dr. Pujiati, S.Pd., M.Pd.

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN EKONOMI


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2017

i
ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Sekuritas Dilusian dan Laba Per Saham ini dengan baik
meskipun banyak kekurangan didalamnya. Dan juga kami berterima kasih pada
Dr. Pujiati, S.Pd., M.Pd.selaku Dosen mata kuliah Akuntansi Keuangan
Menengah yang telah memberikan tugas ini kepada kami.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan kita mengenai dampak yang ditimbulkan dari Saham.
Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat
kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya
kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat di masa
yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang
membangun.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang


membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun dari Anda demi perbaikan makalah ini di waktu yang
akan datang.

Bandal Lampung, 06 Oktober 2017

Penyusun

ii
iii

DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii

DAFTAR ISI .......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1

1.1 Latar Belakang................................................................................................1

1.2 Rumusan Masalah ..........................................................................................1

1.3 Tujuan .............................................................................................................2

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sekuritas Dilutif dan Skema Kompensasi ......................................................3

2.1.1 UtangKonversi ....................................................................................4

2.1.2 Saham Preferen Konversi ....................................................................7

2.1.3 Waran Saham ......................................................................................7

2.1.4 Kompensasi Saham .............................................................................8

2.1.5 Konversi Dipercepat............................................................................8


2.2 Laba Per Saham ...........................................................................................9

2.2.1 LPS dengan Modal Sederhana ..........................................................10

2.2.2 LPS dengan struktur modal kompleks ..............................................14

2.3 Penyajian dan Pengungkapan .....................................................................16

2.4 Analisi Laporan Keuangan .........................................................................16

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ...................................................................................................18

3.2 Saran .............................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA

iii
1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sekuritas dilutif merupakaan surat berharga yang dapat dikonversikan


menjadi saham biasa sehingga pada saat dikonversikan akan memengaruhi
jumlah saham yang beredar dan berdampak pada penurunan nilai laba persaham
atau terdilusi. Laba per saham ( Earnings Per Share ) merupakan alat ukur yang
berguna untuk membandingkan laba dari berbagai satuan usaha yang berbeda dan
untuk membandingkan laba satu-satuan dari waktu ke waktu manakala terjadinya
perubahan dalam struktur modal.

Ketika mengevaluasi perusahaan investor tidak langsung puas dengan


hanya mengetahui laba telah meningkat. Investor ingin mengetahui bagaimana
kaitan antara laba bersih dengan saham yang dimiliki dan dengan harga pasar
saham. Laba per saham (LPS) dengan ringkas menyajikan kinerja perusahaan
dikaitkan dengan harga pasar saham beredar. LPS yang dikaitkan dengan harga
pasar saham (Price-Earning Ratio) bisa memberikan gambaran tentang kinerja
perusahaan dibanding dengan uang yang ditanam pemilik perusahaan.

Data laba per saham sudah diakui secara luas dalam laporan tahunan yang
dikeluarkan oleh perusahaan, dalam media penerbitan, dan dalam publikasi
laporan keuangan. Pengukuran ini sering dianggap sebagai faktor penentu yang
penting untuk harga pasar saham biasa.

Penerapan keseragaman teknik penghitungan LPS secara konsisten dan


sederhana tidaklah mudah, karena terdapat berbagai cara untuk menentukan dua
variabel penentu LPS yang keduanya sulit untuk dihitung.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apakah definisi sekuritas dilutif dan skema kompensasi?
2. Apa saja yang termasuk dalam skema kompensasi?

1
2

3. Apa pengertian utang konversi?


4. Apa saja jenis utang konversi?
5. Apa definisi laba per saham?
6. Bagaimana cara menghitung LPS?

1.3 Tujuan
1. Memahami definisi sekuritas dilutif dan skema kompensasi.
2. Memahami Apa saja yang termasuk dalam skema kompensasi.
3. Memahami Apa pengertian utang konversi.
4. Memahami Apa saja jenis utang konversi.
5. Memahami Apa definisi laba per saha.
6. Memahami cara menghitung LPS.

