Anda di halaman 1dari 13

BAB II

TINJAUAN TEORI

A. Konsep Keperawatan Komunitas


Pada sub bab ini akan diuraikan tentang pengertian komunitas, tujuan keperawatan komunitas,
teori dan model keperawatan komunitas, ruang lingkup dan sasaran keperawatan komunitas.
1. Pengertian Komunitas dan Keperawatan Komunitas
Sumijatun dkk (2006), mendefenisikan komunitas sebagai sekelompok masyarakat yang
mempunyai persamaan nilai (Value), perhatian (Interest) yang merupakan kelompok khusus
dengan batas-batas geografi yang jelas, dengan norma dan nilai yang telah melembaga.
Sementara Kozie dkk (1997), mengatakan bahwa komunitas adalah sekumpulan orang tempat
mereka dapat berbagi atribut dalam kehidupannya.Dapat disebabkan karena mereka tinggal
dalam suatu lokasi atau adanya kesamaan minat. Komunitas juga dapat diartikan sebagai
sekelompok individu yang tinggal pada wilayah tertentu, memiliki nilai-nilai keyakinan dan
minat yang relatif sama, serta berinteraksi satu sama lain untuk mencapai tujuan. Komunitas
juga merupakan suatu sistem sosial yang setiap anggotanya baik formal maupun informal saling
berinteraksi dan bekerjasama untuk suatu keuntungan seluruh anggotanya(Widyanto, 2014)
Praktik keperawatan komunitas adalah sintesis praktik keperawatan dan praktik
kesehatan masyarakat, diaplikasikan dalam peningkatan dan pemeliharaan kesehatan
masyarakat (populasi), menggunakan ilmu yang berasal dari Keperawatan, Sosial, dan
Kesehatan Masyarakat (Stanhop & Lancaster, 2016).Lingkup praktik keperawatan komunitas
adalah generalis dan spesialis. Praktik keperawatan generalis bertujuan memberikan asuhan
keperawatan komunitas lanjut (advanced nursing community) dengan sasaran kelompok
(agregat) dan masyarakat serta masalah individu dan keluarga yang kompleks.(Riasmini, dkk.
2017).
2. Tujuan Keperawatan Komunitas
Tujuan umum pelayanan keperawatan komunitas dalam pedoman penyelenggaraan upaya
kesehatan masyarakat di puskesmas adalah untuk meningkatkan kemandirian masyarakat
dalam mengatasi masalah keperawatan kesehatan masyarakat yang optimal.
Sedangkan tujuan khususnya adalah sebagai berikut:
a. Meningkatnya pengetahuan, sikap dan perilaku individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat tentang kesehatan.
b. Meningkatnya penemuan dini kasus-kasus prioritas.
c. Meningkatnya penanganan keperawatan kasus prioritas di puskesmas.
d. Meningkatnya penanganan kasus prioritas yang mendapatkan tindak lanjut keperawatan di
rumah.
e. Meningkatnya akses keluarga miskin mendapat pelayanan kesehatan/keperawatan
kesehatan masyarakat.
f. Meningkatnya pembinaan keperawatan kelompok khusus.
g. Memperluas daerah binaan keperawatan di rumah sakit.

3. Fungsi Keperawatan Komunitas


Fungsi keperawatan komunitas erat kaitannya dengan aspek khusus dari suatu tugas tertentu
dalam komunitas. Adapun fungsi keperawatan komunitas adalah sebagai berikut:
a. Memberikan pedoman dan bimbingan yang sistematis dan ilmiah bagi kesehatan
masyarakat dan keperawatan dalam memecahkan masalah kesehatan komunitas melalui
asuhan keperawatan.
b. Agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal sesuai dengan kebutuhannya
dibidang kesehatan.
c. Memberikan asuhan keperawatan melalui pendekatan pemecahan masalah, komunikasi
yang efektif dan efisien serta melibatkan peran serta masyarakat.
d. Agar masyarakat bebas mengemukakan pendapat berkaitan dengan permasalahan atau
kebutuhannya sehingga mendapatkan penanganan dan pelayanan yang cepat dan pada
akhirnya dapat mempercepat proses penyembuhan.

