Anda di halaman 1dari 34

BAB II

Materi 1 : Hakikat pendidikan jasmani

A. Pengertian pendidikan jasmani


Istilah “ pendidikan “ merupakan kata yang tidak asing lagi untuk hampir
setiap orang . Namun demikian, istilah ini lebih sering diartikan secara bebeda dari
masa kemasa, termasuk oleh ahli yang berbeda pula.
John Dewey, seorang pendidik yang mempunyai andil besar dalam dunia
pendidikan, mendefenisikan dunia pendidikan sebagai “rekonstruksi” aneka
pengalaman dan peristiwa yang dialami dalam kehidupan individu sehingga segala
sesuatu yang baru menjadi lebih terarah dan bermakna.” Definisi ini mengandung arti
bahwa seseorang berpikir dan memberi makna pada pengalaman pengalaman yang
dilaluinya.
Morse (1946) membedakan pengertian pendidikan ke dalam istilah pendidikan
liberal (liberal education) dan pendidikan umum (general education). Ia mengatakan
bahwa pendidikan liberal lebih berorientasi pada bidang studi dan menekankan
penguasaan materinya (subject centered) tujuan utamanya adalah penguasaan materi
pembelajaran secara mendalam dan bahkan jika mungkin sampai tuntas.
Pendidian pada zaman sekarang lebih banyak menekankan pada
pengembangan secara individu secara total. Kebanyakan sekolah sekarang ini
menganut filsafat modren. Setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda beda.
Pembelajaran individu dasarnya merupakan pembelajaran untuk setiap peserta didik,
termasuk program untuk peserta didik yang mempunyai kelambanan dalam
perkembangannya, mengalami gangguan emosional, dan peserta didik yang memiliki
cacat fisik atau mental. Setiapeserta didik diberi kebebasan untuk memilih materi
pembelajaran yang diinginkannya dan memperoleh pelatihan dari bidang kejuruan
yang berbeda beda.

B. Pandangan tradisional
Pandagan pertama, atau juga lebih sering disebut pandangan tradisional,
menganggap bahwa manusia itu terdiri dari dua kompenen utama yang dapat dipilah
pilah, yaitu jasmani dan rohani (dikhotomi). Panfangan ini menganggap bahwa
pendidikan jasmani hanya semata mata mendidik jasmani atau sebagai pelengkap,
penyeimbang, atau penyelaras pendidikan rohani manusia. Dengan kata lain
pendididkan jasmani hanya sebagai pelengkap saja.
Di Amerika serikan pandangan dikotomi ini muncul pada akhir abad 19 atau
antara tahun 1885-1900 . pada saat itu, pendidikan jasmani dipengaruhi oleh system
Eropa, seperti: Sistem jerman dan sistem swedia , yang lebih menekankan pada
perkembangan aspek fisik (fitnes), kehalusan gerak, dan karakter peserta didik,
dengan gimnastik sebagai medianya.
Pada saat itu pendidikan jasmani lebih berperan sebagai “ medicine”(obat) dari
pada sebagai pendidikan . oleh karena itu para pengajar pendidikan jasmani lebih
banyak dibekali latar belakang akademis kedokteran dasar (medicine). Pandangan
pendidikan jasmani berdasarkan pandangan di khotomi manusia ini secara empirik
menimbulkan salah kaprah dalam merumuskan tujuan, program pelaksanaan, dan
penilaian pendidikan.

C. Pendangan Modern
Pandangan modern, atau sering juga disebut pandanagan holistik, menganggap
manusia bukan sesuatu yang terdiri dari bagian bagian yang terpilah pilah. Manusia
adalah kesatuan dalam berbagai bagian yang terpadu.oleh karena itu pendidikan
jasmani tidak hanya berorientasi pada jasmani saja atau hanya untuk kepentingan satu
komponen saja.
Di Amerika Serikat pandangan holistik ini awalnya dipelopori oleh Wood dan
selajunya oleh Hetherington pada tahun 1910. Pada saat itu pendidikan jasmani
dipengaruhi oleh “progressive education”. Doktrin utama dari progressive education
ini
Menyatakan bahwa semua pendidikan harus memberi kontribusi terhadap
perkembangan tersebut.
Pandangan holistik ini, pada awalnya kurang banyak memasukkan aktivitas sport
karena pengaruh pandangan sebelumnya , yaitu pada akhir abad ke 19, yang
menganggap sport tidak sesuai sekolah sekolah. Namun tidak bisa dipungkiri sport
terus tumbuh dan berkembang menjadi aktivitas fisik yang merupakan bagian integral
dari kehidupan manusia.
Sport menjadi populer, pesera didik menyenanginya, dan ingin mendapatkan
kesempatan untuk berpartisipasi disekolah sekolah hingga para pendidik seolah olah
ditekan untuk menerima sport dalam kurikulum di sekolah sekolah karena
mengandung nilai nilai pendidikan.

D. Pandangan Indonesia
Di Indonesia, salah satu contoh definisi pendidikan jasmani yang didasarkan
pada pandangan holistik dikemukakan oleh jawatan pendidikan jasmani(sekarang
sudah dibubarkan) yang dirumuskan tahun 1960, sebagai berikut, "pendidikan jasmani
adalah pendidikan yang mengaktualisasikan potensi potensi aktivitas manusia berupa
sikap, tindak, dan karya yang diberi bentuk, isi, dan arah menuju ke kebulatan pribadi
sesuai dengan cita-cita kemanusiaan".
Definisi yang relatif sama, juga dikemukakan oleh pangrazi dan dauer (1992 )
sebagai berikut, "pendidikan jasmani merupakan bagian dari program pendidikan
umum yang memberi kontribusi, terutama melalui pengalaman gerak terhadap
pertumbuhan dan perkembangan anak secara menyeluruh. pendidikan jasmani
didefinisikan sebagai pendidikan gerak, dan pendidikan melalui gerak dan harus
dilakukan dengan cara-cara yang sesuai dengan definisi tersebut".
Wall dan Murray (1994), mengemukakan hal serupa dari sudut pandang yang
lebih spesifik, "masa anak-anak adalah masa yang sangat kompleks ,dimana pikiran,
perasaan, dan tindakannya selalu berubah-ubah. oleh karena sifat anak-anak yang
selalu dinamis pada saat mereka tumbuh dan berkembang, maka perubahan satu
elemen seringkali mempengaruhi perubahan pada elemen lainnya. oleh karena itu
anak secara keseluruhan yang harus kita Didik tidak hanya menjadi jasmani atau
tubuhnya saja"
Menurut badan standar nasional pendidikan (BSNP) mengemukakan yang
dimaksud dengan pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran Melalui
aktivitas jasmani yang di desain untuk meningkatkan kebugaran jasmani,
mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan
aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama
untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani,
psikomotor, kognitif, dan afektif setiap peserta didik.
Materi 2 : Perbandingan dan perbedaan antara pendidikan jasmani dan pendidikan
olahraga

