Anda di halaman 1dari 115
w w w . o p t I m a p r e p .
w w w . o p t I m a p r e p . c o m
d r.
Yo l i n a
|
d r
R e s t h i e
Jakarta
Medan
Jl. Layur Kompleks Perhubungan VIII No.52 RT.001/007
Jl. Setiabudi Kompleks Setiabudi Square No. 15
Kel. Jati, Pulogadung, Jakarta Timur
WA. 081380385694/081314412212
Kel. Tanjung Sari, Kec. Medan Selayang 20132
WA/Line 082122727364

INFEKSI DENGUE

Demam Berdarah Dengue

Definisi : Penyakit demam akut yang disebabkan oleh

virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypty dan Aedes albopictus serta memenuhi

kriteria WHO untuk DBD

dicurigai apabila ditemukan demam tinggi (40°C)

diikuti 2 dari gejala berikut:

nyeri kepala,

nyeri dibelakang mata,

nyeri otot dan sendi,

mual, muntah, atau timbul bintik merah.

Gejala ini muncul selama 2-7 hari setelah 4-10 hari dari

pertama gigitan nyamuk yang terinfeksi.

INFEKSI DENGUE

INFEKSI DENGUE

INFEKSI DENGUE

Shock

Bleeding

Serologi Infeksi Dengue

NS1:

antigen nonstructural untuk replikasi virus yang dapat dideteksi sejak hari pertama demam.

Puncak deteksi NS1: hari ke 2-3 (sensitivitas 75%) & mulai tidak

terdeteksi hari ke 5-6.

Untuk membedakan infeksi dengue primer atau sekunder

digunakan pemeriksaan IgM & IgG antidengue.

Infeksi primer IgM (+) setelah hari ke 3-6 & hilang dalam 2 bulan, IgG muncul mulai hari ke-12.

Pada infeksi sekunder IgG dapat muncul sebelum atau bersamaan dengan IgM

IgG bertahan berbulan-bulan & dapat (+) seumur hidup sehingga

diagnosis infeksi sekunder dilihat dari peningkatan titernya. Jika titer

awal sangat tinggi 1:2560, dapat didiagnosis infeksi sekunder.

WHO SEARO, Dengue prevention & management. 2011.

Primary infection:

IgM: detectable by days 35 after the onset of

illness, by about 2 weeks & undetectable after

23 months.

IgG: detectable at low level by the end of the first week & remain for a longer period (for many years).

week & remain for a longer period (for many years). Infeksi Primer Secondary infection: • IgG:

Infeksi Primer

Secondary infection:

IgG: detectable at high levels in the initial phase, persist from several months to a lifelong period.

IgM: significantly lower in secondary infection cases.

from several months to a lifelong period. • IgM: significantly lower in secondary infection cases. Infeksi

Infeksi Sekunder

Transfusi trombosit:

Hanya diberikan pada

DBD dengan perdarahan masif (4-5

ml/kgBB/jam) dengan jumlah trombosit

<100.000/uL, dengan

atau tanpa DIC.

Pasien DBD

trombositopenia tanpa perdarahan masif tidak

diberikan transfusi trombosit.

MALARIA

Malaria

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi parasit

Plasmodium dan ditularkan melalui gigitan

nyamuk anopheles. Berdasarkan jenis

plasmodiumnya, infeksi malaria ini dapat menimbulkan berbagai gejala antara lain:

Plasmodium vivax malaria tertian benigna/malaria

vivax

Plasmodium falciparum malaria tertiana maligna/

malaria Tropicana

Plasmodium malariae malaria kuartana

Plasmodium ovale malaria tertian benigna ovale

Malaria

Malaria

Malaria

Malaria

Malaria

Malaria

Malaria

Malaria

Malaria the disease

Malaria the disease • 9-14 day incubation period • Fever, chills, headache, back and joint pain

9-14 day incubation

period

Fever, chills, headache,

back and joint pain

Gastrointestinal symptoms (nausea, vomiting, etc.)

Malaria the disease

Malaria the disease • Malaria tertiana: 48h between fevers (P. vivax and ovale) • Malaria quartana:
Malaria the disease • Malaria tertiana: 48h between fevers (P. vivax and ovale) • Malaria quartana:
Malaria the disease • Malaria tertiana: 48h between fevers (P. vivax and ovale) • Malaria quartana:

Malaria tertiana: 48h

between fevers (P. vivax and ovale)

Malaria quartana: 72h

between fevers (P.

malariae)

Malaria tropica: irregular high fever (P. falciparum)

Tatalaksana Malaria Falciparum

Lini pertama

Menggunakan ACT (dihydroartemisinin piperakuin

(DHP) atau artesunat + amodiakuin) selama 3 hari +

primakuin dosis tunggal

Lini kedua (bila resisten terhadap lini pertama)

Kina + doksisiklin/ tetrasiklin + primakuin

Dosis:

Kina: 10 mg/kgBB/kali, 3x/hari, PO, selama 7 hari

Primakuin: 0.25 mg/kgBB

Tatalaksana Malaria Vivaks dan Ovale

Lini pertama

Menggunakan ACT (dihydroartemisinin piperakuin (DHP) atau artesunat + amodiakuin) selama 3 hari + primakuin dosis tunggal

Dosis: sama seperti malaria falciparum, namun primakuin diberikan selama 14 hari dengan dosis 0.25 mg/kgBB

Lini kedua (bila resisten terhadap lini pertama)

Kina + primakuin

Dosis:

Kina: 10 mg/kgBB/kali, 3x/hari, PO, selama 7 hari

Primakuin: 0.25 mg/kgBB/hari selama 14 hari (0.5 mg bila relaps)

Tatalaksana Malaria Malariae dan Malaria Mix

(Falciparum + Vivaks)

Malaria malariae

ACT 1x/hari selama 3 hari

Malaria Mix

ACT

Dosis primakuin hari pertama 0.75 mg/kgBB

Hari 2-14 primakuin dosis 0.25 mg/kgBB

Tetrasiklin/ doksisiklin dikontraindikasikan pada ibu hamil dan anak < 8

tahun

Primakuin dikontraindikasikan pada bayi < 6 bulan dan ibu hamil (Depkes,

2017)

Tatalaksana malaria pada ibu hamil pada trimester 1 s.d. 3 adalah ACT

selama 3 hari TANPA primakuin, baik malaria falciparum maupun vivaks

Pengobatan Malaria dengan DHP dan Primakuin

1 atau 14*
1
atau
14*

* Jika infeksi malaria falciparum maka primakuin hanya diberikan sekali dosis tunggal, sedangkan jika infeksi malaria vivakx atau campuran falsiparum dan vivaks,

maka primakuin diberikan selama 14 hari

Malaria Berat

Malaria berat adalah ditemukannya Plasmodium falciparum stadium aseksual dengan minimal satu dari manifestasi klinis atau didapatkan temuan hasil laboratorium (WHO, 2015):

Perubahan kesadaran (GCS<11, Blantyre <3)

Kelemahan otot (tak bisa duduk/berjalan)

Kejang berulang-lebih dari dua episode dalam 24 jam

Distres pernafasan

Gagal sirkulasi atau syok: pengisian kapiler > 3 detik, tekanan sistolik <80 mm Hg (pada anak: <70 mmHg) 6. Jaundice (bilirubin>3mg/dL dan kepadatan

parasit >100.000)

Hemoglobinuria

Perdarahan spontan abnormal

Edema paru (radiologi, saturasi Oksigen <92%

Malaria Berat

Kriteria laboratorium malaria berat:

Hipoglikemi (gula darah <40 mg%)

Asidosis metabolik (bikarbonat plasma <15 mmol/L).

