Anda di halaman 1dari 19

REKAYASA IDE

“PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN”


PENGEMBANGAN SISTEM PENJAMINAN MUTU PENDIDIKAN DI SMA
NEGERI 1 DELI TUA
D
I
S
U
S
U
N
OLEH
AINUN SARI HARAHAP (3162131001)

REGULER 2016

Dosen Pengampuh
Eni Yunihastuti S.Pd. M.Sc.

FAKULTAS ILMU SOSIAL


JURUSAN PENDIDIKAN GEOGRAFI
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT. Yang telah memberikan
Taufik, Hidayah Kesehatan dan kesempatan sehingga penulis dapat menyelesaikan
tugas makalah rekayasa ide dalam mata kuliah Penjaminan Mutu Pendidikan. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut serta membantu
penulisan dsalam Menyelesaikan makalah ini terutama kepada Ibu Eni Yunihastuti
selaku dosen pembimbing mata kuliah Penjaminan Mutu Pendidikan. Sekaligus
pembimbing penulisan dalam menyelesaikan makalah presentasi yang telah
memberikan arahan, bimbingan, serta masukan koreksi terhadap makalah penulis ini.

Penulis juga mengucapkan terima kasih untuk pembaca yang berkenan membaca
hasil makalah ini, semoga makalah bermanfaujuan untuk membantu para pembaca yang
ingin membuat makalah. Penulis juga ingin mengucapkan maaf apabila terdapat
kesalahan penulis atau kesalahan lainnya yang terdapat dalam makalah ini. Penulis juga
menerima kritik atau saran dari pembaca.

Medan, 22 Oktober 2019

Penulis

ii
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .......................................................................................... i
DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................. 1
A. Latar Belakang............................................................................................. 1
B. Identifikasi Masalah .................................................................................... 2
C. Pembatasan Masalah ................................................................................... 4
D. Rumusan Masalah ....................................................................................... 4
E. Tujuan Penelitian ........................................................................................ 4
F. Manfaat Penelitian ..................................................................................... 4
BAB II KAJIAN TEORI ...................................................................................... 6
A. Kerangka Teori .......................................................................................... 6
B. Penelitian Relevan ..................................................................................... 10
C. Kerangka Berfikir ....................................................................................... 12
BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 13
A. Lokasi Dan Waktu Penelitian .................................................................... 13
B. Subjek Dan Objek Penelitian ...................................................................... 13
C. Variabel Penelitian .................................................................................... 13
D. Defenisi Operasional .................................................................................. 14
E. Tekhnik Pengumpulan Data ....................................................................... 15
F. Tekhnik Analisa Data ................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 16

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Upaya menjaga mutu pendidikan sulit dilepaskan keterkaitannya dengan manajemen


mutu. Dalam manajemen mutu semua fungsi manajemen yang dijalankan oleh para
manajer pendidikan di sekolah diarahkan agar semua layanan yang diberikan
semaksimal mungkin sesuai atau melebihi harapan pelanggan. Berkaitan dengan upaya
tersebut diperlukan upaya untuk mengendalikan mutu atau quality control.

Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya pengelolaan mutu dalam bentuk jaminan
atau assurance, bahwa semua aspek yang terkait dengan layanan pendidikan yang
diberikan oleh sekolah mencapai standar mutu tertentu sehingga output yang dihasilkan
sesuai dengan harapan. Konsep yang terkait dengan hal ini dalam manajemen mutu
dikenal dengan Quality Assurane atau Penjaminan Mutu. Dalam manajemen mutu, ada
dua konsep tentang mutu atau quality, yaitu konsep klasik dan konsep modern. Konsep
klasik bersifat absolut, sementara konsep modern bersifat relatif. Dalam konsep klasik,
mutu suatu produk ditentukan oleh produsen sedangkan dalam konsep modern mutu
ditentukan oleh konsumen atau tergantung pada penilaian konsumen.

