Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN RISIKO TINGGI IBU HAMIL

DENGAN RADANG PANGGUL

DISUSUN OLEH :

ANGGITA SEPTI W ( 2018’1361 )

APRILIA DEWI ASTUTI ( 2018’1363 )

EKA DESI RATNA S ( 2018’1379 )

LENI RESITA DEWI (2018’1395)

AKADEMI KEPERAWATAN KRIDA HUSADA KUDUS

JL. LINGKAR RAYA KUDUS-PATI KM. 5 JEPANG MEJOBO KUDUS

TAHUN AKADEMIK 2019/2020

1
BAB 1
PENDAHULUAN

I. Latar belakang
Penyakit Inflamasi pelvis atau Pelvic Inflammatory Disease (PID) salah satu penyakit
yang terjadi pada alat reproduksi wanita seperti rahim, tuba fallopi (salpingitis) dan ovarium
(ooforitis). Dan tertinggi pada wanita muda yang aktif secara seksual, biasanya disebabkan
oleh bakteri tetapi disebabkan oleh virus, jamur, atau parasit. Organisme klamidia dan
gonorea adalah penyebab yang paling mungkin dan kondisi ini dapat menyebabkan
kehamilan ektopik, infertilitas, nyeri pelvis kambuhan. Kurang lebih 150 wanita
meninggal per tahun sehingga cukup beralasan untuk memperhatikan gangguan medis ini
secara lebih serius. Namun, ada pula kekhawatiran lainnya: Serangan infeksi ini diketahui
sangat meningkatkan resiko seorang wanita untuk menjadi mandul.
Pembuluh yang tertutup juga menyebabkan sukarnya sperma yang sedang bergerak
melakukan kontak dengan sel telur yang turun. Akibatnya adalah perkiraan yang
mengkhawatirkan berikut ini: Setelah satu episode infeksi ini, resiko seorang wanita untuk
menjadi mandul adalah 10%. Setelah infeksi kedua resikonya menjadi dua kali lipat yaitu
20%. Jika wanita ini mendapatkan infeksi untuk ketiga kalinya, resikonya akan melambung
menjadi 55%. Secara keseluruhan, demikian Dr. Benrubi memperkirakan, penyakit radang
pelvis menyebabkan kurang lebih antara 125.000 hingga 500.000 kasus baru setiap tahun.
Oleh karena itu untuk mengurangi angka kejadian infeksi pelvis setiap tahunnya maka perlu
di informasikan kepada masyarakat tentang pentingnya mengetahui penyakit infeksi pelvis
tersebut.
II. Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian dari Infeksi pelvis ?
2. Bagaimana etiologi dari Infeksi pelvis ?
3. Bagaimana patofisiologi dari Infeksi pelvis ?
4. Bagaimana manifestasi klinis dari Infeksi pelvis ?
5. Bagaimana penatalaksanaan dari Infeksi pelvis ?
6. Bagaimana asuhan keperawatan pada pasien dengan Infeksi pelvis ?

2
III. Tujuan dan manfaat
1. Mengetahui pengertian dari Infeksi pelvis
2. Mengetahui penyebab-penyebabnya Infeksi pelvis
3. Mengetahui patofisiologi serta pathway dari Infeksi pelvis
4. Mengetahui manifestasi klinis dari Infeksi pelvis
5. Mengetahui penatalaksanaan Infeksi pelvis
6. Mengetahui diagnosa apa saja yang muncul dari penderita Infeksi pelvis

BAB 2
PEMBAHASAN
I. ANATOMI PELVIS

3
II. DEFINISI
Pelvic Inflammatory Disease (PID) adalah suatu kumpulan radang pada
saluran genital bagian atas oleh berbagai organisme, yang dapat menyerang
endometrium, tuba fallopi, ovarium maupun miometrium secara perkontinuitatum
maupun secara hematogen ataupun sebagai akibat hubungan seksual. (widyastuti,
rahmawati, & purnamaningrum, 2009)
Infeksi pelvis meruakan suatu istilah umum yang biasanya digunakan untuk
menggambarkan keadaan atau kondisi dimana organ-organ pelvis (uters, tuba fallopi
atau ovarium) diserang oleh mikroorganisme pathogen. Organism-organisme ini
biasanya bakteri,mereka melakukan multiplikasi dan menghasilkan suatu reaksi
peradangan. (Ben-zion Taber, 1994).
Penyakit radang panggul adalah infeksi saluran reproduksi bagian atas.
Penyakit tersebut dapat mempengaruhi endometrium (selaput dalam rahim), saluran
tuba, indung telur, miometrum (otot rahim), parametrium dan rngga panggul.
Penyakit radang panggul merupakan komplikasi umum dari penyakit menular seksual
(PMS). Saat ini hampir 1 juta wanita mengalami penyakit radang panggul yang
merupakan infeksi serius pada wanita berusia 16-25 tahun.Penyakit radang pelvis
adalah suatu istilah umum bagi infeksi genital yang telah menyebar kedalam bagian-
bagian yang lebih dalam dari alat reproduksi wanita, seperti rahim, tuba fallopi
dan/atau ovarium.

