Anda di halaman 1dari 22

Makalah Praktikum

Identifikasi Masalah Kesehatan dan Tabulasi Data

Kelompok A6:
Nihla Adinda Faradila 181610101056
Iris Amelinda Zainina 181610101057
Ainunnisak Ayuningtyas 181610101058
Berliana Syifa Jolanda Putri 181610101059
Ega Tiara Iman Sari 181610101060
Arlin Riski Kusumawardani 181610101061
Dicky Khatami Kamal 181610101062
Belva Nuriana Rosidea 181610101063
Yogiardi S Summase 181610101064
Al Masari 181610101065
Naila Azifatur Rahmat 181610101066

Epidemiologi dan Biostatistika


Fakultas Kedokteran Gigi
Universitas Jember
2019
1.1 Identifikasi Masalah
Konsep identifikasi masalah (problem identification) adalah proses dan hasil
pengenalan masalah atau inventarisasi masalah. Dengan kata lain, identifikasi masalah
adalah salah satu proses penelitan yang boleh dikatakan paling penting di antara proses
lain. Masalah penelitian (research problem) akan menentukan kualitas suatu penelitian,
bahkan itu juga menentukan apakah sebuah kegiatan bisa disebut penelitian atau tidak.
Masalah penelitian secara umum bisa ditemukan melalui studi literatur (literature review)
atau lewat pengamatan lapangan (observasi, survey), dan sebagainya.
1.2 Metode Menentukan Prioritas Masalah
Dalam bidang kesehatan, penyusunan rencana kesehatan sering dilakukan dengan
mengikuti prinsip lingkaran pemecahan masalah (problem solving cycle). Langkah pertama
pada siklus ini adalah melakukan upaya penetapan prioritas masalah. Masalah yang
dimaksud adalah kesenjangan antara apa yang ditemukan (what is) dengan apa yang
semestinya (what should be).
Pembangunan kesehatan tidak terlepas dari masalah keterbatasan sumber daya seperti
sumber daya manusia, sarana, dan dana. Karena adanya keterbatasan sumber daya yang
tersedia, maka tidak mungkin menyelesaikan semua masalah. Selain itu, terdapat hubungan
antara satu masalah dengan masalah lainnya, dan karena itu tidak perlu semua masalah
diselesaikan.
Terdapat banyak macam cara menetapkan prioritas masalah. Sebagian lebih
mengutamakan intuisi, sebagian lainnya mengandalkan ilham atau petunjuk atasan. Metode
yang dapat digunakan dalam menetapkan urutan prioritas masalah, umumnya dibagi atas,
Tehnik Skoring dan Tehnik Non Skoring, sebagai berikut:
1. Tehnik Non Skoring
Tehnik non skoring dapat digunakan apabila tidak tersedia data kuantitatif yang lengkap
dan cukup, atau dengan kata lain data yang tersedia adalah data kualitatif atau semi
kualitatif. Tehnik non skoring yang sering digunakan adalah:
a. Metode metode Delphi
Penetapan prioritas masalah tersebut dilakukan kesepakatan sekelompok orang
yang sama keahliannya. Pemilihan prioritas masalah dilakukan melalui pertemuan
khusus. Setiap peserta yang sama keahliannya dimintakan untuk mengemukakan
beberapa masalah pokok, masalah yang paling banyak dikemukakan adalah prioritas
masalah yang dicari.
 Proses Delphi
Menurut Brooks (1979), tahapan yang dilakukan dalam metode Delphi adalah
1. Mengidentifikasi panelis ahli.
2. Menanyakan kesediaan anggota panelis untuk terlibat dalam panel.
3. Mengumpulkan masukan dan isu-isu khusus dari setiap anggota dan
menyusunnya kembali dalam bentuk pernyataan yang singkat padat.
4. Menganalisis data dari semua panelis.
5. Mengkompilasi informasi tersebut kedalam kuesioner baru dan mengirimkannya
kembali kepada setiap panelis untuk dikaji kembali.
6. Menganalisis masukan baru dan kembali menginformasikan distribusi respon
dari kelompok.
7. Meminta setiap panelis untuk menganalisis data tersebut dan mengevaluasi posisi
panelis terkait respon dari kelompok. Jika respon panelis berbeda jauh dengan
respon kelompok, maka diminta untuk memberikan alasan untuk berbeda
pandangan, namun tetap dalam format singkat padat.
8. Menganalisis input dan menginformasikan pernyataan pendapat minoritas
kepada panel. Anggota panelis diminta untuk meninjau kembali posisi mereka, dan
jika tetap dalam kurun waktu tertentu, diminta untuk menyatakan posisi dengan
pernyataan singkat.
 Kelebihan
Metode ini berguna ketika:
1. Masalah yang ada tidak bisa diselesaikan secara metode analisis empiris namun
lebih kepada penilaian subjektif secara kolektif.
2. Dibutuhkan beberapa orang untuk berkontribusi memberikan penilaian pada
masalah yang kompleks yang merepresentasikan perbedaan latarbelakang dan
pengalaman.
3. Dibutuhkan lebih banyak orang untuk bisa berinteraksi tatap muka.
4. Tidak memungkinkan waktu dan biaya untuk melakukan pertemuan rutin.
5. Proses komunikasi kelompok dalam metode ini dapat meningkatkan efisiensi
pertemuan.
6. Perbedaan pendapat antar individu yang kuat sehingga proses komunikasinya
diperlukan aturan main dan dilakukan secara anonym.
7. Heterogenitas dari partisipan harus bisa dipastikan untuk menjamin validitas dari
hasilnya, ini untuk menghindari dominasi dari pihak tertentu dalam panel (dikenal
dengan istilah bandwagon effect).
 Kelemahan
Metode ini tetap memiliki keterbatasan. Konsensus yang dihasilkan dari metode
Delphi belum tentu adalah konsensus yang sebetulnya, karena bisa saja merupakan
konsensus yang semu. Konsensus yang bersifat semu bukan merupakan penilaian
yang terbaik, tetapi lebih kepada posisi kompromi (Mitroff dan Turoff, 1975).
