Anda di halaman 1dari 8

Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan XX 2015

Perencanaan, Akuisisi dan Pengolahan Foto Udara Menggunakan


Teknologi UAV sebagai Alternatif Pemenuhan Data Spasial

Fredi Satya C. Rosaji12, Yudhistira Tri NError! Bookmark not defined.1, Ahmad Haidir, Warsini
HandayaniError! Bookmark not defined.
1
MitraGeotama, www.mitrageotama.com. Email: fredi8satya7@gmail.com
1
Magister Perencanaan Pengelolaan Pesisir dan Daerah Aliran Sungai, Fakultas Geografi, UGM
1
S2 Penginderaan Jauh, Fakultas Geografi, UGM

Abstrak −Kebutuhan dan permintaan akan data spasial yang mutakhir, detail dan dengan
biaya yang relatif murah kini semakin meningkat. Teknologi UAV mampu meberikan
output data spasial yang detail dengan biaya relatif murah. Penggunaan teknologi
Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dalam bidang pemetaan perlu dikembangkan untuk
pemenuhan kebutuhan spasial di berbagai bidang baik oleh akademisi, pemerintah, maupun
swasta. Namun proses penggunaan teknologi ini mulai dari awal sampai akhir masih belum
banyak diketahui. Tulisan ini bertujuan untuk memberikan gambaran bagaimana
merencanakan misi pemotretan udara dengan teknologi UAV, serta gambaran akuisisi data
di lapangan serta pengolahannya berdasarkan pengalaman yang didapatkan oleh penulis.
Kualitas data mosaic orthophoto serta Digital Surface Model (DSM) yang didapatkan dari
akuisisi data dengan teknologi UAV ini juga akan dibahas dalam tulisan ini.

Kata kunci: Perencanaan (flight plan), akuisisi data, pengolahan, UAV, foto udara format
kecil

PENDAHULUAN
Kebutuhan data penginderaan jauh di Indonesia saat ini terus berkembang dan senantiasa mengalami
peningkatan baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Permasalahan yang bersifat keruangan telah banyak
diselesaikan dengan dukungan pemanfaatan data penginderaan jauh, misalnya kebencanaan, inventarisasi
sumberdaya alam, serta perencanaan tata ruang mulai dari skala nasional sampai skala daerah (kabupaten/kota
dan kecamatan). Beberapa keunggulan penginderaan jauh adalah pengamatan dan analisis keruangan dalam
lingkup yang luas, ketersediaan data dengan multi skala, dan multi resolusi (spasial, temporal, radiometrik)
(Lillesand et al., 2007), sehingga dapat dimanfaatkan secara luas untuk berbagai keperluan. Adanya otonomi
daerah juga menjadi salah satu pemicu peningkatan kebutuhan data penginderaan jauh karena adanya kebutuhan
daerah dalam inventarisasi, perencanaan, dan pengelolaan daerahnya masing-masing.
Pemanfaatan berbagai macam jenis data penginderaan jauh saat ini belum dapat dimanfaatkan sesuai dengan
kebutuhan yang diinginkan, misalnya saja dari aspek kedetailan (baik resolusi vertikal maupun horizontal)
informasi dan biaya. Kedetailan informasi menjadi aspek yang penting dan menjadi point dalam permintaan data
penginderaan jauh; mengingat beberapa hal, antara lain kedetailan informasi dan analisis yang berdampak pada
kedetailan hasil yang banyak digunakan dalam perencanaan dan pengelolaan wilayah. Misalnya analisis dampak
banjir perkotaan memerlukan data detail topografi perkotaan sehingga diketahui secara detail area potensi banjir
dan dapat disusun perencanaan yang sesuai pula. Citra penginderaan jauh juga tersedia dalam resolusi detail
namun masih terbatas dalam perolehan informasi horizontal. Data detail baik vertikal manpun horizontal telah
tersedia saat ini, misalnya data Lidar, namun dalam perolehannya diperlukan biaya yang sangat besar.
Foto udara format kecil (FUFK) telah menjadi alternatif data penginderaan jauh saat ini. Pemotretan udara yang
menghasilkan FUFK dapat dilakukan dengan berbagai wahana antara lain pesawat berawak, balon udara, layang-
layang, maupun pesawat tak berawak/UAV dan telah dimanfaatkan untuk berbagai bidang baik inventarisasi,
kajian bencana, dan perkotaan (Aber, 2002; Aber et al., 2010; Rosaji, et al., 2013; Marfai, el al., 2014).
Teknologi Unmanned Aerial Vehicle (UAV) memiliki keunggulan perolehan data yang detail dengan biaya yang
relatif murah dibandingkan dengan foto udara konvensional (pesawat berawak) dan data lidar, sehingga dapat
menjadi alternatif baru untuk pemenuhan kebutuhan data penginderaan jauh di Indonesia. Penggunaan wahana
berupa pesawat tak berawak dan sensor kamera komersial menjadi salah satu kemudahan dalam pembangunan
dan pengembangan teknologi UAV. Keunggulan teknologi UAV adalah mampu meminimalisir gangguan awan,
tidak tergantung dengan waktu akusisi data, serta berbiaya murah dengan data yang up to date. Dengan demikian
pembaharuan informasi juga dapat dilakukan sewaktu-waktu terjadi perubahan atau perkembangan wilayah.