Anemia berat (Hb <5 gr% untuk endemis tinggi, <7gr% untuk

endemis sedang-rendah), pada dewasa, Hb<7gr% atau hematokrit

<15%)

Hiperparasitemia (parasit >2 % eritrosit atau 100.000 parasit /μL di

daerah endemis rendah atau > 5% eritrosit atau 100.0000 parasit

/μl di daerah endemis tinggi) 5

Hiperlaktemia (asam laktat >5 mmol/L)

Hemoglobinuria

Gangguan fungsi ginjal (kreatinin serum >3 mg%)

Cerebral Malaria

Possible cause:

Binding of

parasitized red cells

in cerebral capillaries

sekuestrasi

severe malaria

permeability of the blood brain barrier

Excessive induction ofcytokines

 permeability of the blood brain barrier • Excessive induction ofcytokines http:// www.microbiol.unimelb.edu.au

Pilihan utama Malaria Berat di RS: Artesunat

Artesunate parenteral tersedia dalam vial yang berisi 60 mg serbuk kering dan pelarut

natrium bikarbonat 5%.

Untuk membuat larutan artesunat dengan mencampur 60

mg serbuk kering dengan larutan

biknat 5%. Kemudian ditambah

larutan Dextrose 5% sebanyak 5

cc.

Artesunat (AS) diberikan dengan

dosis 2,4 mg/kgBB per-iv, sebanyak 3 kali jam ke 0, 12, 24.

Selanjutnya diberikan 2,4

mg/kgbb per-iv setiap 24 jam

sampai penderita mampu minum

obat.

Larutan artesunat bisa diberikan secara intramuskular dengan

dosis yang sama.

Apabila sudah dapat minum obat,

pengobatan dilanjutkan dengan

dihydroartemisinin-piperakuin

atau ACT lainnya selama 3 hari +

primakuin

Pilihan lainnya: Artemeter

Artemeter intramuskular

tersedia dalam ampul yang

berisi 80 mg artemeter

dalam larutan minyak.

Artemeter diberikan dengan

dosis 3,2 mg/kgBB

intramuskular. Selanjutnya

artemeter diberikan 1,6 mg/kgBB intramuskular satu kali sehari sampai penderita mampu minum obat.

Apabila sudah dapat minum

obat, pengobatan

dilanjutkan dengan

dihydroartemisinin-

piperakuin atau ACT lainnya

selama 3 hari + primakuin

Pilihan lainnya: Kina

Kina per-infus masih

merupakan obat

alternatif untuk malaria

berat pada daerah yang

tidak tersedia derivat

artemisinin parenteral Dalam bentuk ampul kina

hidroklorida 25%.

Satu ampul berisi 500 mg/2 ml.

Kina tidak boleh

diberikan secara bolus

intra vena, karena toksik

bagi jantung dan dapat

menimbulkan kematian.

*Pengobatan malaria berat di tingkat Puskesmas dilakukan dengan memberikan artemeter ataupun kina hidroklorida intramuscular sebagai dosis awal sebelum merujuk ke RS rujukan.

Pilihan lainnya: Kina

Loading dose kina: 20 mg garam/kgBB dilarutkan dalam 500 ml dextrose 5% atau NaCl 0,9% diberikan selama 4 jam pertama.

Selanjutnya selama 4 jam kedua hanya diberikan cairan dextrose 5% atau NaCl 0,9%.

Setelah itu, diberikan kina dengan dosis rumatan 10 mg/kgBB dalam

larutan 500 ml dekstrose 5 % atau NaCl selama 4 jam.

Empat jam selanjutnya, hanya diberikan cairan dextrose 5% atau NaCl

0,9%.

Setelah itu diberikan dosis rumatan seperti di atas sampai penderita dapat minum kina per oral.

Bila sudah dapat minum obat pemberian kina IV diganti dengan kina tablet dengan dosis 10 mg/kgBB/kali diberikan tiap 8 jam.

Kina oral diberikan bersama doksisiklin, tetrasiklin pada orang dewasa

atau klindamisin pada ibu hamil.

Dosis total kina selama 7 hari dihitung sejak pemberian kina per infus yang pertama

Profilaksis Malaria

NON FARMAKOLOGIS

Tidur menggunakan kelambu yang sudah

dicelup pestisida

Menggunakan obat pembunuh nyamuk

(mosquito repellant)

Proteksi diri saat keluar dari rumah (baju

berlengan panjang, kus/stocking)

Proteksi kamar atau ruangan menggunakan

kawat anti nyamuk

Profilaksis Malaria

FARMAKOLOGISKemoprofilaksis saat ke daerah

endemis

Daerah sensitif klorokuin

Ibu hamil

Imunitas rendah

2 tablet klorokuin (250 mg) tiap minggu sejak 1 minggu

sebelum berangkat hingga 4 minggu setelah kembali

Resisten klorokuin : doksisiklin 100 mg/hari (sejak 1-2 hari sebelum berangkat s.d. 4

minggu setelah pulang) atau meflokuin 250 mg/minggu (sejak 2 minggu sblm berangkat

hingga 4 minggu setelah kembali) atau klorokuin 2 tablet/minggu + proguanil 200 mg/hari

Alternatif : primakuin 0.5 mg/kgBB/hari (1-2 hari sebelum berangkat hingga 1 minggu

setelah pulang)

DEMAM TIFOID

Demam Typhoid

Penyakit sistemik akut yang disebabkan oleh infeksi kuman

Salmonella typhi atau Salmonella partatyphii

Gejala dan tanda klinis

demam naik secara bertangga terutama pada sore dan malam

hari

sakit kepala

nyeri otot

anoreksia, mual, muntah

obstipasi atau diare, kesadaran berkabut,

bradikardia relatif

lidah yang berselaput (kotor di tengah, tepi dan ujung merah,

serta tremor),

hepatomegali, splenomegali, nyeri abdomen,

roseolae (jarang pada orang Indonesia).

Patofisiologi Demam Tifoid

S. Typhi masuk

sampai usus halus

menembus sel epitel

ke lamina propria

difagosit makrofag

berkembang biak dalam

makrofag ke Plak

Peyeri KGB

mesenterika duktus

torasikus bakterimia ke hepar& lien

bakterimia dan

diekskresikan bersama

cairan empedu ke lumen

usus

Sensitivity of Typhoid Cultures

Sensitivity of Typhoid Cultures Blood cultures: often (+) in the 1st week. (gold standard) Stools cultures:

Blood cultures: often (+) in the 1st week. (gold standard)

Stools cultures: yield (+) from the 2nd or 3rd week on.