4. Ruang Lingkup Keperawatan Komunitas


Lingkup pelayanan kesehatan yang diberikan pada masyarakat meliputi upaya kesehatan
perorangan (UKP) maupun upaya kesehatan masyarakat (UKM). Pelayanan kesehatan yang
diberikan lebih difokuskan pada upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan kuratif dan
rehabilitatif.
Upaya promotif dilakukan untuk meningkatkan kesehatan individu, keluarga, kelompok
dan masyarakat dengan melakukan kegiatan pendidikan kesehatan (Health Education),
penyuluhan kesehatan masyarakat seperti penyuluhan tentang peningkatan gizi, pemeliharaan
kesehatan perorangan, pemeliharaan keshetan lingkungan (kesling), pengamatan tumbuh
kembang anak dan pendidikan seks (Seks Educuation).
Upaya preventif meliputi pencegahan tingkat pertama atau primer (Primary Prevention),
pencegahan tingkat kedua atau sekunder (Secondary Prevention) maupun pencegahan tingkat
ketiga atau tersier (Tertiary Prevention). Pencegahan primer merupakan pencegahan yang
dilakukan pada tahap pepatogenesis atau tahap sebelum terjadinya penyakit.Pencegahan
primer dimaksudkan agar masyarakat tetap berada pada kondisi sehat optimal (Stage Optimal
Health) dan tidak jatuh dalam kondisi sakit. Upaya pencegahan primer juga termasuk
didalamnya adalah upaya promotif ditambah dengan upaya perlindungan umum dan khusus
(General and Spesific Protection). Bentuk upaya perlindungan kesehatan umum dan khusus
tersebut dapat dilakukan melalui imunisasi, kebersihan diri, perlindungan diri dari kecelakaan
(Accidental Safety), perlindungan diri dari lingkungan, kesehatan kerja (Occupational Health),
perlindungan diri karsinogen, toksin dan alergen, serta pengendalian sumber-sumber
pencemaran.
Pencegahan sekunder merupakan pencegahan yang dilakukan pada tahap saat
terjadinya penyakit. Pencegahan dimulai pada saat bibit penyakit masuk kedalam tubuh
manusia sampai munculnya gejala atau gangguan kesehatan. Pencegahan bertujuan untuk
menghambat proses perjalanan penyakit sehingga dapat memperpendek waktu sakit dan
menurunkan tingkat keparahan penyakit.
Pencegahan tersier merupakan upaya pencegahan pada masyarakat yang telah sembuh
dari sakit serta mengalami kecacatan. Pencegahan tersier dimulai pada saat cacat atau
ketidakmampuan terjadi sampai kondisi stabil atau menetap dan tidak dapat diperbaiki
(irreversibel) kegiatan dilakukan melalui kegiatan rehabilitasi meliputi aspek medis dan sosial.
5. Sasaran Keperawatan Komunitas
Sasaran keperawatan komunitas adalah seluruh masyarakat termasuk individu, keluarga,
kelompok khusus dan masyarakat baik sehat maupun sakit serta berisiko tinggi mengalami
masalah kesehatan.
a. Individu
Permasalahan kesehatan yang dapat terjadi pada individu di komunitas seperti kasus
diabetes melitus (DM), Tuberculosis (TB), darah tinggi/hipertensi dan lain sebagainya.
b. Keluarga
Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga (KK)
dan anggota keluarga lain yang tinggal dalam satu rumah karena pertalian darah, ikatan
perkawinan/adopsi. Masalah kesehatan yang terjadi pada satu keluarga dapat juga
mempengaruhi kondisi komunitas.
c. Kelompok khusus
Kelompok khusus merupakan sekumpulan individu yang mempunyai kesamaan
permasalahan kesehatan yang memerlukan kebutuhan kesehatan khusus yang dapat di
klasifikasikan menurut usia, jenis kelamin maupun permasalahan kesehatan yang dialami.
d. Masyarakat
Sasaran masyarakat adalah masyarakat yang rentan atau mempunyai risiko tinggi terhadap
timbulnya masalah kesehatan. Diprioritaskan pada:
1) Masyarakat disuatu wilayah (RT, RW, kelurahan atau desa)
2) Masyarakat di daerah endemis penyakit menular seperti tuberkulosis, malaria, diare,
demam berdarah dan lain sebagainya.
3) Masyarakat di lokasi atau barak pengungsian, akibat bencana, konflik atau akibat
lainnya.
4) Masyarakat didaerah dengan kondisi geografis sulit antara lain daerah terpencil,
terisolasi, daerah perbatasan, daerah yang tidak terjangkau pelayanan kesehatan.
5) Masyarakat didaerah pemukiman baru dengan transportasi sulit seperti daerah
transmigrasi.
6. Teori dan Model Keperawatan Komunitas
Perawat dalam melaksanakan praktiknya harus mengacu pada model konsep dan teori
keperawatan yang sudah ada. Konsep, teori dan model keperawatan yang digunakan sebagai
dasar dalam menyusun kerangka kerja praktik keperawatan komunitas adalah model
konseptual keperawatan yang dikembangkan sebagai middle range theory yang dapat dijadikan
acuan menyusun kerangka kerja praktik keperawatan komunitas antara lain model Community
as Partner (CAP). Model ini digunakan untuk mengkaji berbagai jenis komunitas dengan luas
wilayah, lokasi dan sumber sumber yang dimiliki atau karateristik populasi tertentu. CAP terdiri
dari tiga bagian yaitu :
a. Inti Komunitas (The Community Core)
1) Sejarah ( History)
2) Data Demografi ( Demographic)
3) Suku dan Budaya (Ethnicyty)
4) Nilai dan keyakinan ( Values and beliefs)
5) Persepsi (Perception) yang terdiri dari persepsi masyarakat terhadapkondisi dan
lingkungan (merasa aman, nyaman,fasilitas lengkap atau kurang ); penilaian masyarakat
terhadap kekuatan dan kelemahan wilayah tempat tinggal mereka; penilaian terhadap
kondisi kesehatan masyarakat secara umum; dan apa masalah yang mungkin muncul.

