Anda di halaman 1dari 40

Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Refarat

Dan Kedokteran Komunitas Oktober 2019


Fakultas Kedokteran
Universitas Halu Oleo

HEAT STROKE AKIBAT KERJA

Oleh:
Ainun Mardiah Dwi Putri Burhanuddin, S. Ked
K1A1 12 111

Pembimbing :
dr. Saktrio Wicaksono, M.Sc

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT
DAN KEDOKTERAN KOMUNITAS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019

1
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini, menyatakan bahwa:

Nama : Ainun Mardiah Dwi Putri Burhanuddin, S. Ked

NIM : K1A1 12 111

Judul refarat : Heat Stroke Akibat Kerja

Telah menyelesaikan tugas refarat Heat Stroke Akibat Kerja rangka kepaniteraan

klinik pada Bagian Ilmu Kedokteran Keluarga dan Komunitas Fakultas

Kedokteran Universitas Halu Oleo

Kendari, Oktober 2019


Mengetahui,
Pembimbing

(dr. Saktrio Wicaksono, M.Sc)


NIP.

32
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa,

karena atas berkat rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan referat

ini dalam rangka sebagai tugas kepaniteraan klinik bagian Ilmu Kedokteran

Keluarga dan Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo.

Penulis menyadari bahwa pada proses pembuatan referat ini masih banyak

kekurangan. Oleh karena itu, segala bentuk kritik dan saran dari semua pihak yang

sifatnya membangun demi penyempurnaan penulisan berikutnya sangat penulis

harapkan. Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr. Satrio Wicaksono, M.Sc

atas bimbingan dan arahannya sehingga berbagai masalah dan kendala dalam

proses penyusunan refarat ini dapat teratasi dan terselesaikan dengan baik.

Penulis berharap semoga refarat ini dapat bermanfaat bagi penulis pada

khususnya dan para pembaca pada umunya serta dapat dipergunakan sebagaimana

mestinya. Atas segala bantuan dan perhatian baik berupa tenaga, pikiran dan

materi pada semua pihak yang terlibat dalam menyelesaikan laporan ini penulis

ucapkan terima kasih.

Kendari, Oktober 2019

Penulis

32
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL . ...................................................................................... i

KATA PENGANTAR .................................................................................... iii

DAFTAR ISI ................................................................................................... iv

BAB I. PENDAHULUAN .............................................................................. 1

1.1 Latar Belakang .......................................................................... 1

1.2 Tujuan Referat ........................................................................... 2

1.2.1 Tujuan Umum .................................................................. 2

1.2.2 Tujuan Khusus ................................................................. 2

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA..................................................................... 4

BAB III. METODE PENGUMPULAN DATA ............................................. 20

3.1 Cara Pengambilan Data ............................................................ 20

BAB IV HASIL KEGIATAN PUSKESMAS DAN HASIL PENGUMPULAN

DATA .............................................................................................. 21

4.1 Gambaran singkat kalla kakao ................................................... 21

BAB V MASALAH KESEHATAN ............................................................... 26

5.1 Identifikasi masalah ................................................................... 26

5.2 Identifikasi faktor-faktor penyebab masalah dan penyebab masalah

dominan .................................................................................... 26

BAB VI PEMECAHAN MASALAH PRIORITAS DAN USULAN KEGIATAN

UNTUK PEMECAHAN MASALAH .................................................... 29

6.1 Alternatif-alternatif pemecahan masalah ................................... 29

32
6.2 Pemecahan masalah terpilih ...................................................... 31

6.3 Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pemecahan

masalah .................................................................................... 32

6.4 Rencana usulan kegiatan pemecahan masalah yang terpilih ..... 32

6.5 Monitoring dan evaluasi ............................................................ 32

BAB VII PENUTUP ........................................................................................ 35

7.1 Simpulan .................................................................................... 35

7.2 Saran .......................................................................................... 35

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 36

32
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kecelakaan dan penyakit akibat kerja didefinisikan sebagai luka, penyakit,

atau matinya seseorang akibat pekerjaannya. Menurut KEPPRES RI No. 22

Tahun 1993, penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan pekerjaan

atau lingkungan kerja. ILO (International Labour Organization)

memperkirakan lebih dari 2,3 juta orang meninggal setiap tahun akibat

kecelakaan kerja maupun penyakit akibat kerja dan ada lebih dari 6000 orang

meninggal setiap harinya. Diperkirakan ada sekitar 340 juta kecelakaan kerja

dan 160 juta korban penyakit akibat kerja.

Latihan yang dilakukan di lingkungan yang ekstrim dapat menjadi

tantangan yang serius terhadap sistem pengaturan suhu dan sistem

kardiovaskuler. Jika sistem kardiovaskuler tidak dapat memenuhi permintaan

dari persediaan darah yang cukup untuk otot dan mengatur keseimbangan

panas, dapat menyebabkan terjadinya cedera panas. Cedera panas mencakup

penyakit heat cramps sampai mengancam jiwa karena keletihan yang

disebabkan oleh panas (heat exhaustion). Pemahaman mengenai respon yang

dilakukan oleh tubuh terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim dapat

membantu upaya untuk mencegah terjadinya cedera terhadap mereka yang

melakukan latihan atau kompetisi pada kondisi yang tidak menguntungkan ini.

Heat-related illness (penyakit akibat panas) merupakan keluhan atau

kelainan klinis yang akibatkan oleh paparan panas. Heat related-Ilness

32
mencakup berbagai gangguan mulai dari gangguan yang ringan hingga

mengancam nyawa. Penyakit ini muncul jika terdapat gangguan regulasi suhu

tubuh akibat input panas dan metabolise tubuh meningkat namun tidak

diimbangi dengan pengeluaran panas dari kulit secara radiasi, evaporasi, dan

konveksi. Penyakit ini banyak terjadi di daerah tropis.

Suhu tubuh adalah hasil interaksi panas berupa produksi, penyerapan, dan

disipasi. Pengaturan suhu tubuh diatur terutama oleh hipotalamus untuk tetap

berada diantara 3637°C meski berada di suhu lingkungan yang bervariasi.