Menurut Linstone dan Turoff (1976), terdapat 5 hal yag menjadi kelemahan dari
metode ini, yakni:
1. Memaksakan pandangan dan anggapan dari suatu permasalahan kepada
responden dari struktur yang dibuat menggunakan metode Delphi, dan tidak
memungkinkan adanya kontribusi dari perspektif lain yang berkaitan dengan
permasalahan tersebut.
2. Menganggap bahwa Delphi bisa menjadi pengganti untuk semua komunikasi
manusia.
3. Kesalahan dalam melakukan menyimpulkan dan mempresentasi hasil respon
kelompok dan dalam menginterpreasi penilaian evaluasi yang diberikan responden.
4. Mengabaikan dan tidak mengkaji lebih lanjut perbedaan pendapat sehingga
responden yang berbeda dikesampingkan, dan akhirnya konsensus ‘buatan’ yang
dihasilkan.
5. Memahami bahwa metode Delphi menuntut partisipasi total padahal responden
harus ditempatkan sebagai konsultan dimana seharusnya diberikan kompensasi
untuk waktu yang mereka berikan ketika komitmen untuk berpartisipasi.
b. Metode Delbecq
Pada metode Delbecq (disebut juga Nominal Group Technique/NGT),
penetapan prioritas masalah dilakukan melalui kesepakatan sekelompok yang tidak
sama keahliannya. Sehingga diperlukan penjelasan terlebih dahulu untuk meningkatkan
pengertian dan pemahaman peserta tanpa mempengaruhi peserta. Dalam menentukan
kriteria prosesnya diawali dengan pembentukan kelompok yang akan mendiskusikan,
merumuskan, dan menetapkan kriteri. Sumber data dan informasi yang diperlukan
dalam penetapan prioritas berdasarkan pengetahuan dan pengalaman masing-masing
anggota kelompok, saran dan pendapat narasumber, peraturan perundang-undangan
yan terkait, Analisa situasi, sumber informasi atau referensi lainnya.
NGT merupakan proses pencarian solusi sebuah masalah yang meliputi proses
identifikasi, pencarian solusi umum, dan penetapan keputusan. NGT adalah salah satu
quality tools yang bermanfaat dalam mengambil keputusan terbaik. Dalam quality
management, metode ini dapat digunakan untuk berbagai hal, mulai dari mencari solusi
permasalahan, hingga pemilihan ide pengembangan. Sehingga nantinya prioritas
masalah inilah yang akan ditindaklanjuti dengan rencana intervensi.
 Langkah Nominal Group Technique
1. Nominal Group Activity (Silent Generation of Ideas in Writing)
Peserta diminta untuk menuliskan masalah pada form NGP dengan tanpa suara.
Masalah boleh ditulis sebanyak-banyaknya.
2. Recorded Round Robin Procedur (Round Robin Listing of Ideas on Flip Chart)
Ketua atau moderator akan menuliskan semua ide dari form NGP pada sebuah
flip chart (tanpa pengumpulan form NGP). Bagi peserta yang mendapat
kesempatan menyampaikan ide, tetapi ide yang ingin disampaikan sudah
disesampaikan peserta lain maka peserta tersebut dapat menyatakan PAS,
kemudian lanjutkan dengan peserta berikutnya. Hal ini diulangi lagi pada
peserta pertama (jika masih memiliki ide yang belum tersampaikan) sampai
semua ide telah tertulis pada flip chart.
3. Diskusi (Serial Discussion of Ideas)
Tahap ini merupakan kesempatan bagi peserta untuk mendiskusikan ide-ide
yang telah ditulis pada kertas flip chart, dengan pedoman diskusi sebagai
berikut:
a. Peserta diminta mendiskusikan ide-ide yang telah ditulis untuk
mengklarifikasi (meminta penjelasan dari ide tersebut).
b. Hindari penggabungan atau penghilangan salah satu ide.
c. Ide yang luas atau abstrak dirumuskan untuk menjadi lebih spesifik.
4. Voting Priority
a. Listing dan penentuan ranking
Setiap peserta diminta membuat ide-ide yang paling penting yang ada pada
kertas. Kemudian diserahkan kepada pencatat dan dituliskan pada kerta
flipchart. Hasil yang diharapkan adalah mempertajam foks masalah,
sehingga mempermudah dalam penyusunan prioritas, jumlah ide yang perlu
disusun menurut urutan pentingnya masalah sudah dapat ditentukan atas
dasar kesepakatan bersama.
b. Penentuan ranking kedua
Dari prioritas ide yang telah didapatkan, dapat dilanjutkan dengan meminta
peserta melakukan ranking ulang terhadap ketiga prioritas ide tersebut. Ide
yang penting diberi nilai terendah dan ide yang tidak penting diberi nilai
tertinggai, sesuai dengan jumlah ide yang akan disusun menurut
prioritasnya. Kumpulkan hasilnya, dan tulis pada kertas flip chart.
5. Diskusi Hasil (Discussion of Vote)
Mendiskusikan hasil prioritas yang telah dilakukan untuk mendapat komentar,
masukan untuk mencapai kesepakatan bersama. Apabila ada yang masih belum
puas maka tahap 4 bisa diulang kembali pada tahap 6. Apabila urutan prioritas
sudah disepakati, maka proses NGP selesai dan hasil kesepakatan tersebut
bersifat final
6. Silent Rerank and Rate of Priorities
Tahap ini digunakan apabila hasil pada tahap 5 masih belum mendapat
kesepakatan.
 Kelebihan
1. Banyak ide yang dihasilkan. Setiap peserta yang mengikuti diberi kesempatan
untuk menuliskan idenya. Hal itu membuat ide yang dihasilkan akan semakin
banyak daripada peserta mengemukakan secara langsung.
2. Berguna untuk mengidentifikasi masalah, megeksplorasi solusi dan
menetapkan prioritas.
3. Mendorong semua orang untuk berkontribusi dan mencegah orang dari
mendominasi diskusi.
4. Menganggap semua peserta adalah sama.
5. Melibatkan setiap anggota kelompok dalam proses pengambilan keputusan.