Urine cultures: may be (+) after the 2nd week. (+) culture of duodenal drainage: presence of Salmonella in

carriers.

Kultur Typhoid

Bakteri akan lebih mudah ditemukan dalam darah dan sumsum

tulang pada awal penyakit, sedangkan pada stadium berikutnya di dalam urine dan feses.

Media pembiakan yang direkomendasikan untuk S.typhi adalah media empedu (gall) dari sapi

Media Gall ini dapat meningkatkan positivitas hasil karena hanya S.

typhi dan S. paratyphi yang dapat tumbuh pada media tersebut.

Biakan sumsum tulang merupakan metode dengan sensitivitas

tertinggi karena mempunyai sensitivitas paling tinggi dengan hasil positif didapat pada 80-95% kasus dan sering tetap positif selama

perjalanan penyakit dan menghilang pada fase penyembuhan.

Prosedur terakhir ini sangat invasif sehingga tidak dipakai dalam praktek sehari-hari.

Widal test: • Deteksi antibodi terhadap antigien somatik O & flagel H dari salmonella. •

Widal test:

Deteksi antibodi terhadap antigien somatik O & flagel H dari salmonella.

Diagnosis (+): peningkatan titer >4 x setelah 5-10 hari dari hasil pertama.

Antibody O meningkat setelah 6-8 hari, antibodi H meningkat setelah 10- 12 hari.

Pada daerah endemik, tes widal tunggal tidak reliabel karena antibodi

terhadap H dan O dapat terdeteksi hingga 1/160 pada populasi normal.

Karena itu, sebagian memakai batas titer H dan/ O ≥ 1/320 sebagai nilai

yang signifikan.

Typhidot • Deteksi IgM dan IgG terhadap outer membrane protein (OMP) 50 kDa dari S.

Typhidot Deteksi IgM dan IgG terhadap outer membrane protein (OMP) 50 kDa dari S. typhi.

Positif setelah infeksi hari 2-3.

kDa dari S. typhi. • Positif setelah infeksi hari 2-3. Tubex TF • Deteksi IgM anti
kDa dari S. typhi. • Positif setelah infeksi hari 2-3. Tubex TF • Deteksi IgM anti

Tubex TF

Deteksi IgM anti lipopolisakarida O9 dari Salmonella serogroup D (salah satunya

S. typhi). Positif setelah hari ke 3-4.

A Comparative Study of Typhidot and Widal Test in Patients of Typhoid Fever. JIACM 2004; 5(3): 244-6.

Pilihan Antibiotik Untuk Demam Tifoid (WHO 2011)

Pilihan Antibiotik Untuk Demam Tifoid (WHO 2011)

Demam Tifoid

Golongan Fluorokionolon:

Norfloksasin 2x400mg/hari selama 14 hari

Siprofloksasin 2x500mg selama 6 hari (5-7

hari)

Ofloksasin 2x400 mg/hari selama 7 hari

Pefloksasin 400 mg/hari selama 7 hari

Fleroksasin 400 mg/hari selama 7 hari

Demam Tifoid

Kloramfenikol 4x500 mg PO atau IV diberikan

sampai 7 hari bebas demam

Kotrimoksazol 2x2 tabley (1 tablet :

Sulfametoksazol 400mg dan Trimetoprim 80 mg)

diberikan selama 2 minggu.

Ampisilin dan Amoksisilin 50-150mg/KgBB selama

2 minggu

Sefalosporin generasi ketiga IV 4 gr dalam

dekstrosa 100cc diberikan selama ½ jam sekali

sehari selama 3-5 hari.

Cefixime dapat diberikan 7-14 hari.

PPK Dokter di Fasyankes (IDI 2014)

Terapi suportif dapat dilakukan dengan:

Istirahat tirah baring dan mengatur tahapan mobilisasi

Menjaga kecukupan asupan cairan, yang dapat diberikan secara oral maupun parenteral.

Diet bergizi seimbang, konsistensi lunak, cukup kalori dan protein, rendah serat.

Konsumsi obat-obatan secara rutin dan tuntas

Kontrol dan monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, kesadaran), kemudian dicatat dengan baik di rekam medik pasien

Terapi simptomatik:

untuk menurunkan demam (antipiretik) dan mengurangi keluhan gastrointestinal.

Terapi definitif :

Antibiotik lini pertama untuk demam tifoid adalah Kloramfenikol, Ampisilin atau Amoksisilin (aman untuk penderita yang sedang hamil), atau Trimetroprim-

sulfametoxazole (Kotrimoksazol).

Bila pemberian salah satu antibiotik lini pertama dinilai tidak efektif, dapat diganti dengan antibiotik lain atau dipilih antibiotik lini kedua yaitu Seftriakson, Sefiksim,

Kuinolon (tidak dianjurkan untuk anak <18 tahun karena dinilai mengganggu

pertumbuhan tulang).

PPK Dokter di Fasyankes (IDI 2014)

PPK Dokter di

Fasyankes (IDI 2014)

INFEKSI CACING

Filariasis

Penyakit yang disebabkan cacing Filariidae, dibagi menjadi 3 berdasarkan habitat cacing dewasa di hospes:

Kutaneus: Loa loa, Onchocerca volvulus, Mansonella streptocerca

Limfatik: Wuchereria bancroftii, Brugia malayi, Brugia timori

Kavitas tubuh: Mansonella perstans, Mansonella ozzardi

Fase gejala filariasis limfatik:

Mikrofilaremia asimtomatik

Adenolimfangitis akut: limfadenopati yang nyeri, limfangitis retrograde,

demam, tropical pulmonary eosinophilia (batuk, mengi, anoreksia, malaise,

sesak)

Limfedema ireversibel kronik

Grading limfedema (WHO, 1992):

Grade 1 - Pitting edema reversible with limb elevation

Grade 2 - Nonpitting edema irreversible with limb elevation

Grade 3 - Severe swelling with sclerosis and skin changes

Wayangankar S. Filariasis. http://emedicine.medscape.com/article/217776-overview WHO. World Health Organization global programme to eliminate lymphatic filariasis. WHO Press; 2010.

