Anda di halaman 1dari 3

Mata Kuliah : Metode Penelitian Kualitatif

Kelas : MAKSI 22 A
Kelompok 4 : Ni Made Dwi Astini (1881611010)
Maria (1881611012)
Ni Wayan Radha Maharseni (1881611023)

RESEARCH NARRATIVE

Definisi dan Latar Belakang


Penelitian naratif memiliki banyak bentuk, narasi mungkin istilah yang diberikan untuk teks apa pun atau
wacana, atau, mungkin teks yang digunakan dalam konteks mode penyelidikan dalam penelitian kualitatif,
dengan fokus khusus pada cerita yang diceritakan oleh individu. Menurut Pinnegar dan Daynes (2006),
narasi dapat berupa suatu metode dan fenomena studi. Sebagai metode, narasi dimulai dengan cerita
pengalaman hidup seseorang. Penulis menyediakan berbagai cara untuk menganalisis dan memahami
tulisan yang diceritakan. Narasi dipahami sebagai teks lisan atau tulisan dari sebuah peristiwa/tindakan atau
serangkaian kejadian/tindakan, yang terhubung secara kronologis (Czarniawska,2004). Dalam
pelaksanaannya penelitian ini memusatkan perhatian pada mempelajari satu atau dua individu,
mengumpulkan data dari cerita-cerita mereka, melaporkan pengalaman individu, dan menyusun secara
kronologis makna dari pengalaman tersebut.

Jenis-jenis Fenomenologi
Pendekatan untuk membedakan jenis penelitian naratif :
a. Dengan melihat strategi analisis yang digunakan oleh penulis. Polkinghorne (1995 membedakan
pendekatan ini menjadi :
1. "analysis of narratives" , menggunakan paradigma berpikir untuk membuat deskripsi tema yang
berpegang pada cerita atau taksonomi dari jenis cerita, dan
2. "narrative analysis," dimana peneliti mengumpulkan deskripsi kejadian dan kemudian
mengkonfigurasinya menjadi sebuah cerita dengan menggunakan garis plot.
b. Menekankan berbagai bentuk praktik penelitian yang ditemukan dalam narasi, antara lain :
1) Biographical study adalah bentuk studi narasi dimana peneliti menulis dan mencatat pengalaman
hidup orang lain; 2) Autobiografi ditulis oleh individu yang menjadi subyek penelitian; 3) Riwayat
hidup menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang; 4) cerita pengalaman pribadi adalah
sebuah studi naratif mengenai pengalaman pribadi seseorang yang dapat ditemukan dalam episode
tunggal atau multi episode, situasi pribadi, atau cerita rakyat komunal; 5)Sejarah lisan terdiri dari
mengumpulkan refleksi pribadi tentang kejadian dan sebab akibat dari satu individu atau beberapa
individu.
Menurut Eriksson, ada tiga tingkatan narasi :
1. Grand narratives : sebuah meta-narasi berkenaan dengan sebuah kisah besar, yang mencakup segala
hal tentang perkembangan sejarah dunia dan ini dikarakterisasi oleh 'kebenaran universal'.
2. Narasi pribadi : kenangan peristiwa dan emosi seperti yang dialami oleh seorang individu dalam
perjalanan hidup mereka sendiri (Riessman, 1993). Narasi pribadi dapat mencakup seluruh
kehidupan individu atau fokus pada periode, episode atau masalah tertentu.
3. Cerita kolektif : berkaitan dengan berbagai jenis cerita kolektif yang diproduksi bersama oleh
komunitas orang (Rappaport, 1995; Richardson, 1995).

