Anda di halaman 1dari 8

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PERAWATAN BAYI PREMATUR DAN BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)

Disusun Oleh:
Nur Rohmatul Aini (P27824416068)
Dita Yeni Rahmawati (P27824416069)

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


BADAN PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN
SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
PRODI DIV KEBIDANAN SUTOMO
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA
TAHUN 2019
Kepala

Ruangan NICU RSUD Dr. M


Soewandhie Surabaya
SATUAN ACARA PENYULUHAN
PERAWATAN BAYI PREMATUR DAN BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)

Pokok Pembahasan : Perawatan bayi prematur dan berat lahir rendah


Sub Pokok Pembahasan :
a. Pengertian bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
b. Klasifikasi bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
c. Penyebab bayi prematur dan berat lahir rendah(BBLR)
d. Masalah yang terjadi pada bayi prematur dan berat lahir
rendah (BBLR)
e. Pencegahan terjadinya bayi prematur dan berat lahir
rendah (BBLR)
f. Perawatan bayi prematur dan berat lahir rendah(BBLR)
Sasaran : Ibu hamil di Desa Asempapak
Jam : 09.00 s/d selesai
Waktu : 30 menit
Tanggal : 03 Agustus 2019
Tempat : Pos Kesehatan Desa Asempapak Sidayu Gresik
Nama Pemateri : Nur Rohmatul Aini dan Dita yeni Rahmawati

I. Tujuan Umum
Setelah diberikan penyuluhan, diharapkan peserta penyuluhan mampu memahami dan
mengerti tentang Perawatan Bayi Prematur dan Berat Lahir Rendah (BBLR)

II. Tujuan Khusus


Setelah mengikuti penyuluhan, diharapkan keluarga pasien di Ruang NICU Lantai III
RSUD Dr. M Soewandhi Surabaya dapat:
1. Menjelaskan tentang pengertian bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
2. Menjelaskan tentang klasifikasi bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
3. Menjelaskan tentang penyebab bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
4. Menjelaskan tentang masalah pada bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
5. Menjelaskan cara pencegahan terjadinya bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
6. Menjelaskan tentang perawatan bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)

III. Materi Penyuluhan (Terlampir)


1. Pengertian bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
2. Klasifikasi bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
3. Penyebab bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
4. Masalah pada bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
5. Pencegahan terjadinya bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
6. Perawatan bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
IV. Metode Penyuluhan
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

V. Media dan Alat Bantu


1. Leaflet
2. PPT
3. Laptop

VI. Kegiatan Penyuluhan


No Tahap Kegiatan Waktu Kegiatan Penyuluhan Sasaran Media
1. Pembukaan 5 menit a. Mengucapkan salam  Menjawab salam Kata-kata/
b. Memperkenalkan diri  Mendengarkan dan kalimat
c. Menyampaikan tentang
menyimak
tujuan pokok materi  Bertanya mengenai
d. Meyampakaikan pokok
perkenalan dan
pembahasan
e. Kontrak waktu tujuan,bila ada yang
kurang jelas
2. Pelaksanaan 30 menit a. Penyampaian Materi: Mendengarkan dan PPT
1. Menjelaskan tentang
menyimak Leaflet
pengertian bayi
Bertanya mengenai hal-
prematur dan berat
hal yang belum jelas dan
lahir rendah (BBLR)
dimengerti
2. Menjelaskan tentang
klasifikasi bayi
prematur dan berat
lahir rendah (BBLR)
3. Menjelaskan tentang
penyebab bayi prematur
dan berat lahir rendah
(BBLR)
4. Menjelaskan tentang
masalah pada bayi
prematur dan berat lahir
rendah (BBLR)
5. Menjelaskan cara
pencegahan terjadinya
bayi prematur dan berat
lahir rendah (BBLR)
6. Menjelaskan tentang
perawatan bayi prematur
dan berat lahir rendah
(BBLR).
a. Tanya Jawab
h. Memberikan kesempatan
pada peserta penyuluhan
untuk bertanya
3. Penutup 5 menit a. Melakukan evaluasi  Sasaran dapat Kata-kata/
b. Menyampaikan
menjawab tentang kalimat
kesimpulan materi
pertanyaan yang
c. Mengakhiri pertemuan
diajukan
dan memberi salam
 Mendengar
 Memperhatikan
 Menjawab salam

