Anda di halaman 1dari 55

"Kiu Im Pek Kut Jiauw"

(Lanjutan Dari Kisah Membunuh Naga / It Thian Kiam To Liong To)

Jilid ke 1

Bunga ditelaga berwarna putih.


Teratai dan burung Hian selalu saling bertentangan tempat beradanya.
Kesatria menang melawan penjajah.
Rakyat tersenyum bahagia.
Bayi menangis lincah dan bebas.
Tanah yang gersang memerah kembali.
Pohon2 tumbuh dengan daunnya yang rindang subur.
Semua tersenyum, sambil berseru, “Bebas!”
Dan para pahlawan, kembali kerumah masing2…

Dengan berhasilnya diusir penjajah Mongolia dan diangkatnya Cu Goan Ciang menjadi Kaisar.
pendiri utama dari kerajaan Beng-tiauw. maka mulai saat itulah pulih kembali kemerdekaan
rakyat untuk bernegara, walau dibawah pimpinan seorang Kaisar yang tidak begitu disenangi
rakyat, sebab Kaisar Cu Goan Ciang memiliki sifat2 yang terlalu licin dan licik.
Jika saja Cu Goan Ciang tidak menjalani tipu muslihatnya yang sangat berhasil memperalat
kedua orang perwira tinggi Siang It Cun dan Cie Tat, pasti bekas Kauwcu Beng-kauw Thio Bu
Kie yang akan naik tahta menjadi Kaisar.
Memang perbuatan yang pernah dilakukan o leh Cu Goan Ciang untuk "mengadu domba"
antara Thio Bu Kie dengan kedua perwira Siang It Cun dan Cie Tat sehingga timbul salah
paham di antara mereka itu tidak ada yang mengetahui, namun akhirnya tetap saja persoalan
itu akan tersiar juga dan bocor, karena tak mungkin asap tidak dapat menerobos keluar,
walaupun ditutup seribu lapis kain tebal.
Berita itulah yang telah membuat panglima panglima Cu Goan Ciang yang setia dan patuh
terhadap perintah2nya. mulai ragu untuk meneruskan pergabdian mereka. Dan jika sampai
sekarang mereka belum mengundurkan diri, hal ini disebabkan saat Itu kedudukan Cu Goan
Ciang semakin kuat saja, yang telah berhasil mementangkan sayap dan memiliki orang2 pandai
yang dibelinya dengan berbagai jalan.
Disamping itu Cu Goan Ciang pun seorang yang memiliki kecerdikan yang luar biasa, berbagai
usaha telah dijalaninya untuk memperkuat kedudukannya, disamping itupun untuk menarik
simpati rakyatnya, sengaja Cu Goan Ciang telah mengumumkan kepada rakyat nya, agar ikut
membantunya mencari makam kedua orang tuanya, karena disaat kedua orang tuanya itu
meninggal keadaan dalam negeri sangat kacau.
Cu Goan Ciang tidak mengetahui dimana kedua orang tuanya itu dikubur, hanya menyebutkan
bahwa kedua orang tuanya itu meninggal dikampung Ban-siu-cung, diluar kota Man liang-kwan.
Begitu kedua kuburan orang tua Cu Goan Ciang berhasil ditemukan, maka Cu Goan Ciang
mengajak rakyat setempat membersihkan daerah pekuburan itu guna melakukan sembahyang
besar kepada arwah kedua orang tuanya itu
(sejak saat itulah timbul kepercayaan bersembahyang kekuburan saat diharian Geng-beng
merupakaan kebaikan dan menunjukan bakti kepada kedua orang tuanya, kejadian itu lama-
lama menjadi tradisi masyarakat untuk membersihkan kuburan, juga menyebar Yuen ce (kertas
perak) diharian Geng-Beng
Peperangan telah usai, musuh penjajah telah berhasil diusir dari daratan Tionggoan, dan kini
Cu Goan Ciang berhasil duduk megah di singgasana sebagai seorang Kaisar dengan gelar
kebesarannya Beng Taicouw Cu Goan Ciang.
Selain itu banyak usaha2 yang dilakukannya antara lain , membebaskan rakyat dari beban
pajak selama tiga puluh tahun menghapuskan segala macam peraturan peraturan yang bisa
memberatkan rakyat, dan juga setiap tahun memberikan derma dan sumbangan kepada rakyat

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 1 dari 55


jelata yang hidup dalam kemiskinan. Maka cepat sekali Cu Goan Ciang telah memperoleh
simpati dari kalangan rakyat nya, dan kekuasaannya semakin kuat dan kukuh.
Maka walaupun banyak panglimanya yang semula merasa tidak senang kepada Kaisarnya ini,
tidak ada seorangpun yang berani terus terang menyatakan ketidak senangan hati mereka.
Disisi lain Yo Siauw, yang telah berusia lanjut, yang menggantikan kedudukan Thio Bu Kie
sebagai Kauwcu Beng-kauw, tidak memiliki kesempatan saling rebut kedudukan Kaisar, maka
memimpin anggota2 Beng kauw untuk hidup mandiri saja, tanpa mencari lagi urusan2
pemerintahan.
Karena pandai mengatur pemerintahan kerajaannya, justru Cu Goan Ciang telah berhasil
mencapai jaman keemasannya, gimana dinasti Beng-tiauw merupakan dinasti yang sangat kuat
sewaktu berada dalam genggaman telapak tangan Cu Goan Ciang...
Dibawah turunnya bunga2 salju itu dilamping sebelah selatan dari gunung Thian-san tampak
dua orang penunggang kuda. Mereka melarikan kuda mereka dengan keras, hingga salju2
bertebaran tersepak oleh kaki2 binatang tunggangan tersebut.
Tampaknya kedua orang penunggang kuda itu tidak mengacuhkan salju yang turun cukup
deras saat itu, mereka juga tidak memperdulikan tubuh dan pakaian mereka yang mulai
diselimuti oleh lapisan salju, oleh karena tampak nya kedua penunggang kuda ini memiliki
urusan yang sangat penting.
Tetapi waktu tiba disebuah tikungan yang agak curam disamping gunung itu, salah seorang
penunggang kuda itu, yang mempergunakan kuda berbulu putih, telah terjungkal jatuh keatas
tumpukan salju dari atas kudanya dan dari mulut nya terdengar suara keluhan perlahan
Kawan yang menunggang kuda berbulu kelabu, jadi terkejut, dia mengeluarkan suara jeritan
tertahan kemudian menarik tali les kuda nya, dan menghentikan larinya binatang tungangan
tersebut.
Dia melompat turun dan berjongkok disamping kawannya.
"Giemoay." katanya dengan suara mengandung kekuatiran. Dia memanggil sahabatnya itu
dengan panggilan "giemoay" adik angkat perempuan, dan diapun seorang wanita yang tidak
begitu jelas terlihat wajahnya karena memakai jala penutup mukanya ,dan hanya tubuhnya
yang langsing dan elok itu menunjukan dia seorang gadis yang cantik tentunya.
"apakah lukamu kumat kembali?"
Gadis yang dipanggil "Giemoay" bersila untuk mengatur jalan pernapasannya.
"Kita sudah mencapai tempat ini berarti tujuan kita sudah tidak jauh lagi" kata gadis yang tadi
menunggang kuda berbulu kelabu itu.
"Kau harus berusaha menahan lukamu agar kita bisa mencapai tempat tujuan"
Tetapi Giemoay itu tidak menyahuti, dia hanya mengeluh perlahan. Kemudian disingkapnya
pula penutup mukanya, tampak seraut wajah yang sangat cantik dari seorang gadis berusia
delapan belas tahun dengan pipi yang pucat pasi.
"Ciecie (kakak), pergilah kau melanjutkan perjalananmu, kukira aku sudah tidak kuat untuk
meneruskan perjalanan ini, lukaku sudah semakin parah! Yang terpenting, engkau harus be
rusaha menyelamatkan dirimu! Jika engkau dapat tertolong, itupun sudah lebih dari cukup, aku
bisa mati dengan mata terpejam karena sakit hati kita pasti akan terbalas---"
"Jangan berkata begitu, Giemoay?" berkata sang enci itu sambil mengulurkan jari tangannya
menutup bibir Giemoay-nya,
"Biarlah aku membawamu dikudaku."
"Kudamu pun sudah letih, mungkin jika engkau seorang diri binatang tunggangan itu masih
sanggup mencapai tempat tujuan kita berdua? Ohhh, kita berdua justeru yang akan celaka, jiKa
kuda itu sudah tidak sanggup lagi membawamu menemui "dia" tentu disamping aku tidak
tertolong, engkaupun akan mati, berarti akan menelantarkan urusan besar...."

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 2 dari 55


Sang enci itu telah menghela napas dalam2 kemudian tanpa mengucapkan kata2 lagi, dia me
ngangkat tubuh Giemoay-nya itu, dia melompat ringan keatas kudanya, dimana tubuh Giemoay
nya diletakkan dimuka pelananya, dengan pahanya dia menjepit paha Giemoaynya sehingga
dia tidak perlu kuatir Giemoaynya itu akan terjatuh dari kuda.
Sedangkan tangan kirinya dipergunakan untuk memegang tali les kuda berbulu putih
tunggangan Giemoaynya itu, sehingga waktu kuda berbulu kelabu itu mulai melangkah berlari
maka kuda berbulu putih itupun telah mengikuti dari belakang.
Tetapi baru saja kuda itu berlari beberapa langkah tiba2 dari arah belakang mereka menyambar
dua titik sinar kuning, yang menyambit kepaha kuda warna kelabu, sehingga kuda itu terjangkit
dan tersentak kaget sambil mengangkat kaki depannya mengeluarkan suara ringkikan yang
sangat nyaring sekali.
Tentu saja peristiwa yang tidak terduga sebelumnya oleh kedua gadis itu, telah membuat
mcreka kaget tidak kepalang. Untuk melompat turun jelas sudah tidak bisa karena Giemoay Itu
tengah dijepitnya, maka waktu kuda tungangannya itu meringkik dengan kedua kaki depan nya
diangkat keatas, seketika itu juga tubuh ke dua gadis itu terlempar jatuh keatas tumpukan salju
dari atas kuda tersebut.
Kuda putih yang semula mengikuti dari belakang, jadi kaget waktu tubuh kedua gadis itu
terlempar dan terbanting didekat kakinya, dimana salju telah bertebaran. dengan mengeluarkan
suara ringkikan yang keras kuda putih itu telah mengangkatkan kepalanya, maka terlepaslah
tali itu dari cekalan sigadis, dan dengan cepat dia berlari mengikuti kuda warna kelabu itu.
meninggalkan kedua gadis tersebut.
Jala yang menutupi muka sang encie itu telah terlempar terbuka, terlepas dari balutan ikat
kepalanya sehingga terlihat jelas wajahnya yang sangat cantik, berusia diantara dua puluh
tahun. Matanya cemerlang indah sekali, hidungnya mancung, dan juga bibirnya kecil mungil
sangat manis.
Si Giemoay yang tampaknya telah terluka cukup parah keadaannya, tidak bisa melakukan
sesuatu, dia hanya mengeluh merintih sakit Sedangkan sang encie telah melompat berdiri
memutar tubuhnya dengan gusar karena dia nyadari ada seseorang yang mempermainkan
mereka.
Dari balik gerombolan pohon tampak keluar lelaki tua kurus kering dengan pakaian
compang-camping, walaupun bahan masih baru. Rambutnya kusut tidak keruan, tidak teratur.
"Hehe, hehe. sayang sekali kuda yang bagus itu dapat melarikan diri ..sayang..Sayang
dan dia memperhatikan kuda berbulu kelabu yang telah berlari jauh sekali
"Siapa kau? Mengapa tangannu begitu usil menyerang secara gelap kuda tungganga kami ?"
tegur sigadis yang menjadi encie si Giemoay.
"Sungguh seorang gadis berandalan yang tidak tahu adat ! Jika aku menjadi ayahmu, tentu
akan kupukul dengan rotan pantatmu itu sepuluh kali.. bisa berkata begitu pada orang tua
seperti diriku"
Muka sigadis yang menjadi encie itu berobah merah, dia malu berbareng murka sekali, dengan
mengeluarkan suara bentakan ya sangat bengis telah berkata
"kami tidak saling kenal dengan kau, tetapi engkau telah mengganggu kami ! Aku, Hok Cie Lan
akan mengadu jiwa denganmu.....!" dan berberang terdengar suara "sraangg....!, karena sigadis
telah mencabut pedang yang tergantung dipinggangnya, tetapi gadis ini tidak berani
sembarangan melancarkan serangan sebab dia mengetahui sipengemis tua tentu seorang
tokoh persilatan yang memiliki kepandaian sangat tinggi.
Sipengemis tidak mengacuhkan sikap Hok Cie Lan yang telah mencabut pedangnya itu, dia
tertawa, kemudian dengan tenang dia melangkab menghampiri.
"Pinjami pedangmu itu kepadaku...!" kata pengemis tua itu. "Aku ingin melihatnya....!
"sebilah pedang yang bagus sekali !" dan tahu2 jari tangannya telah menjepit pedang sigadis,
lalu tangan kirinya bergerak menotok pergelangan tangan Hok Cie Lan, dan pedang itu telah
pindah tangan tercekal ditangan sipengemis.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 3 dari 55


itulah cara merampas senjata tajam yang liehay sekali, membuat Hok Cie Lan berseruan
tertahan dengan muka yang berubah pucat.
"Pedang yang bagus! Pedang yang bagus!" kata pengemis tua itu berulang kali sambil
membolak-balikkan pedang rampasannya itu ditangannya
Gadis yang menjadi Giemoay, telah melihat apa yang dialami oleh Hok Cie Lan, dia jadi
berkuatir sekali, tetapi dia sedang terluka. Dengan suara perlahan dia memangil agar Hok Cie
Lan mendekat kepadanya. Cepat2 dihampirinya Giemoaynya itu dan jongkok disampingnya.
"Apakah lukamu kumat lagi. Giemoay ?" tanyanya dengan kekuatiran yang sangat.
"Jangan layani pengemis tua itu......dia itu adalah paman gurunya Cie Lang Uh, musuh kita
itu"menjelaskan sang Giemoay.
Muka Hok Cie Lan jadi berubah cepat. Menghadapi Cie Lang Uh saja mereka tidak sanggup,
bahkan mereka berdua telah berhasil dilukai, maka kini dalam keadaan terluka demikian
bagaimana mungkin mereka bisa menghadapi paman gurunya Cie Lang Uh, pengemis tua itu,
yang tampaknya memiliki kepandaian yang luar biasa tingginya
Sipengemis tua setelah selesai memperhatikan pedang itu, dia mengeluarkan suara siulan yang
sangat panjang. sambil menyentil dengan jari telunjuknya.
Hebat kesudahannya, pedang itu mengaung mengeluarkan suara yang nyaring, kemudian
terpental dan menyambar kebatang pohon yang besar, yang berada disebelah kanan
sipengemis, menancap dalam sekali.
"kalian yang bernama Hok Cie Lan dan Lam Ie Lie bukan ?" tegas sipengemis dengan muka
berobah bengis, dimana senyumannya Tadi telah lenyap dari wajahnya.
"Benar ?" mengangguk Hok Cie Lan dengan berani dia telah bertekad untuk mengadu jiwa
dengan pengemis tua itu
"Engkau pengemis merupakan golongan tua, tidak malu engkau menghina kami dari golongan
muda lagi kami dalam keakaan terluka seperti ini"
Memang Hok Cie Lan telah nekad sekali, dia berpikir paling tidak dia bersama Giemoaynya
akan mati ditangan pengemis tua itu, sebab mereka sudah tidak kesempatan untuk melarikan
diri. Tetapi Hok Cie Lan tidak mau memperlihatkan kelemahannya, sama sekali dia tidak mau
memperlihatkan perasaan takut diwajahnya
"Jika engkau mencelakai kami, memang kami tidak bisa berbuat apa2 kepadamu, tetapi para
orang gagah dalam kalangan Kangouw tentu akan mentertawaimu...dan mereka akan
mengepungmu, untuk membela keadilan!"
"Hehehe," sipengemis tua telah memperdengarkan suara tertawanya yang tidak sedap
didengar.
"aku Ciang Pie Kay tidak pernah takut apapun juga, walaupun seluruh orang2 memusuhi diriku,
akupun tidak takut Terlebih ditempat ini sangat sepi,tentu tidak ada seorangpun mengetahui
bagaimana para Hohan (orang rimba persilatan) mengetahui hal ini ?".
menanggapi begitu, Hok Cie Lan jadi terkejut bukan main. dia telah mundur satu langkah
kebelakang, lebih dekat dengan Giemoaynya.
"Tampaknya kita sulit lolos dari tangannya" kata sang Giemoay dengan suara sangat lemah.
"buka pakaianmu ! Seluruhnya !" bentak pengemis tua itu dengan suara yang bengis dan
matanya memancarkan sinar yang sangat aneh sekali, sinar yang sangat menakutkan.
Hok Cie Lan dan adik angkatnya itu gemetar kaget dan ketakutan. Segera mereka
menyadari bahwa pengemis tua itu merupakan Seorang pengemis Cabul sama seperti
keponakan muridnya yang bernama Cie Lang Uh.
Hok Cie Lan sudah tidak bisa menahan hawa amarah yang bergolak didalam hatinya, dengan
mengeluarkan suara bentakan nekad, dia telah menjejakkan kedua kakinya, tubuhnya telah
melompat menerjang kearah pengemis tua itu.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 4 dari 55


Gerakan yang dilakukannya itu sangat cepat sekali, sambil mempergunakan kesempatan disaat
tubuhnya tengah melayang diudara, kedua tangannya telah digerakkan, dia telah melancar kan
serangan untuk mengadu jiwa dengan pengemis tua itu, maka bisa dibayangkan betapa
hebatnya tenaga serangan itu,
tapi pangemis tua itu, Ciang Pie Kay tidak kaget atau gugup, dengan suara tertawa dingin
pergelangan tangan Hok Cie Lan ditangkis oleh kibasan tangan nya itu, maka seketika itu juga
Hok Cie Lan mengeluarkan suara jeritan tertahan dan tubuhnya melayang diudara dan terpental
terbanting diatas tumpukan salju jalan itu.
Rupanya tadi waktu serangan Hok Cie Lan hampir tiba, dia merasakan tangkisan pengemis
bagaikan memiliki kekuatan menolak ribuan kati membuat tubuhnya menjadi terpental.
Sebenarnya Hok Cie Lan tidak lemah kepandaiannya namun walaupun bagaimana
kepandaiannya
masih terpaut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan kepandaian sipengemis tua itu,
sipengemis tersabut telah tertawa terkekeh-kekeh lagi.
"Jika aku ingin mebinasakanmu sama mudahnya dengan membalikan telapak tangan.
Hanya mengerahkan sedikit tenaga saja, maka engkau akan segera dapat kubinasa kan! Atau
engkau menghendaki aku yang membukai pakaianmu itu? Mudah sekali aku dapat
melakukannya, hanya menotok jalan darahmu, maka aku bisa melakukan segalanya dengan
leluasa . . . !"
Muka Hok Cie Lan dan Giemoaynya jadi berubah pucat, mereka menyadari bahwa bahaya
tengah mengancam jiwa mereka, keselamatan jiwa dan kesucian diri mereka. Jika menghadapi
kematian mungkin mereka tidak akan setakut seperti sekarang ini, justeru kini mereka tengah
berhadapan dengan seorang manusia liar seperti Ciang Pie Kay.
Mata Hok Cie Lan memandang kesekelilingnya, mengharap kalau saja disekitar tempat itu ada
seseorang yang lewat untuk dimintai pertolongan. tetapi jangankan seorang manusia, seekor
binatangpun tidak terlihat, hanya tampak bunga2 salju yang turun deras sehingga segala apa
yang dilihatnya berwarna putih
Perasaan kuatir dan takut mulai merayapi hati kedua gadis itu
Pengemis tua yang mengaku bernama Ciang Pie Kay telah mengeluarkan suara terkekeh dia
melangkah perlahan2 dengan sikap yang mengancam.
"Baiklah, rupanya engkau menghendaki aku yang membuka sendiri pakaianmu itu,...hehehe
tidak percuma aku melakukan pengejaran terhadap kalian berdua karena kalian memang dua
orang gadis yang cantik2, dalam udara yang dingin seperti ini alangkah menghiburkan sekali
bisa..."
Tetapi belum juga pengemis tua itu menyelesaikan perkataannya, tiba2 telah terdengar
bentakan yang dingin dari arah sebelah kanannya
"Ciang Pie Kay .... ! Jangan mengganggu gadis yang tidak berdaya itu !"
sipengemis tampaknya jadi terkejut sekali, karena dia memiliki kepandaian yang tinggi, dan
pendengaran yang sangat tajam, tetapi dia tidak mengetahui kedatangan orang yang
menegurnya itu yang tiba2 saja telah berada dibelakangnya maka segera dia bisa menarik
kesimpulan bahwa orang yang menegurnya adalah seseorang yang memiliki kepandaian
sangat tinggi sekali.
Dengan mata memancarkan sinar yang sangat gusar, karena menganggap dia digangu
matanya mengawasi kearah sesosok tubuh yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berada.
seorang Niekouw, pendeta wanita, yang mengenakan pakaian kependetaannya, dengan hudtim
berbulu kuning keemas2an, berdiri dengan sorot mata memancarkan kegusaran mendatangi
pengemis tua itu.
"Ciu Cie Jiak !" berseru penggemjs tua itu karena dia mengenali Niekouw itu yang membuatnya
jadi terkejut itu.
Niekouw itu tersenyum mengejek, kemudian telah berkata dengan suara yang dingin
"Ciu Cie Jiak telah lama meninggal yang berada didepanmu kini adalah seorang Niekauw
berjuluk Ceng Thian Sienie"

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 5 dari 55


Orang itu memang Ciu Cie Jiak adanya, tubuh Ciang Pie Kay gemetar sedikit, hatinya gentar.
Tetapi dia tak mau memperlihatkan kelemahannya.
"sejak dulu sampai sekarang, kita merupakan golongan yang memiliki jalan masing..!" kata
Ciang Pie Kay kemudian dengan suara keras, untuk menutupi kegugupan
"Kita tidak saling ganggu dan tidak saling mencampuri.. mengapa hari ini engkau ingin
mencampuri urusanku?".
Ciu Cie Jiak, bekas Ciangbujin Go Bie Pay itu, yang kini telah bergelar Ceng Thian Sienie, telah
tertawa mengejek.
"Urusanmu ? Mencampuri urusanmu ? Ohh begitu sedap didengar ! Hendak memperkosa gadis
bukanlah sebuah urusan yang terpuji Siapa saja boleh mencampurinya"
"tetapi kedua gadis itu terlalu kurang ajar dia telah menyalahi keponakan muridku, dan tentunya
dia akan membusuk2kan nama baik kePonakan muridku itu Berarti, antara kami memang
terdapat ganjalan permusuhan ! Bukankah dalam kalangan Kang-ouw terdapat peraturan,
setiap urusan balas membalas sakit hati tIdak boleh dicampuri orang luar
Mengapa tidak mengindahkan pantangan itu ?".
"Sebagai seorang pengikut sang Buddha, tidak dapat Pienie (aku) manyaksikan perbuatan
murtad dan kurang ajar seperti yang kau lakukan dan keponakan muridmupun telah kukirim ke
Giamlo-ong-terlebih dulu-!". Setelah berkata begitu, tangan Ceng Thian Sienie bergerak,
tampak sebuah benda bulat hitam menggelinding jatuh diatas tumpukan salju. Waktu dapat
melihat jelas, Ciang Pi Kay mengeluarkan seruan kaget, mukanya sampai pucat, karena benda
bulat hitam itu tidak lain batok kepala Cie Lang Uh, batok kepala keponakan muridnya.
"Kau?" suara Ciang Pie Kay gemetar karena gusar, kaget dan takut bercampur menjadi satu
"Dan manusia jahat seperti engkaupun harus dibasmi, untuk menghindarkan kaum wanita yang
lemah dari tindasanmu, pengemis cabul"
Setelah berkata begitu, Ceng Thian Sienie memperlihatkan wajah yang angker dan gagah,
telah membentak lagi
"Bersiap2lah untuk menerima kematian.."
Muka Ciang Pie Kay jadi berobah padam gelap sekali, karena dia sangat gusar sekali.
Hok Cie Lan dan Giemoaynya jadi girang atas munculnya Ceng Thian Sienie, justeru
kedatangan mereka ke Thian san adalah untuk memohon pertolongan niekouw ini, bekas
Cianbunjin Go Bie Pay, agar mau mengobati luka didalam tubuh mereka. Telah lama Hok Cie
Lan dan Giemoaynya mendengar perihal Ciu Cie Jiak yang telah hidup mengasingkan diri,
menguncikan diri deogan mencukur rambut menjauhi keduniawian dan menyendiri
dipegunungan Thian-san,
Tidak di sangka2 justeru disaat mereka encie dan adik angkat tengah mengalami bahaya yang
tidak kecil, justeru penolong tersebut, adalah orang yang memang mereka cari.
dengan memayang Giemoay-nya, Hok Cie Lan menyingkir kepinggir. karena dia mengetahui
akan terjadi pertempuran antara Ciang Pie Kay dengan Ceng Thian Sienie.
Ciang Pie Kay telah mengeluarkan suara tertawa dingin tahu2 dia telah menggeluarkan
sebuah kipas yang kemudian digerak2an
"Siut” mengeluarkan suara yang nyaring, ketika kipas itu telah terbuka melebar dan
langsung menyambar kemuka.
Ceng Thian Sienie itu tidak terkejut atau bingung menghadapi serangan yang agak aneh itu, dia
mengeluarkan suara dengusan dari hidung. dengan cepat sekali dia telah menggerakan tangan
kanannya, tahu2 Hudtimnya telah menghantam kipas itu membarengi tangan kirinya menyentil
Perlahan sekali tetapi hebat kesudahannya karena Ciang Pie Kay merasakan seperti ada
serangkum angin serangan yang mengandung kekuatan yang sangat hebat menerjang kearah
dadanya. Pengemis tua, itu berusaha mengerahkan semangat nya, menangkis dengan
mempergunakan tenaga iwekangnya, tetapi dorongan yang merupakan gempuran hebat itu
tidak sanggup dibendungnya.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 6 dari 55


"Bukkk, beledikkk" tubuh pengemis tua itu telah tergempur terjangan angin sentilan jari tangan
Ceng Thian Sienie, tubuhnya terpelanting enam tombak jauhnya. Muka sipengemis tua itu jadi
berobah pucat dan dia sangat kesakitan. Memang sejak munculnya Ceng Thian Sienie, dia
sudah ketakutan sekali, maka begitu dia terbanting oleh sentilan jari tangan Siente, tanpa
menoleh lagi dia bangkit dan melarikan diri.
Ceng Thian Sienie hanya menghela naas, dia tidak, mengejarnya
Disaat itu, Hok Cie Lan dan Giemoay-nya telah menghampiri Ceng Thian Sienie.
"terimakasih atas bantuan dan pertolongannya" kata Hok Cie Lan. "Dan maaf Lam Ie Lie tidak
bisa bangun karena dia tengah terluka parah"
Ceng Thian Sienie telah mengangguk lalu katanya "Dia terluka cukup parah"
sambil berkata begitu, Ceng Thian Sienie merogoh saku jubahnya mengeluarkan botol
berwarna abu2, dia menuang tiga butir lalu dimasukan kedalam mulut Lam Ie Lie
katanya "Telanlah, ini ramuan obat kubuat sendiri, meskipun tidak langsung menyembuhkan
tetapi dapat membantu untuk meringankan luka didalam"
Lam Ie Lie merasakan pil itu sangat harum halus dia menelannya dan mengucapkan
terimakasih.
"Mengapa kalian bisa bentrok dengan Ciang Pie kay ?" tanya Ceng Thian Sienie
"Kami semula bermusuhan dengan Cie Lang Uh, keponakan muridnya, yang pernah ingin
memperkosa kami. Pemuda cabul itu berhasil kami lukai, tetapi tidak lama kemudian dia
membawa kawan2nya mengeroyok kami, untung saja kami bisa melarikan diri. tetapi tidak
diduga kami juga telah dikejar paman gurunya itu, sipengemis tua cabul itu...untung ada Sinie
yang lah memberikan bantuan kepada kami, jika tidak..entah apa yang akan terjadi!?”
Ceng Thian Sienie menghela napas dalam wajahnya berobah muram.
"walaupun dia bisa meloloskan diri tetapi seranganku telah menghancurkan sebagian tenaga
murninya, dan dia akan kehilangan sebagian besar ilmu silatnya Sedangkan keponakannya,
Cie Lang Uh telah kubinasakan, karena kebetulan dikaki gunung Thian san kupergoki dia
tengah bermaksud memperkosa seorang gadis penduduk kampung disitu
setelah berkata begitu, Ceng Thian Sienie memasukkan Hudtim itu diikat pinggangnya.
"Siapakah guru kalian ? Dan dari pintu perguruan manakah kalian ?" tanya Ceng Thian Sienie
"Kami berasal dari pintu perguruan Kui-in di Kang-souw,...!" menjelaskan kedua gadis
„Hemm ,.. ternyata dari Kang-Souw" kata Ceng Thian Sienie sambil mengangguk. Memang
sebenarnya Ceng Thian Sie pernah mendengar nama perguruan silat itu, sebagai pintu
perguruan silat yang kecil, namun murid2 dari partai itu umumnya memiliki kepandaian yang
lumayan.
"Sesungguhnya Sinnie, kami tengah melakukan perjalanan bermaksud...untuk berguru dengan
sinnie..".
Ceng Thian sinnie tampak tersenyum
"Sayang sekali, sejak aku melepaskan kedudukan Ciangbujin Go Bie Pay, aku sudah tidak
berhasrat menerima murid lagi Tetapi melihat kalian terluka, biarlah kalian ikut bersamaku untuk
satu bulan lamanya guna menyembuhkan luka2 kalian dan sambil menantikan kesembuhan
kalian akupun akan menurunkan satu atau dua jurus ilmu silat pedang Go Bie Kiam Hoat
Hok Cie Lan dan Lam Ie Lie jadi girang sekali mereka menyatakan terima kasih yang tidak
terhingga. Dengan menggendong Lam Ie Lie, Hok Cie Lan mengikuti bekas Ciangbunjin Go Bie
Pay itu meninggalkan tempat tersebut ....
--- demonking ---
Tempat Ceng Thian Sinnie berada didalam lembah yang tak begitu Iuas. sebuah goa yang
cukup besar telah dirobah menjadi kamar dan "rumah" yang cukup nyaman. semua perabotan
yang terdapat didalam goa itu terbuat dari kayu dan terbuat secara sederhana.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 7 dari 55


