Anda di halaman 1dari 65

BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT

DAN ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS LAPORAN KASUS


FAKULTAS KEDOKTERAN NOVEMBER 2019
UNIVERSITAS HALU OLEO

PENYAKIT INFEKSI EMERGING

Oleh:
A.Rahmaan Nur, S.Ked
Ainun Mardiah Dwi Putri B, S.Ked
Eddy Rosman, S.Ked
Pricillya Carmelita, S.Ked

Pembimbing:
dr. Hj. Ika Rahma Mustika Hati, M.K.K

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN KEDOKTERAN OKUPASI


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2019
HALAMAN PENGESAHAN

Yang bertandatangan di bawah ini, menyatakan bahwa :


Nama : A.Rahmaan Nur, S.Ked (K1A112 035)
Ainun Mardiah Dwi Putri B (K1A112 111)
Eddy Rosman (K1A112 080)
Pricillya Carmelita (K1A111 083)
Judul Laporan : Penyakit Infeksi Emerging
Telah menyelesaikan tugas laporan dalam rangka kepaniteraan klinik pada
Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Komunitas( Bagian Kedokteran
Okupasi), Fakultas Kedokteran, Universitas Halu Oleo.

Kendari, November 2019

Mengetahui,
Pembimbing

dr. Hj. Ika Rahma Mustika Hati, M.K.K

1
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Ilmu kedokteran terus berkembang, salah satu perkembangan yang terjadi

adalah terbentuknya percabangan ilmu kedokteran. Jika ilmu kedokteran

sebelumnya merupakan seni menyembuhkan penyakit ( the art of healing ) yang

dilaksanakan oleh dokter yang mampu melayani pasien yang menderita berbagai

penyakit, maka kemudian sesuai dengan kebutuhan. Kesehatan mempunyai

peranan penting dalam meningkatkan derajat hidup masyarakat, maka semua

negara berupaya menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang sebaik- baiknya.

Dalam 30 tahun terakhir ini telah muncul lebih dari 30 Penyakit Infeksi

Emerging (PIE) yang disebabkan munculnya organisme baru. Riset ilmiah

terhadap 335 penyakit baru yang ditemukan antara tahun 1940 dan 2004

mengindikasikan bahwa negara-negara yang berhubungan dengan Dataran Indo-

Gangga dan DAS Mekong menjadi hotspot global kemunculan PIE. Virus Nipah,

demam berdarah Crimean-Congo, dan avian influenza A (H5N1) merupakan

contoh penyakit yang telah muncul baru-baru ini dan menyerang Kawasan Asia

Tenggara. Dampak yang ditimbulkan dari sebuah penyakit baru sulit diprediksi

namun diketahui bisa sangat bermakna, karena pada saat penyakit baru itu

2
menyerang manusia, mungkin hanya sedikit kekebalan yang dimiliki manusia

atau bahkan tidak ada sama sekali.

Kawasan Asia Tenggara menurut WHO memiliki kondisi yang

mengundang munculnya Penyakit Infeksi Emerging (PIE). Sebagai contoh,

bersirkulasinya berbagai tipe virus influenza di daerah yang memiliki peternakan

unggas besar sekaligus peternakan babi yang tidak dikelola sesuai standar

kesehatan sehingga memungkinkan terjadinya percampuran/kontaminasi produk

hewan, menjadi media (incubator) yang cocok untuk terjadinya percampuran

beberapa virus influenza dan berpotensi memunculkan strain virus baru atau

bahkan virus baru. Terdapat faktor yang mempercepat kemunculan penyakit baru,

yaitu yang memungkinkan agen infeksi berkembang menjadi bentuk ekologis

baru agar dapat menjangkau dan beradaptasi dengan inang yang baru, serta agar

dapat menyebar lebih mudah di antara inang-inang baru. Faktor-faktor itu antara

lain urbanisasi dan penghancuran habitat asli (memungkinkan manusia dan hewan

hidup lebih dekat); perubahan iklim dan ekosistem; perubahan dalam populasi

inang reservoir atau vektor serangga perantara; dan mutasi genetik mikroba.

2. Tujuan

a. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya masalah kesehatan

penyakit infeksi emerging.

b. Mendapatkan pemecahan masalah kesehatan pada kejadian penyakit infeksi

emerging.

3
3. Manfaat

Dapat menambah wawasan untuk mengenali tanda, bahaya,

penatalaksanaan serta pencegahan dari kasus penyakit infeksi emerging.

4
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi

Penyakit Infeksi Emerging adalah penyakit yang muncul dan menyerang

suatu populasi untuk pertama kalinya atau telah ada sebelumnya namun

meningkat dengan sangat cepat, baik dalam jumlah kasus baru di dalam satu

populasi, ataupun penyebarannya ke daerah geografis yang baru (re-emerging

infectious disease).Termasuk kelompok PIE adalah penyakit yang pernah terjadi

di suatu daerah di masa lalu, kemudian menurun atau telah dikendalikan, namun

kemudian dilaporkan lagi dalam jumlah yang meningkat. Bentuk lainnya lagi

adalah penyakit lama yang muncul dalam bentuk klinis yang baru, yang bisa jadi

lebih parah atau fatal.

Penyakit Infeksi Emerging mendapat perhatian khusus dan menjadi

masalah kesehatan masyarakat serius. Kekhawatiran akan PIE tidak hanya karena

dapat menimbulkan kematian, tetapi juga karena dapat membawa dampak sosial

dan ekonomi yang besar dalam era globalisasi, saat seluruh dunia saling

terhubung. Sebagai contoh, perkiraan biaya langsung yang ditimbulkan saat

SARS menjadi pandemi di Kanada dan negara-negara Asia adalah sekitar 50

miliar dolar AS. Dampak PIE semakin besar bila terjadi di negara berkembang

yang relatif memiliki sumber daya lebih terbatas dengan ketahanan sistem

5
kesehatan masyarakat yang tidak sekuat negara maju.

B. Epidemiologi

Dalam 30 tahun terakhir ini telah muncul lebih dari 30 Penyakit Infeksi

Emerging (PIE) yang disebabkan munculnya organisme baru. Riset ilmiah

terhadap 335 penyakit baru yang ditemukan antara tahun 1940 dan 2004

mengindikasikan bahwa negara-negara yang berhubungan dengan Dataran Indo-

Gangga dan DAS Mekong menjadi hotspot global kemunculan PIE. Virus Nipah,

demam berdarah Crimean-Congo, dan avian influenza A (H5N1) merupakan

contoh penyakit yang telah muncul baru-baru ini dan menyerang Kawasan Asia

Tenggara. Dampak yang ditimbulkan dari sebuah penyakit baru sulit diprediksi

namun diketahui bisa sangat bermakna, karena pada saat penyakit baru itu

menyerang manusia, mungkin hanya sedikit kekebalan yang dimiliki manusia

atau bahkan tidak ada sama sekali.

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup Penyakit Infeksi Emerging terbagi menjadi tiga yaitu

Penyakit Virus Emerging (Penyakit virus Ebola, Penyakit virus Hanta, Penyakit

kaki tangan dan mulut, Penyakit virus Nipah, Penyakit virus MERS, Demam

berdarah Crimean-Congo, Demam Rift Valley, Poliomyelitis dan Penyakit virus

baru). Penyakit Bakteri Emerging (Botulisme, Bruselosis, Listeriosis,

Melioidosis, Pes, Demam semak). Dan Penyakit Parasitik Emerging

(Toksoplasmosis, Penyakit parasit baru).

6
Penyakit Infeksi Emerging sangat tinggi berpotensi menyebar atau biasa

disebut dengan epidemi, pandemi dan bisa berstatus sebagai PHEIC/KKMMD.

Untuk lebih jelasnya kita perlu mengetaui apa yang dimaksud dengan epidemi,

pandemi dan PHEIC/KKMMD. Epidemi adalah kenaikan kejadian suatu penyakit

yang berlangsung cepat dan dalam jumlah insidens yang di perkirakan. Pandemi

adalah penyebaran luas (mendunia) penyakit baru karena agen biologis.

Sedangkan PHEIC/KKMMD merupakan kependekan dari Public Health

Emergency of International Concern (PHEIC)/Kedaruratan Kesehatan

Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKMMD), artinya masalah kesehatan

masyarakat global yang memerlukan kerjasama internasional sesuai ketetapan

dalam IHR 2005 (International Health Regulation / Peraturan Kesehatan

Internasional). PHEIC/KKMMD adalah kejadian luar biasa yang mengancam

kesehatan masyarakat negara lainnya melalui penyebaran global dan

penanggulangannya memerlukan respons internasional yang terkoordinir dimana

Negara perlu melaporkan setiap kejadian yang berpotensi menjadi PHEIC yang

ditetapkan oleh Dirjen WHO.

D. Emerging dan Re-Emerging Disease

Meskipun kemajuan luar biasa dalam penelitian medis dan perawatan

selama abad 20, penyakit menular tetap menjadi penyebab utama kematian di

seluruh dunia karena tiga alasan : (1) munculnya penyakit infeksi baru (emerging

7
disease); (2) munculnya kembali penyakit menular lama (re-emerging disease),

dan (3)intractable infectious disease.

Emerging disease adalah penyakit yang belum pernah menyerang manusia

sebelumnya, penyakit yang pernah menyerang manusia sebelumnya namun hanya

mengenai populasi kecil dan terisolasi, penyakit yang pernah menyerang manusia

sebelumnya tapi baru teridentifikasi sebagai penyakit yg disebabkan oleh suatu

agen infeksi.

Mulai dari severe acute respiratory syndrome (SARS) hingga avian

ainfluenza A (H7N9), abad keduapuluh satu telah melihat kemunculan banyak

penyakit baru, yang menarik perhatian banyak orang. Penyakit ini – disebut

emerging infectious disease (EIDs) – menjadi kekhawatiran khusus dalam

kesehatan masyarakat. Tidak hanya karena penyakit ini bisa memnyebabkan

kematian pada manusia dalam jumlah besar saat ini menyebar, tapi karena

penyakit ini juga membawa dampak sosial dan ekonomi yang besar dalam dunia

yang telah saling berhubungan saat ini. Sebagai contoh, perkiraan biaya langsung

yang ditimbulkan SARS di Kanada dan negara-negara Asia adalah sekitar 50

miliar dolar AS. Selain itu, dampak dari penyakit infeksi baru ini relatif lebih

besar di negara-negara berkembang yang memiliki sumber daya yang lebih

sedikit. Dalam 30 tahun terakhir, telah muncul lebih dari 30 EIDs. Asia,

sayangnya, seringkali menjadi episentrumnya.