Pendidikan merupakan sebagian dari kehidupan masyarakat dan juga sebagai


dinamisator masyarakat itu sendiri.1 Sebagaimana yang telah terjadi pada dunia
produksi pada umumnya, kepedulian akan mutu produk pendidikan pun didorong oleh
persoalan dasar, bagaimana mengintegrasikan semua fungsi dan proses dalam suatu
organisasi agar tercapai peningkatan mutu secara berkelanjutan.2

Permasalahan pendidikan pada umumnya selalu dihadapan pada permasalahan


pemerataan, relevansi, dan kualitas pendidikan. Berbagai upaya peningkatan kualitas
hidup yang dilakukan manusia memerlukan penanganan serius melalui pemikiran yang
matang dengan mengaplikasikan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Kemampuan untuk meningatkan kualitas tersebut telah lama diupayakan manusia dalam
berbagai upaya. Kegiatan tersebut dengan dikenal dengan penjaminan mutu yang
merupakan upaya untuk meningkatkan kualitas layanan dengan mengedepankan
kepuasan pelanggan (custome satisfaction) dalam melaksanakan interaksi pendidikan.

1
PP No. 19 tahun 2005 disebutkan bahwa pendidikan di Indonesia menggunakan delapan
standar yang mejadi acuan dalam membangun dan meningkatkan kualitas pendidikan.
Standar Nasional Pendidikan merupakan kriteria minimal tentang sistem pendidikan di
seluruh wilayah hukum Negara Kesatuan Republik Indonesia, ada delapan standar yang
menjadi kriteria minimal tersebut yaitu; 1) standar isi, 2) standar proses, 3) standar
kompetensi lulusan, 4)standar pendidik dantenagan kependidikan, 5) standar sarana dan
prasarana, 6)standar pengelolaan, 7) standar pembiayaan, 8) standar penilaian
pendidikan. Standar Nasional Pendidikan bertujuan menjamin mutu pendidikan nasional
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat (PP 19/2005 Pasal 91).4

Secara kelembagaan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan diposisiskan sebagai bagian


dari keseluruhan fungsi manajemen pendidikan. SPMP sebagai salah satu fungsi
manajemen pendidikan mengemban tugas dan taggung jawab dalam mengukur dan
menilai pemenuhan standar mutu.5 Pada dasarnya mutu pendidikan di sekolah berkaitan
dengan pencapaian tujuan pendidikan dan kompetensi lulusan yang telah ditetapkan
oleh satuan pendidikan di dalam program kegiatan atau kesesuaian tujuan dan
kompetensi dengan standar yang telah ditetapkkan.

Bicara soal mutu pendidikan, minimal ada empat pandangan yang berkembang untuk
memaknainya, yaitu: 1) Mutu pendidikan dipandang berdasrkan kemampuan peserta
didik setelah mempelajari suatu materi pelajaran. Hal ini dibuktikan dengan nilai rapotr
atau NEM. 2) Mutu pendidikan dipandang dari produktivitas keluarannya, yakni
pekerjaan yang diperoleh, tingkat gaji dan status. 3) Mutu pendidikan dipandang
berdasarkan kriteria sosial yang lebih luas, misalnya pandai ngomong atau pidato,
terampil memimpin organisasi, pandai berdiplomasi dan sebagainya. 4) Mutu
pendidikan ditinjau dari komponen pendidikan yang bermutu.7

Secara umum penjaminan mutu satuan pendidikan/sekolah merupakan proses penetapan


dan pemenuhan standar mutu pengelolaan satuan pendidikan/sekolah secara konsisten
dan berkelanjutan sehingga seluruh pemakai lulusan (stakeholders) memperoleh
kepuasan (stakeholders satisfaction).8 Tujuan adanya penjaminan mutu pendidikan
adalah untuk merencanakan, mencapai, memelihara, dan meningkatkan mutu
pendidikan secara berkelanjutan pada satuan pendidikan tertentu.9

2
Setiap satuan pendidikan wajib menjalankan penjaminan mutu pendidikan dalam
meninngkat mutu suatu pendidikan di sekolah. Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan
merupakan keseluruhan fungsi manajemen pendidikan yang mengemban tugas dan
tanggungjawab dalam mengukur dan menilai pemenuhan standar mutu. SMA Negeri 1
Deli Tua merupakan salah satu sekolah yang sudah menerapkan Sistem Penjaminan
Mutu Pendidikan Dasar dan Menengah, yang sesuai indikator yang telah ditetapkan
yaitu Delapan Standar Nasional Pendidikan. Sistem Penjaminan Mutu Dasar dan
Menengah adalah suatu kesatuan unsur yang yang terdiri atas organisasi, kebijakan, dan
proses terpadu yang mengatur segala kegiatan untuk meningkatkan mutu Pendidikan
Dasar dan Menengah secara sistematis, terencana dan berkelanjutan. Dalam
melaksanakan Sistem ini SMPN 2 Ponorogo juga mempunyai organisasi atau tim yang
bertugas dalam menjalankan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Dasar dan
Menengah.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat ditemukan permasalahan