b. Subsistem komunitas (The Community Subsystems)


1) Lingkungan fisik
2) Pendidikan
3) Keamanan dan Transportasi
4) Politik dan Pemerintahan
5) Pelayanan Sosial dan Pelayanan Kesehatan
6) Komunikasi
7) Ekonomi
8) Rekreasi
c. Persepsi
Hal yang perlu dikaji adalah pernyataan umum tentang kesehatan masyarakat setempat.Apakah
kekuatan yang ada? Masalah dan potensial apa yang dapat diidentifikasi.

Aplikasi teori CAP dalam pengkajian keperawatan komunitas adalah sebagai berikut :
a. Inti Komunitas (The Community Care). Hal yang perlu dikaji dalam masyarakat sebagai inti.
1) Sejarah (History),datayang perlu dikaji adalah:Melakukan wawancara dengan TOMA / TOGA;
perubahan yang terjadi diwilayah tersebut, peristiwa atau kejadian yang berkaitan.
2) Data Demografi (Demographic), data yang perlu dikaji adalah: komposisi penduduk, kelompok
umur dan jenis kelamin
3) Suku dan Budaya (Ethnicyty), data yang perlu dikaji yaitu:Pengamatan terhadap gaya hidup,
perilaku yang membudaya (positif/negatif); bahasa yang digunakan, perkumpulan yang ada,
penyelesaian masalah apakah antar etnis atau golongan khusus.
4) Nilai dan Keyakinan (Values and Beliefs), dapat dilakukan dengan cara: Melakukan wawancara
dan dan observasi bagaimana bentuk interaksi di masyarakat, adakah perilaku yang mempengaruhi
kesehatan individu, keluarga, kelompok atau masyarakat(Misal: Narkoba).
b. Subsistem Komunitas (The Community Subsystems) data yang perlu dikaji meliputi:
1) Lingkungan Fisik, observasi ada fasilitas umum yang dipergunakan (Lapangan olahraga , warnet /
wartel , bioskop, fasilitas ibadah)
2) Pendidikan,kumpulkan data tentang tingkat pendidikan masyarakat keberadaan fasilitas
pendidikan lengkap
3) Keamanan dan transportasi. Lakukan pengamatan dan observasi tentang alat transportasi,
keamanan pemakai alat transportasi,kecepatan kendaraan yang digunakan, keberadaan rambu-rambu
lalu lintas,kondisi jalan dan dan fasilitas, apakah ada pos polisi atau satpam atau sistem keamanan
lingkungan,adakah gangguan keamanan.
4) Politik dan pemerintahan, bagaimana kegiatan politik diwilayah tersebut?Adakah anggota
masyarakat terlibat dalam kegiatan politik? Bagaimana menyikapi perbedaan pendapat atau golongan
politik?
5) Pelayanan social dan kesehatan,lakukan wawancara dan observasi pelayanan sosial yang ada
misalnya dengan LSM,ketersediaan fasilitas kesehatan
6) Komunikasiamati cara komunikasi di wilayah tersebut terhadap keluarga,
lingkungan/masyarakat sekitar, aparat pemerintah, adakah masalah antar kelompok?Bagaimana cara
menyampaikan aspirasi?
7) Ekonomi, pendapatan rata-rata penduduk, apakah keluarga memiliki tabungan, mempunyai
usaha tambahan, apakah keluarga mempunyai kemampuan membeli alat transportasi missal: motor/
mobil,adakah lokasi transaksi jual beli misalnya pasar dan lain-lain.
8) Rekreasi,apakah ada tempat rekreasi,apakah tempat rekreasi tersebut dimanfaatkan oleh
masyarakat
c. Persepsi
1) Bagaimana persepsi masyarakat terhadap kondisi lingkungan
2) Penilaian masyarakat terhadap wilayahnya