EIDs adalah penyakit yang muncul dan menyerang suatu populasi untuk

pertama kalinya, atau telah ada sebelumnya namun meningkat dengan sangat

8
cepat, baik dalam hal jumlah kasus baru didalam suatu populasi, atau

penyebaranya ke daerah geografis yang baru. Yang juga dikelompokkan dalam

EIDs adalah penyakit yang pernah terjadi di suatu daerah di masa lalu, kemudian

menurun atau telah dikendalikan, namun kemudian dilaporkan lagi dalam jumlah

yang meningkat. Kadang-kadang sebuah penyakit lama muncul dalam bentuk

klinis baru, yang bisa jadi lebih parah atau fatal. Penyakit ini disebut dengan

penyakit lama (re-emerging), contoh terbaru adalah chikungunya di India.

Re-emerging disease adalah penyakit yang sebelumnya pernah menjadi

masalah kesehatan utama secara global atau di suatu negara, lalu menurun secara

dramatis, tapi kembali menjadi masalah kesehatan yang cukup signifikan pada

suatu populasi.

Kebanyakan penyakit emerging dan re-emerging asalnya adalah zoonotik,

yang artinya penyakit ini muncul dari seekor hewan dan menyeberangi hambatan

spesies dan menginfeksi manusia. Sejauh ini sekitar 60% dari penyakit infeksi

pada manusia telah dikenali, dan sekitar 75% EIDs, yang menyerang manusia

dalam tiga dekade terakhir, berasal dari hewan. Beberapa negara WHO kawasan

Asia Tenggara memiliki kondisi yang mengundang kemunculan penyakit ini,

banyak diantaranya adalah penyakit yang dapat mematikan dan menyebar dengan

cepat. Riset ilmiah terhadap 335 penyakit baru diantara tahun 1940 dan 2004

mengindikasikan bahwa besar kemungkinan beberapa daerah di dunia mengalami

kemunculan EIDs ini. Beberapa “hotspot” global untuk EIDs adalah negara-

negara yang berhubungan dengan Dataran Indo-Gangga dan DAS Mekong. Virus

9
Nipah, demam berdarah Crimean-Congo dan avian influenza (H5N1) merupakan

contoh penyakit yang telah muncul baru-baru ini dan menyerah WHO Kawasan

Asia Tenggara.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan dua permasalahan ini selalu

muncul hampir disetiap tahunnya,yaitu :

 Evolusi dari microbial agent seperti variasi genetik, rekombinasi, mutasi dan

adaptasi.

 Hubungan microbial agent dengan hewan perantara (zoonotic encounter).

 Perubahan iklim dan lingkungan.

 Perubahan prilaku manusia seperti penggunaan pestisida, penggunaan obat

antimikrobial yang bisa menyebabkan resistensi dan penurunan penggunaan

vaksin.

 Pekembangan industri dan ekonomi.

 Perpindahan secara massal yang membawa serta wabah penyakit tertentu

(travel diseases).

 Perang seperti ancaman penggunaan bioterorisme atau senjata biologis.

Sudah banyak microbial agent (virus, bakteri, jamur) yang telah terindikasi

menyebabkan wabah penyakit bagi manunsia dan juga memiliki karakteristik

untuk mengubah pola penyakit tersebut sehingga menyebabkan wabah penyakit

yang baru. Seperti yang dirilis dalam National Institute of Allergy and Infectious

Disease (NIAID) yang membagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu :

10
1. Grup I : Pathogen baru yang diakui dalam 2 dekade terakhir.

2. Grup II : Re-emerging pathogen.

3. Grup III : Pathogen yang berpontesial sebagai bioterorisme.

Peningkatan dan penguatan di bidang pemantauan kesehatan masyarakat

(public health surveillance) sangat penting dalam deteksi dini dan

penatalaksaanemerging dan re-emerging disease ini. Pemantauan secara

berkelanjutan dengan memanfaatkan fungsi laboratorium klinis dan pathologis,

pendekatan secara epidemiologi dan kesehatan masyarakat juga diperlukan dalam

deteksi cepat terhadapat emerging dan re-emerging disease.

11
BAB III

PEMBAHASAN

A. Jenis Penyakit

1) Avian Influenza in Humans (Flu Burung)

Virus influenza merupakan virus RNA yang termasuk dalam family

Orthomyxoviridae. Asam nukleat virus ini beruntai tunggal, terdiri dari 8 segmen

gen yang mengkode sekitar 11 jenis protein. Virus influenza mempunyai selubung

yang terdiri dari kompleks protein dan karbohidrat. Viru ini mempunyai spikes

(tonjolan) yang digunakan untuk menempel pada reseptor yang spesifik pada sel-

sel hospesnya pada saat menginfeksi sel. Terdapat dua jenis spikes yaitu yang

mengandung hemaglutinin dan neuraminidase yang terletak di bagian luar virion.

Virus influenza mempunyai 4 jenis antigen yang terdiri dari protein nukleokapsid,

hemaglutinin, neuraminidase, dan protein matriks.

Berdasarkan jenis antigen nukleokapsid dan matriks protein virus influenza

digolongkan menjadi virus influenza A, B dan C.

- Virus influenza A sngat penting dalam bidang kesehatan karena sangat

pathogen baik bagi manusia ataupun hewan yang menyebabkan angka

kematian dan kesakitan meningkat diseluruh dunia. Virus ini sering

menimbulkan pandemic karena mudahnya bermutasi baik berupa

12
antigenic drift ataupun antigenic shift sehingga membentuk varian

baru yang lebih pathogen.

- Virus influenza B adalah jenis virus yang hanya menyerang manusia

dan jarang sekali atau tidak menyebabkan wabah pandemic.

- Virus influenza C bisa menyebabkan infeksi pada manusia dan

binatang,dan sama jarang sekali atau tidak menyebabkan wabah

pandemic.

Penularan atau transmisi dari virus influenza secara umum dapat

terjadi melalui inhalasi, kontak langsung ataupun kontak tidak langsung.

Kekhawatiran yang muncul dikalangan ahli genetika antara virus influenza

burung dengan virus influenza manusia terjadi rekombinasi genetic, sehingga

dapat menular antara manusia. Ada dua kemungkinan yang dapat menghasilkan

subtype baru dari H5N1 yang dapat menular antara manusia ke manusia adalah :

- Virus dapat menginfeksi manusia dan mengalami mutasi sehingga virus

tersebut dapat beradaptasi untuk mengenali linkage RNA pada manusia

atau virus burung tersebut mendapatkan gen dari virus influenza manusia

sehingga dapat bereplikasi secara efektif didalam el manusia.

- Jenis virus, baik avian ataupun vrus influenza tersebut dapat secara

bersamaan menginfeksi manusia sehingga terjadi ‘mix’ atau rekombinasi

13
genetic, sehingga menghasilkan strain virus baru yang sangat virulen bagi

manusia.

Patogenesis melalui mutasi genetik virus Avian influenza sering kali

terjadi sesuai dengan kondisi dan lingkungan replikasinya. Mutasi gen ini tidak

saja untuk mempertahankan diri tetapi juga dapat meningkatkan sifat

patogenisitasnya. Penelitian terhadap virus H5N1 yang diisolasi dari pasien yang

terinfeksi, menunjukan bahwa mutasi genetic pada posisi 627 dari gen PB2 yang

mengkod ekspresi polymerase basic protein telah menghasilkan highly cleavable

hemaglutinin glycoprotein yang merupakan factor virulensi yang dapat

meningkatkan aktivitas replikasi virus H5N1 dalam sel hospesnya. Infeksi viru

H5N1 dimulai ketika virus memasuki sel hospes setelah terjadi penempelan

spikes virion dengan reseptor spesifik yang ada di permukaan sel hospesnya.

Virion akan menyusup ke sitoplasma sel dan akan mengintegrasikan materi

genetiknya didalam inti sel hospesnya, dan dengan menggunakan mesin genetic

dari sel hospesnya, virus dapat bereplikasi membentuk virion-virion baru, dan

virion ini dapat menginfeksi kembali sel-sel di sekitarnya. Dari beberapa hasil

pemeriksaan terhadap specimen klinik yang diambil dari penderita ternyata avian

influenza H5N1 dapat bereplikasi di dalam sel nasofaring dan didalam sel

gastrointestinal. Virus H5N1 ini juga dapat ditemukan di dalam darah, cairan

cerebrospinal dan tinja pasien (WHO, 2005). Fase penempelan (attachment)

adalah fase yang paling menentukan apakah virus bisa masuk atau tidak kedalam

14
sel hospesnya untuk melanjutkan replikasinya.

Gejala Klinik. Masa inkubasi virus H5N1 yaitu sekitar 2-4 hari

setelah terinfeksi, namun berdasarkan hasil laporan belakangan ini masa

inkubasinya bsa mencapai antara 4-8 hari. Sebagian pasien memperlihatkan gejala

awal berupa demam tinggi (>380 C) dan gejala flu serta kelainan saluran nafas.

Gejala lain yang dapat timbul adalah diare, muntah, sakit perut, sakit pada dada,

hipotensi, dan juga dapat terjadi perdarahan dari hidung dan gusi. Gejala sesak

nafas mulai muncul setelah 1minggu berikutnya. Gejala klinik dapat memburuk

dengan cepat yang biasanya ditandai denganpneumonia berat, dyspnea,

tachypnea, gambaran radiograpgy yang abnormal seperti diffuse, multifocal,

patchy infiltrate, interstisial infiltrate, dan kelainan segmental atau lobular.

Gambaran lain yang juga sering dijumpai berdasarkan hasil laboratorium adalah

leucopenia,, lymphopenia, trombositopenia, peningkatan aminotransferase,

hyperglycemia, dan peningkatan kreatinin.

Diagnosis Laboratorium. Penderita yang terinfeksi H5N1 pada

umumnya dilakukan pemeriksaan specimen klinik berupa swab tenggorokan dan

cairan nasal. Untuk uji konfirmasi terhadap virus H5N1 harus dilakukan

pemeriksaan dengan cara :

a. Mengisolasi virus.

b. Deteksi genom H5N1 dengan metode polymerase Chain Reaction

menggunakan sepasang primer spesifik.

15
c. Tes imunofluoresensi terhadap antigen menggunakan monoclonal

menggunakan antibody terhadap H5N1.

d. Pemeriksaan adanya peningkatan titer antibody terhadap H5N1.

e. Pemeriksaan dengan metode western blotting terhadap H5 spesifik. Untuk

diagnosis pasti, salah satu atau beberapa dari uji konfirmasi tersebut

diatas harus dinyatakan positif.

Terapi dan Manajemen. Terdapat 4 jenis obat antiviral untuk

pengobatan ataupun pencegahan terhadap influenza, yaitu amantadine,

rimantadine, zanamivir, dan oseltamivir (tamiflu). Mekanisme kerja amantadine

dan rimantadine adalah menghambat replikasi virus. Namun demikian obat ini

sudah tidak mempan lagi untuk membunuh virus H5N1 yang saat ini beredar luas.