Bermain pada intinya adalah aktivitas yang digunakan sebagai hiburan. kita
mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif,
meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga
dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan di dalam
keduanya.
Olahraga di pihak lain adalah suatu teknik bermain yang terorganisir dan
bersifat kompetitif. beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu
teknik permainan yang terorganisasi, yang menempatkannya lebih dekat kepada
istilah pendidikan jasmani. akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukkan
bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif.
Dari uraian di atas maka pengertian olahraga adalah aktivitas kompetitif. kita
tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kompetisi, sehingga tanpa
kompetisi, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. bermain
pada suatu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya
semata-mata bermain; karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.
Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan teknik-teknik gerakan,
dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan
untuk tujuan pendidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya
tujuan pendidikan, seperti juga olahraga tetap eksis tanpa ada tujuan pendidikan.
misalnya, olahraga profesional (di Amerika umumnya disebut athletics) dianggap
tidak punya misi kependidikan apa-apa tetapi tetap disebut sebagai olahraga.
Perbrdaan pendidikan jasmani yang telah disampaikan oleh Abdul Kadir
Ateng, diperkuat oleh Syarifudin, dalam buletin pusat perbukuan , yaitu :
Komponen Pendidikan Jasmani Olahraga
Tujuan Program yang dikembangkan Program dikembangkan
sebagai sarana untuk membentuk sebagai sarana untuk
pertubuhan dan perkembangan mencapai prestasi optimal.
totalitas subjek.
Orientasi Aktivitas jasmani berorientasi pada Aktivitas jasmani berorientasi
kebutuhan pertumbuhan dan pada suatu program latihan
perkembangan subjek. untuk mencapai prestasi
optimal.
Materi Materi perlakuan tidak dipaksakan Untuk mencapai presentasi
melaikan disesuaikan dengan optimal materi latihan
kemampuan anak cenderung dipaksakan.
Lamanya Lamanya aktivitas jasmani yang Lamanya aktivitas jasmani
perlakuan dilakukan dalam pendidikan yang dilakukan dalam latihan
jasmani tiap pertemuan dibatasi olahraga cenderung tidak
oleh alokasi waktu kurikulum. dibatasi. Agar individu dapat
Disamping itu juga di sesuaikan beradaptasi dengan siklus
dengan kemampuan organ organ pertandingan, aktivitas fisik
tubuh subjek. dalam latihan harus dilakukan
mendekati kemampuan
optimal.
Frekuensi Frekuensi pertemuan belajar Agar dapat mencapai tujuan,
latihan pendidikan jasmani dibatasi oleh latihan harus dilakukan dalam
alokasi waktu kurikulum. Namun frekuensi yang tinggi.
demikian diharapkan peserta didik
dapat mengulang ngulang
keterampila gerak yang dipelajari
di sekolah pada waktu senggang
mereka dirumah. Diharapkan
mereka dapat melakukan
pengulangan gerakan antara 2
sampai 3 kali/minggu.
Intensitas Intensitas kerja fisik disesuaikan Intensitas kerja fisik harus
dengan kemampuan organ organ mencapai ambang zona
tubuh subjek latihan. Agar subjek dapat
beradaptasi dengan siklus
pertandingan kelak, kadang
kadang itensitas kerja fisik
dilakukan melebihi
kemampuan optimal.
Peraturan Tidak memiliki peraturan yang Memiliki peraturan
baku. Peraturan dapat dibuat sesuai permainan yang baku.
dengan tujuan dan kondisi Sehingga olahraga dapat
pembelajran dipertandingkan dan
diperlombakan dengan
standar yang sama pada
berbagai situasi dan kondisi.
Dengan adanya perbedaan pendidikan jasmani dan olahraga secara konsep,
baik yang dikemukakan oleh Abdul Kadir Ateng, dalam perkuliahan, diperkuat oleh
Syarifudin. Dalam buletin pusat perbukuan, maka secara sistematis dalam
pelaksanaan kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga akan memiliki
perbedaan, hal ini sesuai dengan contoh perbedaan pembelajaran pendidikan jasmani
dan olahraga yang dikemukakan oleh syarifudin dalam buletin pusat perbukuan, yaitu:

Pendidikan Jasmani Olahraga


Berjalan Berjalan

Pembelajaran berjalan pada pendididkan Berjalan pada olahraga merupakan salah


jasmani ditujukkan pada usaha untuk satu nomor dalam cabang atletik. Latihan
membentuk sikap dan gerak tubuh yang berjalan dilakukan dengan secepat
sempurna. Pembelajaran biasanya cepatnya melalui teknik dan peraturan
dilakukan melalui materi baris-berbaris. yang telah baku.
Lari Lari

Materi lari pada pendidikan jasmani Lari pada olahraga merupakan salah satu
dimaksudkan untuk dapat nomor dalam cabang atletik.latihan
mengembangkan keterampilan gerak dilakukan untuk mencapai prestasi
berlari dengan baik. Berlari dapat optimal. Dalam cabang atletik lari dibagi
dilakukan dalam beberapa teknik; lari dalam beberapa nomor.
zigzag,lari kijang, lari kuda, dan beberapa
teknik lari lainnya
Lompat Lompat

Materi lompat dalam pendiddikan jasmani Lompat pada olahraga merupakan salah
dimaksudkan untuk dapat satu nomor dalam cabang atletik. Latihan
mengembangkan keterampilan gerak lompat pada cabang atletik dilakukan
lompat dengan baik. Lompat dapat untuk mencapai prestasi optimal.
dilakukan dalam beberapa teknik ; lompat
harimau, lompat kodok, dan beberapa
teknik lompat lainnya.
Lempar Lempar

Materi lempar dalam pendidikan jasmani Lempar dalam olahraga merupakan salah
dimaksudkan untuk dapat satu nomor dalam cabang atletik. Latihan
mengembangkan keterampilan gerak lempar pada cabang atletik dilakukan
lempar dengan baik. Melempar dapat untuk mencapai prestasi optimal.
dilakukan dengan beberapa teknik;
lempar bola, lempar sasaran, dan
beberapa teknik lempar lainnya.
Materi 3 : Kedudukan, fungsi dan bentuk kegiatan penjas

1. Kedudukan pendidikan jasmani dalam olahraga

OLAHRAGA

Tujuan

PRESTASI PENDIDIKAN WAKTU LUANG KESEHATAN

Sebutan Sebutan Sebutan Sebutan

2.OLAHRAGA PENDIDIKAN OLAHRAGA OLAHRAGA


KOMPETITIF
3. JASMANI REKREASI KESEHATAN

Bidang Garapan Bidang Garapan Bidang Garapan Bidang Garpan

Melatih
4. Melayani Memanfaatkan Memanfaatkan
seseorang
5. yang kebutuhan gerak berbagai aktivitas gerak
memiliki
6. minat peserta didik dan aktivitas gerak untuk menjaga
dan bakat dalam memanfaatkan untuk mengisi dan memulihkan
bidang olahraga aktivitas jasmani waktu luang kesehatan
agar mecapai sebagai media
kemampuan pendidikan
maksimal
7.

Pelaku Pelaku Pelaku Pelaku

 Pelatih  Guru Penjas  Instruktur  Terapis


 Atlet  Peserta  Weekend  Pasien
 Tim didik ethlete  Pelaku
manager olahaga
 Pengurus kebugaran
cabang
olahraga
2. Fungsi pendidikan jasmani

PENDIDIKAN JASMANI

Tujuan

PENDIDIKAN

Ranah

AFEKSI PSIKOMOTOR KOGNISI FISIK

Media

GERAK YANG DIPILIH

Fungsi

GERAK GERAK GERAK GERAK


UNTUK UNTUK UNTUK UNTUK
KEHIDUPAN KEHIDUPAN KEHIDUPAN KEHIDUPAN
SEHARI-HARI SEHARI-HARI SEHARI-HARI SEHARI-HARI

Contoh: Contoh: Contoh: Contoh:


 Membersihkan  Lompat tali untuk  Berjalan  Joging
lingkungan menguatkan otot mengenali  Senam sehat
sekitar sekolah tungkai lingkungan  Lari 12 menit
 Menjaga dan  Menggirirng bola sekitar sekolah  Circuit training
memelihara untuk  Mendaki bukit  Physical
kebersihan meningkatkankoo  Berlari dalam conditioning
pribadi rdinasi mata-kaki permainan  Bersepeda
 Menjaga
bentuk kegiatan  Menggirirng bola
dan jasmani saling kejar sehat
memelihara untuk  Menari, senam
kebersihan meningkatkankoo irama
lingkungan rdinasi mata-kaki-  Out bound
sekitar tangan
PENDIDIKAN JASMANI

