Anda di halaman 1dari 54

RANCANGAN AKTUALISASI

NILAI–NILAI DASAR PEGAWAI NEGERI SIPIL,


KEDUDUKAN DAN PERANNYA
DALAM NEGARA KESATUAN REPUBLIK INDONESIA

PENINGKATAN MINAT BELAJAR MATA PELAJARAN SEJARAH


KEBUDAYAAN ISLAM MELALUI MODEL PEMBELAJARAN
VISUAL, AUDITORIAL DAN KINESTETIK (VAK) DI MADRASAH
TSANAWIYAH NEGERI 2 SUMENEP

Oleh:

ALIF SYAICHU ROHMAN


NIP. 198906102019031014

Peserta PeLatihan Dasar CPNS Gol. III


Angkatan XVII

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA


BALAI PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEAGAMAAN SURABAYA
TAHUN 2019

i
LEMBAR PERSETUJUAN
RANCANGAN AKTUALISASI NILAI-NILAI DASAR PNS

Nama : ALIF SYAICHU ROHMAN


NIP. : 198910062019031014
Unit Kerja/Magang : MTs NEGERI 2 SUMENEP

Telah Disetujui dan diseminarkan


Pada hari Sabtu tanggal 05 Oktober 2019

Pembimbing Mentor

Hj. Heni Mardiningsih, S.E, M.M. Drs. H. ZAINI MUKHSIN, M.Pd.


NIP. 197111152009012002 NIP. 196812241992031005

Penguji

Dr.H. MUCHAMMAD TOHA, S.Ag.,M.Si


NIP. 196910282002121002

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam yang mengatur kehidupan
dengan bijaksana. Atas karunia dan nikmat-Nya penulis dapat menyusun rancangan
aktualisasi yang berjudul “Peningkatan minat belajar siswa pada mata pelajaran
Sejarah Kebudayaan Islam melalui model pembelajaran Visual, Auditorial dan
Kinestetik (VAK)di MTs Negeri 2 Sumenep” dengan maksimal. Sholawat dan salam
mari kita sampaikan kepada junjungan kita nabi agung Muhammad SAW yang telah
menerangi dunia dengan ilmu dan keteladanannya. Salam dan doa juga tak lupa
penulis sampaikan kepada keluarga, sahabat dan seluruh umatnya yang setia
hingga akhir zaman.
Rancangan aktualisasi ini merupakan wujud inovasi penulis dalam hal
mengembangkan metode pembelajaran agar peserta didik mampu memahami
dengan mudah dan cepat materi pelajaran yang disampaikan oleh seorang pendidik.
Tanpa support dan bantuan dari berbagai pihak maka rancangan ini tidak dapat
terselesaikan. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu proses pembuatan rancangan aktualisasi ini.
Meski telah disusun dengan sebaik mungkin, penulis menyadari masih banyak
kesalahan dalam rancangan ini. Sehingga kami mengharapkan keridhoan pembaca
sekalian untuk memberikan kritik dan saran sebagai bahan evaluasi.

Surabaya, Oktober 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..................................................................................... i


LEMBAR PERSETUJUAN ......................................................................... ii
KATA PENGANTAR .................................................................................. iii
DAFTAR ISI ............................................................................................... iv
DAFTAR TABEL ........................................................................................ v
DAFTAR GAMBAR .................................................................................... vi
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang ............................................................................ 1
B. Tujuan dan Manfaat .................................................................... 9
C. Ruang Lingkup ............................................................................ 9
BAB II RANCANGAN AKTUALISASI .......................................................... 6
A. Deskripsi Organisasi ................................................................... 6
B. Deskripsi Isu / Situasi Problematik Pengadilan ........................... 10
C. Analisis Isu .................................................................................. 14
D. Argumentasi terhadap Core Issue .............................................. 16
E. Nilai – Nilai Dasar Profesi PNS ................................................... 19
F. Matrix Rancangan ....................................................................... 30
G. Jadual Kegiatan .......................................................................... 43
H. Kendala dan Antisipasi ............................................................... 43
BAB III SIMPULAN ..................................................................................... 45
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 46

iv
DAFTAR TABEL

Tabel 1 Bobot Penilaian Kriteria Isu dengan AKPK .......................................... 14


Tabel 2 Indeks Penilaian Kriteria Isu dengan AKPK ......................................... 15
Tabel 3 Indeks Penilaian Kualitas Isu dengan USG ......................................... 16
Tabel 4 Matrix Rancangan Aktualisasi ............................................................. 30
Tabel 5 Jadwal Kegiatan .................................................................................. 43
Tabel 6 Kendala dan Antisipasi ........................................................................ 43

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Struktur Organisasi Madrasah ......................................................... 5


Gambar 2 Mind Mapping Core Issue ................................................................ 20
Gambar 2 Tingkatan Akuntabilitas ................................................................... 29

vi
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan zaman yang terjadi begitu cepat merupakan suatu yang
tak bisa terelakkan. Zaman yang bergerak dinamis menuntut manusia juga harus
dinamis dalam menyikapinya. Pada era revolusi industri 4.0 semua elemen
masyarakat juga harus bisa melakukan perubahan dan inovasi agar tidak
tergerus oleh zaman. Hal ini juga berlaku bagi Aparatur Sipil Negara (ASN).
ASN sebagai salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam
mewujudkan cita-cita bangsa dan Negara juga harus bisa melakukan
peningkatan dan perubahan. Dalam Undang – undang Nomor 5 Tahun 2014
disebutkan bahwa fungsi ASN sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan
publik, serta perekat dan pemersatu bangsa. ASN sebagai pelaksana kebijakan
publik memiliki tugas meliputi pendayagunaan kelembagaan, kepegawaian, dan
ketatalaksanaan serta melalui pembangunan bangsa (cultural and political
development) dan melalui pembangunan ekonomi dan sosial (economic and
social development) yang diarahkan meningkatkan kesejahteraan dan
kemakmuran seluruh masyarakat. Sebagai pelayanan publik, ASN memiliki
kewajiban memberikan pelayanan atas barang, jasa, dan/atau pelayanan
administratif kepada masyarakat. Adapun fungsi ASN sebagai pemersatu
bangsa yaitu turut andil dalam menjaga toleransi di atas perbedaan-perbedaan
dan kemajemukan yang terdapat di negeri ini.
Selain fungsi dan tugas, Aparatur Sipil Negara juga memiliki peran
sebagai perencana, pelaksana dan pengawas penyelenggara tuga umum
pemerintahan dan pembangunan nasional melalui pelaksana kebijakan dan
pelayan publik yang profesional, bebas dari intervensi politik, serta bersih dari
praktik korupsi, kolusi dan nepotisme. Oleh karena itu, ASN harus bekerja
dengan baik dengan mengutamakan kepentingan publik atau masyarakat dan
bekerja sesuai dengan fungsi, tugas dan peran Aparatur Sipil Negara.
Dalam undang-undang nomor 5 tahun 2014 juga disebutkan dalam pasal
63 ayat (3) dan ayat (4), CPNS wajib menjalani masa percobaan yang
dilaksanakan melalui proses Diklat yang terintegrasi untuk membangun integritas
moral, kejujuran, semangat dan motivasi nasionalisme dan kebangsaan, karakter

1
kepribadian yang unggul dan bertanggungjawab, dan memperkuat
profesionalisme serta kompetensi sesuai bidang dan tugas fungsi masing-
masing. Sejalan dengan hal tersebut maka dicetuskan sebuah penyelenggaraan
pelatihan yang inovatif dan terintegrasi, yaitu penyelenggaraan pelatihan yang
memadukan pembelajaran klasikal dan non-klasikal di tempat pelatihan dan di
tempat kerja yang disebut habituasi.

Tujuan dari pelaksanaan Latihan Dasar agar setiap peserta Latsar mampu
menginternalisai dan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar keprofesian ASN yaitu
Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korusi yang
biasa di sebut ANEKA. Dalam proses habituasi diharapkan agar setiap peserta
dapat membawa perubahan-perubahan yang positif pada satuan kerja masing-
masing sesuai dengan nilai-nilai keprofesian ASN yaitu ANEKA. Oleh karena itu,
penulis sebagai CPNS dalam proses habituasinya harus menemukan isu, yang
dalam isu tersebut akan memunculkan kegiatan-kegiatan yang didalamnya
terdapat aktualisasi terhadap nilai ANEKA sehingga terdapat perubahan yang
positif untuk kebaikan instansinya.
Berangkat dari hal diatas penulis sebagai salah satu bagian dari CPNS
dengan posisi sebagai seorang guru mencoba untuk mengangkat salah satu isu
yang penulis temukan di Instansi penulis. Posisi penulis sebagai seorang guru
harus memiliki peranan yang penting dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
Salah satunya dengan memberikan pelayanan pembelajaran yang baik terhadap
siswa. Salah satu bentuk pelayanan yang diberikan adalah mengatasi beberapa
kesulitan belajar yang dialami oleh siswa. Kesulitan belajar yang terjadi pada
siswa salah satunya bisa di sebabkan oleh rendahnya minat siswa.
Tak bisa dipungkiri bahwa dalam melakukan segala kegiatan individu
akan sangat dipengaruhi oleh minatnya terhadap sesuatu, dengan adanya minat
yang cukup besar akan mendorong seseorang untuk mencurahkan perhatiannya
hal tersebut akan meningkatkan pula seluruh fungsi jiwanya untuk dipusatkan
pada kegiatan yang sedang dilakukannya. Begitu pula halnya dalam belajar. Bila
dikaitkan dengan belajar tentu minat mempunyai kedudukan yang penting.
Karena minat bisa menjadi penggerak yang akan membuat siswa memusatkan
perhatianya serta melakukan aktivitas yang berhubungan dengan minatnya
secara sukarela.

2
Tidak adanya minat pada diri siswa juga bisa menjadi faktor penyebab
kesulitan belajar yang dialami oleh siswa. Karena memang tidak ada unsur
kesenangan dan dorongan yang bisa membuat siswa secara aktif belajar dengan
maksimal. Siswa akan merasa sulit untuk menerima sebuah pelajaran yang tidak
diminatinya. Hal ini disebabkan karena tidak ada kegairahan dan dorongan yang
membuat siswa belajar dengan perasaan yang senang.