Keadaan hipertermi ditunjukkan dengan peningkatan suhu yang diakibatkan

oleh ketidakseimbangan penyerapan panas atau kegagalan dalam membuang

panas. Transfer panas terjadi dengan empat cara yaitu konduksi, konveksi,

radiasi, dan evaporasi. Perpindahan panas dari objek dengan suhu tinggi ke

objek dengan suhu yang lebih rendah terjadi dengan cara konduksi. Tingkat

konduksi tergantung suhu, benda itu sendiri dan luas permukaan yang

mengalami kontak.

1.2 Tujuan

1.2.1 Tujuan Umum

Untuk menganalis masalah kesehatan Heat Stroke Akibat kerja.

1.2.2 Tujuan Khusus

Untuk menganalis masalah kesehatan yang berkaitan dengan Heat

Stroke Akibat Kerja.

32
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan

dan substansi yang menempel pada kulit Dikenal 2 macam dermatitis

kontak yaitu dermatitis kontak iritan dan dermatitis kontak alergik

keduanya bersifat akut maupun kronis. Dermatitis iritan merupakan reaksi

peradangan kulit nonimunologik, jadi kerusakan kulit terjadi langsung

tanpa didahului proses sensitisasi. Sebaliknya dermatitis kontak

alergik terjadi pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi terhadap

suatu allergen.

Dermatitis kontak iritan (DKI) merupakan reaksi peradangan

nonimunologik pada kulit yang disebabkan oleh kontak dengan faktor

eksogen maupun endogen Faktor eksogen berupa bahan-bahan iritan

(kimiawi, fisik,maupun biologik) dan faktor endogen memegang peranan

penting pada penyakit ini Ada yang membagi dermatitis kontak iritan

menjadi 2 kategori mayor yaitu DKI akut dan DKI kumulatif.

B. Etiologi

Zat yang menyebabkan DKI akut adalah zat yang cukup iritan

untuk menyebabkan kerusakan kulit bahkan dalam satu pajanan mencakup

di dalamnya adalah asam pekat, basa pekat,cairan pelarut kuat, zat

oksidatir dan reduktor kuat. Sedangkan pada DKI kumulatif (DKIK)

kerusakan terjadi setelah beberapa kali pajanan pada lokasi kulit yang

32
sama yaitu terhadap zat-zat iritan lemah seperti 4 air, deterjen, zat pelarut

lemah, minyak dan pelumas. zat - zat ini tidak cukup toksik untuk

menimbulkan kerusakan kulit pada satu kali pajanan, melainkan secara

perlahan 3 lahan hingga pada sutau saat kerusakannya , mampu

menimbulkan inflamsi. Penyebab DKI kumulatif biasanya bersifat

multifaktorial.

Faktor-faktor pencetus terjadinya DKI berhubungan dengan zat

iritan, pajanan (waktu dan rekuensi) lingkungan (tekanan mekanis, suhu

dan kelembapan) serta bergantung pada faktor predisposisi yaitu

karakteristik individu (umur, jenis kelamin, etnis, penyakit kulit yang telah

ada, atopi, lokasi anatomis yang terpajan dan profesi).

Faktor zat iritan mencakup sifat fisik dan kimia zat tersebut seperti

4 ukuran molekul, ionisasi, polarisasi, PH dan kelarutan. Sedangkan

Faktor pajanan meliputi 4 konsentrasi, volum, waktu aplikasi serta durasi

pajanan. Umumnya, waktu pajananyang lama dan volum yang besar

meningkatkan penetrasi. Pengaruh lingkungan, seperti kelembaban yang

rendah dan suhu yang dingin, merupakan faktor penting dalam

menurunkan kadar air stratum korneum. Suhu yang dingin saja dapat

menurunkan kelenturan lapisan tanduk, sehingga menyebabkan retaknya

stratum korneum. oklusi meningktkan kadar air strtaum korneum sehingga

menurunkan fungsi efisiensi sawarnya.

Hal ini mengakibatkan peningkatkan absorpi perkutan zat-zat yang

larut dalam air. Penderita atopi rentan terhadap efek iritasi zat iritan.

32
Kandungan zat iritan juga penting dalam meningkatkan iritasi. Kebanyakn

produk pemersih kulit di pasaran dapat mneyebabkan efek iritasi primer

jika digunakan berulang-ulang atau berlebihan, akan tetapi jika digunakan

sesuai aturan, kulit normal tidak akan teriritasi.

Kulit normal memiliki PH berkisar sekitar 7,7 meski beberapa

peneliti berpendapat bahwa PH kulit berkisar antara 6 -7' Kisaran PH kulit

natara lain ditentukan oleh adanya mantel asam yaitu lapisan tipis yang

ditinggalkan oleh keringat dan bersifat asam. Bakteri anggota mikroflora

kulit memerlukan PH tertentu untuk dapat melaksanakan pertumbuhan

optimum. Terdapat perbedaan PH untuk pertumbuhan setiap jenis bakteri,

misalnya S.aureus membutuhkan PH 7,5 untuk pertumbuhannya,

sedangkan P.aureus memerlukan PH antara 6 – 6,5. Larutan deterjen

memiliki PH 9,5 dan jika digunakan berulang- ulang selama beberapa hari

PH kulit akan naik menjadi 8 Kondisi kulit yang demikian tidak menjadi

sarana yang baik bagi pertumbuhan mikroflora yang penting untuk

menjaga lapisan matel asam.

Saat terpajan dengan iritan yang sama dengan kondisi yang sama

pula, perkembangan tingkat iritasi tiap individu berbeda- beda. Faktor-

faktor yang berpengaruh terhadap kerentanan individu meliputi :

- Umur dan Lokasi

Kerentanan kulit terhadap efek iritasi zat iritan menurun seiring

dengan usia. Hal ini disebabkan oleh penurunan fungsi sawar. Penelitian

menunjukkan bahwa iritabilitas kulit terhadap sodium lauril sulfat

32
mencapai puncaknya selama masa kanak-kanak dan menurun selama

dewasa, mencapai tingkat terendah saat dekade keenam. Lokasi dengan

rekativitas tertinggi adalah paha, punggung atas dan lengan bawah.

- Ras

Individu berkulit gelap seperti orang Afrikan dan hispanik,

memperlihatkan respon iritasi yang lebih besar terhadap surfaktan, sodium

lauril sulfat, begitu pula terhadapzat kimia dan sinar ultra violet. Dikatakan

bahwa kulit berwarna (Afrika, Asia,hispanik) memiliki fungsi sawar yang

lebih rentan dibandingkan dengan kulit putih.

