Anda di halaman 1dari 28

PERAN PROGRAM LEGISLASI NASIONAL

DALAM PEMBANGUNAN HUKUM


DI INDONESIA

BAMBANG PALASARA, S.H.


KEPALA PUSAT PENYULUHAN HUKUM
BADAN PEMBINAAN HUKUM NASIONAL KEMENTERIAN
HUKUM DAN HAM

Disampaikan dalam Acara Forum Koordinasi Harmonisasi perundang-undangan


Direktorat JenderaL Peraturan perundang-undangan Kementerian Hukum dan HAM.
4 November 2011, Hotel Mirah Bogor.
bphn©2011

www.djpp.depkumham.go.id
PENGANTAR-1
R Sistem Hukum Nasional

Legal Substance
Materi Hukum

Struktur
Legal Culture
Legal Structure
Budaya Hukum

www.djpp.depkumham.go.id
PENGANTAR-2
R Permasalahan Substansi Hukum, antara lain:
¢ Tumpang tindih dan inkonsistensi
peraturan perundang-undangan.
¢ Perumusan peraturan perundang-
undangan yang kurang jelas
mengakibatkan sulitnya implementasi
dan menimbulkan banyak interpretasi.
¢ Implementasi undang-undang terhambat
peraturan pelaksanaannya.

www.djpp.depkumham.go.id
PENGANTAR-3
R Olehkarena itu pembentukan peraturan
perundang-undangan seharusnya dilakukan

bphn©2011
dengan pendalaman materi, sinkronisasi dan
harmonisasi dengan peraturan perundang-
undangan lain, dan diseminasi untuk membuka
akses dan meningkatkan partisipasi masyarakat.

www.djpp.depkumham.go.id
PENGANTAR-4
R Aspek perencanaan menjadi faktor penting.
Perencanaan Pembentukan peraturan

bphn©2011
perundang-undangan harus disusun secara
terencana, terpadu dan sistematis, serta di
dukung oleh cara dan metode yang pasti, dan
standar yang mengikat semua lembaga yang
berwenang membuat peraturan perundang-
undangan.

www.djpp.depkumham.go.id
PENGANTAR-5
R Salah satu dampak dengan berlakunya
Perubahan UUD 1945 adalah lahirnya UU No.
10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan

bphn©2011
Perundang-undangan, yang telah diubah
dengan UU No. 12 Tahun 2011, merupakan
amanah dari Pasal 22A UUD 1945
(Perubahan Kedua,2000).
R Mengatur di dalamnya tentang Program
Legislasi Nasional (Prolegnas) sebagai suatu
keharusan. (Pasal 16 UU No. 12 Tahun 2011)
6

www.djpp.depkumham.go.id
TAHAPAN PENYIAPAN RUU
R Tahap Perencanaan.
R Prolegnas
R Tahap Penyiapan RUU.
R Naskah Akademik RUU

bphn©2011
R Penyusunan RUU
R Telah dibicarakan antar kementerian

R Harmonisasi

R Pengajuan ke DPR dengan Supres

R Tahap Pembahasan di DPR.


R Pembicaraan Tingkat I
R Pembicaraan tingkat II (RUU disetujui/tdk disetujui)
R Tahap Pengesahan (Presiden)
R Tahap Pengundangan (Menkum HAM)
7

www.djpp.depkumham.go.id
POGRAM LEGISLASI NASIONAL
.
R Merupakan sarana untuk mencapai pembentukan
peraturan perundang-undangan yang tertib,

bphn©2011
sesuai dengan jenis, fungsi dan materi muatan,
serta mudah dilaksanakan.

v Prolegnas adalah instrumen perencanaan


program pembentukan Undang-Undang yang
disusun secara tererencana, terpadu, dan
sistematis. (pasal 1 angka 9)

www.djpp.depkumham.go.id
PROLEGNAS 3
R Pembentukan Substansi Hukum (Undang-Undang)
merupakan suatu proses yang dinamis dan akan terus
mengalami perubahan sesuai dengan dinamika masyarakat
pasal 1, angka 1 UU No, 12 Tahun 2011 : Pembentukan

bphn©2011
peraturan perundang-undangan adalah pembuatan peraturan
yang mencakup tahapan perencanaan, penyusunan,
pembahasan, pengesahan atau penetapan dan
pengundangan
o Penyusunan Undang-undang tidak boleh dilakukan
berdasarkan asumsi-asumsi dan keinginan sepihak dari
penyusunannya. (memperhatikan aspek Filosofis, Yuridis
dan Spsiologis)
o Tujuannya : Agar UU yang dibentuk tidak hanya
mempunyai Daya Laku tetapi juga mempunyai Daya Guna
di Masyarakat. 9

