Anda di halaman 1dari 22

PROPOSAL TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK STIMULASI PERSEPSI

PADA PASIEN HALUSINASI DI RUANGAN DOLOK MARTMBANG


RUMAH SAKIT JIWA PROF.DR.M.ILDREM MEDAN

OLEH:
Kelompok II
1. Helpianus Siswanto S.Kep
2. Lisa Nanda S.Kep
3. Mono Kristian S.Kep
4. Putri Delima S.Kep
5. Sarindah Sihaloho S.Kep
6. Utari Damanik S.Kep

PROGRAM STUDI ILMU NERS


FAKULTAS FARMASI DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS SARI MUTIARAINDONESIA
TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur bagi Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal kegiatan terapi aktivitas kelompok
pada pasien dengan Halusinasi Pendengaran di Rumah Sakit Jiwa Daerah
Provinsi Sumatera Utara untuk memenuhi salah satu syarat praktek dan mata
kuliah keperawatan jiwa dalam menyelesaikan Profesi Ners. Adapun proposal
yang telah disepakati dan telah disusun oleh penulis dengan judul “Proposal
Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi Pada Pasien Halusinasi
Pendengaran di Ruang Dolok Martimbang, Di RSJ Prof.Dr.M.Ildrem Provsu
Medan Tahun 2019’.Dalam penyusunan laporan ini banyak pihak yang
membantu penulis, untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada :
1. Dr. Dapot Parulian, SpKJ, selaku Direktur RSJ Prof.Dr.Muhammad Ildrem
PROVSU yang telah memberikan izin kepada penulis dalam melaksanakan
praktek jiwa di RSJ Prof.Dr.Muhammad Ildrem PROVSU
2. Ibu Nurhaida S. Pd, S. Kep, Ners selaku kepala Diklat di RSJ
Prof.Dr.Muhammad Ildrem sekaligus Pembimbing Praktek Belajar lapangan
di Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara.
3. Ibu Rinco Siregar, S.Kep, MNS selaku Ketua Prodi Keperawatan Fakultas
Farmasi dan Ilmu Kesehatan Universitas Sari Mutiara Indonesia.
4. Bapak Ns. Jek Amidos Pardede, M.Kep, Sp. KepJ selaku Koordinator
Program Studi Ners dan Koordinator stase keperawatan jiwa.
5. Ibu Ns. Jenny Marlindawani Purba, MNS, PhD, selaku Perseptor Akademik
yang telah meluangkan waktu untuk membimbing, membantu dan
memberikan banyak arahan serta masukan kepada penulis sehingga asuhan ini
dapat terselesaikan dengan baik.
6. Bapak Ns. Jhon Edison Purba, S.Kep, M.Kes , selaku Perseptor Klinik yang
telah meluangkan waktu untuk membimbing, membantu dan memberikan
banyak arahan serta masukan kepada penulis sehingga asuhan ini dapat
terselesaikan dengan baik
7. Bapak Perdi Lubis, S. kep, Ns selaku Kepala Ruangan Kamboja beserta staf
jajarannya di Rumah Sakit Jiwa Daerah Sumatera Utara.
8. Staf Pegawai Rumah Sakit Jiwa Daerah Provinsi Sumatera Utara.
9. Staf Pengajar dan Pegawai Universitas Sari Mutiara Indonesia
10. Orang tua kami yang selalu memberikan dukungan, materi dan doa untuk
menyelesaikan tugas makalah ini .
11. Serta terima kasih kepada teman-teman Mahasiswa/i Universitas Sari Mutiara
Indonesia yang telah bersama-sama menyelesaikan tugas makalah ini.

Penulis menyadari bahwa isi proposal ini masih jauh dari kesempurnaan maka
dari itu kami dari penulis sangat mengharapkan kritik dan saran guna
memperbaiki di masa yang akan datang dan semoga proposal ini dapat
bermanfaat bagi pembaca. Akhir kata penulis mengucapkan terimakasih.

