Anda di halaman 1dari 9

DISTOSIA Jika kontraksi uterus tidak adekuat,

pemberian oxytocin dapat dilakukan. Jika


ditemukan posisi janin yang abnormal, rotasi
A. Pendahuluan manual dapat dipertimbangkan sebelum
memutuskan untuk melakukan persalinan vagina
operatif atau sectio caesarea.
Distosia adalah perlambatan pada saat persalinan
atau dikenal dengan istilah partus macet.
Patofisiologi perlambatan atau arrest persalinan
ini dapat terjadi pada kala 1 maupun kala 2. B. Patofisiologi
Berdasarkan penyebabnya maka patofisiologi
distosia dapat diklasifikasikan menjadi gangguan
kontraksi, abnormalitas pada janin, dan adanya Patofisiologi distosia atau partus macet adalah
gangguan pada jalan lahir. terjadinya perlambatan/arrest proses persalinan,
baik pada kala 1 maupun kala 2. Berdasarkan
Etiologi distosia dapat disebabkan oleh beberapa penyebabnya maka dapat diklasifikasikan menjadi
hal, antara lain disproporsi sefalopelvis, kontraksi gangguan kontraksi, abnormalitas pada janin, atau
uterus yang tidak adekuat, dan posisi janin yang adanya gangguan pada jalan lahir.
abnormal. Risiko distosia akan meningkat pada
primipartus, menggunakan analgesia epidural, 1. Gangguan Kontraksi
berat janin diatas 4.000 gram, posisi kepala janin
Kontraksi yang dibutuhkan untuk dapat melakukan
yang tinggi saat dilatasi serviks maksimal, dan usia
persalinan secara normal adalah minimal 200 unit
ibu diatas 35 tahun.
Montevideo. Ketika terdapat gangguan kontraksi,
maka proses persalinan akan terhambat. Kondisi
yang dapat menyebabkan gangguan kontraksi
adalah penggunaan anestesi atau analgesik karena
dapat menurunkan kontraktilitas rahim dan usaha
ibu untuk mengejan, abrupsio plasenta,
korioamnionitis, dan kehamilan lebih dari 42
minggu. Adanya jaringan parut, fibroid, atau hal
lain yang mengganggu hubungan antara segmen
uterus juga dapat menyebabkan kontraksi yang
Kondisi ini dapat menimbulkan komplikasi baik
tidak adekuat.
terhadap ibu maupun janin. Komplikasi yang dapat
terjadi pada ibu antara lain kelahiran melalui sectio Anim et al. melaporkan di Cochrane tahun 2018,
caesarea, trauma obstetrik, dan korioamnionitis. hasil meta analisis penelitian manajemen nyeri
Sedangkan komplikasi yang dapat terjadi pada persalinan dengan epidural versus nonepidural
janin antara lain nilai Apgar dibawah 7, trauma atau tanpa analgesia.
mayor atau minor, dan perawatan ke ruang rawat
intensif. Berdasarkan hasil ulasan ditemukan pada
penelitian yang membandingkan penggunaan
Pasien yang mengalami distosia harus terus antinyeri epidural versus nonepidural, maka
dilakukan pengawasan terhadap tanda vital ibu persalinan lebih lama dan lebih cenderung
dan anak. Tata laksana distosia disesuaikan dengan membutuhkan tambahan terapi oxytocin pada
penyebab yang mendasarinya. kelompok epidural dibandingkan kelompok opioid.
Sedangkan pada penelitian yang membandingkan faktor prediktif untuk distosia mekanik adalah
persalinan dengan epidural versus persalinan tinggi ibu < 150 cm, diameter bi-ischiatic <8 cm,
tanpa analgesia, maka tidak didapatkan perbedaan dan diameter pra-pubis Trillat <11 cm.
yang jelas pada lama persalinan, tambahan terapi
oxytocin, maupun angka kejadian sectio caesarea
karena gawat janin atau distosia.
C. Etiologi
2. Abnormalitas pada Janin