Tujuan

PENDIDIKAN

Ranah

AFEKSI PSIKOMOTOR KOGNISI FISIK

Media

GERAK YANG DIPILIH

Bentuk

CABANG PERMAINAN AKTIVITAS


OLAHRAGA SEHARI-HARI

Contoh: Contoh: Contoh:


 Sepak bola  Permainan hijau-  Naik-turun tangga
 Bola voli hitam  Mengangkat benda
 Bola basket  Permainan tradsional  Mendorong benda
 Bulutangkis  Elang-anak ayam  Menarik benda
 Tenis meja  Lompat tali
 Renang  Bermain dengan bola
 Atletik voli
 Pencak silat  Bermain dengan bola
sepak
 Bermain dengan bola
basket
Materi 4 : Makna pendidikan jasmani

Pendidikan jasmani merupakan bagian penting dari upaya pendidikan secara


keseluruhan wajar jika pendidikan jasmani diajarkan dengan sungguh-sungguh,
seperti untuk mata pelajaran lainnya, guru Pendidikan Jasmani perlu menguasai
banyak keterampilan. mengajar Penjas memerlukan perencanaan, imajinasi, kreasi,
dan keputusan cepat serta pemikiran yang tidak henti-hentinya untuk mencari cara
terbaik agar tujuan pembelajaran pengajaran Kian tercapai. Keterampilan pengajaran
tentu harus berlandaskan pada dasar falsafahnya. falsafah nya berisi pemahaman
tentang prinsip. jika muatan falsafah dan prinsip-prinsip dikuasai dengan baik, tidak
akan sulit bagi guru untuk memahami berbagai persyaratan yang harus disiapkan.
guru akan merasa tertantang untuk terus berusaha memperbaiki kualitas
pembelajarannya.

A. Kedudukan dan makna pendidikan jasmani

Gerak sebagai kebutuhan anak


Ungkapan karton dibawah ini sangat menyentuh dan mewakili ungkapan
tentang anak-anak Coba kita semua maknanya.
Dunia anak-anak adalah dunia yang segar, baru, dan senantiasa Indah,
dipenuhi keajaiban dan keriaan, adalah kemalangan bagi kebanyakan bahwa kita
dunia yang cemerlang ini dan bahkan hilang sebelum kita dewasa. jika salah satu
boleh memohon akan ku meminta Tuhan mengabdikan keajaiban dunia anak-anak di
sepanjang hidupku. - Rachel Carson
Bermain adalah dunia anak-anak sambil bermain mereka belajar dalam hal
belajar anak-anak adalah ahlinya segala macam dipelajarinya, dari menggerakkan
anggota tubuhnya hingga mengenali berbagai benda di lingkungan sekitarnya.
bayangkan keceriaan yang didapatkan ketika ia menyadari baru saja menambah
pengetahuan dan keterampilan "lihat saya sudah bisa" teriaknya kepada semua orang.
Sayangnya, ketika usianya semakin meningkat, aktivitas anak-anak semakin
berkurang. ketika memasuki usia sekolah, Ia belajar dengan cara yang berbeda.
mereka lebih banyak diminta duduk tenang untuk mendengarkan penjelasan guru
tentang berbagai hal. lingkungan belajar pun semakin sempit, dibatasi oleh empat sisi
dinding kelas yang membelenggu. karena dipaksa untuk diam, dan mendengarkan.
orang lain berbicara, belajar tidak lagi menarik bagi anak. keceriaan mereka
Terhempas dan hilangnya sebagian "keajaiban" dunia anak-anak mereka tidak heran
bila anak mereka bahwa belajar ternyata kegiatan yang tidak menyenangkan.

B. Pentingnya pendidikan jasmani


Beban belajar di sekolah begitu berat dan menekan kebebasan anak untuk
bergerak. kebutuhan mereka akan gerak tidak biasa di terpenuhi karena keterbatasan
waktu dan kesempatan. lingkungan sekolah tidak menyediakan wilayah yang menarik
untuk dijelajahi. Pentelenggara pendidikan di sekolah yang lebih mengutamakan
prestasi akademis memberikan anak tugas belajar yang menumpuk.
Kehidupan sekolah yang demikian berkombinasi pula dengan kehidupan di
rumah dan di luar lingkungan sekolah. di sekolah anak kurang bergerak, di rumah
keadaannya juga demikian, kemajuan teknologi yang dicapai pada saat ini, malah
mengukung anak-anak pada lingkungan kurang gerak. anak semakin asik dengan
kesenangan yang seperti menonton TV atau bermain video games. tidak
mengherankan bila ada kerisauan bahwa kebugaran anak-anak semakin menurun.
Pendidikan jasmani tampil untuk mengatasi masalah tersebut sehingga
kedudukannya dianggap penting. melalui program yang direncanakan secara baik,
anak-anak dilibatkan dalam kegiatan fisik yang tinggi intensitasnya. pendidikan
jasmani juga tetap menyediakan ruang untuk belajar menjelajahi lingkungan yang ada
di sekitar dengan banyak mencoba, sehingga kegiatannya tetap sesuai dengan minat
anak. lewat pendidikan jasmani lah anak-anak menemukan saluran yang tepat untuk
bergerak bebas dan meraih kembali keceriaannya, sambil terangsang
perkembangannya yang bersifat menyeluruh.
Secara umum manfaat pendidikan jasmani di sekolah mencakup sebagai
berikut:.
1. Memenuhi kebutuhan anak akan gerak
Pendidikan jasmani memang merupakan dunia anak-anak dan sesuai dengan
kebutuhan anak-anak. di dalamnya anak-anak dapat belajar sambil bergembira
melalui penyaluran hasrat nya untuk bergerak. semakin terpengaruh kebutuhan
akan dalam masa-masa pertumbuhannya, Kian membesar kemaslahatannya bagi
kualitas pertumbuhan itu sendiri.
2. Mengenalkan anak pada lingkungan dan potensi dirinya
Pendidikan jasmani adalah waktu untuk berbuat anak-anak akan lebih memilih
untuk berbuat sesuatu dari pada hanya Harus melihat atau mendengarkan orang
lain ketika mereka sedang belajar. suasana yang dibebaskan di lapangan atau
keadaan ini benar-benar tidak sesuai dengan dorongan naluri nya
3. Menanamkan dasar-dasar keterampilan yang berguna
Peranan pendidikan jasmani di sekolah dasar cukup unik, karena terus
mengembangkan dasar-dasar keterampilan yang di Perlihatkan anak untuk
menguasai berbagai keterampilan dalam kehidupan di kemudian hari. menurut
para ahli, pola pertumbuhan anak usia sekolah sangatlah cepat. pola ini
merupakan kebalikan dari pola pertumbuhan cepat yang dialami anak ketika
mereka baru lahir hingga usia 5 tahun.
4. Menyalurkan energi yang berlebihan
Anak adalah makhluk yang sedang berada dalam masa kelebihan energi.
kelebihan energi ini perlu disalurkan agar tidak mengganggu keseimbangan
perilaku dan mental anak. segera setelah terlebih and energi tersalurkan, anak-
anak memperoleh kembali keseimbangan dirinya. Karena setelah istirahat, anak
anak akan kembali memperbarui dan memulihkan energi secara optimal.
5. Merupakan proses pendidikan secara serempak baik fisik mental maupun
emosional
Pendidikan jasmani yang benar akan memberikan sumbangan yang sangat
berarti terhadap pendidikan anak secara keseluruhan. hasil nyata yang diperoleh
dari pendidikan jasmani adalah perkembangan yang lengkap meliputi aspek fisik,
mental, emosional, sosial, dan moral. tidak salah jika para ahli percaya bahwa
pendidikan jasmani merupakan wahana yang paling tepat untuk "membentuk
manusia seutuhnya".

