Anda di halaman 1dari 53

1

Negeri Asal Muasal

Jika dalam suatu ruangan ada sekelompok orang, maka pastilah ada yang lebih dulu memasuki
ruangan itu dari yang lainnya", demikian menurut kata logika berpikir. Bahwa lama sebelum menulis,
Ayahanda penulis menyatakan dengan penuh takzimnya perihal negeri Luwu, bahwa : "Naiyya TanaE
Luu, iyanaritu tana simulang angcajingenna toriolota.." (Sesungguhnya negeri Luwu adalah negeri
asal muasal para leluhur kita..). Sesuatu yang kiranya tidaklah berlebihan, karena tertulis pada
silsilah beliau, bahwa generasi I hingga generasi ke-VI yang tersusun dari atas kebawah semuanya
adalah orang Luwu. Bermula pada generasi I, berderetan 3 (tiga) pasang nama yang masing-masing
disebutkan, sebagai berikut :

I LapuangngE LEbba' Patoto Aji Palallo Lapatiganna Sangkuruwira Batara Unru Tomallangkana ri
LettEwEro, suami Datu Palinge' Mutia Unruri Senrijawa, DEnru Ulawengna Guru ri Selleng.

Guru ri Selleng I LapuangngE ri Toddangtoja mangkau' ri Peretiwi TuppubatuE ri Toddangsolo


Maddeppa'E ri Wajampajang Opu Samuda PunnaE Liung, suami Sinaungtoja MassaobessiE
Maddeppa'E ri Wajampajang, TunruangngE ri Matasolo', DEnru Ulawengna Patoto'E.

La Oddangriu Sangkabatara ri RuwanglettE, suami Batari IlE Ellung MangEnrE' ri Ulowongeng.

Ketiga sejoli itu beranakpinak dengan mengawinkan keturunan mereka satu sama lainnya, hingga
pada suatu ketika Patoto"E menurunkan puteranya, yakni : La Toge'langi Batara Guru Sunge' ri
Sompa Aji Sangkuru Wira ManurungngE ri Tellampulaweng Pajung ri Luwu I menjadi penguasa
Attawareng , yang menandai lahirnya Kerajaan Luwu. Sezaman dengan La Togelangi Batara Guru,
terbitlah Tomanurung lainnya yang diturunkan di Cina, yaitu : La Tenriangke' ManurungngE ri
Tellampulaweng Datu Cina I, yang menandai lahirnya Kerajaan Cina yang kelak berganti nama
menjadi Pammana. Kemudian terjadilah pernikahan yang amat terkenal antar keturunan mereka,
yaitu : Sawerigading Opunna Ware' (cucu La Patiganna) dengan We Cudai' DaEng ri Sompa Punna
BolaE ri LatanEtE (cucu La Tenriangke'). Maka pada masa itulah dinyatakan sebagai penyatuan 2
wangsa, yakni Luwu dan Cina yang pada keturunan mereka mengidentiitaskan diri sebagai "Towugi"
yang diambil berdasar nama ayahanda We Cudai', yakni : La Sattumpogi Punna LipuE ri Cina , yang
kemudian menobatkan menantunya (Sawerigading) menjadi "Datu Cina".

Pada generasi ke-II Patoto'E yang menandai lahirnya Kerajaan Luwu dan Cina, terbit pula To
Manurung lain yaitu : TurubElaE Laurengpessi ri Coppo' MEru ManurungngE ri Sawammegga Datu
Tompotikka I (putera La Oddangriu Sankabatara ri RuwallettE), yang menandai lahirnya Kerajaan
Tompotikka.

Hingga pada generasi ke-VII Patoto'E, yakni : Salinrunglangi Simpurusiang Mutiakawa Opunna Ware'
ManurungngE ri Awo Lagading Pajung Luwu III, terbitlah pula seorang tokoh lain di negeri Sekkanyili'
yang cukup jauh pula dari Negeri Luwu, yakni : La Temmalala' ManurungngE ri Sekkanyili Datu
Soppeng I yang menandai kelahiran Kerajaan Soppeng.

Kedua "To Manurung" tersebut melahirkan generasinya masing-masing yang ditempatkan pada
generasi ke-VII Patoto'E, yakni : La Ana'kaji Pajung ri Luwu IV (putera Simpurusiang) dan La
Maracinna Datu Soppeng II (putera La Temmalala'). Sezaman dengan kedua tokoh tersebut, yakni
2

pada generasi ke-VIII dari Patoto'E di Luwu, terbitlah beberapa Tomanurung (Orang yang turun dari
khayangan) dan To Tompo (Orang yang timbul dari peretiwi/dunia bawah), diuraikan sebagai berikut

La MammatasilompoE ManurungngE ri Matajang Mangkau ri Bone I, suami We MattengngaEmpo


ManurungngE ri Toro, yang menandai lahirnya Kerajaan Bone.

ManurungngE ri TamalatE Sombayya Gowa I, isteri La Patala Bantang KaraEng TurijE'nE (KaraEng
Bayo), yang menandai kelahiran Kerajaan Gowa.

La BungEnge' ManurungngE ri Bacukiki, suami We Teppulinge' ManurungngE ri Lawaramparang,


menandai kelahiran Kerajaan SidEnrEng.

Hal menarik jika menyimak uraian Sejarawan Prof. Mr. Dr. H. Andi Zainal Abidin Farid yang
mengemukakan bahwa We Mattengnga Empo ManurungngE ri Toro (permaisuri La
MammatasilompoE ManurungngE ri Matajang Mangkau ri Bone I), sesungguhnya adalah
salahseorang puteri Sawerigading Opunna Ware' dengan We Cudai' Daeng Risompa yang dilahirkan
di Uri Liung (Dunia Bawah) pada masa "Pasca Tinrelle'", sebagaimana halnya dengan saudarinya
yakni We Patyanjala Tompo'E ri Bussa Empo, Permaisuri SSalinrunglangi Simpurusiang Mutiakawa
Opunna Ware' ManurungngE ri Awo Lagading Pajung Luwu III (Abidin, The Emergence Of The
Kingdom Of Luwu, makalah - 1994).

Pada kesempatan lain, Sejarawan H.D. MangEmba menguraikan pula perhubungan Luwu dengan
Gowa pada masa kelahiran Kerajaan dibagian selatan jazirah Sulawesi tersebut. Bahwa suami
ManurungngE ri TamalatE Sombayya Gowa I sesungguhnya pula berasal dari Luwu pula. Tersebutlah
salah seorang putera Salinrunglangi Simpurusiang Mutiakawa Opunna Ware' ManurungngE ri Awo
Lagading Pajung Luwu III bernama "La Patala Bantang" yang disebutnya pula (H.D.Mangemba)
sebagai "Laki' Padada" seorang pangeran yang gemar mengembara. Ia tidak berhasrat menjadi Raja,
melainkan berburu Ilmu Keabadian yang disebutnya bernama : TengmatE Tengmatoa Malolo Pulana
(Ilmu Tidak Mati, Tidak Tua dan Muda Selamanya).

Pengembaraan Laki' Padada yang hanya berbekal sebilah pedang yang bernama "sudanga" suatu
ketika tiba di Sangalla' (Tana Toraja). Beliau memperisteri puteri Arung Sangalla dan menetap hingga
beberapa lama. Namun hasratnya untuk berburu Ilmu yang diidam-idamkannya tersebut tidak
tertahankan sehingga ia melanjutkan perjalanannya kearah selatan. Akhirnya pada suatu hari ia
menemukan seorang guru yang berdiam pada suatu pulau yang kiranya mampu mengajarkan Ilmu
yang diharapkannya. Namun kiranya takdir berkata lain, Laki Padada "Patala Bantang" gagal
memenuhi syarat dalam proses mempelajarinya. Sang Pangeran nelangsa, berjalan ke selatan tanpa
tujuan.

Ditengah perjalanannya, seekor "kuajeng" (Burung Garuda) menyambarnya dan membawanya


terbang tinggi melintasi lautan luas. Sesampainya ditengah laut, Sang Garuda melepaskan Sang
Patala Bantang yang terus jatuh ke lautan yang dalam. Namun berkat kesaktiannya, ia mampu
bernafas didalam air dan terus berjalan menurut arah kakinya melangkah. Sekian lama mengembara
dibawah laut, sehingga kakinya ditumbuhi berbagai jenis lokan dan tiram. Akhirnya pada suatu hari,
ia mendarat pada suatu pantai suatu negeri yang kini dinamai menurut namanya, yaitu : Bantayang
(BantaEng). Masyarakat pantai yang melihatnya dengan penuh takjub, sehingga menjulukinya
sebagai "KaraEng TurijE'nE" (Tuan yang datang dari air). Kemudian perjalanannya diteruskan menuju
3

Gowa, hingga disanalah pengembaraannya berakhir dengan mengawini Ratu Gowa pertama dan
digelari sebagai : KaraEng Bayo. Setelah beliau memerintah Kerajaan selama beberapa waktu hingga
melahirkan anak-anaknya, KaraEng Bayo beserta isterinya, "mallajang" (raib) untuk selamanya.
Mereka meninggalkan benda-benda pusaka yang menjadi regalia Kerajaan Gowa hingga kini,
salahsatunya adalah : Sudanga, pedang pusaka yang dibawanya dari Luwu.

Berbeda pula dengan versi Puang Paliwang Tandilangi (putera Puang Sangalla), dalam suatu
makalahnya, dimana disebutkan bahwa tokoh "Laki' Padada" sesungguhnya adalah orang yang
berbeda dengan "KaraEng Bayo". Dikatakan lebih lanjut, bahwa di "LEponna Bulang" (Tana Toraja)
dikenal mitos "Tumanurung Tamboro Langi" yang memperhubungkan raja-raja Luwu, Gowa dan
Sangalla'. Perkawinan Laki' Padada dengan Batara Lolo dari Luwu (putera Simpurusiang dengan
Patyanjala) melahirkan putera-putera, sebagai berikut :

Patala MErang (Patala MEa, versi Luwu) tinggal di Gowa menjadi "Somba" (suami Ratu) dengan
mewarisi sebilah kelewang bernama "Su'dang" dan Panji "SamparajaE".

Patala Bunga (Ana'kaji, versi Luwu) menjadi "Pajung" di Luwu dengan mewarisi sebilah kelewang
bernama "Bungawaru" dan selembar panji bergelar "SulEngka".

Patala Bantang tinggal di LEponna Bulang bersama Laki' Padada (ayahnya) serta mewarisi dua bilah
kelewang bergelar : "Manian" dan "Dosso" serta panji bergelar "BatE Manurung".

Terlepas dari perbedaan berbagai versi perihal "KaraEng Bayo" diatas, Perjalanan pendahuluan
tulisan ini akhirnya tiba dibagian selatan Pulau Sulawesi, diteruskan pula menyeberang lautan hingga
tiba di Pulau Selayar yang disebut dalam naskah I La Galigo sebagai "Silaja". Suatu fakta yang
menarik yang didapati pada masyarakat kepulauan tersebut, bahwa mereka menyebut
bangsawannya dengan : OPU, sebagaimana halnya di Luwu.

Dalam penelusuran penulis pada tahun 1999, penulis mengenal akrab dengan seorang Bangsawan
setempat, yakni : Opu Andi Amar, dimana beliau menjelaskan bahwa mereka sesungguhnya adalah
para turunan We Tenri Balobo, puteri Sawerigading dengan We Cudai'. We Tenri Balobo dalam
naskah silsilah penulis sesungguhnya bernama lengkap : We Tenri Balobo BEloKalempi Sulo Jajareng
Punna LipuE ri Sabangloang (isteri La Tenripale' Opu Lamuru Totappu Bello AlawErunEng Mutia
Pajung) adalah bukan seorang "Datu Silaja", melainkan gelar tersebut dijabat oleh adik kandungnya,
yakni : We Tenri Dio Batari Bissu Punna LipuE ri Mallimongeng Datu ri Silaja. Namun sesungguhnya
pertalian kekerabatan tentu saja tidak mesti haruslah berasal dari Raja Pertama yang menjadi tanah
kelahiran, maka keterangan Opu Andi Amar diatas tentu benar pula adanya.

Akhirnya perhatian diarahkan ke "Tana Wajo", negeri dimana penulis dilahirkan. Tertulis pula pada
Lontara H. Andi Sumange'rukka dimana keterangan ini diperoleh dari Sejarawan Prof. Mr. Dr. H.
Zainal Abidin, SH dalam "Wajo Abad XV-XVI", bahwa menyangkut kisah "We Tadampali' Arung
Masala Uli'E" yang dianggap sebagai salahsatu leluhur Bangsawan Wajo (khususnya wangsa
BEttEmpola). Tersebutlah "Simpurusiang ManurungngE ri Talettu'" yang memperisterikan "We
Patyanjala". Mereka melahirkan "Anakaji" yang kemudian berlayar ke seberang lautan untuk
mempersunting 'We Tappacina", puteri Raja Mancapaik (Majapahit) yang bernama Sellamalama
(nama lain Hayam Wuruk) dari isterinya yang bernama : Bara Aweling (Bhra Aweli). Anakaji
memboyong isterinya kembali ke Sulawesi yang kemudian menganugerahkan hadiah penikahan
4

kepada isterinya, sebuah negeri yang bernama : "Tana SitonraE" (gabungan negeri WagE, TEmpE dan
Sengkang dimasa kini). Sengkang yang pada awalnya bernama "Siengkang" konon disebut demikian
karena orang-orang Luwu dan orang-orang Majapahit (pengikut We Tappacina) bersamaan tiba dan
menghuni negeri yang dihadiahkan tersebut.

Kemudian saudara perempuan Anakaji yang bernama We Sakkewanua bersuamikan La Tuppusolo' di


Uri Liung (Dunia Bawah), melahirkan putera puteri, yakni : La Mallala'E dan We Posi'tana. La
Mallala'E kemudian menikahi sepupu sekalinya bernama We Tenri Abang (puteri Batari Toja, saudara
Anakaji dan We Sakkewanua), melahirkan : We Tadampali, La UlengtEpu dan La WajokEteng.

We Tadampali terkena kutukan Dewata sehingga mengidap penyakit lepra. Maka demi menjaga agar
rakyat Luwu tidak terjangkit penyakit menular itu, terpaksa We Tadampali beserta segenap
pengikutnya dihanyutkan dengan dibekali benda-benda pusaka kerajaan yang dibawa La Mallala'E
dari Uri Liung, yaitu : Sebilah kelewang bergelar La TEakasi, sepucuk tombak bergelar La Ula Balu dan
sebilah badik kecil bergelar Cobo'E. Hingga pada perjalanan masa pembuangannya, We Tadampali
terdampar disuatu wilayah yang kini dikenal sebagai : Tosora (berasal dari kata TosorE : orang
terdampar) yang kelak menjadi Ibukota Kerajaan Wajo. We Tadampali mendapatkan kesembuhan
berkat jilatan "TEdong Buleng" (Kerbau Bulai) yang kemudian dipersunting oleh La Mallu'
Toangingraja Arung BabauwaE (Bone Utara).

Menelusuri lebih jauh perihal leluhur masyarakat Sulawesi Selatan, kiranya tidaklah berlebihan jika
sumber-sumbernya dirambah pada muara I La Galigo, naskah tertua Sulawesi yang ada. Disebutkan
bahwa, "Pajung Luwu" sesungguhnya memiliki hubungan kekerabatan dengan berbagai Raja-Raja di
banyak negeri pada zaman keemasannya, antara lain :

La Tenri Tatta ri Gima (Bima, Nusa Tenggara)

La Tenri Peppang ri Wadeng (Gorontalo)

TopangkElareng ri Taranati (TernatE)

La Temmadatu ri Butung (Buton, Sulawesi Tenggara)

Guru La Sellang Puang Palipada ri MassEnrEngpulu (EnrEkang)

Puang Pongkopadang ri Pitu Babanna Binanga (Sulawesi Barat)

dll..

Kemudian Sawerigading dijelaskan memiliki 70 orang sepupu sekali (sapposiseng cEra' lebbi') yang
menjadi penguasa pada berbagai wilayah, antara lain disebutkan :

La Mattulia ri Matano

La Temmacelling ri BaEbunta

La Maracinna ri Rongkong

La Maranginang ri Masamba

Guttu Patalo ri Bua


5

La PawisEang ri Ponrang

LA Saddakati ri Larompong

La Rumbalangi (La Rumpang Langi) ri MEngkoka

LA Banawa ri Duri

Guttu Pareppa ri Toraja

EllungmangEnrE' ri Tondong (Sinjai)

La Pawawoi ri Balannipa (Mandar)

dll..

Menyimak uraian perihal leluhur pada periode "Tumanurung" diatas, kiranya dapatlah disimpulkan
bahwa sesungguhnya benar adanya jika "Luwu" dikatakan sebagai "Negeri Asal Muasal", sehingga
pembahasan perihal "Kesatuan Silsilah" dalam periode Lontara dapat dilanjutkan pada bagian
berikutnya dalam tulisan in

Mengenai Wija To Manurung Appona Kali Barru silsilah Keluarga Dalam


Masa Akhir Abad Ini Telah Di Tulis Kembali Dari Catatan Kakek Buyut
Kami.untuk Mengenang Dan Mengetahui Asal Muasal Tomanurung
(Mula Tau).dan Apa Yang Di Maksud Tomanurung Artinya Dalam
Pandangan Beberapa Tokoh Sejarahwan bahwa To Manurung Ada
Yang Mengatakan Bahwa Ia Datang Dari Atas Langit Maksudnya
Golongan Atas Tercipta Turun Ke Bumi.sebagian juga mengatakan ia
datang dari Atas ketinggian dengan suatu Kelebihan yang di berikan
oleh Allah dengan sesuatu kecerdasan,kepintaran ,ahli bercocok
Tanam,berilmu Tinggi,Manusia Terpilih,untuk memimpin Daerah
Tersebut.Dan Inilah Awal Terbentknya Suatu Kerajaan..salah satunya
Sawerigading Ia Muncul Dari Pohon Bambu ( Gading)..Begitupun
Siannganseri Dewi sri ( Padi). Begitupun Mata Silompoe Manurung Ri
Matajang ia Muncul Dari Cahaya Terang ia datang secara ghaib dan
meninggalnya pun lenyap (Mallajang)....