www.djpp.depkumham.go.id
DIMENSI PROLEGNAS
R 2 Dimensi:
v Sebagai instrumen/mekanisme
perencanaan program pembentukan

bphn©2011
Undang-Undang yang disusun secara
terencana, terpadu dan sistematis.
v Sebagai arah politik hukum nasional
atau potret rencana materi hukum
dalam kurun waktu tertentu untuk
mencapai tujuan negara yang sesuai
dengan Pancasila, UUD NRI 1945.
10

10

www.djpp.depkumham.go.id
KAIDAH PENUNTUN PROLEGNAS
R Prolegnas harus dibuat untuk menjamin
ketepatan isi dan ketepatan prosedur yang
harus didasarkan pada kaidah-kaidah penuntun

bphn©2011
hukum, yaitu hukum nasional harus:
(1) menjamin integrasi bangsa dan negara, baik
territori maupun ideologi;
(2) mengintegrasikan prinsip demokrasi dan
nomokrasi;
(3) berorientasi pada pembangunan keadilan
sosial;
(4) menjamin hidupnya toleransi beragama yang
berkeadaban.
11

www.djpp.depkumham.go.id
DASAR PENYUSUNAN PROLEGNAS
PASAL 18 UU NO. 12 TAHUN 2011
1. Perintah UUD NRI Tahun 1945 ;
2. Perintah ketetapan Majelis Permusyawaratan

BPHN 2011
Rakyat;
3. Perintah Undang-Undang Lainnya;
4. Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5. Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Nasional;
6. Rencana Pembangunan Jangka Menengah;
7. Rencana kerja pemerintah dan rencana strategis
DPR; dan
8. Aspirasi dan kebutuhan hukum masyarakat
12

www.djpp.depkumham.go.id
MEKANISME PENYUSUNAN PROLEGNAS-1
R Penyusunan dan Pengelolaan Prolegnas diatur lebih
lanjut dengan Peraturan Presiden No. 61 Tahun 2005.

1. Inventarisasi Rencana Legislasi.

bphn©2011
v Menteri cq BPHN meminta kepada Kemneterian
/LPNK Rencana pembentukan RUU di instansinya,
disertai dengan pokok materi yang akan diatur serta
keterkaitannya dengan Peraturan Perundang-
undangan lainnya.
v Konsepsi RUU yang meliputi: (a) Latar belakang
dan tujuan penyusunan; (b) Sasaran yang akan
diwujudkan; (c) Pokok-pokok pikiran, lingkup atau
obyek yang akan diatur; dan (d) Jangkauandan arah
pengaturan.
v Inventarisasi disajikan dalam bentuk matriks, yaitu
a. Matriks Program, dan 13

b. Matriks Substansi
www.djpp.depkumham.go.id
MEKANISME PENYUSUNAN PROLEGNAS-2
2. Naskah Akademis.
v RUU yang berasal dari DPR, Presiden, atau DPD, harus
disertai Naskah Akademik (pasal 43 ayat (3) UU No. 12
Tahun 2011;

bphn©2011
v Penyusunan Naskah Akademik Rancangan Undang-
Undang dilakukan sesuai dengan teknik penyusunan
Naskah Akademik (pasal 44 ayat (1) UU No. 12 Tahun
2011)
v Ketentuan mengenai teknik penyusunan Naskah
Akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tercantum dalam lampiran I yang merupakan bagian
tidak terpisahkan dengan Undang-Undang ini. (UU No.
12 Tahun 2011)
v NA disusun oleh instansi pemrakarsa RUU bersama
dengan BPHN. Dalam pelaksanaannya, penyusunan NA
dapat dilakukan oleh Perguruan Tinggi atau pihak lain 14
yang mempunyai kompetensi.
www.djpp.depkumham.go.id
MEKANISME PENYUSUNAN PROLEGNAS-3
3. Pengharmonisasian
v Menteri Hukum dan HAM melakukan
pengharmonisasian, pembulatan, dan pemantapan
konsepsi RUU dengan Menteri lain atau Pimpinan
LPNK penyusun RUU dan Pimpinan instansi

