Anda di halaman 1dari 7

AKUNTAN DI ERA DISTRUPTIF: PELUANG DAN TANTANGAN

Indra Budi Setiyawan


(Mahasiswa Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Hasanuddin)

1. Sejarah Profesi Akuntan

Pada masa sebelum revolusi industri, profesi akuntan belum dikenal secara resmi di Amerika ataupun di
Inggris. Beberapa fungsi dalam manajemen perusahaan yang dapat disamakan dengan fungsi pemeriksaan.
Contohnya di zaman dahulu dikenal adanya dua juru tulis yang bekerja terpisah dan independen. Mereka
bekerja untuk menyakinkan bahwa peraturan tidak dilanggar dan merupakan dasar untuk menilai
pertanggungjawaban pegawainya atas penyajian laporan keuangan.
Hasil kerja kedua juru tulis ini kemudian dibandingkan, dari hasil perbandingan tersebut jelas sudah terdapat
fungsi audit dimana pemeriksaan dilakukan 100%. Tujuan audit pada masa ini adalah untuk membuat dasar
pertanggungjawaban dan pencarian kemungkinan terjadinya penyelewengan. Pemakai jasa audit pada masa
ini adalah hanya pemilik dana.

Akuntansi telah ada sejak jaman berabad- abad yang dimulai pada abad ke-15. Walaupun sebenarnya masih
dipertentangkan para ahli mengenai kapan sebenarnya profesi ini dimulai. Pada abad ke-15 di Inggris pihak
yang bukan pemilik dan bukan pengelola yang sekarang disebut auditor diminta untuk memeriksa apakah ada
kecurangan yang terdapat di pembukuan atau di laporan keuangan yang disampaikan oleh pengelola kekayaan
pemilik harta.

Modern akuntansi, atau metode akuntansi double-entry, pertama kali didokumentasikan pada awal 1300-an.
Double-entry akuntansi pertama kali didokumentasikan oleh sebuah perusahaan bernama Giovanni Farolfi &
Co sekitar 1300. Luca Pacioli, ayah dari akuntansi, menulis buku pertama tentang akuntansi double-entry pada
tahun 1494.

Praktik akuntansi di Indonesia dapat ditelusuri pada sejak masa era penjajahan Belanda sekitar 17 (ADB 2003)
atau sekitar tahun 1642 (Soemarso 1995). Perjalanan yang jelas berkaitan dengan praktik akuntansi di Indonesia
dapat di temui pada tahun 1747, yaitu praktik pembukuan yang dilaksanakan Amphioen Socitey yang
berkedudukan di Jakarta (Soemarso 1995). Pada era ini Belanda memakai sistem pembukuan berpasangan
(Double-entry bookkeeping) sebagaimana yang dikembangkan ole H luca Pacioli. Perusahaan VOC milik
Belanda yang merupakan organisasi komersial utama selama masa penjajahan memainkan peranan penting
dalam praktik bisnis di Indonesia selam era ini (Diga dan Yunus 1997). Akuntan – akuntan Belanda itu kemudian
mendominasi akuntan di perusahaan – perusahaan yang juga di monopoli penjajahan hingga abad 19.

Sejarah Profesi Akuntan terbagi menjadi 3 periode, yaitu :

1. Orde Lama

Indonesia Merdeka. Namun profesional akuntansi di tanah air saat itu masih sangat minim. Hal itu terjadi karena
minimnya perhatian dari pemerintah terhadap Akuntansi mengingat Indonesia saat itu ditimpa segudang
masalah politik- ekonomi pasca menyatakan dirinya merdeka. Presiden Ir. Soekarno yang anti-kapitalis
membuat pelaku bisnis hengkang dari Indonesia yang juga berdampak ikut hengkangnya para profesional
akuntansi asing. Puncak masalahnya adalah saat Indonesia mengalami inflasi 650% menjelang akhir masa
pimpinan Presiden Ir. Soekarno yang juga adalah sang proklamator RI.

