Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM BIOLOGI

Mata Kuliah : Anatomi Fisiologi Manusia

SISTEM INTEGUMEN

OLEH :

NAMA : GABARIEL SIMAMORA

NIM : 41621141008

Jurusan : Biologi

Program : S1 / Pendidikan Biologi

Kelompok : VI (enam)

Tgl. Pelaksanaan : 18 Februari 2019

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

MEDAN

2018
I. JUDUL PERCOBAAN : Sistem Integumen

II. TUJUAN PERCOBAAN :


1. Mengetahui struktur dan fungsi integument
2. Mengetahui lapisan atau strata pada epidermis
3. Mengetahui bagian-bagian tambahan pada integumen
4. Mengetahui pembagian kelenjar keringat berdasarkan sekresinya
5. Mengetahui penyakit penyakit pada integumen

III. TINJAUAN TEORITIS :

Sistem integumen merupakan penutup pada luar tubuh. Meliputi kulit, tanduk, kuku,
rambut, bulu, cakar, sisik, dan lain sebagainya. Kulit merupakan organ yang paling luas
permukaannya yang membungkus seluruh bagian luar tubuh sehingga kulit sebagai pelindung
tubuh terhadap bahaya bahan kimia. Cahaya matahari mengandung sinar ultraviolet dan
melindungi terhadap mikroorganisme serta menjaga keseimbangan tubuh terhadap lingkungan.
Kulit merupakan indikator bagi seseorang untuk memperoleh kesan umum dengan melihat
perubahan yang terjadi pada kulit. Misalnya menjadi pucat, kekuning-kuningan, kemerah-
merahan atau suhu kulit meningkat, memperlihatkan adanya kelainan yang terjadi pada tubuh
atau gangguan kulit karena penyakit tertentu. Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di
dermis dan subkutis. Respons terhadap rangsangan panas diperankan oleh dermis, peradaban
diperankan oleh papila dermis dan markel renvier, sedangkan tekanan diperankan oleh
epidermis. Serabut saraf sensorik lebih banyak jumlahnya di daerah yang erotik (Abdullah,
2001: 02).

Integumen membentuk lapisan terluar pada tubuh terdiri dari kulit dan beberapa derivat
terspesialisasi tertentu yaitu antara lain kuku, rambut, dan beberapa jenis kelenjar. Lapisan
dermis dibentuk oleh jaringan pengikat kolagen dan jaringan elastis. Sensori aparatus:
sentuhan, tekanan, temperatur, nyeri. Terdiri dari dua bagian yaitu pars papilare yaitu bagian
yang menonjol ke epidermis, berisi ujung serabut saraf dan pembuluh darah. Pars retikulare
yaitu banyak mengandung jaringan ikat, folikel rambut, pembuluh darah, saraf, kolagen.
Lapisan subkutis yaitu lapisan kulit yang paling dalam. Pembentukan lemak dan penyimpanan
lemak (Fatah, 2012: 65).
Kulit merupakan organ tubuh paling besar yang melapisi seluruh bagian tubuh,
membungkus daging dan organ-organ yang ada di dalamnya. Luas kulit pada manusia rata-rata
2 meter persegi dengan berat 10 kg. Kulit memiliki fungsi melindungi bagian tubuh dari
berbagai macam gangguan dan rangsangan luar. Fungsi perlindungan ini terjadi melalui
sejumlah mekanisme biologis, seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus
(keratinisasi dan pelepasan sel-sel kulit ari yang sudah mati), respirasi dan pengaturan suhu
tubuh, produksi sebum dan keringat serta pembentukan pigmen melanin untuk melindungi kulit
dari bahaya sinar ultra violet matahari (Syarifuddin, 2006: 134).
Sistem Integumen merupakan suatu sistem yang sangat bervariasi, sehingga strukturnya
tersusun oleh organ atau struktur tertentu dengan memiliki fungsi yang bermacam-macam.
Sistem Integumen dapat dianggap terdiri dari kulit yang sebenarnya dan derivat-derivat dari
kulit. Kulit yang sebenarnya terdiri dari lapisan utama, yaitu epidermis dan dermis. Derivat
Integumen adalah struktur tertentu dimana secara embriogenik yang berasal dari salah satu atau
kedua lapisan dari kulit yang sebenarnya. Derivatnya seperti bulu, sisik, tanduk, rambut, kuku,
cakar, dan sisik tanduk (Cangkang). Komponen utama sistem integumen adalah kulit yang
menutupi seluruh permukaan tubuh hewan. Kulit terdiri atas epidermis, (suatu jaringan epitel)
dan dermis (suatu jaringan ikat). Epidermis terdiri atas beberapa lapisan dari luar kedalam yaitu
stratum korneum, stratum lusidium, stratum granulosum, stratum pinosum, dan stratum
germinativum (Wisnu Gunarso, 1979 : 206).
Kulit terdiri dari lapisan epidermal dan dermal (korium) dan bertumpu di atas
jaringan penyambung subdermal. Epidermis merupakan suatu epitel berlapis gepeng, yang
pada beberapa bagian tubuh dimodifikasi dengan penambahan lapisan tebal kutikula dan pada
bagian-bagian lain karena perkembangan rambut dan kuku. Korium adalah lapisan jaringan
penyambung padat di mana terdapat berbagai kelenjar kulit dan folikel rambut. Jaringan
subdermal juga berserat, tetapi ia tersusun lebih longgar daripada korium dan umumnya
mengandung sel-sel lemak. Tidak ada rambut yang tumbuh pada telapak tangan atau telapak
kaki. Mereka tertutup dengan kulit tebal yang terdiri dari dermis dan epidermis atau korium.
Pada kulit dari sebagian besar tubuh, lapisan dasar epidermis meluas ke dalam korium untuk
membentuk folikel-folikel rambut. Ini paling intensif perkembangannya pada kulit kepala,
yang dapat digunakan sebagai contoh kulit berambut (Gunarso, 1979: 206).
IV. ALAT DAN BAHAN :

