Anda di halaman 1dari 50

PENGARUH KONSENTRASI IAA, IBA, BAP, DAN AIR

KELAPA TERHADAP PEMBENTUKAN AKAR POINSETTIA


(Euphorbia pulcherrima Wild Et Klotzch) IN VITRO

Oleh :
Pratiwi Amie Pisesha
(A34303025)

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
PENGARUH KONSENTRASI IAA, IBA, BAP, DAN AIR
KELAPA TERHADAP PEMBENTUKAN AKAR POINSETTIA
(Euphorbia pulcherrima Wild. Et. Klotz) IN VITRO

Skripsi sebagai salah satu syarat


untuk memperoleh gelar Sarjana Pertanian
pada Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor

Oleh :
Pratiwi Amie Pisesha
(A34303025)

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA


FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2008
RINGKASAN

PRATIWI AMIE PISESHA. Pengaruh Konsentrasi IAA, IBA, BAP, dan Air
Kelapa Terhadap Pembentukan Akar Poinsettia (Euphorbia Pulcherrima
Wild Et. Klotz) In Vitro. Di bawah bimbingan NURHAJATI ANSORI
MATTJIK dan DEWI SUKMA

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi zat


pengatur tumbuh IAA dan BAP terhadap pembentukan akar embrio somatik
poinsettia serta menentukan kombinasi air kelapa dan zat pengatur tumbuh IBA
yang sesuai untuk pengakaran tunas poinsetia in vitro. Penelitian ini dilaksanakan
di Laboratorium Bioteknologi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura
Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Darmaga, Bogor, dari bulan Januari
2007 hingga bulan November 2007.
Penelitian ini terdiri dari dua percobaan. Percobaan pertama mengenai
induksi tunas dan akar. Percobaan kedua mengenai pengakaran tunas poinsettia in
vitro. Percobaan pertama menggunakan rancangan perlakuan faktorial yang
disusun dalam rancangan lingkungan acak kelompok. Perlakuan terdiri dari dua
faktor, faktor pertama yaitu BAP dengan 3 konsentrasi yaitu 0 µM, 1.3 µM 2.2
µM. Faktor kedua yaitu IAA dengan 3 konsentrasi yaitu 0 µM, 2.9 µM, dan 5.7
µM, sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan terdiri
dari sekurang – kurangnya 8 ulangan (8 botol) dengan 3 clump kalus per botol,
sehingga terdapat sekurang-kurangnya 72 satuan percobaan.
Sumber eksplan yang digunakan dalam percobaan pertama adalah clump
kalus embriogenik poinsettia yang diambil dari kultur hasil embrio somatik yang
memiliki bobot 0.3 –0.4 g pada tiap massa kalusnya, lalu disubkultur ke media D7
(MS+BAP 1.3 µM) selama minimal satu bulan untuk kemudian dipindahkan ke
media perlakuan. Peubah-peubah yang diamati pada percobaan pembentukan akar
embrio somatik poinsettia meliputi jumlah planlet, jumlah daun, jumlah akar, dan
jumlah tunas.
Percobaan kedua mengenai pengakaran tunas poinsetia in vitro
dilaksanakan dengan menerapkan metode Rancangan Acak Lengkap. Bahan yang
digunakan adalah ZPT IBA dengan konsentrasi 4.9 µM dan senyawa organik
berupa air kelapa dengan konsentrasi 10%. Air kelapa yang digunakan diambil
dari buah kelapa muda dan buah kelapa tua yang telah dicampur lalu disaring.
Media perlakuan pada percobaan ini adalah W0 (MS0), W1 (MS+IBA 4.9 µM),
W2 (MS+IBA 4.9 µM+ air kelapa 10%), W3 (MS+air kelapa 10%). Setiap
kombinasi perlakuan terdiri dari 5 ulangan sehingga terdapat 20 satuan percobaan
(tiap satu botol kultur terdiri dari satu tanaman). Pada percobaan ini peubah yang
diamati meliputi jumlah daun, bentuk dan jumlah akar serta panjang akar
terpanjang.
Pada percobaan pertama, perlakuan MS tanpa IAA (I0), baik yang
dikombinasikan dengan BAP maupun tanpa BAP menghasilkan kalus yang
berwarna kemerahan, sementara perlakuan MS dan IAA 2.9 µM (I1), baik dengan
kombinasi BAP maupun tanpa BAP menunjukkan warna kalus kekuningan.
Pertumbuhan daun pada perlakuan MS dan IAA 5.9 µM (I2), baik dengan
kombinasi BAP maupun tanpa BAP lebih cepat meskipun kalus yang terbentuk
lebih banyak berstruktur seperti busa dan lembek. Jumlah planlet terbanyak (8.53
planlet) pada percobaan pertama dihasilkan pada perlakuan IAA 2.9 µM.
Perlakuan BAP 1.3 µM memberikan pengaruh nyata terhadap pembentukan
jumlah daun dan jumlah akar dari planlet dengan menghasilkan jumlah daun dan
jumlah akar terbanyak, yaitu 8.30 daun per planlet pada 9 MSK dan 1.31 akar per
planlet pada 7 MSK.
Pada percobaan kedua, perlakuan W3 (MS+air kelapa 10%) dapat
mendorong pembentukan dan pemanjangan akar dengan menghasilkan 7.8 akar
per tanaman dan panjang akar terpanjang sebanyak 3.87 cm. Planlet yang
dihasilkan pada perlakuan W3 secara visual lebih cepat pertumbuhannya dan lebih
baik penampilannya dibandingkan perlakuan W0, W1, dan W2. Hal ini terlihat
dari warna daun hijau gelap, yang ukurannya lebih lebar dengan akar yang banyak
dan panjang (gambar lampiran 3).
LEMBAR PENGESAHAN

Judul : PENGARUH KONSENTRASI IAA, IBA, BAP, DAN AIR


KELAPA TERHADAP PEMBENTUKAN AKAR
EKSPLAN POINSETTIA (Euphorbia pulcherrima) IN
VITRO
Nama : Pratiwi Amie Pisesha
NRP : A34303025

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Prof. Dr. Ir. Nurhajati A. Mattjik, MS Dr. Dewi Sukma, SP. MSi
NIP. 130367074 NIP. 132166488

Mengetahui,
Dekan Fakultas Pertanian

Prof. Dr. Ir. Didy Sopandie, MAgr


NIP 131 124 019

Tanggal lulus:
RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal


11 Maret 1986. Penulis adalah anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Bapak
Adril Djamalus dan Ibu Suparmi.
Tahun 1997 penulis lulus dari SD Muhammadiyyah III Plaju, kemudian
penulis melanjutkan pendidikan di SLTPN 20 Plaju. Selanjutnya penulis lulus dari
SMUN 4 Palembang pada tahun 2003. Pada tahun yang sama di bulan Juni
penulis diterima di IPB melalui jalur USMI sebagai mahasiswi program studi
Hortikultura, Departemen Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian.
Pada tahun 2005 penulis sempat menjadi asisten mata kuliah Pendidikan
Agama Islam. Penulis juga aktif di berbagai organisasi mahasiswa pada tahun
2004/2005 sebagai Sekretaris Divisi Hubungan Luar Negeri DKM Al Hurriyyah
IPB, tahun 2005/2006 menjadi Ketua Divisi Riset dan Edukasi UKM FORCES
IPB. Selanjutnya tahun 2006 penulis lulus seleksi penerimaan Senior Residence
Asrama Putri TPB IPB.
Beberapa kepanitiaan, pelatihan dan seminar yang pernah diikuti penulis
antara lain Festival Tanaman XXV (2003) dan XXVI (2004) penyambutan
mahasiswa baru PAGI ANABA 2005, pelatihan Terarium (2003), pelatihan
Hydroponik Sistem Terapung (2004), pelatihan Manajemen Stress dan Strategi
Sukses menangani Masalah Psikososial Mahasiswa (2006), dan seminar
Pendidikan Anak dan Remaja (2006).
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat ALLAH SWT yang atas
berkah dan rahmat-Nya, penelitian ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat
teriring salam tercurah kepada Rasulullah SAW, keluarga, sahabat, dan umatnya
hingga akhir zaman. Penelitian Pengaruh Konsentrasi IAA, IBA, BAP, dan Air
Kelapa Terhadap Pembentukan Akar Poinsettia (Euphorbia pulcherrima
Wild Et. Klotz) In Vitro ini dilaksanakan karena didasari keinginan
memperdalam ilmu perbanyakan Poinsettia in vitro terutama mengenai
embriogenesis. Penyusunan skripsi ini merupakan syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Pertanian pada Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB.
Penulis sangat berterima kasih kepada Dr. Ir. Syarifah Iis Aisyah, MS selaku
dosen pembimbing akademik yang telah membimbing dan menyemangati, Prof.
Dr. Ir. Nurhajati A. Mattjik, MS. dan Dr. Dewi Sukma, SP. MSi. yang telah
memberikan bimbingan dan pengarahan selama penelitian, penulisan dan
pembuatan skripsi ini. Ir. Megayani Sri Rahayu, MS., selaku dosen penguji atas
saran dan masukannya. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada pegawai
laboratorium Bioteknologi Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura
Faperta IPB (Teh Iif, Teh Juju) yang telah memberikan bantuan selama penelitian.
Kepada kedua orang tua yang telah memberikan dukungan dan perhatian yang
tulus baik moril maupun materil penulis ucapkan terima kasih yang sedalam-
dalamnya.
Penulis juga menyampaikan terima kasih kepada Dr. Ir. Bonny P. W.
Soekarno, MS atas dukungannya, teman-teman di laboratorium: Yani, Asti, Lisa,
serta teman-teman Horti 40 atas bantuan dan kebersamaannya selama penelitian,
teman-teman Senior Resident Asrama TPB IPB 2006-2008, atas semangat dan
motivasinya, dan teman-teman UKM FORCES IPB yang telah berbagi pelajaran
hidup yang berharga. Semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi civitas
akademika dan pembaca.
Bogor, April 2008

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
PENDAHULUAN……………………………………………………… 1
Latar Belakang…………………………………………............ 1
Tujuan Percobaan…………………………………………....... 3
Hipotesis………………………………………………………. 4

TINJAUAN PUSTAKA………………………………………………... 5
Botani Poinsettia……………………………………………….. 5
Syarat Tumbuh Poinsettia……………………………................ 6
Kultur Jaringan………………………………………................ 8
Media dan Zat Pengatur Tumbuh………………………............ 12
Air Kelapa………………………………………………............ 14

BAHAN DAN METODE………………………………………............. 15


Tempat dan Waktu Percobaan…………………………............. 15
Bahan dan Alat…………………………………………............. 15
Metode Percobaan………………………………………............ 15
Percobaan 1……………………………......................... 15
Percobaan 2……………………………......................... 16
Pelaksanaan Penelitian.................................................................. 17
Pengamatan................................................................................... 18
Analisis Data................................................................................. 19

HASIL DAN PEMBAHASAN………………………………………… 20


Keadaan Umum………………………………………................ 20
Percobaan 1……………………………………………………... 20
Bobot Massa Kalus............................................................ 22
Jumlah Planlet…………………………………………. 23
Jumlah Daun Per Planlet………………………………... 24
Jumlah Tunas Per Planlet ………………………………. 26
Jumlah Akar Per Planlet ………………………………... 27
Percobaan 2……………………………………………………... 28
Jumlah Daun…………………………………………….. 28
Jumlah Akar……………………………………………... 29
Panjang Akar Terpanjang……………………………….. 30
KESIMPULAN DAN SARAN………………………………………… 32
Kesimpulan…………………………………………….............. 32
Saran…………………………………………………………… 32