(Kemdikbud; 2016: 1) yaitu:
1. Pengelola pendidikan tidak tahu makna standar mutu pendidikan. Standar mutu
merupakan sasaran mutu yang akan dicapai oleh satuanpendidikan dalam
usahanya meningkatkan mutu pendidikan. Apabila hal ini tidakdipahami oleh
pengelola pendidikan maka usaha untuk meningkatkan mututersebut dapat salah
sasaran.
2. Kemampuan melakukan penjaminan mutu pendidikan yang belum
dimilikiSekolah belum memiliki kemampuan untuk menjamin bahwa
prosespendidikan yang dijalankan dapat memenuhi SNP. Kemampuan
tersebutmeliputi: cara melakukan penilaian hasil belajar, cara membuat
perencanaanpeningkatan mutu pendidikan, cara implementasi peningkatan mutu
pendidikan,dan cara melakukan evaluasi pengelolaan sekolah maupun
prosespembelajaran.
C. Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, peneliti melakukan batasan masalah untuk


fokus pada pelaksanaan penjaminan mutu pendidikan di SMA N 1 Deli Tua yang

3
dituangkan dalam kerangka evaluasi. Pentingnya hal tersebutdievaluasi karena
penjaminan mutu pendidikan merupakan cara sekolah untukmeningkatkan mutu
pendidikannya dalam berbagai aspek mutu pendidikan disekolah sesuai dengan standar
mutu.

D. Rumusan masalah
1. Bagaimana kebijakan mutu pendidikan di SMA N 1 Deli Tua ?
2. Bagaimana langkah-langkah penjaminan mutu pendidikan di SMA N 1 Deli
Tua?
E. Tujuan
1. Bagaimana kebijakan mutu pendidikan di SMA N 1 Deli Tua ?
2. Bagaimana langkah-langkah penjaminan mutu pendidikan di SMA N 1 Deli
Tua?
F. MANFAAT

Adapun manfaat yang di harapkan dari peneliti ini adalah sekurang-kurangnya ada
dua aspek:

1. Secara teoritis

Melalui penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambah khazanah keilmuan dalam
meningkatkat mutu pendidikan dan dapat dijadikan rujukan bagi penelitian-penelitian
selanjutnya terkait dengan tema yang sama.

2. Secara praktis:

Bagi peneliti, Sebagai tambahan pengetahuan untuk memperkaya khazanah ilmu


pengetahuan.Bagi guru/pendidik Sebagai pendidik yang mempunyai peranan penting
dalam meningkatkan mutu pendidikan yang baik dan sesuai dengan tujuan dari
pendidikan.

3. Bagi siswa

Sebagai siswa dalm pross pembelajaran siswa diharapkan mendapatkan layanan


pendidikan yang sesuai dengan standar mutu pendidikan.

4) Bagi sekolah, Dapat memberikan kepuasan terhadap pihak stakeholder.

4
BAB II

KERANGKA TEORI

A. Mutu Pendidikan
1. Pengertian Mutu Pendidikan

Mutu berasal dari bahasa Latin yaitu qualis yang artinya what kind of. Menurut
Deming mutu adalah kesesuaian dengan kebutuhan pasar. Mutu menurut Juran ialah
kecocokan dengan produk. Mutu menurut Crosby ialah kesesuaian dengan yang
diisyaratkan. West Burnham mengatakan mutu adalah ukuran relatif suatu produk atau
jasa sesuai dengan standar mutu desain. Mutu desain meliputi spesifikasi produk atau
mutu kesesuaian, yaitu seberapa jauh suatu produk telah memenuhi persyaratan atau
spesifikasi mutu yang ditetapkan.10

Mutu merupakan kemampuan (ability) yang dimiliki oleh suatu produk atau jasa
yang dapat memenuhi kebutuhan atau harapan dan kepuasan pelanggan, dalam
pendidikan yang dimaksud dengan pelanggan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
internal customer (siswa atau mahasiswa sebagai pembelajar sekaligus input) dan
eksternal customer (masyarakat dan dunia industri).

