Anda di halaman 1dari 21

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Konsep Pertumbuhan dan Perkembangan


A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Pertumbuhan adalah bertambahnya ukuran dan jumlah sel serta
jaringan interseluler, berarti bertambahnya ukuran fisik dan struktur tubuh
sebagian atau keseluruhan, sehingga dapat diukur dengan satuan panjang
dan berat (Kemenkes R.I, 2012).
Perkembangan adalah bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang
lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar dan gerak halus, bicara dan
bahasa, serta sosialisasi dan kemandirian (Kemenkes R.I, 2012).
B. Ciri-ciri Pertumbuhan dan Perkembangan
Dalam proses pertumbuhan dan perkembangan anak, mempunyai
beberapa ciri-ciri yang saling berkaitan. Ciri -ciri tersebut adalah sebagai
berikut :
a. Perkembangan menimbulkan perubahan di mana perkembangan dan
pertumbuhan berjalan secara bersamaan. Setiap pertumbuhan disertai
dengan perkembangan.
b. Pertumbuhan dan perkembangan pada tahap awal akan menentukan
perkembangan selanjutnya. Setiap anak tidak akan bisa melewati satu
tahap perkembangan sebelum ia melewati tahapan sebelumnya.
c. Pertumbuhan dan perkembangan mempunyai kecepatan yang berbeda
Pada setiap anak mempunyai kecepatan yang berbeda–beda baik dalam
pertumbuhan dan perkembangannya.
d. Perkembangan berkolerasi dengan pertumbuhan. Anak yang sehat,
bertambah umur, bertambah berat dan tinggi badannya serta
kepandaiannya. Pada saat pertumbuhan berlangsung cepat maka
perkembangan pun demikian terjadi peningkatan baik memori, daya
nalar dan lain-lan

1
2

e. Perkembangan mempunyai pola yang tetap. Perkembangan fungsi


organ tubuh, terjadi menurut dua hukum yang tetap yaitu sebagai
berikut:
1) Perkembangan terjadi lebih dulu didaerah kepala, kemudian menuju
ke arah kaudal / anggota tubuh (pola sefalokaudal)
2) Perkembangan terjadi lebih dahulu didaerah proksimal (gerak
kasar) lalu berkembang ke bagian distal seperti jari-jari yang
mempunyai kemampuan gerak halus (pola proksimodistal).
f. Perkembangan memeiliki tahap yang berurutan. Tahap
perkembangan seorang anak mengikuti pola yang teratur dan
berurutan. Misalnya, anak mampu membuat lingkaran dulu
sebelum mampu membuat kotak.

C. Tahapan Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan dan perkembangan pada masa anak sudah dimulai


sejak dalam kandungan sampai usia 18 tahun. Hal ini sesuai dengan
pengertian anak menurut WHO yaitu sejak terjadinya konsepsi sampai usia
18 tahun. Pada dasarnya dalam kehidupan manusia mengalami berbagai
tahapan dalam tumbuh kembangnya dan setiap tahap mempunyai ciri
tertentu.
Dalam buku SDIDTK (2016) dijelaskan, tumbuh kembang anak
berlangsung secara teratur, saling berkaitan dan berkesinambungan yang
dimulai sejak konsepsi sampai dewasa. Tumbuh kembang anak terbagi
dalam beberapa periode. berdasarkan beberapa kepustakaan, maka periode
tumbuh kembang anak adalah sebagai berikut :

a. Masa Prenatal atau masa intra uterine (masa janin dalam kandungan),
masa ini dibagi menjadi 3 periode yaitu :
1) Masa zigot/mudigah, sejak saat konsepsi sampai usia kehamilan 2
minggu.
3

2) Masa embrio, sejak umur kehamilan 2 minggu sampai 8/12 minggu.


