Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

KEPERAWATAN ANAK
DENGAN CAMPAK

A. DEFINISI
Campak adalah organisme yang sangat menular ditularkan melalui rute udara dari
seseorang yang terinfeksi pada orang lain yang rentan (Smeltzer,2013). Penyakit campak
adalah penyakit menular dengan gejala kemerahan berbentuk mukolo papular selama tiga
hari atau lebih yang disertai panas 380cata lebih dan disertai salah satu gejala batuk,
pilek, dan mata merah (WHO,2009).
Morbili ialah penyakit infeksi virus akut, menular yang ditandai dengan 3 stadium,
yaitu stadium kataral, stadium erupsi dan stadirum konvelensi. (Ngastiyah, 1997:351)
B. ETIOLOGI
Penyebab penyakit ini adalah sejenis virus yang tergolong dalam famili
paramyxovirus yaitu genus virus morbili. Virus ini sangat sensitif terhadap panas dan
dingin, dan dapat diinaktifkan pada suhu 30oC dan -20oC, sinar matahari, eter, tripsin,
dan beta propiolakton. Sedang formalin dapat memusnahkan daya infeksinya tetapi tidak
mengganggu aktivitas komplemen. (Rampengan, 1997 : 90-91)
Penyebab morbili adalah virus morbili yang terdapat dalam sekret nasofaring dan
darah selama masa prodromal sampai 24 jam setelah timbul bercak-bercak, cara penularan
dengan droplet dan kontak (Ngastiyah, 1997:351)
Campak adalah suatu virus RNA, yang termasuk famili Paramiksoviridae, genus
Morbilivirus. Dikenal hanya 1 tipe antigen saja; yang strukturnya mirip dengan virus
penyebab parotitis epidemis dan parainfluenza. Virus tersebut ditemukan di dalam sekresi
nasofaring, darah dan air kemih, paling tidak selama periode prodromal dan untuk waktu
singkat setelah munculnya ruam kulit. Pada suhu ruangan, virus tersebut dapat tetap aktif
selama 34 jam. (Nelson, 1992 : 198).
C. PATOFISIOLOGI
Gejala awal ditunjukkan dengan adanya kemerahan yang mulai timbul pada bagian
belakang telinga, dahi, dan menjalar ke wajah dan anggota badan. Selain itu, timbul gejala
seperti flu disertai mata berair dan kemerahan (konjungtivis). Setelah 3-4 hari, kemerahan
mulai hilang dan berubah menjadi kehitaman yang akan tampak bertambah dalam 1-2
minggu dan apabila sembuh, kulit akan tampak seperti bersisik. (Supartini, 2002 : 179).
Penularannya sangat efektif, dengan sedikit virus yang infeksius sudah dapat
menimbulkan infeksi pada seseorang.
Penularan campak terjadi melalui droplet melalui udara, terjadi antara 1-2 hari
sebelum timbul gejala klinis sampai 4 hari setelah timbul ruam. Di tempat awal infeksi,
penggadaan virus sangat minimal dan jarang dapat ditemukan virusnya. Virus masuk
kedalam limfatik lokal, bebas maupun berhubungan dengan sel mononuklear mencapai
kelenjar getah bening lokal. Di tempat ini virus memperbanyak diri dengan sangat
perlahan dan dari tempat ini mulailah penyebaran ke sel jaringan limforetikular seperti
limpa.
Sel mononuklear yang terinfeksi menyebabkan terbentuknya sel raksasa berinti
banyak Sedangkan limfosit T meliputi klas penekanan dan penolong yang rentan terhadap
infeksi, aktif membelah. Gambaran kejadian awal di jaringan limfoid masih belum
diketahui secara lengkap, tetapi 5-6 hari setelah infeksi awal, fokus infeksi terwujud yaitu
ketika virus masuk kedalam pembuluh darah dan menyebar ke permukaan epitel
orofaring, konjungtiva, saluran napas, kulit, kandung kemih, usus.Pada hari ke 9-10 fokus
infeksi yang berada di epitel aluran nafas dan konjungtiva, 1-2 lapisan mengalami
nekrosis. Pada saat itu virus dalam jumlah banyak masuk kembali ke pembuluh darah dan
menimbulkan manifestasi klinik dari sistem saluran napas diawali dengan keluhan batuk
pilek disertai selaput konjungtiva yang tampak merah.
Respon imun yang terjadi adalah proses peradangan epitel pada sistem saluran
pernapasan diikuti dengan manifestasi klinis berupa demam tinggi, anak tampak sakit
berat dan ruam yang menyebar ke seluruh tubuh, tanpa suatu ulsera kecil pada mukosa
pipi yang disebut bercak koplik. Muncul ruam makulopapular pada hari ke-14 sesudah
awal infeksi dan pada saat itu antibody humoral dapat dideteksi. Selanjutnya daya tahan
tubuh menurun, sebagai akibat respon delayed hypersensitivity terhadap antigen virus
terjadilah ruam pada kulit, kejadian ini tidak tampak pada kasus yang mengalami defisit
sel-T. Fokus infeksi tidak menyebar jauh ke pembuluh darah. Vesikel tampak secara
mikroskopik di epidermis tetapi virus tidak berhasil tumbuh di kulit. Daerah epitel yang
nekrotik di nasofaring dan saluran pernapasan memberikan kesempatan serangan infeksi
bakteri sekunder berupa bronkopneumonia, otitis media dan lain-lain. Dalam keadaan
tertentu adenovirus dan herpes virus pneumonia dapat terjadi pada kasus campak.
PATHWAY/Pohon Masalah