bphn©2011
Pemerintah terkait lainnya.
v Arah: Perwujudan keselarasan konsepsi tersebut
dengan:
a) falsafah negara (Pancasila);
b) tujuan nasional berikut aspirasi yang
melingkupinya;
c) UUD NRI 1945;
d) UU lain yang telah ada berikut segala peraturan
pelaksanaannya; dan
e) kebijakan lainnya yang terkait dengan bidang yang 15
diatur dalam RUU tersebut

www.djpp.depkumham.go.id
MEKANISME PENYUSUNAN PROLEGNAS-4
4. Forum Konsultasi
v Penyusunan Prolegnas di lingkungan
Pemerintah dilaksanakan melalui forum
konsultasi yang dikoordinasikan oleh BPHN
dalam bentuk Rapat Pembahasan Tahunan

bphn©2011
(RPT).
v Peserta RPT adalah Kementerian/LPNK, dan
dihadiri pula para ahli dan unsur masyarakat
yang diwakili oleh organisasi
profesi/massa/mahasiswa.
v RPT menetapkan usulan RUU Prioritas
Pemerintah yang akan dibawa ke Rapat
Koordinasi Prolegnas dengan Baleg DPR .
16

www.djpp.depkumham.go.id
MEKANISME PENYUSUNAN PROLEGNAS-5
5. Koordinasi Penyusunan Prolegnas
v Hasil RPT yang telah menetapakan usulan RUU Prolegnas
Pemerintah selanjutnya dikoordinasikan dengan Baleg DPR
untuk dibahas bersama usulan dari DPR untuk ditetapkan sebagai
RUU Prolegnas.

bphn©2011
v Rapat Koordinasi ini dilaksanakan dalam bentuk Panitia Kerja
(PANJA), terdiri dari Panja DPR dan Panja Pemerintah. Rapat
dibagi atas: Rapat Paripurna, Rapat Panitia Kerja (Panja), dan
Rapat Panitia Teknis.
v Hasilnya disahkan dengan penandatanganan oleh Ketua dan
Wakil-wakil Ketua Baleg mewakili DPR-RI dan Menteri Hukum
dan HAM mewakili Pemerintah.
v Selanjutnya dibawa ke Rapat Paripurna DPR RI untuk mendapat
penetapan.
v Penetapan dibuat dalam bentuk Keputusan DPR RI.
17

www.djpp.depkumham.go.id
PROLEGNAS 2010-2014
– Keputusan DPR RI No. 41A/DPR-RI/I/2010-2014
Menetapkan 247 RUU, terdiri dari:

v Dilihat dari dimensinya:

bphn©2011
v 144 RUU baru ( 58% ),103 RUU

perubahan/pengganti, termasuk UU warisan


kolonial ( 42 % ),

v Dilihat dari bidang kemenkoan:


v Bidang Polhukam lk. 84 RUU ( 34 %);

v Bidang Perekonomian: 105 RUU (42,5 ); dan


v Bidang Kesra 58 RUU (23,4 %).

18

www.djpp.depkumham.go.id
DAFTAR KOMULTAIF TERBUKA
Prolegnas 2010 – 2014 ada 5 (lima) daftar
Komultaif terbuka, dimaksudkan untuk mewadai
hal-hal mendesak yang perlu segera diatur
dengan undang-undang yaitu :

bphn©2011
1. Tentang Pengesahan Perjanjian Internasional

2. Akibat Putusan Mahkamah Konsyitusi;

3. Tentang Anggaran dan Pendapatan Belanja


Negara
4. Tentang Pembentukan Daerah Provinsi dan
Kabupaten/Kota dan
5. Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang.
19

www.djpp.depkumham.go.id
CAPAIAN PROLEGNAS : PROLEGNAS 2010-2014

¢ Tahun 2010 ditetapkan sejumlah 70


RUU Prioritas, dapat diselesaikan
manjadi UU sebanyak 13 UU

bphn©2011
¢ Tahun 2011 ditetapkan sejumlah 70
RUU Prioritas, ditambah dengan
RUU Luncuran tahun 2010 sebanyak
21 RUU, total 91 RUU yang harus
diselesaikan
¢ Sampai saat ini baru dapat
diselesaikan kurang lebih 21 RUU,
(disahkan menjadi UU) 20

www.djpp.depkumham.go.id
KENDALA
Berdasarkan hasil evaluasi
pelaksanaan Prolegnas ditemukan
kendala-kendala, al sebagai berikut:

bphn©2011
1. Jumlah Rencana Legislasi yang terlalu
banyak untuk diselesaikan selama lima
Tahun. (247 RUU)
2. Selalu muncul muncul rencana
legislasi baru baik yang diusulkan
DPR maupun Pemerintah pada
setiap tahunnya.
21

www.djpp.depkumham.go.id
KENDALA
3. Kurangnya komitmen, baik dari Pemerintah
maupun DPR terhadap daftar yang telah
ditetapkan.