2
3

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sekuritas Dilutif dan Skema Kompensasi


Sekuritas dilutif merupakaan surat berharga yang dapat dikonversikan
menjadi saham biasa sehingga pada saat dikonversikan akan memengaruhi
jumlah saham yang beredar dan berdampak pada penurunan nilai laba persaham
atau terdilusi. Termasuk dalam sekuritas dilutif adalah opsi, waran, utangaruhi
jumlah saham yang beredar dan berdampak pada penurunan nilai laba persaham
atau terdilusi. Termasuk dalam sekuritas dilutif adalah opsi, waran, utang
konversi, saham preferen konversi, dan lain-lain

Skema kompensasi merupakan program kompensasi yang diberikan


perusahaan kepada pihak - pihak yang terkait baik karyawan maupun
nonkaryawan. Skema kompensasi dapat diberikan dalam berbagai bentuk baik itu
berupa kas dan nonkas. Kompensasi yang bersifat non kas sering kali diberikan
perusahaan adalah kompensasi saham. Kompensasi berbasis saham merupakan
imbalan yang diberikan perusahaan kepada pemasok barang atau jasa yang dapat
mencakup pihak karyawan dan non-karyawan yang mana kompensasi tersebut
berbentuk saham ataau pengakuan kewajiban yang jumlahnya ditentukan
berdasarkan pada harga saham atau instrumen ekuitas perusahaan. Kompensasi
saham ini juga dapat berbentuk opsi saham yang diberikan kepada karyawan atau
yang lebih dikenal dengan nama Employee Stock Option Program (ESOP).

Opsi saham merupakan kontrak yang diterbitkan oleh investor untuk dijual
kepada investor lainnya dimana kotrak tersebut memberikan opsi/hak bagi
penerimanya untuk menjual/membeli suatu saham perusahaan (underlying stock)
yang menjadi dasar perdagangan opsi tersebut dalam jumlah dan pada harga yang
telah ditetapkan sebelumnya tertentu (exercise price), serta berlaku dalam periode
tertentu. Opsi saham memiliki dua jenis yaitu opsi beli (call option) dan opsi jual
(put option).

3
4

2.1.1 Utang Konversi

Utang konversi merupakan surat utang yang memberikan fitur opsi bagi
pemegangnya untukmengorversikannya menjadi saham setelah perusahaan
setelah, selama atau pada tanggal tertentu setelah surat utang dikeluarkann
biasanya pada rasio pertukaran yang sudah ditentukan terlebih dahulu pada
penerbitan obligasi tersebut. Sekuritas ini merupakan sekuritas hibrida yaitu suatu
sekuritas yang terdiri dari dua unsur yaitu utang dan ekuitas.
Terdapat beberapa alasan bagi perusahaan untuk mengeluarkan utang konversi.
Pertama, meningkatkan permodalan perusahaan dengan kemungkinan
mmengeluarkan saham dalam jumlah yang lebih kecil. Kedua, fitur konversi yang
melekat pada obligasi dapat berfungsi sebagai pemanis yang berdampak pada
tingginya permintaan atas obligasi tersebut turunnya biaya modal.

Misalnya perusahaan membutuhkan pendanaan sebesar


Rp100.000.000.000, maka perusahaan dapat menerbitkan obligasi konversi
sebanyak 1.000.000 lembar pada nilai par Rp100.000, yaitu di mana tiap lembar
obligasi dapat dikonversikan menjadi 10 lembar saham. Apabila pada saat itu
harga saham sebesar Rp5.000 maka jumlah lembar saham yang diterbitkan oleh
perusahaan bila tidak menerbitkan obligasi konversi adalah sebesar 20.000.000
lembar saham, sedangkan apabila menggunakan obligasi konversi perusahaan
cukup menerbitkan saham sebanyak 10.000.000.

Jenis utang konversi

1. Utang konversi dengan fitur konversi sebagian.


Merupakan jenis umum dari surat utang konversi yang mana hanya
sebagian dari jumlah utang yang dikonversikan menjadi saham.
2. Utang konversi dengan fitur konversi seluruhnya
Merupakan surat utang konversi yang dapat dikonversikan seluruhnya
menjadi saham sesuai dengan syarat dan ketentuan yang disebutkan pada
saat penerbitan surat utang tersebut.
3. Utang konversi dengan fitur konversi wajib seluruhnya
Merupakan jenis ketiga yang sedikit berbeda dari utang konversi dengan
fitur konversi seluruhnya.