Kedua obat ini hanya efektif untuk influenza tipe A. Sedangkan zanamivir dan

oseltamivir merupakan inhibitor neuraminidase. Diketahui bahwa neuraminidase

ini diperlukan oleh virus H5N1 untuk lepas dari sel hospes pada fase budding

sehingga membentuk virion yang infektif. Bila neuraminidase ini dihambat oleh

oseltamifir atau zanamivir, maka replikasi virus tersebut dapat dihentikan.

Zanamivir dan oseltamivir ini efektif untuk influenza tipe A dan B, dan kedua

obat ini sedikit menimbulkan toksisitas.

16
2) Swine Influenza (Flu Babi)

- Penyakit pernafasan akut yang sangat menular diantara babi.

- Disebabkan oleh satu dari beberapa virus swine influenza A : H1N1,

H1N2, H3N1, H3N2.

- Morbiditas cukup tinggi.

- Mortalitas rendah(1-4%).

- Virus menyebar diantara babi dengan cara aerosols, Kontak langsung

dan tidak langsung, dan oleh asymptomatic carrier pigs.

Genus dari virus ini adalah influenza virus type A, dimana virus

influenza tipe A ini mampu menjangkiti manusia, babi, musang, dan unggas.

Penamaan virus influenza didasarkan pada struktur permukaan dari virus tersebut.

H, dimaksudkan untuk menunjukan protein Hemaglutinasi dan N menunjukan

protein Neurominidase. Selama ini, telah ditemukan 16 subtype H dan 9 subtype

N. kombinasi antara keduanya akan menghasilkan 144 jenis subtype virus

influenza, seperti H1N1, H1N2, H1N3,…sampai dengan H16N9. Menurut hasil

penelitian para ahli, virus yang paling berbahaya adalah H1N1, H2N3, H5N1, dan

H7N1. Berdasarkan WHO update (30 April 2009), sebenarnya pandemi ini sudah

17
pernah terjadi pada saat perang dunia I. Dimana pada saat itu para tentara Spanyol

yang menjajah Mexico adalah pembawa virus ini pertama kali. Pada saat itu

wabah tersebut dinamakan Spanish Influenza, kejadian-kejadian serupa juga

terjadi di tahun-tahun berikutnya di berbagai Negara seperti Hongkong dan

Jepang (1970), Thailand (1983), Amerika (1998), dan Mexico (2009). Kejadian-

kejadian wabah influenza lebih sering disebabkan oleh hewan, baik hewan ternak

(babi dan unggas) ataupun hewan liar (musang dan unggas liar). Kejadian yang

sekarang ini disebabkan oleh babi, pada babi virus ini akan bermutasi dan menata

diri yang kemudian dapat menjangkiti manusia. Jumlah kasus yang terjadi di

Indonesia menurut data terakhir mencapai 420 kasus. Untuk kasus yang terjadi di

Indonesia memang tidak terbukti bahwa babi sebagai penyebab utama. Diduga

penularan melalui antar manusia, walaupun hal ini kerap dibantah oleh Dinas

Kesehatan. Pembawa virus ini juga diduga berasal dari mobilitas orang-orang

yang masuk ke Indonesia dari Negara yang terkena wabah seperti Mexico. Masa

inkubasi virus ini adalah sekitar 1-7 hari, masa penularan satu hari sebelum sakit,

dan 7 hari sesudah sakit (onset ).

Cara penularan. Adalah dengan cara kontak langsung dengan

penderita karena berbicara ataupun percikan batuk atu bersin, dan atau kontak

dengan benda yang terkontaminasi dengan virus H1N1. Secara operasional

Definisi kasus ‘swine influenza’ dibagi menjadi 3, yaitu :

1. Suspek

Seseorang dengan gejala infeksi pernapasan akut (demam ≥ 38oC) mulai

18
dari yang ringan (Influenza like Illnes) sampai dengan Pneumonia,

ditambah salah satu keadaan di bawah ini :

o Dalam 7 hari sebelum sakit, pernah kontak dengan kasus

konfirmasi swine influenza (H1N1)

o Dalam 7 hari sebelum sakit pernah berkunjung ke area yang

terdapat satu atau lebih kasus konfirmasi Swine influenza (H1N1)/

Flu Meksiko.

2. Probabel

Seseorang dengan gejala di atas disertai dengan hasil pemeriksaan

laboratorium positif terhadap Influenza A tetapi tidak dapat diketahui

subtypenya dengan menggunakan reagen influenza musiman. Atau

Seseorang yang meninggal karena penyakit infeksi saluran pernapasan

akut yang tidak diketahui penyebabnya dan berhubungaan secara

epidemiologi (kontak dalam 7 hari sebelum onset) dengan kasus probable

atau konfirmasi.

3. Konfirmasi

Seseorang dengan gejala di atas sudah dikonfirmasi laboratorium swine

influenza (H1N1)/ Flu Meksiko dengan pemeriksaan satu atau lebih test

di bawah ini :

19
- Real time RT PCR

- Kultur virus

- Peningkatan 4 kali antibody spesifik swine influenza (H1N1) / Flu

Meksiko dengan netralisasi tes.

- Sampai saat ini antivirus yang masih sensitif adalah Oseltamivir

dan Zanamivir, sedangkan Amantadine dan Rimantadine sudah

resisten.

Penderita yang terjangkit virus flu babi mempunya ciri-ciri (WHO) :

- Panas demam yang tinggi diatas 39 derajat C

- Nyeri di persendian

- Hidung berair yang tak seperti biasanya karena paru-paru berair.

Vaccine untuk Swine Influenza:

- Saat ini tidak tersedia.

- Vaccine untuk influenza (Seasonal flu) tidak diketahui

efektivitasnya untuk mencegah swine flu.

20
- Virus Influenza A sangat cepat bermutasi.

Pencegahan.

- Hindari babi yang sedang sakit dan orang yang sedang menderita

demam dan gejala influenza lainnya.

- Hygiene yang baik: Cuci tangan dengan sabun sesering mungkin.

- Virus swine influenza mati dengan memanaskan pada suhu 70°C.

- Lakukan kebiasaan hidup sehat: cukup istirahat, makanan

berimbang, lakukan aktivitas fisik cukup.

Diagnosis (Pada anak dan dewasa). Diagnosis influenza A baru H1N1

ditegakkan berdasarkan kriteria klinis berupa gejala Influenza Like Ilness (ILI)

yaitu demam dengan suhu > 380C, batuk, pilek, nyeri otot dan nyeri tenggorok.

Gejala lain yang mungkin menyertai adalah sakit kepala, sesak napas, nyeri

sendi, mual, muntah dan diare. Pada anak gejala klinis dapat terjadi fatique.

Diagnosis influenza A baru H1N1 dengan RT-PCR dilakukan hanya untuk

pasien yang dirawat, kluster dan kasus-kasus influenza yang tidak lazim

(unusual). Pemeriksaan penunjang yang diperlukan pada pasien yang dirawat

(criteria sedang dan berat).

21
- Laboratorium : darah perifer lengkap, tes fungsi hati, tes fungsi ginjal,

gula darah sewaktu.

- Radiologi: foto toraks.

- Pemeriksaan lainnya tergantung indikasi.

- Pada darah perifer lengkap bila ditemukan leukopenia dan

trombositopenia dapat memperkuat diagnosis namun bila tidak

ditemukan leukopenia dan trombositopenia tidak menyingkirkan

diagnosis.

- Diagnosis influenza A baru H1N1 secara klinis dibagi atas kriteria

ringan, sedang dan berat.

- Kriteria ringan yaitu gejala ILI, tanpa sesak napas, tidak disertai

pneumonia dan tidak ada faktor risiko.

- Kriteria sedang gejala ILI dengan salah satu dari kriteria: faktor risiko,

penumonia ringan (bila terdapat fasilitas foto rontgen toraks) atau

disertai keluhan gastrointestinal yang mengganggu seperti mual,

muntah, diare atau berdasarkan penilaian klinis dokter yang merawat.

22
- Kriteria berat bila dijumpai kriteria yaitu pneumonia luas (bilateral,

multilobar), gagal napas, sepsis, syok, kesadaran menurun, sindrom

sesak napas akut (ARDS) atau gagal multi organ.

- Kelompok risiko tinggi pada dewasa adalah faktor yang dapat

memperberat keadaan yaitu penyakit paru kronik (asma, penyakit paru

obstruksi kronis (PPOK)), kehamilan, obesitas, penyakit kronik lainnya

(penyakit jantung, diabetes mellitus, gangguan metabolik, penyakit

ginjal, hemoglobinopati, penyakit immunosupresi, gangguan neurologi),

malnutrisi dan usia > 65 tahun.

- Kelompok risiko tinggi pada anak adalah :

Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan Influenza A Baru H1N1 :

- Anak berusia kurang dari 5 tahun.

- Anak atau remaja (usia 6 bulan – 18 tahun) yang mendapat terapi

aspirin jangka panjang dan berisiko mengalami sindrom Reye setelah

mendapat infeksi virus influenza.

- Anak dengan penyakit paru kronik (asma, bronkiektasis, dysplasia

bronkopulmonal), penyakit jantung, ginjal dan hati, penyakit

23
neuromuskular kronik (sindrom down, CP spastic, delayed

development, miastenia gravis).

- Anak dalam keadaan imunokompromais (keganasan, anemia

aplastik,dalam terapi imunosupresi atau HIV), diabetes mellitus,

hipertensi, obesitas dan tinggal di rumah perawatan dan fasilitas

perawatan kesehatan lainnya.

- Kriteria pneumonia berat pada dewasa yaitu bila dijumpai salah satu

atau lebih kriteria minor atau mayor.

- Kriteria minor yaitu Frekuensi napas > 30 /menit, foto toraks paru

menunjukkan kelainan bilateral atau melibatkan 2 lobus, tekanan

sistolik < 90 mmHg, tekanan diastolik 4 jam (septik syok), kreatinin

serum >2 mg/dl atau peningkatan >2 mg/dl, pada penderita penyakit

ginjal atau gagal ginjal yang membutuhkan dialisis, PaO2/FiO2 kurang

dari 300

mmHg.

- Kriteria pneumonia pada anak yaitu gejala ILI dan frekuensi napas yang

cepat (frekuensi napas sesuai usia) dan/atau terdapat kesukaran bernapas

yang ditandai dengan retraksi sela iga, retraksi epigastrium, retraksi

24
suprasternal, retraksi subkostal (chest indrawing) atau napas cuping

hidung.