Prosedur untuk Melakukan Penelitian Naratif


Dengan menggunakan pendekatan yang diambil oleh Clandinin dan Connelly (2000) sebagai panduan
prosedural umum, metode untuk melakukan studi naratif tidak mengikuti pendekatan lock-step approach,
namun merupakan kumpulan topik informal.
1. Menentukan apakah masalah penelitian atau pertanyaan yang paling sesuai dengan narasi
penelitian. Penelitian naratif paling cocok untuk mencritakan pengalaman hidup satu kehidupan
atau kehidupan seseorang.
2. Memilih individu yang cerita atau pengalaman hidupnya akan diceritakan, dan habiskan cukup
banyak waktu untuk mengumpulkan cerita mereka. Peserta penelitian dapat melihat cerita mereka
dalam jurnal atau buku harian, atau peneliti dapat mengamati individu dan mencatatnya. Periset
juga bisa mengumpulkan surat yang dikirim oleh individu yang diteliti; mengumpulkan cerita
tentang individu dari anggota keluarga; mengumpulkan dokumen memo atau korespondensi resmi
tentang individu; atau foto, kotak memori (koleksi barang yang memicu kenangan), dan barang-
barang lainnya. Setelah peneliti dapat mencatat pengalaman hidup individu yang diteliti.
3. Mengumpulkan informasi tentang konteks cerita. Peneliti naratif menempatkan diri dalam
pengalaman pribadi peserta (pekerjaan mereka, rumah mereka), budaya mereka (ras atau etnis),
dan konteks historis (waktu dan tempat) mereka.
4. Menganalisis cerita peserta, dan mengembalikannya ke dalam kerangka kerja yang sesuai.
Restorying adalah proses pengorganisasian ulang cerita menjadi beberapa jenis kerangka umum.
Kerangka ini dapat terdiri dari mengumpulkan cerita, menganalisis elemen kunci dari cerita
(misalnya waktu, tempat, plot, dan adegan), dan kemudian menulis ulang cerita dan mengurutkan
kronologis. Seringkali ketika individu menceritakan kisah mereka, mereka tidak menyajikannya
dalam urutan kronologis. Cortazzi (1993) mengemukakan kronologi penelitian naratif dengan
penekanan pada urutan, membedakan narasi dari genre penelitian lainnya. Salah satu aspek
kronologi adalah bahwa cerita memiliki awal, tengah, dan akhir. Mirip dengan elemen dasar yang
ditemukan dalam novel, aspek ini melibatkan situasi, konflik, atau perjuangan, terdapat protagonist
atau tokoh utama; dan urutan dengan kausalitas (plot) di mana keadaan sulit dipecahkan dengan
cara tertentu. Dengan demikian, analisis data kualitatif bisa berupa deskripsi baik dari cerita
maupun tema yang dimunculkan.
5. Berkolaborasi dengan peserta dengan melibatkannya secara aktif dalam penelitian (Clandinin &
Connelly, 2000). Dalam penelitian naratif, tema utamanya beralih ke hubungan antara peneliti dan
pihak yang diteliti dimana kedua belah pihak akan belajar dan berubah. Dalam proses ini, para
pihak menegosiasikan makna dari cerita dan memeriksa ulang validitas cerita. Dalam cerita dapat
juga mengalami perubahan di mana alur cerita berubah arah secara dramatis. Pada akhirnya, studi
naratif ini menceritakan tentang individu yang terbentang dalam kronologi pengalaman mereka,
berada dalam konteks pribadi, sosial, dan historis, dan peristiwa penting tentang pengalaman yang
mereka alami. Penyelidikan narasi adalah cerita yang hidup dan diceritakan.

Cara mengumpulkan dan menganalisis data naratif dalam Ericksson :


