Anda di halaman 1dari 11

TUGAS 2

KLASIFIKASI KAPAL

INSPEKSI LAS DAN SURVEY KAPAL

Disusun Oleh :

Fitricia Putri Rizki Ricinsi (04211640000003)

DEPARTEMEN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN


FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2019
TUGAS 2

KLASIFIKASI KAPAL

INSPEKSI LAS DAN SURVEY KAPAL

Disusun Oleh :

Fitricia Putri Rizki Ricinsi (04211640000003)

DEPARTEMEN TEKNIK SISTEM PERKAPALAN


FAKULTAS TEKNOLOGI KELAUTAN
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2019
DAFTAR ISI

HALAMAN KULIT MUKA..................................................................................i


DAFTAR ISI..........................................................................................................iii
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang..........................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah..................................................................................1
1.3 Tujuan........................................................................................................1
1.4 Manfaat.....................................................................................................1
II. PEMBAHASAN
2.1 Klasifikasi ................................................................................................3
III. PENUTUP
3.1 Simpulan ..................................................................................................5
DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………...6

i
ii
1

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Transportasi laut sebagai salah satu moda transportasi nasional memiliki
karakteristik pengangkutan masal dan dapat menjangkau seluruh wilayah
Indonesia bahkan dunia. Akan tetapi, belakangan ini pelayaran seakan
mengalami penurunan kepercayaanakibat banyaknya kecelakan yang terjadi
baik dalam skala kecil atau dalam skala besar. Terdapat dua aspek yang dapat
dittarik daripada kejadian kecelakaan yang telah terjadi yakni kerugian akibat
jiwa danmateri serta menurunnya kepercayaan masyarakat kepada suatu
regulasi atau pemerintah. Untuk itu, pentingnya suatu transportasi laut untuk
dilakukan klasifikasi adalah untuk kepentingan keselamatan pelayaran dan
sebagai salah satu alat ukur layak atau tidaknya kapal untuk beroperasi.

1.2 Perumusan Masalah


Adapun rumusan masalah yang diambil pada tugas ini adalah sebagai berikut,
a. Bagaimana Klasifikasi terhadap moda transportasi laut berjalan di
Indonesia?

1.3 Tujuan Kegiatan


Tujuan dari tugas ini adalah sebagai berikut,
a. Mahasiswa mengetahui pentingnya klasifikasi baik di dalam negeri
maupun luar negeri.

1.4 Manfaat Program


Manfaat yang diharapkan dari tugas ini adalah sebagai berikut,
a. Mahasiswa mengetahui klasifikasi di dalam maupun luar negeri
2

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Mengapa Klasifikasi itu Penting


Classification Society merupakan salah satu pilar yang mensuplai
informasi mengenai kondisi kaapal, dimana hal tersebut berfungsi di sektor
asuransi atau hanya untuk mengelola agar tidak terjadi kecelakaan atau
mengurangi atau meminimalkan sebuah risiko. Tujuan dan fungsi tersebut
bertahan hingga abad ke 19 dimana terjadi suatu perubahan dimana suatu
informasi tersebut menjadi sebuah kegiatan inspeksi dan regulasi. Sehingga
permintaan publik untuk keselamatan dan perlindungan lingkungan system
transportasi laut telah berkekambang. Adapun tujuan daripada classification
society adalah untuk menjamin keselamatan kapal yang optimal menurut
teknologi yang tersedia dengan struktur manajemen modern.

Pembuatan sebuah konvensi atau dasar daripada classification society


tidak hanya berawal dari sebuah teori atau kejadian yang norma. Tetapi
seringkali pada moda transportasi laut konvensi atau peraturan yang menjadi
landasan daripa classification society di dapatkan dari sebuah kecelakaan atau
tragedy yang telah terjadi. Seperti contohnya adalah Kecelakaan Exxon
Valdez pada tahun 1989 dimana kapal tanker tersebut menghantam karang
dan menumpahkan 41 juta liter barel minyak ke lautan lepas, sehingga
menimbulkan kerugian dari berbagai macam aspek. Selain itu, terdapat juga
Kecelakaan yang terjadi pada The Prestige pad atanggal 13 November 2002
dimana sebuah kapal tanker minyak dengaan barang bawaan sebesar 76.927
ton minyak bahan bakar berat menumpahkanminyaknya sekitar 30 kilometer
dari Cabo Finistree dan mengakibtkan kerusakan lingkungan dan
mengakibatkan operasi pembersihan secara besar-besaran.

Proses klasifikasi yang berlangsung atau sedang berjalan di masyarakat


saat ini adalah dengan system sertifikasi dimana untuk menyatakan kapal
tersebut layak atau tidak maka pihak otoritas akan memberikan deklarasi
kesesuaian objek dengan minimal standar yang telah ditetapkan. Dimana
3

standar minimum yang telah berkembang luas ini biasa disebut dengan aturan
kelas.