Virus morbili

Droplet infection

Eksudat yang serius, droliferasi sel mononukleus, polimorfonukleus

Penyebaran ke berbagai organ melalui hematogen

Reaksi inflamasi: demam, suhu naik, metabolisme Hipertermi


naik, RR naik,

Saluran cerna Inflamasi saluran nafas Kulit menonjol Konjungtiva


di sekitar
atas; bercak koplik pada radang
kelenjar sebasea
Bercak koplik mukosa bukalis meluas dan folikel
berwarna kelabu di rambut
kelilingi eritema ke jari trakeobronkial Konjungtivitis
pada mukosa
bukalis, berhadapan Eritema membentuk
pada molar, palatum Batuk, pilek, RR macula papula di kulit Gangguan
durum, mole meningkat, persepsi
produksi sekret
Rash, ruam pada balik sensori
telinga, leher, pipi, muka,
Mulut pahit Obstruksi saluran seluruh tubuh,
nafas Keterbatasan
deskuamasi rasa gatal informasi
Anorexia mengenai
penyakit
Bersihan jalan Kerusakan

Intake nutrisi kurang nafas tidak efektif integritas kulit

Hygiene Kurang
Perubahan nutrisi Rasa gatal, tidak
tidak dijaga nyaman, nyeri informasi
kurang dari kebutuhan