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………….. 33

LAMPIRAN……………………………………………………………. 36
DAFTAR TABEL

Nomor Teks Halaman

1 Rekapitulasi Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan IAA dan BAP terhadap


Pertumbuhan dan Perkembangan Poinsettia In Vitro……………………. 21

2 Pengaruh ZPT IAA dan BAP terhadap Bobot Total Kalus Perbotol
Poinsettia In Vitro................................................................................... 22

3. Pengaruh ZPT IAA dan BAP terhadap Jumlah Planlet dari Massa
Kalus Poinsettia In Vitro ……………………………………………… 23

4. Pengaruh ZPT IAA dan BAP terhadap Jumlah Daun Per Planlet dari
Massa Kalus Poinsettia In Vitro .............................................................. 25

5. Rataan Jumlah Tunas Per Planlet Poinsettia In Vitro ............................


26
6. Pengaruh ZPT IAA dan BAP terhadap Jumlah Akar dari Planlet
Poinsettia In Vitro .......................................……………........................ 27

7. Rataan Jumlah Daun pada Percobaan Pengakaran Tunas Poinsettia In


Vitro.......................................................................................................... 28

8. Rataan Jumlah Akar pada Percobaan Pengakaran Tunas Poinsettia


In Vitro……............................................................................................. 29

9. Pengaruh ZPT IBA dan Air Kelapa terhadap Panjang Akar Terpanjang
pada Percobaan Pengakaran Tunas Poinsettia In Vitro............................ 29

Lampiran

1. Komposisi Media Murashige dan Skoog (1962)……………………… 33


DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks Halaman

1. Morfologi Tanaman Poinsettia a) braktea b) daun c) cyathia.............


5
2. Morfologi kalus poinsettia in vitro pada 4 MSK: A) clump kalus
memenuhi pinggiran dinding botol; tiap clump kalus mengandung satu
sel yang akan menghasilkan tunas, B) kalus berwarna kemerahan, C)
20
kalus berwarna kekuningan, D) struktur kalus seperti busa....................

3. Kontaminasi cendawan pada percobaan dua : a) pada tanaman, b) pada


media...................................................................................................... 21

4. Tunas yang terbentuk pada minggu terakhir pengamatan pada


percobaan satu : A) perlakuan I0B1 (MS+BAP 1.3 µM), B) perlakuan
I1B1 (MS+IAA 2.9 µM+BAP 1.3 µM).................................................. 26

5. Poinsettia in vitro pada percobaan multlipikasi akar pada 7 MSK : W0)


ukuran daun lebih lebar dan akar yang panjang, W1) batang lebih
panjang dengan daun yang kecil dan sedikit, W2) daun yang terbentuk
lebih kecil dan tidak ada akar, W3) ukuran daun lebih lebar dengan
warna lebih gelap dan akar yang banyak dan panjang............................ 29

Lampiran

1. Poinsettia in vitro pada percobaan induksi tunas dan akar (percobaan 1)


pada 4 MSK …………………………………………………………… 36

2. Poinsettia in vitro pada percobaan induksi tunas dan akar (percobaan 1)


pada 12 MSK ………………………………………………………….. 37

3. Poinsettia in vitro pada percobaan pengakaran tunas (percobaan 2) ….  38

 

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang
Kastuba atau lebih dikenal dengan nama poinsettia, diperkenalkan pertama
kali di Amerika Serikat oleh Joel Robert Poinsett pada tahun 1825. Bagian yang
berwarna merah, pink, atau putih merupakan daun yang telah mengalami
modifikasi atau biasa disebut braktea. Hal ini sebagai ciri khusus poinsettia selain
adanya sel yang dapat menghasilkan lateks. Sekarang ini warna, keragaman
jumlah, dan bentuk braktea yang menarik telah dikembangkan untuk
meningkatkan nilai jual poinsettia. Poinsettia telah menjadi simbol Natal di
beberapa negara di dunia, terutama di Amerika Serikat (Hartley, 1992). Poinsettia
di Indonesia mulai dikenal sejak dekade 1990-an. Mulai tahun 2000 poinsettia
digunakan untuk perayaan hari kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus
(Lingga, 2006).
Saat ini di Indonesia permintaan poinsettia hanya tinggi pada perayaan
hari-hari tertentu. Di tingkat pedagang grosir, harga kastuba berkisar Rp 20.000,00
- Rp 25.000,00/pot, tergantung ukuran pot dan tinggi tanaman. Harga di tingkat
pedagang pengecer sangat variatif. Kastuba dalam pot berdiameter 10 cm dijual
dengan harga Rp 28.000,00/pot dan Rp 50.000,00/pot untuk pot berdiameter 15
cm (Agrina-online, 2006), sementara pada hari-hari biasa rentang harga kastuba di
pasaran berkisar antara Rp 15.000-Rp 150.000 per pot (Agrina-online, 2007).
Tanaman hias yang asalnya dari Mexico ini bisa tumbuh di dataran rendah
maupun dataran tinggi, namun dataran dengan ketinggian 600 m di atas
permukaan laut merupakan area paling cocok untuk menanam poinsettia (Sutomo,
2006). Tanaman ini dibudidayakan di dalam rumah kaca atau rumah plastik di luar
habitat asalnya.
Poinsettia diperbanyak dengan cara stek pucuk. Pada kondisi optimal, stek
dapat membentuk akar setelah 14-21 hari (Hartley, 1992). Menurut Lingga
(2006), pengakaran poinsettia seringkali menjadi kendala bagi pekebun. Banyak
faktor yang mempengaruhi proses pengakaran seperti kondisi pucuk hasil stek,
lingkungan, serta cara pengakaran yang meliputi pemilihan media stek,

 

penyiraman, dan pemupukan. Kestabilan temperatur (22-240C) dan intensitas


cahaya (2500 fc) juga ikut menentukan keberhasilan pengakaran.
Panjang hari di daerah subtropik tidak sama sepanjang tahun, yaitu
bervariasi antara 8-14 jam/hari. Poinsettia yang merupakan tanaman hari pendek
memerlukan periode malam yang panjang untuk berbunga. Tanaman hari pendek
contohnya krisan, menghendaki 8-10 jam penyinaran per hari untuk pembungaan.
Periode gelap pada tanaman berpengaruh terhadap inisiasi primordia bunga
sedangkan periode terang berpengaruh terhadap jumlah primordia bunga yang
diinisiasikan (Mc Donald, 2003). Tanaman poinsettia mulai berbunga di negara-
negara Eropa pada bulan November-Desember secara alami, sementara di daerah
tropis seperti Indonesia yang memiliki panjang hari hampir sama sepanjang tahun
yaitu 12 jam/hari memiliki respon yang berbeda terhadap pembungaan, terkait
perbedaan lama penyinaran dan intensitas cahaya di negara kita dan Eropa. Hal ini
penting diketahui untuk mengontrol pembungaan bagi pekebun poinsettia yang
harus mempertahankan tanaman stok tetap vegetatif sepanjang tahun sebagai
tanaman induk. Tanaman induk dipertahankan dalam kondisi vegetatif dengan
diberikan perlakuan hari panjang melalui penambahan cahaya lampu. Hal tersebut
membutuhkan biaya yang cukup mahal. Sterilitas media tanam juga menjadi salah
satu kendala mengingat tanaman ini peka terhadap infeksi patogen.
Bagaimanapun juga ada suatu metode untuk mengurangi ongkos produksi bibit
dan mengatasi masalah infeksi patogen. Salah satu cara untuk mengatasi hal
tersebut adalah melalui metode kultur jaringan.
Menurut Santoso dan Nursandi (2004) serta Yusnita (2004), kultur
jaringan tanaman adalah teknik budidaya sel, jaringan, dan organ tanaman dalam
suatu lingkungan terkendali dalam keadaan aseptik atau bebas mikroorganisme.
Keunggulan perbanyakan tanaman melalui kultur jaringan adalah bahan tanaman
yang digunakan sedikit, tanaman yang dihasilkan bebas penyakit karena dilakukan
dalam kondisi aseptik, pengaturan faktor-faktor lingkungan dapat disesuaikan
dengan yang diinginkan, dapat dilakukan sepanjang tahun tanpa tergantung
kondisi iklim, dan memungkinkan terjadinya manipulasi genetik. Metode ini juga
dapat menghasilkan bibit lebih banyak dalam jangka waktu lebih cepat.

 

Penggandaan biakan poinsettia dalam kultur jaringan dapat dilakukan


melalui jalur multiplikasi tunas aksilar, tunas adventif, atau embriogenesis
somatik. Tunas adventif adalah tunas yang tumbuh dari kalus yang diinduksi
(Marlina, 2004). Embrio somatik adalah embrio yang terbentuk dari sel somatik
melalui proses yang disebut embriogenesis. Cara embriogenesis somatik banyak
mendapat perhatian karena jumlah propagula yang dihasilkan lebih banyak.
Penggunaan embrio somatik dapat mempercepat keberhasilan dengan peluang
transformasi yang lebih tinggi untuk mendukung program pemuliaan tanaman
melalui rekayasa genetika, karena embrio somatik dapat berasal dari satu sel
somatik. Embrio somatik dianggap merupakan bahan tanaman yang ideal untuk
penyimpanan jangka pendek maupun jangka panjang, karena apabila
diregenerasikan dapat membentuk bibit somatik (Purnamaningsih, 2002).
Sukma dan Mattjik (2006), telah mendapatkan kalus embriogenik yang
berasal dari kultur in vitro eksplan pucuk poinsettia varietas Silver Red dalam
media D7 (MS+BAP 1.3 µM). Embrio somatik dapat berkecambah menjadi
tanaman hijau namun sebagian besar tanaman tidak memiliki akar yang baik. Hal
ini akan menyulitkan dalam aklimatisasi, karena itu diperlukan upaya untuk
meningkatkan fase perkecambahan embrio menjadi tanaman lengkap dengan akar
dan tunas yang baik. Kombinasi IAA (auksin) dan BAP (sitokinin) yang
digunakan dalam media pada penelitian ini diharapkan dapat membentuk tunas
dan akar yang normal pada tanaman poinsettia. Mandang (1993), menyatakan
bahwa sitokinin yang terdapat pada air kelapa dapat menyokong dan
meningkatkan jumlah tunas, sementara auksin pada air kelapa berperan dalam
pembentukan akar.

Tujuan

Percobaan pertama bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi


Indole-3-Asetic Acid (IAA) dan 6-Benzyl Amino Purine (BAP) terhadap
pembentukan tunas dan akar embrio somatik poinsettia. Penelitian kedua
bertujuan untuk menentukan kombinasi Indole Butyric Acid (IBA) dan air kelapa
yang sesuai untuk pengakaran tunas poinsettia in vitro.

 

Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah
1. Terdapat interaksi konsentrasi IAA dan BAP yang optimal untuk
pembentukan tunas dan akar embrio somatik poinsettia.
2. Terdapat interaksi konsentrasi IBA dan air kelapa yang optimal untuk
pembentukan akar dari tunas in vitro poinsettia.

