Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

SOLID OVARIUM TUMOR (SOT)


DI RUANG MERAK RSUD DR SOETOMO SURABAYA

Nama Anggota Kelompok :

1. Nurul Fathiyyah P27824415002


2. Odilya Tifanny T P27824415034
3. Rahma Nindiastuti P27824415019
4. Silvia Lailul Fahri P27824415013

KEMENTRIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES SURABAYA

PRODI DIV KEBIDANAN SUTOMO

2017/2018
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokokbahasan : Solid Ovarium Tumor


Sub Pokok : Mengikuti dan Memahami tentang Solid Ovarium Tumor /
Tumor Ovarium Padat
Sasaran : Pasien dan keluarga pasien
Tanggal : Kamis, 11 Januari 2018
Waktu : 40 menit
Tempat : Ruang Merak RS DR Soetomo
Penyuluh : Mahasiswa DIV Kebidanan Sutomo Surabaya

A. TUJUAN
Tujuan Umum
Setelah mengikuti kegiatan penyuluhan, diharapkan peserta dapat mengikuti dan memahami
tentang Solid Ovarium Tumor

Tujuan Khusus
Setelah mengikuti penyuluhan, pasien mampu:
1. Menyebutkan pengertian Solid Ovarium Tumor dengan benar
2. Menjelaskan penyebab Solid Ovarium Tumor
3. Menjelaskan macam - macam Solid Ovarium Tumor
4. Menjelaskan tanda dan gejala Solid Ovarium Tumor
5. Menjelaskan penanganan yang dilakukan bila ada tanda-tanda SolidOvarium Tumor
6. Menjelaskan penatalaksanaan Solid Ovarium Tumor

B. MATERI
Terlampir

C. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab

D. MEDIA
1. Leaflet
2. Power Point Text
E. KEGIATAN PENYULUHAN
NO KEGIATAN PENYULUH KEGIATAN PESERTA
1 Pembukaan a. Memberi salam dan perkenalan a. Menjawab salam dan
5 menit diri. memperhatikan.
b. Menjelaskan tujuan penyuluhan. b. Memperhatikan
c. Menggali pengetahuan peserta c. Memperhatikan dan memjawab
mengenai informasi gambaran pertanyaan
yang akan disampaikan
2. Pelaksanaan : Menjelaskan tentang materi Menyimak dan memperhatikan.
20 menit penyuluhan secara teratur :
a. Menyebutkan pengertian Solid
Ovarium Tumor dengan benar
b. Menjelaskan penyebab Solid
Ovarium Tumor
c. Menjelaskan macam - macam
Solid Ovarium Tumor
d. Menjelaskan tanda dan gejala
Solid Ovarium Tumor
e. Menjelaskan penanganan yang
dilakukan bila ada tanda-tanda
Solid Ovarium Tumor
f. Menjelaskan penatalaksanaan
Solid Ovarium Tumor

3. Penutup : a. Evaluasi Bertanya dan mengulang kembali


15 menit b. Kesimpulan materi yang disampaikan secara
c. Memberi salam penutup dan terima singkat dan menjawab pertanyaan.
kasih.

F. KRITERIA EVALUASI
1. Evaluasi Struktur
 Peserta hadir ditempat penyuluhan
 Penyelenggaraan penyuluhan dilaksanakan di Ruang Merak RSUD DR Soetomo
 Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan sebelumnya

2. Evaluasi Proses
 Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
 Tidak ada peserta yang meninggalkan tempat penyuluhan
 Peserta mengajukan pertanyaan dan menjawab pertanyaan secara benar

3. Evaluasi Hasil
 Peserta dapat menyebutkan pengertian Solid Ovarium
Tumor, penyebab, tanda dan gejala serta penanganan bila terjadi Solid Ovarium
Tumor.
 Jumlah hadir dalam penyuluhan minimal 5 Peserta.

G. DAFTAR PUSTAKA
Amin, Hardhi. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis dan
NANDA NIC NOC Edisi Revisi. Jogjakarta: Mediaction

Manuaba, (1998) . Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & KB . Jakarta : EGC

Mochtar, R. (1998) . Sinopsis Obstetri, Jilid 1 . Jakarta : EGC

Prawirohardjo. 2002. Ilmu Kandungan . Jakarta : Yayasan Bina Pustaka


Sarwono Prawirohardjo

Sarwono, Wiknjosastro Hanifa. 2011. Pengantar Ilmu Kandungan. Jakarta : YayasanPustaka

Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA,


Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC . Jakarta : EGC

www.biosm-indonesia.com (diakses tanggal 6 Januari 2018 pukul 17.45 WIB)


MATERI PENYULUHAN
SOLID OVARIUM TUMOR

1. Pengertian
Solid Ovarium Tumor adalah tumor yang padat dan jinak di ovarium termasuk
golongan “b” menurut histologik IPGO untuk tumor-tumor ovarium jenis epitel. Tumor
ini dapat terjadi pada semua golongan umur , tetapi lebih sering pada usia 50 tahun (60
%) sedangkan pada masa reproduksi kira-kira 30 % dan pada usia lebih muda sebanyak
10 %.

