Anda di halaman 1dari 21

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia dengan stuasi geografisnya terdapat 1.300 pulau besar dan kecil,
penyebaran penduduk yang belum merata, tingkat sosial ekonomi dan pendidikan
belum memadai, sehingga menyebabkan kurang kemampuan dalam menjangkau
tingkat kesehatan tertentu.
Masalah kesehatan reproduksi menjadi perhatian khusus bersama dan bukan
hanya individu yang bersangkutan, karena dampaknya luas menyangkut berbagai
aspek kehidupan dan menjadi parameter kemampuan negara dalam
menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Dengan demikian
kesehatan alat reproduksi sangat erat hubungannya dengan angka kematian ibu
(AKI) dan angka kematian anak (AKA). Indonesia merupakan negara
berkembang dan anggota ASEAN yang memiliki angka kematian ibu tertinggi.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di era globalisasi sekarang ini
sangat mendukung dalam kehidupan manusia di Indonesia bahkan di dunia,
penemuan yang setiap waktu terjadi dan para peneliti terus berusaha dalam
penelitiannya demi kemajuan dan kemudahan dalam beraktivitas.
Ilmu kedokteran khususnya ilmu kesehatan pun begitu cepat bekembang
mulai dari peralatan ataupun teori sehingga mendorong para pengguna serta
spesialis tidak mau ketinggalan untuk bisa memiliki dan memahami wawasan
serta ilmu pengetahuan tersebut.
Terkait ilmu kesehatan dalam hal ini, yaitu kesehatan reproduksi banyak
sekali teori-teori serta keilmuan yang harus dimiliki oleh para pakar atau spesialis
kesehatan reproduksi. Wilayah keilmuan tersebut sangat penting dimiliki demi
mengemban tugas untuk bisa menolong para pasien yang mana demi kesehatan,
kesejahteraan dan kelancaran pasien dalam menjalanakan kodratnya sebagai
perempuan.
Pengetahuan kesehatan reproduksi bukan saja penting dimiliki oleh para bidan
atau spesialais tetapi sangat begitu penting pula dimiliki khususnya oleh para istri-

1
istri atau perempuan sebagai ibu atau bakal ibu dari anak-anaknya demi
kesehatan, dan kesejahteraan meraka.
1.2 Rumusan Masalah
1) Apa pengertian kesehatan reproduksi?
2) Apa saja ruang lingkup kesehatan reproduksi?
3) Apa saja hak yang terkait dengan kesehatan reproduksi?
4) Bagaimana asuhan keperawatan pada ibu dengan gangguan reproduksi?
1.3 Tujuan penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan penulisan makalah ini
yaitu :
1) Untuk mengetahui pengertian kesehatan reproduksi
2) Untuk mengetahui ruang lingkup kesehatan reproduksi
3) Untuk mengetahui hak yang terkait dengan kesehatan reproduksi
4) Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada ibu dengan gangguan
reproduksi

2
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Kesehatan Reproduksi


Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik,
mental dan social dan bukan semata-mata terbebas dari penyakit atau kecacatan
dalam segala aspek yang berhubungan dengan system reproduksi, fungsi serta
prosesnya.
Kesehatan Reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan
sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala
aspek yang berhubungan dengan system reproduksi, fungsi serta prosesnya.
Kesehatan Reproduksi menurut hasil ICPD 1994 di Kairo adalah keadaan
sempurna fisik, mental dan kesejahteraan social dan tidak semata-mata ketiadaan
penyakit atau kelemahan, dalam segala hal yang berkaitan dengan system
reproduksi dan fungsi serta proses.
Depkes RI (2000) Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara
menyeluruh mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan
alat, fungsi serta proses reproduksi yang pemikiran kesehatan reproduksi
bukannya kondisi yang bebas dari penyakit melainkan bagaimana seseorang dapat
memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sesudah
menikah.
2.2 Ruang Lingkup Kesehatan Reproduksi dalam Siklus Kehidupan
Ruang lingkup kesehatan reproduksi adalah pendekatan siklus hidup, yang
berarti memperhatikan kekhususan kebutuhan penanganan system reproduksi
pada setiap fase kehidupan, serta kesinambungan antar fase kehidupan tersebut.
Dengan demikian, masalah kesehatan reproduksi pada setiap fase kehidupan dapat
diperkirakan, yang bila tak ditangani dengan baik maka hal ini dapat berakibat
buruk pada masa kehidupan selanjutnya.
1. Ibu hamil dan konsepsi
Bayi dan anak Menurut Depkes RI (2001) ruang lingkup kesehatan
reproduksi sebenarnya sangat luas, sesuai dengan definisi yang tertera di atas,
karena mencakup keseluruhan kehidupan manusia sejak lahir hingga mati.