- Jenis Kelamin

Kerentanan kulit terhadap iritasi tidak berbeda antar jenis kelamin.

Akan tetapi penelitina menunjukkan bahwa kulit wanita cenderung lebih

mudah terkena iritasi selama periode prementruasi.

- Dermatitis yang telah ada dan dermatitis atopi

Penderita atopi rentan terhadap efek iritasi. trans-epidermal water

loss (TEWL) lebih tinggi pada subjek dengan riwayat dermatitis setelah

terpajan deterjen. Abnormalitas sawar kulit atopi dari menurunnya ambang

Iritasi merupakan faktor penyebab kerentananya terhadap iritasi.

- Profesi

Deterjen merupakan pembersih kulit yang seting digunakan oleh

seluruh pekerja industri , dan bersifat iritan lemah. Pembersihan kulit yang

berlebihan dengan deterjen dapat meneybabkan DKI kumulatif pada

iundi5idu yang memiliki faktor predisposisi kelompok beresiko ini yaitu

32
para petugas kebersihan, catering, konstruksi, penata rambut, petugas

rumahs akit, pekerja industri kimia, petugas dry cleaning dan pekerja

logam Secara umum, aktivitas wet work mudah memicu terjadinya DKI.

C. Epidemiologi

Dermatitis kontak iritan dapat diderita oleh semua orang dari

berbagai golongan umur, ras, dan jenis kelamin. Data epidemiologi

penderita dermatitis kontak iritan sulit didapat. Jumlah penderita

dermatitis kontak iritan diperkirakan cukup banyak, namun sulit untuk

diketahui jumlahnya. Hal ini disebabkan antara lain. Oleh banyak

penderita yang tidak datang berobat dengan kelainan ringan.

D. Gejala Klinis

Dermatitis kontak iritan dibagi tergantung sifat iritan. Iritan kuat

memberikan gejala akut, sedang iritan lemah memberi gejala kronis.

Selain itu juga banyak hal yang mempengaruhi sebagaimana yang

disebutkan sebelumnya. Berdasarkan penyebab tersebut dan pengaruh

faktor tersebut, dermatitis kontak iritan dibagi menjadi sepuluh macam.

Ada yang membagi dermatitis kontak iritan menjadi 2 kategori mayor

yaitu DKI akut dan DKI kumulati. Pada DKI akut, kerusakan kulit oleh

bahan iritan terjadi hanya dalam satu kali pajanan.

a. Dermatitis Kontak Iritan Akut

Pada DKI, kulit terasa pedih atau panas, eritema, vesikel atau bula.

luas kelainanya sebatas daerah yang terkena dan berbatas tegas. Pada

beberapa individu, gejala subyektf (rasa terbakar, rasa tersengat) mungkin

32
hanya satu-satunya manivestasi. Rasa sakit dapat terjadi dalam beberapa

detik dari pajanan. Spektrum perubahan kulit berupa eritma hingga vesikel

dan bahan pajanan bahan yang dapat membakar kulit dapat menyebabkan

nekrosis. Secara klasik, pembentukan dermatitis akut biasanya sembuh

segera setela pajanan, dengan asumsi tidak ada pajanan ulang-hal ini

dikenal sebagai “decrescendo phenomenon”. Pada beberapa kasus tidak

biasa, dermatitis kontak iritan dapat timbul beberapa bulan setelah

pajanan, diikuti dengan resolusi lengkap. Bentuk DKI Akut seringkali

menyerupai luka bakar akibat bahan kimia, bulla besar atau lepuhan. DKI

ini jarang timbul dengan gambaran eksematousa yang sering timbul pada

dermatitis kontak.

b. Dermatitis Kontak Iritan lambat (Delayed ICD)

Pada dermatitis kontak iritan akut lambat, gejala ob yektif tidak

muncul hingga 8-24 jam atau lebih setelah pajanan. Sebaliknya, gambaran

kliniknya mirip dengan dermatitis kontak iritan akut. Contohnya adalah

dermatitis yang disebabkan oleh bulu serangga yang terbang pada malam

hari (dermatitis venenata) penderita baru merasa pedih pedih esok harinya,

pada awalnya terlihat eritemadan sorenya sudah menjadi vesikel atau

bahkan nekrosis.

c. Dermatitis Kontak Iritan Kronis (DKI Kumulatif)

Juga disebut dermatitis kontak iritan kumulatif. Disebabkan oleh

iritan lemah (seperti air, sabun, detergen, dll) dengan pajanan yang

berulang-ulang, biasanya lebih sering terkena pada tangan. Kelainan kulit

32
baru muncul setelah beberapa hari, minggu, bulan, bahkan tahun.

Sehingga waktu dan rentetan pajanan merupakan faktor yang paling

penting. Dermatitis kontak iritan kronis ini merupakan dermatitis kontak

iritan yang paling sering ditemukan. Gejala berupa kulit kering, eritema,

skuama, dan lambat laun akan menjadi hiperkertosis dan dapat terbentuk

fisura jika kontak terus berlangsung.

Distirbusi penyakit ini biasanya pada tangan. Pada dermatitis

kontak iritan kumulatif, biasanya dimulai dari sela jari tangan dan

kemudian menyebar ke bagian dorsal dan telapak tangan. Pada ibu rumah

tangga, biasanya dimulai dari ujung jari (pulpitis).DKI kumulatif sering

berhubungan dengan pekerjaan, oleh karena itu lebih banyak ditemukan

pada tangan dibandingkan dengan bagian lain dari tubuh (contohnya

tukang cuci, kuli bangunan, montir bengkel, juru masak, tukang kebun,

penata rambut).

d. Reaksi Iritan

Secara klinis menunjukkan reaksi akut monomorfik yang dapat

berupa skuama, eritema, vesikel, pustul, serta erosi, dan biasanya

terlokalisasi di dorsum dari tangan dan jari. Biasanya hal ini terjadi pada

orang yang terpajan dengan pekerjaan basah. Reaksi iritasi dapat sembuh,

menimbulkan penebala kulit atau dapat menjadi DKI kumulati.

e. Reaksi Traumatik (DKI Traumatik)