6. Setiap orang yang berbeda menunjukkan berbagai perspektif dan prioritas yang
berbeda.
7. Melibatkan setiap peserta untuk menuliskan setiap gagasan yag dimiliki.
8. Membutuhkan hanya saru fasilitator terampil.
 Kelemahan
1. Mengasumsikan setiap peserta bisa membaca dan menulis. Asumsi setiap
peserta bisa membaca dan menulis bukanlah suatu keputusan yang tepat. Setiap
orang mempunyai latar belakang pendidikan yang berbeda.
2. Anggota kelompok harus membuat diri mereka tersedia untuk waktu yang
diperlukan.
3. Ide-ide dapat sakit informasi atau tidak praktis.
4. Tidak semua peserta menerima apa yang menjadi kespakatan metode Delbecq.
2. Tehnik Skoring
Tehnik skoring dapat digunakan apabila tersedia data kuantitatif atau data yang dapat
terukur dan dapat dinyatakan dalam angka, yang cukup dan lengkap.
a. Metode Hanlon
Proses penentuan kriteria diawali dengan pembentukan kelompok yang akan
mendiskusikan, merumuskan dan menetapkan kriteria. Sumber informasi dapat
berasal dari:
1. Pengetahuan dan pengalaman individual para anggota.
2. Saran dan pendapat narasumber.
3. Peraturan pemerintah yang relevan.
4. Hasil rumusan Analisa keadaan dan masalah kesehatan.
Berdasarkan tinjauan atas percobaan berulang yang dilakukan
dalammengidentifikasi masalah-masalah kesehatan, pola kriteria yang
konsistenmenjadi kelihatan jelas. Pola tersebut tercermin pada komponen-
komponendalam sistem ini.
a. Komponen A - Ukuran/Besarnya Masalah
Komponen ini adalah salah satu yang faktornya memiliki angka yangkecil.
Pilihan biasanya terbatas pada persentase dari populasi yang secaralangsung
terkena dampak dari masalah tersebut, yakni insiden, prevalensi,atau tingkat
kematian dan angka.
Ukuran/besarnya masalah juga dapat dipertimbangkan dari lebih darisatu cara.
Baik keseluruhan populasi penduduk maupun populasi yangberpotensi/berisiko
dapat menjadi pertimbangan. Selain itu, penyakit-penyakit dengan faktor risiko
pada umumnya, yang mengarah pada solusibersama/yang sama dapat
dipertimbangkan secara bersama-sama.Misalnya, jika kanker yang
berhubungan dengan tembakau dijadikanpertimbangan, maka kanker paru-
paru, kerongkongan, dan kanker mulutdapat dianggap sebagai satu. Jika akan
dibuat lebih banyak penyakit yang juga dipertimbangkan, penyakit
cardiovascular mungkin juga dapatdipertimbangkan. Nilai maksimal dari
komponen ini adalah 10. Keputusanuntuk menentukan berapa ukuran/besarnya
masalah biasanya merupakankonsensus kelompok.
b. Komponen B – Tingkat Keseriusan Masalah
Kelompok harus mempertimbangkan faktor-faktor yang mungkin
danmenentukan tingkat keseriusan dari masalah. Sekalipun demikian, angka
darifaktor yang harus dijaga agar tetap pada nilai yang pantas. Kelompok
harusberhati-hati untuk tidak membawa masalah ukuran atau dapat
dicegahnyasuatu masalah ke dalam diskusi, karena kedua hal tersebut sesuai
untukdipersamakan di tempat yang lain.
Maksimum skor pada komponen ini adalah 20. Faktor-faktor
harusdipertimbangkan bobotnya dan ditetapkan secara hati-hati.
Denganmenggunakan nomor ini (20), keseriusan dianggap dua kali lebih
pentingnyadengan ukuran/besarnya masalah.
Faktor yang dapat digunakan adalah:
a. Urgensi: sifat alami dari kedaruratan masalah; tren insidensi, tingkatkematian,
atau faktor risiko; kepentingan relatif terhadap masayarakat;akses terkini
kepada pelayanan yang diperlukan.
b. Tingkat keparahan: tingkat daya tahan hidup, rata-rata usia
kematian,kecacatan/disabilitas, angka kematian prematur relatif.
c. Kerugian ekonomi: untuk masyarakat (kota / daerah / Negara), dan
untukmasing-masing individu.
Masing-masing faktor harus mendapatkan bobot. Sebagai contoh,bila
menggunakan empat faktor, bobot yang mungkin adalah 0-5 ataukombinasi
manapun yang nilai maksimumnya sama dengan 20. Menentukanapa yang akan
dipertimbangkan sebagai minimum dan maksimum dalamsetiap faktor biasanya
akan menjadi sangat membantu. Hal ini akanmembantu untuk menentukan
batas-batas untuk menjaga beberapaperspektif dalam menetapkan sebuah nilai
numerik. Salah satu cara untuk mempertimbangkan hal ini adalah dengan
menggunakannya sebagai skalaseperti:
0 = tidak ada
1 = beberapa
2 = lebih (lebih parah, lebih gawat, lebih banyak, dll)
3 = paling
Misalnya, jika kematian prematur sedang digunakan untukmenentukan
keparahan, kemudian kematian bayi mungkin akan menjadi 5 dan gonorea akan
menjadi 0
c. Komponen C - Efektivitas dari Intervensi
Komponen ini harus dianggap sebagai "Seberapa baikkan masalahini dapat
diselesaikan?" Faktor tersebut mendapatkan skor dengan angkadari 0 - 10.
Komponen ini mungkin merupakan komponen formula yang paling subyektif.
Terdapat sejumlah besar data yang tersedia dari penelitian-penelitian yang
mendokumentasikan sejauh mana tingkat keberhasilan sebuah intervensi selama
ini.
Efektivitas penilaian, yang dibuat berdasarkan tingkat keberhasilanyang
diketahui dari literatur, dikalikan dengan persen dari target populasiyang
diharapkan dapat tercapai.
Contoh:
Berhenti Merokok
Target populasi 45.000 perokok
Total yang mencoba untuk berhenti 13.500
Efektivitas penghentian merokok 32% atau 0,32
Target populasi x efektivitas 0,30 x 0,32 = 0,096 atau 0,1 atau 1
Contoh:
ImunisasiTarget populasi 200.000