ovum yang telah dibuahi dengan cepat akan akan menjadi suatu
organisme, terjadi diferensiasi yang berlangsung dengan cepat,
terbentuk sistem organ dalam tubuh.
3) Masa janin/fetus, sejak umur kehamilan 9/12 minggu sampai akhir
kehamilan. Masa ini terdiri dari 2 periode yaitu :
a) Masa fetus dini, yaitu sejak usia kehamilan 9 minggu sampai
trimester kedua kehidupan intra uterin, pada masa ini terjadi
percepatan pertumbuhan, pembentukan jasad manusia
sempurna, alat tubuh telah terbentuk dan mulai berfungsi.
b) Masa fetus lanjut, yaitu pada trimester akhir kehamilan. Pada
masa ini pertumbuhan berlangsung pesat disertai perkembangan
fungsi-fungsi. Terjadi transfer lmunoglobin G (lg G) dari darah
ibu melalui plasenta. Akumulasi asam lemak esensial seri
Omega 3 (Docosa Hexanic Acid) dan Omega 6 (Arachldonlc
Acid) pada otak dan retina.

b. Masa bayi (infancy) umur 0 - 11 bulan.


Pada masa ini terjadi adaptasi terhadap lingkungan dan terjadi
perubahan sirkulasi darah, serta mulainya berfungsi organ-organ.
Adapun masa bayi (infancy) dibagi menjadi 2 periode yaitu :
1) Masa Neonatal
Hal yang paling penting agar bayi lahir tumbuh dan
berkembang menjadi anak sehat adalah : Bayi lahir ditolong
oleh tenaga kesehatan yang terlatih, di sarana kesehatan yang
memadai. Untuk mengantisipasi risiko buruk pada bayi saat
dilahirkan, jangan terlambat pergi ke sarana kesehatan bila
dirasakan sudah saatnya untuk melahirkan, saat melahirkan
sebaiknya didampingi oleh keluarga yang dapat menenangkan
perasaan ibu, sambutlah kelahiran anak dengan perasaan penuh
suka cita dan penuh rasa syukur lingkungan yang seperti ini
4

sangat membantu jiwa ibu dan bayi yang dilahirkannya,


berikan ASI sesegera mungkin. Perhatikan refleks menghisap
diperhatkan oleh karena berhubungan dengan masalah
pemberian ASI. Masa neonatal dibagi menjadi 2 periode yaitu :

- Neonatal dini umur 0-7 hari


- Neonatal lanjut, umur 8-28 hari

2) Masa post (pasca) neonatal, umur 29 hari sampai 11 bulan.

Pada masa ini terjadi pertumbuhan yang pesat dan proses


pematangan berlangsung secara terus menerus terutama
meningkatnya fungsi sistem saraf. Seorang bayi sangat
bergantung pada orang tua dan keluarga sebagai unit pertama
yang dikenalnya. Beruntunglah bayi yang mempunyai orang tua
yang hidup rukun, bahagia dan memberikan yang terbaik untuk
anak. Pada masa ini, kebutuhan akan pemeliharaan kesehatan
bayi, mendapat ASI eksklusif selama 6 bulan penuh,
diperkenalkan kepada makanan pendamping ASI sesuai
umurnya, diberikan imunisasi sesuai jadwal, mendapat pola asuh
yang sesuai. Masa bayi adalah masa dimana kontak erat antara
ibu dan anak terjalin, sehingga dalam masa ini, pengaruh ibu
dalam mendidik anak sangat besar.

c. Masa anak dibawah lima tahun (anak balita, umur 12-59 bulan).

Pada masa ini, kecepatan pertumbuhan mulai menurun dan


terdapat kemajuan dalam perkembangan motorik (gerak kasar dan
gerak halus) serta fungsi ekskresi. Periode penting dalam tumbuh
kembang anak adalah pada masa balita. Pertumbuhan dasar yang
berlangsung pada masa balita akan mempengaruhi dan menentukan
perkembangan anak selanjutnya.
5