Deficit
perawatan Gangguan rasa
diri nyaman
D. MANIFESTASI KLINIS
Masa tunas/inkubasi penyakit berlangsung kurang lebih dari 10-20 hari dan kemidian
timbul gejala-gejala yang dibagi dalam 3 stadium :
1. Stadium kataral (prodormal)
Stadium prodormal berlangsung selama 4-5 hari ditandai oleh demamringa
hingga sedang, batuk kering ringan, coryza, fotofobia dankonjungtivitis. Menjelang
akhir stadium kataral dan 24 jam sebelum timbulenantema, timbul bercak koplik
yang patognomonik bagi morbili, tetapisangat jarang dijumpai. Bercak koplik
berwarna putih kelabu, sebesar ujungjarum dan dikelilingi oleh eritema.Lokalisasinya
dimukosa bukalisberhadapandengan molar dibawah, tetapi dapat menyebar tidak
teraturmengenai seluruh permukaan pipi. Meski jarang, mereka dapat puladitemukan
pada bagian tengah bibir bawah, langit-langit dan karankulalakrimalis. Bercak
tersebut muncul dan menghilang dengan cepat dalam waktu 12-18 jam. Kadang-
kadang stadium prodormal bersifat berat karenadiiringi demam tinggi mendadak
disertai kejang-kejang danpneumoni. Gambaran darah tepi ialah limfositosis dan
leukopenia.
2. Stadium erupsi
Coryza dan batuk-batuk bertambah. Timbul eritema / titik merahdipalatum
durum dan palatum mole. Terjadinya eritema yang berbentukmakula papula disertai
dengan menaiknya suhu tubuh. Eritema timbuldibelakang telinga dibagian atas lateral
tengkuk, sepanjang rambut danbagian belakang bawah. Kadang-kadang terdapat
perdarahan primer padakulit. Rasa gatal, muka bengkak. Terdapat pembesaran
kelenjar getah beningdisudut mandibula dan didaerah leher belakang. Juga terdapat
sedikitsplenomegali, tidak jarang disertai diare dan muntah. Variasi dari morbiliyang
biasa ini adalah “Black Measles” yaitu morbili yang disertai perdarahanpada kulit,
mulut, hidung dan traktus digestivus.
3. Stadium konvalesensi
Erupsi berkurang meninggalkan bekas yang berwarna lebih tua
(hiperpigmentasi) yang bisa hilang sendiri. Selain hiperpigmentasi pada
anakIndonesia sering ditemukan pula kulit yang bersisik. Hiperpigmentasi
inimerupakan gejala patognomonik untuk morbili. Pada penyakit-penyakit
laindengan eritema atau eksantema ruam kulit menghilang tanpahiperpigmentasi.
Suhu menurun sampai menjadi normal kecuali bila adakomplikasi.
E. PENATALAKSANAAN
Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam tinggi.
Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin diperlukan
humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batukmengganggu dan lebih baik
mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.
1. Penatalaksanaan Medis
Agar serangan campak tidak menjadi terlalu berat, kita bisa melakukan hal-hal
berikut berdasarkan fase-fasenya:
1) Masa Inkubasi
Fase inkubasi berlangsung sekitar 10-12 hari. Di fase ini agak sulit mendeteksi
infeksinya karena gejalanya masih bersifat umum bahkan tidak terlihat sama
sekali. Mungkin beberapa anak mengalami demam tetapi umumnya anak tidak
merasakan perubahan apa-apa. Bercak-bercak merah yang merupakan ciri khas
campak pun belum keluar.
Yang perlu dilakukan:
Jagalah keseimbangan gizi anak dengan baik agar daya tahan tubuhnya tetap
tinggi. Misalnya dengan makan sayur, buah, serta menjaga kebugaran tubuhnya.
Bila memang nantinya campak benar-benar menyerang kemungkinan terjadinya
tidak akan terlalu parah.
2) Fase Prodormal
Adalah fase dimana gejala penyakit sudah mulai timbul seperti flu, batuk,
pilek, dan demam. Mata anak pun akan tampak kemerah-merahan dan berair. Tak
hanya itu, anak tidak bisa melihat dengan jelas ke arah cahaya karena merasa
silau (photo phobia). Ciri lain, di sebelah dalam mulut muncul bintik-bintik putih
yang akan bertahan 3-4 hari. Beberapa anak juga mengalami diare. Satu-dua hari
kemudian timbul demam tinggi yang turun naik, berkisar 38-40,5° C. Di fase
kedua bercak merah belum muncul.
Yang perlu dilakukan:
Segeralah memeriksakan anak ke dokter ketika flu, batuk, pilek, dan demam
mulai muncul. Jangan sampai menunggu munculnya bercak-bercak merah karena
anak butuh pertolongan secepatnya. Tindakan cepat sangat membantu untuk
mengantisipasi beratnya penyakit.
3) Fase Makulopapuler
Fase makulopapuler yakni keluarnya bercak merah yang sering diiringi demam
tinggi antara 38-40,5°C. Awalnya, bercak ini hanya muncul di beberapa bagian
tubuh saja, biasanya di belakang telinga, leher, dada, wajah, tangan dan kaki.
Untuk membedakan dengan penyakit lain, umumnya warna bercak campak akan
sangat khas; merah dengan ukuran yang tidak terlalu besar tapi juga tidak terlalu
kecil.
