Anda di halaman 1dari 25

MORFOLOGI BUNGA

Laporan Praktikum
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Struktur dan Perkembangan Tumbuhan 2
yang dibina oleh Dr. Murni Saptasari, M.Si Umi Fitriyati, S.Pd., M.Pd.

Oleh :
Alfany Abied Maulana Offering C 2018
180341617546

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS NEGERI MALANG
JURUSAN BIOLOGI
November 2019
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Tujuan

1. Mahasiswa mampu menganalisis rumus bunga dan diagram bunga


2. Mahasiswa mampu menganalisis struktur morfologi organ bunga tumbuhan berbunga.
3. Mahasiswa mampu menganalisis kelengkapan bunga berdasarkan bagian bagian dari
bunga

B. Dasar teori
Bunga merupakan organ reproduktif pada tumbuhan. Berdasarkan tipenya, bunga
dibagi menjadi bunga tunggal dan bunga majemuk. Pada bunga tunggal, satu tangkai hanya
mendukung satu bunga, sedangkan pada bunga majemuk, satu tangkai mendukung banyak
bunga Bunga merupakan organ reproduktif pada tumbuhan. Berdasarkan tipenya, bunga
dibagi menjadi bunga tunggal dan bunga majemuk. Pada bunga tunggal, satu tangkai hanya
mendukung satu bunga, sedangkan pada bunga majemuk, satu tangkai mendukung banyak
bunga (Fahn, 1991). Bunga dikatakan organ repoduktif karena memiliki putik dan benang
sari sebagai alat berkembang biak.
Berdasarkan jumlah bunga, tumbuhan dapat dibedakan menjadi tumbuhan
berbunga tunggal (planta uniflora) dan tumbuhan berbunga banyak (planta multiflora).
Berdasarkan letaknya, bunga dibedakan menjadi bunga terminal bila letaknya di ujung
cabang atau ujung batang; dan bunga aksiler apabila bunga terletak di ketiak daun
(Sulasmi, 2004).
Melihat bagian-bagian yang terdapat pada bunga, maka bunga dapat dibedakan
dalam Bunga lengkap atau bunga sempurna (flos completus), yang dapat terdiri atas: 1
lingkaran daun-daun kelopak, 1 lingkaran daun-daun mahkota, 1 atau 2 lingkaran benang-
benang sari dan satu lingkaran daun-daun buah. Bunga yang bagian-bagiannya tersusun
dalam 4 lingkaran dikatakan bersifat tetrasiklik, dan jika bagian-bagiannya tersusun dalam
lima lingkaran dikatakan pentrasik, dan Bunga tidak lengkap atau bunga tidak sempurna
(flos incompletus), jika salah satu bagian hiasan bunganya atau salah satu alat kelaminnya
tidak ada. Jika bunga tidak mempunyai hiasan bunga, maka bunga itu disebut telanjang
(nudus), jika hanya mempunyai salah satu dari kedua macam alat kelaminnya dinamakan
berkelamin tunggal (Tjitrosoepomo, 1989)
Bagian-bagian bunga tunggal terdiri atas tangkai bunga (pedicel), dasar bunga
(receptacle), kelopak (calyx), mahkota (corolla), benang sari (stamen), dan putik (pistil).
Bagian-bagian bunga majemuk terdiri atas ibu tangkai bunga (peduncle), daun pelindung
(bract), daun tangkai (bracteola), tangkai daun dan bunga (Stace, 1980).
Bagian bunga seperti daun kelopak dan daun mahkota berada pada susunan tertentu
ketika masih kuncup. Hal ini disebut estivasi, contohnya estivasi valvate, valvate
induplicate, valvate reduplicate, imbricate, ascending imbricate, descending imbricate,
convolute, plicate, open dan quincuncial (Tjitrosoepomo, 1989).
Bagian bunga lainnya, seperti dasar bunga dapat mengalami peninggian. Beberapa
istilah yang digunakan untuk menggambarkan peninggian dasar bunga, misalnya anthofor,
androfor, ginofor, androginofor dan discus. Bentuk dasar bunga yang biasa dijumpai adalah
bentuk rata, kerucut, cawan, dan mangkuk (Sastrapradja, 1976)
Bunga majemuk dapat dibedakan menjadi bunga majemuk terbatas dan bunga
majemuk tidak terbatas. Contoh bunga majemuk terbatas adalah monochasium yang terdiri
atas monochasium tunggal, sekrup, dan bercabang seling; dichasium yang terdiri atas