Sejarah mencatat, setidaknya pada masa orde lama ada beberapa hal penting mengenai perubahan dalam
bidang pendidikan akuntansi seperti pemakaian istilah Accounting (Amerika) dan Accountancy (Inggris)
menggantikan istilah Bookkeeper (yang diajarkan Belanda) dan juga persyaratan menjadi akuntan yang semula
harus menyelesaikan doktorandus ekonomi perusahaan kemudian diharuskan mengambil mata kuliah
tambahan seperti auditing, akunting sistem, dan hokum perpajakan.
Kemudian sejarah lahirnya Profesi Akuntan asli Indonesia juga dimulai pada orde lama ini dengan membentuk
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI). Awalnya, pada 17 Oktober 1957, Prof R Soemardjo bersama 4 alumnus pertama
FEUI yaitu Drs. Basuki Siddharta, Drs Hendra Darmawan, Drs Tan Tong Joe, dan Drs Go Tie Siem
memprakarsai dibentuknya suatu organisasi akuntan Indonesia. Akhirnya suatu organisasi tersebut diberi nama
Ikatan Akuntan Indonesia yang secara resmi dibentuk pada 23 Desember 1957 beranggotakan 11 akuntan yang
ada saat itu, dan kemudian disahkan oleh Menteri Kehakiman RI pada 24 Maret 1959. Dimana setelah hampir
1 dasawarsa berdirinya IAI, Indonesia memiliki 12 Kantor Akuntan pada awal tahun 1967. Selanjutnya di
organisasi akuntan Indonesia inilah Etika Profesi Akuntansi dan Kode Etiknya dibuat bekerja sama dengan
pemerintah.

Kesempatan bagi akuntan lokal (Indonesia) mulai muncul pada tahun 1942-1945, dengan mundurnya Belanda
dari Indonesia. Sampai tahun 1947 hanya ada satu orang akuntan yang berbangsa Indonesia yaitu Prof. Dr.
Abutari. Praktik akuntansi model Belanda masih digunakan selama era setelah kemerdekaan (1950an).
Pendidikan dan pelatihan akuntansi masih didominasi oleh sistem akuntansi model Belanda. Nasionalisasi atas
perusahaan yagn dimiliki Belanda dan pindahnya orang-orang Belanda dari Indonesia pada tahun 1958
menyebabkan kelangkaan akuntan dan tenaga ahli.

2. Orde Baru

Indonesia pada masa dibawah pimpinan presiden Soeharto menganut sistem perekonomian terbuka. Terbitnya
Undang-Undang tentang Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)
menandai era baru pembangunan ekonomi bangsa Indonesia dimulai. Sebagai konsekuensi dari perekonomian
terbuka, Indonesia banyak kedatangan investasi asing/pendanaan yang masuk dari dunia Internasional. Hal ini
tentu saja berdampak pada kebutuhan akan jasa profesional Akuntansi. Dan Indonesia kembali kedatangan
banyak Akuntan Asing. Untuk mengatasinya dibuatlah skema joint partnership oleh pemerintah antara
profesional akuntansi asing dengan profesional akuntansi Indonesia untuk mendirikan Kantor Akuntan
Gabungan. Pada November 1967 berdirilah Joint Partnership pertama di Indonesia dengan nama Kantor
Akuntan Arthur Young (Amerika) & Santoso Hartokusumo. Joint Partnership berikutnya pada Mei 1968 dengan
nama Kantor Akuntan Velayo (Filipina) & Utomo.

Pada tahun 1970 semua lembaga harus mengadopsi system akuntasi model Amerika. Pada pertengahan tahun
1980an, sekelompok teknokrat muncul dan memiliki kepedulian terhadap reformasi ekonomi dan akuntansi.
Kelompok tersebut berusaha untuk menciptakan ekonomi yang lebih kompetitif dan lebih berorientasi pada
pasar dengan dukungan praktik akuntansi yang lebih baik.