III. ETIOLOGI
Mekanisme infeksi menjalar saat, menstruasi, persalinan dan abortus, operasi
ginekologi, disebab kan oleh bakteri :
a) GO (Gonorhoe)
b) Kuman-kuman lain streptococcus, aerob, maupun yang anaerob stapylococus.
4
c) Chlamydia, mycoplasma, ureaplasma, virus, jamur dan parasit. (widyastuti,
rahmawati, & purnamaningrum, 2009)
Penyakit radang panggul terjadi apabila terdapat infeksi pada saluran genital
bagian bawah, yang menyebar keatas melalui leher rahim. Butuh waktu dalam
hitungan hari atau minggu untuk seorang wania menderita penyakit radang
panggul. Bakteri penyebab tersering adalah Neisseria Gonorhoeae dan
Chlamydia trachomatis yang menyebabkan peradangan dan kerusakan jaringan
sehingga menyebabkan berbagai bakteri dari leher rahim maupun vagina
menginfeksi daerah tersebut. Kedua bakteri ini adalah kuman penyebab PMS.
Proses menstruasi dapat memudahkan terjadinya infeksi karena hilangnya lapisan
endometrium yang menyebabkan berkurangnya pertahanan dari rahim, serta
umenyediakan medium yang baik untuk pertumbuhan bakteri (darah menstruasi).
(widyastuti, rahmawati, & purnamaningrum, 2009)
IV. TANDA DAN GEJALA
Gejala biasanya muncul segera setelah siklus menstruasi. Penderita merasakan
nyeri pada perut bagian bawah yang semakin memburuk dan disertai oleh mual dan
muntah. Biasanya infeksi akan menyumbat tuba fallopi. Tuba yang tersumbat bisa
membengkak dan terisi cairan. Sebagai akibatnya bisa terjadi nyeri menahun,
perdarahan menstruasi yang tidak teratur da kemandulan.
Infeksi menyebar ke struktur di sekitarnya, menyebabkan terbentuknya
jaringan parut dan perlengketan fibrosa yang abnormal dan diantara organ-organ
perut serta menyebabkn nyeri menahun. Di dalam tuba, ovarium maupun panggul
bisa terbentuk abses (penimbunan nanah). Jika abses pecah dan nanah masuk ke
rongga panggul, gejalanya segera memburuk dan penderita bisa mengalami syok.
Lebih jauh lagi bisa terjadi penyebaran infeksi kedalam darah sehingga terjadi sepsis.
(Nugroho & Utama, 2014)
Gejala lainnya yang mungkin ditemukan pada PID :
a. Keluar cairan dari vagina dengan warna, konsistensi dan bau yang abnormal.
b. Demam
c. Perdarahan menstruasi yang tidak teratur atau spotting (bercak-bercak
kemerahan di celana dalam)
d. Kram Karena menstruasi
e. Nyeri ketika melakukan hubungan seksual
f. Perdarahan setelah melakukan hubungan seksual
g. Nyeri punggung bagian bawah
h. Kelelahan
i. Nafsu makan berkurang
5
j. Sering berkemih
k. Nyeri ketika berkemih
(Nugroho & Utama, 2014)
V. KLASIFIKASI PID
Berdasarkan rekomendasi “Infectious Disease Society for Obstetrics & Gynecology”,
USA, Hager membagi derajat radang panggul menjadi :
Derajat I : Radang panggul tanpa penyulit (terbatas pada tuba dan ovarium ),
dengan atau tanpa pelvio – peritonitis
Derajat II : Radang panggul dengan penyulit (didapatkan masa radang, atau abses
pada kedua tuba ovarium) dengan atau tanpa pelvio – peritonitis.
Derajat III : Radang panggul dengan penyebaran diluar organ-organ pelvik, misal
adanya abses tubo ovarial.
1) Endometritis adalah peradangan dari endometrium, lapisan mukosa bagian
dalam uterus, disebabkan oleh invasi bakteri. Endometrisis adalah suatu
peradangan pada endometrium yang biasanya disebakan oleh infeksi bakteri
pada jaringan. Endometritis paling serring ditemukan terutama :
a) Setelah seksio sesarea
b) Partus lama atau pecah ketuban yang lama.

Penatalaksanaan pada endomettritis :


a) Pemberian antibiotia dan drainase yang memadai.
b) Pemberian cairan intra vena dan cairan elektrolit
c) Penggantia darah
d) Tirah baring dan analgesia
e) Tindakan bedah
Endometritis terdapat dua jenis yakni endometritis akut dan endometritis kronica.
 Endometritis akut
Pada endometritis akut endometrium mengalami edema dan hiperemi
terutama terjadi pada post partum dan post abortus.
Penyebab:
1) Infeksi gonorhoe dan infeksi pada abortus dan partus.
2) Tindakan yang dilakukan didalam uterus seperti pemasangan IUD,
kuretase.
Gejala:
1) Demam
2) Lochia berbau
3) Lochia lama berdarah bahkan metrorhagia

6
4) Kalau radang tidak menjalar ke parametrium atau perimetrium tidak
nyeri.
Penatalaksanaan:
Dalam pengobatan endometritis akut yang paling penting adalah
berusaha mencegah aga infeksi tidak menjalar.
Adapun pengobatannya adalah :
a) Uterotonik
b) Istirahat, leta fowler
c) Antibiotika
d) Endometritis kronica