Medan, Oktober 2019

Kelompok II
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Skizofrenia menjadi gangguan jiwa paling dominan dibanding gangguan jiwa
lainnya.Skizofrenia merupakan gangguan neurobiologikal otak yang peristen
dan serius, sindroma yang secara klinis dapat mengakibatkan kerusakan hidup
baik secara klinis dapat mengakibatkan kerusakan hidup baik secara individu,
keluarga dan komunitas (Stuart, 2013).

Survey yang telah dilakukan pada beberapa negara memiliki laju insiden per
tahun skizofrenia antara 0,1 – 0,4 per 1000 populasi. Insiden yang tinggi terjadi
pada kelompok sosial terutama etnis minoritas di Eropa Barat seperti
komunitas Afro-Caribbean di Inggris dan imigran dari Suriname di Belanda
(WHO, 2014). Menurut WHO (2016), terdapat sekitar 21 juta orang terkena
skizofrenia, serta 47,5 juta terkena demensia. Tingginya pravelensi skizofrenia
yang sudah dipaparkan, menunjukkan keprihatinan dunia untuk menanggulangi
terutama dalam pengobatan maupun perawatannya.

Berdasarkan symptom pada klien skizoprenia terlihat banyak masalah yang


dapat muncul seperti perilaku penyerangan terhadap oranglain,perilaku
mencederai diri sendiri dan orang lain,adanya halusinasi, harga diri rendah dan
perasaan bersalah. Berdasarkan hal tersebut dapat dibuat kesimpulan bahwa
pada pasien skizoprenia banyak ditemukan kasus dengan masalah keperawatan
risiko perilaku kekerasan. Klien dengan skizoprenia diagnosa keperawatan
primer yang dapat muncul menurut NANDA 2012 dapat berupa risiko perilaku
kekerasan, gangguan sensori persepsi: halusinasi, harga diri rendah kronik,
gangguan proses pikir: waham dan yang lain (Stuart, 2013).

Penelitian yang dilakukan oleh Wahyuningsih, D. Keliat, B A , Hastono SP


(2013) dimana Halusinasi merupakan penyebab utama klien dibawa ke rumah
sakit yaitu 68%. Hasil pelaksanaan praktik selama Residensi 3 penulis
mendapatkan dari 39 pasien 100% pasien dibawa ke rumah sakit karena pasien
melakukan perilaku kekerasan yang ditujukan kepada diri pasien sendiri, orang
lain dan lingkungan.

Perilaku yang berkaitan dengan asik dengan diri sendiri yaitu menyerang atau
menghindar (flight or flight) pada keadaan ini respon fisiologi timbul karena
kegiatan system saraf otonom bereaksi terhadap sekresi epinephrin yang
menyebabkan tekanan darah meningkat, takikardi, wajah merah, pupil melebar,
sekresi HCL meningkat, konstipasi, kewaspadaan meningkat serta disertai
ketegangan otot. Seperti rahang terkatup, tangan dikepal, tubuh menjadi kaku
dan di sertai reflek yang cepat. (Keliat,dkk. 2011).

Kelompok adalah sekumpulan orang yang saling berhubungan, saling


bergantung satu sama lain dan menyepakati suatu tatanan norma tertentu.
Dinamika dalam kelompok bahkan dapat memfasilitasi perubahan perilaku
anggota kelompoknya sehingga apabila kelompok ini didesain secara sistematis
dapat menjadi sarana perubahan perilaku maladaptif menjadi perilaku adaptif
atau dapat difungsikan sebagai terapi. Kemampuan bersosialisasi merupakan
kemampuan seseorang dalam melakukan tindakan sosialisasi terhadap orang
lain seperti pasien mampu untuk berinteraksi dengan orang lain, ketika bertemu
mereka saling menegur, berjabat tangan, dan saling berbicara.Terapi
menggunakan aktivitas dalam kelompok ini disebut sebagai terapi aktivitas
kelompok. Aktivitas digunakan secara terapi, dan kelompok digunakan sebagai
target asuhan. Didalam kelompok terjadi dinamika interaksi yang saling
bergantung, saling membutuhan, dan menjadi laboratorim tempat klien berlatih
perilaku baru yang adaptif untuk memeperbaiki perilaku lama yang maladaptif
(Keliat, dkk 2011)