3) SARS – Severe Acute Respiratory Syndrome

Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) atau Sindroma

Pernapasan sangat akut adalah penyakit infeksi pada jaringan paru manusia

yang sampai saat ini belum diketahui pasti penyebabnya. Penyakit ini

dicurigai pertaman kali timbul di provinsi Guangdong, RRC. Diketahui

penyakit SARS ini mempunyai tingkat penularan yang tinggi terutama

diantara petugas kesehatan yang selanjutnya menyebar ke anggota keluarga

dan pasien – pasien Rumah Sakit. Angka kematian diantara penderita (CFR)

diketahui sekitar 4%. Dan hingga saat ini SARS dilaporkan telah menyebar di

berbagai negara ditandai dengan ditemukannya penderita yang dicurigai

SARS. Dengan kenyataan diatas maka pada tanggal 15 Maret 2003, WHO

menetapkan SARS merupakan ancaman kesehatan global (Global Threat)

yang harus mendapat perhatian dari semua negara di dunia. Indonesia

merupakan negara kepulauan dengan wilayah yang luas dan berbatasan

dengan negara – negara terjangkit dan negara tempat ditemukannya penderita

SARS. Keadaan ini menjadi ancaman terhadap masuknya penyakit ini ke

wilayah Indonesia dan didukung oleh banyaknya jalur transportasi langsung

dengan daerah – daerah di Indonesia.

25
Agar ancaman masuknya penyakit SARS dapat dicegah dan atau

diminimalisir serta penyebaran lebih lanjut di masyarakat tidak terjadi bila

masuk ke Indonesia maka perlu ada pedoman penanggulangan terhadap

penyakit SARS. Karena merupakan penyakit yang baru, dimana belum ada

pedoman penanggulangannya maka dipandang perlu segera dibuat pedoman

penanggulangan yang dapat digunakan sebagai acuan oleh setiap petugas

kesehatan dalam bertindak.

Epidemiologi. Pertama kali ditemukan di Asia pada pertengahan

Februari, SARS telah menyerang lebih dari 450 orang di 3 benua dan

menyebabkan pnemonia berat pada sebagian besar pengidap. Data terakhir

yang dikumpulkan oleh WHO menunjukkan kecenderungan penyakit tersebut

telah meluas di seluruh dunia.

Etiologi. Etiologi SARS saat ini masih menjadi bahan penelitian para

ahli. Penelitian saat ini mengarah kepada Coronavirus, walaupun tipe lain

yaitu Paramyxovirus juga dipikirkan menjadi penyebab SARS. Para ahli juga

memikirkan kemungkinan SARS disebabkan oleh infeksi ganda oleh 2 virus

baru yang bekerja secara simbiosis sehingga menyebabkan klinis yang berat

pada manusia.

26
Coronavirus. Coronavirus memiliki bentuk bundar, ukuran 100-150

nm terdiri dari RNA rantai tunggal. Dua bentuk tipe coronavirus manusia

yang telah diidentifikasi adalah strain 229E yang telah diisolasi dari kultur sel

seperti fibroals sel paru-paru embrional, dan strain OC43 yang diisolasi dari

kultur organ. Studi pada pasien dewasa, coronavirus dijumpai pada 4 – 15 %

penyakit respirasi akut dengan puncak hingga 35%. Pada anak-anak dijumpai

pada 8 % dengan puncak hingga 20%. Masa inkubasi berkisar 2 – 4 hari, lebih

lama daripada rhinovirus. Untuk diagnosis serologis dengan spesimen serum,

tes fiksasi komplemen dan ELISA dapat mendeteksi baik strain 229E maupun

OC43. Pemeriksaan hemagglutination-inhibition dapat juga digunakan untuk

diagnosis serologis untuk grup OC43.

Parainfluenzavirus. Parainfluenza virus adalah penyebab penting

penyakit infeksi saluran nafas bawah pada anak, yang merupakan penyebab

utama croup (laringotrakeobronkitis akut) dan penyebab kedua terbanyak

penyakit saluran nafas bawah akut pada bayi-bayi yang dirawat setelah RSV.

Parainfluenza virus merupakan genus Paramyxovirus, berbentuk pleomorfik,

berukuran 150 – 200 nm, mengandung genom RNA rantai tunggal. Pada

manusia virus ini diidentifikasi menjadi 4 tipe. Parainfluenza virus tersebar di

seluruh dunia dan hampir semua orang dewasa pernah terkena selama masa

anak-anak. Virus ini menyebar dari orang ke orang melalui sekret yang

terinfeksi.

27
Diagnosis serologis dapat dilakukan dengan cara tes fiksasi

komplemen, ELISA, netralisasi dan hemagglutin-inhibisi. Masa inkubasi

SARS adalah 2 – 7 hari, beberapa mengatakan sampai 10 hari. Terdapat 2

definisi kasus klinis SARS menurut WHO yaitu :

1. Suspected case :

 Temperatur tubuh > 38 ° C DAN

 Satu atau lebih gejala gangguan saluran pernafasan ( batuk,

nafas pendek, sulit nafas, hipoksia, atau gambaran radiologis

berupa pnemonia atau sindrom distress pernafasan akut ) DAN

 Bepergian dalam 10 hari saat onset gejala ke daerah yang

tercatat atau diduga terdapat transmisi SARS ATAU kontak

erat dalam 10 hari dengan penderita yang mengalami gangguan

pernafasan yang bepergian ke daerah SARS atau orang yang

diketahui merupakan suspect case.

 Kontak erat didefinisikan sebagai : orang yang merawat,

tinggal serumah, atau kontak langsung dengan cairan saluran

nafas dan/atau cairan tubuh dari penderita SARS.

28
2. Probable case :

 Suspect case dengan disertai dengan gambaran foto rontgen

dada sesuai pneumoni atau respiratory distress syndrome

(RDS) ATAU

 Suspect case yang meninggal dengan penyebab penyakit

respiratorik yang tidak dapat diterangkan penyebabnya, pada

pemeriksaan autopsi didapatkan hasil pemeriksaan patologi

sesuai dengan RDS yang tidak dapat diidentifikasi

penyebabnya.

Gejala tambahan. Selain demam dan gejala respiratorik,

SARS dapat disertai dengan gejala lain seperti kaku otot, nafsu makan

menurun, lesu, bingung (confusion), ruam kulit dan diare. Banyak kasus

pada awalnya mengeluh nyeri kepala hebat, dizzines, dan demam tinggi

selama perjalanan penyakit. Pada kasus tertentu terjadi perubahan keadaan

umum memburuk secara cepat sejalan dengan penurunan saturasi oksigen

dan gejala acute respiratory distress, sehingga membutuhkan bantuan

ventilator. Sepuluh persen di antaranya memerlukan perawatan di Unit

Perawatan Intensif.

29
Pemeriksaan Penunjang. (1) Foto rontgen dada. Terdapat gambaran foto

yang khas, dimulai dengan gambaran unilateral , patchy shadowing, apabila

keadaan pasien memburuk dalam waktu 1-2 hari, terjadi infiltrat

interstitial/confluent bilateral dan menyeluruh. Namun kadang-kadang pada

beberapa kasusu gambaran patchy pada goto toraks tidak tidak tampak.

Pada akhir perjalanan penyakit beberapa pasien mengalami Adult

Respiratory Distress Syndrome (ADRS); (2) Laboratorium : pada awalnya

gambaran darah tepi normal, tetapi pada hari ke 3-4 sakit, umumnya

dijummpai limfoni (>50% kasus) dan Trombositopenia; Enzim hati

meningkat, dan nilai PT dan PTT abnormal; Peningkatan kadar kreatinin

fosfokinase dan CRP terjadi pada beberapa kasus

Terapi. Regimen terapi meliputi beberapa antibiotik untuk mengobati

bakteri yang telah diketahui pada pnemonia atipik. Di beberapa lokasi,

terapi juga meliputi antivirus seperti oseltamivir atau ribavirin. Steroid

diketahui juga diberikan secara oral atau intravena pada pasien bersama

dengan ribavirin dan antimikroba lainnya. Sampai saat ini terapi yang

paling efektif belum diketahui.

30
4. Demam Kuning

Definisi

Demam kuning adalah penyakit demam berdarah (hemoragik) virus

akut yang ditularkan oleh nyamuk yang terinfeksi virus penyebab demam

kuning. Penyebab penyakit demam kuning adalah virus yang tergolong dalam

genus Flavivirus, kelompok besar virus RNA.

Di kawasan hutan, secara alamiah virus demam kuning hidup dan

memperbanyak diri pada tubuh primata selain manusia, biasanya monyet dan

simpanse. Virus ini dapat ditularkan ke manusia melalui perantara (vektor)

nyamuk. Nyamuk perantara (vektor) penyakit demam kuning di kawasan

hutan Afrika adalah Aedes africanus (terutama) dan spesies Aedes lainnya. Di

Amerika Selatan, vektor utamanya adalah spesies Haemagogus dan Sabethes.

Di daerah perkotaan dari Afrika dan Amerika Selatan, vektornya adalah Aedes

aegypti.

Ini merupakan salah satu penyakit menular yang berbahaya. Tingkat

kematian penyakit ini berkisar 20-50%, namun pada kasus berat dapat

melebihi 50%. Belum ditemukan pengobatan spesifik untuk penyakit ini.

Kasus Suspek :

Setiap orang yang memiliki gejala awal demam akut diikuti dengan

ikterus/ jaundice dalam waktu 2 minggu dari timbulnya gejala demam disertai

31
dengan salah satu atau lebih dari tanda perdarahan berikut ini: perdarahan dari

hidung, gusi, kulit, atau saluran pencernaan.

ATAU

Kematian dalam waktu 3 minggu dari mulai ditemukannya gejala awal

penyakit demam kuning.

DAN

Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di daerah terjangkit dalam 6

hari terakhir sebelum timbul gejala.

Gejala, Tanda dan Masa Inkubasi :

Setelah kontak dengan nyamuk yang terinfeksi, virus akan mengalami

masa inkubasi di dalam tubuh selama 3 sampai 6 hari diikuti oleh infeksi yang

dapat terjadi selama satu atau dua tahap.

Fase pertama adalah fase akut. Fase ini biasanya menyebabkan

demam, nyeri otot terutama pada bagian punggung, sakit kepala, menggigil,

kehilangan nafsu makan, dan mual muntah. Sebagian besar pasien akan pulih

setelah 3 sampai 4 hari.

Namun, 15% dari pasien akan memasuki fase kedua (beracun) dalam

waktu 24 jam, ditandai dengan kerusakan hati dengan jaundis/ikterik atau

kulit menjadi berwarna kuning, gagal ginjal, meningitis dan akhirnya dapat

32
mengakibatkan kematian. Akan terjadi demam tinggi dengan beberapa sistem

tubuh yang terpengaruh. Setengah dari pasien yang masuk pada fase beracun

dalam waktu 10 sampai 14 hari, sisanya sembuh tanpa kerusakan organ yang

signifikan.