3
Dalam uraian tentang kesehatan reproduksi yang lebih rinci digunakan
pendekatan siklus hidup (life-cycle approach), sehingga diperoleh komponen
pelayanan yang nyata dan dapat dilaksanakan.
Secara lebih luas, ruang lingkup kespro meliputi:
1) Kesehatan ibu dan bayi baru lahir
2) Keluarga Berencana
3) Pencegahan dan penanggulangan Infeksi Saluran Reproduksi (ISR),
termasuk PMS HIV/AIDS
4) Pencegahan dan penanggulangan komplikasi aborsi
5) Kesehatan Reproduksi Remaja
6) Pencegahan dan penanggulangan Infertilitas
7) Kanker pada usia lanjut dan osteoporosis
8) Berbagai aspek kesehatan reproduksi lain missalnya kanker serviks,
mutilasi genetalia, fistula dll.
2.3 Permasalahan Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan
sosial secara lengkap dan bukan hanya adanya penyakit atau kelemahan,
dalam segala hal yang berhubungan dengan system reproduksi dan fungsi-
fungsi serta prosesnya. Sedangkan kesehatan reproduksi remaja adalah suatu
kondisi yang sehat yang menyangkut system, fungsi, dan proses reproduksi
yang dimiliki oleh remaja. Istilah reproduksi berasal dari kata re yang artinya
kembali dan kata produksi yang artinya membuat atau menghasilkan. Jadi
istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam
menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya. Sedangkan yang disebut
organ reproduksi adalah alat tubuh yang berfungsi untuk reproduksi manusia.
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa
dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya
setempat. Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia
remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Sedangkan dari segi program pelayanan,
definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka
yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin.Sementara itu, menurut
BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia

4
remaja adalah 10 sampai 21 tahun. Dari pengertian di atas kesehatan
reproduksi remaja dapat diartikan sebagai suatu kondisi sehat yang
menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh
remaja.Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau
bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.
Dan dapat disimpulkan pula permaslahan kesehatan reproduksi adalah
permaslahan kesehatan reproduksi adalah suatu keadaan yang abnormal
,mencakup fisik,mental,sosial, yang berkaitan dengan alat fungsi,serta proses
reproduksi yang pemikiran kesehatan reproduksi bukan kondisi yang terbebas
dari penyakit melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan sex
yang aman dan memuaskan sebelum dan sesudah menikah ( Depkes RI,
2000). Secara garis besar dapat dikelompokkan empat golongan faktor yang
dapat berdampak buruk bagi kesehatan reproduksi sehingga dapat
menimbulkan permasalahan kesehatan reproduksi yaitu :
1) Faktor sosial-ekonomi dan demografi (terutama kemiskinan, tingkat
pendidikan yang rendah, dan ketidaktahuan tentang perkembangan
seksual dan proses reproduksi, serta lokasi tempat tinggal yang
terpencil).
2) Faktor budaya dan lingkungan (misalnya, praktek tradisional yang
berdampak buruk pada kesehatan reproduksi, kepercayaan banyak anak
banyak rejeki, informasi tentang fungsi reproduksi yang
membingungkan anak dan remaja karena saling berlawanan satu dengan
yang lain, dsb).
3) Faktor psikologis (dampak pada keretakan orang tua pada remaja,
depresi karena ketidakseimbangan hormonal, rasa tidak berharga wanita
pada pria yang membeli kebebasannya secara materi, dsb).
4) Faktor biologis (cacat sejak lahir, cacat pada saluran reproduksi pasca
penyakit menular seksual, dsb).
Perubahan fisik yang pesat dan perubahan endokrin/hormonal yang
sangat dramatik merupakan pemicu masalah kesehatan remaja serius
karena timbuhnya dorongan motivasi seksual yang menjadikan remaja
rawan terhadap penyakit dan masalah kesehatan reproduksi, kehamilan

5
remaja dengan segala konsekuensinya yaitu: hubungan seks pranikah,
aborsi, PMS & HIV-AIDS serta narkotika. Permasalahan remaja
seringkali berakar dari kurangnya informasi dan pemahaman serta
kesadaran untuk mencapai sehat secara reproduksi. Di sisi lain, remaja
sendiri mengalami perubahan fisik yang cepat. Akses untuk
mendapatkan informasi bagi remaja banyak yang tertutup. Dengan
memperluas akses informasi tentang kesehatan reproduksi remaja yang
benar dan jujur bagi remaja akan membuat remaja makin sadar terhadap
tanggung jawab perilaku reproduksinya. Dengan makin banyaknya
persoalan kesehatan reproduksi remaja, maka pemberian informasi,
layanan dan pendidikan kesehatan reproduksi remaja menjadi sangat
penting. Melihat kondisi seperti diatas penulis ingin meneliti tentang apa
saja masalah kesehatan reproduksi remaja dan bagaimana solusi dalam
mengatasinya.