2. Penyebab
Tumor ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histiogenesis
yang beranekaragam, dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, entodermaldan
mesodermal) dengan sifat-sifat histologis maupun klasifikasinya masih sering menjadi
perdebatan. Relatif sering ditemukan pada wanita usia lanjut. Pemakaian obat yang
menyuburkan kandungan bagi wanita yang sulit hamil justru dapat mengakibatkan
tumbuhnya tumor ovarium, karena ada perubahan pembuluh darah akibat ovulasi
berlebihan yang dipicu obat penyubur kandungan. Tetapi penyebab tumor ovarium
disebabkan oleh multifaktor.

3. Macam– Macam Tumor Solid (Tumor Ovarium yang padat dan jinak) :
Semua tumor ovarium yang padat adalah merupakan jenis neoplasma, tetapi tidak semuanya
termasuk neoplasma ganas, meskipun memunyai potensi maligna.
a. Fibroma
b. Tumor Brenner
c. Tumor sisi aderenal (makulinovo-blastoma)
a. Fibroma Ovarii
Fibroma ovarii berasal dari elemen elemen fibroblastik stroma ovarium atau
dari beberapa sel mesenkhim yang multipoten.
Potensi menjadi ganas sangat rendah pada fibroma ovarium, kurang dari 1%.
Fibroma ovarii berasal dari elemen fibroblastik stroma ovarium atau sel mesenkim
yang multipoten. Tumor ini merupakan 5% dari semua neoplasma ovarium dan paling
sering ditemukan pada penderita menopause.
Tumor ini mencapai diameter 2 sampai 30 cm; dan beratnya 20 kg, dengan
90% uniteral. Permukaan tidak rata, konsistensi keras, warnanya merah jambu
keabuan. Apabila konsistensi sangat padat disebut fibroma durum, dan apabila lunak
disebut fibroma molle. Neoplasma ini terdiri atas jaringan ikat dengan sel-sel di tengah
jaringan kolagen. Apabila terdiri atas kelenjar-kelenjar kistik, maka disebut
kistadenofroma ovarii. Fibroma ovarii yang besar biasanya mempunyai tangkai dan
dapat terjadi torsi. Pada tumor ini sering ditemukan sindroma Meigs (tumor ovarii,
ascites, hidrotoraks).
b. Tumor Brenner
Satu neoplasma ovarium yang sangat jarang ditemukan, biasanya pada wanita
yang mendekati atau sesudah menopause. Angka frekuensinya ialah 0,5% dari semua
tumor ovarium. Penyelidikan yang terkhir memberi petunjuk bahwa sarang-sarang
tumor brenner dari epitel selonik duktus mulleri.
Besar tumor ini beraneka ragam, dari sangat kecil ke yang beratnya beberapa
kilogram. Lazimnva tumor ini unilateral. Pada pembelahan berwarna kuning muda
seperti fibroma, dengan kista-kista kecil. Kadang-kadang pada tumor ini temukan
sindroma Meigs. Gambar mikroskopis tumor ini sangat khas, terdiri dari 2 elemen,
yakni sarang-sarang yang terdiri atas epitel epitel, yang dikelilingi jaringan ikat yang
luas dan padat.
Tumor Brenner tidak menimbulkan gejala-gejala klinik yang khas, dan jika
masih kecil, biasanya ditemukan secara kebetulan pada pemeriksaan histopatologik
ovarium. Meskipun biasanya jinak, dalam beberapa kasus tumor ini menunjukkan
keganasan pada histopatologi dan klinisnya.

c. Maskulinovoblastoma (adrenal cell rest tumor)

Tumor ini sangat jarang terjadi. Biasanya unilateral dan besarnya bervariasi
antara 0,5-16 cm. Beberapa dari tumor ini menyebabkan gejala maskulinasi, terdiri
atas hirsutisme, pembesaran klitoris, atrofi memmae, dan perubahan suara.