303
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan XX 2015

Saat ini teknologi UAV mulai dimanfaatkan dan dikembangkan mulai dari pengembangan wahana sampai sensor
untuk akusisi data serta metode dalam pengolahan data. Penggunannya pun sangat luas, namun masih banyak
kalangan akademisi, peneliti, praktisi, di bidang geospasial yang belum mengerti lebih jauh mengenai
penggunaan teknologi UAV ini. Untuk melakukan pemotretan udara dengan UAV diperlukan perencanaan
penerbangan oleh tenaga berpengalaman; sedangkan referensi mengenai hal tersebut masih terbatas. Oleh karena
itu penelitian ini ditulis untuk memberikan gambaran dasar bagi bidang geospasial di Indonesia mengenai
teknologi UAV sebagai salah satu alternatif pemenuhan kebutuhan data spasial di Indonesia. Tulisan ini akan
membahas tentang proses pre-flight (persiapan sebelum pemotretan udara), in-flight (saat pemotretan foto udara)
dan post flight (pemrosesan data dan analisa output foto udara). Dengan adanya tulisan ini diharapkan pembaca
dapat mengetahui gambaran umum perolehan data dengan menggunakan UAV mulai dari pemotretan udara
sampai perolehan dan analisa hasil.

TAHAPAN PRE- FLIGHT ATAU PERENCANAAN MISI PEMOTRETAN UDARA


Tahapan pre-flight yang dimaksud di sini adalah proses atau tahapan yang dilakukan oleh tim pemotretan udara
dalam perencanaan dan persiapan segala hal mengenai pemotretan udara. Perencanaan pemotretan udara yang
berkaitan dengan peralatan, logistik, jalur terbang (flight plan), estimasi waktu, jumlah personil, serta biaya
(budgeting) ditentukan dalam tahapan ini. Seorang manager project adalah yang paling bertanggung jawab
dalam proses tersebut.
Spesifikasi Output yang Diinginkan
Spesifikasi output yang diinginkan oleh user adalah hal pertama yang harus diketahui oleh tim pemotretan udara
terutama project coordinator. Hal yang perlu dipertimbangkan antara lain skala (ground pixel size), luasan area,
lokasi area, serta tujuan penggunaan foto udara oleh pengguna (user), harapan user tentang waktu pengerjaan,
prioritas perekaman objek (apakah terdapat object tertentu yang harus terekam dengan kualitas yang baik pada
foto), dan beberapa hal lain permintaan user perlu diketahui dalam tahap ini. Beberapa hal tersebut akan
mempengaruhi persiapan yang dilakukan selanjutnya seperti pemilihan peralatan, penentuan jalur terbang,
estimasi waktu pekerjaan, jumlah personil, biaya, dan parameter lainnya.
Karakteristik Wilayah Pemotretan Udara
Bentuk dan luas wilayah pemotretan akan berkaitan dengan efektifitas pemilihan wahana dan pembuatan jalur
terbang. Misal area yang dipotret adalah lokasi longsor dengan luasan kurang dari 1 ha, maka pemilihan wahana
multirotor atau balon udara dapat menjadi alternatif. Berbeda lagi apabila yang dipetakan adalah jalur kereta api
sepanjang 3 km, maka akan lebih efektif menggunakan wahana flying wing. Lokasi pemotretan perlu dipahami
terutama kondisi cuacanya (kabut, angin, tutupan awan, hujan) sebelum berangkat melakukan pemotretan seperti
misalnya wilayah pegunungan dengan gangguan kabut yang semakin mempersempit waktu pemotretan, ataupun
wilayah pantai dengan kecepatan angin yang relatif lebih besar.