C. Nilai dasar falsafah pendidikan jasmani

Pendidikan jasmani merupakan dasar dari suatu bagian yang tidak terpisah
dari pendidikan umum. lewat program Penjas dapat diupayakan peranan pendidikan
untuk mengembangkan kepribadian individu. Sumbangan nyata pendidikan jasmani
adalah untuk mengembangkan keterampilan (psikomotorik) karena itu posisi
pendidikan jasmani menjadi unik, sebab berpeluang lebih banyak dari mata pelajaran
lainnya untuk membina keterampilan. hal itu sekaligus mengungkapkan pelajaran
pendidikan jasmani dan kelebihan pendidikan jasmani.

Ada tiga hal penting yang bisa menjadi sumbangan unik dari pendidikan
jasmani yaitu:

1. Meningkatkan kebugaran jasmani dan kesehatan siswa


2. Meningkatkan kuasainya keterampilan fisik yang kaya serta
3. Meningkatkan pengertian siswa dalam prinsip-prinsip gerak serta Bagaimana
menerapkannya dalam praktek

Untuk meneliti Aspek penting dari Penjas dasar-dasar pemikiran seperti berikut
perlu dipertimbangkan:

1. Kebugaran dan kesehatan


Kebugaran dan kesehatan akan dicapai melalui program pendidikan
jasmani yang terencana, teratur dan berkesinambungan. sistem peredaran
darah dan pernafasannya bertambah baik dan efisien. didukung oleh sistem
kerja penunjang lainnya.Dengan bertambah baiknya sistem kinerja tubuh
latihan kemampuan tubuh akan meningkatkan dalam hal daya latihan.
kekuatan dan kelenturan. demikian juga dengan beberapa kemampuan motorik
anak-anak. kelincahan dan koordinasi. pendidikan jasmani juga dapat
membentuk gaya hidup yang sehat.
2. Keterampilan fisik
Konsep Sehat dan sejahtera secara menyeluruh berbeda dengan pengertian
sehat secara fisik. merangsang perkembangan gerak yang efisien yang berguna
menguasai berbagai keterampilan. keterampilan tersebut biasa berbentuk
keterampilan dasar misalnya berlari dan melempar serta keterampilan khusus
seperti keterampilan itu biasa mengarah kepada keterampilan yang digunakan
dalam kehidupan sehari-hari.
3. Terkuasanya prinsip-prinsip gerak
Pendidikan yang baik adalah harus mampu meningkatkan pengetahuan
anak tentang prinsip-prinsip gerak. pengetahuan tersebut akan membuat Anda
mampu memahami Bagaimana suatu keterampilan dipelajari tingkatannya
yang lebih tinggi. dengan demikian, seluruh gerakannya lebih bermakna
sebagai contoh anak-anak harus mengerti mengapa kaki harus dibuka dan
bahu direndahkan ketika anak sedang berusaha menjaga keseimbangan.
4. Kemampuan berfikir
Memang sulit diamati secara langsung bahwa kegiatan diikuti oleh anak
dalam pendidikan jasmani dapat meningkatkan kemampuan berpikir anak.
pola-pola permainan yang memerlukan tugas-tugas tertentu akan memerlukan
pentingnya kemampuan Nalar anak dalam hal membuat keputusan. Teknik
dan strategi yang melekat dalam berbagai permainanpun perlu dianalisis
dengan baik untuk membuat keputusan yang tepat dan cepat. secara tidak
langsung, keterlibatan anak dalam kegiatan pendidikan jasmani merupakan
latihan untuk menjadi pemikir dan mengambil keputusan yang mandiri.
5. Kepekaan rasa
Dalam hal oleh rasa, pendidikan jasmani menempati posisi yang sungguh
unik. kegiatan yang selalu melibatkan anak dalam kelompok kecil maupun
besar berkomunikasi dan bergaul dalam lingkungan sosial. dalam kehidupan
sosial, secara individu akan belajar untuk bertanggung jawab melaksanakan
peranannya sebagai anggota masyarakat. di dalam masyarakat banyak norma
yang harus ditaati dan aturan main yang melandasinya. melalui Penjas, norma
dan aturan juga dipelajari dihayati dan diamalkan.
6. Keterampilan social
Kecerdasan emosional atau keterampilan hidup masyarakat sangat
mementingkan keterampilan keterampilan diri. dengan demikian seseorang
bisa berhasil mengatasi masalah dengan kerugian sekecil mungkin. anak-anak
rendah kemampuan mengendalikan dirinya biasanya ingin memecahkan
masalah dengan kekuasaan dan tidak merasa ragu untuk melanggar berbagai
ketentuan.
7. Kepercayaan diri dan Citra Diri (self Esteem)
Melalui pendidikan jasmani kepercayaan diri dan Citra Diri (self Esteem)
anak akan berkembang. secara umum citra diri ini diartikan sebagai cara kita
menilai diri kita sendiri dia mau dan mampu mengambil risiko, berani
berkomunikasi dengan teman dan orang lain, serta mampu menanggulangi
stress.

D. Pengertian pendidikan jasmani

Pendidikan jasmani merupakan Wahana pendidikan yang memberikan


kesempatan bagi anak untuk mempelajari kesempatan-kesempatan penting .oleh
karena itu pelajaran Penjas tidak kalah penting dibandingkan dengan pelajaran lain
seperti: matematika, bahasa, IPS dan IPA dan lain-lainnya.

Namun demikian tidak semua guru penjas menyadari hal itu, sehingga banyak
anggapan bahwa Pancasila dilaksanakan secara serampangan hal ini tercermin dari
berbagai gambaran positif tentang pelajaran Penjas, mulai dari kelemahan proses
belajarnya dan kelebihannya, seperti kebugaran jasmani yang rendah.

Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan Melalui aktivitas jasmani,


permainan atau olahraga yang terpilih untuk mencapai tujuan pendidikan.
Definisi diatas mengukuhkan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian
tak terpisahkan dari pendidikan umum. Tujuannya adalah untuk membantu anak agar
tumbuh dan berkembang secara wajar sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. yaitu
menjadi manusia Indonesia mencapai tujuan tersebut berpangkal pada perencanaan
pengalaman, gerak yang sesuai pada karakteristik anak.

Tujuan pendidikan jasmani sudah tercakup dalam penerapan di atas yaitu


memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mempelajari berbagai kegiatan
yang membina sekaligus Bina potensi anak, baik dalam aspek fisik, mental, sosial,
emosional, dan moral. singkatnya, pendidikan jasmani bertujuan untuk
mengembangkan potensi Setiap anak setinggi-tingginya. dalam bentuk bagan secara
sederhana tujuan Penjas meliputi tiga arah dominan sebagai satu kesatuan sebagai
berikut:

PEMBELAJARAN PENJAS
KOGNITIF PSIKOMOTOR AFEKTIF
 Gerak dan  Menyukai kegiatan
 Konsep gerak
keterampilan fisik
 Kemampuan fisik  Merasa nyaman dengan
 Arti sehat
dan motorik diri sendiri
 Memecahkan  Perbaikan fungsi  Ingin terlibat dalam
masalah organ tubuh pergaulan sosial
 Kritis,cerdas  Percaya diri
Tujuan diatas merupakan pedoman bagi guru penjas dalam melaksanakan
tugasnya. Tujuan tersebutharus bisa tercapai melalui kegiatan pembelajaran yanag
direncanakan secara matang, dengan berpedoman pada ilmu pendidik.