Nomi Pfeffer dan Anna Coote, berdiskusi tentang mutu dalam jasa kesejahteraan,
bahwa, “Mutu merupakan konsep yang licin”.12 Mutu dapat dipandang sebagai sebuah
konsep yang absolut sekaligus relatif. Mutu dalam percakapan sehari-hari sebagian
besar dipahami sebagai sesuatu yang absolut, misalnya restoran yang mahal dan mobil-
mobil yang mewah. Sebagai suatu konsep yang absolut, mutu sama halnya dengan sifat
baik, cantik, dan benar, merupakan suatu idealisme yang tidak dapat dikompromikan.

Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu dalam hal ini mengacu pada proses
pendidikan dan hasil pendidikan. Dalam”proses pendidikan” yang bermutu terlibat
berbagai input seperti bahan ajar (kogniti, efektif, atau psikomotorik), metodologi
(bervariasi sesuai kemapuan guru), sarana sekolah, dukungan administrasi sarana
prasarana, sumber daya lainnya serta penciptaan suasana yang kondusif. Mutu dalam
konteks “hasil pendidikan” mengacu pada prestasi yang dicapai oleh sekolah pada
setiap kurun waktu tertentu (apakah tiap akhir semester, akhir tahun, 2 tahun atau 5

5
tahun, bahkan 10 tahun). Prestasi yang dicapai atau hasil pendidikan (student
achievement) dapat berupa hasil tes kemampuan akademis (misalnya tes formatif,
sumatif, dan UN). Dapat pula prestasi di bidang lain, seperti prestasi di suatu cabang
olahraga, seni, atau ketrampilan tambahan tertentu, misalnya: komputer, beragama jenis
teknik, jasa. Bahkan prestasi sekolah dapat berupa kondisi yang tidak dapat dipegang
(intangible), seperti suasana, disiplin, keakraban, saling menghormati, kebersihan,
toleransi, emosional, dan sebagainya.

Antara proses dan hasil pendidikan yang bermutu saling berhubungan. Akan tetapi,
agar proses yang baik itu tidak salah arah, maka mutu dalam artian hasil (output) harus
dirumuskan lebih dahulu oleh sekolah, dan harus jelas target yang akan dicapai untuk
setiap tahun atau kurun waktu lainnya. Berbagai input dan proses harus selalu mengacu
pada mutu-hasil (output) yang ingin dicapai.

Secara subtansi, mutu pendidikan diterjemahkan sebagai suatu kondisi dinamis yang
berhubungan dengan produk atau output, jasa/pelayanan, manusia, proses dan
lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan. Kriteria untuk menentukan mutu
pendidikan mesti dilihat dari 5 aspek, yakni output, pelayanan, sumber daya manusia
(guru), aspek proses dan aspek lingkungan.

Mutu pendidikan adalah hasil belajar, yang menyangkut prestasi belajar mengajar
yang dicapai siswa baik yang berhubungan dengan pengetahuan, sikap atau prilaku
setelah mempelajari pendidikan agama Islam dalm kurun waktu tertentu/semester yang
dinyatakan dalam bentuk nilai rapotr/semester.

Adapun menurut Sudarwan Danim, mutu pendidikan mengacu pada masukan,


proses, luaran, dan dampaknya. Mutu masukan dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama,
kondisi baik atau tidaknya masukan sumber daya manusia, seperti kepala sekolah, guru,
staf tata usaha, dan siswa. Kedua, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan material
berupa alat peraga, buku-buku, kurikulum, prasarana, sarana sekolah, dan lain-lain.
Ketiga, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan yang perangkat lunak, seperti
peraturan, struktur organisasi, dan deskripsi kerja. Keempat, mutu masukan yang
bersifat harapan dan kebutuhan, seperti visi, motivasi, ketekunan, dan cita-cita.

6
Mutu proses pembelajaran mengandung makna bahwa kemampuan sumber daya
sekolah mentransformasikan beragam jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat
nilsi tambah tertentu dari peserta didik. Apabila diliht dari hasil pendidikan, mutu
pendidikan dipandang bermutu jika mampu melahirkan keunggulan akademik dan
ekstrakulikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan
atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu.18 Dapat disimpulkan bahwa mutu
pendidikan adalah derajat keunggulan dalam pengeloaan pendidikan secara efektif dan
efisien untuk melahirkan keunggulan akademik dan ekstrakulikuler pada peserta didik
yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program
pembelajaran tertentu.

