Anda di halaman 1dari 60

LAPORAN MINI PROJECT

Pengaruh Pengetahuan dan Perilaku Pengelolaan DM terhadap Kadar Gula Darah di Wilayah Kerja Puskesmas Pasundan Periode Juli Agustus 2018.

Diajukan dalam rangka praktik klinis dokter internsip sekaligus sebagai bagian dari persyaratan menyelesaikan Program Internsip Dokter Indonesia di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda

Dokter Indonesia di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda Disusun oleh: dr. Sri Handawati Wijaya Pendamping: dr. Deni

Disusun oleh:

dr. Sri Handawati Wijaya

Pendamping:

dr. Deni Wardani

Penanggung Jawab dr. Panuturi Ratih E. T. S

PROGRAM DOKTER INTERNSIP INDONESIA KALIMANTAN TIMUR KOTA SAMARINDA

2019

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur bagi Tuhan YME atas Berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan mini project dengan judul “Pengaruh Pengetahuan dan Perilaku Pengelolaan DM terhadap Kadar Gula Darah di Wilayah Kerja Puskesmas Pasundan Periode Juli Agustus

2019”. Laporan ini disusun berdasarkan hasil mini project yang telah dilakukan dan merupakan salah satu tugas dokter internsip yang bertugas di Puskesmas Pasundan. Dalam proses penyusunan laporan ini, penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. dr. Panuturi Ratih E. T. Sinaga selaku Kepala Puskesmas Pasundan Kota Samainda.

2. Pak Didik Sutrisno selaku Kepala Tata Usaha Puskesmas Pasundan Kota Samarinda.

3. dr. Deni Wardani selaku Pendamping Internsip Puskesmas Pasundan Kota Samarinda.

4. Petugas medis dan non-medis di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda.

5. Kader-kader Posyandu di wilayah kerja Puskesmas Pasundan Kota Samarinda, terutama kader RT.25 dan 26 Kelurahan Jawa Kota Samarinda.

6. Teman-teman Internsip senasib dan sepenanggungan: dr. Putri, dr. Nico , dr. Marthin, dr.

Andhika, dan dr. Deka yang selalu memberikan semangat dan motivasi serta keceriaan sehingga penulis selalu bersemangat menjalani masa-masa Internsip di Puskesmas Pasundan Kota Samarinda. Penulis menyadari bahwa penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu, penulis membuka diri untuk menerima kritik dan saran yang membangun. Akhirnya penulis berharap semoga tulisan ini dapat bermanfaat, baik untuk penulis pribadi maupun para pembaca.

Samarinda, 26 Agustus 2019

Penulis

1.1 Latar Belakang

BAB I PENDAHULUAN

Berdasarkan definisi American Diabetes Association (ADA) 2016, DM merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan

sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. 1 DM dapat ditetapkan berdasarkan kriteria diagnosis baik oleh pedoman ADA 2016 ataupun konsensus Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) 2015. Kriteria diagnosis DM berdasarkan ADA 2016, antara lain: 1

1. Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥126 mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam, atau

2. Pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban glukosa 75 gram, atau

3. Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dl dengan gejala klasik DM (poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya), atau

4. Pemeriksaan HbA1c ≥6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh

National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP). Menurut data WHO tahun 2015, sekitar 415 juta orang dewasa menderita diabetes, jumlah ini adalah empat kali lipat dari jumlah penderita diabetes di tahun 1980an. Presentase

orang dewasa dengan diabetes adalah 8,5% dimana 1 diantara 11 orang dewasa menderita diabetes. Hampir 80% orang dengan diabetes ada di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Asia Tenggara sendiri, terdapat 96 juta orang dewasa dengan diabetes pada tahun 2014 dan setengahnya tidak terdiagnosis dengan diabetes. Indonesia menempati negara ke-7 di dunia dengan prevalensi diabetes tertinggi pada tahun 2015 dengan estimasi jumlah penderita diabetes sebesar 10 juta. 2 Menurut RISKESDAS 2018, prevalensi diabetes melitus (DM) berdasarkan diagnosis dokter pada usia ≥ 15 tahun meningkat menjadi 2%. Kalimantan Timur merupakan kota ketiga terbanyak penderita DM yakni sekitar 3,1%. 3 Berdasarkan data di atas, penulis tertarik untuk melihat hubungan tingkat pengetahuan pengelolaan DM terhadap pengendalian kadar glukosa darah pasien DM di wilayah kerja Puskesmas Pasundan, Samarinda.

1.2 Rumusan Masalah

1.2.2

Bagaimana perilaku pengelolaan DM pada pasien DM di Puskesmas Pasundan?

1.2.3

Bagaimana pengaruh pengetahuan pengelolaan DM terhadap kadar gula darah pasien DM di Puskesmas Pasundan?

1.2.4

Bagaimana pengaruh perilaku pengelolaan DM terhadap kadar gula darah pasien DM

di

Puskesmas Pasundan?

1.3

Tujuan Penelitian

1.3.1

Mengetahui tingkat pengetahuan pengelolaan DM pada pasien DM di puskesmas Pasundan.

1.3.2

Mengetahui perilaku pasien DM dalam mewujudkan pilar pengelolaan DM di puskesmas Pasundan.

1.3.3

Mengetahu pengaruh pengetahuan pengelolaan DM terhadap kadar gula darah pasien DM di puskesmas pasundan

1.3.4

Mengetahu pengaruh perilaku pengelolaan DM terhadap kadar gula darah pasien DM

di

puskesmas pasundan

1.4

Manfaat Penelitian

1.4.1

Manfaat Bagi Puskesmas

a.

Membantu Puskesmas menyukseskan keteraturan berobat pasien DM dalam rangka memenuhi target Indonesia Sehat.

1.4.2

Manfaat Aplikatif dan Ilmiah

a.

Meningkatkan pengalaman dan keterampilan penulis dalam menganalisis persoalan yang ada di masyarakat dan melakukan upaya intervensi.

b.

Sebagai sarana pembelajaran dan aplikasi dari ilmu pengetahuan yang telah diperoleh selama pendidikan kedokteran khususnya dalam bidang kesehatan masyarakat.

c.

Sebagai pemenuhan tugas dalam menjalankan program internsip dokter Indonesia

1.4.3

Manfaat Bagi Masyarakat

a.

Memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pengobatan secara teratur pada penderita DM.

b.

Memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai diabetes melitus dan pengelolaan diabetes melitus yang dapat dilakukan penderita diabetes melitus.

c.

Meningkatkan peran serta masyarakat dalam upaya peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA DIABETES MELITUS

A. Definisi

Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin, kerja insulin atau keduanya. 1,4

B. Klasifikasi 1 Diabetes melitus dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:

1. Diabetes melitus tipe 1, yakni diabetes melitus yang disebabkan oleh kurangnya produksi insulin oleh pankreas.

2. Diabetes melitus tipe 2, yang disebabkan oleh resistensi insulin, sehingga penggunaan insulin oleh tubuh menjadi tidak efektif.

3. Diabetes gestasional, adalah hiperglikemia yang pertama kali ditemukan saat kehamilan.

4. Tipe diabetes spesifik lainnya, seperti: sindrom monogenik diabetes pada neonatus dan

maturity-onset diabetes of the young (MODY), penyakit pada eksokrin pankreas (fibrosis kistik), dan akibat pemakaian obat-obatan (kortikosteroid). Selain tipe-tipe diabetes melitus, terdapat pula keadaan yang disebut prediabetes. Kadar glukosa darah seorang pasien prediabetes akan lebih tinggi dari nilai normal, namun belum cukup tinggi untuk didiagnosis sebagai diabetes melitus. Yang termasuk dalam keadaan prediabetes adalah Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) dan Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT).

C. Patofisiologi

Diabetes melitus tipe 1 5 Pada DM tipe I (DM tergantung insulin (IDDM), sebelumnya disebut diabetes juvenilis), terdapat kekurangan insulin absolut sehingga pasien membutuhkan suplai insulin dari luar. Keadaan ini disebabkan oleh lesi pada sel beta pankreas karena mekanisme autoimun, yang pada keadaan tertentu dipicu oleh infeksi virus. DM tipe I terjadi lebih sering pada pembawa antigen HLA tertentu (HLA-DR3 dan HLA-DR4), hal ini terdapat disposisi genetik. DM tipe 1, diabetes anak-anak (bahasa Inggris: childhood-onset diabetes, juvenile diabetes, insulin- dependent diabetes mellitus, IDDM) adalah diabetes yang terjadi karena berkurangnya rasio insulin dalam sirkulasi darah akibat defek sel beta penghasil insulin pada pulau-pulau

Langerhans pankreas. IDDM dapat diderita oleh anak-anak maupun orang dewasa, namun lebih sering didapat pada anak anak.

Diabetes Melitus tipe 2 Pada DM tipe II (DM yang tidak tergantung insulin (NIDDM), sebelumnya disebut dengan DM tipe dewasa) merupakan diabetes yang paling sering terjadi. Pada tipe ini, selain faktor lingkungan, disposisi genetik juga berperan penting. Namun terdapat defisiensi insulin

relatif; pasien tidak mutlak bergantung pada suplai insulin dari luar. Pelepasan insulin dapat normal atau bahkan meningkat, tetapi organ target memiliki sensitifitas yang berkurang terhadap insulin. Sebagian besar pasien DM tipe II memiliki berat badan berlebih. Obesitas terjadi karena disposisi genetik, asupan makanan yang terlalu banyak, dan aktifitas fisik yang terlalu sedikit. Ketidakseimbangan antara suplai dan pengeluaran energi meningkatkan konsentrasi asam lemak di dalam darah. Hal ini selanjutnya akan menurunkan penggunaan glukosa di otot dan jaringan lemak. Akibatnya, terjadi resistensi insulin yang memaksa untuk meningkatan pelepasan insulin. Akibat regulasi menurun pada reseptor, resistensi insulin semakin meningkat. Obesitas merupakan pemicu yang penting, namun bukan merupakan penyebab tunggal DM tipe II. Penyebab yang lebih penting adalah adanya disposisi genetik yang menurunkan sensitivitas insulin. Sering kali, pelepasan insulin selalu tidak pernah normal. Beberapa gen telah diidentifikasi sebagai gen yang menigkatkan terjadinya obesitas dan DM tipe II. Diantara beberapa faktor, kelainan genetik pada protein yang memisahkan rangkaian di mitokondria membatasi penggunaan substrat. Jika terdapat disposisi genetik yang kuat, DM tipe II dapat terjadi pada usia muda. Penurunan sensitivitas insulin terutama mempengaruhi efek insulin pada metabolisme glukosa, sedangkan pengaruhnya pada metabolisme lemak dan protein dapat dipertahankan dengan baik. Jadi, DM tipe II cenderung menyebabkan hiperglikemia berat tanpa disertai gangguan metabolisme lemak. 5 Selain faktor genetik, DM tipe 2 juga dapat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, antara lain: 4,5

1. Riwayat keluarga inti menderita diabetes tipe 2 (orang tua atau kakak atau adik)

2. Tekanan darah tinggi (>140/90 mm Hg)

3. Dislipidemia: kadar trigliserida (lemak) dalam darah yang tinggi (>150mg/dl) atau kadar kolesterol HDL <40mg/dl

5.