E. Pendidikan Jasmani dan Pendidikan Olahraga

Pendidikan jasmani berarti program pendidikan lewat gerak atau permainan


dan olahraga, didalamnya terkandung arti bahwa dan gerakan, permainan, atau cabang
olahraga tertentu yang dipilih. Hal ini dapat berupa keterampilan fisik dan motorik,
keterampilan berfikir dan keterampilan memecahkan masalah, dan bisa juga
keterampilan emosioal dan sosial.

Adapun pendidikan olahraga adalah pendidikan yang membina anak agar menguasai
cabang cabang olahraga tertentu. Kepada murid diperkenalkan berbagai cabang
olahraga agar mereka menguasai keterampilan berolahraga. Yang ditekankan disini
adalah “ hasil” dari pembelajaran itu, ciri ciri pelatihan olahraga menyusup kedalam
proses pembelajaran.
Perbedaan antara penjas dan pendidikan olahraga

Pendidikan Jasmani Pendidikan Olahraga


Sosialisasi atau mendidik olahraga Sosialisasi atau mendidik olahraga

Menekankan kepribadian menyeluruh Mengutamakan penguasaan keterampilan


berolahraga

Menekankan penguasaan keterampilan Menekankan penguasaan teknik dasar


dasar

Melalui pembelajaran pendidikan jasmani yang efektif, semua kecenderungan


tadi bisa dihapuskan, karena guru lebih memilih agar anak yang kurang terampilpun
tetap menyukai latihan . disamping guru membedakan gerakan latihan yang harus
dilakuakan setiap anak kriteria kaber.

Dengan demikian semua anak merasakan apa yanag disebut “perarasaan


berhasil” tadi, dan anak menyadari bahwa mengulang ngulang latihan. Cara ini
disebut cara mengajar “ partisipatif” karena semua anak merasa dilibatkan dalam
proses pembelajaran.
Materi 5 : ORIENTASI MODAL KURIKULUM PENDIDIKAN JASMANI DAN
PANDANGAN MENYESATKAN TENTANG PENDIDIKAN JASMANI

Orientasi modek kurikulum

1. Pendidikan gerak
2. Pendidikan olahraga
3. Pendidikan pertualangan
4. Pendidikan perkembangan
5. Pendidikan Kebugaran
6. Pendidikan disiplin keilmuan olahraga

Pandangan yang menyesatkan tentang pendidikan jasmani

1. Keterampilan gerak perkembangan secara alamiah sejalan dengan kematangan


anak

2. Umunya anak anak cukup terampil dalam cabang olahraga yang populer di
masyarakat
3. Mempelajari keterampilan dasar tidak memotiasi anak
4. Perencanaan dalam mengajar pendidikan jasmni tidak penting
Materi 6 : Pertimbangan Pengembangan Program Pendidikan Jasmani

1. Dasar-dasar pengembangan program


Beberapa Prinsip yang menjadi landasan bagi pengembangan program pendidikan
jasmani yaitu :
a. Kurikulum pendidikan jasmani haruslah berorientasi kepada anak dan tingkat
perkembangannya
b. setiap anak berbeda-beda dalam hal kebutuhan dan kemampuan belajarnya.
c. anak harus dilihat sebagai manusia yang utuh.
d. Hal-hal yang berhubungan dengan kebutuhan anak harus diajarkan melalui
pendidikan jasmani.
e. Gerakan merupakan dasar bagi pendidikan jasmani.
f. Pembelajaran harus terjadi melampaui kepentingan sesaat tetapi harus
menawarkan keterampilan yang berguna untuk seumur hidup.

2. Pola pertumbuhan dan perkembangan anak


Pola pertumbuhan dan anak dalam wilayah psikomotor.
a. Perkembangan kearah memanjang dan ke arah tepi kedua isitilah ini
menunjukkan rabfkain perkembangan fisik yang teratur.
b. Gerak kasar dan gerak halus
Sejalan dengan perkembangan kearah memanjang dan ke arah tepi,
perkembangan gerakan kasar dan halus menunjukkan pada penguasaan otot
anak-anak yang bergerak dari otot2 besar dahulu sebelum anak-anak mampu
membedakan bagian-bagian dan menggerakkannya secaraterpisah.
c. Bilateral Ke unilateral
Pada masa-masa awal pengontrolan gerkan, gerakan cenderung
dilakukan secara bilateral yaitu anak kecil mengunakan satu atau kedua tangan
untuk menguasai sebuah benda.
d. Diverensiasi dan intergrasi
Kedua proses diatas terkait dengan peningkatan funsi gerak yang
berasal dari perkembangan ssaraf.
e. Filogenetik dan ontogenetic
Keterampilan filogenetik adalah perilaku gerak yang cenderung
muncul dengan otomasit tanpa dilatih, dan dalam rangkaian yang dapat
diperkirakan.

3. Dorongan dasar anak-anak


Dorongan dasar adalah suatu keinginan untuk melakukan dan menghasilkan sesuatu.
a. Dorongan untuk bergerak
Anak-anak tak pernah puas untuk bergerak, tampil, dan aktif
b. Dorongan untuk berhasil dan mendapat perngakuan
Anak-anak tidak hanya berambisi untuk berprestasi, tetapi mereka juga
menginginkan prestasi mereka itu diakui.
c. Dorongan untuk mendapatkan pengakuan teman dan masyarakat
Penerimaan kawan sekelasa adalah kebutuhan dasar manusia.
d. Dorongan untuk berkejasama dan bersaing
Anak-anak menikmati suasana bermain dan bekerjasama dengan anak
lain.
e. Dorongan untuk kebugaran fisik dan daya tarik
Guru harus menyadari betapa besarnya keinganan anak untuk memiliki
kebugaran jasamani dana memiliki tubuh yang lincah dan menarik.
f. Dorongan untuk bertualang
Dorongan untuk berpartisipasi dalam kegiatan yang bersifat petualngan
atau sesuatu yang tidak biasa, mendorong anak untuk berpartisipasi dalam
kegiatan yang baru.
g. Dorongan untuk kepuasan kreatif
Anak-anak suka mencoba sesuatu cara yang berbeda, bereksperimen
dengan benda-benda yang berbeda, dan menggalli berbagai hal yang dapat
meraka lakukan secara kreatif.
h. Dorongan untuk menukamti irama
Semua anal laki-laki dan perempuan dapat menikamti irama.
i. Dorongan untuk mengetahui
Anak anak bersifat ingin tahu
Materi 7 : Ruang Lingkup Pengembangan Pendidikan Jamani

A. Ruang Lingkup pengembangan


1. Kemampuan pengolahan tubuh
Kemampuan pengelolaan tubuh merupakan kemampuan paling dasar yang
dikuasai anak bersamaan dengan berkembangnnya pengetahuan tentang
tubuhnya.
a. Kesadaran tubuh
b. Kesadaran ruang
c. kualitas gerak

2. Keterampilan-keterampilan dasar
Keterampilan dasar adalah bentuk keterampilan yang bermanfaat dan
dibutuhkan anak dalam kehidupannya segari-hari.
a. Keterampilan lokomotor
b. Keterampilan non lomotor
c. Keterampilan manikulatif

3. Keterampilan-keterampilan khusus yang tersepesilisasi


Kerterampilan yang terspesialisasi adalah keterampilan yang digunakan
dalam berbagai cabang olahraga dan wilayah pendidikan jasmani lainnya.