 Endometritis kronica tidak sering ditemukan. Pada pemeriksaan microscopic


ditemukan banyak sel-sel plasma dan limfosit.
Gejala :
a) Leukorea
b) Kelainan haid seperti menorhagie dan metrorhagie.
Pengobatnnya terantung pada penyebabnya endomtritis kronika ditemukan :
a) Pada tuberculosis
b) Pada sisa-sisa abortus atau partus yang tertinggal
c) Terdapat corpus alineum di kavum uteri.
d) Pada polip uterus denga infeksi
e) Pada tumor ganas uterus.
f) Pada salpingo ooforitis dan selulitis pelvic
1) Parametrisis (cellulitis pelvis) adalah peradangan parametrium, jaringan penyambung
pelvis yang mengelilingi uterus.
2) Salpingitis adalah peradangan tuba fallopi.
3) Ooforitis adalah peradangan ovarium
4) Myometrisis
Biasanya tidak bediri sendiri tetapi lanjutan dari endometritis, ,maka gejala-
gejala dan terapinya sama dengan endometritis. Diagnose hanya dapat dibuat secara
patologi anatomis.
1. Pelvioperitonitis (perimetritis)
Biasanya terjadi sbagai lanjutan dari salpingoophoritis. Kadang-kadang terjadi
dari endometritis atau parametritis.
Etiologi :
 Gonore
 Sepsis (pot partum dan post abortus)
7
 Dari appendicitis

ETIOLOGI
Pelvioperitonitis dapat menimbulkan perlekatan-perlekatan dari alat-alat dalam
rongga panggul dengan akibat perasaan nyeri atau ileus. Dapat dibedakan menjadi 2 bentuk :
1. Bentuk yang dapat menimbulkan perlekatan-perlekatan tanpa pembentukan
nanah.
2. Bentuk dengan pembentukan nanah yang menimbulkan douglas abses
VI. PATOFISIOLOGI
Terjadinya radang panggul dipengaruhi beberapa factor yang memegang peranan,
yaitu :
1) Tergangunya barier fisiologik.
Secara fisiologik penyebaran kuman ke atas ke dalam genetalia interna,
akan mengalami hambatan :
1) Di ostium uteri eksternum.
2) Di kornu tuba.
3) Pada waktu haid, akibat adanya deskuamasi endometrium maka
kuman-kuman pada endometrium turut terbuang. Pada ostium uteri
eksternum, penyebaran asenden kuman-kuman dihambat secara :
mekanik, biokemik dan imunologik. Pada keadaan tertentu barier
fisiologik ini dapat terganggu, misalnya pada saat persalinan,
abortus, instrumentasi pada kanalis servikalis dan insersi alat
kontrasepsi dalam ..
2) Adanya organisme yang berperan sebagai vektor.
Trikomonas vaginalis dapat menembus barier fisiologik dan bergerak
sampai tuba falopii. Kuman-kuman sebagai penyebab infeksi dapat
melekat pada trikomonas vaginalis yang berfungsi sebagai vektor dan
terbawa sampai tuba Falopii dan menimbulkan peradangan ditempat
tersebut. Sepermatozoa juga terbukti berperan sebagai vector untuk
kuman-kuman N.gonore, Ureaplasma ureoltik, C.trakomatis dan banyak
kuman-kuman aerobik dan anaerobik lainnya.

8
3) Aktivitas seksual.
Pada waktu koitus, bila wanita orgasme, maka akan terjadi kontraksi
uterus yang dapat menarik spermatozoa dan kuman-kuman memasuki
kanilis servikalis.
4) Peristiwa haid.
Radang panggul akibat N. gonore mempunyai hubungan dengan siklus
haid. Peristiwa haid yang siklik, berperan penting dalam terjadinya radang
panggul gonore. Periode yang paling rawan terjadinya radang panggul
adalah pada minggu pertama setelah haid. Cairan haid dan jaringan
nekrotik merupakan media yang sangat baik untuk tumbuhannya kuman-
kuman N. gonore. Pada saat itu penderita akan mengalami gejala-gejala
salpingitis akut disertai panas badan. Oleh karena itu gejala ini sering juga
disebut sebagai “ Febrile Menses ”.
VII. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosa ditegakan berdasarkan gejala dan hasil dari pemeriksaan fisik yang
dilakukan pemeriksaan panggul dan perabaan perut. Pemeriksaan lainya dilakukan
adalah:
a) Pemeriksaan darah lengkaph lengkap untuk mengetahui adanya peningkatan
leukosit darah yang merupakan indikator dari infeksi. Leukosit normaal 5.000-
15.000/mm3, mengetahui Hb, Ht, dan jenisnya
b) Pemeriksaan cairan dari serviks untuk
1. Kuldosintesis
Untuk mengetahui bahwa perdarahan yang terjadi diakibatkan
oleh hemoperitoneum (berasal dari KET yag rupture atau kista
hemoragik) dapat menyebabkan sepsis pelvis (salpingitis,abses pelvis
rupture, atau appendiks yang rupture)
2. Laparaskopi
Adalah prosedur pemasukan alat dengan lampu dan kamera
melalui insisi (potongan) kecil di perut untuk melihat secra langsung
organ didalam panggul apabila terdapat kelainan.