Selama satu bulan Hok Cie Lan dan Lam Ie Lie berdiam bersama Ceng thian Sinnie
mereka menerima banyak petunjuk dari Ceng Thian Sinnie dalam ilmu pedang dan ilmu
pukulan sehingga kedua gadis itu memperoleh kemajuan sangan sangat pesat sekali
Pagi hari itu, disaat sarapan pagi, dari arah luar goa itu terdengar suara siulan yang panjang
sekali bukan main suara siulan itu, Ceng Thian Sienie mengerutkan sepasang alisnya, muka
berobah, karena sebagai seorang yang memilki kepandaian tinggi, dia dapat merasakan bahwa
orang yang bersiul itu memiliki iwekang yang sangat tinggi sekali.
"siapakah orang itu?" berpikir Ceng Thian Sinnie didalam hatinya, diapun telah memberi isyarat
kepada Lam Ie Lie dan Hok Cie Lan agar tidak bersuara.
terdengar suara Cepppp ! yang keras sekali menancapnya sesuatu ditumpukan salju muka
goanya.
Cepat2 Ceng Thian Sienie telah keluar goa itu, diikuti oleh Hok Cie Lan dan Lam Ie Lie
Mereka melihat sebatang bendera segi tiga telah menancap diatas tumpukan salju. ditengah2
bendera itu terdapat sulaman.
Hati Ceng Thian Sienie jadi terkejut sekali karena dia mengetahui bahwa bendera itu
merupakan bendera tanda kebesaran Beng-kauw
"Ternyata tokoh dari Beng-kauw..." Serunya kemudian
suara siulan panjang kembali terdengar bersusul2 disertai dengan suara tertawa yang nyaring
sekali, panjang menggema
Tidak berselang lama tampak beberapa sosok tubuh telah berlari2 mendatangi dengan cepat
sekali. Keadaan disekitar tempat itu licin karena terbungkus salju, tetapi sosok2 tubuh itu dapat
berlari dengan cepat sekali. itu telah membuktikan bahwa ilmu meringankan tubuh orang
tersebut sangat sempurna sekali.
Dan dalam sekejap mata saja sosok2 itu telah berada dihadapan Ceng Thian Sinnie.
"tamu2" itu tidak lain adalah Yo Siauw dengan diiringi beherapa tokoh Beng-kauw, yaitu Hoan
Yauw, Wie It Siauw dan beberapa tokoh lainnya.
Muka mereka tampak muram waktu berhadapan dengan Ceng Thian Sienie.
Hok Cie Lan dan Lam Ie Lie dari golongan muda, jadi terkejut dan girang melihat tokoh2 Beng-
kauw ini. Mereka telah lama dengar nama besar Beng-kauw, sedang Cu Goan Ciang
memenangkan peperangan dan menjadi Kaisar adalah atas bantuan dari Beng Kauw dan siapa
tahu kini mereka berhadapan dengan beberapa orang tokoh2 Beng-kauw itu.
"Nona Cie Jiak, engkau telah hidup mensuci kan diri dan mencukur rambut, tetapi nyatanya
engkau masih melakukan berbagai perbuatan yang tidak terpuji, yang benar2 kami tak duga !
Lihat .."
Ceng Thian Sinnie mengawasi benda yang berada ditangan Yok Siauw, dia menyambutnya
waktu melihat benda itu adalah segulung surat
"Bacalah !" kata Yo Stauw. "Engkau akan paham apa maksud kedatangan kami ketempatmu !"
Hati Ceng Thian Sienie segera tergetar merasakan adanya sesuatu peristiwa yang tidak
menggembirakan telah terjadi. karena disamping Yo Siauw bicara dengan muka yang muram
nada suaranya juga terdengar demikian kasar.
Surat itu ternyata sepucuk surat yang tidak panjang bunyinya, antara lain isinya
"Beng Kauw yang jaya... Perjuangan kalian telah berhasil, Cu Goan yang berada dibawah panji
Beng kauw telah berhasil menjadi Kaisar. Tetapi urusanku dengan pihak Beng-kauw masih juga
belum dapat diselesaikan. Dengan ini aku mengirimkan hadiah untuk kalian, tiga batok kepala
dari tiga orang anggota Beng-kauw yang telah merasakan kehebatan Kiu Im Pek Kut Jiauw....
harap diterima dengan baik!"
'Dari Ciu Cie Jiak'.
Ceng Thian Sienie jadi berobah guram segera dia menyadari ada seseorang yang ingin
merusak nama baiknya. Siapa yang telah memalsukan tulisan nya? yang setiap tarikan dan

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 8 dari 55


goresannya sama dengan tulisannya.
"Ini......bukan ditulis olehku !" kata Ciu Cie Jiak.
"Kami tidak ingin mengetahui apakah ditulis olehmu ataupun bukan, tetapi yang jelas engkau
yang melakukan pembunuhan terhadap ketiga orang anggota Beng kauw dengan
mempergunakan ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw !" kata Yo Siauw dengan suara yang dingin.
"sejak engkau mensucikan diri sesungguhnya kami yakin engkau akan mengambil jalan terang
dan juga jalan yang baik, namun nyatanya engkau masih tetap melakukan perbuatan2
rendah ...jubah kependetaanmu itu hanya dipergunakan sebagai kedok belaka . . . !"
Muka Ciu Cie Jiak jadi berobah merah padam pucat dan ke-hijau2an bergantian jika dulu Yo
Siauw berkata begitu, tentu Ciu Cie Jiak telah membawa adatnya yang keras, namun sekarang
karena dia telah hidup mensucikan diri dan mengikuti ajaran2 Sang Budha, hatinya agak sabar
dan dia masih bisa menindih perasaan mendongkolnya itu.
"Yo Kauwcu," katanya kemudian sambil menghela napas. "Terserah bagaimana tanggapan
tetapi justru surat ini bukan ditulis oleh ku dan juga bukan perbuatanku membinasakan
anggota Beng kauw."
"lalu engkau ingin menimpahkan urusan pada siapa ?" tanya Yo Siauw dingin.
"Telah lima tahun Pienie tidak keluar dari sini, telah lima tahun pula Pienie hidup mengasingkan
diri. Jika terjadi urusan seperti ini seharusnya Yo Kauwcu menyelidiki dulu persoalan ini agar
jelas, jangan sampai terjadi kekeliruan dan segera menuduh secara membuta"
"Hemmm, itu belum seberapa !" kata Yo Siauw dengan suara yang tetap dingin dan wajah
semakin guram. "mengenai diri Thio Kauwcu juga, engkau telah melakukan tipu muslihat
sehingga Thio Kauwcu mengundurkan diri dari jabatan karena ancamanmu bukan !"
"Aah?"
Melihat muka Ceng Thian Sienie yarg berobah. Yo Siauw telah tertawa sinis.
"Engkau yang telah memaksa Thio Kauwcu dengan caramu yang licik sehingga Thio Kauwcu
telah mengundurkan diri dan lenyap begitu saja hanya meninggalkan pesan menyerahkan
kedudukan Kauwcu kepadaku!"
"Belum lama inilah kami baru mengetahui bahwa pengunduran diri Thio Kauwcu disebabkan
oleh mu"
"Atas alasan apakah engkau menuduhku memaksa Thio Kauwcu sehingga mengundurkan diri
dari dan meninggal pergi sebagai pemimpin kalian?"
Karena semakin lama Yo Siauw juga telah semakin diliputi kegusaran, dan dia telah bersuara
tawar.
"Dalam keadaan ini mungkin orang2 persilatan akan mengangap bahwa engkau benar2 telah
mensucikan diri.. tetapi kami memiliki bukti" dan setelah berkata begitu, tampak Yo Siauw
menoleh kebelakang
"Koan It, kemari kau!"
Dari rombongan orang2 Beng-kauw itu telah muncul seorang lelaki berusia lima puluh tahun,
tubuh tegap dan gagah.
"Katakan apa yang engkau lihat dan pernah alami empat tahun yang lalu dikota Miang-cukwan!"
"Baik Yo Kauwcu !” mengangguk Koat It dengan ber-sungguh2.
"Waktu itu aku masih ingat, tepat diharian Ceng Beng empat tahuh yang lalu, disaat Cu Goan
Ciang tengah kemakam orang tuanya, justru dikota Miang-cu kwan sangat ramai sekali. Secara
kebetulan aku bertemu dengan Thio Kauwcu, yang saat itu ber sama Tio Beng Hujin (Nyonya
Tio Beng)...waktu itu Thio Kauwcu telah menanyakan banyak sekali mengenai perkembangan
Beng-kauw, dan aku telah menjelaskan seluruhnya dengan jelas. Bahkan aku sempat meminta
kepada Thio Kauw cu agar kembali memimpin kami, tetapi Thio
Kauwcu saat itu telah berkata dengan wajah yang muram
"Sayang sekali aku memiliki kesulitan, hingga aku tidak dapat memenuhi keinginan kalian !
Sebetulnya memang berat aku harus berpisah dengan kalian. tetapi terhadap urusan yang

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 9 dari 55


kuhadapi. benar2 membuat aku sedih ! Apa yan kulakukan ini hanya untuk menjauhi diri dari
desakan beberapa orang yang telah memaksa... "
"Dan waktu kutanyakan siapa yang telah memaksa Thio Kauwcu meninggalkan kedudukan nya
itu, padahal kepandaian Thio Kauwcu sangat tinggi, Thio Kauwcu tidak menyebutkan! Hanya
saja saat itu wajahnya sangat muram. Dan disaat aku tengah heran. Tio Beng Bujin telah
memegang tangan Thio Kauwcu dan berkata "Sudahlah, kita tidak perlu mengingat-ingat
peristiwa yang menyedihkan... bukankah Ciu Jiak Ciecie pun telah hidup mengasingkan diri dan
mencukur rambut untuk memperoleh jalan terang dan saat itu Thio Kauwcu hanya mengangguk
saja, Setelah bercakap2 beberapa saat lagi, Thio Kauwcu bersama Thio Beng Hujin
meninggalkanku, karena mereka memiliki urusan iain...."
"Engkau telah mendengar sendiri, bukan? Dalam pengalaman yang telah dialami oleh Koan It
bisa ditarik kesimpulan orang yang telah memaksa Thio Kauwcu meninggalkan kedudukan
Kauwcu dan meninggalkan kami adalah tipu muslihatmu juga!"
Tubuh Ceng Thian Sienie jadi gemetaran karena dia sangat gusar sekali, disaat itu
dia telah berkata
"Kalian terlalu sembarang menuduhku... Sampai saat ini belum pernah sekalipun aku bertemu
degan mereka lagi! juga menurut cerita dari orangmu itu, Thio Kauwcu dan Tio Beng bukan
menyatakan bahwa Pienie yang telah memaksanya meninggalkan Beng kauw, bukan ?".
"Hemm, kesalahan dan dosamu sangat banyak, engkau harus ikut kami agar nanti bisa kami
memeriksanya dengan teliti ! Jika kelak memang engkau tidak bersalah, tentu kami akan
meminta maaf, tetapi jika benar2 semua peran ini dilakukan olehmu, maka engkau harus
mempertanggung jawabkannya"
Tubuh Ceng Thian Sienie gemetar keras, mukanya merah padam, tampaknya dia marah sekali.
"Sudahlah Pienie juga tidak bisa memaksa kalian mempercayai perkataan dan keteranganku,
tetapi pieniepun tak mau ikut bersama kalian !sekarang terserah kepadamu saja Yo Kauwcu
tindakkan apa yang ingin kau lakukan terhadap diriku"
Yo Siauw telah menoleh kepada Hoan Yauw katanya dalam bentuk perintah
"Tangkaplah wanita siluman itu, Hoan Hiante !"
Hoan Yauw berseru : "Siap laksanakan perintah Kauwcu !" dan tampak Hoan Yauw telah
melompat kedepan
Ceng Thian Sienie hanya mengawasi dengan waspada untuk menghadapi segala
kemungkinan. Sedikitpun Ceng Thian Sienie tidak merasa takut terlebih lagi memang dia tidak
pernah melakukan apa yang dituduhnya kepadanya.
"Ciu Cie Jiak, karena engkau membangkang perintah Kauwcu, maka terpaksa kami harus
mempergunakan kekerasan kata Hoan Yauw dengan suara yang nyaring.
Ceng Thian Sienie yang segera mengibaskan Hudtimnya.
"Silahkan" katanya dengan suara yang dingin.
"Jaga serangan" bentak Hoan Yauw sambil mengulurkan tangaanya, yang meluncur
melancarkan serangan, dia menyerang dengan tangan ynag berkelebat-kelebat beberapa kali,
untuk mencekal pergelangan tangan Ciu Cie Jiak, karena Hoan Yauw mengetahui bahwa Ciu
Cie Jiak miliki Kiu Im Pek Kut Jiaw yang luar biasa ganasnya.
Tetapi Ceng Thian Sienie telah mengeluarkan suara tertawa dingin, dia mempergunakan
Hudtimnya untuk menangkis.Hoan Youw menarik pulang tangannya.
Tetapi Ceng Thian Sinnie telah mengeluarkan suara bentakan kecil,dia telah melancarkan
serangan yang cepat sekali susul menyusul dengan gerakan Hudtimnya.
angin serangan Hudtim itu telah menyambar deras kearah muka Hoan Yauw.
Yo Siauw dan anggota Beng-kauw yang lainnya waktu melihat hal ini jadi terkejut.
Dalam lima tahun mereka berpisah, ternyata kepandaian Ciu Cie Jiak yang telah
menjadi niekouw ini bertambah hebat, Hoan Yauw sendiri jadi terkejut dan berlaku hati2.
Dia merasakan tenaga yang menyambar dari Hudtim itu sangat kuat sekali, membuat tubuh nya
tergoncang dan bulu2 emas Hudtim itu menyambar deras akan menghantam mukanya. dia

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 10 dari 55


tidak bisa mengelakkan serangan itu dengan hanya memiringkan kepalanya, karena jika
sampai jatuh menghantam bahunya, tentu akan membuat tulang Pundaknya hancur.
Maka jalan satu2nya Hoan Yauw telah lompat mundur beberapa langkah, tangan kanannya
bergerak berkelebat beberapa kali untuk menahan terjangan Ceng Thian Sienie lebih lanjut.
Hoan Yaow kembali melompat melancarkan serangan dengan pergunakan kedua tangannya
Dia telah melancarkan serangan yang dasyat dari kedua tangannya dengan mengerahkan
tenaga dalam sangat kuat sekali. Iwekang yang dipergunanya itu hampir meliputi delapan
bagian dari seluruh tenaga yang dimilikinya.
Ceng Thian Sienie jadi terkejut juga, tetapi tidak menjadi jeri, bahkan dengan cepat Hudtimnya
telah di gerak2an dengan jurus2 ilmu Pedang Go Bie Kiam Hoat. Walaupun dia tidak
mempergunakan pedang, namun Hudtimnya itu sama berbahayanya dengan pedang.
Gumpalan bulu Hudtim itu dapat menotok jalan darah sekali2 mencar dan terbuka, dimana
ujung dari bulu2 Hudtim yang terbuat dari emas itu dapat menjadi kaku dan tegang, lalu
menyambar dengan kuat.
Tentu saja cara menyerang yang dilakukan oleh Ceng Thian Sienie merupakan cara2
menyerang yang sangat luar biasa, serangan itu merupakan serangan2 yang bisa mematikan.
Hoan Youw tidak berani berlaku ayal degan cepat dia mengeluarkan suara seruan dan telah
menggerakan tangan kirinya menangkis, sedangkan tangan kanannya telah mendorong dengan
mempergunakan Iwekang yang sangat kuat sekali.
Mereka berdua segera terlibat dalam pertempuran yang sangat hebat sekali. Serangan2 yang
sangat mematikan.
Selama lima tahun terakhir ini sejak kemenangan pasukan Beng-kauw mengusir penjajah, dan
Cu Goan Ciang telah berhasil naik tahta menjadi kaisar, maka Hoan Yauw banyak berlatih diri
mempergunakan waktu2 luangnya, untuk mempertinggi kepandaiannya.
Memang sebelum Thio Bu Kie meninggalkan Beng Kauw, Hoan Yauw sering dapat petunjuk
darinya
Lam Ie Lie dan Hok Cie Lan yang menyaksikan jalannya pertempuran yang begitu hebat.
menjadi tertegun kagum. Hati mereka tergoncang keras, seumur hidup mereka baru kali ini
mereka menyaksikan pertempuran seperti ini. sehingga mereka merasa bahwa kepandaiannya
ternyata masih dangkal sekali"

Jilid ke 2
Diantara menderunya angin serangan Hoan Yauw itu, Ceng Thian Sienie telah terdesak hebat
dan suatu kali jari tangan kanan Hoan Youw telah menyambar akan mencengkeram
pergelangan tangan nikouw itu, Tentu saja hal ini mengejutkan Ceng Thian sinnie, jika sampai
pergelangan tangannya tercengkeram oleh lawannya tersebut. berarti pergelangan tangannya
bisa hancur teremas.
Tidak bisa dia menerima begitu saja kecelakaan yang akan menimpa dirinya, terlebih lagi dalam
keadaan penasaran sekali, dimana dia telah dituduh melakukan suatu perbuatan yang tidak
pernah dilakukannya.
Waktu itu, jari tangan Hoan Yauw hampir menyentuh kulit pergelangan tangannya, dalam
keadaan demikian, tiba2 Ceng Thian Sinnie telah membalikkan tangannya, tahu2 tangannya itu
telah melejit kesamping dan terangkat sedikit, menyambar kearah dada Hoan Yauw dengan
kuku lima jari tangan kiri terpentang kuat !
Hoan Yauw kaget bukan main.
Yo Siauw dan tokoh2 Beng Kauw lainnya juga terkejut, bahkan Yo Siauw telah mengeluarkan,
suara seruan
"Kiu Im Pek Kut Jiauw !"
Memang Ceng Thian Sienie telah mempergunakan dengan terpaksa sekali salah satu jurus Kiu
Im Pek Kut Jiauw, karena keselamatan pergelangan tangannya tengah terancam sekali.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 11 dari 55


Hoan Yauw segera melompat kebelakang menyelamatkan dadanya namun agak sedikit
terlambat.
"breeettt !" baju dibagian dadanya itu telah robek terkena cengkeraman jari2 tangan Ceng Thian
Sienie.
Muka Hoan Yauw sampai berobah pucat, dan dia hanya dapat melepaskan napas lega, karena
dadanya tidak sampai robek berlobang oleh cengkereman tangan Ceng Thian Sienie
Semua itu disebabkan Ceng Thian Sienie dalam mempergunakan jurus Kiu Im Pek Kut jiauw
tidak mempergunakan seluruh kekuatan tenaga dalamnya, karena dia masih mau mengampuni
Hoan Yauw, dan tidak mau kesalahpaham ini menjadi berlarut2, dia hanya bermaksud
membela diri belaka. Disamping itu juga Hoan Yauw memang dapat bergerak gesit sekali,
sehingga hanya bajunya saja yang kena dirobek jari2 tangannya
"Wanita siluman benar apa yang kami duga!" bentak Hoan Yauw dengan gusar.
"Walaupun engkau telah mensucikan diri, ternyata kau masih tetap meyakinkan dan
memperdalamkan ilmu sesatmu itu ... Rupanya jubah pertapaanmu itu hanya dipergunakan
sebagai kedok belaka. ..! Terimalah seranganku ini . .. . !"
Membarengi dengan perkataannya itu denngan cepat sekali tubuh Hoan Youw telah melompat
ketengah udara, bagaikan seekor burung elang, kedua tangannya itu diulurkan akan
mencengkeram kepala Ceng Thian Sienie dengan mempergunakan salah satu jurus Eng Jiauw
Kang (Tenaga Cakar Elang), yang mengandung kekuatan Iwekang yang sangat hebat sekali.
Serangan yang dilancarkan oleh Hoan Youw merupakan serangan2 yang sangat hebat sekali
walaupun dia hanya mempergunakan ilmu mencengkeram Eng Jiauw Kang yang dicampur
dengan ilmu mencengkeram Kim-naciu, tetapi karena disebabkan dia mempergunakannya
dengan disertai Iwekangnya yang sangat hebat, maka hebat pula ancamannya.
Nikouw itu lalu mengeluarkan suara dingin, kali ini dia telah bisa mengatur pernapasan pula,
karena waktu Hoan Yauw melompat menjauh.. kesempatan selama beberapa detik itu
dimanfaatkan Ceng Thian Sienie untuk mengatur pernapasannya. Ceng Thian Sienie telah
menggerakan hudtimnya, mengibas pergelangan tangan kanan Hoan Yauw.
Tetapi Hoan Yauw merupakan salah seorang tokoh Beng kauw, Dengan cepat dia telah
mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras, dan menarik pulang tangan kanannya, tetapi
tangan kirinya dipergunakan untuk menghantam pundak Ceng Thian Sienie. Kembali terjadi
pertarungan yang ramai diantara mereka yang mana masing-masing mengeluarkan ilmu
terhebat yang mereka kuasai.
Yo Siauw dan tokoh2 Bengkouw yang lainnya waktu melihat pertempuran itu, jadi mengerutkan
sepasang alis mereka, karena mereka lihat Ceng Thian Sienie memang benar2 hebat dan sulit
ditundukan.
Mereka jadi teringat waktu dalam pertemuan Enghiong Tai Hwee, justru Cie Jiak telah berhasil
merubuhkan Thio Bu Kie dan orang-orang murid Bu Tong Pay, dimana Cie Jiak yang saat itu
masih menjabat kedudukan Ciangbujin Go Bie Pay, berhasil mengangkat nama Go Bie Pay
menjadi harum sekali.
Memang sesungguhnya Bu Kie tidak akan dapat dikalahkan oleh Cie Jiak, dia hanya menarik
pulang tenaga dalamnya disaat keadaan sangat genting, sehingga melukai dirinya sendiri.
Tetapi keadaan seperti itu tidak diketahui oleh siapapun juga, maka orang2 yang menyaksikan
hanya menduga bahwa Bu Kie telah muntah darah dan terluka oleh Cie Jiak. Hanya Cie Jiak
sendiri yang mengetahui bahwa Bu Kie yang mengalah kepadanya
Yo Siauw dan tokoh2 Beng Kauw juga menduga bahwa Bu Kie dikalahkan Cie Jiak, maka
mereka sejak semula telah meramalkan bahwa mereka akan menghadapi lawan yang berat
dan tangguh.
Hoan Yauw yang memiliki pikiran yang panjang, waktu mau berangkat ke tempat berdiamnya
Ceng Thian Sienie, telah memberitahukan kepada Yo Siauw, agar mengajak beberapa orang
tokoh Bengkauw yang memiliki kepandaian tinggi, sebab mereka mengetahui bahwa Ceng
Thian sienie (Ciu Cie Jiak) memiliki kepandaian yang tidak bisa dipandang lemah, namun
mereka tetap harus menghadapinya.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 12 dari 55


Kini melihat Ciu Jiak, atau Ceng Thian Sienie mulai mempergunakan ilmu andalannya Kiu Im
Pek Kut Jiauw, maka Yo Siauw bermaksud untuk mclompat maju guna membantu Hoan Yauw.
Tetapi Wie It Siauw telah menahannya.
"Jangan... Kauwcu, biarkan saja Hoan Toako tertanding menghadapi siluman wanita itu. . . .
tampaknya mereka berimbang. Jika bisa, biarlah Hoan toako yang menangkap dan
nundukkannya . . . .!"
Mendengar dirinya di sebut2 sebagai "siluman wanita" tentu saja Ceng Thian Sienie gusar
sekali, tubuhnya sampai gemetar keras.
"Telah lima tahun aku hidup tenang tenteram, aku tidak bermaksud untuk melakukan perbuatan
yang melanggar pantangan Hiapgie, tetapi kenyataan kalian terlalu mendesakku ...! Biarlah
sekali ini aku melanggar sumpahku, untuk mengunakan ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw lagi...!"
Dan karena telah mengambil keputusan seperti itu dengan cepat Ceng Thian Sienie telah
melempar hudtimnya kesamping, dan ber-siap2 dengan kedua tangannya yang telah diisi oleh
hawa iwekang yang dahsyat sambil menantikan serangan Hoan Yauw.
Melibat sikap Ceng Thian Sienie, Hoan Yauw telah mengeluarkan seruan perlahan dia
mengetahui apa yang akan dilakukan Ceng Thian Sienie, yaitu akan mempergunakan ilmu
sesatnya, yaitu Kiu Im Pek Kut jiauw maka Hoan Yauw juga tidak berani berani ceroboh.
Dengan memusatkan seluruh kekuatan yang ada dia telah melancarkan serangan dan sekali
bergerak sudah tiga jurus serangan dia keluarkan kearah jalan darah yang mematikan.
"Hemmm!" Ceng Thian Sienie mengibaskan tangannya, disamping dia mengelakkan diri dari
serangan Hoan Youw, juga kedua tangannya itu tampak bergerak beberapa kali didepan Hoan
Youw, tidak memberikan kesempatan Hoan Youw untuk bernapas.
Hati Hoan Youw jadi terkesiap, dia sampai mengeluarkan suara tertahan, semangatnya seperti
terbang meninggalkan raganya, karena jari tangan kanan Ceng Thian Sienie telah berada atas
kepalanya, dengan jari2 tangan terpentang, dan siap meluncur turun akan menerobos
mencoblos batok kepalanya.
Yo Siauw dan tokoh2 Beng-kauw yang lainnya jadi sangat terkejut, mereka mengeluarkan
suara teriakan tertahan.
Dengan cepat sekali Hoan Youw telah mengeluarkan suara bentakan yang keras sekali. Dia
melompat kebelakang kemudian bergulingan diatas tumpukan salju.
Ceng Thian Sienie tidak mengejarnya lagi tetapi dapat dirasakan oleh Hoan Yauw Jika tadi
Ceng Thian Sienie memang bermaksud mencelakai Hoan Youw jangan harap dia bisa selamat.
Tadi Ceng Thian Sienie memang telah menarik pulang sebagian tenaga dalamnya dan tidak
meneruskan serangannya, maka Hoan Yauw bisa lolos dari serangan itu, tetapi tidak urung
sebagian dari rambutnya telah terkelupas berikut kulitnya, sehingga dia disamping merasa nyeri
dan dingin, darah merah juga telah membasahi rambutnya.
Yo Siauw melompat kesamping Hoan Yauw, tanyanya dengan khawatir.
"Bagaimana Hoan Hiante.. apakah kau terluka ?"
Hoan Yauw menggelengkan kepalanya dengan muka pucat dan malu karena dia dan semua
orang tahu bahwa telah dikalahkan dan diberi belaskasihan oleh lawannya.
"Kauwcu... Aku akan mengadu jiwa dengan siluman itu !" kata Hoan Youw sambil kembali
memasang kuda-kuda siap menyerang kembali.
Tetapi Yo Siauw telah mencekal lengannya
"Jangan, biarlah aku saja yang meminta petunjuknya!" dan setelah berkata begitu dengan cepat
Yo Siauw melangkah menghampiri Ceng Thian Sienie.
Saat itu Ceng Thian Sienie berkata dengan dingin
"Kalian jangan terlalu memaksaku menurunkan tangan kejam kepada kalian, sesungguhnya
aku tidak tahu menahu dengan peristiwa yang kalian tuduhkan semuanya bukan perbuatan
Pienie, demi nama Sang Buddha percayalah kepada Pienie, Begitu pula persoalan Thio
Kauwcu, tidak ada sangkutpautnya lagi dengan Pienie sejak pertemuan Bu Tong San,