Deteksi

Demam kuning dikonfirmasi jika hasil laboratorium menunjukkan

hasil isolasi positif virus demam kuning atau adanya IgM spesifik demam

kuning atau kenaikan empat kali pada titer IgG dalam serum antara sampel

akut dan konvalesen dan/atau positif histopatologi pada jaringan liver yang

diambil setelah kematian atau terdeteksinya antigen demam kuning di jaringan

dengan teknik imunohistokimia, atau ditemukan susunan genom RNA virus

demam kuning dalam darah atau jaringan.

Konfirmasi laboratorium ini harus dilakukan oleh laboratorium yang

memiliki kapasitas untuk pemeriksaan demam kuning.

Untuk saat ini pemeriksaan kasus suspek demam kuning menggunakan

spesimen serum melalui metode PCR.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam konfirmasi laboratorium

yaitu pengambilan, pengepakan, pengiriman dan pemeriksaan spesimen lihat

disini.

33
Pengobatan dan Tatalaksana

Tidak ada pengobatan yang spesifik pada yellow fever, sebagian besar

pasien yang mengalami gejala yellow fever yang ringan akan hilang dengan

sendirinya dalam waktu tiga sampai empat hari.

Terapi suportif ditujukan langsung untuk memperbaiki kehilangan

cairan dan mempertahankan stabilitas hemodinamik, misalnya dengan

pemberian oksigen, pemberian cairan intravena untuk dehidrasi dan intubasi

endotrakeal (penempatan tabung pernapasan) dan ventilasi mekanik dalam

kasus gangguan pernapasan.

Pemberian vitamin K dan Fresh Frozen Plasma (FFP) disarankan

untuk menangani gangguan koagulasi. Bila terjadi gagal ginjal akut maka

dialisis dapat dilakukan.

Pada pengobatan hindari pemakaian obat-obatan tertentu, seperti

aspirin atau obat anti-inflamasi lainnya (misalnya ibuprofen, naproxen), yang

dapat meningkatkan risiko perdarahan.

34
Pencegahan

1. Pengendalian Vektor

 Pemberantasan Sarang Nyamuk dengan Menguras, Menutup, dan

Memafaatkan/Mendaur ulang, ditambah dengan upaya mekanik lain yang

terbukti bermanfaat (PSN 3M Plus).

 Pengendalian secara biologi dengan menggunakan agent biologi

 Pengendalian secara kimiawi menggunakan insektisida kimia.

 Pengendalian vektor secara terpadu

2. Pemberian Kekebalan melalui Vaksinasi

 Vaksinasi demam kuning harus dilakukan oleh pelaku perjalanan yang akan

bepergian atau tinggal di negara/wilayah negara endemis dan/atau terjangkit

kejadian luar biasa demam kuning

 Vaksinasi ini dilakukan selambat-lambatnya 10 hari sebelum berangkat

 Vaksinasi demam kuning dapat dilakukan di Kantor Kesehatan Pelabuhan

terdekat

5. Demam Lassa

Definisi

Demam Lassa merupakan penyakit zoonosis, yang berarti bahwa

manusia terinfeksi dari kontak dengan hewan yang terinfeksi. Host atau

reservoir dari virus Lassa adalah hewan dari genus Mastomys, spesies

35
Mastomys natalensis umumnya dikenal sebagai tikus multimammate. Tikus

Mastomys yang terinfeksi dengan virus Lassa tidak menjadi sakit, tetapi

mereka dapat menularkan virus dalam urin dan tinja mereka.

Virus penyebab penyakit demam berdarah lassa adalah Lassa Virus

(LASV)/ Virus Lassa yang merupakan golongan arbovirus dengan genus

arenavirus dan family arenaviridae. Virus ini merupakan jenis virus demam

berdarah (Viral Hemorrhagic Fever/VHF) pada primata. Virus lassa

merupakan virus RNA yang berantai tunggal dan ditemukan sekitar 30 tahun

lalu.

Sekitar 80% dari orang yang terinfeksi virus Lassa tidak menimbulkan

gejala. 20% kasus atau satu dari lima orang yang terinfeksi menyebabkan

penyakit yang parah, di mana virus mempengaruhi beberapa organ tubuh

seperti hati, limpa dan ginjal. Virus lassa dapat menginfeksi hampir setiap

jaringan dalam tubuh manusia, dimulai dari mukosa, usus, paru-paru dan

sistem urin kemudian berkembang ke sistem vaskular.

Tingkat fatalitas kasus keseluruhan adalah 1%. CFR diamati antara

pasien dirawat di rumah sakit dengan kasus yang parah Demam Lassa adalah

15%. Pada kasus yang fatal, kematian biasanya terjadi dalam waktu 14 hari

sejak timbulnya penyakit .

36
Massa Inkubasi, Tanda dan Gejala

Masa inkubasi Demam Lassa berkisar 6-21 hari. Timbulnya penyakit

tersebut, biasanya gejalanya bertahap, dimulai dengan demam, kelemahan

umum, dan malaise. Setelah beberapa hari, timbul sakit kepala, sakit

tenggorokan, nyeri otot, nyeri dada, mual, muntah, diare, batuk, dan juga bisa

disertai sakit perut. Dalam kasus yang parah dapat terjadi pembengkakan

wajah, terdapat cairan dalam rongga paru-paru, pendarahan dari mulut,

hidung, saluran vagina atau pencernaan dan tekanan darah rendah. Pada tahap

selanjutnya terdapat adanya protein urin, shock, kejang, tremor, disorientasi,

dan koma. Ketulian terjadi pada 25% pasien yang bertahan hidup. Dari

sebagian kasus-kasus ini, pendengaran kembali normal setelah 1-3 bulan,

rambut rontok sementara dan gangguan cara berjalan mungkin terjadi selama

pemulihan.

Kematian biasanya terjadi dalam waktu 14 hari dari onset dalam

kasus-kasus yang fatal. Penyakit ini sangat parah di akhir kehamilan, dengan

kematian ibu dan/atau kematian janin terjadi lebih dari 80% kasus selama

trimester ketiga.

Cara Penularan

Manusia biasanya terinfeksi virus Lassa dari paparan air seni atau

kotoran yang terinfeksi tikus Mastomys. Virus Lassa juga dapat menular antar

manusia melalui kontak langsung dengan darah, urine, feses, atau sekresi

tubuh lainnya dari orang yang terinfeksi Demam Lassa. Tidak ada bukti

37
secara epidemiologi yang mendukung penyebaran virus Lassa melalui udara

antar manusia. Penularan dari orang ke orang terjadi pada pasien yang sedang

dalam perawatan kesehatan, di mana virus dapat menyebar melalui peralatan

medis yang terkontaminasi, seperti jarum suntik yang digunakan kembali.

Penularan virus Lassa telah dilaporkan terjadi pada semua kelompok

umur dan jenis kelamin. Orang yang paling berisiko adalah mereka yang

tinggal di daerah pedesaan di mana Mastomys biasanya ditemukan, khususnya

pada masyarakat dengan sanitasi yang buruk atau kondisi pemukiman yang

padat. Petugas kesehatan berisiko jika merawat pasien Demam Lassa tanpa

menggunakan alat pelindung diri.

Kriteria Kasus dan Cara Diagnosa

Gejala klinik Demam Lassa sangat bervariasi dan tidak spesifik,

sehingga sulit untuk didiagnosis, terutama di awal perjalanan penyakit.

Demam Lassa sulit dibedakan dari demam virus lainnya seperti penyakit virus

Ebola serta penyakit lain yang menyebabkan demam, termasuk malaria,

shigellosis, demam tifoid dan demam kuning.

Diagnosis demam Lassa harus dipertimbangkan pada pasien yang

kembali dari Afrika Barat, terutama jika mereka memiliki eksposur di daerah

pedesaan atau rumah sakit di negara-negara di mana Demam Lassa diketahui

endemik.

Diagnosis pasti membutuhkan pengujian yang hanya tersedia di

laboratorium rujukan. Spesimen laboratorium mungkin berbahaya dan harus

38
ditangani dengan sangat hati-hati. Infeksi virus Lassa hanya dapat didiagnosis

secara definitif di laboratorium menggunakan tes berikut:

1. Reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR) assay

2. Antibodi enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)

3. Tes deteksi antigen

4. isolasi virus dengan kultur sel.

Penatalaksanaan :

Obat antivirus ribavirin tampaknya menjadi pengobatan yang efektif

untuk Demam Lassa jika diberikan pada awal perjalanan penyakit klinis.

Tidak ada bukti untuk mendukung peran ribavirin sebagai pasca-paparan

pengobatan profilaksis untuk Demam Lassa. Saat ini belum ada vaksin yang

dapat mencegah penularan Demam Lassa.

Pencegahan

Pencegahan Demam Lassa bergantung pada upaya promosi kebersihan

kepada masyarakat, tentang bagaiman cara mencegah tikus masuk rumah.

Langkah-langkah efektif untuk mencegah gangguan tikus yaitu menyimpan

biji-bijian dan bahan makanan lainnya dalam wadah yang kuat dan tahan

terhadap gigitan tikus, membuang sampah jauh dari rumah, menjaga rumah

tangga bersih dan memelihara kucing.

39
Di daerah endemis, Mastomys begitu melimpah sehingga tidak

mungkin menghilangkan mereka dari lingkungan. Anggota keluarga harus

selalu berhati-hati ketika merawat orang sakit guna menghindari kontak

dengan darah dan cairan tubuh.

6. MERS – COV

Definisi

Middle East Respiratory Syndrome (MERS) adalah suatu subtipe baru

dari virus corona yang belum pernah ditemukan menginfeksi manusia

sebelumnya. Virus corona merupakan keluarga besar dari virus yang dapat

menimbulkan kesakitan maupun kematian pada manusia dan hewan. Virus

corona dapat menimbulkan kesakitan pada manusia dengan gejala ringan

sampai berat seperti selesma (common cold), Sindroma Saluran Pernapasan

Akut yang berat (SARS/ Severe Acute Respiratory Syndrome).

Kebanyakan pasien MERS mengalami gangguan pernafasan akut yang

parah dengan gejala demam, batuk, dan sesak. Sekitar 3-4 dari 10 pasien yang

dilaporkan MERS meninggal (CFR 30-40%).

Virus ini diketahui pertama kali menyerang manusia di Jordan pada

April 2012, namun kasus yang pertama kali dilaporkan adalah kasus yang

muncul di Arab Saudi pada September 2012. Sampai saat ini, semua kasus

MERS berhubungan dengan riwayat perjalanan menuju, atau menetap, di

negara-negara sekitar Semenanjung Arab. KLB MERS terbesar yang terjadi di

luar Semenanjung Arab, terjadi di Republik Korea Selatan pada 2015. KLB

40
tersebut berhubungan dengan pelaku perjalanan yang kembali dari

Semenanjung Arab.