3. USG panggul
Merupakan tindakan non invasif, guna mengetahui keadaan
didalam panggul meleiputi keadaan rahim, adanya pembesaran dan
abses pada saluran tuba valopi,
9
VIII. PENATALAKSAAN
Berdasar derajat radang panggul, maka pengobatan dibagi menjadi :
 Terapi
Klien dengan penyakit akut yang menderita abses dalam panggul atau
tuba-ovarium, seringkali membutuhkan perawatan duduk rendam dengan air
hangat dapat menurunkan nyeri dan meningkatkan kenyamanan serta
penyembuhan. Klien sebaiknya ditidurkan pada posisi semi Fowler untuk
memungkinkan pengeluaran cairan rambas mukopurulen.
 Pengobatan rawat jalan.
a) Pengobatan rawat inap dilakukan kepada penderita radang panggul
derajat I.
Obat yang diberikan ialah :
a. Antibiotik : sesuai dengan Buku Pedoman Penggunaan
Antibiotik.
Ampisilin 3.5 g/sekali p.o/ sehari selama 1 hari dan Probenesid
1 g sekali p.o/sehari selama 1 hari. Dilanjutkan Ampisilin 4 x
500 mg/hari selama 7-10 hari, atau
b. Amoksilin 3 g p.o sekali/hari selama 1 hari dan Probenesid 1 g
p.o sekali sehari selama 1 hari. Dilanjutkan Amoxilin 3 x 500
mg/hari p.o selama 7 hari, atau Tiamfenikol 3,5 g/sekali sehari
p.o selama 1 hari. Dilanjutkan 4 x 500 mg/hari p.o selama 7-10
hari, atau
c. Tetrasiklin 4 x 500 mg/hari p.o selam 7-10 hari, atau
d. Doksisiklin 2 x 100 mg/hari p.o selama 7-10 hari, atau
e. Eritromisin 4 x 500 mg/hari p.o selama 7-10 hari.
f. Analgesik dan antipiretik.
 Parasetamol 3 x 500 mg/hari atau
 Metampiron 3 x 500 mg/hari.

b) Pengobatan rawat inap.


Pengobatan rawat inap dilakukan kepada penderita radang
panggul derajat II dan III. Obat yang diberikan ialah :
a. Antibiotik : sesuai dengan Buku Pedoman Penggunaan
Antibiotik. Ampisilin 1g im/iv 4 x sehari selama 5-7 hari dan
Gentamisin 1,5 mg – 2,5 mg/kg BB im/iv, 2 x sehari slama 5-7
hari dan Metronidazol 1 g rek. Sup, 2 x sehari selama 5-7 hari
atau, Sefalosporin generasi III 1 gr/iv, 2-3 ghx sehari selama 5-
7 hari dan Metronidazol 1 g rek. Sup 2 x sehari selama 5-7
hari.
10
b. Analgesik dan antipiretik.
IX. KOMPLIKASI
Peritonitis pelvis atau peritonitis merata, abses, strikur, obstruksi tuba fallopi
dapat terjadi. Obstruksi dapat menyebabkan kehamilan ektopik dimasa mendatang
jika telur yang dibuahi tidak dapat melewati tuba yang mengalami trikur. Perlekatan
umum sering menyebabkan nyeri pelvis kronis yang akhirnya memerlukan
pengangkatan uterus , tuba fallopi, dan ovarium. Komplikasi lainnya termasuk
bakterimia disertai syok septik dan tromboflebitis dengan kemungkinan embolisasi.
(Brunner & Suddarth, 2002)
Komplikasi radang panggul terjadi ketika penyakit tidak segera ditangani atau
penderita tidak menyelesaikan periode pengobatan yang diwajibkan. Jenis komplikasi
yang bisa timbul adalah sakit panggul jangka panjang, munculnya abses, berulangnya
penyakit radang panggul pada penderita, infertilitas, dan terjadinya kehamilan
ektopik.
Radang panggul yang kembali dan menginfeksi area yang sama membuat kondisi
organ reproduksi tersebut rentan terhadap bakteri. Inilah kenapa penderita radang
panggul harus menyelesaikan masa pengobatannya hingga tuntas demi mengurangi
risiko terjadi infertilitas dan sakit panggul yang sangat mengganggu aktivitas. Infeksi
berulang khususnya pada tuba fallopi dapat mengakibatkan terjadinya kehamilan
ektopik. Infeksi ini menyebabkan luka dan menyempitnya tuba fallopi hingga sel
telur menjadi tersangkut kemudian berkembang di dalam tuba fallopi. Jika hal ini
terus berlanjut, dapat terjadi pendarahan dalam yang mengancam nyawa penderitanya
sehingga tindakan operasi harus segera dilakukan.

