Anda di halaman 1dari 11

UNIVERSITAS INDONESIA

Tugas Pengolahan Gas Bumi

STUDI KASUS I: ANALISIS UNIT GAS SWEETENING PADA


KILANG X

Disampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Ir. Slamet M.T.

Kelompok 1
ANGGOTA KELOMPOK:
1 Adila Kestibawani (1606907783)
2 Natasha Elly Febrina P (1606908054)
3 Ranya Jamal Alkatiri (1606907991)
4 Zumroh Desty Angraini (1606907751)

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS INDONESIA
OKTOBER 2019
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ................................................................................................................... 2


BAB I
STUDI KASUS................................................................................................................ 3
BAB II
ANALISIS STUDI KASUS ............................................................................................ 5
2.1. Analisis Studi Kasus ........................................................................................ 5
2.1.1. Analisis Hydrocarbon Losses ..................................................................... 5
2.1.2. Analisis Pengaruh Peningkatan Temperatur Umpan .................................. 6
2.1.3. Analisis Penyebab Terjadinya Foaming ..................................................... 6
2.1.4. Analisis Penyebab Korosi ........................................................................... 6
2.1.5 Analisis Karbon Filter Tidak Di Aktifkan ..................................................... 8
BAB III
KESIMPULAN & REKOMENDASI ......................................................................... 10
3.1. Kesimpulan .......................................................................................................... 10
3.2. Rekomendasi ....................................................................................................... 10

2 Universitas Indonesia
BAB I
STUDI KASUS

Sebuah kilang X memiliki unit Gas Sweetening untuk mengolah sour gas yang
dihasilkan dari beberapa sumur untuk dijual menjadi sales gas. Teknologi sweetening
yang dipakai adalah absorpsi dengan pelarut aMDEA (MDEA teraktifkan dengan
Piperazine). Alur proses bisa dilihat dair gambar di bawah ini:

Sour gas dengan suhu 50°C dan tekanan 600 psig dialirkan pada kolom absorpsi
untuk dikontakan dengan semi-lean amine dengan suhu 67°C. Semi-lean amine akan
mengabsorpai CO2 yang ada dalam sour gas sehingga komposisi CO2 di sweet gas
maksimal 5%. Semi-lean amine yang jenuh dengan CO2 akan meninggalkan bagian
bawah kollom sebagai rich amine, kemudian dipanaskan dengan steam dari 72°C
sampai 87°C. Laju dialirkan menuju kolom regenerasi (Kolom flash).
Dalam kolom regenerasi, rich amine melepaskan CO2 dan keluar pada bagian
bawah sebagai semi-lean amine. Gas yang keluar dari bagian atas kolom regenerasi
(98% CO2) didinginkan menggunakan air cooler sampai suhu 50°C untuk memisahkan
rich amine yang ter-carry over yang kemudian dipisahkan di KO drum. Produk bawah
KO drum dikembalikan ke kolom regenerasi. Produk atas dari KO drum merupakan gas
yang menuju venting.
Permasalahan-permasalahan yang muncul:
1. Apabila dilihat dari komposisi Acid Gas Venting, komposisi total hidrokarbon
(C1-C6) pada kondisi awal adalah 1,1% sedangkan pada kondisi actual

3 Universitas Indonesia
4

2. mencapai 1,9%. Hydrocarbon losses pada keadaan aktual mencapai 0.45


MMSCFD.
3. Terjadi peningkatan suhu feed / sour gas sekitar 10°C dibandingkan pada
kondisi awal (desain).
4. Terjadinya foaming di kolom absorber sehingga memakan banyak bahan kimia
anti-foaming.
5. Terdapat korosi di bagian atas kolom absorber sehingga beberapa tray (terutama
tray paling atas kolom ) perlu diganti setiap tahunnya.
6. Dari hasil laboratorium, ditemukan beberapa banyak bahan-bahan organik yang
tercampur di rich dan semi-lean amine, selain itu kondisi fisik rich dan lean
amine berwarna coklat bening kekuningan.
7. Karbon filter tidak diaktifkan, padahal kondisi karbon aktif masih bagus.
Gas Venting Gas Venting
Komposisi Satuan Sour/Feed Gas
(Desain) (Aktual)
CO % mol (dry) 23 98.86 98
2