3. Orde reformasi

Dalam periode ini profesi akuntan publik terus berkembang seiring dengan berkembangnya dunia usaha dan
pasar modal di Indonesia. Walaupun demikian, masih banyak kritikan-kritikan yang dilontarkan oleh para
usahawan dan akademisi. Namun keberadaan profesi akuntan tetap diakui oleh pemerintaha sebagai sebuah
profesi kepercayaan masyarakat. Di samping adanya dukungan dari pemerintah, perkembangan profesi akuntan
publik juga sangat ditentukan oleh perkembangan ekonomi dan kesadaran masyarakat akan manfaat jasa
akuntan publik. Beberapa faktor yang dinilai banyak mendorong berkembangnya profesi adalah: Tumbuhnya
pasar modal

1. Pesatnya pertumbuhan lembaga-lembaga keuangan baik bank maupun non-bank.


2. Adanya kerjasama IAI dengan Dirjen Pajak dalam rangka menegaskan peran akuntan publik dalam
rangka pelaksanaan peraturan perpajakan di Indonesia.
3. Berkembangnya penanaman modal asing dan globalisasi kegiatan perekonomian.

Pada awal 1992 profesi akuntan publik kembali diberi kepercayaan oleh pemerintah (Dirjen Pajak) untuk
melakukan verifikasi pembayaran PPN dan PPN BM yang dilakukan oleh pengusaha kena pajak. Sejalan
dengan perkembangan dunia usaha tersebut, Olson pada tahun 7979 di dalam Journal Accountanty
mengemukakan empat perkembangan yang harus diperhatikan oleh profesi akuntansi yaitu :
1. Makin banyaknya jenis dan jumlah informasi yang tersedia bagi masyarakat.
2. Makin banyaknya transportasi komunikasi.
3. Makin disadarinya kebutuhan akan kualitas hidup yang lebih baik.
4. Tumbuhnya perusahaan multinasional sebagai akibat dari fenomena pertama dan kedua.

2. Perkembangan Teknologi
Berikut ini empat tahap evolusi industri dari dahulu hingga kini.

1. Revolusi Industri 1.0 (1800-1900)


Revolusi industri yang pertama terjadi pada akhir abad ke-18. Ditandai dengan ditemukannya alat tenun mekanis
pertama pada 1784. Kala itu, industri diperkenalkan dengan fasilitas produksi mekanis menggunakan tenaga air
dan uap. Peralatan kerja yang awalnya bergantung pada tenaga manusia dan hewan akhirnya digantikan
dengan mesin tersebut. Banyak orang menganggur tapi produksi diyakini berlipat ganda. (mesin uap, dan kerata
api)

2. Revolusi Industri 2.0 (1900-1960)


Revolusi industri 2.0 terjadi di awal abad ke-20. Kala itu ada pengenalan produksi massal berdasarkan
pembagian kerja. Lini produksi pertama melibatkan rumah potong hewan di Cincinati pada 1870. (telepon, mobil)

3. Revolusi Industri 3.0 (1960-2010)


Pada awal tahun 1970 ditengarai sebagai perdana kemunculan revolusi industri 3.0. Dimulai dengan
penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Debut revolusi industri generasi
ketiga ditandai dengan kemunculan pengontrol logika terprogram pertama (PLC), yakni modem 084-969. Sistem
otomatisasi berbasis komputer ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia. Dampaknya memang
biaya produksi menjadi lebih murah. (PC, Internet, smartphone)

4. Revolusi Industri 4.0 (2010-Saat ini)


Nah, sekaranglah zaman revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan sistem cyber-physical. Saat ini industri mulai
menyentuh dunia virtual, berbentuk konektivitas manusia, mesin dan data, semua sudah ada di mana-mana.
Istilah ini dikenal dengan nama internet of things. (robot, AI)