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 13 dari 55


dihadapan Thio Sam Hong Cinjin dimana sejak aku menyerahkan kedudukan Ciangbujin Go
Bie Pay kepada Thio Kauwcu, aku tak pernah bertemu pula dengannya !"
"Memang engkau merupakan pendekar wanita yang hebat ilmu silat dan ilmu lidahnya. Kami
memang tidak bakat untuk menandingimu. Tetapi aku Yo Siauw justru ingin sekali diberi
petunjuk beberapa jurus darimu"
Kata2 itu bernada merendahkan diri, tetapi sesungguhnya merupakan sindiran yang sangat
tajam sekali, sindiran yang merupakan tamparan pedas untuk Cie Jiak, yang diejek secara tidak
langsung.
Ceng Thian Sienie jadi gusar sekali, dia berkata dengan suara yang dingin mengandung
kemendongkolan
"Yo Kauwcu, engkau terlalu mendesak..."
Tetapi belum lagi Ceng Thian Sienie menyelesaikan perkataannya itu, justru tampak Yo Siauw
telah menggerakkan tangan kanannya sambil membentak
"Terimalah seranganku"
Ceng Thian Sienie tidak bisa meneruskan perkataannya, karena dari telapak Yo Siauw telah
keluar serangkum angin serangan yang dahsyat luar biasa.
Terpaksa Ceng Thian Sienie memberikan perlawanan, tapi dia tidak memiliki kesempatan untuk
memberikan penjelasan atau berkata lagi, karena Yo Siauw dengan gencar sekali lancarkan
gempuran2 yang sangat hebat sekali
Serangan2 yang dilancarkan oleh Yo Siauw merupakan serangan2 yang semuanya bisa
mematikan, karena itu Ceng Thian Sienie tidak berani berlaku ayal, karena sedikit saja dia
berlambat dan terkena serangan, itu. berarti dirinya akan segera terbinasa.
Diantara berkesiuran angin serangan Yo Siauw Kauwcu itu, tampak Ceng Thian Sienie
berulang kali terdesak hebat, dan suatu kali, terpaksa Ceng Thian Sienie telah mempergunakan
Kiu Im Pek Kut Jiauw untuk mendesak balik Yo Siauw.
Tetapi kepandaian Yo Siauw sangat hebat dan sempurna sekali, walaupun usianya telah lanjut,
dia memiliki kekuatan yang bukan main dahsyatnya.
Dengan mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras sekali, dia telah melompat
kesamping
dan dia melompat begitu bukan hanya ingin menghindarkan diri tapi dibarengi dengan tangan
kanannya yang telah diulurkan akan mencengkeram iga Ceng Thian Shienie.
Maka dari itu, Ceng Thian Sienie tidak bisa meneruskan serangan Kiu Im Pek Kut Jiauw nya,
karena dia harus melompat mundur menggelakkan diri dari cengkeraman tangan Yo Siauw
Mempergunakan kesempatan seperti itu, berkali-kali Yo Siauw melancarkan serangan2 yang
hebat bukan main, memaksa Ceng Thian Sienie untuk mundur mengelakkan diri dan tidak
memiliki kesempatan lagi untuk mempergunakan Kiu Im Pek Kut Jiauw.
Lam Ie Lie dan Hok Cie Lan yang melihat Ceng Thian Senie terdesak begitu hebat, dengan
sendirinya jadi mengawasi jalannya pertempuran itu dengan khawatir, Walaupun Ceng Thian
Sienie memang bukan guru mereka, tetapi setidak2nya Ceng Thian Sienie pernah menolong
mereka berdua dan memperlakukan mereka berdua sangat baik sekali.
Tetapi mereka pun tidak bisa untuk maju membantu, karena kepandaian mereka masih
dangkal. Kedua gadis itu hanya dapat berdiri mematung saja dengan mata terpentang lebar2.
Disaat dia melihat serangan2 Yo Siauw masih menyambar dengan gencar kepada dirinya,
dengan mengeluarkan suara bentakan yang sangat nyaring. Ceng Thian Sienie telah
menggerakan kedua tangannya dia telah melancarkan gempuran2 yang sangat hebat bukan
main.
Ceng Thian Sinie kembali mempergunakan ilmu andalannya, Kiu lm Pek Kut Jiauw.
Gerakan yang dilakukannya memang sangat cepat dan dahsyat, untuk sejenak dapat
membendung serangan2 Yo Siauw.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 14 dari 55


Tetapi saat itu Yo Siauw tengah dalam keadaan gusar dan penasaran sekali, bahkan dia telah
membalas melancarkan serangan2 yang sangat hebat sekali, maka kedua tenaga yang sangat
kuat sekali telah saling bentur dan saling menggempur.
"DaaaRRHkkk !" menggelegar terdengar suara benturan kedua kekuatan itu, membuat Yo
Siauw Kauwcu telah terhuyung mundur, dan Ceng Thian Sienie juga telah terhuyung mundur
dengan tubuh yang tergoncang dan muka yang pucat, karena tadi mereka telah sama2
mempergunakan kekuatan tenaga Iwekang tingkat tinggi dengan saling benturnya kedua
tenaga yang sangat hebat itu membuat mereka tadi seperti terhantam runtuhan gunung.
"Mari kita bertempur seribu jurus lagi...!" Dengan cepat Yo Siauw telah melangkah maju
bersiap2 akan melancarkan serangan pula.
Tetapi Ceng Thian Sienie telah berseru
"Yo Kauwcu, tunggu dulu...aku ingin bicara"
Muka Yo Siauw telah berobah tidak sedap karena dia sangat penasaran sekali... sebagai Beng
kauwcu jelas dia memiliki kepandaian yang sangat tinggi sekali, Tetapi kini menghadapi Ceng
Thian Sienie nampaknya dia tidak berdaya, membuat dia jadi penasaran sekali.
Dengan suara yang parau mengandung kegusaran yang sangat, Yo Siauw telah membentak
"Apa pula yang hendak dibicarakan? Bukankah kau tidak mau mengakui bahwa engkau yang
telah mendesak dan memaksa Thio Kauwcu melepaskan kedudukan Kauwcu dan juga engkau
yang telah membinasakan ketiga murid Beng Kauw??" dan setelah berkata begitu, Yo Siauw
mendengus tertawa dingin beberapa kali, melanjutkan pula perkataannya
"Maka dari itu tidak ada pula perkataan2 yang perlu diucapkan!"
"Yo Kauwcu, jika engkau mempercayai aku, tentu aku akan bicara terus terang... kata Ceng
Thian Sienie tanpa memperdulikan sikap Kauwcu itu."
"Katakanlah" suara Yo Siauw sangat dingin.
"Aku akan berusaha membantu kalian mencari pembunuh ketiga orang anggota Beng kauw
dan juga berusaha menyelidiki apakah benar Thio Kauwcu pernah mengatakan bahwa aku
yang telah mendesak dia meninggalkan Beng kauw dan Tio Beng pernah berkata kepada Koan
It Siecu (tuan Koan It). bahwa akulah ya mendesak Thio Bu Kie keluar dari Beng Kauw...
Bukankah tadi Koan It Siecu hanya mengatak bahwa Thio Beng berucap bahwa aku telah hidup
mensucikan diri dan mencukur rambut, tapi dia sama sekali tidak menyebut2 bahwa aku telah
memaksa Thio Kauwcu meninggalkan Beng-kauw! Hanya kalian saja yang telah meraba2 dan
menduga saja ..... Bukankah begitu????"
"Tetapi, walaupun bagaimana tidak bisa kami mempercayai mulut seorang wanita siluman
seperti engkau"
Muka Ceng Thian Sienie telah berobah jadi merah, dia gusar sekali karena disebut sebagai
wanita siluman.
"Walaupun aku pernah malang melintang mengacaukan Bu Lim dengan kepandaianku, tetapi
belum pernah aku melakukan perbuatan terkutuk! Selain aku pernah bermaksud membinasa In
Lee, sama sekali aku tidak pernah melakukan perbuatan2 lainnya yang bisa merusak nama
baikku atau juga melanggar peraturan Hiapgie didalam persilatan....! Sedangkan kalian di sebut
sebagai patriot yang berjuang untuk mengusir penjajah, tetapi tahukah kalian bahwa banyak
anggota Beng-kauw yang memiliki moral rendah dan hina, bukankah disamping di nama Beng-
kauw, kalian juga dinamakan perkumpulan Mo Kauw (perkumpulan iblis)?"
Mendengar perkataan Ceng Thian Sienie yang terakhir, Wie It Siauw, Hoan Yauw dan tokoh2
lainnya telah mengeluarkan seruan2 murka. Tetapi lain dengan Yo Siauw. Memang sejak dulu
Yo Siauw memiliki mikiran yang sangat panjang.
Dia mendengar kata2 Ceng Thian Sienie sangat beralasan, Walaupun Koan It telah
menceritakan bahwa Thio Bu Kie pernah menyatakan bahwa dia terpaksa meninggalkan Beng-
kauw karena desakan seseorang ? Dan juga walaupun Koan It telah menceritakan apa yang
dibicarakan oleh Tio Beng, namun kata2 itu bukan berbunyi bahwa Ciu Cie Jiak yang telan
mendesak Thio Bu Kie untuk meninggalkan Beng kauw melainkan Tio Beng telah menyatakan
bahwa Ciu Cie Jiak telah mencukur rambut dan hidup mensucikan diri belaka !

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 15 dari 55


Berpikir sejenak Yo Siauw lalu berkata
"Yang jelas kami tidak mungkin melepaskanmu sebelum urusan ini menjadi jelas!"
Ceng Thian Sienie tersenyum pahit.
"Sesungguhnya, semua tuduhan kalian itu sungguh tidak berdasar , Jika memang aku
melakukannya tentu aku akan berani mempertanggung jawabkannya! Mengapa aku harus
merasa takut pada kalian ? Bukankah jika kita bertempur dan aku mempergunakan Kiu Im Pek
Kut Jiauw kalian belum tentu bisa merubuhkan diriku... paling tidak kita akan celaka bersama2."
Yo Siauw berpikir perkataan Ceng Thian nie memang beralasan, karena walaupun mereka
maju semuanya dan Cie Jiak bersungguh2 mempergunakan Kiu Im Pek Kut Jiauw, mereka
belum tentu dapat merubuhkan Nikouw ini dengan cepat.
Kemungkinan mereka bisa merubuhkannya dengan mencelakai Ceng Thian Sienie, tetapi
mereka juga jelas tidak akan luput dari ancaman bahaya.
"Sekarang berikanlah kesempatan kepadaku tiga bulan, untuk menyelidiki urusan ini !" kata
Ceng Thian Sienie "Aku akan berusaha menyelidiki sampai berhasil, sebetulnya siapa orangnya
yang telah 'menjual' namaku Jika dalam tiga bulan aku tidak berhasil tentu akan menemui
kalian ... terserah apa yang akan kalian lakukan dan jika kalian tidak mempercayaiku, tiga bulan
kemudian kalianpun boleh mencariku dengan membawa sebanyak2nya orang2 Beng-kauw.
Dan juga jika kalian masih kuatir aku akan membantah dan memberikan perlawanan, kalian
boleh mengundang tokoh2 persilatan untuk memutuskan urusan ini dengan adil..!".
Mendengar perkataan Ceng Thian Sienie, tampak Yo Siauw jadi bimbang.
Tetapi kemudian dia telah menganguk.
"Baiklah, kali ini kami mau memberikan kesempatan kepadamu untuk menyelidiki persoalan itu,
walaupun sesungguhnya kami yakin bahwa semua itu tentunya hanya akal muslihatmu tetapi
jangan harap engkau lolos diri tangan kami! Tiga bulan lagi kami akan datang kelembah ini pula
untuk mengetahui duduk urusan yang seharusnya. jika engkau berdusta mempergunakan
waktu, tiga bulan itu untuk bersembunyi dan melari diri, disaat itu sudah tidak ada perkataan
lainnya, kami akan mengadili walaupun engkau melarikan diri dan bersembunyi diujung langit,
kami tetap mengejarmu..!"
"Begitupun boleh! Tiga bulan mendatang dihari dan waktu yang sama seperti sekarang kita
bertemu lagi !" dan setelah berkata begitu dengan menahan perasaan mendongkolnya, Ceng
Thian Sienie telah mengambil sikap mempersilahkan sang 'tamu tidak diundang' untuk
meninggalkan lembah tempat tinggalnya itu.
Setelah mengawasi sesaat lamanya pada Ceng Thian Sienie, Yo Siauw memutar tubuhnya
mengajak kawan2nya meninggalkan lembah itu, setelah orang2 Beng-kauw terlalu, Ceng Thian
Sienie menghela napas jengkel.
Kepada Lam le Lie dan Hok Cie Lan, Ceng Thian Sienie berkata
"Kini kalianpun pergilah karena kita tidak bisa terlalu lama dilembah ini.. aku memiliki urusan
sangat penting sekali ..untuk membersihkan nama baikku yang dinodai seseorang.. !"
Lam Ie Lie dan Hok Cie Lan merasa berat utnk berpisah dengan Ceng Thian Sienie.
Mereka menyatakan keinginan mereka untuk ikut merantau bersama Ceng Thian Sienie, dan
ikut membantu menyelidiki persoalan aneh yang telah menimpa diri niekauw itu.
Tetapi Ceng Thian Sienie telah menolaknya .. menurut pendapat Ceng Thian Sienie, jika dia
didampingi oleh kedua gadis ini maka dia kurang leluasa untuk melakukan penyelilidikan.
Akhirnya Lam Ie Lie dan Hok Cie Lan berpamitan kepada Ceng Thian Sienie. Didalam hati
kedua gadis ini mendoakan agar beliau dapat dengan mudah menyelesaikan persoalannya itu.
--- demonking ---
Setelah kedua gadis itu berlalu, Ceng Thian Sienie juga mempersiapkan segala sesuatu untuk
bekalnya, kemudian diapun telah meninggalkan lembah itu untuk mulai melatukan penyelidikan.
Tujuannya adalah Bu Tong San, dia ingin menemui Thio Sam Hong, cikal-bakal Bu Tong Pay
itu, karena dia bermaksud meminta keterangan dari Thio Sam Hong.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 16 dari 55


Sebagai guru besar Bu Tong Pay, dan juga karena Thio Bu Kie telah dianggap anak oleh Thio
Sam Hong, kepada Thio Sam Hong itulah Ceng Thian Sienie ingin meminta pendapat dan ingin
menceritakan kesulitannya itu
Dua hari Ceng Thian Sienie melakukan perjalanan dengan cepat, dan dia telah tiba didusun Po-
liu-cung, Karena selama dua hari dua malam Ceng Thian Sienie melakukan perjalanan
mengejar waktu tanpa beristirat. Dia sangat letih sekali. Lalu Ceng Thian Sienie berhenti untuk
menginap dan beristirahat di sebuah penginapan kecil
Setelah berada dikamarnya disaat Ceng Thian Sienie tengah duduk bersemedhi untuk
memulihkan kebugarannya, dia mendengar suara ketukan dijendela kamarnya.
Ceng Thian Sienie jadi mengerutkan alisnya. dia jadi heran dan menduga2, siapa yang tengah
mengetuk2 jendela kamarnya.
Ceng Thian Sienie melompat turun dari pembaringannya, dia segara menghampiri dan
membuka jendela itu, tetapi tahu2 dari luar telah menyambar kearahnya sebuab benda bulat
hitam yang menyambar dengan keras sekali.
Datangnya timpukan itu demikian tiba2, terpaksa dia mempergunakan tangan kirinya mengibas
dengan ujung lengan bajunya menyampok benda bulat itu, yang lalu terbanting menggelinding
dilantai.
Cepat sekali Ceng Thian Sienie telah melompat keluar dari kamarya, tetapi dia hanya sempat
melihat dikejauhan sesosok bayangan yang tengah melompati dinding pekarangan rumah
penginapan itu.
"Berhenti!" bentak Ceng Thian Sienie
Dia telah mengejar dengan gerakan yang gesit sekali.
Tetapi sosok bayangan itu sudah tidak lihat lagi, telah lenyap dalam kegelapan mata entah
menghilang kemana.
Setelah berlari2 sekian lama disekitar tempat itu dan tidak berhasil menemui sosok bayangan
itu, yang telah menghilang seperti juga telah menerobos masuk kedalam tanah, dengan kesal
dan jengkel Ceng Thian Sienie kembali kamarnya. Dia malewati jendela kamarnya seperti tadi
dia keluar mengejar sosok tubuh itu.
Dihampirinya benda bulat yang tadi dipergunakan "tamu" gelap itu untuk menimpuknya, dia
berjongkok disamping benda itu. Namun waktu Ceng Thian Sienie melihat benda bulat yang
menggeletak itu segera mengeluarkan suara seruan tertahan karena sangat terkejut,
jantungnya juga berdetak keras.
Ternyata benda hitam bulat itu tidak lain adalah sebuah kepala manusia yang rambutnya
menutupi mukanya. Darah dari leher yang halus itu masih terlihat merah kehitam2an telah
mengering.
Hati Ceng Thian Sienie jadi tergetar karena melihat pemandangan yang mengiriskan hati. Dan
yang paling mengejutkan ha Ceng Thian Sienie justru dia mengenali muka potongan kepala
manusia itu, yang tidak lain adalah Lam Ie Lie!
Lama Ceng Thian Sienie mengawasi dengan mata terpentang lebar2, kepala tanpa tubuh ini
merupakan pemandangan yang mengerikan, tetapi justru yang lebih mengerikan lagi adalah
tatapan mata Lam Ie Lie yang mendelik tidak bergerak seolah tengah marah kepadanya
Sambil menghela napas Ceng Thian Sienie bangkit untuk duduk dengan lesu ke
pembaringannya, Dia heran bukan main dan menduga2 siapa orang yang tadi telah
menimpukan kepala Lam Ie Lie ini. Tentu orang itu yang telah membinasakan Lam Ie Lie.
Lalu bagaimana nasib Hok Cie Lan, enci dari gadis yang malang ini? benar2 Ceng Thian Sienie
jadi diliputi teka-teki yang tak bisa dipecahkannya, Dia jadi menyesal juga mengapa dua hari
yang lalu, waktu Lam Ie Lie dan Hok Cie Lan ingin melakukan perjalanan bersama2 dengan dia,
telah ditolak permintaan kedua gadis itu
Ceng Thian Sienie jadi tergoncang terus hatinya, dia menyadari tentu ada seseorang yang
memperhatikan setiap gerak-geriknya. Sebab tadi orang itu justru telah mengetuk jendela

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 17 dari 55


kamarnya dengan berani, kemudian menimpuk dengan batok kepala Lam Ie Lie disaat daun
jendela dibuka oleh Ceng Thian Sienie.
Jika orang itu tidak memiliki kepandaian yang sangat tinggi, tentunya orang itu tidak berani
melakukan perbuatan yang nekad seperti itu.
Ceng Thian Sienie jadi jengkel dan penasaran sekali, dia sampai tidak bisa memejamkan
matanya untuk tidur sampai menjelang subuh. Padahal Ceng Thian Sienie bermalam dirumah
penginapan ini untuk beristirahat karena dia sangat letih tetapi urusan yang satu ini tentu saja
tidak bisa membuat hati nya tenang.
"Walaupun bagaimana aku harus dapat menyelidiki urusan ini... tentu orang itu memang
bermaksud mempermainkan diriku, dan yang dijadikan sasaran adalah kedua gadis ini, Lam Ie
Lie dan Hok Cie Lan, hemm.. hanya sekedar untuk mempermainkan diriku! Kasihan kedua
gadis itu, mereka menjadi sasaran disebabkan urusanku! Tetapi bagaimana nasib Hok Cie Lan
sekarang?, apakah dia bisa meloloskan diri atau tidak ?"
Sambil berpikir begitu, Ceng Thian Sienie mengawasi batok kepala Lam Ie Lie
Tiba2 Ceng Thian Sienie jadi tertarik, dia melihat sesuatu diatas kepala Lam Ie Lie.
Segera dihampiri kepala itu, lalu dia menyingkap rambut sigadis yang tanpa badan ini, dan
memperhatikan dengan seksama.
Kembali Ceng Thian Sienie jadi terkejut, karena dia melihat lima buah lobang yang cukup besar
diatas kepala mayat itu.
"Kiu Im Pek Kut Jiauw !". serunya tertahan
Itulah Kiu Im Pek Kut Jiauw, ilmu sakti cengkeraman Tulang Putih yang dimilikinya ! Tetapi
siapakah pembunuh Lam Ie Lie, yang tampaknya memiliki ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw juga?
Kepala Ceng Thian Sienie jadi pusing tujuh keliling, lama dia termenung kemudian setelah
yakin pembunuh itu tentunya tidak akan memperlihatkan diri lagi sampai menjelang pagi. lalu
Ceng Thian Sienie merebahkan tubuhnya dipembaringan dan tidur, disamping sangat lelah dan
mengantuk juga Ceng Thian Sienie menyadari. bahwa dia membutuhkan istirahat untuk
mengurangi rasa letih dan penatnya.
--- demonking ---
Keesokkan harinya.. mentari sudah mulai menampakkan dirinya.. sinarnya sidikit banyak telah
berhasil melingkupi seluruh permukaaan bumi termasuk juga dusun Po-liu-cung, orang2 sudah
memulai dengan aktivitasnya masing2.
Ceng Thian Sienie baru terbangun dari tidurnya. Begitu membuka matanya, dia melihat batok
kepala Lam Ie Lie, maka setelah menghela napas, Ceng Thian Sienie mengeluarkan sehelai
kain dan membungkus kepala itu.
Setelah membersihkan meja, Ceng Thian Sienie memanggil pelayan untuk mempersiapkan
makanan untuknya.
Pelayan itu telah mempersiapkan dengan cepat makanan untuk niekouw ini, yang dibaWa
kedalam kamarnya.
Setelah menaruh makanan diatas meja pelayan itu mengeluarkan sepucuk surat yang katanya
tadi pagi ada seseorang yang menitipkan surat ini kepadanya untuk disampaikan pada seorang
Niekauw yang menginap dikamar ini.
Cepat2 Ceng Thian Sienie mengambil surat itu, dan dia segera memberi uang tip kepada
pelayan itu.
Setelah mengunci pintu kamarnya, barulah Ceng Thian Sienie membuka lipatan kertas itu, dan
membaca isi surat tersebut. berbunyi seperti ini:
"Selamat bertemu! Semalam aku telah ngirimkan hadiah cukup antik dan menarik untukmu!
Sampai jumpa lagi!"
Isi surat itu singkat dan tidak terdapat tulisan lainnya. Juga disitu tidak dijelaskan siapa
pengirimnya.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 18 dari 55


Tubuh Ceng Thian Sienie jadi menggigil menahan kemarahan hatinya, dia telah mengawasi
sejenak surat itu dan dia menyadari ada seseorang yang ingin mempermainkan dirinya.
Ceng Thian Sienie meremas kertas surat itu sekali dan hancurlah kertas itu menjadi kepingan2
halus.
Apakah itu adalah orang2 Bengkauw yang hendak mempermainkan dirinya ? Tetapi tidak
mungkin! walaupun Bengkauw dikenal juga sebagai perkumpulan Mo-kauw (perkumpulan Iblis)
tapi mereka merupakan orang2 yang gagah dan juga tidak mungkin anggota Beng-kauw itu
mempelajari ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw.
Sedang Ceng Thian Sienie duduk termenung dengan pikiran yang kusut, dia mendengar suara
langkah kaki dimuka pintu kamarnya. Disusul dengan suara ketukan dipintu kamarnya.
"Sienie titipan untuk mu!"
Ceng Thian Sienie jadi mengerutkan sepasang alisnya, dia mengenali suara itu suara sipelayan
tetapi siapakah yang telah mengirim bingkisan untuknya?
Setelah berpikir sejenak, Ceng Thian Sienie bangkit juga dari duduknya, dia membuka pintu
kamarnya
Dengan sikap yang menghormat sekali pelayan itu telah mengangsurkan sebuah bungkusan
kepada Ceng Thian Sienie.
Bungkusan itu sangat rapih, dibungkus secarik kain berkembang.
Ceng Thian Sienie menyambuti bungkusan itu dan memberikan tip lagi satu tail perak pada
sipelayan.
Kemudian niekouw ini telah mengunci pintu kamarnya, dan membawa bungkusan itu yang
diletak
diatas meja. Melihat bentuk bnngkusan yang cukup besar itu, Ceng Thian Sienie jadi menduga2
sendiri
Dibukanya per-lahan2 bungkusan itu, dan matanya jadi terpentang lebar2 karena terkejut waktu
melihat isi bungkusan itu, yang tidak lain sebuah batok kepala manusia lagi.
Kepala manusia itu tidak lain dari batok kepala Hok Cie Lan ! Jadi kedua gadis ini telah
terbinasa dengan cara yang sama !
Setelah tertegun sejenak dengan gusar Ceng Thian Sienie membungkus kembali kepala Hok
Cie Lan kemudian dia memanggil sipelayan.
Pelayan itu menduga bahwa si niekouw menerima bingkisan yang sangat berharga dan
mungkin ingin memberikan hadiah pula kepadanya, maka begitu mendengar Ceng Thian Sienie
memanggilnya, pelayan itu telah berlari2 mendatangi cepat sekali.
"Masuk..!” perintah Ceng Thian Sienie
Waktu pelayan itu berdiri dimuka pintu kamarnya dengan sikap hormat Pelayan itu telah
melangkah masuk dengan tubuh agak dibungkukkan.
"Ada perintah apakah, sinnie ?" tanyanya sambil tersenyum2.
"Plakk !" tangan kanan Ceng Thian Sienie telah melayang menempiling muka pelayan itu, yang
kontan menjerit kesakitan dan pipinya segera bengkak merah. Dia jadi kaget dan gugup
bercampur gusar.
"Kau.... kau .. mengapa memukulku ?" tanya sipelayan dengan mendongkol, sambil mengusap2
pipinya yang bengkak sakit itu.
"Cepat katakan, siapa yang telah meminta kepadamu menyampaikan bingkisan ini kepadaku ?"
bentak Ceng Thian Sienie dengan suara yang dingin.
"Seorang anak lelaki berusia dua belas tahun" menyahuti pelayan itu.
"Apakah ada suatu yang salah ?".
"Anak lelaki kecil ?" tanya Ceng Thian Sienie yang jadi heran. Semula dia menduga tentunya
orang yang semalam berhasil lolos dari kejaraanya itu.
"Ya, seorang anak lelaki kecil"

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 19 dari 55


"Kenalkah kau dengannya?"
"Tidak, aku baru melihatnya pertama kali ini .. dan bukan orang sini.. jika tidak tentu aku kenal"
"Apa yang dikatanya ?"
"Meminta tolong kepadaku untuk menyampaikan bingkisan ini Kepada seorang nikouw yang
bermalam dipenginapa ini maka.. jika bukan Sienie tentu tidak ada orang lainnya Niekauw yang
bermalam disini"
"Engkau mengetahui apa isinya ?"
"Tidak ..."
"Apakah anak laki2 kecil itu mengatakan isi hungkusan ini ?"
"Dia cuma bilang, ini adalah bingkisan istimewa !"
Ceng Thian Sienie berdiam sejenak, dia telah berpikir keras.
"Apakah sekarang aku boieh keluar Sienie ?" tanya pelayan yang jadi tidak 'betah' berada
didalam kamar si Niekouw, karena bukannya hadiah yang diperolehnya justru tadi dia telah
ditempiling oleh Ceng Thian Sienie. Mukanya jadi bengkak merah sakit sekali
"Tunggu dulu dan tadi yang mengirimkan surat, apakah anak lelaki kecil itu juga ?” tanya Ceng
Thian Sienie.
"Bukan.. tetapi seorang anak perempuan berusia sekitar dua belas tahun..".
Kembali Ceng Thian Sienie bertambah heran dan diliputi perasaan aneh menghadapi urusan
ini.
"keluarlah kau , Tetapi ingat jika ada yang mengirimkan sesuatu untukku engkau jangan
menerimanya, cepat2 panggil aku agar dapat bertemu dengan orang itu, atau juga engkau ajak
saja orang itu datang menemuiku ! Mengerti?"
"Mengerti... Sekarang aku boleh keluar, Sinnie ?" tanya pelayan itu.
"Pergilah..." Ceng Thian Sienie mengibaskan tangannya.
Semula Ceng Thian Sienie bermaksud melanjutkan perjalanannya hari ini, tetapi karena adanya
peristiwa ini telah membuat dia membatalkan maksudnya dan dia ingin bermalam satu dua
malam lagi ditempat ini, karena dia yakin tentu pembunuh Hok Cie Lan dan Lam le Lie akan
memperlihatkan dirinya.
Juga yang terpikir Ceng Thian Sienie saat itu adalah persoalan ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw,
mungkin ketiga orang anggota Beng-kauw yang dikatakan oleb Yo Siauw telah terbunuh oleh
ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw itu, dibinasakan oleh orang ini juga, sehingga timbul salah paham
orang2 Beng Kau menduga Ceng Thian Sienie sebagai pambunuhnya, sebab ilmu itu memang
hanya dimilik Ceng Thian Sienie seorang.
Dia telah membuka bungkusan kepala Hok Cie Lan untuk memeriksa batok kepala itu sekali
lagi, dia melihat diatas batok kepala itu memang terdapat lima lobang bekas jari tangan.
Karena itu Ceng Thian Sienie telah memeriksa lebih teliti kelima lobang yang terdapat dibatok
kepala Hok Cie Lan, dan hatinya jadi terkejut sekali.
Sebagai seorang ahli Kui Im Pek Kut Jiauw tentu saja Ceng Thian Sienie mengetahui sifat2 dan
tanda2 dari ilmu tersebut.
Melihat lobang yang dalam seperti itu, maka Ceng Thian Sienie menyadari bahwa kepandaian
orang yang membinasakan Hok Cie Lan itu tidak berada disebelah bawahnya.
sekian Ceng Thian Sienie tidak juga berhasil menemukan petunjuk untuk mengetahui siapa
orang yang memiliki kepandaian Pek Kut Jiauw itu, dia juga tidak berhasil memikirkan siapa
orang itu, karena setahu dia setelah Song Ceng Su binasa ditangan Thio Sam Hong di Bu Tong
San maka tidak ada orang lainnya yang memiliki. pandaian Kui Im Pek Kut Jiauw.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 20 dari 55


