Anda di halaman 1dari 7

Pembahasan

A. Glass ionomer Cement (GIC)


Glass ionomer cement adalah bahan restorasi yang telah tersedia sejak awal 1970-an
dan berasal dari semen silikat dan semen polikarboksilat. Polikarboksilat telah
dikembangkan beberapa tahun sebelumnya dan merupakan semen gigi pertama yang
terbukti dapat melekat secara adhesif pada substansi gigi. (Anusavice 2013 : 320)
Jenis aplikasi dari material Glass ionomer sangat berhubungan dengan konsistensi
dari semen nantinya. Adapun klasifikasi Glass ionomer cement, yakni :
a. Tipe I: sebagai luting, yaitu sebagai bahan pelekat antara crown gigi tiruan dengan
permukaan gigi. 

b. Tipe II : sebagai bahan restorasi untuk kasus abrasi dan erosi, restorasi gigi sulung, dan
restorasi karies kelas III dan V. Material restorasi Glass ionomer memiliki setting
reaksi yang sama dengan luting tetapi materinya lebih tebal, lebih kuat dengan
ketebalan lapisan yang lebih tinggi. 

c. Tipe III: sebagai bahan lining dan fissure sealant, untuk menutup fissure oklusal dan
lining di bawah tumpatan komposit yang disebut sandwich technique.

B. Komposisi GIC
Tersedia dalam bentuk powder dan liquid dan bisa juga sebagai campuran powder dengan
air. Dalam percobaan yang digunakan yaitu powder dan liquid (Mc Cabe 2008 : 245)

C. Proses setting GIC


Proses setting dari GIC terjadi melalui 3 proses yaitu dissolution, gelation, hardening
 Dissolution

Selama pencampuran bubuk dengan cairan, polyacid mendegradasi permukaan luar
2+ 3+
dari partikel glass, melepaskan ion Ca , Al , natrium dan fluoride hingga hanya
tersisa gel silika. Ion hydrogen yang terlepas dari gugus karboksil dari rantai
polyacid masuk ke bagian yang lebih dalam yaitu partikel kaca dan menyebabkan
ion kalsium, aluminium, dan fluoride habis. (van Noort 2002, 127-128)
 Gellation

Tahap ini merupakan tahap initial setting, yaitu aksi yang cepat dari ion kalsium
yang memiliki valensi 2 dan berjumlah lebih banyak bereaksi lebih degnan lebih
mudah dengan gugus karboksil dari asam dari pada ion aluminium yang bervalensi
3. (van Noort 2002, 127-128)

 Hardening
Proses hardening terjadi setelah hari ke 7. Pada fase ini proses pengambilan
aluminium lebih signifikan. Ion aluminium menyediakan kekuatan final pada semen
karena mereka bertanggung jawab pada pertemuan dari crosslink. Berlawanan
dengan ion kalsium, valensi 3 dari ion aluminium memastikan terjadinya derajat
ikatan yang tinggi pada polimer. (van Noort 2002, 127-128)

D. Analisis Hasil Praktikum


Menurut Anusavice (2012:322), rasio W/P yang direkomendasikan oleh
pabrik harus diikuti. Pada praktikum ini, kami menggunakan perbandingan bubuk
dan cairan 1:1 sesuai anjuran pabrik dan perbandingan bubuk dancairan 3/4 : 1
serta1 ¼ : 1 untuk takaran uji. Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa perbandingan
bubuk dan cairan yang digunakan sudah sesuai teori.
Pada praktikum ini, percobaan dilakukan sebanyak 6 kali dengan
mengatur perbandingan bubuk dan cairan GIC. Bubuk dan cairan dicampurkan di
atas paper pad dengan menggunakan pengaduk plastik. Percobaan ini dilakukan
untuk mengetahui pengaruh perbedaan rasio bubuk : cairan pada kecepatan
setting time material GIC.

Percobaan pertama dilakukan dengan w:p ratio yang normal, yaitu 1


sendok bubuk GIC dan 1 tetes liquid (1:1). Ketika dicampurkan, bubuk akan

melepaskan ion kalsium (Ca2+) dan ion aluminium (Al3+). Kemudian terjadi
cross-link antara kation dengan asam poliakrilat sehingga membentuk
polyalkenoate yang dapat membuat permukaan mengeras (setting). Rata-rata
setting time yang didapat adalah 8 menit 17 detik.

Percobaan kedua dilakukan dengan w:p ratio yang kental, yaitu 1¼


sendok bubuk GIC dan 1 tetes liquid (1:1¼). Ketika dicampurkan, bubuk akan

melepaskan ion kalsium (Ca2+) dan ion aluminium (Al3+). Kemudian terjadi
cross-link antara kation dengan asam poliakrilat sehingga membentuk
polyalkenoate yang dapat membuat permukaan mengeras (setting). Rata-rata
setting time yang didapat adalah 5 menit 50 detik.

Percobaan ketiga dilakukan dengan w:p ratio yang encer, yaitu ¾ sendok
bubuk GIC dan 1 tetes liquid (1:¾). Ketika dicampurkan, bubuk akan
melepaskan ion kalsium (Ca2+) dan ion aluminium (Al3+). Kemudian terjadi
cross-link antara kation dengan asam poliakrilat sehingga membentuk
polyalkenoate yang dapat membuat permukaan mengeras (setting). Rata-rata
setting time yang didapat adalah 10 menit 20 detik.
Pada percobaan yang kami lakukan, konsistensi kental menggunakan
jumlah bubuk yang lebih banyak dengan jumlah cairan yang sedikit, sedangkan
pada konsistensi encer menggunakan jumlah bubuk yang lebih sedikit dari basis
dan jumlah cairan yang lebih banyak. Hal ini menyebabkan manipulasi untuk
konsistensi kental lebih cepat setting dibandingkan manipulasi pada konsistensi
encer dan normal.
Rata-rata setting time yang didapatkan pada percobaan manipulasi GIC
yang normal adalah 8 menit 17 detik. Hal ini menunjukkan bahwa hasil
praktikum sesuai dengan teori, yaitu setting time pada konsistensi normal dicapai
antara 6-8 menit dari mulai mengaduk. Pada menit ke-7 terjadi initial set yang
ditandai dengan mulai mengerasnya adonan. Hal ini ditunjukkan dengan masih
adanya sedikit goresan pada saat memeriksa kekerasan permukaan
dengan menggunakan sonde, masih terlihat sedikit bekas tusukan sonde pada
cetakan GIC sangat peka teradap kontak dengan air selama setting, sehingga
daerah sekitarnya haris terisolasi dengan baik. Semen mencapai initial setnya
sekitar7menit(Craig,2002)
Daftar pustaka

th
Annusavice K. J. 2013. Philip’s Science of Dental Materials. 12 ed. St Louis : Elsevier
Saunders. p 320-323.

th
Mc Cabe, J.F dan A.W.G. Walls. Applied Dental Material. 9 ed. 2008. Blackwell Science
publ. pp 245-246, 248.

Van Noort R. 2002. Introduction to Dental Materials. 2nd ed. Philadelphia: Elsevier. p: 127-
128..

Craig RG, Powers JM. Restorative Dental Materials. 11th Ed. 2002.Missouri : Mosby Inc.