Mengingat betapa pentingnya sebuah minat dalam sebuah pembelajaran,


kiranya perlu ada perhatian khusus terhadap minat yang dimiliki siswa. Terlebih
bagi seorang guru harus benar-benar memahami bagaimana minat yang dimiliki
siswa terhadap mata pelajaran yang diajarkannya.Harus ada tindak lanjut dari
guru apabila minat yang belajar siswa rendah. Guru harus bisa meningkatkan
minat siswa agar siswa bisa belajar dengan penuh perhatian dan dan senang
hati akibat dari kecenderungan atau gairah yang di timbulkan dari keberadaan
minat.
Dalam kenyataan di lapangan ada beberapa mata pelajaran yang jarang
diminati siswa, salah satunya adalah mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak siswa yang memandang mata
pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam sebagai mata pelajaran yang kurang
menyenangkan. Apalagi saat ini banyak siswa yang belajarnya hanya terfokus
pada mata pelajaran Sains dan mata pelajaran lain yang diujikan dalam Ujian
Nasional. Seolah-olah mereka mengenyampingkan mata pelajaran yang lain,
termasuk Sejarah Kebudayaan Islam. Padahal mata pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam itu juga tak kalah penting dengan mata pelajaran lainnya. Bila
hal ini terjadi tentu tujuan pembelajaran tidak akan tercapai dengan maksimal.
Dalam pelaksanaan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di
Madrasah sering dijumpai siswa yang mengalami kejenuhan dan kemalasan
belajar. Bahkan tak jarang ada siswa yang tertidur ataupun melamun. Selain itu
nilai hasil belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
cenderung rendah.
Bersadarkan hal tersebut, dalam rangka mewujudkan visi MTsN 2 Sumenep
yaitu “Terwujudnya siswa MTsN Sumenep yang beriman, bertakwa kepada Allah
SWT, berakhlak mulia, terampil, peduli lingkungan, serta unggul dalam prestasi”,
maka penulis mengangkat isu yang berjudul “Peningkatan rendahnya minat

3
siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam melalui model
pembelajaran Visual, Auditorial dan Kinestetik (VAK) di MTs Negeri 2
Sumenep”.

B. Tujuan dan Manfaat Aktualisasi


Tujuan dilaksanakannya kegiatan aktualisasi ini adalah:

1. Mendapat persetujuan dan dukungan dari mentor


2. Terlaksananya Pre-tes untuk mengukur minat awal siswa pada mata pelajaran
Sejarah Kebudayaan Islam
3. Tersusunnya Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
4. Tersedianya Media Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
5. Terlaksananya Kegiatan Pembelajaran
6. Terlaksananya Pos-tes untuk mengukur capaian minat siswa pada mata
pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam
7. Terciptanya laporan aktualisasi yang dapat digunakan sebagai rujukan untuk
menangani kasus yang sama

Rancangan aktualisasi ini memberi manfaat antara lain:


1. Bagi satuan kerja untuk memberikan kontribusi perubahan ke arah yang lebih
baik
2. Bagi CPNS mampu menginternalisasi dan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar
PNS serta kedudukan dan peran dalam NKRI saat melaksanakan tugas dan
fungsi di satuan kerja masing-masing
3. Bagi guru untuk meningkatkan profesionalitas guru.
4. Meningkatkan kreatifitas guru dalam membuat media pembelajaran.
5. Bagi siswa untuk menambah ilmu pengetahuan dan meningkatkan minat dan
prestasi belajar.

C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam kegiatan aktualisasi ini dibatasi pada peningkatan minat
belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam melalui model
pembelajaran Visusal, Auditorial dan Kinestetik di MTs Negeri 2 Sumenep. Obyek
dari penanganan isu yang diangkat adalah siswa kelas VII D di MTs Negeri 2

4
Sumenep.
Kegiatan ini dikaitkan dengan nilai-nilai dasar PNS yang terangkum dalam
ANEKA serta keterkaitan antara kedudukan dan peran PNS dalam NKRI yang
terbatas pada tiga nilai dasar yaitu Pelayanan Publik, Manajemen ASN, Whole of
Government. Kegiatan ini akan dilaksanakan selama 30 hari kerja pada tanggal 6
Oktober - 4 November 2019 di MTs Negeri 2 Sumenep.
Adapun kegiatan–kegiatan yang akan dilakukan dalam mengatasi core
issue tersebut adalah sebagai berikut.
1. Konsultasi rencana kegiatan dengan mentor
2. Pretes dan observasi untuk memperoleh hasil studi pendahuluan.
3. Penyusunan rencana pembelajaran.
4. Pembuatan media pembelajaran
5. Pelaksanaan program pembelajaran
6. Postes untuk mengukur capaian hasil.
7. Evaluasi dan pelaporan kegiatan

5
BAB II
RANCANGAN AKTUALISASI

A. Deskripsi Organisasi
a. Identitas Madrasah
1. Nama Madrasah : Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Sumenep (MTsN
Sumenep)
(Berdasarkan KMA No. 673 Tahun 2016 Tentang
Perubahan MAN, MTsN dan MIN di Provinsi Jawa Timur)
2. Alamat : Jl. KH. Agussalim II/ 354 Telp. (0328) 662896 Sumenep
3. Kecamatan : Kota Sumenep
4. Kabupaten : Sumenep
5. NSM : 212 352 907 001
6. NPSN : 20583631
7. Tahun berdiri : 16 Maret 1978
(Berdasarkan SK Menag No. 16 Tahun 1978 Tanggal 16
Maret 1978)
8. Terakreditasi dengan Nilai A (Unggul)
b. Letak Geografis
Letak koordinat : 7°0'9"S 113°52'4"E
Batas-batas lingkungan sekitar madrasah :
a. Sebelah Utara : Pemukiman penduduk
b. Sebelah Timur : MAN Sumenep/SDN Pangarangan V (Sekolahan)
c. Sebelah Selatan : Pondok Pesantren, Lembaga Pendidikan Formal,
Pemukiman
d. Sebelah Barat : Pemukiman penduduk
Tanah yang dimiliki : 5.000 m2
Tanah kosong (sisa): 600 m2

6
c. Struktur Organisasi MTSN Sumenep

KEPALA MADRASAH
KOMITE
Drs. H. ZAINI MUKHSIN
NIP.19681224 199203 1 005

KAUR TATA USAHA

H. AKH. HARIYANTO, S. Ag
NIP. 196402231985031003
11111196402231964022

WAKA BID.AKADEMIK WAKA BID. KESISWAAN WAKA BID.SARPRAS WAKA BID.HUMAS

EKO JUNIYANTO, S. Pd Drs. AINOL YAKIN, M. Pd MATSURI, S. Pd AGUNG SANTOSO, S. Pd


NIP. 197806212005011006 NIP. 196901251996031001 NIP. 196503021993031004 NIP. 197908262005011005

KEPALA LAB. IPA KEPALA LAB. BAHASA KOORDINATOR BP/BK KEPALA PERPUSTAKAAN

NANIK ASMANIYAH, S. Pd DWI RETNOWATI, S. Pd BINTI CHOLIPAH, S. Pd ISHARIYANTO, S. Pd


NIP. 197105301997032004 NIP. 196504022005012002 NIP. 197112212006042002 NIP. 197503052007011038

WALI KELAS GURU PIKET

GURU

SISWA

5
d. Sekilas Tentang MTsN Sumenep
Madrasah Tsanawiyah Negeri 2 Sumenep (sebelumnya bernama
MTsN Sumenep) berdiri sejak tahun 1978 dan berada ditengah-tengah
jantung kota Sumenep. MTsN Sumenep sebagai lembaga yang senantiasa
dijadikan barometer pencapaian tujuan pendidikan khususnya di lingkungan
Kementrian Agama bidang pendidikan dasar dan menengah. Kemajuan MTsN
Sumenep membawa nama harum tersendiri bagi Kementerian Agama (Dulu
Departemen Agama) yang merupakan SMP Plus (pendidikan umum dan
Agama Islam). Sebagai lembaga yang dikeliling oleh 6 SMP negeri, 2 SMP
swasta, 1 MTs Negeri dan 4 MTs swasta yang berada di satu kecamatan
namun eksistensi MTsN Sumenep sangat diperhitungkan dan menjadi rujukan
lembaga pendidikan yang berlandaskan pendidikan agama Islam.
Kurikulum MTsN Sumenep, sama seperti kurikulum SMP dan telah
menerapkan Kurikulum 2013 yang berdasarkan Keputusan Dirjen Pendis
Nomor 461 Tahun 2015 Tentang Penetapan Madrasah Pendampingan
Implementasi Kurikulum 2013. Bahkan di bidang agama Islam jumlah mata
pelajarannya lebih banyak dan jumlah jamnya juga bertambah. Mata pelajaran
agama Islam terbagi menjadi mata pelajaran Al Quran hadis, Fikih, Bahasa
Arab, Sejarah Kebudayaan Islam dan Akidah Akhlak. Tidak salah jika MTsN
Sumenep merupakan SMP plus.
Di samping itu setiap hari anak dilatih dan dibiasakan dengan kegiatan-
kegiatan Islami mulai dari jam 06.50 – 07.00 WIB membiasakan membaca Al
Quran dan doa awal pelajaran dan pulang jam 12.50 WIB diakhiri dengan
membaca doa akhir pelajaran, Tadarus di awal pelajaran setiap hari senin
(setiap dua minggu), Sholat dhuha dan kultum serta pembinaan tartil Qu’ran
bagi siswa yang perlu permbinaan dalam membaca Al Qur’an. Dan secara
terjadwal tiap kelas mengikuti kegiatan BTQ-S (Baca tulis Al Quran dan
Sholat), BK (Bimbingan Konseling), Pelatihan Komputer yang mana
pelaksanaannya mulai pukul 13.30 hingga melaksanakan sholat Ashar
berjemaah.
Sejak Tahun Pelajaran 2012/2013 MTsN Sumenep membuka kelas
unggulan sebagai wadah menampung calon siswa yang memiliki kemampuan
di atas-rata, dimana proses pembelajarannya ditekankan pada pembinaan
akhlakul karimah serta prestasi akademik yang diselaraskan dengan

6
pembinaan keagamaan yang lebih intesif, sehingga peserta didik khusus hari
Senin – Kamis jam belajarnya hingga jam 14.50 WIB. Dengan pemberian
materi pengayaan berupa Pembinaan Olimpiade “Competition Traning Center
(CTC)”. Kegiatan ini di awali pada hari Senin Bidang Bahasa Inggris, atau
Bahasa Arab, hari Selasa Fisika, hari Rabu Biologi serta Kamis Matematika.
Di samping kegiatan intrakurikuler, juga terdapat kegiatan
ekstrakurikuler untuk menumbuh kembangkan bakat dan minat siswa. Hal itu
sesuai dengan visi dan misi MTsN Sumenep. Adapun kegiatan ekstrakurikuler
yang dilaksanakan adalah : kegiatan keagaman (tartil dan qiro’atil Qur’an,
Tahfidz Quran, Pembinaan Mengaji dan Sholat pengajian dan peringatan hari-
hari besar agama Islam), kegiatan olah raga (Bola basket, sepak bola dan
futsal, bola volley, tennis meja, bulu tangkis, pencak silat), serta kegiatan
lainnya seperti pramuka, PMR, LDK, jurnalistik, KIR, elektronika, pelatihan
komputer, English Club dan Klub Bahasa Arab.

e. Visi dan Misi Organisasi


VISI :
“ Terwujudnya siswa MTsN Sumenep yang beriman, bertakwa kepada
Allah SWT, berakhlak mulia, terampil, peduli lingkungan, serta unggul
dalam prestasi”
Indikator Visi :
a. Unggul dalam praktik ibadah ubudiah kepada Allah SWT
b. Sesuai dengan norma dan harapan masyarakat
c. Ingin mencapai keunggulan
d. Mendorong semangat dan komitmen seluruh warga madrasah/madrasah
e. Mendorong adanya perubahan yang lebih baik
f. Mengarahkan langkah-langkah strategis (misi) madrasah

MISI :
Berdasarkan rumusan visi di atas, maka dapat dijabarkan misi MTsN
Sumenep yaitu :
1. Memberikan pembinaan secara efektif terhadap siswa agar memiliki
kemantapan Aqidah serta Berakhlakul Karimah.