Menurut Keliat (2014) pada pasien dengan gangguan persepsi sensori :


halusinasi pendengaran Terapi aktivitas kelompok stimulasi persepsi yaitu
klien dilatih mempersepsikan stimulus yang disediakan atau stimulus yang
pernah dialami. Kemampuan persepsi klien dievaluasi dan ditingkatkan tiap
sesi. Dengan proses ini, diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus
dalam kehidupan menjadi adaptif dapat dilakukan dengan terapi modalitas,
salah satunya yaitu terapi aktivitas kelompok.

Terapi aktivitas kelompok sering digunakan untuk terapi tambahan pada pasien
gangguan jiwa. Terapi aktivitas kelompok adalah terapi manual rekreasi dan
teknik kreatif untuk memfasilitasi pengalaman seseorang serta meningkatkan
respon sosial dan harga diri. Aktivitas yang digunakan sebagai terapi di dalam
kelompok yaitu bercerita, mendengarkan musik dan bermain dalam kelompok
(Keliat & Akemat, 2014).

TAK sitmulasi persepsi dilaksanakan dengan melatih klien mempersepsikan


stimulus yang disediakan atau stimulus yang pernah dialami. Kemampuan
persepsi klien dievluasi dan ditingkatkan pada tiap sesi. Dengan proses ini,
diharapkan respon klien terhadap berbagai stimulus dalam kehidupan menjadi
adaptif (Keliat & Akemat, 2014).Tahap berikutnya adalah mengobservasi
reaksi sensoris klien terhadap stimulus yang disediakan, berupa ekspresi
perasaan secara non verbal (ekspresi wajah, gerakan tubuh).

B. Tujuan Umum
Setelah mengikuti kegiatan ini klien dapat lebih menerapkan stategi
pelaksanaan Halusinasi pendengaran secara fisik dan social dalam
mengontrol Halusinasi pendengaran dengan kegiatan harian.

C. Tujuan Khusus
1. Klien dapat mengekspresikan perasaannya lewat cerita
2. Klien dapat mengetahui cara mengendalikan Halusinasi pendengaran
dengan kegiatan harian
3. Klien dapat melakukan aktivitas kognitif dengan mendengarkan,
bersosialisasi, membuat kotak pensil dari stik bekas, Menggambar,
serta mempraktekkan sp halusinasi
4. Klien dapat melakukan aktivitas motorik dengan bekerja sama dengan
melatih kekompakan dalam kelompok.
5. Klien dapat melatih konsentrasi melalui permainan.
BAB II
PROPOSAL KEGIATAN TERAPI AKTIFITAS KELOMPOK
HALUSINASI PENDENGARAN “MEMBUAT TEMPAT
PENSIL MENGGUNAKAN STIK ESKRIM BEKAS DAN
MENGGAMBAR”

A. Defenisi
Halusinasi adalah salah satu gejala gangguan sensori persepsi yang dialami
oleh pasien gangguan jiwa. Pasien merasakan sensasi berupa suara,
penglihatan, pengecapan, perabaan, atau penghiduan tanpa stimulus yang
nyata Keliat, (2011) dalam Zelika, (2015). Halusinasi adalah persepsi sensori
yang salah atau pengalaman persepsi yang tidak sesuai dengan kenyataan
Sheila L Vidheak,( 2001) dalam Darmaja (2014).

Menurut Surya, (2011) dalam Pambayung (2015) halusinasi adalah hilangnya


kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan
rangsangan eksternal (dunia luar). Halusinasi adalah persepsi atau tanggapan
dari pancaindera tanpa adanya rangsangan (stimulus) eksternal (Stuart &
Laraia, 2001).Halusinasi merupakan gangguan persepsi dimana pasien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, yang dimaksud dengan halusinasi


adalah gangguan persepsi sensori dimana klien mempersepsikan sesuatu
melalui panca indera tanpa ada stimulus eksternal. Halusinasi berbeda dengan
ilusi, dimana klien mengalami persepsi yang salah terhadap stimulus, salah
persepsi pada halusinasi terjadi tanpa adanya stimulus eksternal yang terjadi,
stimulus internal dipersepsikan sebagai sesuatu yang nyata ada oleh klien.