X. PENCEGAHAN
Salah satu penyebab radang panggul adalah infeksi menular seksual, seperti
penyakit klamidia (chlamydia) yang kasusnya umum menimpa kalangan pria muda
serta memiliki gejala yang tidak terlihat. Infeksi ini dapat dihindari dengan
menerapkan kebiasaan yang aman saat berhubungan seksual. Kebiasaan ini dapat
dimulai dengan tidak berganti-ganti pasangan seksual dan menggunakan alat
kontrasepsi kondom, spiral, dan/atau spermisida tiap berhubungan seks. Hindari alat
kontrasepsi yang dipasang di dalam rahim jika Anda melakukan hubungan seksual
dengan lebih dari satu pasangan. Selain memulai kebiasaan seksual yang sehat, Anda
juga dapat melakukan beberapa tindakan pencegahan seperti berikut:
a) Pemeriksaan kesehatan rutin pada diri Anda dan pasangan, lakukan
pemeriksaan ginekologi maupun tes infeksi menular seksual untuk

11
mendeteksi gejala penyakit radang panggul atau penyakit lainnya.
Makin cepat penyakit dapat terdiagnosis, maka makin besar pula
tingkat kesuksesan pengobatan.
b) Segera temui dokter jika Anda merasakan gejala radang panggul atau
infeksi menular yang tidak biasa, seperti sakit panggul berat atau
perdarahan di antara periode menstruasi.
c) Saling terbuka mengenai sejarah infeksi menular seksual dengan
pasangan Anda adalah salah satu tindakan pencegahan yang dapat
menyelamatkan kesehatan bersama.
d) Pertahankan kebiasaan kebersihan yang sehat, hindari mencuci vagina
(vaginal douching) dan bilaslah alat kelamin dari arah depan ke
belakang seusai buang air untuk mencegah bakteri masuk melalui
vagina.
e) Hindari atau pantang berhubungan seksual beberapa saat khususnya
setelah persalinan, keguguran, aborsi, atau setelah melalui prosedur
ginekologi lain untuk menjaga agar kondisi rahim tetap aman dari
infeksi bakteri.

Pencegahan radang panggul, atau pelvic inflammatory disease, akan lebih mudah
dilakukan bersama pasangan. Saling mengetahui sejarah infeksi menular seksual,
informasi penyakit menular seksual terkini, dan saling mendukung selama proses
pengobatan dapat memperlancar proses penyembuhan. Pemeriksaan dan konsultasi
dokter yang rutin sangat disarankan jika Anda sedang mengidap penyakit lain di saat
bersamaan.
XI. Diagnosa keperawatan yang kemungkinan muncul
1. Hipertermia b/d efek langsung dari sirkulasi endotoksin pada hipotalamus, perubahan
pada regulasi temperature
2. Gangguan perfusi jaringan b/d sepsis akibat infeksi
3. Disfungsi seksual b/d kesehatan seksual
4. Perubahan kenyamanan b/d infeksi pada pelvis
5. Kurang pengetahuan b/d kurangnya informasi

12
DAFTAR PUSTAKA

Nugroho, t., & Utama, b. i. (2014). masalah kesehatan reproduksi. yogyakarta: nuha medika.
Taber, b.-z. (1994). kapita selekta kedaruratan obstetri dan ginekologi. jakarta: buku kedokteran
EGC.
Widyastuti, y., & Rahmawati, a. (2009). Kesehatan Reproduksi. yogyakarta: Fitramaya.
Doengoes, Marilyn. E. 2001. Rencana Keperawatan. Jakarta. EGC.
Gloria, M. B., Howard, K. B., Joanne, M. D., & Cheryl, M. W. (2013). Nursing Interventions
Classification (NIC). United States of America: ISBN:978-0-323-10011-3.

Moorhead, S., Johnson, M., Meridean, L. M., & Swanson, E. (2013). Nursing Outcomes
Classification (NOC). United States of America: ISBN:978-0-323-10010-6.

13
FORMAT PENGKAJIAN IBU HAMIL

Tanggal Masuk : 21 Oktober 2019 Jam Masuk : 09.45 WIB

Kamar Nomor : 05

I. Pengkajian tanggal

Nama Pasien : Ny. M

Umur : 22 tahun

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Agama :Islam

Pendidikan : SMK

Pekerjaan : Karyawan Swasta

Alamat : Jln. Jepang, Mejobo, Kudus

Status Perkawianan : Menikah


14
Kawin : 1 kali

Nama Suami : Tn.D

Umur : 26 tahun

Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia

Agama : Islam

Pendidikan : SMK

Pekerjaan : Karyawan Swasta

Alamat : Jln. Jepang, Mejobo, Kudus

II. Riwayat Kesehatan


a. Keluhan Utama :

Pasien mengatakan sakit dan nyeri pada panggul

b. Riwayat Penyakit Sekarang :

Pasien mengatakan sudah satu minggu mengeluh nyeri pada bagian panggul saat
berkemih, dan pasien cenderung cemas memikirkan janinya. Lalu pasien dibawa ke
RSUD dr. LOEKMONO HADI oleh Keluarganya pada tanggal 21 Oktober 2019 jam:
09.45 WIB dari IGD pasiendiberiterapi RL 20 tpm dan diberiinjeksi insulin,
kemudian dipindah diruang perawatan denganTD : 110/90, N: 85x /menit, RR :
22x/menit, S:37,5

c. Riwayat Kehamilan Sekarang


 HPHT : 10 Maret 2019
 HPL : 27 Desember 2019
 Imunisasi TT : 1 kali
 Penyuluhan yang pernah didapat : 1x (karena hamil pertama)
 Keluhan pada trimester kedua (32minggu) nyeri panggul dan cemas
d. Riwayat Menstruasi
 Menarche ( umur ) : 12 tahun
15
 Siklus : 28 Hari
 Banyaknya : normal
 Teratur : Setiap Bulan
 Lamanya : 5- 7 hari
 TPMT/HPHT : 10 Maret 2019
 Keluhan : Pasien mengatakan sakit dan nyeri pada panggul
e. Riwayat penyakit yang lalu :

