Anda di halaman 1dari 13

KONTRAKSI OTOT GASTROKNEMUS

DAN OTOT JANTUNG KATAK

Nama : Khoerul Umam


NIM : 201800105012
Rombongan : VIII
Kelompok : IV
Asisten : Riska

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI HEWAN I

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
PROGRAM STUDI BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENGANTAR

A. Latar Belakang

Otot merupakan alat gerak aktif karena mampu berkontraksi. Fungsi otot
antara lain membuat gerakan tubuh, mempertahankan postur tubuh bersama
rangka, menstabilkan hubungan antar tulang, mempertahanakan suhu tubuh,
melindungi jaringan dalam tubuh dan menyimpan sedikit nutrisi. Kontraksi otot
dibagi menjadi kontraksi isometrik dan kontraksi isotonik. Pada kontraksi
isometrik (jarak sama), besarnya tekanan meningkat saat proses kontraksi, tetapi
panjang otot tidak berubah. Di sisi lain, pada kontraksi isotonik (tekanan sama),
besarnya tekanan yang dihasilkan otot adalah konstan saat kontraksi, tetapi
panjang otot berkurang (otot memendek) (Rahilly, 1995).
Otot terbagi dalam beberapa jenis antara lain otot lurik, otot polos dan otot
jantung. Otot lurik memmiliki desain yang efektif untuk pergerakan yang spontan
dan membutuhkan tenaga besar. Pergerakannya diatur sinyal dari sel syaraf
motorik. Otot ini menempel pada kerangka dan digunakan untuk pergerakan. Otot
polos merupakan otot yang ditemukan dalam intestinum dan pembuluh
darah bekerja dengan pengaturan dari sistem saraf tak sadar, yaitu saraf otonom.
Otot polos dibangun oleh sel-sel otot yang terbentuk gelondong dengan kedua
ujung meruncing serta mempunyai satu inti. Otot jantung ditemukan dalam
jantung bekerja secara terus-menerus tanpa henti. Pergerakannya tidak
dipengaruhi sinyal saraf pusat (Rahilly, 1995).
Menurut Kimball (1991) sel-sel otot sama halnya seperti neuron, dapat
dirangsang secara kimiawi, listrik, dan mekanik untuk membangkitkan potensial
aksi yang dihantarkan sepanjang membran sel. Berbeda dengan sel saraf, otot
memiliki kontraktil yang digiatkan oleh potensial aksi. Protein kontraktil aktin
dan myosin, yang menghasilkan kontraksi, terdapat dalam jumlah sangat banyak
di otot. Urutan kejadian dalam stimulus dan kontraksi pada otot meliputi stimulus,
kontraksi dan relaksasi.
B. Tujuan
Tujuan dari kegiatan laboratorium ini adalah :
1. Untuk mengetahui efek stimulasi pada respons kontraksi
otot gastrocnemus .
2. Efek stimulasi kimiawi pada kontraksi otot jantung katak.
II.BAHAN, ALAT DAN CARA KERJA

A. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam praktik ini adalah katak hijau ( Rana sp ) ,
larutan ringer katak, dan larutan asetilkolin 3-5%.
Alat yang digunakan dalam tindakan ini adalah Universal Kymograph,
baki, pipet tetes, jarum, kail, benang, pisau bedah, gunting, pinset, kertas
milimeter block.

B. Cara Kerja

Metode yang digunakan dalam kegiatan laboratorium adalah:


A. Gastroknemus kami kontraksi otot:
1. Atur universal kymograph melemahkan katak dengan menusuk otak.
2. Buat sayatan kulit melingkar di pergelangan kaki katak.
3. Buka kulit untuk membuka lutut
4. Pisahkan otot gastrocnemius dan otot lain dari tungkai bawah.
5. Ikat tendon Achilles dengan tali, lalu potong tendon Achilles. Selalu
basahi otot dengan larutan Ringer.
6. Pasang katak di papan fiksasi kymograph
7. Silakan tulis skala kymograph untuk setiap stimulasi electrica.