B. Tanda dan Gejala Halusinas


Beberapa tanda dan gejala perilaku halusinasi adalah tersenyum atautertawa
yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, bicarasendiri,pergerakan
mata cepat, diam, asyik dengan pengalamansensori,kehilangan kemampuan
membedakan halusinasi dan realitas rentangperhatian yang menyempit hanya
beberapa detik atau menit, kesukaranberhubungan dengan orang lain, tidak
mampu merawat diri,perubahan

Berikut tanda dan gejala menurut jenis halusinasi Stuart & Sudden, (1998)
dalam Yusalia (2015).
Jenis halusinasi Karakteriostik tanda dan gejala
Pendengaran Mendengar suara-suara / kebisingan,
paling sering suara kata yang jelas,
berbicara dengan klien bahkan sampai
percakapan lengkap antara dua orang
yang mengalami halusinasi. Pikiran
yang terdengar jelas dimana klien
mendengar perkataan bahwa pasien
disuruh untuk melakukan sesuatu
kadang-kadang dapat membahayakan.

Penglihatan Stimulus penglihatan dalam kilatan


cahaya, gambar giometris, gambar
karton dan atau panorama yang luas
dan komplek. Penglihatan dapat berupa
sesuatu yang menyenangkan /sesuatu
yang menakutkan seperti monster.

Penciuman Membau bau-bau seperti bau darah,


urine, fases umumnya baubau yang
tidak menyenangkan. Halusinasi
penciuman biasanya sering akibat
stroke, tumor, kejang / dernentia.

Pengecapan Merasa mengecap rasa seperti rasa


darah, urine, fases.

Perabaan Mengalami nyeri atau


ketidaknyamanan tanpa stimulus yang
jelas rasa tersetrum listrik yang datang
dari tanah, benda mati atau orang lain.

Merasakan fungsi tubuh seperti aliran


Sinestetik darah divera (arteri), pencernaan
makanan.

Kinestetik Merasakan pergerakan sementara


berdiri tanpa bergerak
C. Etiologi Halusinasi
Menurut Stuart dan Laraia (2001) dalam Pambayun (2015), faktor-faktor
yang menyebabkan klien gangguan jiwa mengalami halusinasi adalah
sebagai berikut :

1. Faktor Predisposisi
a. Faktor genetis
Secara genetis, skizofrenia diturunkan melalui kromosom-kromosom
tertentu. Namun demikian, kromosom ke berapa yang menjadi faktor
penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam tahap penelitian.
Anak kembar identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia
sebesar 50% jika salah satunya mengalami skizofrenia, sementara jika
dizigote, peluangnya sebesar 15%. Seorang anak yang salah satu
orang tuanya mengalami skizofrenia berpeluang 15% mengalami
skizofrenia, sementara bila kedua orang tuanya skizofrenia maka
peluangnya menjadi 35%.