Adapun keharusan daripada suatu moda transportasi laut untuk terdaftar


pada sutau klas adalah atas peraturan berikut ini,

Dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2008 mengenai pelayaran, pada pasal


129 di jelaskan,

1. Kapal berdasarkan jenis dan ukuran tertentu wajin diklasifikasikan pada


badan klasifikasi untuk keperluan persyaratan keselamatan kapal.
2. Badan klasifikasi nasional atau badan klasifikasi asing yang diakui dapat
ditunjuk melaksanakna pemeriksaan dan pengujian terhadap kapal untuk
memenuhi persyaratan keselamatan kapal.

Sedangkan dalam pelaksanaannya, pemerintah melalui menteri perhubungan


mengeluarkan peraturan no Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 2013 tentang
Kewajiban Klasifikasi Bagi Kapal Berbendera Indonesia pada Badan
Klasifikasi yang isinya antara lain sebagai berikut :

Pasal 2 berbunyi,

1. Kapal berbendera Indonesia wajib di klasifikasikan pada badan klasifikasi


dengan kriteria sebagai berikut :
a. Ukuran panjang antara garis tegak depan dan belakang 10 meter datau
lebih;
b. Tonase kotor GT 100 (Seratus Gross Tonnage) atau lebih;
c. Digerakkan dengan tenaga penggerak utama 250 Hp atau lebih.
2. Kapal berbendera Indonesia sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang
dioperasikan untuk Daerah Pelayaran Kawasan Indonesia wajib
diklasifikasikan pada Biro Klasifikasi Indonesia atau dual class dengan
badan klasifikasi asing yang diakui.
3. Kapal berbendera Indonesia yang melakukan pelayaran Internasional dapat
diklasifikasikan pada Biro Klasifikasi Indonesia atau Badan klasifikasi
asing yang diakui atau dual klas antara Biro Klasifikasi Indonesia dengan
Badan Klasifikasi asing yang diakui.
4

Klasifikasi kapal merupakan kewajiban para pemilik kapal berbendera


Indonesia sesuai dengan Keputusan Menteri Perhubungan yang menyatakan
bahwa kapal yang wajib kelas mengikuti ketentuan sebagai ebrikut, Panjang
>20 m ; Tonnase >100 m3; mesin penggerak >100 pk. Yang melakukan
pelayaran internasional meskipun telah memiliki sertifikat dari Biro
Klasifikasi Asing wajib mengganti dengan Klasifikasi Indonesia.

Kelailautan kapal menrut Undang-Undang No. 19 Tahun 2008 adalah


keadaan kapal yang memenuhi persyaratan kselamatan kapal, pencegahan
pencemaran perairan dari kapal, pengawakan, pemuatan, kesehatan,
dankesejahteraan awak kapal, serta penumpang dan status hukum kapal untuk
berlayar di perairan tertentu peraturan –peraturan teknis yang mengikat kapal
antara lain adalah peraturan badan kalsifiakasi dan peraturan pemerintah flag
state. Administrasi yang mengadopsi dari konvensi Internasional seperti
SOLAS, MARPOL, COLREG, ILO danmasih banyak lagi.

Tujuan daripada diwajibkannya klasifikasi kapal adalah untuk kepentingan


keselamatan pelayaran dan sebagai salah satu alat ukut kapal layak atau tidak
uuntuk berlayar. Persyaratan klasifikasi lebih fokus kepada persyaratan dan
kalulasi teknis terhadap suatu kontruksi lambung kapal, stabilitas permesinan,
kelistrikan, dan system penunjang operasi kapal lain. Sedangkan, peraturan
IMO sendiri lebih bertitik berat kepada peraturan tentang keselamatan jiwa di
laut (SOLAS), pencegahan pencemaran yang mengacu pada MAPOL,
peraturan garis muat (ILLC), pencegahan tabrakan di laut (COLREG), dan
beberapa peraturan lain yang diadopsi dan dijadikan suatu bahan penilaian
pada suatu klas.

BAB 3
PENUTUP
5

3.1 Simpulan
Klasifikasi merupakan suatu hal yang wajin dilakukan oleh pemilik kapal
dengan ketentuan yang telah tercantum pada regulasi-regulasi atau peraturan
dari pemerintah setempat. Dimana klasifikasi bertujuan untuk untuk
kepentingan keselamatan pelayaran dan sebagai salah satu alat ukut kapal
layak atau tidak uuntuk berlayar. Pada suatu klas terdapat konvensi
internasional yang akan diadopsi atau menjadi suatu yang wajib diterapkan
untuk kapal-kapal yang telah memenuhi kriteris misalnya adalah penggunaan
MARPOL Annex I, dan lain sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA
6

Biro Klasifikasi Indonesia_Peraturan Klasifikasi dan Survey Jilid 1_2012


Indonesiashippingline.com / diakses 16/10/2019 pukul 16.00
Mukhammad Rizqi/ Peraturan Statutoty International Maritime Organization
7