3. Era Distruptif dan Profesi yang tergantikan oleh Teknologi


Inovasi disruptif (disruptive innovation) adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu
atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi
disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga pasar, umumnya dengan
menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama.
Istilah disruptive innovation dicetuskan pertama kali oleh Clayton M. Christensen dan Joseph Bower pada artikel
"Disruptive Technologies: Catching the Wave" di jurnal Harvard Business Review (1995). Artikel tersebut
sebenarnya ditujukan untuk para eksekutif yang menentukan pendanaan dan pembelian disuatu perusahaan
berkaitan dengan pendapatan perusahaan dimasa depan. Kemudian pada bukunya "The Innovator's Dilemma",
Christensen memperkenalkan model Disruptive Inovasi (The Disruptive Innovation Model). Dimana kemampuan
pelanggan untuk memanfaatkan sesuatu yang baru dalam satu lini. Dimana lini terendah adalah pelanggan yang
cepat puas dan yang tertinggi digambarkan sebagai pelanggan yang menuntut. Distribusi pelanggan ini yang
secara median nya bisa diambil sebagai garis putus-putus untuk menerapkan teknologi baru.
Dalam dunia transportasi. Mobil ketika pertama diciptakan adalah inovasi teknologi yang revolusioner pada
masa itu. Sangat mewah dan harganya sangat mahal sehingga tidak semua orang mampu membeli. Mobil tidak
bisa disebut sebagai Inovasi Disruptif (disruptif innovation) untuk kendaraan karena pada saat pertama kali
ditemukan belum banyak orang yang punya (belum mengganggu). Singkatnya, pada saat itu tidak mengganggu
pasar untuk kendaraan yang ditarik kuda. Akan tetapi, ketika perusahaan mobil Ford membuat Ford Model T,
dimana model ini dirakit dipabrik dan menggantikan buatan tangan. Sehingga harga mobil pada saat itu jadi
sangat murah. Apa yang dilakukan Ford inilah yang disebut Inovasi Disruptif (disruptif innovation). Menganggu
pasar yang sudah ada salah satu ciri dari Inovasi Disruptif.
Berikut contoh dari Inovasi Disruptif (disruptif innovation):
 Ensiklopedia cetak, terdisrup oleh inovasi Wikipedia
 Telepon rumah, terdisrup oleh inovasi Hp
 Travel, terdisrup oleh inovasi Aplikasi Traveloka, Tiket.com
 Mesin Ketik, terdisrup oleh inovasi Komputer Pribadi (PC)
 Disket, terdisrup oleh inovasi CD dan USB
 CD & DVD, terdisrup oleh inovasi Digital Media (i-Tunes, joox, dll)
 Kamera Film, terdisrup oleh inovasi Kamera Digital
 Kantor Pos, terdisrup oleh inovasi Email.
 Kuda & Kereta Api, terdisrup oleh inovasi Mobil
 Angkutan umum, terdistrup oleh inovasi Grab, Gojek.
(Sumber: Wikipedia)

Terdapat sepuluh profesi yang akan tergantikan oleh robot atau teknologi (Artikel: Bet You Didn’t See This
Coming: 10 Jobs That Will Be Replaced By Robots by Michael Grothaus), yakni:
1. Perwakilan Asuransi dan Klaim Asuransi
Efek otomatisasi pada industri asuransi sudah dirasakan. Di Jepang, Fukoku Mutual Life Insurance baru-baru
ini menggantikan 30 dari perwakilan asuransi kesehatannya dengan sistem AI berdasarkan IBM Watson
Explore, lapor the Guardian. Perangkat lunak ini dapat "menganalisis dan menafsirkan semua data Anda,
termasuk teks, gambar, audio, dan video yang tidak terstruktur" lebih baik dan lebih cepat daripada yang dapat
dilakukan manusia, dan dapat "secara drastis mengurangi" waktu yang dibutuhkan untuk menghitung
pembayaran Fukoku Mutual, menurut sebuah perusahaan wakil.
(Contoh Aplikasi: AXA Mandiri, Buddies Asuranji jiwa online, Jagadiri App)
2. Teller dan perwakilan bank
Kehadiran ATM memakan pekerjaan perbankan manusia, kemudian aplikasi smartphone. Kemungkinan banyak
dari pekerjaan teller berbasis manusia dan perbankan yang tersisa akan diselesaikan oleh AI, lapor CNBC. AI
tidak akan hanya dapat melakukan transaksi tunai, itu akan dapat membuka rekening dan memproses pinjaman
dengan sebagian kecil dari biaya dan waktu yang dibutuhkan untuk karyawan manusia. "ATM masa depan akan
menggantikan kasir," Andy Mattes. (BCA Mobile, Mandiri Mobile, BNI SMS Banking, YAP BNI)
3. Analis Keuangan
Setelah dianggap penting bagi sebuah perusahaan, analis keuangan yang tajam dapat melihat tren sebelum hal
itu terjadi, memungkinkan lembaga menyesuaikan portofolio mereka dan berpotensi menghasilkan miliaran
dolar. Tetapi analis keuangan manusia tidak bisa lagi bersaing dengan perangkat lunak analisis keuangan yang
secara artifisial cerdas yang dapat membaca dan mengenali tren dalam data historis untuk memprediksi
pergerakan pasar di masa depan. Tidak mengherankan bahwa pekerjaan analis keuangan bisa menjadi yang
terburuk dalam sekitar 30% pekerjaan sektor perbankan yang hilang akibat AI dalam lima hingga 10 tahun ke
depan.
(Aplikasi Android: Expense Manager, Jurnal Mobile. Software Trading: Trading view, eSignal. Software
keuangan: Fathom, BusinesRadar, Naviplan)
4. Pekerja Konstruksi; 5. Manajer Inventaris dan Stocklist; 6. Petani; 7. Sopir Taksi; 8. Pekerja Manufaktur;
9. Journalists; dan 10. Movie Stars.