Mengenai Tahun Perkiraan Kerajaan Tomanurunnge Ri Tanah


Ogi.Tahun 1268 Awal abad Ke 12 Raja Payung Luwu Ke 3 Itu Yang
Memerintah simpurisiang.Sedangkan Raja Bone Mangkau 1
Manurungnge Ri Matajang memerintah Tahun 1326-1358

Istri Manurungnge Rimatajang Yaitu We ngaempo Manurunnge Ri Toro


Dalam Lontara Ada Yang Mengatakan Ia Anak Dari Sawerigading
dengan I Cudai Dg Ri sompa. Dan ada juga mengatakan anak dari
6

Anakaji..cucunya sawerigading ..Sampurisiang Anak Dari We


Tenriabeng Saudari Opunna Ware Sawerigading...

Jadi bisa di perkirakan Kerajaan Tertua Luwu Itu Jatuh Pada Tahun
Awal Abad Ke 12 atau Tahun 1200 Atau Akhir Abad Ke 11 tahun
1100..Islam Sudah ada Pada Abad 5 Yaitu Tahun 500,,sedangkan
Masuknya islam di Tanah Bugis yaitu di Tosora Wajo Itu Abad 13 yang
di bawah oleh kakek bunyut wali songo yaitu syekh Djamaluddin
Qubro..

KERAJAAN LUWU

Nama-nama Pajung/Datu Luwu


Berikut ini adalah nama-
nama Pajung atau Datu yang pernah memerintah Kerajaan Luwu yang diawali oleh kepemimpinan B
atara Guru dan diakhiri oleh Andi Djemma sebagai raja terakhir.

- Batara Guru, bergelar To Manurung merupakan Pajung / Datu Luwu ke-1.

- Batara Lattu’, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 2 memerintah selama 20 tahun.

- Simpurusiang, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 3 memerintah pada tahun 1268-1293 M.

- Anakaji, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 4 memerintah pada tahun 1293-1330 M.

- Tampa Balusu, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 5 memerintah pada tahun 1330-1365 M.

- Tanra Balusu, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 6 memerintah pada tahun 1365-1402 M.

- Toampanangi, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 7 memerintah pada tahun 1402-1426 M.

- Batara Guru II, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 8 memerintah pada tahun 1426-1458 M.

- La Mariawa, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 9 memerintah pada tahun 1458-1465 M.

- Risaolebbi, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 10 memerintah pada tahun 1465-1507 M.

- Dewaraja, bergelar Maningoe’ ri Bajo merupakan Pajung / Datu Luwu ke-


11 memerintah pada tahun 1507-1541 M.

- Tosangkawana, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 12 memerintah pada tahun 1541-1556 M.

- Maoge, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 13 memerintah pada tahun 1556-1571 M.

- We Tenri Rawe’, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 14 memerintah pada tahun 1571-1587 M.

Andi Pattiware’ Daeng Parabung atau Pattiarase, bergelar Petta Matinroe’ Pattimang merupakan Paj
ung / Datu Luwu ke- 15 memerintah pada tahun 1587-1615 M.
7

- Patipasaung, merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 16 memerintah pada tahun 1615-1637 M.

La Basso atau La Pakeubangan atau Sultan Ahmad Nazaruddin, bergelar Petta Matinroe’ ri Gowa (Lo
kkoe’) merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 17 memerintah pada tahun 1637-1663 M.

- Settiaraja, bergelar Petta Matinroe’ ri Tompoq Tikkaq merupakan Pajung / Datu Luwu ke-
18 dan ke- 20 memerintah pada tahun 1663-1704 M.

- Lamaddussila Petta Matinroe’ ri Polka, merupakan Pajung / Datu Luwu ke-


19, memerintah ketika Settiaraja pergi membantu Gowa menghadapi VOC.

La Onro Topalaguna, bergelar Petta Matinroe’ ri Langkanae’ merupakan Pajung / Datu Luwu ke-
21 memerintah pada tahun 1704-1706 M.

Batari Tungke, bergelar Sultan Fatimah Petta Matinroe’ ri Pattiro merupakan Pajung / Datu Luwu k
e- 22 memerintah pada tahun 1706-1715 M.

Batari Tojang, bergelar Sultan Zaenab Matinroe’ ri Tippulue’ merupakan Pajung / Datu Luwu ke-
23 memerintah pada tahun 1715-1748 M.

We Tenri Leleang, bergelar Petta Matinroe’ ri Soreang merupakan Pajung / Datu Luwu ke-
24 dan ke- 26 memerintah pada tahun 1748-1778 M.

Tosibengngareng, bergelar La Kaseng Petta Matinroe’ ri Kaluku Bodoe’ merupakan Pajung / Datu L
uwu ke- 25 memerintah pada tahun 1760-1765 M.

La Tenri Peppang atau Daeng Pali’, bergelar Petta Matinroe’ ri Sabbangparu merupakan Pajung / Dat
u Luwu ke- 27 memerintah pada tahun 1778-1810 M.

We Tenri Awaru atau Sultan Hawa, bergelar Petta Matinroe’ ri Tengngana Luwu merupakan Pajung
/ Datu Luwu ke- 28 memerintah pada tahun 1810-1825 M.

La Oddang Pero, bergelar Petta Matinroe’ Kombong Beru merupakan Pajung / Datu Luwu ke-
29 memerintah pada tahun 1825-1854 M.

Patipatau atau Abdul Karim Toapanyompa, bergelar Petta Matinroe’ ri Limpomajang, merupakan Pa
jung / Datu Luwu ke- 30 memerintah pada tahun 1854-1880 M.

- We Addi Luwu, bergelar Petta Matinroe’ Temmalullu merupakan Pajung / Datu Luwu ke-
31 memerintah pada tahun 1880-1883 M.

Iskandar Opu Daeng Pali’, bergelar Petta Matinroe’ ri Matakko merupakan Pajung / Datu Luwu ke-
32 memerintah pada tahun 1883-1901 M.
-
Andi Kambo atau Siti Husaimah Andi Kambo Opu Daeng Risompa Sultan Zaenab, bergelar Petta Mati
nroe’ ri Bintanna merupakan Pajung / Datu Luwu ke- 33 memerintah pada tahun 1901-1935 M.
- Andi Jemma, bergelar Petta Matinroe’ ri Amaradekanna merupakan Pajung / Datu Luwu ke-
34 dan ke- 36 memerintah pada tahun 1935-1965 M.
- Andi Jelling, merupakan Pajung / Datu Luwu ke-
35 memerintah ketika Andi Jemma ditahan dan diasingkan oleh Belanda
8

KERAJAAN LUWU

1. Batara Guru (Londong Mawale) raja pertama


2. Batara Lattu (Putera Batara Guru)
3. Simpurusiang (Putera We Tenriabeng yang bersaudara kembar dengan Sawerigading, cucu
dari Batara Lattu)
4. Anakaji (Putera Simpurusiang. Inilah yang kawin dengan putri Majapahit bernama We
Tappacina) lahirlah tanpa balusu dan we Mattenngaempo
5. Tanpa Balusu (Putera Anakaji)
6. Tanra Balusu (Putera Tanpa Balusu)
7. Toappanange (Putera Tanra Balusu)
8. Batara Guru II (Putera Toappanange)
9. Lamariawa (Putera Tanpa Balusu)
10. Datu Risaung Le’bi (Putera Batara Guru II)
11. ManinggoE ri Bajo (Putera Datu Risaung Le'bi'i)
12. Tosangkawana (Kemanakan ManinggoE ri Bajo)
13. Datu Maoge (Kemanakan Tosangkawana)
14. We Tenriawe (Sepupu sekali Datu Maoge)
15. Patiarase' (Putera We Tenriawe. Inilah Raja Luwu pertama yang masuk
Islam)
16. Pati Passaung Sultan Abdullah MatinroE ri Patimang Putera Patiarase'.
la kawin dengan Karaeng Balla Bugisi dari Gowa dan tenri waja
17. La basso pakkebuangan lapalisu baqa Petta MatinroE ri Gowa (Putera Pati Passaung)
18. Settiaraja (MatinroE ri Tompo' tika' (Putera Petta Mattiroe ri Gowa
19. La Maddusila MatinroE ri Polka (Sepupu sekali Settiaraja)
20. Settiaraja (Kedua kali jadi raja)
21. To Palaguna MatinroE ri Langkanana Putera Settiaraja. Raja inilah yang
kawin dengan We Patteketana Daeng Tanisanga (Datu Taanete Xlll)
22. Batari Tungke Sultanat Fatimah MattinroE ri Patturu putri To Palaguna)
23. Batari Toja Sultanat Sitti Sainab MatinroE ri Timpuluna sepupu sekali Batari Tungke. la juga
menjadi Mangkau di Bone dan Dati di Soppeng, Istri La Patau Matanna Tikka, Raja Bone)
24. We Tenrileleang (Puteri Batari Tungke')
25. La Kaseng MatinroE ri Kaluku BodoE (paman We Tenrileleang)
26. We Tenrileleang kedua kalinya menjadi Datu Luwu)
27. La Tenripeppang (Putera La Kaseng)
28. We Tenriawaru Puteri Latenri Peppang. Kawin dengan Mappoleonro, Datu Soppeng ke 28.
(1765-1820)
29. Laoddampero (Putera We Tenriawaru)
30. Patipatau Toappanyompa (Putera Laoddarnpero), MatinroE ri Tomalullu (Putera We
Tenriawaru)
32. Iskandar Opu Daeng Pali (Kemanakan Matinro[ ri Tomalullu).
9

33. Andi Kambo Opu Daeng Risompa MatinroE ri Bintara (Putera Patipatau
Toappanyompa)
34. Andi Djemma (Putera Andi Kambo)
35. Andi Jelling (Paman Andi Djemma)
36. Andi Djemma (Untuk kedua kalinya, setelah Republik Indonesia).

WE TENRI LELEANG, RATU AGUNG TANA LUWU


By. Andi Oddang

Pada negeri tempat kami dilahirkan, yakni : Belawa. Sekiranya ada yang
bertanya, “PolE tEgaro turungengki’ ?” (dari mana yang menurunkan
anda ?). Jika menyebut suatu negeri lain “dari mana asal muasal”, maka
pertanyaan itu akan terus berkelanjutan, “Niga turungengki’ ?” (siapa
yang menurunkan anda ?). Namun sekiranya pada pertanyaan awalnya
dijawab : “PolE Tana Datu Poatangnga’..” (Datu yang memperabdikan
saya dari Tana Luwu..), maka tiada lagi pertanyaan berikutnya..”.
Bagaimana bisa Tana Luwu demikian diagungkan seperti itu ?, tanya
salah seorang kemenakan kami penasaran. Maka salahsatu
jawabannya adalah diuraikan dan dihaturkan berikut ini.

Pada pertengahan abad XVIII, Catherine seorang puteri Kerajaan


Jerman Minor dinobatkan “Tsarina” (kaisar) Rusia yang memimpin
rakyatnya menuju keagungan Eropa. Maka pada belahan dunia lainnya
dalam kurun waktu yang sama, Bangsa Luwu di Pulau Celebes terbit
pula seorang pemimpin perempuan yang keagungannya tetap
meninggalkan jejak-jejaknya hingga dimasa kini. Beliau adalah Ratu We
Tenri lElEang "Sultana Aisyah" Datu TanEtE, Petta MatinroE ri SorEang
Pajung ri Luwu. Suatu bukti, bahwa : Luwu adalah Bangsa yang besar.

Terlahir pada paruh ketiga abad XVII dan wafat pada pertengahan abad
XVIII (1750), kiranya tidaklah berlebihan jika penulis beranggapan
bahwa tokoh perempuan yang satu ini adalah titik sentral silsilah yang
memperhubungkan garis keturunan para Raja Besar di Sulawesi.
Baginda Ratu melahirkan keturunannya yang terdiri dari para Raja dan
Ratu perkasa, sehingga mendominasi percaturan politik di Asia
Tenggara pada abad XVIII hingga kini.

Ratu We Tenri lElEang "Sultana Aisyah" Datu TanEtE, Petta MatinroE ri


SorEang Pajung ri Luwu adalah puteri We Batari Tungke’ Pajung Luwu
dengan La Rumpangmegga’ To SappEilE Opu Cenning Luwu.
10

Ibundanya, yakni : We Batari Tungke’ Pajung Luwu adalah puteri


Laonrong Topalaguna Pajung Luwu X (1676-1704) dengan We
PattEkEtana Datu TanEtE. Maka ke-datuan TanEtE dalam wilayah Kab.
Barru pada masa kini yang diwarisi WE Tenri LElEang beserta segenap
turunannya kemudian adalah berasal dari neneknya, yakni We
PattEkEtana. Suatu nama gelar yang berarti :
Membawa/mempertautkan dua Kerajaan.

Baginda Ratu adalah seorang pemimpin yang adil dan bermartabat. Hal
ini dibuktikannya ketika salah seorang puteranya yang adalah Putera
Mahkota (Opu Cenning Luwu) gemar melanggar adat, dijatuhinya
hukuman "Ripaoppangi Tana na risorong rakko lopi-lopinna" (diusir dari
wilayah kerajaan dan tidak boleh kembali selamanya). Kemudian salah
seorang puteranya yang lain, yakni : Petta MatinroE ri Waniaga terpaksa
bahkan harus menjalani hukuman mati dengan ditenggelamkan di
Tanjung Bira atas kesalahan yang dilakukannya, dimana hukuman
tersebut adalah dengan persetujuan Ibundanya sebagai Datu Luwu. Hal
yang disetujui Sang Datu, walaupun tentunya dengan deraian air
matanya. Tidak cukup sampai disitu, sebagai pertanggungjawaban atas
kesalahan puteranya, beliau mengundurkan diri sebagai Pajung Luwu.

Sebagai pengganti kekosongan tahta Luwu pasca pengunduran diri We


Tenri LElEang, dinobatkanlah pamannya sendiri (saudara seayah
Ibunda We Tenri LElEang), yakni : La KasEng Tosibengngareng Petta
MatinroE ri Kaluku BodoE. Namun tidak lama memerintah, Baginda
wafat. Maka We Tenri LElEang diminta kembali untuk menduduki
singgasana Luwu.
Suatu kejadian menarik telah terjadi pada masa suksesi kepemimpinan
Tana Luwu pada waktu itu. Syahdan, Tana Luwu setelah kepergian We
Tenri LElEang ke TanEtE, terjadilah kekosongan pucuk pemerintahan.
Oleh para hadat Luwu, diutuslah beberapa orang kepercayaan untuk
menjemput La KasEng Tosibengngareng (pamanda We Tenri LElEang)
ke Bone, demi meminta kesediaannya untuk dinobatkan selaku Datu
Luwu.

Walhasil, para utusan itu menemui To Sibengngareng di arena judi.


Ternyata selama ini, tiada lain yang dilakukan oleh pangeran Luwu itu
hanyalah bermain judi. Ketika utusan menghaturkan maksudnya, diluar
dugaan siapapun ketika itu, ternyata To Sibengngareng menolaknya
dengan santai. “Saya tidak butuh menjadi Raja Luwu atau dimanapun.
Saya sudah senang dengan kehidupanku sekarang..”, jawabnya dengan
acuh tak acuh. Maka dengan apa boleh buat, utusan itu memohon diri
kembali ke Luwu.
11

Setibanya di Luwu, Hadat Luwu memerintahkan agar kembali


menjemput La KasEng To Sibengngareng. “Dia setuju atau tidak setuju,
dia harus menjadi Datu Luwu. Kalau dia menolak, paksa dia dengan
cara apapun !”, demikian amanat yang diterima oleh para utusan itu.
Maka kembalilah para utusan itu ke Bone dengan misi yang sama
namun dengan perintah yang lebih tegas. Pada akhirnya, setelah lelah
membujuk dengan halus, para utusan itu menyergap To Sibengngareng
lalu menelikung kedua tangannya dibelakang punggung, diikat lalu
dinaikkan keatas kuda. Beliau dibawa paksa ke Luwu dan dinobatkan
dengan paksa sebagai Luwu.

Selama hidupnya, We Tenri LElEang menikah sebanyak tiga kali.


Pernikahannya dengan La Mappasiling (La Mappasali, La Mappaselli)
Datu Pattojo Petta MatinroE Duninna, melahirkan : La Mappajanci Datu
SoppEng XXVII MatinroE ri Laburaung dan We Tenri Abang DaEng Baji
DatuE Watu MatinroE ri PangkajEnnE. La Mappajanci Datu SoppEng
XXVII menikahi sepupu sekalinya, yakni : I Sabong (puteri La Oddang
Riu DaEng Mattinri' "Sultan Fachruddin" Datu TanEtE Datu SoppEng
XXIII), melahirkan I MEnengratu Arung Lipukasi. Adapun halnya dengan
We Tenri Abang DaEng Baji DatuE Watu, beliau dinikahkan dengan La
Pallawagau' Arung Maiwa Datu Pammana Pilla ri Wajo, melahirkan 4
puteri dan 1 putera, yakni : I Sompa DaEng Sinring Datu Pammana, We
Tenri Balobo DaEng RiyasE Datu Pammana, I Mappanyiwi Datu
Pammana, I BubEng KaraEngta PambinEang dan La Tenri Dolong Datu
Pammana.

I Sompa DaEng Sinring Datu Pammana telah menikah sebanyak dua


kali pula. Dari suaminya yang bernama : La Settiang Opu Maddika Bua
(La Sattiaraja Opu Dg. Cella), beliau melahirkan I Nomba Petta Mabbola
SadaE Datu Pammana (isteri La Pasanrangi Muhammad Arsak Petta
CambangngE Arung Malolo SidEnrEng) dan La Patarai Opu
Lamunreng. Maka dari garis inilah, keturunan We Tenri LElEang
beranak cucu sebagai para penguasa Kerajaan Bone, Aja Tappareng,
Gowa, SoppEng, Pammana hingga Arung Matoa Wajo. Adapun halnya
dengan We Tenri Balobo DaEng RiyasE Datu Pammana telah
dinikahkan dua kali pula. Pernikahannnya dengan La Tenri Arung
Baranti Arung Tellu Latte’ SidEnrEng, melahirkan : La Patombongi
KaraEng Bontotangnga. Kemudian pernikahan keduanya dengan La
Sappo Petta Ogi Arung Belawa Petta Palireng MatinroE ri CempaE,
melahirkan : La Tamang Petta Palla’E.