Riwayat menderita diabetes gestasional atau riwayat melahirkan bayi dengan berat lahir lebih dari 4.500 gram

6. Makanan tinggi lemak dan tinggi kalori

7. Gaya hidup tidak aktif (sedentary)

8. Obesitas atau berat badan berlebih (berat badan 120% dari berat badan ideal)

9. Usia tua, di mana risiko mulai meningkat secara signifikan pada usia 45 tahun

10. Riwayat menderita polycystic ovarian syndrome, di mana terjadi juga resistensi insulin

Faktor-faktor di atas dapat menimbulkan resistensi insulin hingga defek sekresi insulin. Pada saat yang sama, gabungan resistensi insulin dan defek sekresi insulin menimbulkan keadaan hiperglikemia. Pada kondisi ini tubuh tidak dapat lagi mempertahankan kadar glukosa darah normal. Kondisi hiperglikemia dapat dibedakan menjadi 2, yaitu: kondisi prediabetes (TGT dan GDPT) dan DM. 4

Diabetes Melitus Gestasional Diabetes gestasional disebabkan oleh perubahan hormonal yang terjadi selama kehamilan. Peningkatan kadar beberapa hormon yang dihasilkan plasenta membuat sel-sel tubuh menjadi kurang responsif terhadap insulin (resistensi insulin). Karena plasenta terus berkembang selama kehamilan, produksi hormonnya juga semakin banyak dan memperberat resistensi insulin yang telah terjadi. Biasanya, pankreas pada ibu hamil dapat menghasilkan insulin yang lebih banyak (sampai 3x jumlah normal) untuk mengatasi resistensi insulin yang terjadi. Namun, jika jumlah insulin yang dihasilkan tetap tidak cukup, kadar glukosa darah akan meningkat dan menyebabkan diabetes gestasional. Kebanyakan wanita yang menderita diabetes gestasional akan memiliki kadar gula darah normal setelah melahirkan bayinya. Namun, mereka memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita diabetes gestasional pada saat kehamilan berikutnya dan untuk menderita diabetes tipe 2 di kemudian hari. 5

Diabetes Tipe Lain Defisiensi insulin relatif juga dapat disebabkan oleh kelainan yang sangat jarang pada biosintesis insulin, reseptor insulin atau transmisi intrasel. Bahkan tanpa ada disposisi genetik, diabetes dapat terjadi pada perjalanan penyakit lain, seperti pancreatitis dengan kerusakan sel beta atau karena kerusakan toksik di sel beta. DM ditingkatkan oleh peningkatan pelepasan hormon antagonis, diantaranya, somatotropin (pada akromegali), glukokortikoid (pada penyakit Cushing atau stress), epinefrin (pada stress), progestogen dan kariomamotropin (pada kehamilan), ACTH, hormone tiroid dan glucagon. Infeksi yang berat meningkatkan pelepasan

beberapa hormon yang telah disebutkan di atas sehingga meningkatkan manifestasi DM. Somatostatinoma dapat menyebabkan diabetes karena somatostatin yang diekskresikan akan menghambat pelepasan insulin. (Silabernagi,2002)

D.

Diagnosis DM ditegakkan atas dasar pemeriksaan kadar glukosa darah. Pemeriksaan glukosa darah yang dianjurkan adalah pemeriksaan glukosa secara enzimatik dengan bahan

darah plasma vena. Penggunaan bahan darah utuh (whole blood), vena, ataupun kapiler tetap dapat dipergunakan dengan memperhatikan angka-angka kriteria diagnostik yang berbeda sesuai pembakuan oleh WHO. Sedangkan untuk tujuan pemantauan hasil pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan glukosa darah kapiler dengan glukometer. Kriteria diagnosis DM berdasarkan ADA 2016, antara lain: 1,6

1. Pemeriksaan glukosa plasma puasa ≥126 mg/dl. Puasa adalah kondisi tidak ada asupan kalori minimal 8 jam, atau

2. Pemeriksaan glukosa plasma ≥200 mg/dl 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) dengan beban glukosa 75 gram, atau

3. Pemeriksaan glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dl dengan gejala klasik DM (poliuria, polidipsia, polifagia dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan sebabnya), atau

4. Pemeriksaan HbA1c ≥6,5% dengan menggunakan metode yang terstandarisasi oleh

National Glycohaemoglobin Standarization Program (NGSP). Hasil pemeriksaan yang tidak memenuhi kriteria normal atau kriteria DM digolongkan ke dalam kelompok pre diabetes yang meliputi: toleransi glukosa terganggu (TGT) dan glukosa

darah puasa terganggu (GDPT). 6

1. Glukosa Darah Puasa Terganggu (GDPT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma puasa antara

Diagnosis

100-125 mg/dl dan pemeriksaan TTGO glukosa plasma 2-jam <140 mg/dl;

2. Toleransi Glukosa Terganggu (TGT): Hasil pemeriksaan glukosa plasma 2 -jam setelah

TTGO antara 140-199 mg/dl dan glukosa plasma puasa <100 mg/dl.

3. Bersama-sama didapatkan GDPT dan TGT

4. Diagnosis pre diabetes dapat juga ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan HbA1c yang menunjukkan angka 5,7-6,4%.

TTGO adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan memberikan larutan glukosa khusus untuk diminum. Sebelum meminum larutan tersebut akan dilakukan pemeriksaan kadar glukosa darah, lalu akan diperiksa kembali 1 jam dan 2 jam setelah meminum larutan tersebut.

Tabel 1. Kadar Tes Laboratorium Darah untuk Diagnosis DM dan Prediabetes 6

 

HbA1c(%)

GDP (mg/dL)

Glukosa Plasma 2 jam setelah TTGO (mg/dL)

Diabetes

≥6,5

≥126 mg/dL

≥200 mg/dL

Prediabetes

5,7-6,4

100-125

140-199

Normal

<5,7

<100

<140

Tabel 2. Kadar glukosa darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring dan diagnosis DM 6

Kadar Gula Darah

Bukan DM

Belum pasti DM

DM

Sewaktu

Plasma vena

<100

100 199

≥200

(mg/dL)

Darah kapiler

<90

90 199

≥200

Puasa (mg/dL)

Plasma vena

<100

100 125

≥126

Darah kapiler

<90

90 99

≥100

E. Komplikasi 7 Komplikasi Akut Keadaan yang termasuk dalam komplikasi akut DM adalah ketoasidosis diabetik (KAD) dan Status Hiperglikemi Hiperosmolar (SHH). Pada dua keadaan ini kadar glukosa darah sangat tinggi (pada KAD 300-600 mg/dL, pada SHH 600-1200 mg/dL), dan pasien biasanya tidak sadarkan diri. Karena angka kematiannya tinggi, pasien harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan yang memadai. Keadaan hipoglikemia juga termasuk dalam komplikasi akut DM, di mana terjadi penurunan kadar glukosa darah sampai < 60 mg/dL. Pasien DM yang tidak sadarkan diri harus dipikirkan mengalami keadaan hipoglikemia. Hal-hal yang dapat menyebabkan terjadinya hipoglikemia misalnya pasien meminum obat terlalu banyak (paling sering golongan sulfonilurea) atau menyuntik insulin terlalu banyak, atau pasien tidak makan setelah minum obat atau menyuntik insulin. Gejala hipoglikemia antara lain banyak berkeringat, berdebar- debar, gemetar, rasa lapar, pusing, gelisah, dan jika berat, dapat hilang kesadaran sampai koma.

Jika pasien sadar, dapat segera diberikan minuman manis yang mengandung glukosa. Jika keadaan pasien tidak membaik atau pasien tidak sadarkan diri harus segera dibawa ke rumah sakit untuk penanganan dan pemantauan selanjutnya.

Komplikasi Kronis Penyakit DM yang tidak terkontrol dalam waktu lama akan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah dan saraf. Pembuluh darah yang dapat mengalami kerusakan dibagi

menjadi dua jenis, yakni pembuluh darah besar dan kecil. Yang termasuk dalam pembuluh darah besar antara lain:

a. Pembuluh darah jantung, yang jika rusak akan menyebabkan penyakit jantung koroner dan serangan jantung mendadak

b. Pembuluh darah tepi, terutama pada tungkai, yang jika rusak akan menyebabkan luka

iskemik pada kaki

c. Pembuluh darah otak, yang jika rusak akan dapat menyebabkan stroke. Kerusakan pembuluh darah kecil (mikroangiopati) misalnya mengenai pembuluh darah retina dan dapat menyebabkan kebutaan. Selain itu, dapat terjadi kerusakan pada pembuluh darah ginjal yang akan menyebabkan nefropati diabetikum. Saraf yang paling sering rusak adalah saraf perifer, yang menyebabkan perasaan kebas atau baal pada ujung-ujung jari. Karena rasa kebas, terutama pada kakinya, maka pasien DM sering kali tidak menyadari adanya luka pada kaki, sehingga meningkatkan risiko menjadi luka yang lebih dalam (ulkus kaki) dan perlunya melakukan tindakan amputasi. Selain kebas, pasien mungkin juga mengalami kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri, lebih terasa sakit di malam hari serta kelemahan pada tangan dan kaki. Pada pasien yang mengalami kerusakan saraf perifer, maka harus diajarkan mengenai perawatan kaki yang memadai sehingga mengurangi risiko luka dan amputasi. Gangren diabetik akibat mikroangiopatik disebut juga gangren panas karena walaupun nekrosis, daerah akral itu tampak merah dan terasa hangat oleh peradangan, dan biasanya teraba pulsasi arteri di bagian distal. Biasanya terdapat ulkus diabetik pada telapak kaki.

F. Penatalaksanaan Tujuan tatalaksana pasien DM secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang DM. Tujuan jangka pendek dari tatalaksana DM, yakni: menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, dan mengurangi risiko komplikasi akut. Tujuan jangka panjangnya antara lain: mencegah dan menghambat progesivitas penyulit mikroangiopati dan

makroangiopati. Sehingga tujuan akhirnya adalah menurnkan morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai tujuan ini diperlukan pengelolaan pasien secara komperhensif. 6 Tatalaksana DM dimulai dengan menerapkan pola hidup sehat (terapi nutrisi medis dan

aktivitas fisik) bersamaan dengan intervensi farmakologis dengan obat anti hiperglikemia oral dan atau suntikan.

1. Terapi Nutrisi Medis dan Aktifitas Fisik

Pada pasien DM tipe 2, tatalaksana diawali dengan mengubah gaya hidup yakni melakukan pola makan sehat dan meningkatkan aktivitas fisik sehingga tercapai berat badan ideal. Jika dalam 2-4 minggu kadar glukosa darah tetap tidak mencapai target, maka harus diberikan satu macam obat hipoglikemik oral (OHO) untuk membantu menurunkan kadar glukosa darah. Jika kadar glukosa darah tetap belum mencapai sasaran, maka dapat ditambahkan satu macam OHO lagi atau ditambahkan suntikan insulin. 5 Pada pasien DM, diet merupakan aspek penting untuk mengontrol peningkatan kadar glukosa darah. ADA menganjurkan diet seimbang dan bernutrisi yang rendah lemak, kolesterol serta gula sederhana. Saat ini ADA bahkan telah melarang konsumsi gula sederhana kecuali dalam jumlah kecil dan dikonsumsi bersama dengan makanan kompleks. Penurunan berat badan dan olah raga sangatlah penting karena akan meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap insulin, sehingga membantu mengontrol peningkatan kadar glukosa darah. Olah raga yang bersifat aerobik seperti jalan kaki, bersepeda santai, jogging, dan berenang dianjurkan dilakukan secara teratur selama 30 menit, 3-4 kali seminggu. Selain itu aktivitas sehari-hari dapat tetap dilakukan seperti berkebun, membersihkan rumah, berjalan ke pasar dan naik turun tangga. Yang harus diperhatikan di sini, untuk pasien DM tipe 2 yang sudah memiliki komplikasi pada mata atau kaki harus dilakukan penyesuaian pada aktivitas fisiknya. 5 Perencanaan makanan pada penderita diabetes melitus masih tetap merupakan pengobatan utama pada penatalaksanaan DM, meskipun sudah sedemikian majunya riset di bidang pengobatan diabetes dengan ditemukannya berbagai jenis insulin dan obat oral yang mutakhir. Penentuan gizi penderita ditentukan berdasarkan persentase Berat Badan Relatif (BBR). 5

BB BBR = -------- x 100% (BB: Kg, TB: cm) TB 100

Kriteria:

Kurus (underweight)

: BBR < 90%

Normal (ideal)

: BBR 90 110%

Gemuk (overweight)

: BBR > 110%

Obesitas

: BBR > 120%

Prinsip pengaturan makan pada penyandang DM hampir sama dengan anjuran makan untuk

masyarakat umum, yaitu makanan yang seimbang dan sesuai dengan kebutuhan kalori dan zat

gizi

pentingnya keteraturan jadwal makan, jenis dan jumlah kandungan kalori, terutama pada

mereka yang menggunakan obat yang meningkatkan sekresi insulin atau terapi insulin itu sendiri. 6

a. Komposisi Makanan yang Dianjurkan terdiri dari: 6

1.) Karbohidrat

individu. Penyandang DM perlu diberikan penekanan mengenai

masing-masing

Karbohidrat yang dianjurkan sebesar 45-65% total asupan energi. Terutama karbohidrat yang berserat tinggi.