4. Peluang dan Tantangan Profesi Akuntan di Era 4.0

Akuntansi merupakan proses mengidentifikasi, mengukur, mengklasifikasi, dan mengikhtisar kejadian atau
transaksi ekonomi yang menghasilkan informasi kuantitatif dan kualitatif yang digunakan dalam proses
pengambilan keputusan oleh para stakeholder. Seiring dengan perkembangan teknologi, pekerjaan ini semakin
memperoleh kemudahan terutama dengan lahirnya komputer dan perangkat lunak pengolah data keuangan.
Produk teknologi ini kemudian mengambil alih tugas-tugas ‘tradisional’ yang sebelumnya harus dikerjakan
secara manual oleh para akuntan. Lalu, bagaimana para akuntan harus menyikapi situasi ini?
Di tengah opini publik bahwa profesi akuntan tetap akan krusial dan tidak mungkin digantikan oleh mesin, muncul
kekhawatiran terutama dari para ilmuwan di Inggris. Mereka berpendapat bahwa dalam kurun waktu dua puluh
hingga tiga puluh tahun ke depan, perusahaan tidak perlu lagi merekrut manusia untuk mengerjakan pencatatan
keuangan mereka karena tugas ini sudah sepenuhnya dikerjakan oleh robot. Tentu kondisi serupa tidak hanya
dialami profesi akuntan saja. Menurut Profesor Moshe Vardi dari Rice University in Houston, setidaknya 50%
pekerjaan yang ada di dunia ini akan diambil alih oleh robot[1].

Argumen serupa juga disampaikan akademisi Oxford University Michael Osborne dan Carl Frey melalui
kalkulator online ciptaan mereka yang mampu menghitung seberapa besar resiko sebuah profesi mengalami
otomatisasi. Hasilnya, akuntan bersertifikasi memiliki resiko sebesar 95% mengalami otomatisasi dalam dua
dekade ke depan. Adapun metodologi yang mereka gunakan untuk mengukur adalah ketanggapan sosial,
kebutuhan negosiasi dan persuasi, tuntutan membantu dan menolong sesama, orisinalitas, ketangkasan, seni
dan kreativitas, serta kebutuhan untuk bekerja di ruangan yang sempit. Menurut kalkulator ini, pekerja sosial,
perawat, terapis, artis, desainer, insinyur, serta posisi manajerial perusahaan memiliki kemungkinan lebih rendah
untuk digantikan oleh robot[2].