Distribusi Cacing Filaria di Indonesia

Distribusi Cacing Filaria di Indonesia Subdit Fiariasis dan Kecacingan, Direktorat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit

Subdit Fiariasis dan Kecacingan, Direktorat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik

W U C H E R E R I A

B A N C R O F T I I

B R U G I A

M A L AY I

B

R U G I A

T

I M O R I

I B R U G I A M A L AY I B R U G
I B R U G I A M A L AY I B R U G
I B R U G I A M A L AY I B R U G

Panjang: lebar kepala sama

Inti teratur

Tidak terdapat inti di ekor

Perbandingan

panjang:lebar kepala

2:1

Inti tidak teratur

Inti di ekor 2-5 buah

Perbandingan

panjang:lebar kepala

3:1

Inti tidak teratur

Inti di ekor 5-8 buah

Filariasis: Pemeriksaan dan Terapi

Pemeriksaan penunjang:

Deteksi mikrofilaria di darah

Deteksi mikrofilaria di kiluria dan cairan hidrokel

Antibodi filaria, eosinofilia

Biopsi KGB

Pengobatan:

Tirah baring, elevasi tungkai, kompres

Antihelmintik (ivermectin, DEC, albendazole)

DEC: 6 mg/kgBB/hari selama 12 hari

Ivermectin hanya membunuh mikrofilaria: 150 ug/kgBB SD/6 bln, atau /tahun bila dikombinasi dengan DEC SD

Suportif

Pengobatan massal dengan albendazole + ivermectin (untuk endemik Onchocerca volvulus) atau albendazole + DEC (untuk nonendemik

Onchocerca volvulus) guna mencegah transmisi (DEC + Albendazol 400

mg/tahun selama 5 tahun)

Bedah (untuk kasus hidrokel/elefantiasis skrotal)

Diet rendah lemak dalam kasus kiluria

Parasitologi Kedokteran, FKUI

Askariasis (Cacing Gelang)

Askariasis (Cacing Gelang) Gejala • Rasa tidak enak pada perut (gangguan lambung); kejang perut, diselingi diare;

Gejala

Rasa tidak enak pada perut (gangguan lambung); kejang perut, diselingi diare;

kehilangan berat badan; dan demam; ileus

obstruktif

Telur

Fertilized: bulat, bile stained (coklat),

dilapisi vitelin dan unstructured albuminoid (tidak teratur), ukuran diameter 50 dan 75 mcm

Unfertilized: lonjong, permukaan bisa

tidak teratur atau teratur (dekortikated),

dinding lebih tipis, ukuran diameter 43 dan 95 mcm

dinding lebih tipis, ukuran diameter 43 dan 95 mcm DOC: Albendazole 400 mg SD Alternatif: Mebendazole

DOC: Albendazole 400 mg SD Alternatif: Mebendazole 2x100mg p.o selama 3

hari atau 500 mg SD

Hamil atau usia < 2 tahun: Pyrantel pamoat 11 mg/kgBB selama 3 hari

Nekatoriasis (Cacing Tambang)

Gejala

Mual, muntah, diare & nyeri ulu hati; pusing, nyeri kepala; lemas dan lelah;

& nyeri ulu hati; pusing, nyeri kepala; lemas dan lelah; DOC: Albendazole 400 mg SD Alternatif:

DOC: Albendazole 400 mg SD

Alternatif: Mebendazole 2x100mg p.o selama 3 hari atau 500 mg SD

Hamil atau usia < 2 tahun: Pyrantel pamoat 11 mg/kgBB selama 3 hari

anemia

Telur

Dinding tipis & transparan,

berisi 4-8 sel embrio atau embrio cacing

Diameter 40 dan 55 mcm

anemia Telur • Dinding tipis & transparan, berisi 4-8 sel embrio atau embrio cacing • Diameter

Trikuriasis (Cacing Cambuk)

Gejala

nyeri ulu hati, kehilangan

nafsu makan, diare,

anemia, prolaps rektum

Telur

Seperti tempayan/ lemon, memiliki dua kutub

Ukuran 20-25 mcm dan 50-

55 mcm

memiliki dua kutub • Ukuran 20-25 mcm dan 50- 55 mcm DOC: Mebendazole 500 mg SD
memiliki dua kutub • Ukuran 20-25 mcm dan 50- 55 mcm DOC: Mebendazole 500 mg SD

DOC: Mebendazole 500 mg SD Alternatif: Albendazole 400 mg selama 3 hari Hamil atau usia < 2 tahun: Pyrantel pamoat 11 mg/kgBB selama 3 hari

Oksiuriasis (Cacing Kremi)

Nama lain: Enterobius

vermicularis

Gejala

Gatal di sekitar dubur

(terutama pada malam hari

pada saat cacing betina

meletakkan telurnya), gelisah

dan sukar tidur

Pemeriksaan: perianal swab dengan Scotch adhesive tape

Telur lonjong dan datar pada

satu sisi, bening

tape – Telur lonjong dan datar pada satu sisi, bening DOC: Mebendazole 500 mg SD Alternatif:
tape – Telur lonjong dan datar pada satu sisi, bening DOC: Mebendazole 500 mg SD Alternatif:

DOC: Mebendazole 500 mg SD Alternatif: Albendazole 400 mg SD

Hamil atau usia < 2 tahun: Pyrantel pamoat 11

mg/kgBB 2 minggu setelahnya diberikan lagi dosis sama

Taeniasis & Sistiserkosis (Cacing Pita)

Gejala

mual, konstipasi, diare; sakit perut; lemah; kehilangan nafsu makan;

sakit kepala; berat badan turun,

benjolan pada jaringan tubuh (sistiserkosis)

Telur

Bulat dengan embrio berstria radier tebal

Berisi onkosfer dengan 6 kait

Ukuran 31-34 mcm

DOC: Prazikuantel 5-10 mg/kgBB SD (untuk anak ≤ 4 tahun safety dan

efficacy belum jelas)

Alternatif: Albendazole 15

mg/kgBB/hari, dibagi dalam 2 dosis

selama 15 hari

≤ 4 tahun safety dan efficacy belum jelas) Alternatif: Albendazole 15 mg/kgBB/hari, dibagi dalam 2 dosis

Proglotid Gravid T. Solium vs T. Saginata

Jumlah cabang uterus: 15-30 buah pada satu sisinya dan tidak memiliki lubang uterus (porus uterinus)

Proglotid yang sudah gravid letaknya terminal dan sering terlepas dari strobila

Taenia Saginata

Uterus tumbuh dari bagian anterior

Folikel testis yang berjumlah 300-400 buah, tersebar di bidang dorsal

proglotid

ootip dan menjulur kebagian anterior

Taenia Solium

Serupa dengan proglotid T. Saginata

namun jumlah folikel testisnya lebih

sedikit, yaitu 150-200 buah

Proglotid gravid mempunyai ukuran panjang hampir sama dengan lebarnya

Jumlah cabang uterus: 7-12 buah pada satu sisi

Lubang kelamin letaknya bergantian selang-seling pada sisi kanan atau kiri strobila secara tidak beraturan

Berisi kira-kira 30.000-50.000 buah telur.