4. Tanda dan gejala


a. Pembesaran perut
b. Rasa tidak nyaman pada perut
c. Tekanan pada pelvis
d. Haid tidak teratur (pada jenis tumor yang mengeluarkan hormon )
e. Darah menstruasi yang banyak (menoragia) dengan nyeri tekan pada payudara
f. Menopause dini
g. Sering berkemih.
h. Dapat menyebabkan obstipasi karena pergerakan usus terganggu atau dapat juga
terjadi penekanan dan menyebabkan defekasi yang sering.
i. Tidak nafsu makan
j. Ketidaknyamanan dalam coitus, yaitu pada penetrasi yang dalam
Gejala-gejala ini biasanya samar, tetapi setiap wanita dengan gejala-gejala
gastrointestinal dan tanpa diagnosis yang diketahui harus dievaluasi. Flattulenes, rasa
begah, dan lingkar abdomen yang terus meningkat merupakan gejala-gejala signifikan.

5. PROGNOSIS
a. Stadium I dan II tidak memberikan gejala yang khas sehingga sulit penentuan
diagnosa dini.2.
b. Stadium III dan IV Bisa diketahui karena sudah memberikan tanda dangejala Nyeri
perut, sesak, perdarahan pervaginam, anemia, pembesaran lingkaran abdomen,
benjolan perut bagian bawah, asites.

6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
 Fisik
Kista yang besar dapat teraba dalam palpasi abdomen. Walau pada wanita
premonopause yang kurus dapat teraba ovarium normal tetapi hal ini adalah
abnormal jika terdapat pada wanita postmenopause. Perabaan menjadi sulit pada
pasien yang gemuk. Teraba massa yang kistik, mobile, permukaan massa
umummnya rata. Cervix dan uterus dapat terdorong pada satu sisi.
Dapat juga teraba, massa lain, termasuk fibroid dan nodul pada ligamentum
uterosakral, ini merupakan keganasan atau endometriosis. Pada perkusi mungkin
didapatkan ascites yang pasif.
 Laboratorium
Cek darah lengkap
 MRI
MRI memberikan gambaran jaringan lunak lebih baik dari CT scan, dapat
memberikan gambaran massa ginekologik yang lebih baik. MRI ini biasanya tidak
diperlukan
 CT Scan
Untuk mengidentifikasi kista ovarium dan massa pelvik, CT Scan kurang
baik bila dibanding dengan MRI. CT Scan dapat dipakai untukmengidentifikasi
organ intraabdomen dan retroperitoneum dalam kasus keganasan ovarium.
 Foto Rontgen
Menentukan adanya hidrotoraks.
 Tes kehamilan
Dan HCG negatif, kecuali bila teijadi kehamilan.
 Laparoskopi
Dengan laparoskopi (alat teropong ringan dan tipis dimasukkan melalui pembedahan
kecil di bawah pusar) dokter dapat melihat ovarium, menghisap cairan dari kista atau
mengambil bahan percontoh untuk biopsi.
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari
ovarium atau tidak, dan untuk menentukan sifat- sifat tumor tersebut.
 USG
Tindakan ini tidak menyakitkan, alat peraba (transducer) digunakan untuk mengirim
dan menerima gelombang suara frekuensi tinggi (ultrasound) yang menembus bagian
panggul, dan menampilkan gambaran rahim dan ovarium di layar monitor. Gambaran ini
dapat dicetak dan dianalisis oleh dokter untuk memastikan keberadaan kista, membantu
mengenali lokasinya dan menentukan apakah isi kista cairan atau padat. Kista berisi cairan
cenderung lebih jinak, kista berisi material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
 Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi dilakukan melalui pemeriksaan terhadap perubahan-
perubahan abnormal pada tingkat jaringan, bertujuan untuk memeriksa penyakit berdasarkan
pada reaksi perubahan jaringan dengan cara membandingkan kondisi jaringan tersebut
dengan gambaran kondisi jaringan normal dan akan diketahui apakah suatu penyakit yang
diduga benar-benar menyerang atau tidak.

7. PENCEGAHAN
Belum ada tindakan khusus agar terhindar dari penyakit kista ovarium. Akan
tetapi pencegahan ditujukan untuk menurunkan angka insidensi kista Ovarium dan
secara tidak langsung akan mengurangi angka kematian akibat kista Ovarium.

Pencegahan primer
Pencegahan primer pada kista ovarium dilakukan pada orang sehat yang sudah
memiliki faktor risiko untuk terkena kista ovarium. Pencegahan primer dapat
dilakukan melalui upaya menghindarkan diri dari keterpaparan berbagai faktor risiko
dan melaksanakan pola hidup sehat seperti tidak merokok, menkonsumsi makanan
yang kaya serat dan mengandung zat anti oksidan yang tinggi, serta hindari zat kimia
tambahan yang berbahaya pada makanan.
Pada wanita yang memiliki risiko tinggi terkena kanker ovarium, operasi
pengangkatan ovarium dan tuba falopi sebelum terkena kanker juga dapat dilakukan
guna meminimalisasi risiko. Prosedur ini biasanya dianjurkan pada usia 35 hingga 40
tahun, bagi mereka yang sudah memutuskan untuk tidak memiliki keturunan lagi