Pembatasan karbohidrat total <130 g/hari tidak dianjurkan.

Glukosa dalam bumbu diperbolehkan sehingga penyandang diabetes dapat makan sama dengan makanan keluarga yang lain.

Sukrosa tidak boleh lebih dari 5% total asupan energi.

Pemanis alternatif dapat digunakan sebagai pengganti glukosa, asal tidak melebihi batas aman konsumsi harian (Accepted Daily Intake/ADI).

Dianjurkan makan tiga kali sehari dan bila perlu dapat diberikan makanan selingan seperti buah atau makanan lain sebagai bagian dari kebutuhan kalori sehari. 2.) Lemak

Asupan lemak dianjurkan sekitar 20-25% kebutuhan kalori, dan tidak diperkenankan melebihi 30% total asupan energi.

Komposisi yang dianjurkan, antara lain:

Lemak jenuh < 7 % kebutuhan kalori.

Lemak tidak jenuh ganda < 10 %.

Selebihnya dari lemak tidak jenuh tunggal.

Bahan makanan yang perlu dibatasi adalah yang banyak mengandung lemak jenuh dan lemak trans antara lain: daging berlemak dan susu full cream.

Konsumsi kolesterol dianjurkan < 200 mg/hari.

3.) Protein

Kebutuhan protein sebesar 10 20% total asupan energi.

Sumber protein yang baik adalah ikan, udang, cumi, daging tanpa lemak, ayam tanpa kulit, produk susu rendah lemak, kacang-kacangan, tahu dan tempe.

Pada pasien dengan nefropati diabetik perlu penurunan asupan protein menjadi 0,8 g/kg BB perhari atau 10% dari kebutuhan energi, dengan 65% diantaranya bernilai biologik tinggi. Kecuali pada penderita DM yang sudah menjalani hemodialisis asupan protein menjadi 1-1,2 g/kg BB perhari. 4.) Natrium

Anjuran asupan natrium untuk penyandang DM sama dengan orang sehat yaitu <2300 mg perhari.

Penyandang DM yang juga menderita hipertensi perlu dilakukan pengurangan natrium secara individual.

Sumber natrium antara lain adalah garam dapur, vetsin, soda, dan bahan pengawet seperti natrium benzoat dan natrium nitrit. 5.) Serat

Penyandang DM dianjurkan mengonsumsi serat dari kacang-kacangan, buah dan sayuran serta sumber karbohidrat yang tinggi serat.

Anjuran konsumsi serat adalah 20-35 gram/hari yang berasal dari berbagai sumber bahan makanan. 6.) Pemanis Alternatif

Pemanis alternatif aman digunakan sepanjang tidak melebihi batas aman (Accepted Daily Intake/ADI).

Pemanis alternatif dikelompokkan menjadi pemanis berkalori dan pemanis tak berkalori.

Pemanis berkalori perlu diperhitungkan kandungan kalorinya sebagai bagian dari kebutuhan kalori, seperti glukosa alkohol dan fruktosa.

Glukosa alkohol antara lain isomalt, lactitol, maltitol, mannitol, sorbitol dan xylitol.

Fruktosa tidak dianjurkan digunakan pada penyandang DM karena dapat meningkatkan kadar LDL, namun tidak ada alasan menghindari makanan seperti buah dan sayuran yang mengandung fruktosa alami.

Pemanis tak berkalori termasuk: aspartam, sakarin, acesulfame, potassium, sukralose, neotame.

b. Kebutuhan Kalori 6 Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan penyandang DM, antara lain dengan memperhitungkan kebutuhan kalori basal yang besarnya 25-30 kal/kgBB ideal. Jumlah kebutuhan tersebut ditambah atau dikurangi bergantung pada beberapa faktor yaitu: jenis kelamin, umur, aktivitas, berat badan, dan lain-lain.

Kebutuhan Kalori Berdasarkan Aktivitas Fisik atau Pekerjaan 6

Kebutuhan kalori dapat ditambah sesuai dengan intensitas aktivitas fisik.

Penambahan sejumlah 10% dari kebutuhan basal diberikan pada keadaan istirahat.

Penambahan sejumlah 20% pada pasien dengan aktivitas ringan: pegawai kantor, guru, ibu rumah tangga.

Penambahan sejumlah 30% pada aktivitas sedang: pegawai industri ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak perang.

Penambahan sejumlah 40% pada aktivitas berat: petani, buruh, atlet, militer dalam keadaan latihan.

Penambahan sejumlah 50% pada aktivitas sangat berat: tukang becak, tukang gali.

Kebutuhan Kalori Berdasarkan Jenis Kelamin 6 Kebutuhan kalori basal perhari untukperempuan sebesar 25 kal/kgBB sedangkan untuk pria sebesar 30 kal/kgBB.

Kebutuhan Kalori Berdasarkan Usia 6

Pasien usia >40 tahun, kebutuhan kalori dikurangi 5% untuk setiap dekade antara 40 dan 59 tahun.

Pasien usia 60 - 69 tahun, dikurangi 10%.

Kebutuhan Kalori Berdasarkan Berat Badan 6

Penyandang DM yang gemuk, kebutuhan kalori dikurangi sekitar 20-30% tergantung kepada tingkat kegemukan.

Penyandang DM kurus, kebutuhan kalori ditambah sekitar 20-30% sesuai dengan kebutuhan untuk meningkatkan BB.

Jumlah kalori yang diberikan paling sedikit 1000-1200 kal perhari untuk wanita dan 1200- 1600 kal perhari untuk pria.

Secara umum, makanan siap saji dengan jumlah kalori yang terhitung dan komposisi tersebut di atas, dibagi dalam 3 porsi besar untuk makan pagi (20%), siang (30%), dan sore (25%), serta 2-3 porsi makanan ringan (10-15%) di antaranya. Tetapi pada kelompok tertentu perubahan jadwal, jumlah dan jenis makanan dilakukan sesuai dengan kebiasaan. Untuk penyandang DM yang mengidap penyakit lain, pola pengaturan makan disesuaikan dengan penyakit penyerta.

2. Pemberian Obat Hipoglikemik Oral (OHO) 1,4 Tabel 3. Jenis Obat Hipoglikemik Oral yang tersedia di Indonesia. 4

Nama

Generik

Dosis

Lama

Harian

Waktu

 

Kerja

(Mg)

(Jam)

Sulfonilurea

Glibenclamid

2.5-20

2.5

1-2

Sebelum Makan

Glipizid

5-20

5

1-2

Glicazid

80-240

40

1-2

Gliquidon

30-120

15

1-3

Glimepiride

0.5 - 6

24

Biguanid

Metformin

250-3000

15

1-3

Bersama/Sesudah

 

Makan

Inhibitor α

Acarbose

100-300

50

1-3

Bersama

Glukosidase

Makanan

Tiazolidindion

Pioglitazone

15-45

24

1

Tidak Bergantung Jadwal Makan

DPP-IV

Vildagliptin

50-100

12-24

1-2

Tidak Bergantung

Inhibitor

Saxagliptin

25-100

24

1

Jadwal Makan

 

Linagliptin

5

24

1

SGLT-2

Dapagliflozin

5-10

24

1

Tidak Bergantung Jadwal Makan

Inhibitor

3. Pemberian Insulin

Pasien DM dianjurkan untuk berkonsultasi secara rutin ke dokter untuk mengontrol hasil pengobatan. Jika kadar glukosa darah belum mencapai angka yang diharapkan, maka dokter akan menyesuaikan dosis obat atau insulin yang diberikan. Selain itu, pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri oleh pasien dengan menggunakan glukometer. Pasien dapat mencatat hasil pemeriksaannya dan memberikannya kepada dokter saat berkonsultasi. Jika kadar glukosa darah sudah menjadi atau mendekati nilai normal dengan meminum obat atau insulin, pasien harus tetap meminum OHO atau memakai insulin sesuai dosis yang telah diberikan oleh dokter dan kembali berkonsultasi sesuai jadwal yang telah ditentukan. 6 Insulin diperlukan pada keadaan, seperti: HbA1c >9% dengan kondisi dekompensasi metabolik, penurunan BB yang cepat, hiperglikemia berat disertai ketosis, krisis hiperglikemia, gagal dengan kombinasi OHO optimal, stres berat (infeksi sistemik, operasi besar, infark miokard akut, stroke), kehamilan dengan DM yang tidak terkendali dengan perencanaan makan, gangguan ginjal atau hati yang berat, kontraindikasi atau alergi terhadap OHO. 6 Berdasarkan lama kerjanya, insulin dapat dibagi menjadi 5 jenis, yakni: 6 Tabel 4. Jenis Insulin Eksogen Berdasarkan Waktu Kerjanya

Jenis Insulin

Onset

Puncak Efek

Lama Kerja

Insulin Kerja Cepat (Rapid-acting)

 

Insulin Lispro (Humalog) Insulin Aspartat (Novorapid) Insulin Glulisin (Apidra)

5-15 menit

1-2 jam

4-6 jam

Insulin Kerja Pendek/Regular (Short-acting)

 

Humulin R

30-60 menit

2-4 jam

6-8 jam

Actrapid

Insulin Kerja Menengah (Intermediate-acting)

Humulin N

1,5-4 jam

4-10 jam

8-12 jam

Insulatard

Insuman Basal

Insulin Kerja Panjang (Long-acting)

 

Insulin Glargine (Lantus) Insulin Detemir (Levemir) Lantus 300 Degludec (Tresiba)

1-3 jam

Hampir Tanpa

12-24 jam

Puncak

Insulin Manusia Campuran

70/30 Humulin 70/30 Mixtard *(70% NPH, 30% Regular)

30-60 menit

3-12 jam

Insulin Analog Campuran

75/25 Humalogmix (75% protamin lispro, 25% lispro) 70/30 Novomix (70% Protamin, 30% aspartat) 50/50 premix

12-30 menit

1-4 jam

G. Monitoring 6 Pada praktik sehari-hari, hasil pengobatan DMT2 harus dipantau secara terencana dengan melakukan anamnesis, pemeriksaan jasmani, dan pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah:

1. Pemeriksaan Kadar Glukosa Darah

Tujuan pemeriksaan glukosa darah, yakni: untuk mengetahui apakah sasaran terapi telah tercapai, melakukan penyesuaian dosis obat, bila belum tercapai sasaran terapi. Waktu pelaksanaan pemeriksaan glukosa darah:

Pemeriksaan kadar glukosa darah puasa

Glukosa 2 jam setelah makan, atau

Glukosa darah pada waktu yang lain secara berkala sesuai dengan kebutuhan.

2.

Pemeriksaan HbA1c

Tes hemoglobin terglikosilasi, yang disebut juga sebagai glikohemoglobin, atau hemoglobin glikosilasi (disingkat sebagai HbA1c), merupakan cara yang digunakan untuk menilai efek perubahan terapi 8-12 minggu sebelumnya. Untuk melihat hasil terapi dan rencana perubahan terapi, HbA1c diperiksa setiap 3 bulan, atau tiap bulan pada keadaan HbA1c yang sangat tinggi (> 10%). Pada pasien yang telah mencapai sasran terapi disertai kendali glikemik yang stabil HbA1c diperiksa paling sedikit 2 kali dalam 1 tahun. HbA1c tidak dapat dipergunakan sebagai alat untuk evaluasi pada kondisi tertentu seperti: anemia, hemoglobinopati, riwayat transfusi darah 2-3 bulan terakhir, keadaan lain yang mempengaruhi umur eritrosit dan gangguan fungsi ginjal.