PERBEDAAN KARAKTERISTIK

 

T. saginata

T. solium

Penyakit

Taeniasis

Taeniasis dan sistiserkosis

Panjang cacing dws

4-12 m

2-4 m & 8 m

∑ proglotid

1000-2000

800-1000

Skolek

Tanpa rostelum/kait-kait

Punya rostelum + kait-kait

Proglotid

Keluar sendiri scr aktif

Keluar bersama tinja 2-3 progl.

satu-satu

Matang

Ovarium 2 lobus

Ovarium trilobus

Gravid

15-30 cabang lateral

7-12 cabang lateral

∑ telur/proglotid

100.000

30.000-50.000

Larva

Hospes perantara

Cara infeksi

Cystisercus bovis

Sapi

Makan daging sapi yg

mengandung cystisercus

bovis

Cystisercus cellulose

Babi dan manusia

Makan daging babi yg mengandung cystisercus cellulose (mjd taeniasis)

dan tertelan telur (mjd sistiserkosis)

Neurocysticercosis

Cysticercosispenyakit akibat infeksi T. Solium

Neurocysticercosis penyakit akibat infeksi T. solium

ke CNS

Terbagi menjadi parenkimal dan ekstraparenkimal

- Pada parenkimal, penyakit terjadi karena T. solium menginfeksi

parenkim otak

- Pada ekstraparenkimal, penyakit terjadi karena T. solium bermigrasi ke dalam CSF dan masuk ke ventrikel, sisterna, subarachnoid, dan juga

mata dan medulla spinalis

Akan tetapi, 80% asimptomatik

Gejala umum: kejang, peningkatan TIK, meningoensefalitis, gangguan psikiatri, stroke, dan

radikulopati dan/atau myelopati

Neurocysticercosis

Neurocysticercosis parenkimal

- Kejang fokal, fokal dengan parsial umum, atau umum

- Nyeri kepala seperti migrain atau tension

- Defisit neurokognitifsulit mempelajari sesuatu, depresi, bahkan psikotik

Neurocysticercosis ekstraparenkimal

- Nyeri kepala

- Hidrosefalus

- Peningkatan TIK (mual, muntah, nyeri kepala, penurunan

kesadaran, dsb)

- Jika terdapat di basilar cisterns bisa menyebabkan hidrosefalus

komunikans atau bahkan lacunar infarct

- Jika ada di spinalradiculopaty

- Jika di matagangguan penglihatan

Neurocysticercosis

Tatalaksana

Mengatasi peningkatan TIK (bedah dan atau kortikosteroid) dan kejang, jika

 

ada.

Operasi eksisi pada lesi

Antikonvulsan jika kejang

Kortikosteroidjika ada edema serebri atau vaskulitis (prednisone 1mg/kgBB/hari)

Setelah itu, bisa diberikan antiparasit dan anti-inflamasi. Antiparasit tidak boleh diberikan pada pasien dengan tanda peningkatan TIK

dan harus ditambah steroid sebelum dan selama pemberian.

Untuk pasien dengan satu atau dua kista, pengobatan terdiri dari albendazole

(15 mg/kgBB/2 dosis per hari maks 1200 mg per hari) selama 10-14 hari.

Untuk pasien dengan lebih dari dua kista, pengobatan terdiri dari albendazole (15 mg / kgBB/2 dosis per hari maks 1200 mg per hari) dan praziquantel (50 mg/kgBB/3 dosis per hari) selama 10-14 hari

Schistosoma

Penyakit : skistosomiasis= bilharziasis

Spesies tersering: S. japonicum dan S. haematobium

• Spesies tersering: S. japonicum dan S. haematobium • Morfologi dan Daur Hidup – Hidup in

Morfologi dan Daur Hidup

Hidup in copula di dalam pembuluh darah vena-vena usus, vesikalis dan

prostatika

Di bagian ventral cacing jantan terdapat canalis gynaecophorus, tempat cacing betina

Telur tidak mempunyai operkulum dan berisi mirasidium, mempunyai

duri dan letaknya tergantung spesies

Telur dapat menembus keluar dari pembuluh darah, bermigrasi di

jaringan dan akhirnya masuk ke lumen usus atau kandung kencing

Telur menetas di dalam air mengeluarkan mirasidium

Daur Hidup Schistosoma sp.

Daur Hidup Schistosoma sp.

Schistosoma Haematobium

Tersebar terutama di Afrika dan Timur Tengah

Ukuran telur: panjang 110-170 µm dan lebar 40-70 µm, memiliki tonjolan spinal

Telur mengandung mirasidium matur yang tersebar

di urin

110-170 µm dan lebar 40-70 µm, memiliki tonjolan spinal • Telur mengandung mirasidium matur yang tersebar
110-170 µm dan lebar 40-70 µm, memiliki tonjolan spinal • Telur mengandung mirasidium matur yang tersebar

Schistosoma japonicum

Schistosoma japonicum TELUR BENTUK : BULAT AGAK LONJONG DNG TONJOLAN DI BAGIAN LATERAL DEKAT KUTUB UKURAN

TELUR

BENTUK : BULAT AGAK LONJONG DNG

TONJOLAN DI BAGIAN

LATERAL DEKAT KUTUB

UKURAN : 100 x 65 µm TELUR BERISI EMBRIO TANPA OPERKULUM

Tersebar di daerah Timur (termasuk

Indonesia)

BERISI EMBRIO TANPA OPERKULUM Tersebar di daerah Timur (termasuk Indonesia) SERKARIA Schistosoma sp EKOR BERCABANG

SERKARIA

Schistosoma sp

EKOR BERCABANG

BERISI EMBRIO TANPA OPERKULUM Tersebar di daerah Timur (termasuk Indonesia) SERKARIA Schistosoma sp EKOR BERCABANG
BERISI EMBRIO TANPA OPERKULUM Tersebar di daerah Timur (termasuk Indonesia) SERKARIA Schistosoma sp EKOR BERCABANG

Gejala Klinis & Pemeriksaan Penunjang

Efek patologis tergantung jumlah telur yang dikeluarkan

dan jumlah cacing

Keluhan

S. mansoni & japonicum: demam Katamaya, fibrosis periportal,

hipertensi portal, granuloma pada otak & spinal

S. haematobium: hematuria, skar, kalsifikasi, karsinoma sel

skuamosa, granuloma pada otak dan spinal

Pada infeksi berat Sindroma disentri

Hepatomegali timbul lebih dini disusul splenomegali;

terjadi 6-8 bulan setelah infeksi

Pemeriksaan Penunjang

Mikroskopik feses: semua spesies

Mikroskopik urin: spesies haematobium

Sumber: http://www.cdc.gov/dpdx/schistosomiasis/dx.html

Fascioliasis (Liver Flukes)

Biasanya menginfeksi duktus biliaris dan hati,

namun dapat mengenai bagian tubuh yang

lain

Fase Akut: gejala muncul akibat migrasi parasit

dari intestinal ke dan melewati hati

Gejala dan Tanda

Masalah GI seperti mual, muntah, nyeri perut,

Demam, ruam, dan sulit bernapas dapat terjadi

http://web.stanford.edu/group/parasites/ParaSites2001/fascioliasis/Fasciola.htm

Fase Infeksi

Acute Phase

Rarely seen in humans

Occurs only when a large number of metacercariae are ingested at once.

After 4-7 days after ingestion: Fever, tender hepatomegaly, and abdominal pain the most frequent

symptoms

vomiting, diarrhea, urticaria (hives), anemia, and may all be present.

C aused by the migration of the F. hepatica larvae throughout the liver parenchyma. , the larvae

penetrate the liver capsule

Migration continues for 6-8 weeks until the larvae mature and settle in the bile ducts.

Chronic Phase

Much more common in human populations

Biliary cholic, abdominal pain, tender hepatomegaly, and jaundice, severe anemia (In children)

These symptoms reflect the biliary obstruction and inflammation caused by the presence of the large adult worms and their metabolic waste in the bile ducts.

Inflammation of the bile ducts eventually leads to fibrosis and a condition called "pipestem liver", a

term describing the white appearance of the biliary ducts after fibrosisportal cirrhosis and death.