b. Faktor neurobiologis
Klien skizofrenia mengalami penurunan volume dan fungsi otak yang
abnormal. Neurotransmitter juga ditemukan tidak normal, khususnya
dopamin, serotonin, dan glutamat.
1) Studi neurotransmitter
Skizofrenia diduga juga disebabkan oleh adanya
ketidakseimbangan neurotransmitter. Dopamin berlebihan, tidak
seimbang dengan kadar serotonin.
2) Teori virus
Paparan virus influenza pada trimester ketiga kehamilan dapat
menjadi faktor predisposisi skizofrenia.
3) Psikologis
Beberapa kondisi psikologis yang menjadi faktor predisposisi
skizofrenia antara lain anak yang diperlakukan oleh ibu yang
pencemas, terlalu melindungi, dingin, dan tak berperasaan,
sementara ayah yang mengambil jarak dengan anaknya.
2. Faktor Presipitasi
1) Berlebihannya proses informasi pada sistem saraf yang menerima dan
memproses informasi di thalamus dan frontal otak.
2) Mekanisme penghantaran listrik di syaraf terganggu.
3) Kondisi kesehatan, meliputi : nutrisi kurang, kurang tidur,
ketidakseimbangan irama sirkadian, kelelahan, infeksi, obat-obat
sistem syaraf pusat, kurangnya latihan, hambatan untuk menjangkau
pelayanan kesehatan.
4) Lingkungan, meliputi : lingkungan yang memusuhi, krisis masalah di
rumah tangga, kehilangan kebebasan hidup, perubahan kebiasaan
hidup, pola aktivitas sehari-hari, kesukaran dalam hubungan dengan
orang lain, isolasi social, kurangnya dukungan sosial, tekanan kerja,
kurang ketrampilan dalam bekerja, stigmatisasi, kemiskinan,
ketidakmampuan mendapat pekerjaan.
5) Sikap/perilaku, meliputi : merasa tidak mampu, harga diri rendah,
putus asa, tidak percaya diri, merasa gagal, kehilangan kendali diri,
merasa punya kekuatan berlebihan, merasa malang, bertindak tidak
seperti orang lain dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya
kernampuan sosialisasi, perilaku agresif, ketidakadekuatan
pengobatan, ketidakadekuatan penanganan gejala.

D. Hubungan Skizoprenia dengan Halusinasi Pendengaran


Amrican psychiatric assosiation (2013), menyebutkan dari beberapa
penelitian melaporkan bahwa kelompok individu yang didiagnosa mengalami
skizofrenia mempunyai insiden lebih tinggi untuk mengalami halusinasi.
Halusinasi yang dialami oleh pasien skizofrenia dilatarbelakangi oleh adanya
gejala Psikosis yaitu kumpulan gejala gangguan mental dimana pasien merasa
terpisah dari kenyataan sebenarnya, ditandai dengan gangguan emosional dan
fikiran.

E. Metode Terapi aktifitas kelompok (TAK)


Metode yang digunakan pada terapi aktifitas kelompok (TAK) ini adalah
metode:
1. Perkenalan diri pada seluruh perawat
2. Menanyakan perasaan klien pada saat terapi berjalan

F. Waktu dan Tempat


Hari/tanggal : Selasa, 08 Oktober 2019
Jam : 19:30 WIB
Tempat : Samping Ruangan Singgalang

G. Klien dan Ruangan Klien


Klien yang mengikuti kegiatan berjumlah 6 orang dari Ruangan Dolok
Martimbang terdiri dari:
No Nama/Inisial Ruangan Diagnosa
1 Tn. C Dolok Martimbang Halusinasi Pendengaran dan
Resiko Perilaku Kerasan
2 Tn. R Dolok Martimbang Halusinasi Pendengaran
Resiko Perilaku Kekerasan
3 Tn. B Dolok Martimbang Halusinasi Pendengaran
4 Tn. L Halusinasi Pendengaran dan
Dolok Martimbang Resiko Perilaku Kekerasan
5 Tn. S Halusinasi Pendengaran
Dolok Martimbang
6 Tn. A Halusinasi Pendengaran dan
Dolok Martimbang Isolasi Sosial
H. Media dan Alat
1. Handphone
2. Speaker
3. Music/lagu
4. Buku catatan dan pulpen
5. Jadwal kegiatan pasien
6. Kertas A4
7. Pensil Warna
8. Stik Eskrim Bekas
9. Lem
10. Koran Bekas

I. Susunan Pelaksanaan
Yang bertugas dalam TAK kali ini di sesuaikan dengan petugas setiap sesi
yang telah disepakati sebagai berikut :
 Leader : Helpin S. Hondro, S.Kep
 Co.Leader : Mono Kristian S. Kep
 Fasilitator 1 : Sarindah Sihaloho S.Kep
 Fasilitator 2 : Putri Delima, S.Kep
 Observer 1 : Lisa Nanda, S.kep
 Observer 2 : Utari Damanik, S.Kep