Biasanya, bercak merah akan memenuhi seluruh tubuh dalam waktu satu
minggu meskipun hal ini tergantung pula pada daya tahan tubuh masing-masing
anak. Pada anak yang memiliki daya tahan tubuh baik umumnya bercak
merahnya hanya pada beberapa bagian saja. Tetapi pada anak yang memiliki daya
tahan tubuh lemah, bercak merahnya akan semakin banyak. Hal ini juga
menunjukkan kalau campak yang diderita anak termasuk berat.
Yang perlu dilakukan:
Tetaplah mengonsultasikan segala sesuatunya pada dokter. Biasanya dokter
akan mengusahakan agar bercak merah pada anak tidak sampai muncul di sekujur
tubuh. Bila memang sekujur tubuhnya dipenuhi bercak, ini berarti campaknya
cukup berat. Apalagi jika sudah muncul gejala komplikasi, maka konsultasikanlah
ke dokter apakah anak perlu dirawat atau tidak.
Sebagian masyarakat beranggapan bahwa semakin banyak bercak merah yang
tampak semakin bagus karena berarti anak akan cepat sembuh. Pendapat ini
keliru karena kita sebenarnya dituntut untuk lebih waspada. Tetapi bila diagnosis
sudah ditegakkan, dan tak ada komplikasi, anak cukup dirawat di rumah.
4) Fase Penyembuhan
Bila bercak merah sudah keluar, umumnya demam akan turun dengan
sendirinya. Selanjutnya bercak merah akan berubah menjadi kehitaman dan
bersisik, disebut hiperpigmentasi. Pada akhirnya bercak akan mengelupas atau
rontok atau sembuh dengan sendirinya. Umumnya, dibutuhkan waktu hingga 2
minggu sampai anak sembuh benar dari sisa-sisa campak.
Yang perlu dilakukan:
Tetap berikan obat yang sudah diberikan oleh dokter sambil menjaga asupan
makanan bergizi seimbang dan istirahat yang teratur. Jangan pernah beranggapan
kalau bercak merah sudah berkurang dan gejalanya sudah hilang berarti virus
campaknya sudah musnah. Kita tetap perlu melanjutkan pengobatan sampai anak
benar-benar sembuh.
2. Penatalaksanaan Teraupetik :
1) Pemberian vitamin A
2) Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik
3) Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi
4) Pemberian obat batuk dan sedativum
3. Penatalaksanaan Keperawatan :
1) Kebutuhan Nutrisi
Campak menyebabkan anak menderita malaise dan anoreksia. Anak
seringmengeluh mulut pahit sehingga tidak mau makan atau minum. Demam
yangtinggi menyebabkan pengeluaran cairan lebih banyak. Keadaan ini jika
tidakdiperhatikan agar anak mau makan ataupun minim akan menambah
kelemahan tubuhnya dan memudahkan timbulnya komplikasi.
2) Gangguan suhu tubuh
Campak selalu didahului demam tinggi. Demam yang disebabkan infeksi
virus ini pada akhirnya akan turun dengan sendirinya setelah campaknya
keluarbanyak, kecuali bila terjadi komplikasi demam akan tetap berlangsung
lebihlama. Untuk menurunkan suhu tubuh biasanya diberikan antipiretik dan
jikatinggi sekali diberiakan sedative untuk mencegah terjadinya kejang.
3) Gangguan rasa aman nyaman
Gangguan ini dirasakan anak karena adanya demam, tak enak badan,
pusing, mulut terasa pahit dan kadang muntah-muntah. Biasanya anak juga
tidaktahan meluhat sinar karena silau, batuk bertambah banyak dan akan
berlangsunglebih lama dari campaknya sendiri. Anak kecil akan sangat rewel,
pada waktumalam anak sering minta digendong saja. Jika eksantem telah keluar
anak akanmerasa gatal, hal ini juga menambah gangguan aman dan kenyamanan
anak.Untuk mengurangi rasa gatal tubuh anak dibedaki dengan bedak salisil 1%
ataulainnya (atas resep dokter). Selama masih demam tinggi jangan
dimandikantetapi sering-sering dibedaki saja.
4) Resiko terjadinya komplikasi
Campak sering menyebabkan daya tahan tubuh sangat menurun. Hal ini
dapat dibuktikan dengan uji tuberculin yang semula positif berubah
menjadinegatif. Ini menunjukkan bahwa antigen antibodi pasien sangat
kurangkemampuannya untuk bereaksi terhadap infeksi. Oleh karena itu,
risikoterjadinya komplikasi lebih besar terutama jika keadaan umum anak
kurangbaik, seperti pada pasien dengan malnutrisi atau dengan penyakit kronik
lainya.
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium
Darah tepi: jumlah leukosit normal atau meningkat jika ada komplikasi infeksi
bakteri. Dapat disertai leukopenia, limfopenia.
2. Pemeriksaan yang perlu dilakukan jika disertai komplikasi:
a. Ensefalopati : pemeriksaan cairan serebrospinalis, kadar elektrolit darah, dan
analisis gas darah.
b. Enteritis : feses lengkap.
c. Bronkopneumonia : pemeriksaan foto dada dan analisis gas darah.
3. Pemeriksaan imaging
Pemeriksaan foto dada (chest radiograph) seringkali menunjukkan gambaran
hyperinflation, perihilar infiltrates, atau parenchymal patchy, fluffy densities.