A. ALAT

No Nama Alat Jumlah

1 Alat tulis 1 buah

B. BAHAN

No Nama Bahan Jumlah

1 Torso 1 buah

V. PROSEDUR KERJA :

No Prosedur Kerja

1 Menyiapkan alat dan bahan praktikum yang akan digunakan.

2 Menyiapkan torso diaatas meja

3 Kemudian mengamati bagian-bagian torso system integument kulit.

4 Setelah itu menjelaskan bagian-bagian dari system otot didepan kelas .

5 Menjelaskan bagian dan fungsi dari setiap system otot didukung demgam
adanya torso rangka.

6 Mengadakan sesi Tanya jawab didalam kelas.

7 Mencatat hasil diskusi di dalam laporan sementara.


VI. HASIL DAN PEBAHASAN :
A. Hasil

(Gambar diambil dari http://zainalmutakin7.blogspot.com/2012/12/anatomi-


telinga.html)
B. Pembahasan

Fungsi kulit

1. Fungsi Proteksi

Kulit berfungsi dalam menjaga bagian dalam tubuh terhadap gangguan fisik yang
berada diluar tubuh. Seperti gesekan, tekanan, tarikan dan zat-zat kimia terutama
yang bersifat iritan. Gangguan yang bersifat panas seperti sengatan UV, radiasi,
gangguan infeksi luar terutama kuman mapuan jamur.

2. Fungsi Absorbsi

Kulit lebih mudah menyerap yang menguap dari pada benda cair atau padat begitu
pun yang larut seperti lemak.
3. Fungsi Ekskresi

Kelenjar-kelenjar kulit akan mengeluarkan zat-zat yang tidak berguna sebagai hasil
dari metabolism dalam tubuh yang berupa asam urat, NaCI, ammonia dan urea.

4. Fungsi Persepsi

Kulit yang mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis,


terhadap rangsangan panas yang diperankan oleh badan-badan ruffini didermis dan
subkutis.

5. Fungsi Pengatur Suhu Tubuh

kulit juga merupakan dapat mengatur suhu tubuh.

6. Fungsi Pembentukan Pigmen

Sel pembentuk pigemen ( melanosit yang terletak pada lapisan basal dan sel yang
berasal dari rigi saraf.