VII. Evaluasi
Diharapkan keluarga mampu :
1. Menjelaskan tentang pengertian bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
2. Menjelaskan tentang klasifikasi bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
3. Menjelaskan tentang penyebab bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
4. Menjelaskan tentang masalah pada bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
5. Menjelaskan cara pencegahan terjadinya bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
6. Menjelaskan tentang perawatan bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
Lampiran
MATERI
PERAWATAN BAYI PREMATUR DAN BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)

1. Pengertian bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)


Menurut definisi WHO, bayi prematur adalah bayi lahir hidup sebelum usia kehamilan
minggu ke 37 (dihitung dari hari pertama haid terakhir). Bayi prematur atau bayi preterm
adalah bayi yang berumur kehamilan 37 minggu tanpa memperhatikan berat badan,
sebagian besar bayi prematur lahir dengan berat badan kurang 2500 gram (Surasmi, dkk,
2003).
Umumnya kehamilan disebut cukup bulan bila berlangsung antara 37-41 minggu
dihitung dari hari pertama siklus haid terakhir pada siklus 28 hari. Sedangkan persalinan
yang terjadi sebelum usia kandungan mencapai 37 minggu disebut dengan persalinan
prematur (Sulistiarini & Berliana, 2016).
Istilah prematuritas telah diganti dengan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) karena
terdapat dua bentuk penyebab kelahiran bayi dengan berat badan kurang dari 2500 gram,
yaitu karena usia kehamilan kurang dari 37 minggu, berat badan lebih rendah dari
semestinya, sekalipun umur cukup, atau karena kombinasi keduanya (Maryunani &
Nurhayati, 2009).
Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir
kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram). Bayi berat lahir rendah (BBLR)
merupakan istilah lain untuk bayi prematur hingga tahun 1961. Istilah ini mulai diubah
dikarenakan tidak seluruh bayi dengan berat badan lahir rendah (kurang dari 2500gram)
lahir secara prematur (Manuaba et al., 2007). World Health Organization (WHO)
mengubah istilah bayi prematur (premature baby) menjadi berat bayi lahir rendah (low
birth weight) dan sekaligus mengubah kriteria BBLR yang sebelumnya ≤ 2500 gram
menjadi < 2500 gram (Putra, 2012).

2. Klasifikasi bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)


Klasifikasi BBLR dapat dibagi berdasarkan derajatnya dan masa gestasinya.
Berdasarkan derajatnya, BBLR diklasifikasikan menjadi tiga kelompok, antara lain :
a. Berat bayi lahir rendah (BBLR) atau low birth weight (LBW) dengan berat lahir 1500
– 2499 gram.
b. Berat bayi lahir sangat rendah (BBLSR) atau very low birth weight (VLBW) dengan
berat badan lahir 1000 – 1499 gram.
c. Berat bayi lahir ekstrem rendah (BBLER) atau extremely low birth weight (ELBW)
dengan berat badan lahir < 1000 gram (Meadow &Newell, 2005).
Berdasarkan masa gestasinya, BBLR dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
a. Prematuritas murni/Sesuai Masa Kehamilan (SMK)
Bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu dan berat badan sesuai dengan
berat badan untuk usia kehamilan. Kepala relatif lebih besar dari badannya, kulit tipis,
transparan, lemak subkutan kurang, tangisnya lemah dan jarang,.
b. Dismaturitas/Kecil Masa Kehamilan (KMK)
Bayi dengan berat badan kurang dari berat badan yang seharusnya untuk usia
kehamilan, hal tersebut menunjukkan bayi mengalami retardasi pertumbuhan
intrauterin (Surasmi et al., 2003; Syafrudin & Hamidah, 2009; Rukmono, 2013).