dichasium tunggal dan dichasium majemuk; pleiochasium; bunga kipas dan bunga sabit
(Widya, 1989).
Bunga majemuk tidak terbatas dibedakan menjadi bunga majemuk dengan ibu
tangkai tidak bercabang dan bunga majemuk dengan ibu tangkai bercabang. Contoh yang
pertama adalah bunga bulir, tongkol, untai, tandan, cawan, payung, bongkol, dan bunga
periuk. Contoh yang kedua adalah bunga malai, thyrse, malai rata, bulir majemuk, tongkol
majemuk dan payung majemuk (Dod, 1979).
Bagian dari sumbu yang merupakan ruas yang berakhir dengan tangkai bunga
(pedisel). Ujung distal pedisel ini mengembang dengan panjang yang beragam dan bagian
ini disebut reseptakael bunga (talamus). Organ-organ bunga melekat pada reseptakel.
Sebuah bunga yang khas mempunyai empat macam organ. Organ-organ yang paling luar
adalah sepal yang secara bersama-sama membentuk kaliks yang biasanya berwaran hijau
dan ditemukan paling rendah kedudukannya pada reseptakel. Disebelah dalam sepal adalah
corolla yang terdiri atas petal, pada umumnya berwarna yang membentuk perhiasan bunga.
Bila semua perhiasan bunga itu sama, mereka disebut tepal. Di dalam perhiasan bunga
dijumpai dua macam organ reproduksi, yang sebelah luar disebut stamen yang bersma-
sama membentuk androsium, dan sebelah dalam di sebut karpel yang membentuk ginesium
gandung biji-biji (Stace, 1980).
Bunga pada umumnya mempunyai bagian – bagian berikut (Tjitrosoepomo, 1989)
Tangkai bunga (pedicellus), yaitu bagian bunga yang masih jelas bersifat batang, Dasar
bunga (receptaculum), yaitu ujung tangkai yang seringkali melebar, dengan ruas – ruas
yang amat pendek, sehingga daun – daun yang telah mengalami metamorfosis menjadi
bagian – bagian bunga yang duduk amat rapat satu sama lain, bahkan biasanay lalu tampak
duduk dalam satu lingkaran. Hiasan bunga (perianthium), yaitu bagian bunga yang
merupakan penjelmaan daun yang masih tampak berbentuk lembaran dengan tulang –
tulang atau urat – urat yang masih jelas. Pada suatu bunga seringkali tidak kita dapati hiasan
bunganya. Bunga demikian dinamakan bunga telanjang (flos nudus). Biasanya hiasan
bunga dapat di bedakan dalam dua bagian yang masing – masing duduk dalam satu
lingkaran. Jadi bagian – bagian hiasan bunga itu umumnya tersusun dalam dua bagian
antara lain: Kelopak (kalix), yaitu bagian hiasan bunga yang merupakan lingkaran luar,
biasanya berwarna hijau, dan sewaktu bunga masih kuncup merupakan selubungnya, yang
melindungi kuncup tadi terhadap pengaruh-pengaruh dari luar.kelopak terdiri atas
beberapa daun kelopak (sepal). Daun-daun kelopak pada bunga dapat berlekatan satu sama
lain, dapat pula terpisah-pisah. Tajuk bunga atau mahkota bunga (corolla), yaitu bagian
hiasan bunga yang terdapat pada lingkaran dalam, biasanya tidak berwarna hijau lagi.
Warna bagian inilah yang lazimnya merupakan warna bunga. Mahkota bunga terdiri atas
sejumlah daun mahkota (petala), yang seperti halnya dengan daun-daun kelopak dapat
berlekatan atau tidak. Alat – alat kelamin jantan (androecium), bagian ini sesungguhnya
juga merupakan metamorfosis daun yang menghasilkan serbuk sari. Androecium terdiri
atas sejumlah benang sari (stamen). Pada bunga benang-benang sari sarinya dapat pula
bebas atau berlekatan ada yang tersusun dalam satu lingkaran ada pula yang dalam dua
lingkaran. Alat kelamin betina (gynaecium), yang pada bunga merupakan bagian yang
biasanya disebut putik (pistilum), juga putik terdiri atas metamorfosis daun yang disebut
daun buah (carpella). Pada bunga dapat ditemukan satu atau beberapa putik, dan setiap
putik dapat terdiri atas beberapa daun buah
BAB 2
METODE PENELITIAN
A. Alat dan Bahan
Alat :
1. Kamera Smartphone
2. Alat tulis