B. Arah Sasaran yang harus Dikembangkan :


1. Murid menjadi sadar akan potensi geraknya
2. Murid dapat bergerak dan tampil baik secara

C. Orang Yang terdidik Melalui Pendidikan Jasmani :


1. Memiliki keterampilan yang penting untuk melakukan bermacam-macam kegiatan
fisik
2. Bugar secara fisik
3. Mengetahui dampak dan manfaat dari keterlibatan dalam kegiatan fisik
meyakinkan
4. Murid mengerti dan mampu menerapkan konsep-konsep gerak yang mendasar
5. Murid menjadi orang yang serba bisa dalam bergerak
6. Murid menghargai olahraga yang menyehatkan
7. Menghargai kegiatan fisik dan sumbangannya terhadap gaya hidup sehat
Materi 8 : Tujuan, Ruang Lingkup, Fungsi, Struktur

1. Tujuan Pendidikan Jasmani


Mata pelajaran jasmnai, Olahraga, dan Kesehatan bertujuan agar peserta didik
memiliki kemampuan sebagai berikut.
Mengembangkan keterampilan pengolaan diri dalam upaya pengembangan
dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas
jamani dan olahraga yang terpilih.

2. Ruang Lingkup Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan


Ruang lingkup mata pelajaran pendidikan jasmani, Olahraga dan kesehatan
untuk jenjang SD/MI, SMP/M.Ts, SMA/MA, dan SML/SMAK adalah sebagai
berikut:
Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan, eksplorasi
gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor, dan manipulatif, atletik, kasti,
rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan,
bulutangkis, dan beladiri, serta aktifitas lainnya.

3. Fungsi Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan


a. Aspek Organik
b. Aspek Neuromuskuler
c. Aspek Perseptual
d. Aspek Kognitif
e. Aspek Sosial
f. Aspek Emosional
g. Aspek Rehabilitasi

4. Struktur Materi Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan


Struktur materi pendidikan Jasmani dari TK sampai SMA dapat dijelaskan
sebagai berikut :
a. Materi untuk TK sampai SD/MI kelas 3 SD meliputi kesadaran akan tubub
dan gerakan, kecakapan gerakan dasar, gerakan ritmik, permainan, akuatik,
senam, kebugaran jasmani dan pembentukan dan perilaku.
b. Materi pembelajran untuk SD/MI kelas 4 sampai 6 adalah aktifitas
pembentukan tubuh, permainan dan modifikasi olahraga, kecakapan hidup di
alam bebas, dan kecakapan hidup personal.
c. Materi pembelajran untuk kelas 7 samapi 8 SMP meliputi :
teknik/keterampilan dasar permainan dan olahrag, senam, aktivitas ritmik,
kecapakan hidup di alam terbuka dan kecakapan hidup personal.
Materi 9 : Landasan Ilmiah Pelaksanaan Pembelajran Pendidikan Jasmani

A. Strategi Pembelajaran Pendidikan Jasmani


1. Metode Pembelajaran (Teaching Method)
Pendekatan pengetahuan-keterampilan yang memiliki dua metode,
yaitu metode ceramah (lecture) dan latohan (driil).
2. Pola Organisasi (Organizational Pateern)
Menurut Gabbard, LeBlanc dan lovy (1994) pola organisasi digunakan
untuk mengelompokkan peserta didik aktivitas jasmani agar metode yang
diinghinkan dapat dopergunakan
3. Bentuk Komunikasi (Communication mede)
Menurut Gabbard, LeBlanc dan lovy (1994) bentuk komukasi adalah
bentuk interaksi yang dipilih guru untuk menyampaikan pesan
4. Manajemen Pembelajaran Kelas
Guru perlu membedakan antara kegiatan pengajaran dan manajemen
kelas. Kegiatan pengajran meliputi : 1. Mendiagnosa kebutuhan kelas, 2.
Merencanakan dan mempresentasikan informasi, 3. Membuat pertanyaan, 4.
Mengevaluasi kemajuan.
 Menetapkan aturan kelas
 Memulai kegiatan tepat waktu
 Mengatur pelajran
 Mengelompokkan peserta didik
 Memanfaatkan ruang dan peralatan
 Mengakhiri pelajaran
Materi 10 : Landasan Sosiologu dalam Penjas

1. Teori Bermain
a. Teori energi berlebih
Teori energi berlebih atau teori Spencer-Shiller filosof jerman (1759-
1805) menyatakan bahwa manusia memiliki berbagai potensi yang tidak dapt
diaktifkan sekaligus
b. Teori reaksi
Gust Muths, bapak pendidikan jasmani di jerman, menekankan nilai
rekreatif dari bermain dalam buku : Bermain untuk latihan dan rekreasi
jasmani dan rohani.
c. Teori relaksasi
Dalam banyak hal teori relaksasi sama dengan teori relaksasi. Ia
menyatakan bahwacara bekerja zaman sekarang, yang menggunakan otot-otot
halus dari mata dan tangan sangat berat, menjemukan dan sangat melelahkan.
d. Teori warisan atau rekapitulasi
Stanley Hall mengembangkan teori rekapitulasi. Teori ini beranggapan
bahwa masa lampau adalah kunci dari bermain.
e. Teori naluri atau groos
Teori naluri menerangkan bahwa manusia mempunyai tendensi naluri
untuk aktifitas pada berbagai tingkat dalam hidupnya.
f. Teori kontak-sosial
Manusia dilahirkan keuda orang tuannya. Orang tua adalah anggota
daro kelompok, budaya dan masyarakat tertentu.
g. Teori pertanyaan diri
Manusia adalah makhluk yang akti, yang struktur anatomik dan
fisiologiknya membatasi aktivitas yang dilakukannya dan yang
kencenderungan fisikologisnya sebagai akibat dan kebututuhan fisiologi dan
hasil belajar.

2. Membentuk Budi Pekerti Remaja


Pendidikan jasmani berpotensi besar untuk membentuk budi pekerti anak anak
dan remaja. Ada lima tingkat yang di lalui oleh orang yang normal dalam
perkembangan kepribadiannya.
a. Tingkat impulsive
b. Tingkat egosentrik
c. Tingkat konformitas
d. Tingkat kesadaran irrasional
e. Tingkat kesadaran rasional
MATERI 11 : PERKEMBANGAN MOTORIK DAN DIDAKTIK

1. Perkembangan Motorik dan Didaktik Olahraga

Bidang ini mempelajari perkembangan ketangkasan dan unjuklaku fisik


seseorang, Dua Aspek perlu dipelajari, yakni perkembangan motorik yang berkaitan
dengan kemampuan fisik dan peningkatan ketangkasan terutama karna pendewasaan,
sedangkan didaktik gerak berkaitan dengan peningkatan sebagai hasil dari terutama
sekali latihan dan pengalaman.

Perkembangan motorik dan didaktik adalah cabang dari psikologi olahraga


dengan perkembangan selanjutnya yang menunjukkan kemandirian.

Masalah utama dari perkembangan dan didaktik motorik adalah :

1) Bagi perkembangan motorik


2. Bakat dan pengaruh lingkungan dalam perkembangan motorik.
3. Hubungan antar usia, sex dan perkembangan motorik.
4. Perkembangan ketangkasan motorik dasar.
5. Perkembangan motorik perseptual.
6. Inteligensi dan unjuklaku motorik.
7. Proses kognitif dan unjuklaku motorik.
8. Kesegaran jasmani dan anak-anak.
9. Perkembangan olahraga remaja.
b. Didaktik olahraga
1. Fase-fase tingkatan belajar.
2. Ingatan dan unjuklaku motorik.
3. Penguasaan gerak.
4. Pengetahuan tentang keberhasilan.
5. Kondisi-kondisi dan latihan.

2. Praktek Melatih dan Mengajar

Bagan pelajaran yang biasa dipakai adalah sebagai berkut :

a. Pendahuluan (alokasi waktu 5-10 menit, 10% waktu pelajaran)


b. Inti pelajaran (80% waktu pelajaran)
Inti pelajaran biasanya dibagi dua :
- Belajar bentuk gerak yang baru.
- Penerapan bagian pelajaran sebelumnya dengan tempo yang ditingkatkan
dengan tekanan pada penghalusan gerakan.
c. Penutup atau penenangan (10% waktu pelajaran)
Penutup bertujuan menenangkan kembali ssiwa dan disiapkan untuk kembali
masuk dalam ruang kelas untuk menerima pelajaran akademik.
MATERI 12 : TEORI PSIKOLOGI BELAJAR DALAM PENDIDIKAN JASMANI

A. Teori Psikologi Belajar dalam Pendidikan Jasmani

Teori “trial and error” atau teori coba-coba menyatakan bahwa keterampilan
akan dikuasai setelah beberpa waktu melakukan latihan selama latihan akan terbentuk
jalur dalam sistem saraf yang mengalirkan rangsang dan aktivitas otot sebagimana
mestinya.

