Anda di halaman 1dari 15

TEORI

AKUNTANSI ISLAM

Adopsi :
Padlah Riyadi., SE., MM., Ak., CA., Asean CPA

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR …………………………………………………………………… i
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………….. ii

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ……………………………………………………….…......... 1
B. Rumusan Masalah …………………………………………………………… 1
C. Tujuan Masalah ………………………………………………………………. 1

BAB II PEMBAHASAN
A. Dimensi Akuntansi Menurut Al-qur’an, Ilahiyah, Sejarah Islam dan Modern ... 2
B. Prinsip-prinsip Akuntansi Islam ……………………………………………… 5
C. Perubahan Revolusi Kuhn dan perkembangan Akuntansi Islam …………. 7
D. Akuntansi Islam………….............................................................................. 8
E. Akuntansi Sosial Ekonomidan Akuntansi Islam ………………………...…… 9
F. Perumusan Kerangka Teori Akuntansi Islam ………………………………… 13
G. Perbedaan Akuntansi Islam dan Akuntansi Konvensional ………………….. 15
H. Riset Akuntansi Islam ………………………………………………………… 16

BAB III PENUTUP


A. Kesimpulan …………………………………………………………………… 18
B. Saran ………………………………………………………………………….. 18

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Akuntansi merupakan hal yang penting dalam bisnis, akuntansi memiliki peranan
penting dalam operasionalisasi suatu perubahan, maka informasi akuntansilah yang
sangat dibutuhkan.
Pada era sekarang ini akuntansi Islam semakin kita dengar dan semakin
berkembang, baik dalam negeri maupun luar negeri, walaupun akuntansi syariah sendiri
masih dipertanyakan keberadaannya, yang mana praktik dilapangannya akuntansi masih
merujuk pada akuntansi barat.
Pada perkembangannya akuntansi Islam dimasa kini telah menunjukkan
eksistensinya dan mampu untuk menciptakan teori dari akuntansi Islam yang mumpuni
dan mandiri, dan tentunya sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep akuntansi Islam?
2. Bagaimana kerangka teori akuntansi Islam?
3. Bagaimana perbedaan akuntansi Islam dan konvensional?
4. Bagaimana hasil riset akuntansi Islam?
C. Tujuan Masalah
1. Untuk mengetahui konsep akuntansi Islam.
2. Untuk kerangka teori akuntansi Islam.
3. untuk mengetahui perbedaan akuntansi Islam dan konvensional.
4. untuk mengetahui hasil riset akuntansi Islam.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Dimensi Akuntansi Menurut Al-qur’an, Ilahiyah, Sejarah Islam dan Modern1


a. Dimensi akuntansi menurut al-Qur’an
Dalam surat Isra’ disebutkan bahwa Allah mengajarkan kepada manusia
menggunakan pena dan diajarkan ilmu yang tidak diketahui. Yang mengajarkan
dengan pena mengajarkan manusia tanpa pena apa yang tidak diketahuinya (ayat 4 &
5). Ayat ini menunjukkan modal awal dari eksistensi adanya sistem akuntansi.
Dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 282 menjelaskan tentang pencatatan
atau akuntansi. Dari ayat ini juga menerangkan bahwa sejak munculnya peradaban
Islam sejak Nabi Muhammad SAW telah ada perintah untuk melakukan sistem
pencatatan untuk tujuan kebenaran, kepastian, ketrbukaan, keadilan, antara dua pihak
yang mempunyai hubungan muamalah. Tekanan Islam dalam kewajiban melakukan
pencatatan adalah :
1. Menjadi bukti dilakukannya transaksi (muamalah) yang menjadi dasar dalam
menyelesaikan persoalan selanjutnya.
2. Menjaga agar tidak terjadi manipulasi atau penipuan, baik dalam transaksi maupun
hasil dari transaksi.
b. Dimensi Akuntansi menurut Ilahiyah
Akuntansi sistem Ilahiyah sangatlah komprehasif bukan hanya berfokus pada
data kuantitatif tetapi juga data non- kuantitatif. Bahkan catatan yang diperihala Allah
menyangkut penilaian prestasi “performance evaluation” seseorang sebagai dasar
nantinya untuk menentukan apakah seseorang diberi reward masuk surga atau justru
penalty masuk neraka. Sehingga kita dapat sebut bidangnya adalah Akuntansi Amal.

1
Diakses pada https://www.neliti.com/id/publications/154360/beberapa-dimensi-akuntansi-menurut-alquran-
mahwah-sejarah-islam-dan-kini