Bahan:
1. bunga Sepatu
2. bunga Kembang merak
3. bunga Coklat
4. bunga Jagung
5. bunga Waluh
6. bunga Padi
7. bunga Cempaka
8. bunga Kupu-kupu
9.bunga Turi
10. bunga Markisa
11. bunga Sirsak
12. bunga Pepaya
13. bunga Pisang
14. bunga Paitan
15. bunga Racunan
16. bunga Canna
17. bunga Krangkong
18. bunga Ixora
19. bunga bakun
20. bunga biduri

B. Hasil pengamatan
BAB 3
A. PEMBAHASAN
Bunga adalah modifikasi/penjelmaan dari batang dan daun yang bentuk, warna, dan
susunannya disesuaikan dengan kepentingan tanaman sehingga pada bunga dapat
berlangsung penyerbukan serta pembuahan yang akhirnya dapat dihasilkan alat
perkembangbiakan. Bunga memiliki sifat-sifat yang menarik, yaitu bentuk/bagian bunga,
warna bunga, bau bunga, dan ada tidaknya madu ataupun zat lainnya. Fungsi biologi bunga
adalah sebagai wadah menyatunya gamet jantan (mikrospora) dan betina (makrospora)
(Tjitrosoepomo, 1988.).
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan serta hasil yang didapat mengenai
morfologi dari bunga, di sini dapat dijelaskan bahwa dalam pengamatan ini digunakan
sembilan belas jenis bunga diantaranya bunga sepatu, bunga kembang merak, bunga coklat,
bunga jagung, bunga waluh, bunga padi, bunga cempaka, bunga kupu kupu, bunga turi,
bunga markisa, bunga sirsak, bunga pepaya, bunga pisang, bunga paitan, bunga racunan,
bunga canna, bunga krangkong, bunga soka, bunga bakun, bunga biduri dan bunga lainnya.
Bunga adalah struktur pembiakan pada tumbuhan berbunga Jika suatu tumbuhan
hanya mempunyai satu bunga saja, biasanya bunga itu terdapat pada ujung batang, jika
bunganya banyak, dapat sebagian bunga – bunga tadi terdapat dalam ketiak – ketiak daun
dan sebagian pada ujung batang atau cabang – cabang.menurut Tjitrosoepomo(1989) kita
dapat membedakan menjadi Bunga pada ujung batang (flos terminalis), Bunga di ketiak
daun (flos lateralis atau flos axillaris) sesuai dengan letak bunganya berada dimana.
menurut pengamatan yang dilakukan bunga yang termasuk di flos terminalis adalah bunga
merak, bunga pisang, bunga canna, bunga paiton, bunga coklat, dan bunga jagung.
Sementara bunga dengan tipe flos lateralis adalah bunga bunga sepatu, bunga waluh, bunga
padi, bunga cempaka, bunga kupu kupu, bunga turi, bunga markisa, bunga sirsak, bunga
pepaya, bunga pisang, bunga paitan, bunga racunan,bunga krangkong, bunga soka, bunga
bakun, bunga biduri.
kemudian bunga menurut besar jumlahnya atau Letak bunga pada tumbuhan
disebut anthotaxis. Berdasarkan posisi bunga terhadap bunga lain, dibedakan menjadi tiga
macam anthitoxis, yaitu: hanya satu bunga (planta uniflora), dan bunga juga ada yang
jumlahnya banyak dan bisa disebut planta multifora, kemudian planta multifora dapat
dibagi menjadi 2 yaitu jika kuntum bunga tersebar dan terdapat sendiri-sendiri (flores
sparsa), dan perbungaan (inflorescentia) terdiri dari satu sumbu bersama tempat melekat
sejumlah kuuntum bunga sehingga menghasilkan satu kesatuan ( Kester, 1983). flores
sparsi adalah keadaan dimana bunga tersebar atau terpisah pisah tidak mengelompok di
satu tempat menurut hasil pengamatan yang dilakukan bunga yang bertipe flores sparsi
adalah bunga cempaka, bunga sirsak, bunga markisa, bunga sepatu, bunga waluh.
sementara bunga dengan tipe planta uniflora atau bunga yang hanya mempunyai satu bunga
menurut penmgamatan yang dilakukan adalah bunga coklat, bunga paitan. Dan bunga yang
termasuk pada tipe inflorescentia atau tipe planta multifora yaitu memiliki bunga yang
banyak dan berkumpul adalah bunga jagung, bunga kembang merak, bunga pisang, bunga
turi, bunga canna, bunga pepaya,bunga racunan, bunga padi, bunga kupu kupu,bunga
kerangkong.
Kemudian berdasarekan tipe perbungaan bunga mempunyai dua tipe perbungaan
yaitu bunga tunggal dan bunga majemuk, tipe bunga tunggal yaitu bunga yang hanya
terdapat satu pada satu tumbuhan saja. Sementara Bunga majemuk dapat dibedakan
menjadi bunga majemuk terbatas dan bunga majemuk tidak terbatas. bunga majemuk
terdiri atas monochasium tunggal, sekrup, dan bercabang seling; dichasium yang terdiri
atas dichasium tunggal dan dichasium majemuk (Widya, 1989), dan Bunga majemuk tidak
terbatas dibedakan menjadi bunga majemuk dengan ibu tangkai tidak bercabang dan bunga
majemuk dengan ibu tangkai bercabang. (Dod, 1979) dan juga terdapat bunga majemuk
campuran yaitu perpaduan bunga majemuk terbatas dan tidak terbatas (Parwata, 2009).
pada pengamatan yang telah dilakukan ditemukan bahwa bunga tunggal ada di bunga
coklat,bunga sepatu. sementara bunga denga tipe majemuk berbatas adalah bunga pisang,
bunga pepaya, bunga kerangkong.Kemudian bunga dengan tipe bunga majemuk tak
terbatas menurut pengamatan adalah bunga jagung, bunga turi, bunga kembang merak,
bunga canna, bunga paitan, bunga padi, bunga kupu kupu, kemudian bunga tumbuhan yang
bertipe majemuk campuran adalah bunga racunan. dan ada bunga yang tidak memiliki tipe
perbungaan yaitu bunga markissa, bunga sirsak, dan bunga cempaka.