Jumlah yang terimunisasi yang diharapkan 193.000
Persen dari total 97% atau 0,97
Efektivitas 94% atau 0,94
Populasi yang tercapai x efektivitas 0,97 x 0,94 = 0,91 atau 9,1
Sebuah keuntungan dengan mempertimbangkan populasi target dan
jumlah yang diharapkan adalah akan didapatkannya perhitungan yangrealistis
mengenai sumber daya yang dibutuhkan dan kemampuan yang diharapkan
untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan.
d. Komponen D – PEARL
PEARL yang merupakan kelompok faktor itu, walaupun tidak
secaralangsung berkaitan dengan masalah kesehatan, memiliki pengaruh
yangtinggi dalam menentukan apakah suatu masalah dapat diatasi.
P – Propierity/Kewajaran. Apakah masalah tersebut berada pada
lingkupkeseluruhan misi kita?
E – Economic Feasibility/Kelayakan Ekonomis. Apakah denganmenangani
masalah tersebut akan bermakna dan memberi arti secara ekonomis? Apakah
ada konsekuensi ekonomi jika masalah tersebut tidak diatasi?
A – Acceptability. Apakah dapat diterima oleh masyarakat dan / atau
targetpopulasi?
R – Resources/Sumber Daya. Apakah tersedia sumber daya untukmengatasi
masalah?
L – Legalitas. Apakah hukum yang ada sekarang memungkinkan
masalahuntuk diatasi?
Masing-masing faktor kualifikasi dipertimbangkan, dan angka untuk
setiap faktor PEARL adalah 1 jika jawabannya adalah "ya" dan 0 jika
jawabannya adalah "tidak." Bila penilaian skor telah lengkap/selesai, semua
angka-angka dikalikan untuk mendapatkan jawaban akhir terbaik. Karena
bersama-sama, faktor-faktor ini merupakan suatu produk dan bukan
merupakan jumlah. Singkatnya, jika salah satu dari lima faktor yang
"tidak",maka D akan sama dengan 0. Karena D adalah pengali akhir dalam
rumus ,maka jika D = 0, masalah kesehatan tidak akan diatasi dibenahi dalam
OPR,terlepas dari seberapa tingginya peringkat masalah di BPR. Sekalipun
demikian, bagian dari upaya perencanaan total mungkin termasuk melakukan
langkah-langkah lanjut yang diperlukan untuk mengatasi PEARLsecara positif
di masa mendatang. Misalnya, jika intervensi tersebut hanya tidak dapat
diterima penduduk, dapat diambil langkah-langkah bertaha puntuk mendidik
masyarakat mengenai manfaat potensial dari intervensi,sehingga dapat
dipertimbangkan di masa mendatang.
b. Metode Matematika
Metode ini dikenal juga sebagai metode PAHO (Pan American Health
Organization, karena digunakan dan dikembangkan di wilayah Amerika Latin.
Metode ini mempergunakan: (a) Luasnya masalah (magnitude), (b) Beratnya
kerugian yang timbul (Severity), (c) Tersedianya sumberdaya untuk mengatasi
masalah kesehatan tersebut (vulnerability), (d) Kepedulian/dukungan politis dan
dukungan masyarakat (community and political concern), (e) Ketersediaan
(affordability) untuk menentukan prioritas masalah kesehatan di suatu wilayah.
a. Magnitude
Magnitude masalah menunjukkan berapa banyak penduduk yang terkena
masalah atau penyakit tersebut. Ini ditunjukkan oleh angka prevalensi atau
insidensi penyakit. Makin luas atau banyak penduduk terkena atau semakin tinggi
prevalen, maka semakin tinggi prioritas yang diberikan pada penyakit tersebut
b. Severity
Severity adalah besar kerugian yang ditimbulkan. Pada masa lalu yang dipakai
sebagai ukuran severity adalah Case Fatality Rate (CFR) masing-masing
penyakit. Sekarang severity tersebut bisa juga dilihat dari jumlah disability days
atau disability years atau disesase burden yang ditimbulkan oleh penyakit
bersangkutan. HIV/AIDS misalnya akan mendapat nilai skor tinggi dalam skala
prioritas yaitu dari sudut pandang severity ini.
c. Vulnerability
Vulnerability menunjukan sejauh mana tersedia teknologi atau obat yang efektif
untuk mengatasi masalah tersebut. Tersedianya vaksin cacar yang sangat efektif
misalnya, merupakan alasan kuat kenapa penyakit cacar mendapat prioritas tinggi
pada masa lalu. Sebaliknya dari segi vulnerability penyakit HIV/AIDS
mempunyai nilai prioritas rendah karena sampai sekarang belum ditemukan
teknologi pencegahan maupun pengobatannya. Vulnerability juga bisa dinilai
dari tersedianya infrastruktur untuk melaksanakan program seperti misalnya
ketersediaan tenaga dan peralatan.
d. Affordability
Affordability menunjukkan ada tidaknya dana yang tersedia. Bagi negara
majumasalah dana tidak merupakan masalah akan tetapi di negara berkembang
seringkali pembiayaan program kesehatan tergantung pada bantuan luar negeri.
Kadang kala ada donor yang mengkhususkan diri untuk menunjang program
kesehatan atau penyakit tertentu katakanlah program gizi, HIV/AIDS dan lainnya.
Dalam penerapannya, masing-masing kriteria diberi skor dengan nilai ordinal,
misalnya angka 1 menyatakan terendah dan angka 5 menyatakan nilai tertinggi.
Pemberian skor ini dilakukan oleh panel expert yang memahami masalah
kesehatan dalam forum curah pendapar. Setelah diberi skor, masing-masing
penyakit dihitung nilai skor akhirnya dengan mengalikan antara nilai skor
masing-masing kriteria untuk penyakit tersebut. Perkalian ini dilakukan agar
perbedaan nilai skor akhir antara masalah menjadi sangat kontras, sehingga
terhindar keraguan manakala perbedaan skor tersebut terlalu tipis. Contoh
simulasi untuk perhitungan menggunakan metode ini dijelaskan sebagai berikut.