3
Berdasarkan penuturan Allah dalam Al-Qur’an ternyata pengelolaan sistem
jagad dan manejemen alam ternyata peran dan fungsi akuntansi sangat besar. Allah
tidak membiarkan kita bebas tanpa monitoring dan objek pencatatan Allah. Allah
memiliki akuntan, yaitu malaikat yang sangat canggih yaitu Rakib dan Atib, malaikat
yang menuliskan/menjurnal transaksi yang dilakukan manusia, yang menghasilkan
buku atau neraca yang disebut “sijjin” (Laporan Amal Baik) dan “Illyin” (Laporan Amal
Buruk) yang nanti akan dilaorkan kepada kita (aktor, pelaku) di akhirat.Sehingga
dalam proses pertanggung jawaban kita dihadapan Allah SWT kita sudah menerima
laporannya sebagai dasar menentukan apa yang kita terima sebagai balasan dari
prestasi yang kita capai pada masa kita didunia.
Pembuktian cukup sah dan adil, mulut kita tidak akan berbicara lagi, yang
menjadi saksi adalah anggota badan kita sebagai pelaku perbuatan yang
dilakukan.Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia nanti akan tercengang, dengan
semua kelakuan kita dapat direkam ditunjukan kepada kita tanpa menginggalkan satu
sub episode sekalipun.
Dalam surah Al-Isra’ ayat 13-14 :
“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami catatkan (tetapkan) amal perbuatannya
(sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.Dan Kami keluarkan baginya pada hari
kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka.Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu
sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”.
Kemudian dalam surah Al-Kahfi ayat 49 :
“Dan diletakanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan
terhadap apa yang (ditulis) di dalamnya, dan mereka berkata “ Aduhai celaka kami,
kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar,
melainkan ia mencatat semuanya” dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan
ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun”.
Al-Qur’an hanya menjelaskan tentang perihal yang berkaitan dengan manusia
sedangkan “internal accounting system” yang dimiliki Allah SWT dalam pengelolaan
atau manajemen jagad raya ini tidak dapat kita ketahui karena tidak dijelaskan dalam
Al-Qur’an. Kita hanya tahu misalnya bahwa ada Arsy dimana Allah bersemayam dan
mengatur semuanya. Allah memiliki berbagai Malaikat dengan pembagian tugas.
Malaikat menjaga jiwa manusia dan dikanan kiri mencatat amalnya. Allah tidak pernah
mengantuk, tidur, dan mengawasi kita 24 jam, semua yang terjadi atas izinnya. Semua
urusan ada ketetapan dari Allah. Bagi kita beberapa masalah ini merupakan bagian
yang gaib dan ilmu Allah maha luas meliputi semua itu, manusia hanya diberikan ilmu
yang sangat sedikit.

c. Dimensi akuntansi menurut sejarah Islam


Akuntansi di Timur Tengah maupun negara Islam misalnya selama ini masih
dikuasai sistem akuntansi Barat. Dibawah ini akan dibahas praktek yang ada di negara
Islam dan dalam berbagai catatan sejarah.
1. Muhasib
Menurut Hayashi (Hayashi 1989, Harahap 1999) akuntansi dalam bahasa Arab
disebut “Muhasabah” yang artinya akuntansi. Sedangkan akar katanya H.S.B.
Pengertian HSB dalam bahasa Arab adalah :
1) Selesaikan tanggung jawab
2) Agar netral, independen tidak memihak, objektif
3) Menjaga atau mencoba mendapatkan
4) Mengharapkan pahala diakhirat dengan menambahnya dalam kita oleh
seseorang oleh Tuhan
5) Menjadikan perhatian
Pengertian Hasaba atau akuntansi dalam bahasa Arab ini menggambarkan
fungsi akuntansi pada era kebudayaan Islam waktu itu. Disini yang dicatat bukan
saja aspek materil, ekonomi, kuantitatif, tetapi juga moralitas, etika, kualitatif
disamping kuantitatif. Berarti bahwa dalam Islam ternyata jauh lebih luas dari

4
pengertian akuntansi dalam budaya Barat yang hanya mengukur dengan angka
dan transaksi ekonomi yang mempengaruhi posisi keuangan perusahaan.
2. Muhtasib
Muhtasib adalah orang yang bertanggung jawab atas lembaga Al-Hisba,
menyangkut juga pengawasan pasar yang bertanggung jawab tidak hanya
menyangkut masalah ekonomi tetapi juga masalah ibadah.
Muhtasib memiliki kekuasaan yang luas, termasuk pengawasan harta,
kepentingan sosial, pelaksanaan ibadah pribadi, pemeriksaan transaksi bisnis.
Akram Khan memeiliki 3 kewajiban muhtasib yaitu :
1) Pelaksanaan hak Allah termasuk kegiatan ibadah; semua jenis shalat,
pemeliharaan masjid.
2) Pelaksanaan hak masyarakat; prilaku dipasar, kebenaran timbangan
kejujuran bisnis
3) Pelaksanaan yang berkaitan dengan keduanya; menjaga kebersihan jalan,
lampu jalan, bangunan yang menggangu masyarakat dan sebagainya.
Disisi lain ada juga fungsi muhtasib yangb bukan dalam bidang moral dan
agama tetapi dalam bidang pelayanan umum misalnya memeriksa kesehatan
supply air, memastikan orang miskin mendapatkan tunjangan, bangunan yang mau
ubuh, memeriksa kelayakan pembangunan rumah, ketidak nyamanan berlalu lintas,
menjaga keamanan dan kebersihan pasar. Dapat disimpulkan bahwa fungsi
utamanya adalah untuk mencegah terhadap pelanggaran hukum baik hukum sivil
maupun hukum agama.