Berdasarkan bagiannya, bunga ada dua macam, yaitu bunga lengkap (flos
completes) dan bunga tidak lengkap (flos incompompletus). Bunga lengkap terdiri atas:
satu lingkaran daun kelopak, satu lingkaran daun mahkota, satu atau dua lingkaran benang
sari, dan satu lingkaran daun buah. Bunga yang memiliki bagian-bagian yang tersusun
dalam empat lingkaran bersifat tetralistik dan jika terdapat lima lingkaran bersifat
pentasiklik, sedangkan bunga tidak lengkap adalah bunga yang tidak memilki salah satu
hiasan bunga atau kelamin (Foster, 1989.). pada pengamatan yang telah dilakukan bunga
lengkap atau fles completus dalam pengamatan adalah bunga sepatu, bunga sirsak, bunga
bunga turi, bunga markisa, bunga kembang merak, bunga canna, bunga padi, bunga kupu
kupu, bunga kerangkong, bunga ixora. sementara bunga tidak lengkap atau flos
incomplectus adalah bunga coklat, bunga jagung, bunga waluh, bunga cempaka, bunga
pepaya, bunga pisang, bunga paitan, bunga racunan, bunga soka, bunga bakun, bunga
biduri
Selanjutnya yang diamati adalah keadaan dari bunga, di dalam keadaan bunga
terdapat 5 aspek yang diamati yaitu aspek letak masing masing bagian bunga, simetri
bunga, sifat sepal, sifat petal, dan aestivato dari bunga tersebut.Menurut Tjitrosoepomo
(1989) bagian bagian bunga atau tata letak masing masing bunga yang merupakan
metamorfosis daun seperti kelopak, mahkota, benang sari, dan daun buah dapat kita jumpai
dalam susunan yang berbeda beda yaitu terpencar atau tersebar menurut spiralnya atau bisa
dikatakan acyclis seperti pada bunga racunan, bunga canna, bunga pisang, bunga cempaka,
bunga bakung. Kemudian ada yang tipe berkarang atau melingkar bisa disebut cyclis
seperti pada bunga waluh, bunga ixora, bunga pepaya, bunga turi, bunga kupu kupu, bunga
paitan, bunga kembang sepatu, bunga padi, bunga jagung, bunga coklat, bunga krangkong,
bunga kembang merak, bunga markisa. Dan ada juga tipe campuran yaitu jika bagian
bagian bunga tadi ada yang berpencar dan ada yang berkarang atau bisa dikatakan
hemicyclis, seperti pada bunga sirsak.
kemudian aspek selanjutnya yang dibahas adalah aspek simetri dari bunga, simetri
adalah sifat suatu benda atau badan yang juga biasa disebut untuk bagian bagian tubuh
tumbuhan baik batang, daun, maupun bunga. Jadi simetris dari bunga adalah jika bunga
dapat dibuat menjadi bentuk simetris dan dapat dibagi menjadi dua bagian yang sama atau
tidak. bunga sebagai suatu bagian dari tumbuhan dapat pula dibedakan menjadi 4 simetris
yaitu asimetris jika bunga tidak dapat dibuat satu bidang simetri dengan jalan apapunjuga
jadi bunga tidak dapat terbagi menjadi 2 bagian yang sama contohnya adalah pada bunga
cempaka, bunga canna. Yang kedua adalah monosimetris atau zigomorph jika bunga hanya
dapat dibagi menjadi satu bidang simetris saja yang membagi bunga menjadi 2 bagian yang
setangkup contohnya adalah pada bunga jagung, bunga padi bunga kembang merak, bunga
kembang pisang, bunga turi, bunga racunan. Kemudian yang ketiga adalah bilateral
simetris atau bisa disebut setangkup ganda,yaitu apabila bunga dapat dijadikan 2 bagian
yang setangkup menurut 2 bidang simetris yang tegak lurus satu sama lain. Dan yang
terkakhir adalah polysimetris atau bersimetri banyak jika bunga dapat dibuat banyak
bidang simetri untuk membagi bunga dalam dua bagiannya yang setangkup contohnya
adalah bunga bakung, bunga krangkong, bunga sirsak, bunga kembang sepatu, bunga
paitan, bunga pepaya, bunga ixora, bunga waluh.(Tjitrosoepomo,1989).
Aspek selanjutnya yang dibahas adalah sifat sepal atau kelopak dari bunga, kelopak
adalah daun daun hiasan bunga yang merupakan lingkaran luar, biasanya berwarna hijau
dan berguna sebagai pelindung bunga. pada bunga daun kelopak mempunyai sifat sifat
yang berbeda diantaranya yaitu sifatnya berlekatan atau bisa dikatakan gamosepalus yaitu
pada kelopak biasanya yang berlekatan hanya bagian bawah daun daun kelopaknya saja,
bagian atasnya yeng berupa pancung pancungnya tetap bebas, pancung itu sebenarnya