Abnormalitas pada janin yang dapat menyebabkan Etiologi distosia secara umum dibagi menjadi tiga
perlambatan persalinan seperti makrosomia, kelompok yang dikenal dengan singkatan 3P
malposisi, dan malpresentasi. Kondisi makrosomia (power, passage, dan passenger). Power
dapat meningkatkan faktor risiko distosia bahu, merupakan kontraksi uterus yang tidak
yaitu ketika ada ketidaksesuaian antara diameter adekuat, passage adalah abnormalitas jalan lahir,
panggul ibu dengan jarak antar bahu janin. sedangkan passenger menyatakan kondisi janin
yang tidak normal. Penyebab distosia bisa
Hasil penelitian pada persalinan ibu nulipara multifaktorial dari kondisi abnormal tersebut.
dengan posisi kepala janin yang masih tinggi
(floating) memiliki risiko kegagalan kemajuan Untuk dapat memilih penanganan yang tepat,
persalinan yang signifikan sehingga memerlukan maka penyebab distosia dapat diklasifikasikan
prosedur sectio caesarean. menjadi penyebab ibu hamil dan penyebab janin.

Yang paling banyak ditemukan adalah 1. Etiologi Ibu Hamil


perpanjangan persalinan kala 2 dan bayi yang
dilahirkan memiliki bobot lebih besar dengan skor Penyebab distosia dari faktor ibu termasuk
Apgar rendah. lemahnya kontraksi uterus dan kelainan jalan lahir.
Inersia uteri atau tidak adekuatnya kontraksi
3. Gangguan Jalan Lahir uterus bisa primer maupun sekunder. Inersia uteri
primer biasanya karena overdistensi uterus akibat
Janin yang akan dilahirkan akan melewati bagian kehamilan gemelli atau pada polihidramnion.
bawah rahim, rongga panggul, dan vagina. Ketika Sedangkan Inersia uteri sekunder disebabkan
ada obstruksi pada jalan lahir yang akan dilewati kelelahan miometrium akibat obstruksi persalinan.
janin, maka perlambatan persalinan dapat terjadi.
Beberapa kondisi yang dapat menghalangi jalan Kelainan jalan lahir termasuk disproporsi kepala
lahir adalah adanya cincin Bandl (jaringan otot janin dengan rongga pelvis ibu, deformitas pelvis,
antara segmen uterus bagian atas dan bawah), torsio uteri, dilatasi inkomplit serviks, atau adanya
abnormalitas pada rahim, atau rongga pelvis non massa pada seperti keganasan yang dapat
ginekoid (bentuk android, platipeloid, atau menutupi jalan lahir.Kondisi stenosis vulva dan
antropoid). vestibulum pada ibu hamil usia belia juga dapat
menyebabkan distosia.
Disproporsi kepala janin dengan rongga pelvis juga
akan menyebabkan distosia. Malonga et al. 2018,
melaporkan hasil penelitian tiga ukuran
antropometri ibu untuk memprediksi terjadinya
distosia mekanik. Dari 535 wanita nulipara,
2. Etiologi Janin  Faktor maternal, seperti hipertensi,
diabetes mellitus, riwayat kematian
Penyebab distosia dari faktor janin biasanya karena perinatal sebelumnya, penggunaan
malposisi, malpresentasi, atau disproporsi kepala obat fertilitas, dan riwayat distosia
panggul (cephal pelvic disproportion / CPD). Janin pada keluarga.
yang relatif lebih besar daripada pelvis ibu
 Polihidramnion atau oligohidramnion
(fetopelvic disproportion) akan menyebabkan
distosia, jadi malposisi dan malpresentasi janin  Ketuban pecah dini
tidak akan menjadi masalah bila besar bayi tidak
 Ansietas ibu hamil
terlalu besar.