Penularan infeksi MERS dari manusia ke manusia hampir sebagian

besar terjadi di layanan kesehatan karena ada melalui kontak erat dengan

kasus, seperti merawat atau tinggal bersama orang yang terinfeksi. Penularan

infeksi MERS dari hewan ke manusia masih belum diketahui, hingga saat ini

unta cenderung menjadi reservoir utama untuk MERS, dan sumber hewan

infeksi pada manusia. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai

factor risiko penularan MERS dari hewan ke manusia dan dari manusia ke

manusia.

Gejala, Tanda dan Masa Inkubasi

Sebagian besar kasus konfirmasi MERS mengalami sindrom Saluran

Pernapasan Akut yang berat dengan gejala awal yang paling sering

ditemukan: demam (98%), menggigil (87%), batuk (83%), dan sesak (72%).

Beberapa kasus juga mengalami gejala gastrointestinal seperti diare

dan mual/muntah. Kebanyakan kasus MERS disertai komplikasi yang parah,

seperti pneumoni dan gagal ginjal. Sekitar 3-4 dari 10 pasien yang dilaporkan

MERS meninggal. Sebagian besar kasus meninggal karena kondisi medis

yang sudah ada sebelumnya. Beberapa kasus yang terinfeksi memiliki gejala

ringan (seperti flu) atau tanpa gejala, dan mereka sembuh.

Hingga saat ini, orang-orang dengan kondisi medis yang sudah ada

sebelumnya (disebut juga komorbiditas) dan orang-orang dengan sistem

41
kekebalan yang lemah lebih cenderung terinfeksi MERS, atau memiliki

tingkat keparahan yang lebih tinggi. Kondisi medis yang sudah ada

sebelumnya, antara lain diabetes; kanker; penyakit paru-paru kronis, penyakit

jantung, dan penyakit ginjal.

Masa inkubasi MERS (waktu antara saat seseorang terinfeksi MERS

hingga timbul gejala) biasanya sekitar 5 atau 6 hari, namun bisa berkisar

antara 2 sampai 14 hari.

Cara Transmisi

Virus MERS seperti virus corona yang lain menyebar dari sekresi

saluran pernafasan (droplet). Akan tetapi mekanisme penyebaran virus secara

tepat belum diketahui dengan pasti.

Penularan infeksi MERS dari manusia ke manusia hampir sebagian

besar terjadi di layanan kesehatan karena ada melalui kontak erat dengan

kasus, seperti merawat atau tinggal bersama orang yang terinfeksi. Penularan

infeksi MERS dari hewan ke manusia masih belum diketahui, hingga saat ini

unta cenderung menjadi reservoir utama untuk MERS, dan sumber hewan

infeksi pada manusia. Masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai

kemungkinan penyebaran lanjutan MERS di masyarakat.

 Penularan dari hewan ke manusia.

Mengingat strain Mers-Cov yang sesuai dengan strain manusia telah dapat

diisolasi dari unta di beberapa negara (Mesir, Oman, Qatar dan Arab Saudi).

42
Hal tersebut diyakini bahwa manusia dapat terinfeksi melalui kontak langsung

atau tidak langsung dengan unta yang terinfeksi di Timur Tengah.

 Penularan dari manusia ke manusia

Virus ini dapat menular antar manusia secara terbatas, dan tidak terdapat

transmisi penularan antar manusia yang berkelanjutan. Kemungkinan

penularannya dapat melalui :

1. Langsung : melalui percikan dahak (droplet) pada saat pasien batu atau

bersin.

2. Tidak Langsung : melalui kontak dengan benda yang terkontaminasi

virus.

Kriteria Kasus dan Penegakkan Diagnosis

1. Kasus dalam penyelidikan (underinvestigated case)

a. Seseorang dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dengan tiga


keadaan di bawah ini:

 Demam (≥38°C),
 Batuk,
 Pneumonia berdasarkan gejala klinis atau gambaran radiologis
yang membutuhkan perawatan di rumah sakit.

Perlu waspada pada pasien dengan gangguan system kekebalan tubuh


(immunocompromised) karena gejala dan tanda tidak jelas.

43
DAN

salah satu dari kriteria berikut :

 Memiliki riwayat perjalanan ke negara terjangkit dalam 14 hari


sebelum sakit, kecuali ditemukan etiologi lain
 Adanya petugas kesehatan yang sakit dengan gejala sama
setelah merawat ISPA berat
 Mengalami perburukan klinis, kecuali ditemukan etiologi lain
 Adanya klaster pneumonia dalam periode 14 hari tanpa
memperhatikan tempat tinggal atau riwayat bepergian.

b. Seseorang dengan ISPA ringan sampai berat yang memiliki riwayat kontak
erat dengan kasus konfirmasi atau kasus probabel infeksi MERS-Cov dalam
waktu 14 hari sebelum sakit.

2. Kasus Probabel

a. Seseorang dengan pneumonia atau ARDS ((Acute Respiratory Distress


Syndrome) dengan bukti klinis, radiologis atau histopatologis

DAN

Tidak tersedia pemeriksaan untuk MERS-CoV atau hasil laboratoriumnya


negative pada satu kali pemeriksaan spesimen yang tidak adekuat.

DAN

Adanya hubungan epidemiologis langsung dengan kasus konfirmasi MERS


Co-V.

b. Seseorang dengan pneumonia atau ADRS dengan bukti klinis, radiologis


atau hispatologis

44
DAN

Adanya hubungan epidemiologis langsung dengan kasus konfirmasi MERS-


Cov dan/ memiliki riwayat tinggal/bepergian dari negara terjangkit sejak 14
hari terakhir

DAN

Hasil pemeriksaan laborat inkonklusif (pemeriksaan screening hasil positif


tanpa konfirmasi lebih lanjut)

3. Kasus Konfirmasi

Seseorang yang terinfeksi MERS Co-V dengan hasil pemeriksaan


laboratorium positive.

4. Kasus Kontak

Seseorang yang kontak fisik, atau berada dalam satu ruangan, atau berkunjung
(bercakap-cakap dalam radius 1 meter) dengan kasus probable atau kasus
konfirmasi.

Termasuk Kontak Erat antara lain :

o Petugas kesehatan yang memeriksa, merawat, mengantar, dan


membersihkan ruangan ditempat perawatan kasus
o Orang-orang yang merawat atau menunggui di ruangan
o Orang yang tinggal se rumah dengan kasus
o Tamu yang berada dalam satu ruangan dengan kasus

5. Kasus Kluster

45
Bila terdapat dua orang atau lebih memiliki penyakit yang sama,dan
mempunyai riwayat kontak yang sama dalam jangka waktu 14 hari. Kontak
dapat terjadi pada keluarga atau rumah tangga, dan berbagai tempat lain
seperti rumah sakit, ruang kelas, tempat kerja, barak militer, tempat rekreasi,
dan lainnya.

Penatalaksanaan

 Orang yang dicurigai terinfeksi MERS-Cov harus masuk ke dalam ruang


perawatan isolasi selama munculnya gejala hingga 24 jam setelah gejala
hilang
 Tidak ada pengobatan antiviral yang spesifik bagi penderita MERS-Cov.
 Pada umumnya penderita hanya mendapatkan obat untuk meredakan gejala.
Pada kasus yang parah, pengobatan juga termasuk untuk pemulihan fungsi
organ-organ vital.
 MERS-Cov akan muncul sebagai penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut
(ISPA) berat sehingga pengobatan diberikan sesuai diagnosa tersebut.
 Pada penderita anak dan ibu hamil, harus dilakukan suportif awal dan
pemantauan pasien
 Tatalaksana gangguan napas berat, hipoksemia dan ARDS (Acute Respiratory
Distress Syndrome) :
o Pemberian aliran oksigen dengan konsentrasi tinggi
o Pemberian ventilasi mekanik
o Tindakan intubasi endotrakeal
o Untuk pasien ARDS, menggunakan strategi Lung Protective Strategy
Ventilation (LPV)

Pencegahan

Penyebaran infeksi MERS dapat dicegah dengan cara:

46
 Menggunakan masker jika sakit atau sedang berada di keramaian.
 Menjaga kebersihan / hygiene tangan dengan membiasakan cuci tangan pakai
sabun dengan air mengalir.
 Istirahat cukup, asupan gizi yang baik dan tidak merokok.
 Selalu mengkonsumsi makanan dan minuman yang dimasak dengan baik.
 Tidak menyentuh mata, hidung dan mulut dengan tangan yang belum
dibersihkan.
 Membatasi kontak dengan kasus yang sedang diselidiki dan bila tak
terhindarkan buat jarak dengan kasus, serta tidak kontak dekat dengan orang
sedang sakit saat berada di kawasan Timur Tengah.
 Menerapkan etika batuk ketika sakit
 Menyampaikan komunikasi, informasi, dan edukasi pada masyarakat.
 Meningkatkan kesadaran tentang MERS di kalangan wisatawan dari dan ke
negara-negara yang terkena dampak sebagai praktek kesehatan masyarakat
yang baik.
 Bagi jemaah Haji dan Umroh disarankan menghindari kontak erat dengan
penderita/hewan penular.

7. Virus Ebola

Definisi

Penyakit virus ebola (PVE) adalah penyakit yang disebabkan oleh

virus Ebola, yang merupakan anggota keluarga filovirus. Penyakit ini dikenal

dengan Ebola Virus Disease (EVD) atau Ebola Hemorrhagic Fever (EHF).

Terdapat lima macam genus virus ebola penyebab penyakit ini,

yaitu Bundibugyo ebolavirus (BDBV), Reston Ebolavirus, Sudan ebolavirus

47
(SUDV), Zaire ebolavirus, dan Tai Forest virus (TAFV) yang dulu dikenal

dengan Ivory Coast Ebolavirus (CIEBOV).

Virus ebola pertama kali diidentifikasi pada tahun 1976 di dua tempat

secara simultan yakni di Yambuku, sebuah desa tidak jauh dari sungai ebola

di Republik Demokratik Kongo dan di Nzara, Sudan Selatan. Wabah di

Afrika Barat (kasus pertama pada Maret 2014) adalah yang terbesar dan

paling kompleks sejak virus ebola pertama kali ditemukan pada tahun 1976.

Negara yang terkena dampak paling parah yakni, Guinea, Liberia dan Sierra

Leone. Enam negara di Afrika Barat yang mengalami kejadian luar biasa

(KLB) yaitu Liberia, Guinea, Sierra Leone, Nigeria, Sinegal, dan Mali dengan

jumlah 28.652 kasus, dan 11.325 kematian, dengan total kematian/total kasus

39,52% (data WHO per 10 Juni 2016). Berdasarkan hal tersebut WHO

menyatakan penyakit virus Ebola sebagai Kedaruratan Kesehatan Masyarakat

yang Meresahkan Dunia (KKMMD). Kemudian ditemukan beberapa kasus

kluster yang sumber penularannya dari survivor Ebola baik di Liberia,

Guinea, dan Sierra Leone. Penularan tersebut diketahui karena adanya kontak

dengan cairan tubuh survivor.