7. Fungsi Keratinisasi

Pada lapisan epidermis dewasa terdapat tiga lapisan yakni lapisan melanosoit,
keratinosit dan sel langerhans.

Bagian-bagian kulit

1. Epidermis, epidermis memiliki beberapa bagian yaitu


 Lapisan basal atau stratum germinativum. Lapisan basal merupakan
lapisan epidermis paling bawah dan berbatas dengan dermis. Dalam
lapisan basal terdapat melanosit. Melanosit adalah sel dendritik yang
membentuk melanin. Melanin berfungsi melindungi kulit terhadap sinar
matahari.
 Lapisan malpighi atau stratum spinosum. Lapisan malpighi atau disebut
juga prickle cell layer (lapisan akanta) merupakan lapisan epidermis
yang paling kuat dan tebal. Terdiri dari beberapa lapis sel yang
berbentuk poligonal yang besarnya berbeda-beda akibat adanya mitosis
serta sel ini makin dekat ke permukaan makin gepeng bentuknya. Pada
lapisan ini banyak mengandung glikogen. Lapisan spinosum juga
kadang-kadang disebut lapisan berduri, karena adanya proyeksi pendek
yang muncul di atas sel keratinosit yang telah bergeser dari lapisan
lapisan basal. Proyeksi kecil atau tonjolan membantu untuk terhubung
dengan sel yang berdekatan, tetapi memberikan penampilan lapisan
berduri. Sel-sel keratinosit dalam lapisan stratum spinosum juga
mengandung inti berbentuk oval. Sekresi sitokeratin (prekursor keratin)
berlangsung di stratum spinosum, yang membantu memperkuat adhesi
sel-sel di lapisan ini.
 Lapisan granular atau stratum granulosum (Lapisan Keratohialin).
Lapisan granular terdiri dari 2 atau 3 lapis sel gepeng, berisi butir-butir
(granul) keratohialin yang basofilik. Stratum granulosum juga tampak
jelas di telapak tangan dan kaki. Keratohyalin yang terdapat dalam
butiran ini, adalah struktur protein yang memainkan peran penting
dalam pembentukan keratin di lapisan atas. Sedangkan, butiran
lamellated mengandung glikolipid yang bertindak sebagai penyekat air.
 Lapisan lusidum atau stratum lusidum. Lapisan lusidum terletak tepat di
bawah lapisan korneum. Terdiri dari sel-sel gepeng tanpa inti dengan
protoplasma yang berubah menjadi protein yang disebut eleidin.
Lapisan ini biasanya dideteksi pada bagian kulit yang memiliki
epidermis yang tebal. Ini termasuk telapak tangan dan telapak kaki.
Daerah ini dari kulit rentan terhadap gesekan dan abrasi, kemudian
mereka mengandung stratum lusidum, lapisan perlindungan tambahan.
Ketika diperiksa di bawah mikroskop, tampak transparan, tetapi terdiri
dari sel-sel kulit mati. Berfungsi untuk perlindungan.
 Lapisan tanduk atau stratum korneum. Lapisan tanduk merupakan
lapisan terluar yang terdiri dari beberapa lapis sel-sel gepeng yang mati,
tidak berinti, dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin. Pada
permukaan lapisan ini sel-sel mati terus menerus mengelupas tanpa
terlihat. Fungsinya seperti pelindung, menjaga kelembaban terjebak di
dalam kulit. Pada dasarnya, lapisan penyekat kulit menjaga isinya tetap
utuh. Hal ini karena lapisan ini bahwa kulit tidak tembus beberapa bahan
kimia dan larutan berair. (Djuanda, 2007)
2. Dermis

Lapisan dermis adalah lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal
daripada epidermis. Terdiri dari lapisan elastis dan fibrosa padat dengan elemen-
elemen selular dan folikel rambut. Secara garis besar dibagi menjadi dua bagian
yakni:
 Pars papilare, yaitu bagian yang menonjol ke epidermis dan berisi ujung
serabut saraf dan pembuluh darah.