3. Pemantauan Glukosa Darah Mandiri (PGDM)

Pemantauan kadar glukosa darah dapat dilakukan dengan menggunakan darah kapiler. Saat ini banyak didapatkan alat pengukur kadar glukosa darah dengan menggunakan reagen kering yang sederhana dan mudah dipakai. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah memakai alat-alat tersebut dapat dipercaya sejauh kalibrasi dilakukan dengan baik dan cara pemeriksaan dilakukan sesuai dengan cara standar yang dianjurkan. Hasil pemantauan dengan cara reagen kering perlu dibandingkan dengan cara konvensional secara berkala. PGDM dianjurkan bagi pasien dengan pengobatan suntik insulin beberapa kali perhari atau pada pengguna obat pemacu sekresi insulin. Waktu pemeriksaan PGDM bervariasi, tergantung pada tujuan pemeriksaan yang pada umumnya terkait dengan terapi yang diberikan. Waktu yang dianjurkan adalah pada saat sebelum makan, 2 jam setelah makan (untuk menilai ekskursi glukosa), menjelang waktu tidur (untuk menilai risiko hipoglikemia), dan di antara siklus tidur (untuk menilai adanya hipoglikemia nokturnal yang kadang tanpa gejala), atau ketika mengalami gejala seperti hypoglycemic spells.

H. Kriteria Pengendalian DM

Kriteria pengendalian diasarkan pada hasil pemeriksaan kadar glukosa, kadar HbA1C, dan profil lipid. Definisi DM yang terkendali baik adalah apabila kadar glukosa darah, kadar

lipid, dan HbA1c mencapai kadar yang diharapkan, serta status gizi maupun tekanan darah sesuai target yang ditentukan. 6

Tabel 5. Sasaran Pengendalian DM 6

Parameter

Sasaran

IMT (kg/m 2 )

18,5 - <23

Tekanan darah sistolik (mmHg)

<140

Tekanan darah diastolik (mmHg)

<90

GD Puasa kapiler (mg/dL)

80-130

GD 1-2 jam PP kapiler (mg/dL)

<180

HbA1c (%)

<7 atau individual

LDL (mg/dL)

<100 (<70 bila very high risk CV)

HDL (mg/dL)

Laki-laki: >40 ; Perempuan: >50

Trigliserida (mg/dL)

<150

Edukasi dan Pengetahuan Penderita DM Edukasi diabetes telah menjadi komponen yang penting dalam manajemen diabetes sejak tahun 1930 dan hingga kini dalam inovasinya dikenal sebagai bagian integral dari manajemen penyakit kronis. Tujuan dari edukasi pada pasien DM yakni untuk mengoptimalisasi kontrol metabolik, mencegah komplikasi baik akut maupun kronis, meningkatkan kualitas hidup dengan mempengaruhi pengetahuan, sikap dan perilaku menjadi sehat. 7 Edukasi dapat dilakukan dengan berbagai metode. Booklet menjadi suatu media untuk menyampaikan pesan dalam bentuk buku, baik tulisan maupun gambar. Kelebihan individu dapat lebih jelas menerima informasi karena dilengkap tulisan dan gambar. Selain itu, design bisa lebih menarik disesuaikan dengan sasaran. Kekurangannya biaya pembuatan yang sedikit lebih mahal dibandingkan leaflet. 7 Pada penelitian yang dilakukan di kota Yogyakarta tahun 2016 mengenai metode booklet terhadap kepatuhan penyandang DM dalam regimen terapeutik pada 50 responden, dimana 10 responden laki-laki (20%) dan 40 responden perempuan (80%). Dari 50 responden diketahui pasien DM dengan gula darah puasa tidak terkontrol adalah sebanyak 24 orang (48%), sedangkan psien DM dengan gula darah puasa terkontrol sebanyak 26 orang (52%). Lebih lanjut dalam penelitian ini juga dilakukan uji t-paired test untuk melihat pengaruh booklet pada pengetahuan sebelum dan sesudan diberikan booklet. Hasil uji t-paired test didapatkan nilai p = 0,032 (p<0,05). Hal ini berarti terdapat pengaruh metode booklet dengan kepatuhan penderita DM. Presentase kepatuhan penderita DM mengalami peningkatan. Dimana pada hasil post test pertama dan kedua menunjukkan penurunan pada tingkat kepatuhan rendah dari 10% menjadi

0%, dan pada tingkat kepatuhan sedang dari 42% menjadi 30%. Sedangkan terdapat peningkatan pada pengetahuan tinggi dari 58% menjadi 70%. 7

Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Menurut Notoatmodjo (2007) pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang, sebab perilaku yang didasari dengan pengetahuan akan bertahan lama dibandingkan perilaku yang tidak didasari dengan pengetahuan. 8 Terdapat faktor faktor yang mempengaruhi pengetahuan menurut Notoatmodjo, antara

lain: 8

a. Pengalaman Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun oramg lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas pengetahuan seseorang.

b. Tingkat Pendidikan Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.

c. Keyakinan Biasanya keyakinan diperoleh secara turun menurun dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bisa mempengaruhi pengetahuan seseorang, baik keyakinan itu sifatnya positif maupun negatif.

d. Fasilitas

Fasilitas fasilitas sebagai sumber informasi yang dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio, televisi, majalah, koran, dan buku. Berdasarkan faktor di atas pendidikan menjadi faktor yang terikat dengan diri setiap orang yang paling mudah untuk dinilai dengan objektif. Pendidikan berhubungan erat dengan tingkat pengetahuan seseorang. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mudah untuk menerima informasi dan semakin tinggi kepatuhan pasien. Kepatuhan merupakan hal yang penting untuk dapat mengembangkan suatu kebiasaan atau rutinitas yang baik. 8 Dengan kata lain tingkat pendidikan dapat mempengaruhi pengetahuan pasien dan mempengaruhi kepatuhan pada pasien DM.

Berdasarkan penelitian antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan yang dilakukan di RSUD Sukohardjo. Dari 72 responden diketahui 27 responden (37,5%) memiliki pengetahuan rendah, 28 responden (38,9%) memiliki pengetahuan sedang dan 17 responden (23,6%) memiliki pengetahuan tinggi. Lebih lanjut dalam penelitian ini, sekitar 28 responden (38,9%) memiliki kepatuhan yang rendah sedang dan hanya sekitar 2 responden (6,7%) memiliki kepatuhan yang tinggi. Hasil uji korelasi yang dilakukan diketahui p = 0,000 (p <0,05) yang menunjukan bahwa ada hubungan antara pengetahuan tentang DM dengan kepatuhan responden dalam menjalani pengobatan. Penelitian lain yang dilakukan di RSUD AM. Parikesit tahun 2017 mengenai Pengetahuan dan Sikap terhadap salah satu pilar pengendalian DM menunjukan bahwa dai 100 responden di dapatkan nilai p=0,003 (p < 0,05), yang menyatakan adanya hubungan pengetahuan dan kepatuhan. 9

Perilaku Menurut Notoatmodjo, perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus terkait dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan. Hal yang paling penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku, yang mana merupakan tujuan dari pendidikan atau promosi kesehatan. Perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas orgaisme yang bersangkutan. Perilaku manusia hakekatnya adalah suatu aktivitas manusia itu sendiri. Oleh karena itu perilaku memiliki hubungan yang luas. Perilaku dapat dikatakan sebagai apa yang dikerjakan secara langsung atau tidak langsung. 8 Perilaku kesehatan adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan. Hal yang paling penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan dari pendidikan atau promosi kesehatan sebagai penunjang program kesehatan yang lainnya. 8 Menurut Lawrence Green dalam Notoatmodjo (2007), perilaku ddapat dipengaruhi oleh 3 faktor utama, antara lain:

a. Faktor predisposisi (predisposing factors) Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap masyarakat terhadap kesehatan, tradisi dan kepercayaan masyarakat terhadap hal- hal yang berkaitan dengan kesehatan,sistem nilai yang dianut masyarakat, tingkat pendidikan, tingkat sosial ekonomi, pekerjaan, dan sebagainya.

b. Faktor pendukung (enabling factors) Faktor-faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana atau fasilitas kesehatan bagi masyarakat, misalnya: air bersih, tempat pembuangan sampah, tempat pembuangan tinja, ketersediaan makanan bergizi, dsb. Termasuk juga fasilitas pelayanan kesehatan seperti puskesmas, rumah sakit, poliklinik, posyandu, polindes, pos obat desa, dokter atau bidan praktek swasta, dsb. Termasuk juga dukungan sosial, baik dukungan suami maupun keluarga.

c. Faktor penguat (reinforcing factors) Faktor-faktor ini meliputi faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat (toma), tokoh agama (toma), sikap dan perilaku pada petugas kesehatan. Termasuk juga disini undang-undang peraturan-peraturan baik dari pusat maupun dari pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. Pengukuran atau cara mengamati perilaku dapat dilakukan melalui dua cara, secara langsung, yakni dengan pengamatan (obsevasi), yaitu mengamati tindakan dari subyek dalam rangka memelihara kesehatannya. Sedangkan secara tidak langsung menggunakan metode mengingat kembali (recall). Metode ini dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan terhadap subyek tentang apa yang telah dilakukan berhubungan dengan obyek tertentu. 8

Tujuan Perilaku Kesehatan Pasien DM Menurut Notoatmodjo, perilaku kesehatan adalah suatu respon (organisme) terhadap stimulus atau obyek yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan. Dari batasan ini, perilaku pemeliharaan kesehatan ini terjadi 3 aspek, yaitu: 8

a. Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan bila sakit, serta pemeliharaan kesehatan jika sudah sembuh dari sakit.

b. Perilaku peningkatan kesehatan, apapbila seseorang dalam keadaan sehat.

c. Perilaku gizi (makanan) dan minuman.

Berdasarkan hasil konsesus PERKENI tahun 2015 perilaku pasien DM yang diharapkan meliputi: 6

a. Mengikuti pola makan sehat.

b. Meningkatkan kegiatan jasmani.

teratur.

d. Melakukan pemantauan gula darah mandiri dan memanfaatkan data yang ada.

e. Melakukan perawatan kaki secara berkala.

f. Memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami keadaan sakit akut dengan tepat.

g. Mempunyai keterampilan mengatasi masalah yang sederhana, dan mau bergabung dengan kelompok penyandang diabetes mellitus serta mengajak keluarga untuk mengerti pengelolaan diabetes.

h. Mampu memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN DAN KERANGKA KONSEP

3.1 Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah studi analitik dengan pendekatan kohort mengenai pengaruh pengetahuan dan perilaku terhadap pengelolaan kadar glukosa darah pasien DM di wilayah kerja Puskesmas Pasundan, Samarinda periode Juli Agustus 2019.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di dua RT di Kelurahan Jawa, Samarinda yakni RT 25 dan RT 26 pada 20 Juli 2019 dan di poliklinik umum dan lansia Puskesmas Pasundan

3.3

Populasi

3.3.1

Populasi Target Semua pasien DM yang di Kelurahan Jawa, Samarinda.

3.3.2

Populasi Terjangkau

Semua pasien DM di Kelurahan Jawa yang berobat ke poliklinik umum dan poliklinik lansia Puskesmas Pasundan, yang hadir pada saat intervensi tanggal 20 Juli 2019 dan saat kegiatan posyandu lansia tanggal 21 Juli 2019.

3.4

Kriteria Inklusi dan Eksklusi

3.4.1

Kriteria Inklusi

a. Penderita DM di RT 25 dan 26 Kelurahan Jawa yang hadir pada saat intervensi tanggal 20

Juli 2019 dan kegiatan posyandu lansia tanggal 21 Juli 2019.

b. Penderita DM di RT 25 dan RT 26 Kelurahan Jawa yang memiliki data glukosa darah

lengkap.

c. Penderita DM di wilayah kerja Puskesmas Pasundan yang bersedia mengisi kuesioner.

3.4.2 Kriteria Eksklusi

a. Penderita DM di RT 25 dan 26 Kelurahan Jawa yang tidak bersedia mengikuti penelitian.

b. Penderita DM di RT 25 dan 26 Kelurahan Jawa yang memiliki data glukosa darah tidak

lengkap.

c. Pengisian kuesioner yang tidak lengkap.