Gejala, Tanda dan Masa Inkubasi

Gejala penyakit virus ebola ini didahului oleh demam yang tiba-tiba,

sakit kepala, nyeri sendi dan otot, lemah, diare, muntah, sakit perut, kurang

nafsu makan, dan perdarahan yang tidak biasa. Pada beberapa kasus,

pendarahan dalam dan luar dapat saja terjadi, 5 sampai 7 hari, setelah gejala

48
pertama terjadi. Semua penderita yang terinfeksi menderita kesulitan

pembekuan darah. Pendarahan dari selaput mulut, hidung dan tenggorokan

serta dari bekas lubang suntikan terjadi pada 40-50 persen kasus. Hal ini

menyebabkan muntah darah, batuk darah dan berak darah. Masa inkubasi

penyakit ini antara 2 – 21 hari.

Cara Transmisi

Virus Ebola ini menular melalui darah dan cairan tubuh lainnya

(termasuk feses, saliva, urine, bekas muntahan dan sperma) dari hewan atau

manusia yang terinfeksi Ebola. Virus ini dapat masuk ke tubuh orang lain

melalui kulit yang terluka atau melalui membrane mukosa yang tidak

terlindungi seperti mata, hidung dan mulut. Virus ini juga dapat menyebar

melalui jarum suntik dan infus yang telah terkontaminasi. Kelompok yang

paling berisiko adalah keluarga, teman, rekan kerja dan petugas medis.

Misalnya, mereka yang merawat pasien yang terkena virus Ebola beresiko

tertular. Di rumah sakit, virus ini juga bisa tersebar dengan cepat. Selain itu,

penularan juga bisa terjadi jika pelayat menyentuh jenazah sosok yang

meninggal karena Ebola. Binatang juga bisa menjadi pembawa virus. Virus

ini mampu memperbanyak diri di hampir semua sel inang. Khususnya

kelelawar mampu menularkan virus tersebut. Codot dan kalong termasuk jenis

kelelawar besar. Di Afrika, sebagian besar jenis hewan ini membawa virus di

dalam tubuhnya, termasuk di antaranya virus Ebola. Tidak seperti manusia,

kelelawar kebal terhadap virus-virus tersebut. Karena sering dijadikan bahan

49
makanan, virus yang terdapat pada daging kelelawar dapat dengan mudah

menjangkiti manusia.

Penegakkan Diagnosis

Untuk diagnosis pasti penyakit virus ebola dilakukan pemeriksaan

PCR, dan penetapan pasien sebagai kasus dalam investigasi atau konfirmasi

berdasarkan anamnesis dan tanda/gejala sesuai dengan klasifikasi kasus yaitu :

1. Kasus dalam investigasi

Setiap orang yang memiliki gejala demam (> 38° C) disertai minimal 3 gejala
berikut:

 sakit kepala
 muntah (vomit)
 tidak nafsu makan (loss of appetite)
 diare (berdarah / tidak berdarah)
 lemah (weakness)
 nyeri perut
 nyeri otot (myalgia)
 sesak napas
 nyeri tenggorokan (throat pain)
 cegukan (hiccup)

Atau:

 Setiap orang dengan perdarahan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.

Atau:

50
 Setiap kematian mendadak yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya.

DAN

Memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di daerah atau negara terjangkit


penyakit virus Ebola (PVE), atau kontak dengan kasus PVE, dalam waktu 21 hari
sebelum timbul gejala. Daerah adalah daerah di negara yang sudah terdapat kasus
konfirmasi dengan atas. Negara adalah negara yang sudah terdapat kasus
konfirmasi dengan peyebaran kasus yang luas atau penularan yang intensif.

2. Kasus konfirmasi

Kasus dalam investigasi dengan hasil pemeriksaan Polymerase Chain


Reaction (PCR) positif oleh Laboratorium Balitbangkes.

Bukan Kasus: Setiap kasus dalam investigasi dengan hasil laboratorium


NEGATIF.

3. Kasus Probable

Selain kasus dalam investigasi dan kasus konfirmasi, pada keadaan ketika
kondisi klinis seseorang mengarah kuat pada penyakit virus Ebola (hidup atau
meninggal), namun karena satu dan lain hal tidak bisa dilakukan pemeriksaan
konfirmasi laboratorium, dikenal istilah kasus probabel.

Kriteria kasus probable adalah:

 Setiap kasus investigasi yang ditetapkan sebagai kasus penyakit virus Ebola
setelah dilakukan pemeriksaan lanjut oleh klinisi di rumah sakit (RS) rujukan
dan tidak ditemukan sebab lain.

DAN

51
mempunyai kaitan epidemiologi dengan kasus konfirmasi atau hewan penular
Ebola.

Atau:

 Setiap kasus dalam investigasi yang meninggal dan tidak memungkinkan lagi
untuk mengambil spesimen untuk konfirmasi laboratorium, serta mempunyai
kaitan epidemiologi dengan kasus konfirmasi.

4. Orang dalam pengawasan

Orang dalam pengawasan adalah orang yang berada dalam pengawasan tan
selama 21 hari sejak:

 Meninggalkan negara/daerah terjangkit, bagi yang mempunyai riwayat


perjalanan dari negara/daerah terjangkit

Atau

 Kontak terakhir dengan kasus konfirmasi, bagi orang dengan riwayat kontak
dengan kasus konfirmasi.

DAN

Tidak ditemukan tanda dan gejala penyakit yang dicurigai.

5. Klaster

Adalah bila terdapat dua orang atau lebih dengan gejala penyakit virus Ebola,
dan mempunyai riwayat kontak yang sama dalam jangka waktu 21 hari. Kontak
dapat terjadi pada keluarga atau rumah tangga, dan berbagai tempat lain seperti
rumah sakit, ruang kelas, tempat kerja, barak militer, tempat rekreasi, dan lainnya.

52
6. Kontak

Kontak adalah setiap orang (termasuk petugas kesehatan di sarana pelayanan


kesehatan dan komunitas) yang terpapar (kontak fisik) dengan kasus dalam
investigasi atau konfirmasi PVE selama sakit melalui minimal 1 cara berikut:

 Serumah dengan kasus


 Pernah kontak langsung dengan kasus (hidup atau meninggal)
 Pernah kontak langsung dengan jenazah kasus
 Pernah kontak dengan darah atau cairan tubuh kasus
 Pernah kontak dengan pakaian atau linen kasus
 Bayi yang disusui oleh kasus

Penatalaksanaan

 Pasien dirawat di ruang isolasi


 Berikan terapi simptomatis sesuai dengan temuan klinis yaitu pemberian obat
penurun panas, pemasangan infus (terapi cairan kristaloid atau koloid sesuai
klinis), transfusi darah (jika perlu lakukan hemodialisa dengan menggunakan
hemofilter khusus virus), pemberian O2, dan mengatasi infeksi sekunder
 Dilakukan pemantauan ketat untuk perdarahan dan komplikasi lainnya
 Terapi definitif sampai saat ini belum ada
 Kriteria pasien diperbolehkan pulang:
 Pasien dirawat sampai dinyatakan sembuh oleh klinisi dan bebas dari virus
Ebola berdasarkan konversi hasil laboratorium menjadi negatif.
 Bebas tanda dan gejala 3 hari berturut – turut.
 Pada saat pulang pasien diberikan surat keterangan bebas Ebola yang
ditembuskan ke Dinas Kesehatan setempat dan Fasilitas Pelayanan Kesehatan
(fasyankes)/unit yang merujuk.

53
Pencegahan

Mencegah atau membatasi penularan infeksi di sarana pelayanan

kesehatan memerlukan penerapan prosedur dan protokol yang disebut sebagai

“kewaspadaan isolasi”. Secara umum pencegahan dan pengendalian infeksi

pada penyakit virus Ebola kewaspadaan standar dan kewaspadaan kontak.

Pada tindakan tertentu yang menghasilkan butir-butir aerosol

(Inhalasi/Nebulizer) dan tindakan invasive lainnya seperti melakukan intubasi,

suctioning, swab tenggorok dan hidung perlu dilakukan penambahan

kewaspadaan airborne.

Melakukan kebersihan tangan (hand hygiene) sesuai prosedur. Ada 5-

moments dimana harus dilakukan kebersihan tangan yaitu sebelum kontak

pasien, setelah kontak pasien, sebelum melakukan tindakan medis, sesudah

kontak dengan bahan infeksius dan setelah kontak dengan lingkungan pasien.

Penggunaan APD sesuai dengan prosedur untuk memakai dan melepaskan

secara benar.

Pencegahan lainnya:

 Menghindari kontak langsung dengan penderita maupun jenazah penderita


penyakit virus ebola adalah cara yang tepat, karena penyakit ini dapat menular
melalui darah dan cairan tubuh lainnya.
 Menggunakan alat pelindung diri yang lengkap sesuai SOP dan mencuci
tangan sesuai prosedur adalah cara terbaik dalam melindungi diri setelah

54
kontak pasien, sebelum melakukan tindakan medis, sesudah kontak dengan
bahan infeksius dan setelah kontak dengan lingkungan pasien.
 Melakukan vaksinasi bila hendak bepergian ke daerah/negara terjangkit.
 Sampel cairan dan jaringan tubuh dari penderita penyakit harus ditangani
dengan sangat hati-hati dan sesuai dengan pencegahan dan pengendalian
penyakit infeksi.

8. Virus Polio

Definisi

Virus Polio adalah Virus yang termasuk dalam golongan Human

Enterovirus yang bereplikasi di usus dan dikeluarkan melalui tinja. Virus

Polio terdiri dari 3 strain yaitu strain-1 (Brunhilde), strain-2 (Lansig), dan

strain-3 (Leon), termasuk family Picornaviridae. Penyakit ini dapat

menyebabkan kelumpuhan dengan kerusakan motor neuron pada cornu

anterior dari sumsum tulang belakang akibat infeksi virus.

Virus polio yang ditemukan dapat berupa virus polio vaksin/sabin,

Virus polio liar/WPV (Wild Poliovirus) dan VDPV (Vaccine Derived

Poliovirus). VDVP merupakan virus polio vaksin/sabin yang mengalami

mutasi dan dapat menyebabkan kelumpuhan.

VDPV diklasifikasikan dalam 3 kategori yaitu 1). Immunodeficient-

related VDPV (iVDPV) berasal dari pasien imunodefisiensi, 2). Circulating

VDPV (cVDPV) ketika ada bukti transmisi orang ke orang dalam masyarakat,

dan 3). Ambiguous VDPV (aVDPV) apabila tidak dapat diklasifikasikan

55
sebagai cVDPV atau iVDPV. Penetapan jenis virus yang dimaksud,

ditentukan berdasarkan pemeriksaan laboratorium. Identifikasi VDPV

berdasarkan tingkat perbedaan dari strain virus OPV. Virus polio

dikategorikan sebagai VDPV apabila terdapat perbedaan lebih dari 1% (>10

perubahan nukleotida) untuk virus polio tipe 1 dan 3, sedangkan untuk virus

polio tipe 2 apabila ada perbedaan lebih dari 0,6% (>6 perubahan nukleotida).