Pemilihan Wahana
Terdapat beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam pemilihan wahana diantaranya:
Kemampuan Manuver Wahana
Kemampuan manuver terkait erat dengan tujuan perekaman dan cakupan area yang akan direkam. Beragam jenis
UAV mampu memberikan kemampuan manuver yang berbeda-beda, misalnya pesawat jenis fix wing akan lebih
baik digunakan untuk pemotretan blok area yang lebih luas daripada jenis multirotor. Hal ini dikarenakan
wahana UAV bersayap mampu mengikuti jalur terbang dengan lebih flexible dibandingkan jenis lainnya.
Sebaliknya multirotor (rotary-wing) atau layang-layang dan balon udara akan lebih baik untuk tujuan area
pemetaan yang lebih kecil dengan spot objek tertentu seperti analisa lalu lintas ataupun untuk tujuan fotografi
obliquekarena memiliki kemampuan diam di tempat (hovering)untuk beberapa saat.
Payload
Payload merupakan kemampuan daya angkut yang dimiliki oleh suatu wahana terbang, dalam pemotretan udara
beban yang ditanggungkan pada wahana antara lain sensor kamera, bahan bakar/ baterai dan komponen
elektronik lainnya. Keseluruhan beban yang akan dibawa seharusnya disesuaikan dengan kemampuan pesawat
untuk dapat terbang optimal. Parameter ini juga menjadi salah satu pertimbangan pemilihan jenis kamera yang
tepat terkait beban kamera terhadap wahana.
Kemampuan Daya Jelajah dan Ketinggian Terbang
Luasan area, skala, dan desain jalur terbang (pertampalan samping/ sidelap) amat menentukan panjang jalur
terbang yang harus dijelajahi oleh pesawat, sehingga kemampuan jarak jelajah maksimal menjadi pertimbangan

304
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan XX 2015

dalam menentukan jenis pesawat. Jarak jelajah maksimal pesawat terkait dengan bahan bakar/baterai, tipe
pesawat, dan kondisi angin. Semakin besar kapasitas bahan bakar/daya baterai maka daya jelajah pesawat akan
semakin jauh; namun hal tersebut dibatasi juga oleh kemampuan payload pesawat. Kondisi angin juga
berpengaruh terhadap kinerja mesin dan konsumsi bahan bakar/baterai, sehingga hal tersebut juga harus
dipertimbangkan dalam pemilihan wahana.
Semakin tinggi terbang pesawat, area yang tercakup semakin luas dan jarak jalur terbang yang harus ditempuh
semakin pendek, namun hal tersebut dibatasi oleh kemampuan kamera mengingat semakin tinggi wahana
terbang maka resolusi spasial yang dihasilkan akan semakin rendah. Pesawat dapat saja terbang hingga mencapai
ketinggian 1 km, namun tentunya resolusi spasial yang dihasilkan tidak akan sebaik apabila terbang pada
ketinggian lebih rendah meskipun harus diikuti dengan jarak terbang yang semakin jauh.

Kecepatan jelajah wahana berpengaruh terhadap pemilihan jenis sensor (foto atau video) dan pengaturannya. Hal
ini akan berpengaruh terhadap penentuan kecepatan rana (shutter speed) untuk meminimalisir dan menghindari
nilai Apparent Image Motion (AIM) yang besar. Nilai AIM yang besar menyebabkan objek dalam foto akan
menjadi kabur (blur). Kecepatan wahana juga berpengaruh terhadap pertimbangan kemampuan dan pengaturan
intervalometer kamera untuk memotret, hal ini agar endlap yang telah ditentukan dapat terpenuhi.