6
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN IBU DENGAN
GANGGUAN REPRODUKSI

A. Konsep Dasar Gangguan Haid


1. Menorrhargia
Adalah perdarahan lebih banyak atau lebih lama (< 8 hari), penyebabnya
adalah gangguan uterus, contohnya moima, polip, uteri, adenomiosis, hiperplasi
endometrium, endometrosis, unovulatory cycles, terapinya tergantung
penyebabnya, diagnostic gangguan pelepas endometrium, dilakukan curetase.
2. Oligomenorrargia
Siklus lebih panjang > 35 hari, jumlah darah ikut berkurang, oligomenorrargia
dan amenorea punya dasar sama pada penyebabnya, beda dalam tingkatannya,
kesehatan dan fertilitas tidak terganggu.
3. Disminorea
Adalah nyeri haid merupakan suatu gejala yang sering menyebabkan wanita-
wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Karena gangguan
ini sifatnya subjektif, berat atau intensitasnya sukar dinilai. Walaupun frekuensi
disminorea cukup tinggi dan penyakit ini sudah lama dikenal, namun sampai
sekarang patogenesisnya belum dapat di pecahkan dengan memuaskan oleh
karena hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak di perut bawah sebelum
dan selama haid dan sering sekali rasa mual, maka istilaenah disminorea hanya
dipakai jika nyeri haid demikian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk
istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidupnya sehari-hari untuk
beberapa jam atau beberapa hari.
Dismoneria dibagi:
a. Dismonera primer (essensial, intrinsik, kliopatik) tidak terdapat hubungan
dengan kelainan ginekologi. Ini merupakan nyeri haid yang dijumpai tanpa
kelainan pada alat genital yang nyata. Dismenorea primer terjadi beberapa
waktu setelah menarche biasanya setelah 12 bulan atau lebih, oleh karena
siklus haid pada bulan pertama setelah menarche umumnya berjenis
anovulatoar yang tidak di sertai rasa nyeri. Rasa nyeri timbul tidak lama

7
sebelumnya atau bersama-sama dengan permulaan haid dan berlangsung
untuk beberapa jam, walaupun pada beberapa kasus dapat berlangsung
beberapa hari. Sifat rasa nyeri adalah kejang berjangkit-jangkit, biasanya
terbatas pada perut bawah, tetapi dapat menyebar kedaerah pinggang dan
paha. Bersamaan dengan rasa nyeri dapat di jumpai rasa mual, muntah, sakit
kepala, diare, iritabilitas, dan sebagainya.
Banyak teori di temukan untuk menerangkan penyebab dismenorea, tetapi
patofisiologinya belum jelas dimengerti. Rupanya beberapa faktormemegang
peranan penting sebagai penyebab dismenorea primer antara lain.
1) Faktor kejiwaan
Pada gadis-gadis yang secara emosional tidak stabil, apalagi jika mereka
tidak mendapat penerangan yang baik tentang proses haid, mudah timbul
dismenorea.
2) Faktor konstibusi
Faktor ini erat hubungannya dengan faktor diatas dapat juga menurunkan
ketahanan terdapat rasa nyeri. Faktor-faktor seperti amnesia, penyakit
menahun, dan sebagainya dapat mempengaruhi timbulnya dismenorea.
3) Faktor obstruksi kanalis servikalis
Salah satu teori paling tua untuk menerangkan terjadinya dismenorea
primer ialah stenosis kanalis servikalis. Pada wanita dengan uterus dalam
peran fleksi mungkin dapat terjadi stenosis kanalis servikalis, akan tetapi
hal ini sekarang tidak dianggap sebagai faktor yang penting sebagai
penyebab dismenorea. Banyak wanita menderita dismenorea tanpa
stenosis servikalis dan tanpa uterus dalam hipernatefeksi. Sebaliknya,
terdapat banyak wanita tanpa keluhan dismenorea, walaupun ada stenosis.
Servikalis dan uterus terletak dalam hipernatefleksi atau
hiperrenterofleksis. Mioma subnukosum bertangkai atau polip
endometrium dapat menyebabkan dismenorea karena otot-otot uterus
berkontraksi keras dalam usaha untuk mengeluarkan kelainan tersebut.
4) Faktor endokrin
Pada umumnya ada anggapan bahwa kejang yang terjadi pada dismenorea
primer di sebabkan oleh kontraksi uterus yang berlebihan. Faktor endokrin