Kemudian puteri yang lainnya, yakni : I Mappanyiwi Datu Pammana


menikah dengan La Canno’ Petta LampE Uttu Arung Gilireng Cakkuridi
12

ri Wajo, melahirkan : La Makkulawu Arung Gilireng Cakkuridi ri Wajo


(suami I Maddittana Arung Rappang) Melahirkan Palettei Poggawa
Ribone Dan I Bangki Arung Rappeng XVII.La Pallettei Poggawa Bone
Kawin Dengan I Karoro Melahirkan La Pakkanna Petta Batue ,La
Pakkanna Petta Batue Kawin Dengan I Mokko Melahirkan I Jamila Petta
Cak,I Jamila Petta Cak Kawin Dengan Andi Dussu Petta Ambo
Melahirkan H.Andi Pamairi Petta Mai ,Petta Mai Kawin Dengan Hj
Aminah Melahirkan Hj.Andi Jenne Pamairi S.Hi suami Saifuddin Hafid
Aliah S.Hi. Kemudian I BubEng KaraEngta PambinEang menikah
dengan La Wawo Addatuang SidEnrEng, melahirkan : La Pasanrangi
“Muhammad Arsyad” Petta CambangngE Arung Malolo SidEnrEng dan I
Ninnong Arung TEmpE.

Kembali pada We Tenri LElEang, dari pernikahannya dengan La


Mallarangeng Datu Lompulle' Datu Marioriawa Datu TanEtE, melahirkan
: La Maddusila Datu (KaraEng) TanEtE. Putera puterinya yang lain,
yakni : We Batari Toja (I Wakkang) DaEng Matana Datu Bakke' (isteri La
Tenri Peppang DaEng Paliweng Petta MatinroE ri Sabbangparu Pajung
ri Luwu XXVIII, anak La KasEng Tosibengngareng Petta MatinroE ri
Kaluku BodoE Datu Luwu XXVII) maka dari garis inilah yang
meneruskan trah kesultanan Luwu hingga kini. Kemudian La Tenri
Sessu' Arung Pancana Opu Cenning Luwu Petta MatinroE ri Belawa
memperisterikan We Tenri Lawa BessE PEampo, melahirkan : La
Makkarakalangi Baso Tancung Datu Marioriawa (ayahanda La Koro
Batara Wajo Arung Padali Arung Matoa Wajo XLI dan kakek dari La
Passamula Datu Lompulle’ MatinroE ri Batu-Batu Arung Matoa Wajo
XLII ). Pernikahan lain La Tenri Sessu' Arung Pancana dengan I Pada
Petta Punna BolaE Datu Silaja (Selayar), melahirkan : We Asia Datu
Lompulle’.

Lalu puteri lainnya, yakni : I Panangngareng Datu Marioriwawo menikah


dengan La Sunra Datu Lamuru, melahirkan : La Mappaware’ Datu
Lamuru. Tokoh inilah yang juga adalah titik sentral penebaran anak
cucunya yang menduduki tahta di Bone, Soppeng, Wajo, Sidenreng,
TanEtE, Berru, Tallo dan Gowa. Adapun halnya dengan putera We Tenri
LElEang, yakni : La Tenri Dolong Datu Pammana, beliau inilah yang
berangkat ke Kamboja dan memperisteri seorang puteri Istana Kamboja.
Hingga kemudian, pada jelang masa tuanya, Sri Ratu We Tenri LElEang
bercerai dengan La Mallarangeng Datu Lompulle' Datu Marioriawa Datu
TanEtE. Disinilah sejarah telah terekam lewat Lontara TanEtE, dimana
seorang wanita bugis memiliki harkat yang sama dengan lelaki bugis,
dimana We Tenri LElEang sendiri membuktikannya dengan
“menceraikan” suaminya tersebut. Ketika La Mallarangeng “menyindir”
13

mantan isterinya itu bahwa “lebih baik meniduri gundik daripada seorang
puteri bangsawan yang cantik jelita. Siapa lagi yang mau memperisteri
seorang puteri bangsawan yang walaupun cantik jelita namun sudah tua
?”. Maka dibalas oleh We Tenri LElEang : “bagaimana orang lain
berbuat, iapun bisa berbuat demikian. Jangan disangka tiada lagi
bangsawan sepantaranku yang tidak mau kepadaku”. Hal yang
kemudian dibuktikannya dengan mengikatkan ujung selendangnya pada
hulu keris “Petta PonggawaE” (Panglima Besar Kerajaan Bone) pada
suatu pesta keramaian. Selanjutnya, beliau dilamar dan menikah dalam
suatu prosesi pesta pernikahan agung di Bone. Hingga wafatnya, Petta
PonggawaE (Petta MatinroE ri Salassana) inilah yang merupakan suami
terakhir beliau.
Setelah sekian lama menjalankan amanahnya sebagai Ratu Kerajaan
TanEtE, pada suatu hari datanglah Opu BalirantE Luwu (Menteri
Kesejahteraan Kerajaan Luwu) menghadap beliau. “Pamandamu (La
KasEng Tosibengngareng) sudah tua renta. Beliau mengutusku untuk
menghadapmu, kiranya anda bersedia menghadap beliau di Luwu.
Beliau sedang sakit keras dan berharap kiranya bertemu dengan anda”,
ujar Opu BalirantE. Maka bertolaklah Sang Ratu TanEtE bersama
dengan suaminya menuju Luwu melalui perjalanan laut dengan
menumpang kapalnya sendiri yang bernama “Pao JengkiE”. Pada
akhirnya, setelah seminggu tibanya di Luwu dan bertemu dengan
pamannya, Datu Luwu yang tua renta itu wafat dengan tenang karena
terlebih dahulu telah memintai dan menerima kesediaan We Tenri
LElEang untuk kembali dinobatkan sebagai Datu Luwu sepeninggalnya.
Namun, tanpa diduga pada hari wafatnya pamannya tersebut, tiba-tiba
suami Sri Ratu wafat pula. Datu Luwu La KasEng Tosibengngareng
wafat pada jam 7.00 malam dan Petta PonggawaE wafat pada jam 4.00
subuh. Maka pada hari penguburan mereka, rakyat Luwu mengusung 2
keranda untuk dikebumikan di Lokko’E, komplek Makam Raja-Raja
Luwu di Palopo. La KasEng Tosibengngareng diberi gelar anumerta :
“Petta MatinroE ri Kaluku BodoE” dan Petta PonggawaE Bone diberi
gelar : “Petta MatinroE ri Salassana”.Dalam Penelurusan Anak Cucunya
Bahwa Makam La Kaseng Petta Matinroe Kaluku Bodoe Terletak Di
Makassar Samping Makam Datuk Ri Bandang.
Sri Baginda Ratu We Tenri LElEang selanjutnya menjalankan
pemerintahan Tana Luwu dengan amat berdisiplin pada aturan dan
tatanan adat istiadat. Aturan dan tatanan itu ditegakkannya tanpa
memandang bulu. Salahsatu tindakannya yang terkenal adalah ketika
menghukum salah seorang puteri kandungnya dengan menggunduli
rambutnya dan dijemurnya dihalaman istananya karena dipandang
menolak perintah Hadat Luwu.
14

Sepanjang menelusuri silsilah raja-raja di Sulawesi Selatan dari abad


XVIII sampai abad XX hingga kepada turunannya yang bertebaran pada
masa kini, maka didapati bahwa hamper semua Raja-Raja Penguasa
TelluE ri Cappa’gala (Luwu, Bone dan Gowa), TellumpoccoE (Bone,
Wajo dan Soppeng), LimaE ri Ajattappareng (SidEnrEng, Sawitto,
Suppa, Rappang dan Alitta), TanEtE, Berru, PangkajEnnE (Pangkep),
EnrEkang dan Maiwa adalah turunan We Tenri LElEang MatinroE ri
SorEang beserta anak cucunya diatas. Hal yang sesungguhnya amat
mencengangkan karena eksistensi Luwu pada zaman itu sesungguhnya
bukanlah sebagai “Kerajaan Penakluk” dengan kekuatan militernya
sebagaimana Gowa dan Bone. Namun sejarah kemudian membuktikan
bahwa Luwu berhasil menanamkan pengaruhnya yang meluas itu berkat
“adab kemuliaannya” sebagai “Luwu Tana Mappabati Alebbireng na
Ade’ Maraja” (Luwu tanah kemuliaan dengan adat kebesarannya). Luwu
dengan keberagamannya adalah satu-satunya Kerajaan di Sulawesi
yang memimpin suatu Bangsa, yakni : Bangsa Luwu.

MENGENAL BIOGRAFI SYEKH MUHAMMAD FUDAIL

Puang Idea KO'BAN NGE BERRU

1.Proses penyebaran tarekat khalawatiya samman di sulawesi


Berbicara mengenai proses penyebaran tarekat khalawatiyah samman
sehingga sampai di indonesia,khususnya di sulawesi selatan.menurut
data-data yang penulis peroleh dari penganut tarekat khalawatiya
samman bahwa tarekat khalawatiya samman mulanya berkembang di
madinah yang di pelopori oleh syekh muhammad bin abd karim as-
samman al-qadiri AL-khalawati al madani.masyur dengan sebutan nama
muhammad samman,hidup di madinah sekitar abad ke 12 hijriah (tahun
1132-1189H)
Madrasah tasawwuf syekh muhammad samman di kunjungi oleh
penuntut ilmu dari berbagai negri seperti indonesia.
15

H.Abu bakar aceh mengemukakan bahwa syekh samman adalah salah


satu guru tarakat yang ternama di madinah.pengajarannya bayak di
kunjungi oleh orang-orang dari indonesiadi antaranya berasal dari aceh
dan kalimantan.oleh kareana itu tarekatnya bayak tersiar di aceh dan
kalimantan yang biasa di sebut tarekat sammaniyah.syekh Muhammad
samman wafat 1720M.sejarah hidupnya di bukukan oleh
muridnya,dengan nama manaqib Tuan syekh muhammad samman ,di
siarkan dan di baca dalam kalangan luas .
Murid-muridnya yang berasal dari indonesia di antaranya:
-Syekh Abdul samad al palembani
-Syekh Muhammad Arsad al banjari
-Syekh Abdul Wahhab al bugisi
-Syekh Abdul rahman masri betawi
Mereka inilah mula-mula menyiarkan dan mengembangkan tarekat
khalawatiyah samman(sammaniyah)di indonesia.
Tarekat khalawatiyah samman masuk kesulawesi selatan pada tahun
1820M(1240H) di bawah oleh syekh abdillah AL munir dari sumbawa
Nusa tenggara.Abdullah Al munir adalah orang bugis,asal keturunan
bangsawan bone .Ayahnya adalah putra raja bone ke 21 La
tammessonge’ istri st.safiah arung letta Anak Towappo Addatuang VI
sidenreng Dan Melahirkan Anak yang bernama LA KASI petta
ponggawae di bone,sedang ibunya bernama we Tenr I Abeng.
Sejak muda ,Abdillah AL munir merantau ke sumbawa.Disana ia
berguru Kepada syekh H.Idris Bin Usman ,sedang gurunya ini belajar
pula dari syekh Siddiq Bin umar khan Al madani dan berguru pula
kepada syekh Abdus samad Al palembani.kedua gurunya ini adalah
murid dan khalifah dari Syekh Muhammad Samman Al qadiri Al
khalawati Al madani.
Syekh Abdullah Al munir kawin dengan putri sultan sumbawa lalau
Datuk Neloa,sehingga lahirlah putranya yang kemudian
menggantikannya menjadi khalifah benama Dea sehe Lalo pananrang
Daeng Massese Syekh Muhammad Fudhail ( Puang IDEA).Wafat
pada akhir abad ke 19M,Dan di kuburkan di jalan keramat (Barru).Ia di
gantikan oleh putranya yang bernama Andi Mangngaweang Petta
Bani,dengan gelar Syekh Abdul Gani Tajul Arifin.makamnya di samping
makam syekh yusuf Tajul Khalwati di lakiung gowa sul-sel.
Syekh Muhammad Fudhail sudah mempesiapkan putranya melalui
pendidikan Makrifah dan latihan Wirid serta budi pekerti yang terpuji
bersama-sama dengan kadernya yang lain,seperti:
-Ahmad singkeru Rukka yang kemudian menjadi raja bone ke-28
bergelar Sultan Ahmad Bin Idris(1860-
1871)
-I Mallingkaan Daeng yonri Karaeng Katangka yang kemudian jadi raja
16

gowa ke 33(1893-1895M)
Bergelar Sultan Idris.
-Petta Watang Lipu-e di soppeng di kenal petta Ambona La
massalengke.
-Ishaq Manggabarani Karaeng mangngepe yang kemudian menjadi
Arung matoa wajo ke 46 (1900-1961M)
-Guru lambeng di soppeng
-H.palopo Syekh Abdur Razaq Bin La Mappangara Arung sinri berasal
dari bone.
Diantara murid Syekh Muhammad Fudhail yang terkenal dalam proses
penyebaran Tarekat khalawatiyah samman adalah H.palopo syekh
Abdur razaq yang telah di tunjuk oleh gurunya menjadi khalifah.Syekh
Abdur razaq memilih tempat penyebaran ajarannya di kampung
Leppakomai kecamatan maros.
Dalam masa khalifah Syekh Abdur razaq penyebaran tarekat
khalawatiyah samman mencapai puncak popularitasnya,bahkan hampir
di katakan bahwa tarekat ini hadir di tengah-tengah ummat islam pada
setiap kabupaten di sulawesi selatan.Bahkan sampai saat ini
leppakomai dan pattene menjadi pusat pengembanga tarekat
khalawatiya samman.
Setelah Syekh Abdul ghani Tajul Arifin wafat,ia di gantikan Oleh
kemanakannya yaitu Andi Pallajarang Petta Rukka dengan gelar
Khalifah Syekh Abdus samad Asaddullah AL-Mas’uli,ia menetap di
parangki maros sampai wafat dan berhasi mendidik murid yang
bernama Ibarakka Daeng Mallabang dengan gelar Khalifah Syekh
Abubakri BIN Fihrin Tajul khalawati.Syekh inilah yang berjasa
memperbayak kader dan khalifah yang menyebar luaskan tarekat
khalawatiya samman di beberapa propinsi dalam wilayah indonesia.

Majelis Dzikir Syekh samman

Tercatat putera beliau, Syeikh Muhammad Fudail :Yaitu


1. Petta Bani dan
2.Syeikh Muhammad Quddus Petta Nambung Arung Ta'
1.Pertalian keluarga antara Syeikh Maulana Muhammad Fudail dan
Syeikh Abdur Razak Al Bugis Al Buni kembali terjalin erat dengan
pernikahan antara Syeikh Abdur Rahman ibn Syeikh Abdur Razak
dengan Cibang Petta Nurung binti Syeikh Muhammad Quddus Arung
Ta' ibn Syeikh Maulana Muhammad Fudail Arung Paccing,,,. "Syeikh
Abdur Rahman ibn Syeikh Abdur Razak" disematkan kepada beliau
17

gelar anumerta "I Puang ri Bolampare'na MallinrungE ri Padaelo"


,,Pertalian keluarga kedua beliau kembali berlanjut pada generasi
sekarang,dengan pernikahan antara cicit beliau (yang bermukim di
Pakkasalo-Maros), alm. H.A.Abdullah Puang Ngatta (cicit Syeikh
Maulana Muhammad Fudail) dan Puang Ngimi (generasi ke-5 dari
Syeikh Abdur Razak),,

PERMULAAN AGANG NIONJO YANG KEMUDIAN DINAMAI TANETE

Ditulis ulang oleh Andi M. Irvan Zulfikar

sejarah Asal Mula Barru : Dari Kerajaan Hingga Swapraja

Menurut cerita-cerita orang dahulu, nama Barru sebelum terbentuknya


kerajaan terjadi akibat perkawinan turunan bangsawan Luwu dengan
Gowa diatas bukit Ajarenge dimana disitu banyak pepohonan kayu yang
disebut Aju Beru. Kemudian nama Aju Beru itulah yang hingga kini
dikenal dengan nama Barru.
Sebelum adanya kerajaan di Barru, menurut Lontara silsilah Raja-raja
Barru pada mulanya Barru dirintis oleh Puang Ribulu Puang Ricampa
hingga datangnya seorang keturunan ManurungE Ri Jangang-Jangngan
menjadi Raja pertama (I) di Barru yang kemudian setelah wafatnya
digantikan oleh anaknya yang bernama MatinroE Ri Kajuara. Adapun
batas-batas kerajaan Barru pada masa itu adalah:
1. Sebelah Selatan berbatasan dengan kerajaan Tanete
2. Sebelah Timur berbatasan dengan Soppeng
3. Sebelah Utara berbatasan dengan Soppeng Riaja
4. Sebelah Barat berbatasan dengan lautan Selat Makassar.
Dengan batas kerajaan inilah raja Barru ke III yaitu MatinroE Ri
Daunglesang melaksanakan pemerintahannya dengan mendirikan Bate
Tuwung dan Bate Mangempang. Setelah raja ke III ini wafat beliau
digantikan oleh puteranya yaitu MatinroE Ri Gollana sebagai raja ke IV
dan dalam pemerintahannya beliau menganggap perlu kerajaan Barru
ini dibagi menjadi :
1. Barru Timur
2. Barru Barat
Barru Timur yaitu diperkirakan pada daerah sekitar pegunungan dan
Barru Barat yaitu daerah sekitar pesisir pantai. Barru Timur kemudian
diserahkan kekuasaannya kepada adiknya sedangkan raja Barru
18