 

TINJAUAN PUSTAKA

Botani Poinsettia

Poinsettia merupakan tanaman perdu yang tingginya dapat mencapai 3


meter dan membentuk tunas berdiameter sekitar 2 meter. Berikut ini adalah
klasifikasi tanaman poinsettia (Plant Database, 2009):

Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta – tumbuhan berpembuluh
Superdivisi : Spermatophyta – tumbuhan berbiji
Divisi : Magnoliophyta – tumbuhan berbunga
Kelas : Magnoliopsida – dikotil
Subkelas : Rosidae
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae – keluarga getah-getahan
Genus : Euphorbia L.
Species : Euphorbia pulcherrima Willd. ex Klotzsch – poinsettia
Tanaman ini berdaun tunggal berbentuk elips hingga bulat telur dengan
tangkai yang kerap kali ditemukan adanya 2-4 lekukan. Ujung daun lancip dengan
susunan daun menyirip (Lingga, 2006). Batang tanaman ini berkayu, berbentuk
silindris dan akan mengeluarkan getah putih jika dilukai (Perry, 1972).
cccccccccccccc

a c
b

Gambar 1. Morfologi Tanaman Poinsettia a) braktea b) daun c) cyathia

Bagian yang berwarna merah, pink, atau putih merupakan daun yang telah
mengalami modifikasi atau biasa disebut braktea. Braktea (Adams et. al, 1995)
adalah struktur seperti daun yang berfungsi untuk menarik serangga seperti pada

 

Bougenvilla. Hal ini merupakan ciri khusus poinsettia selain adanya sel yang
dapat menghasilkan lateks. Bunga yang sebenarnya terletak di tengah pada dasar
brakteanya. Bentuk bunga ini dikenal sebagai cyathia (Kessler, 1998). Bunga
poinsettia berumah satu dan berwarna kuning. Bunga betina berada diantara bunga
jantan tanpa kelopak atau mahkota. Bakal buah berada di dasar cyathium hingga
sebanyak empat bakal buah (Lingga, 2006).
Hartley (1992) mengemukakan bahwa poinsettia yang termasuk dalam
famili Euphorbiaceae ini, memiliki bunga betina tunggal tanpa petal atau sepal,
yang dikelilingi bunga jantan dalam struktur berbentuk mangkok yang disebut
cyathium. Kesler (1998) menambahkan standar poinsettia siap dijual adalah ketika
cyathia telah membuka dan stamen atau styles telah menonjol keluar dari bunga.
Lingga (2006), menyatakan bahwa penyerbukan secara alami dibantu oleh
serangga, tetapi jarang terjadi pembuahan karena benang sarinya mudah rontok.
Dengan demikian, tidak pernah dijumpai adanya biji. Biji poinsettia biasanya
dapat dihasilkan melalui penyerbukan dengan bantuan manusia untuk tujuan
hibridisasi.

Syarat Tumbuh dan Perbanyakan

Suhu
Hartley (1992), mengemukakan bahwa suhu optimum bagi pertumbuhan
dan perkembangan poinsettia adalah 15-26ºC, dimana suhu malam mencapai 18ºC
dan suhu siang mencapai 26ºC. Kisaran suhu di luar suhu tersebut dapat
menyebabkan pertumbuhan berlangsung lambat atau terjadi kerusakan pada
pertumbuhan vegetatif. Jika suhu malam lebih dari 22-23ºC, maka akan merusak
atau menghambat inisiasi dan perkembangan bunga poinsettia.

Cahaya
Nilai jual tanaman poinsettia terletak pada masa generatifnya. Pada masa
ini intensitas cahaya yang diperlukan adalah 4000-6000 food candles atau setara
dengan 3712 w/m2 (Hartley, 1992). Agar tidak terjadi induksi pembungaan,
tanaman harus mendapatkan cahaya lebih lama dibandingkan dengan kondisi

 

normal yaitu lebih dari 12 jam setiap harinya. Hasil penelitian yang dilakukan di
Pusat Penelitian Universitas Carolina Utara dan Univeritas Minessota (Lingga,
2006) membuktikan bahwa panjang hari terang untuk poinsettia adalah 12 jam
lebih 20 menit. Lama pencahayaan kurang dari waktu tersebut dapat memacu
induksi pembungaan. Hartley (1992), menambahkan bahwa pada kondisi hari
panjang (cahaya lebih banyak) poinsettia hanya akan mengalami pertumbuhan
vegetatif seperti pembentukan daun, pembentukan akar, dan pemanjangan batang.
Pada negara-negara tropis yang memiliki waktu terang dan gelap hampir
sama, pencahayaan buatan sangat diperlukan untuk menjaga agar tanaman induk
tetap pada fase vegetatif. Tanaman poinsettia yang telah berbunga sebelum waktu
yang diinginkan tidak mencerminkan keadaan optimal dari tanaman tersebut.
Sebaliknya tanaman yang belum berbunga sampai batas waktu yang ditentukan
akan kehilangan pasar atau tidak memiliki nilai ekonomi yang tinggi.
Berbagai jenis lampu dapat digunakan sebagai cahaya buatan seperti
lampu TL atau lampu pijar. Namun, daya yang dihasilkan lampu adalah daya pada
listrik yang stabil. Jika terjadi penurunan tegangan listrik, radiasi yang dihasilkan
lampu tidak optimal. Ecke Ranch, produsen poinsettia terbesar di dunia,
menyarankan untuk menggunakan lampu pijar 60 watt yang dipasang pada setiap
1.74 m2 pada ketinggian 1.74 m dari tanaman (Lingga, 2006).

Media Tanam
Poinsettia dapat tumbuh secara alami pada semua kondisi tanah, terutama
tanah berpasir yang banyak mengandung humus (bahan organik). Poinsettia
sangat peka terhadap bahan organik mentah sehingga bahan organik tersebut
harus difermentasi terlebih dahulu agar proses dekomposisinya sempurna (Lingga,
2006).
Fokus utama dalam pemilihan media untuk produksi tanaman induk
haruslah yang dapat mendukung sistem perakaran dan mempunyai kapasitas
memegang air yang tinggi (Kessler, 1998). Komponen medianya harus memiliki
sifat fisik dan kimia yang baik untuk menjaga aerasi dan drainase. Hartley (1992)
menambahkan, media tanam yang sering digunakan merupakan gabungan dari
peat-moss, ditambah bahan lainnya seperti perlite, vermiculite, serbuk gergaji,

 

bahkan pasir. Rockwool dan oasis juga sering digunakan sebagai media perakaran
karena memiliki aerasi udara yang baik dan kapasitas memegang air yang cukup
tinggi, ditambah strukturnya yang padat sehingga mudah digunakan.

Perbanyakan
Poinsettia diperbanyak dengan stek pucuk. Pucuk yang digunakan untuk
perbanyakan diperoleh dari tanaman induk yang sengaja ditanam untuk
menghasilkan pertumbuhan vegetatif dan dihambat agar tidak berkembang ke fase
generatif (Lingga, 2006). Tjia (1984) menyatakan bahwa panjang stek yang
diambil tidak boleh lebih dari 8 cm, dengan diameter 0.5 cm. Pengambilan stek
sebaiknya dilakukan pada pagi hari ketika tanaman induk dalam keadaan turgid.
Selanjutnya stek segera dimasukkan dalam ruangan propagasi yang telah diatur
kelembabannya (50-80%) agar stek tidak layu.
Menurut Hartley (1992), beberapa faktor penting dalam keberhasilan
perbanyakan poinsettia adalah kebersihan, kelembaban, dan suhu optimum
(22.220C-23.340C). Lingga (2006) menambahkan faktor lainnya yaitu persentase
hidup bibit, keseragaman, dan kualitas tanaman. Ketiga faktor pendukung ini
dipengaruhi oleh teknik pengakaran, sifat kultivar yang ditumbuhkan serta faktor
penghambat keberhasilan perbanyakan seperti hama, penyakit dan pasca panen.
Tanaman poinsettia ini sangat peka terhadap penyakit yang disebabkan oleh
cendawan dan bakteri di lapang, seperti busuk batang, bercak daun, dan
Rhizoctonia root.
Dalam proses pengakaran sering ditambahkan 1000-2000 ppm IBA dalam
bentuk bubuk atau batang direndam dalam larutan yang mengandung zat pengatur
tumbuh sebelum dipindah ke media perakaran (Hartley, 1992).

Kultur Jaringan

Tanaman hortikultura seperti tanaman hias, sayuran dan buah merupakan


golongan yang paling banyak menggunakan metode kultur jaringan, karena
tanaman yang dihasilkan dari biji tidak true-to-type (mirip seperti induk) dan
banyak tanaman yang tidak menghasilkan biji seperti pisang, sukun, dan bunga

 

gardenia. Pada poinsettia, biji dihasilkan melalui penyerbukan oleh manusia


dengan tujuan untuk hibridisasi (Lingga, 2006).
Perbanyakan tanaman secara kultur jaringan bertujuan untuk memproduksi
tanaman dalam jumlah besar pada waktu singkat, tanpa memerlukan tempat yang
luas, penanaman tidak tergantung musim, bibit yang dihasilkan lebih sehat, dan
memungkinkan terjadinya manipulasi genetik. Gunawan (1988), berpendapat
bahwa kultur jaringan tanaman adalah suatu metode untuk mengisolasi bagian
dari tanaman seperti protoplasma, sel, sekelompok sel, jaringan dan organ, serta
menumbuhkannya dalam kondisi aseptik, sehingga bagian-bagian tersebut dapat
memperbanyak diri dan beregenerasi menjadi tanaman lengkap kembali.
Tiap sel dari organ tanaman tersebut memiliki potensi tumbuh menjadi
tanaman sempurna. Hal ini sesuai dengan teori totipotensi bahwa tiap-tiap sel
darimanapun asalnya akan tumbuh menjadi tanaman sempurna bila ditumbuhkan
dalam lingkungan yang sesuai (George and Sherington, 1984).
Dalam perkembangan perbanyakan tanaman, teknik kultur jaringan
mempunyai dua kegunaan utama, yaitu untuk perbanyakan klonal yang akan
menghasilkan propagula bermutu, dan perbaikan utama tanaman untuk
menghasilkan kultivar baru yang lebih unggul dan lebih mantap sesuai dengan
program perbaikan sifat-sifat genetik yang dikehendaki (Yusnita, 2004).

Kultur Jaringan Poinsettia


Penggunaan tanaman poinsettia sebagai elemen dekorasi pada perayaan
hari-hari besar di dalam dan luar negeri membuat permintaan akan tanaman ini
semakin meningkat. Memproduksi poinsettia memerlukan pengetahuan tentang
teknik produksi yang tepat dan biaya produksi yang tinggi, karena itu
perbanyakan massal akan jauh lebih menguntungkan, terlebih jika dipandang dari
segi efisiensi tenaga kerja dan waktu produksi. Metode perbanyakan konvensional
melalui stek dinilai belum terlalu efektif. Perbanyakan melalui kultur jaringan
dapat menjadi pilihan karena dapat dilakukan kapanpun dan dapat
mengefisiensikan tenaga kerja di lapang.
Perbanyakan poinsettia melalui kultur jaringan sudah mulai dilakukan,
salah satunya melalui embriogenesis somatik yang dilakukan Sukma dan Mattjik
10 
 

(2006) sehingga didapatkan kalus tanaman poinsettia yang masih memerlukan


optimasi media untuk pembentukan planlet yang sempurna. Penelitian mengenai
pengaruh media perakaran dan cahaya terhadap pertumbuhan tunas poinsettia in
vitro juga telah dilakukan. Penelitian Faruq (2007) memperoleh komposisi media
yang cukup baik untuk perakaran, yaitu MS+IBA 2.46 µM+BAP 1.33 µM saat 8
MSK. Tunas poinsettia dengan akar terpanjang sebesar 0.4 cm didapatkan pada
media yang sama namun, pertumbuhan akar dan perbanyakannya masih belum
optimal.