3.5 Sampel 3.5.1 Besar Sampel Besar sampel pada penelitian ini ditentukan dengan alat hitung besar sampel dari sample size calculator. Penggunaan alat hitung ini didasarkan dari perhitungan dengan menggunakan populasi minimal, besar sampel yang didapatkan adalah 53 orang.

minimal, besar sampel yang didapatkan adalah 53 orang. Gambar 1. Perhitungan Sample dengan Sample Size Calculator

Gambar 1. Perhitungan Sample dengan Sample Size Calculator 10

3.5.2 Teknik Pengambilan Sampel Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan non propability sampling

dimana peneliti mengambil sampel yang kebetulan ditemui hingga mencapai jumlah minimal sampel.

3.6

Variabel Penelitian

3.6.1

Variabel bebas: Pengetahuan dan Perilaku

3.7

Sumber Data

Sumber data pada penelitian ini terdiri dari data primer yang diperoleh peneliti dengan metode kuesioner yang diisi oleh responden dan data pemeriksaan gula darah puasa pada bulan Juli dan Agustus 2019. Data sekunder diambil dari catatan gula darah sewaktu maupun puasa saat bulan Juli - Agustus 2019 pasien DM di wilayah kerja Puskesmas Pasundan.

3.8

Definisi Operasional

3.8.1

Subyek Penelitian

Subyek penelitian adalah pasien DM yang memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi.

3.8.2

Kadar Glukosa Darah

4.8.2.1

Definisi

Glukosa darah adalah nilai glukosa darah yang diambil setelah puasa minimal 8 jam ataupun 2 jam setelah makan.

4.8.2.2

Alat Ukur Alat ukur yang digunakan adalah kriteria DM 2018 menurut ADA 2018, yakni:

Kadar glukosa plasma sewaktu ≥200 mg/dL + Gejala klasik DM Kadar glukosa plasma puasa ≥126 mg/dL Kadar gula plasma 2 jam setelah Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO) ≥200 mg/dL Pemeriksaan HbA1C ≥ 6.5%

4.8.2.3

Cara Ukur

Cara ukur dengan melihat catatan gula darah bulan Juli dari rekam medis dan pemeriksaan pasien kadar gula darah dengan glukometer saat intervensi dilakukan.

4.8.2.4

Hasil Ukur Hasil pengukuran diukur berdasarkan kode:

 

Terkontrol = 1 Tidak Terkontrol = 2

3.8.3

Tingkat Pengetahuan

4.8.3.1 Definisi Pengetahuan hasil dari proses belajar dan ini terjadi setelah seseorang melakukan

suatu pengindraan terhadap suatu objek tertentu.

4.8.3.2

Alat Ukur Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner pre test dan post test

4.8.3.3 Cara Ukur

Cara ukur hasil kuesioner menggunakan skala Guttman, dimana responden memilih salah atu jawaban benar (1) dan salah (0).

4.8.3.4 Hasil Ukur Hasil Ukur ditentukan berdasarkan kode:

Baik = 1 = skor 15 20 Cukup = 2 = skor 11 - 14 Kurang = 3 = skor <11

3.8.4 Perilaku Pengelolaan DM

4.8.4.1 Definisi Perilaku adalah suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan.

4.8.4.2 Alat Ukur

Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner mengenai perilaku pengelolaan DM dalam bentuk pre test dan post test

4.8.4.3 Cara Ukur Cara ukur hasil kuesioner dengan menghitung jawaban Ya dan Tidak

4.8.4.4 Hasil Ukur Hasil Ukur ditentukan berdasarkan kode:

Baik = 1 = skor ≥10 Cukup = 2 = skor <10

3.8.5 Usia

4.8.5.1 Definisi Usia adalah jumlah tahun sejak lahir hingga ulang tahun terakhir.

4.8.5.2 Alat Ukur Alat ukur yang digunakan adalah dengan data responden

4.8.5.4

Hasil Ukur Hasil Ukur ditentukan berdasarkan kriteria WHO yang diberi kode:

Usia produktif = 1 = 15-44 tahun Pra lansia= 2 = 45 tahun 59 tahun Lanisa = 3 = ≥60

3.8.6 Jenis Kelamin

4.8.6.1 Definisi Jenis Kelamin adalah gender yang dibawa sejak lahir pada pasien DM.

4.8.6.2 Alat Ukur Alat ukur yang digunakan adalah dengan data responden

4.8.6.3 Cara Ukur Cara ukur hasil kuesioner dengan melihat data demografi dalam kuesioner A

4.8.6.4 Hasil Ukur Hasil Ukur ditentukan dengan diberi kode:

Laki laki = 1 Perempuan = 2

3.8.7 Lama Menderita DM

4.8.7.1 Definisi Lama terdiagnosis DM yang dialami oleh responden

4.8.7.2 Alat Ukur Alat ukur yang digunakan adalah dengan data responden

4.8.7.3 Cara Ukur Cara ukur hasil kuesioner dengan melihat data demografi dalam kuesioner A

4.8.7.4 Hasil Ukur Hasil Ukur ditentukan dalam tahun.

3.8.8 Pendidikan

4.8.8.2

Alat Ukur Alat ukur yang digunakan adalah dengan data responden

4.8.8.3 Cara Ukur Cara ukur hasil kuesioner dengan melihat data demografi dalam kuesioner A

4.8.8.4 Hasil Ukur Hasil Ukur ditentukan dalam kode:

1= pendidikan rendah (SD, SMP) 2 =Pendidikan tinggi (SMA, S1)

3.9 Data

3.9.1 Pengumpulan Data

Data primer dikumpulkan dengan menggunakan kuesioner yang dibagikan kepada responden yang menderita DM di wilayah kerja Puskesmas Pasundan. Data sekunder dikumpulkan melalui identitas dan catatan gula darah puasa atau sewaktu di kartu berobat poli.

3.9.2 Pengolahan Data

Data data yang telah dikumpulkan diolah melalui beberapa tahap, yaitu proses editing dimana dilakukan pemeriksaan data, penyusunan data, verifikasi data, dan pemberian kode (coding). Setelah itu data diolah dengan menggunakan program komputer, yaitu program SPSS

(Statistical Package for Social Science) versi 16.0.

3.9.3 Pengelompokkan Data

Setelah

dilakukan

pengolahan

data,

kelompok kelompok data.

hasil

data

tersebut

dikelompokkan

berdasarkan

3.9.4 Penyajian Data Data yang didapat disajikan secara tekstular dan diagram.

3.9.5 Analisis Data Analisis data yang digunakan yaitu analisis bivariat dengan uji statistik non parametrik chi-

square terhadap pasangan variabel tergantung dan variabel bebas tertentu.

3.9.6 Interprestasi Data Data diintepretasi secara analitik asosiatif antar variabel-variabel yang telah ditentukan

3.10 Pelaporan Data

Data disusun dalam bentuk laporan penelitian dan selanjutnya dipresentasikan dalam forum pengetahuan dan diskusi dengan Kepala Puskesmas Pasundan dan Pembimbing Internship di Puskesmas Pasundan.

3.11 Etika Penelitian Subjek penelitian yang diwawancara untuk pengisian kuesioner pada penelitian ini diberikan

jaminan kerahasiaan terhadap data data yang diberikan dan berhak menolak untuk menjadi responden.

Kerangka Teori

Pendidikan

Pengetahuan

Sikap

Kerangka Teori Pendidikan Pengetahuan Sikap Aktivitas Fisik Diet Penyuluhan DM Obat Anti Diabetik KADAR GLUKOSA DARAH
Kerangka Teori Pendidikan Pengetahuan Sikap Aktivitas Fisik Diet Penyuluhan DM Obat Anti Diabetik KADAR GLUKOSA DARAH
Aktivitas Fisik
Aktivitas Fisik
Kerangka Teori Pendidikan Pengetahuan Sikap Aktivitas Fisik Diet Penyuluhan DM Obat Anti Diabetik KADAR GLUKOSA DARAH
Kerangka Teori Pendidikan Pengetahuan Sikap Aktivitas Fisik Diet Penyuluhan DM Obat Anti Diabetik KADAR GLUKOSA DARAH

Diet

Penyuluhan DM

Obat Anti Diabetik

Sikap Aktivitas Fisik Diet Penyuluhan DM Obat Anti Diabetik KADAR GLUKOSA DARAH Kerangka Konsep Pengetahuan
KADAR GLUKOSA DARAH
KADAR
GLUKOSA
DARAH

Kerangka Konsep

Pengetahuan Penyuluhan & Buku Saku DM
Pengetahuan
Penyuluhan &
Buku Saku DM

Sikap

Diabetik KADAR GLUKOSA DARAH Kerangka Konsep Pengetahuan Penyuluhan & Buku Saku DM Sikap Kadar Glukosa Darah

Kadar Glukosa

Darah

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.1.

Hasil Penelitian

4.1.1.

Deskripsi Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini adalah RT 25 dan 26 kelurahan Jawa Kota Samarinda dan puskesmas Pasundan Kota Samarinda. Pengambilan data dilakukan pada tanggal 20 Juni 2019 dan dilakukan

pada warga setempat yang menderita diabetes melitus yang datang pada saat pelaksanaan posyandu cempaka dan berobat ke poli umum dan lansia.

4.1.2. Deskripsi Karakteristik Responden

Populasi penelitian ini adalah penderita diabetes melitus di wilayah kerja puskesmas Pasundan Kota Samarinda. Didapatkan total subjek penelitian adalah 53 orang penderita diabetes melitus. Karakteristik responden dalam penelitian ini dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6. Karakteristik Responden Penelitian

No

Karakteristik Responden

Jumlah (n)

Persentase (%)

1

Usia

Produktif

1

1.9

Pra Lansia

22

41.5

Lansia

30

56.6

2

Jenis Kelamin

 

Laki-laki

22

41.5

Perempuan

31

58.5

3

Pendidikan Terakhir

 

SD

0

0

SMP

18

34.0

SMA

30

56.6

S1

5

9.4

4

Tingkat Pengetahuan Awal

 

Baik

46

86.8

Cukup

7

13.2

5 Tingkat Pengetahuan Akhir

 

Baik

53

100

6 Kadar Gula Darah Awal

 

Terkontrol

19

35.8

Tidak Terkontrol

34

64.2

7 Kadar Gula Darah Akhir

 

Terkontrol

39

73.6

Tidak Terkontrol

14

26.4

Berdasarkan tabel diatas, responden yang terbanyak dengan kategori lansia yaitu berjumlah 30 orang (56.6%), sedangkan responden berusia pra-lansia berjumlah 22 orang (41.5%), dan usia produktif berjumlah 1 orang (1.9%). Responden dengan pendidikan terakhir SMP berjumlah 18 orang (34.0%), SMA berjumlah 30 orang (56.6%), dan sarjana berjumlah 5 orang (9.4%). Responden yang kadar gula darah terkontrol saat awal pemeriksaan berjumlah 19 orang (35.8%), tidak terkontrol berjumlah 34 orang (64.2%). Responden dengan kadar gula darah terkontrol saat akhir pemeriksaan berjumlah 39 orang (73.6%) dan yang tidak terkontrol berjumlah 14 orang (26.4%). Responden dengan pengetahuan awal baik berjumlah 46 orang (86.8%) dan responden dengan pengetahuan awal cukup berjumlah 7 orang (13.2%). Sedangkan responden pengetahuan akhir baik berjumlah 53 orang (100%).

4.1.3. Hasil Analisis Data

Penelitian mengenai pengaruh pengetahuan dan perilaku terhadap kadar gula darah di wilayah kerja Puskesmas Pasundan Kota Samarinda dilakukan terhadap 53 orang penderita diabetes melitus di wilayah kerja Puskesmas Pasundan dari bulan Juli 2019 hingga Agustus 2019. Dalam penelitian ini didapatkan karakteristik responden berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, tingkat pengetahuan dan kadar gula darah. Data karakteristik responden disajikan dalam bentuk tabel, diagram dan persentase sebagai berikut:

A. Analisis Univariat 1. Usia Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan 53 penderita diabetes melitus. Usia responden dapat dibagi menjadi usia produktif (15 44 tahun), usia pra-lansia (45 59 tahun) dan usia lansia (≥60 tahun). Pada tabel 7 dan gambar 2 menunjukkan peningkatan penderita diabetes melitus dengan bertambahnya usia. Usia produktif (1.9%), pra-lansia (41.5%) dan usia lansia (56.6%).