MatinroE Ri Gollana memerintah di Barru Barat. Setalah wafatnya


MatinroE Ri Gollana beliau digantikan oleh puteranya yang bernama
MatinroE Ri Data (V). Raja ini memiliki persahabatan yang cukup dekat
dengan raja Soppeng dan setelah wafatnya digantikan oleh puteranya
yang bernama MatinroE Ri Bulu (VI). Pada masa pemerintahannya
beliau pernah berperang dengan Soppeng dan bersahabat dengan
Suppa. Setelah wafatnya beliau digantikan oleh puteranya yang
bernama MatinroE Ri Barugana. Dalam pemerintahannya pernah hidup
seorang pemberani yang bernama To Pakapo dan pernah berperang
dengan Pange dan Palakka yang berakhir dengan kemenangan
Palakka. Setelah wafatnya beliau digantikan oleh Daeng Maero
MatinroE Ri Lamuru sebagai raja ke delapan (VIII). Pada masa
pemerintahan beliau datanlah orang dari Gelle untuk meminta tempat
tinggal dan diberikanlah daerah Madello sehingga mereka dikenal
dengan sebutan orang Madello. Setelah wafatnya beliau digantikan oleh
anaknya yang bernama MatinroE Ri Ajuarana (IX). Pada masa
pemrintahan beliau datang orang Sawitto meminta tinggal dan
diberikanlah tiga daerah yaitu Coppo, Ammaro, dan Maganjang dengan
jalan menyewa tanah. Setelah wafatnya beliau digantikan oleh MatinroE
Ri Coppobulu (X). Raja inilah yang membawa Bate Bolonge ke Tanete
untuk ditukar dengan Batena Tanete yaitu La Sarewong kemudian
dibawa ke Barru. Pada masa beliau jugalah dibentuk empat kepala
kampung yang disebut Matowa yaitu Matowa Baleng, Matowa Tuwung,
Matowa Batubessi dan Matowa Ta’. Setelah wafatnya beliau digantikan
oleh anaknya yang bernama MatinroE Ri Laleng Beru (XI). Raja inilah
yang menerangkan ArajangE La Sarewo apabila hendak diupacarakan.
Pada masa pemerintahan beliau datanglah seorang Karaeng dari Gowa
untuk menyerang Tanete dan dimenangkan oleh Karaenge dari Gowa.
Pada waktu itulah raja Barru bermaksud berangkat ke Pancana untuk
menerima ajaran agama Islam. Belum tercapai niatnya tersebut beliau
sudah wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama MatinroE Ri
Duajenna (XII). Raja inilah yang pertama membawa masuk agama Islam
di Barru. Karena beliau tidak memiliki anak maka setelah wafatnya
beliau digantikan oleh kemenakannya To Riwetta Ri Bampa. Beliau
pernah berperang dengan kerajaan Bone yang waktu itu dibawah
kekuasaan Petta Malampe Gemmegna. Beliau wafat dalam medan
perang dan kemudian digantikan oleh saudaranya (XIV). Raja inilah
yang kemudian bersahabat dengan Bone dan setelah wafatnya beliau
digantikan oleh sepupunya seorang perempuan yaitu MatinroE Ri
Gamaccana (XV). Raja inilah perempuan pertama yang menjabat
sebagai raja di Barru dan kemudian menikah dengan anak raja Gowa.
Beliau jugalah yang menyatukan kembali Barru Timur dan Barru Barat
dengan pusat kerajaan di Barru Barat. Setelah wafatnya beliau
19

digantikan oleh anaknya yang bernama I Lipa Daeng Manako yang


setelah wafatnya bergelar MatinroE Ri Madello (XVI). Raja inilah yang
kemudian membawa sebagian rakyat dari pihak Bapaknya yaitu Bajeng
ke Padangke dan membuka perkampungan disana. Setelah wafatnya
beliau digantikan oleh I Malewai MatinroE RI MaridiE (XVII). Setelah
wafatnya beliau digantikan oleh I Rakiyah Karaeng Agangjene (XVIII).
Setelah wafatnya beliau digantikan oleh anaknya yang bernama To
Appo MatinroE Ri SumpangbinangaE (XIX). Setelah wafatnya beliau
digantikan oleh To Apasewa MatinroE Ri Amalana (XX). Beliau menikah
dengan I Halija Arung Pao-Pao. Setelah wafatnya beliau digantikan oleh
puteranya yang bernama To Patarai MatinroE Ri Masigina (XXI).
Setelah wafatnya beliau digantikan oleh puterinya yang bernama We
Tenripada (XXII) dan kawin dengan anak raja Gowa Patimatarang. Raja
inilah yang juga pertama kali membangun mesjid di Mangempang.
Beliau kebanyakan berdomisili di Gowa dan sehingga wafatnyapun di
Gowa. Setelah wafatnya pangulu adat kerajaan menyerahkan kerajaan
Barru kepada suaminya yang bernama Patimatarang namun hanya
berjalan selama setahun saja. Kemudian beliau menyerahkan kerajaan
Barru kepada puterinya yaitu Batari Toja (XXIII) pada tahun 1895. Pada
masa pemerintahan beliau terjadi perang antara Tanete dan Lipukasi
yang berakhir dengan direbutnya Lipukasi oleh raja Tanete
(Pancaitana). Setelah itu batas kerajaan Barru berubah menjadi:
1. Sebelah Utara sampai sungai Madello hingga ke Selatan sampai ke
sungai Lajari.
2. Dari pesisir pantai Selat Makassar sampai ke Timur kerajaan
Soppeng.
Karena Batari Toja dalam pemerintahannya kebanyakan berada di
Gowa sehingga untuk melaksanakan pemerintahan diberi kepercayaan
kepada:
1. ANDI MATTANIO ARUNG TUWUNG (Ayahanda ANDI DJUANNA DG
MALIUNGAN) melaksanakan pemerintahan disebelah Selatan sungai (
Taitang Salo)
2. Daeng Magading melaksanakan pemerintahan di sebelah Utara
sungai (Manerang Salo).
Pada tahun 1908 Batari Toja digantikan oleh puteranya yang bernama
Kalimullah Karaeng Lembang Parang atau dikenal dengan nama
Kalimullah Djonjo Karaeng Lembang Parang. Pada masa itu yang
menjabat sebagai Sulewatang (Pengganti kekuatan raja) adalah Andi
Djuanna Daeng Maliungan.
Kerajaan Barru Menjadi Swapraja
Pada masa Kalimullah Djonjo Karaeng Lembang Parang yaitu di tahun
1908 kerajaan Barru menjadi Onder Afdelling dan dibawah pengawasa
Controlleur Belanda hingga tahun 1942. Kemudian Jepang datang tahun
20

1942 dan melanjutkan pemerintahannya hingga tahun 1945. Setelah


Jepang berakhir kembali kerajaan Barru dibawah penguasaan
Controlleur Steller yang berkuasa di Barru sampai tahun 1946. Pada
tanggal 9 September 1945 Andi Sadapoto yaitu putera Karaeng
Lembang Parang diangkat menjadi raja untuk menggantikan Ayahnya.
Pada tahun 1947 Andi Sadapoto digantikan oleh Andi Sahribanong dan
dalam tahun 1948 inilah kerajaan Barru berubah menjadi Swapraja
dengan kepala pemerintahannya yang baru bernama K.P.N. Abdul
Latief Daeng Masiki kemudian diganti oleh Patotoreng dan sebagai
kepala swapraja Andi Sahribanong kemudian diganti oleh Andi
Sumangerukka

Bagian 1

Sebelum adanya Kerajaan Agang Nionjo, disana terdapat beberapa


raja-raja kecil yaitu Arung Alekale dan Arung Pangi. Dongeng yang
dipercayai yaitu pada satu masa Arung Pangi bersama pengikutnya
sedang berburu binatang (Rusa) di daerah pegunungan Pangi. Ketika
sampai di suatu hutan dan diatas puncak gunung Jangang-Jangangang
baginda mendapati sepasang suami istri. Ketika Arung Pangi bertanya
siapakah gerangan kalian?, maka pasangan suami istri tersebut tidak
bisa menjawab dan mereka bahkan tidak mengetahui asal usul mereka.
Kemudian Arung Pangi mengajak mereka untuk makan bersama,
namun dilihatnya kedua orang tersebut tidak memakan nasi melainkan
hanya memakan ikan mentah yang dibawakan kembali oleh burung-
burung. Aung Pangi terkejut melihat kejadian tersebut dan bertanya
tanya apakah mereka adalah taumanurung (orang turun dari langit) atau
tau tompo (orang muncul dari pertiwi atau bawah)?. Kemudian Arung
Pangi menamakan keduanya 'to sangiang' atau 'taumanurung'. Arung
Pangi lantas mengajak keduanya untuk hidup bersama seperti saudara
namun to sangiang menjawab bahwa jika dewata menghendaki maka
mereka akan memikirkan ajakan Arung Pangi tersebut.

Setelah beberapa waktu berlalu maka Arung Pangi datang kembali


untuk menjumpai to sangiang diatas bukit, namun kali ini Arung Pangi
mengajak Arung Alekale. Kedua Arung tersebut sekali lagi mengajak to
sangiang untuk hidup bersama mereka dan tinggal layaknya saudara.
Namun sekali lagi to sangiang menjawab bahwa jika dewata
menghendakinya barulah mereka akan memenuhi permintaan Arung
Pangi dan Arung Alekale.

Setelah beberapa tahun berlalu dan to sangiang memiliki 4 orang anak


(3 putra dan 1 putri) barulah timbul hasrat to sangiang untuk
21

meninggalkan bukit tersebut dan hidup bersama sebagaimana ajakan


Arung Pangi dan Arung Alekale sewaktu dulu. Maka dikawinkanlah
putrinya dengan putranya Arung Alekale.

Kemudian to sangiang bersama ketiga putranya menuruni bukit


jangang-jangangang dan berkeliling mencari kediaman baru. Sampailah
disuatu tempat yang mereka namai 'Rimattampawali'. Disanalah mereka
tinggal dan mebuka sawah yang kemudian mereka namai 'la ponrang'.

Tidak lama setelah mereka menetap di tempat barunya, tiba-tiba saja


putra sulungnya bertengkar dengan putra nomor duanya. To sangiang
menyuruh kedua anaknya yang bertengkar tesebut untuk pergi
kesebuah kampung yang bernama 'Soga'. Maka pergilah kedua anak
tersebut ke kampung yang disuruh oleh to sangiang dan menetaplah
mereka disana. Namun kembali pertengkaran terjadi yang
menyebabkan to sangiang begitu kecewa dan pergi meninggalkan
tempat tersebut dan mencari tempat tinggal baru.

Hingga suatu saat to sangiang sampai di suatu tempat dimana nampak


laut yang mereka namai 'La Poncing' disanalah mereka tinggal dan
membuka sawah-sawah baru yang mereka namakan 'La Mangade'. To
sangiang kemudian memberikan nama tempat tinggalnya itu 'Agang
Nionjo'.

Setelah beberapa lamanya waktu berlalu tak lama kedua anak to


sangiang bertengkar kembali. Kemudian to sangiang seperti putus asa
dan meminta bantuan Karaeng Segeri untuk menyelesaikan
pertengkaran kedua anaknya tersebut. Setelah berjumpa raja Segeri, to
sangiang kemudian menyampaikan permintaannya dihadapan raja
Segeri maka bergegaslah raja Segeri memenuhi permintaan to sangiang
dan mendatangi Agang Nionjo. Setelah pertengkaran tersebut dapat
diselesaikan oleh raja Segeri maka to sangiang merasa sangat
berhutang budi dengan raja Segeri. Kemudian to sangiang bersama
rakyat Agang Nionjo meminta raja Segeri untuk menjadi raja di Agang
Nionjo. Dipenuhilah sekali lagi permintaan to sangiang dan raja Segeri
menjadi raja di Agang Nionjo setelah dilaksanakan pelantikan oleh to
sangiang. Beliau menjadi raja pertama di Agang Nionjo dengan gelar
'Datu GollaE'. Beliau adalah juga kemenakan dari Raja Gowa
Tunipalangga, Datu GollaE kemudian mengangkat anak to sangiang
sebagai 'Pangara Wampang' dengan gelaran 'Puang Lolo Ujung' yang
menjalankan pemerintahan diatas negeri Agang Nionjo dengan atas
nama raja.
22

Datu GollaE berhasil berhasil memajukan Agang Nionjo dibidang


pertanian dan perikanan dan dalam waktu sebentar keadaan rakyat
Agang Nionjo menjadi makmur. Setelah sepuluh tahun lamanya Datu
GollaE menjalankan pemerintahan di Agang Nionjo kemudian beliau
wafat dan digantikan oleh anaknya to sangiang yang menjadi Pangara
Wampang (Puang Lolo Ujung). Namun setelah tiga tahun memerintah,
rakyat Agang Nionjo menderita kelaparan yang sangat hebat dan semua
hasil pertanian dan perikanan tidak ada yang berhasil. To sangiang dan
keluarganya akhirnya mengasingkan diri ke pegunungan karena merasa
dirinya dan keturunannya tidak layak sebagai raja.

Setelah ditinggal oleh to sangiang maka rakyat Agang Nionjo kembali


menjumpai raja Segeri 'MatinroE ri Bokokajuru'na' (tidak diketahui
namanya). Maka diteruskanlah usaha-usaha yang pernah dibuat oleh
pendahulunya yaitu Datu GollaE untuk menjadikan Agang Nionjo
sebagai satu negeri yang makmur.

Bagian 2

Diriwayatkan bahwa pada suatu masa Karaeng Agang Nionjo melihat


banyak perahu berlayar dimuka kota Agang Nionjo dan beliau segera
menyuruh Pabicara Agang Nionjo untuk pergi kelaut dan menanyakan
hendak kemana orang ramai tersebut berlayar?.

Bergegaslah Pabicara tersebut kelaut dan memperoleh keterangan


bahwa perahu-perahu tersebut adalah rombongan addatuang Sawitto
yang berlayar menuju ke kerajaan Gowa. Setelah mengetahui maksud
dan tujuan addatuang Sawitto maka karaeng Agang Nionjo segera
mencoba menggagalkan usaha addatuang Sawitto untuk memerangi
kerajaan Gowa. Diajaklah addatuang Sawitto beserta seluruh
rombongannya untuk beristirahat sementara waktu di Agang Nionjo dan
mengadakan sabung ayam. Setelah menyetujui ajakan karaeng Agang
Nionjo maka berlayarlah addatuang Sawitto beserta rombongan masuk
ke muara sungai Cinekko dan mendarat sampai ke kampung-kampung.
Setelah mendarat, Pabicara Agang Nionjo bertanya kepada addatuang
Sawitto, kapan beliau hendak memulai permainan sabung ayam
tersebut?. Namun addatuang Sawitto mengakatan bahwa beliau hanya
akan bersabung ayam dengan sombayya Gowa. Mengetahui maksud
addatuang Sawitto untuk memerangi sombayya Gowa maka karaeng
Agang Nionjo mengirimkan uang sejumlah satu kati dan satu tahil, dua
ekor kerbau hitam, empat puluh gantung beras, dan sebuah belubu
berisi air. Namun addatuang Sawitto dengan cepat menolak pemberian
karaeng Agang Nionjo tersebut. Maka karang Agang Nionjo betul-betul
23

merasa bahwa addatuang Sawitto tidak mau berdamai dengan


sombayya Gowa.

Kemudian terjadilah pertempuran antara laskar-laskar karaeng Agang


Nionjo dengan addatuang Sawitto. Pertempuran tersebut berlangsung
hingga beberapa hari lamanya dengan kekalahan dipihak addatuang
Sawitto. Setelah mengalami kekalahan maka addatuang Sawitto beserta
rombongan kembali ke negerinya.

Tidak lama kemudian karaeng Agang Nionjo menghadap sombayya


Gowa untuk melaporkan pertempuran tersebut. Sombayya Gowa
merasa gembira atas hasil yang dicapai oleh karaeng Agang Nionjo dan
dimasukkanlah Agang Nionjo dalam kekuasaan kerajaan Gowa.

Pada masa pemerintahan karaeng Agang Nionjo bernama 'Daeng


Ngasseng' berdatanglah orang-orang dari Malaka dan Sumatra tinggal
diwilayah Agang Nionjo. Setelah daeng Ngasseng wafat maka
digantikan oleh 'Torijallo ri Addanenna'.

Sebagaimana pendahulunya, karaeng Agang Nionjo juga suka


menghadap sombayya Gowa. Beliau juga gemar menyabung ayam
hingga suatu waktu berselisih dengan orang-orang Wajo yang
mengakibatkan pertempuran antara orang-orang Wajo dengan orang-
orang Agang Nionjo. Pertempuran tersebut akhirnya dimenangkan oleh
orang-orang Agang Nionjo dan orang-orang Wajo kembali ke negerinya
setelah membayar denda sepuluh kati emas kepada karaeng Agang
Nionjo.

Karaeng Torijallo mempunyai beberapa istri di beberapa negeri dan


anak-anaknya tersebar di Mandar, Sawitto, Soppeng, Barru, Labbakang,
Bulo-bulo, dll. Salah seorang saudaranya diangkat menjadi raja di Barru.
Karaeng Torijallo wafat ditusuk oleh orang gila dan beliau diberi gelar
'Torijallo ri Addanenna'.

Setelah wafat beliau digantikan oleh 'Daeng Sinjai' (tidak diketahui nama
aslinya). Karaeng ini dikenal suka berburu, jujur, pintar, dan suka
bermusyawarah dengan pembesar-pembesar kerajaannya. Agang
Nionjo semakin bertambah makmur rakyatnya dibawah kepemimpinan
daeng Sinjai.

Setelah daeng Sinjai wafat maka beliau digantikan oleh 'Tunaburu


Linenna' (yang rusak tangannya). Beliau juga tidak diketahui nama
aslinya, beliau digelar demikian karena rusak tangannya akibat dipatuk
burung enggang.
24

Diriwayatkan bahwa pada suatu masa ada seorang putra dari pajung
Luwu (Raja Luwu) mati tenggelam dilaut sewaktu menyeberang
ditanjung Ujung Lampa (antara Selayar dengan Bira). Jenazah putra
raja Luwu itu berhasil diambil oleh raja Tanete (sebuah kerajaan kecil di
Selayar). Opu Tanete (raja Tanete) membawa jenazah tersebut dalam
peti kehadapan raja Gowa. Sewaktu tiba di Gowa yang kebetulan juga
ada karaeng Agang Nionjo. Maka raja Gowa meminta karaeng Agang
Nionjo untuk mengawal Opu Tanete untuk menghantar jenazah putra
pajung Luwu tersebut kembali ke negerinya. Untuk memperingati
peristiwa tersebut dan mempererat hubungan antara Tanete (Selayar)
dengan Agang Nionjo, maka mulai pada waktu itu Agang Nionjo dirubah
namanya menjadi Tanete, senama dengan Tanete di Selayar itu

Bagian 3

Diriwayatkan selanjutnya, bahwa pada masa pemerintahan Daeng


Sinjai, ada seorang raja perempuan (tidak diketahui namanya) yang
berasal dari Johor (Malaya) datang dan tinggal di Tanete (Agang Nionjo)
didekat muara sungai.