Reaksi traumatik dapat terbentuk setelah tauma akut pada kulit

seperti panas atau laserasi. Biasanya terjadi pada tangan dan

32
penyembuhan sekitar 6 minggu atau lebih lama. Pada proses

penyembuhan, akan terjadi eritema, skuama, papul dan vesikel..Secara

klinik gejala mirip dengan dermatitis nummular.

f. Dermatitis Kontak Iritan noneritematous

Juga disebut reaksi suberitematous. Pada tingkat awal dari iritasi

kulit, kerusakan kulit terjadi tanpa adanya inflamasi, namun perubahan

kulit terlihat secara histology. gejala umum yang dirasakan penderita

adalah rasa terbakar, gatal, atau rasa tersengat. Iritasi suberitematous ini

dihubungkan dengan penggunaan produk dengan jumlah surfaktan yang

tinggi. Penyakit ini ditandai dengan perubahan sawar stratum korneum

tanpa tanda klinis (DKI Subklinis).

g. Dermatitis Kontak Iritan Subjektis (Sensory ICD)

Kelainan kulit tidak terlihat, namun penderita mengeluh gatal, rasa

tersengat, rasa terbakar, beberapa menit setelah terpajan dengan

iritan.Biasanya terjadi di daerah wajah, kepala dan leher. Asam laktat

biasanya menjadi iritan yang paling sering menyebabkan penyakit ini.

h. Dermatitis Kontak Iritan Gesekan (Friction ICD)

Terjadi iritasi mekanis yang merupakan hasil dari mikrotrauma

atau gesekan yang berulang. DKI Gesekan berkembang dari respon pada

gesekan yang lemah, dimana secara klinis dapat berupa eritema, skuama,

fisura, dan gatal pada daerah yang terkena gesekan. DKI gesekan dapat

hanya mengenai telapak tangan dan seringkali terlihat menyerupai

psoriasis dengan plakat merah menebal dan bersisik, tetapi tidak gatal.

32
Secara klinis, DKI gesekan dapat hanya mengenai pinggiran-pinggiran dan

ujung jemari tergantung oleh tekanan mekanik yang terjadi.

i. Dermatitis Kontak Iritan Akneiform

Disebut juga reaksi pustular atau reaksi akneiform. Biasanya

dilihat setelah pajanan okupasional, seperti oli, metal, halogen, serta

setelah penggunaan beberapa kosmetik. Reaksi ini memiliki lesi pustular

yang steril dan transien, dan dapat berkembang beberapa hari setelah

pajanan. Tipe ini dapat dilihat pada pasien dermatitis atopy maupun pasien

dermatitis seboroik.

j. Dermatitis Asteatotik

Biasanya terjadi pada pasien-pasien usia lanjut yang sering mandi

tanpa menggunakan pelembab pada kulit. Gatal yang hebat, kulit kering,

dan skuama ikhtiosiform merupakan gambaran klinik dari reaksi ini.

E. Diagnosis

Diagnosis dermatitis kontak iritan didasarkan atas anamnesis yang

cermat dan pengamatan gambaran klinis yang akurat. DKI akut lebih

mudah diketahui karena munculnya lebih cepat sehingga penderita lebih

mudah mengingat penyebab terjadinya. DKI kronis timbul lambat serta

mempunyai gambaran klinis yang luas, sehingga kadang sulit dibedakan

dengan DKA. Selain anamnesis, juga perlu dilakukan beberapa

pemeriksaan untuk lebih memastikan diagnosis DKI.

32
a. Anamnesis

Anamnesis yang detail sangat dibutuhkan karena diagnosis dari

DKI tergantung pada ana mnesis mengenai pajanan yang mengenai

pasien.Anamnesis yang dapat mendukung penegakan diagnosis DKI

(gejala subyekti) adalah

- Pasien mengklain adanya pajanan yang menyebabkan iritasi kutaneus.

- onset dari gejala terjadi dalam beberapa menit sampai jam untuk DKI

akut. DKI lambat dikarakteristikkan oleh causa pajanannya, seperti

benzalkonium klorida (biasanya terdapat pada cairan disinfektan),

dimana reaksi inflamasinya terjadi 8-24 jam setelah pajanan.

- onset dari gejala dan tanda dapat tertunda hingga berminggu-minggu ada

DKI kumulati (DKI Kronis) DKI kumulatif terjadi akibat pajanan

berulang dari suatu bahan iritan yang merusak kulit.

- Penderita merasakan sakit , rasa terbakar, rasa tersengat, dan rasa

tidak nyaman akibat pruritus yang terjadi.

b. Pemeriksaan Fisis

Kriteria dignosis primer untuk DKI sebagai berikut :

- Makula eritema, hiperkeratosis, atau fisura predominan setelah

terbentuk vesikel

- Tampakan kulit berlapis, kering, atau melepuh

- Bentuk sirkumskrip tajam pada kulit

- Rasa tebal di kulit yang terkena pajanan

32
c. Pemeriksaan Penunjang

Tidak ada pemeriksaan spesifik untuk mediagnosis dermatitis

kontak iritan. Ruam kulit biasanya sembuh setelah bahan iritan

dihilangkan. Terdapat beberapa tes yang dapat memberikan indikasi dari

substansi yang berpotensi menyebabkan DKI tidak ada spesifik tes yang

dapat memperlihatkan efek yang didapatkan dari setiap pasien jika terkena

dengan bahan iritan. Dermatitis kontak iritan dalam beberapa kasus,

biasanya merupakan hasil dari efek berbagai iritan.

a. Patch test

Patch test digunakan untuk menientukan substansi yang

menyebabkan kontak dermatitis dan digunakan untuk mendiagnosis

DKA. Konsentrasi yang digunakan harus tepat. jika terlalu sedikit, dapat

memberikan hasil negatife palsu oleh karena tidak adanya reaksi. Dan jika

terlalu tinggi dapat terinterpretasi sebagai alergi (positif pals). Patch tes

dilepas setelah 48 jam, hasilnya dilihat dan reaksi positif dicatat. Untuk

pemeriksaan lebih lanjut, dan kemabali dilakukan pemeriksaan pada 48

jam berikutnya jika hasilnya didapatkan ruam kulit yang membaik, maka

dapat didiagnosis sebagai DKI, Pemeriksaan patch tes digunakan untuk

pasien kronis, dengan dermatitis kontak yang rekuren.

b.Kultur Bakteri

Kultur bakteri dapat dilakukan pada kasus-kasus komplikasi

infeksi sekunder bakteri.

