Anda di halaman 1dari 3

Asal Usul Proses Penciptaan

Kehadiran manusia pertama tidak terlepas dari asal-usul kehidupan di alam


semesta. Asal-usul manusia menurut ilmu pengetahuan tidak bisa dipisahkan dari teori
tentang spesies baru yang berasal dari spesies lain yang telah ada sebelumnya melalu
proses evolusi. Salah satunya Teori Darwin, Teori Darwin memuat duat aspek. Aspek
pertama bersifat ilmiah, namun ketika diungkapkan dan dilaksanakan, ternyata aspek
ilmiahnya sangat rapuh. Aspek kedia bersifat filosofis yang diberi penekanan oleh
Darwin sangat kuat dan diungkapkan secara jelas.

Evolusi manusia menurut ahli paleontologi dapat dibagi menjadi empat kelompok
berdasarkan tingkat evolusinya, yaitu: Pertama, tingkat pra manusia yang fosilnya
ditemukan di Johanesburg, Afrika Selatan pada tahun 1924 yang dinamakan fosil
australopithecus. Kedua, tingkat manusia kera yang fosilnya ditemukan di Solo pada
tahun 1891 yang disebut pithecantropus erectus. Ketiga, manusia purba, yaitu tahap
yang lebih dekat kepada manusia modern yang sudah digolongkan genus yang sama,
yaitu homo walaupun spesiesnya dibedakan. Fosil jenis ini ditemukan di Neander,
karena itu disebut homo neanderthalesis dan kerabatnya ditemukan di Solo (Homo
soloensis). Keempat, manusia modern atau homo sapiens yang telah pandai berpikir,
menggunakan otak dan nalarnya.

Bentuk transisi menurut skenario darwin yang sepenuhnya rekaan ini ada empat
kelompok yaitu

1. Australopithecus
2. Homo habilis
3. Homo erectus
4. Homo sapiens

Dengan menyusun mata rantai penghubung seperti diatas, evolusionis secara tidak
langsung menyatakan bahwa masing-masing dari spesies ini adalah nenek moyang bagi
yang lainnya. Singkatnya, skenario evolusi manusia, yang dicoba untuk dipertahankan
dengan bantuan berbagai lukisan sejumlah makhluk “setengah kera, setengah manusia”
yang muncul di media massa dan buku-buku pelajaran, dengan kata lain melalui
propoganda, tidak lain hanyalah sebuah dongeng tanpa dasar ilmiah.

Lord Solly Zuckerman, salah seorang ilmuwan terkenal di Inggris menyimpulkan


meskipun ia sendiri seorang evolusionis, bahwa pada kenyataannya tidak pernah ada
pohon kekerabatan yang menghubungkan makhluk mirip kera hingga kemanusia.

P.P Grasse juga menyimpulkan bahwa antara manusia dan kera berbeda, dengan kata
lain tidak terbukti bahwa manusia keturunan kera.
Al-Quran menegaskan bahwa manusia bukan keturunan kera, melainkan keturunan
manusia pertama (Adam) yang diciptakan oleh Allah dari tanah, Allah menciptakan
manusia yang terdiri dari materi dan roh, melalui tahapan-tahapan, dari tanah menjadi
lumpur hitam yang diberi bentuk dan kemudian menjadi tanah kering seperti terbakar,
kemudian setelah disempurnakan bentuknya, Allah meniupkan roh, maka jadilah Adam
(Al-Hijr : 28-29).

Ada tiga kata yang digunakan Al-Qur’an dalam menunjukkan tentang manusia, yakni :
insan, basyar, dan bani Adam, Basyar banyak mengacu pada pengertian manusia dari
segi fisik dan nalurinya yang berbeda dengan makhluk lain, sementara insan,
menunjukkan manusia dengan segala totalitasnya, jiwa dan raga. Manusia (insan) yang
berbeda antara seorang dengan seorang lain karena perbedaan fisik, mental dan
kecerdasan. Bani Adam menunjukkan pada semua manusia sebagai makhluk sosial.

