Anda di halaman 1dari 6

SUBJEK HUKUM PERDAGANGAN INTERNASIONAL

A. Pendahuluan

Dalam aktivitas perdagangan internasional terdapat beberapa subjek hukum yang berperan
penting di dalam perkembangan hukum perdagangan internasional. Dalam hukum
perdagangan internasional, yang dimaksud dengan subjek hukum adalah :

1. para pelaku (stakeholders) dalam perdagangan internasional yang mampu


mempertahankan hak dan kewajibannya di hadapan badan peradilan, dan

2. para pelaku (stakeholders) dalam perdagangan internasional yang mampu dan berwenang
untuk merumuskan aturan-aturan hukum di bidang hukum perdagangan internasional.

B. Subjek Hukum Perdagangan Internasional

Sebagaimana telah diuraikan di atas, bahwa subjek hukum dalam hukum perdagangan
internasional adalah :

A. Negara

Negara merupakan subjek hukum terpenting di dalam hukum perdagangan internasional.


Negara merupakan subjek hukum yang paling sempurna, alasannya :pertama, Negara
merupakan satu-satunya subjek hukum yang memiliki kedaulatan. Berdasarkan kedaulatan
ini, Negara memiliki wewenang untuk menentukan dan mengatur segala sesuatu yang masuk
dan keluar dari wilayahnya. Dengan atribut kedaulatannya ini, Negara antara lain berwenang
untuk membuat hukum (regulator) yang mengikat segala subjek hukum lainnya (individu,
perusahaan), mengikat benda dan peristiwa hukum yang terjadi di dalam wilayahnya
termasuk perdagangan. Kedua, Negara juga berperan baik secara langsung maupun tidak
langsung dalam pembentukan organisasi-organisasi (perdagangan) internasional didunia
misal, WTO, UNCTAD,UNCITRAL. Ketiga, Negara juga bersama-sama dengan Negara lain
mengadakan perjanjian internasional guna mengatur transaksi perdagangan. Keempat, Negara
berperan juga sebagai subjek hukum dalam posisinya sebagai pedagang. Dalam posisinya ini,
Negara adalah salah satu pelaku utama dalam perdagangan internasional. Ketika Negara
bertransaksi dagang dengan Negara lain, kemungkinan hukum yang akan mengaturnya
adalah hukum internasional. Ketika Negara bertransaksi dengan subjek hukum lainnya,
hukum yang mengaturnya adalah hukum nasional (dari salah satu pihak).

Imunitas Negara

Salah satu masalah yang kerap timbul dalam kaitannya dengan Negara

adalah atribut kedaulatan Negara itu sendiri. Prinsip umum yang diakui adalah

bahwa dengan atribut kedaulatan, Negara memiliki imunitas terhadap pengadilan

Negara lain. Arti imunitas disini adalah bahwa Negara tersebut memiliki hak

untuk mengklaim kekebalannya terhadap tuntutan (klaim) terhadap dirinya.


Sheldrick dengan tepat menggambarkan imunitas Negara sebagai berikut :

“Savereign immunity is a long established precept of public international law

which requires that a foreign government or head of state cannot be sued without its consent.
In its traditional form, this rule applied to all types of suit, criminal and civil, including those
arising out of purely commercial transactions undertaken by the foreign sovereign”

Dalam perkembangannya, konsep imunitas ini mengalami pembatasan.

Minimal ada 4 (empat) pembatasan terhadap muatan imunitas suatu Negara, yaitu

pertama, pembatasan oleh hukum internasional. Dalam bertransaksi dagang, hukum


internasional mengakui imunitas Negara ini, tetapi juga sekaligus membatasinya. Hukum
internasional juga mensyaratkan Negara-negara untuk bekerjasama dengan Negara lain untuk
memajukan ekonomi. Deklarasi mengenai prinsip-prinsip hukum internasional antara lain
menyatakan bahwa ; … States have the duty to co operate with one another, irrespective of
the difference in their political, economic and social system,…