8
mempunyai hubungan dengan soal tonus dan kontraktilitas otot usus.
Novak dan reynold yang melakukan penelitian pada uterus kelinci
berkesimpulan bahwa hormone estrogen merangsang kontraktilitas uterus,
sedangkan hormone progesterone menghambat atau mencegahnya. Tetapi
teori ini tidak dapat menerangkan fakta mengapa tidak timbul rasa nyeri
pada pendarahan disfungsional anovulator, yang biasanya bersamaan
dengan kadar estrogen yang berlebihan dengan tanpa adanya progesterone.
5) Faktor alergi
Teori ini dikemukakan setelah memperhatikan adanya asosiasi antara
hipermenorea dengan urtikaria migran atau asma bronkeale. Smith
menduga bahwa sebab alergi adalah toksin haid.
Penyelidikan pada tahun-tahun terakhir menunjukkan bahwa peningkatan
kadar prostaglandin memegang peranan penting dalam etiologi desmonera
primer. Satu jenis dismenorea yang terdapat adalah yang pada waktu haid
tidak mengeluarkan dalam fragmen-fragmen kecil, melainkan dalam
keseluruhannya. Pengeluaran tersebut disertai rasa nyeri kejang dan keras.
Demikian itu dinamakan dismenorea membranase.
b. Dismenorea skunder (ekstrinsik, yang diperoleh, aquired), disebabkan oleh
kelainan ginekologik (endometrosis, adenomiosis, dan lain-lain) IUD juga
dapat merupakan penyebab disminorea ini. Dismenorea skunder dapat dapat
disalah artikan sebagai dismenorea primer atau dapat rancu dengan komplikasi
kehamilan dini. Tetapi harus tunjukkan dengan mengobati penyebab dasar.
Penanganan :
1) Penanganan dan nasehat
Perlu di jelaskan kepada penderita bahwa dismenore adalah gangguan
yang tidak berbahaya untuk kesehatan, hendaknya diaakan penjelasan dan
diskusi mengenai cara hidup , pekerjaan , kegiatan dan dilingkungan penderita
kemungkinan salah informasi mengenai haid atau adanya tabu atau takhayul
mengenai haid. Perlu dibicarakan. Nasehat-nasehat menganai makanan sehat,
istirahat yang cukup, dan olahraga mungkin berguna. Kadang-kadang
diperlukan psikoterapi.

9
2) Pemberian obat analgetik terapi hormonal
Dewasa ini banyak beredar obat-obat analgesic yang dapat diberikan
sebagai terapi simptomatik. Jika rasa nyeri berat,diperlukan istirahat ditempat
tidur dan kompres panas pada perut bawah preparat kombinasi aspirin,
fenastin, dan kafein. Obat-obat paten yang beredar dipasaran aalah antara lain
novalgin, ponstan , accetaminopen dan sebagiannya
3) Terapi obat nonstreoid antiprostaglandin
Memegang peranan yang makin penting terhadap dismonera primer.
Termasuk disini indomestasin , ibuprofen dan naproksen dalam kurang lebih
70% penderita dapat disembuhkan atau mengalami banyak perbaikan.
Hendaknya pengobatan diberikan sebelum haid dan pada dan pada hari
pertama haid mulai 1 sampai 3 hari sebelum haid , dan pada hari pertama haid
4) Dilatasi kanalisis servikalis
Dapat membuat kekeringan karena memudahkan pengeluaran darah haid
prostaglandin didalamnya . Neurektomi prasakral (Pemotongan urat saraf
sensorik yang ada di ligament infundibulum) merupakan tindakan terakhir
apabila usaha-usaha lain gagal.
5) Terapi Hormonal
Tujuan terapi hormonal ialah menekan ovulasi. Tindakan ini bersifat
sementara dengan maksud untuk membuktikan bahwa gangguan benar-benar
dismenorea primer, atau untuk memungkinkan penderita melaksanakan
pekerjaan penting pada waktu haid tanpa gangguan. Tujuan ini dapat dicapai
dengan pemberian salah satu jenis pil kombinasi kontrasepsi pembagian ini
tidak dapat seberapa tajam batasnya oleh karena disminorea yang pada
mulanya diangka primer, kadang-kadang setelah diteliti lebih lanjut
memperlihatkan kelainan organic, jadi termasuk disminorea sekunder.
4. Pengkajian
Selain mengkaji riwayat penggunaan kontrasepsi seksual obsetri
mestruasi secara terinci perawat harus mengali persepsi wanita tentang
kondisinnya , pengaruh etnik dan budaya, penglaman dengan tenaga kesehatan
lain, gaya hidup dan pola koping ( lihat pertimbangan budaya ) jumlah nyeri
yang dialami dan efeknya pada aktivitas sehari-sehari , obat-obatan dirumah ,

10
dan resep untuk meredakan rasa tidak nyaman , dicatat. Suatu gejala, yang
memuat rincinan catatan gejala emosi , perilaku , fisik, diet pola latihan dan
pola istirahat , merupakan alat diagnostik yang bermanfaat.
5. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul
a. Ketidakefektifan Koping
b. Defisiensi Pengetahuan
c. Gangguan citra tubuh
d. Harga diri rendah situasional.
e. Nyeri Akut
6. Intervensi
a. Diagnosa 1: Ketidakefektifan Koping
1) Anjurkan pasien untuk mengidentifikasi gambaran perubahan peran
yang realitis.
2) Gunakan pendekatan tenang dan meyakinkan
3) Hindari pengambilan keputusan pada saat pasien berada dalam stres
berat.
4) Berikan informasi actual yang terkait dengan diagnosis, terapi dan
prognosis.
b. Diagnosa 2: Defisiensi Pengetahuan
1) Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat
2) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan
cara yang tepat.
3) Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang benar.
4) Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang
tepat.
5) Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi dimasa yang akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit.
6) Diskusikan pilihan terapi atau penanganan.
c. Diagnosa 3: Gangguan citra tubuh
1) Kaji secara verbal dan non verbal respon klien terhadap tubuhnya.