J. Uraian Tugas Pelaksana


1. Leader :
a) Menyampaikan tujuan dan peraturan kegiatan terapi aktivitas
kelompok menyiapkan proposal kegiatan TAK
b) Mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam kelompok dan
memperkenalkan dirinya
c) Mampu memimpin terapi aktivitas kelompok dengan baik dan tertib
Menetralisir bila ada masalah yang timbul dalam kelompok
2. Co.Leader :
a) Mendampingi Leader
b) Menjelaskan aturan permaian
c) Menyampaikan informasi dari fasilitator ke leader tentang aktivitas
klien
d) Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang dari perencanaan
yang telah di buat
e) Mengambil alih posisi leader jika leader mengalami blocking dalam
proses terapi

3. Fasilitator :
a) Menyediakan fasilitas selama kegiatan berlangsung Ikut serta
dalam kegiatan kelompok
b) Memfasilitasi dan memberikan stimulus dan motivator pada
anggota kelompok untuk aktif mengikuti jalannya terapi

4. Observer :
a) Mengobservasi jalannya proses kegitan
b) Mengamati serta mencatat perilaku verbal dan non verbal pasien
selama kegiatanberlangsung (dicatat pada format yang tersedia)
c) Mengawasi jalannya aktivitas kelompok dari mulai persiapan,
proses , hingga penutupan
d) Memberikan hadiah (reward) bagi pasien yang menang dalam
permainan.

K. Kriteria Klien
1. Klien dengan Halusinasi yang sudah kooperatif dan tidak kambuh
2. Klien yang tidak mengalami gangguan komunikasi verbal
3. Klien bisa tulis dan baca
4. Klien yang bersedia mengikuti TAK
L. Antisipasi masalah
1. Sebelum kegiatan dilaksanakan, perawat memberi kesempatan kepada
setiap peserta untuk BAB dan BAK
2. Fasilitator memotivasi peserta yang tidak berpartisipasi
3. Menjaga pintu keluar unuk mengantisipasi klien melarikan diri dari tempat
kegiatan

M. Langkah-langkah Kegiatan
1. Persiapan
a) Membuat kontrak dengan anggota kelompok
b) Mempersiapkan alat dan tempat pertemuaan
2. Orientasi
a) Salam teraupetik
Salam dari leader kepada klien. Leader/Co Leader memperkenalkan diri
dan tim terapis lainnya.
b) Evaluasi/Vasilidasi
Leader menanyakan perasaan dan keadaan klien saat ini.
c) Kontrak
1) Menjelaskan tujuan kegiatan
2) Menjelaskan aturan main yaitu :
a. Berkenalan dengan anggota kelompok
b. Jika ada peserta yang akan meninggalkan kelompok, harus minta
izin pada pemimpin TAK
c. Lama Kegiatan 45 menit
d. Setiap pasien mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir
3. Tahap Kerja
a) Seluruh klien dibuat berbentuk lingkaran
b) Hidupkan musik dan bagikan stik eskrim bekas ke masing masing
klien, letakkan em di tengah tengah lingkaran.
c) Terapis memberikan contoh bagaimana cara membuat tempat
pensil dari stik bekas.
d) Kemudian seluruh pasien diberi kesempatan memulai kegiatan
membuat kerjainan tempat pensil dari stik bekas.
e) Setelah seluruhnya selesai, seluruh hasil kerajinan dikupulkan dan
dinilai oleh terapis.
f) kemudian dilakukan aktivitas kelompok yang kedua yaitu
menggambar.
g) Terapis membagikan selembar kertas dan pensi warna
h) Terapis memintak klien menggambar apa saja sesuai dengan yang
diinginkan saat ini.
i) Sementara klien mulai menggambar, terapis berkeliling dan
memberi penguatan kepada klien untuk terus menggambar. Jangan
mencela klien
j) Setelah semua klien selesai menggambar, terapis meminta masing-
masing klien untuk memperlihatkan dan menceritakan gambar
yang dibuatnya kepada klien lain. Yang harus diceritakan adalah
gambar apa dan apa makna gambar tersebut menurut klien
k) Kegiatan poin j dilakukan sampai semua klien mendapat giliran
l) Setiap kali klien selesai menceritakan gambarnya, terapis mengajak
klien lain bertepuk tangan