N % mol (dry) 6.5 0.03 0.11


2

CH % mol (dry) 66.97 0.95 1.77


4

CH % mol (dry) 1.8 0.1 0.09


2 6

CH % mol (dry) 1.14 0.03 0.02


3 8

C % mol (dry) 0.27 0.01 0.00


4

C % mol (dry) 0.12 0.01 0.00


5

C % mol (dry) 0.2 0.00 0.00


6

HS % mol (dry) 0.0004 0.0005 -


2

Dry Gas
% mol (dry) 100
Amount

Universitas Indonesia
BAB II
ANALISIS STUDI KASUS

2.1. Analisis Studi Kasus


2.1.1. Analisis Hydrocarbon Losses
Adanya peningkatan kandungan hidrokarbon pada acid gas venting dapat
disebabkan oleh karena 2 hal. Yang pertama adalah karena adanya liquid hydrocarbon
yang ter-carry over pada umpan sour gas. Yang kedua adalah karena adanya
hidrokarbon yang ikut terabsorpsi oleh larutan aMDEA di unit absorber. Secara teori,
memang larutan aMDEA tidak ikut serta mengabsorpsi senyawa hidrokarbon dalam
fasa gas ataupun cair, melainkan hanya gas-gas asam. Namun, pada kenyataannya
terutama saat terjadi foaming, hidrokarbon yang dalam bentuk emulsi dalam air dapat
terbentuk oleh karena adanya penambahan anti-foaming yang akan berperan sebagai
surfaktan dan menurunkan tegangan permukaan dari air sehingga menghasilkan
campuran tersebut. Emulsi hidrokarbon dalam air kemudian akan ikut terabsorpsi oleh
larutan aMDEA. Hidrokarbon terlarut ini kemudian akan keluar kolom kontakor/
absorber dan terikut pada aliran rich amine. Hidrokarbon yang terdapat dalam aliran
rich amine akan masuk ke kolom regenerator dan kemudian akan terpisah dari larutan
aMDEA dan keluar dari bagian atas kolom sebagai gas dalam aliran acid gas venting.
Berdasarkan perbandingan data desain dan aktual dari komposisi aliran acid gas
venting, dapat diketahui bahwa kenaikan hydrocarbon slip yang paling tinggi
dipengaruhi karena jumlah metana yang meningkat di acid gas venting. Untuk
mengatasi metana yang ter-carry over oleh larutan aMDEA pada saat proses di unit
kontaktor ini, kelompok kami merekomendasikan 2 macam cara. Yang pertama adalah
dengan menambahkan unit scrubber dan/atau slug catcher sebagai unit proses pre-
treating sebelum gas asam masuk sebagai umpan absorber. Salah satu penyebab adanya
foaming adalah oleh karena adanya liquid hydrocarbon yang terbawa dalam gas umpan.
Maka dari itu, dengan penambahan unit-unit tersebut dapat membantu mengurangi
foaming yang juga mengakibatkan adanya hydrocarbon losses akibat adanya entrained
liquid hydrocarbon yang berukuran sangat kecil sekalipun (slug).
Cara kedua yang direkomendasikan adalah dengan mengurangi laju sirkulasi solven
yang masuk ke unit kontaktor. Namun, pengurangan laju alir solven ke unit kontraktor
5 Universitas Indonesia
6

dapat mengurangi jumlah CO2 yang terabsorpsi dari sour gas, sehingga kandungan CO2
dalam produk sweet gas pasti akan meningkat. Oleh karena itu diperlukan adanya
optimasi proses dengan melakukan uji variasi laju sirkulasi solven terlebih dahulu,
supaya dapat ditentukan pada laju sirkulasi solven berapakah yang mampu menurunkan
besar hydrocarbon slip seperti keadaan desain namun tetap mempertahankan specs dari
sweet gas dengan kandungan CO2 maksimum sebesar 5%.
2.1.2. Analisis Pengaruh Peningkatan Temperatur Umpan
Absorpsi dipengaruhi oleh temperatur dan tekanan. Kondisi operasi yang baik
untuk proses absorpsi adalah temperatur rendah dan tekanan tinggi. Jika terjadi
kenaikan pada temperature feed atau operasi, maka proses absorpsi akan menurun,
sehingga semakin banyak jumlah CO2 yang terdapat pada sweet gas. Oleh karena itu,
suhu dari feed gas harus dijaga agar proses absorpsi berjalan dengan optimal.
2.1.3. Analisis Penyebab Terjadinya Foaming
Berdasarkan informasi yang tersedia pada soal studi kasus, terdapat dua hal yang
mengakibatkan foaming, yaitu carbon filter yang tidak diaktifkan dan pemakaian
antifoam agent yang berlebih. Carbon filter berfungsi untuk menyaring kontaminan,
seperti partikel-partikel solid, liquid hydrocarbon dari gas umpan, heat stable salt, agar
tidak memasuki kolom absorber. Jika carbon filter dimatikan, maka kontaminan-
kontaminan tersebut dapat memasuki kolom absorber dan dapat mengakibatkan foaming
pada kolom absorber.
Selanjutnya, antifoam agent yang berlebih dapat larut kedalam larutan amine
didalam kolom absorber sehingga dapat menurunkan tegangan permukaan. Tegangan
permukaan merupakan suatu indicator yang menentukan kecenderungan larutan amine
untuk membentuk foam. Semakin rendah tegangan permukaan, semakin rentan larutan
amine untuk terjadi foaming.
2.1.4. Analisis Penyebab Korosi
Berikut kemungkinan-kemungkinan yang terjadi yang dapat menyebabka korosi
pada top absorber:
• Foaming: Korosi pada bagian top absorber diakibatkan oleh foam yang
terbentuk. Foam yang terbentuk akan berkumpul dan terus menumpuk di atas
larutan amine. Ketika foam pecah akibat tekanan dari sour gas maka sour gas
lari dengan cepat naik ke top absorber sehingga waktu kontak antara larutan
Universitas Indonesia
7