Setelah lahir terutama pada 3 tahun pertama kehidupan,


pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak masih berlangsung;
dan terjadi pertumbuhan serabut serabut syaraf dan cabang-
cabangnya, sehingga terbentuk jaringan syaraf dan otak yang
kompleks. Jumlah dan pengaturan hubungan- hubungan antar sel
syaraf ini akan sangat mempengaruhi segala kinerja otak, mulai
dari kemampuan belajar berjalan, mengenal huruf, hingga
bersosialisasi.
Pada masa balita, perkembangan kemampuan bicara dan
bahasa, kreativitas, kesadaran sosial, emosional dan intelegensia
berjalan sangat cepat dan merupakan landasan perkembangan
berikutnya. Perkembangan moral serta dasar-dasar kepribadian
anak juga dibentuk pada masa ini, sehingga setiap
kelainan/penyimpangan sekecil apapun apabila tidak dideteksi
apalagi tidak ditangani dengan baik, akan mengurangi kualitas
sumber daya manusia dikemudian hari.

d. Masa anak prasekolah (anak umur 60 - 72 bulan).


Pada masa ini, pertumbuhan berlangsung dengan stabil. Terjadi
perkembangan dengan aktivitas jasmani yang bertambah dan
meningkatnya keterampilan dan proses berfikir. Memasuki masa
prasekolah, anak mulai menunjukkan keinginannya, seiring dengan
pertumbuhan dan perkembangannya. Pada masa ini, selain
lingkungan di dalam rumah maka lingkungan di luar rumah mulai
diperkenalkan. Anak mulai senang bermain di luar rumah. Anak
mulai berteman, bahkan banyak keluarga yang menghabiskan
sebagian besar waktu anak bermain di luar rumah dengan cara
membawa anak ke taman-taman bermain, taman-taman kota, atau
ke tempat-tempat yang menyediakan fasilitas permainan untuk
anak. Sepatutnya lingkungan-lingkungan tersebut menciptakan
suasana bermain yang bersahabat untuk anak (child friendly
6

environment). Semakin banyak taman kota atau taman bermain


dibangun untuk anak, semakin baik untuk menunjang kebutuhan
anak.

Pada masa ini anak dipersiapkan untuk sekolah, untuk itu panca
indra dan sistem reseptor penerima rangsangan serta proses memori
harus sudah siap sehingga anak mampu belajar dengan baik. Perlu
diperhatikan bahwa proses belajar pada masa ini adalah dengan
cara bermain. Orang tua dan keluarga diharapkan dapat memantau
pertumbuhan dan perkembangan anaknya, agar dapat dllakukan
intervensi dini bila anak mengalami kelainan atau gangguan.

D. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan

Pola pertumbuhan dan perkembangan anak umumnya merupakan


interaksi banyak faktor yang saling mempengaruhi. Soetjiningsih (2002)
dalam Setiyani, dkk (2016) menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi
tumbuh kembang dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu faktor internal
dan eksternal.

1. Faktor dalam (Internal)


a. Genetik: faktor genetik merupakan modal dasar dalam mencapai
hasil akhir proses pertumbuhan dan perkembangan anak
b. Perbedaan ras : etnik atau bangsa, tinggi badan orang Eropa akan
berbeda dengan orang Indonesia atau bangsa lainnya, sehingga
postur tubuh tiap bangsa berlainan.
c. Keluarga : ada keluarga yang cenderung mempunyai tubuh gemuk
atau perawakan pendek.
d. Umur : masa pranatal, masa bayi dan masa remaja merupakan tahap
yang mengalami pertumbuhan cepat dibanding masa lainnya.
e. Jenis kelamin : wanita akan mengalami masa prapubertas lebih
dahulu dibanding laki-laki.
7

f. Kelainan kromosom : dapat menyebabkan kegagalan pertumbuhan,


misalnya Down’s sindroma
g. Pengaruh hormon: pengaruh hormon sudah terjadi sejak masa
pranatal yaitu saat janin berumur 4 bulan yang mana saat tersebut
terjadi pertumbuhan cepat. Hormon yang berpengaruh terutama
hormon pertumbuhan somatotropin yang dikeluarkan oleh kelenjar
pituitari. Selain itu kelenjar tiroid juga menghasilkan kelenjar
tiroksin yang berguna untuk metabolisme, maturasi tulang, gigi dan
otak.