Pencegahan sekunder
Pencegahan sekunder ditujukan untuk mengobati para penderita dan mengurangi
akibat-akibat yang lebih serius dari penyakit kista ovarium melalui diagnosa ,
pemeriksaan dini dan bekala kemudian pengobatan yang tepat.
Kista ovarium jinak tumbuh secara tersembunyi dan sering tidak dapat dideteksi
selama beberapa tahun.Tidak menyebabkan nyeri, tetapi jika membesar dapat
menimbulkan rasa tidak nyaman dan jarang menimbulkan gangguan
menstruasi.Pemeriksaan abdomen dan vagina secara periodik akan dapat mendeteksi kista
ini. Kista tanpa nyeri atau massa padat di cul-de-sac, atau di tempat ovarium, atau meluas
ke abdomen, yang dengan palpasi bersifat kistik sampai padat, memberi tanda kista
ovarium. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan skening ultrason abdomen atau
transvagina, yang dapat membedakannya dari kehamilan, kegemukan, pseudosiesis,
kandung kemih penuh atau degenerasi kistik dari mioma.
Prawirohardjo (2002), menyatakan bahwa apabila pada pemeriksaan ditemukan
kista di rongga perut bagian bawah dan atau di rongga panggul, maka setelah diteliti sifat-
sifatnya (besarnya, lokalisasi, permukaan, konsistensi, apakah dapat digerakkan atau
tidak), maka perlu ditentukan jenis kista tersebut.Pada kista ovarium biasanya uterus dapat
diraba tersendiri, terpisah dari kista.Jika kista ovarium terletak di garis tengah dalam
rongga perut bagian bawah dan kista itu konsistensinya kistik, perlu dipikirkan adanya
kehamilan atau kandung kemih penuh, sehingga pada anamnesis perlu lebih cermat dan
disertai pemeriksaan tambahan. Apabila sudah ditentukan bahwa kista yang ditemukan
ialah kista ovarium, maka perlu diketahui apakah kista itu bersifat neoplastik atau
nonneoplastik. (Prawirohardjo, 2002)
Kista nonneoplastik akibat peradangan umumnya dalam anamnesis menunjukkan
gejala-gejala ke arah peradangan genital, dan pada pemeriksaan kista-kista akibat
peradangan tidak dapat digerakkan karena perleketan.Kista nonneoplastik umumnya tidak
menjadi besar, dan diantaranya pada suatu waktu biasanya menghilang sendiri.Jika kista
ovarium itu bersifat neoplastik, maka pemeriksaan yang cermat dan analisis yang tajam
dari gejala-gejala yang ditemukan dapat membantu dalam pembuatan diagnosis
diferensial. (Prawirohardjo, 2002)
8. PENATALAKSANAAN
Pengobatan kista ovarii yang besar biasanya adalah pengangkatan melalui tindakan
bedah. Jika ukuran lebar kista kurang dari 5 cm dan tampak terisi oleh cairan atau
fisiologis pada pasien muda yang sehat, kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan
aktivitas ovarium dan menghilangkan kista.
Perawatan paska operatif setelah pembedahan serupa dengan perawatan pembedahan
abdomen. Penurunan tekanan intra abdomen yang diakibatkan oleh pengangkatan kista
yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang berat, komplikasi ini dapat
dicegah dengan pemakaian gurita abdomen yang ketat
Berikut beberapa tindakan yang dilakukan dalam penatalaksanaan tumor ovarium:
1. Pengangkatan tumor ovarium yang besar biasanya adalah melalui tindakan bedah,
misal laparatomi atau laparatomi salpingooforektomi.
2. Kontrasepsi oral dapat digunakan untuk menekan aktivitas ovarium dan
menghilangkan tumor.
3. Perawatan pasca operasi setelah pembedahan untuk mengangkat tumor ovarium
adalah serupa dengan perawatan setelah pembedahan abdomen dengan satu
pengecualian penurunan tekanan intra abdomen yang diakibatkan oleh
pengangkatan tumor yang besar biasanya mengarah pada distensi abdomen yang
berat. Hal ini dapat dicegah dengan memberikan gurita abdomen sebagai
penyangga.
4. Tindakan keperawatan berikut pada pendidikan kepada klien
tentang pilihan pengobatan dan manajemen nyeri dengan analgetik / tindakan
kenyamanan seperti kompres hangat pada abdomen atau teknik relaksasi napas
dalam, informasikan tentang perubahan yang akan terjadi seperti tanda-tanda
infeksi, perawatan insisi luka operasi.