4
5

Perlakuan akuntansi utang konversi


Tahap yang harus dilakukan oleh entitas:
1. Tentukan total nilai pasar utang konversi dengan dua komponen
liabilitas dan ekuitas
2. Tentukan komponen liabilitas dengan menghitung nilai kini neto dari
semua aliran kontraktual kas dimasa mendattang yang didiskontokan
dengan tingkat bunga pasar.
3. Kurangi komponen liabilitas yang dihitung dilangkah ke-2 dari nilai
pasar obligasi konversi akan diperoleh nilai ekuitas.
Akuntansi saat penerbitan
Ketika perusahaan menerbitkan utang konversi maka perusahaan harus
memisahkan antara komponen utang dan komponen ekuitas. Ilustrasi berikut
menggunakan contoh penerbitan utang konversi dalam bentuk yang paling sering
diterbitkan perusahaan yaitu obligasi konversi.
Contoh:
PT DEF mengeluarkan 2.000.000 lembar obligasi konversi pada awal
2013. Jangka waktu 5 tahun dengan bunga nominal 9%, dan dikeluarkan pada
nilai sebesar Rp200.000.000.000. bunga dibayar tahunan setiap tanggal 31
desember. Setiap obligasi dapat dikonversikan menjadi 200 lembar saham biasa
dengan nominal Rp100. Tingkat bunga pasar obligasi non konversi 11%. Untuk
mencatat penerbitan obligasi konversi tersebut, maka perlu dihitung terlebih
dahulu nilai kini dari komponen utang. Nilai komponen utang dihitung sebagai
berikut.
Nilai kini dari principal (PV= Rp200.000.000.000,n=5, i=11%) 118.690.265.612
Nilai kini dari pembayaran bunga (anuitas PV = Rp18.000.000.000, n=5, i=11% 66.526.146.318
Nilai kini dari komponen utang 185.216.411.929

Nilai wajar dari obligasi konversi pada tanggal penerbitan 200.000.000.000


Dikurangi: nilai kini dari komponen utang 185.216.411.929
Nilai wajar dari komponen ekuitas pada tanggal penerbitan 14.783.588.071

Untuk transaksi diatas maka pencatatan jurnalnya sebagai berikut:


Kas 200.000.000.000
Utang Obligasi 185.216.411.929
Premi Saham-Ekuitas Konversi 14.783.588.071

5
6

Akuntansi saat penyelesaian obligasi konversi


Dalam penyelesaian obligasi konversi perusahaan dapat melakukan beberapa
alternatif, yaitu:
1. Pembelian kembali utang saat jatuh tempo

Kondisi ini terjdi apabila obligasi tidak dikonversi pada saat jatuh tempo.
Apabila hal tersebut terjadi maka perusahaan penerbit obligasi harus melunasi
obligasinya atau membeli obligasi tersebut. Pelunasan/pembelian kembali tersebut
dilakukan pada harga nominalnya. Hal ini karena nilai buku dari obligasi sama
dengan nilai nominalnya sehingga tidak terdapat keuntungan maupun kerugian
dari pembeli kembali obligasi saat jatuh tempo. Jumlah yang sebelumnya
dialokasikan pada premi saham ekuitas konversi dapat tetap pada akun tersebut
atau dipindahkan keakun premi saham-saham biasa.

Utang obligasi 200.000.000.000


Kas 200.000.000.000

2. konversi obligasi jatuh tempo

Apabila konversi jatuh tempo (asumsi dikonversi seluruhnya), maka PT


DEF melakukan pencatatan jurnal sebagai berikut:

Premi Saham-Ekuitas Konversi 14.783.588.071


Utang Obligasi 200.000.000.000
Modal saham-saham biasa 40.000.000.000
Premi saham-saham biasa 174.783.588.071

3. konversi obligasi pada saat sebelum jatuh tempo. Pada saat konversi
sebelum jatuh tempo,tidak terdapat pengakuan keuntungan maupun
kerugian. Sejumlah premi saham – ekuitas konversi Rp14.783.588.071
ditransfer ke akun premi saham-saham biasa.
Premi Saham-Ekuitas Konversi 14.783.588.071
Utang Obligasi 193.149.906.663
Modal saham-saham biasa 40.000.000.000
Premi saham-saham biasa 167.933.494.734