Ia datang dengan usungan kerajaan yang disebut 'Panca'. Oleh sebab


itu maka tempat dimana raja perempuan itu berdiam disebut 'Pancana'.
Tempat itu menjadi kerajaan tersendiri dalam lingkungan kerajaan
Tanete. Raja perempuan itu meninggalkan Johor karena berselisih
dengan saudaranya yang menjadi raja disana.

Setelah Daeng Sinjai wafat, maka beliau digantikan oleh 'Petta TosugiE'
(raja yang kaya), tidak diketahui nama aslinya. Beliau digelar juga 'Petta
lase-laseE' (raja yang suka mengebiri). Digelar demikian, karena ia
mempunyai banyak istri dan juga perempuan peliharaan dan setiap laki-
laki yang ditugaskan menjaga istri dan perempuan-perempuan
peliharaannya itu harus dikebiri untuk mencegah terjadinya
perhubungan seks.

Semasa pemerintahannya, Tanete tetap makmur seperti yang lalu-lalu,


bahkan lebih banyak lagi orang-orang datang untuk berdagang dan
tinggal disana. Pada waktu raja Tallo dan raja Gowa mulai masuk Islam
pada awal abad ke XVII, raja Tanete tersebut segera juga masuk Islam.
Beliau memperistri raja perempuan yang dari Johor itu dan
mengangkatnya menjadi raja di Lipukasi yang masuk lingkungan
kerajaan Tanete.

Setelah Petta TosugiE wafat, maka beliau digantikan oleh 'Petta


MatinroE ri Buliana'(tidak diketahui nama aslinya). Pada masanya itulah
25

'La Tenritatta Toapatunru Arung Palakka' melarikan diri masuk ke


Tanete. Waktu itu La Tenritatta Arung Palakka dikejar oleh laskar Gowa
karena beliau memberontak terhadap kerajaan Gowa. Dengan secara
rahasia dan licin raja Tanete dapat berhasil meloloskan La Tenritatta
Arung Palakka dari daerah Tanete.

Setelah Petta MatintoE ri Buliana mengundurkan diri dari takhta


karena sudah terlalu lanjut usianya, maka beliau digantikan oleh
putranya yang bernama 'Daeng Mattulu La Waru Dg Matepu'. Raja
ini tidak suka datang menghadap raja Gowa, bahkan beliau bersimpati
kepada La Tenritatta Arung Palakka.

Daeng Mattulu mengundurkan diri dari pemerintahan dan beliau


digantikan oleh adiknya yang bernama 'La Mappajanei Daeng
Matajang'. beliau kawin dengan We Tenriabi Datu Mario, saudara
kandung dari La Tenritatta Arung Palakka. Istri itu kemudian lazim
disebut MatinroE ri Bolasadana.

Sewaktu raja Gowa Sultan Hasanuddin kalah dalam peperangan


melawan Belanda dan Arung Palakka pada tahun 1667, raja Tanete
tersebut turut juga menandatangani perjanjian Bongaya tanggal 18
November 1667, sebagai pengakuan persahabatan dengan kompeni
Belanda. Dari perkawinan raja Tanete 'La Mappajanei Daeng Matajang',
lahir seorang putri yang bernama 'We Pattekkana Daeng Tunisanga'.

Setelah La Mapapjenai wafat, maka putrinya tersebut diangkat oleh


rakyat Tanete menjadi raja (datu) di Tanete. Raja We Pattekkana kawin
dengan Pajung Luwu yang bernama 'To Palaguna Sultan Muhammad
Muhiddin MatinroE ri Langkanana'. Dari perkawinan itu lahirlah
beberapa anak diantaranya putri yang bernama 'Batara Tungke'
(kemudian menjadi Pajung di Luwu dengan gelar 'Sulatanah Fatimah').
Putri ini kemudian diperistrikan oleh sepupunya yang bernama La
Tumpangmega Opu Canning, dari perkawinannya lahirlah seorang putra
yang bernama 'La Tenrioddang Sultan Pakhruddin' menjadi raja di
Tanete. 'We Tenrileleang' tersebut kawin untuk pertama kalinya dengan
'La Mappaselli Arung Patojo'. Dari perkawinan tersebut lahirlah seorang
putra yang bernama 'La Mappajanci Daeng Massunro (kemudian
menjadi Datu di Soppeng) dan seorang putri yang bernama 'We
Tanriabeng Datu Patojo (Datu Wotu), yang kawin dengan 'Pallawagau
Arung Enneng' di Wajo. Setelah La Mappaselli Arung Patojo wafat,
karena dibunuh oleh iparnya yaitu 'La Tenrioddang Sultan Yusuf
Pakhruddin' oleh sesuatu perselisihan, maka beliau digantikan oleh
putrinya yaitu 'We Tenrileleang' menjadi Pajung di Luwu.
26

Dari perkawinan We Tenrileleang dengan La Mallarangeng tersebut


maka lahirlah beberapa anak diantaranya 'La Maddussila
Towapangewa' dan 'La Tenrisessu Arung Pancana'. Pada masa We
Tenrileleang menjadi Pajung di Luwu, La Tenrisessu Arung Pancana
menjadi Opu Canning. Pada suatu masa La Tenrisessu Arung Pancana
berselisih dengan pembesar-pembesar kerajaan Luwu (hadat Luwu),
sehingga Arung Pancana terpaksa meninggalkan Luwu dan pergi ke
Wajo dan Soppeng.

Akibat dari peristiwa itu maka ibundanya yakni Pajung Luwu 'We
Tenrileleang' turun tahta dan pergi ke tanah Bugis. Kemudian beliau
kembali menjadi kembali menjadi pajung di Luwu, akan tetapi tidak lama
dan beliau kembali lagi ke Tanete. Sementara itu La Tenrioddang Sultan
Pakhruddin mengundurkan diri dari tahta kerajaan Tanete, dan beliau
digantikan oleh saudaranya yaitu 'We Tenrileleang (bekas pajung di
Luwu)' menjadi raja di Tanete.

Tidak lama kemudian beliau mengundurkan diri dari pemerintahan di


Tanete untuk digantikan oleh putranya yang bernama 'La Maddusila
Towapangewa' menjadi raja di Tanete. Entah berapa lama beliau
menduduki tahta kerajaan Tanete, beliau berselisih paham dengan
saudaranya yaitu 'La Tenrisessu Arung Pancana'. Dalam peristiwa itu
terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Jawa (1741-1745) terhadap
kompeni Belanda. Kompeni meminta bantuan dari raja Tanete We
Tenrileleang untuk menumpas pemberontakan itu di Jakarta dan
Semarang. We Tenrileleang mengirimkan saudaranya yang bernama La
Tenrioddang Sultan Pakhruddin dan putranya yang bernama La
Tenrisessu Arung Pancana ke Jawa untuk membantu kompeni Belanda
menumpas pemberontakan orang-orang Cina disana. La Tenrioddang
bersama kemenakannya dapat menunjukkan keberaniannya dalam
pertempuran melawan orang-orang Cina, pemberontakan tersebut dapat
segera ditumpas.

Adapun La Tenrioddang Sultan Pakhruddin terkenal suka sekali


berperang. Beliau pernah juga diangkat oleh Hadat Soppeng menjadi
raja (datu) di Soppeng. Beliau pernah mengadakan kudeta terhadap raja
perempuan yang bernama 'Bataritoja Siti Zaenab Daeng Talanga
MatinroE ri Tippuluna' dan juga berperang dengan raja Bone yaitu 'La
Temmasonge MatinroE ri Malimongeng'. Terakhir La Tenridoddang
Sultan Pakhruddin berperang dengan Arung Nepo (Pare-Pare), dalam
peperangan tersebut beliau tewas, sehingga digelari 'MatinroE ri
Musu'na' (yang wafat dalam peperangan).
27

RAJA NEPO

Raja 40

1. ARUNG LA BONGO
2. ARUNG I PATIMANG RATU ANAK RAJA LUWU
3. ARUNG LA MAKARRAKKA
4. ARUNG LA PASSAMPOI
5. ARUNG LA PABBISEANG
6. ARUNG LA IPPUNG
7. ARUNG LA SOLONG
8. ARUNG LAICA
9. ARUNG I MESSANG
10. ARUNG I SIMATANAH
11. ARUNG SINGKERRUKKA
12. ARUNG I MAKUNG
13. ARUNG LA CALO

AGANG NIONJO DAN KERAJAAN TANETE BARRU


To Manurung To Sanngiyang
1. Datu Ngolla Karaeng Segeri
2. Pangara Wampang Puang Lolo Ujung.
28

3. To MatinroE Ribuku Jurunna.


4. Daeng Ngasseng.
5. Daeng Majanna.
6. Torijallo ri Adderenna.
7. Daeng Sinjai. Tanete: Agang nionjo Menjadi Tanete
8. To Maburu Limanna.
9. La Patau Petta To Sugie atau Petta Pallase IaseE.
lO.Petta MatinroE ri Buliana.
11. La Waru Daeng Mattepu. Dg Mattulung
12.La Sulo Daeng Mattajang/LaMappajanci (Sultan Ismail).
13.Datu Tanete We Patteketana Petta Majjappae Daeng Tanisanga.
Beliau menikah dengan To Palaguna Matinrowe ri Langkana, putera
Setiaraja, Raja Luwu XXI. Dan juga menikahi La Potto Bune Tobaiccing
Orang Tua La Temmu Page
14.Sultan Fahruddin Latenrioddang.
15.We Tenrileleang petta Matinroe Risoreang .Juga Payung Ri Luwu
16.La Madussila Datu Tanete To Appangewa Petta Matinroe Ri Dusun
(1824).
17. La Patau Datu Tanete Karaeng Tanete Petta Matinroe Salo Moni
(1824-1844).
18.La Rumpang Megga Dulung Larnuru (1844-1856).
19.Sitti Aisyah We Tenriolle (1856-1910).
20.We Pancaitana BungawaliE Arung Pancana (1910-1926).
21.We Pattekketana Arung Lalolang (1926-1927).
22.Andi Baso Latenrisessu Datu Bakke (1927-1950).
Catatan Di atas ; Ayahanda We Pattekke Tanah Datu Tanete yaitu La
Mappajenei Daeng Matajang ia Juga Di Sebut La Mappajanci (Sultan
Ismail) Datu Tanete Ia Juga Di Sebut La Sulo Dg Matajang Saudara Dari
LaWaru Dg Matepu Atau Daeng Mattulung Datu Tanete Istri
Lamappajanci Dg Matajang Sultan Ismail Yaitu We Tenriabi Dg Baji
Datu Mario Riawa, saudara kandung dari La Tenritatta Arung
Palakka,,Dan Istri Yang Lain La sulo Dg Matajang Yaitu Kare Sangging
Putri syekh yusuf Tuanta salamaka Ri Gowa,,Dari Berbagai Reprensi
silsilah Bahwa yaitu La Sulo/La Mappajanci Dg matajang dengan
Saudaranya La Waru Dg Matepu/Dg Mattulung ia Putra Dari Petta
Matinroe Ri Buliana ..Kira Kira Dalam Tulisan Lontara Karna Usang La
Mappajenei Itu Tulisannya La Mappajanci Atau Memang Banyak Nama
Penyematan....Setelah Raja 12 Tanete Digantikan Oleh Putranya Sultan
29

Yusuf yang sempat menjadi raja anak dari Istri Kare sangging binti
syekh yusuf ..Maka Sultan Yusuf Mengundurkan diri dan yang Tercatat
Di Kerajaan Tanete menjadi Raja 13 Saudara Dari Ayahnya Yaitu We
PattekkeTana ..Sultan Yusuf Memilih Jadi Qadhi Atau kali di
Tanete..Yang Di Kenal Dengan Puang Yusuf Kali Tanete III..
KERAJAAN BONE

1. Mata SilompoE To Manurungnge ri Matajang (1373-1380).


2. La Ummase, putera dari To Manurungnge Rimatajang, dan digelar Petta Panre Bessie (1380-1448).
3. La Saliwu Petta Karampeluwa, kemenakan dari I a Ummase, digelar Pasodowakkae (1448-1518).
4. WeTenrigau Daeng Marowa Arung Majang (1512-1533). Ratu Perempuan Kerajaan Bone ini
digelar Makkaleppie, atau Bissu ri Laleng Bili', atau Petta ri Lawelareng. Ratu Bone ini kawin dengan
La Tenribali Arung Kaju. Menurut kepercayaan rakyat, baginda tidak wafat tetapi menghilang secara
gaib dan digelar Mallajangnge ri Cina.
5. La Tenrisukki, putera dari We Benrigau (1538-1541).
6. La Woloi Bote'e, putera dari La Tenrisukki (1541-1570).
7. La Tenrirawe Bongkangnge, putera dari La Woloi Bote'e, digelar MatinroE ri Gucinna (1570-1586).
8. La Ica, saudara dari La Tenrirawe Bongkangnge, digelar MatinroE ri Addenenna (1586-1604).
Beliau seorang raja yang jahat sehingga dibunuh oleh pamannya.
9. La Pattawe Arung Kaju (1604-1609). Beliau cucu dari Benrigau Daeng Marowa Arung Majang
Mallajangnge ri Cina Raja Bone ke 4. Ayah La Patau Raja Bone ke 9 ini bernama La Pannaungi
ToAppawawoi, juga bersaudara dari La Tenrisukki Raja Bone ke 5, Jadi La Pattaweng adalah
kemenakan dari La Tenrisukki raja Bone ke 5. La attaweng tidak mempunyai anak.
10. We Tenrituppu, cucu dari La Wolio Bote'e Raja Bore ke 6, digelar MatinroE ri Sidenreng (1609-
1619).
11. La Tenriruwa Sultan Adam, digelar MatinroE ri Bantaeng. Beliau Raja Bone
yang pertama memeluk agama Islam. Memerintah tahun 1609-1611.
12. La Tenripale To Akkepeyang, putera dari La Ica MatinroE ri Addenenna Raja Bone ke 8. Baginda
memerintah dari tahun 1611-1631. Baginda kawin dengan Kunange puteri Raja Bone ke 10 We
Tenrituppu MatinroE ri Sidenreng, dan digelar MatinroE ri Tallo.
13. La Maddaremmeng, cucu dari Raja Bone ke 8 dan kemenakan Raja Bone ke 12. Pada zaman
pemerintahan Baginda, kerajaan Gowa menyerang dan menaklukkan Kerajaan Bone. Baginda digelar
~-1atinroE ri Bukaka (1667-1672).
14. La Tenriaji To Senrima, adik dari La Maddarennmeng Raja Bone ke 13. Baginda memberontak
terhadap kerajaan Gowa dan dilanjutkan dalam peperangan. Sekali waktu, tentara Kerajaan Gowa
menyerbu Kerajaan Bone dan pasukan-pasukan Bone di bawah pimpinan La Tenriaji To Senrima
dapat dihancurkan dan La Tenriaji To Senrima bersama banyak bangsawan Bone dan Soppeng
termasuk orang tua dan keluarga dari La Tenritata To Appatunru Arung Palakka Petta Malampe'e
Gemme'na ditawan dan diangkut ke Gowa. La Tenriaji To Senrima raja Bone ke 14 diasingkan ke
Siang (Pangkajene Kepulauan) dan digelar MatinroE ri Siang (16461650).
15. La Tenritata To Appatunru Arung Palakka Petta Malampe'e Gemme'na Sultan Saaduddin
Mangkau ri Bone To Risompae ri Gowa Malebbae Songko'na Arungna Mandurae MatinroE ri
Bontoala, raja Bone ke- 15 (1667-1696), tetapi baru dikukuhkan menjadi Raja Bone tanggal 3
30