Halzoun

a type of Fasciola hepatica infection in which the worm settles in the pharynx

This occurs when an individual consumes infected raw liver.

The young adult worms then attach themselves to the pharyngeal mucosa which causes considerable pain, edema, and bleeding that can interfere with respiration

The adults can live in the biliary ducts, causing symptoms for up to 10 years.

Ectopic Infection

Ectopic infections through normal transmission are infrequent but can occur in the peritoneal cavity, intestinal wall, lungs, subcutaneous tissue, and very rarely in other locations.

Fasciola Hepatica: Siklus Hidup

Fasciola Hepatica: Siklus Hidup

Fasciola Hepatica: Telur pada Mikroskopik

Fasciola Hepatica: Telur pada Mikroskopik A, B, C: Telur Fasciola hepatica . Pengecatan: iodine. A,B bentuk
Fasciola Hepatica: Telur pada Mikroskopik A, B, C: Telur Fasciola hepatica . Pengecatan: iodine. A,B bentuk
Fasciola Hepatica: Telur pada Mikroskopik A, B, C: Telur Fasciola hepatica . Pengecatan: iodine. A,B bentuk

A, B, C: Telur Fasciola hepatica. Pengecatan: iodine.

A,B bentuk membulat; C. Terlihat operculum pada terminal

Fasciola Hepatica: Tatalaksana

DOC: Triclabendazole

Dosis: 10 mg/kg/dosis, 1-2 hari

Alternatif: Nitazoxanide

Untuk fase kronik

2x500 mg/hari selama 7 hari

Praziquantel: poorly response

Mebendazol, albendazol

Tidak efektif untuk mengobati fasciola

http://emedicine.medscape.com/article/997890-treatment

http://reference.medscape.com/drug/biltricide-praziquantel-342666

Fasciolopsis Buski (Intestinal Fluke)

Also called asia giant intestinal

fluke

Prevalent in southeast asia

and lives in humans and pigs’

intestines

Related to growing water

plants and feeding pigs on

water plants

Treatment:

Praziquantel as a single dose 25

mg/kg (10-20 mg/kg may be sufficient)

Albendazole (400 mg orally on

empty stomach twice daily for

three days) may also be used

https://emedicine.medscape.com/article/219662-treatment

used https://emedicine.medscape.com/article/219662-treatment • Symptoms – Many people do not have symptoms –

Symptoms

Many people do not have symptoms

Symptoms are due to

inflammation, ulceration, and microabscesses

abdominal pain and diarrhea can occur 1 or 2 months after infection.

heavy infections:

intestinal obstruction,

abdominal pain,

nausea, vomiting,

Fever

Allergic reactions and swelling of the face and legs can also occur - - and anemia may be present

https://www.uptodate.com/contents/intestinal-

flukes?source=search_result&search=fasciolopsis%20buski&selecte

dTitle=1~5#H3

https://www.cdc.gov/parasites/

fasciolopsis/biology.html

Life Cycle

fasciolopsis/biology.html Life Cycle 1. Site of inhabitation: small intestine 2. Infective stage:

1. Site of inhabitation: small intestine

2. Infective stage: metacercaria

3. Infective mode: eating raw water

plants with metacercariae

4. Medium of water plants: chestnut, water bamboo and caltrop

5. Intermediate hosts: Planorbis snail

6. Reservoir host: pig

7. Life span: 1-4 years

Egg is oval in shape,

slight yellow in color,

130-140× 80-85µ(the

largest helminth egg)

Thinner shell with an

operculum encloses an

ovum and 20-40 yolk

cells

with an operculum encloses an ovum and 20-40 yolk cells https://emedicine.medscape.com/article/219662-treatment •

https://emedicine.medscape.com/article/219662-treatment

https://emedicine.medscape.com/article/219662-treatment • Endemic at: • Southeast asia • China

Endemic at:

Southeast asia

China

India

Korea

Nama cacing

Gejala Klinis

Morfologi

Fasciola

Gangguan GIT mual, muntah, nyeri abdomen, demam Peradangan, penebalan,sumbatan sal.empedusiroris periporta

Cacing pipih spt daun

hepatika

Cacing dewasa memiliki batil isap kepala dan perut

Telursulit dibedakan dengan F.buski, sdkt melebar pada abopercular

 

Telur dikeluarkan belum

matang, matang dalam air berisi mirasidium

Fasciolopsis

Sebagian besar asimptomatik. Nyeri perut

Cacing dewasa memiliki batil isap kepala dan perut

buski

(epigastrium),diare kronik

Telurelips,dinding

diselingi konstipasi,tinja berisi makanan yang tidak

transparan,operkulum

kecil nyaris tidak

tercerna,anemia akibat

terlihat,imatur(tidak

perdarahan ulkus/abses,reaksi alergi

ada embrio)

thdp komponen

cacing,obstruksi usus

Bentuk

perdarahan ulkus/abses,reaksi alergi ada embrio) thdp komponen cacing,obstruksi usus Bentuk
perdarahan ulkus/abses,reaksi alergi ada embrio) thdp komponen cacing,obstruksi usus Bentuk
perdarahan ulkus/abses,reaksi alergi ada embrio) thdp komponen cacing,obstruksi usus Bentuk
perdarahan ulkus/abses,reaksi alergi ada embrio) thdp komponen cacing,obstruksi usus Bentuk

Strongyloidiasis

Strongyloidiasis

merupakan infeksi

saluran cerna akibat

2 cacing nematoda

Strongyloides.

Kedua cacing ini

adalah S. stercoralis

dan S. fuelleborni

(hanya di africa dan

papua new guinea)

Strongyloides. • Kedua cacing ini adalah S. stercoralis dan S. fuelleborni (hanya di africa dan papua

Strongyloides stercoralis

Acute infection:

Lower extremity itching (mild erythematous maculopapular rash at the site of skin penetration)

Cough, dyspnea, wheezing

Low-grade fevers

Epigastric discomfort

wheezing – Low-grade fevers – Epigastric discomfort • Chronic Infection – Can be completely asymptomatic

Chronic Infection

Can be completely asymptomatic

Abdominal pain that can be very

vague, crampy, burning

Often worse after eating

Intermittent diarrhea

Can alternate with constipation

Occasional n/v

Weight loss (if heavy infestation)

Larva currens (“racing larva” – a

recurrent maculopapular or serpiginous rash)

Usually begins perianally and

extends up the buttocks, upper

thighs, abdomen

Chronic urticaria

Gambaran telur strongyloides

Shape:

Oval clear, thin shelled similar to hookworm but

smaller

Eggs are lain in the

mucosa and hatch into

rhabditiform larvae and pass to the lumen of the

intestines and out the

feces

Eggs are seldom seen in

the stools

rhabditiform larvae and pass to the lumen of the intestines and out the feces – Eggs
rhabditiform larvae and pass to the lumen of the intestines and out the feces – Eggs

Transmission

Penetration of intact skin by filariform larvae in the

soil, or ingestion through contaminated food or water

Larvae enter the circulation

Lungs alveoli ascension up tracheobronchial tree

swallowed molt in the small bowel and mature into

adult female

Females enter the intestinal mucosa and produce

several eggs daily through parthenogenesis (hatch

during transit through the gut)

Treatment

First line therapy

Ivermectin, in a single dose, 200 µg/kg orally for 2 days

Relative contraindications:

 

confirmed or suspected concomitant Loa loa infection

persons weighing less than 15kg

pregnant or lactating women

Alternative

 

Albendazole, 400 mg orally two times a day for 7 days.