2. Faktor lingkungan (eksternal)


Faktor lingkungan yang dapat berpengaruh, dapat dikelompokkan
menjadi tiga yaitu pranatal, natal, dan pasca natal.
a) Faktor pra natal (selama kehamilan)

Faktor lingkungan pranatal yang berpengaruh terhadap


pertumbuhan dan perkembangan janin mulai dari konsepsi sampai
lahir, antara lain :

1) Gizi, nutrisi ibu hamil akan mempengaruhi pertumbuhan janin,


terutama trimester akhir kehamilan.
2) Mekanis.
Posisi janin yang abnormal dalam kandungan dapat
menyebabkan
kelainan kongenital misalnya club foot.
3) Toksin, zat kimia.
Zat-zat kimia yang dapat menyebabkan kelainan bawaan pada
bayi antara lain obat antikanker, rokok, alkohol beserta logam
berat lainnya.
4) Kelainan endokrin.
Hormon-hormon yang mungkin berperan pada pertumbuhan
janin, adalah somatotropin, tiroid, insulin, hormon plasenta,
8

peptida- peptida lainnya dengan aktivitas mirip insulin.


Apabila salah satu dari hormon tersebut mengalami defisiensi
maka dapat menyebabkan terjadinya gangguan pada
pertumbuhan susunan saraf pusat sehingga terjadi retardasi
mental, cacat bawaan dan lain-lain.
5) Radiasi
Radiasi pada janin sebelum umur kehamilan 18 minggu dapat
menyebabkan kematian janin, kerusakan otak, mikrosefali,
atau cacat bawaan lainnya, sedangkan efek radiasi pada
seorang laki-laki dapat menyebabkan cacat bawaan pada
anaknya.
6) Infeksi
Setiap hiperpirexia pada ibu hamil dapat merusak janin. Infeksi
intrauterin yang sering menyebabkan cacat bawaan adalah
TORCH, sedangkan infeksi lainnya yang juga dapat
menyebabkan penyakit pada janin adalah varisela, malaria,
polio, influenza dan lain-lain
7) Kelainan imunologi
8) Psikologis ibu

b) Faktor Natal / Persalinan

Riwayat kelahiran dengan vakum ekstraksi atau forceps dapat


menyebabkan trauma kepala pada bayi sehingga berisiko
terjadinya kerusakan jaringan otak.

c) Faktor Pasca natal


Seperti halnya pada masa pranatal, faktor yang berpengaruh
terhadap tumbuh kembang anak adalah gizi, penyakit
kronis/kelainan kongenital, lingkungan fisik dan kimia, psikologis,
endokrin, sosio ekonomi, lingkungan pengasuhan, stimulasi dan
obat-obatan.
9

2.2 Deteksi Dini Tumbuh Kembang

A. Pengertian Deteksi Dini Tumbuh Kembang

1. Deteksi Dini Pertumbuhan


a) Deteksi dini penyimpangan pertumbuhan, yaitu untuk mengetahui/
menemukan status gizi kurang/buruk dan mikro/makrosefali. Jenis
instrument yang digunakan menurut, Manggiasih (2016) :
1) Berat Badan menurut Tinggi Badan Anak (BB/TB)
Pengukuran berat badan dilakukan untuk menilai peningkatan
atau penurunan semua jaringan yang ada pada tubuh (tulang,
otot, lemak, cairan tubuh) sehingga status gizi atau tumbuh
kembang anak akan diketahui.
Beberapa ukuran yang perlu diketahui sebagai patokan:
a. Kenaikan berat badan pada bayi cukup bulan kembali pada
hari ke- 10.
b. Pada umur 5 bulan, berat badan 2 x berat badan saat lahir.
c. Pada umur 1 tahun, berat badan 3 x berat badan saat lahir.
d. Pada umur 2 tahun, berat badan 4 x berat badan saat lahir.
e. Prasekolah, berat badan meningkat 2 kg/ tahun.
f. Andolecent, berat badan meningkat 3 -3,5 kg/ tahun.