merupakan bagian atas daun daun kelopak sehingga dengan menghitung julah pancungnya
dapat diketahui pula kelopak tersusun atas berapa daun kelopak. Sifat yang kedua adalah
lepas atau bebas bisa dikatakan polysepalus yaitu jika daun daun kelopak yang satu dengan
sama lain benar benar terpisah sama sekali tidak berlekatan (Tjitrosoepomo,1989).
Aspek selanjutnya adalah sifat petal atau mahkota bunga, mahkota bunga adalah
hiasan bunga yang terdapat di sebelah dalam kelopak, umumnya lebih besar dan dengan
warna yang lebih indah dan menarik. Seperti halnya dengan kelopak mahkota bunga juga
mempunyai sifat sifat berbeda diantaranya adalah gamopetalus atau berlekatan dalam
keadaan ini pada mahkota bunga terdapat adanya tabung atau buluh tajuk, pinggiran tajuk,
dan leher tajuk. Kemudian ada sifat polypetalus atau bebas yaitu jika daun daun mahkota
terpisah satu sam lain sehingga dapat dibedakan antara kuku daun mahkota dan helaian
daun mahkota.dan yang terakhir adalah daun mahkota yang sifatnya tidak ada atau sangat
kecil sehingga tidak dapat terlihat atau dapat disebut apetalus yaitu bunga tanpa mahkota
(Tjitrosoepomo,1989).
Aspek terkahir yang diamati dari keadaan bunga adalah aestivato dari bunga
tersebut.Aestivatio adalah letak daun daun kelopak dan mahkota terhadap sesamanya,
mengenai hal ini aestivatio bunga terbagi bermacam macam susunan daintaranya adalah
aperta atau terbuka jika tepi daun daun kelopak atau mahkota tidak bersentuhan satu sama
lain contohnya pada bunga cempaka, bunga sirsak, bunga padi, bung jagung, Valvata atau
berkatup jika tepi daun kelopak saling bertemu tapi tidak berlekatan contohnya pada bunga
paitan. Kemudian induplicativa atau berkatup dengan tepi melipat ke dalam contohnya
adalah pada bunga waluh, Reduplicativa yaitu berkatup dengan tepinya melipat ke luar
contohnya adalah pada bunga kupu kupu, imbricata atau tepi saling menutupi seperti
susunan genting atau sirap contohnya pada bunga ixora, bunga canna, bunga turi, bunga
krangkong.Susunan daun kelopak atau daun mahkota dengan tipe imbricata juga dibagi
menjadi 3 yaitu terpeluntir ke satu arah atau convoluta yaitu jika letak daun daun mahkota
atau kelopak nampak terpeluntir ke satu arah baik ke arah kanan maupun kiri contohnya
yaitu pada bunga kembang sepatu yang melipat ke kanan., mengikuti rumus 2/5 atau bisa
disebut quincunsialis jika arah putaran tadi menyebabkan letak daun daun kelopak atau
mahkota seperti duduk di daun yang mengikuti rumus 2/5. dan yang ketiga adalah kohlearis
atau mengikuti garis spiral seperti pada rumah siput (Tjitrosoepomo,1989).
Berdasarkan jumlah kelamin bunga yang terdapat pada suatu tanaman, bunga dapat
dibedakan menjadi tiga macam, yaitu berumah satu (monoecus), berumah dua (dioceus),
dan poligami (polygamous) (Tjitrosoepomo, 1988.). Tumbuhan dapat dikatakan monoecus
apabila dalam satu tumbuhan terdapat dua kelamin bunga yaitu kelamin jantan dan betina
meskipun bunga jantan dan betina itu letaknya berbeda, contohnya menurut pengamatan
yang telah dilakukan seperti pada bunga sepatu, bunga cempaka, bunga sirsak, bunga turi,
bunga markissa, bunga pisang, bunga coklat, bunga canna, bunga racunan, bunga waluh,
bunga padi, bunga biduri, bunga kupu kupu, bunga kerangkong, bunga ixora, bunga jagung,
dan bunga paitan. kemudian tumbuhan dapat dikatakan dioecus apabila dalam satu
tumbuhan hanya terdapat satu jenis kelamin dari bunga dan jenis lainnya terdapat di
tumbuhan yang lain namun tidak terdapat bunga banci disitu, namun pada pengamatan
yang dilakukan tidak ditemukan adanya bunga dengan tipe dioescus.Kemudian tumbuhan
dapat dikatakan polygamus apabila dalam tiap tumbuhan terdapat bunga yang memiliki
kelamin kelamin berbeda dan satu tumbuhan hanya memiliki satu kelamin bunga di
dalamnya ada yang dalam satu pohon hanya mempunyai bunga dengan kelamin jantan, ada
yang hanya mempunyai kelamin betina, dan hanya ada yang dalam satu pohon hanya
memiliki bunga dengan kelamin banci. conntohnya menurut pengamatan yang telah
dilakukan adalah bunga pepaya dan bunga pepaya dan bunga kembang merak.