Meskipun belum ada studi yang secara gamblang menyatakan rentang waktu yang pasti mengenai kapan
profesi akuntan akan diakuisisi mesin, tetapi beberapa profesi mulai mengalami pergeseran ini. Di Tiongkok dan
Jepang, misalnya, robot mulai diberdayakan sebagai pelayan restoran dan resepsionis hotel. Beberapa brand
seperti Burberry and Forever 21 sudah menggunakan model holografis yang berjalan di catwalk.

Andrew Anderson dari Celaton, perusahaan pengembang artificial intelligence di Inggris, menyatakan
bahwa teknologi berkembang lebih cepat dan itu berarti tampaknya robot akan ‘mencuri’ pekerjaan manusia
lebih cepat dari perkiraan. Hal ini memicu banyak ilmuwan termasuk Elon Musk dan Stephen Hawking
menandatangani surat terbuka yang meminta agar penelitian artificial intelligence tidak akan merusak eksistensi
kemanusiaan. Artificial Intelligence (AI) seringkali digambarkan oleh para ilmuwan sebagai ‘musuh yang lebih
berbahaya daripada senjata nuklir’[3].

Kongres IAI XIII sekaligus ultah IAI ke 61, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan dengan kemajuan
teknologi saat ini, akuntan merupakan salah satu profesi yang terancam digantikan oleh artificial intelligence
(AI). (https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis)

Bagaimana menurut para akuntan?

Meskipun dianggap berada di tengah ketidakpastian, para akuntan seolah-olah tidak ambil pusing dengan
perkembangan teknologi mutakhir ini. Bhumi Jariwala, asisten editor IFAC Global Knowledge Gateway, dalam
tulisannya Exploring Artificial Intelligence and the Accountancy Profession: Opportunity, Threat, Both, Neither?
berpendapat bahwa teknologi telah mengambil alih banyak pekerjaan akuntan sebelumnya seperti
pengumpulan data akuntansi, pajak, dan audit, serta menyediakannya pada pengambil keputusan. Lahirnya AI
di bidang akuntansi nanti, yang ia kutip dari laporan Association of Chartered Certified Accountants (ACCA),
akan sangat memudahkan profesi akuntan dan kemudian mengubah profesi akuntan itu sendiri dari bookkeeper
menjadi advisory service. Meskipun tidak menepis pernyataan The Economist yang memprediksi 94%
kemungkinan bahwa AI akan menyebabkan akuntan kehilangan pekerjaan, Jariwala sependapat dengan tulisan
Alan Turning, seorang ahli komputer Inggris, bahwa daripada menghindari ketidakpastian, lebih baik para
akuntan memikirkan potensi yang dapat diambil dari kemajuan ini[4].

Jonathan Poston dalam artikelnya Can Software Really Replace Accountants? bependapat kalau akuntan tidak
akan menghilang hanya karena perkembangan teknologi. Profesi akuntan juga tidak menghilang meski sudah
ada otomatisasi pencatatan kewajiban pajak. Walaupun tentu hal itu ikut berpengaruh sebagaimana aplikasi
Uber mengguncang bisnis taksi konvensional[5].

Di dalam sebuah artikel di Going Concern, Chris Hooper menjabarkan skill yang perlu diperhatikan para akuntan
untuk menghadapi era komputerisasi. Dalam tulisan pribadinya, Hooper menyarankan para akuntan untuk fokus
kepada aspek humanis seperti sales, leadership, dan client relationship management. Ketiga hal ini sangat sulit
untuk dikomputerisasi sehingga dapat meningkatkan daya saing akuntan[6].
Senada dengan Hooper, Managing Director Xero UK Gary Turner percaya bahwa para profesional yang
memahami bisnis, dalam hal ini akuntan, tidak akan tersingkir. Yang perlu bandarq mereka lakukan adalah
menguasai teknologi, atau paling tidak, mempelajarinya. Turner dan Hooper menggambarkan, perkembangan
teknologi ibarat ombak. Jadi daripada berpikir untuk melawannya, lebih baik para akuntan menyiapkan papan
seluncur (konotasi dari pemahaman teknologi) dan berseluncur mengikuti arus tersebut.

Masa depan para akuntan?

