Anda di halaman 1dari 13

SEJARAH CANDI BOROBUDUR

Oleh
Agustinus Agung K
NIS : 7374
Kelas : XI IPS 1
Program : Ilmu Pengetahuan Sosial

Karya Tulis
Sebagai Laporan Kegiatan Studi Praktik Lapangan
Tahun Pelajaran 2010 / 2011

SEKOLAH MENENGAH ATAS NEGERI 2 PRINGSEWU


KABUPATEN PRINGSEWU
2010/2011
PERSETUJUAN

Judul Karya Tulis : SEJARAH CANDI BOROBUDUR


Nama Siswa : Agustinus Agung K
Nomor Induk Siswa : 7374
Kelas : XI IPS 1
Program : Ilmu Pengetahuan Sosial

MENYETUJUI
Pendamping,

Dra. Hj. SRI RAHAYU


NIP.
PENGESAHAN

MENGESAHKAN

Karya tulis ini disahkan pada


hari :
tanggal : ……Maret 2011
tempat : SMA Negeri 2 Pringsewu

Mengetahui Penguji
Kepala SMA Negeri 2 Pringsewu

Drs. JUMANI DARJO, M.Pd Dra. Hj. SRI RAHAYU


NIP. 19640321 199010 1 001 NIP.
PERSEMBAHAN

Karya tulis yang berjudul “SEJARAH CANDI” penulis persembahkan kepada :

1. Orang tua yamg telah memberikan do’a dan dukungan baik meteri dan moral.
2. Adikku yang telah memberiku semangat dalam menyelesaikan karya tulis ini.
3. Sahabat-sahabatku yang telah membantu dalam penyusunan karya tulis ini.
4. Kekasih yang telah memberikan dukungan dalam penyelesaian karya tulis ini.
MOTTO

Ketahuilah, apapun yang menjadikanmu tergetar, itulah yang terbaik untukmu !


Dan karena itulah, qolbu seorang pencinta – Nya lebih besar dari pada singgasana – Nya
(jalaludi Rumi )
KATA PENGANTAR

Penulis senantiasa mengucapkan rasa syukur kahadirat Allah SWT, karena


hidayah-Nya Laporan Studi Praktik Lapangan ini dapat diselesaikan oleh penyusun.
Laporan Studi Praktik Lapangan yang berjudul “SEJARAH CANDI
BOROBUDUR” ini diajuka sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Ilmu
Sosial SMA Negeri 2 Pringsewu.
Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada semua
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan Laporan Studi Praktik Lapangan ini,
terutama kepada :
1. Bapak Drs. Jumani Darjo, M.Pd, selaku Kepala SMA Negei 2 Pingsewu;
2. Ibu Dra. Hj. Sri Rahayu, selaku Guru pembimbing dan Wali Kelas XI IPS 1;
3. Semua pihak yang telah membantu penyusunan Laporan Studi Praktik Lapangan ini,
sehingga dapat terselesaikan.

Penulis menyadari bahwa Laporan Studi Praktik Lapangan ini masih jauh dari
sempurna. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi
kesempurnaan Laporan Studi Praktik Lapangan ini.

Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita, khususnya bagi siswa-siswi
Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Pringsewu.

Pringsewu,

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL.................................................................................. i
HALAMAN PERSETUJUAN................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN.................................................................... iii
HALAMAN PERSEMBAHAN................................................................. iv
HALAMAN MOTTO................................................................................. v
KATA PENGANTAR................................................................................ vi
DAFTAR ISI............................................................................................... viii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang........................................................................... 1
1.2. Pembatasan masalah................................................................... 2
1.3. Metode penulisan ...................................................................... 2
1.4. Tujuan Penulisan ....................................................................... 2

BAB II TINJAUAN UMUM


2.1. Nama Borobudur ...................................................................... 3
2.2. Struktur Borobudur.................................................................... 4
2.3. Relief.......................................................................................... 6
2.4. Tahapan pembangunan Borobudur............................................ 8

BAB III TINJAUAN KHUSUS

3.1. Landasan Teori .......................................................................... 8


3.2. Pemecahan Masalah .................................................................. 8

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan ……………………………………………………. 10


4.2 Saran-saran …………………………………………………… 10

DAFTAR PUSTAKA............................................................................... .. 11
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu program untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan didapat tidak hanya di
sekolah tetapi diluar sekolah pun kita dapat memperoleh pendidikan, contohnya sewaktu saya bersama teman-
teman sekolah study tour ke Yogyakarta dan sekitarnya. Dari tour tersebut kami mengunjungi beberapa obyek
wisata diantaranya candi Borobudur.
Candi Borobudur adalah sebuah tempat wisata yang sangat terkenal baik didalam maupun diluar negeri. Namun
tak banyak orang yang mengetahui sejarah candi Borobudur. Maka dari itulah saya membuat karya ilmiah ini yang
berjudul “SEJARAH CANDI BOROBUDUR” yang didalamnya terdapat berupa sejarah-sejarah, arti nama candi
Borobudur dan lainnya.Agar para pembaca mengetahui sejarah candi Borobudur.
Sebagai penutup penulis mengucapkan terima kasih kepada para pembimbing yang telah membantu dalam
menyelesaikan karya ilmiah ini.