11
2) Monitor frekuensi mengkritik dirinya.
3) Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis
penyakit.
4) Dorong klien mengungkapkan perasaanya.
d. Diagnosa 4: Harga diri rendah situasional
1) Tunjukkan rasa percaya diri terhadap kemampuan pasien untuk
mengatasi situasi.
2) Dorong pasien mengidentifikasi kekuatan dirinya.
3) Dukung peningkata tanggung jawab diri, jika diperlukan.
4) Ajarkan keterampilan perilaku yang positif melalui bermain peran,
model peran, diskusi.
5) Buat statemen positif terhadap pasien.
e. Diagnosa 5: Nyeri akut
1) Lakukan pengakjian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
krakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
2) Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalamn
nyeri pasien.
4) Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau.
5) Tingkatkan istirahat.
6) Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri.
7. Implementasi
Implementasi dapat dilaksanakan sesuai dengan intervensi setiap diagnosa
yang diangkat dengan memperhatikan kemampuan pasien dalam mentolerir
tindakan yang akan dilakukan.
8. Hasil yang diharapkan
a. Wanita/pasangan mengungapkan pemahaman nya tentang anatomi, alat–
alat reproduksi.
b. Wanita/pasangan memahami menerima kondisinya dan respon fisik dan
respon emosionalnya maupun fisik.
c. Wanita/pasangan mengembangakan tujuan personal yang bermanfaat
bagi dirinnya.

12
d. Wanita/pasangan memilih tindakan yang terapeutik yang sesuai.
e. Wanita/pasangan berhasil beradaptasi terhadap kondisi tersebut.

B. Konsep Dasar Gangguan Peradangan Uterus


1. Adenemiosi Uteri
Adenomiosis secra klinis lebih banyak persamaanya dengan mioma uteri.
Adenomiosis lebih sering ditemukan pada multipara dalam masa prenoupose,
sedangkan endrometrosis terdapat pada wanita yan lebih muda dan yang
umumnya infertile. Menurut kepustakaan frekuensi adenomiosis berkisar 10-
47%.
a. Patologi
Pembesaran uterus pada adenomiosis umumnya difus. Di dapat penebalan
dining uterus, dengan dinding posterior biasannya lebih tebal. Uterus biasanya
berbentuk simetrik dengan konsitensi padat, dan tidak menjadi lebih besar dari
dari tinjau atau uterus gravidus 12 minggu.
Adenomiosis ini sering terdapat bersama-sama dengan mioma uteri.
Walaupun jarang adenomiosis dapat ditemukan tidak sebagai tumor difus
melainkan tumor dengan batas yang nyata. Dalam hal ini akan kelainan
tersebut yang dinakan endrometrium a uteri, sukar dibedakan dari mioma
uteri. Gambaran mikroskopik yang khas pada adenomiosis ialah adanya
pulau–pulau ini endometrium di tengah-tengah otot uterus. Perubahan siklik ,
akan tetapi umumnya reaksi terhadap hormone-hormon ovarium tidak begitu
sempurna seperti endometrium biasa. Walaupun demikian dapat ditemukan
kista-kista kecil berisi darah tua ditengah-tengah jaringan adenomiosis.
Kadang-kadang kelenjar-kelenjar dari endometrium menunjukkan hiperlasia
kistik, bahkan dapat ditemukan sel-sel atipik, akan tetapi keganasan sangat
jarang terjadi.
Jaringan otot disekitar pulau–pulau endometrium mengalami hyperplasia
dan hipertrofil dan segala sesuatu member gambaran seperti anyaman dengan
bintik hitam di dalamnya tanpa adannya semacam kapsula seperti pada
mioma. Kehamilan akan menyebakan endometrium etropik ini berubah seperti
desiusia.