2. Tujuan dan Manfaat Mutu Pendidikan

Mutu sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan yaitu: Meningkatkan


pertanggungjawaban (akuntabilitas) sekolah kepada masyarakat dan atau pemerintah
yang telah memberikan semua biaya kepada sekolah.

a. Menjamin mutu lulusannya


b. Bekerja lebih profesional
c. Meningkatkan persaingan yang sehat.
d. Secara umum Tujuan dari penjaminan mutu pendidikan adalah untuk
merencanakan, mencapai, memelihara, Dan meningkatkan mutu pendidikan
secara berkelanjutan pada satuan pendidikan tertentu.19

Dalam Permendiknas No 63 Tahun 2009 Pasal 2 menyatakan bahwa tujuan akhir


dari penjaminan mutu pendidikan adalah tingginya kecerdasan kehidupan manusia dan
bangsa sebagaimana dicita-citakan oleh Pembukaan Undang-undang Dasar Negara
Republik Indonesi Tahun 1945 yang dicapai melalui penerapan SPMP.

3. Indikator Mutu Pendidikan

Indikator atau kriteria yang dapat dijadikan tolak ukur mutu pendidikan adalah
sebagai berikut:

7
a. Hasil akhir pendidikan (Ultimate Outcome)
b. Hasil langsung pendidikan (Immediate Outcome) hasil langsung inilah yang
dipakai sebagi titik tolak ukur mutu pendidikan suatu lembaga pendidikan.
Misalnya melalui: tes tulis, daftar cek, anektor, skala rating, dan skala sikap.
c. Proses pendidikan Proses pendidikan dianggap menentukan hasil langsung
maupun hasil akhir pendidikan.
d. Instrumen input yaitu alat berinteraksi dengan raw input (siswa)
e. Raw input dan lingkungan. Indikator terkait mutu pendidikan Islam diantaranya
sebagai berikut: Pertama, mutu pendidikan Islam dapat dilihat dari hasil akhir
pendidikan yang merupakan esensi semua usaha dalam pendidikan Islam. Yang
menjadi ukuran biasanya tingkah laku para lulusan suatu lembaga pendidikan
setelah mereka terjun dalam masyarakat atau dalam kompetisi dunia kerja.
Dengan kata lain, taraf mutu pendidikan Islam di berbagai level pendidikannya
(MI/MTs/MA/PTAI) digambarkan oleh seberapa jauh tingkah laku para
lulusannya memenuhi tuntutan masyarakat atau dunia kerja seperti yang
lazimnya tercantum dalam tujuan umum pendidikan.

Kedua, cara lain untuk melihat mutu pendidikan Islam ialah dengan cara mengukur
hasil langsung pendidikannya. Hasil itu biasanya berupa tingkah laku anak didik
(berupa pengetahuan, ketrampilan dan sikapnya) setelah mereka menyelesaikan
pendidikannya.

Ketiga, gambaran mutu pendidikan Islam dapat dilihat juga dari proses
pendidikannya sebab proses pendidikan dianggap menentukan hasil langsung maupun
hasil akhir pendidikan. Faktor-faktor proses pendidikan yang akan dijadikan ukuran
mutu pendidikan Islam haruslah benar-benar ada hubungan dengan hasil pendidikan,
baik secara teoritik maupun empirik. Ukuran yang dipakai disini adalah hasil
kuantifikasi kuantitas maupun kualitas faktor-faktor poses pendidikan yang
dikumpulkan dengan alat-alat ukur seperti daftar observasi, kuesioner dan wawancara.

8
4. Karakteristik Mutu

Mutu memiliki 13 karakter sebagai berikut:

1) Kinerja (perform) : berkaitan dengan aspek sekolah

Misalnya : kinerja guru dalam mengajar baik, memberikan penjelasan yang


menyakinkan, sehat dan rajin mengajar, dan menyiapkan bahan pelajaran dengan
lengkap. Pelayanan administrasi sekolah baik yang ditandai hasil belajar tinggi,
lulusanya banyak, dan lulus tepat waktu. Akibat kinerja sekolah yang baik sekolah
tersebut menjadi sekolah yang favorit.