Kalus dan Planlet


Kalus adalah kumpulan sel yang tidak terorganisir dan terbentuk karena
pembelahan sangat aktif (George and Sherington, 1984). Dalam kalus, dapat
terbentuk sel-sel tunggal atau sekelompok sel yang ukurannya lebih kecil yang
merupakan tempat proliferasi sel yang nantinya membentuk tunas batang, akar,
atau embrio (Gunawan, 1988). Wattimena dan Mattjik (1991) menambahkan
bahwa pada umumnya kalus itu berasal dari satu sel.
Santoso dan Nursandi (2004), mengemukakan bahwa kalus dapat
terbentuk secara alami pada tanaman yang mengalami pelukaan atau akibat stres.
Secara in vitro, kalus dapat diinisiasi pada hampir semua bagian tanaman, tetapi
bagian yang berbeda menunjukkan kecepatan inisiasi dan pertumbuhan kalus yang
berbeda pula. Kemampuan ini tergantung pada umur fisiologi tanaman, musim
pada waktu bahan tanam yang dikulturkan, bagian tanaman yang digunakan, jenis
tanaman, dan faktor lain seperti ketersediaan oksigen dan akumulasi CO2 yang
terlalu banyak, cahaya, suhu, dan perimbangan ZPT dalam media.
Kultur kalus tanaman adalah teknik budidaya kalus tanaman dalam
lingkungan terkendali dan dalam keadaan aseptik atau bebas mikroorganisme
(Santoso dan Nursandi, 2004). Tanaman hasil kultur jaringan, termasuk yang
berasal dari kalus dinamakan planlet (Hartmann et. al, 1990). Arah pertumbuhan
planlet ini dapat menjadi akar saja atau tunas saja (Wuryaningsih et. al, 2002).
Pada penelitian yang dilaporkan Jasrai et. al, (2003) bahwa kalus tanaman
Euphorbia pulcherrima dapat membentuk embrio pada media MS + 2ip (9.8 μM)
+ NAA (2.69 μM) dalam waktu 4-5 minggu. Pada percobaan yang dilakukan
11 
 

Quraishi et. al, (1996), tanaman Euphorbia, Cleistanthus collinus membutuhkan


waktu 4 minggu untuk menumbuhkan kalus pada medium MS dengan
penambahan 2.2 mM BA dan proliferasi kalus meningkat pada konsentrasi BA 1.1
mM.

Embriogenesis Somatik
Penggandaan biakan dalam kultur jaringan dapat dilakukan melalui jalur
embriogenesis somatik. Cara embriogenesis somatik banyak mendapat perhatian
karena jumlah propagula yang dihasilkan tidak terbatas dan dapat diperoleh dalam
waktu singkat.
Embrio somatik menurut Ammirato (1983) adalah proses perkembangan
embrio dari sel tanpa melewati fusi gamet. Armini et. al, (1991) menambahkan,
embrio terbentuk dari sel meristematik yang mempunyai isi sitoplasma yang
penuh tanpa vakuola. Sel-sel meristematik yang pro-embriodal ini dikenal dengan
bermacam-macam nama seperti kalus embrionik, nodul, dan lain-lain.
Sel yang dikulturkan pada proses embriogenesis ini akan membentuk
kumpulan sel yang tidak terorganisir yang dikenal dengan nama kalus yang
nantinya menjadi embrio dengan penambahan zat pengatur tumbuh (ZPT). Jenis
dan konsentrasi ZPT yang diberikan untuk menghasilkan embrio ini berbeda-beda
tergantung pada jenis tanaman. Tahap induksi embrio somatik pada cendana
menggunakan MS + BA 0,5 mg/l; MS + BA 1 mg/l; MS + BA 2 mg/l; MS +
thidiazuron 0,5 mg/l; MS + thidiazuron 1 mg/l dan MS + thidiazuron 2 mg/l.
Tahap pembentukan embrio somatik sekundernya menggunakan MS+ IAA 0,5
mg/l dan MS + IAA 1 mg/l. (Sukmadjaja, 2003). Tahap induksi embrio somatik
pada tanaman poinsettia in vitro yang berasal dari eksplan buku menghasilkan
kalus yang mengandung pigmen merah pada media MS dengan menambahkan 2ip
9.8 μM dan NAA 2.69 μM (Jasrai et. al, 2003). Pada embriogenesis tanaman tidak
terbentuk biji ataupun endosperma karena prosesnya terjadi tanpa melalui fusi
gamet (Dodeman et. al, 1997).
12 
 

Media dan Zat Pengatur Tumbuh

Media berkaitan erat dengan keberhasilan teknik kultur in vitro. Pilihan


media dalam kultur jaringan sangat penting dilakukan berdasarkan kesamaan atau
kedekatan bahan tanaman yang dikultur, teknik, atau spesifikasi lain. Umumnya
pemilihan media jatuh pada media dasar yang sudah mantap, seperti Murashige
and Skoog (MS), B5, Vacin went, White, dan lain-lain. Komposisi media MS
dapat dilihat pada tabel lampiran 1. Peneliti hanya tinggal memodifikasi unsur
mikro, makro, vitamin, zat pengatur tumbuh dan bahan lainnya (Santoso dan
Nursandi, 2004).
Formulasi yang sering digunakan sebagai media kultur adalah media MS.
Media ini merupakan kombinasi antara zat-zat yang mengandung hara makro,
mikro, dan sumber energi, serta vitamin. Komposisi media MS dapat dilihat pada
Tabel Lampiran 1. Formulasi media dasar mineral MS dapat digunakan untuk
sejumlah besar spesies tanaman pada propagasi secara in vitro (Wethrel, 1982).
George dan Sherington (1984) mengemukakan bahwa, jenis media
dibedakan berdasarkan bentuk fisiknya yaitu media padat dan media cair. Media
padat dapat menghasilkan pertumbuhan tunas dan pucuk dengan cepat,
morfogenesis dari kalus lebih baik, tunas serta akar tumbuh teratur dan tidak
memerlukan pengocokan seperti pada media cair. Media ini juga memiliki
kekurangan yaitu kontak dengan eksplan sedikit sehingga penyerapan hara dan zat
pengatur tumbuh kurang efisien. Meski demikian (Wethrel, 1982) pada
perbanyakan tanaman pada umumnya digunakan media padat agar jaringan
eksplan kontak dengan media tanpa tenggelam di dalamnya.
Hormon tanaman adalah senyawa organik bukan nutrisi yang aktif dalam
jumlah kecil (10-6 – 10-5 mM) yang disintesiskan pada bagian tertentu tanaman
dan pada umumnya diangkut ke bagian lain tanaman dimana zat tersebut
menimbulkan tanggapan secara biokimia, fisiologis dan morfologis (Wattimena,
1988). Zat Pengatur Tumbuh adalah senyawa sintesis atau alami yang dalam
konsentrasi rendah mengontrol respon pertumbuhan pada tanaman (Acquaah,
2002).
Gunawan (1988) mengemukakan bahwa dalam kultur jaringan, dua
golongan zat pengatur tumbuh (ZPT) yang sangat penting adalah sitokinin dan
13 
 

auksin. ZPT ini mempengaruhi pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur sel,
jaringan, dan organ. Interaksi dan perimbangan antara ZPT yang diberikan dalam
media dan yang diproduksi oleh sel secara endogen, menentukan arah
perkembangan suatu kultur. Hal ini diperkuat pernyataan Hartmann et. al, (1992)
bahwa tanaman yang berbeda dapat merespon zat pengatur tumbuh ZPT (auksin
dan sitokinin) dalam berbagai konsentrasi secara berbeda. Hal ini disebabkan oleh
perbedaan kandungan konsentrasi hormon endogen tumbuhan itu sendiri.

Auksin
Kata auksin berasal dari bahasa Yunani auxein yang berarti meningkatkan
(Santoso dan Nursandi, 2004). Wattimena (1988) mendefinisikan auksin sebagai
zat tumbuh yang mendorong elongasi dari jaringan koleoptil pada percobaan-
percobaan bio-assay dengan Avena atau tanaman lainnya.
Peran auksin pada berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan
tanaman antara lain dalam pembesaran sel, penghambatan mata tunas samping,
pengguguran daun, dan pertumbuhan akar. Peran auksin lainnya menurut Santoso
dan Nursandi (2004) adalah dalam pembentukan akar adventif pada konsentrasi
rendah, menginduksi terjadinya kalus pada konsentrasi tinggi, pemanjangan dan
pembelahan sel dan mempengaruhi kestabilan genetik tanaman.

Sitokinin
Sitokinin merupakan zat pengatur tumbuh yang sangat berperan dalam
memacu pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur jaringan. Induksi
pembelahan sel dapat terjadi bila penggunaannya bersama auksin. Pada
konsentrasi tinggi (1-10 mg/l) sitokinin dapat menginduksi pembentukan tunas
adventif melalui pengurangan pengaruh dominasi apikal, tapi induksi
pembentukan akar dihambat. Pembelahan sel yang disebabkan oleh sitokinin
dapat membentuk kalus dan mendorong proses embriogenesis somatik (Gaba,
2005).
14 
 

Air Kelapa

Air kelapa memiliki manfaat untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman.


George dan Sherington (1984) menyatakan bahwa air kelapa mengandung asam
organik, asam nukleotida, purin, gula, alkohol, vitamin, zat pengatur tumbuh dan
mineral. Senyawa penting bagi kultur jaringan yang terdapat dalam air kelapa
adalah zat pengatur tumbuh. Kandungan zat pengatur tumbuh dalam air kelapa
bermanfaat untuk menginduksi kalus serta menginduksi proses morfogenesis.
Armini et. al, (1991) menyatakan bahwa air kelapa memiliki pH 4.8-5.3
disebabkan oleh adanya kandungan asam organik dalam air kelapa yang berfungsi
sebagai buffer terhadap perubahan pH.
Pengertian air kelapa yang dimaksud di sini adalah endosperm cair
(coconut milk) dari buah kelapa. Air kelapa yang baik digunakan adalah dari
kelapa yang daging buahnya tidak terlalu lunak tetapi belum terlalu keras
(Hendaryono dan Wijayanti, 1994).
Dalam kultur jaringan, air kelapa juga mempunyai beberapa peranan
antara lain mendorong respon pertumbuhan yang baik dari tanaman, mendorong
pembentukan akar, meningkatkan efisiensi penggunaan hara N, dan meningkatkan
tekanan osmotik dan kapasitas buffer media. Air kelapa juga dapat meningkatkan
kandungan klorofil jaringan pada tanaman krisan (Mandang, 1993).
15 
 

BAHAN DAN METODE

Waktu dan Tempat

Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman


Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian, Institut Pertanian
Bogor kampus Darmaga Bogor, dari bulan Januari 2007 hingga bulan November
2007.

Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan pada percobaan satu adalah massa kalus


embriogenik poinsettia varietas Silver Red, media MS, agar-agar, gula, alkohol
90% dan 70%, vitamin, serta ZPT IAA, dan BAP. Pada percobaan dua bahan
tanaman yang digunakan adalah eksplan tunas hasil regenerasi kalus embriogenik,
ZPT IBA dan air kelapa.
Alat-alat yang digunakan adalah botol kultur, cawan petri, timbangan
analitik, kertas lakmus, pinset, pisau, bunsen, pipet, gelas ukur, autoklaf otomatis,
panci stainless, kompor untuk memasak agar, serta laminar air flow cabinet.