1. Wawancara naratif : menyangkut produksi cerita, dapat juga berupa percakapan, dalam hal ini
pewawancara juga dapat memutuskan untuk menceritakan kisah mereka sendiri tentang topik yang
dibahas.
2. Analisis naratif : peneliti mengumpulkan cerita yang diceritakan orang, dan kemudian
menggunakan beberapa teknik untuk menganalisis plot, struktur naratif, atau jenis cerita mereka.
Empat alternatif untuk fokus analisis, yaitu fokus pada konten, fokus pada perangkat naratif, fokus
pada produksi bersama melalui dialog dalam konteks, serta fokus pada menceritakan kisah melalui
kata-kata, gerakan, keheningan, penelusuran, dan gambar.
3. Analisis makna : analisis tematik atau pola adalah teknik umum yang digunakan untuk mengatur
data empiris, juga dalam studi naratif (Riessman, 1993, 2004). Untuk tujuan ini, tema dapat
didefinisikan sebagai konsep, tren, ide atau perbedaan yang muncul dari data empiris.
4. Analisis struktur : berfokus pada 'bagaimana cerita ini disampaikan': perangkat naratif apa yang
digunakan, dan apa elemen struktural dan linguistik dari narasi tersebut. Cara umum menganalisis
narasi adalah dengan mengeksplorasi genre mereka, misalnya, tragedi, komedi, romansa dan
sindiran atau ironi.
5. Analisis konteks interaksional : berfokus pada konteks interaksional dari penelitian naratif
menekankan sifat narasi yang dikoordinasikan dan dikoordinasi (Elliott, 2005). Narasi tidak
diproduksi dalam ruang hampa; melainkan, mereka dibentuk oleh konteks sosial dan budaya tempat
narator hidup. Narasi paling sering dihasilkan dalam situasi interaktif di mana ada pendongeng dan
pendengar, yaitu, seseorang menceritakan kisah itu kepada orang lain.
6. Analisis kinerja : peneliti berperan sebagai co-produser dan penerjemah kinerja, yang seringkali
memiliki beberapa elemen yang saling bertentangan.
7. Mengembangkan keseluruhan deskriptif dengan plot dan karakter. Bentuk paling dasar dari narasi
tertulis mengharuskan peneliti untuk mengatur peristiwa dan detail data empiris menjadi
keseluruhan yang jelas dan deskriptif: sebuah cerita yang masuk akal bagi pembaca. Sebuah narasi
yang dikembangkan sepenuhnya paling sering melibatkan satu ide utama, yang diceritakan dari
sudut pandang tertentu.

Tantangan
Penelitian naratif adalah pendekatan yang menantang untuk digunakan. Peneliti perlu mengumpulkan
informasi yang luas tentang peserta, dan perlu memiliki pemahaman yang jelas tentang konteks kehidupan
individu. Dibutuhkan pandangan yang tajam untuk mengidentifikasi materi yang dikumpulkan dari
pengalaman individu nara sumber. Kolaborasi aktif dengan peserta diperlukan, dan periset perlu
mendiskusikan cerita peserta dan juga bersikap reflektif terhadap latar belakang pribadi dan politik mereka.
Beberapa masalah muncul dalam mengumpulkan, menganalisa, dan menceritakan kisah individu.

Analisis dan Representasi Naratif


Data yang dikumpulkan dalam studi naratif perlu dianalisis untuk cerita yang harus mereka ceritakan,
kronologi peristiwa yang sedang berlangsung, dan titik balik atau epifani. Dalam sketsa analisis yang luas
ini, ada beberapa opsi untuk peneliti naratif. Ollerenshaw & Creswell (2002) mengaitkan dua pendekatan
untuk analisis naratif :
1. Proses analitik yang dikembangkan oleh Yussen dan Ozcan (1997) yang melibatkan menganalisis
data teks untuk lima elemen struktur plot (yaitu, karakter, pengaturan, masalah, tindakan, dan
resolusi).
2. Pendekatan ruang tiga dimensi Clandinin dan Connelly (2000) yang melibatkan analisis data untuk
tiga elemen: interaksi (pribadi dan sosial), kontinuitas (masa lalu, sekarang, dan masa depan), dan
situasi (tempat fisik atau tempat pendongeng).
Dalam pendekatan-pendekatan ini, kami melihat unsur-unsur umum dari analisis naratif: mengumpulkan
kisah-kisah pengalaman pribadi dalam bentuk teks lapangan seperti wawancara atau percakapan,
menceritakan kembali kisah-kisah berdasarkan elemen naratif (misalnya, pendekatan ruang tiga dimensi
atau lima elemen plot), menulis ulang cerita menjadi urutan kronologis, dan menggabungkan pengaturan
atau tempat pengalaman peserta.

Referensi :
John W. Creswell. 2007. Qualitative Inquiry and Research Design, Choosing among Five Alternatives. 2nd
edition. London. SAGE Publication Ltd.
Palvi Eriksson dan Anne Kovalainen. 2008. Qualitative Methods in Business Research. London: SAGE
Publication Ltd.