Nopember 1672.
16. La Patau Sultan Alimuddin Idris. Baginda adalah kemenakan dari Arung Palakka La Tenritata, dan
putera dari We Mappolobambang bersama Pakkokoe putera dari La Maddaremmeng raja Bone ke
13, digelar MatinroE ri Nagauleng. La Patau adalah cucu La Maddaremmeng Raja Bone ke 13. La
Patau dikawinkan oleh Arung Palakka La Tenritata pertama dengan puteri Raja Luwu dan kedua
dengan puteri Raja Gowa. Dari kedua perkawinan ini, La Patau mermiliki putera-puteri yang
kemudian berkuasa di kerajaan-kerajaan besar di Sulawesi Selatan. Sesudah wafat, La Patau digelar
MatinroE ri Nagauleng.
17. Bataritojang Sitti Zainab Sultana Zukijasuddin Arung Timurung Datu di Citta, Mangkau di Bone, ini
adalah puteri La Patau digelar MatinroE ri Nagauleng dari permaisuri yang dari Luwu. Bataritojang ini
juga menjadi Payung di Luwu dan Datu di Soppeng, dan dua kali memerintah, yaitu dari 1714 - 1715
dan dari tahun 1724 - 1748. Waktu wafat digelar MatinroE ri Tippulu'na.
18. La Padangsejati To Appaware Arung Palakka, adalah putera La Patau MatinroE di Nagauleng dari
permaisurinya dari Gowa. Jadi baginda adalah saudara se-ayah lain ibu dari Bataritojang Mangkau di
Bone ke 17. Baginda juga menjadi Datu di Soppeng, dan setelah wafat digelar MatinroE ri Beula.
19. La Pareppa To Sappewalie, adalah putera La Patau MatinroE ri Nagauleng, se-ayah se-ibu dengan
La Padang Sejati mangkau di Bone ke 18, 17201724. Sebelum menjadi Mangkau di Bone telah
menjadi Somba di Gowa. Setelah wafat digelar MatinroE ri Somba Opu.
20. La Paongi Appawawoi Arung Mampu. Baginda adalah saudara se-ayah seibu dengan La Padang
Sejati Mangkau di Bone ke 18 dan La Pareppa To Sappewalie Mangkau di Bone ke 19. Setelah wafat
Baginda digelar MatinroE ri Bisei.
21. Bataritojang Sitti Zainab Sultana Zukijasuddin Arung Timurung. Baginda dua kali menjadi
Mangkau di Bone, yaitu Mangkau ke 17 dan ke 21. Setelah wafat digelar MatinroE ri Tippulue.
22. La Tomassonge (La Mappasossong) Jaliluddin Abdul Razak Datu Baringeng. Baginda sauara se-
ayah se-ibu dengan La Padang Sejati, La Pareppa To Sappewalie, dan La Panaongi To Appawawoi
Arung Mampu, masing-masing menjadi Mangkau di Bone ke 18, ke 19 dan ke 20. Setelah wafat
digelar MatinroE ri Mallimongeng.
23. La Tenrituppu Sultan Achmad Saleh Syamsuddin. Baginda adalah cucu dari La Tomassonge
MatinroE ri Baringeng, dan memerintah dari tahun 1775-1812. Setelah wafat digelar MatinroE ri
Rompegading.
24. To Appatunru Sultan Muhammad Ismail Muhtajuddin. Baginda adalah putera dari La Tenrituppu
Achmad Saleh, dan menjadi Mangkau di Bone dari tahun 1812 -1823. Setelah wafat digelar MatinroE
ri Lalengbata.
25. We Maning Ratu Arung Data Sultana Saleha Rabiyatuddin. Baginda adalah saudari dari To
Appatunru Arung Palakkka Matinmoe ri Lelangbata, dan Baginda Mangkau di Bone dari tahun 1825-
1835. Sewaktu Baginda Mangkau di Bone terjadi perang Bone yang pertama, dan Baginda tidak
bersuami. Setelah wafat digelar MatinroE ri Kessi - Pangkajene.
26. Mappasiling Arung Panyili Sultan Adam Najamuddin. Beliau bersaudara dengan Mangkau di Bone
ke 24 To Appatunru Arung Palakka dan Mangkau di Bone ke 25 We Maning Ratu Arung Data, dan
Mangkau di Bone dari tahun 1835-1845. Setelah wafat digelar MatinroE ri Salassa'na.
27. La Parengrengi Sultan Achmad Saleh Muhiddin Arung Pugi. Baginda adalah kemenakan dari
Mappasiling Achmad Saleh Arung Panyili Mangkau Bone ke 26 (1845-1857), dan cucu dari Mangkau
di Bone ke 23 La Tenrituppu Achmad Saleh MatinroE di Rompegading. Baginda kawin dengan
saudara sepupunya yang bernama Besse Kajuara. Baginda wafat pada tanggal 16 Februari 1958 dan
digelar MatinroE ri Ajangbetteng.
31

28. We Tenriwaru Pancaitana Besse Kajuara Mangkau di Bone Datu Suppa Sultana Ummulhadi
(1857-1860). Baginda adalah cucu Mangkau Bone ke 23 La Tenrituppu Achmad Saleh MatinroE di
Rompegading (Raja Bone ke 23, 1775-18? 2), dan menggantikan suaminya Mangkau di Bone ke 27 La
Parenrengi Sultan Achmad Sa!eh Arung Pugi MatinroE ri Ajangbenteng (18451857). Pada masa
baginda Mangkau di Bone, terjadi perang Bone ke-11 dan perang Bone ke-3. Pada Waktu Belanda
menyerang Pada tanggal 6 Desember 1860 Benteng Alam Passompe, Baginda terpaksa
meninggalkannya karna pengkhianatan Achmad Singkerrurukka. Nama lengkap beliau setelah wafat,
Pancaiiana Besse Kajuara Tenriaaru Pelaiengngi Passempe MatinroE ri Majennang.
29. Singkerrurukka Arung Palakka Sultan Achmad Idris. Baginda adalah cucu Mangkau di Bone ke 24
To Appatunru Arung Malakka MatinroE di Lalengbata. Baginda Mangkau Bone 11860 - 1871). Setclah
wafat digelar MatinroE ri Topaccing .
30. Fatimah Banri Arung Timurung. Baginda adalah puteri dari Singkerrurukka Arung Palakka Sultan
Achmad Idris MatinroE ri Topaccing, dan baginda Mangkau di Bone dari tahun 1871-1895. Setelah
wafat digelar MatinroE ri Bolampare'na.
31. La Pawawoi arung Segeri. Baginda adalah saudara seayah dengan Mangkau di Bone ke 30
Fatimah Banri (Banrigau) Arung Timurung MatinroE di Bolampare'na, dan Baginda adalah patra dari
Mangkau di Bone ke 29 Singkerrurukka Arung Palakka Sultan Achmad Idris MatinroE ri To Paccing.
Pada tahun 1895 di usia 60 tahun, La Pawawoi Karaeng Segeri menjadi Mangkau di Bone, dan pada
tahun 1905 Belanda menyerang Kerajaan Bone yang disebut Perang Bone ke 4. Ketika itu Baginda
ditangkap dan dibuang, pertama ke Bandung dan kemudian dipindahkan ke Batavia. Setelah wafat
digelar MatinroE ri Betawi. Makam beliau kini berada di TMP Kalibata, Jakarta.
32. Mappanyukki Sultan Ibrahim. Baginda adalah putera ke 2 dari Sombaya di Gowa ke-34 Makkulau
Daeng Serang Karaeng Lembangparang Sultan Huzain Tumenanga ri Bundu'na. Mappanyukki adalah
Mangkau di Bone ke 32 dari tanggal 2 April 1931-19 Juni 1946. Sesudah wafat pada tanggal 18 April
1967, digelar MatinroE ri Jongae. Baginda dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Panaikang
Makassar.
33. Andi Pabbenteng Daeng Palawa. Diangkat oleh NICA menjadi raja Bone pada 19 Juni1946, dan
turun tahta scsudah pengambilalihan kekuasaan cli wilayah Indonesia Timur dari kekuasaan Belanda
oleh operasi militerAPRIS 'Gerakan Pertiwi' pada tanggal 26 Mei 1950.

wallahu a’lam
32

BIOGRAFI

Nama : Saifuddin S.Hi istri Hj.Andi Jenne Pamairi S.Hi,, Saifuddin Opu
Dg Mamase BIN H.Abd Hafid Aliah Dg Mafata Istri St.Nurseha Opu
Dg Tapajja Anak Dari Hj.Andi Khameriah/Rahmatiah Opu Dg Mawaru
Cucu Payung Raja Luwu 25 To sibengareng La Kaseng Petta Matinroe
Kaluku bodoa ,H.Abd Hafid Aliah BIN AG. K.H. Djamaluddin Aliah
Kadhi Barru Puang Kali Barru istri Hj. Hafsah Dg Makerra ,Puang Kali
Berru BIN Muhammad istri Kulsum Cucu Raja Nepo dan datu
pompanuwa,Puang Muhammad BIN Yusuf istri I Tapa,Puang Yusuf
BIN La Tahere istri I Panyili Cucu Puang Ridjoleng Kali Tanete Dan
Cucu Syekh Yusuf Tuanta Salama ,La Tahere BIN La Topaile
Toseppaile/La Tossappewali Petta Dulung Ajangale Lette’e Ri musu
Sigeri Istri Habibah Bafadhal Cucu Datuk Sulaiman/patimang,To
Seppaile BIN La Maddusila Datu Tanete Raja Tanete Istri I Seno
Datu Citta Cucu Syekh yusuf tuanta salama dan cucu raja bone Lapatau
Petta Matinroe Nagauleng,La Maddusila BIN La Mallarangen Datu
Lompulle Raja Sappire istri payunnge ri Luwu Raja Luwu 24-26 I Tenri
Leleang,La Mallarangen BIN La Temmu Page istri we Tenri Datu Botto
anak dari La Malleleang To Panamangi DatuLompulle Datu Mario Riawa
Anak Dari La Page Arung Lompengeng Saudara se ayah Aru Palakka
petta malampe gemmena ,La Temmu Page BIN La Potto Bune To
Baicceng Datu istri We Pattekke Tanah Raja 13 Tanete petta Pajjappae
Datu Tellu Tallassae Anak Dari La Mappajanci/ La sulo dg matajang (
Sultan Ismail) Raja Tanete 12 istrinya We Tenri Abeng Dg Baji Datu
Mario Riawa saudara Aru Palakka Petta Malampe Gemmena...

Saudara Saifuddin S.Hi. =

1. Badawi istri Fartinah


Putra = 1. Edwin Pramana
Putri = 2.Ainung Nur Tasning
33

2. Maisuri S.Sos suami Sudirman Rahim S.pd .MM.Bin Abd


Rahim
Putri = Anak Angkat Nabila Fashih
3. Muh.Fudail istri Oke Indah Wulandari
Putra =1.Muhammad Faqih ADz Dzaqih
2.Muhammad Rafah Aditya Nur
Rezky
Putri = 3.Keizya Azalea Indi
4. Saifuddin S.Hi. istri Hj.Andi Jenne Pamairi S.Hi Binti H.Andi
Pamairi Petta Mai

5. St.Rahmawati s.sos Suami Urif sudarmono


Putri = Attiyah Marcelia Putri
6. Maya puspita Sari Suami Mustafa R Bin Ranreng Dg Ngalle
Putra = 1.Muhammad Alif Fisabilillah
2.Muhammad Fadhil Mustafa
Putri = 1.Ghefirah Nur fatimah
2. Nasyia Rodathul Jannah
7. Indah Purnama Sari Suami Sainuddin Bin Abd Fattah
Putra =1. Muhammad dzaqih althaf
2.Muhammad Jawsyan Kabir
3.Muhammad Al Ghazali
Arti Dalam Pattellaren Opu Dg Anak Opu Dg Tapajja ;Badawi Di
Sematkan dengan Opu Dg Ta Sabbara Dg Aco Karna Perangainya
Sabar Ramah,Santun, Ia pun Menjalani Kehidupan Dengan ikhlas dan
sabar .
Maisuri Di Sematkan Dengan Nama Oleh Saudara Ibunya Dengan
Nama Opu Daeng Tamemme Artinya Ia Dulu Suka Tidur
34

Muhammad Fudail Disematkan Dengan Nama Opu Dg Marewa DG


Fangky Karna Ia Gigih Menjalani Kehidupan keras degan penuh
keikhlasan
Saifuddin Di Sematkan Opu Dg Ta Mase Karna Kamaseanngi.,
St Rahmawati Di Sematkn Opu Dg Mallopo Ri Dallekanna Karna ia
Besar Dan semoga Rezkynya Banyak
Maya Puspita sari Di Sematkan Opu dg Ricayank Karna Ibunda Sangat
Menyanyanginya
Indah Purnama Sari Opu Dg Dala Uleng Dg Ri Bulan Karna Ia Bagaikan
Cahaya Rembulan Penuh Kegembiraan Anak Bontot...Tetapi
Penyematan Ini Bentuk Tulisan Hehehehe...sebagaimana H.Abd Hafid
Aliah Daeng Mafata dan Hj.Mudrah Daeng Bollo Begitu Juga Yang
Lainnya..
1.Orang tua Bapak = H.Abd Hafid Aliah Dengan Istrinya St Nurseha
opu Dg Tafajja
Saudara Bapak =
1.H.Abd Hafid Aliah
2.Hj.Hasanah Aliah
3.Abd.Djalil Aiiah
4.Hj.St.Jamilah Aliah

2.Nama Orang Tua H.Abd Hafid Aliah


AG.Kh.Djamaluddin Aliah Puang Khadi Barru Istri Hj
Hafsah Dg Makerra
Saudara =
1. KH.Djamaluddin Aliah
2.. I Bakkinnong
3. st Hafsah
Saudara Istri Kali Barru Hj.Hafsah =
1. Hj Hafsah
35

2.Sapiuddin
Hj.Hafsah binti Syamsuddin istri Nafisah Syamsuddin Bin Puang Hadi
Istri Sadia, Puang Hadi Bin Muhammad Istri Kaliba Dg
Malanna...Nafisah Anak Dari Jasia Istri I Wekkeng ,Jasia Bin Lahaddo
Dg Sitakka Istri Maemunah,La Haddo Bin La Ipu Dg Marakka istri Sariba

Sedikit Riwayat AG.KH.DjamaluddinAliah Puang Kali Berru.. Bahwa Kali


Berru Lulusan Pesantren Dari Pulau Salemo Keluaran Para Kiyai ..Ia
Juga Sebagai Kepala Kantor Pertama Di Departemen Agama Barru
Yang Sekarang Di Kenal Kementrian Agama..Ia Juga Di angkat Seorang
Qadhi Atau Kali (Hakim) Pemutus Perkara Pada Kerajaan,Ia Jadi Kali Di
Abad 20.Jabatan Terakhir ia di Angkat Jadi HOOK Qadhi Atau
Penghubung Para Kali Atau Ketua Para Kali di sulawesi selatan pada
Era Abad Ke 20,,Ia Juga Sebagai Imam Mesjid Masdarul Birri Sumpang
Binangae...

Di Ceritakan Dari Anaknya Abd Djalil Aliah Sewaktu Ia Mau Jadi Qadhi
Atau Kali Di Barru Pihak Kerajaan Andi Jonjo Kalimullah Petta Berru
Raja Barru,Mempertanyakan Asal Usul nya,,Sekiranya Jika Ingin
Menjadi kali Atau Qadhi Harus Jelas Silsilahnya Darah
Kebangsawannya,,Sekiranya Pihak Puang Kali Barru Merasa Di
Pertanyakan,,Ia Langsung MenCatat,Mengambil Nasabnya Atau
Silsilah Keturunan Kakek Buyutnya Sampai Masuk Ke Bone Bahkan
Sampai Ke Sumatra...Setelah sampai pada kerajaan Bone ia tercatat di
kerajaan bone stambuk silsilahnya jelas dari keturunan La Patau Petta
Matinroe Nagauleng Raja 16..setelah Puang kali Barru Memperlihatkan
Kepada Petta Berru Silsilahnya Barulah ia merasa Kita ini sama satu
keluarga ( Bugis ‘’ Pada Idi Pale ).Di Ketahui Puang Kali Barru
Nasabnya ke La Maddusila Datu Tanete Karaeng Tanete Raja
Tanete,,Di Ceritakan La Maddusila Karaeng Tanete Anaknya yaitu La
Toseppaile Ada Beberapa Bersaudara Yaitu We Hatijah Arung pao pao
yang kawin dengan raja barru ...Melahirkan sumange rukka Raja Berru
sampai kerajaan Barru.. Puang Kali Berru ,..Itu Urain sedikit Tentang
Puang kali barru ....

( Naiya Oroanewe Mappibatiwi Naiya Makkunrai


Mappitasei/Mappatahan )..Naia Ambo’na Puang Kali Berru Mappibatiwi
36

Pole La Maddusila Datu Tanete Raja Tanete Naia Indona Puang Kali
Berru I Wale Mappabbatiwi Pole Datue Pompanuwa..)

3.Nama Orang Tua Kh.Djamaluddin Aliah Yaitu Puang Muhammad

Saudara Puang Muhammad =

1. Puang Muhammad
2. Puang Samad,
3. Puang La tahere
4.Puang Abdullah
Istri Puang Muhammad Yaitu Kultsum /kolosong Binti Ambo rowe bin
La Tarannu Datu Pompanuwa...Ambo Rowe Istrinya Wale Binti La Pao
Bin La Talle Bin La Pogo Bin La Bette Pabbicara Balusu Bin La
Bomo/Bongo Raja 1 Nepo Dengan Istri I Patimang Ratu Raja Nepo II
Anak Dari Raja Luwu..sedangkan La Bomo/bongo Bin Latalire/La tahere
Datu Suppa

Kultsum/Kolosong Bersaudara Dengan La Dapi Orang Tua Hj


Lija,Abd.Hamid,Arifing,Muh.Rasyid SE.Dan Muhammad Asaf..Muh.Asaf
Lain Ibu.

Saudara Ambo Rowe yaitu La Malona dan Habe

Walo bersaudara dengan Masita

4.Nama Orang Tua Puang Muhammad Yaitu Puang Yusuf istri I


Tappa Anak Dari La Saeni IstriI Bibaga

Saudara puang Yusuf =

1.Puang Yusuf
2.Puang Suri
3.Puang Sarifah
4.Puang Dawiah
5 La Kade
37

5.Orang Tua Puang Yusuf Yaitu La Tahere Dengan Istri I Panyili


Cucu Puang Ridjoleng Khadi Tanete
Saudara La Tahere =
1. La Tahere
2.La batto
Istri La Tahere Yaitu I Panyili Binti Ibrahim Bin Puang Polejiwa Bin
Puang Yusuf Sultan Yusuf pernah jadi Raja Tanete Juga KHADI ( Kali)
Tanete III Bin La Mappajanci/La Sulo dg Matajang Raja Tanete 12 Bin
Petta Matinroe Ri Buliana Raja Tanete 10 Bin Petta Sugie Petta
Pallase Lase’e Raja 9 .Bin Petta Mabburu Limanna Raja Tanete 8 Bin
Daeng Sinjai Raja Tanete 7 Bin Daeng Majanna Raja 5.Bin Matinroe
Rijukuna Raja Tanete 3 Bin Mappanngara Mampang puang Lolo Ujung
Raja Tanete 2 Bin Puang Lolo Poncing BinTo Tau Sanggiyang
Tomanurung.....

Catatan La Sulo Dg Matajang Bersaudara Dengan Daeng Mattululung


Raja 11,Daeng Sinjai Bersaudara Dengan Raja tanete Ke 6
Torijalloka,,Daeng Ngasseng Raja Ke 4 Tanete Bersaudara Dengan
Daeng Majanna Raja Tanete 5..Datu Gollae Karaeng Sigeri Raja
Tanete 1 Bersaudara Dengan Puang Lolo ..