Kedua, pembatasan oleh hukum nasional. Dewasa ini beberapa Negara memiliki undang-
undang mengenai imunitas yang sifatnya membatasi imunitas Negaranegara (asing) yang
melakukan transaksi dagang di dalam wilayahnya atau dengan warga negaranya. Ketiga,
pembatasan secara diam-diam dan sukarela. Pembatasan ini dianggap terjadi ketika suatu
Negara secara sukarela menundukkan dirinya ke hadapan suatu badan peradilan yang
mengadili persidangan dan Negara tersebut mematuhinya, Negara tersebut dianggap telah

dengan sukarela menanggalkan imunitasnya. Keempat, kemungkinan lain yang menjadi


indikasi pembatasan imunitas ini adalah apabila Negara memasukkan klausul arbitrase ke
dalam kontrak dagangnya. Dengan demikian dapat dianggap bahwa Negara tersebut telah
menanggalkan imunitasnya untuk menghadap ke badan arbitrase yang dipilihnya untuk
menyelesaikan sengketa dagangnya.

Dengan adanya pembatasan-pembatasan tersebut, kekebalan suatu Negara untuk hadir


dihadapan badan peradilan (nasional asing, internasional atau arbitrase) tidak lagi berlaku.
Namun, masalah sesungguhnya dalam kaitannya dengan pembatasan Negara di hadapan
badan peradilan adalah pelaksanaan putusan pengadilannya. Berdasarkan hukum
internasional, suatu badan peradilan tidak dapat menyita harta milik Negara lain atau
memaksakan putusannya terhadap harta milik Negara lain yang digunakan atau yang
memiliki fungsi pelayanan publik. Hukum internasional melarang suatu Negara menahan
kapal perang asing yang sedang menyandar di pelabuhan suatu Negara asing atau menyita
bangunan kedutaan Negara asing. Menurut Houtte, pelaksanaan putusan pengadilan hanya
memungkinkan terhadap aset-aset yang Negara asing yang bersangkutan tidak dibutuhkan
untuk melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan public.

B. Organisasi Perdagangan Internasional

Organisasi internasional yang bergerak di bidang perdagangan internasional memainkan


peran yang penting. Organisasi internasional dibentuk oleh dua atau lebih Negara guna
mencapai tujuan bersama. Untuk mendirikan suatu organisasi internasional, perlu dibentuk
suatu dasar hukum yang biasanya adalah perjanjian internasional. Dalam perjanjian
internasional ini termuat tujuan, fungsi dan struktur organisasi perdagangan

internasional yang bersangkutan.

C. Individu

Individu atau perusahaan adalah pelaku utama dalam perdagangan internasional. Individulah
yang pada akhirnya akan terikat oleh aturan-aturan hukum perdagangan internasional. Selain
itu, aturan-aturan hukum yang dibentuk oleh Negara memiliki tujuan untuk memfasilitasi
perdagangan internasional yang dilakukan individu.

Di banding dengan Negara atau organisasi internasional, status individu dalam hukum
perdagangan internasional tidaklah terlalu penting. Biasanya individu dipandang sebagai
subjek hukum dengan sifat hukum perdata (legal persons of a private law nature). Konvensi
ICSID mengakui hak-hak individu untuk menjadi pihak di hadapan badan arbitrase ICSID.
Namun demikian hak ini bersifat terbatas, karena, pertama, sengketanya hanya dibatasi untuk
sengketasengketa di bidang penanaman modal yang sebelumnya tertuang dalam kontrak.

Kedua, Negara dari individu yang bersangkutan harus juga disyaratkan untuk menjadi
anggota konvensi ICSID ( Konvensi Washington 1965). Persyaratan ini bersifat mutlak.
Indonesia telah meratifikasi dan mengikatkan diri terhadap konvensi ICSID melalui Undang-
Undang Nomor 5 tahun 1968. Status individu sebagai subjek hukum perdagangan
internasional tetaplah tidak boleh dipandang kecil. Aturan-aturan di bidang perdagangan yang
mereka buat sendiri kadang-kadang memiliki keuatan mengikat seperti halnya hukum
nasional. Disebutkan di atas bahwa individu adalah subjek hukum dengan sifat hukum
perdata (legal persons of a private law nature). Subjek hukum lainnya yang

termasuk ke dalam kategori ini adalah (a) perusahaan multinasional; dan (b) bank.