3. Penyebab bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)


Penyebab dari BBLR dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain faktor ibu dan
faktor janin.
a. Faktor dari ibu meliputi:
 Berat badan sebelum hamil rendah,
 Penambahan berat badan yang tidak adekuat selama kehamilan,
 Gizi saat hamil yang kurang,
 Malnutrisi,
 Memiliki riwayat kehamilan dengan berat badan lahir rendah,
 Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun.
 Tubuh pendek,
 Jarak hamil dan bersalin terlalu dekat (kurang dari 1 tahun).
 Adanya komplikasi kehamilan : preeklamsia/ eklamsia, ketuban pecah
dini,perdarahan antepartum,kehamilan dengan hidramnion.
 Hamil kembar
 Ibu menderita anemi
 Penyakit menahun ibu : hipertensi, gangguan pembuluh darah .
 Ibu perokok, peminum alkohol, pecandu narkotik.
 Infeksi pada ibu selama kehamilan,
 Status pelayanan antenatal (frekuensi dan kualitas pelayanan antenatal, tenaga
kesehatan tempat periksa hamil, umur kandungan saat pertama kali pemeriksaan
kehamilan)
 Stres maternal (stres selama kehamilan)
b. Faktor janin dan plasenta yang dapat menyebabkan BBLR antara lain:
 Kehamilan ganda (kembar),
 Hidroamnion,
 Cacat bawaan.
c. Faktor lain:
 Sosial ekonomi rendah,
 Status pelayanan antenatal (frekuensi dan kualitas pelayanan antenatal, tenaga
kesehatan tempat periksa hamil, umur kandungan saat pertama kali pemeriksaan
kehamilan)

4. Masalah pada bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)


Masalah yang sering dijumpai pada BBLR antara lain:
a. Keadaan umum bayi yang tidak stabil,
b. Henti nafas,
c. Inkoordinasi reflek menghisap dan menelan,
d. Serta kurang baiknya kontrol fungsi motorik oral, sehingga beresiko mengalami
kekurangan gizi dan keterlambatan tumbuh kembang.
Keterlambatan tersebut dapat dilihat pada fisik BBLR, seperti berat badan rendah (<
2500 gram), panjang badan pendek (≤ 45 cm), dan lingkar kepala kecil (< 33 cm).
Kekurangan gizi ini diantaranya disebabkan oleh meningkatnya kecepatan pertumbuhan,
serta semakin tingginya kebutuhan metabolisme, sedangkan cadangan energi yang tidak
mencukupi, sistem fisiologi tubuh yang belum sempurna, atau karena bayi dalam keadaan
sakit (IDAI, 2010; WHO, 2011; Silangit, 2013).

5. Pencegahan terjadinya bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)


a. Melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin
b. Memenuhi nutrisi yang sehat dan seimbang selama hamil
c. Mengurangi aktivitas yang berbahaya selama hamil
d. Mengikuti program keluarga berencana
e. Selama hamil mengkonsumsi tablet tambah darah
f. Mengikuti penyuluhan kesehatan
6. Perawatan bayi prematur dan berat lahir rendah (BBLR)
Bayi berat lahir rendah (BBLR) memerlukan penanganan yang tepat untuk mengatasi
masalah-masalah yang terjadi. Penanganan BBLR meliputi hal-hal berikut :
a. Mempertahankan suhu dengan ketat.
BBLR mudah mengalami hipotermia. Oleh karena itu, suhu tubuhnya harus
dipertahankan dengan ketat.
b. Mencegah infeksi dengan ketat.
Dalam penanganan BBLR harus memperhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi
karena sangat rentan. Salah satu cara pencegahan infeksi, yaitu dengan mencuci
tangan sebelum memegang bayi.
c. Pengawasan nutrisi dan ASI.
Refleks menelan pada BBLR belum sempurna. Oleh karena itu, pemberian nutrisi
harus dilakukan dengan hati-hati.
d. Penimbangan ketat.
Penimbangan berat badan harus dilakukan secara ketat karena peningkatan berat
badan merupakan salah satu status gizi/nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya
tahan tubuh (Syafrudin & Hamidah, 2009).