6
7

4. pembelian kembali sebelum utang jatuh tempo

pada suatu kondisi dimungkinkan perusahaan melakukan pembelian kembali


sebelum obligasi jatuh tempo. Pendekatan yang dilakukan apabila hal ini terjadi
adalah dengan menentukan nilai wajar komonen utang dari obligasi konversi pada
tanggal tersebut dan mengurangkan nilai tersebut dari nilai wajar obligasi
konversi yang dikeluarkan (termasuk di dalamnya komponen ekuitas) untuk
menghitung nilai dari komponen ekuitas. Setelah hal tersebut dilakukan, maka:

a. perbedaan antara nilai pasar komponen utang dengan nilai buku


komponen utang merupakan laba/rugi perlunsan.
b. Perbedaan antara nilai pasar yang mengandung komponen utang dan
komponen ekuitas dengan nilai pasar komponen utang merupakan
pengurangan dari ekuitas.

2.1.2 Saham Preferen Konversi

Saham preferen konversi adalah sekuritas saham utama yang mana


pemilik saham preferen dapat mengkonversi menjadi saham biasa dalam jumlah
yang telah ditentukan sebelumnya.berbeda dengan obligasi konversi yang mana
prinsipalnya merupakan sekuritas utang dan opsi konversinya merupakan
sekuritas ekuitas, saham preferen konversi secara prinsipnya merupakan sekuritas
ekuitas daan opsi konversinya pun merupakan sekuritas ekuitas.

2.1.3 Waran saham

Waran saham merupakan opsi yang diberikan oleh perusahaan kepada


pemilik waran untuk membeli saham dengan harga tertentu dalam waktu tertentu.
Perbedaan waran saham dan opsi saham adalah pihak yang mengeluarkannya dan
jenisnya. Waran dikeluarkan oleh perusahaaan penerbit saham sedangkan opsi
dikeluarkan oleh investor dan waran merupakan jenis yang call caption. Waran
biasanya dikeluarkan sebagai pemanis sekuritas lainnya sering kali digunakan
dalam situasi sebagai berikut:

7
8

1. Untuk membuat sekuritas lebih baik.


2. Pemilik saham sebelumnya memiliki preemptive right (hak didahulukan)
untuk membeli saham.
3. Untuk kompensasi manajemen dan karyawan

2.1.4 Kompensasi Saham


Kompensasi saham merupakan imbalan yang diberikan perusahaan kepada
pemasok barang atau jasa yang dapat mencakup pihak karyawan dan non-
karyawan yang mana kompensasi tersebut berbentuk saham atauu pengakuan
kewajiban yang jumlahnya ditentukan berdasarkan pada harga saham atau
instrumen ekuitas perusahaan.

Pengakuan Kompensasi Berbasis Saham

PSAK 53 (Revisi 2010) Pembayaran Berbasis Saham. Dalam transaksi


pembayaran berbasis saham, entitas mengakui barang atau jasa yang diterima atau
diperoleh, dan kenaikan ekuitas terkait, pada saat memperoleh barang atau pada
saat jasa diterima pada nilai wajar barang atau jasa yang diterima, kecuali jika
nilai wajar tersebut tidak dapat diestimasi secara andal. jika nilai wajar tersebut
tidak dapat diestimasi secara andal, maka entitas harus mengukur nilai barang
atau jasa tersebut, dan kenaikan ekuitas terkait, secara tidak langsung, dengan
mengacu pada nilai wajar instrumen ekuitas yang diberikan.

Entitas juga harus mengakui kenaikan nilai ekuitas terkait jika barang atau
jasa diterima dalam transaksi pembayaran berbasis saham yang diselesaikan
dengan instrumen ekuitas, atau kenaikan nilai liabilitas jika barang atau jasa
diperoleh dalam transaksi pembayaran berbasis saham yang diselesaikan dengan
kas.