Pengukuran tinggi badan dilakukan untuk menilai status


perbaikan gizi disamping faktor genetik. Tinggi badan
meningkat sampai tinggi maksimal dicapai, meningkat pesat
pada usia bayi dan andolecent dan berhenti pada usia 18 – 20
tahun.
Tinggi badan dapat diperkirakan sebagai berikut.
a. Pada umur 1 tahun, tinggi badan 1,5 x tinggi badan saat
lahir.
b. Pada umur 4 tahun, tinggi badan 2 x tinggi badan saat lahir.
c. Pada umur 6 tahun, tinggi badan 1,5 x tinggi badan setahun.
10

d. Pada umur 13 tahun, tinggi badan 3 x tinggi badan saat


lahir.
e. Pada umur dewasa, tinggi badan yaitu 3,5 x tinggi badan
saat lahir atau 2 x tinggi badan usia 2 tahun.
2) Pengukuran Lingkar Kepala Anak (LKA)
Dalam buku Manggiasih (2016), Pengukuran lingkar kepala
dilakukan untuk menilai pertumbuhan otak. Penilaian dapat dilihat
apabila pertumbuhan otak kecil (mikrosefali) maka menunjukkan
retardasi mental, sebaliknya apabila otaknya besar (makrosefali)
maka menunjukkan volume kepala meningkat akibat penyumbatan
pada aliran cairan cerebosinalis. Peningkatan volume:
a. 6 – 9 bulan kehamilan : 3 gram/ 24 jam.
b. Lahir – 6 bulan : 2 gram/ 24 jam.
c. 6 bulan – 3 tahun : 0,35 gram/ 24 jam.
d. 3 – 6 tahun : 0,15 gram/ 24 jam.
Untuk anak berusia 0 – 11 bulan, pengukuran dilakukan setiap 3
bulan dan untuk anak berusia 12 – 72 bulan, pengukuran dilakukan
setiap 6 bulan. (Dewi, 2013: 56)
Interpretasi hasil pengukuran:
a) Bila ukuran kepala anak berada di dalam “jalur hijau” maka
lingkaran kepala anak normal
b) Bila ukuran kepala anak berada di luar “jalur hijau” maka
lingkaran kepala anak tidak normal
c) Lingkaran kepala anak tidak normal ada 2 (dua), yaitu
makrosefal bila berada di atas “jalur hijau” dan mikrosefal
bila berada di bawah “jalur hijau”
2 . Deteksi dini perkembangan
Deteksi dini perkembagan yaitu untuk mengetahui gangguan
perkembangan anak (keterlambatan) dengan cara :
11

a) KPSP
1) Pengertian KPSP
Pemeriksaan KPSP adalah penilian perkembangan anak
dalam 4 sektor perkembangan yaitu : motorik kasar, motorik
halus, bicara/bahasa dan sosialisasi /kemandirian.
2) Tujuan Skrining
Tujuan skrining / pemeriksaan perkembangan anak
menggunakan KPSP adalah untuk mengetahui perkembangan
anak normal atau ada penyimpangan.
3) Jadwal Skrining
Jadwal skrining / pemeriksaan KPSP adalah pada umur 3, 6, 9,

12, 15, 18, 21, 24, 30,36, 42, 48, 54, 60, 66 dan 72 bulan. Jika

anak belum mencapai umur skrining tersebut, minta ibu dating

kembali pada umur skrining yang terdekat untuk pemeriksaan

rutin. Misalnya bayi umur 7 bulan, diminta datang kembali

untuk skrining pada umur 9 bulan. Apabila orang tua datang

dengan keluhan anaknya mempunyai masalah tumbuh kembang

sedangkan umur anak bukan umur skrining maka pemeriksaan

menggunakan KPSP untuk umur skrining terdekat yang lebih

muda.

4) Cara menggunakan KPSP

 Pada waktu pemeriksaan / skrining, anak harus dibawa.