Tetapi sekarang ternyata ada orang lain yang mengerti ilmu itu, bahkan tampaknya kepandai
Kiu Im Pek Kut Jiauwnya itu tidak lemah, bahkan boleh jadi melebihi kepandaian yang dia miliki.
Setelah membungkus kepala Hok Cie Lan dan Lam Ie Lie menjadi satu, maka Ceng Thian
Sienie keluar dari kamarnya, Diluar rumah penginapan itu dia berpapas dengan sipelayan, yang
telah cepat2 menghidari dirinya.
Diam2 Ceng Thian Sienie jadi merasa lucu dan kasihan juga terhadap pelayan itu yang tadi
telah dihajarnya. Maka dia melambaikan tangannya memanggil pelayan itu.
Semangat sipelayan seperti terbang meninggalkan raganya, seketika itu juga mukanya berobah
menjadi pucat pasi, dan hatinya menyesal mengapa tadi dia tidak pura2 sibuk saja. kemudian
menuju kebelakang meninggalkan si niekoaw ?
Tetapi karena telah dipanggil, sipelayan tidak berani tidak menghampiri.
"Ada perintan apakah, Sienie ?" tanyanya dengan sikap hormat dan hati kebat kebit diapun
tidak berani terlalu dekat menghampiri Ceng Thian Sienie karena dia takut kalau2 tangan
niekouw itu kembali main menempilingnya.
Tetapi Ceng Thian Sienie malah mengangsurkan dua tahil perak yang diletakkan dia atas meja
yang ada dekatnya.
"Untukmu !" kata Ceng Thian Sienie "ambillah !"
Pelayan itu mengambilnya dengan ragu2 tapi berulang kali mulutnya mengucapkan terimakasih
yang tidak berkesudahan. Sedangkan dalam hatinya berpikir.
"Aneh sekali Niekouw ini, dia sukar diterka hatinya. Tidak hujan tidak angin memberikan hadiah
demikian besar kepadaku. Tetapi tadi mengapa waktu disampaikan bingkisan, bukannya dia
menghadiahi aku, jus-
telah memberi persenan tempilingan"
Ceng Dian Sienie telah melangkah keluar penginapan itu, dia menyusuri jalan raya dusun itu
keadaan didusun ini tidak begitu ramai karena memang dusun ini berpenduduk sedikit.
Hanya sekali2 saja dia bertemu dengan satu dua orang penduduk kampung ini.
Waktu Ceng Thian Sienie tengah memperhatikan tempat2 yang dilaluinya, dari arah depan
berjalan seorang lelaki. Dilihat dari bentuk lelaki itu pasti seorang pemuda. Wajahnya tidak bisa
dilihat jelas karena dia menundukkan kepalanya dalam2, Lelaki ini berjalan tanpa menoleh2
kekiri-kanan, maka hampir saja dia nyeruduk Ceng Thian Sienie untung saja waktu itu Ceng
Thian Sienie mengingkir kesamping sehingga mereka
tidak sampai saling bertubrukan.
Ceng Thian Sienie baru saja ingin menegur orang itu yang jalan main nyeruduk saja tapi orang
itu dengan kepala masih tertunduk telah berkata
"Selamat bertemu Ceng Thian Sienie"
Dan sambil berkata begitu tahu2 kakinya telah menjejak tanah, dia telah berlari dengan cepat
sekali, secepat angin.
Ceng Thian Sienie jadi tertegun, tetapi dia tersadar, dia segera mengejar dengan cepat.
"Hei tunggu ?" teriak Ceng Thian Sienie dan keras dugaannya bahwa orang inilah yang telah
memberikan 'bingkisan' batok kepala Hok Cie Lan dan Lam le Lie kepadanya.
Tetapi orang itu berlari dengan cepat sekali, tubuhnya seperti terbang menuju keluar kampung
itu.
Dengan penasaran Ceng Thian Sienie mengempos semangatnya dan mengejarnya...
Tetapi karena orang itu berlari dengan cepat sekali, maka tidak mudah bagi Ceng Thian Sienie
untuk menyusulnya.
Saat itu tampak orang tersebut telah menghampiri permukaan hutan, Ceng Thian Sienie jadi
mengerahkan seluruh kesanggupan berlari Cepatnya, karena jika orang itu berhasil memasuki
hutan tentu akan sulit untuk melakukan pengejaran.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 21 dari 55


"Hei... berhenti ..!" teriak Ceng Thian Sienie sambil menggerakkan tangannya mengambil salju
yang digenggamnya menjadi bulat dan dilontarkan kearah orang itu, mengincar jalan darah
penting dipunggung belakang orang itu.
Tetapi orang didepan itu telah melompat kesamping, maka timpukan itu lolos tidak mengenai
sasaran.
Dan orang itu melompat kesamping bukan untuk berhenti. melainkan masih terus juga berlari
dengan cepat sekali, dan dalam sekejap mata telah masuk kedalam hutan itu.
Ceng Thian Sienie akhirnya mengejar sampai dimuka hutan itu. Dia telah melompat masuk
kedalam hutan itu dengan sikap waspada dan bersiap2 untuk menghadapi segala
kemungkinan.
Hutan itu sangat gelap sekali, pohon pohon yang tumbuh lebat menutup cabaya matahari
menerobos masuk
Dalam keadaan yang samar2 seperti itu Ceng Thian Sienie telah memperhatikan dengan
cermat sekelilingnya.
Tetapi walaupun Ceng Thian Sienie telah memasuki hutan itu lebih dalam, masih belum
berhasil melihat bayangan orang buruannya itu.
Tiba2 mata Ceng Thian Sienie yang tajam telah melihat sesosok tubuh berada diatas pohon
tanpa membuang2 waktu lagi karena kuatir sempat melarikan diri, Ceng Thian Sienie
menjejakan kakinya dan tubuhnya melompat ketengah udara, tangannya diulurkan untuk
mencengkeram pergelangan tangan orang itu.
Tetapi waktu tangan Ceng Thian Sienie terjulur untuk mencengkeram dan hanya terpisah
setengah meter lagi. sosok tubuh itu tetap tidak bergerak, dan waktu itupun Ceng Thian Sienie
sempat melihat sosok tubuh seorang wanita, malah yarg membuat Ceng Thian Sienie jadi
mengeluarkan seruan kaget dan cepat menarik pulang tangannya itu, karena dia melihat sosok
tubuh wanita itu tidak memiliki kepala !
Tubuhnya telah meluncur turun lagi, dan dia menengadah mengawasi keatas memperhatikan
sosok tubuh tanpa kepala itu. Ternyata sosok tubuh itu terikat seutas tali disebuah dahan,
membuat sosok tubuh itu tergantung ditengah udara.
Setelah memperhatikan sejenak dan berhasil menindih goncangan hatinya, Ceng Thian Sienie
telah mengenalinya bahwa sosok mayat wanita itu tidak lain dari sosok tubuh Lam Ie Lie yang
dikenalinya dari pakaiannya.
"Betapa kejamnya pembunuh yang telah membinasakan gadis ini, sampai mayatnyapun
dijadikan bahan permainan sedemikian rupa ..!" berpikir Ceng Thian Sienie
"Jika aku berhasil bertemu dengannya, tentu akanku membinasakannya ..!"
Ceng Thian Sienie teringat bahwa kepala Lam Ie Lie masih berada didalam kamar dirumah
penginapan, maka segera dia memutar tubuhnya berlari2 kembali kedusun itu, kemudian
kembali kedalam hutan itu.
Dia bermaksud untuk mengubur mayat Lam Ie Lie...
Tetapi waktu dia tiba ditempat mana tadi tubuh Lam Ie Lie tergantung tanpa kepala, ternyata
ditempat tersebut telah kosong sama sekali. Tidak terlibat suatu apapun juga, tubuh atau mayat
dari Lam Ie Lie telah lenyap.
Kembali Ceng Thian Sienie jadi tertegun dia gusar sekali, namun dia murka tanpa berdaya
dipermainkan sedemikian rupa oleh seseorang, yang tidak diketahuinya.
Disaat perasaan marah, gusar, penasaran dan sedih telah bercampur bergolak menjadi satu
didalam hati Ceng Thian Sienie.
Kedua kepala Lam Ie Lie dan Hok Cie Lan telah dibawanya pulang kembali kerumah
penginapannya. Karena Ceng Thian Sienie kuatir, kalau dia mengubur kedua batok kepala dari
Lam Ie Lie dan Hok Cie Lan didalam hutan itu, nanti kedua kepala Lam le Lie dan Hok Cie Lan
akan dikirim 'pulang' kepadanya lagi!

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 22 dari 55


Malam itu Ceng Thian Sienie rebah dia pembaringannya dengan gelisah sekali, karena dia
benar2 mendongkol dan marah. Dia jadi berpikir keras berusaha menerka, siapa yang telah
mempermainkan dirinya seperti ini. Yang lebih mengherankan lagi justru orang itu tampaknya
memiliki kepandaian cukup tinggi tidak berada dibawah kepandaiannya sendiri, maka tentunya
dia bukun orang sembarangan.
Lalu apa maksud orang itu mempermainkan dirinya ? Sampai jauh malam Ceng Thian Sienie
tidak bisa memecahkan teka teki yang membingungkan itu.
Kentungan kedua telah berlalu, dan walaupun malam telah demikian larut, Ceng Thian Sienie
masih belum dapat tidur dengan nyenyak.
Dalam keadaan yang hening dan sunyi seperti itu, tiba2 Ceng Thian Sienie telah mendengar
suara langkah kaki didekat jendala kamarnya
Suara langkah kaki seseorang yang sangat ringan sekali.
Hati Ceng Thian Sienie jadi tercekat, dengan gesit sekali dia telah melompat kepinggir jendela
kamarnya dan memang pendengarannya sangat tepat.
Dia menduga bahwa orang yang tengah mendekati kamarnya ini tentu orang yang sedang
mempermainkan dirinya itu. Begitu orang tersebut mengetuk jendela kamarnya dia akan
melancarkan serangan dengan ilmu Bu Kek Kang Ciang (Pukulan Udara Kosong) dari dalam...

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 23 dari 55


Jilid ke 3
Lewat sejenak tanpa membuang2 waktu dengan cepat Ceng Thian Sienie telah mengayunkan
tangannya yang kiri dengan tenaga iwekang yang dasyat mempergunakan ilmu pukulan Bu Kek
Kang Ciang
"Bukkk!" Ceng Thian Sienie memang berhasil sesosok tubuh telah terpental dua tombak lebih
tentu saja hal ini menggembirakan Ceng Thian Sienie dia melompat untuk menghampiri orang
itu, Tangan kanannya telah diangkatnya untuk melancarkan serangan lagi kesosok tubuh yang
menggeletak diatas tanah, namun waktu akan menghantamkanya, dia jadi terkejut sebab sosok
tubuh itu tidak memiliki kepala.
Bahkan dia segera mengenali dari pakaiannya yaitu Lam le Lie, Dengan mengeluh jengkel,
Ceng Thian Sienie dengan cepat mengawasi sekitar tempat itu, dan sempat melihat sesosok
bayangan menyelinap diluar dinding rumah penginapan itu.
"Walaupun bagaimana kali ini aku harus dapat membekuk batang lehernya..."
Tanpa membuang waktu, dengan gusar sekali Ceng Thian Sienie mengejarnya.
Dia telah mengerahkan seluruh ginkang-nya, dia mengejar sekuat tenaga dan dalam sekejap
mata mereka telah saling kejar mengejar dalam jarak terpisah belasan tombak.
Jarak mereka akhirnya semakin dekat hanya terpisah beberapa tombak saja. Orang itu terus
berlari menuju keluar perkampungan, dan seperti kemarin dia berlari menuju kearah hutan.
Tetapi Ceng Thian Sienie yang telah menduga maksud orang itu, tidak mau memberikan
kesempatan lagi, dia telah mengeluarkan suara bentakan yang mengguntur, disaat itulah dia
telah berlari secepat angin. Ceng Thian Sienie telah merogoh saku jubahnya, tahu2 tangan
kanannya telah melontarkan dan meluncurlah beberapa kepingan uang logam.
"Sringgg.. sring sring..". tiga titik telah menyambar punggung, paha dan kaki. Angin serangan
dari ketiga logam itu mendesing kuat sekali, menunjukkan Ceng Thian Sienie menimpuknya
dengan kuat sekali.
Orang yang diserang tersebut tampak terkejut juga, terpaksa dia harus mengelakan diri,
Tubuhnya yang tengah berlari cepat tahu2 telah doyong kesamping kanan, dia
mempergunakan tangan kirinya untuk menyampok samberan senjata rahasia yang menuju
kepaha dan kakinya, sedangkan senjata yang menyambar kepunggungnya telah lewat tidak
berhasil mengenai sasaran karena tubuh orang telah miring kesamping.
Diwaktu berhasil menyampok senjata rahasia yang menyambar paha dan kakiya itu, dan disaat
itu pula Ceng Thian Sienie telah melompat gesit sekali, dia telah menghadang jalan larinya
orang itu.
Dengan mata yang terpentang lebar2, Ceng Thian Sienie telah mengawasi orang itu, dia dapat
melihat bahwa orang tersebut hanyalah seorang pemuda berusia diantara dua puluh dua tahun-
an yang wajahnya tampan sekali, dibawah sinar rembulan tampak dia menarik bukan maen
Bahkan dalam sekejap mata itu hati Ceng Thian Sienie agak tergoncang, wajah pemuda itu
mirip sekali dengan Thio Bu Kie, bahkan jauh lebih tampan ! Namun cepat sekali Ceng Thian
Sienie berhasil menindih goncangan hatinya dia telah membentak dengan bengis
"Apa maksudmu selalu mempermainkan diriku ? Siapa kau sebenarnya?"
Pemuda itu sudah tidak melarikan diri dan tengah bertolak pinggang dengan sikap yang tenang
dan disertai suara tertawa mengejek berkata
"Hahaha... siapa mempermainkan siapa... aku tak mengerti maksudmu?"
Muka Ceng Thian Sienie jadi berobah merah padam karena gusar sekali.
"Kita tidak saling kenal, kitapun tak pernah berurusan tetapi mangapa engkau mempermainkan
diriku sedemikian rupa? kaukah yang telah membinasakan kedua gadis itu Hok Cie Lan dan
Lam Ie Lie?"
Pemuda itu kenbali tertawa dengan suara yang keras
"Jika memang benar aku, apa maumu ? Jika bukan, apa pula yang hendak kau lakukan ?"

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 24 dari 55


Melihat cara pemuda itu yang angin2an, maka tanpa membuang waktu Ceng Thian sienie telah
membentak
"Rupanya engkau harus merasakan kehebatan Hudtimku, jika tidak engkau tentu akan
membual mulut besarmu itu terus!"
Sambil berkata begitu Ceng Thian Sienie mengulurkan tangannya meraba pinggang ,dia telah
mencabut hudtimnya yang kemudian dikibaskannya
"Bersiap2lah untuk menerima serangan.. segera keluarkan senjatamu!" kata Ceng Thian Sienie
dengan suara membentak.
"Hemmm, menghadapi niekouw seperti kau, mengapa harus mempergunakan senjata ?"
jawabnya sambil badannya berdiri tegak dengan sikap yang menantang.
Tentu saja Ceng Thian Sienie jadi gusar bukan main dengan mengeluarkan suara bentak
bengis, tampak hudtim Ceng Thian Sienie telah menyambar datang dengan kecepatan yang
sangat dahsyat karena serangan itu disertai oleh tenaga iwekang yang luar biasa kuatnya.
Bulu2 Hudtim itu telah menyambar bergabung menjadi satu, dan menuju ke salah satu jalan
darah didekat lengan pemuda itu.
Tetapi pemuda itu benar2 angkuh dan meremehkan serangan yang dilakukan Ceng Thian
Sienie
Dia berdiri tegak mengawasi saja datang serangan itu, dan telah menantikan sampai dekat,
barulah dia bergerak dengan gerakan yang sangat aneh, tubuhnya telah bergerak dengan
gerakan yang sangat cepat sekali, tahu2 dia telah berada dibelakang Ceng Thian Sienie.
Ceng Thian Sienie jadi terkejut karena telah kehilangan sasaran, dan dia jadi lebih terkejut lagi
waktu dari arah belakang punggungnya dirasakan menyambarnya angin serangan yang hebat
sekali, yang menuju kejalan darah yang mematikan.
Tanpa menoleh lagi, dengan cepat Ceng Thian Sienie telah menggerakkan Hudtimnya untuk
menyampok kebelakang.. Saat itu sipemuda memang telah melancarkan serangan dengan
telapak tangannya kearah pungggung Ceng Thian Sienie, dia menyerang dengan
mempergunakan tenaga yang sangat kuat sekali sehingga menimbulkan angin serangan yang
dahsyat sekali.
Ceng Thian Sienie menduga hal ini akan membuat bentrokan yang terjadi antara tangan dan
Hudtim tetapi pemuda itu benar2 hebat sekali, walaupun usianya masih sangat muda
kenyataanhya dia liehay sekali. Begitu tangannya akan tersampok dengah Hudtim, dia tidak
menarik pulang tangannya itu bahkan dia telah membalikkan telapak tangannya, tahu2
tangannya itu turun beberapa dim kebawah, kemudian nyelonong lagi akan mencengkeram
pundak Ceng Thian Sienie.
Niekouw ini yang merasakan sambaran angin serangan kearah bahunya, jadi mengeluarkan
teriakan yang sangat keras.
Dengan cepat Ceng Thian Sienie telah membalikkan sedikit tubuhnya dan melepaskan
hudtimnya diganti dengan serangan tangan kirinya sambil mementang kelima jarinya kearah
belakang disertai angin berhawa dingin itulah salah satu gerakan dari ilmu Kiu Im Pek Ku Jiauw
yang liehay.
Tetapi pemuda itu sama sekali tidak perlihatkan perasaan jeri menghadapi ilmu hebat seperti
Kiu Im Pek Jiauw itu, dengan mengeluarkan suara seruan dia telah menghentak kepalanya
kesebelah belakang dan waktu lehernya menjadi sasaran jari Ceng Thian Sienie. maka dengan
gerakan yang sangat cepat sekali, tangan pemuda itu telah terangkat mendahului menghajar
kepala Ceng Thian Sienie dengan kelima jari tangan kanannya yang terpentang kuat sekali.
Ceng Thian Sienie jadi terperanjat, karena pemuda itu justru telah menyerang kepalanya
dengan mempergunakan Kiu Im Pek Kut Jiauw yang sama.
Keruan saja Ceng Sienie harus cepat2 menarik pulang tangannya, karena jika dia meneruskan
serangannya memang dia bisa saja mencengkram leher pemuda itu, namun kepala Ceng Thian
Sienie juga akan lebih dulu dilobangi jari tangan pemuda itu!
Tentu saja hal ini tidak dikehendaki oleh Ceng Thian Sienie, maka dia melompat mundur
dengan gerakan cepat.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 25 dari 55


Pemuda itu tidak mengejar dan bergerak dari tempatnya hanya mengawasi Ceng Thian Sienie
dengan sorot mata mengejek dan mulutnya tersenyum sinis sambil mengeluarkan kata2 ejekan
sangat pedas kepada Ceng Thian Sienie
"Kiu Im Pek Kut Jiauw yang kau miliki ternyata hanya begini saja... jika tadi aku bersungguh2
ingin membolongi batok kepalamu, dengan mudah aku bisa melakukan! untuk mengelakkan
cengkeraman dileherku, mudah saja kulakukan dengan cara seperti ini ..."
Dan pemuda itu lalu menggerak bahunya tahu2 kepalanya telah dimundurkan kebelakang,
tubuhnya juga terdoyong kebelakang sedikit, tetapi anehnya tangan kanannya yang diulurkan
tetap maju kedepan.
Ceng Thian Sienie jadi pucat.
Karena apa yang dilakukan oleh pemuda itu merupakan gerakan yang bisa menghindarkan diri
dari serangan dilehernya dan juga disamping itu akan bahayakan dirinya karena jari2 tangan
pemuda itu terus juga akan melobangi batok kepalanya
"Bagaimana ?" mengejek pemuda itu dengan suara yang sinis.
"Apakah engkau mengaku kalah ?"
"Bagaimana kau bisa ilmu itu? Siapa gurumu?" bentak Ceng Thian Sienie dengan suara yang
mengandung kegusaran tetapi nikouw ini telah berusaha menahan kemarahan dihatinya
"Tentu saja aku tahu ilmu itu dari guruku dan tidak perlu engkau menanyakan guruku... karena
menghadapi diriku saja engkau takkan sanggup apalagi berhadapan dengan guruku... Jika
engkau masih penasaran.. ayolah kita coba lagi?"
Ceng Thian Sienie memang tengah penasaran dia tidak yakin bahwa pemuda itu lebih tinggi
dari kepandaiannya.
"Jaga serangan...!" tampak Ceng Thian Sienie telah melompat dan melancarkan serang yang
gencar sekali. Kali ini dia telah mempergunakan kedua tangannya lancarkan serangan2 dengan
mempergunakan Kiu Im Pek Kut Jiauw.
Hanya saja yang membingungkan Ceng Thian Sienie justru disaat itu tampaknya sipemuda
mengenal benar ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw-nya dua kali ia melancarkan serangan yang hebat
selama itu pula sipemuda dapat mengelakkan dan menyelamatkan dirinya dari ancaman
bahaya dengan gerakan yang indah sekali.
Penasaran, gusar, bercampur aduk menjadi satu dihati Ceng Thian Sienie.
Tampak Ceng Thian Sienie mengulangi beberapa kali serangan kepada sipemuda itu.
Serangan2 yang dilakukan oleh Ceng Thian Sienie merupakan serangan2 yang sangat hebat
sekali, serangan2 yang mematikan, karena Ceng Thian Sienie telah mengeluarkan Kiu im Pek
Kut Jiauw mulai dari jurus kedelapan puluh satu sampai jurus yang kesembilan puluh.
Gerakan2 tangan dan Hudtimnya itu seperti juga hujan dan angin, tangannya meluncur dengan
cepat sekali, dengan gerakan2 yang sangat dahsyat dan luar biasa sekali, dan benar2
mematikan. Kaiau saja serangan itu mengenai sasaran-nya dengan tepat.
Namun nyatanya pemuda itu bisa mengelak diri dan selalu dapat memunahkan serangan2 yang
dilancarkan oleh Ceng Thian Sienie.
Bahkan dalam keadaan demikian, tampak pemuda itu berulang kali telah melancarkan
serangan2 balasan yang sangat hebat sekali, yang memaksa Ceng Thian Sienie harus
mengundurkan diri dari tempatnya berada. Beberapa kali Ceng Thian Sienie telah terdesak
hebat. Tentu saja hal ini telah membuat Ceng Thian Sienie kian heran dan bingung saja, sebab
sesungguhnya Ceng Thian Sienie memiliki kepandaian yang sangat tinggi, dan didalam rimba
persilatan sudah jarang ada orang yang bisa menandingi kepandaiannya.
Sedangkan tokoh2 Beng-kauw, seperti Hoan Yauw dan Wie It Siauw dan lain2nya sama sekali
tidak bisa menandinginya hanya Yo Siauw saja kiranya yang berimbang ilmu dan
kepandaiannya.
Maka aneh sekali jika sekarang pemuda biasa melancarkan serangan2 mendesak Ceng
ThianSienie. Tentu saja keadaan seperti ini telah membuat Ceng Thian Sienie memutar otak

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 26 dari 55


menga ingat2, siapakah orang pandai dalam rimba persilatan yang memiliki juga kepandaian
Kiu Im Pek Kut Jiauw itu.
Tetapi sebegitu lama Ceng Thian Sienie tidak berhasil mengingat siapapun juga, karena
setahunya didalam persilatan hanya dia seorang yang menguasai ilmU Kiu Im Pek Kut Jiauw
ilmu yang berbau 'sesat' itu.
Song Jin Su, puteranya Song Wang Kiauw memang pernah mempelajari ilmu Kiu Im Pek Kut
Jiauw itu dari Ceng Thian Sienie yang saat itu masih mempergunakan nama Ciu Cie Jiak dan
menjadi Ciangbujin Go Bie Pay. Tetapi Song Jin Su telah terbinasa dihukum oleh Thio
Sam Hong, Tay Suhu dari Bu Tong Pay
Maka sekarang, entah siapa yang telah menurunkan kepandaian Kiu Im Pek Kut Jiauw kepada
pemuda itu, Siapakah guru pemuda itu?
Karena berpikir demikian maka Ceng Thian Sienie jadi terlambat melancarkan serangan.
Dalam keadaan demikian pemuda tersebut telah melompat dengan gerakan yang lincah
waktutubuhnya melayang ditengah udara dengan cepat sekali telah melancarkan serangan
berantai dengan kedua kakinya meluncur dahsyat sekali.
Gerakan yang dilakukan oleh pemuda itu benar2 mengejutkan Ceng Thian Sienie, meskipun
diapun tahu jurus serangan pemuda itu adalah salah satu jurus dari ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw
namun serangannya sangat aneh .. gerakan tangan telah diubah menjadi gerakan kaki tetapi
justru telah menambah kedasyatan dan kehebatan jurus itu.
Untuk menyampok kaki pemuda itu sudah tidak keburu.. sehingga semangatnya seperti terbang
meninggalkan raganya, kaki pemuda itu meluncur turun dengan secepat kilat maka dia tidak
mungkin bisa mengelakkan diri lagi dari gempuran 'jari kaki' Kiu Im Pek Kut Jiauw yang dahsyat
itu.
Karena putus asa Ceng Thian Sienie jadi memejamkan matanya menantikan kematian yang
akan menjelang datang.
Namun disaat memejamkan matanya sejenak, kaki pemuda itu tidak juga tiba dikepalanya.
Waktu Ceng Thian Sienie membuka matanya, dia melihat pemuda itu telah melompat menjauhi
dirinya beberapa tombak, dan saat itu sipemuda itu telah berkata dengan suara yang
mengandung penasaran
"Sayang In-moay melarang aku untuk membinasakan Thio Bu Kie, Tio Beng, anggota Beng-
kauw dan termasuk engkau juga..."
Setelah berkata begitu, sipemuda telah memutar tubuhnya untuk berlalu.
"Tunggu dulu!" teriak Ceng Thian Sienie dengan suara keras sekali.
"Engkau menyebut2 In-moay, apakah adik In-mu itu yang bernama In Lee?"
Pemuda itu tersenyUm mengejek.
"Jika benar, kau mau apa? jika tidak, apa pula yang kau kehendaki?"
Hati Ceng Thian Sienie jadi tergoncang.
Seperti diketahui In Lee mencintai Thio Bu Kie dalam khayalannya disaat Bu Kie masih kecil
dan berusia belasan tahun. [Baca Kisah Membunuh Naga/It Thian Kiam To Liong To]
"Apa hubunganmu dengan In moaymu itu?" tanya Ceng Thian Sienie agak gelisah.
"Tidak perlu kau tahu!" menyahuti pemuda itu.
"Engkaukah juga yang telah membinasa orang2 Beng kauw yang dibunuh dengan
mempergunakan Kiu Im Pek Kut Jiauw?"
"Tidak salah".
"Tetapi mengapa engkau memalsukan surat dan menjual namaku, menyatakan bahwa yang
membinasakan ketiga orang anggota Bengkauw itu adalah aku ?”.
"Aku hanya bergurau saja, aku ingin lihat apakah engkau dengan mengandalkan Kiu Im Pek
Kut Jiauw akan sanggup melayani orang2 Beng kauw? maka aku terpaksa harus bersandiwara

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 27 dari 55


seperti itu. Ketiga orang Beng-kauw itu terlalu tengik, dengan miliki kepandaian seujung rambut
itu saja, mereka terlalu bertingkah. maka aku bereskan jiwa mereka. Lalu batok kepalanya
kukirim ke Beng-kauw. agar menjadi bukti bahwa engkau, Ciu Cie Jiak yang telah
membinasakan ketiga anggota Beng-kauw itu, bukankah didalam rimba persilatnya hanya
engkau seorang saja yang memiliki dan menguasai ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw ?"
”Kurang ajar...! kau ini pemuda licik dan kejam !" mendesis Ceng Thian Sienie dengan suara
yang gemetar karena menahan kemarahan.
"Memang aku seorang pemuda yang kurang ajar, licik dan kejam ! In-moay juga selalu
mengatakan begitu. Maka dari itu, sekarang kalaupun seluruh rimba persilatan mengatakan aku
sebagai pemuda yang kejam dan berotak sinting, aku tidak akan perduli, justru aku senang dan
mau menerima julukan itu, justru aku akan bertambah2 kejam lagi, seluruh orang yang
menentangku, akan kubinasakan dengan Kiu Im Pek Kut Jiauw ! Tidakkah itu merupakan suatu
hal yang baik sekali !"
Bulu tengkuk Ceng Thian Sienie jadi berdiri mendengar perkataan pemuda itu
Memang hebat sekali akibatnya jika sampai pemuda itu mengobrak-abrik dunia persilatan
dengan mempergunakan ilmu Kiu Im Pek Kut Jiauw dan semuanya ditimpahkan kedalam
dosa2nya.
Tubuh Ceng Thian Sienie gemetaran keras dia tidak bisa menguasai kemarahan lagi dengan
seruan murka, tubuh Ceng Thian Sienie telah melompat ketengah udara dan telah melancarkan
serangan yang sangat kuat sekali, Tenaga dan angin serangan dari jurus Kiu Im Pek Kut Jiauw
yang dicampur dengan jurus2 Go Bie Kiam Hoat (Ilmu pedang Go Bie) kearah sipemuda
dengan dahsyat sekali.
Tetapi pemuda itu tidak takut sedikitpun juga, dia mengeluarkan suara ketawa mengejek.
Tetapi Ceng Thian Sienie Sudah tidak ngacuhkan dan tidak memperdulikan lagi ejekan pemuda
itu, dengan cepat sekali dia telah melancarkan gempuran2 dengan mengerahkan seluruh
tenaga Iwekangnya.
Memang terlihat betapa pemuda itu jadi terdesak hebat, dia tidak tahan menghadapi
gempuran2 tenaga yang dahsyatnya melebihi runtuhan gunung.
Walaupun pemuda itu memiliki kepandaian yang sangat aneh namun menghadapi tenaga
Iwekang Ceng Thian Sienie yang telah melatih lwekangnya puluhan tahun tentu saja dia tidak
bisa bernapas dan dia tidak bisa balik membalas lancarkan serangan.
Tetapi pemuda itu sangat berani, sama kali dia tidak merasa takut, bahkan berulang kali
dia berusaha menghadapi gempuran tenaga Iwekang yang dilancarkan oleh Ceng Thian Sienie.
Setiap gerakan yang dilakukannya merupakan gerakan2 yang sangat dahsyat sekali, juga dia
sering mengeluarkan gerakan2 yang sangat aneh dan janggal.
Tetapi waktu kedua orang itu tengah bertempur seru dari kejauhan terdengar suara seruling
yang mengalun perlahan dan lembut.
"In-moay!" teriak pemuda itu disela pertempuran dengan suara mengandung kegembiraan yang
sangat.
Mendengar itu tubuh Ceng Thian Sienie jadi gemetar sedikit, hatinya juga tergetar.
Disebabkan perasaan terkejutnya itu, membuat gerakan Ceng Thian Sienie jadi tertahan
sejenak, dia agak lambat melancarkan pukulan.
Kesempatan itu telah dipergunakan oleh pemuda itu untuk mendesak Ceng Thian Sienie
dengan hebat sehingga membuat Ceng Thian Sienie agak gugup dan berulang kali mati2an
harus mengelakkan diri dari serangan2 yang mematikan itu.
Disaat itu tampak dari arah utara mendatangi seseorang. Semula hanya dalam bentuk titik
bayangan hitam saja diantara hamparan salju yang putih, tetapi semakin lama semakin besar
dengan cepat sekali, membuktikan bayangan itu memiliki ginkang (ilmu lari cepat) yang luar
biasa.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 28 dari 55