Tabel 7. Distribusi Responden berdasarkan Usia.

Usia

Jumlah

Persentase (%)

Produktif

1

1.9

Pra Lansia

22

41.5

Lansia

30

56.6

Total

53

100

Gambar 2. Persentase Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Usia Responden 2. Jenis Kelamin Dari hasil penelitian

Gambar 2. Persentase Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Usia Responden

2. Jenis Kelamin

Dari hasil penelitian yang dilakukan, didapatkan 53 penderita diabetes melitus. Pada tabel 8 dan gambar 3 menunjukkan persentase penderita diabetes melitus dengan jenis kelamin perempuan (58,5%) lebih banyak dari laki-laki (41.5%).

Tabel 8. Distribusi Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Jumlah

Persentase (%)

Laki-Laki

22

41.5

Perempuan

31

58.5

Total

53

100

Gambar 3. Persentase Penderita Diabetes Melitus Berdasarkan Jenis Kelamin 3. Lama Menderita DM Berdasarkan tabel

Gambar 3. Persentase Penderita Diabetes Melitus Berdasarkan Jenis Kelamin

3. Lama Menderita DM

Berdasarkan tabel 9 menunujukkan lama pasien menderita diabetes melitus. Median dari lama pasien menderita DM sebesar 3.0, dengan nilai minimum 2 bulan dan nilai maksimum 20 tahun. Tabel 9. Lama Menderita DM

Lama Menderita DM

(n = 53)

Mean

3.06

Median (range)

3.00 (0.2 20) tahun

Minimum

2 bulan

Maksimum

20 tahun

4.

Tingkat Pendidikan

Berdasarkan tabel 10 dan gambar 4 menunujukkan tingkat pendidikan terakhir terbanyak, yaitu tingkat pendidikan SMA sebanyak 30 (56.6%) responden, sedangkan tingkat pendidikan

terakhir yang paling sedikit yaitu SD sebanyak 0 (0%) responden.

Tabel 10. Distribusi Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Tingkat Pendidikan

Tingkat Pendidikan

Jumlah

Persentase (%)

SD

0

0

SMP

18

34.0

SMA

30

56.6

Sarjana

1

9.4

Total

53

100

30 56.6 Sarjana 1 9.4 Total 53 100 Gambar 4. Persentase Penderita Diabetes Melitus Berdasarkan

Gambar 4. Persentase Penderita Diabetes Melitus Berdasarkan Tingkat Pendidikan

5.

Tingkat Pengetahuan

Berdasarkan tabel 11 dan gambar 5 menunujukkan bahwa penderita diabetes melitus yang memiliki tingkat pengetahun baik sebanyak 46 (86,8%) responden, sedangkan yang memiliki

tingkat pengetahuan cukup sebanyak 7 (13,2%) responden.

Tabel 11. Distribusi Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Tingkat Pengetahuan

Tingkat Pengetahuan

Jumlah

Persentase (%)

Baik

46

86.8

Cukup

7

13.2

Total

53

100

46 86.8 Cukup 7 13.2 Total 53 100 Gambar 5. Persentase Penderita Diabetes Melitus berdasarkan

Gambar 5. Persentase Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Tingkat Pendidikan

6.

Perilaku Pengelolaan DM

Berdasarkan tabel 12 dan gambar 6 menunujukkan bahwa penderita diabetes melitus yang memiliki perilaku pengelolaan DM baik sebanyak 51 (96,2%) responden, sedangkan yang cukup

sebanyak 2 (3,8%) responden.

Tabel 12. Distribusi Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Perilaku Pengelolaan DM

Perilaku

Jumlah

Persentase (%)

Baik

51

96.2

Cukup

2

3.8

Total

53

100

51 96.2 Cukup 2 3.8 Total 53 100 Gambar 6. Persentase Penderita Diabetes Melitus berdasarkan

Gambar 6. Persentase Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Perilaku

7.

Kadar Gula Darah

Berdasarkan tabel 13 dan gambar 7 menunujukkan bahwa penderita diabetes melitus yang memiliki kadar gula darah tidak terkontrol lebih banyak dibandingkan penderita diabetes melitus

yang memiliki kadar gula darah yang terkontrol. Penderita diabetes melitus dengan gula darah tidak terkontrol sebanyak 34 (64.2%) responden sedangkan penderita diabetes melitus dengan gula darah terkontrol sebanyak 19 (35.8%).

Tabel 13. Distribusi Penderita Diabetes Melitus berdasarkan Kadar Gula Darah

Tingkat Kepatuhan

Jumlah

Persentase (%)

Terkontrol

19

35.8

Tidak Terkontrol

34

64.2

Total

53

100

Tidak Terkontrol 34 64.2 Total 53 100 Gambar 7. Persentase Penderita Diabetes Melitus Berdasarkan

Gambar 7. Persentase Penderita Diabetes Melitus Berdasarkan Kadar Gula Darah

B. Analisis Bivariat Chi-Square disebut juga dengan Kai Kuadrat. Chi Square adalah salah satu jenis uji komparatif non parametris yang dilakukan pada dua variabel, di mana skala data kedua variabel pada penelitian ini adalah nominal. Uji chi square yang digunakan pada penelitian ini untuk mencari tahu pengaruh pengetahuan dan perilaku pengelolaan DM terhadap kadar gula darah pasien DM. Hipotesis penelitian yang akan diuji yakni:

H 0 : Tidak ada pengaruh antara tingkat pengetahuan dan perilaku pengelolaan DM terhadap kadar gula darah.

H 1 : Ada hubungan antara tingkat pengetahuan dan perilaku pengelolaan DM terhadap kadar gula darah. Dasar pengambilan keputusan dalam uji chi square dapat dilakukan dengan melihat nilai ouput “Chi Square Test” hasil olah data dengan SPSS versi 16. Dalam pengambilan keputusan kita dapat berpedoman pada dua hal, yakni membandingkan nilai Asymp.sig dengan batas kritis yakni 0,05 atau dapat dengan cara membandingkan antara nilai chi square hitung dengan chi square tabel.

1. Hubungan Usia dengan Kadar Gula Darah Pasien DM

Dari tabel 14 perhitungan statistik Chi Square dapat dilihat bahwa dari total sampel sebanyak 53 orang, diperoleh p value = 0,582 (p>0,05) sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Hal

ini menyatakan terdapat hubungan antara usia dengan kadar gula darah setelah intervensi pada penderita DM di wilayah kerja Puskesmas Pasundan Kota Samarinda. Tabel 14. Hubungan Usia dengan Kadar Gula Darah setelah Intervensi Pasien DM

P

Usia

Kadar Gula Darah

 

Total

value

 

Terkontrol

%

Tidak

%

 

Terkontrol

Produktif

1

1.8

0

0

1

0,582

Pra-Lansia

15

28.3

7

13.2

22

Lansia

23

43.3

7

13.2

30

Total

39

73.4

14

26.4

53

2.

Hubungan Jenis Kelamin dengan Kadar Gula Darah Pasien DM

Dari tabel 16 perhitungan statistik Pearson Chi Square dapat dilihat bahwa dari total sampel sebanyak 53 orang, diperoleh p value = 0,454 (p>0,05) sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Hal ini menyatakan terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kadar gula darah setelah intervensi pada penderita DM di wilayah kerja Puskesmas Pasundan Kota Samarinda.

Tabel 16. Hubungan Jenis Kelamin dengan Kadar Gula Darah setelah Intervensi Pasien DM

Jenis

Kadar Gula Darah

 

Total

P value

 

Terkontrol

%

Tidak

%

Kelamin

Terkontrol

L

15

28.3

7

13.2

22

0,454

P

24

45.2

7

13.2

31

Total

39

73.5

14

26.4

53

3. Hubungan Skor Pengetahuan dengan Kadar Gula Darah Pasien DM

Dari tabel 17 perhitungan statistik regresi linear sederhana dapat dilihat bahwa dari total sampel sebanyak 53 orang, diperoleh p value = 0,033 (p<0,05) sehingga H0 dterima. Hal ini menyatakan tidak terdapat hubungan antara skor pengetahuan dengan kadar gula darah pada penderita DM di wilayah kerja Puskesmas Pasundan Kota Samarinda setelah dilakukan intervensi. Tabel 17. Hubungan Pengetahuan dengan Kadar Gula Darah Pasien DM

Total

P value

Pengetahuan

 

Terkontrol

Tidak Terkontrol

Baik

19 (35.8%)

34 (64.1%)

53

0,033

Total

19

34

53

4. Hubungan Perilaku dengan Kadar Gula Darah Pasien DM

Dari tabel 18 perhitungan statistik uji regresi linear sederhana dapat dilihat bahwa dari total sampel sebanyak 53 orang, diperoleh p value = 0,400 (p<0,05), sehingga H0 ditolak dan H1

diterima. Hal ini menyatakan terdapat hubungan antara perilaku dengan kadar gula darah pada penderita DM di wilayah kerja Puskesmas Pasundan Kota Samarinda setelah dilakukan intervensi.

Tabel 18. Hubungan Perilaku dengan Kadar Gula Darah Pasien DM

 

Kadar Gula Darah

Total

P value

Perilaku

Terkontrol

Tidak

 

Terkontrol

0,400

Baik

19 (35.8%)

34 (64.1%)

53

Total

19

34

53

5. Hasil Observasi Perbedaan Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Intervensi

Tabel 19 menunjukkan hasil analisis untuk melihat pengetahuan yang diuji dengan paired t-test. Dalam hal ini didapatkan p-value sebesar 0.001 (<0.05), yang memiliki makna bahwa terdapat perbedaan signifikan antara pegetahuan pada pasien DM sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan dan booklet (95% CI). Tabel 19. Perbedaan Hasil Observasi Pengetahuan Responden Sebelum dan Sesudah Dilakukan Intervensi

Pengetahuan

Mean

N

SD

P

Value

Skor Pengetahuan Awal

16.55

53

2.108

0.000

Skor Pengetahuan Akhir

18.87

53

0.878

6. Hasil Observasi Perbedaan Perilaku Sebelum dan Sesudah Intervensi

Tabel 20 menunjukkan hasil analisis untuk melihat perbedaan perilaku pasien sebelum dilakukan intervensi dan sesudah dilakukan intervensi yang diuji dengan paired t-test. Didapatkan

p-value sebesar 0.000 (<0.05), yang memiliki makna bahwa terdapat perbedaan signifikan antara perilaku sebelum dan sesudah intervensi pada pasien DM (95% CI). Tabel 20. Perbedaan Hasil Observasi Perilaku Sebelum dan Sesudah Intervensi

Perilaku

Mean

N

SD

P

Value

Skor Perilaku Awal

14.77

53

2.636

0.000

Skor Perilaku Akhir

19.19

53

1.374

7.

Hasil Observasi Perbedaan Kadar Gula Darah Sebelum dan Sesudah Intervensi

Tabel 21 menunjukkan hasil analisis untuk melihat perbedaan kadar gula darah sebelum dilakukan intervensi dan sesudah dilakukan intervensi yang diuji dengan McNemar. Didapatkan p-value sebesar 0.000 (<0.05), yang memiliki makna bahwa terdapat perbedaan signifikan antara kadar gula darah sebelum dan sesudah intervensi pada pasien DM (95% CI).