Penentuan Jumlah Personel


Terdapat beberapa peran yang sebenarnya ada dalam pengoperasian UAV antara lain project leader/coordinator,
pilot, co-pilot, take-off landing crew, teknisi, dan tim GCP. Tiap orang dalam tim tersebut mempunyai peran
masing-masing, namun dalam prakteknya tidak jarang beberapa peran dapat dirangkap oleh satu orang.
Pengalaman tim penulis, biasanya membutuhkan 5-6 orang untuk melakukan pemotretan udara dengan UAV,
dimana pilot merangkap sebagai teknisi, kemudian coordinator dapat merangkap sebagai co-pilot, dan 3–4 orang
lainnya dapat menjadi tim GCP untuk melakukan pemasangan dan pengukuran GCP menggunakan gps geodetik.
Apabila tim GCP telah memasang marker, maka sebagian akan menuju tempat take-off untuk membantu pilot
dan co-pilot dalam menerbangkan pesawat dan membantu proses landing pesawat apabila membutuhkan jaring.
Penggambaran Jalur Terbang
Flight plan merupakan penunjang kesuksesan pemotretan udara, dimana spesifikasi dari foto yang dihasilkan
amat bergantung pada kualitas flight plan. Namun disamping itu flight plan juga menjadi penunjang ketepatan
target waktu pelaksanaan pemotretan udara. Flight plan dibuat dua kali dimana flight plan pertama digambarkan
secara general untuk perencanaan target waktu pemotretan dan flight plan kedua digambarkan secara detail
dengan mempertimbangkan lokasi takeoff dan landing, arah dan kecepatan angin serta topografi wilayah.

Gambar 1. Flight plan pertama bertujuan untuk mengestimasi waktu pelaksanaan pemotretan udara berbentuk jaring-jaring
area (fishnet) (a), flight plan kedua merupakan detail jalur terbang dalam melaksanakan pemotretan udara di
lapangan (b)

Desain Ground Control Point ( GCP)


Ground Control Point (GCP) digunakan untuk memberikantitik ikat koordinat pada foto udara. Bahan yang
digunakan untuk dijadikan GCP marker sebaiknya berwarna tajam dan relatif kontras dengan objek di sekitarnya
seperti orange, biru tua atau merah, agar mudah dilihat pada foto yang dihasilkan nantinya. Selain pemilihan
warna, perlu juga memperhatikan ukuran marker (panjang dan lebar) terhadap ukuran piksel foto yang akan

305
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan XX 2015

didapat sehingga marker tersebut masih dapat diidentifikasi. Beberapa bahan yang dapat dijadikan untuk marker
GCP di lapangan seperti kain terpal, plat seng, kayu yang dicat dengan warna tajam/mencolok dan terang.
Penentuan jumlah dan posisi GCP prinsipnya adalah tersebar merata dan mewakili topografi dari area yang akan
dipotret. Jumlah dan desain lokasi GCP dibutuhkan untuk mengetahui berapa alat GPS Geodetic yang
digunakan, jumlah personil, serta mempengaruhi estimasi waktu pekerjaan di lapangan.

a b c
a a

Gambar 2.Desain sebaran GCP (a), penggunaan terpal sebagai marker GCP (b), contoh kenampakan GCP pada foto udara (c)

Estimasi Waktu Pelaksanaan Pemotretan


Terdapat beberapa faktor yang dapat dimasukkan dalam mengestimasi waktu pelaksanaan pemotretan udara
antara lain: estimasi waktu yang didapatkan dari penggambaran jalur terbang general, estimasi waktu peletakan
dan pengukuran GCP, estimasi waktu dari basecamp menuju lokasi pemotretan (PP) dan penambahan waktu
toleransi terhadap kondisi cuaca atau error lainnya yang tidak dapat diprediksi. Tabel 1 berikut dapat dijadikan
gambaran penentuan estimasi waktu pelaksanaan pemotretan udara di lapangan, belum termasuk perjalanan
menuju lokasi dan waktu pemrosesan foto udara.

Tabel 1. Estimasi Waktu Pelaksanaan Pemotretan


Jumlah Hari
No Faktor pertimbangan estimasi waktu
1 2 3 4 5 6 7
1. Survey overview wilayah pemotretan
2. Peletakan marker dan pengukuran GCP
3. Pemotretan udara
4. Toleransi waktu akibat faktor lain (cuaca buruk, pesawat jatuh/hilang)

Estimasi Biaya
Estimasi biaya mempertimbangkan beberapa hal seperti jumlah personil, estimasi waktu pelaksanaan, sewa
peralatan, transportasi menuju lokasi pemotretan (PP), biaya akomodasi (penginapan dan biaya makan personel),
transportasi di lapangan (sewa motor/mobil), honorarium personil. Serta faktor penentuan estimasi biaya yang
tidak kalah penting adalah biaya pengamanan terhadap potensi jatuh/hilangnya pesawat, hal ini dikarenakan
kemungkinan tersebut dapat terjadi.