Sosok tubuh itu makin lama semakin dekat, dan akhirnya telah tiba didekat kedua orang yang
tengah saling bertempur itu.
"Long jie, jangan kurang ajar !" bentak sosok tubuh itu.
Pemuda yang dipanggil Long-jie (anak Long) telah tertawa perlahan, setelah melepaskan
pukulan maut yang membuat Ceng Thian Sienie terudur kebelakang, dia segera melompat
mengundurkan diri meninggalkan niekouw itu dan berdlri disamping orang yang baru datang itu.
Napas Ceng Thian Sienie jadi agak memburu, dan dia mengawasi dengan sorot mata yang
tajam kearah orang yang baru datang itu. hatinya segera tergoncang.
Orang yang baru muncul itu tengah mempermainkan dan mengusap-usap seruling yang terbuat
dari bambu putih itu memiliki tangan tubuh yang kurus jangkung, dan rambutnya terpotong
pendek, mukanya kurus dan panjang. matanya yang cemerlang berbentuk indah, hidungnya
mancung dan bibirnya manis sekali tipis agak panjang kesamping, karena dia tengah
tersenyum dengan manis memandang Ceng Thian Sienie. Dialah In Lee.
"Ciu Ciecie!" kata In Lee sambil tersenyum manis. "Kita lama tidak bertemu, apakah selama ini
engkau sehat2 saja?"
"Terima kasih... Pienie kagum sekali akan didikanmu terhadap seorang pemuda seperti dia
itu..." Dengan nada suara sedikit jengkel menunjuk kearah pemuda itu.
In Lee menghela napas.
"Long-jie memang sulit diatur!" katanya kemudian "Maafkanlah Ciu Ciecie, dengan memandang
mukaku maukah engkau memaafkan kekurang ajarannya"
"Untuk diriku pribadi memang tidak jadi persoalan, tetapi justeru yang menjadi soalan adalah
pembunuhan2 yang telah dilakukannya...!"
"Pembunuhan2? Long jie telah melakukan pembunuhan?" tanya In Lee sambil mementang
matanya itu lebar2.
"Dia telah banyak sekali melakukan pembunuhan kejam..!" Jawab Ceng Thian Sienie cepat
Mendengar itu muka In Lee jadi berobah, tiba2 dia mengangkat tangan kanannya yang
mencekal serulingnya.
"Plaakkk!" serulingnya itu telah dipukul kepunggung sipemuda yang ada disampingnya.
Pemuda itu sedikitpun tidak menangkis atau mengelakkan dan dipukul telak sekali oleh In Lee.
Namun yang membuat Ceng Thian Sienie mendongkol, dia melihat pemuda itu bukan meringis
kesakitan atau meng-aduh2, bahkan telah me-nyengir2 saja.
"Nah Ciu Ciecie, dia telah kupukul. puaskah engkau?" tanya In Lee kepada Ceng Thian Sienie
yang tetap dipanggilnya dengan sebutan Ciu Ciecie seperti dulu, walaupun dia melihat Cie Jiak
telah mencukur rambut menjadi nikoaw. Sikap yarg diperlihatkan In Lee sama saja dengan
sikap seorang ibu mengajar anaknya yang nakal.
"Hemmm, soal kau telah memukulnya atau tidak, itu bukan urusanku mcnyahuti Ceng Thian
Sienie. "Tetapi justru orang2 yang dibinasakannya adalah tiga orang anggota Bengkauw, dan
dua orang gadis yang tidak bersalah semuanya telah dibinasakan dengan serangan Kiu Im Pek
Kut Jiauw"
"Ah.....begitukah ?" tanya In Lee seperti tidak percaya. Dia telah menoleh kepada sipemuda,
lalu tanyanya "Benarkah Long jie? engkau telah membinasakan tiga orang anggota Beng-kauw
dan dua orang gadis yang tidak bersalah, seperti yang dikatakan oleh Ciu Ciecie ?"
"Mereka terlalu mendesakku, ketiga anggota Beng-kauw itu telah menghinaku keterlaluan..!"
In Lee telah menggerakkan tangannya lagi, sulingnya telah memukul lagi kepunggung LongJie.
Seperti tadi Longjie tidak mengelakkan diri dari serangan itu, sehingga terdengar suara yang
keras, namun dia hanya nyengir saja.
"Anak bandel, benar2 kau kejam dan licik.. aku mengajari kau ilmu silat bukan untuk berkelahi
atau membinasakan"

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 29 dari 55


"Hemm" Long jie tertawa dingin. "Jika ada orang yang memakimu, menghinamu, apakah kau
akan berdiam diri saja ?".
"Siapa yang menghinaku?" tegur In Lee marah.
"Dia ..!" dan Long jie telah menunjuk Ceng Thian Sienie.
"Dia yang telah menghinamu, dia memaki engkau seorang sinting, dan tidak waras... apakah
aku harus diam diri saja ?".
Muka In Lee benar2 berobah.
"Ciu Ciecie, benarkah yang dikatakan Longjie itu" tegur In Lee kepada Ceng Thian Sienie.
Tubuh Ceng Thian Sienie jadi gemetar menahan kegusaran yang sangat hebat dia telah
berkata dengan suara murka.
"Kau....!!! kau hebat sekali..!" karena lalu marah, Ceng Thian Sienie tidak bisa balas memaki
sipemuda yang mulutnya sangat liehay itu.
Sipemuda terlihat menyengir saja, nyengir puas. Sedangkan In Lee hanya tersenyum katanya.
"Memang Longjie sangat hebat, dia cerdas sekali"
Mendengar itu tentu saja Ceng Thian Sienie tambah mendongkol karena In Lee ternyata telah
salah mengartikan perkataannya.
Ceng Thian Sienie menghela napas. Dia melihat Long jie sangat disayang sekali oleh In lee dan
tampaknya juga dia pandai sekali ber-muka2 memanjakan in Lee. Terlihat dari caranya yang
tidak berusaha mengelakkan diri dari pukulan2 yang dilakukan In Lee, hal itu saja membuktikan
bahwa Long-jie memang sengaja ingin memanjakan In Lee.
Inilah sangat berbahaya, tampaknya Long-jie berhasil menguasai In Lee. dan yang
dikhawatirkan kalau2 In Lee ke!ak diperalat oleh sipemuda tersebut.
"Siapakah namanya" tanya Ceng Thian Sienie kepada In Lee. "Maksudku nama dia itu"
niekouw itu telah menunjuk kepada Long Jie
"Namanya Ie Thian Long" In Lee menjelaskan
"Hemm.. sekali lagi Pienie meminta agar kau lebih hati2 dalam mengawasi sepak terjangnya,
dia sangat licik" kata Ceng Thian Sienie.
Mata Ie Thian Long mendelik kearah siniekouw. Sedang In Lee mengangguk.
"Benar dan Tepat sekali Ciu Ciecie menilai dalam soal ini telah kuketahui Sejak kujumpai dia,
memang telah kulihatnya dia kejam dan licik sekali, bertangan telengas, sama dengan sifat
yang miliki 'Thio Bu Kie-ku' dulu."
Ceng Thian Sienie jadi terkejut, hatinya mencelos, In Lee mempersamakan Ie Thian Long
dengan Thio Bu Kie?, Tak lama Ceng Thian Sienie telah tersadar bahwa Thio Bu Kie yang
dimaksudkan oleh In Lee adalah Thio Bu Kie yang berada dalam khayalan In Lee.
"Oh ya.. Ciu Ciecie, sesungguhnya kemana tujuanmu sekarang ini?" tanya In Lee mengalihkan
persoalan.
"Aku ingin pergi Bu Tong San...Untuk bertemu dengan Thio Cinjin".
"Benar...???! Nanti tolong sampaikan salamku kepadanya..."
Ceng Thian Sienie mengiyakan sambil melirik kearah perut In Lee. Walaupun perut itu belum
terlalu besar, tetapi Ceng Thian Sienie mengetahui bahwa In Lee benar2 tengah 'berbadan
dua'.
In Lee yang melihat lirikan mata Ceng Thian Sienie, mukanya jadi berobah merah. Tampaknya
dia jadi malu, maka katanya
"Baiklah Ciu Ciecie, kami pergi dulu !" dan setelah berkata begitu, In Lee menoleh kepada Ie
Thian Long, katanya lagi "Mari Long jie, kita pergi..".
"Baiklah In-moay" mengangguk Ie Thian Long, dia telah menatap kearah Ceng Thian Sienie
dengan sambil tersenyum sinis kemudian dia telah memutar tubuhnya mengikuti in Lee.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 30 dari 55


Ceng Thian Sienie hanya berdiri tertegun ditempatnya, hatinya tergoncang hebat saat itu.
Bahaya yang bisa ditimbulkan oleh pemuda yarg bernama Ie Thian Long itu pasti hebat sekali
karena jika dilihat dari tindak tanduknya jelas dia seorang pemuda yang licik dan juga bertangan
telengas bukan main.
Kemudian dia telah kembali kerumah penginapannya. Keesokkan paginya Ceng Thian Sienie
telah melakukan perjalanan ke Bu Tong San.
Selama dalam perjalanan dia tidak menemui suatu peristiwa apapun juga, dan setengah bulan
kemudian dia telah tiba Bu Tong San.
Thio Sam Hong Sesungguhnya telah hitup menyendiri disebuah ruang kecil dibelakang kuil
melewati hari2 tua tanpa ingin menerima kunjungan siapapun juga.
Jie Lian Cu yang menggantikan kedudukkan Ciangbujin Bu Tong Pay, karena Song Wan Kiauw
yang telah turun dari kedudukan Ciangbujin akibat perbuatan Song Jin Su. Telah menyambut
kedatangan Ceng Thian Sienie.
Setelah basa-basi sejenak, maka Ceng Thian Sienie mulai mengemukakan maksud
kedatangannya, dia juga menceritakan pengalamannya dengan Yo Siauw Kauwcu Beng-kauw,
dan juga menceritakan pengalamannya mengenai sepak terjang Ie Thian Liong dan In Lee.
Mendengar semua itu Jie Lian Cu jadi terkejut dan agak gelisah, dia tidak bisa segera
memutuskan tindakan. Dia lalu menemui Thio Sam Hong dan meminta untuk dibantu
memberikan nasehat dan saran.
Mendengar semua peristiwa hebat itu, Thio Sam Hong akhirnya keluar juga menemui Ceng
Thian Sienie
"Sungguh tak terduga.. bahwa Nona In Lee bisa memiliki seorang pasangan seperti itu..
Sepertinya akan terjadi kekacauan setelah muncul bibit baru yang buruk Seperti pemuda itu"
kata Thio Sam Hong sambil menghela napas panjang setelah mendengar cerita dari Ceng
Thian Sienie. Usianya telah lanjut tubuhnya kurus dan mukanya cekung. Namun matanya yang
memancar cahaya gemilang membuktikan bahwa Iwekang yang dilatih Thio Sam Hong telah
mencapai tingkat yang benar2 sempurna.
Thio Sam Hong menghela napas lagi.
"Untuk persoalan Beng-kauw... Biarlah nanti kutulis sepucuk surat kepada Yo-kauwcu, Jika dia
masih tidak mengerti, mintalah kepada Yo-Kauwcu untuk menemui aku, sehingga nanti bisa
kujelaskan persoalan yang sebenarnya".
Mendengar perkataan Thio Sam Hong yang terakhir, Ceng Thian Sienie jadi girang dan haru.
Cepat2 dia menekuk kakinya, dia telah berlutut menyatakan terima kasihnya.
Thio Sam Hong telah membangunkan Cen Thian Sienie dari berlututnya, dan segera meminta
alat2 tulis kepada Jie Lian Cu untuk menulis surat yang ditujukan kepada Yo Kauwcu.
Dalam suratnya itu Thio Sam Hong menjelaskan bahwa Thio Bu Kie pernah bertemu
dengannya dan menyatakan bahwa Bu Kie belum pernah bertemu dengan Ceng Thian Sienie
selama lima tahun, sejak penyerahan kedudukan Ciangbunjin Go Bie Pay itu oleh Cie Jiak.
Maka apa yang tersiar itu adalah merupakan hal2 yang belum jelas duduk persoalannya, maka
Thio Sam Hong meminta kebijaksanaan Yo Kauwcu agar ikut menyelidikinya persoalan
tersebut. Dan kelak Thio Sam Hong juga akan mengirim orang untuk memanggil Bu Kie dan Tio
Beng agar urusan menjadi terang.
Disamping itu Thio Sam Hong menjelaskan didalam suratnya, bahwa Bu Kie memang pernah
menyatakan isi hatinya kepadanya, bahwa dia meninggalkan kedudukan Beng kauw karena
untuk kepentingan Bengkauw juga.
Jadi tidak ada sangkut pautnya dengan Ciu Cie Jiak atau yang sekarang bergelar Ceng Thian
Sienie.
Selesai menulis surat itu, Thio Sam Hong mengggulungnya dan menyerahkannya kepada Ceng
lan Sienie.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 31 dari 55


Bukan main rasa terima kasih Ceng Thian Sienie dan menyatakan terima kasihnya sampai
berulang kali.
--- demonking ---
In Lee dan Ie Thian Long telah berada diluar perkampungan Song kie-cung, mereka tampak
mesra sekali. Sejak berpisah dengan Ceng Thian Sienie. In Lee tidak mau berpisah lagi dengan
le Thian Long.
"Engkau harus selalu mendampingi aku!" kata In Lee.
"Ciu Ciecie telah menceritakan ulah2mu, jika engkau meninggalkan aku untuk melakukan
perbuatan2 yang memalukan, nanti kuhajar patah kedua kakimu, agar kau tidak dapat pergi
jauh2!"
"Jangan kuatir In moay, biarpun aku jahat dan licik seperti mereka, tetapi aku sangat baik
terhadapmu bukan? Biarlah semua orang membenci aku, tapi jika ada seorang saja yang
sayang padaku, yaitu engkau yang mencintai aku, itu sudah lebih dari cukup!" mesra sekali
kata2 Ie Thian Long.
Memang In Thian Long sangat licik, Pertemuan mereka juga terjadi sangat aneh sekali, waktu
itu Ie Thian Long merupakan seorang pemuda berusia delapan belas tahun, dia
hidup miskin dan sengsara sekali.
Dengan modal kecerdasan dan kelicikannya dia berhasil menipu sana-sini.
Namun suatu hari, terbongkar juga kebusukannya. sehingga orang2 yang pernah tertipu
olehnya, jadi gusar dan memukulinya.
Ie Thian Liong saat itu telah menjerit2 meminta ampun dan bersumpah untuk tidak akan
melakukan penipuan lagi. Namun penduduk kampungnya yang mengetabui bahwa Ie Thian
Liong adalah seorang pemuda yang buruk sifat dan tabiatnya, memukulinya terus.
Seperti seekor anjing gila orang2 yang sebal terhadapnya terus memukulinya. Karena benar2
terdesak dan tak mungkin diampuni oleh orang2 yang memukulinya, Ie Thian Long jadi berbalik
kalap dan nekad, sebisa-bisanya dia melawan dengan cakaran dan gigitan seperti seekor
binatang buas.
Namun tidak terduga. disaat itu muncul seorang gadis yang cara berpakaiannya tidak keruan,
rambutnya berpotongan pendek2 kusut dan pikirannya seperti tidak waras .. dialah In Lee.
Sekali mengibaskan tangannya, orang2 yang memukuli Ie Thian Long terpelanting kena
serangan tenaga kebasan tangan In Lee
In Lee yang kurang waras pikirannya, dan melihat bahwa wajah Ie Thian Long mirip2 dengan
Bu Kie, tampan sekali dan pakaiannya yang kumal lusuh dan sikap yang garang dan buas mirip
sekali seperti Bu Kie kecil yang ganas kejam sekali, yang berada dalam alam khayalannya. Dia
pun lalu menganggap bahwa Ie Thian Long adalah Bu Kie kecil yang kini telah dewasa.
Disaat itu Ie Thian Long memang licik, dia telah mempergunakan kesempatan yang ada yaitu
dia mempergunakan se-baik2nya kesintingan In Lee. Terlebih lagi memang dia melihat,
walaupun pakaian dan rambut gadis itu tidak keruan dan berotak sinting, namun In Lee
sesungguhnya sangat cantik. Maka setelah melakukan perjalanan bersama cukup lama, dia
bermaksud kemudian menipu gadis itu dengan caranya yang licik dan akhirnya dia berhasil
membujuk In Lee untuk "menikah" dengannya di saksikan langit dan bumi.
In Lee juga telah mencintai benar Ie Thian Long, dia telah pasrahkan jiwa dan raganya
Disamping itu In Lee juga telah menurunkan seluruh kepandaian dan ilmunya termasuk Kiu Im
Pek Kut Jiauw.
Dasarnya Ie Thian Liong memang sangat cerdik dan cerdas, maka setiap pelajaran yang
diturunkan In Lee dapat diterimanya dengan baik dan cepat.
Dalam waktu lima tahun saja Ie Thian Long telah dapat mewarisi seluruh kepandaian In Lee,
bahkan dia dapat mencampur-campur gerakkan silat yang sulit berdasarkan hasil kreativitasnya
sendiri, yang kurang mungkin hanya latihan iwekang dan tenaga murninya saja.
Ie Thian Long kini telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang kuat dan sakti.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 32 dari 55


Jilid ke 4
Diantara angin yang berhembus sepoi2, Matahari memancarkan sinarnya yang terik, tetapi
dengan adanya pohon, muka In Lee dan Ie Thian Long bisa terhindar dari sengatan cahaya
matahari.
"Panas sekali hawa udara hari ini...!" kata In Lee.
"Ya, musim dingin akan segera berlalu, saljupun mulai mencair...!" menyahuti Ie Thian Long
sambil menunjuk kearah tumpukan salju yang sebagian telah mencair. Ie Thian Long
menghampiri tumpukan salju itu, dan menyepak2 genangan air yang berasal dari salju yang
mencair, lalu mengambil sedikit salju yang digulungnya bulat. Saat itu seekor burung Liar
tampak terbang rendah, maka dengan cekatan sekali Ie Thian Long menimpukkan gumpalan
salju itu.
"Wutt...!" gumpalan salju itu terbang menyambar kearah burung itu, mengenai tepat kepala
burung tersebut, yang seketika itu mengeluarkan suara pekikannya dan meluncur turun
ketanah. Setelah menggelepar, burung itu tak bergerak lalu mati.
Ie Thian Long tersenyum puas.
Tetapi in Lee menegurnya "Kau terlalu kejam, burung itu tidak memiliki kesalahan apa2
terhadapmu, tetapi engkau telah membinasakannya !"
"Ya, aku tengah latihan.. ternyata tenagaku telah kian memperoleh kemajuan...!" menyahut Ie
Thian Long sambil tersenyum lebar dan menghampiri In Lee, duduk disampingnya.
"Tetapi latihan bisa kau pergunakan dengan cara lain" kata In Lee.
"Ingat In Moay-moay, jika seseorang yang kuat, tentu akan menang, jika yang lemah tertindas..
Itulah hukum dunia!" kata Ie Thian Long.
"Benar, tetapi itu hanya umumnya, dan sering kali terjadi juga, yang benar memperoleh
kemenangan juga" bantah In Lee.
"Itu jika memang nasibnya tengah baik.. Tetapi yang pasti hukum didunia ini adalah yang kuat
dan hebat, dialah yang menang, yang lemah tertindas ! Bukankah akupun pernah mengalami
betapa aku telah dikeroyok dan dipukuli penduduk kampung ? Bukankah disaat itu karena aku
tidak sanggup memberikan perlawanan makanya aku sangat menderita ?".
"Tetapi nyatanya engkau tidak sampai mati bukan?, secara kebetulan aku menyaksikan
peristiwa itu dan menolongimu.." tanya In Lee.
"Jika waktu itu tidak ada engkau ? Apa yang akan terjadi saat itu ?" tanya Ie Thian Long.
"Ah Long-jie, seharusnya engkau tidak berpikir begitu! Didalam dunia persilatan terdapat
banyak sekali tokoh2 persilatan, contohnya seperti Thio Bu Kie, dia berusia masih sangat muda
tetapi dia hebat dan tidak selalu menggunakan kekuatannya saja untuk menghadapi masalah..
padahal usianya mungkin sebaya dengan kau !".
Mendengar perkataan In Lee, muka Thian Long berobah, dia jadi merasa mendongkol
mendengar In Lee memuji Thio Bu Kie.
Entah mengapa disaat itulah Ie Thian Long jadi merasakan sesuatu yang menyelinap dihatinya,
walaupun dia belum pernah bertemu dengan Thio Bu Kie, dia jadi membenci orang she Thio itu.
Bahkan diapun jadi sirik dan jika memiliki kesempatan tentu dia ingin sekali mencelakai orang
she Thio itu.
In Lee melihat sikap Ie Thian Long yang berdiam diri saja, dia tertawa, tanyanya."Apa yang kau
pikirkan, Long Jie ?"
"Aku sedang memikirkan, bagaimana cara aku bisa memiliki kepandaian sangat tinggi dan
sempurna, agar aku kelak menjadi tokoh Te-it Enghiong (Pendekar Nomor Satu di Dunia
Persilatan)

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 33 dari 55


"Itulah khayalan yang terlalu tinggi" menyahuti In Lee. "Engkau tidak tahu.. disamping Thio Bu
Kie masih banyak lagi orang yang sangat sempurna ilmunya seperti orang-orang Bu Tong pay,
Siauw Lim pay dan tokoh2 dari Beng Kauw.. Berlatihlah dengan giat... Jangan memikirkan yang
tidak-tidak dulu.. ?"
"Tetapi semua itu belum menjamin bisa jadi yang terpandai didalam Rimba persilatan"
menyahuti Ie Thian Long dengan suara yang perlahan, wajahnya muram, dia memperguna
ujung kakinya untuk mencongkel-congkel salju2 yang mulai menipis karena teriknya matahari.
In Lee tertawa sambil mencekal tangan suaminya. katanya dengan manja."Long-Jie, engkau
harus percaya kepadaku, Jika memang engkau telah menguasai ilmu yang kuberikan dengan
baik, jarang ada yang bisa menandingimu! malah Jika engkau telah berhasil menguasainya
dengan sempurna Thio Bu Kie pun sulit merubuhkan kau!"
"Benarkah itu ?"
"Apakah aku pernah berdusta kepadamu?"
"Tetapi justru aku ragu2, kalau2 nanti aku tidak bisa mengangkat kepata didalam rimba
persilatan! aku kuatir, justru terhadap Ceng Thian Sienie saja tidak sanggup aku rubuhkan!"
"Long-jie, jika anak kita yang pertama lahir.. nama apa yang hendak kau berikan ?" tanya In Lee
mengalihkan persoalan.
"Terserah kepadamu, In-moay..!" menyahuti Thian Long. "Tetapi yang pasti, aku ingin anak kita
itu kelak dapat menjadi seorang pendekar nomor satu di rimba persilatan...!".
"Jangan kau berpikir begitu" kata In Lee, "Asal anak kita itu dapat lahir dengan sehat dan baik,
itupun sudah cukup...!".
Dan setelah berkata begitu In Lee merebahkan kepalanya didada Thian Long.
Thian Long menghela napas. Melihat sikap ini.. dia jadi terharu juga karena dia merasakan
betapa In Lee mencintai dia, dan juga selama ini telah memperlakukan dia dengan baik sekali.
Maka dibelainya rambut In Lee dengan lembut
"Kau menghendaki anak lelaki atau perempuan, Long-jie ?" bisik In Lee.
"Kalau bisa sepasang ..... !" menyahuti Thian Long.
"Kau meminta aku melahirkan sepasang tanya In Lee sambil tersenyum lebar.
"Ya.. jika memang dapat ..... !"
"Tiadakah kau merasa kasihan kepadaku?" tanya In Lee sambil tetap tersenyum.
"Mengapa ?" tanya Thian Long.
"Melahirkan anak bukan pekerjaan yang mudah dan ringan, disamping menderita kesakitan
yang hebat, juga sangat tersiksa. karena disaat melahirkan bagi seorang wanita, itulah saatnya
dimana dia mempertaruhkan jiwanya, antara hidup dan mati. Jika gagal dia melahirkan, tentu
dia akan mati!"
Thian Long tersenyum lebar.
"Sudahlah In Moay-moay, kau tidak perlu khawatir seperti itu, lihatlah... semua isteri
dipermukaan dunia ini melahirkan anak, dan tanya mereka... apakah selamat ?! Buktinya aku
dilahir oleh ibuku, dan selamat. Dan kau juga dilahirkan oleh ibumu, dan ibumu
selamat...Bukan!".
Disinggung soal ibunya, In Lee jadi berobah murung, dia menundukkan kepalanya, mukanya
jadi muram sekali.
Ie Thian Long jadi terkejut, dia menduga salah bicara.
Sebenarnya In Lee jadi terkenang masa lalunya dan dia berusaha untuk melenyapkan
kenangan pahit. Tetapi kenyataannya dia tidak dapat, kenangan pahit dimasa lalunya itu
memberikan luka cukup parah dihatinya, maka In Lee telah hela napas beberapa kali.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 34 dari 55


"In-moay, apakah aku telah salah bicara?" tanya Thian Long terkejut.
In Lee menggelengkan kepalanya.
"Tidak Long-jie...kau cukup baik, jika memang kelak aku berhasil melahirkan anak kita dengan
selamat, itulah memang baik"
"Aku yakin engkau akan selamat, engkau akan sehat2 saja...! Didunia ini aku hanya
mencintaimu seorang...!".
In Lee merangkul mesra sekali, mereka diam sesaat lamanya.
Tetapi pendengaran In Lee yang tajam justru saat itu mendengar suara langkah2 kaki yang
sangat ringan sekali, Cepat dan gesit. Benar saja, tidak lama kemudian dari arah depan mereka
mendatangi beberapa sosok tubuh tengah berlari2 dengan cepat. Waktu beberapa sosok tubuh
itu telah dekat, terlihat mereka berjumlah lima orang, dan semuanya berpakaian sebagai
Hweshio dengan kepala yang dicukur gundul. Para Hweshio itu hanya melirik sekejap pada
Thian Long dan In Lee tanpa menghentikan larinya.
"Ginkang mereka sempurna sekali...!" bisik In Lee setelah para Hwesio itu lewat.
Thian Long yang menyadari telah mengangguk. Diam-diam dia telah mengawasi kelima
Hweeshio yang kian menjauh itu. Tampaknya tergesa2 seperti ingin melakukan sesuatu
pekerjaan yang penting.
"Rupanya mereka tengah mengejar sesuatu..." kata In Lee.
"Bagaimana kalau kita ikuti mereka ?" tanya Thian Long.
"Untuk apa?" In Lee baik bertanya
"Sepertinya telah terjadi hal yang genting.. baiknya kita juga ikut melihat"
In Lee menggeleng. "Tidak ... lita tidak perlu menyampuri urusan2 orang"
"Kalau begitu kau tunggu saja sebentar disini.. aku ingin menyusul mereka"
Melihat Thian Long yang sudah keras kepala itu, In Lee hanya bisa mengela napas sambil
berkata
"Ya sudah... mari kita ikuti mereka.. namun kau harus berjanji tidak akan membuat keributan"
Thian Long tidak menyahuti namun kepalanya mengangguk
Kelima orang pendeta yang berkepala gundul itu ternyata dapat berlari dengan cepat. Tapi In
Lee dan Thian Long juga memiliki ginkang yang sempurna sehingga mereka bisa mengejarnya
dengan cepat tidak lama kemudian mereka telah dapat melihat kelima orang pendeta itu lagi.
Kelima orang pendeta itupun rupanya mengetahui bahwa diri mereka telah diikuti oleh In Lee
dan Thian Long. Tetapi kelima pendeta itu tidak mau memperdulikannya, mereka terus saja
berlari dengan cepat dan gesit sekali. Walaupun saat itu jalan sangat licin, tetapi mereka bisa
berlari demikian cepat diatas salju, telah membuktikan bahwa lima Hweshio itu memiliki
kepandaian yang tidak bisa diremehkan.
Disaat itu Thian Long dan In Lee jadi menduga2, entah siapa kelima orang pendeta itu.
Kepandaian mereka bukan sembarang, namun melihat sikap mereka yang agak tergesa2 dan
gugup itu, tentunya mereka memiliki urusan sangat penting sekali. Dan keadaan kelima
hweshio itulah yang telah membuat Thian Long dan In Lee jadi penasaran juga dan ingin sekali
mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh kelima pendeta itu.
In Lee dan Thian Long memang memiliki kepandaian yang sangat tinggi, dengan sendirinya
mereka tidak kuatir kalau2 nanti kelima pendeta itu marah dan melancarkan serangan kepada
mereka, karena In Lee dan Thian Long yakin bahwa mereka memiliki kepandaian yang bisa
menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi.
Kelima Hweshio telah sampai dipermukaan sebuah lembah yang cukup ]uas sekali, tampak
pohon2 masih tertutup diselimuti lapisan salju. Warna yang putih menyilaukan mata itu
menghampar diseluruh lembah.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 35 dari 55