13
b. Histogenesis
Cullen dan penelitian-penelitian lain mengemukakan Bahwa sel
endometrium pada adenomiosis adalah dari endometrium yang meliput
ikavum uteri, dan mengadakan pertumbuhan kedalam otot. Pada pemeriksaan
histotogik masih sering dapat dilihat adanya kontinuitas ini. Walaupun sebab
sebenarnya adenomiosis uteri tidak diketahui, ada dugaan bahwa tersebarnya
endometrium didalam miometrium adalah akibat perubahan-perubahan yang
terjadi didalam uterus karena kehamilan dan persalinan yang berulang.
Mungkin kerokan yang berlebihan dapat merupakan faktor etiologis pula.\
c. Gambaran klinik
Gejala yang sering ditemukan pada adenomiosis uteri adalah menoregia,
disminorea skunder, dan uterus yang mungkin membesar. Kadang-kadang
terdapat disamping menoregia, dispareunia, dan rasa berat diperut bawah
terutama dalam masa prahaid. Menoragia makin lama makin banyak
vaskularitas jaringan tambahan dan mungkin juga karena otot-otot uterus tidak
dapat berkontraksi dengan sempurna karena adanya jaringan endometrium di
tengah-tengah mungkin juga karena disfungsi ovarium. Disminorea skunder
yang semakin mengeras kiranya disebabkan oleh kontraksi tidak teratur dari
miometrium karena pembengkakan endometrium yang di sebabkan oleh
pendarahan pada waktu haid.
d. Diagnosis
Diagnosis ademiosis dapat diduga, apabila wanita berumur sekitar 40
tahun dengan banyak anak, keluhan mneoragia dan dismenorea makin menjadi
dan ditemukan uterus yang membesar simetrik dan berkontraksi padat. Akan
tetapi diagnosis yang pasti baru bisa dibuat setelah pemeriksaan uterus pada
waktu operasi atau sesudah diangkat pada operasi itu.
e. Pengobatan
Pada wanita yang berusia lanjut dengan keluhan menoragia dan
dismenoria yang menjadi bertambah berat, histerektomi merupakan
pengobatan yang tepat. Lebih sulit soalnya, apabila penyakit ditemukan pada
wanita yang masih muda, dan masih ingin punya anak. Terapi hormonal tidak

14
banyak gunanya. Pada wanita menjelang menopuse yang tidak boleh dioperasi
penyinaran dengan sinar rongent dapat dipertimbangkan.
2. Endometriosis
Endometriosis adalah suatu kedaan dimana jaringan endometrium yang
masih berfungsi terdapat diluar kavum uteri. Jaringan ini yang terjadi atas
kelenjar-kelenjar dan stroma, terdapat didalam miometrium ataupun diluar
uterus. Bila jaringan endometrium terdapat didalam miometrium disebut
adenomiosis, dan bila diluar uterus disebut ensometriosis. Pembagian ini
sekarang sudah diatur lagi, karena baik secar patologik, klinik ataupun
etiologik adenomisis dan endometriosis berbeda dengan endometriosis.
Pada endometriosis jaringan endometrium ditemukan dikavum luar uteri
dan diluar miometrium. Menurut urutan yang lebih tersering endometrium
ditemukan ditempat-tempat sebagai berikut.
1) Ovarium.
2) Peritoneum dan ligamentum sakrouterium, kavum dougulasi, dinding
belakang uterus, tuba fallopi, plika vesikouterina, ligamentum rotodum
dan sigmoid.
3) Septum rektovagina.
4) Kanalis inguinalis.
5) Apendiks.
6) Umbilicus.
7) Servik uteri, vagina, kandung kencing, vulva, perineum.
8) Parut laparotomi.
9) Kelenjar limfa.
10) Walaupun sangat jarang, endometriosis dapat ditemukan di lengan, paha,
pleura dan pericardium.
a. Histogenesis
Teori histogenesi dari endrometriosis yang paling banyak penganutnya
adalah teori Sampson. Menurut teori ini endometriosis terjadi karena darah
haid mengalir kembali (regurtirasi) melalui tuba kedalam rongga pelvis. Sudah
dibuktikan bahwa dalam darah haid didapati sel-sel Endometrium yang masih