B. Prinsip-prinsip Akuntansi Islam


Di antara tujuan syariat Islam ialah menjaga harta dan mengembangkannya melalui
jalur-jalur yang syar'i, untuk merealisasikan fungsinya dalam kehidupan perekonomian
serta membantu memakmurkan bumi dan pengabdian kepada Allah SWT. Sumber-
sumber hukum Islam telah mencakup kaidah-kaidah yang mengatur pemeliharaan
terhadap modal pokok (kapital) di dalam peranannya. Yang terpenting di antaranya
sebagai berikut:2
1. Tamwil dan Syumul (Mengandung Nilai dan Universal)
Modal itu harus dapat memberikan nilai, yaitu mempunyai nilai tukar di pasar
bebas. Bisa saja, modal berada dalam bentuk uang, barang milik, atau barang
dagangan selama harta itu masih bisa dinilai dengan uang oleh pakar-pakar yang ahli
di bidang itu serta disepakati oleh mitra usaha.
Ra'sul-maal (modal awal) juga bisa berbentuk manfaat, yang dalam konsep
akuntansi positif disebut ushul ma'nawiah (modal nonmateri), seperti halnya
seseorang yang terkenal mempunyai nama baik dan hak-hak istimewa. Oleh karena
itu, dalam konsep akuntansi Islam, kapital mempunyai makna universal dan luas, yang
meliputi uang, benda, atau yang nonmateri.
2. Mutaqawwim (Bernilai)
Modal itu harus bernilai, artinya dapat dimanfaatkan secara syar'i. Jadi, harta-
harta yang tidak mengandung nilai tidak termasuk dalam wilayah akuntansi yang
sedang dibicarakan, seperti khamar, daging babi, dan alat-alat perjudian.
3. Penguasaan dan Pemilikan yang Sempurna
Mal atau harta itu harus dimiliki secara sempurna dan dikuasainya sehingga ia
dapat memanfaatkannya secara bebas dalam bermuamalah atau bertransaksi.
Sebagai contoh, tidak boleh bagi seseorang untuk memulai dengan pihak lain kerja
sama dalam uang dan pekerjaan dengan janji membayarkan uang tersebut di

2
Husein, syahatah, pokok-pokok akuntansi islam, Jakarta, akbar media eka sarana, 2001, hlm. 130-133.

5
kemudian hari atau uang itu masih bersifat utang (dalam jaminan), seperti yang
ditegaskan oleh ulama fiqih dalam fiqih syarikah.
4. Keselamatan dan Keutuhan Ra'sul-maal
Sistem akuntansi Islam menekankan pemeliharaan terhadap kapital yang hakiki,
seperti yang tergambar dalam sabda Rasul,
"Seorang mukmin itu bagaikan seorang pedagang; dia tidak akan menerima laba
sebelum ia mendapatkan ra'sul-maal-nya (modal). Demikian juga, seorang mukmin
tidak akan mendapatkan amalan-amalan sunnahnya sebelum ia menerima am
alan-amalan wajibnya." (HR Bukhari dan Muslim)
Jadi, kalau modal belum dipisahkan dan keuntungan telah dibagi itu dianggap
telah mengembalikan sebagian modal kepada si pemilik saham. Hal inilah yang
banyak menimbulkan masalah dalam perusahaan-perusahaan.
Adapun yang dimaksud dengan selamatnya modal hakiki ialah selamat dari segi
jumlah, unit-unit materinya, dan daya tukar barang, bukan dari segi unit-unit uangnya
dan juga bukan dari segi daya beli secara umum.
Prinsip ini adalah hasil bahasan seorang peneliti konsep akuntansi Islam dalam
tesis magisternya yang berjudul "Penghitungan terhadap Modal antara Konsep
Akuntansi Islam dan Konsep Akuntansi Modern. Dia menjelaskan kelebihan konsep
akuntansi Islam yang lebih dahulu menyelesaikan problem pemeliharaan terhadap
modal hakiki.
Menurut Muhamad Akhyar Adnan, membahas beberapa prinsip akuntansi
konvensional dan menyatakan beberapa konsep akuntansi tidak sesuai dengan
Islam, antara lain:3
1) Materiality,
2) Historical cost
3) Conservatism
Menurut Muhammad Akram Khan, beliau merumuskan sifat-sifat (bukan prinsip)
akuntansi Islam sebagai berikut:
1) Penentuan laba yang tepat.
2) Mempromosikan dan menilai efisiensi kepemimpinan.
3) Ketaatan kepada hukum syariah.
4) Keterikatan kepada keadilan.
5) Melaporkan dengan baik.
6) Perubahan dalam praktek akuntansi.
7)
C. Perubahan Revolusi Kuhn dan perkembangan Akuntansi Islam
Perkembangan ilmu pengetahuan ternasuk sistem pencatatan pada dinasti
Abbasiah (750-1258 M) sudah maju, sementara pada kurun waktu yang hampir
bersamaan, Eropa masih berada dalam periode The Dark Ages. Dari sini dapat dilihat
hubungan antara Luca Paciolli dan Akuntansi Islam.
Luca Paciolli adalah ilmuwan sekaligus juga seorang pengajar di universitas Italia
seperti Venice, Milan, Florence, dan Roma. Beliau telah banyak membaca buku yang
diterjemahkan, dibuktikan sejak tahun 1202 M dengan banyaknya buku-buku para
ilmuwan muslim/arab telah banyak yang diterjemahkan ke negara Eropa seperti yang
dilakukan oleh Leonardo Fibonacci of Pisa. Beliau banyak belajar mengenai angka dan
bahasa Arab, sehingga dalam bukunya disebutkan bahwa ia menyarankan dan
menerangkan manfaat mengenai angka Arab termasuk dalam pencatatan transaksi.
Pada tahun 1429 M, angka Arab dilarang untuk digunakan oleh pemerintah Italia
Luca Paciolli selalu tertarik untuk belajar tentang hal tersebut serta belajar dari Alberti
seorang ahli matematika yang belajar ari pemikiran Arab dan selalu menjadikan karya
Pisa sebagai rujukan. Tahun 1484 M Paciolli pergi dan bertemu dengan temannya
Onofrio Dini Florence seorang pedagang yang suka bepergian ke Afrika Utara dan