Polio dapat menyerang pada usia berapa pun, tetapi polio terutama

menyerang anak-anak di bawah usia lima tahun. Pada awal abad ke-20, polio

adalah salah satu penyakit yang paling ditakuti di negara-negara industri,

melumpuhkan ratusan ribu anak setiap tahun. Pada tahun 1950an dan 1960an

polio telah terkendali dan praktis dihilangkan sebagai masalah kesehatan

masyarakat di negara-negara industry. Hal ini setelah pengenalan vaksin yang

efektif.

Pada 1988, sejak Prakarsa Pemberantasan Polio Global dimulai, lebih

dari 2,5 miliar anak telah diimunisasi polio. Sekarang masih terdapat 3 negara

endemis yang melaporkan penularan polio yaitu Afganistan, Pakistan dan

Nigeria.

Pada Juni 2018, dilaporkan adanya kasus polio di negara tetangga

Papua New Guinea, sehingga diperlukan adanya peningkatan kewaspadaan

dini terhadap masuknya virus polio ke Indonesia.

56
Gejala, Tanda dan Masa Inkubasi

Masa inkubasi virus polio biasanya memakan waktu 3-6 hari, dan

kelumpuhan terjadi dalam waktu 7-21 hari.

Kebanyakan orang terinfeksi (90%) tidak memiliki gejala atau gejala

yang sangat ringan dan biasanya tidak dikenali. Pada kondisi lain, gejala awal

yaitu demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kekakuan di leher dan nyeri di

tungkai.

Adapun gejala Penderita polio dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu :

1. Polio non-paralisis dapat mnyebabkan muntah, lemah otot, demam,


meningitis, letih, sakit tenggorokan, sakit kepala serta kaki, tangan, leher
dan punggung terasa kaku dan sakit
2. Polio paralisis menyebabkan sakit kepala, demam, lemah otot, kaki dan
lengan terasa lemah, dan kehilangan refleks tubuh.
3. Sindrom pasca-polio menyebabkan sulit bernapas atau menelan, sulit
berkonsentrasi, lemah otot, depresi, gangguan tidur dengan kesulitan
bernapas, mudah lelah dan massa otot tubuh menurun.

Cara Transmisi

Polio menyebar melalui kontak orang ke orang. Ketika seorang anak

terinfeksi virus polio liar, virus masuk ke dalam tubuh melalui mulut dan

berkembang biak di usus. Ini kemudian dibuang ke lingkungan melalui faeces

di mana ia dapat menyebar dengan cepat melalui komunitas, terutama dalam

situasi kebersihan dan sanitasi yang buruk. Virus tidak akan rentan

57
menginfeksi dan mati bila seorang anak mendapatkan imunisasi lengkap

terhadap polio. Polio dapat menyebar ketika makanan atau minuman

terkontaminasi oleh feses. Ada juga bukti bahwa lalat dapat secara pasif

memindahkan virus polio dari feses ke makanan. Kebanyakan orang yang

terinfeksi virus polio tidak memiliki tanda-tanda penyakit dan tidak pernah

sadar bahwa mereka telah terinfeksi. Orang-orang tanpa gejala ini membawa

virus dalam usus mereka dan dapat “diam-diam” menyebarkan infeksi ke

ribuan orang lain.

Penegakkan Diagnosis

1. Kasus AFP : semua anak kurang dari 15 tahun dengan kelumpuhan yang
sifatnya flaccid (layuh), proses terjadi kelumpuhan secara akut (<14 hari),
serta bukan disebabkan oleh ruda paksa.
2. Hot case adalah kasus-kasus yang sangat menyerupai polio yang
ditemukan <6 bulan sejak kelumpuhan dan spesimennya tidak adekuat
perlu dilakukan pengambilan sample kontak. Kategori hot case dibuat
berdasarkan kondisi specimen yang tidak adekuat pada kasus yang sangat
menyerupai polio.
3. Hot case cluster adalah 2 kasus AFP atau lebih, berada dalam satu lokasi
(wilayah epidemologi), beda waktu kelumpuhan satu dengan yang lainnya
tidak lebih dari 1 bulan.
4. VDPV (vaccine derived polio virus) adalah kasus polio (confirmed polio)
yag disebabkan virus polio vaksin yang telah bermutasi

58
5. Kasus polio pasti (confirmed polio case) : kasus AFP yang pada hasil
laboratorium tinjanya ditemukan virus polio liar (VPL), cVDPV, atau hot
case dengan salah satu specimen kontak VPL/VDPN
6. Kasus polio kompatibel : kasus polio yang tidak cukup bukti untuk
diklasifikasikan sebagai kasus non polio secara laboratoris (virologis)
yang dikarenakan antara lain a) specimen tidak adekuat dan terdapat
paralisis residual pada kunjungan ulang 60 hari setelah terjadinya
kelumpuhan, b) specimen tidak adekuat dan kasus meninggal atau hilang
sebelum dilakukan kunjungan ulang 60 hari. Kasus polio kompatibel
hanya dapat ditetapkan oleh kelompok kerja ahli surveilans AFP nasional
berdasarkan kajian data/dokumen secara klinis atau epidemologis maupun
kunjungan lapangan.

Penatalaksanaan

Tidak ada obat untuk polio, yang ada hanya perawatan untuk

meringankan gejala. terapi fisik digunakan untuk merangsang otot dan obat

antispasmodic diberikan untuk mengendurkan otot-otot dan meningkatkan

mobilitas. Meskipun ini dapat meningkatkan mobilitas, tapi tidak dapat

mengobati kelumpuhan polio permanen.

Apabila sudah terkena Polio, tindakan yang dilakukan yaitu

tatalaksana kasus lebih ditekankan pada tindakan suportif dan pencegahan

terjadinya cacat, sehingga anggota gerak diusahakan kembali berfungsi

senormal mungkin dan penderita dirawat inap selama minimal 7 hari atau

sampai penderita melampaui masa akut.

59
Penemuan dini dan perawatan dini untuk mempercepat kesembuhan

dan mencegah bertambah beratnya cacat. Kasus polio dengan gejala klinis

ringan di rumah, bila gejala klinis berat diruju ke RS.

Pencegahan

Imunisasi merupakan tindakan yang paling efektif dalam mencegah

penyakit polio. Vaksin polio yang diberikan berkali-kali dapat melindungi

seorang anak seumur hidup. Pencegahan penyakit polio dapat dilakukan

dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pemberian

imunisasi polio pada anak-anak.

Pencegahan penularan ke orang lain melalui kontak langsung (droplet)

dengan menggunakan masker bagi yang sakit maupun yang sehat. Selain itu

mencegah pencemaran lingkungan (fecal-oral) dan pengendalian infeksi

dengan menerapkan buang air besar di jamban dan mengalirkannya ke septic

tank.

Ada 4 jenis vaksin Polio, yaitu :

1. Oral Polio Vaccine (OPV), untuk jenis vaksin ini aman, efektif dan
memberikan perlindungan jangka panjang sehingga sangat efektif dalam
menghentikan penularan virus. Vaksin ini diberikan secara oral. Setelah
vaksin ini bereplikasi di usus dan diekskresikan, dapat menyebar ke orang
lain dalam kontak dekat.

60
2. Monovalent Oral Polio Vaccines (mOPV1 and mOPV3), sebelum
pengembangan tOPV, OPV Monovalen (mopVs) dikembangkan pada
awal tahun 1950an. Vaksin polio ini memberikan kekebalan hanya pada
satu jenis dari tiga serotipe OPV, namun tidak memberikan perlindungan
terhadap dua jenis lainnya. OPV Monovalen untuk virus Polio tipe 1
(mopV1) dan tipe 3 (mOPV3) dilisensikan lagi pada tahun 2005 dan
akhirnya mendapatkan respon imun melawan serotipe yang lain.
3. Bivalent Oral Polio Vaccine (bOPV), setelah April 2016, vaksin virus
Polio Oral Trivalen diganti dengan vaksin virus Polio Oral Bivalen
(bOPV). Bivalen OPV hanya mengandung virus serotipe 1 dan 3 yang
dilemahkan, dalam jumlah yang sama seperti pada vaksin trivalen.
Bivalen OPV menghasilkan respons imun yang lebih baik terhadap jenis
virus Polio tipe 1 dan 3 dibandingkan dengan OPV trivalen, namun tidak
memberikan kekebalan terhadap serotipe 2.
4. Inactivated Polio Vaccine (IPV), sebelum bulan April 2016, vaksin virus
Polio Oral Trival (topV) adalah vaksin utama yang digunakan untuk
imunisasi rutin terhadap virus Polio. Dikembangkan pada tahun 1950 oleh
Albert Sabin, tOPV terdiri dari campuran virus polio hidup dan
dilemahkan dari ketiga serotipe tersebut. tOPV tidak mahal, efektif dan
memberikan perlindungan jangka panjang untuk ketiga serotipe virus
Polio. Vaksin Trivalen ditarik pada bulan April 2016 dan diganti dengan
vaksin virus Polio Oral Bivalen (bOPV), yang hanya mengandung virus
dilemahkan vaksin tipe 1 dan 3.

61
BAB IV

KESIMPULAN

1. Penyakit Infeksi Emerging adalah penyakit yang muncul dan


menyerang suatu populasi untuk pertama kalinya atau telah ada
sebelumnya namun meningkat dengan sangat cepat, baik dalam
jumlah kasus baru di dalam satu populasi, ataupun penyebarannya ke
daerah geografis yang baru (re-emerging infectious disease).
2. Re-emerging disease adalah penyakit yang sebelumnya pernah

menjadi masalah kesehatan utama secara global atau di suatu negara,

lalu menurun secara dramatis, tapi kembali menjadi masalah kesehatan

yang cukup signifikan pada suatu populasi.

3. Penyakit infeksi emerging, antara lain :


a. Demam Kuning (Yellow Fever)
b. Demam Lassa
c. Middle East Respiratory Syndrome (MERS)
d. Penyakit Virus Ebola
e. Poliomyelitis (penyakit virus polio)
f. Avian influenza
g. SARS

62
DAFTAR PUSTAKA

Kemenkes. 2019. Media Informasi Infeksi Emerging. Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia. Jakarta.

Kemenkes. 2019. Buku Pedoman Penyakit Kuning. Kementerian Kesehatan

Republik Indonesia. Jakarta.

Permenkes. 2016. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia tentang

Pembebasan Biaya Pasien Penyakit Infeksi Emerging tertentu.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta.

63
64