Perkembangan teknologi seiring dengan berjalannya waktu memang merupakan sesuatu yang tidak bisa
dihentikan. Walau demikian, ilmu akuntansi juga mengalami perkembangan karena akuntansi bukanlah ilmu
yang statis. Hal ini terlihat dari bagaimana para akuntan tidak terlalu mempermasalahkan kemungkinan
komputerisasi yang didengungkan oleh para insinyur. Kemampuan seorang akuntan tidak hanya terbatas pada
pencatatan laporan keuangan yang sangat mudah dikomputerisasi. Namun, seorang akuntan juga dituntut untuk
memiliki pemahaman mendalam mengenai srategi pengambilan keputusan, professional judgment, serta
analisa terhadap kondisi keuangan perusahaan.

5. Apa yang perlu dilakukan Mahasiswa sebagai calon Akuntan

Profesi akuntan tidak boleh underestimate terhadap dampak teknologi. Kompetensi profesi akuntan perlu segera
ditingkatkan misalnya; data analysis, information technology development, dan leadership skills.

Untuk merespon masa depan, akuntan perlu melakukan lima hal berikut ini: 1) melakukan investasi pada
pengembangan digital skills, 2) menerapkan prototype teknologi baru, sambil learn by doing, 3) pendidikan
berbasis international certification dan digital skills, 4) responsif terhadap perubahan industri, bisnis dan
perkembangan teknologi, 5) kurikulum dan pembelajaran berbasis human-digital skills.

Oleh karena itu, untuk menghadapi revlusi industri 4.0, Mahasiswa perlu menyiapkan langkah-langkah berikut:

1. Awareness yaitu, mahasiswa harus aware terhadap perkembangan revolusi industri dengan melihat
kesempatan dan perubahan yang akan terjadi. Revolusi Industri 4.0 tidak hanya akan menyebabkan
terjadinya loss-job, tapi juga akan menciptakan ruang ruang kerja baru yang mungkin belum pernah ada
saat ini.
2. Education, yaitu 1) memberi tekanan pada institusi pendidikan menyesuaikan kurikulum yang relevan
untuk program studi akuntansi mengikuti konektivitas digital; 2) memberikan pelatihan-pelatihan tertentu,
seperti pelatihan koding, manajemen informasi dalam shared platforms, dan keperluan real-time
accounting pada stakeholders.
3. Professional Development, yaitu meningkatkan kinerja organisasi profesi akuntan beserta program-
program pengembangan profesionalnya untuk melakukan presentasi online maupun face-to-face
tentang perkembangan revolusi industri 4.0., begitupun dengan lembaga kemahasiswaan.

REFERENSI

[1] De Graaf, Mia. Will a Robot Take Your Job? Humanity Facing ‘Its Greatest Challenge Ever’ as Machines
Are Set to Make Half the World Unemployed In Just 30 Years. Dailymail Online edisi 13 Februari 2016.

[2] Stylianou, Nassos and friends. Will a Robot Take Your Job?. BBC Online edisi 11 September 2015.

[3] Griffiths, Sarah. Will Your Job Be Stolen by Robot? Calculator Reveals The Likelihood of a Droid Sitting at
Your Desk In the Future. Dailymail Online edisi 17 Juni 2015.

[4] Jariwala, Bhumi. Exploring Artificial Intelligence and the Accountancy Profession : Opportunity, Threat,
Both, Neither?. IFAC Global Knowledge Gateway edisi 1 Juni 2015.
[5] Poston, Jonathan. Can Software Really Replaced Accountants?. Accountingweb edisi 29 Juli 2014.

[6] Badenhorst, Francois. Accountants Will Survive the Robo-Apocalypse. Accountingweb edisi 16 September
2015.

[7] Michael Grothaus, Bet You Didn’t See This Coming: 10 Jobs That Will Be Replaced By Robots. Artikel
Online.
[8] https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-4341035/sri-mulyani-sebut-tugas-akuntan-bisa-digantikan-
robot Diakses pada 30 Januari 2019.
[7] https://id.wikipedia.org/wiki/Inovasi_disruptif Diakses pada 30 Januari 2019.