1. Perusahaan Multinasional

Perusahaan multinasional (MNCs atau Multinational Corporations) telah lama diakui sebagai
subjek hukum yang berperan penting dalam perdagangan internasional. Peran ini sangat
mungkin karena kekuatan financial yang dimilikinya. Dengan kekuatan finansialnya hukum
(perdagangan) internasional berupaya mengaturnya.

Pasal 2 (2) (b) Piagam Hak dan Kewajiban Ekonomi Negara-negara antara lain menyebutkan
bahwa MNCs tidak boleh campur tangan terhadap masalah-masalah dalam negeri dari suatu
Negara. Pasal 2 (2) (b) antara lain berbunyi ; …. Transnational corporation shall not
intervene is the internal affairs of a host State”

Alasan pengaturan ini tampaknya masuk akal. Tidak jarang MNCs sedikit banyak dapat
mempengaruhi situasi dan kondisi politik dan ekonomi suatu Negara. Aturan-aturan yang
mengontrol aktivitas MNCs memang perlu untuk menjembatani perbedaan kepentingan
antara Negara tuan rumah yang mengharapkanMNCs masuk kedalam wilayahnya dapat
memberi kontribusi bagi pembangunan, sementara MNCs bertujuan untuk mencapai target
utama perusahaan, yaitu mendapatkan keuntungan sebesarbesarnya. Oleh karena itu, agar
kedua kepentingan ini pada titik tertentu dapat bertemu, maka perlu aturan-aturan hukum
untuk menjembataninya.
2. Bank

Seperti individu atau MNCs, bank dapat digolongkan sebagai subjek hukum perdagangan
internasional dalam arti terbatas. Bank tunduk pada hukum nasional di mana bank tersebut
didirikan.

Faktor-faktor yang membuat subjek hukum ini penting adalah :

a. peran bank dalam perdagangan internasional dapat dikatakan sebagai pemain kunci. Tanpa
bank, perdagangan internasional mungkin tidak dapat berjalan.

b. Bank menjembatani antara penjual dan pembeli yang satu sama lain mungkin saja tidak
mengenal karena mereka berada di Negara yang penjual dan pembeli.

c. Bank berperan penting dalam menciptakan aturan-aturan hukum perdagangan


internasional, khususnya dalam mengembangkan hukum perbankan internasional.

Perjanjian Internasional
Secara umum perjanjian internasional terbagi menjadi tiga bentuk, yaitu :

1. Multilateral : kesepakatan tertulis yang mengikat lebih dari dua pihak (Negara) dan
tunduk pada aturan hukum internasional.
2. Regional : kesepakatan-kesepakatan di bidang perdagangan internasional yang dibuat
oleh negara-negara yang tergolong atau dalam suatu wilayah regional tertentu.
3. Bilateral : kesepakatan yang dilakukan oleh dua pihak sebagai subjek hukum
internasional (negara atau organisasi internasional).

Daya Mengikat Perjanjian Perdagangan Internasional


Perjanjian perdagangan internasional hanya akan mengikat suatu negara apabila negara
tersebut sepakat untuk menandatangani dan meratifikasinya. Ratifikasi adalah proses
mengadopsi aturan yang telah disepakati pada saat perjanjian internasional menjadi bagian
dari hukum nasional negara tersebut.