 Tentukan umur anak dengan menanyakan tanggal, bulan

dan tahun anak lahir. Bila umur anak lebih dari 16 hari

dibulatkan menjadi 1bulan. Contoh : bayi umur 3 bulan 16


12

hari, dibulatkan menjadi 4 bulan. Bila umur bayi 3 bulan 15

hari dibulatkan menjadi 3 bulan.

 Setelah menentukan umur anak, pilih KPSP yang sesuai

dengan umur anak.

 KPSP terdiri dari 2 macam pertanyaan, yaitu: Pertanyaan

yang dijawab oleh ibu/pengasuh anak, contoh: “Dapatkah

bayi makan kue sendiri?”

 Perintahkan kepada ibu/pengasuh anak atau petugas untuk

melaksanakan tugas yang tertulis pada KPSP. Contoh:

“Pada posisi bayi anda telentang, tariklah bayi anda pada

pergelangan tangannya secara perlahan-lahan ke posisi

duduk.”

 Jelaskan kepada orangtua agar tidak ragu-ragu atau takut

menjawab, oleh karena itu pastikan ibu/pengasuh anak

mengerti apa yang ditanyakan kepadanya.

 Tanyakan pertanyaan tersebut secara berurutan, satu

persatu. Setiap pertanyaan hanya ada 1 jawaban, Ya atau

Tidak. Catat jawaban tersebut pada formulir.

 Ajukan pertanyaan yang berikutnya setelah ibu/pengasuh

anak menjawab pertanyaan.

 Teliti kembali apakah semua pertanyaan telah dijawab


13

5) Interpretasi hasil KPSP

•Hitunglah berapa jawaban Ya.

Jawaban Ya : Bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak bisa

atau pernah atau sering atau kadang-kadang melakukannya.

Jawaban Tidak: Bila ibu/pengasuh anak menjawab: anak

belum pernah melakukan atau tidak pernah atau

ibu/pengasuh anak tidak tahu.

•Jumlah jawaban Ya : 9 atau 10, perkembangan anak sesuai

dengan tahap perkembangannya (S). 7 atau 8,

perkembangan anak meragukan (M) 6 atau kurang,

kemungkinan ada penyimpangan (P)

•Untuk jawaban “Tidak”, perlu dirinci jumlah jawaban

tidak menurut jenis keterlambatan (gerak kasar, gerak

halus, bicara dan bahasa, sosialisasi dan kemandirian)

b) DDST
1) Pengertian Denver Development Screening Test (DDST)
DDST merupakan salah satu metode skrining terhadap
kelainan perkembangan anak usia 1 bulan sampai 6 tahun.
Pelaksanaan DDST tergolong cepat dan mudah serta
mempunyai validasi yang tinggi. DDST bukan untuk
mendiagnosa atau untuk test kesadaran (IQ). Perkembangan
yang dinilai meliputi perkembangan personal sosial, motorik
halus bahasa dan motorik kasar.
2) Formulir Denver II
14

a. Berisi 125 gugus tugas perkembangan disusun menjadi 4


sektor untuk menjaring fungsi berikut : Personal sosial,
Fine motor adaptive, Language, Gross motor.
b. Skala umur, bagian atas formulir terbagi dalam bulan dan
tahun lahir, sampai berusia 6 tahun
c. Setiap ruang antara tanda umur mewakili 1 bulan (untuk
usia kurang dari 24 bulan ), dan mewakili 3 bulan (untuk
anak diatas 2 tahun sampai 6 tahun)
d. Pada setiap tugas perkembangan yang berjumlah 125,
terdapat batas kemampuan perkembangan, 25%, 50%,
75%, dan 90% dari populasi anak lulus tugas
perkembangan tersebut

e. Pada beberapa tugas perkembangan terdapat huruf dan


angka pada ujung kotak sebelah kiri, R (report) = L
(laporan) → bisa berdasarkan laporan ortu → bila
mungkin penilai dapat menilai langsung
3) Peralatan test :
a. Benang sulaman merah
b. Kismis
c. Kerincingan dengan gagang yang kecil
d. Kubus berwarna ukuran 2,5 x 2,5 cm , 10 buah
e. Bola tenis
f. Pensil merah
g. Boneka plastik kecil dengan dot
h. Cangkir plastik dengan pegangan
i. Kertas kosong
j. Botol kaca bening yang dapat dibuka
15