Dari tabel ini didapatkan angka skor tertinggi adalah 216 maka penyakit TB
Paru menjadi prioritas 1 dan angka 144 penyakit malaria mendapat prioritas
masalah kesehatan nomor 2 dan begitu seterusnya.
Ada beberapa kelemahan dan kritikan terhadap metode tersebut. Pertama
penentuan nilai skor sebetulnya didasarkan pada penilaian kualitatif atau keilmuan
oleh para pakar yang bisa saja tidak objektif, kedua masih kurang spesifiknya
kriteria penetuan pakar tersebut. Kelebihan cara ini adalah mudah dilakukan dan
bisa dilakukan dalam tempo relatif cepat. Disamping itu dengan metode ini
beberapa kriteria penting sekaligus bisa dimasukkan dalam pertimbangan
penentuan prioritas.
1.3 Tabulasi Data
Penyusunan data ke dalam bentuk tabel. Tujuan tabulasi adalah agar data mudah
disusun, dijumlah, dan mempermudah penataan data untuk disajikan serta dianalisis. Proses
pembuatan tabulasi bisa dilakukan dengan metode tally, menggunakan kartu, ataupun
menggunakan komputer.
Pembuatan tabel yang berisikan berbagai data yang sudah diberi kode sesuai dengan
analisis yang dibutuhkan. Macam-macam tabulasi data antara lain:
a. Tabel analisis yaitu tabel yang berisi informasi yang sudah dianalisa.
b. Tabel pemindahan, yang berfungsi sebagai arsip, yaitu tabel yang digunakansebagai
tempat untuk memindahankan kode dari pencatatan pengamatan atau kuisioner. Tabel ini
berfungsi sebagai arsip.
c. Tabel biasa yaitu tabel yang disusun berdasarkan tujuan tertentu dan sifat responden
tertentu.
1.4 Tehnik Pengumpulan Data
1) Tehnik Observasi
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap
gejala yang tampak pada suatu penelitian. Pengamatan dan pencatatan ini dilakukan
terhadap objek di tempat terjadi/berlangsungnya peristiwa.
a. Observasi Langsung: observasi yang dilakukan dimana observer berada bersama
objek yang diselidiki.
b. Observasi tidak langsung: observasi yang dilakukan tidak pada saat berlangsungnya
suatu peristiwa yang akan diteliti, misalnya dilakukan melalui film, rangkaian slide,
atau foto.
2) Tehnik Komunikasi
a. Tehnik komunikasi langsung (interview/wawancara) : suatu interaksi dan
komunikasi verbal dengan tujuan untuk mendapatkan informasi penting yang
diinginkan.interview merupakan alat pengumpul informasi dengan cara mengajukan
pertanyaan secara lisan dan dijawab secara lisan pula melalui kontak langsung dan
tatap muka. Jenis-jenis wawancara sebagai berikut:
 Wawancara terstruktur: pertanyaan dan alternative jawaban telah ditetapkan lebih
dulu, jawaban lebih mudah dikelompokkan dan dianalisis.
 Wawancara tak terstruktur: bersifat informal. Luwes, disesuaikan dengan subjek
dan suasana.
b. Tehnik komunikasi tidak langsung (angket/kuesioner): angket atau kuesioner
merupakan alat pengumpul informasi dengan cara menyampaikan sejumlah
pertanyaan tertulis untuk dijawab secara tertulis oleh responden.
3) Tehnik Pengukuran
a. Tes: seperangkat rangsangan atau stimulus yang diberikan kepada seseorang dengan
maksud untuk mendapat jawaban yang dapat dijadikan dasar penetapan skor angka.
Jenis tes antara lain:
 Tes lisan
 Tes tertulis (esai, objektif-benarsalah, pilihan ganda, menjodohkan, melengkapi,
jawaban singkat)
b. Daftar inventori kepribadian: dimaksudkan untuk mendapat ukuran kepribadian dari
objek penelitian. Para subjek diberi bermacam-macam pernyataan yang
menggambarkan pola tingkah laku, diminta untuk menunjukkan apakah tiap
pernyataan merupakan ciri tingkah laku mereka dengan cara memberi tanda cek pada
jawaban.
c. Tehnik proyektif: ukuran yang dilakukan dengan meminta seseorang memberikan
respon kepada suatu stimulus yang bermakna ganda atau yang tak tersusun. Banyak
digunakan oleh ahl jiwa klinis untuk mempelajari dan menetapkan diagnosis orang
yang mendpat gangguan emosional.
d. Skala: seperangkat nilai angka yang ditetapkan kepada subjek, objek/tingkah lkau
dengan tujuan mengukur sifat. Skala biasa digunakan untuk mengukur sifat nilai dan
minat. Macam-macam skala natara lain:
 skala likert (summated rating scale): sejumlah pertanyaan positif dan negative
mengenai suatu objek sikap.
 Skala Thurstone: mengembangkan suatu metode untuk menentukan skala tertentu
pada hal-hal yang mewakili berbagai tingkat sikap yang menyenagkan.
 Skala guttman: skala berdimendi tunggal. Suatu sikap dianggap berdimensi tunggal
hanya kalau sikap itu menghasilan skala kumulatif yaitu skala yang butirnya
berkaitan satu sama lain ehingga seorang subjek yang setuju dengan pertanyaan
juga setuju dengan pernyataan.
 Skala perbedaan makna (Sementic differential scale): didasarkan pada pandangan
bahwa objek mempunyai dua mavam makna bagi seseorang yaitu makna denotative
dan konotatif.
4) Tehnik Sosiometris
Tehnik ini digunkaan untuk mempelajari organisasi kelompok kecil. Prosedur dasarnya
dapat berupa permintaan para anggota untuk mengurutkan teman pilihannya menurut
kriteria tertentu.
5) Tehnik Dokumenter
Cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis seperti arsip, termasuk juga buku
tentang teori, pendapat, dalil, hukum. Merupakan alat pengumpul data utama pada
penelitian kualitatif karena pembuktian hipotesisnya diajukan secara logis dan rasional
melalui pendapat dan teori.
1.4 Contoh Identifikasi Masalah dan Tabulasi Data
Pengembangan Indeks Kejadian Tuberculosis Resisten Obat (TB-MDR)
Di Kabupaten Gresik Jawa Timur
Multidrug resistance merupakan salah satu hambatan dalam pelaksanaan program