Transaksi Berbasis Saham yang Diselesaikan dengan Menggunakan Kas


Apabila perusahaan memiliki transaksi dengan pembayaran berbasis
saham yang mana penyelesaian dari transaksi ini diselesaikan dengan kas, maka
entitas harus mengukur barang atau jasa yang diperoleh dari liabilitas yang timbul
sebesar nilai wajar liabilitas. Entitas harus mengukur kembali nilai wajar liabilitas

8
9

pada setiap akhir periode pelaporan dan pada tanggal penyelesaian sampai dengan
liabilitas tesebut diselesaikan. Setiap perubahan nilai wajar diakui dalam laporan
laba rugi periode tersebut.
Transaksi Berbasis Saham yang Memberikan Pilihan dalam Penyelesaian
Suatu entitas harus mengakui transaksi pembayaran berbasis saham yang
mana persyaratan perjanjian memberikan pilihan kepada entitas atau pihak lawan
transaksi untuk menyelesaikan transaksi apakah akan diselesaikan dengan kas
(atau aset lain) atau dengan penerbitan instrumen ekuitas sebagai transaksi,
pembayaran berbasis saham dengan penyelesaian kas,jika dan sepanjang, entitas
telah menimbulkan liabilitas untuk diselesaikan dengan kas atau aset lain, atau
sebagai transaksi pembayaran berbasis saham dengan diselesaikan instrumen
ekuitas jika dan sepanjang, tidak terdapat liabilitas yang timbul. Jika pihak lawan
yang memiliki hak untuk memilih apakah transaksi pembayaran berbasis saham
diselesaikan dengan kas atau dengan penerbitan instrumen keuangan, maka entitas
harus menyediakan instrumen keuangan majemuk (komponen yang diselesaikan
dengan kas dan komponen yang diselesaikan dengan instrumen ekuitas).

2.1.5 Konversi Dipercepat

Perusahaan yang mengeluarkan obligasi dapat mendorong untuk dilakukan


konversi lebih cepat. Hal ini disebabkan karena perusahaan berkeinginan untuk
menurunkan biaya bunga dan memperbaiki rasio utang terhadap ekuitas. Agar
menarik bagi pemegang saham perusahaan yang mengeluarkan obligasi dapat
menawarkan “iming-iming” yang disebut “sweetener”. Bentuk pemanis ini bisa
berbentuk kas atau saham biasa. Perusahaan harus mengakuinya sebagai biaya
atas sweetener tersebut. Contoh: konversi dipercepat

Obligasi yang dikelurkan oleh PT DEF memperbolehkan dilakukannya konversi


dipercepat PT DEF hendak mengonversi obligasinya dan menyatakkan bahwa
apabila pemegang obligasi bersedia mengonversinya maka PT DEF akan
membayar sejumlah Rp18.000.000.000.

Apabila diasumsikan terjadi konversi, maka PT DEF membuat jurnal sebagai


berikut:

9
10

Biaya Konversi 3.216.411.929


Premi Saham-ekuitas konversi 14.783.588.071
Utang obligasi 200.000.000.000
Modal saham – saham biasa 40.000.000.000
Premi saham – saham biasa 160.000.000.000
Kas 18.000.000.000
Jumlah biaya konversi yang diakui adalah sebesar nilai wajar dari sekuritas yang
diberikan atau pembayaran lain yang dilakukan perusahaan. Dalam contoh di atas
PT DEF membayar kas sebesar Rp18.000.000.000, maka nilai tersebut yang
diakui sebagai biaya konversi dipercepat.

2.2 Laba Per Saham

Laba Per Saham (LPS) merupakan informasi mengenai berapa jumlah laba
yang dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa per lembarnya. LPS
menunjukan seberapa baik perusahaan dalam mengelola modalnya sehingga
menghasilkan profitabilitas yang tinggi. Nilai LPS akan sangat tergantung pada
jumlah laba dan jumlah lembar saham yang beredar. Apabila perusahaan memiliki
struktur modal yang sederhana (tidak memiliki sekuritas yang memillki potensi
mengurangi tingkat laba dan menambah jumlah lembar saham), maka perusahaan
akan menyajikan informasi mengenai LPS Dasar. Sedangkan pada perusahaan
yang memiliki struktur modal yang kompleks maka harus menyajikan informasi
mengenai LPS Dilusian.

2.2.1 Perhitungan Laba Dasar untuk Perusahaan dengan Struktur Modal


Sederhana.

LPS dasar dihitung dengan membagi laba atau rugi bersih yang tersedia
bagi pemenang saham biasa (laba bersih residual) dengan jumlah rata-rata
tertimbang saham biasa yang beredar dalam satu periode.