2) Waktu Ajar (timeliness) : selesai dengan waktu yang wajar Misalnya : memulai
dan mengakhiri pelajaran tepat waktu.
3) Handal (reability) : usai pelayanan prima bertahan lama Misalnya : pelayanan
prima yang diberikan sekolah bertahan dari tahun ketahun.
4) Daya Tahan (durability) : tahan banting. Misalnya : meskipun krisis moneter
sekolah masih tetap bertahan, tidak tutup.
5) Indah Misalnya : eksterior dan interior sekolah ditata menarik. Taman sekolah
ditanami bunga dan terpelihara dengan baik.
6) Hubungan Manusiawi (personal interface) : menjunjung tinggi nilai-nilai moral
dan profesionalisme. Misalnya : warga sekolah saling menghormati, baik warga
intern maupun ekstern sekolah, demokratis dan menghargai profesionalisme.
7) Mudah Penggunaannya (easy of use) : sarana dan prasarana Misalnya : aturan-
aturan sekolah mudah diterapkan. Buku-buku perpustakaan mudah dipinjam dan
dikembalikan tepat waktu. Penjelasan guru di kelas mudah di mengerti siswa.
8) Bentuk Khusus (feature) : keunggulan tertentu Misalnya : sekolah ada yang
unggul dengan hampir lulusannya di universitas bermutu.

9
B. Penelitian Relevan

Hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini yaitu penelitian oleh Danang
Dwi Yuhatmono (2008) dengan judul “Pelaksanaan Manajemen Penjaminan Mutu
Pendidikan Di SMK N 2 Depok”. Hasil dari penelitian ini menunjukkan tingkat/
persentase pencapaian implementasi manajemen penjaminan mutu pendidikan
berdasarkan standar sistem manajemen mutu ISO 9001:2000 yang meliputi aspek sistem
dokumentasi manajemen mutu denganpersentase pencapaian sebesar 83.75 % berada
dalam kategori baik, aspek tanggung jawab manajemen dengan persentase pencapaian
sebesar 80.53 % berada dalam kategori baik, aspek pengelolaan sumber daya dengan
persentase pencapaian sebesar 80.89 % berada dalam kategori baik, aspek realisasi
lulusan dengan persentase pencapaian sebesar 85.41 % berada dalam kategori baik,
aspek pengukuran, analisis dan perbaikan sistem manajemen mutu dengan persentase
pencapaian sebesar 76.45 % berada dalam kategori baik serta aspek pelaksanaan sistem
manajemen mutu dengan persentase pencapaian sebesar 85.83 % berada dalam kategori
baik. Penelitian oleh Patna Sustiwi dengan judul “Keefektifan Penjaminan Mutu
Standar Proses Di SDN Kaliurang 2 Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman”. Penelitian
ini bertujuan untuk mengetahui seberapa efektif penjaminan mutu standar proses dalam
aspek perencanaan, pelaksanaan, penilaian, dan Kabupaten Sleman. Jenis penelitian ini
adalah penelitian evaluasi dengan model evaluasi kesenjangan. Unit analisis dalam
penelitian ini adalah SDN Kaliurang 2 Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman dengan
responden kepala sekolah, guru, dan siswa. Teknik pengumpulan data yang digunakan
adalah observasi, dokumentasi, dan wawancara dengan instrumen berupa lembar
observasi, ceklis, dan pedoman wawancara. Validitas istrumen menggunakan
pertimbangan ahli. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif. Hasil
penelitian ini menunjukkan: 1) perencanaan pembelajaran berada dalam kriteria sangat
efektif dengan capaian 85,24%, 2) pelaksanaan proses pembelajaran berada dalam
kriteria sangat efektif dengan capaian 88,67%, 3) penilaian pembelajaran berada dalam
kriteria efektif dengan capaian 75,29%, dan 4) pengawasan pembelajaran berada dalam
kriteria sangat efektif dengan capaian 85,06%. Secara umum, penjaminan mutu standar
proses di SDN Kaliurang 2 Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman termasuk dalam
kriteria sangat efektif dengan capaian 83,56%.