1.2 Pembatasan Masalah


Pembatasan dalam karya ilmiah yang berjudul “SEJARAH CANDI BOROBUDUR” adalah sebagai berikut :
 Nama Borobudur
 Struktur Borobudur
 Relief
 Tahapan pembangunan Borobudur
1.3 Metode Penulisan
Penulisan memperoleh data dengan dua cara yaitu :
 Cara Observasi, yakni penulis terlibat langsung ke tempat penelitian
 Cara Kepustakaan, Yakni penulis mencari keterangan-keterangan yang berhubungan dengan permasalahan yang
akan di ujikan dalam penyusuna karya tulis.

1.4 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan karya tulis yang berjudul “SEJARAH CANDI BOROBUDUR” adalah sebagai berikut :
Untuk mengenal lebih jauh tentang sejarah candi Borobudur. Untuk menambah wawasan tentang candi
Borobudur.
BAB II
TINJAUAN UMUM

2.1 Nama Borobudur


Borobudur adalah nama sebuah candi Buddha yang terletak di Borobudur,Magelang,Jawa Tengah. Lokasi candi
adalah kurang lebih 100 km di sebelah barat daya Semarang dan 40 km di sebelah barat laut Yogyakarta. Candi
ini didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana sekitar tahun 800-an Masehi pada masa
pemerintahan wangsa Syailendra.Banyakteori yang berusaha menjelaskan nama candi ini. Salah satunya
menyatakan bahwa nama ini kemungkinan berasal dari kata Sambharabhudhara, yaitu artinya "gunung" (bhudara)
di mana di lereng-lerengnya terletak teras-teras. Selain itu terdapat beberapa etimologi rakyat lainnya. Misalkan
kata borobudur berasal dari ucapan "para Buddha" yang karena pergeseran bunyi menjadi borobudur. Penjelasan
lain ialah bahwa nama ini berasal dari dua kata "bara" dan "beduhur". Kata bara konon berasal dari kata vihara,
sementara ada pula penjelasan lain di mana bara berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya kompleks candi
atau biara danbeduhur artinya ialah "tinggi", atau mengingatkan dalam bahasa Bali yang berarti "di atas". Jadi
maksudnya ialah sebuah biara atau asrama yang berada di tanah tinggi.
Sejarawan J.G. de Casparis dalam disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada 1950berpendapat bahwa
Borobudur adalah tempat pemujaan. Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis
memperkirakan, pendiri Borobudur adalah raja dari dinasti Syailendra bernama Samaratungga sekitar 824 M.
Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya, Ratu Pramudawardhani. Pembangunan
Borobudur diperkirakan memakan waktu setengah abad.

2.2 Struktur Borobudur


Candi Borobudur berbentuk punden berundak, yang terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat
berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua tingkat-
tingkatannya beberapa stupa.
Borobudur yang bertingkat sepuluh menggambarkan secara jelas filsafat mazhab Mahayana. bagaikan sebuah
kitab, Borobudur menggambarkan sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk
mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.
Bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kamaatau "nafsu
rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi
candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian
kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.
Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk
persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa
dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian
Rupadhatu ini patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.
Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakanArupadhatu (yang berarti
tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di
mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.
Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup berlubang-lubang seperti dalam kurungan. Dari
luar patung-patung itu masih tampak samar-samar.