Saudara I PanyiLi =
1.I PanyiLi
2. La Samula
3.La Baba
4.Kambotia
Saudara Ibrahim =
1.Ibrahim
2.Muh.Saleh
Saudara Polejiwa =
1.Polejiwa
2.Puang Janggo
38

3.Puang Daud
4.Puang Ribawannge
Ibunda Sultan Yusuf Kali Tanete III = Yaitu Kare Sangging Anak Dari
Syekh Yusuf Al Makkassary Tuanta Salama..istri Sultan Yusuf Puang
Muna Binti Puang Musa Kali Tanete II Bin Puang Ri Djoleng Kali Tanete
I ,Kali pertama ( Kali Mammulanngen)juga pernah Kali I Di Ballanipa
Mandar..Istri Puang Ridjoleng Senapati Anak Dari Kerajaan Ballanipa
Mandar...saudara Puang Musa Yaitu Puang Pandang keturunannya
menyebar di Mandar,,..

Keterangan cerita orang Tua dulu Tentang siapa Muh Ali puang
Ridjoleng .Bahwa Petta Sugie Raja Tanete Menunjuk Guru Agama
Adalah La Waru Dg Matepu Untuk Menyebar Agama Islam Tetapi Dia
Bukan Kali Mammulangnge ( Kali Pertama )Tetapi Ada Juga Yang
Menyebutnya Kali Pertama Di tanete.. Tetapi Yang Tercatat di kerajaan
Tanete Yaitu Muhammad Ali Puang Ri Djoleng Kadhi Atau Kali Petama
Di Kerajaan Tanete Dengan Keturunannya Sekarang Memakai Marga
Atau Pam ALIAH Atau ALIYAH Keturunan..La Waru Dg Mattulung atau
Dg Matepu Adalah Saudara La Sulo/La Mappajanci (Sultan Ismail ) Dg
Matajang Datu Tanete Raja Tanete 12..

Siapakah Itu Muh.Ali Puang Ri Djoleng .Puang Ri Djoleng Seorang


Wali Allah Asalnya Dari Tanete barru..Djoleng Artinya sebuah Pohon
Yang Menaungi (Makam) Muhammad Ali Puang Ri Djoleng
..Kuburannya Di Mandar Di Tinambung..Ada sebagian Orang Tua dulu
yang Mengatakan Bahwa Muhammad Ali itu Juga Daeng Matepu Anak
Dari Petta Matinroe Ribuliana Raja Tanete 10..

Dg Matepu juga ada yang mengatakan ia sama dengan Yang Nama


Islam nya Muhammad Ali,Tetapi Reprensinya Tidak Terlalu Kuat/Lemah
Tidak Tertulis Dengan Nama Orang Yang Sama Puang Ri Djoleng ia
Daeng Matepu, ,Tetapi Di Katakan Bahwa Orang Tua Puang Ridjoleng
Adalah Puang Pekki Yang Makam nya Di Samping Makam Petta Sugie
..Yang jadi penelusuran puang pekki itu apakah hanyalah nama orang
biasa atau raja,atau Apa Benar Nama Pekki Itu keturunana Arab Bil
Faqih Wallahu A’lam..

6.Nama Orang Tua La Tahere =


39

Yaitu Topaile/La Toseppaile/La Tossappewali Petta Dulung


Ajangngale Lette’e Ri Musu Sigeri Matinroe Ri Corowali ,,istri Topaile
Yaitu Habibah Bafadhal bin syekh Ibrahim Imam Timurun Bin Syekh
Sulaeman Bin Syekh Abdullah Bafadhal Bin Syekh Sulaeman Bafadhal
/Datuk Patimang, Bangsawan suku Fadhal di Tahrim Hadralmaut dari
Wangsa Turunan Sahabat Rasulullah yang gugur di perang Badar..

7.Nama Orang Tua La Toseppaile =

Yaitu La Maddussila Raja Tanete Arung Tanete Datu tanete Karaeng


tanete Istri I Seno Datu Citta

Saudara La Toseppaile

1.La Toseppaile Petta Dulung Lette’e Ri Musu


Sigeri
2.La Buccu Api Petta Dulung Ajangale Matinroe Ri
leang Leang.
3.we Hatija Arung Pao pao
4.La Patau Matinroe Salo Moni Raja Tanete Juga
Jabatan Terakhir (Kali Tanete).
5.I Tomannggong Matinroe Ri Deaeh
6.Toaggamette Petta Lolo Matinroe Ritenngana
Alitta
7.We Kajao Dg Talaga Datu Citta
8.I Cudai Dg Risompa Arung Berru
9.we Puttiri Dg Nisanga
10.I Tenri gogo Arung Belo Dan Masih ada Beberapa
Lagi saudaranya
Istri La Maddusila I Seno Datu Citta Anak Dari Raja Bone 22 La
Temmasonge To Appewaling Petta Matinroe Malimongen Datu
baringen Dengan Istri St Habibah Karaeng Bonto Mate’ne ( Arung
Makkunrai -Permaisuri )La Temmasonge Anak Dari Raja Bone 16 La
Patau Petta Matinroe Nagauleng Dengan Istrinya We Sundari Datu
baringeng..Tetapi Silsilah Kerajaan Bone Yang Di Tanda Tangani yaitu I
Yummung Datu larompong Arung Makkurai Permaisuri anak Dari
40

payung Luwu 18-20 Datu Settiyaraja petta Matinroe Tompo Tikka


sebagai Ibu Kandungnya..

La Patau Petta Matinroe Nagauleng Anak Dari La Pakkokkoi To Angko


Arung Ugi Arung Timurun Maddanreng Bone Istrinya We Tenri Esa Dg
Upi I Mappolo Bombang Maddanreng Palakka Saudara La Tenri Tatta
Aru Palakka Petta Malampe Gemme’na ,WE Tenri Esa Dg Upi Anak
Dari La Potto Bune Arung Tana Tennga Datu Lompulle Dengan Istrinya
We Tenri Sui Datu Mario Riawa Anak Dari Raja Bone 11 La Tenri Ruwa
Sultan Adam Petta Matinroe Ri Bantaeng ( Islam Pertama)

La Pakkokkoi Anak Dari Raja Bone 13 La Maddaremmeng Petta


Matinroe Ri Bukaka Dengan Istri We Daseng Rima Chatijah

Istri La Maddusila I Seno Datu Citta Anak Dari Syekh Maulana


Muhammad Petta Pabbicara Butta Gowa Atau yang Tercatat Lontara
reperensi Buku Hamid Yaitu Syekh Maulana Muhammad Jalaluddin
Daeng Uttiya Ratu Bagus Matoa Anak dari Syekh Yusuf Al makkassary
Tuanta Salamaka Dengan Istri Ratu Aminah Hafidzah sarifah Ratu
Aminah Binti Sultang Ageng Tirtayasa Banten Salah satu Turunan
Rasulullah..syekh Yusuf Mengawini Ratu Aminah Dan Ratu Chadijah
Anak Sultan Ageng T irtayasa..

Istri Syekh Yusuf Tercatat Di Reprensi Buku Abu Hamid Ada 7


Sedangkan ada juga yang lain terdapat pada keturunannya dalam
lontara cucunya istrinya ada 10..

Tetapi Ada juga Mengatakan bahwa Anak Syekh Maulana yaitu Daeng
Nisanga Anak Dari Sultan Alauddin Somba Ri Gowa..

Syekh Maulana Muhammad Dengan Istrinya Yang Bernama I Bangki


Datu rappeng reprensi Lontarana Buku Hamid ,Tetapi Di bantah Oleh
kalangan Ahli sejarah Turunan karna perbedaan yang sangat jauh I
Bangki Arung rappeng Dengan Syekh Maulana...Dari penelusuran
Sekiranya Itu I Bangki yang Di Maksud adalah I Bangki Daeng Ta’rappe
karaeng Takalara Yang SeEra dengan Syekh Maulana Muhammad
,Jika Dalam Tulisan Lontara Bugis Apalagi Tulisan Itu sudah usang Bisa
Saja Ta rappe Di baca Tarappeng maka Bisa Saja Terjadi kesalahan
Penerjemah Lontara ,salah satu cucunya bernama we hamidah Arung
41

Takalara Petta matowae anak dari Momo st aisyah saudari We habibah


Karaeng bonto Mate’ne Binti Syekh Maulana Muhammad

Berbicara Riwayat Syekh Yusuf al makkassary Terlalu banyak


Pendapat/Cerita Dalam banyaknya Lontara Syekh Yusuf Apalagi
Tentang Orang tuanya Yang Tidak Di Ketahui asal usulnya,Orang Tua
Syekh Yusuf datang Muncul Dari Barat Dan BerCahayaTerang ,Ia
Seorang Tua Renta..Dalam Riwayat nya Orang Tua Syekh yusuf ada
Yang Mengatakan Adalah Sultan alauddin Somba Gowa Atau
Sahabatnya Dampang komara ,Ada juga mengatakan Saudara Sultan
Alauddin Gallarang Moncolloe,Tetapi nama Orang Tua Syekh Yusuf
Adalah Abdullah,,Dalam Berbagai Riwayat Abdullah khidir itu Ada Yang
Mengatakan Abdullah /Gallaran Moncongloe Bin Syekh Hasan Jumadil
Qubro Bin syekh Husein jumadil qubro Dan Ini ada Kepresnya
Nasabnya Sampai Kerasulullah,,Ada Juga Mengatakan bahwa Abdullah
Khidir itu Jelmaan Nabi Khidir ( Rengkarnasi)dengan Nama Aslinya
Abdullah Khidir..Tetapi Syekh yusuf sendiri menulis Orang Tuanya di
Salah satu Kitabnya ( ) Syekh Yusuf Bin Abdullah bin Abi Khaery
Tuanta Manjalawi ..Di ceritakan Bahwa Syekh yusuf orang Tuanya
keturunan Arab Ada Yang Mengatakan Masih turunan Rasulullah .Yang
datang dari tanah Jawi BANTEN dan sebelumnya ketiga sahabatnya
lebih dulu Tiba Di Makassar Yaitu Datuk Ri Bandang Datuk Ditiro Datuk
sulaiman/patimang..Dalam penelusuran Kenapa Syekh Yusuf memilih
Ke tanah Jawa Banten,,Apakah Ini Ia mencari Nasab Orang Tuanya Ke
tanah jawi atau Ada apakah Disana ,Atau Hanya Meninggalkan tanah
makassar akibat ulah Saudara angkatnya Kerajaan gowa Terlalu
banyaknya perjudian,dan perang saudara ???..

Nama Ibunda Syekh Yusuf al makkassary Yaitu I Tubiani St Aminah Dg


Kunjung Binti I Hama Dg Leyo Pejabat Kare Bira IV Gallarang
Mongcongloe

Tetapi dalam Ilmu Kasyaf Mata Rahasia Syekh yusuf Datang Selalu
Bersama Berdampingan Dengan Nabi Khidir,Tetapi dalam Riwayatnya
Di Ceritakan Guru Ghoibnya Yaitu Nabi khidir ia juga Sebagai bapak
Angkatnya, Atau Memang Orang Tuanya ..Wallahu a’lam..

BIOGRAFI SYEKH YUSUF AL-MAKASSARY


A. Kelahiran
42

Yusuf (nama kecil Syaikh Yusuf) lahir di Makassar pada tahun 1626 M.
Lontarak Syekh Yusuf. menceritakan bahwa Yusuf lahir di Istana Tallo
pada 3 Juli 1626 M/8 Syawal 1036 H, dari Puteri Gallarang Mon,
congloe di bawah pengawasan raja Gowa. Menurut Da Costa dan
Davis,]orang tua Syekh Yusuf termasuk kaum bangsawan. Ibunya
memiliki hubungan darah dengan raja-raja Gowa, sedangkan ayahnya
masih kerabat Sultan Alauddin. Gelar “syekh” diperoleh dari seorang
mursyid tarekat yang membimbingnya, sesuai dengan tradisi ahli
tasawwuf.ini Menurut Cerita Orang orang..

Tetapai Syekh Yusuf sebenarnya Keturunan Arab-Jawi Banten Inilah


Reprensinya

Syekh Yusuf al-Makassary adalah buah perkawinan Abdullah bin Abi


Khayri al-Manjalawi dengan I Tubiani Sitti Aminah Daeng Kunjung, putri
pasangan Daenta Daeng Leyo’ dengan I Kerana Daeng Singara. Daenta
Daeng Leyo’ yang nama lengkapya I Hama (Ahmad) Daeng Leyo’
adalah salah seorang pejabat Bate Salapang dalam kedudukannya
sebagai Daenta Gallarrang Moncong Lowe yang juga merangkap
sebagai pejabat Kare Bira Ke IV.

I Tubiani Daeng Kunjung dipersunting oleh Abdullah bin Abi Khayri al-
Manjalawy atas bantuan Dampang Ko’mara (Suatu jabatan
pemerintahan setingkat Gallarrang di Gowa). Abdullah bin Abi Khayri al-
Manjalawy sendiri konon bersahabat dengan Hatib Abdul Makmur Dato’
ri Bandang, disamping itu dikenal pula sebagai seorang sufi

Yusuf kecil dipelihara dan dibesarkan di lingkungan istana bersama Sitti


Daeng Nisanga putri raja Gowa, dan bersama pula diajari mengaji
beserta ilmu tajwid oleh Daenta Sammeng, seorang perempuan salehah
dan luas ilmunya.

Dalam Tuhfat al-Mursalah, karya Syekh Yusuf, tertulis nama al-Syekh


Yusuf al-Taj Abu al-Harkani al-Majalawi. Nama ini menunjukkan seorang
waliyullah yang mengetahui asal-usulnya, yaitu keturunan bangsawan
Lili negeri Manjalawi Makassar. Dalam al-Naba fi I’rab La Ilaah illallah,
tertulis nama al-Syekh Yusuf bin Abdullah al-Jawi al-Makassari, yang
menunjukkah bahwa dia adalah wali sufi dari tanah Jawi Banten dan
Makassar. Gelar “Syekh” diperoleh menurut tradisi tasawwuf setelah ia
mendapat izin dari gurunya di Damaskus yang bernama al-Syekh Abu
al-Barokah Ayyub bin Ahmad bin Ayyub al-Khalawaty al-Quraisy, karena
Syekh Yusuf memiliki kemampuan dan penguasaan dalam tarekat.
43

Syekh Yusuf al-Makassary belajar bahasa Arab, ilmu Fiqh, dan ilmu-ilmu
syariat lainnya pada padepokan Bontoala sebuah pondok pesantren
yang didirikan ketika Gowa menerima Islam sebagai agama kerajaan.
Pondok ini diasuh oleh Syekh Sayyid Ba’ Alwi bin Abdullah al-Allamah
Thahir sejak 1634, seorang Arab Qurais dari Makkah yang kemudian
menjadi menantu Sultan Alauddin.

Syekh al-Haj Yusuf al-Makassary, kemudian melanjutkan belajar ilmu


hakiki pada dua orang ulama salaf pada waktu itu, yaitu: Lo’mok ri
Antang, dan Dato’ ri Panggentungang yang bernama Sri Naradireja bin
Abdul Makmur, putra Dato’ ri Bandang yang bertujuan untuk mencari
ayahandanya di Makassar, akan tetapi sang ayah telah wafat. Oleh raja,
beliau dibujuk agar dapat menetap dan melanjutkan da’wah islamiyah
yang dilakukan oleh ayahnya kala hidupnya.

Di Makassar Syekh Yusuf sejak kecil dibiasakan hidup menurut norm-


norma agama. Kebiasaan yang dianut oleh masyarakat Islam ketika itu,
termasuk Gowa dan Tallo misalnya kewajiban belajar al-Qur’an sampai
khatam. Setelah itu dilanjutkan dengan pelajaran bahasa Arab, tauhid,
Fiqh dan lain-lain Tradisi itu juga dijalani oleh Syekh Yusuf. Gurunya, I
Daeng ri Tasammeng, melihat minat Syekh Yusuf pada ilmu tasawwuf,
sehingga ia meminta Syekh Yusuf untuk mendalam ilmu tasawwuf di
luar Makassar.

Keinginan Syekh Yusuf al-Makassary untuk menimba ilmu disambut


baik oleh semua kalangan dengan harapan agar kelak butta
Mangkasara’ memilki seorang figur ilmu Islam yang cendekia dan
handal.
Saat sang guru menganggap pelajaran telah selesai, Syekh Yusuf
diberi pesan untuk melanjutkan perjalanannya menuntut ilmu ke
Makkah. Kebetulan pada saat itu kerajaan Gowa yang sedang
berkembang membutuhkan seorang ulama yang mumpuni. Oleh karena
itu beberapa pembesar kerajaan menganjurkan Syekh Yusuf untuk
memperdalam ilmu ke negeri lain. Saat itu Syekh Yusuf berusia 18
tahun. Sebelum meninggalkan tanah kelahirannya, Syekh Yusuf al-
Makassary mempersunting Sitti Daeng Nisanga seperti pemberitaan
Ince Nuruddin Daeng Magassing dalam karyanya berjudul Riwaya’na
Tuanta Salamaka Syekhu Yusufu, th. 1933, namun tak ada tarikh yang
menunjukkan kejadiannya.

Saudara I Seno Datu Citta =


1, I Seno Datu Citta
44

2.La Massarasa Arung Pallengoreng


3.La Palaguna Arung Nangka
4,La Patonangi
5.La Makkassau Arung kera Dulung
Pitumpanuwa
6.I Soji karaeng Tanete
8. Nama Orang Tua La Maddusila Karaeng Tanete Yaitu
Lamallarangeng Datu Lompulle Juga Raja Sappire Petta Matinroe
Risappire Istri nya Datu I Tenri Leleang Petta Matinroe Ri Soreang (
Tanete Barru) Payunnge Ri Luwu Raja Luwu 24-26 Dan Juga Raja
Tanete ,I Tenri Leleang Anak Dari La Rumpang Megga Toseppaile Opu
Cenning Matinroe Ri Suppa Istri Datu Batari Tungke Sultanah Fatimah
Payung Luwu Raja Luwu 22 Petta Matinroe Ri Pattiro Anak Dari Datu La
Ongrong To Palaguna Payung Luwu 21 Dengan Istrinya Raja Tanete 13
Datu We Pattekke Tanah Daeng Tanisanga Petta Majjappae Datu Tellu
Tallassae ...We Pattekke Tanah Anak Dari La Mappajanci /La Sulo Dg
Matajang (sultan Ismail ) Datu Tanete Dengan Istri We Tenri Abeng
Daeng Baji Datu Mario Riawa petta Mabbola Sadana Saudari La Tenri
Tatta Aru Palakka Petta Malampe Gemmena...