4. Tahap Terminasi
a) Leader atau Co.Leader memberikan pujian atas keberhasilan dan
kerjasama kelompok
b) Leader atau Co.Leader menanyakan perasaan klien setelah
mengikuti kegiatan TAK
c) Fasilitator membagikan Snack
d) Leader atau Co.Leader menganjurkan klien untuk sering
bersosialisasi, selalu bekerjasama, dan memasukkan kegiatan
mengontrol Halusinasi ke dalam kegiatan harian sebanyak 2x1.
e) Observer mengumumkan pemenang
f) Fasilitator membagikan hadiah kepada pemenang
5. Evaluasi
a) Klien mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir kegiatan
b) Kerja sama klien dalam kegiatan
c) Klien merasa senang selama mengikuti kegiatan
6. Setting tempat
a) Terapis dan klien duduk bersama dalam lingkaran
b) Ruangan yang nyaman dan tenang

Leader Co.Leader

P P

Fasilitator Fasilitator

P
P

P P

Observer

Keterangan Gambar:
L :Leader
CL :Co Leader
F :Fasilitator
O : Observer

7. Tata tertib dan Antisipasi Masalah


a) Tata tertib pelaksanaan TAK Halusinasi pendengaran ( Gg. Perseppsi
Sensori)
1) Peserta bersedia mengikuti kegiatan TAK Halusinasi (Gg. Persepsi
Sensori) sampai dengan selesai.
2) Peserta wajib hadir 5 menit sebelum acara TAK Halusinasi (Gg.
Persepsi Sensori) dimulai.
3) Peserta berpakaian rapi, bersih, dan sudah mandi.
4) Peserta tidak diperkenankan makan, minum, merokok selama
kegiatan TAK berlangsung.
5) Jika ingin mengajukan/menjawab pertanyaan, peserta mengangkat
tangan kanan dan berbicara setelah dipersilahkan oleh pemimpin.
6) Peserta yang mengacaukan jalannya acara akan dikeluarkan dari
permainan.
7) Peserta dilarang meninggalkan tempat sebelum acara TAK selesai.
8) Apabila waktu yang ditentukan untuk melaksanakan TAK telah
habis, sedangkan permainan belum selesai, maka pemimpin akan
meminta persetujuan anggota untuk memperpanjang waktu TAK.