Relative contraindications:

hypersensitivity to benzimidazole compounds or any component

of product

use should be avoided in the 1st trimester of pregnancy

https://www.cdc.gov/parasites/strongyloides/health_professionals/index.html#tx

KEY PO I NTS

KEY PO I NTS

KEY PO I NTS

KEY PO I NTS

KEY PO I NTS

KEY PO I NTS

KEY PO I NTS

KEY PO I NTS

Albendazole

Terapi cacing gelang, cacing cambuk, cacing kremi, cacing tambang

Cara kerja : membunuh cacing, menghancurkan telur & larva cacing dengan

jalan menghambat pengambilan glukosa oleh cacing produksi ATP sebagai sumber energi << kematian cacing

Kontra Indikasi:

Ibu hamil (teratogenik), menyusui

Gangguan fungsi hati & ginjal, anak < 2 tahun

Dosis sediaan : 400 mg per tablet.

Tablet dapat dikunyah, ditelan atau digerus lalu dicampur dengan

makanan

Efek samping : perasaan kurang nyaman pada saluran cerna dan sakit

kepala, mulut terasa kering

Mebendazole

Terapi cacing gelang, cacing cambuk, cacing kremi, cacing tambang

Cara kerja : membunuh cacing, menghancurkan telur & larva cacing dengan

jalan menghambat pengambilan glukosa oleh cacing produksi ATP sebagai sumber energi << kematian cacing

Kontra Indikasi:

Ibu hamil (teratogenik), menyusui

Gangguan fungsi hati & ginjal, anak < 2 tahun

Dosis sediaan : 100 mg per tablet

Tablet dapat dikunyah, ditelan atau digerus lalu dicampur dengan

makanan

Efek samping : perasaan kurang nyaman pada saluran cerna dan sakit

kepala, mulut terasa kering

Pirantel Pamoat

Indikasi: cacing tambang, cacing gelang, dan cacing kremi

Cara kerja: Melumpuhkan cacing mudah keluar bersama tinja

Dapat diminum dalam keadaan perut kosong, atau diminum bersama makanan, susu, atau jus

Dosis: 10 mg/kg BB, tidak boleh melebihi 1 gram

Jika berat badan 50 kg, dosisnya menjadi 500 mg.

Bentuk sediaannya adalah 125 mg per tablet, 250 mg per

tablet, dan 250 mg per ml sirup

Prazikuantel

Indikasi: Cacing pita, kista hidatid

Cara Kerja: Meningkatkan permeabilitas membrane sel

trematoda dan cestoda terhadap kalsium, yang

menyebabkan paralisis, pelepasan, dan kematian

(Katzung, 2010).

Efek samping: Nyeri kepala, pusing, mengantuk dan kelelahan, efek lainnya meliputi mual, muntah, nyeri abdomen, feses yang lembek, pruritus, urtikaria, artalgia, myalgia, dan demam berderajat rendah

HIV

HIV

HIV Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed. McGraw -Hill; 2011.

Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.

Perjalanan Penyakit HIV

1. Acute HIV syndrome:

Experienced in 5070%

of individuals with HIV

infection

acute clinical

syndrome occurs 36

weeks after primary infection.

The typical clinical

findings occur along

with a burst of plasma

viremia.

findings occur along with a burst of plasma viremia. Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed.

Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.

Perjalanan Penyakit HIV

2. The Asymptomatic StageClinical Latency

The length of time from initial infection to the development of clinical disease. Median time for untreated patients is 10 years.

Active virus replication is ongoing and progressive during this

asymptomatic period.

The rate of disease progression is directly correlated with HIV

RNA levels.

Patients with high levels of HIV RNA in plasma progress to symptomatic disease faster than do patients with low levels of HIV RNA.

During the asymptomatic period of HIV infection, the average rate of CD4+ T cell decline is 50/L per year.

When the CD4+ T cell count falls to <200/L, the resulting state of

immunodeficiency is severe enough to place the patient at high risk

for opportunistic infection and neoplasms and, hence, for clinically apparent disease.

Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.

Perjalanan Penyakit HIV

Perjalanan Penyakit HIV 3. Symptomatic Disease • Symptoms of HIV disease can appear at any time

3. Symptomatic Disease

Symptoms of HIV disease can

appear at any time during the

course of HIV infection.

The more severe and life- threatening complications of HIV infection occur in patients with

CD4+ T cell counts <200/L.

AIDS:

HIV infection & a CD4+ T cell count <200/L or

HIV infection who develops one of the HIV-associated diseases considered to be indicative of a

severe defect in cell-mediated

immunity (category C)

Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2011.

Stadium Klinis HIV/AIDS

Stadium Klinis HIV/AIDS

Stadium Klinis HIV/AIDS

Stadium Klinis HIV/AIDS

Diagnosis HIV

Tes untuk diagnosis

HIV dilakukan dengan tes antibodi

menggunakan

strategi III (pemeriksaan dengan

menggunakan 3 jenis

tes antibodi yang

berbeda sensitivitas

dan spesivisitasnya)

(Permenkes No.87

2014 : Pedoman

Pengobatan ARV)

Pemeriksaan HIV Pedoman 2014

Ketiga tes tersebut dapat menggunakan

reagen tes cepat atau dengan ELISA.

Untuk pemeriksaan pertama (A1) harus

digunakan tes dengan sensitifitas yang tinggi

(>99%),

Pemeriksaan selanjutnya (A2 dan A3)

menggunakan tes dengan spesifisitas tinggi

(>99%).

Kriteria Interpretasi Tes Anti-HIV & Tindak

Lanjutnya

Hasil

Kriteria

Tindak Lanjut

Positif

Bila hasil A1 reaktif, A2 reaktif dan A3 reaktif

Rujuk ke Pengobatan HIV

Negatif

Bila hasil A1 non reaktif

Bila tidak memiliki perilaku berisiko, dianjurkan perilaku hidup sehat

Bila berisiko, dianjurkan pemeriksaan ulang minimum 3 bulan, 6 bulan dan 12 bulan dari pemeriksaan pertama sampai satu tahun

Bila hasil A1 reaktif tapi pada pengulangan A1 dan A2 non-reaktif

Bila salah satu reaktif tapi tidak berisiko

Indeterminate

Bila dua hasil tes reaktif

Tes perlu diulang dengan spesimen baru minimal setelah dua minggu dari pemeriksaan yang pertama.

Bila hanya 1 tes reaktif tapi mempunyai risiko

atau pasangan berisiko

Bila hasil tetap indeterminate, dilanjutkan dengan pemeriksaan PCR.