Tingkatan tertinggi yang menggambarkan ketiadaan wujud dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan
tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini pernah ditemukan patung
Buddha yang tidak sempurna atau disebut juga unfinished Buddha, yang disalahsangkakan sebagai patung
Adibuddha, padahal melalui penelitian lebih lanjut tidak pernah ada patung pada stupa utama, patung yang tidak
selesai itu merupakan kesalahan pemahatnya pada zaman dahulu. menurut kepercayaan patung yang salah dalam
proses pembuatannya memang tidak boleh dirusak. Penggalian arkeologi yang dilakukan di halaman candi ini
menemukan banyak patung seperti ini.
Di masa lalu, beberapa patung Buddha bersama dengan 30 batu dengan relief, dua patung singa, beberapa batu
berbentuk kala, tangga dan gerbang dikirimkan kepada Raja Thailand,Chulalongkorn yang mengunjungi Hindia
Belanda (kini Indonesia) pada tahun 1896 sebagai hadiah dari pemerintah Hindia Belanda ketika itu.
Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang
yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat. Di lorong-
lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk
bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentukpunden
berundak, yang merupakan bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia
Struktur Borobudur tidak memakai semen sama sekali, melainkan sistem interlock yaitu seperti balok-
balok Lego yang bisa menempel tanpa lem.
2.3 Relief
Di setiap tingkatan dipahat relief-relief pada dinding candi. Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau
disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sansekerta daksina yang artinya
ialah timur. Relief-relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jātaka.
Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap
tingkatnya, mulainya di sebelah kiri dan berakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa
sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi
menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.
Secara runtutan, maka cerita pada relief candi secara singkat bermakna sebagai berikut :
Karmawibhangga
Sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut
menggambarkan hukum karma. Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap
pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai korelasi sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi
gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga
perbuatan baik manusia dan pahala. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam
lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah
yang akan diakhiri untuk menuju kesempurnaan.
Lalitawistara
Merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang
lengkap ) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari sorga Tusita, dan berakhir dengan wejangan pertama di
Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui
deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan
kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir
Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini
sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief
tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai
Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma
dilambangkan sebagai roda.
Jataka dan Awadana
Jataka adalah cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan
pokok penonjolan perbuatan baik, yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga.
Sesungguhnya, pengumpulan jasa/perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat
ke-Buddha-an.
Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa,
melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitabDiwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan,
dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur jataka dan awadana,
diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling
terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura
dan jang hidup dalam abad ke-4 Masehi.
Gandawyuha
Merupakan deretan relief menghiasi dinding lorong ke-2,adalah cerita Sudhana yang berkelana tanpa mengenal
lelah dalam usahanya mencari Pengetahuan Tertinggi tentang Kebenaran Sejati oleh Sudhana. Penggambarannya
dalam 460 pigura didasarkan pada kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan untuk bagian
penutupnya berdasarkan cerita kitab lainnya yaitu Bhadracari.
2.4 Tahapan pembangunan Borobudur
 Tahap pertama
Masa pembangunan Borobudur tidak diketahui pasti (diperkirakan antara 750 dan 850 M). Pada awalnya
dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah.
Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar.
 Tahap kedua
Pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung
diberikan stupa induk besar.
 Tahap ketiga
Undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran.
Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.
 Tahap keempat
Ada perubahan kecil seperti pembuatan relief perubahan tangga dan lengkung atas pintu.
BAB III
TINJAUAN KHUSUS

3.1 Landasan Teori

Candi ini selama berabad-abad tidak lagi digunakan karena letusan gunung berapi sebagian besar bangunan Candi
Borobudur tertutup tanah vulkanik dan semak belukar selama berabad-abad. Pada tahun 1853, seluruh area candi
sudah bersih digali setelah Indonesia merdeka pada tahun 1959 pemerintah Indonesia meminta bantuan UNESCO
namun pembugaran ini dilakukan pada tanggal 10 Agustus 1972 dan selesai pada tahun 1984 menurut H.C.
Cornelius seorang insinyur belanda yang menyelidiki lokasi penemuan Candi Borobudur dan ikut membantu dalam
penebangan pohon yang menutupi Candi Borobudur. Cornelius sangat tertarik dengan candi ini dikarenakan
bangunan ini mempunyai nilai sejarah yang tinggi ditambah lagi dengan bentuk bangunan yang bagus, tinggi,
besar, dan mempunyai relief-relief yang indah serta patung budha yang cukup banyak. Inilah yang menjadi daya
tarik masyarakat.

3.2 Pemecahan Masalah

Candi Borobudur yang terletak di kabupaten Magelang, sangat membantu sekali dalam pendidikan. Karena dengan
adanya Candi Borobudur masyarakat dapat mengenal budaya sejarah Indonesia, oleh karena itu Candi Borobudur
menjadi Warisan Budaya Indonesia yang sangat membantu bagi pendidikan penelitian dan pariwisata. Dengan ini
maka kita sebagai bangsa Indonesia harus menjaga warisan budaya yang kita miliki agar anak cucu kita dapat

BAB IV
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Candi Borobudur merupakan salah satu dari tujuh keajaiban dunia yang sampai saat ini menjadi pusat
perhatian masyarakat dunia, baik dari segi keparawisataan,arkeologi dan pengetahuan. Maka dari itu kita harus
menjaga dan mengenalnya lebih jauh.

3.2 Saran
Mengelilingi Candi Borobudur tentu sangat melelahkan. Namun kelelahan itu akan terbayar setimpal
dengan keindahan yang akan kita dapatkan. Dan didalam area Candi Borobudur banyak ditumbuhi pohon yang
rindang, itu dapat digunakan untuk bersantai ria melepas kelelahan. Bila anda pergi ke Yogyakarta jangan lupa
untuk mampir ke Borobudur yang begitu indah dan eksotik karena didalamnya banyak sekali ilmu pengetahuan
yang kita dapat.
DAFTAR PUSTAKA

Panitia pembuatan karya tulis.2011.Petunjuk Pelaksanaan Studi Praktek Lapangan.SMA N 2 Pringsewu


Badrika wayan.2000.Sejarah Peninggalan Indonesia.Jakarta:Erlangga
Matroji.2004.Sejarah Indonesia.Jakarta:Erlangga
Soedirman.1980.Borobudur Salah Satu Keajaiban Dunia:Yogyakarta:Pustaka Jaya
Sukmono.1981.Candi Borobudur Pustaka Umat Manusia.Yogyakarta:Pustaka Jaya
MoerTjipto, Drs Borobudur, Pawon Dan Mendut, Kanisus Yogyakarta 1993

Anda mungkin juga menyukai