7
2. Mengembangkan ilmu pengetahun, kesenian, olahraga, keterampilan
berbahasa arab dan inggris melalui kegiatan intra dan ekstra kurikuler
sesuai dengan talenta dan interest siswa.
3. Menyelenggarakan proses kegiatan belajar mengajar yang bermutu dan
profesional sesuai dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan Ilmu
pengetahuan dan Teknologi guna menghasilkan output yang berprestasi
dan berdaya saing tinggi
4. Menciptakan lingkungan madrasah yang sehat serta menyenangkan
sebagai tempat belajar siswa
5. Mendorong dan membantu setiap siswa untuk mengenali potensi dirinya
sehingga dapat dikembangkan secara optimal
6. Meningkatkan kualitas dan profesionalisme guru
7. Menjalin kerjasama dengan masyarakat dan stakeholder dalam rangka
pengembangan madrasah yang berakar pada imtaq dan budaya bangsa
8. Menyiapkan sarana prasarana yang representative guna mendukung KBM
dan kegiatan imtaq
9. Mewujudkan madrasah yang berbudaya lingkungan sesuai dengan nilai
dan karakter bangsa dengan membiasakan hidup bersih, asri, lestari dan
indah dengan sistem sanitasi/drainase yang sehat, serta meningkatkan
kerjasama dengan lembaga lain dalam pengembangan budaya
lingkungan.
Misi merupakan kegiatan jangka panjang yang masih perlu diuraikan
menjadi beberapa kegiatan yang memiliki tujuan lebih detil dan lebih jelas.
Berikut ini jabaran tujuan yang diuraikan dari visi dan misi di atas.
Tujuan madrasah kami merupakan jabaran dari visi dan misi madrasah
agar komunikatif dan bisa diukur sebagai berikut:
1. Meningkatkan kuantitas dan kualitas sarana prasarana madrasah yang
mendukung peningkatan prestasi akademik dan atau non akademik
2. Meningkatkan pencapaian nilai Ujian Akhir Madrasah / Ujian Nasional
yang lebih baik
3. Mewujudkan tingkat kelulusan 100%
4. Mewujudkan tercapainya standar profesionalisme dalam menerapkan
metode pengajaran dan dapat memberikan efek langsung pada
peningkatan mutu siswa

8
5. Menciptakan suasana madrasah yang kondusif dan islami
6. Meningkatkan prestasi dalam kegiatan keagamaan dan kepedulian
madrasah
7. Meningkatkan keunggulan dalam persaingan masuk ke jenjang pendidikan
setingkat lebih tinggi.
8. Meningkatkan prestasi dalam penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi,
terutama bidang sains dan matematika.
9. Meningkatkan prestasi dalam lomba olah raga, kesenian, PMR, Paskibra,
dan Pramuka
10. Mewujudkan manajemen pengelolaan madrasah yang partisipatif dan
akuntabel sesuai dengan ketentuan standar nasional
11. Meningkatkan kepedulian warga Madrasah terhadap kesehatan,
kebersihan dan keindahan lingkungan Madrasah.
12. Meningkatkan kreatifitas jurnalistik siswa
13. Meningkatkan profesionalisme guru
14. Mewujudkan lulusan yang memiliki kecalapan hidup ( Life Skill)
15. Meningkatkan kemampuan peserta didik dalam menguasai bahasa Arab
dan Inggris secara aktif.
16. Mewujudkan madrasah sebagai lembaga pendidikan yang diperhitungkan
oleh masyarakat kota/kabupaten khususnya dan Jawa Timur pada
umumnya.
17. Memiliki tata lingkungan yang kondusif untuk kelancaran proses belajar
mengajar.
18. Mampu memilah dan mengolah sampah organik dan anorganik.
19. Mengembangkan kantin sehat yang ramah lingkungan.
20. Memiliki taman madrasah, sumur serapan dan biopori.
21. Mengembangkan Unit Kesehatan Sekolah
22. Menghemat energi (penggunaan air dan listrik)
23. Menggalang kerjasama dengan pihak lain untuk kemajuan madarsah dan
masyarakat
24. Mewujudkan madrasah sebagai madrasah rujukan di Kabupaten
Sumenep.

9
B. Deskripsi Isu
Untuk merancang sebuah kegiatan diperlukan proses penentuan dan
identifikasi terhadap isu yang diambil. Adapun isu-isu yang diajukan adalah
sebagai berikut:
1. Kurangnya kedisiplinan siswa dalam menjaga kerapian pakaian
Kedisiplinan dalam berpakaian merupakan salah satu cerminan rasa
tanggung jawab siswa dalam mematuhi peraturan madrasah. Kepatuhan
dalam memakai seragam sekolah dengan rapi merupakan salah satu
yang cukup penting dalam menanamkan karakter disiplin siswa. Namun
pada kenyataanya ada beberapa siswa yang memiliki kesadaran yang
rendah dalam menjaga kerapian berpakaian. Ada beberapa siswa yang
masih terlihat tidak berpakaian dengan rapi. Beberapa siswa laki-laki
masih sering terlihat mengeluarkan pakaiannya saat berada di kelas dan
di lingkungan sekolah. Mereka baru memasukkan pakaiannya saat
bertemu dengan guru. Bahkan diantaranya baru memasukkan pakaian
ketika sudah ditegur oleh guru.
Beberapa siswa seolah merasa bangga jika telah mengeluarkan
pakaiannya di sekolah. Hal ini sering terjadi pada siswa laki-laki. Baik dari
kelas VII sampai kelas IX bisa ditemui siswa yang memliki kesadaran
rendah dalam menjaga kerapian pakaiannya. Kiranya memang harus ada
penekanan kedisiplinan yang tegas kepada siswa dengan adanya
penegakan peraturan. Selain itu juga harus ada pemberian pemahaman
kepada siswa oleh bapak-ibu guru agar tumbuh kesadaran akan
pentingnnya disisplin dalam berpakaian.

2. Kurangnya kesadaran siswa dalam menjaga kebersihan lingkungan


kelas dan sekolah
Kebersihan lingkungan sekolah merupakan hal yang penting
menentukan kenyamanan belajar. Dengan lingkungan yang bersih siswa
bisa belajar dengan suasana yang nyaman. Selain itu kebersihan juga
merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan lingkungan yang
sehat. Menjaga kebersihan lingkungan kelas dan sekolah merupakan
salah satu tanggung jawab yang harus dilakukan oleh siswa. Namun, ada
beberapa siswa yang masih belum memiliki kesadaran tersebut. Sehingga

10
masih ada yang membuang sampah sembarangan. Bahkan ada beberapa
kelas yang tampak kotor karena banyak siswa yang membuat sampah di
dalam kelas.
Sebenarnya di setiap kelas sudah disediakan tempat sampah agar
memudahkan siswa untuk membuang sampahnya. Namun, kurangnya
kesadaran dan rasa malas membuat mereka masih membuang sampah
seenaknya. Dengan adanya perilaku membuang sampah yang
sembarangan membuat suasana kelas kurang nyaman dalam
melaksanakan proses pembelajaran. Di awal pembelajaran masih sering
bapak-ibu guru harus menyuruh siswa untuk menyapu kembali kelas yang
masih dalam kondisi kotor.
Kesadaran dalam menjaga kebersihan lingkungan kelas dan
sekolah haruslah dimiliki oleh setiap siswa. Selain sebagai wujud
menciptakan lingkungan yang sehat dan nyaman dalam belajar juga
sebagai wujud penanaman karakter bersih. Sehingga perlu adanya
peningkatan kesadaran siswa dalam menjaga kebersihan kelas dan
lingkungan sekolah.

3. Kurangnya kesadaran siswa dalam melaksanakan sholat dhuha


dengan khusu’
Sholat Dhuha merupakan salah satu kegiatan wajib yang harus
dilaksanakan oleh siswa MTs Negeri 2 Sumenep. Kegiatan ini merupakan
salah satu jenis dari kegiatan Furudhul ‘Ainiyah yang dijalankan di MTs
Negeri 2 Sumenep. Sholat dhuha dilaksanakan setiap pagi sebelum
pelajaran dimulai yaitu pukul 06.20 WIB. Dengan adanaya kegiatan ini
diharapkan bisa meningkatkan ketaqwaan siswa. Selain itu juga
dimaksudkan untuk menanamkan karakter religius dalam diri siswa.
Untuk mencapai tujuan di atas maka sholat Dhuha harus
dilaksanakan dengansungguh-sungguh dan khusu’. Namun, pada
kenyataan di lapangan masih terdapat siswa yang melaksanakan sholat
dhuha dengan tidak sungguh-sungguh dan tidak khusu’. Masih ada
beberapa siswa yang berbicara dengan teman disampingnya saat sholat
sedang berlangsung. Selain itu beberapa siswa juga masih ada yang
menoleh ke kanan-kiri serta kebelakang ketika sholat. Bahkan ada

11
beberapa siswa yang mengganggu teman di sebelahnya. Dari masalah ini
maka perlu adanya peningkatan kesadaran siswa dalam melaksanakan
sholat dhuha dengan khusu’.

4. Rendahnya nilai mata pelajaran SKI kelas VII


Salah satu tingkat keberhasilan pembelajaran bisa dilihat dari nilai
yang dihasilkan pada proses evaluasi pembelajaran. Siswa dianggap telah
mencapai ketuntasan belajar jika nilai dari hasil evaluasi berada di atas
nilai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Jika nilai yang dihasilkan siswa
masih banyak yang berada di bawah KKM itu artinya ada masalah yang
harus di pecahkan. Pada pelajaran Sejarah kebudayaan Islam di kelas VII
banyak siswa yang mendapat nilai yang rendah. Beberapa siswa
menganggap bahwa pelajaran SKI merupakan pelajaran yang sulit.
Karena di dalamnya memuat banyak hal yang harus dipahami dan
dihafalkan.
Dari pelaksanaan penilaian harian yang dilakukan oleh penulis
pada kelas VII memang menunjukkan nilai yang kurang. Dengan demikian
perlu adanya pemecahan masalah dari rendahnya nilai siswa kelas VII
pada mata pelajaran SKI.

