Anda di halaman 1dari 2

Jika nanti setelah mati ternyata tuhan benar2 ada, bukankah atheis akan rugi?

Ini adalah pertanyaan yang sering saya jumpai setelah menjadi ateis. Bagaimana kalau nanti setelah mati
kami berhadapan dengan Tuhan? Siapkah kami dengan konsekuensi masuk neraka? Bukankah lebih baik
mengambil posisi yang aman, yaitu percaya Tuhan dan beragama sehingga pasti terhindar dari neraka?

Tunggu dulu. Tahukah Anda bahwa ada lebih dari 2700 konsep tuhan dan dewa-dewi yang terekam
dalam sejarah manusia? Ada setidaknya ratusan agama dan aliran kepercayaan, banyak di antaranya
bahkan tidak mengajarkan konsep surga dan neraka. Memang sekarang hanya ada beberapa agama
besar di dunia, tetapi beberapa sistem kepercayaan (Yunani dan Mesir kuno, misalnya) bertahan selama
ribuan tahun sebelum punah digantikan agama-agama yang populer saat ini. Belum lagi banyak sistem
kepercayaan baru yang semakin populer (Scientology, Mormon, Saksi Yehovah, antara lain), dan entah
bagaimana masa depan mereka.

Selain konyol bahwa saya harus percaya cuma agar “tidak rugi” seperti berjudi, sebetulnya kalau dipikir-
pikir kembali, andaikan Tuhan memang benar-benar ada, kemungkinan ateis dan teis “salah” tidak beda
jauh. Ateis tidak percaya seluruh konsep tuhan yang ada, sedangkan teis (yang beragama Samawi) hanya
percaya satu. Taruhlah hanya ada 100 tuhan dan agama yang mengajarkan surga dan neraka (ingat
bahwa ada ratusan agama dan aliran kepercayaan saat ini yang bahkan tidak mengajarkan surga dan
neraka, namun saya batasi biar mudah), dan dari antaranya (lagi-lagi kita berandai di sini) ada tuhan yang
benar-benar ada dan hanya satu kepercayaan yang “benar.” Maka kemungkinan teis menyembah tuhan
yang benar hanya 1:100. Dan ini perhitungan konservatif.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pembicaraan untung rugi ini terkesan seperti argumen murah.
Pertanyaan yang lebih penting: andaikan Tuhan ada, dan seorang teis menyembah Tuhan yang “benar,”
apakah ia siap melihat mayoritas penduduk dunia masuk neraka hanya karena menyembah Tuhan yang
salah? Dan apakah Tuhan yang semacam itu, yang mencemplungkan manusia ke dalam neraka hanya
karena tidak menyembahnya, layak disembah? Penganut agama Kristen hanya 31% di dunia (ini
termasuk hanya yang berafiliasi dengan Kristen, tidak menghitung yang nonrelijius), apa ini berarti
bahwa kalau Kristen yang benar, setidaknya 69% manusia akan masuk neraka? Penganut Islam hanya
21% di dunia, apa ini berarti bahwa kalau memang Islam yang benar, setidaknya 79% manusia akan
masuk neraka? (Data menurut adherence.com)

Kalau salah satu agama tersebut yang mengajarkan surga/neraka ternyata memang benar, milyaran
manusia yang hidup saat ini (belum lagi yang sudah meninggal) akan masuk neraka, termasuk teman-
temanmu, mungkin beberapa guru di sekolahmu, tukang koran, penulis buku favoritmu, tukang masak di
restoran yang sering kamu kunjungi, artis idolamu, belum lagi begitu banyak orang yang telah berjasa
bagi manusia di berbagai bidang, dan seterusnya. Yikes!

Kenyataannya, agama dan sistem kepercayaan yang kita anut sangat dipengaruhi oleh lingkungan di
mana kita dibesarkan dan agama orang tua kita. Bagi kami yang ateis dan sudah meninggalkan ajaran
agama terdahulu, konsep Tuhan dan surga dan neraka sudah terlampau jauh dari pikiran. Saya tidak
takut neraka, sama seperti saya tidak takut duduk di pintu meskipun banyak yang bilang “nanti susah
jodoh” atau takut menduduki bantal meskipun banyak yang bilang “nanti bisulan.”