10
11

LPS Dasar= Laba Bersih Residu


Jumlah rata-rata tertimbang saham biasa

Laba residual merupakan nilai laba bersih dikurangi dengan dividen saham
utama. Dividen saham preferen meliputi:

1. jumlah dividen dari saham preferen bukan kumulatif yang diumumkan


bagi periode yang bersangkutan.
2. Jumlah dividen preferen kumulatif yang terakumulasi bagi periode
yang bersangkutan, dividen tersebut sudah atau belum diumumkan.
Jumlah rata-rata tertimbang saham biasa yang beredar diperoleh dengan
mengalikan
Jumlah saham yang beredar selama jangka waktu tertentu dengan faktor
pembobot waktu.
Faktor pembobot waktu adalah jumlah hari beredarnya sekelompok saham
dibandingkan dengan jumlah hari dalam suatu periode.
Saham biasa dianggap sebagai saham beredar ketika:
1. Saham biasa yang diterbitkan melalui penjualan dengan kas
diperhitungkan saat kas sudah bisa diterima (when cash is reeivable);
2. Saham biasa yang diterbitkan atas reinvestasi sukarela dari dividen saham
biasa atau saham utama diperhitungkan sejak tanggal pembayaran dividen.
3. Saham biasa yang diterbitkan sebagai hasil dari konversi instrumen utang
(misalnya obligasi konversi) diperhitungkan sejak tanggal utang tidak lagi
berbunga (the date interest eases accruing);
4. Saham biasa yang diterbitkan sebagai pengganti bunga atau pokok bagi
instrumen keuangan lain diperhitungkan sejak tanggal utang tidak lagi
berbunga (the date interest ceases accruing)
5. Saham biasa yang diterbitkan dalam rangka penyelesaian utang
(settiement) perusahaan diperhitungkan sejak tanggal penyelesaian
tersebut;
6. Saham biasa yang diterbitkan sebagai pembayaran atas perolehan aset
bukan kas diperhitungkan sejak tanggal perolehan tersebut diakui; dan

11
12

7. Saham biasa yang diterbitkan sebagai pembayaran atas jasa kepada


perusahaan diperhitungkan sejak jasa yang bersangkutan diterima
perusahaan.

Sebagai ilustrasi, PT STU menghasilkan laba tahun berjalan dari operasi


yang dilanjutkan sebesar Rp580.000.000 dan terdapat keuntungan tahun
berjalan dari operasi yang dihentikan sebesar Rp240.000.000 (setelah
dikurangi pajak). Selama periode berjalan, perusahaan mengumumkan
deviden untuk pemegang saham preferen sebesar Rp1.000 per lembar untuk
100.000 lembar saham preferen yang beredar.
Berikut informasi perubahan jumlah saham biasa yang beredar pada PT
STU tahun 2014.
Tabel 15.3 Perubahan Jumlah Saham
Tanggal Perubahan Jumlah Lembar

Saham Biasa

Beredar

1 januari Saldo awal 180.000

1 mei Menarik kembali 30.000 lembar (30.000)


saham biasa

150.000

1 juli Penambahan 300.000 lembar saham 300.000


biasa karena pemecahan saham (stok
split 3 for 1)

450.000

1 November Menerbitkan 50.000 lembar saham 50.000


biasa untuk memperoleh kas

31 Desember Saldo akhir 500.000

12
13

Berdasarkan informasi diatas, maka perhitungan jumlah rata-rata


tertimbang saham adalah sebagai berikut.

Tabel 15.4 Perhitungan Jumlah Rata-Rata Tertimbang Saham


Tanggal Jumlah Penyajian Faktor Jumlah Rata-
saham kembali pembobot Rata
beredar Tertimbang
Saham

1 Jan- 1 mei 180.000 3 4/12 180.000

1 mei- 1 Jul 150.000 3 2/12 75.000

1 jul-31 Des 450.000 6/12 225.000

Jumlah rata- 480.000


rata tertimbang
saham yang
beredar

Perhitungan laba per saham PT STU adalah sebagai berikut.