B. Asuhan Keperawatan Komunitas


Dalam asuhan keperawatan ini akan diuraikan tentang pengertian asuhan keperawatan dan proses
keperawatan serta langkah-langkah proses keperawatan.
1. Pengertian asuhan keperawatan dan proses keperawatan.
Asuhan keperawatan komunitas merupakan suatu bentuk pelayanan keperawatan
profesional yang merupakan bagian integral dari proses keperawatan yang berdasarkan pada ilmu dan
kiat keperawatan, yang ditujukan langsung kepada masyarakat dengan menekankan pada kelompok
risiko tinggi dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal melalui upaya peningkatan
kesehatan, pencegahan penyakit, serta pengobatan dan rehabilitasi. Proses asuhan keperawatan
komunitas adalah metode asuhan yang bersifat ilmiah, sistematis,dinamis,kontinyu, dan
berkesinambungan dalam rangka memecahkan masalah kesehatan klien baik klien sebagai individu,
keluarga, serta kelompok melalui tahapan pengkajian, penentuan diagnosis, perencanaan, pelaksanaan
intervensi, dan evaluasi keperawatan (Riasmini, 2017).

2. Pengkajian Keperawatan Komunitas


Pengkajian komunitas dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi status
kesehatan masyarakat (Riasmini, 2017).
Pengkajian komunitas yang dilakukandenganmengaplikasikanbeberapateoridankonsep model
keperawatan yang relevan.Informasiatau data dapatdiperolehsecaralangsungatautidaklangsung di
komunitas.Dalam pengkajian komunitas ada beberapa data yang perlu dikumpulkan meliputi data
masyarakat sebagai inti dan sub sistem yang ada dimasyarakat.
a. Masyarakat sebagai inti
Data yang perlu dikaji pada masyarakat sebagai inti meliputi: sejarah/ riwayat (riwayatsejarah,
perubahandaerah ini), demografi (usia, karakteristik, jeniskelamin, distribusirasdandistribusi etnik), tipe
keluarga (keluarga/bukan keluarga, kelompok), status perkawinan (kawin, janda/ duda, single), statistik
vital (kelahiran, kematiankelompokusiadanpenyebab kematian), nilai – nilaidan keyakinan dan agama.
b. Data Subsistem Komunitas
Data yang perludikaji pada subsistem komunitasmeliputi :
1) Lingkungan Fisik
LingkunganFisik: kualitas air, pembangunanlimbah, kualitasudara, flora,
ruanganterbuka,perumahandaerahhijau,musimbinatang, kualitasmakanandanakses.

2) Pelayanan Kesehatan dan Sosial


Pelayanan kesehatan dan sosial perlu dikaji di komunitas: puskesmas, klinik, rumahsakit, pengobatan
tradisional, agenpelayanankesehatan di rumah, pusatemergensi, rumah perawatan,
fasilitaspelayanansosial, pelayanankesehatan mental, apakah ada yang mengalamisakitakutataukronis.

3) Ekonomi
Data yang perludikumpulkanterkaitdenganekonomimeliputikarakteristikkeuangandanindividu, status
pekerja, kategoripekerjaandanjumlah penduduk yang tidak bekerja, lokasi industri, pasardanpusatbisnis.