15
hidup. sel-sel endometrium yang masih hidup ini dapat mengadakan
implantasi di pelvis.
Teori lain mengenai histogenesis endometriosis dilontarkan oleh Robert
Mayer. pada teori ini dikemukakan bahwa endometriosis terjadi karena
rangsangan pada sel-sel epitel berasal dari selom yang dapat mempertahankan
hidupnya didaerah pelvis. Rangsangan ini akan menyebabkan metaplasi dari
sel-sel epitel itu, sehingga terbentuk jaringan endometrium. Teori Robert Myer
akhir-akhir ini semakin banyak penantangnya. Disamping itu masih terbuka
kemungkinan timbulnya endometriosis dengan jalan penyebaran melalui jalan
darah atau limfa, dan dengan jalan penyebaran melalui jalan darah atau limfa,
dan dengan implementasi langsung dari endometrium pada saat operasi.
b. Angka kejadian
Endometriosis selama kurang dari 30 tahunan terakhir ini menunjukkan
angka kejadian yang meningkat. Angka kejadian antara 5-15% dapat
ditemukan diantara semua operasi pelvis. Endometriosis jarang didapatkan
pada orang-orang negro, dan lebih sering didapatkan pada wanita-wanita dari
golongan sosio-ekonomi yang kuat. Yang menarik perhatian adalah bahwa
endometriosis lebih sering ditemukan pada banyak anak. Rupanya fungsi
ovarium secara siklis yang terus menerus tanpa diselingi oleh kehamilan,
memegang peran dalam terjadinya endometriosis.
c. Patologi
Gambaran mikroskopik dari endometriosis sangat variabel. Lokasi yang
sering terdapat adalah pada ovarium, dan biasanya disini didapati pada kedua
ovarium. Pada ovarium tampak kista-kista biru kecil sampai kista besar
(kadang-kadang sebesar tinja) berisi darah tua yang coklat (kista coklak atau
endometrioma).
Darah tua dapat keluar sedikit-sedikit karena pada dinding kista, dan dapat
menyebabkan perlekatan antara permukaan ovarium dengan uterus, sigmoid,
dan dinding pelvis. Kista cokelat kadang-kadang dapat mengalir dalam jumlah
banyak kedalam rongga peritonium karena robekan dinding kista, dan
menyebabkan acute abdomen. Tuba pada indometriosis biasanya normal. Pada
salah satu kedua ligamentum sakrouterium, pada kavum douglasi, dan pada

16
permukaan uterus sebelah belakang dapat ditemukan satu atau beberapa bintik
sampai benjolan kecil yang berwarna kebiruan. Juga pada permukaan sigmoid
atau rektum seringkali ditemukan benjolan yang berwarna kebiru-biruan.
Sebagai akibat timbulnya perdarahan pada waktu haid dari jaringan
endometriasis, mudah sekali timbul perlekatan antara alat-alta disekitar kavum
duoglasi itu.
d. Gambaran Mikroskopik
Pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan ciri-ciri khas bagi endometriosi,
yakni kelenjar-kelenjar dan struma endometrium, dan pendarahan bekas dan
baru beberupa eritrosit, pigmen hemosiderin, dan sel-sel makrofag berisi
hemosiderin. Disekitarnya terdapat sel-sel radang dan jaringan ikat, sebagai
reaksi dari jaringan normal disekelilingangnya (jaringan endometriosis).
Jaringan endometriosis seperti juga jaringan didalam uterus, dapat dipengaruhi
oleh estrogen dan progesteron. Akan tetapi besarnya pengaruh tidak sama, dan
tergantung beberapa faktor, antara lain dari komposisi endrometriosis yang
bersangkutan (apakah jaringan kelenjar atau jaringan stuma yang masuk lebih
banyak) dari reaksi jaringan normal disekitarnya dan sebagiannya. Sebagai
akibat dari pengaruh hormon-hormon tersebut, sebagian besar sarang-sarang
endometriosis berdarah secara periodik. Perdarahan yang periodik ini
menyebabkan reaksi jaringan sekelilingnya berupa radang dan perlekatan.
Pada kehamilan dapat ditemukan reaksi desidual jaringan endometriosis.
Apabila kehimilan berakhir, reaksi desidual menghilang disertai dengan
rekresi sarang endometriosis dan dengan memberikan keadaan. Pengaruh baik
dari kehamilan kini menjadi dasar pengobatan endometriosisi dengn hormon
untuk mengadakan apa yang dinamakan kehamilan semu (pseudopregnancy).
Secara mikroskopik endometriosis merupakan suatu kelainan yang jinak, akan
tetapi kadang-kadang sifatnya seperti tumor ganas. Antara lain bisa terjadi
penyebaran endometriosis ke paru-paru dan lengan selain itu bisa terdapat
infiltrasi kebawah kavum douglasi ke fasia rektovagina, ke sigmoid dan
sebagainnya.

17
e. Gambaran Klinik
Gejala-gejala yang sering ditemukan pada penyakit ini adalah: 1) nyeri
perut bawah yang progresif dan dekat paha yang terjadi selama haid
(disminorea), 2) dispareunia, 3) nyeri waktu defikasi, khusunya pada waktu
haid, 4) poli dan hipermenorea, 5) infertilasi.
3. Pengkajian
Selain mengkaji riwayat penggunaan kontrasepsi seksual obsetri
mestruasi secara terinci perawat harus mengali persepsi wanita tentang
kondisinnya , pengaruh etnik dan budaya, penglaman dengan tenaga kesehatan
lain, gaya hidup dan pola koping ( lihat pertimbangan budaya ) jumlah nyeri
yang dialami dan efeknya pada aktivitas sehari-sehari , obat-obatan dirumah ,
dan resep untuk meredakan rasa tidak nyaman , dicatat. Suatu gejala, yang
memuat rincinan catatan gejala emosi , perilaku , fisik, diet pola latihan dan
pola istirahat , merupakan alat diagnostik yang bermanfaat.
9. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul
a. Nyeri Akut
b. Defisiensi Pengetahuan
c. Gangguan citra tubuh
d. Ansietas
10. Intervensi
a. Diagnosa 1: Nyeri Akut
1) Lakukan pengakjian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
krakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi.
2) Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan.
3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalamn
nyeri pasien.
4) Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau.
5) Tingkatkan istirahat.
6) Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri.
b. Diagnosa 2: Defisiensi Pengetahuan
1) Jelaskan patofisiologi dari penyakit dan bagaimana hal ini
berhubungan dengan anatomi dan fisiologi, dengan cara yang tepat