Bila sarana pemeriksaan PCR tidak

memungkinkan, rapid tes diulang 3 bulan,

6 bulan, dan 12 bulan dari pemeriksaan

yang pertama. Bila sampai satu tahun hasil tetap indeterminate” dan faktor

risiko rendah, hasil dapat dinyatakan

sebagai negatif

Rekomendasi inisiasi ARV pada Anak dan Dewasa

 

Populasi

Rekomendasi

Dewasa dan anak > 5 tahun

Inisiasi ARV pada orang terinfeksi HIV stadium klinis 3 dan 4 a , atau jika jumlah CD4 ≤ 350 sel/mm 3

a

Pengobatan TB harus dimulai lebih dahulu,

kemudian obat ARV diberikan dalam 2-8 minggu sejak mulai obat TB, tanpa

 

menghentikan terapi TB. Pada ODHA dengan

Inisiasi ARV tanpa melihat stadium klinis WHO dan berapapun jumlah CD4

Koinfeksi TB a

CD4 kurang dari 50 sel/mm3, ARV harus dimulai dalam 2 minggu setelah mulai pengobatan TB. Untuk ODHA dengan

meningitis kriptokokus, ARV dimulai setelah 5

minggu pengobatan kriptokokus.

Koinfeksi Hepatitis B

b Dengan memperhatikan kepatuhan

Ibu hamil dan menyusui terinfeksi HIV

c Bayi umur < 18 bulan yang didiagnosis

terinfeksi HIV dengan cara presumtif, maka harus segera mendapat terapi ARV. Bila dapat segera dilakukan diagnosis konfirmasi (mendapat kesempatan pemeriksaan PCR DNA sebelum umur 18 bulan atau menunggu sampai umur 18 bulan untuk dilakukan pemeriksaan antibodi HIV ulang), maka perlu dilakukan penilaian ulang apakah anak pasti terdiagnosis HIV atau tidak. Bila hasilnya negatif, maka pemberian ARV dihentikan.

Orang terinfeksi HIV yang pasangannya HIV negatif (pasangan serodiskordan), untuk mengurangi risiko penularan

LSL, PS, atau Penasun (pengguna narkoba suntik) b

Pada wilayah dengan epidemi HIV meluas (> 1% pada populasi umum atau ibu hamil)

Anak < 5 tahun

Inisiasi ARV tanpa melihat stadium klinis WHO dan berapapun jumlah CD4 c

ARV lini pertama untuk anak > 5 tahun dan dewasa, termasuk wanita hamil dan menyusui, pasien koinfeksi hepatitis B, dan pasien dengan

koinfeksi TB

ARV Lini Pertama untuk dewasa

Paduan pilihan

TDF a + 3TC (atau FTC) + EFV dalam bentuk KDT c

Paduan

AZT b + 3TC + EFV (atau NVP) TDF a + 3TC (atau FTC) + NVP

alternatif

a Jangan memulai dengan TDF jika CCT hitung < 50 ml/menit, atau pada kasus diabetes lama, hipertensi tak terkontrol dan gagal ginjal b Jangan memulai dengan AZT jika Hb < 7 g/dl sebelum terapi c Kombinasi dosis terpadu (KDT) yang tersedia: TDF + 3TC + EFV

TDF: tenofovir, AZT: zidovudin, 3TC: lamivudin, EFV: efavirenz, NVP:

nevirapine, ABC: abacavir, LPV/r: lopinavir/ritonavir; FTC: emtricitabin

Efek Samping ARV

ARV

Efek Samping

ARV

Efek Samping

TENOFOVIR

Disfungsi tubulus renal

LAMIVUDIN

Neuropati perifer (jarang)

Sindrom Fanconi Penurunan densitas tulang Asidosis laktat

Lipoatrofi atau lipodistrofi Asidosis laktat Hepatomegali dengan

Hepatomegali dengan steatosis

steatosis

Eksaserbasi hepatitis B

ZIDOVUDIN

Anemia

NEVIRAPIN

Hepatotoksik

Neutropenia berat

Hipersensitivitas obat

Miopati Lipoatrofi atau lipodistrofi Intoleransi saluran cerna Asidosis laktat Hepatomegali dengan steatosis

EFAVIRENZ

Toksisitas SSP Hepatotoksik Kejang

Hipersensitvitas

STAVUDIN,

Neuropati perifer

DIDANOSIN

Ginekomastia

LEPTOSPIROSIS

Infection through the

mucosa or wounded skin

Infection through the mucosa or wounded skin Proliferate in the bloodstream or extracellularly within organ

Proliferate in the bloodstream or

extracellularly within organ

in the bloodstream or extracellularly within organ Disseminate hematogenously to all organs Leptospirosis

Disseminate hematogenously to all organs

Leptospirosis

organ Disseminate hematogenously to all organs Leptospirosis Multiplication can cause: • Hepatitis, jaundice, &

Multiplication can cause:

Hepatitis, jaundice, & hemorrhage in the liver

Uremia & bacteriuria in the kidney

Aseptic meningitis in CSF & conjunctival or scleral hemorrhage in the aqueous humor

Muscle tenderness in the muscles

Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed.

Infeksi

Anicteric leptospirosis (90%), follows a biphasic course:

Initial phase (47 days):

sudden onset of fever,

severe general malaise,

muscular pain (esp calves), conjunctival congestion,

leptospires can be isolated from most

tissues.

Two days without fever follow.

Second phase (up to 30 days):

leptospires are still detectable in the urine.

Circulating antibodies emerge, meningeal inflammation, uveitis & rash develop.

Icteric leptospirosis or Weil's disease (10%), monophasic

course:

Prominent features are renal and liver malfunction, hemorrhage and impaired consciousness,

The combination of a direct

bilirubin < 20 mg/dL, a marked in CK, & ALT & AST <200 units is suggestive of the diagnosis.

Hepatomegaly is found in 25% of

cases.

CK, &  ALT & AST <200 units is suggestive of the diagnosis. – Hepatomegaly is

Gejala dan Tanda

Demam tinggi

mendadak

Nyeri otot dan sendi

Sakit kepala

Diare

Mual muntah

Injeksi konjungtiva

Ikterik

Nyeri tekan gatroknemius

Splenomegali

Hepatomegali

Ruam di kulit

Edema

Pemeriksaan Penunjang Leptospira

Leukopenia

Trombositopenia dapat terjadi

Shift to the left

Bilirubin meningkat pada Weil’s disease

Pemeriksaan serologi IgM antileptospira dengan ELISA

Baku emas:

Pemeriksaan serologi IgM antileptospira dengan

metode Microscopic

Agglutination Test (MAT)

Kultur (hasilnya seringkali negatif)

Hingga 10 hari penyakit,

spesimen diambil dari darah

atau LCS

Minggu kedua sampai hari ke

30 setelah sembuh, spesimen

dari urine.

Tatalaksana Leptospirosis

Kasus rawat jalan

Diberikan 7 hari

DOC: Doxycycline (100 mg PO bid) or

Amoxicillin (500 mg PO tid) or

Ampicillin (500 mg PO

tid)

Kasus rawat inap

Diberikan 7 hari

Penicillin (1.5 million units IV q6h) or

Ceftriaxone 1 gram/24 jam

Cefotaxime 1 gram/6

jam