Teori kondisi mengemukakan bahwa belajar adalah hasil dari kondisi belajar,
bukan pembentukan jalur dalam sistem saraf. Jika rangsang tertentu diberikan pada
orgganisme, reaksi yang terkait dengan rangsang tersebut akan muncul.

Teori lainnya yang mempengaruhi pendidikan jasmani adalah teori metode


keseluruhan. Teori ini didasari oleh pendapat bahwa seseorang bereaksi terhadap
setiap situasi seluruh keseluruhan.

B. Hukum-hukum Belajar
Psikologi masih terus berkembang dan karenanya banyak sekali pandangan-
pandangan yang bertentangan antara yang satu dengan lainnya. Karena demikian
maka hukum-hukum belajar yang didasarkan atas asas psikologi jangan di pandang
sebagai sesuatu yang baku.
1. Hukum kesiagaan
Hukum kesiagaan artinya ialah bahwa individu akan belajar dengan cepat dan
efektif apabila ia telah “siaga” ata “siap”, yakni jika ia telah matang dan jika telah
ada kebutuhan untuk itu.
2. Hukum latihan
Menyatakan bahwa latihan akan memperbaiki koordinasi, memperbaiki irama
gerak, mengurangi pemakaian energi, lebih terampil dan membuat kinerja yang
lebih baik.
3. Hukum Pengaruh
Hukum pengaruh menunjukkan bahwa pengalaman yang menyenagkan dan
membuaskan lebih mendorong seseorang untuk mengulang lagi dari pada yang
tidak menyenangkan.

Hukum belajar ini bagi pendidikan jasmani berarti bahwa setiap usaha harus dibuat
agar setiap orang merasa berhasil dan mengalami kesenangan dan kepuasan.
C. Faktor-faktor yang Memudahkan Belajar
1. Tujuan kegiatan
2. Faktor-faktor sebagai syarat belajar gerak
3. Lama latihan dan distribusinya.
4. Kurva belajar
5. Penyajian bahan ajar
6. Belajar sambil berbuat
7. Kepemimpinan
8. Kemajuan belajar
9. Kesesuaian bahan ajar
10. Perbedaan individu
11. Kematangan penguasaan ketangkasan
12. Koreksi secara dini
13. Bimbingan dan kemandirian
MATERI 13 : PERBANDINGAN SISTEM PENDIDIKAN JASMANI

Salah satu orientasi yang sudah lama adalah orientasi kepada kesegaran jasmani
militer. Tujuan utama pendidikan jasmani ini sampai sekarang masih dapat terlihat.

Orientasi program yang kedua mengarah ke latihan olahraga kompetitif. Semnetara


tujuannya adalah mengembangkan keterampilan dan kesegaran dari semua siswa dengan
memberikan latihan dasar dari cabang-cabang olahraga, hal semacam ini juga dipakai untuk
“pencarian bakat” untuk dijadikan atlit-atlit terkemuka.

Orientasi kompetitif mengharapkan agar bisa dihasilkan atlit tingkat tinggi untuk
kepentingan prestise nasional. Orintasi ketiga adalah program olahraga seumur hidup.
Program ini maksudnya memberikan pelajaran olahraga yang dapat dilakukan sampai hari
tua.

Orientasi keempat disebut juga orientasi budaya karena menekan aktivitas-aktivitas


yang akarnya adalah budaya bangsa. Orientasi kelima adalah kesegaran keseluruhan untuk
menghadapi hidup. Kadang-kadang erat dalam program yang merupakan bagian dari proses
pendidikan pada umumnya.

Beberapa negara yang dapat dianggap mewakili secara regional maupun ideologi, dan
negara-negara lainnya, perlu mulai dipelajari dan dibahas keadaan pendidikan jasmani
mereka. Negara-negara tersebut adalah :

- Inggris : yang besar pengaruhnya sebagai bekas negara kolonial besar dan
banyak dicontoh di seluruh dunia.
- Jerman : dianggap mewakili eropa.
- Rusia : sebagai wakil negara komunis.
- Jepang : dari asia, dan
- Kenya : sebagai negara berkembang.

Pendidikan Jasmani di Indonesia

Pendidikan jasmani di indonesia dimulai tahun 1997, ketika kementerian


pendidikan,pengajaran dan kebudayaan membuka bagian yang khusus mengelola pendidikan
jasmani. Bagian ini berkembang terus sampai akhirnya berstatus jawatan pendidikan jasmani,
yang kira-kira setingkat dengan direktorat jendral sekarang.
Ketika tahun 1961, pemerintah indonesia mendirikan departeman olahraga,jawatan
pendidikan jasmani dihapus dan dialihkan ke departemen olahraga. Sejak itu istilah
pendidikan jasmani tidak dipergunakan lagi dan disekolah disebut pendidikan olahraga.

Dengan demikian dinyatakan bahwa karena pelaksanaan olahraga dan kesehatan


selama ini hanya mengajar kemampuan gerak dasar dan keterampilan dasar, maka
pelaksanaan lebih lanjut perlu ditinggalkan.

Dengan demikian maka konsep dasar pendidikan jasmani di iindonesia dapat


dinyatakan dalam batasan : “pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan
secara keseluruhan melalui kegiatan jasmani yang bertujuan mengembangkan individu secara
organik, neuromusculer,intekejtual dan emosional”.
MATERI 14 : KURIKULUM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI

1. Kurikulum Pembelajaran Pendidikan Jasmani


Peningkatan keterampilan gerak, kesegaran jasmani, pengetahuan, dan sikap
positif terhadap pendidikan jasmani sangat ditentukan oleh sebuah kurikulum yang
baik. Kurikulum itu sendiri nampaknya terlalu abstraks untuk didenfinisikan secara
tegas dan diterapkan oleh para guru, baik secara implisit maupun eksplisit. Namun
secara sederhana mungkin dapat dikatakan bahwa kurikulum pada dasarnya
merupakan perencanaan dan program jangka panjang tentang berbagai pengalaman
belajar, model, tujuan, materi, metode, sumber, dan evaluasi termasuk pula ‘apa,’ dan
‘mengapa’ diajarkan.
Menurut badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) mengemukakan yang
dimaksud dengan pendidikan jasmani aalah suatu proses pembelajaran melalui
aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran
jasmani,mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup
sehat.
1) Asumsi Dasar Program Pendidikan Jasmani
Asumsi dasar pada dasarnya adalah pijakan yang kokoh dan dapat
dipertanggungjawabkan dalam menyelenggarakan sesuatu. Asumsi program
pendidikan jasmani merupakan pijakan yang kokoh yang dapat dipertanggung
jawabkan dalam membuat dan menyelenggarakan program penjas.
2) Karakteristik program Pendidikan Jasmani
Dua pedoman yang sering digunakan untuk dapat mencerminkan
anggapan dasar tersebut antara lain adalah :
a. Developmentally Appropriate Practices (DAP)
Maksudnya adalah tugas ajar yang memperhatikan perubahan kemampuan
anak dan tugas ajar yang dapat membantu mendorong perubahan tersebut.
b. Instructionally Appropriate Practices (IAP)
Maksudnya adalah tugas ajar yang diberikan ketahui merupakan cara-cara
pembelajaran yang paling baik.
MATERI 15 : ISU ISU KURIKULUM PEMBELAJARAN PENDIDIKAN JASMANI