b) Antisipasi kejadian yang tidak diinginkan pada proses TAK


1) Penanganan klien yang tidak efektif saat aktifitas kelompok
a. Memanggil klien
b. Memberi kesempatan kepada klien tersebut untuk menjawab
sapaan perawat atau klien yang lain
2) Bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit:
a. Panggil nama klien
b. Tanya alasan klien meninggalkan permainan
c. Berikan penjelasan tentang tujuan permainan dan berikan
penjelasan pada klien bahwa klien dapat melaksanakan
keperluannya setelah itu klien boleh kembali lagi
3) Bila ada klien lain ingin ikut
a. Berikan penjelasan bahwa permainan ini ditujukan pada klien
yang telah dipilih
b. Katakan pada klien lain bahwa ada permainan lain yang mungkin
dapat diikuti oleh klien tersebut
c. Jika klien memaksa, beri kesempatan untuk masuk dengan tidak
memberi peran pada permainan tersebut
8. Hasil pelaksanaan kegiatan TAK
c) Kegiatan TAK dilaksanakan pada September 2019 jam 10.00 WIB.
Kegiatan dilakukan di belakang Ruang Sibual Buali. Dalam
pelaksanaan TAK, jumlah klien berjumlah 10 orang peserta TAK
Laki-laki sesuai dengan proposal yang telah diajukan. Suasana
kegiatan TAK mulai dari awal hingga akhir acara berlangsung aman
dan nyaman, klien sangat bersemangat. Beberapa klien tampak masih
tidak mampu memperagakan/mengekspresikan SP Halusinasi ( Gg.
Perseppsi Sensori), namun klien mampu mengamati dengan baik jalan
nya kegiatan TAK.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Terapi aktivitas kelompok adalah aktivitas membantu anggotanya untuk
identitas hubungan yang kurang efektif dan mengubah tingkah laku yang
maladaptive (Stuart & Sundeen, 1998).
Terapi aktivitas kelompok merupakan salah satu terapi modalitas yang
dilakukan perawat kepada sekelompok klien yang mempunyai masalah
keperawatan yang sama. Aktivitas digunakan sebagi terapi, dan kelompok
digunakan sebagai target asuhan (Kelliat, 2005).
Depkes RI (1997) mengemukakan tujuan terapi aktivitas kelompok secara
rinci sebagai berikut:
1. Tujuan umum
a. Meningkatkan kemampuan menguji.
b. Meningkatkan teknik pengontrolan perilaku kekerasan
b) berkumpul, berkomunikasi dengan orang lain, saling memperhatikan
c) memberikan tanggapan terhadap pandapat maupun perasaan ortang
lain.
d) Meningkatkan kesadaran hubungan antar reaksi emosional diri sendiri
dengan prilaku defensif.
e) Membangkitkan motivasi bagi kemajuan fungsi-fungsi psikologis
f) seperti fungsi kognitif dan afektif.
2. Tujuan khusus
a) Meningkatkan identifikasi diri.
b) Penyaluran emosi.
c) Meningkatkan keterampilan hubungan sosial untuk kehidupan sehari-
hari.
B. Saran
Diharapkan bagi tenaga perawat menjadikan Terapi Aktivitas Kelompok
stimulasi persepsi sebagai tindakan keperawatan untuk setiap pasien dengan
masalah gangguan jiwa khusunya pasien Halusianasi karena menurut
penelitian Wibowo, F tahun 2014 TAK Stimulasi persepsi yang diberikan
pada klien Halusinasi memberikan pengaruh yang signifikan terhadap
kemampuan mengenal dan mengontrol halusinasi baik secara fisik maupun
secara sosial.
DAFTAR PUSTAKA

Ariandy, W., dkk.(2018).Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi


Berhubungan dengan Kemampuan pasien dalam Mengontrol Halusinasi.
jurnal keperawatan aisyiyah.14 (1).83-90

Keliat, Budi Anna., Akemat. (2012). Keperawatan Jiwa: Terapi Aktivitas


Kelompok. Jakarta:EGC

Bagus, Pan. 2014. Konsep Halusinasi Dan Strategi Pelaksanaan Halusinasi.


www.academia.edu diakses Oktober 2016.

Yusalia, Refiazka. 2015. Laporan Pendahuluan Dan Strategi Pelaksanaan


Halusinasi. www.academia.edudiakses Oktober 2016

Zelika, Alkhosiyah A. Dermawan, Deden. 2015. Kajian Asuhan Keperawatan


Jiwa Halusinasi Pendengaran Pada Sdr. D Di Ruang Nakula Rsjd
Surakarta. Jurnal Poltekkes Bhakti Mulia.

Darmaja, I Kade. 2014. Laporan Pendahuluan Dan Asuhan Keperawatan Pada Tn.
“S” Dengan Perubahan Persepsi Sensori : Halusinasi PendengaranDiruang
Kenari Rsj Dr. Radjiman Wedioningrat Lawang Malang. Program Studi
Profesi (Ners) Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Bakti
IndonesiaBanyuwangi

Pambayun, Ahlul H. 2015. Asuhan Keperawatan JiwaPada Ny. S Dengan


Gangguan Persepsi Sensori Halusinasi PendengaranRuang 11 (Larasati)
RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang. Asuhan Keperawatan Psikiatri
Akademi Keperawatan Widya Husada Semarang.

Wibowo, Ferry. (2013). Hubungan Terapi Aktivitas Kelompok Stimulasi Persepsi


denganKemampuan Pasien Mengontrol Perilaku Kekerasan di Rumah Sakit
Jiwa Medan Tahun 2013

Anda mungkin juga menyukai