B. Pengukuran Hemoglobin
1. Katak terbunuh dengan merusak otak.
2. Pembedahan bagian perut katak.
3. Merobek pericardium katak.
4. Hitung kontraksi otot jantung dia kemudian 4 kali.
5. Jatuhkan 2-3 dari 5% Asetilkolin dan amati kontraksi.
6. Hitung konsentrasi otot jantung selama 15 kali tanam 4 .
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Tabel 3.1. Hasil Pengamatan Kontraksi Otot Katak Gastroknemus pada


katak hijau (Rana sp)

Tegangan (V) Amplitudo (mm)


0 0
5 0
10 2,5
15 2,3
20 1,1
25 2,1

Tabel 3.2 Hasil Pengamatan Kontraksi Otot Jantung Katak hijau (Rana Sp)

sebelum dijatuhkan setelah dijatuhkan


Kelompok
Asetilkolin pilokarpin Asetilkolin Pilokarpin
1 76 0 8 0
2 0 68 0 60
3 0 40 0 8
4 0 76 0 72
Hubungan Antara Tegangan dengan amplitudo pada
kontraksi otot Jantung
30
25
25
20
20
15
15
10
10
5
5 2.5 2.3 1.1 2.1
0
0
1 2 3 4 5 6

Voltage(V) Amplitudo(mm)