10
Penelitian selanjutnya oleh Musyafa’ Fathoni dengan judul “Peningkatan Kualitas
Pendidikan Melalui Sistem Penjaminan Mutu (Studi Multi Situs di SD Al Falah
Tropodo 2 Sidoarjo, SDIT Bina Insani Kediri, dan SDIT Al Hikmah Blitar)”. Penelitian
ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif tentang pemahaman
pengelola sekolah tentang sistem penjaminan mutu, yang meliputi pemahaman
pengelola sekolah tentang mutu, sekolah yang bermutu, dan pentingnya sistem
penjaminan mutu. Kedua, untuk mengungkapkan proses penetapan standar mutu yang
meliputi standar mutu yang diterapkan di masing-masing sekolah, cara pengelola
sekolah menetapkan standar mutu dan pengawasan proses pembelajaran di SDN
Kaliurang 2 Kecamatan Pakem, faktor-faktor yang menjadi dasar penetapan standar
mutu. Ketiga, untuk memberikan gambaran strategi sekolah dalam mencapai standar
mutu yang telah ditetapkan yang mencakup langkah-langkah sekolah untuk mencapai
standar mutu, masalah-masalah yang dihadapi dalam mencapai standar mutu dan cara
menyelesaikannya.

11
C. Kerangka Berfikir

Kerangka berfikir pada penelitian dimana sistem pembelajaran yang baru yaitu

sistem pembelajaran moving class yang menjadi syarat minimal dalam pelaksanaan

Sekolah Kategori Mandiri itu memiliki persyaratan sendiri yang telah dinyatakan oleh

Direktorat Pembinaan SMA. Syarat tersebut memilikiindikator dalam dalam bidang

kurikulum sekolah diantaranya; (1) kurikulum sekolah, (2) beban belajar, (3) kondisi

fisik sekolah dan (4) peraturan sekolah. Sedangkan indikator pelaksanaan moving class

diantaranya; (1) Perpindahan siswa, (2) Karakteristik ruang kelas, (3) fasilitas

pendukung, (4) interaksi belajar, (5) Pembelajaran. Kemudian persyaratan tersebut

ditetapkan di SMA yang berkategori mandiri. Pelaksanaan moving class tersebut apakah

sesuai dengan yang telah ditetapkan oleh Direktorat Pembinaan SMA atau tidak dalam

proses pembelajaran.

Penetapan Mutu

Penyusunan Rencana
Penetapan Standar Mutu
Pemenuhan

evaluasi/audit pelaksanaan pelaksanaan rencana


rencana pemenuhan

Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu


Pendidikan Di Sma Negeri 1 Deli Tua.

12
BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Lokasi Penelitian

Penelitian ini berlokasi di SMA N 1 Deli Tua. Di jalan Pendikan, Kabupaten Deli
Serdang Provinsi Sumatera Utara. Adapun penentuan lokasi ini didasarkan atas
pertimbangan sebagai berikut :Peneliti mengenal sebagian besar guru dan siswa-siawa
kelas X IIS.

B. Populasi Dan Sampel


a. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IIS, Madrasah Aliyah Negeri
Marenu. Yang berjmlah 67 orang yang terdiri dari 20 kelas XI (IIS1), 22 kelas (IIS2).
Dan 25 (IIS3). Untuk keperluan penelitian, maka di ambil 15 % dari jumlah populasi 67
orang siswa, maka sampelnya berjumlah 10 orang siswa yang di ambil secara acak.

C. Variabel Penelitian

Variabel dalam penelitian ini adalah Di dalam proses pembelajaran belum


menerapkan bagaimana pelaksanaan Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu
Pendidikan Di Sma Negeri 1 Deli Tua.
D. Definisi Operasional

Mutu merupakan kemampuan (ability) yang dimiliki oleh suatu produk atau jasa
yang dapat memenuhi kebutuhan atau harapan dan kepuasan pelanggan, dalam
pendidikan yang dimaksud dengan pelanggan dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu
internal customer (siswa atau mahasiswa sebagai pembelajar sekaligus input) dan
eksternal customer (masyarakat dan dunia industri). Nomi Pfeffer dan Anna Coote,
berdiskusi tentang mutu dalam jasa kesejahteraan, bahwa, “Mutu merupakan konsep
yang licin”.12 Mutu dapat dipandang sebagai sebuah konsep yang absolut sekaligus
relatif. Mutu dalam percakapan sehari-hari sebagian besar dipahami sebagai sesuatu
yang absolut, misalnya restoran yang mahal dan mobil-mobil yang mewah. Sebagai
suatu konsep yang absolut, mutu sama halnya dengan sifat baik, cantik, dan benar,
merupakan suatu idealisme yang tidak dapat dikompromikan.