penanggulangan TB di Indonesia. Kabupaten Gresik termasuk merupakan kabupaten dengan

kasus TB – MDR tertinggi di Jawa Timur. Namun, Kabupaten Gresik tidak termasuk ke dalam

kabupaten dengan kasus TB regular tertinggi di Jawa Timur. Hal ini merupakan fakta yang

menarik, pada umumnya jumlah penderita TB – MDR diikuti dengan jumlah TB reguler yang

tinggi pula. Penderita TB – MDR harus menjalani pengobatan selama 2 tahun. Selain itu,

penderita TB – MDR harus mendapat injeksi selama 6 bulan dan obat minum minimal 4 macam

obat lini kedua yang masih sensitif setiap hari selama 18 bulan setelah konversi (Hudoyo,

2012).

Terdapat beberapa penelitian yang telah dilakukan untuk mengetahui faktor risiko

terjadinya TB – MDR. Kejadian TB – MDR erat kaitannya dengan perilaku dari penderita TB

itu sendiri. Berdasarkan teori segitiga epidemiologi, terjadinya penyakit dipengaruhi oleh

faktor agent, host dan environment. Sedangkan berdasarkan teori web of causation, kejadian

penyakit umumnya berkaitan dengan sejumlah penyebab. Faktor utama penyebab terjadinya

resistensi kuman terhadap OAT adalah ulah manusia sebagai akibat tatalaksana pengobatan

pasien TB yang tidak dilaksanakan dengan baik. Penatalaksanaan pasien TB yang tidak adekuat

tersebut dapat ditinjau dari sisi petugas, pasien dan program pengendalian TB (Kemenkes,

2014).

TB – MDR primer disebabkan jika seseorang terinfeksi dengan bakteri TB resisten

obat. Prevalensi tinggi pada TB resisten obat disuatu komunitas, akan meningkatkan paparan

TB resisten obat di komunitas tersebut. Seseorang yang terinfeksi kuman TB yang sudah

resistensi terhadapap OAT, maka orang tersebut akan langsung terinfeksi kuman TB yang
sudah resisten terhadap OAT. Kondisi lingkungan penderita yang kurang baik, seperti kondisi

lingkungan rumah kurang baik dan kepadatan hunian, merupakan faktor yang dapat

menyebabkan transmisi bakteri resisten obat (WHO, 2014). Hal ini serupa dengan penelitian

yang dilakukan oleh Elizabeth, et al. (2003), yang menyatakan bahwa salah satu faktor risiko

terjadinya TB – MDR yaitu ventilasi rumah penderita yang kurang baik.

Perilaku dari individu sangat mempengaruhi status sehat seseorang. Perilaku kesehatan

adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sakit dan

penyakit. Perilaku seseorang untuk melakukan imunisasi, tidak merokok dan tidak minum

minuman keras merupakan salah satu contoh dari perilaku sehat. Vaksin BCG dapat mencegah

infeksi TB pada anak dan dapat mengurangi resiko infeksi paru pada anak – naka dan orang

dewasa. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Andriyanti (2014), riwayat imunisasi

BCG terbukti sebagai faktor risiko terjadinya TB - MDR. Penelitian yang dilakukan oleh

Elizabeth, et al. (2003) menyatakan bahwa faktor risiko terjadinya TB-MDR yaitu kebiasaan

penderita TB meminum alkohol dan merokok.