Konsep manusia dalam Islam juga dapat diambil dari Q.S Al-Mu’minun : 12-14.
“Manusia diciptakan Allah dari saripati tanah yang dijadikan sperma (nuhfah) dan
disimpan didarah. Segumpal darah itu dijadikan segumpal daging. Lalu segumpal
daging dijadikan tulang. Tulang dibalut dengan daging yang kemudian dijadikan Allah
sebagai makhluk”.

Dalam Q.S Al-Sajadah : 7-9 “Setelah kejadian manusia dalam kandungan Allah Yang
Maha Adil. Setiap peranan akan mendapat balasan. Peranan yang baik akan mendapat
balasan yang baik, sementara peranan yang buruk akan mendapatkan balasan yang
buruk pula”.

Tugas atau fungsi manusia di dalam kehidupan ini adalah menjalankan peranan itu
dengan sempurna dan senantiasa menambah kesempurnaan itu sampai akhir hayat. Hal
itu dilakukan agar manusia benar-benar menjadi makhluk yang paling mulia dan
bertaqwa dengan sebenar-benar taqwa (Ali Imran : 102 dan Al-Hujurat : 13). Manusia
dilahirkan ditengah eksistensi alam semesta ini menyandang tugas dan kewajiban yang
berat dalam fungsinya yang ganda, yakni sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah
Allah.
Kesimpulan

Konsep manusia dalam Al-Qur’an dipahami dengan memperhatikan kata-kata yang


saling menunjuk pada makna manusia yaitu kata basyar, insan, dan al-nas. Basyar
adalah makhluk yang sekedar berada yang statis seperti hewan. Insan adalah makhluk
yang menjadi dan terus bergerak maju kearah kesempurnaan. Al-nas adalah menunjuk
pada semua manusia sebagai makhluk sosial atau secara kolektif.

Manusia memiliki fitrah dalam dirinya dan terbagi menjadi dua hal, yaitu potensi fisik
dan potensi rohaniah. Manusia yang mampu menjaga fitrahnya dan mampu mengelola
dan memadukan potensi akal, qalbu, dan nafsunya secara harmonis dapat disebut
sebagai manusia ideal.

Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia bukan keturunan kera, melainkan Adam.


Menurut konsep islam manusia diciptakan dari saripati tanah hingga menjadi tulang dan
dibalut daging. Tugas atau fungsi manusia di dalam kehidupan ini adalah menjalankan
peranan itu dengan sempurna dan senantiasa menambah kesempurnaan itu sampai akhir
hayat

Hakikat kehambaan kepada Allah adalah ketaatan, ketundukan dan kepatuhan, semua
itu hanya layak diberikan kepada Allah. Dalam hubungan dengan Tuhan, manusia
menempati posisi sebagai ciptaan dan Tuhan sebagai Pencipta. Posisi ini memiliki
konsekuensi adanya keharusan manusia menghambakan diri pada Allah dan dilarang
menghamba pada dirinya, serta menghamba pada hawa nafsunya. Oleh karena itu,
tanggungjawab hamba Allah adalah menegakkan keadilan, baik terhadap diri sendiri
maupun terhadap keluarga.

Konsekuensi kekhalifahan manusia di muka bumi adalah membangun, mengolah dan


memakmurkan bumi ini dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian kehidupan seorang
muslim akan dipenuhi dengan amaliah dan kerja keras yang tiada henti. Sebagai
khalifah, manusia diberi wewenang berupa kebebasan mimilih dan menentukan,
sehingga kebebasannya melahirkan kreatifitas yang dinamis. Dan kekuasaan manusia
sebagai wakil Tuhan dibatasi oleh aturan-aturan dan ketentuan-ketuan yang telah
digariskan oleh yang diwakilinya.