3
Sofyan,syafri harahap, Bunga Rampai Akuntansi Islam, Jakarta, pustaka quantum,2003, hlm. 101

6
Konstatinopel, sehingga diduga bahwa Paciolli mendapat ide tentang double entry
tersebut dari temannya ini.
Alasan teknis yang mendukung ialah Luca Paciolli mengatakan bahwa setiap
transaksi harus dicatat dua kali disisi sebelah kredit dan disisi sebelah debit, bahwa
pencatatan harus diawali dengan menulis sebelah kredit kemudian kemudian disebelah
debit. Muncul dugaan bahwa Luca Paciolli menerjemahkan hal tersebut dari bahasa Arab
yang memang menulis dari sebelah kanan.
Pada tahan 1494 M menerangkan mengenai double entry book keeping sehingga
ditetapkan sebagai penemu Akuntasi Modern, walaupun ia mengatakan bahwa hal
tersebut telah dilakukan lebih dari satu abad yang lampau. Dari hasil penelusuran pemikir
Islam, ditemukan bahwa ada hubungan antara para pedagang Italia dan pedagang
muslim, yang membuka kemungkinan bahwa akuntansi modern tersebut diperoleh
Paciolli dari hubungannya dengan pedagang muslim.
Bukti-bukti dan istilah yang digunakan Paciolli juga sama dengan apa yang
dilakukan oleh para pedagang muslim, selain itu ketika Daula Islam mulai berkembang,
telah dikembangkan juga sistem akuntansi yang cukup maju dan dapat dijadikan dasar
bahwa klaim muslim turut dalam pengembangan akuntansi modern.
Tetapi pemikiran itu masih dipertanyakan oleh beberapa pihak termasuk para
pemikir modern sendiri, sehingga penelitian akan hal tersebut masih harus dilakukan
dimasa depan termasuk membuktikan bahwa akuntansi syariah bukanlah hal baru dan
aneh dibandingkan dengan akuntansi konvensional yang berkembang dewasa ini.

D. Akuntansi Islam : Munculnya Era Epistemologi Islam


Akibat epistemology barat yang mengistimewakan peranan manusia dalam
memecahkan “segala sesuatu” dan dalam waktu yang bersamaan menentang dimensi
spiritual yang kemudian menjadi sumber utama krisis epistemology yang berimplikasi
pada krisis ilmu pengetahuan, maka ada upaya untuk mencari memecahkan dan
mempertimbangkan epistimologi yang lain.
Didalam epistemology Islam menekankan totalitas pengalaman dan kenyataan
serta menganjurkan berbagai cara dalam mempelajari alam. Sehingga ilmu bias didapat
dan dikembangkan dari wahyu maupun akal, dari observasi maupun intuisi, dari tradisi
maupun spekulasi teoritis. Sehingga epistemoogi Islam menempuh langkah ganda.
Dari uraian tersebut, maka akuntansi sebenarnya haruslah memadukan unsur
lahiriah dan unsur batiniah. Yang mana hal ini dapat memunculkan peluang akuntansi
syariah yang menggunakan epistemologi Islam.
Akuntansi sebenarnya domain kepada kemampuan akal pikiran manusia untuk
mengembangkannya. Namun karena pentingnya permasalahan ini maka Allah swt.
Menurunkan QS. Al-Baqarah ayat 282. Penempatan surat ini relevan dengan sifat
akuntansi, yang mana ditempatkan sebagai lambang komoditi ekonomi, yang dapat
dianalogikan dengan “double entry”. Yang menggambarkan angka keseimbangan atau
neraca.4
Bahkan jika dikaji sistem jagad dan manajemen alam ternyata fungsi akuntansi
sangat besar. Bukti yang sering dikenal dimana satupun tidak aka nada transaksi yang
dilupakan sebesar zarrah seperti yang dilihat QS. Al-Zalzalah ayat 7-8 sebagai berikut:
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan
melihat (balasan)nya (7). Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah
pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula (8).”
Etika dan perilaku bisnis didasarkan pada tradisi dan filosofi barat. Menurut
Toshikabu Hayashi akuntansi Islam sesuai dengan kecenderungan manusia yang
menuntutb agar perusahaan memiliki etika dan tanggung jawab social. Beliau juga
menjelaskan bahwa konsep akuntansi sudah ada dalam sejarah islam yang mana
sangatlah berbeda dari konsep konvensional sekarang. Beliau menjelaskan bahwa dalam

4
Sofyan Syafri Harahap, Akuntansi Islam, Jakarta, PT Bumi Aksara, hlm. 141-144.

7
konsep Islam ada pertanggung jawaban di akhirat, yang mana setiap manusia akan
mempertanggung jawabkan tindakannya di hadapan Allah.