Tabel 15.5 Perhitungan LPS Dasar
Informasi Laba Jumlah Rata- EPS
Rata
Tertimbang
Saham

Laba tahun berjalan 580.000.000- 480.000.000 1.000


dari operasi yang 100.000.000=480.000.000
dilanjutkan tersedia
utk pemegang
saham

Keuntungan tahun 240.000.000 480.000.000 500


berjalan dari

13
14

operasi yang
dihentikan

Laba tersedia untuk 720.000.000 480.000.000 1.500


pemegang saham

2.2.2 Perhitungan Laba Dilusian untuk Perusahaan dengan Struktur Modal


Kompleks.

LPS Dasar digunakan sebagai informasi laba yang akan diperoleh oleh pemegang
saham per lembar saham dimilikinya. Apabila perusahaan memiliki sekuritas
dilutif, maka berarti perusahaan tersebut memiliki struktur modal yang relati
kompleks. Sehingga penyajian LPS Dasar saja dapat memberikan informasi yang
kurang akurat. Hal ini disebabkan LPS Dasar tidak memberikan informasi
mengenai efek potensial terjadinya penurunan nilai LPS akibat adanya sekuritas
dilutif yang apabila dilakukan penukaran menjadi saham biasa akan menyebabkan
nilai LPS yang turun akibat semakin besarnya jumlah saham yang beredar. Oleh
karena itu, agar investor dapat memperoleh informasi yang memadai terkait
dengan potensi penurunan LPS akibat adanya sekuritas dilutif, maka perusahaan
diwajibkan menyajikan baik LPS Dasar maupun LPS Dilusian.
Dalam perhitungan LPS dilusian, laba residual dan jumlah rata-rata
tertimbang saham biasa beredar harus disesuaikan dengan memperhitungkan
dampak dari semua efek berpotensi saham biasa yang dilutif.
Perhitungan LPS Dilusian menyesuaikan LPS Dasar dengan efek
berpotensi saham biasa yang bersifat dilutig. Efekt tersebut seolah-olah dikonversi
menjadi sekuritas saham sehingga memengaruhi perhitungan LPS. Beberapa efek
berpotensi saham biasa yang bersifat dilutif adalah sebagai berikut.
1. Opsi, waran, dan instrumen keuangan sejenis.
2. Instrumen yang dapat dikonversikan.
3. Saham yang dapat ditempatkan secara kontinjen, yaitu:
a. Sebagaimana perhitungan LPS Dasar, saham biasa yang dapat
ditempatkan kontinjen dianggap sebagai saham yang beredar dan

14
15

diperhitungkan dalam perhitungan LPS Dilusian jika kondisinya


terpenuhi (yaitu peristiwanya telah terjadi);
b. Jika kondisinya tidak terpenuhi, maka jumlah saham biasa yang dapat
ditempatkan secara kontinjen yang diperhitungkan dalam perhitungan
LPS Dilusian didasarkan pada jumlah saham yang seolah-olah akan
ditempatkan jika saat akhir periode merupakan akhir periode
kontinjensi.
4. Kontrak yang dapat diselesaikan dengan saham biasa atau kas, yaitu:
a. Ketika entitas telah menerbitkan sebuah kontrak yang dapat
diselesaikan dalam bentuk saham biasa atau kas berdasarkan pilihan
entitas, maka entitas menganggap kontrak tersebut akan diselesaikan
dalam bentuk saham biasa dan efek berpotensi saham biasa yang
dihasilkan tersebut dimasukkan dalam LPS Dilusian apabila
pengaruhnya bersifat dilutif.
b. Untuk kontrak yang dapat diselesaikan dalam bentuk saham biasa
ataupun kas berdasarkan pilihan pemegang kontrak, penyelesaian
dengan kas dan saham yang lebih bersiat ilutive digunakan dalam
perhitungan LPS Dilusian.
5. Opsi yang dibeli, yaitu kontrak seperti opsi jual dan opsi beli yang dibeli
entitas (seperti opsi yang dimiliki entitas atas saham entitas itu sendiri)
tidak dimasukkan dalam perhitungan LPS Dilusian karena memasukkan
opsi tersebut dapat bersifat antidilutif.