Pasien tidak ada penyakit menular seperti AIDS/HIV , dan penyakit menurun seperti
Hipertensi, DM, Jantung , dll.

f. Riwayat penyakit keluarga

Keluarga Pasien tidak ada penyakit menular seperti AIDS/HIV , dan penyakit
menurun seperti Hipertensi, DM, Jantung , dll.

g. Riwayat Kebiasaan sehari-hari :


1. Pola nutrisi

Sebelum hamil : Pasien mengatakan 3x/hari 1 porsi habis dengan komposisi nasi,
sayur dan lauk, minum 2liter/hari

Selama hamil : Pasien mengatakan makan 3x/hari, ½ porsi habis dengan jenis nasi,
sayur, dan lauk, minum 2-3 liter/hari

2. Pola Eliminasi
 BAK

Sebelum hamil : Pasien mengatakan BAK 5x/hari warna kuning keruh tidak ada
keluhan

Selama hamil : Pasien mengatakan BAK 5x/hari warna kuning

 BAB

Sebelum sakit : pasien mengatakan BAB 1x/hari dengan konsistensi padat, kuning
kecoklatan, berbau khas, tidak ada keluhan

Selama hamil : pasien mengatakan 2hari 1x dengan konsistensi padat, kuning


kecoklatan, berbau khas, tidak ada keluhan

3. Pola Personal Hygiene

16
Sebelum hamil : pasien mengatakan mandi 2x/hari dengan sabun, sikat gigi 2x/hari
setelah sarapan dan sebelum tidur malam, keramas 2hari sekali dengan shampoo

Selama hamil : pasien mengatakan saat dirumah kebiasaannya sama seperti sebelum
hamil

4. Pola Iatirahat dan Tidur

Sebelum hamil : Pasien mengatakan tidur siang 1jam dan tidur malam 8jam/hari
dengan perasaan nyaman setelah bangun tidur

Selama hamil : pasien mengatakan saat di tidak bisa tidur siang dan tidur malam
hanya 6jam dengan keluhan sering terbangun saat tidur dengan perasaan tidak
nyaman dan gelisah

5. Pola Aktivitas dan Latihan

Sebelum hamil : hanya mengerjakan pasien mengatakan mengerjakan pekerjaan


rumah seperti memasak, mencuci, menyapu dll, karena tidak bekerja. Pasien
berolahraga 1minggu sekali jogging saat CFD. Dan untuk mengisi waktu luang
biasanya hanya duduk dan menonton tv dirumah

Selama hamil : pasien mengatakan melakukan pekerjaan rumah tetapi tidak terlalu
berat. Saat merasa capek hanya beristirahat dirumah dan menonton tv. Pasien
berolahraga , jalan-jalan di sekitar rumah saat sore hari

6. Pola kebiasaan yang mempengaruhi kesehatan

Sebelum hamil : pasien mengatakan tidak mempunyai kebiasaan yang mempengaruhi


kesehatan

Selama hamil : pasien mengatakan tidak mempunyai kebiasaan yang mempengaruhi


kesehatan dan bayinya

h. Riwayat Psikososial

Sikap ibu terhadap keahiran ibunya : baik

Sikap anggota lain terhadap kelahiran bayi : baik

Kesiapan mental untuk menjadi ibu : baik


17
Rencana perawat bayi

Kesanggupan dan pengetahuan dalam merawat bayi :

 Breast Care
 Perineal
 Nutrisi
 Senam nifas
 KB
 Menyusui
i. Pemeriksann Fisik
- Keadaan umum : Lemas
- Kesadaran : Comosmentis
- Tanda – tanda vital
 Suhu : 38,5 °c
 Nadi : 85 x/menit
 Tekanan darah : 110/90 mmHg
 Respirasi : 22x/menit
 DJJ : 140x/menit
- BB : 55 kg TB : 160 cm = 1,6 m IMT : 21,4
- Kepala : bentuk mesochepal, tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan,
distribusi rambut merata
- Mata : simetris, tidak ada benjolan, konjungtivatidak anemis, tidak ada nyeri
tekan, tidak memakai alat bantu penglihatan, pergerakan bola
mata baik, sklera tidak ikterik
- Hidung : simetris, tidak ada polip, tidak ada nyeritekan, tidak ada sekret
- Mulut : mukosa bibir kering, gigi bersih, tidak ada pembesaran tonsil, tidak
ada Stomatitis
- Telinga : simetris antara kanan dan kiri, bersih, tidak ada nyeritekan, tidak ada
lesi tidak memakai alat bantu pendengaran
- Leher : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan limfe
- Dada
 Payudara : keadaan puting susu menonjol, tidak ada nyeri tekan dan edema/
benjolan, hiperpigmentasi pada areola mamae, dan Colostrum sebelum keluar
 Paru-Paru :
I : diafragma kanan kiri normal, tidak tampak retraksi dinding dada, tidak ada
lesi, tidak ada kelainan bentuk dada
Pa : tidak ada nyeri tekan, vokal fremitus kanankiri normal
Pe : resonan
A : suarana pas vesikuler
 Jantung
I : ictus cordis tidak tampak
Pa : tidak ada nyeri tekan
Pe : pekak
A : bunyi jantung 1 2 normal dan tidak ada suara tambahan
18
- Abdomen
I : tidak terdapat lesi, pembesaran perut, linea nigra bekas luka/
operasi tidak ada
A : terdengar peristaltik usus 16 x / menit
Pa : tidak ada nyeri tekan dan tidak ada massa

Leopold 1 : fundus uterus dapat teraba 3 jari di bawah pusat, TFU 17cm, usia
kehamilan 22-23 minggu, TBJ 775gram, TFU 17cm, teraba bagian lunak.