E. Akuntansi Sosial Ekonomidan Akuntansi Islam


Dibawah ini adalah uraian mengenai Islam dan akuntansi sosial, yaitu:5
a. Masyarakat Islam
Masyarakat Islam adalah masyarakat yang diatur oleh agamanya. Masyarakat
yang dimaksdkan disini adalah masyarakat Ideal (kendatipun dapat saja dirusak oleh
tingkah laku manusia) sehingga lembaga keuangan dan akuntansinya disahkan
melalui pembuktian sendiri sesuai landasan agama.
Masyarakat lainnya diluar Islam, menganggap bahwa merekalah sebagai model
yang Ideal yang dapat membuktikan sendiri teori semacam itu. Hal ini sejalan dengan
isu yang menyangkut masalah peyusunan prinsip Akuntansi Internasional secara
umum. Hal ini muncul dari kasus di mana penulis pertama yakin bahwa dia dapat
menyelesaikan penyelesaian ide antar Akuntansi Sosial dan Islam. Menggabungkan
berbagai individu atau menghindari kesimpangsiuran dari masing – masing individu
yang merupakan bagian dari kelompok atau masyarakat berdasarkan kebudayaannya
dan teori Akuntansi, adalah bagian dari individu itu sehingga merupakan bagian dari
kebudayaan. Jika orangnya muslim, maka kepribadiannya adalah Islam, maka
kebudayaannya juga akan Islam. Sehingga teori Akuntansinya pun adalah Islam dan
akan sesuai dengan hukum Syariah.
b. Model Masyarakat
Sikap ini menyatakan bahwa seseorang harus setuju bahwa Tuhan membuat
aturan melalui Qur’an dan Sunnah kepada masing – masing individu baik laki – laki
maupun perempuan. Kita dapat menyatakan bahwa Islam dan Syariah ada dalam
Masyarakat dan juga dimana – mana dan di setiap individu. Konsep ini disebut
sebagai “Personal Model”.
Model lain disebut “Colonial Model”. Model ini dijelaskan sebagai berikut. Jika
pemerintah atau rajanya seorang Muslim mungkin akan mendekritkan bahwa negara
adalah negara Islam. Untuk negara yang mayoritas Islam maka mestinya para birokrat
adalah Islam (tidak berlaku di Indonesia) sehingga para penyusun teori akuntansi juga
adalah Islam.
c. Teori Keuangan Islam
Quran mengakui pentingnya membut catatan sebagaimana Surat Al – Baqarah
ayat 282 dan didukung lagi oleh kewajiban membayar zakat sejumlah tertentu yang
harus disisihkan untuk fakir miskin (At – Taubah ayat 60). Qur’an juga mengharamkan
bunga uang yang selalu dianggap sebagai Riba.
Khalifah Umar, menurut Abu Khatir mengalami beberapa kesulitan dalam
beberapa hal abalia Rasul wafat sebelum menjawab pertanyaan – pertanyaan yang
belum terjawab. Ini adalah salah satu dari 3 pertanyaan yang ingin dijawab lebih jelas
oleh Rasul, pertanyaan yang dua lagi menyangkut Khilafat dan Kalalat.
d. Zakat dan Akuntansi
Zakat dianggap sebagai sarana untuk menyucikan harta seseorang
sebagaimana disebut dalam surat At – Taubah ayat 103. Jadi tidak seperti pajak,
zakat ini memiliki unsur spiritual, zakat ini dikenakan pada uang, investasi (usaha yang
menghasilkan laba), ternak, pertanian, perdagangan. Semua uang yang disimpan dan
tidak dimanfaatkan selama satu tahun dikenakan zakat 2,5%. Sama halnya terhadap
laba dari investasi dikenakan 10%, dan terhadap pendapatan pribadi (gaji dan upah)
dikenakan 2,5%.
Menyangkut perdagangan, zakatnya dikenakan pada nilai bersih kekayaan yaitu
Modal + Cadangan – Aktiva Tetap dan dari laba bersih 2,5% atau atas modal kerja
dan laba bersih, di sini termasuk Bank Islam, perusahaan perdagangan, namun
perusahaan industri dikenakan 10% hanya atas laba bersih.