LPS= Laba Bersih Residu +/+


Penyesuaian atas efek
Jumlah rata-rata tertimbang atau Berpotensi saham biasa
Yang dilutif
saham biasa -/-
Contoh perhitungan jumlah saham yang beredar
PT DEF memiliki 1.500 opsi beredar dengan harga pelaksanaan
Rp300.000 dan harga wajar saham yang akan diterbitkan adalah
Rp500.000
Berapakah asumsi penambahan jumlah saham biasa yang beredar?
Penambahan jumlah saham biasa yang beredar:

15
16

= Harga Wajar - Harga Opsi X Jumlah Lembar Opsi


Harga Wajar

= 500.000 – 300.000 x 1.500 lembar opsi


500.000

= 600 Lembar Saham Biasa

2.3 Penyajian dan Pengungkapan

Sedangkan berkaitan dengan penyajian dan pengungkapan laba per saham


(LPS), maka perusahaan harus menyajikan LPS Dasar dan LPS dilunasin
pada laporan laba rugi untuk seluruh periode yang disajikan. Penyajian
LPS dasar dan Dilunasin harus tetap dilakukan meskipun jumlaahnya
negatif karena perusahaan menderita rugi (rugi per saham). Perusahaan
harus mengungkapkan hal-hal berikut ini.
1. Jumlah laba (rugi) yang dipakai sebagai pembilang dalam perhitungan
LPS Dasar dan Dilunasin, dan rekonsiliasinya dengan laba (rugi)
untuk periode yang bersangkutan.
2. Jumlah rata-rata tertimbang saham beredar yang dipakai sebagai
penyebut dalam penghitungan LPS Dasar dan Dilunasin, dan
rekonsiliasi penyebut-penyebut satu dengan yang lain

2.4 Analisis Laporan Keuangan

LPS merupakan rasio yang mencerminkan seberapa jumlah laba yang


dapat diatribusikan kepada pemegang saham biasa per lembarnya. Semakin besar
LPS menunjukan semakin besar jumlah laba yang akan didapat oleh pemegang
saham biasa utuk setiap lembar sahamnya. Laporan keuangan harus
memperhatikan paling tidak dua hal yaitu kualitas dari LPS dan tren dari LPS.

Berikut penjelasan dari kedua aspek tersebut:

16
17

1. Kualitas LPS

Kualitas LPS yang sangat tinggi menunjukan bahwa angka tersebut secara
benar mempresentasikan beberapa laba per saham yang diperoleh perusahaan
sebenarnya. Cara paling mudah mmengevaluasi kualitas LPS adalah dengan
membandingkan LPS dengan operating cash flow per lembar saham.

Apabila operating cash flow per saham lebih besar dari LPS, maka dapat
dikatakan LPS memiliki kualitas yang lebih tinggi karena kas yang dihasilkan
lebih besar dari laba.

2. Tren LPS

Selain mengevaluasi kualitas dari LPS, investor juga perlu mempertimbangkan


tren dari LPS dan membandingkannya dengan tren industri.

Apabila perusahaan memiliki LPS yang bertumbuh dan trennya menunjukan arah
yang meningkatkan secara konsisten, maka perusahaan tersebut memiliki kinerja
yang baik.

17
18

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Dapat disimpulkan bahwa sekuritas dilutif merupakaan surat berharga


yang dapat dikonversikan menjadi saham biasa sehingga pada saat dikonversikan
akan memengaruhi jumlah saham yang beredar dan berdampak pada penurunan
nilai laba persaham atau terdilusi. Skema kompensasi merupakan program
kompensasi yang diberikan perusahaan kepada pihak - pihak yang terkait baik
karyawan maupun nonkaryawan.

3.2 Saran

Setelah disusunnya makalah mengenai sekuritas dilusian dan laba per


saham diharapkan dapat menambah wawasan pembaca khususnya dimata kuliah
akuntansi keuangan menengah. Begitu juga alangkah baiknya apabila kita mencari
sumber referensi lebih banyak dari berbagai sumber sehingga ilmu dan wawasan
yang kita dapatkan semakin luas.

18
19

DAFTAR PUSTAKA

MARTANI, Dwi. Et.al. 2012. Akuntansi Keuangan menengah Berbasis


PSAK. Jakarta: Salemba Empat.

Kartikahadi, et.al.2012. Akuntansi Keuangan berdasarkan SAK berbasis IFRS.


Jakarta: Slalemba Empat.

Kieso, Donald E, Weygant, Jerry J dan Warfield, Terry D. 2007. Akuntansi


Intermediate.Jakarta: Erlangga.

Horngren, et.al. 1997. Akuntansi di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.

19