Selanjutnya yaitu kelamin dari bunga, kelamin bunga ada yang jantan, ada yang
betina dan ada yang banci,kelamin jantan apabila dalam satu bunga hanya terdapat benang
sari, kelamin betina apabila dalam satu bunga hanya terdapat putik dan kelamin banci
apabila dalam satu bunga terdapat 2 kelamin yaitu kelamin jantan benang sari dan kelamin
betina putik. kelamin jantan atau biasa disebut androecium adalah alat – alat untuk bunga
kelamin jantan, bagian ini sesungguhnya juga merupakan metamorfosis daun yang
menghasilkan serbuk sari. Androecium terdiri atas sejumlah benang sari (stamen). Pada
bunga benang-benang sari sarinya dapat pula bebas atau berlekatan ada yang tersusun
dalam satu lingkaran ada pula yang dalam dua lingkaran. Pada androecium terbagi menjadi
4 aspek yang pertama adalah aspek duduk benang sari, pada aspek ini dibedakan menjadi
3 jenis yaitu benang sari duduk pada dasar bunga atau bisa dikatakan de candolle, pada
pengamatan yang dilakukan yang termasuk pada tipe ini adalah bunga waluh, bunga
canna,bunga Turi, bunga kupu kupu, bunga kembang sepatu, bunga kembang merak, bunga
bunga cempaka, bunga sirsak, bunga padi, bunga coklat bunga pisang, bunga jagung.
Kemudian benang sari tampak seperti duduk di atas kelopak pada pengamatan yang telah
dilakukan tipe ini terdapat pada bunga bakung, bunga waluh. Dan yang terakhir benang
sari tampak duduk di atas mahkota bunga terdapat pada bunga racunan, bunga ixora, bunga
pepaya (Tjitrosoepomo, 1988.).
Aspek selanjutnya adalah jumlah benang sari yang terbagi menjadi 3 yaitu benang
sari banyak yaitu jika dalam satu bunga terdapat lebih dari 20 benang sari sehingga
dikatakan banyak, bunga yang sesuai dengan tipe ini menurut hasil pengamatan adalah
bunga cempaka, bunga sirsak dan bunga kembang merak.Kemudian jumlah benang sari 2
kali lipatnya jumlah daun pada tajuknya yang berada dalam satu lingkaran, untuk tipe ini
terbagi menjadi 2 yaitu diplostemom benang sari berada dalam satu lingkaran luar duduk
berseling dengan daun daun rajuk dan yang kedua adalah tipe oopdiplostemon yaitu jika
keadaan sebaliknya dari diplostemon(Tjitrosoepomo, 1988.) Pada tipe ini tumbuhan yang
sesuai menurut hasil pengamatan adalah bunga krangkong, bunga pisang, bunga kupu
kupu, bunga turi, bunga canna, bunga pepaya. Dan yang terakhir adalah benang sari sama
dengan daun tajuk atau kurang bunga yang sesuai dengan tipe ini menurut pengamatan
adalah bunga waluh, bunga racunan, bunga ixora, bunga canna, bunga paitan, bunga padi,
bunga jagung, bunga coklat, bunga krangkong,bunga bakung,bunga markisa
Aspek selanjutnya yang dibahas adalah jumlah berkas benang sari yang dalam hal
ini terbagi menjadi 3 tipe. Yang pertama adalah benang sari berbekas satu atau disebut
monadhelpus yaitu jika semua tangkai sari pada suatu bunga berlekatan menjadi satu.
Menurut hasil pengamatan bunga yang terdapat pada tipe ini adalah bunga racunan,bunga
pepaya,bunga canna,bunga paitan,bunga krangkong,bunga bakung, bunga pisang, bunga
bunga kembang sepatu, bunga cempaka, bunga sirsak, bunga jagung, bunga
padi.Kemudian ada tipe benang sari berbekas dua atau disebut diadelphus jika benang sari
terbagi menjadi 2 kelompok dengan tangkai yang berlekatan dalam masing masing
kelompok namun jumlah tangkainya tidak harus sama satu antar lain contoh bunga tipe ini
adalah bunga turi, bunga kupu kupu.Dan yang ketiga adalah benang sari berbekas banyak
yaitu jika dalam suatu bunga mempunyai banyak benang sari dan tangkai sarinya tersusun
menjadi beberapa kelompok atau berkas contohnya adalah bunga ixora,bunga kembang
merak,bunga coklat, bunga markissa(Tjitrosoepomo,1988.).
Aspek terakhir dari Androecium adalah duduk kepala sari yang dalam hal ini
mempunyai 3 macam tipe. Yang pertama adalah tegak atau bisa disebut innatus yaitu jika
kepala sari dengan tangkainya memperlihatkan batas yang jelas sehingga tidak
memberikan kemungkinan gerak bagi kepala sarinya, contoh bunga tipe ini dari hasil
pengamatan adalah bunga jagung jantan, bunga kerangkong, bunga racunan, bunga
pepaya, bunga padi, bunga sari,buna cempaka, bunga kembang sepatu. Kemudian yang
kedua adalah menempel atau adnatus jika tangkai sari pada ujungnya beralih menjadi
penghubung ruang sari contohnya adalah bunga pisang, bunga paitan, bunga canna, bunga
ixora, bunga waluh.Dan yang terakhir adalah bergoyang atau versatilis jika kepala sari
melekat pada ujung tangkai sari sehingga masih dapat menyebabkan kepala sari bergoyang,
bunga markissa, bunga bakung, bunga kupu kupu bunga coklat, bunga turi, bunga kembang
merak, bunga (Tjitrosoepomo, 1988.)
Kemudian kelamin betina, bunga dapat dikatakan berkelami betina apabila terdapat
putik pada bunganya.Alat kelamin betina bisa disebut juga dengan gynaecium. Alat
kelamin betina (gynaecium), yang pada bunga merupakan bagian yang biasanya disebut