Metode Percobaan

Penelitian ini terdiri dari dua percobaan :


Percobaan 1. Pengaruh IAA dan BAP terhadap Pembentukan Tunas dan
Akar dari Massa Kalus Embriogenik Poinsettia
Percobaan satu menggunakan rancangan perlakuan faktorial yang disusun
dalam rancangan acak kelompok. Perlakuan terdiri dari dua faktor, faktor pertama
yaitu pemberian BAP dengan 3 konsentrasi yaitu 0 µM, 1.3 µM 2.2 µM. Faktor
kedua yaitu pemberian IAA dengan 3 konsentrasi yaitu 0 µM, 2.9 µM, dan 5.7
µM, sehingga terdapat 9 kombinasi perlakuan. Setiap kombinasi perlakuan terdiri
dari sekurang – kurangnya 8 ulangan (8 botol) sehingga terdapat 72 satuan
percobaan dengan 3 clump kalus per botol.
16 
 

Model percobaannya sebagai berikut:


Yij = μ + Ii + Bj + βk + (I*B)ij + εijk
Keterangan :
Yij = nilai pengamatan pada faktor IAA ke-i, BAP ke-j dan ulangan ke-k
μ = Rataan umum hasil penelitian
Ii = Nilai tambahan karena pengaruh konsentrasi IAA ke-i, i= (1,2,3)
Bj = Nilai tambahan karena pengaruh konsentrasi BAP ke-j, j= (1,2,3)
βk = Nilai tambahan karena pengaruh ulangan taraf ke-k, k= (1,2,.,8)
(I*B)ij = Komponen interaksi dari faktor konsentrasi IAA ke-i dan BAP ke-j
εijk = Galat percobaan
Perlakuan untuk dinotasikan sebagai berikut :
I0B0: MSo
I1B0 : MS+IAA 2.9µM
I2B0 : MS+IAA 5.7µM
I0B1 : MS+BA 1.3µM
I1B1 : MS+IAA 2.9 µM+BA 1.3 µM
I2B1 : MS+IAA 5.7 µM+BA 1.3 µM
I0B2: MS+BA 2.2 µM
I1B2 : MS+IAA 2.9µM+BA 2.2 µM
I2B2: MS+IAA 5.7µM+BA 2.2 µM

Percobaan 2. Pengaruh IBA dan Air Kelapa Terhadap Pengakaran Tunas In


Vitro Poinsettia
Percobaan dua ini dilaksanakan dengan menggunakan metode Rancangan
Acak Lengkap dengan dua taraf yaitu IBA (konsentrasi 0 µM dan 4.9 µM) dan
air kelapa (konsentrasi 0% dan 10%). Air kelapa yang digunakan diambil dari
buah kelapa muda dan buah kelapa tua yang telah dicampur. Hal ini
dimaksudkan karena buah kelapa muda memiliki kandungan sitokinin lebih
banyak dibandingkan buah kelapa tua, sementara buah kelapa tua memiliki
metionin yang tidak terdapat pada buah kelapa muda (George dan Sherington,
1984). Setiap kombinasi perlakuan terdiri dari 5 ulangan sehingga terdapat 20
17 
 

satuan percobaan (tiap satu botol kultur terdiri dari satu tanaman). Sumber
eksplan yang digunakan adalah eksplan tunas hasil regenerasi kalus embriogenik
Media perlakuan pada percobaan dua adalah :
W0 : MS0
W1 : MS+IBA 4.9 µM
W2 : MS+IBA 4.9 µM +Air Kelapa 10%
W3 : MS+Air Kelapa 10%

Pelaksanaan Penelitian

Sterilisasi Botol dan Alat Tanam


Botol dan alat tanam yang digunakan dicuci bersih terlebih dahulu
menggunakan deterjen, lalu direndam dalam larutan baycline (5.25% sodium
hipoklorit) selama 10 menit. Setelah itu botol dan alat tanam dibilas dengan air
bersih dan disterilisasi selama 30 menit pada tekanan 17.5 psi pada suhu 121oC
menggunakan autoclaf electric.

Penyiapan Bahan Tanaman (MS+BAP 1.3 µM)


Sumber eksplan kalus embriogenik poinsettia pada percobaan satu
disubkultur pada media D7 (MS+BAP 1.3 µM) selama 4 minggu kemudian
dipindahkan ke media perlakuan. Penimbangan bobot kalus dilakukan sebelum
penanaman ke media perlakuan di dalam laminar air flow cabinet.
Sumber eksplan tunas pada percobaan dua diperoleh dari hasil kultur
embriogenik poinsettia in vitro percobaan satu yang dipindahkan ke media D7
selama 4 minggu untuk kemudian dipindahkan ke media perlakuan pada
percobaan dua.

Pembuatan Media Perlakuan


Pembuatan media dilakukan dengan memipet larutan stok garam-garam
mineral dan vitamin media MS ke dalam labu takar 1 liter sesuai kebutuhan lalu
ditambahkan aquades hingga mencapai volume 1 liter. ZPT diberikan sesuai
18 
 

perlakuan. Media ditambahkan gula 30 gram dan agar 7 gram, lalu tingkat
keasaman media diatur hingga mencapai pH 5.8 dengan menggunakan KOH atau
HCL 1N. Media lalu dimasak hingga mendidih lalu dipindahkan ke botol untuk
diautoklaf selama 20 menit. Botol kultur dengan media yang telah disterilisasi,
disimpan di ruang kultur hingga padat kembali.

Penanaman Eksplan dan Subkultur


Pada percobaan satu, satu botol media perlakuan terdiri atas tiga clump
(massa kalus embriogenik). Masing-masing clump ini dipisahkan menjadi satu
botol satu clump setelah empat minggu. Subkultur dilakukan setiap bulan sekali.
Pemeliharaan dan pengamatan dilakukan seminggu sekali.
Pada percobaan dua, eksplan tanaman yang digunakan adalah tanaman
hasil percobaan satu yang telah bertunas yang sebelumnya telah dipindahkan ke
media D7 selama empat minggu untuk memperbanyak akar. Pada media
perlakuan kedua ini, tiap botol kultur berisi satu tanaman. Pengamatan dilakukan
setiap minggu dan setiap satu bulan disubkultur untuk mencegah browning dan
mengganti asupan vitamin dan mineral yang telah berkurang pada media.

Pengamatan

Pengamatan pembesaran tanaman hasil embrio somatik dilakukan tiap


minggu sekali dengan peubah pertumbuhan yang diamati pada percobaan satu
meliputi :

1. Bobot massa kalus


Bobot massa kalus yang ditimbang adalah rataan dari 3 clump dalam
satu botol. Penimbangan dilakukan saat awal penanaman dan subkultur
pertama.
2. Jumlah planlet
Jumlah planlet yang dihitung adalah jumlah kecambah yang
menghasilkan dua helai daun pertama yang belum membuka
sempurna. Pengamatan dilakukan seminggu sekali.
19 
 

3. Jumlah daun per planlet


Daun yang dihitung adalah semua daun yang telah membuka
sempurna pada setiap planlet. Pengamatan dilakukan seminggu sekali.
4. Jumlah akar per planlet
Akar yang dihitung adalah jumlah akar utama yang muncul dari planlet
pada setiap botol. Pengamatan dilakukan seminggu sekali.
5. Jumlah tunas per planlet
Tunas yang dihitung adalah jumlah tunas aksilar yang terbentuk pada
planlet setiap botol. Pengamatan dilakukan seminggu sekali.

Pada percobaan dua, peubah yang diamati meliputi :


1. Bentuk dan jumlah akar
Pengamatan dilakukan dengan cara menghitung jumlah akar yang
muncul dari setiap tunas in vitro setiap minggu.
2. Jumlah daun
Jumlah daun yang diamati tiap minggu adalah daun yang berasal dari
tunas in vitro yang telah membuka sempurna yang muncul setelah
penanaman.
3. Panjang akar terpanjang
Panjang akar terpanjang pada masing-masing tunas pada tiap botol
perlakuan diukur pada minggu ke- 4 dan minggu ke-8 setelah
penanaman.

Analisis data

Pengolahan data secara statistik dilakukan dengan menggunakan uji F


(SAS System). Uji lanjut yang dilakukan adalah uji DMRT pada taraf 5%.
20 
 

HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum

Pada tahap awal penanaman kalus berkembang sangat cepat, hanya dalam
waktu kurang dari 4 MSK sudah hampir menutupi permukaan media. Kalus yang
terbentuk umumnya berwarna kekuningan atau kemerahan, berstruktur kompak
bergranul atau seperti busa dan sangat lembek. Clump kalus dengan tekstur seperti
busa dan lembek jarang sekali atau bahkan tidak dapat membentuk daun atau
tunas sama sekali. Berbeda dengan clump kalus kompak bergranul yang
membentuk daun atau tunas sangat banyak. Kalus yang ditransfer ke media
perlakuan adalah yang telah tumbuh sedikitnya dua daun per kalus dan berasal
dari clump kalus dengan struktur kompak bergranul dengan warna kemerahan atau
kekuningan.

A B C D
Gambar 2. Morfologi kalus poinsettia in vitro pada 4 MSK pada percobaan satu:
A) clump kalus memenuhi permukaan media, B) kalus berwarna
kemerahan, C) kalus berwarna kekuningan, D) struktur kalus seperti
busa.

Pertumbuhan kalus ditandai dengan perubahan warna kalus dan


penambahan jumlah kalus mulai 1 MSK hingga 3 MSK. Pada 4 MSK hingga 9
MSK pertumbuhan kalus beralih ke pertumbuhan planlet, daun, dan akar. Selama
masa pengamatan, pertumbuhan cepat terdapat pada perlakuan I0B0(MS0), I1B0
(MS+IAA 2.9µM), I0B2 (MS+BA 2.2 µM), dan I2B2(MS+IAA 5.7µM+BA 2.2
µM).
21 
 

Beberapa eksplan mengalami kontaminasi mulai 2 MSK. Kontaminasi


disebabkan oleh cendawan dan bakteri. Penyebab kontaminasi diduga berasal dari
perubahan suhu akibat listrik padam, penanaman yang kurang steril saat di
laminar, dan aliran udara yang kurang bersih di ruang kultur. Penyebab lainnya
adalah botol-botol kultur yang berada di rak-rak kultur lain telah lama
terkontaminasi dan tidak segera dipindahkan sehingga mempengaruhi botol kultur
yang steril.

a b

Gambar 3. Kontaminasi cendawan pada percobaan dua : a) pada akar tanaman, b)


pada media.

Percobaan 1 Pengaruh IAA dan BAP terhadap Pembentukan Tunas dan


Akar dari Massa Kalus Embriogenik Poinsettia
Pada percobaan satu, perbedaan terhadap peubah jumlah planlet, jumlah
daun, dan jumlah akar mulai terlihat pada 2 Minggu Setelah Kultur (MSK).
Secara umum pengaruh faktor pertama (IAA) sudah mulai terlihat pada minggu
kedua, yaitu pada peubah jumlah planlet dan jumlah daun. Faktor kedua (BAP)
menunjukkan pengaruh nyata mulai minggu keempat untuk peubah jumlah
planlet, jumlah daun, dan jumlah akar. Interaksi kedua faktor perlakuan
berpengaruh nyata pada peubah jumlah planlet dan jumlah akar namun, tidak
berpengaruh nyata pada peubah jumlah tunas.
Pengaruh auksin terhadap jumlah planlet dan jumlah daun per planlet
serta pengaruh sitokinin terhadap jumlah akar bertentangan dengan pendapat
Wattimena (1988), mengenai pertumbuhan akar oleh auksin dan penghambatan
akar oleh sitokinin. Diduga bahwa terdapat auksin endogen pada jaringan tanaman
selain auksin sintetik yang diberikan sehingga konsentrasi auksin yang diberikan
22 
 

terlalu tinggi untuk meningkatkan jumlah akar. Davies, (2004) menyatakan bahwa
auksin dalam konsentrasi tinggi dapat menghambat pertumbuhan akar.