13
E. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah:

1) Pengamatan (observasi)

Pengamatan adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan


pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadapa gejala dan fenomena yang ada
pada objek penelitian. Pengamatan dilakukan terhadap proses pembelajaran dengan
menggunakan sistem moving class. Pengamatan yang dilakukan adalah untuk
mendapatkan data tentang pelaksanaan Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu
Pendidikan Di Sma Negeri 1 Deli Tua pada mata pelajaran geografi.
Hal-hal yang dilakukan dalam pengamatan adalah selalu berusaha hadir di sekolah
saat proses pembelajaran berlangsung. Pengumpulan data dimulai dengan memusatkan
perhatian pada kegiatan pengamatan secara terus menerus yaitu mengamati berbagai
ragam aktivitas guru dan siswa dalam proses belajar mengajar mata pelajaran geografi.
Alat yang digunakan adalah lembar observasi yang sudah berisi tentang uraian-uraian
yang berkaitan dengan pelaksanaan Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu
Pendidikan Di Sma Negeri 1 Deli Tua.
2) Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan


cara tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya atau pewawancara dengan si
penjawab atau responden dengan menggunakan alat yang dinamakan paduan
wawancara. Wawancara yang dilakukan adalah untuk menggali informasi langsung
mengenai hambatan pelaksanaan moving Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu
Pendidikan Di Sma Negeri 1 Deli Tua.. Alat yang digunakan untuk melakukan kegiatan
wawancara antara lain: pedoman wawancara, tape recorder, dan buku catatan. Pedoman
wawancara digunakan agar data yang dikumpulkan tidak tercecer dan terlupakan.
3) Dokumentasi

Metode dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang
terdapat di lapangan. Metode dokumentasi dilakukan untuk memperoleh arsip-arsip
yang berupa data guru, data siswa kelas X IIS, Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu
Pendidikan Di Sma Negeri 1 Deli Tua.

14
dan foto-foto mengenai aktivitas guru maupun siswa dalam sekolah yang terkait
dengan penelitian.

G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik analisis data
adalah cara atau teknik yang digunakan untuk menganalisis data yang disesuaikan
dengan bentuk problematik dan jenis-jenis data. Teknik analisis data yang digunakan
adalah analisis deskriptif. Data yang diperoleh dari observasi dan wawancara. Observasi
ini berisi tentang Pelaksanaan moving class pada mata pelajaran geografi. Sedangkan
wawancara berisi hambatan-hambatan pelaksanaan moving class di Madrasah Aliyah
Negeri Marenu yang sudah berlangsung. Data yang sudah terkumpul kemudian
diklasifikasikan menjadi 2 dua kelompok data yaitu data kuantitatif yang berbentuk
angka-angka dan data kualitatif yang dinyatakan dalam kata-kata. Data kualitatif yang
berbentuk kata-kata disisihkan untuk sementara, karena akan sangat berguna untuk
menyertai dan melengkapi gambaran yang diperoleh dari analisis data kuantitatif

Data yang berupa angka-angka tersebut kemudian diolah dengan menggunakan


analisis data penelitian deskriptif persentase. Analisis data yang digunakan diharapkan
dapat dijadikan alat dalam pengambilan kesimpulan. Dimana hasil analisis ini bertujuan
untuk membuat penggambaran tentang sesuatu keadaan secara obyektif dalam suatu
deskripsi situasi. Untuk menganalisis hambatan-hambatan pelaksanaan moving classs
menggunakan lembar wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang akan ditujukan
kepada narasumber yaitu guru dan siswa kemudian diambil kesimpulan terhadap segala
bentuk jawaban yang ada, untuk menganalisis hambatan pelaksanaan moving class oleh
siswa menggunakan deskriptif persentase sehingga didapatkan sejauhmana tingkat
persentase dari masingmasing indikator pada hambatan-hambatan pelaksanaan moving
class yang dialami oleh siswa.

15
DAFTAR PUSTAKA

Danny Meirawan. 2010, Menjaminan Mutu Satuan Pendidikan Sebagai Upaya


Pengendalian Mutu Pendidikan Secara Nasional dalam Otonomi Pendidikan

Khoirul anwar, 2018. Penjaminan Mutu Pendidikan Dalam Meningkatkan Mutu


Pendidikan Di Madrasah

Sri Rohmatul Fajriani,. 2108. Pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan,.


Ponorogo

Rohmad Sodiq,. 2017,. Evaluasi Penjaminan Mutu Pendidikan,. Universitas Negeri


Yogyakarta

16