putik (pistilum), juga putik terdiri atas metamorfosis daun yang disebut daun buah
(carpella). Pada bunga dapat ditemukan satu atau beberapa putik, dan setiap putik dapat
terdiri atas beberapa daun buah (Tjitrosoepomo, 1988.)
Pada gynaecium terbagi menjadi 4 aspek, yang pertama yaitu banyak daun buah
penyusun putik. Pada aspek ini yang diperhatikan adalah banyaknya daun buah yang
menjadi susunan putik dan menyusun putik, pada tipe ini tiap tumbuhan yang berbunga
mempunyai banyak yang berbeda beda tergantung jumlah asalnya berapa bahkan ada yang
sama sekali tidak mempunyai daun buah penyusun putik.Hal ini sesuai dengan yang
dikatakan oleh Tjitrosoepomo (1988) yang menyatakan bahwa dalam satu bunga lazimnya
hanya terdapat satu putik saja tetapi ada pula yang mempunyai lebih dari satu putik dan
terkasdang pula ada yang tidak mempunyai putik.
Aspek yang kedua adalah aspek letak bakal buah. bakal buah sesuain yang
dikatakan oleh Tjitrosoepomo (1988) adalah bagian putik yanf membesar, dan biasanya
terdapat pada tengah tengah dasar bunga. Letak dasar bunga dapat dibedakan menjadi 3
yaitu superus atau bakal buah menumpang yaitu apabila bakal buah duduk di atas dasar
bunga sehingga akan kelihatan lebih tinggi contoh bunga tipe ini menurut hasil pengamatan
adalah bunga waluh, bunga racunan, bunga pepaya, bunga kembang sepatu bunga
turi,bunga kupu kupu, bunga kembang merak, bunga cempaka,bunga sirsak,bunga padi,
bunga bakung, bunga markisa, bunga jagung.Kemudian yang kedua adalah hemi inferus
atau setengah tenggelam yaitu jika bakal buah duduk pada dasar bunga yang cekung atau
berada di tengah tengah antara dasar bunga dan atas bunga, pada hasil pengamatan yang
dilakukan tidak ditemukan adanmya bunga ddengan tipe hemi inferus. Dan yang ketiga
adalah inferus atau tenggelam yaitu apabila seluruh bagian samping bakal buah berlekatan
dengan dasar bunga yang berbentuk miring, contohnya adalah bunga ixora, bunga canna,
bunga paitan, bunga pisang, bunga coklat, dan bunga krangkong.
Aspek yang ketiga adalah bakal buah berdasarkan daun buah. Pada aspek ini terbagi
menjadi 3 tipe yang pertama adalah Senokarp yaitu jika bakal buah terdiri atas beberapa
daun buah yang berlekatan satu sama lain, pada pengamatan yang telah dilakukan tidak
ditemukan adanya bunga dengan tipe sinkarp. Kemudian ada tipe parakarp jika perlekatan
daun daun buah itu hanya merupakan satu putik dengan satu ruang saja, pada pengamatan
yang telah dilakukan tidak ditemukan adanya bunga dengan tipe parakarp. Kemudian ada
tipe Apokarp yaitu apabila terdapat daun daun buah yang tidak berlekatan satu sama lain,
contohnya adalah Bunga sirsak, bunga cempaka, bunga kembang merak, bunga pepaya,
daun ixora, Dan tipe yang terkahir adalah tipe sinkarp yaitu jika dari perlekatan daun dau
buah itu terbentuk putik dengan jumlah ruang yang sesuai dengan jumlah daun buahnya,
contohnya adalah bunga jagung, bunga markisa, bunga bakung, bunga krangkong , bunga
coklat, bunga kembang merak, bunga pisang, bunga paitan, bunga canna, bunga racunan
(Tjitrosoepomo, 1988.)
Aspek yang terakhir dari gynecium adalah bakal buah berdasarkan jumlah ruangan,
Pada aspek ini terbagi menjadi 4 macam, yang pertama adalah bakal buah beruang satu
atau unilocularis yaitu apabila bakal buah yang beruang satu dapat tersusun atas satu buah
saja, contohnya yaitu pada bunga soka, bunga pepaya, bunga turi, bunga kupu kupu, bunga
paitan, bunga kembang merak, bunga padi, bunga jagung, bunga coklat. Bakal buah
beruang dua atau bilocularis yaitu apabila bakal buah tersusun atas dua daun buah,
contohnya seperti pada bunga krangkong. Selanjutnya adalah bakal buah beruang tiga atau
trilocularis, bakal buah ini dapat terjadi dari tiga buah daun yang tepinya melipat ke dalam
dan berlekatan sehingga terbentuklah bakal buah dengan tiga sekat, contohnya adalah
bunga racunan, bunga canna, bunga pisang, bunga bakung, bunga markisa. Dan yang
terkahir adalah bakal buah beruang banyak yaitu bakal buah yang tersusun atas banyak
daun buah yang berlekatan dan membentuk banyak sekat, contohnya adalah bunga sepatu
dan bunga cempaka (Tjitrosoepomo, 1988.)
Kemudian yang terakhir yaitu rumus dan diagram bunga, Susunan bunga dapat pula
dinyatakan dengan sebuah rumus, yang terdiri atas lambang lambang, huruf huruf, dan
angka angka yang semua itu dapat memberikan gambaran mengenai berbagai sifat bunga
beserta bagian bagiannya (Savitri, 2005).
Lambang lambang yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat bunga
yang bertalian dengan simetrinya atau jenis kelaminnya, huruf huruf merupakan singkatan
nama bagian bagian bunga. Disamping itu masih terdapat lambang lambang lain lagi yang
memperlihatkan hubungan bagian bagian bunga satu sama lain (Tjitrosoepomo, 1989).