32
c. Pemeriksaan KOH

Dapat dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya mikrology

pada infeksi jamur superficial infeksi candida, pemeriksaan ini tergantung

tempat dan morfologi dari lesi.

d. Pemeriksaan Histopatologik

Gambaran histopatologik dermatitis kontak iritan tidak

karakteristik. Pada DKI akut (oleh iritan primer), dalam dermis terjadi

vasodilatasi dan sebukansel mononuclear di sekitar pembuluh darah

dermis bagian atas. eksositosis di epidermis diikuti spongiosis dan edema

intrasel, dan akhirnya terjadi nekrosis epidermal. Pada keadaan berat

kerusakan epidermis dapat meimbulkan vesikel atau bula. Di dalam

vesikel atau bula ditemukan limfosit dan neutrofil.

e. Pemeriksaan IgE

Peningkatan imunoglobulin E dapat menyokong adanya diathetis

atopik atau riwayat atopi.

Diagnosa Banding

a. Dermatitis Kontak Alergi

Berbeda dengan DKI, pada DKA, terdapat sensitasi dari pajanan

dan iritan. Gambaran lesi secara klinis muncul pada pajanan selanjutnya

setelah interpretasi ulang dari antigen oleh sel T (memori), dan keluhan

utama pada penderita DKA ada lah gatal pada daerah yang terkena

pajanan. Pada patch tes, didapat kan hasil positif untuk alergen yang

telah diuji kan, dan sensitifitasnya berkisar antara 70-80.

32
b.Dermatitis Atopi

Merupakan keadaan radang kulit kronis dan residif, disertai dengan

gatal yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak.

Sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan

riwayat atopi pada keluarga penderita. Oleh karena itu, pemeriksaan IgE

pada penderita dengan suspek DKI dapat dilakukan untuk mengurangi

kemungkinan diagnosis dermatitis atopi.

c. Tinea Pedis

Merupakan penyakit pada jaringan yang mengandung zat tanduk,

misalnya stratum korneun pada epidermis, rambut, dan kuku yang

disebabkan oleh jamur dermatofitosis. Penderita bisa merasa gatal dan

kelainan berbatas tegas, terdiri atas macam-macam effloresensi kulit.

Bagian tepi lesi lebih aktif (lebih jelas tanda-tanda peradangan) daripada

bagian tengah. Pada tinea pedis, khususnya bentuk mocassin foot , pada

seluruh kaki terlihat kulit menebal, dan bersisik serta eritema yang ringan

terutama di tempat yang terdapat lesi.

F. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan dari dermatitis kontak iritan dapat dilakukan

dengan melakukan dengan memproteksi atau menghindakan kulit dari

bahan iritan. Selain itu, prinsip pengobatan penyakit ini adalah dengan

menghindari bahan iritan, melakukan proteksi (seperti penggunaan sarung

tangan), dan melakukan substitusi dalam hal ini, mengganti bahan-bahan

iritan dengan bahan lain.

32
Selain itu, beberapa strategi pengobatan yang dapat dilakukan pada

penderita dermatitis kontak iritan adalah sebagai berikut :

a. Kompres dingin dengan Burrow’s solution

Kompres dingin dilakukan untuk mengurangi pembentukan

vesikel dan membantu mengurangi pertumbuhan bakteri. Kompres ini

diganti setiap 2-3 jam.

b. Glukokortikoid topical

Efek topikal dari glukokortikoid pada penderita DKI akut masih

kontrofersional karena efek yang ditimbulkan, namun pada penggunaan

yang lama dari kortikosteroid dapat menimbulkankerusakan kulit pada

stratum korneum. Pada pengobatan untuk DKI akut yang berat, mungkin

dianjurkan pemberian prednison pada 2 minggu pertama, 60 mg dosis

inisial, dan di tappering 10 mg.

c. Antibiotik dan antihistamin

Ketika pertahanan kulit rusak, hal tersebut berpotensial untuk

terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri. Perubahan pH kulit dan

mekanisme antimikroba yang telah dimiliki kulit, mungkin memiliki

peranan yang penting dalam evolusi, persisten, dan resolusi dari dermatitis

akibat iritan, tapi hal ini masih dipelajari. Secara klinis, infeksi diobati

dengan menggunakan antibiotik oral untuk mencegah perkembangan

selulit dan untuk mempercepat penyembuhan' Secara bersamaan,

glukokortikoid topikal, emolien, dan antiseptik juga digunakan. Sedangkan

antihistamin mungkin dapat mengurangi pruritus yang disebabkan oleh

32
dermatitis akibat iritan. Terdapat percobaan klinis secara acak mengenai

efisiensi antihistamin untuk dermatitis kontak iritan, dan secara klinis

antihistamin biasanya diresepkan untuk mengobati beberapa gejala

simptomatis.

d. Anastesi dan Garam Srontium (Iritasi sensoris)

Lidokain, prokain, dan beberapa anastesi lokal yang lain berguna

untuk menurunkan sensasi terbakar dan rasa gatal pada kulit yang

dihubungkan dengan dermatitis iritan oleh karena penekanan nosiseptor,

dan mungkin dapat menjadi pengobatan yang potensial untuk dermatitis

kontak iritan. Garam strontium juga dilaporkan dapat menekan

depolarisasi neural pada hewan, dan setelah dilakuan studi, garam ini

berpotensi dalam mengurangi sensasi iritasi yang dihubungkan dengan

DKI.

e. Kationik Surfaktan

Sufaktan kationik benzalklonium klorida yang iritatif dapat

meringankan gejala dalam penatalaksanaan iritasi akibat anion kimia.

f. Emolien

Pelembab yang digunakan Ig-E kali sehari adalah tatalaksana yang

sangat berguna. Menggunakan emolien ketika kulit masih lembab dapat

meningkatkan efek emolien. Emolien dengan perbandingan lipofilik :

hidrofilik yang tinggi diduga paling efektif karena dapat meng hidrasi kulit

lebih baik.