Malposisi yang paling sering ditemukan adalah


posisi oksipitoposterior. Janin biasanya akan D. Epidemiologi
berputar menjadi oksipitoanterior saat sebelum
persalinan, namun sekitar 2 – 7% janin pada Epidemiologi distosia tidak diketahui secara pasti
kehamilan pertama akan tetap pada posisi karena penggunaan definisi yang berbeda-beda
oksipitoposterior. antar negara. Sebuah penelitian di Nigeria
menyebutkan prevalensi distosia adalah 2,13% dari
Faktor Risiko seluruh persalinan, sebagian besar disebabkan
disproporsi sefalopelvis. Di Indonesia terdapat
Ada beberapa kondisi yang dapat meningkatkan
penelitian di Banda Aceh menemukan 6,52%
risiko distosia, yaitu:
persalinan melalui sectio caesarea disebabkan oleh

 Usia ibu >35 tahun distosia. Kejadian mortalitas neonatus pada


persalinan distosia lebih tinggi daripada mortalitas
 Tinggi ibu < 150 cm
pada maternal.
 Primipara
Global
 Kehamilan multipel

 Usia kehamilan > 41 minggu Prevalensi distosia diperkirakan antara 4,8 – 21%
diantara seluruh persalinan pervaginam. Sebuah
 Panggul ibu sempit
penelitian kohort lain di Denmark pada 2.810
 Infeksi intrauterin wanita hamil menemukan bahwa 37% pasien
 Penggunaan analgesia epidural nulipara mengalami perlambatan persalinan dan
61% nya terjadi saat kala 2.
 Berat badan janin lebih dari 4.000 gram
(makrosomia) Data dari Amerika Serikat menunjukkan bahwa 1
 Posisi kepala tinggi saat dilatasi serviks dari 3 wanita hamil mengalami persalinan melalui
maksimal (>2 cm) sectio caesarian dan distosia menjadi penyebab
operasi sectio caesaria pada 34% kasus. Sebuah
 Posisi janin oksipitoanterior penelitian di Nigeria menemukan bahwa prevalensi
distosia adalah 2,13%.
Sebagian besar kasus distosia tersebut disebabkan Didefinisikan distosia pada kala 2 apabila lebih dari
oleh disproporsi sefalopelvis (65,37%), posisi 3 jam pada pasien nulipara dan lebih dari 2 jam
oksipitoposterior persisten (16,58%), dan pada pasien multipara.
malpresentasi (11,7%).
Anamnesis juga diarahkan untuk mengidentifikasi
Indonesia faktor risiko dan menentukan etiologi distosia.
Berikut adalah beberapa hal yang dapat ditanyakan
Data mengenai prevalensi distosia di Indonesia pada saat anamnesis:
masih belum banyak ditemukan. Studi di Rumah
Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin (RSUDZA)  Riwayat kehamilan dan persalinan sebelumnya
Banda Aceh menemukan bahwa 6,52% persalinan (jumlah kehamilan dan persalinan, adanya
melalui sectio caesarea disebabkan oleh distosia. riwayat abortus, adanya riwayat kematian
perinatal, riwayat bayi dengan berat badan
Mortalitas lahir lebih dari 4.000 gram, riwayat sectio
caesarea sebelumnya)
Berdasarkan penelitian di Nigeria, ditemukan
bahwa angka mortalitas ibu pada kasus distosia  Riwayat penyakit ibu (adakah riwayat
adalah 0,98% dan mortalitas bayi pada kasus hipertensi, diabetes, tumor pada organ
distosia adalah 34,15%. Studi lain yang dilakukan di kewanitaan, dan penggunaan obat-obat terkait
Jamshoro pada 1.650 ibu hamil menemukan fertilitas)
bahwa prevalensi distosia pada populasi subjek
 Riwayat kehamilan saat ini (pemantauan
adalah 6,4% (107 kasus). Dari keseluruhan kasus
selama kehamilan, apakah dari pemeriksaan
tersebut kematian maternal ditemukan pada 2,8%
sebelumnya ada kemungkinan penyulit)
kasus dan kematian pada neonatus ditemukan
pada 20,5% kasus.  Riwayat kehamilan dan persalinan di keluarga.