Penelitian yang dilakukan oleh Feleke, et al. (2015) menyatakan bahwa riwayat

pengobatan sebelumnya mempunyai hubungan terhadap kejadian TB-MDR. Herlina (2013)

melakukan kajian literatur bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TB - MDR

yaitu riwayat pengobatan dan efek samping obat. Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui

faktor risiko TB – MDR menunjukkan hasil hampir semua penenlitian menyatakan riwayat

pengobatan penderita merupakan faktor risiko terjadinya TB – MDR. Salah satu efek samping

mengkonsumsi obat TB yaitu gangguan pencernaan. Seseorang penderita TB yang mengalami

gangguan pencernaan, akan meningkatkan resiko penderita tersebut untuk tidak melanjutkan

pengobatan TB. Mulyono (2014) menjelaskan bahwa penyakit penyerta HIV/AIDS pada

pasien TB merupakan faktor risiko terjadinya TB-MDR. Selain itu, penderita TB dengan DM

juga merupakan faktor risiko terjadinya TB-MDR. Peneltian yang dilakukan oleh Simion
(2007), pada penderita TB dengan DM dijumpai MDR-TB sebanyak 8 orang, berbeda pada

penderita TB tanpa DM ditemukan TB-MDR sebanyak 1 orang. Resiko relatif terjadinya TB-

MDR pada penderita TB dengan DM sebesar 11,3 kali.

Faktor lain yang menyebabkan terjadinya TB – MDR yaitu ketersediaan PMO

(Andriyanti, 2014, Sondakh, 2014). PMO pada penderita TB bertugas untuk mengawasi agar

OAT benar – benar diminum oleh penderita. Selain itu, motivasi dari PMO dan keluarga

merupakan hal yang sangat penting bagi keteraturan penderita TB dalam meminum OAT.

Motivasi yang rendah selama pengobatan merupakan faktor risiko terjadinya TB-MDR

(Mulyono, 2014). Motivasi penderita TB juga dipengaruhi oleh waktu tempuh penderita TB

dari rumah menuju ke fasilitas kesehatan. Penelitian mengenai karakteristik penderita TB MDR

sangat diperlukan untuk mengetahui profil dan keadaan penderita TB di sebuah fasilitas

pelayanan kesehatan. Karakteristik responden yang akaln diteliti dalam penelitian ini yaitu

umur, jenis kelamin, pendidikan, jenis pekerjaan dan jumlah pendapatan keluarga penderita

TB.

Untuk mencegah semakin meningkatnya kejadian TB – MDR, maka perlu diketahui

faktor risiko terjadinya TB – MDR. Sondakh (2014) pernah melakukan penelitian mengenai

faktor determinan kejadian TB – MDR berdasarkan sosio-demografi dan penyakit di Surabaya.

Kelemahan dari penelitian yang telah dilakukan yaitu menggunakan data sekunder, sehingga

terdapat beberapa variabel yang menjadi faktor risiko terjadi TB – MDR yang tidak diteliti.

Faktor risiko terjadinya TB – MDR dapat dirumuskan menjadi indeks (kumpulan dari beberapa

indikator) yang berguna untuk mencegah semakin meningkatnya kejadian TB – MDR.

 Mengidentifikasi Masalah Melalui Focus Group Disscussion (FGD)