bphn©2011
4. Kriteria RUU Prioritas terlalu umum sehingga
membuka kemungkinan banyaknya RUU
yang diprioritaskan.
5. Pada tingkat pelaksanaan penyusunan:
kurangnya akurasi dan validitas data RUU
yang diberikan oleh Departemen atau instansi
pemrakarsa.
22

www.djpp.depkumham.go.id
KENDALA
6. Substansi RUU: faktor berat­
ringannya substansi RUU akan

bphn©2011
sangat mempenga-ruhi proses
pembahasan. Ukuran berat dan
ringannya RUU dapat dilihat dari
jumlah pasalnya atau materi
pengaturannya yang sama sekali
"baru/asing“ .
23

www.djpp.depkumham.go.id
KENDALA
7. Kualitas RUU: belum semua RUU telah melalui
proses penyusunan dan perancangan yang baik dan
sesuai dengan teknik penyusunan peraturan
perundang-undangan yang baku. Sehingga

bphn©2011
memperlama pembahasan di DPR.
8. Tidak ada keharusan meneruskan pembahasan yang
tidak selesai pada masa yang lalu, maka setiap 5 tahun
parlemen membahasa dari awal lagi
9. Ketaatan jadual legislasi, juga masih kurang,
sehingga sulit untuk mencapai quorum, sehingga
menunda pembahasannya.
10. Kapabilitas Anggota Dewan juga menjadi kendala,
sebagian besar belum memahami, bagaimana
24
menyusun legal drafting, mereka harus belajar dan
tidak siap untuk membahas antrian RUU.
www.djpp.depkumham.go.id
MENIKAPI KENDALA-KENDALA TERSEBUT
DAPAT DILAKUKAN HAL-HAL SEBAGAI BERIKUT :
1. Proses Perencanaan Legislasi Nasional, dilakukan
melalui penelitian, pengkajian yang mendalam,
meliputi aspek asas-asas, norma, institusi dan
seluruh proses dituangkan dalam suatu Naskah

bphn©2011
Akademik.
2. Prolegnas sebagai potret politik hukum nasional
harus disusun secara sikron dengan :
a. sistem perencanaan pembangunan nasional;
b. Rencana pembangunan jangka panjang
nasional ;
c. Rencana pembangunan jangka menengah
d. Rencana strategis pemerintah dan DPR 25

e. Aspirasi dan Kebutuhan hukum Masyarakat.


www.djpp.depkumham.go.id
3. Perlu Penguatan mekanisme penyusunan Prolegnas
yang mendukung efisiensi dan efektivitas capaian
Prolegnas sesuai dengan kemampuan DPR dan
Pemerintah dalam membahas RUU

bphn©2011
4. Perlu ada evaluasi secara kualitatif dan kwantitatif
terhadap penyusunan prolegnas, baik dilingkungan
DPR maupun Pemerintah, sehingga akan
mendorong pemrakarsa untuk mengjukan Program
RUU yang benar-benar mempunyai nilai urgensi
secara nasional. Perlunya meninjau kembali (re-
design) Prolegnas yang selama ini dijalankan.

26

www.djpp.depkumham.go.id
PENUTUP
¢ Prolegnas berperan penting dalam pembangunan sistem
hukum nasional, karena daftar prioritas mencerminkan
politik hukum dan arah kebijakan pembangunan di bidang
substansi hukum
Prolegnas sebagai bagian dari manajemen Perencanaan

bphn©2011
¢
pembentukan Peraturan Perundang-undangan sangat
penting artinya, dalam pembentukan sistem hukum
nasional, agar berdaya guna dan berdaya laku bagi
kehidupan masyarakat dan negara dalam berbagai
aspeknya.
¢ Keberhasilan Prolegnas ditentukan oleh persiapan-
persiapan yang matang, melalui penelitian, pengkajian,
penyusunan Naskah Akademik dan RUU yang
konprehensif dan mendalam, serta partisipasi masyarakat
secara intens dalam perencanaan pembentukan peraturan27
perundang-undangan.
www.djpp.depkumham.go.id
bphn©2011
SEKIAN TERIMA KASIH,
Badan Pembinaan Hukum
28 Nasional Kementerian
Hukum dan HAM

www.djpp.depkumham.go.id