Kelima Hweshio itu telah berhenti berlari, salah seorang diantara kelima Hweshio itu telah
berkata dengan suara yang cukup nyaring.
"Sam-te (adik ketiga)...kita telah tiba ditempat tujuan, mulai sekarang kita harus berhati-hati"
Terdengar keempat yang lainnya telah mengiyakan.
Keadaan dilembah itu sepi dan sunyi karena tidak terlihat seorang manusiapun. Kelima
Hweeshio itu telah mengawasi sekitar tempat itu, mereka telah memperhatikannya dengan
seksama.
"Udara demikian dingin, cukup buruk bagi kita!" katanya. "Maka dari itu jika kelak muncul, kita
harus menghadapinya dengan penuh perhatian, agar dia dapat kita tundukan" Kata salah
seorang Hwesio itu.
"Benar Ji-ko (kakak kedua) kita harus mengeluarkan seluruh kepandaian kita, karena 'dia'
bukanlah merupakan orang yang sembarangan, jika kali ini kita gagal melaksanakan tugas,
berarti kita akan memperoleh kesulitan tidak kecil dihari-hari mendatang"
"Benar .. tetapi kitapun harus bisa menjaga diri dan kita harus kompak, jika gagal sedikit saja
dan kita salah perhitungan, niscaya segalanya akan rusak !".
"Siapakah 'dia' itu?" berpikir Thian Long "Tampaknya 'dia' itu seorang yang luar biasa!" karena
berpikir begitu, Thian Long memutuskan, walaupun bagaimana dia ingin mengikuti
perkembangan selanjutnya.
Thian Long dan In Lee mencoba mendengarkan percakapan mereka lebih jauh, tetapi untuk
menangkap percakapan kelima hweshio itu cukup sulit juga, sebab suara hweeshio-hweeshio
itu semakin perlahan saja, dan jarak mereka terpisah cukup jauh, oleh karena itu suara
percakap lima pendeta itu tidak berhasil didengar mereka lagi.
Disaat itu, yang tadi dipanggil dengan sebutan Ji-ko, telah berkata lagi dengan suara yang agak
meninggi. "Apakah sekarang saja kita memanggil dia keluar ?" tanyanya pada keempat orang
kawannya.
Hweeshio yang tadi dipangil dengan Sam-te itu telah mengangguk. Begitu juga dengan ketiga
pendeta lainnya telah mengiyakan
"Baiklah Kalau memang begitu kita harus sudah bersiap-siap menghadapinya.." kata si
hweeshio yang tadi disebut Ji-ko itu. Wajahnya tampak memancarkan sikap tegang, sedangkan
keempat hweshio lainnya juga memperlihatkan ketegangan yang luar biasa.
Thian Long dan In Lee yang melihat sikap lima hweeshio itu, tentu saja jadi heran, mereka
berdua jadi menduga2 entah kejadian hebat bagaimana yang akan mereka saksikan nanti.
Menurut yang mereka lihat, kepandaian kelima hweshio itu tentu cukup hebat, namun
tampaknya mereka gugup sekali, maka tentu orang yang akan mereka temui itu merupakan
seorang yang sangat hebat kepandaiannya.
Thian Long jadi semakin tertarik. "Mari kita mendekati mereka...!" ajaknya pada In Lee.
Tetapi In Lee telah menggeleng. ”Jangan...nanti mereka salah paham dan kita berurusan
dengan mereka ! Lebih baik kita tunggu saja disini untuk menyaksikan apa yang akan mereka
lakukan...".
Thian Long tidak membantah, dia menurut dan duduk terus disamping In Lee.
"Toako...kita mulai saja ! Engkau saja memanggil "dia" keluar..!"
Hweshio yang dipanggil sebagai Kakak tertua itu, telah mengangguk perlahan. Kemudian dia
telah menarik napas dalam2, tampaknya dia tengah memusatkan seluruh kekuatan tenaga
dalamnya, dia mengerahkan Iweekangnya, dan kemudian dia berteriak dengan suara sangat
keras yang menggema disekitar lembah itu.
"Sam-ciu Lam giu Kwee Bin Liang, lima hweeshio Siauw Lim Sie datang berkunjung harap kau
menyambut keluar !" teriaknya.
Suara teriakan hweshio itu, walaupun terdengarnya biasa saja, namun memiliki getaran tenaga
Iweekang yang sangat kuat sekali, suara itu dapat didengar sampai sejauh puluhan li.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 36 dari 55


Hal ini mengejutkan Thian Long dan In Lee, mereka melihat bahwa si hweshio yang dipanggil
Toako itu memiliki Iwekang yang kuat sekali. Disamping itu yang ngejutkan In Lee dan Thian
Long, ternyata hweshio itu merupakan pendeta2 dari kuil Siauw Lim Sie.
Lalu siapakah musuh mereka yang dipanggil dengan sebutan Sam Ciu Lam Giu Kwee Bin
Liang ? Nama itu belum pernah didengar In Lee maupun Thian long. Tetapi yang pasti tentu
saja Sam-ciu Lam giu itu bukan seorang yang sembarangan, sebab lima pendeta Siauw-lim-sie
itu memperlihatkan sikap segan mereka.
Keadaan disekitar lembah itu sunyi sekali, disaat itu juga suara sihweshio Toako itu telah
menggema berpantulan tak hentinya dan menggetarkan lembah itu.
Thian Long dan In Lee mengawasi terus sampai akhirnya mereka terkejut mendengar suara lain
yang aneh sekali, seperti suara erangan yang sangat dahsyat, dan juga mengerikan sekali.
"Suara apakah itu ?" tanya Thian Long dengan suara yang terkejut.
In Lee tidak sempat menyahuti, karena suara erangan yang aneh nadanya itu, telah terdengar
semakin dekat.
Muka kelima hweshio dari Siauw lim itu juga telah berobah dengan hebat, tubuh mereka agak
tergetar terpengaruh oleh suara yang sangat dahsyat itu.
Jika tadi suara seruan dari hweeshio Siauw Lim Sie yang dipanggil dengan sebutan Toako itu
telah menggetarkan lembah itu dengan kekuatan iwekang dan telah membuat Thian Long dan
In Lee menjadi kagum atas kesempurnaan tenaga dalam hweeshio itu. Namun kini Thian Long
dan In Lee lebih terkejut lagi, karena justru suara erangan itu membuktikan keluar dari tenaga
iwekang yang beberapa kali lipat lebih kuat dari iwekang hweshio itu sendiri, karena suara
erangan itu seperti juga ingin meruntuhkan gunung dan membalik lautan.
Tentu saja itu merupakan semacam ilmu yang sangat hebat sekali, karena mengandung
kekuatan tenaga dalam yang luar biasa dahsyatnya.
Tidaklah mengherankan jika dalam keadaan demikian, tampak muka kelima hweshio itu telah
berobah. Mereka memang telah menyadarinya bahwa kekuatan iwekang mereka tidak mungkin
menandingi kekuatan tenaga dalam dari orang yang tengah mendatangi dan mengeluarkan
suara erangan yang hebat itu.
Disaat suara erangan itu terhenti telah terdengar suara orang berkata dari jarak yang jauh,
berasal dari dalam lembah itu.
"Kedatangan kalian hanya akan mengantarkan jiwa dengan sia2 saja. Dengan memandang
muka terang Hongthio tua Siauw Lim Sie, maka kuizinkan kalian pergi, janganlah datang
kembali ketempat ini...!!.
Inilah hebat, dengan hanya berkata begitu, orang yang berada didalam lembah itu telah
ngetahui bahwa hweeshio2 itu berjumlah lebih dari satu orang !.
Orang yang didalam lembah itu tentu memiliki ilmu mujijat "Bian Lie Tian Hoat" atau ilmu
mendengarkan suara dari jarak jauh ribuan lie, semacam ilmu yang jarang sekali diyakini oleh
orang2 sembarangan.
In Lee sendiri kaget, jika harus mengerahkan tenaga iwekangnya sambil bercakap2 demikian,
tentu dia belum dapat lakukannya dengan leluasa, karena tentunya akan meletihkan sekali
untuk menggunakan iwekang yang disalurkan seperti itu. Tentu saja In Lee jadi kagum dan
berbisik pada Thian Long dengan suara yang perlahan.
"Kita harus berhati-hati orang didalam lembah itu merupakan seorang yang luar biasa"
Thian Long mengiyakan, sejak tadi telah memasang mata dan mengawasi terus kelima
hweeshio itu, karena Thian Long ingin mengetahui tindakan apa yang akan dilakukan oleh
kelima pendeta Siauw Lim Sie itu.
Hweshio yang tadi dipanggil dengan sebutan Toako itu telah berkata lagi.
"Kwee Bin Liang, keluarlah ! kami tak akan pergi dari sini !"
"Apakah kalian tidak akan menyesal ? kalian tidak takut jika aku keluar memperlihatkan diri,
maka orang yang melihat itu harus mampus tanpa terkecuali"

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 37 dari 55


"Kwee Bin Liang, kami datang mengunjungimu, karena kami membawa sebuah urusan, jika
memang engkau merasa dirimu memiliki kepandaian tinggi, cepat keluarlah.. jangan
menyembunyikan ekormu saja !".
Terdengar suara erangan lagi yang sangat kuat dan aneh. Kemudian disusul dengan
terdengarnya suara tertawa bergelak2 yang sangat hebat.. suara tertawa itu seperti bergema
berulang2 berpantulan dari dalam lembah itu, membuat Thian Long dan In Lee jadi terperanjat,
karena waktu mereka mendengar suara tertawa yang hebat itu, mereka merasakan jantung
mereka jadi tergoncang hebat dan hati mereka berdebar2 darah terasa berjalan lebih cepat dari
sebelumnya dan mendesir2 denyutan dipelipis kepala mereka.
"Cepat kerahkan lwekangmu ! ini sangat bahaya sekali !" kata In Lee memberikan peringatan
kepada Thian Long.
Thian Long mengiyakan, dia lalu mengerahkan seluruh kekuatan tenaga murninya dan
menyalurkan tenaga iwekangnya, sehingga dia dapat menindih getaran suara tertawa itu.
Sedangkan In Lee sendiri lalu memulih goncangan hatinya dengan beberapa kali menahan
napas panjang dan memusatkan iwekangnya.
Kelima hweshio dari Siauw Lim Sie sangat terkejut sekali. Thian Long dan In Lee sempat
melihat bahwa kelima pendeta itu telah berobah wajahnya menjadi pucat dan tubuh mereka
agak bergetar.
Suara tertawa itu terdengar semakin keras, dan juga sambung menyambung tidak hentinya.
Bahkan suara tertawa itu bergelombang terus, semakin lama semakin hebat saja.
Kelima hweshio itu juga menyadari bahaya yang mengancam diri mereka cepat2 memusatkan
dan mengerahkan tenaga dalam mereka untuk melindungi diri mereka dari pengaruh suara
tertawa yang luar biasa itu.
Si Toako jadi penasaran sekali, tampak dia telah mengerahkan tenaga dalamnya, kemudian
berteriak dengan suara yang sangat nyaring sekali.
"Kwee Bin Liang, jika memang engkau ingin memamerkan kepandaianmu, keluarlah ! Jangan
pengecut hanya menyembunyikan diri saja. Kami tidak gentar dengan kekuatan iwekang dalam
nada suara tertawamu itu...! atau kami akan menerjang masuk kedalam dan jangan
mengatakan bahwa kami sebagai tamu tidak mengenal sopan santun dan etika !".
Suara sipendeta yang dipanggil Toako itu telah mendengung sangat keras dan kuat
menggetarkan sekitar tempat itu. Dia telah berkata2 dengan suara yang sangat keras sekali,
karena dia ingin berusaha untuk menindih kekuatan dan gentaran suara tertawa Kwee Bin
Liang. Namun tampaknya iweekang yang miliki hweshio yang dipanggil sebagai Toako itu
masih berada dibawah kepandaian Kwee bin Liang , suara seruannya itu tidak berhasil
menindih kekuatan yang terkandung didalam suara tertawa orang dari dalam lembah itu, suara
hweshio yang dipanggil toako itu seperti lenyap tidak terdengar jelas.
Suara tertawa orang didalam lembah itu semakin terdengar keras dan nyaring, rupanya orang
didalam lembah itu telah berlari cepat sekali mendatangi.
Kelima hweshio itu tampak berdiri dengan sikap tegang menantikan munculnya orang she
Kwee itu.
Thian Long dan In Lee juga mengawasi dengan penuh perhatian, karena mereka ingin sekali
mengetahui siapakah sebenarnya orang yang dipanggil dengan nama Kwee Bin Liang itu.
Tiba2 tampak sesosok bayangan dengan cepat sekali berlari mendatangi para hweshio itu.
Dibarengi dengan berhenti dan lenyapnya suara tertawa yang bergemuruh itu, terlihatlah
seseorang telah berdiri dihadapan kelima Hweshio itu. Dan orang yang baru sampai itu melirik
sejenak kearah dimana terdiam Thian Long dan In Lee lalu menghadapi kelima Hweeshio itu.
Dialah seorang berusia diantara limapuluh tahun, keadaannya tidak luar biasa, wajahnya biasa
seperti wajah manusia, tetapi justru yang agak luar biasa ialah bentuk kedua tangan
yang tampaknya sangat panjang melebihi lututnya, sehingga tampaknya jari2 tangannya
tersebut seperti juga akan Menyentuh bumi.. pakaiannya juga sangat aneh sekali, karena dia

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 38 dari 55


memakai sepotong kulit kerbau yang sangat kasar buatannya, bentuk tubuhnya tidak terlalu
besar dan tidak terlalu tinggi, namun juga tidak terlalu kurus.
Sihweshio yang tadi dipanggil dengan sebutan "Toako" telah tertawa dingin, katanya
"Sekarang kita bisa mulai menyelesaikan urusan lima tahun yang lampau"
Orang tua aneh itu telah tertawa perlahan seperti meremehkan kelima hweeshio itu.
"Kalian lima hweshio kepala gundul dari tingkat keenam di Siauw Lim Sie, benar2 mau mati
mengantarkan jiwa, menghampiri ketempatku ini!.... Nah, sekarang katakan, urusan apa yang
kalian hendak selesaikan denganku !".
"Kwee Bin Liang !" bentak sihweshio "toako" itu dengan suara yang bengis.
"Lima tahun yang lalu, benarkah engkau telah membinasakan seorang yang bernama Tam Siu
Hweshio...! perbuatan busuk dan keji seperti itu ingin kau akui atau tidak ? atau engkau ingin
menyangkalnya seperti pengecut menyembunyikan ekor?"
Ejekan hweeshio itu, membuat tubuh Kwee Bin Liang jadi gemetar keras.
"Huh.." mendengus orang she Kwee dengan sorot mata yang bersinar tajam.
"Kalian terlalu memaksa... Baiklah! Tam Siu Hweshi merupakan seorang pengkhianat yang
pantas menerima hukuman matinya ! jika tidak disebabkan dia, tentu Thio su seng telah
berhasil menjadi Kaisar dan tahta kerajaan tidak akan terjatuh ditangan Cu Goan Ciang! Namun
akibat pengkhianatan yang dilakuian keledai gundul itu, tentu saja telah menimbulkan
kedudukan Thio Su Seng tergoncang dan menyebabkan kekalahan hebat dipihak thio Su
seng ...... !"
"Kami tidak mau tahu apa persoalannya anta Thio Su Seng dengan Cu Goan Ciang yang
merupakan urusan2 yang menyangkut negara dan kami tidak ingin mencampurinya tapi yang
ingin kami tuntut adalah kematian Tam Siu Hweeshio itu terjadi dengan sangat mengenaskan
sekali, tubuhnya dipotong2 dan dijadikan umpan anjing2 kelaparan.. Itulah yang sangat
menyedihkan sekali ! ... kami juga telah menerima laporan ini dan kami meminta
pertanggungjawaban karena engkaulah yang telah memberikan saran pada Thio Su Seng, agar
Tam Siu Hweshio menjalani hukuman seberat itu!".
Muka Kwee Bin Liang jadi bengis sekali.
"Apa hubungannya Tam Siu Hweshio dengan pihak Siauw Lim Sie kalian ?" tanyanya
mengejek.
"Yang kuketahui, Tam Siu Hweshio bukan dari siauw Lim Sie"
"Tepat ! Tepat sekali ! Memang Tam Siu Hweshio bukan dari SiauW Lim Sie tetapi sebagai
rekan sesama agama, kami harus bersimpati dan ikut bersedih hati atas kematian yang
mengenaskan dan telah terjadi didiri Tam Siu Hweshio ! Maka dalam keadaan demikian
dapatkah kami berpeluk tangan saja !".
Kwee Bin Liang telah tertawa dingin, katanya dengan suara mengejek.
"Hemm..., kesatria kesiangan !" katanya mengejek sinis. "Sekarang dengarlah ! Jika benar aku
yang telah memberikan usul kepada Thio Su Seng agar menghukum manusia pengkhianat
seperti Tam Siu Hweeshio itu, lantas apa yang kalian hendak perbuat terhadap diriku ?".
"Tentu saja kami menuntut kau membayar hutang jiwa itu, sebab Thio Su Seng sendiri telah
meninggal...!" kata sihweeshio yang menjadi loako" itu.
"Apakah kalian telah memikirkannya masak2 ?"
"Maksudmu ?" tanya Hweeshio itu dengan suara yang tidak sabar.
"Kalian tentu telah menyadarinya, berurusan denganku merupakan persoalan yang tidak
mudah, karena begitu kalian melibatkan diri berurusan denganku, maka kalian sulit sekali lepas
lagi ?".
"Itu adalah urusan yang kedua, karena dengan beraninya kami mendatangi tempat ini berarti
juga kami berani Menerima akibat apa saja .... !"
"Tunggu dulu ! Kalian belum menjelas nama kalian seorang demi seorang, karena pantang
bagiku untuk berurusan dengan orang yang tidak bernama!".

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 39 dari 55


Muka Hweeshio yang menjadi Toako itu telah menjadi merah padam.
"Aku yang menjadi Toa Suheng (kakak nomer pertama atau yang tertua), aku bergelar Kim Ie
Siansu, Ini Jiteku (adik kedua), bergelas Kim Sun Siansu, dan ini Sam te, bergelar
Kim Lin Siansu, Sia-te (adik keempat) bergelar Kim Ang Siansu, sedangkan Ngote (adik kelima)
bergelar Kim Wan Siansu ! Nah, kini telah mendengar nama kami semua, tentu engkau tidak
akan mengatakan bahwa kami ini yang tidak pantas untuk berurusan bukan ?"
Mendengar itu Kwee Bin Liang telah tertawa bergelak2 dengan suara yang keras sekali!
sejenak lamanya dia tidak menyahuti pertanyaan si Toako, yang bergelar Kim Ie Siansu
tersebut
"Benar! Benar!" kata Kwee Ban Liang setelah berganti tertawanya, "Walaupun kalian bukan
manusia2 ternama dalam rimba persilatan dan hanya memiliki kepandaian yang biasa saja
tetapi setidak2nya kalian masih pantas untuk binasa ditelapak tanganku.. !"
Kim Ie Siansu sudah tidak bisa menahan sabaran hatinya dia telah melompat mendekati Kwee
Bin Liang, tangan kanannya dikibaskan dan memberi isyarat agar adik2 seperguruan itu mulai
mengepung orang she Kwee tersebut.
Tetapi Kwee Bin Liang sama sekali tidak memperlihatkan sikap gentar, dia malah perlihatkan
sikap meremehkan lawan2nya. Tampak dia telah tertawa dengan sikap yang sangat
menyeramkan, sehingga In Lee dan Thian Long yang menyaksikan dari jauh tergetar hati
mereka karena sikap yang diperlihatkan oleh Kwee Bin Liang mengandung hawa pembunuhan
yang sangat mengerikan.
Saat itu Kim Ie Siansu telah mengeluarkan suara bentakan yang sangat keras, dia telah
mengibaskan lengan jubah pertapaannya yang menyebabkan angin menyambar kuat sekali
"wuttt !"
Tentu saja Kwee Bin Liang terkejut melihat cara menyerang yang begitu aneh, yang dilancarkan
si Hweshio, dan dia juga melihat serangan Kim Sun Siansu dan Kim Wan Siansu telah
menyambar dengan cepat sekali. Serangan itu dua2nya mengancam dada Kwee Bin Liang
telah meluncur dengan hebat sekali. Berbareng Kim Lin Siansu dan Kim Ang Siansu juga telah
mengeluarkan suara bentakan, telah menggerakkan tangan mereka masing2 melancarkan
serangan.
Ternyata kelima pendeta Siauw Lim Sie itu melancarkan serangan dengan mempergunakan
jurus Ngo Heng Kun Hoat. Tetapi dengan gerakan yang sangat cepat, terlihat tubuh Kwee Bin
Liang telah bergetar2 seperti orang yang terhuyung. Dan dalam keadaan seperti itu, tampak
Kwee Liang telah mengeluarkan suara seruan, kedua tangannya bergantian telah mengibas.
Dari kedua telapak tangannya itu telah menyambar keluar kekuatan tenaga dalam yang luar
biasa hebatnya.
Disaat itu, Kwee Bin Liang bergerak satu kali saja, begitu tenaga serangannya berhasil
memunahkan tenaga serangan yang dilancarkan lawannya itu, dengan cepat sekali Kwee Bin
Liang menundukkan kepalanya sedikit, merendahkan bahunya lima dim, kedua lututnya agak
tertekuk kedepan lalu disertai dengan bentakan yang keras sekali, dia telah mendorong Kim Ie
Siansu.
Gerakan yang dilakukan oleh Kwee Bin Liang memang merupakan serangan yang bisa
mematikan, karena dalam dorongan kedua telapak tangannya itu disertai oleh getaran kekuatan
tenaga dalam yang bukan main kuatnya.
"Wutt...serr !!"
Kim Ie Siansu jadi terkejut dan telah cepat2 melompat mundur. Gerakan yang dilakukan oleh
Kim Ie Siansu sangat cepat, namun tidak urung dia merasakan juga angin tenaga dari Kwee Bin
Liang.
Kim Ang Siansu yang melihat saudara seperguruannya yang tertua itu tengah terancam oleh
tangan yang dilancarkan Kwee Bin Liang, jadi mengeluarkan suara seruan yang sangat kuat
dan keras sekali, sambil menyusuli dengan serangan untuk mengalihkan perhatian Kwee Bin
Liang.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 40 dari 55


Serangan nekad seperti ini tidak berani diremehkan oleh Kwee Bin Liang. Dengan mendengus
dingin mengejek, tampak Kwee Bin Liang menggeser kedudukan kakinya, dia telah menyampok
dengan mempergunakan tangan kanannya.
"Plakk !" kuat sekali tangkisan yang dilakunnya itu. karena mana tenaga tangkisan itu telah
membuat tubuh Kim Ang Siansu jadi terhuyung kebelakang beberapa langkah.
"Hemm, dengan hanya memiliki kepandaian seperti ini berani menampakkan diri didepan
hidungku ! Sungguh kerbau tolol mencari mampus !" mendesis Kwee Bin Liang dengan suara
dingin
dan dia telah mengeluarkan suara bentakan lagi, menyusuli mana tangan kanannya telah
meluncur melancarkan serangan yang sangat hebat.
Tetapi Kim Ang Siansu dengan cepat menyingkir menjauhi diri, sedangkan Kim Ie Siansu
bersama ketiga adik seperguruannya yang lain telah cepat2 melancarkan serangan yang
seempak kepada Kwee Bin Liang, serangan Kim Sun Siansu yang paling hebat, serangan itu
telah meluncur dengan sembilan bagian tenaga dalamnya dan mempergunakan jurus2 Ngo
Heng Kun Hoat yang luar biasa.
Serangan2 itu telah mendesir dahsyat kearah punggung Kwee Bin Liang. Tentu saja Kwee Bin
Liang tidak berani berlaku ayal, karena dia telah memperhatikan tenaga serangan lawan2nya
itu tidak dapat dipandang rendah.
Dengan mengeluarkan suara seruan keras Kwee Bin Liang telah memutar kedua tangannya,
dia telah mengeluarkan suara bentakan, dan tak terduga saat itulah telapak tangannya yang kiri
mendorong tepat mengenai dada Kim Sun Siansu.
"Bukk ! Plakk !" keras gempuran itu, disamping menghantam dada Kim Sun Siansu, juga tangan
Kwee Bin Liang yang lainnya telah menangkis serangan yang dilancaran Kim Lin Siansu.
Tubuh Kim Sun Siansu telah huyung satu tombak lebih, dia mengeluarkan suara keluhan dan
kemudian "Uwaahh..!" Kim Sun Siansu telah memuntahkan darah segar yang banyak sekali.
Tampak Kim Ie Siansu tidak membuang2 waktu lagi, dengan nekad dan kalap, dia telah
mengeluarkan seluruh kekuatan tenaga dalam lancarkan gempuran, karena dia hendak
memberi kesempatan yang ada untuk menggempur Kwee Bin Liang ketika orang she Kwee itu
mencurahkan seluruh kekuatannya untuk menyerang Kim Sun Siansu.
Tetapi Kwee Bin Liang benar2 hebat sekali dengan mudah telah mengelakkan diri dari
serangan itu, dengan cepat sekali dia menyingkir kesamping, Cepat2 Kim Ie Siansu telah
mendekati Kim Sun Siansu, tanyanya dengan tergesa "Apakah kau tidak terluka ?".
Kim Sun Siansu hanya menggeleng dengan muka pucat pasi, padahal dia telah terluka cukup
parah.
Mendadak Kwee Bin Liang telah mengeluarkan suara tertawanya yang semakin lama jadi
semakin keras dan kuat sekali. Suara tertawa Kwee Bin Liang bagaikan hendak meruntuhkan
langit dan menghancurkan bumi.
Kelima hweshio Siauw Lim Sie itu jadi terkejut bukan main, mereka merasakan hatinya
tergoncang keras sekali, karena tekanan suara tertawa itu disertai oleh tenaga dalam yang
kuat sekali.
Disaat seperti ini dengan cepat Kim Ie Siansu berlima mengerahkan semangat dan telah
mengeluarkan suara teriakan nyaring, mereka berlima berusaha untuk menindih suara tertawa
Kwee Bin Liang. Namun kelima hweeshio dari Siauw Lim itu gagal. Mereka tidak berhasil
menindih suara tertawa Kwee Bin Liang itu.
Untuk melompat melancarkan serangan, Kim Ie Siansu berlima tidak berani, sebab iweekang
kelima pendeta dari Siauw Lim Sie itu akan terpecahkan dan tergempur hebat. Jalan satu2nya
bagi mereka hanyalah mengerahkan tenaga dalam masing2, untuk melindungi mereka dari
getaran suara tertawa Kwee Bin Liang.
Kim Sun Siansu yang telah terluka didalam, tahu2 telah melompat2 seperti ingin menari2,
terpengaruh oleh kekuatan tenaga tertawa dari Kwee Bin Liang. Kim Ie Siansu yang melihat ini
tentu saja jadi terkejut sekali, dan dia telah berteriak "Pusatkan Pikiran !" teriakan itu dimengerti

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 41 dari 55


oleh keempat adik seperguruannya, yaitu mempergunakan ilmu semedhi mempersatukan raga
dan pikiran.
Kim Sun Siansu telah memusatkan seluruh kekuata bathinnya dan dia berhasil mengendalikan
dirinya tidak sampai menari2 lagi lalu telah cepat2 duduk dan menjalankan ilmu semedhi
mempersatukan raga dan pikiran.
Kim Ie dan ketiga adik seperguruannya yang lain juga telah berusaha untuk menjalankan ilmu
mempersatukan raga dan pikiran itu. Disaat itu memang kelima pendeta dari Siauw Lim Sie ini
berhasil menenangkan goncang hati mereka, dan tidak terpengaruh sejenak oleh suara tertawa
Kwee Bin Liang.
Thian Long dan In Lee mengawasi semua itu dengan perasaan tidak menentu. Waktu Kwee Bin
Liang tertawa dengan suara yang sangat keras sekali In Lee dan Thian Long juga telah
menutup diri mempergunakan kekuatan lwekang mereka hingga mereka tidak perlu sampai
terpengaruh oleh kekuatan tertawa Kwee Bin Liang yang ngandung kekuatan Iwekang dahsyat
luar biasa.
Tetapi dengan mengeluarkan suara bentakan yang sangat bengis Kwee Bin Liang telah
melanjutkan lagi suara tertawanya. Tampaknya orang she Kwee ini jadi penasaran sekali,
karena suara tertawanya itu sedikitpun tidak berhasil untuk mempengaruhi lawannya. Maka dia
telah menambah kekuatan tenaga Iwekangnya dengan mengeluarkan suara tertawa yang
sangat kuat sekali.
Suara tertawanya yang kali ini menyerupai suara ringkik kuda itu begitu dasyat. Membuat tubuh
kelima pendeta Siauw Lim Sie itu bergoyang2, tampaknya mereka sangat berat sekali untuk
memberikan perlawan kepada Kwee Bin Liang.
Disaat seperti itulah, tampak Kwee Bin Liang telah mengeluarkan suara tertawa yang lebih
keras lagi, tentu saja dengan disertai Iweekang yang lebih sempurna.
Tahu2 tubuh kelima pendeta Siauw Lim itu telah terlempar dari duduknya. Bahkan Kim Sun
Siansu telah mengeluarkan suara pekikan dan jeritan yang menyayatkan hati, telah terpental
tinggi, kemudian tubuhnya turun meluncur cepat sekali, terbanting diatas tanah dan napasnya
telah berhenti. Dari telinga, mulut, hidung, dan mata, telah mengucur darah merah segar
membasahi tumpukkan salju.
Kim Ie Siansu dan keempat pendeta Siauw Lim lainnya jadi terkejut bukan main, tetapi
merekapun tengah sangat terancam, mereka tidak berdaya untuk menolongi saudara
seperguruan yang malang nasibnya itu.
Kwee Bin Liang melihat ini, segera menambah keras suara tertawanya lagi. maka seketika itu
Kim Lin Siansu tidak bisa bertahan lebih lanjut. Dengan mengeluarkan suara teriakan telah
melompat dan kemudian jatuh terbanting dengan tubuh berlumuran darah, sekujur pori2 kulit
ditubuhnya telah mengeluarkan darah...itulah kematian yang sangat mengenaskan.
Tubuh Kim Ie Siansu dan dua orang adik seperguruannya bergetar keras dan keringat
membanjir keluar deras sekali. Mereka telah mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam
yang mereka miliki. Tetapi tekanan dari nada suara tertawa Kwee Bin Liang sangat kuat sekali
itu, membuat mereka sesak bernapas. Dan akhirnya karena sudah tidak kuat lagi, Kim Ie
Siansu bersama kedua adik seperguruannya itu telah menjerit juga, tubuh mereka telah
terjengkang rubuh ditanah dengan darah membanjir deras sekali.
Hal itu disebabkan mereka telah berkelebihan mengerahkan seluruh kekuatan tenaga dalam
maka mereka telah binasa tanpa sempat berbuat apa2 lagi.
Saat itu Kwee Bin Liang yang melihat kelima orang lawannya telah berguguran dengan cara
yang mengenaskan, telah tertawa sejenak lamanya, karena hatinya puas bukan main. Namun
kemudian suara tertawanya itu terhenti, dia memutar tubuhnya kearah dimana In Lee dan Thian
long dengan sorot mata yang sangat tajam sekali.
Keadaan disekitar tempat itu jadi sunyi dan cukup mengerikan dengan kelima tubuh manusia
yang bergelimpangan ditanah.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 42 dari 55