Datu I Batari Tungke Sultanah Payung Luwu Saudara Se Ayah Dengan


La Kaseng Tosibenngareng Petta Matinroe Kaluku Bodoa Payung 25.

Saudara La Maddusila

1.I Pannangarang Datu Mario Riwawo


Matinroe Riujung Tanah
2.La Tenri Sessu arung pancana Opu
Cenning To Lao Sigeri
3.La Maggalattung To Angkali Matinroe
Ri Alau Ale Datu Lompulle
4.We Tenri Akka Batari Toja Daeng
Matana Datu Bakke
5.La Maddusila Datu Tanete Karaeng
Tanete
45

6. I Tenri Pada Dg Maleleng


7. I Patimang Dennyarasi
Saudara I Tenrileleang = 1. La Oddang Riu Datu Tanete Datu
Soppeng
9.Nama Orang Tua La Mallarangeng Datu lompulle =

Yaitu La Temmu Page Datu Lompulle Istri We Tenri Datu Botto Anak
dari Lamalleleang To Panammani Datu Lompulle Datu Mario Riawa Istri
We Mekko Datu Bakke LaMalleleang Bin La Page Arung Lompengen
Datu Lompulle Saudara Se Ayah dari Aru palakka Petta Malampe
Gemme’na istri We Buka Datu Botto.Orang Tua La Page Arung
lompengen La Potto Bune Arung Tanah Tennga Dengan Istri We Tenri
Pasa Datu Watu anak Dari La Tolempeng Datu Pattojo ..We Tenri Lekke
Baji Sui Lembae Binti La Makkarodda Tenribali Mabbeluwae Datu Mario
Riawa Datu soppeng Bin La Waniaga To Makerra Arung Bila Istri We
Balo Sugi..istri La Makkarodda We Tenri Pauwwang Pakkua Anaknya
Dari La Uliyo Botee Mangkau Bone 6...istri La Tolempeng Datu Pattojo
yaitu We Tenri Lekke I Baji suji Lembae Datu Mario Riawa..

1.We Tenri Lekke we baji suji 2x Bersuami salah satunya Raja Bone XI
La Tenri Ruwa Dan La Tolempeng Datu Pattojo....j

2. La Potto Bune Arung Tanah Tennga 2x Menikah Salah Satunya We


Tenri Sui Anak Dari La Tenri Ruwa Raja Bone XI Dan We Tenri Pasa
Datu Wotu.saudari seibu We Tenri Sui

La Potto Bune Arung Tanah Tennga Anak Dari La Wawo Dengan Istri
We Cammare Datu Lompengen Matteddung Pulaweng..

La Temmu Page Anak Dari La Potto Bune To baicceng ia Juga Seorang


Datu Istrinya We Pattekke Tanah Petta Pajjappae Datu Tellu Tallassae
Raja Tanete 13...We Pattekke Tanah 2x Bersuami

1. La Potto Bune To Baiccing Dan 2. La Ongrong To palaguna


payung Luwu 21.

Silsilah Ibunda St Nurseha Opu Dg Tapajja


Silsilah Nama Ibunda Saifuddin S.Hi Yaitu St Nurseha opu Dg Tapajja
Binti H.Abd Rahman Dg Mappuji Puang Puji Bin H.Bara (Sabar)Puang
46

Ngajji ToGamang .Nama Togamang Itu Salah Satu yang Nama


Penghargaan Atau Gelar Yang Di Berikan Oleh Andi Banranga Opu Dg
Mattobba Karna Perangainya Sopan Santun,Ramah dan juga Di Kenal
Di kampungnya Lauwa Wajo Di Panggil Puangngajji togamang Dia
Seorang Pawang Buaya , Kalau Ia Berlayar Yang Jaga Rumah nya Itu
Buaya

Istri H.Abd Rahman Puang Puji Yaitu Hj.Andi Khameriah/Rahmatiah


Opu Dg Mawaru Binti Andi Banranga Opu Dg Mattobba Istri Maena Dg
Nabidara Bin Andi Abdullah Opu Nenek Jelling Arung Cenrana Luwu
Istri Andi Waji Opu Dg Macenning Bin Katote Opu Zakaria Istri I Makku
Bin To Sibenngareng La Kaseng Payung Luwu 25 Istri Opu ?? Bin La
Onrong Topalaguna Payung Datu Luwu 21 Istri I Rukia Opu Daole Bin
Sattiyaraja Payung Datu Luwu 18-20 Istri We Diyo Petta Ritakalara Opu
Datu Dg Massiang Petta Matinroe Lawelareng Bin La basso
Lappakkebuangan la palisu baga daeng mattuju (sultan Ahmad
Nazaruddin) Petta Matinroe Ri Gowa Payung Datu Luwu 17 Istri Opu
Dg Kasalle Bin Patia Pasaung ( Sultan Abdullah)Petta Matinroe
Langkanae Payung Datu Luwu 16 Istri We Pannangareng Petta
Matinroe Ri Judda Bin Pattiriarase Petta Matinroe Patimang Payung
Datu Luwu 15 Islam Pertama Istri 1.We Tenri Waja 2. Karaeng Balla
Angisi Al Bugisi Putri Somba Ri Gowa

Saudara Ibu = St Nurseha Opu Dg Tapajja

1. Muhammad Alwi Opu Dg sisila


2. St. Nurseha Opu Dg Tapajja
3. Baso Opu Dg Sitaba
4.Nadirah Opu Dg Talebbi
5.Abd Rahman Opu dg sirua
6.Mansyur Opu Dg Mappuji
7.Muliyanti opu dg bidara
8. Hj Titik Adriani Opu Dg Risaju
9.Opu Dg Hasym..
47

Orang Tua Laki Laki St Nurseh Opu Dg Tapajja Yaitu H.Abd Rahman
Dg Mappuji Puang Puji Bin H.Bara Puang Ngajji ToGamang.
Orang Tua Perempuan St Nurseha Opu Dg Tapajja
Yaitu Hj.Andi Khameriah/Rahmatiah Opu Dg Mawaru Dengan
Beberapa Saudara =
1.Hj Andi Khameriah/Rahmatiah Opu Dg
Mawaru
2.Andi Amang Opu Ambena Robinson
3.Andi Baso Opu Dg Pacidda
4.Andi Rugamang Opu Daengna Patiara
5.Andi Walluha Opu Daeng Ri Wakkang
6.Andi Mustahele Opu Gawena Konten
7.Andi Syamsiah Opu Daengna
Massikati
8.Andi Madjid Opu To Zakaria
Orang Tua Hj Andi Khameriah Opu Dg Mawaru Yaitu Andi Banranga
Opu Dg Mattobba (Makam Qubah ( Ko’Ban) Belopa )
Saudara Andi Banranga Opu Dg Mattobba Yaitu =
1.Andi Banranga Opu Dg Mattobba
2.Andi Surubeng Opu Ummana Andi Bau
3.Andi Lonjo Opu Ummana Andi
Pangerang
4.Andi Sonri opu Ambena Andi Bessi
5.Andi Mallapiseng
Orang Tua Andi Banranga Opu Dg Mattobba Yaitu Andi Abdullah
Opu Topano Opu Nene Jelling Arung Cenrana Luwu (Wali) Istrinya Andi
Waji Opu Dg Macenning (Makam Qubah ( Ko’Ban) Belopa)

Orang Tua Andi Abdullah Opu Topano Opu Nene Jelling Arung
Cenrana Luwu Matinroe Ri Ko’Bannge Belopa Yaitu Katote Opu
Zakaria Istri I Makku
48

Di Ceritakan Dari Anak Cucunya Pernah Suatu Ketika Bahwa Pihak


Kerajaan Mencari Anak Keturunan Andi Abdullah Opu Topano Untuk
Memangku Jabatan Penggati Payung Luwu Tetapi Pihak Ade Pitue
Kerajaan Bahwa Opu Topano Tidak Punya Keturunan ( Politik ).Dan
Salah Satu Janji Sumpahna Opu Topano Kepada Turunannya Bahwa (
Bugis; Naia Ana Appoku 7 Pitu Turunan Matase Maneng Darana)
Artinya Tujuh Turunan Darah Keturunannya Masak Kental Darah
Birunya..Wallahu a’lam

Dan Opu Topano Itu Seorang Wali Dan Ia Penghapal Alqur’an Dan
Suka Menamatkan Al Quran Ke Anak Cucunya....

Orang Tua Katote Opu Zakaria Yaitu Tosibenngareng La Kaseng Petta


Matinroe Kaluku Bodoa Payung Datu Luwu Ke 25

Orang Tua La Kaseng Petta Matinroe Kaluku Bodoa Yaitu La


Ongrong Palaguna Payung Datu Luwu Ke 21 Istri I Rukia Opu Daole

Orang Tua La Ongrong Palaguna Yaitu Payung Datu Settiaraja 18-20


Petta Matinroe Toppo Tikka Istri We Diyo opu dg Massiang petta
Matinroe Lawelareng

Orang Tua Settiaraja Yaitu La basso Pakkebuangan/La Palisu Baga


Petta Matinroe Ri Gowa Payung Datu Luwu 17 Istri Opu Dg Kasalle

Orang Tua La Palisu Baga P.Matinroe Ri Gowa Yaitu Datu Patia


Pasaung Petta Matinro Ri Langkanae Payung Luwu Ke 16. Istri We
Pannengarang Petta Matinroe Ri Judda

Orang Tua Pati Pasaung Yaitu Datu PattiriArase Payung 15 ( Islam


Pertama) Petta Matinroe Ripatimang Istri We Tenri Waja..

Catatan Silsilah Keluarga Ibu St Nurseha Dg Tapajja Jarak Generasi


Dari Generasi Lambat Dalam Proses Kelahiran Perkawinan Sehingga
Tercatat Dari Generasi Ibu Dari La Onrong Topalaguna Payung Luwu
21 Itu Generasi 6 Cucu Ke 6 Sedangkan Suaminya H.Abd Hafid Aliah
Itu Generasi 9 Dari Cucu La Onrong Topalaguna Payung
21...Sebagaimana Orang Tua Dulu Apalagi (Arung) Raja Atau
Pangerang ,Kadang Beristri Lebih Dari Pada Satu Walau Umur 60 Thn
Keatas Masih Bisa Mengawini istri2 Yang MasiH Muda,Sehingga
Proses Generasi Ke Generasi Terjadi Lambat.
49

Saudara H.Abd Hafid Aliah

Untuk Meretas Keluarga saudara H.Abd hafid Aliah Yaitu Hj.Hasanah


Aliah,Abd Djalil Aliah ,Hj DJamilah Aliah.

1. Hj.Hasanah Aliah 2x Bersuami .Salah Satunya Yaitu Bernama H.Abd


Hafid Ahmad Seorang Kapten Keluarga Pejuang 45 Salah Satu
Pasukan Andi sose Dan Melahirkan Anak Yaitu Hj.Mudrah Dg Bollo
Dengan Suami H.Muchtar Tamin Melahirkan Anak Yang Bernama ;

1.Gunawan Muchtar T .S.Sos istri Sri Wahyuni Anak Dari


M.Saleh B Dengan Istri Hj.Nurhayah Binti AG.KH.Ismail Ghalib ,

1.Putra ; Muhammad Fadli 2. Putri ; Lika


Hanifah

2.Verawati .SE. Suami Muhammad Amin Syahdan SE Bin


H.Muhammad Syahdan Bin H.Muhammad Sewang Karaeng Sewang (
Bupati Pertama Di barru).

Putra ; Muhammad Sapril Jaelani ( Ariel)

3.Megawati s.sos Suami Imran Rauf..

2.Abd Djalil Aliah Istri St Aliyah Binti sayyid Hasyim Dg Salle Bin
Sayyid Abd Rahim Puang Daeng (Kapiten Arab Di Berru) Bin
Sayyid Ali Bil Faqih ( Turunan Rasulullah).

Istri Hasyim Dg Salle Hj.Rugaiyyah Dg Senga Binti Sayyid Umar Aliyafih


istri Marhumi Dg Marellang

Saudara Sayyid Abd Rahim Puang daeng Matinroe Ri Cannae soppeng


Yaitu Sayyid Muhammad Matinroe ri Lompengeng Cilellang

Istri sayyid Abd Rahim yaitu Andi Kamua Dg Tanang Anak Dari Andi
Makkulau Dg Temmu Tonra ,Bone Matinroe Ri Ujung Batu

Abd Djalil Aliah x St Aliyah Melahirkan ;

1.Ir.Wahidah Djalil Suami Ir.Munir


50

2.Ir.Ridha Djalil Istri Hj.Rezky

3.Bahariawan istri Nur Chaerani

Putri ; 1.Andi Nur Awalia 2.Andi Ariani 3.Andi Ainum Zahirah

4.Ir.Djamaluddin Istri Rafiqa

5.Rahmat s.sos Istri Suri

6.Wahyudi Istri Saharia

7.Hidayat Istri Resphina

8.M.alif Djalil

4.Hj.Djamilah aliah suami H.Muh.Djawab Abdullah Bin H.Abdullah Dg


Nai Bin H.Musa Bin Muh.Said Bin Yusuf BinSulemang Dg Tata Istrinya
Djamila...istri dari Puang Musa Yaitu Puang Halijah,,Istri Dari
H.Abdullah.Dg Nai Yaitu Hj.Aisyah Dg Senga Anak Dari Muh.Ali Istri
Kulosong Muh.Ali Anak Dari Yusuf Dengan Istri Fatimah..(Muh.Ali
Dengan Muh.Said Bersaudara) ..Istri Muh.Said yaitu Sarifah Saudari
Puang Yusuf Bin La Tahere Kakek Puang Kali barru..Istri Yusuf Bin
Sulemang Dg Tata Yaitu Fatimah Anak Dari Puang Kasim,Puang Kasim
Anak Dari Puang Daud Kali Tanete Bin Puang Yusuf ,sultan yusuf Kali
Tanete III Dengan Istri Puang Muna ,Puang Yusuf Anak Dari Lasulo/La
Mappajanci Dg Matajang Raja Tanee 12 ,dengan istrinya kare sangging
Binti Syekh yusuf Al Makkassari Tuanta Salama.,Sultan Yusuf Kali
Tanete III Dengan Istrinya Puang Muna ,Puang Muna Anak Dari Puang
Musa Kali Tanete II Bin Muhammad Ali Puang Ri Djoleng Kali 1.

Hj.Djamilah Binti KH.Djamaluddin Aliah Kali Barru Bin Puang


Muhammad Bin Puang Yusuf Bin Latahere,,,Puang Yusuf Bersaudari
Dengan Sarifah Suami Muh.Said kakek Puang Djawab..

Sekiranya Puang Kali Barru Sepupu 2x Dengan H.Abdullah Dg Nai,Dan


Perkawinan Puang Djawad Dengan Hj.Djamilah Sepupu 3x..

Saudara Puang Djawad Yaitu;

1.H.Islahuddin Istri Saodah, 4.H.Z,Arifin


Istri Hj.Hasnah
51

2.Dra Hj,Sarifah Suami Drs Budiono,


5.St,Halimah Suami A,Rahman

3.Fatma, , ,
6.HJ.Hasibah Suami Muh.Natsir T.

Anak-Anak H.Puang Djawad x Hj Djamilah;

1.M.Taufik SE /Syamsiah SE 5.Dra.Wardaningsih /


Drs. Mustamin 8.Widyawati /

2.Drs.M.Syukri/Hj.Hasniati 6.Musa/ Ina

3.Firdaus/Rustiah 7.Makmun /

Saudara Ibunda St.Nurseha Opu Dg Tapajja Beserta


Keluarga
1.Muhammad Alwi Opu Dg Sisila Istri Andi EnTjeng Opu
Tenri

Putra :1 Andi Syamsuar Istri ?

Putri : 2. Andi Widyawati Alwi Suami Grangsang

3.Andi ShanTy Alwi

4.Andi Octoriana Suami Abri

2.Sitti Nuseha Opu Dg Tapajja Suami H.Abd.Hafid Aliah Dg Mafata

Putra :1.Badawi Istri Partinah

2.Muhammad Fudail ( Mr.Fangky )Istri Oke


Indah Wulandari

3.Saifuddin S.Hi istri Hj.Andi Jenne Pamairi S.Hi

Putri: 4.Maisuri S.Sos Suami Drs.Sudirman Rahim .MM

5.Rahmawati S.Sos Suami R.Urif Sudarmaono

6.Maya Puspita Sari Suami Mustafa R.


52

7.Indah Purnama Sari Suami Sainuddin

3.Baso Opu Dg Sitaba Istri Waty

Putra :1 Adhit

Putri ; 2. Dhea

3.?

4.Nadirah Op Dg Talebbi Suami Karjito

Putra : 1. Budi Santoso Istri Nur Fitria

2.Darmawan Irwanto Istri Riska


Adriana

3.Nandhika Septian istri Nur Istianah

4.Alfian Dhiannara

5.Abd Rahman SE Opu Dg Sirua Istri Hj Nurwina SE

Putra 1.Andi Wirandha Rachman

2.Andi Aqsha Rachman

Putri 3.Andi Vita Saraswati Rachman

6.Mansyur Opu Dg Tafuji Istri Marlina

Putra : 1 Hirman istri Haslhinda

2.Khidir istri Ririn

3.Raihan Ashar Amanullah

Putri ; 4. Rani Puspita Sari Suami Mansyur

5.Ratih Suami Asmar

6.Kiki Suami Chandra

7.Resti Juliani Suami Zulkarnaen

7.Muliyanti Opu Dg Bidara Suami Drs Andi Husaini

Putra ; 1.Andi Fitra Rajawana


53

8.Opu Dg Hasyim

9. Hj.Titik Adriani Opu Dg Risaju Suami Dr.H.Kaharuddin

Putri ; 1.Andi Ghina Agrifinha

---------------Wassalam ---------------

Barru-Rappang ,
Tgl 1-11-2018

Saifuddin Hafid Aliah S.Hi