5
Sofyan Syafri Harahap, Akuntansi Islam, Jakarta, PT Bumi Aksara, 2004, hlm. 188 – 198.

8
Peraturan ini jelas bahwa Islam memerlukan sistem akuntansi yang tepat untuk
memberikan dasar pengenaan atas zakat yang harus dibayar. Dari dimensi sosial
Quran Surat At – Taubah ayat 60 telah menjelaskan siapa yang berhak menerima
zakat. Beberapa ahli agama tertentu membenarkan bahwa penggunaan zakat juga
dapat diserahkan untuk kegiatan kesehatan, pendidikan atau pelayanan umum
lainnya. Namun, tidak termasuk dari gaju mereka yang bekerja di sektor ini.
e. Akuntansi Sosial
Keberadaan akuntansi sosial ini memungkinkan bahwa biaya operasi
peruahaan tidak sama dengan biaya sosial yang dikeluarkannya kepad masyarakat
secara keseluruhan karena adanya unsur – unsur “externalities”. Walaupun kuatnya
hukum, khususnya di Barat membutuhkan beberapa pengungkapan tentang dampak
sosial perusahaan terhadap masyarakat, banyak perusahaan disana mengungkapkan
informasi itu hanya karena kerelaan bukan karena kewajiban. Hal ini membuktikan
bahwa fungsi akuntansi sosial belum begitu berkembang.
Permasalahan ini banyak disebabkan karena sukarnya mengukur aspek –
aspek eksternal ini. Salah satu cara untuk mengembangkan akuntansi sosial yang
baku untuk Timur maupun Barat mungkin adalah dengan cara memperluas konsep
dasar sistem Zakat pada Islam ini.
f. Resiko
Dibahas dalam buku Tomkins dan Karim (Op Cit) yang menyatakan bahwa
Syariah tidak melarang pilihan pribadi seseorang bebas memiliki pola dan waktu
konsumsinya. Resiko dan ketidakpastian merupakan hal yang lumrah yang dihadapi
setiap orang, namun tanggapan seseorang terhadap resiko itu tidak
seragam.beberapa orang terlalu berhati – hati (Risk Averse), sebaliknya yang lain
justru mengambil kesempatan dari kemungkinan resiko, sehingga posisi yang ekstrem
menempatkan orang cenderung melakukan judi atau riba sebagaimana yang dituduh
Islam. Di pihak lain tidak ada tuduhan bahwa berdosa memilih peluang bisnis menurut
kadar kekhawatiran seseorang terhadap resiko. Lagi pula seseorang yang takut
menanggung resiko tampaknya dikaitkan pada kekayaan seseorang. Orang yang
miskin yang memiliki kekayaan yang sedikit memilii kemampuan yang kecil untuk
menanggung resiko. Mungkin pandangan muslim terhadap bunga mencegah si miskin
melakukan investasi yang diinginkannya dalam melakukan investasi tertentu yang
bahkan memberikan resiko yang terlalu tinggi dibandingkan dengan yang dapat
disanggupinya.
g. Jaminan Sosial dan Zakat
Nyatanya, dana zakat akan menjadi dana jaminan sosial tetapi isu ini
kemudian menjadi rumit karena di negara Islam, zakat adalah bentuk pajak yang
diwajibkan oleh pemerintah yang resmi.
Satu hal yang lebih kontroversial dari penggunaan dana zakat ini dalam
memberikan satu sarana untuk menanggulangi berbagai tingkat resiko yang dialami
oleh berbagai pihak yang menyangkut keuangan dengan perusahaan. Jelasnya,
bunga tidak boleh dibebankan menurut Islam, tetapi jika masyarakat kelas menengah
atau suatu organisasi akan membantu mereka seperti dana kesehatan dan dana
pensiun, maka dana ini akan diinvestasikan dalam perusahaan seluruhnya untuk
membatasi resiko terhadap laba atau modal.
Sebagaimana yang baru – baru ini di kenal di Barat, sistem jaminan sosial,zakat
adalah merupakan kebijaksanaan sosial seperti halnya sistem Asuransi yang dapat
menutupi kerugian dan ketidak beruntungan lainnya. Tampaknya bahwa aspek
spiritual, ekonomi, akuntansi, dan sosial dari zakat ini merupakan sistem negara yang
dianut untuk melaksanakan redistribusi kekayaan. Halini juga bisa dilakukan melalui
sistem “warisan” sebagaimana yang disebut oleh Syariah, dan juga disebutkan dalam
konsep “ukhwal islam” untuk redistribusi kekayaan. Adalah penting bahwa aspek
tradisional dari zakat (jenis pungutan yng ada di Barat) harus dipelihara dan jangan
digeser oleh sistem apapun apabila timbul kejadian resiko yang akan ditutupi oleh
dana Intern dari zakat.

9
h. Dinamika Masyarakat
Perkembangan bahwa akuntansi dan mekanisme keuangan yang terus –
menerus berubah setiap waktu selalu tidak dipertimbangkan oleh Islam maupun oleh
Barat. Banyak dari orang baik oleh ahli hukum, ulama menganggap bahwa hal itu tidak
dapat diterima. Bagi mereka hukum dan sejenisnya adalah sesuatu yang Ideal
terhadap mana manusia harus mampu menyesuaikan diri. Pendekatan fundamental
ini rasanya sukar menerima dalil yang menyatakan bahwa hukum meletakkan
pedoman – pedoman yang menyangkut isu khusus yang terus menerus berakomodasi
dengan praktek tentang apa yang disetujui dan apa yang tidak disetujui. Periode 60
atau 70 tahun tentu saja tidak cukup untuk mengukur, tingkat perubahan apa
sebenarnya kekurangan antara apa yang ideal dengan yang realitas bagi kita. Tetapi
sekarang masalah ini muncul dimana – mana di dunia ini.