5. Rendahnya minat belajar pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan


Islam
Minat memiliki pengaruh yang cukup besar dalam aktivitas belajar
siswa. Siswa yang memiliki minat terhadap suatu mata pelajaran akan
mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, karena ada daya tarik
baginya. Dengan adanya minat siswa akan mudah menerima pelajaran.
Proses belajar juga akan lancar bila disertai adanya minat.
Sebaliknya siswa yang belajar tanpa adanya minat akan mengalami
kesulitan dalam memperoleh keberhasilan belajar. Hal ini disebabkan
karena tidak adanya gairah dan dorongan dalam belajar. Belajar yang
dilakukan hanya karena keterpaksaan tanpa adanya rasa senang yang
muncul dari dalam diri siswa. Adanya minat juga akan menimbulkan
dorongan bagi siswa untuk belajar dengan rasa sukarela.

12
Kondisi ideal yang harus tercapai diatas rupanya berbeda dengan
yang terjadi pada pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam kelas VII MTs
Negeri 2 Sumenep. Dalam proses pembelajaran di dalam kelas ditemukan
beberapa indikator yang menunjukkan rendahnya minat siswa dalam
belajar Sejarah Kebudayaan Islam. Perhatian siswa dalam mengikuti
pembelajaran terlihat sangatlah kurang. Banyak siswa yang lebih tertarik
untuk berbicara dengan temannya atau melamun. Selain itu dorongan
siswa dalam belajar juga kurang. Siswa juga terlihat menunda-nunda
dalam mengerjakan tugas.
Indikasi-indikasi di atas juga diperkuat dengan banyaknya siswa
yang nilainya pada mata pelajaran Sejarah kebudayaan Islam tidak tuntas.
Dengan demikian perlu adanya usaha untuk meningkatkan minat siswa
pada mata pelajaran Sejarah kebudayaan Islam.

6. Terbatasnya koleksi buku di perpustakaan


Perpustakaan merupakan salah satu komponen penting dalam
proses pendidikan dan pembelajaran. Keberadaannya sangat menunjang
budaya literasi siswa. Salah satu peran dari perpustakaan adalah sebagai
penyedia bacaan bagi siswa. Keberadaan koleksi buku yang beragam
menjadi salah satu hal yang harus menjadi perhatian. Karena dengan
adanya koleksi buku yang beragam akan membuat siswa memiliki banyak
pilihan dalam memenuhi kebutuhan membacanya sesuai dengan bacaan
yang diminatinya.
Selain sebagai sarana untuk menambah wawasan, membaca juga
bisa dijadikan sebagai sarana hiburan bagi siswa. Sehingga bahan
bacaan yang sifatnya menghibur juga menjadi sangat penting. Buku
bacaan sastra dan karya-karya yang populer juga menjadi penting untuk
diadakan dalam sebuah perpustakaan sekolah. Jika ketersediaan buku-
buku sangat beragam maka akan berdampak pada meningkatnya minat
baca siswa.
Masalah keterbatasan koleksi buku yang ada di perpustakaan MTs
Negeri 2 Sumenep perlu untuk menjadi perhatian. Koleksi buku yang
dimiliki oleh perpusatkaan MTs Negeri 2 sebagian besar adalah buku-
buku pelajaran. Buku-buku sastra seperti novel, cerpen, komik dan buku-

13
buku umum lainnya masih jarang ditemui. Sehingga perlu adanya
penambahan jumlah dan jenis buku yang ada diperpustakaan MTs Negeri
2 Sumenep. Masalah keterbatasan koleksi buku di perpustakaan perlu
untuk dicarikan solusinya.

C. Analisis Isu
Analisis isu dilakukan untuk menentukan kriteria dan kualitas isu yang
tertinggi. Tidak semua isu dapat dikategorikan sebagai isu aktual sehingga
perlu dilakukan analisis kriteria isu menggunakan alat analisis AKPK (Aktual,
Kekhalayakan, Problematika, Kelayakan), serta alat analisis USG (Urgency,
Seriousness, Growth) untuk menentukan kualitas isu.
AKPK:
1) Aktual (A)
Isu yang diangkat benar-benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan
dimasyarakat.
2) Kekhalayakan (K)
Isu yang diambil menyangkut hajat hidup orang banyak
3) Problematik (P)
Isu yang dipilih memiliki dimensi masalah yang kompleks sehingga perlu
dicarikan solusinya sesegera mungkin
4) Kelayakan (K)
Masuk akal, realistis, relevan untuk dimunculkan inisiatif pemecahan
masalahnya.
Tabel 1 Bobot Penilaian Kriteria Isu dengan AKPK
Bobot Keterangan
5 Sangat kuat pengaruhnya
4 Kuat pengaruhnya
3 Sedang pengaruhnya
2 Kurang pengaruhnya
1 Sangat kurang pengaruhnya

14
Tabel 2 Indeks Penilaian Kriteria Isu dengan AKPK
No ISU A K P K JML PERINGKAT
Kurangnya kedisiplinan siswa
1 3 3 3 3 12 6
dalam menjaga kerapian pakaian
Kurangnya kesadaran siswa
2 dalam menjaga kebersihan 4 4 4 4 16 3
lingkungan kelas dan sekolah
Kurangnya kesadaran siswa dalam
3 melaksanakan sholat Dhuha 4 3 3 4 14 4
dengan khusu’
Rendahnya nilai mata pelajaran
4 Sejarah Kebudayaan Islam kelas 4 5 4 4 17 2
VII
Rendahnya minat belajar pada
5 mata pelajaran Sejarah 4 4 5 5 18 1
Kebudayaan Islam
Terbatasnya koleksi buku di
6 4 3 3 3 13 5
perpustakaan

Dari hasil analisis isu dengan AKPK diperoleh 3 isu dengan peringkat
teratas seperti pada Tabel 2 di atas yang selanjutnya akan dilakukan analisis
lanjutan dengan menggunakan alat analisis USG untuk mengetahui kualitas isu
yang dipilih. USG merupakan alat analisis isu yang berprinsip pada:
1. Urgency (U)
Seberapa mendesak isu itu harus dibahas, dianalisis dan ditindaklanjuti
2. Seriousness (S)
Seberapa serius isu itu harus dibahas dikaitkan dengan akibat yang
ditimbulkan
3. Growth (G)
Seberapa besar kemungkinan memburuknya isu tersebut jika tidak ditangani
sebagaimana mestinya.

15
Tabel 3 Indeks Penilaian Kualitas Isu dengan USG
No ISU U S G JML PERINGKAT
Kurangnya kesadaran siswa dalam
1 menjaga kebersihan lingkungan kelas 4 3 4 11 3
dan sekolah

Rendahnya nilai mata pelajaran SKI


2 4 4 4 12 2
kelas VII

Rendahnya minat belajar pada mata


3 5 4 5 14 1
pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam

Berdasarkan hasil analisis dengan USG seperti pada Tabel 3 di atas


ditetapkan isu “Rendahnya minat belajar pada mata pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam” sebagai isu yang terpilih untuk diselesaikan dan dicarikan
alternatif solusi pemecahan masalah.

D. Argumentasi terhadap Core Issue


Hasil tabulasi isu yang mengemuka dan dianalisis dengan unit analisis
USG didapatkan core issue yang menjadi pokok bahasan ”Rendahnya minat
minat belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam”.
Minat belajar menjadi salah satu komponen penting yang mempengaruhi
keberhasilan belajar siswa. Dengan adanya minat akan membuat siswa bisa
belajar dengan rasa senang. Juga konsentrasi belajar juga bisa mudah didapat
jika ada minat dalam sebuah proses pembelajaran. Dampaknya lebih jauh materi
akan mudah diterima dan dipahami oleh siswa. Dalam kata lain minat bisa
diartikan sebagai motor penggerak untuk dapat mencapai tujuan pembelajaran.
Rasa bosan, lemahnya konsentrasi dan perhatian dalam belajar yang
terjadi pada siswa menunjukkan rendahnya minat yang dimiliki dalam belajar.
Dan mengingat pentingnya minat dalam belajar, masalah ini harus menjadi
perhatian untuk diatasi. Secara konseptual minat bukanlah sesuatu yang bersifat
mati, namun minat bisa ditumbuhkan.
Pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam seringkali dinilai membosankan
dan dianggap kurang penting. Penilaian bahwa Sejarah Kebudayaan Islam
merupakan pelajaran yang sulit menjadikan siswa kurang tertarik dan memiliki

16
minat yang rendah terhadap pelajaran ini. Sehingga membawa dampak pada
tidak tercapaiannya tujuan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam.
Jika masalah ini dibiarkan juga akan berdampak pada stigma negatif
terhadap mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam. Siswa akan mempunyai
pandangan bahwa pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam merupakan
pelajaranyang sulit dan tidakbegitu penting. Bila halini terjadi maka siswa tujuan
pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam tidak akan pernah tercapai. Padahal
pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam merupakan salah satu pelajaran yang
sangat penting untuk menanamkan karakter yang baik dalam diri siswa.
Isu ini layak untuk diselesaikan dibanding dengan isu-isu yang lain
dikarenakan apabila tidak diselesaikan, maka ada beberapa dampak yang akan
muncul, yaitu:
1. Rendahnya pemahaman siswa terhadap materi Sejarah Kebudayaan Islam,
sehingga proses pembelajaran tidak maksimal
2. Hasil belajar mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam yang akan terus
memperoleh nilai yang rendah, sehingga tujuan pembelajaran tidak tercapai.
3. Menimbulkan stigma bahwa Sejarah Kebudayaan Islam merupakan mata
pelajaran yang sulit dan membosankan.
4. Rendahnya prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Sejarah Kebudayaan
Islam
5. Tidak tercapainya tujuan pembelajaran Sejarah Kebudayaan Islam pada
siswa.
6. Tidak akan terwujudnya misi sekolah dalam menyiapkan peserta didik untuk
berprestasi di tingkat nasional melalui kegiatan intrakurikuler dan
ektrakurikuler.
7. Tidak akan terwujudya misi sekolah Misi sekolah untuk menyelenggarakan
proses kegiatan belajar mengajar yang bermutu dan profesional sesuai
dengan tuntutan masyarakat dan perkembangan Ilmu pengetahuan dan
Teknologi guna menghasilkan output yang berprestasi dan berdaya saing
tinggi.