32
g. Imunosupresi Oral

Pada penatalaksanaan iritasi akut yang berat, glukokortikoid kerja

singkat seperti prednisolon, dapat membantu mengurangi respon inflamasi

jika dikombinasikan dengan kortikosteroid topikal dan emolien tetapi,

tidak boleh digunakan untuk waktu yang lama karena efek sampingnya.

Oleh karena itu, pada penyakit kronik, imunosupresan yang lain mungkin

lebih berguna. Obat yang sering digunakan adalah siklosporin oral dan

azadtrioprim.

h. Fototerapi dan Radioterapi Superfisial

Fototerapi telah berhasil digunakan untuk tatalaksana dermatitis

kontak iritan, khususnya pada tangan. modalitas yang tersedia adalah

fototerapi photochemotherapy ultraviolet A (PUHA) dan ultraviolet B,

dimana penyinaran dilakukan bersamaan dengan penggunaan fotosensitzer

(soralen oral atau Topikal). Sedangkan radioterapi superfisial dengan sinar

grentz juga dapat digunakan untuk menangani dermatitis pada tangan

yang kronis. Penalataksanaan ini jarang digunakan pada praktek terbaru,

hal ini mungkin disebabkan oleh ketakutan terhadap kanker karena

radioterapi.

G. Prognosis

Prognosisnya kurang baik jika bahan iritan penyebab dermatitis tersebut

tidak dapat disingkirkan dengan sempurna. Keadaan ini sering terjadi

pada DKI kronis yang penyebabnya multifaktor, juga pada penderita atopi.

32
BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA

1.1 Cara pengambilan data

Teknik pengumpulan data dalam refarat ini adalah dilakukan dengan cara

library research (penelitian kepustakaan) yaitu pengumpulan data ,literatur,

sumber-sumber lain yang berhubungan dengan masalah, membaca dan

mempelajari buku-buku untuk memperoleh data yang berkaitan.

32
BAB IV
HASIL KEGIATAN DAN HASIL PENGUMPULAN
DATA

4.1 Gambaran singkat kalla kakao

A. Kalla Kakao

1. Visi Misi dan Gambaran Singkat

Visi

Menjadi suatu perusahaan terkemuka di Indonesia untuk

pengolahan coklat dan kakao

Misi

Adapun misi dari PT. Kalla Kakao Industri antara lain sebagai

berikut:

a. Membangun bisnis kakao dan coklat yang menguntungkan untuk

pasar domestik dan ekspor yang memenuhi permintaan konsumen

dan pasar

b. Menjadikan customer sebagai partner untuk tumbuh bersama

c. Menggandeng para petani dan supplieryang ada di Indonesia

sebagai bagian dari pembukaan lapangan kerja dan program kakao

berkelanjutan

d. Menjadi perusahaan yang dicintai oleh seluruh karyawan

32
PT. Kalla Kakao Industri (KKI) merupakan salah satu

perusahaan yang bergerak di bidang agroindustri dalam memproduksi

dan mengolah produk-produk berbahan dasar buah coklat. PT. Kalla

Kakao Industri (KKI) yang merupakan salah satu anak perusahaan

Kalla Group yang diresmikan tahun 2013 dan aktif berproduksi pada

tahun 2015. PT. Kalla Kakao Industri (KKI) berlokasi di poros

bandara Jl. Wolter Monginsidi No. 86, Desa Ranooha Kecamatan

Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.PT.

Kalla Kakao Industri (KKI) memiliki luas lahan ±5 Ha, dan luas

bangunan sepertiga dari luas lahan. PT. Kalla Kakao Industri (KKI)

merupakan cabang dari Kalla Group Perusahaan ini sudah bertahap

internasional. Adapun hasil olahan perusahaan ini biasanya juga di

ekspor di berbagai Negara. Pabrik ini mengelola biji kakao melalui

proses yang dijalankan menggunakan system full automatic dengan

mesin kualitas terbaik dan memenuhi standar internasional yang

berasal dari Jerman, Belanda dan Italia. Pabrik ini mampu mengolah

biji kakao 35 ribu ton/tahun. Bahan baku biji cokelat diperoleh dari

petani cokelat di wilayah Sulawesi dan di impor dari Ghana. Hasil

pengelolaan yang dihasilkan nantinya berupa bubuk coklat (cake dan

powder), coklat cair (liquor) dan butter. Hasil pengelolaan PT. Kalla

Kakao Industri (KKI) ini sebagian besar akan dikirim ke Brazil,

Bulgaria, Jerman, Belanda, Spanyol, Iran, Cina, Jepang dan Rusia.

32
Sudah ada pula perusahaan pengelolaan yang bekerjasama seperti

Brownies Amanda, Godiva, Nestle, Kraff dan Mars.

PT. Kalla Kakao Industri (KKI) memiliki Sumber Daya

Manusia (SDM) sebanyak 125 orang dengan kelompok usia 21-30

tahun sebanyak 54 orang, 31-40 tahun sebanyak 49 orang, 41-50 tahun

sebanyak 15 orang dan 51-60 tahun sebanyak 7 orang.

PT. Kalla Kakao Industri (KKI) menyediakan 4 lantai dengan

beberapa ruang produksi. Setiap bulannya PT. Kalla Kakao Industri

(KKI) melakukan perawatan mesin secara berkala. Bahan kimia yang

digunakan oleh PT. KKI berada di dalam mesin produksi sehingga

lingkungan tidak terkontaminasi dengan bahan kimia. Sedangkan

untuk pengolahan limbah, PT. KKI bekerjasama dengan Dinas

Kebersihan Kota Kendari.

PT. Kalla Kakao Industri (KKI) masih memiliki potensi

bahaya ditinjau dari faktor fisik, kimiawi, biologis, ergonomis,

maupun faktor psikososial.

2. Struktur organisasi

Aktifitas pengelolaan biji kakao di bawah koordinasi divisi-divisi.