4) Transportasi dan Keamanan


Data yang perludikumpulkanterkaitdengantransportasidankeamananmeliputialattransportasi penduduk
datang dankeluarwilayah, transportasiumum (bus, taksi, angkot, dlldantransportasiprivat
(sumbertransportasi, transportasiuntukpenyandang cacat).Layananperlindungankebakaran, polusi,
sanitasidankualitasudara.
5) Politik dan Pemerintahan
Data yang perludikumpulkanmeliputi : Pemerintahan (RT,RW, desa/ kelurahan, kecamatan, dsb);
kelompokpelayanan masyarakat (posyandu, PKK, karangtaruna, posbindu, poskesdes, panti, dll); Politik
(kegiatanpolitik yang ada di wilayahtersebut, danperanpesertapartaipolitikdalampelayanan kesehatan).

6) Komunikasi
Data yang dikumpulkanterkaitdengankomunikasidapatdikelompokanmenjadiduayaitu:komunikasi
formal meliputisuratkabar, radio, dan televisi, telpon, internet, danhotline; komunikasi informal meliputi
; papanpengumuman, poster, brosur, pengerassuaradari masjid, dll.

7) Pendidikan
Data terkaitdenganpendidikanmeliputisekolah yang ada di komunitas, tipependidikan, perpustakaan,
pendidikankhusus, pelayanankesehatan di sekolah, program makansiang di sekolah, aksespendidikan
yang lebih tinggi.

8) Rekreasi
Data terkait dengan rekreasi yang perlu dikumpulkan
meliputi:taman,areabermain,perpustakaan,rekreasi umum dan privat,fasilitas khusus.
c. Data persepsi
Data persepsi yang dikaji meliputi persepsi masyarakat, dan persepti petugas kesehatan atau perawat.
1) Persepsi masyarakat
Persepsi masyarakat yang di kaji terkait tempat tinggal yaitu bagaimana perasaan mayrakattentang
kehidupan bermasyarakat dirasakan di lingkungan tempat tinggal mereka,apa yang menjadi kekuatan
mereka,permasalahan,tanyakan pada masyarakat dalam kelompok yang berbeda
(misalnya,lansia,remaja,pekerja,professional, ibu rumah tangga,dll).

2) Persepsi perawat
Persepsi perawat berupa pernyataan umum,tentang kondisi kesehatan dari masyarakat apa yang
menjadi kekuatan,apa masalahnya atau potensial masalah yang dapat diidentifikasi.

Sumber data primer berasal dari masyarakat langsung yang didapat dengan cara: survey epideomologi;
pengamatan epidemiologi; dan skrining kesehatan.Sedangkan data sekunder,data didapatkan dari data
yang sudah ada sebelumnya.Sumber data sekunder didapat dari:
a. Sarana pelayanan kesehatan, misalnya rumah sakit,puskesmas, atau balai pengobatan.
b. Instansi yang berhubungan dengan kesehatan, misalnya Kementrian Kesehatan, Dinas
Kesehatan, atau Biro Pusat Stastik.
c. Absensi Sekolah industri, dan perusahaan.
d. Secara Internasional, data dapat diperoleh dari data WHO,seperti : laporan populasi dan stastik
vital, population bulletin.

Data yang dikumpulkan dalam pengkajian keperawatan komunitas dapat diperoleh dengan metode
wawancara, angket, observasi dan pemeriksaan.