4) Alat lainnya
a. Meja dan kursi untuk pemeriksa, ibu dan anak
b. Ruangan yang cukup luas untuk menguji item motorik
kasar (gross motor)
c. Tempat tidur lengkap dengan perlak dan laken
5) Keuntungan DDST
a. Menilai perkembangan anak sesuai dengan usia
b. Memantau perkembangan anak usia 0-6 tahun
c. Monitor anak dengan risiko perkembangan
d. Menjaring anak terhadap adanya kelainan
e. Memastikan apakah anak dengan persangkaan ada
kelainan perkembangan atau benar-benar ada kelainan
6) Cara pemeriksaan DDST
a. Dilakukan secara kontinue
b. Didampingi ibu atau pengasuh
c. Anak dan ibu dalam keadaaan santai
d. Satu formulir digunakan beberapa kali oleh satu anak
e. Tempatkan bayi diatas tempat tidur, anak duduk dikursi,
dan lengan di atas meja
7) Prinsip
a. Bertahap dan berkelanjutan
b. Dimulai dari tahap perkembangan yang telah dicapai anak
c. Menggunakan alat bantu stimulasi yang sederhana
d. Suasana nyaman dan bervariasi
e. Perhatikan gerakan spontan anak
f. Dilakukan dengan wajar dan tanpa paksaan serta tidak
menghukum
g. Memberikan pujian (reinforcement) bila berhasil
melakukan test
h. Sebelum uji coba, semua alat diletakkan diatas meja
i. Pada saat tes hanya satu alat saja yang digunakan
16

8) Hal-hal yang perlu diperhatikan


a. Uji coba item yang kurang aktif dilakukan lebih dahulu
b. Uji coba yang lebih mudah dilakukan terlebih dahulu
c. Uji coba dengan menggunakan alat yang sama dilakukan
berurutan
d. Hanya alat uji coba yang berada didepan anak
e. Semua uji coba dimulai dari sebelah kiri garis usia dan
yang ditembus serta item disebelah kanan garis usia
9) Cara melakukan tes pada anak dengan risiko perkembangan
a. Pada setiap sektor paling sedikit dilakukan 3 uji coba yang
ada disebelah kiri garis usia dan item yang berada pada
garis usia
b. Jika anak gagal, menolak, tidak ada kesempatan (no
opportunity), lakukan uji coba tambahan ke sebelah kiri
garis usia sampai 3 kali lewat tiap sektor.
10) Cara melakukan tes pada anak normal atau kemampuan lebih
a. Pada setiap sektor dilakukan paling sedikit 3 uji coba yang
paling dekat disebelah kiri garis usia dan item yang
dilewati garis usia
b. Jika anak mampu/bisa melakukan, lanjutkan uji coba
disebelah kanan garis usia sampai 3 kali Gagal tiap sektor.
11) Menghitung Usia Anak
Usia anak dihitung dengan mengurangi tanggal lahir dari tanggal
tes. Contoh :
17

12) Skoring pada DDST


a. Lewat (pass)
1) Apabila anak dapat melakukan uji coba dengan baik
2) Ibu atau pengasuh memberi laporan (I) tepat atau dapat
dipercaya bahwa anak dapat melakukan dengan baik
b. Gagal (fail)
1) Apabila anak tidak dapat melakukan uji coba dengan
baik
2) Ibu atau pengasuh memberi laporan bahwa anak tidak
dapat melakukan tugas dengan baik
c. Tidak ada kesempatan (No opportunity)
Apabila anak tidak mempunyai kesempatan untuk
melakukan uji coba karena ada hambatan, seperti retardasi
mental dan down syndrome.
d. Menolak (refusal)
18

Anak menolak untuk melakukan uji coba biasanya


disebabkan karena faktor sesaat, seperti lelah, menangis,
sakit, mengantuk, dan lain-lain.
13) Interpretasi pada tiap item atau gugus tugas