 Pars retikulaare, yaitu bagian di bawahnya yang menonjol ke arah subkutan.


Bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang seperti serabut kolagen,
elastin, dan retikulin. Lapisan ini mengandung pembuluh darah, saraf,
rambut, kelenjar keringat, dan kelenjar sebasea.

Lapisan dermis ini memiliki beberapa lapisan :

 Pembuluh Kapiler Berfungsi untuk menghantarkan nutrisi/zat-zat


makanan pada akar rambut dan sel kulit.

 Kelenjar Keringat ( Glandula Sudorifera ).Tersebar diseluruh kulit


dan berfungsi untuk menghasilkan keringat yang dikeluarkan
melalui pori-pori kulit.

 Kelenjar Minyak ( Grandula Sebaceae ). Berfungsi untuk


menghasilkan minyak supaya kulit dan rambut tidak kering dan
mengkerut.

 Kelenjar Rambut. Memiliki akar dan batang rambut serta kelenjar


minyak rambut. Pada saat dingin dan rasa takut, rambut yang ada
ditubuh kita terasa berdiri. Hal ini disebabkan karean didekat akar
rambut terdapat otot polos yang memiliki fungsi dalam menekakkan
rambut.

 Kumpulan Saraf seperti rasa neyeri, saraf panas, saraf rasa dingin
dan saraf sentuhan. . (Djuanda, 2007)
3. hipodermis

Lapisan ini merupakan lanjutan dermis, tidak ada garis tegas yang memisahkan
dermis dan subkutis. Terdiri dari jaringan ikat longgar berisi sel-sel lemak di
dalamnya. Sel-sel lemak merupakan sel bulat, besar, dengan inti terdesak ke pinggir
sitoplasma lemak yang bertambah. Jaringan subkutan mengandung syaraf,
pembuluh darah dan limfe, kantung rambut, dan di lapisan atas jaringan subkutan
terdapat kelenjar keringat. Fungsi jaringan subkutan adalah penyekat panas,
bantalan terhadap trauma, dan tempat penumpukan energi. . (Djuanda, 2007)

Aksesoris tambahan sistem integument

Sistem Integumen dapat dianggap terdiri dari kulit yang sebenarnya dan derivat-
derivat dari kulit. Kulit yang sebenarnya terdiri dari lapisan utama, yaitu epidermis
dan dermis. Derivat Integumen adalah struktur tertentu dimana secara embriogenik
yang berasal dari salah satu atau kedua lapisan dari kulit yang sebenarnya.
Derivatnya seperti bulu, sisik, tanduk, rambut, kuku, cakar, dan sisik tanduk
(Cangkang). (Wisnu Gunarso, 1979 : 206).

Kelainan pada kulit

1. Eksim (ekzema)
Eksim ditandai dengan kulit kemerah-merahan, bersisik, pecah-pecah, merasa gatal
terlebih pada malam hari, timbul gelembung kecil yang diisi air atau nanah,
bengkak, melepuh, berwarna merah, amat gatal dan merasa panas. Penyebabnya
alergi terhadap rangsangan zat kimia spesifik, atau kepekaan terhadap makanan
spesifik layaknya udang, ikan laut, alkohol, vetsin. Pencegahan : menghindari hal-
hal atau bahan-bahan yang bisa manimbulkan alergi.

2. Kudis (skabies)
Gejala : timbul gatal hebat di malam hari, terlebih di sela-sela jari tangan, dibawah
ketiak, aerole (sekeliling puting payudara), dan permukaan depan pergelangan.
Kudis gampang menular keorang lain baik dengan langsung ataupun tidak
langsung (handuk dan baju). Pencegahan : kudis seringkali terjadi di tempat yang
buruk, jadi memelihara kebersihan tubuh adalah sesuatu yang harus bila ingin
terhindar dari penyakit kulit.

3. Kurap
Penyebab penyakit kurap : jamur. Gejala : kulit jadi tebal dan timbul lingkaran-
lingkaran, bersisik, lembab, berair, dan merasa gatal. Setelah itu timbul bercak
keputihan . Pencegahan : menjaga kebersihan kulit terlebih di area tengkuk, leher,
dan kulit kepala.