3. Diagnosis Keperawatan Komunitas


Setelah data terkumpul selanjutnya data dianalisis untuk mengidentifikasi masalah keperawatan atau
diagnosa keperawatan. Analisa data dilakukan melalui beberapa tahap yaitu kategorisasi,ringkasan,
perbandingan, dan kesimpulan yang akan diuraikan berikut ini.
a. Kategorisasi data dapat dikategorikan dalam berbagai cara.Pengkategorian data pengkajian
komunitas diantaranya: 1) karakteristik demografi (komposisi keluarga,usia,jenis kelamin,etnis,dan
kelompok ras); 2) karakteristik geografis (batas wilayah, jumlah dan besarnya kepala keluarga (KK),
ruang public dan jalan); 3) karakteristik social-ekonomi (pekerjaan dan jenis pekerjaan,tingkat
pendidikan, dan pola kepemilikan rumah); 4) sumber dan pelayanan kesehatan (rumah sakit,
puskesmas, klinik, pusat kesehatan Mental,dll).
b. Ringkasan,Setelah melakukan kategorisasi data, maka tugas berikutnya adalah meringkas data
dalam setiap kategori. Pernyataan ringkasan disajikan dalam bentuk ukuran seperti jumlah,bagan dan
grafik.
c. Langkah selanjutnya analisis data yaitu melakukan perbandingan dengancara identifikasi
kesenjangan data dan ketidaksesuaian.Data pembanding sangat diperlukan untuk menetapkan pola
atau kecenderungan yang ada atau jika data tidak benar dan perlu revalidasi yang membutuhkan data
asli. Perbedaan data dapat terjadi karena terdapat kesalahan pencatatan data. Contoh perbandingan
dapat dilakukan dengan menggunakan data hasil pengkajian komunitas dan membandingkannya dengan
data lain yang sama yang merupakan standar yang ditetapkan untuk suatu wilayah kabupaten/kota,
atau provinsi atau nasional. Misalnya terkait dengan angka kematian bayi/IMR disuatu wilayah
dibandingkan IMR standar pada tingkat kabupaten/kota.
d. Membuat kesimpulan.Setelah data yang dikumpulkan dan dibuat kategori,ringkasan dan
dibandingkan, maka tahap akhir adalah membuat kesimpulan secara logis dari peristiwa yang kemudian
dibuatkan pernyataan penegakan diagnosis keperawatan komunitas.

Sesuai hasil Munas IPKKI II di Yogyakarta ditetapkan formulasi diagnosis keperawatan menggunakan
ketentuan Diagnosis keperawatan NANDA (2015-2017) dan ICNP.Formulasi diagnosis tersebut
digunakan tanpa menuliskan etiologi. Penulisan tersebut sesuai dengan label diagnosis sesuai dengan
NANDA (2015-2017) mencakup diagnosis aktual, promosi kesehatan/sejahtera dan risiko.

4. Perencanaan Keperawatan Komunitas


Perencanan yang disusun dalam keperawatan kesehatan komunitas berorentasi pada promosi
kesehatan, pencegahan penyakit, pemeliharaan kesehatan, dan manajemen krisis. Dalam menyusun
perencanaan keperawatan kesehatan komunitas melalui langkah-langkah sebagai berikut:
a. Menetapkan Prioritas
Penetapan prioritas masalah perlu melibatkan masyarakat/komunitas dalam suatu
pertemuan musyawarah masyarakat. Masyarakat/komunitas akan memprioritaskan masalah yang ada
dengan bimbingan atau arahan perawat kesehatan komunitas. Perawat dalam menentukan prioritas
masalah memperhatikan enam kriteria yaitu: 1) Kesadaran masyarakat akan masalah; 2) Motivasi
masyarakat untuk menyelesaikan masalah; 3) Kemampuan perawat dalam mempengaruhi penyelesaian
masalah; 4) Ketersediaan ahli/pihak terkait terhadap solusi masalah; 5) Beratnya konsuekensi jika
masalah tidak terselesaikan; 6) Mempercepat penyelesaikan masalah dengan resolusi yang dapat
dicapai (Riasmini, 2017).

b. Menetapkan Sasaran (goal)


Setelah menetapkan prioritas masalah kesehatan, langkah selanjutnya adalah menetapkan
sasaran.Sasaran merupakan hasil yang diharapkan.Dalam pelayanan kesehatan sasaran adalah
pernyataan situasi kedepan, kondisi atau status jangka panjang dan belum bisa diukur. Berikut adalah
contoh dari penulisan sasaran:
1) Meningkatkan cakupan imunisasi pada bayi
2) Memperbaiki komunikasi antara orang tua dan guru
3) Meningkatkan proporsi individu yang memiliki tekanan darah
4) Menurunkan kejadian penyakit kardiovaskuler

c. Menetapkan Tujuan (objektif)


Tujuan adalah pernyataan hasil yang diharapkan dan dapat diukur, dibatasi waktu
berorientasi pada kegiatan. Berikut ini merupakan karakteristik dalam penulisan tujuan: 1)
menggunakan kata kerja; 2) Menggambarkan tingkah laku akhir, kualitas penampilan, bagaimana
penampilan diukur; 3) Berhubungan dengan sasaran (goal); 4) Adanya batasan waktu. Penulisan tujuan
mengacu pada Nursing Outcome Classification (NOC).