14) Interpretasi hasil tes keseluruhan (4 sektor)


a. Normal
1) Bila tidak ada keterlambatan (delay)
19

2) Paling banyak 1 caution


3) Lakukan ulangan pemeriksaan berikutnya
b. Dicurigai (suspect)
1) Bila didapatkan 2 atau lebih caution atau bila didapatkan
1 atau lebih delay
2) Lakukan uji ulang dalam 1-2 minggu untuk
menghilangkann faktor sesaat (takut,lelah, sakit, tidak
nyaman, dan lain-lain)
c. Tidak teruji (untestable)
1) Bila ada skor menolak 1 atau lebih item disebelah kiri
garis umur
2) Bila menolak lebih dari satu I pada satu area 75-90 %
warna hijau yang ditembus garis umur
3) Ulangi pemeriksaan 1-2 minggu
c) SDIDTK
1. Pengertian SDIDTK
Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang
adalah kegiatan atau pemeriksaan untuk menemukan secara
dini adanya penyimpangan tumbuh kembang pada balita dan
anak prasekolah. Dengan ditemukan secara dini
penyimpangan/masalah tumbuh kembang, maka intervensi
akan mudah dilakukan, tenaga kesehatan juga mempunyai
waktu dalam membuat rencana tindakan/intervensi yang
tepat, terutama ketika harus melibatkan ibu/keluarga. Bila
penyimpangan terlambat diketahui, maka intervensinya akan
lebih sulit dan hal ini akan berengaruh terhadap tumbuh
kembang anak (Depkes, 2006).
2. Sasaran
Sasaran Langsung : Semua anak umur 0-6 tahun yang ada di
wilayah kerja Puskesmas
Sasaran Tidak Langsung : Tenaga kesehatan yang berkerja di
lini terdepan (Dokter, Bidan, Perawat, Ahli Gizi, Penyuluhan
Kesehatan Masyarakat dan sebagainya). Tenaga pendidik,
20

Petugas lapangan KB, Petugas sosial yang terkait dengan


pembinaan tumbuh kembang anak, Petugas sektor swasta dan
profesi lainnya.

3. Rujukan Dini Penyimpangan Perkembangan Anak


Rujukan diperlukan jika masalah/penyimpangan
perkembangan anak tidak dapat ditangani meskipun sudah
dilakukan tindakan intervensi. Rujukan penyimpangan
tumbuh kembang dilakukan secara berjenjang sebagai berikut
:
a) Tingkat keluarga dan masyarakat
Keluarga dan masyarakat (orang tua, anggota keluarga
lainnya dan kader) dianjurkan
untuk membawa anak ke tenaga kesehatan di Puskesmas dan
jaringan atau Rumah
Sakit. Orang tua perlu diingatkan membawa catatan
pemantauan tumbuh kembang buku KIA.
b) Tingkat Puskesmas dan jaringannya
Pada rujukan dini, bidan dan perawat di posyandu, Polindes,
Pustu termasuk Puskesmas keliling, melakukan tindakan
intervensi dini penyimpangan tumbuh kembang sesuai
standar pelayanan yang terdapat pada buku pedoman. Bila
kasus penyimpangan tersebut ternyata memerlukan
penanganan lanjut, maka dilakukan rujukan ke tim medis di
Puskesmas.
c) Tingkat Rumah Sakit Rujukan
Bila kasus penyimpangan tersebut tidak dapat di tangani di
Puskesmas maka perlu dirujuk ke Rumah Sakit Kabupaten
yang mempunyai fasilitas klinik tumbuh kembang anak
dengan dokter spesialis anak, ahli gizi serta
laboratorium/pemeriksaan penunjang diagnostic. Rumah
21

Sakit Provinsi sebagai tempat rujukan sekunder diharapkan


memiliki klinik tumbuh kembang anak yang didukung oleh
tim dokter spesialis anak, kesehatan jiwa, kesehatan mata,
THT, rehabilitasi medik, ahli terapi, ahli gizi dan psikolog