Isi Perjanjian

1. Liberalisasi Perdagangan : negara-negara menanggalkan berbagai rintangan yang


dapat menghambat kelancaran transaksi.
2. Integrasi Ekonomi : hal ini dilakukan negara-negara dengan usaha penyatuan
kepabeanan, kawasan perdagangan bebas dan kesatuan ekonomi.
3. Harmonisasi Hukum : negara-negara mencari keseragaman atau titik temu dari
prinsip-prinsip yang bersifat fundamental.
4. Unifikasi Hukum : penyeragaman mencakup penghapusan dan usaha penggantian
suatu sistem hukum dengan sistem hukum yang baru.
5. Model Hukum dan Legal Guide : negara-negara akan dapat mengacu muatan aturan-
aturan model hukum atau legal guide ini ke dalam hukum nasionalnya.
Standar Internasional

1. Minimum- standard or equitable treatment;


2. Most-favoured nation clause;
3. Equal Treatment; dan
4. Preferential Treatment
5. Minimum- standard or equitable treatment
6. Most-favoured nation clause
7. Equal Treatment
8. Preferential Treatment

Resolusi-Resolusi Organisasi Internasional


Dewasa ini berbagai organisasi internasional acap kali mengeluarkan keputusan-keputusan
berupa resolusi-resolusi yang sifatnya tidak mengikat. Daya mengikat resolusi-resolusi ini
biasanya disebut soft law, karena memang negaa-negara pesertanya tidak menginginkan
keputusan-keputusan yang dibuat oleh organisasi internasional tidak mengikat mereka secara
hukum.

Hukum Kebiasaan Internasional


Dalam studi hukum perdagangan internasional, sumber hukum ini disebut juga sebagai lex
mercatoria atau hukum para pedagang (the law of the merchant). Suatu praktek kebiasaan
menjadi mengikat harus memenuhi syarat-syarat sbg berikut :

1. Suatu praktek yang berulang-ulang dilakukan dan diikuti oleh lebih dari dua pihak.
2. Praktek ini diterima sebagai mengikat (opnio iuris sive nnecessitates).

Prinsip-Prinsip Hukum Umum


Sumber hukum ini akan mulai berfungsi ketika hukum perjanjian (internasional) dan hukum
kebiasaan internasional tidak memberikan jawaban atas suatu persoalan. Oleh karena itu,
prinsip-prinsip hukum umum ini dipandang sebagai sumber hukum penting dalam upaya
mengambangkan hukum, termasuk hukum perdagangan internasional. Beberapa contoh dari
prinsip-prinsip hukum umum adalah prinsip itikad baik, prinsip pacta sunt servanda, dan
prinsip ganti rugi.

Putusan-putusan Badan Pengadilan dan Doktrin


Putusan-putusan pengadilan dalam hukum perdagangan internasional tidak memiliki
kekuatan hukum yang kuat seperti yang dikenal dalam system hukum Common Law.
Statusnya paling tidak sama seperti yang kita kenal dalam hukum continental, bahwa putusan
pengadilan sebelumnya hanya untuk mempertimbangkan. Begitu pula dengan doktrin, yaitu
pendapat-pendapat atau tulisan-tulisan sarjana terkemuka (dalam bidang hukum dagang
internasional).

Kontrak
Sumber hukum perdagangan internasional yang sebenarnya merupakan sumber utama dan
terpenting adalah perjanjian atau kontrak yang dibuat oleh para pedagang sendiri. Para pelaku
perdagangan atau stakeholder dalam hukum perdagangan internasional ketika melakukan
transaksi-transaksi perdagangan internasional, mereka menuangkan dalam perjanjian-
perjanjian tertulis (kontrak). Dalam kontrak, penghormatan dan pengakuan terhadap prinsip
consensus dan kebebasan para pihak syarat-syarat perdagangan dan hak serta kewajiban para
pihak seluruhnya diserahkan kepada pihak dan hukum menghormati kesepakatan ini yang
tertuang dalam perjanjian.

Hukum Nasional
Peran signifikan dari hukum nasional lahir dari adanya yuridiksi (kewenangan) negara.
Kewenangan negara inisifatnya mutlak dan eksklusif, artinya apabila tidak ada pengecualian
lain, kekuasaan ini tidak dapat diganggu gugat. Yuridiksi atau kewenangan tersebut adalah
kewenangan suatu negara untuk mengatur segala (a) peristiwa hukum; (b) subjek hukum; (c)
benda yang berada dalam wilayahnya.