F. Perumusan Kerangka Teori Akuntansi Islam

10
Allah menurunkan Al-Quran untuk masyarakat dan hadist sebagai penguat ayat-ayat al-
qur’an.6
Tujuan Laporan Akuntansi Syariah
Tujuan utamanya adalah untuk menyediakan informasi, menyangkut keuangan, kinerja serta
perubahan posisi keuangan suatu entitas syariah yang bermanfaat bagi sejumlah besar
pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi. Beberapa tujuan lainnya adalah:
a) Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan
kegiatan usaha
b) Informasi kepatuhan entitas syariah, serta informasi aset, kewajiban, pendatan dan
beban yang tidak sesuai dengan prinsip syariah bila ada dan bagaimana perolehan
dan penggunaannya
c) Informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung jawab entitas
syariah terhadap amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya pada
tingkat keuntungan yang layak
d) Informasi mengenai tingkat keuntungan investasi yang diperoleh penanam modal
dan pemilik dana syirkah temporer dan informasi mengenai pemenuhan kewajiban
(obligation) fungsi sosial entitas syariah termasuk pengelolaan dan penyaluran zakat,
infaq, sedekah, dan wakaf.

Postulat7
Pengertian postulat adalah pernyataan yang dapat membuktikan sendiri kebenarannya atau
disebut juga aksioma yang sudah diterima, karna kesesuaiannya dengan tujuan laporan
keuangan, yang menggambarkan aspek ekonomi, politik, sosiologis, dan hukum dari suatu
lingkungan (masyarakat) dimana akuntansi beroperasi.
Konsep
Pernyataan yang dapat membuktikan sendiri kebenarannya atau disebut juga aksioma yang
sudah diterima, karna kesesuaiannya dengan tujuan laporan keuangan, yang
menggambarkan sifat-sifat akuntansi yang berperan dalam ekonomi bebas yang ditandai
dengan adanya pengakuan hak pribadi. Istilah konsep sering juga digunakan untuk istilah
postulat, aksioma, asumsi, doktrin, konvensi, prinsip standar, dan lain-lain. Konsep bisa juga
diartikan sebagai proses mencari, menggolongkan, menafsirkan, berbagai fenomena dan
persepsi suatu hal.
Prinsip
Peraturan umum yang dijabarkan dari tujuan kelaporan keuangan arau konsep teoritis
akuntansi yang menjadi dasar dalam pengembangan teknik akuntansi. Prinsip ini diartikan
peraturan atau undang-undang yang bersifat umum yang dimiliki yang dimaksudkan untuk
menjadi pedoman bertindak, landasan atau menjadi dasar untuk bertindak dan melakukan
praktek.
Standar
Standar Akuntansi Syariah adalah Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan Syariah yang
ditujukan untuk entitas yang melakukan transaksi syariah baik entitas syariah lembaga
syariah maupun lembaga non syariah. Pengembangan ini dilakukan dengan model SAK
umum namun berbasis syariah dengan mengacu pada fatwa MUI.
Laporan Akuntansi Syariah
a) Posisi Keuangan Entitas Syariah, disajikan sebagai neraca. Laporan ini menyajikan
informasi tentang sumber daya yang dikendalikan, struktur keuangan, likuiditas dan
solvabilitas serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungan. Laporan
ini berguna untuk memprediksi kemampuan perusahaan dimasa yang akan datang
b) Informasi Kinerja Entitas Syariah, disajikan dalam laporan laba rugi. Laporan ini
diperulkan untuk menilai perubahan potensial sumber daya ekonomi yang mungkin
dikendalikan di masa depan

6
Sri Nurhayati, wasilah, Akuntansi Syariah di Indonesia, Jakarta, Salemba Empat, 2009, hlm. 93.
7
Sofyan Syafri Harahap, Akuntansi Islam, Jakarta, PT Bumi Aksara, 2004, hlm. 64-65.

11
c) Informasi Perubahan Posisi Keuangan Entitas Syariah, yang dapat disusun
berdasarkan definisi dana seperti seluruh sumber daya keuangan modal kerja, aset
likuid atau kas
d) Informasi Lain, seperti laporan penjelasan tentang pemenuhan fungsi sosial entitas
syariah. Merupakan informasi yang tidak diatur secara khusus tetapi relevan bagi
pengambilan keputusan sebagian besar pengguna laporan keuangan
e) Catatan Dan Skedul Tambahan, merupakan penampung dari informasi tambahan
yang relevan termasuk pengungkapan tentang resiko dan ketidakpastian yang
mengaruhi entitas.

G. Perbedaan Akuntansi Islam dan Akuntansi Konvensional


Berikut adalah perbedaan akuntansi Islam dan akuntansi konvensional dalam berbagai
perbedaan.8
Segi Akuntansi Islam Akuntansi Konvensional
Pengertian Mengarah pada pembukuan, Pengumpulan dan pembukuan,
pendataan, kerja dan usaha, penelitian tentang keterangan-
perhitungan dan perdebatan keterangan dari berbagai segi
berdasarkan syarat-syarat yang aktivitas.
telah disepakati.
Tujuan Menjaga harta yang merupakan Menjelaskan utang piutang,
bukti ketika terjadi perselisihan, untung dan rugi, sentral moneter,
membantu mengarahkan membantu menetapkan
kebijaksanaan, merinci hasil usaha ketetapan-ketetapan manajemen.
untuk penghitungan zakat,
penentuan hak mitra bubisnis,
membantu menetapkan imbalan
serta penilaian evaluasi kerja dan
motivasi., lapangan dakwah kepada
kebaikan.
karakteristik Pada nilai akidah dan akhlak. Pada peraturan-peraturan dan
teori yang dibuat manusia yang
memiliki sifat lupa, keterbatasan
ilmu dan wawasan.