In Lee dan Thian Long jadi berdebar hati mereka, karena In Lee dan Thian Long tak
mengetahui apa yang hendak dilakukan Kwee Bin Liang terhadap mereka, karena jago tua itu
telah berdiri diam saja, dengan tidak mengucapkan sepatah katapun tapi hanya mengawasi
mereka dua.
Thian Long yang melihat gelagat kurang baik seperti itu, telah cepat2 merangkapkan kedua
tangannya, dia berkata sambil tersenyum
"Kami berdua secara kebetulan lewat ditempat ini dan merasa aneh sekali oleh sikap kelima
hwesio itu yang berteriak2 dilembah ini, maka kami telah berhenti sejenak untuk melihat apa
yang hendak mereka lakukan...!".
Kwee Bin Liang telah tertawa dingin.
"Siapa kalian ?" bentaknya tanpa mempedulikan perkataan Thian Long. "Dihadapanku jangan
harap kalian bisa berdusta ! Kalian m liki kepandaian yang jauh lebih tinggi dari kelima keledai
gundul yang tidak tahu diri itu, maka jangan sekali2 kalian berpura2 bodoh"
Mendengar perkataan Kwee Bin Liang, Thian Long dan In Lee jadi kagum juga akan mata jago
tua itu. Thian Long sendiri telah tersenyum, katanya.
"Menang kami memiliki sedikit kepandaian kamipun sama sekali tidak bermaksud
meembunyikan keadaan kami yang sebenarnya bukankah tadi aku hanya mengatakan bahwa
kami secara kebetulan lewat ditempat ini belaka, tapi tidak mengatakan bahwa kami tidak
berkepandaian ?".
Mendengar tanggapan yang diberikan Thian Long, Kwee Bin Liang jadi tertegun. Memang itu
tadi tidak menyebut2 perihal dia tidak memiliki kepandaian. Maka dalam hal ini dia sendirilah
yang telah salah bicara. Dan dia dapat menduga kedua orang ini memiliki kepandaian yang
jauh lebih tinggi dari kelima hweeshio dari Siauw Lim Sie itu, karena kedua muda mudi itu sama
sekali tidak terpengaruh oleh suara tertawanya, ini membuktikan kedua muda mudi ini memiliki
kepandaian yang tinggi melebihi kepandaian Kim Ie Siansu.
Walaupun Thian Long dan In Lee tadi terpisah dalam jarak yang cukup jauh namun setidak2nya
suara tertawa Kwee Bin Liang yang disertai tenaga Iwekang itu, bisa mencapai belasan tombak
untuk mencelakai korbannya. Inilah yang telah membuat Kwee Bin Liang jadi menduga bahwa
kedua muda mudi itu miliki Iwekang yang kuat dan kepandaian tinggi, lebih lagi setelah dia
memperhatikan mata Thian Long dan In Lee memancar sinar yang sangat tajam sekali,
membuktikan bahwa In Lee dan Thian Long memiliki kepandaian sangat tinggi sekali.
"Baik ! Kalian juga harus mampus karena kalian telah menyaksikan kematian kelima pendeta
itu...!" kata Kwee Bin Liang dengan bengis sekali.
Tetapi Thian Long dan In Lee mana takut menghadapi sikap Kwee Bin Liang seperti itu.
Walaupun Thian Long dan In Lee telah melihat kepandaian orang she Kwee tersebut, tetapi
sudah tentu mereka tidak mau dibentak2 seperti itu, terlebih lagi Thian Long.
"Lopeh (paman)" katanya, sengaja Thian Long tidak memanggil dengan sebutan
Locianpwe(golongan tingkat yang lebih tua) melainkan memanggil dengan panggilan biasa
"Jika memang engkau merasa tidak senang kami menyaksikan tindak tandukmu tadi, mengapa
engkau tidak membinasakan kelima hweshio itu didalam lembah saja ? Bukankah disana kami
tidak melihatnya ? Jalan ini adalah jalan umum, siapa saja boleh mempergunakan jalan ini
untuk berlalu lintas...!".
Mendengar perkataan Thian Long yang berani itu, Kwee Bin Liang semakin gusar saja, dia
membentak bengis.
"Pemuda tolol.. memang engkau bebas mempergunakan jalan ini, dan tidak ada yang
melarangnya, namun dalam urusan ini engkau telah melihat kelima hweshio Siauw Lim Sie itu
kubinasakan, maka jika sampai kalian berdua kubebaskan tentu kalian akan bercerita kepada
orang2 persilatan, bahwa kelima hweshio Siauw Lim Sie itu dibinasakan oleh Kwee Bin Liang
sehingga kelak pihak Siauw Lim Sie akan mengutus orangnya untuk mencariku ..... !"
Mendengar perkataan Kwee Bin Liang, Thian Long tertawa bergelak, dengan sikap mengejek.
"Apakah semula engkau tidak berpikir dulu kalau kelima hweeshio itu dari Siauw Lim Sie ?!
Sekarang disaat engkau telah membinasakan mereka, mengapa engkau justru jadi takutan
seperti itu ? "

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 43 dari 55


Muka Kwee Bin Liang jadi berobah merah padam, karena dia malu bercampur marah. Dengan
mengeluarkan suara bengis, dia berjingkrak.
"Pemuda kurang ajar, engkau tidak usah mengajariku !" katanya dengan suara keras.
Kwee Bin Liang merasakan bahwa Thian long sangat liehay lidahnya, maka dia tidak bicara
terlalu banyak, percuma saja jika dia berdebat dengan pemuda yang tampaknya pintar dan
agak licik ini.
Maka Kwee Bin Liang hanya menendengus dan berkata bengis.
"Bersiap2lah kalian menerima kematian...!".
"Tunggu dulu" kata Thian Long.
"Kau ingin bicara apa ?" tanya Kwee Bin Liang dengan bengis, karena selama hidupnya, tidak
pernah ada seorangpun yang berani berlaku kurang ajar sedemikian rupa padanya.
Sehingga dia sekarang menjadi marah sekali karena Thian Long selalu memperlihatkan sikap
tenang2 saja. Selama dia mengabdikan diri pada Thio Su Seng, tidak pernah ada orang yang
tidak menghormatinya. Bahkan Thio Su seng sendiri, pernah mengirimkan utusan kepadanya
untuk menyatakan penghargaannya atas jasa2nya sehingga Thio Su Seng dapat naik tahta
menjadi Kaisar. (Waktu itu Thio Su Seng memang berhasil menjadi kaisar selama satu bulan,
setelah itu dirubuhkan oleh Cu Goan Ciang dan merebut kekuasaannya.
Waktu lima tahun yang lalu Thio Su Seng terbinasakan dalam pertempuran melawan pasukan
Cu Goan Ciang, maka Kwee Bin Liang, telah melarikan diri dan hidup mengasingkan dilembah
itu.

Jilid ke 5
Sesungguhnya Kwee Bin Liang sudah tidak mau mencampuri urusan keduniawian, dan ingin
hidup menyendiri melewati hari2 tua dengan tenang. Namun belakangan ini banyak jago2
persilatan yang mencari2nya, menuntut balas atas kematian orang2 yang pernah terbinasa
ditangan Kwee Bin Liang dimasa dia mengabdikan diri dibawah kekuasaan Thio Su Seng. Maka
terpaksa pula belakangan Kwee Bin Liang melakukan pembunuhan2 terhadap orang2 yang
menyatroninya.
Karena jika dia membiarkan orang yang mendatangi tempatnya ini berlalu dalam keadaan
masih hidup dan jika sampai tersiar lebih luas lagi berita mengenai dirinya berada dilembah ini,
tentu akan membahayakan dirinya dan juga akan membuat dia tidak bisa melewati waktu2nya
dengan tenang.
Itulah sebabnya setiap orang yang datang kelembah ini akan dibinasakannya. Termasuk kelima
hweshio Siauw Lim Sie itu.
Kini Thian Long memperlihatkan sikap ugal2annya terhadap dia, maka tentu saja Kwee Bin
Liang jadi marah sekali, dia membentak dengan bengis.
“Pemuda kurang ajar... siapakah engkau sesungguhnya!".
“Aku she Ie dan bernama Thian Long...” menyahuti Thian Long sambil tersenyum, sikapnya
mengejek dan meremehkan Kwee Bin Liang. “Dan ini isteriku, In Lee...!”.
Mendengar itu sepasang alis Kwee Bin Liang jadi mengkerut dalam2. Dia mulai berjalan
mendekati mereka berdua.
Dia belum pernah mendengar nama kedua muda-mudi ini, dia jadi heran juga, dengan memiliki
kepandaian yang begitu tinggi, In Lee dan Thian Long tidak pernah terlibat dalam pergolakan
perjuangan kaum kesatria dalam menentang penjajah dan nama mereka pernah didengarnya.
“Siapa gurumu ?" tanya Kwee Bin Liang tambah penasaran.
“Mengapa harus menanyakan segala persoalan guruku ?” tanya Thian Long mengejek.
“Hemm, mungkin aku kenal dengan gurumu itu, dan mungkin bisa kuampuni jiwa kalian !” kata
Kwee Bin Liang.
Thian Long tertawa dingin.
“Hemm.., engkau kenal dengan guruku ? Sedangkan guruku berada didepan hidungmu, kau

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 44 dari 55


masih tidak mengetahuinya !” katanya dengan tawar. “Inilah guruku, merangkap menjadi
isteriku ! In Lee adalah guruku ! Kau mengenalnya?”
Muka Kwee Bin Liang jadi berobah, dia tertegun dan menatap In Lee dalam2.
In Lee hanya berdiri tenang tersenyum2 saja, sama sekali tidak memperlihatkan perasaan
kuatir.
“Engkau jangan bergurau, anak muda tolol..” kata Kwee Bin Liang penasaran sekali. “Katakan
yang sebenarnya, siapa gurumu !”.
Thian Long jadi tertawa bergelak2 dengan suara yang sangat keras sekali.
“Aku sudah mengatakannya dengan jujur bahwa guruku itu adalah isteriku... Engkau tidak mau
mempercayainya, maka itu urusanmu sendiri !”.
Tetapi waktu Thian Long berkata sampai disitu, tampak Kwee Bin Liang telah menggeserkan
tangan kanannya, dia telah mengibas den mempergunakan tujuh bagian tenaga dalamnya.
Angin kibasan tangan kanannya itu telah meluncur menyambar kearah Thian Long dengan
tiba2 sekali sangat kuat bukan main.
Tetapi Thian Long sama sekali tidak gentar, dia juga tidak gugup walaupun diserang secara
seperti itu.
Thian Long mengeluarkan suara tertawa dingin, dengan berani Thian Long telah
mengangkatkan tangan kanannya, dia menangkisnya dengan kekerasan juga.
“Bukkk !” terdengar suara benturan yang kuat sekali dari dua macam tenaga dalam yang
dahsyat luar biasa, menyusul Thian Long membalikkan tangan kanannya kemudian disusul
dengan tangan kirinya yang berkelebat2 beberapa kali didepan muka Kwee Bin Liang, sehingga
membuat orang she Kwee itu jadi terkerkejut sekali dan mengeluarkan suara seruan tertahan,
sebab tahu2 tangan kanan, Thian Long meluncur akan mencengkeram batok kepalanya.
Ujung jari2 tangan itu telah menempel dirambut Kwee Bin Liang, dan angin serangannya yang
dingin itu seperti telah menyentuh kepalanya.
“Ihh !” Kwee Bin Liang telah mengeluarkan suara seruan kaget bercampur heran, dia telah
cepat2 menjejakkan kakinya, tubuhnya telah melompat tinggi sekali, dan dia dengan cepat
mengelakkan diri dari cengkeraman jari tangan Thian Long.
Tetapi waktu kedua kakinya telah berhasil berdiri kembali diatas tanah dan telah memandang
kearah Thian Long, mulutnya telah menggumam perlahan, “Mustahil..! Sangat mustahil!”
Thian Long tidak mengejarnya dan juga tidak melancarkan serangan susulan pemuda itu hanya
berdiri memandangi Kwee Bin Liang sambil tersenyum simpul.
“Bagaimana ?” tanya Thian Long “Apakah engkau sekarang sudah mempercayai bahwa isteriku
itu adalah guruku?...Itulah Kiu Im Pek Kut Jiauw !!”
“Ya, memang Kiu Im Pek Kut Jiauw... Tetapi inilah mustahil sekali, sangat
mustahil...!”menggumam Kwee Bin Liang, seperti tidak mempercayai apa yang dialaminya.
“Dan tahukah engkau..” meyambung Thian Long “Bahwa didalam dunia ini hanya dua orang
saja yang berhasil mempelajari Kiu Im Pek Kut Jiauw, kedua orang itu, yang pertama adalah
Ciang bun Go Bie Pay yang bernama Ciu Cie Jiak, dan wanita yang kedua yang telah berhasil
meyakinkan Kiu Im Pek Kut Jiauw itu adalah guruku ini, In Lee istriku juga ..! Dan sekarang, aku
adalah orang yang ketiga..”
Setelah berkata begitu, tampak Thian Long tertawa bergelak2 dengan suara yang sangat keras
sekali, tubuhnya sampai tergoncang.
“Long-jie.. !” bentak In Lee kepada suaminya yang merangkap sebagai murid itu, karena In Lee
yakin sikap yang diperlihatkan Thian Long itu pasti akan menyinggung perasaan Kwee Bin
Liang.
Benar saja Kwee Bin Liang telah tertawa, muka orang tua itu merah padam karena marah
sekali.
“Aku tidak takut sedikitpun, untuk berhadapan dengan Kiu Im Pek Kut Jiauw, ilmu tidak ada

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 45 dari 55


artinya itu...! Hemm, apa sulitnya ilmu jari tangan untuk melobangi batu atau batok kepala
manusia ! Hanya aku heran, ilmu sesat seperti itu masih ada juga yang mau
mempelajarinya...!”.
Alis Thian Long mengkerut dalam2 matanya memerah menahan marah, dia tidak menyangka
Kwee Bin Liang akan mengejeknya. Lalu katanya.
“Engkau terlalu ceroboh sekali berkata2 ! walaupun engkau dari tingkatan tua, tetapi manusia
seperti engkau tidak bisa membuat kami risau ! Tadi memang engkau berhasil membinasakan
kelima Hweshio Siauw Lim Sie itu, karena mereka manusia2 tolol yang mencari mampus, tetapi
sekarang seranganku ini lain daripada yang lain, bersiaplah...!”.
Dan setelah berkata begitu, dengan mengeluarkan suara hentakan yang sangat keras dan
bengis sekali Thian Long telah melompat, dia menggerakkan kedua tangannya, maka
tangannya itu berkelebat2 didepan mata Kwee Bin Liang, sehingga pandangan mata orang she
Kwee itu jadi berkunang2.
Dengan cepat sekali Thian Long telah menggerakkan tangannya, dengan menimbulkan angin
serangan yang keras sekali, tampaklah jari2 tangannya meluncur keatas kepala Kwee Bin
Liang.
Serangan itu mengejutkan hati Kwee Bin Liang, mukanya memucat.. sementara tubuhnya
mati2an berusaha berkelit, tetapi saat dia baru melangkah mundur beberapa langkah serangan
berikutnya dari Thian Long telah tiba lagi, begitulah serangan deras meluncur tanpa dia
sanggup melawannya, tak sampai belasan jurus disaat itulah tanpa bisa dielakkan 1agi
dirasakan batok kepalanya sakit bukan main, dia mengeluarkan suara jeritan dan tubuhnya
telah jatuh terkulai dengan batok kepalanya berlobang oleh kelima jari tangan Thian Long.
“Long-jie ?" teriak In Lee terkejut, dia tak menyangka bahwa Thian Long akan menurunkan
tangan kejam seperti itu kepada Kwee Bin Liang. Yang mengherankan In Lee pula, mengapa
Kwee Bin Liang bisa terbinasa ditangan Thian Long, suami merangkap muridnya itu ?
Bukankah tadi tenaga Iwekang Kwee Bin Liang sangatlah kuat dan sempurna sekali dan
kepandaian yang dimilikinya juga sangat hebat sekali.
Dalam persoalan ini In Lee sama sekali tak menyangka bahwa dirinya telah diperdaya dan
didustai Thian Long.
Semula In Lee hanya menduga Thian Long hanya memiliki tiga atau empat bagian dari
kepandaian yang diturunkannya, tetapi siapa sangka jika kepandaian Thian Long
sesungguhnya telah berada diatas kepandaian In Lee sendiri ?
“Dia terlalu kurang ajar sekali ! Jika dia menghina diriku mungkin aku bisa menahan tapi dia
telah menghina Kiu Im Pek Kut Jiauw yang telah kau ajarkan padaku.. itu.. berarti juga
menghinamu, In Lee, mana dapat hal itu kubiarkan ! dia memang harus mampus...... !”
Senang juga hati In Lee mendengar kata2 itu, setidak2nya Thian Long seperti ingin
memperlihatkan bahwa dia sangat setia dan cinta terhadapnya, maka berkuranglah perasaan
tak senangnya terhadap tindakan pemuda itu.
In Lee telah berkata lagi, “Long-jie sesungguhnya mengherankan sekali, orang she Kwee itu
yang memiliki Iwekang sempurna dan juga kepandaian tinggi sekali, tetapi oleh engkau hanya
dalam beberapa jurus saja telah berhasil membinasakannya...!”.
Thian Long tertegun sejenak, hampir ‘kedok’nya untuk mengelabui In Lee bahwa ‘tidak memiliki
kepandaian yang tinggi’ itu terbongkar oleh tindakannya yang satu ini.
Cepat2 Thian Long telah tertawa lebar, katanya. “Ha Ha Ha.. Itu hanya secara kebetulan saja,
ketika dia tidak menduga2 dan juga tengah terkejut mendengar nama Kiu Im Pek Kut Jiauw,
lalu akupun telah melancarkan serangan2 yang gencar tanpa memberikan kesempatan
kepadanya dan juga memang Kiu Im Pek Kut Jiauw sangat liehay sekali, tanpa engkau yang
turun tangan sendiri, ternyata orang she Kwee itu telah dapat kubinasakan...!”.
In Lee hanya mengangguk saja, walaupun keterangan yang diberikan oleh Thian Long kurang
dapat diterima dalam akal sehatnya, namun In Lee tidak mau berdebat. Setelah memandangi
sejenak kepada mayat Kwee Bin Liang, In Lee mengajak Thian Long meninggalkan tempat itu.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 46 dari 55


Selama dalam perjalanan In Lee jadi berpikir keras, dia melihat bahwa Thian Long memiliki
kepandaian yang telah tinggi sekali. Mungkin jika dirinya yang berhadapan dengan Kwee Bin
Liang, dia sendiri tidak yakin bisa membinasakan orang she Kwee itu dalam waktu yang
demikian singkatnya.
Sehingga walaupun bagaimana kenyataan seperti ini telah membuat In Lee jadi menduga2
darimana Thian Long bisa memperoleh kemajuan yang demikian pesat ?
Tetapi sekarang In Lee tidak bisa menduga2, atau menerkanya sampai berapa tinggi
kepandaian dan kesempurnaan ilmu yang telah dilatih Thian Long.
Thian Long yang melihat sepanjang jalan In Lee hanya berdiam diri saja, telah rasakan bahwa
istrinya ini mulai menaruh curiga kepadanya. Maka Thian Long berusaha Menghibur Lee
dengan berbagai caranya, memperlakukan istrinya dengan sikap yang manis mengeluarkan
kata2 sanjungan yang sangai mesra penuh kasih sayang.
Memang In Lee untuk sementara waktu kecurigannya berkurang terhadap Thian Long, namun
walaupun bagaimana kecurigaan itu tetap saja sulit dilenyapkan.
--- demonking ---
Sore itu terlihat seseorang tampak berlari dengan cepat dijalan setapak tak jauh dari hutan
sebelah timur dusun kecil didaerah See Kok, sosok tubuh itu ternyata sosok tubuh seorang
kakek berpakaian kotor compang-camping seperti pakaian pengemis dan membawa lari
seorang gadis yang dipanggul dipunggungnya, kakek itu kelihatan sesekali tertawa dan
menepuk pinggul si gadis yang dipanggul diatas pundaknya itu.
Tampak tak lama kemudian dia segera berbelok dan kini langsung memasuki hutan, mencari
tempat persembunyian dan secara tak sengaja dia melihat sebuah guha dan mendapatkan
guha yang terlindung rapat itu maka segera si kakek itui melempar gadis yang dipondongnya itu
dan tertawa terkekeh-kekeh.
“Hah-hah, heh-heh ..... kau cantik dan menggairahkan, Hong Cu. Kau telah berani mati
menyerang aku. Aku mengampunimu kalau kau menyerah baik-baik, nah, bagaimana....
apakah kau mau melayani aku. Aku cinta padamu.... cup..ngok!” si kakek mencium dan
membuang kipasnya di sudut, tertawa dan memeluk gadis ini dan sigadis yang bernama Hong
Cu itu menjerit.
Gadis itu merasa muak dan marah serta benci sekali kepada kakek cabul ini. Liurnya yang
memuncrat sana-sini membuat ia jijik, hampir muntah-muntah. Dan ketika kakek itu
menggerayangi tubuhnya dan meremas-remas, gadis ini meronta dan memaki-maki sambil
mengutuk serta menyumpah-serapah mengeluarkan semua kemarahannya.
“Terkutuk, bedebah jahanam. Lepaskan aku, Ciang Pie Kay. Lepaskan aku! Pergi..... pergi dari
sini .... !”
Kakek itu memang tak lain adalah Ciang Pie Kay yang saat pertama dulu pernah kepergok
Ceng Thian Sienie ketika hendak berbuat cabul terhadap dua orang gadis cantik yaitu Lam Ie
Lie dan Hok Cie Lan. Dan ternyata hari ini pun dia telah mendapatkan korban seorang gadis
lagi yang entah berasal dari mana.
“Hah-hah, heh-heh ..... aku akan pergi kalau kau sudah memenuhi permintaanku, Hong Cu.
Terimalah cintaku baik-baik dan aihh ..... mulus sekali kulitmu, cup!” kakek itu mencium dan kini
mendaratkan bibirnya yang kering ke tengkuk. Hong Cu serasa ingin pingsan dan gadis itu
menjerit-jerit, teriakannya bergema menggetarkan hutan.
Melihat ini kakek itu berkerut dan khawatir ada orang datang, gadis ini membuatnya tak senang
maka ia menampar dan menotok urat gagu gadis itu.
“Diamlah, tenanglah. Di sini hanya ada kita berdua dan kau tak usah berteriak-teriak.”
Hong Cu mendelik. Kakek itu telah melepas pakaiannya sementara pakaian di tubuhnya sendiri
telah dirobek. Tengkuk dan bagian kulit pundaknya telah terbuka. Lalu ketika si kakek terkekeh
dan merobek lebih ke bawah lagi, dada dan perut gadis itu terbuka mulus maka Ciang Pie Kay
tak sabar dan langsung menerkam.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 47 dari 55


“Heh-heh, indah sekali, Hong Cu. Perut dan pinggangmu indah sekali. Aihh, kau membuatku
mengilar!”
Hong Cu tak dapat berbuat apa-apa selain menangis dan mengguguk. Ia tak dapat meronta lagi
setelah ditotok, juga tak dapat menjerit karena urat gagunya disumbat.
Tapi ketika si kakek merobek celananya dan siap bertindak lebih jauh lagi, mendadak terdengar
bentakan dan teguran lirih.
“Tua bangka, kau mengacaukan samadhiku. Jangan ganggu gadis itu dan pergilah!”
Kakek itu mendadak terbang terbawa angin kuat. Ciang Pie Kay kaget bukan main karena
bersamaan dengan suara itu serangkum angin dahsyat mendorongnya dari belakang.
Ia menoleh dan sempat melihat wajah seorang pemuda samar-samar di sudut guha, berbaju
putih dan tampan gagah dengan sepasang mata yang mencorong di malam gelap. Ia tak tahu
bahwa di dalam guha ternyata ada penghuninya, nafsu birahi membuatnya mabok dan tidak
waspada lagi.
Ia tersentak, kaget bukan main. Maka ketika ia mencelat dan terbang keluar guha, sudah
menahan dan mengerahkan sinkang namun masih juga terlempar keluar maka kakek itu
berteriak keras bergulingan di luar.
“Bressss!”
Ciang Pie Kay berubah mukanya dan pucat bukan main. Ia menyambar kipasnya menggaet
pakaian, sambil bergulingan ia menutupi bagian bawah tubuhnya yang terbuka. Dan ketika ia
meloncat bangun dan mendelik ke dalam, tak tahu siapa pemuda baju putih itu dan bagaimana
tahu-tahu ada di dalam maka kakek itu memekik dan menerjang maju lagi, kini siap dengan
kipas di tangan.
“Keparat, siapa kau, anak muda. Berani benar kau menyerang aku. Keluarlah, terima
kematianmu!”
Kakek ini menyambar dan menusuk ke dalam. Ia telah dapat mengira2 di mana pemuda baju
putih itu duduk, ia menusukkan kipasnya dengan amat kuat, tangan kiri juga bergetar siap
dengan pukulan yang mengandung tenaga iweekang.
Tapi ketika ia menusuk ke tempat itu dan jelas kipasnya mengenai dada lawan tiba-tiba kakek
ini terkejut karena dari dada itu keluar semacam tenaga karet yang membuat kipasnya
membalik. Ia sudah menyerang dengan sekuat tenaga dan kini tiba-tiba didorong sekuat tenaga
pula, pemuda itu hanya bertahan dan tenaganya itulah yang membalik.
Maka ketika kakek ini menjerit dan terbang keluar oleh daya pukulannya sendiri, untuk kedua
kalinya mencelat dan terlempar maka Ciang Pie Kay terbanting dan babak belur oleh tolakan
lawan yang amat dahsyat itu.
“Aiihhhhhh ..... !”
Kakek ini mengeluarkan suaralengking seperti gorila menjerit. Ia terhempas dan bergulingan
menabrak pohon, berhenti setelah kepalanya menghantam bagian pohon yang keras. Dan
ketika kakek itu merasa pening dan nanar sejenak, kaget dan pucat maka wajahnya seketika itu
juga berubah dan ia seakan menghadapi seorang pemuda siluman, dia bangun terhuyung dan
tak terasa tangan yang memegang kipas bergetar tak henti2nya.
“Bocah, siapa kau. Sebutkan namamu atau aku tak mau sudah!”
“Hm, nama tak ada artinya bagimu, orang tua. Pergi dan perbaikilah watakmu yang jahat ini.
Aku masih hendak melanjutkan samadhiku dan jangan ganggu lagi.”
Kakek itu tentu saja penasaran sekali. “Kau memangnya seorang siluman? Baik, aku akan
menyerangmu sekali lagi, anak muda. Kalau kali ini aku kalah dan roboh biarlah aku angkat
kaki!”
Ciang Pie Kay menerjang dan melepas kemarahannya. Ia tak percaya bahwa serangannya tak
mampu merobohkan lawan. Kalau kipasnya dapat ditahan maka jarum2 berbisa di ujung kipas
itu tentu tidak. Ia akan mengeluarkannya! Maka ketika kakek itu membentak dan masuk lagi,
menyambar dan memencet ujung kipas maka sebelum serangan itu tiba jarum-jarum haluspun

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 48 dari 55


berhamburan menyambar lawan, dan kakek ini masih menambahinya lagi dengan pukulan di
tangan kirinya.
“Mampuslah!”
Pemuda baju putih itu tak tampak mengelak. Ia duduk tenang namun sepasang matanya tiba-
tiba lebih mencorong menunjukkan ketidaksenangannya. Ia diam saja sampai serangan itu
datang, begitu juga jarum-jarum halus yang tak mungkin kelihatan di tempat gelap itu. Di tempat
terang saja tidak, apalagi di tempat gelap.
Tapi ketika jarum dan kipas menghantam ke depan, tangan kirinyapun sudah menghantam juga
tepat mengenai perut pemuda itu maka si kakek pengemis itu menjerit karena baju pemuda itu
tiba-tiba menggelembung dan semua jarum-jarum yang dihamburkan ke depan tahu2 membalik
berikut pukulannya yang mengandung iweekang dengan tenaga penuh itu terpental dan
kipasnya menghantam kepala kakek itu sendiri.
“Aduh, crep-erep-desss ..... !”
Ciang Pie Kay terbanting dan terguling-guling di luar. Ia kaget setengah mati karena semua
jarum2nya menancap di tubuhnya sendiri, jarum itu tertolak oleh tenaga sakti yang membuat
baju lawan menggelembung. Tenaga pukulannya membalik dan kipas menghajar kepala
sendiri, kakek ini jatuh bangun maka sadarlah si kakek itu bahwa ia memang berhadapan
dengan seorang pemuda sakti.
Namun Ciang Pie Kay bukanlah manusia baik-baik, maka dengan cepat dia meloncat bangun
dan menelan obat penawar tiba-tiba kakek ini meloncat lagi ke mulut guha dan memencet
gagang kipasnya mengeluarkan asap beracun.
“Pemuda siluman, kau hebat, aku mengaku kalah. Tapi biarlah kau mampus bersama gadis
siluman itu..... wushhh!”
Asap atau senjata berbahaya ini menghembus ke dalam guha, kuat dan menyebar dan Hong
Cu terbelalak. Ia sudah merasa hawa panas yang membakar kulit mukanya, bau busuk juga
membuat ia hampir muntah2.
Tapi mendadak pemuda di sudut itu mendengus dan menggerakkan ujung bajunya, angin yang
kuat menyambar balik dan semua asap berbahaya itu keluar guha dan menyambar Ciang Pie
Kay sendiri.
“Aughhhh...!” si kakek berteriak dan melempar tubuh bergulingan. Wajahnya terbakar dan
mengelupas, si kakek kaget bukan main. Tapi ia segera mengambil bubuk obatnya dan sambil
bergulingan menyembuhkan luka bakar, kakek pengemis cabul ini benar2 sudah gentar
akhirnya kakek itu melengking dan lari tunggang-langgang.
Ia benar2 bertemu batunya. Malah bukan sembarang batu melainkan batu cadas yang sangat
keras.
“Tobaat ..... aduh, tobaatt ..... ! Keparat kau, anak muda. Kau pemuda iblis!”
Hong Cu kagum bukan main. Ia meremang oleh teriakan Ciang Pie Kay itu karena dapat
menduga betapa menderitanya kakek itu. Asap dan jarum-jarum beracun menyambar tubuhnya
sendiri.
Tapi ketika itu ia sadar bahwa ia merasa ada sesuatu yang mencoba untuk membebaskan jalan
darahnya, angin dingin menyelinap dan menotok punggung maka gadis ini telah dapat meloncat
bangun, matanya bersinar2 dan kini dapat melihat di tempat gelap itu seorang pemuda
berwajah tampan yang telah menolongnya.
“Inkong ... inkong telah menolongku. Terima kasih atas bantuannya. Ah, tak tahu harus kubalas
bagaimana semua budi baikmu ini, inkong. Dan bolehkah aku tahu siapa inkong yang mulia!”
“Hm, jangan membuatku kikuk dengan sebutan itu. Pulang dan kembalilah ke tempat asalmu,
cici. Anggap tak ada apa-apa di sini dan lupakanlah semuanya itu. Aku ingin melanjutkan
samadhiku.”
Hong Cu tertegun. “Maaf, aku.... aku tak boleh mengetahui nama penolongku yang mulia?
Apakah aku tak cukup berharga di depan inkong?”