Pemeriksaan Fisik
E. Diagnosis
Pemeriksaan fisik dilakukan pada awal kedatangan
dan selama proses persalinan untuk memantau
Diagnosis distosia ditegakkan berdasarkan
adanya kemajuan persalinan. Berikut adalah
penghitungan durasi persalinan. Selain
beberapa hal yang perlu diobservasi.
menegakkan diagnosis distosia, kemungkinan
penyebab distosia harus dapat diketahui untuk
 Tanda vital ibu dan janin (pemeriksaan
menentukan rencana tata laksana.
tekanan darah dan nadi untuk ibu dan denyut
jantung janin untuk bayi, kedua pemeriksaan
Anamnesis
dapat dilakukan setiap jam. Jika ditemukan
Keluhan utama pada pasien dengan distosia adalah kondisi bradikardi pada janin, pemantauan
persalinan yang macet atau terhenti. Dikatakan dapat dilakukan setiap 5 – 10 menit.
terjadi perlambatan apabila kala 1 fase laten lebih Pemeriksaan suhu dapat dilakukan setiap 4
dari 20 jam pada pasien nulipara dan lebih dari 14 jam)
jam pada pasien multipara, sedangkan
perpanjangan kala 1 fase aktif apabila dilatasi
servikal kurang dari 2 cm dalam 4 jam.
 Perawatan terhadap kandung kemih dan Kateter Pengukur Tekanan Intrauterin
menjaga hidrasi yang adekuat (dapat
menggunakan kateter untuk mengosongkan Kateter ini biasanya digunakan untuk menilai
kandung kemih jika ibu kesulitan BAK) kontraksi pada pasien dengan kesulitan
pengukuran manual, seperti pada pasien obesitas
 Palpasi posisi dan presentasi janin (dapat
atau pasien yang memiliki respon minimal
menggunakan teknik Leopold)
terhadap oxytocin. Kateter juga dapat digunakan
 Frekuensi dan durasi kontraksi (dapat pada kondisi yang tidak memungkinkan bahwa
dilakukan setiap 30 menit) satu ibu hamil diawasi secara intensif oleh satu
 Cairan ketuban (jika sudah pecah dapat dinilai tenaga kesehatan. Akan tetapi, saat ini
warnanya) penggunaan kateter secara rutin untuk
mendiagnosis distosia tidak direkomendasikan.
 Penilaian dilatasi, posisi, dan penipisan serviks
melalui pemeriksaan dalam atau vaginal Pemeriksaan Partograf
touche (dapat dilakukan setiap jam pada kala
Partograf merupakan sebuah alat yang digunakan
2)
untuk melihat kemajuan persalinan. Alat ini
 Penilaian jalan lahir (apakah terdapat massa biasanya banyak digunakan di negara-negara
yang dapat menutupi jalan lahir) berkembang. Partograf dapat mengindikasikan
 Kondisi emosional dan psikologis ibu adanya keterlambatan persalinan sejak kala 1
sehingga hambatan pada kala 2 dapat dicegah
Diagnosis Banding karena telah diberikan tata laksana sejak awal.

Diagnosis banding distosia adalah menentukan


etiologi distosia. Gangguan pada kontraksi dapat
diketahui dengan menilai durasi dan frekuensi F. Tatalaksana
kontraksi. Abnormalitas pada janin dapat diketahui
dengan melakukan pemeriksaan leopold
Tata laksana pada distosia bergantung dari
dan vaginal touche untuk mengetahui posisi,
etiologinya. Tata laksana yang dapat dilakukan
presentasi, dan memperkirakan berat janin.
adalah penggunaan oksitosin, rotasi manual,
Abnormalitas pada jalan lahir dapat diketahui
persalinan vaginal operatif, simfisiotomi, dan sectio
dengan menilai posisi kepala janin dan
caesarea.
melakukan vaginal touche untuk menyingkirkan
kemungkinan adanya tumor pada jalan lahir. Rekomendasi Umum