17
Adapun indikator dari core issue adalah seperti yang tertera pada mind
mapping berikut ini:
Mind Mapping

kurangnya
perhatian siswa
pada saat
pelajaran SKI

kurangnya
timbulnya motivasi
kesulitan belajar dalam
yang dialami belajar SKI
siswa

Rendahnya minat belajar


pada mata pelajaran Sejarah
Kebudayaan Islam

munculnya rasa
bosan dalam rendahnya nilai
belajar hasil belajar pada
mata pelajaran
SKI
kurangnya
keaktivan siswa
dalam menerima
pelajaran SKI

Gambar 2: Indikator Core Issue


Dengan aktualisasi dengan menggunakan judul ini dapat memberikan
pemahaman yang utuh dan bermakna kepada siswa tentang pentingnya
peningkatan minat belajar siswa sesuai dengan peran PNS yaitu sebagai Pelayan
Publik yaitu memberikan pelayanan maksimal kepada peserta didik. Pelayanan
publik dalam sebuah madrasah yang mencerminkan nilai-nilai akuntabilitas dan
profesionalitas merupakan kerangka besar dalam manajemen ASN. Selain itu peran

18
penulis dalam kaitanya dengan Manajeman ASN dalam kegiatan ini adalah sebagai
Pelayan Publik yang baik mampu memberikan inovasi baru dalam kegiatan
pembelajaran agar kegiatan pembelajaran dapat berjalan dengan efektif.
Dengan aktualisasi dengan menggunakan judul ini saya akan melakukan
jejaring kerja dengan guru senior atau yang berpengalaman di sekolah lain sehingga
bisa berbagi ilmu tentang cara peningkatan minat belajar siswa pada Sejarah
Kebudayaan Islam. Selain itu dari hasil aktualisasi bisa dijadikan bahan rujukan
untuk mengatasi kasus atau permasalahan yang sama di lembaga atau di madrasah
yang lain. Hal ini merupakan perwujudan dari Whole of Government (WoG)
sehingga terjadinya sebuah kerjasama dengan guru dari instansi lain.
E. Nilai-nilai Dasar Profesi PNS
1. Nilai-nilai Dasar PNS
Nilai-nilai dasar PNS biasa diakronimkan dengan ANEKA yang
merupakan akronim dari Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen
Mutu dan Anti Korupsi. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing nilai
dasar PNS:

a. Akuntabilitas
Akuntabilitas berasal dari kata accountability yang merupakan
kewajiban pertanggungjawaban yang harus dicapai (dapat berupa
laporan) oleh setiap individu maupun organisasi untuk memenuhi
tanggung jawab yang telah diamanahkan. Aspek-aspek akuntabilitas
adalah sebagai berikut:
1) Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (Accountability is
arelationship);
2) Akuntabilitas berorientasi pada hasil (Accountability is results-
oriented);
3) Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (Accountability requiers
reporting);
4) Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (Accountability is
meaningless without consequences);
5) Akuntabilitas memperbaiki kinerja (Accountability improves
performance).

19
Akuntabilitas public terdiri atas dua macam yaitu akuntabilitas
vertikal (vertical accountability), dan akuntabilitas horizontal (horizontal
accountability). Akuntabilitas vertikal adalah pertanggungjawaban atas
pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih tinggi. Akuntabilitas
horizontal adalah pertanggungjawaban kepada masyarakat luas.
Terdapat lima tingkatan akuntabilitas sebagai berikut:
1) Akuntabilitas Personal (Personal Accountability)
2) Akuntabilitas Individu
3) Akuntabilitas Kelompok
4) Akuntabilitas Organisasi
5) Akuntabilitas Stakeholder

Gambar 3 Tingkatan Akuntabilitas

Indikator nilai-nilai dasar akuntabilitas antara lain:

1) Kepemimpinan: pimpinan memberi contoh pada orang lain, adanya


komitmen yang tinggi dalam melakukan pekerjaan.
2) Transparansi: keterbukaan informasi akan mendorong tercapainya
akuntabilitas
3) Integritas: mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku
4) Responsibilitas: kewajiban bagi setiap individu dan lembaga,
bahwa ada suatu konsekuensi dari setiap tindakan yang telah

20
dilakukan, karena adanya tuntutan untuk bertanggung jawab atas
keputusan yang telah dibuat
5) Keadilan: landasan utama dari akuntabilitas yang harus dipelihara
dan dipromosikan karena ketidakadilan dapat menghancurkan
kepercayaan dan kredibilitas organisasi yang mengakibatkan
kinerja tidak optimal.
6) Kepercayaan: rasa keadilan akan membawa pada sebuah
kepercayaan
7) Keseimbangan: keseimbangan kapasitas sumber daya dan
keahlian yang yang dimiliki
8) Kejelasan: mengetahui kewenangan, peran dan tanggung jawab,
misi organisasi, kinerja yang diharapkan organisasi, dan sistem
pelaporan kinerja.
9) Konsistensi: menjamin stabilitas untuk mencapai lingkungan yang
akuntabel.
b. Nasionalisme
Nasionalisme merupakan satu paham yang menciptakan dan
mempertahankan kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu
konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia yang mempunyai
tujuan atau cita-cita yang sama dalam mewujudkan kepentingan
nasional, dan nasionalisme juga rasa ingin mempertahankan
negaranya, baik dari internal maupun ekstern. Nasionalisme dapat
dilakukan dengan mengimplementasikan nilai Pancasila dalam
menjalankan tugas dan kehidupan sehari-hari yang bisa dimulai dari hal-
hal kecil. Nilai-nilai Nasionalisme sesuai dengan lima sila Pancasila,
yaitu:

Sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa

1) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan ketakwaannya


terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
2) Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan Yang Maha
Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing
menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab.

21
3) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama
antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang
berbeda-beda terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
4) Membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan
kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
5) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa adalah
masalah yang menyangkut hubungan pribadi manusia dengan
Tuhan Yang Maha Esa.
6) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya
masing-masing.
7) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan
Yang Maha Esa kepada orang lain.
Sila kedua: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

1) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan


martabatnya sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa.
2) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan kewajiban asasi
setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama,
kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit dan
sebagainya.
3) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
5) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain.
6) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
7) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan.
8) Berani membela kebenaran dan keadilan.
9) Bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat
manusia.
10) Mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerja sama
dengan bangsa lain.
Sila ketiga: Persatuan Indonesia

22
1) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan
keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di
atas kepentingan pribadi dan golongan.
2) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa
apabila diperlukan.
3) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa.
4) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah
air Indonesia.
5) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan,
perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
6) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal
Ika.
7) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan bangsa.
Sila keempat: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan
dalam Permusyawaratan/Perwakilan

1) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap manusia


Indonesia mempunyai kedudukan, hak, dan kewajiban yang sama.
2) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain.
3) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk
kepentingan bersama.
4) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat
kekeluargaan.
5) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai
sebagai hasil musyawarah.
6) Dengan iktikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan
melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
7) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas
kepentingan pribadi dan golongan.
8) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati
nurani yang luhur.
9) Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan
secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi
harkat dan martabat manusia, nilai-nilai kebenaran dan keadilan

23
mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan
bersama.
10) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang dipercayai untuk
melaksanakan pemusyawaratan.
Sila kelima: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia

1) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap


dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
2) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama.
3) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban.
4) Menghormati hak orang lain.
5) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri
sendiri.
6) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang bersifat
pemerasan terhadap orang lain.
7) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat
pemborosan dan gaya hidup mewah.
8) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan atau
merugikan kepentingan umum.
9) Suka bekerja keras.
10) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat bagi
kemajuan dan kesejahteraan bersama.
11) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan
yang merata dan berkeadilan sosial.
c. Etika Publik
Etika publik merupakan refleksi tentang standar atau norma yang
menentukan baik atau buruknya suatu tindakan untuk mengarahkan
kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan
publik. Fokus dari etika publik adalah untuk mewujudkan pelayanan
publik yang berkualitas. Ada tiga fokus utama dalam pelayanan publik
yakni:
1) Pelayanan publik yang berkualitas dan relevan
2) Sisi dimensi reflektif, etika publik berfungsi sebagai bantuan dalam
menimbang pilihan sarana kebijakan publik dan alat evaluasi.

24
3) Modalitas etika, menjembatani antara norma moral dan tindakan
faktual.
Pada prinsipnya ada 3 (tiga) dimensi etika publik:

1) Dimensi Kualitas Pelayanan Publik


2) Dimensi Modalitas
3) Dimensi Tindakan Integritas Publik Indikator etika publik meliputi:
a) Adanya kode etik, yang merupakan aturan-aturan yang
mengatur tingkah laku dalam suatu kelompok khusus, sudut
pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip dalam
bentuk ketentuan-ketentuan tertulis.
b) Keramahan dalam bersikap akan membuat orang lain merasa
dihargai dan dihormati.
c) Sopan santun, merupakan sikap yang berdasarkan pada
aspek nilai dan norma saat melayani publik sehingga
meningkatkan kualitas pelayanan publik.
d) Empati dan simpati, sikap seakan merasakan apa yang
dirasakan orang lain. Simpati akan berlangsung ketika ada
sikap saling pengertian dan saling percaya sehingga
memudahkan dalam berkomunikasi.
e) Netralitas.
d. Komitmen Mutu
Komitmen mutu merupakan suatu komitmen yang tercermin
dalam setiap tindakan yang dilakukan untuk menjaga kualitas
kinerja yang berorientasi pada kualitas hasil berupa produk/jasa
yang diberi label baik atau buruk. Indikator komitmen mutu antara
lain:

1) Orientasi mutu, berkomitmen untuk senantiasa melakukan


pekerjaan dengan arah dan tujuan untuk kualitas pelayanan
2) Efisien adalah berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan
mencapai hasil tanpa pemborosan sumber daya dan hemat
waktu.

25
3) Efektif adalah berhasil guna, menunjukkan tingkat
ketercapaian target yang telah direncanakan, baik menyangkut
jumlah maupun mutu hasil kerja.
4) Inovatif adalah suatu yang baru sebagai perwujudan ide
kreativitas untuk meningkatkan mutu pelayanan.
Adapun nilai–nilai yang terkandung dalam komitmen mutu adalah
sebagai berikut:

a) Tepat waktu
b) Sesuai SOP (Prosedur standar operasional)
c) Akurasi
d) Kerjasama
e) Cepat dan tepat
f) Tanggap
g) Evaluasi
h) Cermat
i) Melakukan yang terbaik
j) Profesional
k) Menerima pembaharuan
l) Tidak mempersulit
e. Anti Korupsi
Anti korupsi merupakan sikap dan perilaku untuk tidak
mendukung adanya upaya untuk merugikan keuangan negara dan
perekonomian negara. Dengan kata lain, antikorupsi merupakan
sikap menentang terhadap adanya korupsi. para pakar telah
melakukan identifikasi nilai-nilai dasar anti korupsi, dan dihasilkan
sebanyak 9 nilai anti korupsi sebagai berikut : 1) jujur, 2) peduli, 3)
mandiri, 4) disiplin, 5) tanggung jawab, 6) kerja keras, 7) sederhana,
8) berani, 9) adil.