Tabel 1. Rekapitulasi Sidik Ragam Pengaruh Perlakuan IAA dan BAP terhadap
Pertumbuhan dan Perkembangan Poinsettia In Vitro

Peubah Perlakuan
IAA BAP IAA*BAP
Jumlah Planlet
4 MSK * tn tn
5 MSK * tn tn
6 MSK * * tn
7MSK * * *
Jumlah Daun Per Planlet
4 MSK * * *
5MSK * * tn
6 MSK tn tn tn
7MSK tn tn tn
Jumlah Tunas Per Planlet
4 MSK tn tn tn
5 MSK tn tn tn
6 MSK tn tn tn
7 MSK tn tn tn
Jumlah Akar Per Planlet
4 MSK tn tn *
5 MSK tn * *
6MSK tn * *
7 MSK tn * tn
Keterangan :
tn = tidak berbeda nyata pada taraf 5%
*= berbeda nyata pada taraf 5%

Bobot Massa Kalus


Bobot kalus ditimbang pada saat awal penanaman dan saat subkultur, yaitu
4 minggu setelah kultur. Pada mulanya, warna kalus yang awalnya berwarna
kemerah-merahan atau kekuningan, setelah diberi perlakuan warna kalus perlahan
berubah menjadi kehijauan. Menurut Armini et. al, (1991), terbentuknya bagian
hijau pada kalus merupakan awal terjadinya morfogenesis.
23 
 

Tabel 2. Pengaruh ZPT IAA dan BAP terhadap Bobot Total Kalus Per Botol
Poinsettia In Vitro Percobaan Pembentukan Tunas dan Akar

Bobot awal Bobot kalus


Perlakuan
kalus (gram) 4 MSK (gram)
I0B0 (Mso) 0.33  1.42 
I1B0 ( MS+IAA 2.9µM) 0.35  1.40 
I2B0 (MS+IAA 5.7µM) 0.34  1.87 
I0B1 (MS+BA 1.3µM) 0.34  2.24 
I1B1 (MS+ IAA 2.9µM +BA 1.3µM ) 0.34  3.16 
I2B1 ( MS+IAA 5.7 µM+BA 1.3 µM ) 0.36  2.24 
I0B2 (MS+BA 2.2 µM) 0.32  3.05 
I1B2 (MS+IAA 2.9µM+BA 2.2 µM ) 0.34  2.70 
I2B2 (MS+IAA 5.7µM+BA 2.2 µM ) 0.34  1.97 

Berdasarkan tabel 2, bobot kalus tertinggi terdapat pada perlakuan I1B1,


yaitu 3.16 gram. Diduga bahwa interaksi antara 1.3 µM BAP dan 2.9 µM IAA
mampu mendorong sel-sel membelah dan membesar sehingga membentuk kalus
lebih cepat. Menurut Davies (2004), interaksi auksin dan sitokinin dalam kultur in
vitro mampu membuat sel-sel pada jaringan tanaman mengalami proses
pembelahan dan pembesaran, sedangkan pada media tanpa penambahan BAP,
auksin pada tahap ini sudah mulai membentuk planlet. Hal ini terlihat pada tabel 3
bahwa jumlah planlet yang dihasilkan oleh perlakuan ini pada 4MSK (subkultur
pertama) menunjukkan jumlah tertinggi dibandingkan perlakuan lainnya.

Jumlah planlet
Jumlah planlet yang diamati merupakan kecambah asal kalus embrionik
poinsettia in vitro yang sudah menghasilkan dua helai daun pertama yang belum
membuka sempurna. Warna planlet mula-mula kuning muda, lalu hijau
kekuningan hingga hijau tua seiring bertambahnya ukuran planlet. Diduga hal ini
disebabkan karena penambahan IAA dalam media dapat meningkatkan
kandungan klorofil jaringan. Hal yang sama didapatkan pada kalus tembakau.
Menurut Venketeswaran (1965), penambahan IAA mendorong pembentukan
klorofil pada kalus tembakau.
Dari hasil analisis sidik ragam, IAA berpengaruh nyata terhadap jumlah
planlet mulai minggu keempat hingga minggu ketujuh pengamatan. Berdasarkan
24 
 

tabel 1 terlihat bahwa jumlah planlet dipengaruhi oleh ZPT IAA dan BAP.
Interaksi kedua ZPT ini pada 7 MSK diduga efektif mendorong proliferasi sel-sel
kalus sehingga terjadi pertumbuhan planlet (Gaba, 2005).

Tabel 3. Pengaruh ZPT IAA dan BAP terhadap Jumlah Planlet dari Massa Kalus
Poinsettia In Vitro

Perlakuan Jumlah planlet


(µM)
Minggu Setelah Kultur
IAA 2 3 4 5 6 7 8 9
0 1.33 b 3.41 a 4.13 b 4.10 b 4.58 b 4.54 b 5.56 a 6.60a
2.9 2.94 a 5.63 a 6.71 a 7.81 a 8.32 a 8.53 a 7.62 a 5.20a
5.7 1.75 ab 3.47 a 4.45 b 6.14 ab 7.00 ab 6.00 ab 6.30 a 5.86a
BAP
0 1.50a 3.44 a 4.81 a 5.84 a 7.95 a 8.25 a 8.55 a 5.70 a
1.3 1.98 a 4.43 a 5.74 a 6.20 a 6.76ab 5.43ab 6.67 a 6.20 a
2.2 2.26 a 4.00 a 3.79 a 4.68 a 4.63 b 5.00 b 4.89 a 6.08 a
Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata menurut Uji DMRT pada taraf 5%.

Berdasarkan tabel 3, terlihat bahwa jumlah planlet terbanyak (8.53)


dihasilkan pada perlakuan IAA 2.9 µM pada minggu ke-7. Perlakuan ini efektif
meningkatkan jumlah planlet mulai 4 MSK hingga 7 MSK. Perlakuan BAP pada
konsentrasi 2.2 µM menunjukkan penurunan jumlah planlet. Diduga hal ini
disebabkan karena konsentrasi ini terlalu tinggi bagi poinsettia in vitro sehingga
jumlah planlet yang terbentuk lebih sedikit.

Jumlah Daun Per Planlet


Daun yang terbentuk pada percobaan satu warnanya relatif seragam yaitu
hijau muda hingga hijau tua. Namun, ada satu perlakuan yang menunjukkan daun
berwarna albino yaitu perlakuan I1B0 (MS + IAA 2.9 µM). Planlet ini terbentuk
dari sumber kalus yang sama pada satu botol. Diduga hal ini terjadi karena adanya
keragaman genetik akibat embriogenesis tidak langsung. Terzi dan Loschiavo
(1990) menyatakan bahwa pada proses embriogenesis somatik, dapat terbentuk
mutan yang disebabkan karena faktor genetik, proses subkultur berulang,
pengaruh suhu, atau karena penambahan ZPT tertentu.
25 
 

Hasil analisis sidik ragam menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang


nyata terhadap jumlah daun pada percobaan tahap pembentukan akar. Dari hasil
Uji DMRT 5%, perbedaan nilai jumlah daun mulai terlihat pada minggu pertama
setelah penanaman, yaitu pada BAP 1.3 µM terhadap BAP 0 µM dan 2.2 µM.
Hingga akhir pengamatan, perbedaan yang nyata dari masing-masing faktor terus
berlanjut.

Tabel 4. Pengaruh ZPT IAA dan BAP terhadap Jumlah Daun Per Planlet dari
Massa Kalus Poinsettia In Vitro.

Jumlah Daun Per Planlet


Perlakuan Minggu Setelah Kultur (MSK)
(µM) 1 2 3 4 5 6 7 8 9
IAA
0 1.13 a 2.29 a 2.18 a 2.50 a 2.25ab 3.39 a 4.62ab 4.55 a 5.67 a
2.9 0.36 a 0.04 b 0.57 b 1.42 a 1.91 b 3.15 a 3.56 b 4.37 a 6.90 a
5.7 0.64 a 0.85 b 1.49 ab 2.75 a 3.61 a 4.72 a 7.33 a 4.56 a 4.57 a
BAP
0 0.55 b 0.74 b 1.05 a 1.51 a 1.52 b 3.77 a 4.37 a 3.27b 7.25 a
1.3 1.42 a 2.42 a 1.78 a 2.52 a 2.80ab 3.22 a 6.31 a 7.67 a 8.30 a
2.2 0.16 b 0.63 b 1.86 a 3.00 a 3.63 a 3.96 a 4.91 a 3.39b 2.54 b
Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata menurut Uji DMRT pada taraf 5%.

Berdasarkan tabel 4 didapat jumlah daun terbanyak pada BAP 1.3 µM


minggu ke-9 pengamatan (8.30). Pada minggu terakhir pengamatan, jumlah daun
paling sedikit dihasilkan pada perlakuan BAP 2.2 µM (2.54). Penggunaan
sitokinin diduga efektif hingga konsentrasi 1.3 µM. Pada konsentrasi yang lebih
tinggi (2.2 µM) pembentukan jumlah daun dihambat. Penelitian yang dilakukan
Syara (2005), menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah daun Anthurium
andreanum seiring dengan tingginya konsentrasi BAP, namun pada konsentrasi
lebih tinggi (3.0 ppm) mengalami penurunan jumlah daun. Berdasarkan hasil
penelitian Mirzada (1994), perlakuan BAP 1.0 mg/l pada calla lilly membentuk
persentase jumlah daun terbanyak sebesar 83.33% sedangkan persentase jumlah
daun terendah 33.33% pada perlakuan BAP 3.0 mg/l.
Pada minggu ketiga, terjadi penurunan jumlah daun menjadi 1.78 pada
perlakuan BAP konsentrasi 1.3 µM, namun meningkat kembali pada minggu-
minggu berikutnya. Hal ini disebabkan karena rontoknya sejumlah daun. Hal ini
26 
 

terjadi karena ketersediaan mineral N yang dibutuhkan untuk mempertahankan


jumlah daun berkurang akibat buruknya pertumbuhan akar (Laurie et al. 1979).

Jumlah Tunas Per Planlet


Perlakuan IAA dan BAP maupun interaksinya tidak memberikan pengaruh
nyata terhadap jumlah tunas per planlet selama 9 MSK disajikan pada tebel 5.
Setelah 3 MSK, planlet menunjukkan pertumbuhan tunas-tunas baru pada
perlakuan I0B0 (MS0), I0B1 (MS+BAP 1.3 µM), I0B2 (MS+BAP 2.2 µM), I1B2
(MS+IAA 2.9 µM+BAP 2.2 µM), I2B0 (MS+IAA 5.7 µM), I2B1 (MS+IAA 5.7
µM+BAP 1.3 µM, dan I2B2 (MS+IAA 5.7 µM+BAP 2.2 µM). Perlakuan I1B1
baru menunjukkan pertumbuhan tunas pada 5 MSK.

Tabel 5. Rataan Jumlah Tunas Per Planlet Poinsettia In Vitro

Perlakuan IAA BAP MSK


2 3 5 7 9
I0B0 0 0.0 0.00 0.08 1.00 1.50 1.17
I0B1 1.3 0.06 0.47 0.93 1.68 2.37
I0B2 2.2 0.00 0.27 0.66 0.83 0.67
I1B0 2.9 0.0 0.00 0.00 0.00 0.50 4.25
I1B1 1.3 0.00 0.00 0.41 1.84 2.85
I1B2 2.2 0.00 0.22 0.66 0.83 0.67
I2B0 5.7 0.0 0.00 0.44 1.44 2.67 3.34
I2B1 1.3 0.07 0.23 0.47 1.42 1.92
I2B2 2.2 0.00 0.44 1.44 2.67 3.34

Pertumbuhan abnormal terhadap ukuran dan bentuk daun dan akar


didapatkan pada perlakuan I0B1 pada minggu terakhir pengamatan. Pada gambar
4 terlihat bahwa ukuran daun yang terbentuk pada perlakuan I0B1 lebih besar dan
menyerupai daun selada, akar yang terbentuk sepertinya merupakan modifikasi
dari batang.