Pemeriksaan Penunjang American College of Obstetricians and


Gynecologist (ACOG) dan National Institute for
Pemeriksaan penunjang umumnya tidak
Health and Clinical Excellence (NICE)
dibutuhkan pada saat distosia kala 2 persalinan.
merekomendasikan bahwa selama kala 2
Pemeriksaan yang dapat digunakan antara lain
persalinan, evaluasi terhadap ibu dan janin harus
kateter untuk mengukur tekanan intrauterin dan
terus dilakukan secara berkala. NICE
pemeriksaan partograf.
merekomendasikan evaluasi dilakukan setiap 15 –
30 menit.
ACOG dan NICE merekomendasikan amniotomi Tabel 1. Dosis Oksitosin
untuk mempercepat persalinan pada kondisi
ketuban yang belum pecah. NICE
merekomendasikan amniotomi dilakukan setelah 1
jam kala 2 pada pasien nulipara dan setelah 30
menit kala 2 pada pasien multipara.

Tata Laksana untuk Gangguan Kontraksi

Pasien dengan kontraksi uterus yang tidak adekuat


dapat diberikan oksitosin pada awal kala 2
persalinan. NICE hanya merekomendasikan
Pemberian oxytocin dihentikan apabila ditemukan
penggunaan oksitosin untuk penanganan distosia
takisistol uterus yang ditandai dengan frekuensi
pada pasien nulipara dengan kontraksi yang tidak
kontraksi lebih dari 5 kali dalam 10 menit, durasi
adekuat. Pasien multipara dengan distosia perlu
per kontraksi lebih dari 2 menit, atau jarak antara
perhatian khusus sebelum
kontraksi kurang dari 1 menit. Jika pemberian
memberikan oxytocin karena dapat terdapat risiko
oksitosin tidak membantu kemajuan persalinan,
ruptur uteri.
pertimbangkan persalinan dengan instrumen atau
sectio caesarea.
Sebelum memberikan oxytocin, harus dipastikan
bahwa tidak ada disproporsi antara kepala janin Tata Laksana Abnormalitas Janin
dengan rongga pelvis, tidak ada insisi uterus, tidak
ada kondisi malpresentasi, denyut jantung janin Abnormalitas pada janin yang dapat ditemukan
dalam keadaan normal, dan tidak ada hambatan adalah malposisi kepala janin. Malposisi yang
pada jalan lahir. Pada kasus kelahiran per vaginam sering ditemukan adalah oksipitoposterior. Pada
pasca operasi Caesar (Vaginal Birth After Cesarean kondisi ini, oksipital janin akan menghadap ke
section / VBAC) dapat dilakukan Trial Of Labor tulang belakang ibu dan muka janin menghadap ke
After Cesarean Section (TOLAC). simfisis. Malposisi ini dapat ditata laksana dengan
melakukan rotasi manual. Rotasi ini bertujuan
Dosis oxytocin intravena yang diberikan untuk mengembalikan posisi janin ke
berbeda-beda antara setiap individu karena setiap oksipitoanterior.
individu menunjukkan respon klinis yang berbeda
Selain menggunakan rotasi manual, ada beberapa
sehingga dosis perlu dititrasi. Target pemberian
posisi dan pergerakan yang dapat dilakukan oleh
oksitosin adalah tercapainya kontraksi adekuat
ibu, yaitu posisi knee-chest, hands-and-knees,
dengan frekuensi 3 – 5 kali dalam 10 menit dan
pelvic rocking, side-lying, atau duduk asimetris.
kekuatan kontraksi 200 Montevideo unit dalam 10
menit. Jika rotasi manual dan perubahan posisi gagal
dilakukan, maka persalinan dengan instrumen atau
sectio caesarea dapat dipertimbangkan.
Tata Laksana Abnormalitas Jalan Lahir Simfisiotomi