d. Menetapkan Rencana Intervensi


Dalam menetapkan rencana intervensi keperawatan kesehatan komunitas, maka harus mencakup: 1)
Hal apa yang akan dilakukan; 2) waktu atau kapan melakukannya; 3) Jumlah; 4) target atau siapa yang
menjadi sasaran; 5) Tempat atau lokasi. Hal yang perlu diperhatikan saat menetapkan rencana
intervensi meliputi: 1) Program Pemerintah terkait dengan masalah kesehatan yang ada;2) kondisi atau
situasi yang ada; 3) Sumber daya yang ada di dalam dan diluar komunitas yang dapat dimanfaatkan; 4)
Program yang lalu pernah dijalankan; 5) menekankan pada perberdayaan masyarakat; 6) penggunaan
teknologi tepat guna; 7) mengedepankan upaya promotif dan preventif tanpa mengabaikan upaya
kuratif dan rehabilitatif. Penyusunan rencana keperwatan komunitas menggunakan integrasi mengacu
pada NIC.
5. Implementasi Keperawatan Komunitas
Implementasi merupakan tahap kegiatan selanjutnya setelah perencanaan kegiatan keperawatan
komunitas dalam proses keperawatan komunitas. Fokus pada tahap implementasi adalah bagaimana
mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Hal yang sangat penting dalam
implementasi keperawatan kesehatan komunitas adalah melakukan berbagai tindakan yang berupa
promosi kesehatan, memelihara kesehatan/ mengatasi kondisi tidak sehat, mencegah penyakit dan
dampak pemulihan. Pada tahap implementasi ini perawat tetap fokus pada program kesehatan
masyarakat yang telah ditetapkan pada tahap perencanaan. Tahap implementasi keperawatan
komunitas memiliki beberapa strategi implementasi diantaranya proses kelompok, promosi kesehatan
dan kemitraan (partnership).

6. Evaluasi Keperawatan Komunitas


Evaluasi adalah suatu proses untuk membuat penilaian secara sistematis mengenai suatu kebijakan,
program dan kegiatan berdasarkan informasi dan hasil analisis dibandingkan terhadap relevansi,
keefektifan biaya, dan keberhasilannya untuk keperluan pemangku kepentingan.
a. Jenis-jenis evaluasi menurut waktu pelaksanaan.
1) Evaluasi formatif. Evaluasi ini dilaksanakan pada waktu pelaksanaan program yang bertujuan
memperbaiki pelaksanaan program dan kemungkinan adanya temuan utama berupa berbagai masalah
dalam pelaksanaan program.
2) Evaluasi sumatif. Evaluasi ini dilaksanakan pada saat pelaksanaan program sudah selesai, yang
bertujuan untuk menilai hasil pelaksanaan program dan temuan utama berupa pencapaian apa saja dari
pelaksanaan program.
b. Prinsip-prinsip evaluasi meliputi :
1) Penguatan program
2) Menggunakan barbagai pendekatan
3) Desain evaluasi untuk kriteria penting di komunitas
4) Menciptakan proses partisipasi
5) Diharapkan lebih fleksibel
6) Membangun kapasitas
c. Proses evaluasi meliputi :
1) Menentukan tujuan evaluasi
2) Menyusun desain evaluasi yang kredibel
3) Mendiskusikan rencana evaluasi
4) Menentukan pelaku evaluasi
5) Melaksanakan evaluasi
6) Mendeseminasikan hasil eveluasi
7) Menggunakan hasil evaluasi
d. Kriteria evaluasi terdiri dari:
1) Relevansi: apakah tujuan program mendukung tujuan kebijakan?
2) Keefektifan (effectiveness) : apakah tujuan program dapat tercapai?
3) Efesiensi (efficiency): apakah tujuan program tercapai dengan biaya paling rendah?
4) Hasil (outcomes): apakah indicator tujuan program membaik?
5) Dampak (impact): apakah indicator tujuan kebijakan membaik?
6) Keberlanjutan (sustainability): apakah perbaikan indicator terus berlanjut setelah program
selesai?