Tabel 21. Perbedaan Hasil Observasi Kadar Gula Darah Sebelum dan Sesudah Intervensi

GD Akhir

Variabel

Terkontrol

Tidak Terkontrol

p-value

N

n

GD Awal

Terkontrol

17

2

Tidak

22

12

.000

Terkontrol

BAB V PEMBAHASAN Pada penelitian yang bersifat analitik observasional dengan metode kohort ini untuk mencari pengaruh pengetahuan dan perilaku tentang pengelolaan DM dengan kadar gula darah penderita diabaetes melitus yang dilakukan selama bulan Juli 2018 Agustus 2019 di wilayah kerja Puskesmas Pasundan Kota Samarinda didapatkan hasil penelitian yaitu 53 pasien yang terpilih berdasarkan kriteria inklusi yang diambil sebagai sampel penelitian. Berdasarkan tabel distribusi usia pada penelitian ini jumlah insiden tertinggi adalah pada usia lansia. Dari 53 sampel yang diambil, didapatkan lansia dengan DM 30 (56.6%), pra-lansia 22 (41.5%) dan usia produktif 1 (1.9%). Berdasarkan data yang diperoleh dan dianalisis menggunakan uji Chi Square didapatkan tidak ada hubungan antara usia dan kadar gula darah. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Abil Rudi dkk (2017) yang menyatakan adanya hubungan antara usia dan kadar gula darah karena semakin bertambahnya usia terjadi penurunan sensitivitas insulin. 11 Berdasarkan tabel distribusi jenis kelamin pada penelitian ini didapatkan jumlah insiden tertinggi pada perempuan. Dari 53 sampel yang diambil, didapatkan 31 (58,5%) penderita perempuan yang diabetes melitus dan 22 (41,5%) penderita laki-laki yang diabetes melitus. Berdasarkan data yang diperoleh dan dianalisis menggunakan pengujian Chi Square didapatkan ada hubungan jenis kelamin dengan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nezhad dkk (2008) dimana perempuan cenderung memiliki risiko lebih tinggi terkena diabetes melitus terkait dengan aktivitas fisik yang lebih sedikit dibandingkan dengan laki-laki. 11,12 Berdasarkan penelitian oleh Setyowati (2015) juga menunjukkan perempuan lebih berisiko terkena penyakit kronik karena perempuan lebih cenderung mudah cemas dan depresi sehingga mempengaruhi kualitas hidup. 12,13 Menurut Riskesdas 2013, prevalensi diabetes melitus pada perempuan sedikit lebih tinggi dibanding pria. 14 Berdasarkan tabel distrbusi tingkat pendidikan didapatkan bahwa kelompok pendidikan paling banyak adalah SMA sebanyak 30 responden (56.6%) dan kelompok pendidikan paling sedikit adalah kelompok SD sebanyak 0 responden (0%). Responden dengan pendidikan rendah (SD dan SMP) dengan kadar gula darah terkontrol 5 (9.4%) dan tidak terkontrol 13 (24,5%) sedangkan responden dengan pendidikan tinggi dan kadar gula darah terkontrol 14 (26,4%) dan gula darah tidak terkontrol 21 (39,6%). Berdasarkan data yang diperoleh dan dianalisis

menggunakan uji Chi Square didapatkan ada hubungan antara pendidikan dan kadar gula darah. Hal ini sesuai dengan penelitian Dian Lukman (2018) yang menyatakan adanya hubungan antara tingkat pendidikan seseorang dengan pencegahan komplikasi diabetes. Penelitian ini menyatakan bahwa peluang seseorang berpendidikan tinggi lebih besar dalam melakukan pencegahan yang lebih baik karena memiliki pengetahuan dan daya tangkap informasi yang lebih baik. 15 Berdasarkan tabel distribusi pengetahuan didapatkan bahwa kelompok dengan pengetahuan yang baik lebih tinggi daripada pengetahuan yang cukup, yakni responden dengan pengetahuan baik berkisar 46 (86.8%) dan cukup 7 (13.2%). Setelah dilakukan intervensi didapatkan semuan responden 53 (100%) memiliki pengetahuan yang baik. Data ini kemudian diuji dengan paired t-test untuk melihat apakah perbedaan hasil pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi ini bermakna atau tidak. Nilai p dengan paired t-test adalah 0.000 (p<0.05) yang menyatakan perbedaan ini bermakna. Lebih lanjut, data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji regresi linear sederhana didapatkan nilai p=0.033 (p<0.05) sehingga tidak ada hubungan antara pengetahuan dan kadar gula darah pada pasien DM. Hal ini bertentangan dengan penelitian sebelumnya Herlena Essy (2012) dan Abdurrahim (2013) yang menyatakan bahwa pengetahuan memiliki hubungan dengan kepatuhan diet DM. 9,15 Hasil ini juga bertentangan dengan penelitian oleh Ananda AP dkk (2015) juga menyatakan adanya hubungan antara pengetahuan dan pengelolaan kadar gula darah. 16 Pengetahuan yang baik akan mendorong seseorang untuk berperilaku yang tepat khususnya dalam pencegahan diabetes dengan diet, dimana perilaku biasanya dipengaruhi oleh respon individu terhadap stimulus, tergantung bagaimana reaksi individu untuk merespon terhadap suatu stimulus yang ada pada suatu tindakan atau perilaku. 8 Menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk menentukan tindakan seseorang, sehingga perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih bertahan lama dibandingkan dengan yang tidak atau semakin tinggi pengetahuan seseorang diharapkan perilakunya juga semakin baik. Pengalaman juga faktor yang mempengaruhi tingkat pengetahuan, karena dari pengalaman yang ada pada dirinya maupun pengalaman orang lain dapat dijadikan acuan untuk dapat meningkatkan pengetahuan. 8 Makin lama seseorang berkerja maka akan semakin banyak pula pengalaman, yang akan mempengaruhi tingkat kematangan seseorang dalam berfikir dan akhirnya akan mempengaruhi sikap seseorang dalam bertindak. 17 Seseorang yang berpengetahuan tinggi belum tentu akan lebih mudah untuk menerima dan patuh terhadap

anjuran dari tenaga kesehatan dibandingkan yang berpengetahuan rendah, kemungkinan mereka kurang mengerti dan memahami pentingnya mematuhi anjuran tersebut agar penyakit yang mereka derita tidak semakin parah, sehingga bisa menimbulkan komplikasi yang lebih berbahaya lagi. 17 Berdasarkan tabel gambaran perilaku didapatkan responden dengan perilaku awal baik 51 (96.2%) dan perilaku awal cukup 2 (3.7%) yang berarti sebagaian besar responden memiliki perilaku pengelolaan DM yang baik. Setelah dilakukan intervensi, semua responden memiliki perilaku yang baik 53 (100%). Perbedaan data ini kemudian diuji dengan paired t-test didapatkan bahwa terdapat perubahan perilaku yang bermakna pada responden p=0.000 (<0.05). Lebih lanjut data ini kemudian dianalisis menggunakan uji regresi linear sederhana dan didapatkan nilai p = 0.400 (p>0.05) sehingga terdapat hubungan antara perilaku dan kadar gula darah pada pasien DM setelah dilakukan intervensi. Hal ini sesuai dengan penelitian Sri Anani dkk (2012) yang meneliti mengenai hubungan perilaku pengendalian DM dengan kadar gula darah di RSUD Arjawarinangun. 18

BAB VI

PENUTUP

A.

Kesimpulan

1.

Terdapat hubungan antara usia dengan kadar gula darah.

2.

Terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan kadar gula darah

3.

Terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan kadar gula darah

4.

Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan kadar gula darah

5.

Terdapat hubungan antara perilaku pengelolaan DM dengan kadar gula darah

6.

Terdapat perubahan yang bermakna pada pengetahuan, perilaku dan kadar gula darah sebelum dan sesudah intervensi dilakukan.

B.

Saran

1.

Bagi masyarakat diharapkan dapat melakukan pengelolaan DM dengan rutin dengan cara mengontrol gula darah dengan rutin, minum obat dengan teratur, mengontrol asupan makanan yang berindeks glikemik tinggi, olahraga teratur dan melakukan perawatan kaki untuk menghindari komplikasi DM akibat kadar gula darah yang tidak terkontrol.

2.

Bagi puskesmas dapat lebih meningkatkan lagi kepatuhan penderita diabetes melitus dalam menerapkan gaya hidup sehat dengan cara memberikan penyuluhan tentang penyakit diabetes melitus dan penanganannya, dan bekerja sama dengan para kader dan keluarga pasien serta menunjuk salah satu anggota keluarga untuk dijadikan sebagai pengawas diet dan obat.

3.

Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan intervensi lebih lanjut terhadap kontrol kadar gula darah dengan memeriksa kadar gula darah puasa secara berkala sehingga didapatkan hasil yang lebih akurat mengenai perilaku pengelolaan DM.

DAFTAR PUSTAKA

1. American Diabetes Association. Standards of medical care in diabetes-2018. Diabetes Care 2018 Jan;41(Suppl.1).S1-53.

2. World Health Organization. Diabetes: Fakta dan angka. Diunduh dari:

indonesian.pdf, 10 Juni 2019.

3. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Hasil utama RISKESDAS 2018.

4. Priantono D, Sulistianingsih PD. Diabetes melitus dalam: Kapita selekta kedokteran. Ed.2. Media Aesculapius : Jakarta ; 2014. p.777-82.

5. Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK UI, 2000. Penatalaksanaan Kedaruratan di Bidang Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta : Penerbit FK UI.

6. PERKENI. Konsensus pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. PB PERKENI 2015 Juli. p. 6-77.

7. Staf Pengajar Bagian Bedah FK UI, Vaskuler, Kumpulan Kuliah Ilmu Bedah, Binarupa Aksara Jakarta, 1995; hal: 241-330.

8. Notoatmodjo S. Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta ; 2007.

9. Phitri EH, Widyaningsih. Hubungan antara pengetahuan dan sikap penderita diabetes mellitus dengan kepatuhan diet diabetes mellitus di RSUD AM. Parikesit Kalimantan Timur. Jurnal Keperawatan Medikal Bedah 2013 Mei;(1).58-74.

10. Gambar 1. Diunduh dari: www.raosoft.com, 23 Juli 2019.

11. Rudi A, Kwureh NH. Faktor risiko yang mempengaruhi kadar gula puasa pada pengguna layanan laboratorium.Wawasan Kesehatan 2017 Jan;(2).33-9.

12. Sholikhah SW. Hubungan antara usia, indeks massa tubuh, dan tekanan darah dengan kadar gula darah pada lansia di desa baturan kecamatan colomadu. 2014.

13. Trisnawati S, Widarsa T, Suastika K. Faktor risiko diabetes mellitus tipe 2 pasien raat jalan di puskesmas wilayah kecamatan Denpasar Selatan. Public Health And Preventive Med Ach 2013;(1).

14. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. RISKESDAS 2013.

15. Hakim LD. Hubungan tingkat sosial ekonomi: pendidikan, penghasilan dan fasilitas dengan pencegahan komplikasi kronis pada penyandang diabetes mellitus tipe 2 di Surakarta. 2018.

16. Perdana AA, Ichsan B, Rosyidah UD. Hubungan tingkat pengetahuan tentang penyakit DM dengan pengendalian kadar glukosa darah pada pasien DM Tipe 2 di RSU PKU Muhammadiyah Surakarta. Biomedika 2013 Agustus;(2).17-21.

17. Nursalam. Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu keperawatan. Jakarta:

Salemba Medika. 2003.

18. Anani S, Udiyono A, Ginanjar P. Hubungan antara perilaku pengendalian diabetes dan kadar glukosa darah pasien rawat jalan diabetes mellitus. JKM 2012;(2).466-78.

LAMPIRAN 1. KUESIONER PENELITIAN

LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN Saya yang bertanda tangan di bawah ini bersedia menjadi responden penelitian dengan

Judul Penelitian : Pengaruh Pengetahuan dan Perilaku Pengelolaan DM terhadap Kadar Gula Darah Pasien di Wilayah Kerja Puskesmas Pasundan Periode Juli Agustus 2019 Peneliti : dr. Sri Handawati Wijaya Alamat : Jl. Pasundan No.62 Kelurahan Jawa Kota Samarinda Saya telah mendapat penjelasan dari peneliti tentang tujuan penelitian ini. Saya mengerti bahwa data mengenai penelitian ini akan dirahasiakan. Semua berkas yang mencantumkan identitas responden hanya digunakan untuk terkait penelitian. Saya mengerti bahwa penelitian ini tidak akan berpengaruh negatif terhadap diri saya dan berguna untuk pengembangan keperawatan. Demikian surat pernyataan ini saya tanda tangani tanpa suatu paksaan. Saya bersedia untuk menjadi responden dalam penelitian ini secara sukarela.