4. Bisul (furunkel)
Bisul disebabkan karena adanya infeksi bakteri stafilokokus aureus pada kulit lewat
folikel rambut, kelenjar minyak, kelenjar keringat yang sesudaah itu menyebabkan
infeksi lokal. Faktor yang menambah risiko terkena bisul diantaranya kebersihan
yang buruk, luka yang terinfeksi, pelemahan diabetes, kosmetika yang menyumbat
pori dan pemakaian bahan kimia.

5. Ketombe (seboroid)
Penyebab penyakit ini diduga erat kaitannya dengan kegiatan kelenjar sebasea
dikulit. Seboroid yang terjadi pada kulit kepala kerap di sebut juga dengan nama
ketombe. Gejala : merah, bersisik, berminyak, bau.

6. Lepra
Kusta merupakan penyakit infeksi yang kronik, dan penyebabnya ialah
mycobacterium leprae yang bersifat intraseluler obligat. Saraf perifer sebagai
afinitas pertama, lalu kulit dan mukosa traktus respiratorius bagian atas, kemudian
dapat ke organ lain kecuali susunan saraf pusat. Gejala : umumnya gejala awalnya
kulit tampak mengkerut apalagi bila penyakit tersebut telah akut kumannya
perlahan-lahan akan mengonsumsi kulit dan daging, bila sudah terkena penyakit
kulit tipe ini segera berobat ke dokter.

7. Panu atau Panau


Panau atau panu adalah salah satu penyakit kulit yang dikarenakan oleh jamur,
penyakit panu ditandai dengan bercak yang ada pada kulit dibarengi rasa gatal pada
waktu berkeringat. Bercak-bercak ini dapat berwarna putih, coklat atau merah
bergantung warna kulit si penderita. (Harahap, 2000)
VII. KESIMPULAN :
1. Struktur integumen terdiri dari tiga bagian yaitu epidermis stratum basale,stratum
spinosum, stratum granulosum, stratum lusidum dan stratum corneum. Dermis
(lapisan papiler dan lapisan retikuler) dan hipodermis (lapisan lemak) fungsi
integumen adalah alat proteksi atau pelindung bagi tubuh agar bagian dalam dari
tubuh terhindar dari gangguan fisik yang dapat merusak struktur kulit
2. Adapun lapisan lapisan atau strata pada epidermis yaitu stratum basale berbatasan
langsung dengan dermis stratum spinosum stratum granulosum stratum lusidum
dan stratum corneum (lapisan terluar dari epidermis)
3. Terdapat bagian-bagian tambahan pada integumen yang terdiri dari kelenjar
keringat (kelenjar apokrin dan kelenjar eksokrin) kelenjar minyak kelenjar
seruminous (terdapat pada kulit yang melapisi telinga saluran luar) rambut dan kuku
4. Kelenjar keringat terbagi menjadi dua bagian berdasarkan sekresinya yaitu kelenjar
ekrin terbesar di seluruh permukaan tubuh kelenjar apokrin ditemukan terutama
pada ketiak dan daerah genital
5. Contoh-contoh jenis penyakit yang dapat dijumpai ataupun ditemukan pada kulit
yaitu jerawat, panu kudis, ketome bisul dan kurap. Ada ynag disebabkan oleh factor
genetis dan ada yang disebabkan oleh factor luar kulit.
VIII. DAFTAR PUSTAKA :

Abdullah, 2001 , Sistem integumen, Surabaya: Reski Pratama.

Djuanda Adhi, 2007, lapisan kulit , Edisi kelima.Balai Penerbit FKUI : Jakarta.

Fatah, Gatot. 2012 , Kulit. Jakarta: Breid.

Gunarso, Wisnu, 1979 . Dasar-Dasar Histologi, Erlangga : Jakarta.

Harahap M., 2000. Ilmu Penyakit Kulit, Hipokrates : Jakarta.

Medan, 25 Februari 2015

Asisten Laboratorium

Anatomi Fifiologi Manusia Praktikan

Tim Asisten GABARIEL SIMAMORA

4162141008

Anda mungkin juga menyukai