Abnormalitas jalan lahir yang dapat ditemukan Simfisiotomi dapat dijadikan alternatif tata laksana
adalah disproporsi antara kepala janin dan pelvis distosia pada kondisi dengan sumber daya minimal
serta adanya obstruksi pada jalan lahir (biasanya dan sectio caesarea tidak memadai untuk
disebabkan oleh kandung kemih yang penuh atau dilakukan. Prosedur ini dilakukan dengan cara
ada keganasan). Kandung kemih yang penuh dapat membagi ligamen simfisis dengan menggunakan
menghambat kemajuan persalinan, untuk itu anestesi lokal atau umum. Setelah dilakukan
kandung kemih perlu dikosongkan terlebih dahulu. simfisiotomi, diameter simfisis dapat meningkat
Kateter urin dapat dipasang jika ibu tidak dapat sebanyak 1 cm dan hal ini bersifat permanen.
mengosongkan kandung kemih. Pada kondisi
disproporsi dan adanya obstruksi jalan lahir,
persalinan melalui sectio caesarea dapat
dipertimbangkan. G. Prognosis

Persalinan dengan Instrumen dan Sectio Caesarea


Prognosis distosia biasanya berpengaruh terhadap
kehamilan dan persalinan selanjutnya. Beberapa
Persalinan dengan instrumen dapat dijadikan salah
penelitian menyatakan bahwa distosia saat
satu alternatif tata laksana pada kasus distosia.
persalinan biasanya akan menyebabkan kesulitan
Pemilihan instrumen yang digunakan tergantung
persalinan pada kehamilan berikutnya. Sementara
dari kondisi klinis dan kemampuan tenaga
itu distosia dapat menyebabkan komplikasi, baik
kesehatan. Saat melakukan persalinan dengan
dari ibu maupun bayi.
instrumen, penggunaan anestesi
direkomendasikan, namun jika pasien menolak
Komplikasi
anestesi lokal pada perineum untuk memblok
nervus pudendal dapat dilakukan. Jika persalinan
Sebuah studi kohort retrospektif pada lebih dari
melalui instrumen ini tidak berhasil
50.000 wanita dengan kehamilan lebih dari 37
dilakukan, sectio caesarea dapat minggu dan tidak memiliki riwayat sectio caesarea,
dipertimbangkan. untuk melihat komplikasi distosia pada ibu dan
anak. Pasien yang melakukan dorongan aktif lebih
Sampai saat ini tidak ada batasan durasi yang jelas dari 1 jam memiliki risiko lebih tinggi untuk
untuk menentukan bahwa pasien perlu dilakukan mengalami sectio caesarea, persalinan vaginal
persalinan operatif atau sectio caesarea.
operatif, perdarahan pasca persalinan, dan laserasi
Keputusan untuk melakukan sectio caesarea pada
kasus distosia diambil berdasarkan kondisi ibu dan derajat 3 dan 4 pada perineum.
janin. Pada kasus makrosomia, sectio caesarea
Studi tersebut juga meneliti adanya komplikasi
biasanya digunakan pada janin dengan taksiran
pada janin. Komplikasi yang dinilai dalam studi
berat janin diatas 5.000 gram untuk ibu tanpa
adalah penggunaan ventilasi mekanik, sepsis,
diabetes dan diatas 4.500 gram untuk ibu dengan
kelumpuhan pleksus brakial, fraktur, kejang,
diabetes.
ensefalopati hipoksik-iskemik, atau kematian di
bawah 120 hari. Komplikasi ini ditemukan lebih
banyak pada pasien yang melakukan dorongan
aktif diatas 2 jam pada pasien nulipara dan diatas 1
jam pada pasien multipara.
Pada studi kohort lain dengan jumlah subjek lebih H. Edukasi Dan Promosi Kesehatan
dari 120.000 ditemukan bahwa risiko
korioamnionitis, trauma pada persalinan, dan
Edukasi penting untuk diberikan baik bagi pasien
trauma pada neonatus akan semakin meningkat
maupun keluarga pasien mencakup kondisi ibu dan
seiring dengan peningkatan durasi pada kala 2
janin, rencana tindakan yang akan dilakukan