Adapun unit kerja tersebut adalah:

32
a. Maintenance Manager Division

Suatu departemen yang bertugas mengawasi pelaksanaan

pekerjaan-pekerjaan pemeliharaan terhadap seluruh peralatan, proses

penggunaan alat sampai dengan utilitasnya.

b. Health, Safety, Environment (HSE) Division

Suatu departemen yang bertugas untuk Kesehatan Keselamatan

Kerja (K3) perusahaan PT. Kalla Kakao Industri (KKI). Adapun

kegiatan pokok dari departemen HSE antara lain:

1) Memfasilitasi semua karyawan PT.Kalla Kakao Industri untuk

berdiskusi masalah keadaan tempat kerja, faktor dan potensi yang

ada serta kelengkapan APD yang dibutuhkan karyawan

2) Melakukan pencegahan kecelakaan akan kondisi yang tidak aman

dan tindakan yang tidak pada setiap karyawan

3) Mengadakan inspeksi terhadap bangunan dan peralatan

keselamatan kerja mulai dari konstruksi, letak, penyusunan, dan

penyimpanan barang, alat keselamatan yamh harus tersedia serta

rambu-rambu yang harus dipasang

4) Meningkatkan SDM baik dari segi pengetahuan tentang K3 dengan

mengadakan training

5) Mengadakan kegiatan yang bias meningkatkan kesadaran tentang

K3 serta mengajak karyawan turut berperan aktif dalam

mensosialisasikan K3

32
6) Melaksanakan statistic kecelakaan kerja yaitu berupa perhitungan

tentang rata-rata frekuensi waktu kerja yang hilang

7) Melakukan kegiatan inisiatif yang dilakukan berdasarkan faktor

dan potensi bahaya yang diamati sebagai langkah preventif atas

kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (PAK)

8) Memberlakukan surat izin mengenai segala sesuatu aktivitas

berbahaya yang ada

c. Production Unit Division

1) Melaksanakan administrasi Bidang Produksi

2) Mengontrol jalannya produksi

3) Melaksanakan penyusunan program dan rencana kerja Bidang

Produksi

4) Memastikan Production Planningyang tepat dan akurat untuk

produksi cocoa liquar, cocoa powder, cocoa cake dan cocoa

butter,guna memenuhi kebutuhan marketing maupun kebutuhan

produksi yang bersifat rutin serta memastikan perhitungan Lot

Sizing material yang akurat

5) Mengawasi dan mengevaluasi kegiatan Seksi Perencanaan

Produksi (Planning and Inventory Control/PPIC)

6) Melaksanakan koordinasi dengan unit kerja lain.

d. Administrasi

Suatu departemen yang bertugas memeriksa hasil produksi

untuk dipasarkan.

32
BAB V
MASALAH KESEHATAN

5.1 Identifikasi masalah

1. Pencapaian Indikator

Analisis masalah kesehatan dermatitis kontak iritan di PT Kalla

Kakao.

Tabel 1. Hasil pengumpulan data tahun 2018

Karakteristik Jumlah Persentase (%)

Jenis Kelamin

Laki-laki 10 100%

Perempuan -

Usia

<30 Tahun 8 80%

>30 Tahun 2 20 %

5.2 Identifikasi faktor-faktor penyebab masalah dan penyebab masalah

dominan

Analisis penyebab masalah dilakukan untuk menentukan kemungkinan

penyebab masalah dimana pada Perusahaan Kalla Kakao yaitu penemuan

kasus dermatitis konntak iritan dengan metode pendekatan sistem (input,

proses, lingkungan, dan output). Pendekatan input meliputi 5M (Man, Money,

Methode, Material, Marketing)

32
Tabel 2. Analisis Kemungkinan Penyebab Masalah

Komponen Kemungkinan Penyebab Masalah

Input Man 1. Kurangnya sosialisasi tentang risiko dan

komplikasi mengenai dermatitis kontak iritan

(DKI)

2. Banyak pasien yang menderita dermatitis kontak

irita namun tidak berobat

Money Tidak ada masalah

Material Kurangnya sarana informasi bagi kariawan tentang

faktor risiko pada pasien dermatitis kontak iritan baik

berupa poster, banner dan leaflet.

Method Kurangnya penyuluhan dan sosialisasi tentang

dermatitis kontak iritan

Marketing Kurangnya media promosi kesehatan yang dapat

menarik perhatian yang beredar di kariawan

mengenai dermatitis kontak iritan

Lingkungan 1. Masih minimnya tingkat kesadaran dan

pengetahuan karyawan mengenai dermatitis kontak

iritan

32
Proses P1 Tidak ada masalah

(Perencanaan)

P2 Minimnya koordinasi dalam komunikasi, interaksi,

(Pelaksanaan) dan edukasi karyawan

P3 tidak ada masalah

(Pengawasan)

B. Prioritas penyebab Masalah

a. Kurangnya sosialisasi tentang risiko dan komplikasi mengenai

dermatitis kontak iritan

b. Banyak pasien menderita dermatitis kontak iritan namun tidak berobat

kefasilitas pelayanan kesehatan

c. Kurangnya sarana informasi bagi karyawan tentang faktor risiko pada

pasien dermatitis kontak iritan baik berupa poster, banner dan leaflet.

d. Kurangnya penyuluhan dan sosialisasi tentang dermatitis kontak iritan

e. Masih minimnya tingkat kesadaran dan pengetahuan karyawan

mengenai dermatitis kontak iritan

f. Masih banyaknya masyarakat yang lebih memilih berobat secara

herbal dibanding berobat di pusat kesehatan.

32
BAB VI
PEMECAHAN MASALAH PRIORITAS DAN USULAN KEGIATAN
UNTUK PEMECAHAN MASALAH

6.1. Alternatif-alternatif pemecahan masalah

1. A = Memberikan penyuluhan mengenai dermatitis kontak irita dan

faktor resiko dari dermatitis kontak iritan kepada masyarakat.

2. B = Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan kariawan mengenai

penyakit DKI melalui KIE (Komunikasi, Interaksi, Edukasi)

3. C = Melakukan promosi kesehatan kepada masyarakat melalui sarana

informasi yang dapat menarik perhatian seperti poster, pamflet dan baliho

4. D = Mengedukasi tentang pentingnya mengobati DKI melalui pusat

kesehatan serta menghindari penyebabnya

Setelah membuat beberapa alternatif pemecahan masalah, maka dapat

dibuat beberapa kriteria yang dapat digunakan, sebagai berikut :

Tabel 3. Kriteria Mutlak

Kegiatan Input Output Ket.