2. Kedudukan dan Peran PNS dalam NKRI


a. Pelayanan Publik
Berdasarkan UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik,
pelayanan publik merupakan semua kegiatan pelayanan umum yang
dilaksanakan oleh instansi pemerintah. Unsur-unsur yang harus terpenuhi

26
dalam pelayanan publik antara lain, penyelenggara yang akuntabel,
kepuasan konsumen dan konsumen atau penerima layanan. Pelayanan
pada masyarakat dimasa datang itu hendaknya: makin lama makin baik
(better), makin lama makin cepat (faster), makin lama makin diperbaharui
(newer), makin lama makin murah (cheaper), dan makin lama makin
sederhana (moresimple).
W. Edwards Derning telah mengembangkan apa yang disebut
“Total Quality Management” (Manajemen Mutu Terpadu) telah berhasil
mengatasi berbagai permasalahan diperusahaan, sehingga dapat
meningkatkan mutu dan sekaligus menekan biaya serta mengatasi
permasalah lainnya. TQM hanya dapat dicapai dengan memperhatikan
hal-hal berikut ini (Tjiptono, 1997):
1) Berfokus pada kepuasan pelanggan
Kepuasan didefinisikan sebagai tingkat perasaan seseorang
setelah membandingkan kinerja (hasil) yang dirasakan dengan
harapannya. Oleh karena itu, maka tingkat kepuasan adalah
perbedaan antara kinerja yang dirasakan dengan harapan. Dengan
demikian apabila dikaitkan dengan pelanggan, maka pelanggan
dapat merasakan hal-hal sebagai berikut:
a) Kalau kinerjanya di bawah harapan, pelanggan akan merasa
kecewa
b) Kalau kinerjanya sesuai harapan, pelanggan akan merasa puas
c) Kalau kinerjanya melebihi harapan, pelanggan akan sangat puas
2) Obsesi terhadap mutu
Penentu akhir mutu adalah pelanggan internal dan eksternal.
Dengan mutu yang ditentukan tersebut, organisasi harus berusaha
memenuhi atau melebihi yang telah di tentukan.
3) Pendekatan ilmiah
Terutama untuk merancang pekerjaan dan proses pembuatan
keputusan dan pemecahan masalah yang berkaitan dengan
pekerjaan yang dirancang tersebut.
4) Komitmen jangka panjang

27
Agar penerapan TQM dapat berhasil, dibutuhkan budaya
organisasi yang baru. Untuk itu perlu ada komitmen jangka panjang
guna mengadakan perubahan budaya.
5) Kerjasama tim
Untuk menerapkan TQM, kerjasama tim, kemitraan dan
hubungan perlu terus menerus dijalin dan dibina, baik antar aparatur
dalam organisasi maupun dengan pihak luar (masyarakat)
6) Perbaikan sistem secara berkesinambungan
Setiap barang dan jasa dihasilkan melalui proses di dalam suatu
sistem/lingkungan. Oleh karena itu system yang ada perlu diperbaiki
secara terus menerusagar mutu yang dihasilkan meningkat.
b. Manajemen ASN
Manajemen ASN merupakan salah satu hal yang diperlukan dalam
memasuki era reformasi dan globalisasi karena memerlukan aparatur
negara yang profesional untuk memberikan pelayanan kepada
masyarakat. Aparatur Sipil Negara mempunyai peran yang amat penting
dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. Berbagai tantangan
yang dihadapi oleh aparatur sipil negara dalam mencapai tujuan tersebut
semakin banyak dan berat, baik berasal dari luar maupun dalam negeri
yang menuntut aparatur sipil negara untuk meningkatkan
profesionalitasnya.
Untuk mewujudkan birokrasi yang profesional dalam menghadapi
tantangan-tantangan tersebut, pemerintah melalui Nomor 5 Tahun 2014
tentang Aparatur Sipil Negara telah bertekad untuk mengelola aparatur
sipil negara menjadi semakin profesional, agar mampu
menyelenggarakan pelayanan publik yang berkualitas bagi masyarakat.
ASN mencoba meletakkan beberapa perubahan mendasar dalam
manajemen SDM, yang mengedepankan kompetisi dan kompetensi ASN
dalam promosi dan pengisian jabatan. UU ASN juga menempatkan
pegawai ASN sebagai sebuah profesi yang harus memiliki standar
pelayanan profesi, nilai dasar, kode etik dan kode perilaku profesi,
pendidikan dan pengembangan profesi, serta memiliki organisasi profesi
yang dapat menjaga nilai-nilai dasar profesi.

28
c. Whole of Government
Berdasarkan interpretasi analitis dan manifestasi empiris di
lapangan maka WoG didefinisikan sebagai “Suatu model pendekatan
integratif fungsional satu atap” yang digunakan untuk mengatasi wicked
problems yang sulit dipecahkan dan diatasi karena berbagai karakteristik
atau keadaan yang melekat antara lain: tidak jelas sebabnya, multi
dimensi, menyangkut perubahan perilaku. WoG pada awalnya disebut
sebagai Joined Up Government atau Network Government dan paling
akhir diberi nama Whole of Government. WoG merupakan respon
terhadap gejala-gejala devolusi struktural, disagregasi, fragmentasi dan
single purpose organization sebagai akibat dari implementasi New Public
Management (NPM). Inti dari WoG menurut Haligan (2011) adalah
“koordinasi–kolaborasi secara integratif serta manajemen berbagai tugas
dan fungsi-fungsi di dalam organisasi tanpa adanya kontrol hierarkis di
antara sesama partisipan yang ditujukan untuk memperoleh suatu hasil
(outcome) yang tidak dapat dicapai apabila bekerja sendiri”.
Kemunculan WoG didorong oleh sejumlah faktor-faktor pendorong
(drivers) internal maupun eksternal sebagaimana yang diilustrasikan
pada gambar berikut:

Gambar 2 Faktor-faktor Pendorong WoG

29
F. MATRIX RANCANGAN
Tabel 4 Matriks Rancangan Aktualisasi

Kegiatan Kontribusi Kontribusi


Time
(Inisiatif, Tahapan (Inisiatif, Output (Inisiatif, Kegiatan Pencapaian
Pemaknaan Nilai Schedul
No Perintah Perintah Pimpinan, Perintah Pimpinan, Pencapaian Visi Penguatan
ANEKA e
pimpinan, Tupoksi) Tupoksi) dan Misi Nilai-Nilai
(Penjad
Tupoksi) Organisasi Organisasi
walan)
1 2 3 4 5 6 7 8
1 Melakukan  Menghubungi dan  Terjalinnya  Akuntabilitas Visi MTs Negeri  Integritas Minggu
konsultasi menyampaikan komunikasi yang Menyampaikan 2 Sumenep Melakukan I
rancangan rancangan baik dan rancangan kegiatan 7
aktualisasi aktualisasi kepada mendapatkan aktualisasi Terwujudnya secara Oktober
dengan mentor mentor persetujuan dari sesuai dengan siswa MTsN terbuka dan 2019
 Meminta bantuan mentor kondisi sekolah Sumenep yang transparan
dan pengarahan secara beriman,  Profesionalit
Bukti Fisik akuntabel serta bertakwa kepada as
dari mentor dalam
dengan target Allah SWT, Dalam
menentukan core - Dokumentasi
yang jelas. berakhlak mulia, pelaksanaanny
issue penulis dengan terampil, peduli
 Nasionalisme: a, kegiatan
 Meminta mentor lingkungan, serta
Dalam dilakukan
persetujuan mentor - Lembar persetujuan unggul dalam
mewujudkan prestasi sesuai
unruk mentor
rancangan dengan
mengaktualisasika prosedur
aktulisasi yang Kegiatan ini
n racangan  Inovasi
baik, penulis berkontribusi

30
aktualisasi di bermusyarawa kepada misi : Melaksanakan
madrasah h dan Meningkatkan konsultasi
bekerjasama kualitas dan dengan
profesionalisme metode lain
dengan mentor
guru serta jika pertemuan
untuk dapat menjalin
memberikan langsung tidak
kerjasama
yang terbaik memungkinka
dengan
n dapat
bagi peserta masyarakat dan
stakeholder menggunakan
didik.
dalam rangka konsultasi via
 Etika Publik:
pengembangan telepon atau
Dalam Whatshapp
madrasah yang
menyampaikan berakar pada  Tanggung
rancangan imtaq dan budaya jawab
aktualisasi bangsa Melaksanakan
kepada mentor
tugas sesuai
menggunakan Menjalin dengan
bahasa yang komunikasi tupoksi
sopan, santun, dengan sopan dengan baik.
ramah dan santun kepada
menghormati mentor dalam
pendapat menyampaikan
mentor. rancangan
 Komitmen aktualisasi.
mutu:
Menyampaikan
rancangan
kegiatan dengan
bahasa yang
lugas dan jelas

31
sehingga
konsultasi dapat
berjalan efektif
dan efisien
 Anti korupsi:
Merancang
aktualisasi
dengan penuh
tanggung
jawab
Analisis Dampak:
Jika nilai Akuntabilitas tidak ada di dalam kegiatan, maka diskusi yang dilakukan kurang mendapatkan kejelasan tujuan yang akan
dicapai
Jika nilai Nasionalisme tidak ada di dalam kegiatan, maka tidak akan terjadi musyawarah yang dilakukan dengan baik
Jika nilai Etika Publik tidak ada di dalam kegiatan, maka musyawarah yang dilakukan tidak akan berjalan dengan baik
Jika nilai Komitmen Mutu tidak ada di dalam kegiatan, maka komunikasi yang dilakukan tidak tepat guna dan kurang efektif
Jika nilai Anti Korupsi tidak ada di dalam kegiatan, maka diskusi yang dilakukan tidak bisa dipertanggungjawabkan
2 Melaksanakan  Menyusun instrumen - Tersedianya alat  Akuntabilitas Visi:  Integritas Minggu I
Pre-tes berupa angket untuk ukur untuk melihat Melaksanakan Visi MTs Negeri Menanamkan 8-9
pre-tes tinggi rendahnya pre-test dengan 2 Sumenep sikap integritas Oktober
 Menyampaikan minat siswa penuh kejujuran Terwujudnya dalam 2019
prosedur - Tersedianya hasil dan transparan siswa MTsN melaksanakan
pelaksanaan pre- dari pre-tes serta penuh Sumenep yang pre-test
test tanggung jawab beriman, dengan hasil
 Evaluasi hasil pre- Bukti Fisik baik pendidik bertakwa kepada kerja keras
- Angket pre-test maupun siswa. Allah SWT, sendiri.
test
- Dokumentasi  Nasionalisme berakhlak mulia, Profesionalit
Dalam terampil, peduli as
berupa foto kegiatan lingkungan, serta
- Hasil penilaian menyiapkan dan Melaksanakan
unggul dalam