Konsolidasi sekunder atau efusi dapat juga terlihat (visible).
4. Pemeriksaan Sitologis : ditemukan sel raksasa pada lapisan mukosa hidung dan pipi.
5. Pemeriksaan Patologis
Dijumpai distribusi yang luas dari multinucleated giant cell akibat fusi sel-sel.
Multinucleated giant cell ini dapat ditemukan di sputum, sekresi nasal, dan sedimen
urin.
6. Pemeriksaan Serologi
a. Didapatkan IgM spesifik.
b. IgM lebih sensitif bila diperiksa antara hari ke-3 sampai hari ke-28 timbulnya
rash (ruam kemerahan).
c. Pemeriksaan serologis dengan cara hemagglutinin inhibition test dan complement
fixation test akan dijumpai adanya antibodi yang spesifik dalam waktu 1-3 hari
setelah timbul rash dan mencapai puncaknya 2-4 minggu kemudian. Tes ini
cukup praktis dan spesifik untuk mendiagnosis morbili atipik atau subklinik.
G. MASALAH KEPERAWATAN DAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi saluran nafas,
produksi secret, inflamasi saluran pernapasan atas
2) Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan rasa gatal, ruam pada kulit, eritema
3) Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi, kenaikann suhu tubuh.
4) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan reaksi inflamasi pada
saluran cerna, anoreksia, intake nutrisi tidak adekuat.
5) Gangguan sensori persepsi berhubungan dengan konjungtivitis
6) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ruam pasa balik telinga, leher, pipi,
muka, seluruh tubuh.
7) Deficit perawatan diri berhubungan dengan hygiene tidak terjaga.
8) Kurang informasi berhubungan dengan keterbatasan informasi mengenai penyakit.
H. ASKEP Secara TEORI
1. Pengkajian
1) Anamnesa
a. Identitas Klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur rentan pada anak berumur 1-14 th dengan
status gizi yang kurang dan sering mengalami penyakit infeksi, alamat, agama,
bahasa yang dipakai, status perkawinan, pendidikan, pekerjaan, asuransi, golongan
darah, no. register, tanggal MRS, diagnosa medis.
b. Identitas Penanggungjawab
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, alamat, agama, bahasa yang dipakai,
status perkawinan, pendidikan, pekerjaan,
2) Keluhan Utama
Keluhan utama pada pasien dengan morbili yaitu demam terus-menerus
berlangsung 2 – 4 hari (Pusponegoro, 2004: 96). Anak masuk rumahsakit biasanya
dengan keluhan adanya eritema dibelakang telinga, di bagian atas lateral tengkuk,
sepanjang rambut dan bagian belakang bawah, badan panas, enantema (titik merah)
dipalatum durum danpalatum mole.
3) Riwayat Kesehatan Dahulu
Anamnesa pada pengkajian apakah klien pernah dirawat di Rumah Sakitatau
pernah mengalami operasi (Potter, 2005: 185). Anamnesa riwayatpenyakit yang
pernah diderita pada masa lalu, riwayat imunisasi campak(Wong, 2003 : 657).
Anamnesa riwayat kontak dengan orang yangterinfeksi campak. (Suriadi, 2001 :
213). Biasanya Anak belum pernahmendapatkan vaksinasi campak dan pernah
kontak dengan pasiencampak.
4) Riwayat Kesehatan Sekarang
Anamnesa adanya demam terus-menerus berlangsung 2 – 4 hari, batuk,pilek,
nyeri menelan, mata merah, silau bila kena cahaya (fotofobia), diare, ruam kulit
(Pusponegoro, 2004: 96). Adanya nafsu makan menurun, lemah, lesu. (Suriadi, 2001:
213)
Pada anak yang terinfeksi virus campak biasanya ditanyakan pada orangtua
atau anak tentang kapan timbulnya panas, batuk, konjungtivitis,koriza, bercak koplik
dan enantema serta upaya yang telah dilakukanuntuk mengatasinya.
5) Riwayat Kesehatan Keluarga
Dapatkan data tentang hubungan kekeluargaan dan hubungan darah, apakah
klien berisiko terhadap penyakit yang bersifat genetik atau familial (Potter, 2005:
185).
6) Riwayat Imunisasi
Imunisasi apa saja yang sudah didapatkan misalnya BCG, POLIO I,II,III; DPT
I, II, III; dan campak.
7) Riwayat Nutrisi
Kebutuhan kalori 4-6 tahun yaitu 90 kalori/kg/hari. Pembatasan kalori untuk
umur 1-6 tahun 900-1300 kalori/hari. Untuk pertambahan berat badan ideal
menggunakan rumus 8 + 2n.
Status Gizi
Klasifikasinya sebagai berikut :
Gizi buruk kurang dari 60%
Gizi kurang 60 % - <80 %
Gizi baik 80 % - 110 %
8) Pengkajian Fungsional Gordon
a. Pola Persepsi dan Pemeliharaan Kesehatan
Pada kasus campak akan timbul demam, batuk, sakit kepala, dan
konjungtivitis. Dan harus menjalani penatalaksanaan kesehatan untuk membantu
penyembuhan kulitnya. Selain itu, pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup
klien seperti kontak langsung dengan penderita yang dapat mengganggu
kesehatan kulit (Ignatavicius, Donna D,1995).
b. Pola Nutrisi
Pada klien campak harus mengkonsumsi nutrisi melebihi kebutuhan sehari-
harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit. C, dan lainnya untuk membantu
proses penyembuhan kulit. Evaluasi terhadap pola nutrisi klien bisa membantu
menentukan penyebab masalah kulit.
c. Pola Eliminasi
Untuk kasus campak gangguan pada pola eliminasi, walaupun begitu perlu
juga dikaji frekuensi, konsistensi, warna serta bau feces pada pola eliminasi alvi.
Sedangkan pada pola eliminasi uri dikaji frekuensi, kepekatannya, warna, bau,
dan jumlah. Pada kedua pola ini juga dikaji ada kesulitan atau tidak.
d. Aktivitas dan Latihan
Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua bentuk kegiatan klien
menjadi berkurang dan kebutuhan klien perlu banyak dibantu oleh orang lain.
Hal lain yang perlu dikaji adalah bentuk aktivitas klien terutama pekerjaan klien.
Karena ada beberapa bentuk pekerjaan beresiko untuk terjadinya penularan
campak dibanding pekerjaan yang lain (Ignatavicius, Donna D, 1995).
e. Tidur dan Istirahat
Semua klien campak timbul rasa nyeri, keterbatasan sosialisasi, sehingga hal
ini dapat mengganggu pola dan kebutuhan tidur klien. Selain itu juga, pengkajian
dilaksanakan pada lamanya tidur, suasana lingkungan, kebiasaan tidur.
(Doengos. Marilynn E, 2002).
f. Sensori, Persepsi dan Kognitif
Pada klien campak daya rabanya meningkat terutama pada bagian kulit yang
terkena, sedangkan pada indera yang lain tidak timbul gangguan. Begitu juga
pada kognitifnya tidak mengalami gangguan. Selain itu juga, timbul rasa nyeri
akibat camapak (Ignatavicius, Donna D, 1995).
g. Konsep Diri
Dampak yang timbul pada klien campak yaitu timbul pernafasan tidak efektif,
saluran cerna terganggu, konjungtivtis, rasa cemas, rasa ketidakmampuan untuk
melakukan aktivitas secara optimal, dan pandangan terhadap dirinya yang salah
(gangguan body image) (Ignatavicius, Donna D, 1995).
h. Pola Peran Hubungan
Klien akan kehilangan peran dalam keluarga dan dalam masyarakat.
(Ignatavicius, Donna D, 1995).
i. Manajemen Koping Stress
Pada klien camapak timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya,. Mekanisme
koping yang ditempuh klien bisa tidak efektif.
j. Sistem Nilai dan Keyakinan
Untuk klien campak tidak dapat melaksanakan kebutuhan beribadah dengan
baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal ini bisa disebabkan karena nyeri dan
keterbatasan gerak klien
2. Pemeriksaan Fisik
1) Keadaan Umum : Kesadaran, TTV
2) Mata: terdapat konjungtivitis, fotophobia
3) Kepala: sakit kepala
4) Hidung: Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan hidung (
pada stad eripsi ).
5) Mulut & bibir: Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.
6) Kulit: Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler pada leher,
muka, lengan dan kaki ( pada stadium Konvalensi ), evitema, panas ( demam ).
7) Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi, sputum
8) Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
9) Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare
10) Status Nutrisi : intake – output makanan, nafsu makanan
3. Diagnosa Keperawatan
1) Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi saluran nafas,
produksi secret, inflamasi saluran pernapasan atas
2) Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan rasa gatal, ruam pada kulit, eritema
3) Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi, kenaikann suhu tubuh.
4) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan reaksi inflamasi
pada saluran cerna, anoreksia, intake nutrisi tidak adekuat.
5) Gangguan sensori persepsi berhubungan dengan konjungtivitis
6) Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan ruam pasa balik telinga, leher, pipi,
muka, seluruh tubuh.
7) Deficit perawatan diri berhubungan dengan hygiene tidak terjaga.
8) Kurang informasi berhubungan dengan keterbatasan informasi mengenai penyakit.
4. Intervensi Keperawatan
Diagnosa 1: Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan obstruksi saluran
nafas, produksi secret, inflamasi saluran pernapasan atas
Kriteria Hasil:
Bersihan Jalan Napas
1) Meningkatnya batuk efektif
2) Penurunan produksi sputum
3) Frekuensi napas membaik
4) Pola napas membaik
Intervensi:
Manajemen Jalan Napas
1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas)
2) Monitor bunyi napas tambahan (mis. Gurgling, mengi, wheezing, ronkhi kering)
3) Monitor Sputum (jumlah, warna, aroma)
4) Berikan minum hangat
5) Lakukan fisioterapi dada, jika perlu
6) Lakukan penghisapan lendir kurang dari 15 detik
7) Ajarkan teknik batuk efektif
8) Berikan oksigen, jika perlu