Man Money Method Marketing Management

A 1 1 1 1 1 1 Dapat

Dilakukan

B 1 1 1 1 1 1 Dapat

Dilakukan

C 1 1 1 1 1 1 Dapat

32
Dilakukan

D 1 1 1 1 1 1 Dapat

Dilakukan

D. Pengambilan Keputusan

Berdasarkan analisis prioritas penyebab masalah, maka dibawah ini

ditampilkan tabel paired comparison dan tabel kumulatif untuk

menyelesaikan suatu masalah berupapenemuan kasus dermatitis kontak iritan

Tabel 4. Analisa Prioritas Penyebab Masalah Dengan Menggunakan Tabel Paired

Comparison

A B C D E F
Total

A B C D E F 0

B B B D B 3

C C E F 1

D E F 0

E F 2

F 0

Total Vertikal 1 1 1 3 4

Total 0 3 1 0 2 0

Horizontal

Total 0 4 2 1 5 4 16

32
Analisa prioritas penyebab masalah dengan menggunakan tabel

Kumulatif penyebab masalah seperti terlihat pada tabel berikut.

Tabel 5. Prioritas Penyebab Masalah Menggunakan Tabel Kumulatif

Perhitungan Kumulatif
Jenis Masalah Jumlah Perhitungan
(%) (%)

E 5 5/16 31,25 31,25

B 4 4/16 25 56,25

F 4 4/16 25 81,25

C 2 2/16 12,7 93,75

D 1 1/16 6,25 100

A 0 0/16 0 100

Berdasarkan nilai kumulatif di atas, maka ditetapkan 2 penyebab

masalah (dengan nilai kumulatif dibawah 80%) sebagai berikut :

1. Banyak Masih minimnya tingkat kesadaran dan pengetahuan

karyawan mengenai dermatitis kontak iritan (E).

2. Banyak pasien menderita dermatitis kontak iritan namun tidak berobat

kefasilitas pelayanan kesehatan (B).

6.2 Pemecahan masalah terpilih

1. Memberikan penyuluhan mengenai dermatitis kontak iritan dan faktor

resiko dari dermatitis kontak iritan kepada karyawan.

32
2. Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan karyawan mengenai

penyakit dermatitis kontak iritan melalui KIE (Komunikasi, Interaksi,

Edukasi)

3. Melakukan promosi kesehatan kepada karyawan melalui sarana

informasi yang dapat menarik perhatian seperti poster, pamflet dan

baliho

4. Meningkatkan kesadaran karyawan terhadap pentingnya berobat

ketempat kesehatan dibandingkan berobat sendiri secara herbal.

6.3 Faktor pendukung dan faktor penghambat dalam pemecahan masalah

1. masyarakat kurang aktif untuk membaca atau memperhatikan media

infrormasi, apalagi jika poster, baliho, ataupun pamflet kurang menarik

dan kurang dapat dipahami.

2. Kurangnya SDM untuk melakukan penyuluhan mengenai dermatitis

kontak iritan

6.4 Rencana usulan kegiatan pemecahan masalah yang terpilih

Berdasarkan uraian di atas, maka yang dapat dijadikan perencanaan/

Plan of Action (PoA), yaitu memberikan informasi kepada karyawann

terkhusus yang memiliki riawayat ataupun penyakit dermatitis.

32
TABEL 6. PLAN OF ACTION (POA)

No Tujuan Kegiatan Sasaran Target Lokasi Waktu Personil Biaya

1 Melakukan Penyuluhan seluruh 100 % Executive 1 kali 1 pemateri -

penyuluhan serta dan edukasi karyawan laundry

mengedukasi

pasien tentang

dermatitis kontak

2 Memberikan Edukasi Seluruh 100 % Executive 1 kali 1 pemateri -

pengertian kayawan laundry

pentingnya

penggunaan APD

32
3 Memberikan Pembagian Seluruh 100 % Executive 1 kali 1 Petugas 2 Poster = Rp.16.000

sarana informasi Poster kayawan laundry Kesehatan

berupa poster

32
BAB VII
PENUTUP

7.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisis masalah kesehatan dermatitis kontak iritan

pada pegawai perusahaan Kalla Kakao di dapatkan berbagai Pemecahan

masalah sebagai berikut :

1. Memberikan penyuluhan mengenai dermatitis kontak iritan dan faktor

resiko dari dermatitis kontak iritan kepada karyawan.

2. Meningkatkan kesadaran dan pengetahuan karyawan mengenai

penyakit dermatitis kontak iritan melalui KIE (Komunikasi, Interaksi,

Edukasi)

3. Melakukan promosi kesehatan kepada karyawan melalui sarana

informasi yang dapat menarik perhatian seperti poster, pamflet dan

baliho

4. Meningkatkan kesadaran karyawan terhadap pentingnya berobat

ketempat kesehatan dibandingkan berobat sendiri secara herbal.

7.2 Saran

1. Pihak PT Kalla Kakao lebih memperhatikan kesehatan para pekerjanya


dengan melihat potensi bahaya kesehatan yang dapat terjadi di setiap
ruang kerja di PT Kala Kakao serta selalu mengedukasi pasien tentang
dampak bahaya kesehatan kerja.
2. Para pekerja lebih memperhatikan kesehatannya dan diharapkan agar
selalu menggunakan APD.

32
DAFTAR PUSTAKA

Indriani F. 2010. Pengaruh Riwayat Atopik Terhadap Timbulnya Dermatitis


Kontak Iritan di Perusahaan Batik Putra Laweya Surakarta. Skripsi.
Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiya Surakarta.

Sulistyaningrum SK,.dkk.2011. Dermatitis kontak Iritan dan Alergik Pada


Geriatri. Jurnal. Dermatitis Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UI.
38:1

Nuraga PS., dkk. 2008. Deramatitis Kontak Pada Pekerja Yang Terpajan Dengan
Bahan Kimia di Perisahaan Industri Otomotif Kawasan Industri Cibitung
Jawa Barat

Witasari D., Sukanto H. 2014. Dermatitis Kontak Akibat Kerja : Penelitian


Retrospektif. Jurnal.Departemen/ Staf Medik Fungsional Ilmu Kesehatan
Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga. Surabaya.

Anshar B., dkk. 2016. Hubungan Pekerja Basah Dengan Kejadian Dermatitis
Kontak Akibat Kerja Pada Petugas Kesehatan di Rumah Sakit X
Tanjung, Tabalong, Kalimantan Selatan. Jurnal. Fakultas Kedokteran
Universitas Muammadiyah Surakarta.

32