Grafik 3.1 Hubungan antara Tegangan dengan Amplitudo pada kontraksi


otot Jantung

B. Pembahasan

Otot adalah sistem biokontraktil di mana sel-sel atau bagian dari sel,
memanjang dan dikhususkan untuk menimbulkan tegangan pada sumbu yang
memanjang. Otot biasanya melekat pada kerangka. Otot yang berkontraksi
(memanjang atau memendek) akan menggerakan kerangka (tulang) tersebut. Otot
dan tulang dilekatkan oleh suatu jaringan ikat dan dapat membentuk tendon yang
berbentuk seperti tali. Kebanyakan sel otot vertebrata merupakan bagian dari
jaringan-jaringan otot polos, otot jantung (kardiak) dan otot kerangka (Ville et
al.,1988).
Otot-otot vertebrata dibedakan menjadi tiga jenis yaitu otot rangka, otot
jantung, otot lurik. Otot rangka dijumpai pada sosok otot yang bersambungan
dengan kerangka tubuh dan berkaitan dengan gerakan badan, otot jantung terlihat
dalam pemompaan darah dan otot polos ditemukan sebagai bagian dari dinding
alat visceral gastroknemus pada katak termasuk dalam otot rangka dengan bentuk
silindris, dimana serat-seratnya bersatu dalam kelompok-kelompok menjadi
berkas dengan ukuran yang beraneka ragam (Bavelender dan Ramalay, 1988).
Otot Gastroknemus, yakni otot betis yang paling menonjol yang letaknya
ada di bagian belakang betis berbentuk seperti intan (diamond). Tugasnya adalah
untuk menggerakkan telapak kaki dan sangat ber[eran saat Otot betis merupakan
otot yang paling bandel untuk dilatih. Akan tetapi tidak ada fisik yang lengkap
tanpa otot betis yang berkembang dengan baik (Guyton, 1995). Penggunaan otot
gastroknemus katak sebagai bahan dalam praktikum kali ini karena katak mudah
diperoleh, proses membedah dan menemukan otot gastroknemus juga tidak
memakan waktu lama, selain itu otot gastroknemus termasuk kedalam otot rangka
yang memiliki karakter eksitabilitas. Menurut Seeley (2002) otot rangka memiliki
empat karakteristik fungsional sebagai berikut:
1. Kontraktilitas : kemampuan untuk memendek karena adanya gaya
2. Eksitabilitas : kapasitas otot untuk merespons sebuah rangsang
3. Ekstensibilitas : kemampuan otot untuk memanjang
4. Elastisitas : kemampuan otot untuk kembali ke panjang normal
setelah mengalami pemanjangan.
Kontraksi otot dapat diartikan sebagai suatu aktivitas yang menghasilkan
suatu tegangan dalam otot. Biasanya kontraksi itu disebabkan oleh suatu impuls
saraf. Neuron dan serabut-serabut otot yang dilayani merupakan suatu unit
motor. Serabut otot secara individu merupakan satuan struktural otot kerangka,
ini bukanlah merupakan satuan fungsional. Semua neuron motor yang menuju
otot kerangka mempunyai akson-akson yang bercabang, masing-masing berakhir
dalam sambungan neuromuskular dengan satu serabut otot. Impuls saraf yang
melalui neuron dengan demikian akan memicu kontraksi dalam semua serabut
otot yang padanya cabang-cabang neuron itu berakhir (Hickman,1972).
Mekanisme kontraksi otot melibatkan suatu perubahan dan kedudukan
relatif dari filamen aktin dan myosin. Selama kontraksi filamen-filamen aktin
yang tipis yang terikat pada garis Z bergerak dalam pita A, meskipun filamen
sendiri tidak berubah dalam panjang namun pergeseran tersebut menghasilkan
perubahan dalam penampilan sarkomer, yakni penghapusan sebagian atau
sepenuhnya dari band H. Filamen myosin menjadi terletak sangat dekat dengan
garis-garis Z, pita-pita I, dan sarkomernya berkurang lebarnya dan gerakan ini
terjadi (Hadikastowo, 1982).
Jantung terletak dalam mediastinum di rongga dada, yaitu di antara kedua
paru-paru. Lapisan yang mengitari jantung (pericardium) terdiri dari dua bagian :
lapisan sebelah dalam atau “pericardium visceral” dan lapisan sebelah luar atau
“pericardium parietal”. Kedua lapisan pericardium ini dipisahkan oleh sedikit
cairan pelumas, yang berfungsi mengurangi gesekan pada gerakan memompa dari
jantung itu sendiri. Bagian depan dari pericardium itu melekat pada tulang dada
(sternum) bagian bawahnya melekat pada tulang punggung, sedang bagian bawah
pada diafragma. Pericardium visceral mempunyai hubungan langsung dengan
permukaan jantung (Wulangi, 1993). Jantung itu sendiri terdiri dari tiga lapisan :
1. Epikardium : Merupakan lapisan jantung sebelah luar yang merupakan
selaput pembungkus terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan parietal dan
visceral yang bertemu dipangkal jantung membentuk kantung jantung.
2. Miokardium : Merupakan lapisan inti dari jantung yang terdiri dari otot-
otot jantung, otot jantung ini membentuk bundalan-bundalan otot yaitu
bundalan otot atria, bundalan otot ventrikel, dan bundalan otot
atrioventrikuler.
3. Endokardium : Merupakan lapisan jantung yang terdapat di sebelah
dalam yang terdiri dari jaringan endotel atau selaput lendir yang melapisi
permukaan rongga jantung.
Sistem kerja jantung seperti pompa memiliki dua mekanisme gerak, yaitu
sistole dan diastole. Sistole adalah suatu keadaan saat ventrikel menyempit dan
mengalami kontraksi, sedangkan diastole adalah suatu keadaan saat ventrikel
mengembang dan mengalami relaksasi. Dua gerak mekanisme ini dapat diamati
dengan alat yang disebut Elegtrocardiogram (ECG). Selama diastole, tekanan
ventra aorta menurun katup – katup conus dan bulbus menutup, dan tekanan
menyimpan sama seperti darah yang meninggalkan aorta (Hadikastowo, 1982).
Menurut Frandson (1992), kontraksi otot jantung dipengaruhi oleh beberapa
faktor antara lain :
1. Treppe, summasi, tetani, fatique dan ragor. treppe atau staircase effect
adalah meningkatnya kekuatan kontraksi berulang kali pada suatu serabut
otot karena stimulasi berurutan berseling beberapa detik. Pengaruh ini
disebabkan karena konsentrasi ion Ca2+ didalam serabut otot yang
meningkatkan aktivitas miofibril.
2. Summasi berbeda dengan treppe, pada summasi tiap otot berkontraksi
dengan kekuatan yang berbeda yang merupakan hasil penjumlahan
kontraksi dua jalan (summasi unit motor berganda dan summasi
bergelombang).
3. Tetani yaitu peningkatan frekuensi stimulus dengan cepat sehingga tidak
ada peningkatan frekuensi.
4. Fatique adalah menurunnya kapasitas bekerja karena pekerjaan itu
sendiri.
5. Rigor dan rigor mortis adalah apabila sebagian besar ATP dalam otot
telah dihabiskan, sehingga kalsium tidak ada lagi dapat dikembalikan ke
RE sarkoplasma.
Menurut Syarif (2006). Fungsi dari larutan asetilkolin adalah memberikan
rangsangan kimiawi pada otot jantung katak, selain itu menggunakan larutan
ringer katak yang berguna sebagai larutan fisiologis yang dapat memelihara sel-
sel otot katak agar tetap dapat hidup. Penggunaan larutan ringer disaat mengamati
kontraksi otot gastroknemus bertujuan supaya sel otot tetap hidup dan dapat
memberikan respon terhadap rangsangan yang diberikan berupa arus listrik. Alat
yang sangat penting saat pengamatan ini adalah kimograf. kimograf adalah alat
untuk pembelajaran dan penelitian kontraksi otot dan biasanya menggunakan otot
gastroknemus katak.
Berdasarkan hasil pengamatan menunjukkan bahwa otot gastroknemus yang
diberi stimulus sebesar, 5V, 10 V, 15 V, 20 V, dan 25 V dengan berat beban yang
sama menunjukkan hasil yang berbeda pada stimulus 5V mencapai amplitudo
sebesar 0 dan naik pada voltase 10V sebesar 2,5 dan mengalami penurunan
amplitudo pada voltase 15V, 20V. Hal ini sesuai dengan pernyataan Kimball
(1991), bahwa kekuatan seluruh otot yang berkontraksi meningkat dengan
meningkatnya jumlah serabut individu yang berkontraksi, sehingga pada hewan
yang utuh kekuatan respon muskularnya dikendalikan oleh jumlah satuan motor
yang dibuktikan oleh sistem saraf pusat. Kejutan yang lemah tidak akan
berpengaruh sama sekali. Jika tercapai ambang, otot itu agak mengejang
kemudian karena kekuatan rangsang itu ditingkatkan maka banyaknya kontraksi
meningkat sampai maksimum. Johnson (1965), menyatakan bahwa jika sebuah
serabut otot diisolasi sari keseluruhan otot, maka serabut otot tersebut akan
menunjukkan kontraksi yang serasi jika dikenai stimulus. Stimulus yang kecil
menyebabkan kontraksi yang tidak terlalu besar. Semakin tinggi tegangan
(voltase) maka panjang kontraksi (amplitudo) semakin panjang. Hal ini
dipengaruhi oleh beban dan kekuatan otot gastroknemus.
Berdasarkan percobaan sebelumnya yaitu otot gastroknemus, keadaan
jantung katak mulai melemah dan kemudian mati. Katak tersebut mati
dikarenakan pada kemampuan ototnya untuk melakukan atau menyerap mekanis
kerja ototnya bekerja kurang maksimal sehingga katak tersebut mati (Moss and
Fitzsimons, 2010). Otot tersebut yaitu otot kontraktil dan otot tendon yang sama –
sama mempunyai komponen struktur yang elastis, otot tendon dapat menyimpan
energi di dalam ototnya dan energi tersebut akan di kembalikan diakhir fase saat
tendon dan seluruh MTU strukturnya akan lebih pendek dan berlangsung dengan
cepat (Hadikastowo, 1982).
IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan dapat diambil beberapa kesimpulan