persalinan. Risiko morbiditas maternal yang
beserta risikonya, dan kemungkinan komplikasi
termasuk dalam studi ini adalah korioamnionitis,
yang dapat terjadi. Pencegahan distosia dapat
trauma obstetrik, transfusi darah, pendarahan
dilakukan dengan mengontrol faktor risiko dan
pasca persalinan, komplikasi luka, dan demam
melakukan manajemen persalinan yang baik.
pada masa nifas. Komplikasi tersebut ditemukan
tertinggi pada durasi kala 2 lebih dari 5 jam pada Edukasi Pasien
pasien nulipara dan lebih dari 3 jam pada pasien
multipara. Edukasi pada pasien dan keluarga pasien perlu
mencakup hal-hal berikut:
Untuk morbiditas pada neonatus, kondisi yang
dinilai adalah nilai Apgar kurang dari 7, trauma  Kondisi ibu dan janin (tanda vital, kemajuan
mayor dan minor, sepsis, dan dirawatnya neonatus persalinan, dan penyulit yang ditemukan)
ke ruang intensif. Risiko ini ditemukan paling tinggi
 Rencana observasi dan tindakan yang akan
pada durasi kala 2 antara 4–5 jam pada pasien
dilakukan
nulipara dan antara 2–3 jam pada pasien
 Komplikasi dari tindakan yang akan dilakukan
multipara.
Edukasi diatas penting untuk dilakukan karena
Prognosis menyangkut pengambilan keputusan oleh keluarga
terhadap langkah yang akan dilakukan. Edukasi
Sebuah studi kohort retrospektif pada 1.655 untuk terus memberikan dukungan kepada pasien
wanita menemukan bahwa pasien sectio juga penting untuk diberitahukan kepada keluarga
caesarea karena distosia pada kala 2 persalinan, pasien. Berdasarkan meta-analisis yang dilakukan
oleh Cochrane pada 5.429 ibu, pemberian
akan memiliki risiko distosia bahu, persalinan
dukungan kepada ibu secara berkelanjutan selama
pervaginal operatif dan ruptur uteri pada kala 2
proses persalinan dapat menurunkan durasi
persalinan pada persalinan berikutnya. Risiko ini persalinan dengan rerata perbedaan 0,69 jam (IK
lebih tinggi pada kasus janin makrosomia. 95% -1,04 sampai -0,34) dibandingkan dengan
kelompok kontrol. Selain itu, dari meta analisis di
Studi retrospektif lain pada 1.650 wanita
atas juga didapatkan bahwa ibu yang diberikan
menemukan bahwa 6,4% di antaranya mengalami
dukungan secara kontinyu memiliki risiko yang
perlambatan persalinan (obstructed labour).
lebih rendah untuk melakukan persalinan dibantu
Morbiditas akibat perlambatan persalinan yang
dengan alat atau melalui operasi sectio caesaria.
paling banyak ditemukan pada ibu adalah infeksi
saluran kemih (36,4%), sepsis puerperium (28,0%),
Edukasi lain yang dapat diberikan untuk
ekstensi insisi uterus (25,2%), dan perdarahan
mengurangi risiko distosia adalah latihan otot
postpartum akibat atonia uteri (17,8%). Sementara
pelvis, menjaga posisi ibu saat persalinan awal
itu, lebih dari setengah bayi yang lahir dari kondisi
pada posisi berdiri atau duduk tegak, dan menjaga
distosia membutuhkan perawatan insentif karena
hidrasi.
nilai Apgar kurang dari 7.
Upaya Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Pencegahan dapat dilakukan dengan


mengendalikan faktor risiko seperti penggunaan
analgesia epidural, berat badan janin lebih dari
4.000 gram, hidramnion, adanya kelainan pada
cairan amnion, membran ketuban yang telah
pecah terlebih dahulu, adanya hipertensi atau
diabetes pada ibu, dan penggunaan obat fertilitas.

Pencegahan yang dapat dilakukan pada saat


intrapartum adalah menjaga posisi ibu dalam posisi
tegak, menjaga status hidrasi, dan tidak berlebihan
dalam menggunakan anestesi regional.