TAHAPAN IN-FLIGHT
Tahapan in-flight dimaksudkan adalah proses pada saat pemotretan udara di lapangan. Tahapan ini meliputi studi
overview area pemotretan, perencanaan penerbangan (flight plan) detail, pemasangan GCP, pemotretan udara,
dan yang dimaksud adalah proses di lapangan saat pemotretan udara. Apa saja yang perlu dicermati dan
dilakukan, bagaimana pembagian tugas tiap personel dan beberapa hal yang dapat ditemui di lapangan.
Studi Overview Area Pemotretan
Overviewarea pemotretan dilakukan untuk mendapatkan gambaran umum terkait kondisi lapangan seperti
topografi, pola arah dan kecepatan angin, dan pola pembentukan awan. Mengetahui hal-hal tersebut
dimaksudkan agar tim pemotretan mengetahui waktu-waktu terbaik untuk melakukan pemotretan. Contoh yang
pernah dialami tim penulis, saat melakukan pemotretan di sebagian hulu sungai di Gunung Merapi dan kegiatan
pemotretan di Gunung Batu Kau, Bali, dimana kondisi kabut yang dapat datang sewaktu-waktu perlu
diperhatikan. Di wilayah pegunungan dengan adanya kabut tersebut, terkadang baru dapat melakukan
pemotretan di atas jam 10.00 menunggu hilangnya kabut. Arah dan kecepatan angin juga berbeda-beda disetiap
wilayah, pada wilayah pesisir kecepatan angin relatif lebih besar sehingga kapasitas baterai cepat menurun yang
menyebabkan durasi penerbangan menjadi lebih pendek.

306
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan XX 2015

Kegiatan overview lapangan juga dilakukan untuk mencari lokasi takeoff landing sebagai masukan pembuatan
flight plandetail. Overview lapangan dapat dibantu dengan citra resolusi tinggi yang di-overlay dengan fishnet,
dimana lokasi takeoff landingdapat diinterpretasi dari citra resolusi tinggi dengan persebaran yang disesuaikan
denganfishnet dan jangkauan terbang pesawat. Pemilihan tempat take-off dan landing juga mempertimbangkan
minimumnya keberadaan obstaclesekitar. Overview area pemotretan juga mendukung dalam perencanaan
pergerakan tim baik tim pemotretan udara maupun tim GCP, mengenai rute efektif menuju lokasi dan estimasi
waktu pelaksanaan setiap harinya.
Perencanaan Jalur Terbang Detail
Overview lapangan menghasilkan titik-titik lokasi take-off landing dan informasi umum tentang arah angin
maupun topografi yang dijadikan sebagai dasar utama pembuatan flight plan detail. Beberapa parameter yang
ditentukan dalam pembuatan flight plan detail antara lain: ketinggian terbang, persentase overlap (endlap-
sidelap), kecepatan wahana, kecepatan rana, interval pemotretan (setting intervalometer), focal length, jarak
terbang maksimal, arah jalur terbang, arah dan kecepatan angin, waktu pemotretan, dan parameter lain yang
bersifat teknis.
Flight plandetail dibuat berdasarkan batas fishnetdari flight plan pertama. Pada contoh kasus yang pernah penulis
temui, area yang dapat dicakup oleh Bixler adalah 1-2 km2sedangkan SkyHunterdan Skywalker Xseries mampu
terbang hingga 4 km2. Flight plan diberi nama dengan penamaan yang jelas dan terstruktur, dimana flight plan
dikelompokan berdasarkan hari rencana terbang yang dijabarkan dari target yang tercantum pada flight plan
general.

Gambar 3. Contoh Flight Plan detail yang dibuat dilapangan, berisi informasi jalur terbang yang akan diikuti oleh pesawat
saat melakukan proses perekaman udara.