8
Husein syahatah, Pokok-pokok Pikiran Akuntansi Islam, Jakarta, Akbar Media Eka Sarana, hlm.58-59.

12
Modal Harta berupa uang (cash) dan harta Aktiva tetap dan aktiva lancar
berupa barang (stock)
Prinsip Membedakan uang laba dari Prinsip laba yang universal, yang
pengelolaan aktivitas pokok dan laba yang mencakup laba dagang, modal
uang berasal dari capital(modal pokok) pokok, transaksi.
serta transaksi.
Prinsip laba Laba aka nada ketika adanya Laba hanya ada ketika adanya
perkembangan dan pertambahan jual beli.
pada nilai barang, baik yang telah
terjual maupun yang belum.
Konsep Bersumberkan syariat Islam. Pikiran manusia semata.
dasar

H. Riset Akuntansi Islam


Riset akuntansi adalah upaya yang dilakukan untuk mencari kebenaran di bidang
akuntansi. Hasil riset ini merupakan penyambungan antara fenomena social di bidang
akuntansi dengan struktur teori akuntansi. Fenomena social itu dituangkan dalam
berbagai bentuk “statement ilmiah” sehingga menjadi teori. Teori ini biasa menjelaskan
tentang kebenaran yang sudah ada (deskriptif), mendukung teori yang ada, mengingkari
kebenaran yang sudah lama, ataupun ingin melahirkan teori baru.9
Pada awalnya proses mencari kebenaran dimulai dengan cara dogmatis, dimana
kebenaran itu berasal dari pihak yang diberi dan diyakin memiliki otoritas menetapkan
kebenaran. Kemudian berkembang menggunakan cara normative dengan menggunakan
metode empiris dengan titik berat kenyataan yang ada.
Ada beberapa metode penelitian yang dipakai dalam suatu penelitian. Dalam ilmu
sosial itu sendiri, metode penelitian yang digunakan memiliki perbedaan misalnya ilmu
antropologi dengan ekonomi, dengan sosiologi, dengan manajemen, dan
sebagainya.secara garis besar, ada tiga cara yang dipilih, yaitu:
1. Metode kuantitatif, yaitu metode yang menggunakan rumus statistic dalam
mengidentifikasi dan mengolah variable yang muncul dari problem yang akan
dijawab. Metode ini sangatlah tepat jikia variable atau permasalahan yang akan
diteliti dapat diukur, dikuantitatifkan, data yang diperlukan tersedia dan dapat
dibuktikan.
2. Metode kualitatif, yaitu metode yang menggunakan narasi dan penguraian tentang
variable yang akan dibahas tanpa harus melakukan pengukuran. Hal ini cocok untuk
topic yang sulit menentukan indicator kuantitatif atau mengukur variabelnya, data
yang belum tersedia dan teorinya belum dapat dibuktikan.
3. Campuran, yaitu metode yang menggabungkan dua metode sebelumnya, yaitu
metode kuantitatif dan metode kualitatif.
Metode penelitian digolongkan dalam berbagai cara misalnya deduktif, induktif,
positif, deskriptif, historis, empiris, labolatorium, observasi, naratif, dan sebagainya.
Sudah ada beberapa universitas islam yang konsen untuk mengikuti konsep
akuntansi islam ditingkat pendidikan pascasarjana, seperti Fakultas Perdagangan
Universitas Al-Azhar Mesir, Fakultas Ekonomi Universitas Ummu Qura di mekah,
Fakultas Ekonomi dan Manajemen Universitas malik Abdul Aziz di Jeddah. Ilmu tentang
konsep akuntansiIslam yang disusun menjadi beberapa kategori sebagai berikut:10
1. Kitab-kitab turats yang didalamnya terdapat pembahasan akuntansi atau pencatatan
harta.
2. Buku-buku kontemporer tentang konsep akuntansi Islam.
3. Hasil-hasil penelitian dan riset dalam akuntansi Islam.

9
Diakses pada http://www.academia.edu/20033663/Riset_Akuntansi
10
Husein, syahatah, pokok-pokok akuntansi islam, Jakarta, akbar media eka sarana, 2001, hlm. 199-200.

13
4. Beberapa tesis magister dan disertai doctor yang membahas tentang akuntansi
Islam.
5. Sekilas pandang tentang masing-masing referensi di atas.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

B. Saran
Untuk memahami akuntansi Islam secara rinci dan lengkap kami harap kepada
pembaca untuk mencari referensi yang lebih lengkap lagi, mengingat bahwa penulis
pun tidak luput dari segala kesalahan.

14
DAFTAR PUSTAKA
Nurhayati, Sri dan Wasilah. 2009. Akuntansi Syariah di Indonesia. Jakarta: Salemba Empat.
Syafri Harahap, Sofyan. 2004. Akuntansi Islam. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Syahatah, Husein. 2001. Pokok-pokok Akuntansi Islam. Jakarta: Akbar Media Eka Sarana.
Syafri harahap, Sofyan.2003. Bunga Rampai Akuntansi Islam. Jakarta: Pustaka quantum.
Diakses pada https://www.neliti.com/id/publications/154360/beberapa-dimensi-akuntansi-
menurut-alquran-mahwah-sejarah-islam-dan-kini
Diakses pada http://www.academia.edu/20033663/Riset_Akuntansi