32
melaksanakan prestasi kegiatan pre-
pre-test test dengan
Kegiatan ini
dilakukan berkontribusi menjunjung
dengan penuh kepada misi : tinggi sikap
keadilan Menyelenggaraka professional
terhadap setiap n proses kegiatan dengan teknik
siswa. belajar mengajar disiplin
yang bermutu  Tanggung
 Etika Publik
dan profesional jawab
Melaksanakan sesuai dengan Melaksanakan
pre-tes kepada tuntutan pre-test
siswa gan masyarakat dan
dengan penuh
perlakuan yang perkembangan
tanggung
sama tanpa Ilmu
diskriminatif. pengetahuan dan jawab
Teknologi guna
 Komitmen
menghasilkan
Mutu output yang
Mengatur waktu berprestasi dan
dengan baik agar berdaya saing
pekerjaannya tinggi
efektif dan
efisien serta Melaksanakan
berorientasi pre-test dengan
pada mutu sungguh-
kemampuan sungguh dan jujur
sehingga hasil
peserta didik.
dari tes
 Anti Korupsi
berorientasi pada
Melaksanakan mutu.
Pre-tes sesuai
dengan waktu

33
yang dimiliki.
Tidak korupsi
waktu
Analisis Dampak:
Jika nilai Akuntabilitas tidak ada di dalam kegiatan, maka pre-test yang dilakukan tidak akan mendapat hasil yang diinginkan
Jika nilai Nasionalisme tidak ada di dalam kegiatan maka siswa akan merasa diperlakukan dengan diskriminatif
Jika nilai Etika Publik tidak ada di dalam kegiatan, maka pre-test yang dilakukan tidak mendapat hasil yang optimal
Jika nilai Komitmen Mutu tidak ada di dalam kegiatan, maka pre-test yang dilakukan tidak efektif dan efisien
Jika nilai Anti Korupsi tidak ada di dalam kegiatan, maka akan terjadi kerugian bagi orang lain yang waktu mengajarnya terpotong
3 Menyusun  Mengumpulkan Tersusunnya  Akuntabilitas: Visi MTs Negeri  Integritas: Ming
Perangkat Silabus, Indikaor perangkat Menyusun 2 Sumenep menyusun gu I
Pembelajaran Pencapaian pembelajaran perangkat perangkat 9-13
Terwujudnya pembelajaran
Kompetensi, pembelajaran oktob
siswa MTsN sesuai
Analisis KI dan KD sesuai dengan er
Sumenep yang peraturan
 Menyusun Bukti fisik: Kompetensi beriman, 2019
Perangkat dasar dan  Profesionalit
Dokumen RPP bertakwa kepada as: membuat
Pembelajaran Kompetensi Inti Allah SWT,
 Mencetak Foto perangkat
 Nasionalisme: berakhlak mulia,
Perangkat pembelajaran
membuat terampil, peduli dengan
Pembelajaran perangkat lingkungan, serta sungguh-
sesuai format unggul dalam sungguh
dari dirjen prestasi  Inovasi:
pendis
Kegiatan ini adanya
 Etika Publik:
berkontribusi perubahan
membuat
kepada misi : dengan
perencanaan
pembelajaran Menyelenggaraka memasukkan
sesuai dengan n proses kegiatan media
belajar mengajar pembelajaran
kondisi murid
yang bermutu berbasis
 Komitmen
dan profesional aplikasi
Mutu:

34
Perencanaan sesuai dengan  Tanggung
yang baik akan tuntutan jawab:
menghasilkan masyarakat dan berkomitmen
produk/jasa perkembangan dengan tugas
yang Ilmu yang telah
berkualitas pengetahuan dan diberika
 Anti korupsi: Teknologi guna  Keteladanan:
dengan menghasilkan Berperilaku
mengikuti output yang baik, hormat,
berprestasi dan santun saat
pedoman yang
berdaya saing konsultasi
ada akan tinggi dengan
terlaksananya mentor dan
kondisi ideal guru
pembelajaran

Anallisis dampak :
Jika nilai Akuntabilitas tidak ada di dalam kegiatan, maka sosialisasi yang dilakukan tidak dapat dipertanggung jawabkan
Jika nilai Nasionalisme tidak ada di dalam kegiatan, maka sosialisasi yang dilakukan tidak mencapai mufakat
Jika nilai Etika Publik tidak ada di dalam kegiatan, maka sosialisasi yang dilakukan tidak mendapat hasil yang baik
4 Menyusun  Menganalisis  Tersedianya  Akuntabilitas: Visi MTs Negeri Integritas: Ming
Media keterkaitan media Rencana pembuatan media 2 Sumenep menyusun gu I
Pembelajaran pembelajaran Pelaksanaan pembelajaran media 9-13
inovatif merupak Terwujudnya
dengan Pembelajaran pembelajaran Oktob
bentuk tanggung siswa MTsN
Kompetensi Dasar dengan baik er
(RPP), alat dan jawab sebagai Sumenep yang
 Menyusun Media beriman, Profesionalit 2019
bahan pendidik
Pembelajaran bertakwa kepada as:
yang mencakup 3 pembelajaran dan  Nasionalisme:
Mengerjakan Allah SWT, menyusun
gaya belajar tersampaikannya
tugas yang berakhlak mulia, media
(Visual, Auditorial materi terampil, peduli
diampu dengan pembelajaran
dan Kinestetik) pembelajaran lingkungan, serta

35
 Mengkonsultasika penuh semangat unggul dalam dengan
n Media Bukti Fisik dan tanggung prestasi sungguh-
Pembelajaran - Video pembelajaran jawab sungguh
 Etika Publik: Kegiatan ini
dengan Guru - Foto berkontribusi Inovasi:
Senior Sopan dalam menggunaka
- Bacaan yang terdiri kepada misi :
 Menyimpan File berkomunikasi
dari 20 kata dengan Kepala Menyelenggaraka n media
Media n proses kegiatan pembelajaran
- Lembar penilaian Madrasah dan
Pembelajaran belajar mengajar yang baru
yang telah di buat Guru senior
 Komitmen Mutu: yang bermutu Tanggung
Mempunyai dan profesional jawab:
inovasi untuk sesuai dengan berkomitmen
meningkatkan tuntutan dengan tugas
kualitas masyarakat dan yang
pembelajaran perkembangan
diberikan
Ilmu
dengan cara Keteladanan
membuat media pengetahuan dan
Teknologi guna : Berperilaku
pembelajaran baik, hormat,
yang menarik menghasilkan
output yang santun saat
minat belajar
berprestasi dan konsultasi
siswa
berdaya saing dengan
 Anti korupsi:
Bertanggung tinggi mentor dan
jawab guru senior
menyelesaikan dalam
tugasnya karena membuat
sadar hal tersebut media
merupakan pembelajaran
kewajiban
sebagai guru
Analisis Dampak :
Jika nilai Akuntabilitas tidak ada dalam kegiatan ini, maka tidak akan terwujud pembuatan media pembelajaran yang menarik minat

36
belajar siswa
Jika nilai Nasionalisme tidak ada dalam kegiatan ini, maka tidak akan semangat dan tanggung jawab dalam pembuatan media
pembelajaran
Jika nilai Etika Publik tidak ada dalam kegiatan ini, maka tidak akan terjalin hubungan yang baik dengan Kepala Madrasah dan guru
senior
Jika nilai Komitmen Mutu tidak ada dalam kegiatan ini, maka tidak akan tercipta inovasi untuk membuat media pembelajaran yang
inovatif
Jika nilai Anti Korupsi tidak ada dalam kegiatan ini, maka tidak akan terselesaikan pembuatan media pembelajaran tersebut.
5 Melakukan  Melaksanakan  Terlaksananya  Akuntabilitas: Visi MTs Negeri  Integritas Ming
Kegiatan proses proses dalam kegiatan 2 Sumenep Menanamka gu II
Pembelajaran pembelajaran pembelajaran sesuai tersebut n sikap 14 –
sesuai RPP RPP menerapkan Terwujudnya
dengan model siswa MTsN integritas 29
pembelajaran  Terbaginya siswa keadilan dalam (jujur) dalam Oktob
Sumenep yang
Visual,  Membagi siswa menjadi beberapa pembagian
melaksanaka er
kelompok kelompok beriman,
Auditorial dan menjadi beberapa 2019
bertakwa kepada n pos-test
kelompok  Nasionalisme:
kinestetik
dalam Allah SWT, Profesionalit
berakhlak mulia, as
 Memberikan  Setiap kelompok pembagian
terampil, peduli
tugas kepada mengerjakan tugas kelompok tidak Melaksanaka
diskriminasi lingkungan, serta n kegiatan
masing-masing unggul dalam
karena pos-test
kelompok Bukti Fisik: pembagian prestasi
dengan
kelompok secara Kegiatan ini menjunjung
 Foto atau video
heterogen berkontribusi tinggi sikap
Kegiatan
 Etika Publik: kepada misi : tidak
Pembelajaran
saling Menyelenggaraka membeda-
menghormati n proses kegiatan
 Hasil tugas bedakan
berbagai belajar mengajar
kelompok siswa pendapat yang  Tanggung
yang bermutu
muncul dalam dan profesional jawab
kelompok sesuai dengan Melaksanaka
tersebut tuntutan n pos-test

37
 Komitmen masyarakat dan dengan
Mutu: perkembangan penuh
Pembagian Ilmu tanggung
kelompok dapat pengetahuan dan jawab pada
merperkaya Teknologi guna hasil yang
pengetahuan menghasilkan dicapai
yang output yang
 Keteladana
didiskusikan dari berprestasi dan
masing masing berdaya saing n
siswa tinggi Menampilka
 Anti korupsi: n kinerja
Membagi dengan
kelompok secara disiplin dan
adil dan merata rancangan
tanpa membeda instrumen
bedakan yang matang
Analisis dampak berkaitan dengan nilai-nilai dasar CPNS:
Jika nilai Akuntabilitas tidak ada dalam kegiatan ini, maka tidak akan terbentuk kelompok secara adil
Jika nilai Nasionalisme tidak ada dalam kegiatan ini, maka pembentukan kelompok tidak akan heterogen
Jika nilai Etika Publik tidak ada dalam kegiatan ini, maka tidak akan muncul rasa saling menghormati berbagai pendapat ang muncul
Jika nilai Komitmen Mutu tidak ada dalam kegiatan ini, maka tidak akan muncul berbagai pendapat yang memperluas materi
Jika nilai Anti Korupsi tidak ada dalam kegiatan ini, maka penyampaian materi tidak bisa didapat oleh seluruh kelompok atau seluruh
siswa
Melaksanakan  Membuat Soal  Tersedianya soal  Akuntabilitas Visi MTs Negeri  Integritas Ming
Pos-tes Pos-tes utnuk Post-test Melaksanakan 2 Sumenep Menyusun gu IV
pre-test dengan Terwujudnya laporan 30
 Melaksanakan penuh kejujuran siswa MTsN dengan Oktob
 Terlaksananya Pos-
Pos-tes tes dan transparan Sumenep yang penuh tekad er
serta penuh beriman, dan 2019
tanggung jawab bertakwa kepada kemauan
baik pendidik Allah SWT, untuk