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 49 dari 55


“Hm, cici tak usah berlebihan. Entah bagaimana kau sampai dibawa ke sini dan pulanglah
segera, bawa bajuku ini!”
Pemuda itu melepas bajunya dan melemparkannya kepada Hong Cu, tepat menutupi tubuh dan
Hong Cu sadar. Ia tak ingat bahwa bagian tubuh atasnya telanjang, ia merah padam.
Tapi tiba2 ia menangis karena merasa tak boleh mengetahui nama penolongnya, betapapun aib
itu hampir menimpa maka gadis ini mengguguk dan tersedu.
“Inkong (tuan penolong), aku Hong Cu dari Sin-hong-pang tak biasa menerima budi orang lain.
Hari ini kau menolongku, membebaskanku dari aib yang tak bakal kulupakan seumur. Apakah
aku demikian rendah tak dapat mengetahui nama penolongku? Apakah aku demikian hina
hingga tak boleh meugingat-ingat namamu? Kalau begitu lebih baik aku mati, inkong. Biar
kubayar semua budimu dengan nyawa ini!”
Meskipun tidak besar namun nama sin hong-pang (Perkumpulan Burung Hong Sakti) ini sudah
banyak dikenal sebagai perkumpulan dimana seluruh penghuni perkumpulan ini adalah wanita.
Diantara orang2 persilatan sudah mengetahui penghuni sin hong pang ini adalah wanita2 cantik
dan lihai yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, terutama sekali mengenai ilmu ginkang dan
permainan ilmu rambut mereka.
Mendadak Hong Cu tiba-tiba meloncat dan menumbukkan kepalanya ke dinding guha, gadis itu
demikian kecewa. Pemuda baju putih terkejut dengan capat pemuda itu menggerakkan
tangannya dan angin kuat menahan gadis ini di tengah jalan, Hong Cu terpelanting maka
pemuda itu menghela napas berkata perlahan.
“Baiklah, kusebut namaku, cici Hong Cu, tapi setelah itu kau harus pergi dan jangan ceritakan
keberadaanku di sini kepada orang lain. Aku Thio Bu Kie.”
“Apa?” gadis itu meloncat bangun, wajah memancarkan kegembiraan yang sangat. “Thio Bu
Kie? Jadi.... jadi Thaihiap ini adalah Kauwcu dari Beng Kauw yang namanya harum sampai
menjulang kelangit itu...?”
“Hemm, jangan berlebih-lebihan. Aku memang orang Beng Kauw, enci Hong Cu, tapi sekarang
sudah tidak menjabat sebagai Kauwcu lagi dan namanya tidak samapi kelangit segala...
Hemm...Sudahlah kau pulang saja dan ingat kata-kataku tadi.”
“Tapi.... tapi, ah!” gadis ini terbata2, kekaguman dan kegembiraannya memuncak. “Kau jauh-
jauh ke sini mau apa, Thio-Thaihiap, tentu ada sesuatu yang bersifat penting. Aku barangkali
dapat membantu dan biarkanlah membantumu!”
“Hm, tak ada apa-apa. Pergi dan keluarlah, enci Hong Cu, ingat bahwa aku masih hendak
melanjutkan semadhiku!”
Kini gadis itu tertahan tak dapat mengeluarkan kata2 lagi mendengar suara yang kuat dan
demikian berwibawa hingga gadis Sin-hong-pang ini tak berani membuka mulut, ia termangu.
Tapi mengangguk dan menarik napas dalam tiba-tiba gadis ini bergerak dan meloncat keluar.
“Baiklah, aku gembira bertemu dengan mu, Thio-Thaihiap. Aku tak akan mengganggumu dan
lanjutkanlah samadhimu!!'
Thio Bu Kie tersenyum. Dan ketika Hong Cu berkelebat dan keluar guha maka pemuda inipun
memejamkan mata dan melanjutkan samadhinya.
Tapi benarkah Hong Cu gadis Sin-hong-pang itu meninggalkan tempat?
Temyata tidak. Gadis ini memang benar meninggalkan guha dan melompat keluar, tapi bukan
kembali ke Sin-hong pang melainkan duduk dan melamun di luar guha.
Dan ketika Thio Bu Kie melanjutkan samadhinya gadis inipun duduk bersila dan memejamkan
mata.
Tapi berat bagi gadis ini untuk mengosongkan pikiran. Bagaimana tidak berat kalau tiba-tiba ia
merasa jatuh cinta kepada pemuda itu. Benar, Hong Cu telah terkena panah asmara dan
kesaktian serta kehebatan Thio Bu Kie tak lupa diingatnya seumur hidup.
Dan ketika gadis itu teringat betapa Thio Bu Kie memberikan bajunya, kini baju itu melekat dan
menempel di tubuhnya maka gadis ini tak dapat tidur atau minum dengan enak. Baju pemberian

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 50 dari 55


Thio Bu Kie itu serasa mengeluarkan getar-getar nikmat yang membuatnya mabok. Baju itu
seolah Thio Bu Kie sendiri, yang memeluk dan melindunginya dari hawa dingin.
Gadis itu tampak tersenyum2 berkembang-kempis sendiri, bau keringat Thio Bu Kie yang
menempel di situ terasa harum dan memabokkan maka gadis yang sedang tergila-gila ini
berjaga semalam suntuk tanpa dapat tidur atau meram. Dan Hong Cu merasa betapa
bahagianya saat itu.
Wajah Thio Bu Kie selalu terbayang2. Kegagahan dan budi baik pemuda ini selalu
membetotnya. Dan tak terasa tiga hari tiga malam ia duduk di situ, tetap berjaga dan tidak
beranjak ke mana-mana maka Thio Bu Kie-lah yang repot dan kelabakan!
Getar atau perasaan kasih seorang wanita amatlah tajam. Thio Bu Kie tak menyangka bahwa
gadis Sin-hong-pang itu masih di situ, berjaga dan tersenyum2 serta berseri sendiri. Dan ketika
malam itu Thio Bu Kie membuka mata terusik bayangan Hong Cu, entah kenapa samadhinya
buyar oleh bayangan gadis Sin-hong-pang ini maka bertepatan dengan itu ia mendengar desah
dan napas panjang seorang wanita. Napas Hong Cu!
“Ah, kau di situ, Hong Cu?” tak terasa Thio Bu Kie memanggil dan berseru. Sebagai seorang
berkepandaian tinggi tentu saja telinganya yang tajam mendengar desah itu, betapapun
lembutnya. Dan ketika seseorang bergerak dan muncul di situ, di mulut guha maka Hong Cu
tersipu malu dan menegur, ganti bertanya.
“Thaihiap memanggilku? Thaihiap butuh pertolonganku?”
“Ah!” Thio Bu Kie tertegun, sinar bulan menerobos masuk dan menyinari wajah gadis itu, wajah
yang agak sembab dengan rambut yang sedikit kusut, wajah yang memelas dan penuh iba.
Wajah orang jatuh cinta!
Lalu ketika pemuda itu tertegun dan membelalakkan mata, sa ma sekali tak disangkanya gadis
Sin-hong pang ini berada di sini maka Hong Cu masuk dan berjalan sedikit tersipu, wajah itu
memerah namun sinar matanya berseri-seri, hangat!
“Maaf, Thaihiap, aku menjagamu agar tak ada orang lain masuk. Aku khawatir kakek cabul itu
datang mengganggu lagi. Aku ingin kau tentram dan tenang. Lanjutkanlah samadhimu!”
“Tidak!” Thio Bu Kie tiba-tiba melompat turun, menggeleng dan tergetar, sikap dan kata-kata itu
jelas membuatnya takut sekali. “Kau tak boleh di sini, Hong Cu, kau jelas mengganggu
samadhiku. Mana mungkin bersamadhi kalau bayangan wajahmu mengusik aku!”
“Ah, Thaihiap teringat aku? Jadi.... jadi Thaihiap juga selalu terbayang seperti aku tak dapat
melupakan Thaihiap?”
“Hong Cu .... !”
“Terima kasih! Ooh, aku... aku juga tak dapat melupakanmu, Thaihiap. Aku juga selalu
terbayang-bayang dirimu. Aku tak dapat meninggalkan tempat ini!” dan Hong Cu yang
menubruk dan tersedu gembira tiba-tiba saja memeluk dan menangis di dada Thio Bu Kie, dia
salah mengerti dan mengira Thio Bu Kie terbayang-bayang seperti dirinya, menyambut dan
membalas cintanya padahal yang dimaksud pemuda itu adalah sebaliknya.
Thio Bu Kie terganggu justeru oleh bayangan gadis ini, begitu kuat mengeluarkan getaran cinta
hingga samadhinya kacau. Seketika itu jga Thio Bu Kie berontak dan gadis itu terpelanting
menjerit, Hong Cu kaget bukan main.
“Tidak... tak boleh.. aku tak menyambut cintamu, Hong Cu.. getaran pikiranmu mengganggu
dan mengacaukan konsentrasiku. Kau Harus pergi dan jangan kemari lagi... Keluarlah ...!!!
Gadis itu terpekik, sikap dan kata2 Thio Bu Kie yang seperti itu telah merobek2 dan menyayat2
hatinya, kata demi kata yang keluar dari mulut Thio Bu Kie seakan palu godam yang bertubi-
tubi menghantam perasaannya. Lalu mendadak ia melengking dan berkelebat keluar, gadis ini
tersedu dan mengguguk di luar guha cinta yang ditolak mentah-mentah tiba-tiba berbalik
menjadi benci yang meluap-luap, berkobar, mendidih!
“Thio Bu Kie, kau.... kau laki-laki jahanam. Kau mempermainkan aku.. Kau menusuk2 hatiku
setelah semula manis dan lembut. Ooh, biar aku mati, manusia keparat. Biar aku mati... dukk!”

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 51 dari 55


Thio Bu Kie terkejut meloncat keluar. Gadis Sin-hong-pang itu ternyata menumbukkan
kepalanya di sebatang pohon, gagal dan menumbukkan lagi namun untuk yang ketiga kali Thio
Bu Kie berkelebat menyambar. Pemuda ini menampar hingga Hong Cu terbanting dan
mengeluh. Thio Bu Kie tak ingin gadis itu bunuh diri.
Tapi ketika Hong Cu mengguguk dan meloncat bangun lagi, beringas, mendadak gadis itu
berteriak dan.... menumbukkan kepalanya di perut Thio Bu Kie. “Kalau begitu biar aku mati di
tanganmu.... mati di tanganmu....!”
Thio Bu Kie berkelit dan menotok pundaknya. Baginya mudah saja mengelak dari serangan ini
dan melumpuhkan. Tapi ketika Hong Cu berteriak-teriak dan roboh di tangan Thio Bu Kie,
pemuda itu bingung menghadapi sikap histeris ini maka gadis itu memaki-maki dan meludahi
Thio Bu Kie.
Tak ada jalan lain bagi pemuda ini kecuali menotoknya pingsan, gadis itu harus ditenangkan
dulu. Dan ketika Hong Cu roboh dan tidak bergerak-gerak lagi, semua caci-maki dan keributan
lenyap maka Thio Bu Kie dapat mengusap keringat yang terasa dingin!
Kini dia bingung. mau diapakan gadis Sin-hongpang ini? Dilempar dan dibuang keluar hutan?
Rasanya tak berperikemanusiaan. Lalu diapakan? Biar disitu dan sadar untuk kemudian
mengamuk dan mencaci-maki lagi? Dia yang tak tahan! Thio Bu Kie terpekur dan duduk serba
salah, samadhinya benar-benar kacau balau.
Mendadak dari arah depan berkelebat banyak bayangan dan tahu-tahu belasan wanita-wanita
cantik telah mengepungnya.
“Ini enci Hong Cu. Keparat, ia ditawan musuh!”
“Ah, dan rupanya pemuda ini jai-hwacat (penjahat pemerkosa wanita). Jahanam, bunuh dan
rampas enci Hong Cu!”
Thio Bu Kie terkejut. Ia baru saja duduk dan terpekur memandang gadis Sin hong-pang itu
ketika tiba-tiba saja gadis2 atau wanita2 muda ini muncul. Mereka cantik-cantik namun
berwajah beringas, tentu karena melihat Hong Cu itu.
Dan belum ia bangun tahu-tahu mereka itu sudah menyerang dan membentaknya.
“Jai-hwa-cat, kau kiranya penculik enci Hong Cu. Setelah dibawa Ciang Pie Kay kau kiranya
membawanya ke sini. Ah, mana tua bangka Ciang Pie Kay itu dan kau tentu temannya!”
Thio Bu Kie sudah diserang dengan pedang serta serangan dari yang lainnya segera
menyerbunya ganas sekali. Mereka ini ternyata adalah wanita2 Sin-hong-pang dan mereka kini
menemukannya di situ.
Tadi jerit dan teriakan Hong Cu terdengar, gadis-gadis Sin-hong-pang itu memang mencarinya
karena selama tiga hari ini Hong Cu tak pernah pulang. Gadis yang sedang kasmaran (tergila-
gila) kepada Thio Bu Kie itu tengah dicari oleh para sumoinya tentu saja khawatir.
Dan ketika mereka mendapatkan Hong Cu di situ sementara Thio Bu Kie duduk terpekur seolah
berjaga, dugaan apalagi kalau bukan yang buruk maka para murid Sin-hong-pang ini menjadi
marah dan langsung menyerang Thio Bu Kie dengan beringas.
Hal ini mengejutkan Thio Bu Kie namun dengan cepat pemuda itu mengelak dan menangkis,
berseru menghalau semua senjata dan cepat meloncat bangun. Pedang para wanita itu
terpental. Tapi ketika mereka melengking dan marah menyerang lagi, Thio Bu Kie dimaki-maki
maka pemuda itu terbelalak dan tiba-tiba mengibaskan ujung lengan bajunya, membentak.
“Nona2, tunggu. Aku bukan jai hwa-cat. Hong Cu kutolong dari kekejian Ciang Pie Kay dan
tahan semua senjata kalian!”
Para gadis menjerit. Pedang mereka mencelat ketika kali ini dikibas pemuda baju putih itu,
semua berteriak dan terpelanting. Dan ketika Thio Bu Kie bergerak dan menotok mereka, cepat
sekali maka semuanya roboh dan tak satupun dapat bangkit berdiri.
“Maaf, ini buktinya. Kalau aku berniat jahat tentu kalian tak sekedar kurobohkan, tentu kubunuh.
Nah, aku bukan jai-hwa-cat dan justeru kebetulan kalian berada di sini. Hong Cu kuselamatkan
dari kakek cabul itu, Ciang Pie Kay sudah pergi.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 52 dari 55


Dan karena kalian ada di sini sekarang bawalah gadis itu dan kembalilah ke Sin-hong-pang!”
Thio Bu Kie membebaskan lagi totokannya dan belasan gadis itu tertegun.
Mereka seakan tak percaya akan kelihaian pemuda ini karena begitu mudahnya pemuda itu
merobohkan mereka. Sekejap tadi pundak mereka seakan disentuh ujung jari yang
mengeluarkan getaran listrik, menyengat dan mereka tahu2 lumpuh. Tapi begitu dibebaskan
lagi dan semuanya berlompatan bangun, ragu dan takjub menjadi satu
Tiba-tiba seorang di antaranya berseru.
“Sobat, kalau begitu kenapa kami tadi mendengar jeritan dan makian enci Hong Cu. Kalau ia
tak kau ganggu tak mungkin berteriak-teriak sampai kami dengar. Nah, jawablah kenapa begitu
dan kenapa pula enci Hong Cu sekarang pingsan!”
Thio Bu Kie terkejut, mukanya merah, tentu saja tak mungkin memberi tahu itu karena ini
persoalan pribadi. Hong Cu marah-marah karena ia menolak cintanya, tak mungkin ia memberi
tahu karena selain tak gampang dipercaya juga bakal mencoreng arang di wajah gadis itu
sendiri.
Betapapun ia harus menjaga muka, itu rahasia Hong Cu. Tapi karena sekarang ia dituntut
menjawab sementara jawaban tak segera datang maka wajah pemuda ini yang menimbulkan
curiga gadis-gadis itu menjadikan mereka marah dan merasa ditipu. Wajah Thio Bu Kie yang
memerah dianggap sedang mencari alasan dan hendak menyembunyikan pikiran kotor.
“Kalau begitu kau bohong!” bentakan itu meledak lagi. “Kau mencari-cari dan hendak mengada-
ada, sobat. Betapapun lihainya kau namun kami dari Sin-hong pang tak boleh kaupermainkan.
Serbu, bunuh pemuda ini!”
Thio Bu Kie gugup dan bingung sekali. Gadis yang membentak itu sudah mengajak teman-
temannya dan mereka mengangguk.
Apa yang dilihat dan dirasa memang benar, mereka curiga kembali kepada Thio Bu Kie, maka
begitu membentak dan maju menyerang Thio Bu Kie, gadis-gadis Sin-hong-pang itu marah lagi
maka merekapun menyerang.
Thio Bu Kie berkelit dan berseru mengangkat tangannya.
“Heii, nanti dulu. Dengar dulu omonganku. Aku tidak mengada-ada atau menipu. Tahan,
biarkan aku bicara lagi..... plak-plak-plak!” dan Thio Bu Kie yang menangkis dan menghalau
semua senjata akhirnya kembali membuat gadis-gadis itu terkejut namun kekaguman dan
keterkejutan mereka berbalik menjadi rasa gusar. Pemuda selihai ini ternyata hendak berbuat
kotor, menipu dan mencari-cari alasan untuk mengelabuhi mereka.
Maka mereka membentak dan menerjang kembali, gadis-gadis itu kalap maka Thio Bu Kie
merasa tak ada jalan lain kecuali membalas dan merobohkan mereka. Pemuda ini berteriak sia-
sia sementara hujan senjata masih terus menyambar. Namun ketika dia membentak dan
mengibaskan lengannya, pedang kembali mencelat maka Thio Bu Kie menggerakkan ujung jari
dan sekali dia menotok maka belasan gadis itu roboh serentak.
“Baik, aku tak dapat membujuk kalian. Robohlah dan biarkan aku bicara!”
Para gadis mengeluh tertahan. Pedang yang terlepas dari tangan membuat masing-masing
terkejut, namun belum hilang kagetnya tiba-tiba pundakpun tertotok lumpuh. Satu demi satu
terjerembab dan berdirilah Thio Bu Kie mengusap keringat. Ia bukan takut menghadapi
lawan2nya ini melainkan oleh kesalahpahaman itu.
Urusan bisa merembet panjang. Maka ketika semua roboh dan ia berdiri dengan muka bingung,
merah, berkatalah Thio Bu Kie dengan suara lantang bahwa ia tak menipu.
“Kalian menyulitkan aku, tapi boleh percaya boleh tidak. Aku tak mengganggu gadis ini dan
silakan ambil kalau kalian mau. Bukti bahwa aku tak mencelakai kalian sudah lebih dari cukup,
selanjutnya kalian tanya sendiri enci kalian Hong Cu itu dan jangan menuduh aku macam-
macam!”
Thio Bu Kie membebaskan Hong Cu dan merasa bahwa inilah satu-satunya jalan. Ia harus
meyakinkan gadis-gadis Sin hong-pang itu dan kebimbangan kembali membayang. Sikap Thio
Bu Kie yang sungguh2 membuat para gadis itu percaya lagi, meskipun setengah.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 53 dari 55


Dan ketika Thio Bu Kie mengurut leher gadis itu dan membebaskan alam kesadarannya,
seorang di antara gadis Sin-hong-pang itu berseru agar mereka dibebaskan juga, tak akan
menyerang kalau Hong Cu dibebaskan maka Thio Bu Kie mengangguk dan membebaskan lagi
gadis-gadis itu.
“Baik, tapi janji harus dipegang teguh. Siapa melanggar akan kulempar sampai keluar hutan!”
“Kami tak akan menyerangmu kalau kau benar. Kalau enci Hong Cu sudah bicara dan
membenarkan kata-katamu kami tak akan membuta, sobat. Tapi kalau kau bohong biarpun
harus mati kami juga tak akan menyerah!”
Thio Bu Kie mengangguk. Sekarang semua gadis-gadis itu dibebaskannya kembali termasuk
Hong Cu. Gadis yang pingsan dan kini diurut itu membuka matanya, siuman. Tapi begitu Hong
Cu meloncat bangun tiba-tiba ia berteriak, matanya bertemu Thio Bu Kie.
“Orang she Thio, kau boleh membunuh aku, Biar aku mati di tanganmu atau kau yang mampus
di tanganku!”
Thio Bu Kie terkejut. Ia sudah merasa khawatir kalau gadis Sin-hong-pang ini kalap. Ia justeru
sedang diuji oleh gadis2 Sin-hong-pang yang lain. Maka begitu Hong Cu menyerangnya dan tak
melihat saudara-saudaranya yang lain di situ, rupanya kebencian dan kemarahannya begitu
meledak maka ia menyerang dan ini membuat alis murid-murid Sin-hong-pang berkerut.
Tak terasa kemudian gadis2 itu kembali serentak menyerang.
“Berhenti...!, jangan menyerang. Tanya dulu saudara kalian ini, nona2. Apakah benar aku
mengganggunya!”
Salah seorang gadis sin hong pang yang terdepan akan menyerang itu bernama Siok Hoa
tampak tertegun. Kemarahan yang sudah berkobar jadi surut lagi, bentakan atau suara Thio Bu
Kie itu sungguh2 berwibawa membuatnya tertegun. Dan ketika yang lain juga terkejut dan
tertegun, kebimbangan kembali mengganggu maka Siok Hoa berseru pada Hong Cu apakah
Thio Bu Kie telah mengganggu nya.
“Maaf enci Hong Cu...!, benarkah pemuda ini bukan jai-hwa-cat. Kami jadi bingung melihat
sikapnya, enci Hong Cu. Bagaimana kau marah2 kepadanya sementara dia berkata telah
menolongmu dari tangan Ciang Pie Kay!”
“Jangan dengarkan ocehannya. Ia telah menghina dan mempermalukan aku, Siok Hoa. Serang
dan robohkan pemuda ini. Bunuh!”
“Apakah dia telah memperkosamu!”
“Keparat, jangan tanya macam-macam Siok Hoa. Kau harus dapat mengartikan sendiri
kemarahanku. Maju dan cepat bantu aku atau biar aku mampus di tangannya..... plak-dess!”
Hong Cu terbanting dan menjerit bergulingan, terpental oleh kibasan angin pukulan Thio Bu Kie.
Melihat hal ini Siok Hoa membentak dan me nyerang Thio Bu Kie, dan ketika yang lain juga
berseru dan menerjang pemuda itu maka Thio Bu Kie terbelalak karena sudah dikeroyok
belasan gadis2 Sin-hong pang yang masing2 memekik dan lebih percaya Hong Cu.
“Hemm, kau menyembunyikan persoalan. Baik, kau membuatku marah, Hong Cu. Aku akan
menghajarmu dan yang lain-lain ini. Pergilah, aku tak mau bicara lagi!” dan Thio Bu Kie yang
gusar tak mampu menahan diri lagi akhirnya membentak dan berkelebat mengibaskan kedua
lengan bajunya.
Disambar sebelah lengan baju saja gadis-gadis Sin-hong-pang itu sudah menjerit, apalagi dua
lengan baju sekaligus. Maka ketika mereka terlempar dan berteriak dengan pekik tinggi,
melambung melampaui pohon-pohon besar maka Hong Cu dan teman-temannya ini tak ayal
lagi mencelat dan tertiup bagai disapu angin kencang.
Thio Bu Kie telah habis sabar dan terhembuslah gadis-gadis itu menjauhi guha. Mereka
melayang dan jatuh di luar hutan, puluhan meter dari tempat itu dimana semuanya tentu saja
berteriak ngeri. Dan ketika masing-masing berdebuk dan menjerit kesakitan, untung Thio Bu Kie
tidak mengerahkan semua tenaganya maka hanya Hong Cu yang terbanting dan pingsan di
sana.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 54 dari 55


Gadis itu memang mendapat hajaran paling keras dibanding yang lain-lain, Thio Bu Kie jengkel
sekali kepada gadis yang satu ini. Maka ketika gadis itu terlempar dan terbanting di sana, di luar
hutan maka gadis-gadis Sin-hong-pang yang lain menjadi ngeri dan gentar sekali berhadapan
dengan pemuda baju putih itu.
Mereka tak tahu bahwa yang dihadapi adalah Mantan Kauwcu dari Beng Kauw yang saat ini
merupakan orang yang namanya paling bersinar cemerlang dikalangan dunia persilatan dan
kesaktiannya bukan isapan jempol belaka, tentu saja orang ini bukan tandingan mereka.
Dan ketika kesaktian itu cukup membuat gentar, Siok Hoa terbanting di sebelah Hong Cu maka
gadis yang mengeluh namun dapat terhuyung bangun ini menyambar temannya. Ia melihat
Hong Cu masih hidup, teman-teman yang lain juga masih hidup dan mereka berloncatan
bangun, jatuh dan bangun lagi dan akhirnya terhuyung-huyung pucat memandang ke dalam
hutan, gentar terhadap lawan yang demikian hebat itu.
Dan ketika Siok Hoa tertegun karena ini bukti kemurahan pemuda baju putih itu, mereka semua
selamat kecuali Hong Cu yang pingsan maka gadis ini tiba-tiba berseru agar mereka mundur
dan kembali ke Sin-hong-pang. Kebimbangan dan kebingung an melanda hati gadis ini.
“Mundur, kita pergi. Menjauh dari sini dan kita bawa enci Hong Cu. Lapor kepada ketua!”
Semua mengangguk dan pucat. Ajakan itu tentu saja disambut baik dan bergeraklah murid-
murid Sin-hong-pang itu meninggalkan hutan. Mereka tak akan lupa seumur hidup terhadap
lawan mereka itu, lawan yang tak mereka kenal. Dan ketika semua melarikan diri jatuh bangun,
tak ada lagi yang menoleh ke hutan maka di sana Thio Bu Kie menarik napas dalam2 dan
gemas serta menyesal sekali akan semua kejadian ini.
Dan diapun mengutuk kakek cabul Ciang Pie Kay yang menjadi gara-gara itu.
Kenapa kakek itu harus datang ke guhanya? Dan lebih sial lagi, kenapa membawa Hong Cu
hingga gadis itu malah jatuh hati kepadanya? Dan membayangkan kenekatan Hong Cu, gadis
yang patah hati itu bisa seperti orang yang tidak waras maka timbul keinginan Thio Bu Kie
untuk pergi dan meninggalkan guha mencari tempat lain.
Namun di manapun orang bertapa tak mungkin terlepas dari gangguan. Itulah yang namanya
cobaan. Biar di ujung dunia sekalipun pasti tak bakal lolos, gangguan atau godaan pasti selalu
ada. Maka dia urung dan tak jadi mencari guha baru pemuda ini pun masuk lagi dan.... duduk
bertapa, mengusir semua kenangan2 buruk dan tanpa sadar bahwa dari peristiwa ini bakal
berekor panjang yang mengguncang nama baiknya.

http://goldyoceanta.wordpress.com Halaman 55 dari 55