amine dan sour gas sedikit. Hal ini akan berakibat pada produk gas yang masih
mengandung sour gas (CO2 dan H2S) yang tinggi sehingga akan menyebabkan
korosi pada top absorber.
• Suhu tinggi akibat perbedaan tekanan yang tinggi: Foam yang terbentuk
akan berkumpul dan terus menumpuk di atas larutan amine akibatnya sour gas
akan terus menekan foam sehingga perbedaan tekanan pada larutan amine akan
naik, suhu akan naik, dan entalpi akan naik. Jika suhu dan entalpi naik maka
larutan amine tidak berkerja secara maksimal dan memimicu sour gas lepas
sehingga laju korosi akan terus meningkat pada bagian top absorber
• Makeup water: kadar air akibat makeup water yang tinggi (berlebihan) dapat
meningkatkan daya larut antifoam/surfaktan (water soluble surfactants) dan
berakibat pada meningkatnya konsentrasi antifoam/ surfaktan sehingga tidak
akan memecahkan foaming akibat turunya tegangan permukaan dan malah akan
memicu buih (forth) untuk bertransformasi menjadi busa (foaming) akibatnya
foaming akan terus menumpuk dan menaikkan perbedaan tekanan diikuti oleh
peningkatan suhu sehingga laju korosi terus meningkat.
• Konsentrasi antifoam berlebihan: antifoam yang terus terbentuk akibat
konsentrasi air yang lebih tinggi akan memperbesar daya larut antifoam untuk
bertransformasi menjadi foaming akibat turunnya tegangan permukaan dan
biasanya akan melibatkan kontaminan yang kurang larut dalam air yang
mengandung surfaktan, seperti beberapa hidrokarbon cair akibatnya antiofoam
kurang efektif dalam memecahkan busa dan hanya akan memperbanyak foaming
yang secara tidak langsung ikut mempersingkat waktu kontak larutan amine dan
sour gas. Hal ini akan berakibat pada laju korosi pada top absorber yang terus
menigkat
• Karbon aktif yang tidak dinyalakan: Karbon aktif yang tidak dinyalakan
dapat berakibat fatal. Penggunaan karbon aktif dapat menghilangkan partikel
secara mekanis termasuk gelembung antifoam yang tidak larut, aglomerat
antifoam-padatan, dan molekul organic terlarut. Antifoams juga diketahui
menjadi tidak efektif karena aglomerasi dengan padatan tersuspensi. Antifoam
dengan padatan yang menggumpal akan menonaktifkan antifoam sehingga busa

Universitas Indonesia
8

akan terus menumpuk dan sour gas yang diserap oleh larutan amine sedikit dan
menimbulkan korosi pada bagian top absorber
• Semi lean amine yang digunakan: Semi lean amine yang digunakan dalam
sistem gas sweetening akan memicu korosi. Hal ini disebabkan oleh adanya gas
asam larut dan kontaminan organik yang terdapat di dalam larutan semi lean
amine tersebut. %wt gas asam jenuh yang terdapat pada semi lean amine akan
menimbulkan korosi pada bagian top absorber. Oleh karena itu, diperlukan unit
tambahan untuk melakukan treating pada semi lean amine seperti kolom
distilasi

Gambar 1.1 Pembentukan Foaming oleh Surfaktan dan Mekanisme Antifoam


(Sumber: https://pdfs.semanticscholar.org/)

2.1.5 Analisis Karbon Filter Tidak Di Aktifkan


Activated Karbon filter dapat menghilangkan hidrokarbon terlarut, dan
kontaminan dari larutan amine. Maka, akibat dari mengaktifkan karbon filter adalah
dapat mencegah foaming, mengurangi korosi, meningkatkan kualitas amine, serta dapat
meningkatkan efisiensi gas sweetening.