Perekaman Udara
Tahapan perekaman (Gambar 4) udara diawali dengan persiapan pesawat yang meliputi perakitan hingga,
kalibrasi hingga integrasi dengan kamera. Setelah pesawat benar-benar siap, jalur terbang yang telah
dipersiapakan sebelumnya diprogramkan pada sistem autopilot. Hingga tahap ini pesawat sudah siap untuk
terbang. Namun sebelum takeoff, terlebih dahulu dilakukan pengecekan akhir dengan mengisi form check list.
Takeoff dilakukan dengan metode hand launch yang dilakukan oleh co-pilot ataupun oleh kru tambahan. Kontrol
dilakukan oleh pilot dengan mode manual hingga ketinggian aman dan selanjutnya pilot menghidupkan mode
auto, pada mode auto pesawat akan terbang mengikuti jalur yang telah diprogram.

307
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan XX 2015

Gambar 4. Teknisi merakit pesawat (a); Integrasi sensor dengan wahana (b); Takeoff pesawat dengan metode handlaunch(c);
Kondisi penerbangan terpantau pada sistem telemetri (d); Pesawat waktu terbang (e);Horizontal landing dengan
bantuan jaring

Posisi pesawat beserta parameter terbang dapat dipantau oleh co-pilot melalui sistem telemetri. Beberapa hal
yang menjadi perhatian utama terkait parameter terbang adalah: GPS, baterai, thorttle, airspeed, signal radio, dan
besar error dari jalur terbang. Durasi terbang berkisar antara 15-30 menit dan selanjutnya pesawat didaratkan
setelah mendekat pada base dengan modus manual oleh pilot. Pada tahap landing terkadang dibutuhkan kru
tambahan untuk menghentikan pesawat dengan bantuan jaring.
Setelah pesawat landing, dilakukan pengecekan kondisi pesawat, backup data hasil perekaman serta mengisi
check list. Check list/ log (gambar xx) berisi data-data tentang informasi penerbangan dalam satu nomor flight
plan dimana Check list/ log diisi sebelum dan sesudah pemotretan. Check list berguna untuk memantau kinerja
pesawat dan mempermudah manajemen pengolahan hasil pemotretan di tahap selanjutnya. Ceklist tersebut
disimpan dalam satu folder dengan hasil foto tiap penerbangan.

Tabel 2.Checklist berisi informasi tiap perekaman

TAHAPAN POST- FLIGHT


Tahapan post-flight merupakan proses pengolahan foto udara hasil pemotretan udara di lapangan. Proses tersebut
fokus pada pengolahan dan editing mosaik foto udara (orthomosaic) dan Digital Surface Model(DSM).
Pemrosesan mosaic orthophoto dan Digital Surface Model
Langkah pertama yang sebaiknya dilakukan sebelum melakukan processing foto udara adalah menilai kualitas
tiap foto asli hasil pemotretan, seleksi perlu dilakukan terutama pada foto-foto yang blur atau pada foto dengan
tingkat oblique yang tinggi untuk tidak dimasukkan dalam proses. Kemudian langkah selanjutnya adalah
penyamaan tingkat brightness/contrastdan tone tiap single foto tersebut, karena terkadang perangkat lunak akan
gagal dalam merekonstruksi (mosaikfoto) dengan perbedaan brightness/contrast yang tinggi antar foto.

Gambar 5. Single foto sebelum dilakukan enchancement(a) dan setelah enhancement untuk mendapatkan kualitas foto yang
lebih baik (b)

Pada dasarnya perangkat lunak untuk memproses foto udara yang ada saat ini seperti Agisoft Stereoscan, Pix4D,
SFM, dan lainnya menghasilkan data mosaic ortho dan DSM dengan langkah yang memudahkan pengguna.
Kombinasi input antara foto udara dan nilai GCP menghasilkan data mosaic ortho dan DSM yang ter-
georeferenceseperti Gambar 6.

308
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan XX 2015

Gambar 6. Contoh hasil mosaic orthophoto dan DSM hasil pemrosesan foto udara wilayah pantai Baron, Gunungkidul, DIY
(orientasi tidak pada arah sebenarnya untuk tujuan visualisasi).

Apabila luasan area pemotretan kecil dan dapat diselesaikan dalam satu kali perekaman udara, maka hasil akhir
foto udara sudah didapatkan dari pemrosesan tersebut. Namun, jika terdapat lebih dari satu kali perekaman,
maka dibutuhkan mosaic orthophoto antar perekaman. Sedangkan kekurangan dari penggabungan antar hasil
penerbangan adalah perbedaan tone, brightness, dan contrast dikarenakan perbedaan waktu pengambilan
gambar. Hal ini membutuhkan color adjustment/color balanching untuk keseluruhan mosaik, dengan
meminimalisir perbedaan. Contoh dari color balanching antar hasil penerbangan satu dan lainnya seperti
Gambar 7.