Leopold 2 : teraba kecil bagian kanan , teraba keras memnjang bagian kiri

Leopold 3 : pada bagian bawah teraba tonjolan yang lunak dan kurang simetris

Leopold 4 : bagian terendah janin belum memasuki PAP

Djj : 140x/menit

Pe : bunyi tympani

- Ekstremitas

Atas : Tidak ada oedem, jari kuku tidakpucat

Bawah : adasedikit oedema pada kaki, tidakadavarises, reflek patella kaki


kanan dan kiri positif

- Genetalia : pengeluaran pervagina ada lendir, bekas luka/ jahitan perineum tidak ada,
anus tidak ada hemoroid, bersih. Ada cairan flour albus yang berbau, dan berwarna
kehijauan , nyeri pada servik, uterus dan kedua adnexa saat pemeriksaan bimanual,.
terdapat masa iflamatoris daerah pelvis

j. Pemeriksaan Penunjang

19
k. Asuhan Keperawatan
ANALISA DATA
Nama : Ny.M
Umur : 22th
No.CM :-
Ruang : 05

No Hari/tanggal Data Fokus Problem Etiologi TTD


1 Senin, 20 Ds : Pasien mengatakan Nyeri akut Agen
Mei 2019 sakit dan nyeri pada cidera
panggul biologis
P : nyeri saat
kontraksi
Q : nyeri seperti
ditusuk tusuk
R : nyeri pada
panggul
S :6
T : hilang timbul

Do :
1. Pasien tampak
20
lemah
2. Meringis kesakitan
3. Bersikap protektif
(posisi menghindari
nyeri)

Tanda – tanda vital :


-S : 38,5 °c
-N : 85x/menit
-TD : 110/90
mmHg
- RR : 22x/menit
- DJJ : 140x/menit
2 Senin , 21 Ds : Pasien merasa Ansietas Ancaman
oktober khawatir dengan akibat terhadap
2019 dari kondisi yang dihadapi konsep
Do : diri
1. Tampak geliisah
2. Tampak tegang
3. Sulit tidur

PROBLEM LIST
Nama : Ny.M
Umur : 22th
No.CM :-
Ruang : 05

No Data Fokus Diagnosa Tanggal Tanggal TTD


Keperawatan Ditemukan Teratasi
1 Ds : Pasien mengatakan Nyeri akut 21 oktober
sakit dan nyeri pada
berhubungan 2019
panggul
P : nyeri saat dengan agen
kontraksi
cidera
Q : nyeri seperti
ditusuk tusuk biologis
R : nyeri pada
panggul
S :6
T : hilang
timbul

Do :
1. Pasien tampak
lemah
2. Meringis
kesakitan
3. Bersikap
protektif (posisi
21
menghindari
nyeri)

Tanda – tanda vital :


-S : 38,5 °c
-N :
85x/menit
-TD : 110/90
mmHg
- RR : 22x/menit
- DJJ :
140x/menit
2 Ds : Pasien merasa Ansietas 21 oktober
khawatir dengan akibat
berhubungan 2019
dari kondisi yang
dihadapi dengan
Do :
ancaman
1. Tampak geliisah
2. Tampak tegang terhadap
3. Sulit tidur
konsep diri

NURSING CARE PLAN


Nama : Ny.M
Umur : 22th
No.CM :-
Ruang : 05

N Hari/T Diagnosa Tujuan (NOC) Intervensi/ Rencana TTD


o anggal Keperawatan Tindakan (NIC)
1 Senin, Nyeri akut  Tingkat Manajemen nyeri
21 berhubungan nyeri ( 2102) (1400)
 Kontrol Kaji tingkat pasien :
oktobe dengan agens
1. Memonitor
r 2019 cidera nyeri (1605)
TTV
biologis Setelah dilakukan 2. Ajarkan
tindakan keperawatan teknik
selama 2x24 jam relaksasi
diharapkan nyeri pasien distraksi
berkurang dengan 3. Libatkan
kriteria hasil : keluarga
4. Kolaborasi
1. Adanya
dengan tim
penurunan
medis
intensitas nyeri

22
menjadi ringan
2. Pasien tampak
rileks
3. Pasien mampu
mengontrol
nyeri
2 Senin , Ansietas Tingkat kecemasan Terapi relaksasi
21 berhubungan ( 1211 ) (6040)
Tingkat kecemasan 1. Gambarkan
oktobe dengan
sosial (1216 ) manfaat
r 2019 ancaman
Setelah dilakukan
teknik
terhadap
tindakan keperawatan
relaksasi
konsep diri
selama 2x24 jam 2. Usahakan
diharapkan kecemasan lingkungan
pasien berkurang yang tenang
3. Ajarkan
dengan kriteria hasil :
1. Dapat teknik
beristirahat relaksasi
2. Rasa kecemasan
( pernapasan
berkurang
perut )
3. Tidur pasien
4. Kolaborasi
tampak rileks
dengan tim
medis dalam
pemberian
obat