 

Samarinda,

Juli 2019

(

)

KUESIONER PENELITIAN

Tanggal Pengambilan Data :

Kuesioner A

Petunjuk Pengisian : Pilihlah jawaban sesuai dengan yang anda rasakan dengan memberi tanda () pada kolom yang telah disediakan dan semua pertanyaan harus dijawab dengan satu pilihan.

: Data demografi responden

1. Data Demografi Nama

:

Umur

:

Jenis Kelamin

:

Alamat

:

No Hp/Telp

:

Penyakit Penyerta :

Penyakit Penyerta : Tidak Ada Ada, Sebutkan :

Tidak Ada

Penyakit Penyerta : Tidak Ada Ada, Sebutkan :

Ada, Sebutkan :

Lama Menderita DM :

Pendidikan Terakhir :

Tidak tamat SD/ tidak sekolahAda, Sebutkan : Lama Menderita DM : Pendidikan Terakhir : SD Perguruan Tinggi Pekerjaan PNS :

SDDM : Pendidikan Terakhir : Tidak tamat SD/ tidak sekolah Perguruan Tinggi Pekerjaan PNS : Swasta

Perguruan TinggiDM : Pendidikan Terakhir : Tidak tamat SD/ tidak sekolah SD Pekerjaan PNS : Swasta Lain-lain,

Pekerjaan

Tidak tamat SD/ tidak sekolah SD Perguruan Tinggi Pekerjaan PNS : Swasta Lain-lain, sebutkan: tahun SMP/SLTP

PNS

:

Swastatamat SD/ tidak sekolah SD Perguruan Tinggi Pekerjaan PNS : Lain-lain, sebutkan: tahun SMP/SLTP SMA/SMK Petani

Lain-lain, sebutkan:Terakhir : Tidak tamat SD/ tidak sekolah SD Perguruan Tinggi Pekerjaan PNS : Swasta tahun SMP/SLTP

tahun

SMP/SLTPtamat SD/ tidak sekolah SD Perguruan Tinggi Pekerjaan PNS : Swasta Lain-lain, sebutkan: tahun SMA/SMK Petani

SMA/SMKtamat SD/ tidak sekolah SD Perguruan Tinggi Pekerjaan PNS : Swasta Lain-lain, sebutkan: tahun SMP/SLTP Petani

SD/ tidak sekolah SD Perguruan Tinggi Pekerjaan PNS : Swasta Lain-lain, sebutkan: tahun SMP/SLTP SMA/SMK Petani

Petani

Pedagangtamat SD/ tidak sekolah SD Perguruan Tinggi Pekerjaan PNS : Swasta Lain-lain, sebutkan: tahun SMP/SLTP SMA/SMK

Tanggal

:

Kuesioner B

: Tingkat Pengetahuan tentang DM dan Tatalaksana DM

Petunjuk Pengisian : Pilihlah jawaban sesuai dengan yang bapak/ibu ketahui, dengan memberi

tanda () pada kolom yang disediakan dan semua pertanyaan harus dijawab dengan satu pilihan.

No

Pertanyaan

Benar

Salah

1

Penyakit diabetes mellitus adalah penyakit kelebihan gula dalam darah.

   

2

Penyakit diabetes mellitus disebut juga dengan penyakit kencing manis.

   

3

Penyakit diabetes mellitus salah satunya juga disebabkan karena kurang atau tidak adanya hormon insulin.

   

4

Umur, keturunan dari keluarga, dan kegemukan adalah merupakan faktor penyebab timbulnya penyakit diabetes mellitus.

   

5

Penyakit diabetes mellitus ditandai dengan sering buang air kecil (kencing)

   

6

Cepat lapar, berat badan menurun, lemas, merupakan gejala diabetes mellitus

   

7

Diabetes melitus dapat mengakibatkan gangguan pendengaran

   

8

Kerusakan organ ginjal dan infeksi pada kaki hingga membusuk (luka tidak cepat sembuh) merupakan akibat penyakit diabetes.

   

9

Direbus, dibakar, dan dikukus merupakan cara memasak makanan yang dapat meningkatkan kadar gula darah.

   

10

Pengaturan makan (diet) sangat diperlukan untuk menjaga keseimbangan kadar gula darah.

   

11

Merokok dan alkohol harus dihindari oleh penderita diabetes mellitus

   

12

Olah raga rutin sangat bagus untuk membantu mengontrol kadar gula darah dan kolesterol dalam darah.

   

13

Olah raga yang baik untuk penderita diabetes mellitus dilakukan selama kurang lebih 30 menit.

   

14

Meminum obat diabetes secara teratur sangat diharuskan untuk mencegah terjadinya komplikasi diabetes.

15

Untuk mengendalikan gula darah, obat lebih penting dari pada diet dan olah raga.

16

Terapi insulin diberikan apabila terapi jenis lain tidak dapat mengontrol kadar gula darah.

17

Kadar gula darah 250 berarti nilainya normal

18

Untuk mencegah keparahan penyakit diabetes mellitus diperlukan pemeriksaan kadar gula darah berkala atau teratur.

19

Penggunaan kaos kaki yang ketat diperbolehkan untuk penderita diabetes mellitus

20

Menggunakan lotion dan menggunting kuku dengan tidak terlalu dalam secara teratur sangat dianjurkan untuk menghindari infeksi.

Jumlah

Tanggal Pengambilan Data Kuesioner C Petunjuk Pengisian

:

: Perilaku Penderita DM : Isilah dengan tanda () pada kolom yang tersedia dari pernyataan yang sesuai dengan kebiasaan bapak/ibu lakukan sehari-hari.

1.

Edukasi DM

 

No

   

Pernyataan

 

Dilakukan

 

Ya

Tidak

1.

 

Apakah anda mencari tahu tentang cara penatalaksanaan diabetes mellitus (seperti ; diet yang baik, pengobatan yang teratur, olah raga yang efektif, perawatan kaki)?

   

Jika Ya, Melalui media apa? Internet / Membaca buku, Tabloit, Majalah / Televisi / Radio / Dokter atau tim kesehatan lainnya. (lingkari yang anda pilih)

2.

 

Apakah Anda mengikuti kegiatan penyuluhan yang berkaitan dengan diabetes mellitus (penyakit gula)?

     

2.

Diet

 

No

 

Pernyataan

Barapa hari anda melakukan dalam satu minggu

Tidak

1

2

3

4

 

5

 

6

7

Pernah

   
3. Saya mengkonsumsi sayur atau makanan yang di rebus, dipanggang atau dikukus. 4. Saya mengkonsumsi
3.
Saya mengkonsumsi
sayur atau makanan yang
di rebus, dipanggang atau
dikukus.
4.
Saya mengkonsumsi
makanan yang banyak
mengandung gula
(permen, teh manis,
coklat, kue manis, cake ).
5.
Saya makan
nasi
sebanyak seperempat
porsi piring untuk tiap
makan besar.
6.
Mengganti nasi dengan
(ubi, jagung, nasi merah,
kentang, oatmeal).
7.
Saya memakan makanan
yang digoreng / bersantan
3.
Exercise / Latihan Fisik
No
Pernyataan
Barapa hari anda melakukan dalam satu minggu
Tidak
1
2
3
4
5
6
7
Pernah
8
Saya melakukan olah
raga (jalan kaki, lari pagi,
badminton, bersepeda,
senam).
9.
Saya melakukan olah
raga minimal 30 menit
setiap kali olah raga.
4.
Terapi Obat
No
Pernyataan
Barapa hari anda melakukan dalam satu minggu
Tidak
1
2
3
4
5
6
7
pernah
10.
Saya minum obat atau
suntik insulin mandiri
secara teratur sesuai
jadwal dari dokter.
11. Saya meminum obat sesuai dosis obat yang ditentukan dokter. 12. Saya melakukan kontrol ke
11.
Saya meminum obat
sesuai dosis obat yang
ditentukan dokter.
12.
Saya melakukan kontrol ke dokter apabila obat habis.
1. Ya
2. Tidak
5.
Pemantauan Kadar Gula Darah
No
Pernyataan
Dilakukan
Ya
Tidak
13.
Apakah anda memeriksakan kadar gula darah sewaktu ?
Jika Ya, berapa kali anda melakukannya ?
14.
Apakah anda memeriksakan tekanan darah ?
Jika Ya, berapa kali anda melakukannya ?
15.
Apakah Anda melakukan tes laboratorium kolesterol ?
Jika Ya, berapa kali anda melakukannya?
6.
Perawatan Kaki

No

Pernyataan

Dilakuakan

Ya

Tidak

16.

Apakah Anda selalu menggunakan kaos kaki yang tidak terlalu ketat di dalam rumah ?

   

17.

Apakah Anda menggunakan alas kaki yang tertutup setiap berpergian ?

   

18.

Apakah anda mencuci kaki setiap hari menggunakan air dan sabun?

   

19.

Apakah anda selalu mengeringkan kaki yang basah sampai ke sela- sela jari kaki ?

   

20.

Apakah anda segera memotong kuku anda ketika kuku sudah tampak memanjang?

   

21.

Apakah anda selalu menggunakan lotion untuk melembabkan kaki?

   

22

Apakah anda segera mengobati apabila terdapat luka ?

   

Jumlah:

Kisi- Kisi Soal Kuesioner Pengetahuan DM

No

Pertanyaan

No item

Jumlah

 

Keterangan

soal

 

1

Pengertian penyakit DM

1, 2

2

Item 1 dan 2 Favorable

 

2

Faktor-faktor penyebab penyakit DM

3, 4

2

Item 3 dan 4 Favorable

 

3

Gejala-gejala penyakit DM

5, 6

2

Item 5 dan 6 Favorable

 

4

Komplikasi dari DM

7, 8

2

Item 8 Favorable

Item 7 Unfavorable

5

Diet teratur

9, 10, 11

3

Item 10 dan 11 Favorable

Item 9 Unfavorable

6

Exercise / latihan fisik dan olah raga

12, 13

2

Item 12 dan 13 Favorable

 

7

Kepatuhan Obat / terapi

14, 15, 16

3

Item 14 dan 16 Favorable

Item 15 Unfavorable

8

Pemantauan Kadar Gula Darah

17, 18

2

Item 17 dan 18 Favorable

Item 17 Unfavorable

9

Mencegah Komplikasi

19, 20

2

Item 20 Favorable

Item 19 Unfavorable

 

Jumlah

20

15

5

 

Pernyataan Positif

Pernyataan

 

Penilaian

 

Negatif

 
 

B

= 1

S

= 1

Baik

= skor 15 20 (76% - 100%)

S

= 0

B

= 0

Cukup = skor 11 14 (56% - 75%) Kurang= skor < 11 (< 56%)

Kisi Kisi Pertanyaan Kuesioner Perilaku

No

Pertanyaan

No Item

Jumlah Soal

Keterangan

 

1 Edukasi DM

1, 2

2

Item 1 dan 2 Favorable

 
 

2 Diet

3, 4, 5, 6, 7

5

Item 3, 5 dan 6 Favorable

Item 4 dan 7 Unfavorable

 

3 Exercise

8, 9

2

Item 8, 9, dan 10 Favorable

 
 

4 Obat

10, 11, 12

3

Item 11, 12, dan

 

13Favorable

 

5 Pemantauan

13, 14, 15

3

Item 14, 15, dan 16 Favorable

 

KGD, TD,

Kolesterol

 
 

6 Perawatan Kaki

16, 17, 18, 19, 20, 21,

7

Item 17,, 18, 19, 20, 21, 22 dan 23 Favorable

 

22

 

Jumlah

22

20

2

LAMPIRAN 2. FOTO KEGIATAN INTERVENSI

LAMPIRAN 2. FOTO KEGIATAN INTERVENSI
LAMPIRAN 2. FOTO KEGIATAN INTERVENSI
LAMPIRAN 2. FOTO KEGIATAN INTERVENSI
LAMPIRAN 2. FOTO KEGIATAN INTERVENSI
LAMPIRAN 2. FOTO KEGIATAN INTERVENSI
LAMPIRAN 2. FOTO KEGIATAN INTERVENSI