Gambar 7. Color balanching antar hasil mosaic flight1 dan flight2, dimana perbedaan brightness dan contrast dapat
diminimalisir antara sebelum (a) dan sesudah (b) color balanching dilakukan.

Kualitas Hasil Foto Udara


Secara umum resolusi spasial yang dihasilkan dari foto udara sangat tinggi. Pada ketinggian terbang wahana 200
– 500 mdpal mampu menghasilkan foto dengan ground pixel size antara 5 – 20 cm, sehingga foto mampu
menyajikan kedetailan obyek sangat tinggi dan jelas. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas semantik dari foto
udara sangatlah tinggi dimana interpretabilitas obyek di dalamnya mudah dikenali. Digital Surface Model
(DSM) yang dihasilkan secara kualitatif mengindikasikan bahwa kedetailan konfigurasi ketinggian permukaan
obyek dapat direpresentasikan dengan baik, seperti pematang lahan pertanian dan juga atap bangunan dapat
dilihat dengan baik pada hasil DSM pada contoh Gambar 8. Namun penulis belum melakukan cek akurasi
geometrik baik secara horizontal maupun secara vertikal menggunakan ICP (Independent Check Point), hanya
saja penulis pernah melakukan perbandingan antara orthofoto dan DSM yang dihasilkan terhadap GCP hasil
pengukuran geodetik. Hasil perbandingan tersebut mendapatkan selisih horizontal < 1 m, sedangkan selisih
vertikal rata-rata 0,5 – 1 m.

309
Prosiding Pertemuan Ilmiah Tahunan XX 2015

Gambar 8. Contoh potongan foto udara yang mencerminkan kedetailan obyek (a), kedetailan DEM yang mampu
merepresentasikan pematang lahan pertanian serta atap bangunan rumah (b)

KESIMPULAN
Berdasarkan tahapan yang telah dijabarkan pada penelitian, maka dapat dirumuskan beberapa kesimpulan
penelitian ini antara lain: (1) Proses tahapan pre-flight, in-flight dan post-flight sangatlah berkaitan satu dengan
lainnya, dimana semakin baik persiapan dan perencanaan perekaman udara dengan UAV maka kualitas data
yang didapatkan juga akan baik. (2) Kualitas foto udara format kecil dari hasil perekaman menggunakan
teknologi UAV mampu menyajikan kedetailan yang tinggi dengan tingkat interpretabilitas yang baik.

UCAPAN TERIMA KASIH


Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada pihak-pihak yang membantu dalam terlaksananya pemotretan
udara dengan UAV antara lain: Tim Divisi UAV Mitra Geotama, PT. Buka Media Teknologi, Prof. Dr. Aris
Marfai, M.Sc., serta rekan-rekan yang telah memberikan sumbangsih dalam penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA
Aber J.S., Marzolff, I., Ries, J.B. 2010. Small-Format Aerial Photography: Principles, Techniques and
Geoscience Application. Elsevier, The Netherlands.
Aber, J.S., Aber, S.W. 2002. Unmanned Small-Format Aerial Photography from Kites for Acquiring Large-
Scale, High-Resolution, Multiview-Angle Imagery. Conference Proceedings. ISPRS Commission I-2002.
Lillesand, T.M., Kiefer, R.W., and J.W. Chipmans. 2007. Remote Sensing and Image Interpretation. New York:
John Wiley and Sons, Inc.
Rosaji, S.C.R., Handayani. W., Nurteisa, Y.T., Suharyadi., R., Widartono, B.S. 2013. Aerial/Terrestrial
Videography: Alternatif Teknologi Penginderaan Jauh untuk Survey dan Akuisisi data Spatial. Prosiding.
Simposium Nasional Sains Geoinformasi III – 2013, ISBN 978-979-98521-4-4.
Marfai, M.A., Rosaji, S.C.R., Cahyadi., A., Ghozali., M.R. 2014. Analisis Dinamika Pantai di Teluk Baron
Menggunakan Teknologi Pesawat Tanpa Awak. Seminar PIT IGI XVII-2014, Yogyakarta.

310