NURSING NOTE
Nama : Ny.M
Umur : 22th
No.CM :
Ruang : 05

Hari / Jam No.DP Implementasi Respon TTD


tanggal
Senin, 21 08.30 I Memonitoring Ds : pasien
oktober TTV mengatakan
2019 bersedia
Do : TTV =
-S : 38,5 °c
23
-N : 85x/menit
-TD : 110/90
mmHg
- RR : 22x/menit
- DJJ : 140x/menit
09.00 I Mengkaji skala Ds : pasien
nyeri mengatakan nyeri
pada bagian
panggul
Do : Pasien
nampak lemah dan
meringis kesakitan
P : nyeri saat
kontraksi
Q : nyeri seperti
ditusuk tusuk
R : nyeri pada
panggul
S :6
T : hilang timbul

10.00 I Mengajarkan Ds : pasien


teknik distraksi mengatakan nyeri
relaksasi sedikit berkurang
Do : pasien tampak
rileks
10.30 I Memberikan Ds : pasien
obat anti nyeri mengatakan masih
seperti lemes
Do : pasien tampak
paracetamol
masih nyeri
Senin, 21 10.45 II Menggambarkan Ds : pasien
oktober manfaat dari mengatakan
2019 teknik relaksasi bersedia
mendengarkan
Do : pasien faham
apa yang
disampaikan

11.15 II Mengusahakan Ds : pasien dan


24
lingkungan keluarga mengerti
Do : pasien dan
tenang
keluarga mampu
menciptakan
lingkungan tenang
11.30 II Mengajarkan Ds : pasien
tekit pernapasan mengatakan bisa
perut melakukan
Do : -
11.45 II Berkolaborasi Ds : pasien
dengan tim mengatakan masih
medis untuk cemas
Do : pasien tampak
memberikan
cemas
obat penenang
Selasa, 22 08.00 I Memonitoring Ds : pasien
Oktober TTV mengatakan
2019 bersedia
Do : TTV =
-S : 37 °c
-N : 82x/menit
-TD : 120/90
mmHg
- RR : 22x/menit
- DJJ : 140x/menit
08. 30 I Mengkaji skala Ds : pasien
nyeri mengatakan nyeri
pada bagian
panggul
Do : Pasien
nampak lebih
rileks
P : nyeri saat
kontraksi
Q : nyeri seperti
ditusuk tusuk
R : nyeri pada
panggul
S :3
T : hilang timbul
25
09.00 I Mengajarkan Ds : pasien
teknik distraksi mengatakan nyeri
relaksasi sedikit berkurang
Do : pasien tampak
rileks
09.30 I Memberikan Ds : pasien
obat anti nyeri mengatakan masih
seperti lemes
Do : pasien tampak
paracetamol
lebih rileks
Selasa, 22 10.00 II Menggambarkan Ds : pasien
Oktober manfaat dari mengatakan
2019 teknik relaksasi bersedia
mendengarkan
Do : pasien faham
apa yang
disampaikan

11.00 II Mengusahakan Ds : pasien dan


lingkungan keluarga mengerti
Do : pasien dan
tenang
keluarga mampu
menciptakan
lingkungan tenang
11.30 II Mengajarkan Ds : pasien
tekit pernapasan mengatakan bisa
perut melakukan
Do : -
12.00 II Berkolaborasi Ds : pasien
dengan tim mengatakan masih
medis untuk cemas
Do : pasien tampak
memberikan
cemas
obat penenang

PROGRES NOTE
Nama : Ny.M
Umur : 22th
No.CM :
26
Ruang : 05

No Hari/tanggal Diagnosa keperawatan Evaluasi TTD


1 Senin , 21 Nyeri akut berhubungan S : pasien mengatakan nyeri
oktober dengan agen cidera pada panggul
P : nyeri saat
2019 biologis
kontraksi
Q : nyeri seperti
ditusuk tusuk
R : nyeri pada
panggul
S :6
T : hilang timbul
O : pasien tampak rileks
setelah diajarkan distraksi
relaksasi
A : masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
- Memonitoring TTV
- Mengkaji skala nyeri
- Mengajarkan teknik
distraksi relaksasi
- Memberikan obat
sesuai advis dokter

1 Senin , 21 Ansietas berhubungan S : pasien mengatakan sedikit


oktober dengan ancaman relaks setelah dilakukan terapi
2019 terhadap konsep diri relaksasi
O : TTV =
-S : 37 °c
-N : 85x/menit
-TD : 110/90 mmHg
- RR : 22x/menit
- DJJ : 140x/menit
A : masalah belum teratasi
P : lanjutkan intervensi
- Gambarkan manfaat
teknik relaksasi
- Usahakan lingkungan

27
yang tenang
- Ajarkan teknik
relaksasi ( pernapasan
perut )
- Kolaborasi dengan tim
medis dalam
pemberian obat

28

Anda mungkin juga menyukai