sebagai berikut:
1. Otot jantung termasuk otot seran lintang yang sifatnya involuntari yang
artinya kerjanya tidak dipengaruhi oleh otak.
2. Otot jantung pada katak hijau (Rana sp) merupakan otot involuntari.
3. Otot gastroknemus dapat berkontraksi dengan adanya rangsangan dari
tegangan listrik.
4. Voltase yang diberikan terhadap otot akan mempengaruhi besarnya
respon dalam bentuk amplitudo.
DAFTAR PUSTAKA

Bavelender, G. dan J. A. Ramalay. 1988. Dasar-dasar Histologi. Erlangga,


Jakarta.
Frandson. 1992. Mekanisme dan Mekanika Pergerakan Otot. Integral. Vol.6 (2).
Guyton, A. C. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Penerbit Buku kedokteran
EGC, Jakarta.
Hadikastowo. 1982. Zoologi Umum. Alumni, Bandung.
Hickman,C.P. 1972. Biology of Animal. The C.V. Mos by Company, Sant Louis.
Johnsen, A. C. 1965. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Buku Kedokteran EGC,
Jakarta.
Kimball, J.W.1991. Biologi Jilid II. Alumni, Bandung.
Lichtwark, G. A. and A. M. Wilson. 2006. Interactions between the human
gastrocnemius muscle and the Achilles tendon during incline, level and
decline locomotion. The Journal of Experimental Biology. 209, 4379-4388.
Moss, R. L and Fitzsimons, D. P. 2010. Regulation of contraction in mammalian
striated muscles—the plot thick-ens. The Journal of General Physiology.
Rahilly. 1995. Anatomi Kajian Ranah Tubuh Manusia. Jakarta: UI Press.
Seeley, R.R., T.D. Stephens, P. Tate. 2003. Essentials of Anatomy and Physiology
fourth edition. McGraw-Hill Companies.
Suprayogi, A., Sumitro., M. Iskandar., R. Sudranto., H. S. Darusman.
2011. Perbandingan Nilai Kardiorespirasi dan Suhu Tubuh Dugong Dewasa
dan Bayi. Jurnal veteriner : 173-179.
Storer, T. I. 1961. Element of Zoology. Mc Graw Hill Book Company Inc, New
York.
Syarif, I. 2006. Kimoinstrumentation : Alat Pengukuran Karakteristik Otot
Gastroknemus Katak Berbasis Komputer. Departemen Fisiska ITB,
Bandung.
Ville, Claude A., Warren F. Walker dan Robert D. Barnes. 1988. Zoologi
Umum Jilid 1. Erlangga, Jakarta.
Wulangi, KS, 1993. Prinsip-prinsip Fisiologi Hewan. Bandung: ITB.