A B
Gambar 4. Tunas yang terbentuk pada minggu terakhir pengamatan : A) perlakuan
I0B1 (MS+BAP 1.3 µM), B) perlakuan I1B1 (MS+IAA 2.9 µM+BAP
1.3 µM).
27 
 

Jumlah Akar Per Planlet


Berdasarkan analisis sidik ragam, jumlah akar hanya dipengaruhi oleh
BAP dan interaksi diantara faktor IAA dan BAP. Perbedaan mulai terlihat pada
minggu kedua hingga 7 MSK. Jumlah akar terbanyak dihasilkan pada perlakuan
BAP 1.3 µM. Sitokinin pada konsentrasi ini diduga efektif menstimulasi
pembelahan sel akar. Gaba (2005) menyatakan bahwa sitokinin yang
dikombinasikan dengan auksin berperan dalam pembelahan sel. Hingga 7 MSK,
BAP 2.2 µM menunjukkan jumlah akar yang paling rendah. Konsentrasi ini
diduga terlalu tinggi untuk pembentukan akar poinsettia in vitro sehingga
pembentukan akar dihambat. Pada media tanpa penambahan ZPT, eksplan masih
memiliki kemampuan untuk membentuk akar. Diduga bahwa sel-sel jaringan
masih memiliki kemampuan berdiferensiasi membentuk akar karena adanya
pengaruh auksin endogen.

Tabel 6. Pengaruh ZPT IAA dan BAP terhadap Jumlah Akar dari Planlet
Poinsettia In Vitro Percobaan Pembentukan Tunas dan Akar

Planlet Berakar
Perlakuan Minggu Setelah Kultur (MSK)
(µM)
2 3 4 5 6 7
IAA
0.0 0.22 a 0.30a 0.64a 0.82a 0.74a 0.59a
2.9 0.09 a 0.18a 0.50a 0.67a 0.68a 0.74a
5.7 0.11 a 0.35a 0.41a 0.48a 0.38a 0.67a
BAP
0.0 0.28 a 0.51 a 0.69a 1.00 a 0.89 a 0.89ab
1.3 0.13 ab 0.25ab 0.70a 0.83 a 0.83 a 1.31 a
2.2 0.05 b 0.08 b 0.23a 0.23 b 0.23 b 0.29 b
Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata menurut Uji DMRT taraf 5%

Faktor tunggal IAA tidak berpengaruh nyata terhadap jumlah akar.


Menurut Wethrell (1982) auksin dalam konsentrasi yang lebih tinggi cenderung
menyebabkan terjadinya pertumbuhan kalus dari eskplan. Gaba (2005),
menambahkan bahwa konsentrasi auksin yang terlalu tinggi dapat menghambat
pertumbuhan akar.
28 
 

Percobaan 2 : Pengaruh IBA dan Air Kelapa Terhadap Pengakaran Tunas


In Vitro Poinsettia
Pada percobaan dua (pengakaran tunas poinsettia in vitro) tunas mampu
tumbuh dengan baik. Hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah daun dan akar
serta panjang akar terpanjang. Perbedaan mulai terlihat pada 1 MSK hingga akhir
pengamatan untuk jumlah daun. Sementara pada peubah jumlah akar terpanjang,
perbedaan nyata terlihat pada 3 MSK, yaitu perlakuan W3 (MS + air kelapa 10%).
Pertumbuhan daun yang lebar dan besar tampak pada perlakuan W3 (MS +
air kelapa 10%). Perlakuan W1 (MS + IBA 4.9 µM) menunjukkan pertumbuhan
yang baik. Hal ini ditandai dengan jumlah daun yang cukup banyak dibandingkan
perlakuan lainnya, sementara perlakuan W2 (MS+ IBA 4.9 µM + air kelapa 10%),
hanya menumbuhkan tunas tanpa akar.
Berdasarkan analisis sidik ragam, baik IBA maupun air kelapa tidak
berpengaruh nyata terhadap jumlah daun dan jumlah akar. Pertumbuhan mulai
terlihat pada 1 MSK hingga akhir pengamatan untuk jumlah daun. Sementara
pada peubah jumlah akar terpanjang, perbedaan nyata terlihat pada 3 MSK, yaitu
perlakuan W3 (MS + air kelapa 10%).

Jumlah Daun
Berdasarkan analisis sidik ragam, IBA dan air kelapa tidak berpengaruh
nyata terhadap jumlah daun. Hasil rataan dari lima ulangan terhadap jumlah daun
dapat dilihat pada tabel 7. Rataan jumlah daun per planlet pada perlakuan W1
(MS + IBA 4.9 µM) pada 8 MSK sebanyak 7 daun.

Tabel 7. Rataan Jumlah Daun Percobaan Pengakaran Tunas Poinsettia In Vitro


Perlakuan Minggu Setelah Kultur (MSK)
1 2 3 4 5 6 7 8
W0 (MS0) 3.2 4.2 4.2 5.2 5.4 5.2 4.4 4.0
W1 (MS + IBA 4.9 µM ) 1.2 3.6 4.4 4.4 5.2 6.8 7.0 7.0
W2 (MS + IBA 4.9 µM+AK 10%) 1.4 2.6 3.2 3.2 3.4 5.0 5.0 4.6
W3 (MS + AK 10%) 2.0 3.0 2.2 2.6 2.8 3.2 3.2 3.2
29 
 

Perlakuan W3 (MS + air kelapa 10%) menunjukkan rataan jumlah daun


pada menghasilkan 3.2 daun. Diduga hal ini disebabkan karena pengaruh sitokinin
endogen dalam air kelapa terlalu tinggi bagi tanaman poinsettia in vitro sehingga
menghambat jumlah daun. Pada tanaman ponsettia in vitro, selain sitokinin
endogen yang terdapat pada jaringan tanaman, penambahan air kelapa diduga
dapat menyebabkan konsentrasi sitokinin menjadi sangat tinggi. Mandang (1993)
menyatakan bahwa sitokinin yang terdapat pada air kelapa walaupun jumlahnya
kecil dapat menyokong pertumbuhan tanaman.

Jumlah Akar
Secara visual, perlakuan W1 (MS + IBA 4.9 µM) dan W2 (MS + IBA 4.9
µM + air kelapa 10%) menghasilkan tanaman dengan akar yang kecil dan sedikit,
sementara perlakuan W0 (MS0) dan W3 (MS + air kelapa 10%) menghasilkan
tanaman dengan akar per planlet yang lebih panjang dibandingkan perlakuan
lainnya dan lebih banyak (7.8 akar).

W0 W1 W2 W3

Gambar 5. Poinsettia in vitro percobaan multlipikasi akar pada 7 MSK : W0)


ukuran daun lebih lebar dan akar yang panjang, W1) batang lebih
panjang dengan daun yang kecil dan sedikit, W2) daun yang terbentuk
lebih kecil dan tidak ada akar, W3) ukuran daun lebih lebar dengan
warna lebih gelap dan akar yang banyak dan panjang.

Berdasarkan tabel 8, jumlah akar pada perlakuan W3 (MS + air kelapa


10%) menghasilkan 7.8 akar. Perlakuan W2 (MS + IBA 4.9 µM + air kelapa
10%), tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah akar. Diduga auksin endogen
pada jaringan tanaman sudah cukup tinggi sehingga kombinasi IBA dan auksin
yang terdapat pada air kelapa justru menghambat pembentukan akar poinsettia in
vitro. Menurut Syara (2005), terjadi peningkatan jumlah akar pada tanaman
30 
 

Anthurium andreanum seiring dengan tingginya konsentrasi IAA, namun pada


konsentrasi lebih tinggi (0.4 ppm) mengalami penurunan jumlah akar.

Tabel 8. Rataan Jumlah Akar pada Percobaan Pengakaran Tunas Poinsettia


In Vitro
Minggu Setelah Kultur (MSK)
Perlakuan
1 2 3 4 5 6 7 8
W0 (MS0) 1.0 0.2 0.4 1.4 1.8 1.8 1.8 2.4
W1(MS + IBA 4.9 µM) 0.0 0.4 0.6 0.6 1.2 1.2 1.6 1.8
W2(MS + IBA 4.9 µM +
Air kelapa 10%) 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0 0.0
W3(MS + Air kelapa 10%) 0.6 1.0 1.0 2.2 3.8 5.6 6.4 7.8

Panjang Akar Terpanjang


Panjang akar terpanjang diamati pada 3 MSK, 4 MSK, 8 MSK, dan 10
MSK. Jumlah akar terpanjang ini merupakan rataan dari 5 ulangan. Pada tabel 8
terlihat bahwa jumlah akar terpanjang berbeda nyata pada perlakuan W3 (MS +
air kelapa 10%) minggu ke-3 setelah kultur. Perlakuan ini juga memberikan
jumlah akar terpanjang dengan nilai tertinggi pada 3 MSK dibandingkan dua
perlakuan lainnya yaitu 3.87. Diduga air kelapa efektif dalam proses pemanjangan
akar. Mandang (1993), menyatakan bahwa air kelapa dapat meningkatkan IAA
dalam jaringan dan memenuhi kebutuhan pertumbuhan dan morfogenesis kultur.

Tabel 9. Pengaruh ZPT IBA dan Air Kelapa terhadap Panjang Akar Terpanjang
Percobaan Pengakaran Tunas Poinsettia In Vitro.

Panjang Akar Terpanjang


Perlakuan Minggu Setelah Kultur
3 4 8 10
W0 (MS0) 1.73 ab 2.07 a 2.93 a 3.53 a
W1(MS + IBA 4.9 µM) 0.40 ab 0.57 a 1.43 a 1.73 a
W2(MS + IBA 4.9 µM + AK 10%) 0.00 b 0.00 a 0.00 a 0.00 a
W3(MS + air kelapa 10%) 3.87 a 3.87 a 4.27 a 5.23 a
Keterangan: Nilai yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak
menunjukkan perbedaan yang nyata menurut Uji DMRT taraf 5%.
31 
 

Auksin endogen diduga cukup tinggi pada jaringan tanaman. Penyinaran


lampu TL selama 24 jam menyebabkan auksin sintetik (IBA) pada konsentrasi ini
tidak terlalu efektif dalam hal pemanjangan akar (Wattimena, 1991). Penelitian
yang dilakukan Hillman dan Galston (1961) dalam Wattimena (1991)
menunjukkan bahwa tanaman yang tumbuh pada lingkungan dengan penyinaran
panjang memiliki kandungan auksin endogen lebih tinggi dibandingkan dengan
penyinaran pendek.
Pada media tanpa penambahan air kelapa dan IBA, planlet masih memiliki
kemampuan tumbuh. Diduga, sel-sel jaringan mampu membelah karena pengaruh
auksin endogen. Menurut Gaba (2005) auksin endogen berperan dalam proses
pembelahan sel.
32 
 

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

1. Pada percobaan satu (pembentukan tunas dan akar), terdapat interaksi


antara IAA dan BAP terhadap jumlah akar per planlet pada 4 MSK hingga
6 MSK. Faktor tunggal IAA 2.9 µM mampu menghasilkan jumlah planlet
terbanyak (8.53) pada 7 MSK, faktor tunggal BAP 1.3 µM mampu
memberikan hasil terbaik terhadap pembentukan jumlah daun per planlet
(8.30 daun) pada 9 MSK dan jumlah akar per planlet (1.31 akar) pada 7
MSK.

2. Pada percobaan dua (pengakaran tunas poinsettia in vitro) tidak terdapat


interaksi yang optimal antara IBA dan air kelapa. Perlakuan air kelapa
10% tanpa penambahan IBA dapat memberikan pengaruh terhadap
perkembangan sistem perakaran pada 3 MSK dengan menghasilkan
panjang akar terpanjang tertinggi (3.87 cm).