18
2) Gambarkan tanda dan gejala yang biasa muncul pada penyakit, dengan
cara yang tepat.
3) Gambarkan proses penyakit, dengan cara yang benar.
4) Sediakan informasi pada pasien tentang kondisi, dengan cara yang
tepat.
5) Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin diperlukan untuk
mencegah komplikasi dimasa yang akan datang dan atau proses
pengontrolan penyakit.
6) Diskusikan pilihan terapi atau penanganan.
c. Diagnosa 3: Gangguan citra tubuh
1) Kaji secara verbal dan non verbal respon klien terhadap tubuhnya.
2) Monitor frekuensi mengkritik dirinya.
3) Jelaskan tentang pengobatan, perawatan, kemajuan dan prognosis
penyakit.
4) Dorong klien mengungkapkan perasaanya.
d. Diagnosa 4: Ansietas
1) Gunakan pendekatan yang menenangkan.
2) Menyatakan dengan jelas harapan terhadap pelaku pasien.
3) Jelaskan semua prosedur dan apa yang yang dirasakan selama
prosedur.
4) Pahami prespektif pasien terhadap situasi stres.
5) Dengarkan dengan penuh perhatian.
6) Identifikasi tingkat kecemasan.
7) Bantu pasien mengenal situasi yang menimbulkan kecemasan.
8) Dorong pasien untuk menungkapkan perasan, ketakutan, dan persepsi.
9) Intruksikan pasien menggunakan tehnik relaksasi.
11. Implementasi
Implementasi dapat dilaksanakan sesuai dengan intervensi setiap diagnosa
yang diangkat dengan memperhatikan kemampuan pasien dalam mentolerir
tindakan yang akan dilakukan.

19
12. Hasil yang diharapkan
a. Wanita/pasangan mengungapkan pemahaman nya tentang anatomi, alat–
alat reproduksi.
b. Wanita/pasangan memahami menerima kondisinya dan respon fisik dan
respon emosionalnya maupun fisik.
c. Wanita/pasangan mengembangakan tujuan personal yang bermanfaat
bagi dirinnya.
d. Wanita/pasangan memilih tindakan yang terapeutik yang sesuai.
e. Wanita/pasangan berhasil beradaptasi terhadap kondisi tersebut.

20
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kesehatan reproduksi sangatlah penting untuk diketahui oleh para perempuan
bakal calon ibu ataupun laki-laki calon bapak. Oleh karena itu bverdasarkan
uraian di atas dapat penulis simpulkan bahwa:
1. Definisi kesehatan sesuai dengan WHO, kesehatan tidak hanya berkaitan
dengan kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan mental dana sosial, ditambahkan
lagi (sejak deklarasi Alma Ata-WHO dan UNICEF) dengan syart baru, yaitu:
sehingga setiap orang akan mampu hidup produktif, baik secara ekonomis
maupun sosial.
2. Kesehatan reproduksi adalah keadaan kesejahteraan fisik, mental, dan sosial
yang utuh dan bukan hanya tidak adanya penyakit atau kelemahan dalam
segala hal yang berhubungan dengan sistem reproduksi dan fungsi-fungsi serta
proses-prosesnya.
3. Hak reproduksi adalah bagian dari hak asasi yang meliputi hak setiap
pasangan dan individual untuk memutuskan secara bebas dan bertanggung
jawab jumlah, jarak, dan waktu kelahiran anak, serta untuk memiliki informasi
dan cara untuk melakukannya.
4.2 Saran
Untuk itu wawasan dan pengetahuan kesehatan reproduksi sangatlah penting
untuk bisa dikuasai dan dimiliki oleh para perempuan dan laki-laki yang berumah
tangga, supaya kesejahtaraan dan kesehatan bisa tercapai dengan sempurna. Oleh
kerana itu penulis memberi saran kepada para pihak yang terkait khususnya
pemerintah, Dinas Kesehatan untuk bisa memberikan pengetahuan dan wawasan
tersebut kepada khalayak masyarakat dengan cara sosialisasi, kegiatan tersebut
mudah-mudahan kesehatan reproduksi masyarakat bisa tercapai dan masyarakat
lebih pintar dalam menjaga kesehatannya.

21