Isu Isu Kurikulum Pembelajaran Pendidikan Jasmani

a. Isu Program
Isu program kurikulum penjasorkes dapat kita amati antara lain dari dua sisi,
yaitu materi kurikulum dan distribusi alokasi waktunya. Walaupun tujuan pendidikan
Jasmani di satuan pendidikan sangat sesuai dengan tujuan pendidikan pada umumnya,
namun seringkali para guru terlena oleh materi kurikulumnya.
Apabila dilihat dari distribusi alokasi waktunya yang hanya satu kali dalam
satu minggu dengan lama 3x35 menit (SD/MI), 2x40 menit (SMP/MTs), dan 2x45
menit (SMA/SMK) kemungkinan besar tujuan yang berhubungan dengan
pengembangan kesegaran jasmani tidak bisa tercapai. Program aktivitas untuk
pengembangan kebugaran jasmani menuntut frekuensi 3x dalam seminggu.
Sementara itu perkembangan kesegaran jasmani peserta didik seringkali merupakan
tujuan yang paling diharpkan tercapai dalam pendidikan jasmani, Untuk itu pogram
Kesegaran Jasmani yang realistik untuk situasi seperti ini perlu dipertimbangkan.
b. Isu Proses Pembelajaran
- Pengembangan dan variasi aktivitas belajar yang diberikan cenderung miskin
dalam hal pengembangan tujuan secara holistic dan cenderung didaarkan terutama
pada minat, perhatian, kesenangan, dan latar belakang gurunya.
- Aktivitas pendidikan jasmani yang diperoleh peserta didik cenderung terbatas.
- Peserta didik diharuskan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas penjas.
- Peranan unik dari pendidikan jasmani, yaitu belajar gerak dan belajar sambil
bergerak, cenderung kurang dipahami oleh para pengajar dan kurang tercermin
dalam pembelajaran.
- Peserta didik disuruh untuk melakukan aktivitas-aktivitas yang terlalu mudah atau
terlalu sukar yang dapat menyebabkan mereka bosan, frustasi, atau melakukannya
dengan salah.
c. Isu Penilaian
Evaluasi merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari suatu proses belajar
mengajar. Evaluasi berfungsi sebagai salah satu cara untuk memantau perkembangan
belajar dan mengetahui seberapa jauh tujuan pengajaran dapat dicapai oleh peserta
didik.
- Pelaksanan penilaian belum begitu nampak terintegrasi dalam sebuah proses
belajar mengajar.
- Materi evaluasi terkadang kurang relevan dengan materi yang diberikan pada
proses belajar mengajar.
- Situasi pelaksanan evaluasi. Dalam situasi ujian tes tulis dikelas,hasil tes mungkin
hanya diketahui oleh yang dites dan gurunya
- Alokasi waktu pembelajaran penjas di sekolah amat terbatas untuk mengadakan
pengetesan.
- Masalah lain adalah evaluasi seolah-olah hanya dapat dilakukan oleh ahli statistik,
sebab statistik diperlukan untuk pengolahan data.
d. Isu Jumlah dan Karakteristik Peserta Didik
Guru Penjasorkes pada satuan pendidikan sering dihapkan dengan masalah
jumlah peerta didik yang cukup banyak mulai dari kelas I sampai kelas XII, bahkan
ditambah dengan peserta didik dari kelas paralel.
e. Isu Sarana dan Prasarana Pembelajaran Penjasorkes.
Kurangnya sarana dan prasarana pembelajaran penjasorkes merupakan salah
satu isu yang cukup merata dan sangat terasa oleh para pelaksana penjas dilapangan.
Pada umumnya sekolah-sekolah diindonesia pada setiap jenjang pendidikannya selalu
dihadapkan dengan permasalahan kekurangan sarana dan prasarana ini. Sarana dan
prasarana ini meliputi alat-alat,ruangan,dan lahan untuk melakukan berbagai aktivitas
pendidikan jasmani, temasuk olahraga.
f. Isu Keberhasilan Pembelajaran Penjasorkes
Keberhasilan kurikulum Pendidikan Jasmani pada setiap pendidikan sampai
saat ini masih dirasakan samar. Untuk itu kita dapat bercermin pada karakteristik
lulusan pendidikan jasmani yang dijadikan patokan di beberapa negara maju,
misalnya seperti yang dikemukakan oleh NASPE (National Association for Sport and
Physical Education,1992) yang intinya adalah sebagai berikut :
- Memiliki keterampilan-keterampilan yang penting untuk melakukan bermacam-
macam kegiatan fisik.
- Bugar secara fisik..
- Berpartisipasi secara teratur dalam aktivitas jasmani.
- Mengetahui akibat dan manfaat dari keterlibatan dalam aktivitas jasmani.
- Menghargai aktivitas jasmani dan kontribusinya terhadap gaya hidup yang sehat.
BAB III

PEMBAHASAN
A. KELEBIHAN BUKU
Buku Filsafat Pendidikan Penjas karya DR. Asep Suharta, M.PD. Buku ini
mempunyai kelebihan dibandingkan dengan buku filsafat pendidikan Penjas lain.
Kelebihan dari buku karya. DR. Asep Suharta, M.PD adalah:

1. Buku ini memiliki tampilan buku dapat menarik minat pembaca.


2. Tata letak dan tata tulis pada buku ini pun rapih, sehingga para pembaca tidak
terganggu dengan tata letak dan tata tulisnya. Kemudian font digunakan sangat
baik, sehingga para pembaca dapat membacanya dengan baik.
3. Kehadiran buku ini sangat penting artinya terutama untuk kalangan pengkaji
filsafat Pendidikan Jasmani dan pendidikan / akademisi maupun masyarakat,
dapat dijadikan referensi bagi pengembang kurikulum dan praktisi pendidikan.
4. Buku ini mampu memberikan peta bagi penelusur lebih mendalam terhadap
filsafat pendidikan Jasmani melalui berbagai pendekatan ditawarkan.

B. KEKURANGAN BUKU
Kelemahan dari buku karya DR. Asep Suharta, M.PD adalah:

1. Pada tampilan bukunya memang menarik, namun pilihan gradasi warnanya gelap,
sehingga bagi anak-anak buku ini kurang menarik.
2. Buku ini sama seperti buku-buku filsafat pendidikan jasmani lain dalam
penyajiannya masih menggunakan alur berpikir datar-datar saja.
3. Sudut pandang buku ini belum memberikan tif-tif atau upaya-upaya dalam
mengatasi problematika pendidikan baik dari sudut pandang filsafat pendidkan
jasmani..
4. Masih banyak terjadi kesalahan penulisan pada buku DR. Asep Suharta, M.PD.
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN

Olahraga bersifat netral dan umum, tidak digunakan dalam pengertian olahraga
kompetitif, karena pengertiannya bukan hanya sebagai himpunan aktivitas fisik yang
resmi terorganisasi (formal) dan tidak resmi (informal).
Pendidikan jasmani pada dasarnya bersifat universal, berakar pada pandangan klasik
tentang kesatuan erat antara “body and mind”, Pendidikan jasmani adalah bagian
integral dari pendidikan melalui aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan
individu secara organik, neuromuskuler, intelektual dan emosional

B. SARAN
Diharapkan dengan adanya makalah ini, kami dan semua pembaca dapat memahami
perbedaan pertumbuhan fisik pria dan wanita, dan lebih memahami pribadi dan
kinerja otaknya. Sehingga ilmu yang sudah didapatkan dapat diaplikasikan dalam
kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

Suharta, Asep.2019.FILSAFAT PENDIDIKAN JASMANI.MEDAN