Saran

Pada penelitian selanjutnya perlu dilakukan modifikasi konsentrasi BAP


untuk media pembentukan tunas dan akar. Perlu dicari penggunaan konsentrasi air
kelapa yang efektif untuk pengakaran tunas in vitro poinsettia.
33 
 

DAFTAR PUSTAKA

Adams, C. R., K. M. Bramford and M. P. Early. 1995. Principle of Horticulture.


Second Edition. New York. 332 p.
Ammirato, P. V. 1983. Embryogenesis. p. 83-113. In : Evans D. A. et. al, (Eds).
Handbook of Plant Cell Culture. Vol. 1. Macmillan Publishing Company.
New York.
Armini, N. M., G. A., Wattimena, dan L. W. Gunawan, 1991. Perbanyakan
Tanaman. Dalam : Wattimena, G. A. (Ed). Bioteknologi Tanaman. Pusat
Antar Universitas, Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Acquaah, G. 2002. Horticulture, principles and pratices. 2nd ed. Pearson
Education, Inc. New Jersey. 787p.

Davies, P. J. 2004. Plant Hormones : Biosynthesis, Signal Transduction, Action!.


Kluwer Academic Publisher. London.

Dodeman V.L., G. Ducreux and M. Kreis. 1997. Zygotic Embryogenesis Versus


Somatic Embryogenesis. Journal of Experimental Botany. 48(313): 1493-
1509. www.wikipedia.com. (9 Juni 2006).

Faruq, M. I. 2007. Pengaruh Media Perakaran dan Cahaya Terhadap Pertumbuhan


Tunas Poinsettia In Vitro. Skripsi. Departemen Agronomi dan Hortikultura.
Fakultas Pertanian. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Gaba, V. B. 2005. Plant Growth Regulators in Plant Tissue Culture and
Development. In : Trigiano and Gray. Plant Development and
Bioechnology. CRC Press. London.
George, E. F., P. D. Sherrington. 1984. Plant Propagation by Tissue Culture.
Handbook and Directory of Commercial Laboratories. Exegetics Ltd.,
England.
Gunawan, L. W. 1988. Teknik Kultur Jaringan. Laboratorium kultur Jaringan
Tanaman. Pusat Antar Universitas (PAU). Bioteknologi. Institut Pertanian
Bogor. Bogor.
Hartley, D. E. 1992. Poinsettias, p.305-331. in: R. A. Larson (Ed). Introduction of
floriculture. Academic press inc. London.
Hartmann, H. T., D. E. Kester, F. T. Davies. 1990. Plant Propagation, Principles
and Practices 5th ed. Prentice-Hall International, Inc. New Jersey.
Hendaryono, D. S. dan Wijayanti . 2000. Pedoman Kultur Jaringan. Penebar
Swadaya. Jakarta.

Jasrai, Y. T., K. N. Thaker, and M. C. D'Souza. 2003. In vitro Propagation of


Euphorbia pulcherrima Willd. Through Somatic Embryogenesis. Journal.
34 
 

Plant Tissue Cult. 13(1) : 31-36. Department of Botany, Faculty of Science,


The Maharaja Sayajirao University of Baroda, Gujarat, India.

Kessler, Jr. R. 1998. Poinsettia : Commercial Greenhouse Production. Auburn


University. www.google.com (12 Juni 2007).

Laurie, A., D.C. Kiplinger, and K.S Nelson. 1979. Commercial Flower Forcing.
Mc. Graw-Hill Book Co. Inc. New York. 438p.

Lestari, E. G. 2008. Kultur Jaringan. Akademia. Bogor. 60 hal.

Lingga, L. 2006. Kastuba Tanaman Penyemarak Hari Raya. Agromedia Pustaka.


Jakarta. 120 hal.
Mandang, J. P. 1993. Peranan Air Kelapa Dalam Kultur Jaringan Tanaman Krisan
(Chrysanthemum morifolium Ramat). Disertasi. Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Marlina, N. 2004. Teknik Perbanyakan Anthurium dengan Kultur Jaringan. Bul.
Teknik Pertanian. Vol. 9. No. 2. www.google.com (6 Januari 2009).
Perry, F. 1972. The MacDonald Encyclopedia of Plants and Flower. MacDonald
and Co. London. 512p.
Plant Database, 2009. Euphorbia pulcherrima Willd. ex Klotzsch
poinsettia. United States Departement of Agriculture. Natural Resources
Conservation Service. www.google.com (5 Januari 2009).
Purnamaningsih, R. 2002. Regenerasi Tanaman Melalui Embriogenesis Somatik
dan Beberapa Gen Yang Mengendalikannya. Bul. AgroBio. Jurnal Tinjauan
Ilmiah Riset Biologi dan Bioteknologi Pertanian Vol. 5 No. 2. Balai
Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan. Bogor.
Quraishi, A., V. Koche, and S. K. Mishra. 1996. In Vitro Propagation From Nodal
Segmen of Cleistanthus collinus. Plant Cell, Tiss. And Org. Cult. 45: 87-97.
Santoso, U., Nursandi, F. 2004. Kultur Jaringan Tanaman. cet. ke-2. UMM Pres.
Malang.191 hal.
Sukma, D. dan N. A. Mattjik. 2006. Embrio Somatik Pada Kultur In Vitro
Kastuba (Euphorbia pulcherrima. Willd) Prosiding Seminar Nasional
Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman. Departemen Agronomi dan
Hortikultura, Fakultas Pertanian IPB. Bogor. Hal 413-418.
Sukmadjaja, D. 2005. Embriogenesis Somatik Langsung pada Cendana. Jurnal
Bioteknologi Pertanian. SEAMEO BIOTROP. Bogor. 10(1):1-6.

Sutomo, B. 2006. Poinsettia, Si Cantik Penyemarak Natal. www.google.com. (15


Juni 2008).
35 
 

Syara, S. 2005. Penggunaan IAA dan BAP Untuk Menstimulasi Organogenesis


Tanaman Anthurium andreanum Dalam Kultur In Vitro. Skripsi.
Departemen Agronomi dan Hortikultura. Fakultas Pertanian. Institut
Pertanian Bogor. Bogor.
Terzi dan Loschiavo. 1990. Somatik Embriogenesis. p. 54-77. In : S. S. Bhojwani
(Ed). Plant Tissue Culture. Elseiver.
Tjia, B. 1984. Stock Plants and Propagation. p.19-25. In: B. Tjia (Ed).
Commercial Poinsettia Production in Florida. University of Florida.
Wattimena, G. A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas
Institut Pertanian Bogor. Bogor. Hal. 1-92.
-----------------------.1991. Bioteknologi Tanaman. Pusat Antar Universitas Institut
Pertanian Bogor. Bogor. Hal. 35-116.
Weaver, R. J. 1972. Plant Growth Substances In Agriculture. W. H. Freeman and
Company. United States of America.
Wethrel, D. F. 1982. Pengantar Propagasi Tanaman Secara In Vitro Seri
Terjemahan oleh Dra. Koesoemardiyah Seri Kultur Jaringan Tanaman.
Avery Publ. Group Inc. New Jersey. 110 p.
Wuryaningsih,S., D.S. Badriah, dan E. Setyowati. 2002. Sumber Karbohidrat dan
Zat Penghambat Pertumbuhan pada Pembentukan Subang Mikro dari Planlet
Gladiol. Balai Penelitian Tanaman Hias Segunung. www. Google.com (24
Juli 2008).

www.agrina-online.com, 2007. Sang Penyemarak Natal. (11 Januari 2007).

www.agrina-online.com, 2006. Kastuba Merah Penyemarak Natal nan Indah.

Yusnita. 2004. Kultur Jaringan, Cara Memperbanyak Tanaman Secara Efisien.


Agromedia Pustaka. Jakarta. 105 hal.
36 
 

LAMPIRAN

Tabel Lampiran 1. Komposisi Media Murashige-Skoog


Stok Bahan Konsentrasi Pemakaian Ppm
Larutan(g/l) ml/l media

A NH4OH 82.500 20 1.650.000

B KNO3 95.000 20 1.900.000

C KH2PO4 34.000 5 170.000


H3BO3 1.240 5 6.200
Na2MoO4.2H2O 0.050 5 0.250
CoCl2.H2O 0.005 5 0.025
KI 0.166 5 0.830

D CaCl2.2H2O 88.000 5 440.000

E MgSO4.7H2O 74.000 5 370.000


MnSO4. 7H2O 4.460 5 22.300
ZnSO4.7H2O 1.720 5 8.600

CuSO4.5H2O 0.005 5 0.025

F Na2EDTA 3.730 10 37.300


FeSO4.7H2O 2.780 10 27.800

Myo Myo inositol 10 10 2.000

Vitamin Thiamine 0.010 10 0.100


Niacin 0.050 10 0.500
Pyridoxine 0.050 10 0.500
Glycine 0.200 10 2.000
Gula 30.000 10

Sumber : Gunawan (1992)


37 
 

LAMPIRAN 2 

  A             B           C 

               I0B0 I1B0 I2B0

   D                                                         E                                                       F   

  I0B1 I1B1 I2B1


 
 

          

   G             H           I 

 I0B2 I1B2 I2B2


 

Gambar 1. Poinsettia in vitro pada percobaan induksi tunas dan akar pada 4 MSK:
(A), (D) dan (G) Perlakuan media MS tanpa auksin (I0B0, I0B1, dan
I0B2) menghasilkan kalus berwarna merah ; sementara (B), (E) dan
(H) perlakuan media tanpa sitokinin (I0B0, I1B0, I2B0) pada tahap ini
baru menghasilkan kalus kekuningan dengan sedikit sekali tunas ; (C)
Perlakuan media MS dengan auksin dan sitokinin (I1B1, I1B2, I2B1,
dan I2B2) menghasilkan kalus berwarna kekuningan; (F) Perlakuan
I2B1 menghasilkan tunas dan daun yang lebih banyak pada 4 MSK; (I)
Perlakuan I2B2 menghasilkan struktur kalus seperti busa.

 
38 
 

   A                                                       B                                               C 
               I0B0 I1B0 I2B0

     D                                                   E                                                 F 
                 
                   I0B1 I1B1 I2B1
 
     

       G                                                  H                                                  I 

       I0B2 I1B2 I2B2

Gambar 2. Poinsettia in vitro pada percobaan induksi tunas dan akar pada 12
MSK: (A) Tunas dan daun baru terbentuk pada perlakuan I0B0 dan
I1B0; (B) perlakuan tanpa sitokinin (B0) hanya menghasilkan sedikit
tunas, Pada konsentrasi BAP 2.2 µM (B2) (C) tunas tinggi dengan dua
daun; (D) pertumbuhan abnormal poinsettia in vitro (perlakuan I0B1);
perlakuan BAP 1.3 µM (B1) menghasilkan (E) jumlah daun per planlet
yang lebih banyak, terutama pada I1B1; (F) kalus sudah mulai
browning; (G), (H) dan (I) kalus sudah mengalami browning.   

 
39 
 

2MSK 

                        

   

              Wo                            W1                                     W2                                     W3 

4 MSK 

              Wo                            W1                                     W2                                     W3 

9 MSK 

               Wo                            W1                                     W2                                     W3

Gambar 3. Poinsettia in vitro pada percobaan pengakaran tunas : (W0) tunas tidak
menunjukkan pertambahan jumlah daun bahkan daun layu pada 9
MSK, (W1) pertumbuhan tunas baru pada kalus pada 4 MSK, (W2)
tunas tidak dapat menghasilkan akar, pada 9 MSK tunas mulai tumbuh
dan memperbanyak daun, (W3) tunas tumbuh sangat cepat dengan
daun lebar dan banyak serta akar yang banyak dan panjang.
40