Menurut asal usul katanya FGD merupakan Bahasa inggris yang kepanjangannya
adalah Focus Group Discussion. Jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti
diskusi grup terarah. FGD bisa juga disebut sebagai metode dan tehnik pengumpulan data
kualitatif dengan cara melakukan wawancara kelompok. Guna memperoleh pengertian yang
lebih seksama, kiranya FGD dapat didefinisikan sebagai suatu metode dan tehnik dalam
mengumpulkan data kualitatif di mana sekelompok orang berdiskusi tentang suatu focus
masalah atau topik tertentu dipandu oleh seorang fasilitator atau moderator.
 Karakteristik FGD
a. FGD diikuti oleh para peserta yang idealnya terdiri dari 7-11 orang. Kelompok
tersebut harus cukup kecil agar memungkinkan setiap individu mendapat
kesempatan mengeluarkan pendapatnya, sekaligus agar cukup memperoleh
pandangan dari anggota kelompok yang bervariasi. Dalam jumlah relatif
terbatas ini diharapkan juga penggalian masalah melalui diskusi atau
pembahasan kelompok dapat dilakukan secara relatif lebih memadai. Kenapa
jumlahnya lebih baik berbilangan ganjil, agar manakala FGD harus mengambil
keputusan yang akhirnya perlu voting sekalipun, maka dengan jumlah itu bisa
lebih membantu kelompok untuk melakukannya. Namun harus dipahami, soal
jumlah ini bukanlah pembatasan yang mengikat atau mutlak sifatnya.
b. Peserta FGD terdiri dari orang-orang dengan ciri-ciri yang sama atau relatif
homogen yang ditentukan berdasarkan tujuan dan kebutuhan studi atau proyek.
Kesamaan ciri-ciri ini seperti: persamaan gender, tingkat pendidikan, pekerjaan
atau persamaan status lainnya. Contohnya dalam melakukan monitoring dan
evaluasi program Jaring Pengaman Sosial Bidang Kesehatan (JPS-BK), maka
FGD dapat dilakukan pada beberapa kelompok, antara lain:
(1) kelompok petugas Puskesmas;
(2) kelompok keluarga pemegang kartu sehat dan;
(3) kelompok keluarga miskin tidak memiliki kartu sehat.
Akan lebih baik jika di antara peserta FGD itu berciri-ciri sama tetapi
sebelumnya tidak saling mengenal. Jika syarat peserta sebelumnya tidak saling
mengenal ini sulit ditemukan, maka fasilitator perlu mengatasi kemungkinan
diskusi dan penyampaian pendapat peserta dipengaruhi oleh pengalaman
interaksi mereka sebelumnya.
c. FGD merupakan sebuah proses pengumpulan data dan karenanya
mengutamakan proses. FGD tidak dilakukan untuk tujuan menghasilkan
pemecahan masalah secara langsung ataupun untuk mencapai konsesus. FGD
bertujuan untuk menggali dan memperoleh beragam informasi tentang masalah
atau topik tertentu yang sangat mungkin dipandang secara berbeda-beda dengan
penjelasan yang berbeda pula. Kecuali apabila masalah atau topik yang
didiskusikan tentang pemecahan masalah, maka FGD tentu berguna untuk
mengidentifikasi berbagai strategi dan pilihan-pilihan pemecahan masalah.
d. FGD adalah metode dan teknik pengumpulan data kualitatif. Oleh sebab itu di
dalam metode FGD biasanya digunakan pertanyaan terbuka (open ended) yang
memungkinkan peserta memberi jawaban dengan penjelasan- penjelasan.
Fasilitator berfungsi selaku moderator yang bertugas sebagai pemandu,
pendengar, pengamat dan menganalisa data secara induktif.
e. FGD adalah diskusi terarah dengan adanya fokus masalah atau topik yang jelas
untuk didiskusikan dan dibahas bersama. Topik diskusi ditentukan terlebih
dahulu. Pertanyaan dikembangkan sesuai topik dan disusun secara berurutan
atau teratur alurnya agar mudah dimengerti peserta. Fasilitator mengarahkan
diskusi dengan menggunakan panduan pertanyaan tersebut.
f. Lamanya waktu yang dibutuhkan untuk melakukan Diskusi Kelompok Terarah
(FGD) ini berkisar antara 60 sampai dengan 90 menit. Jika waktu terlalu pendek
dikhawatirkan diskusi dan pembahasan masih terlalu dangkal sehingga data
yang diperoleh sangat terbatas. Sedangkan jika waktu terlalu lama,
dikhawatirkan peserta lelah, bosan atau sangat menyita waktu sehingga
berpengaruh terhadap konsentrasi dan perhatian peserta.
g. Dalam suatu studi yang menggunakan FGD, lazimnya FGD dilakukan beberapa
kali. Jumlahnya tergantung tujuan dan kebutuhan proyek serta pertimbangan
teknis seperti ketersediaan dana dan apakah masih ada informasi baru yang
perlu dicari. Kegiatan FGD yang pertama kali dilakukan biasa memakan waktu
lebih panjang dibandingkan FGD selanjutnya karena pada FGD pertama
sebagian besar informasinya baru.
h. FGD sebaiknya dilaksanakan di suatu tempat atau ruang netral disesuaikan
dengan pertimbangan utama bahwa peserta dapat secara bebas dan tidak merasa
takut untuk mengeluarkan pendapatnya. Misalnya, dalam melakukan studi
monitoring dan evaluasi program pelayanan kesehatan, puskesmas mungkin
cocok dijadikan lokasi FGD dengan kelompok petugas kesehatan, tetapi kurang
cocok dijadikan tempat FGD dengan kelompok masyarakat untuk membahas
persepsi dan sikap tentang pelayanan kesehatan. Di pedesaan biasanya tempat
yang netral untuk melakukan FGD seperti: sekolah, gedung pertemuan desa dan
tempat posyandu. Sedangkan rumah-rumah ibadah sering kurang cocok
dijadikan tempat FGD karena dapat mempengaruhi keleluasaan dan kebebasan
peserta dalam menyampaikan pandangan atau pendapatnya.
 Melalui FGD tersebut didapat beberapa kemungkinan masalah sebagai berikut:
Jumlah penderita TB-MDR di Kabupaten Gresik Jawa Timur tidak mengalami
penurunan walaupun telah dilaksanakannya program pemerintah selama beberapa tahun.
Hal ini kemungkinan akibat beberapa faktor berikut:
a. Adanya efek samping dari penggunan obat antituberkulosis (OAT)
b. Tatalaksana pengobatan pasien yang tidak adekuat
c. Pasien memiliki kebiasaan merokok dan meminum alcohol
d. Keadaan lingkungan yang kurang baik dan padat hunian
Dari beberapa masalah di atas, akan diambil satu prioritas masalah menggunakan Metode
Delbecq, yaitu penetapan prioritas masalah dilakukan melalui kesepakatan sekelompok yang
tidak sama keahliannya. Sehingga diperlukan penjelasan terlebih dahulu untuk meningkatkan
pengertian dan pemahaman peserta tanpa mempengaruhi peserta. Peserta diminta untuk
memberikan skoring terhadap kemungkinan masalah diatas yang lebih prioritas, artinya lebih
berpeluang terjadi di kalangan penderita dan lebih mungkin untuk diadakan intervensi lanjutan.
Dari skoring yang dilakukan oleh para peserta, didapatkan ranking sebagai berikut:
a. Adanya efek samping dari penggunan obat antituberkulosis (OAT) (25%)
b. Tatalaksana pengobatan pasien yang tidak adekuat (45%)
c. Pasien memiliki kebiasaan merokok dan meminum alcohol (20%)
d. Keadaan lingkungan yang kurang baik dan padat hunian (10%)
Dapat dilihat bahwa tatalaksana pengobatan pasien yang tidak adekuat merupakan
masalah utama penyebab stabilnya angka kejadian TB-MDR di Kabupaten Gresik Jawa Timur.
Sehingga para pakar atau fasilitator kesehatan maupun pemerintah dapat melakukan intervensi
lanjutan terhadap masalah tersebut.
 Contoh Tabulasi Data