Diagnosa 2: Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan rasa gatal, ruam pada kulit,
eritema
Kriteria Hasil:
Status Kenyamana
1) Penurunan rasa gatal
2) Penurunan keluhan tidak nyaman

Intervensi:
Manajemen Nyeri
1) Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas nyeri.
2) Identifikasi faktor yang memperberat dan memperingan nyeri
3) Berikan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri (mis. Kompres
hangat/dingin)
4) Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri (mis. Suhu ruangan,
pencahayaan, kebisingan)
5) Fasilitasi istirahat dan tidur

Diagnosa 3: Hipertermi berhubungan dengan reaksi inflamasi, kenaikann suhu tubuh.


Kriteria Hasil:
Termoregulasi
1) Suhu tubuh membaik
2) Kulit merah menurun

Intervensi:
Regulasi Temperatur
1) Monitor suhu tubuh anak tiap dua jam, jika perlu
2) Monitor warna dan suhu kulit
3) Tingkatkan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat
4) Monitor tekanan darah, frekuensi pernapasan dan nadi
I. DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marilynn. E,.(1999). Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.EGC : Jakarta.
Tarwoto dan Wartonah. (2000). Kebutuhan Dasar Manusia dan Proses Keperawatan.
Salemba Medika : Jakarta.
Doenges, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman Untuk
Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia. 1992. Patofisiologi Edisi Keempat. Jakartaa: EGC.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8.
Jakarta: EGC.
Perry&Potter . Fundamental Keperawatan vol. 2 Edisi 4 . Jakarta: EGC . 2006 .
Tim Pokja SIKI DPP PPNI (2018), Standar Intervensi Keperawatan Indonesia, DPP
PPNI: Jakarta Selatan
Tim Pokja SLKI DPP PPNI (2019), Standar Luaran Keperawatan Indonesia, DPP PPNI:
Jakarta Selatan.