Universitas Indonesia
9

Gambar 1.2 Activated Carbon Filter


(Sumber: www.gasprocessingnews.com)
Selain mengaktifkan carbon filter, letak dari carbon filter harus diperhatikan
karena dapat mempengaruhi beban filter contohnya, digunakan pada aliran larutan
amine karena beberapa kontaminan amine, seperti hidrokarbon ringan, sudah
dihilangkan dalam kolom stripping. Lokasi ini merupakan lokasi yang terbaik untuk
carbon filter karena setelah melewati heat exchanger, suhu rich amine akan turun,
sehingga kapasitas adsorpsi karbon aktif untuk menghilangkan hidrokarbon lebih tinggi
karena suhu yang lebih rendah.
Adapun masalah lainnya yang dihadapi akibat tidak diaktifkan karbon filter, yaitu
terdapat banyak bahan-bahan organik yang tercampur di rich dan semi lean amine dan
berwarna coklat bening kekuningan, dimana hal ini dapat terjadinya karena tidak
diaktifkan carbon filter sehingga tidak terjadinya penyaringan pada saat amine
memasuki kolom absorber. Proses penyaringan dapat terjadi karena removal melalui
fenomena adsorpsi berdasarkan interaksi permukaan kontaminan dan permukaan butir
C. Interaksi terjadi oleh gaya Van der Waals yang lemah, reversibel dan gaya dipol-
dipol. Akibatnya, pemisahan ini umumnya efektif untuk komponen organik.

Universitas Indonesia
BAB III
KESIMPULAN & REKOMENDASI

3.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi kasus di atas, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan:
1. Penyebab terjadinya peningkatan hydrocarbon slip adalah karena kemungkinan
adanya entrained liquid hydrocarbon pada feed gas dan adanya hidrokarbon
dalam bentuk campuran yang ikut terabsorpsi oleh solven aMDEA
2. Peningkatan temperature feed atau operasi dapat mengakibatkan proses absorpsi
yang tidak optimal.
3. Penyebab terjadinya foaming adalah tidak dinyalakannya carbon filter dan
pemakain antifoam agent yang berlebih.
4. Penyebab terjadinya korosi ialah foaming, antifoam yang berlebih, suhu tinggi
akibat perbedaan tekanan yang tinggi, make up water, karbon aktif yang tidak
dinyalakan, dan semi lean yang digunakan
5. Karbon filter tidak diaktifkan sehingga terdapat impurities dan senyawa organik
pada semi lean amine yang dapat mengakibatan masalah foaming, korosi, dan
mengakibatkan perubahan warna.
3.2. Rekomendasi
Melalui analisis dan evaluasi dari setiap penyebab dari permasalahan dari unit
gas sweetening pada studi kasus, maka berikut adalah beberapa rekomendasi yang
diberikan:
1. Menambahkan unit scrubber dan/atau slug catcher sebagai pre-treatment
process untuk menghindari adanya entrained liquid hydrocarbon yang terbawa
pada feed gas.
2. Mengurangi laju sirkulasi solven aMDEA supaya mengurangi jumlah
hydrocarbon slip yang terdapat pada acid gas venting.
3. Menambahkan unit cooler sebelum feed gas memasuki kolom absorber,
sehingga suhu feed dapat terjaga walaupun suhu gas dari sumurnya tidak tetap.
4. Mengaktifkan karbon filter mencegah foaming, mengurangi korosi,
meningkatkan kualitas amine, serta dapat meningkatkan efisiensi gas sweetening

10 Universitas Indonesia
11

dengan cara menghilangkan impurities dan senyawa organik pada rich dan semi
lean amine.
5. Menambahkan unit distilasi sebagai treatment semi lean process untuk
memisahkan kandungan gas asam yang terlarut dan hidrokarbon lainnya agar
nantinya yang digunakan sebagai absorben hanya larutan amine yang bebas dari
gas asam larut dan hidrokarbon lainnya.

Universitas Indonesia