Oleh suatu rumus bunga hanya dapat ditunjukkan hal – hal mengenai 4 bagian
pokok bunga sebagai berikut (Sumardi, 1993):
1. Kelopak, yang dinyatakan dengan huruf K singkatan kata kalix (calyx).
2. Tajuk atau mahkota, yang dinyatakan dengan huruf C singkatan kata corolla.
3. Benang – benang sari, yang dinyatakan dengan huruf A, singkatan dari
androecium.
4. Putik, yang dinyatakan dengan huruf G, singkatan kata gynaecium
Jika kelopak dan mahkota sama, baik bentuk maupun warnanya, kita lalu
mempergunakan huruf lain untuk menyatakan bagian tersebut, yaitu huruf P, singkatan
kata perigonium (Savitri, 2008).
Dibelakang huruf – huruf tadi lalu ditaruhkan angka – angka yang menunjukkan
jumlah masing – masing bagian tadi, dan diantara dua bagian bunga yang digambarkan
dengan huruf dan angka itu di taruh koma. Di depan rumus hendaknya diberi tanda yang
menunjukkan simetri bunga. Biasanya hanya diberikan dua macam tanda simetri, yaitu: *
untuk bunga yang bersimetri banyak dan tanda ↑ untuk bunga yang bersimetri satu. Selain
lambang yang menunjukkan simetri pada rumus bunga dapat pula ditambahkan lambang
yang menunjukkan jenis kelamin bunga. Untuk bunga yang banci di pakai lambang: ♀,
untuk bunga jantan dipakai lambang: ♂, dan untuk bunga betina dipakai lambang: ♀.
Lambang jenis kelamin ditempatkan di depan lambang simetri (Hidayat, 1995)
BAB 4
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Susunan bunga dapat pula dinyatakan dengan sebuah rumus, yang terdiri atas
lambang – lambang, huruf – huruf, dan angka – angka, yang semua itu dapat
memberikan gambaran mengenai berbagai sifat bunga beserta bagian – bagiannya
Lambang – lambang yang dipakai dalam rumus bunga memberitahukan sifat bunga
yang bertalian dengan simetrinya atau jenis kelaminnya, huruf – huruf merupakan
singkatan nama bagian – bagian bunga. Disamping itu masih terdapat lambang –
lambang lain lagi yang memperlihatkan hubungan bagian – bagian bunga satu sama
lain (Tjitrosoepomo, 1989).
2. Bunga adalah bagian tanaman yang mengandung struktur alat perbanyakan
generatif. Berdasarkan tipenya, bunga dibagi menjadi bunga tunggal dan bunga
majemuk. Pada bunga tunggal, satu tangkai hanya mendukung satu bunga,
sedangkan pada bunga majemuk, satu tangkai mendukung banyak bunga. Pada
umumnya bunga memiliki 4 organ utama, yaitu: kelopak (kaliks), mahkota
(corola), benang sari (andresium) dan putik (gynesium). Benang sari terdiri dari
tangkai sari (filament), putik (stigma), tangkai putik (style), dan bakal buah (ovary).
3. Melihat bagian-bagian yang terdapat pada bunga, maka bunga dapat dibedakan
dalam Bunga lengkap atau bunga sempurna (flos completus), yang dapat terdiri atas
1 lingkaran daun-daun kelopak, 1 lingkaran daun-daun mahkota, 1 atau 2 lingkaran
benang-benang sari dan satu lingkaran daun-daun buah. Bunga yang bagian-
bagiannya tersusun dalam 4 lingkaran dikatakan bersifat tetrasiklik, dan jika
bagian-bagiannya tersusun dalam lima lingkaran dikatakan pentrasiklik. Bunga
tidak lengkap atau bunga tidak sempurna (flos incompletus), jika salah satu bagian
hiasan bunganya atau salah satu alat kelaminnya tidak ada. Jika bunga tidak
mempunyai hiasan bunga, maka bunga itu disebut telanjang (nudus), jika hanya
mempunyai salah satu dari kedua macam alat kelaminnya dinamakan berkelamin
tunggal (unisexualis).

B. SARAN
Sebaiknya saat pelajaran lebih diperbanyak untuk melihat lihat tumbuhan secara
langsung atau pelajaran outdoor agar mahasiswa dapat mengetahui secara langsung
bagaimana bentuk dari tumbuhan yang diamati tersebut. dan juga penjelasan dari pelajaran
lebih di tingkatkan
DAFTAR RUJUKAN

Dod, B. 1979. Tanaman Bunga di Dunia (terjemahan). Jakarta : UI Press.

Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi 3.Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Widya, yasinta. 1989. Tanaman obat indonesia. Malang : Universitas Negeri Malang Press.

Sastrapradja, et al. 1976. Tanaman Indonesia. Bogor : Lembaga Biologi Nasional-LIPI.

Tjitrosoepomo, Gembong. 2009. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gajah Mada University

Press.

Stace, C.A. 1980. Taksonomi tumbuhan dan biosistematik. Bogor : IPB Press.

Sulasmi. 2004. Macam – Macam Tanaman Dataran Tinggi dan Rendah. Bogo : IPB Press
Hidayat, Esteti, B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB Press.

Sumardi, Issrep. 1993. Struktur dan Perkembangan Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Gadjah
Mada Press.

LAMPIRAN