38
Bukti Fisik: maupun siswa. berakhlak mulia, melaporkan
 Nasionalisme terampil, peduli hasil dengan
- Lembar soal Pos- lingkungan, serta
Dalam kejelasan
tes unggul dalam
- Foto kegiatan Pos- menyiapkan dan data yang
prestasi valid
tes melaksanakan
- Hasil Pos-tes pos-tes Kegiatan ini  Profesionali
dilakukan berkontribusi tas
dengan penuh kepada misi : Menyelesaik
Menyelenggaraka an tugas
keadilan n proses kegiatan tepat waktu
terhadap setiap belajar mengajar dengan hasil
siswa. yang bermutu
terbaik
 Etika Publik dan profesional
 Tanggung
Melaksanakan sesuai dengan
tuntutan jawab
pre-tes kepada
masyarakat dan Melaporkan
siswa gan
perkembangan semua
perlakuan yang Ilmu kegiatan
sama tanpa pengetahuan dan sesuai
diskriminatif. Teknologi guna dengan
 Komitmen menghasilkan aturan yang
Mutu output yang berlaku dan
Mengatur waktu berprestasi dan melakukan
berdaya saing
dengan baik agar perbaikan
tinggi
pekerjaannya apabila ada
efektif dan kesalahan
efisien serta  Keteladana
berorientasi n
pada mutu Membuat
kemampuan dan
peserta didik.

39
 Anti Korupsi melaporan
Melaksanakan laporan
Pre-tes sesuai dengan
dengan waktu penuh
yang dimiliki. tanggung
Tidak korupsi jawab,
waktu cermat dan
transparan
Analisis Dampak:
Jika nilai Akuntabilitas tidak ada di dalam kegiatan, maka pre-test yang dilakukan tidak akan mendapat hasil yang diinginkan
Jika nilai Nasionalisme tidak ada di dalam kegiatan maka siswa akan merasa diperlakukan dengan diskriminatif
Jika nilai Etika Publik tidak ada di dalam kegiatan, maka pre-test yang dilakukan tidak mendapat hasil yang optimal
Jika nilai Komitmen Mutu tidak ada di dalam kegiatan, maka pre-test yang dilakukan tidak efektif dan efisien
Jika nilai Anti Korupsi tidak ada di dalam kegiatan, maka akan terjadi kerugian bagi orang lain yang waktu mengajarnya terpotong
7 Melakukan  Melakukan  Terlaksananya Akuntabilitas: Visi MTs Negeri Integritas: Ming
evaluasi dan evaluasi evaluasi terhadap Laporan 2 Sumenep Menyusun gu IV
menyusun  Membuat draft dari pelaksanaan dikerjakan secara laporan 1-4
Terwujudnya
laporan laporan pos-tes teliti dan sungguh- aktualisasi Nove
siswa MTsN
 Melakukan  Tersusunya sungguh. dengan penuh mber
Sumenep yang
bimbingan dengan rancanganlaporan Nasionalisme: tanggung 2019
beriman,
mentor dan coach  Terlaksananya Ketika menyusun
bertakwa kepada
jawab.
bimbingan laporan, penulis Profesionalita
Allah SWT,
denganmentor dan bermusyawarah s:
berakhlak mulia,
coach dengan mentor Melaksanakan
terampil, peduli
Bukti Fisik dan coach agar rangkaian
lingkungan, serta
 Draft laporan dapat membuat kegiatan
unggul dalam
 Saran dari mentor laporan yang baik. dalam
prestasi
dan coach Etika Publik: penyusunan
Penulis melakukan Kegiatan ini laporan

40
bimbingan dengan berkontribusi aktualisasi
mentor dan coach kepada misi : sesuai tugas
dengan arif dan Meningkatkan dan fungsi
sopan. kualitas dan dengan tepat
Komitmen Mutu: profesionalisme waktu.
Melakukan guru, serta Inovasi
kegiatan evaluasi Menyiapkan Menyampaika
dengan efektif dan sarana prasarana n solusi yang
efisien sehingga yang terbaik untuk
terwujud laporan representative memecahkan
aktualisasi yang guna mendukung permasalahan
dapat KBM dan yang
dipertanggungjaw kegiatan imtaq didapatkan.
abkan. Tanggung
Anti Korupsi: Jawab:
Melakukan Bersedia
kegiatan melakukan
evaluasi langkah-
dengan jujur langkah
dan tanggung perbaikan
jawab sehingga apabila solusi
tercipta laporan yang
aktualisasi yang dicanangkan
dapat belum sesuai
dipertanggungja dengan penuh
wabkan secara tanggung
transparan. jawab.
Keteladanan

41
Melakukan
kegiatan
evalusi
dengan
sungguh-
sungguh
dan sesuai
prosedur
JIka nilai Akuntabilitas tidak ada dalam kegiatan ini, maka hasil laporan dikerjakan dengan tanpa perhitungan.
JIka nilai Nasionalisme tidak ada dalam kegiatan ini, maka laporan aktualisasi yang dihasilkan kurang maksimal karena tanpa adanya
saran dan kritik dari mentor dan coach.
JIka nilai Etika Publik tidak ada dalam kegiatan ini, maka hubungan penulis dengan mentor dan coach kurang harmonis, sehingga sulit
untuk membuat laporan aktualisasi yang baik.
JIka nilai Komitmen Mutu tidak ada dalam kegiatan ini, maka laporan aktualisasi yang dihasilkan kurang maksimal dan kurang
bisa dipertanggungjawabkan.
JIka nilai Anti Korupsi tidak ada dalam kegiatan ini, maka laporan aktualisasi yang dihasilkan tidak dapat dipertanggungjawabkan
secara transparan.

42
G. Jadwal Kegiatan
Jadwal rencana kegiatan aktualisasi adalah sebagai berikut:
Tabel 5 Jadwal Kegiatan
No Kegiatan Tanggal
1 Konsultasi dan pembuatan rencana jadwal 07 Oktober 2019
kegiatan
2 Melakukan Pre-tes 08 - 09 Oktober 2019
3 Menyusun perangkat pembelajaran 09 -13 Oktober 2019
4 Membuat media pembelajaran 09 -13 Oktober 2019
5 Melaksanakan pembelajaran 14 - 29 Oktober 2019
6 Melakukan Pos-tes 30 Oktober 2019
7 Membuat laporan evaluasi 01-04 November 2019

H. Kendala dan Antisipasi


Kendala-kendala yang kemungkinan akan muncul saat aktualisasi dan
antisipasinya adalah sebagai berikut:
Tabel 6 Kendala dan Antisipasi
No. Kegiatan Kendala Antisipasi
1 Konsultasi dan Padatnya Membuat janji temu jauh-
pembuatan rencana jadwal atau jauh hari sebelum
jadwal kegiatan agenda mentor bimbingan. Jika mentor
benar-benar tidak bisa
melakukan bimbingan
secara langsung maka
bimbingan dapat dilakukan
melalui media whatsapp.
2 Melaksanakan Pre-tes Intrumen yang Melakukan validasi
(angket) kurang valid instrument kepada mentor
3 Menyusun perangkat Menentukan Metode pembelajaran
pembelajaran
metode disesuaikan dengan
pembelajaran karakter kelasnya
yang efektif
4 Membuat media Media Membuat media dengan

43
pembelajaran pembelajaran variasi yangmencakup 3
kurang gaya belajar siswa
menarik
5 Melakukan Kegiatan Terbatasnya
Pembelajaran dengan waktu untuk Menyusun jadwal
model pembelajaran melakukan pertemuan tiap kelas dan
Visual, Auditorial dan kegiatan pembagian jam yang jelas
kinestetik pembelajaran
6 Melakukan Pos-tes Terdapat siswa Memberikan pemahaman
yang dan penjelasan agar
menjawab mengisi instrument dengan
instrument jujur
tidak sesuai
dengan
kenyataan
7 Melakukan evaluasi dan Dokumentasi Membuat daftar
menyusun laporan
yang kurang dokumentasi yang harus
lengkap disiapkan untuk pelaporan

44
BAB III

KESIMPULAN

Kegiatan aktualisasi yang akan dilaksanakan di MTs N 2 Sumenep pada 6


Oktober – 4 November 2019 merupakan kegiatan menemukan alternatif solusi dari
hasil identifikasi permasalahan yang diidentifikasi dari beberapa isu. Isu atau
permasalahan yang diangkat adalah Rendahnya minat belajar siswa pada mata
pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Negeri 2 Sumenep. Alternatif kegiatan
untuk pemecahan isu yang akan dilaksanakan saat aktualisasi adalah sebagai
berikut:

1. Konsultasi rencana kegiatan dengan mentor


2. Pretes dan observasi untuk memperoleh hasil studi pendahuluan.
3. Penyusunan rencana pembelajaran.
4. Pembuatan media pembelajaran
5. Pelaksanaan program pembelajaran
6. Postes untuk mengukur capaian hasil.
7. Evaluasi dan pelaporan kegiatan
Kegiatan yang akan dilaksanakan diharapkan dapat meningkatkan minat
belajar siswa mata pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam di MTs Negeri 2 Sumenep
sehingga dapat menghasilkan output pembelajaran yang berkualitas. Tahapan
kegiatan yang direncanakan sudah melalui tahap analisis yang dikaitkan dengan
nilai-nilai dasar PNS serta keterkaitannya dengan kedudukan dan peran PNS dalam
NKRI.

45
DAFTAR PUSTAKA

Budiati, Lilin. 2017. Modul WoG Latsar CPNS. Badan Pengembangan


SDM Daerah Provinsi Jawa Tengah., 2017

Indonesia. Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara (PERKALAN)


Nomor 21 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggara Pelatihan
Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan III dan 22 Tahun 2016
dan Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara (PERKALAN)
Nomor 22 Tahun 2016 tentang Pedoman Penyelenggaraan
Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil Golongan I dan
Golongan II

Indonesia. Undang – Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil


Negara

Lembaga Administrasi Negara. Modul Akuntabilitas PS. TT.

Lembaga Administrasi Negara. Modul Etika Publik. TT.

Lembaga Administrasi Negara. Modul Komitmen Mutu. TT.

Lembaga Administrasi Negara. Modul Nasionalisme. TT.

Lembaga Administrasi Negara. Modul Pelayanan Publik Latsar CPNS. TT.

Lembaga Administrasi Negara. Modul Sadar Anti Korupsi 2. TT.

46

Anda mungkin juga menyukai