Anda di halaman 1dari 9

KASUS BEDAH

Nama Peserta : dr. Syahid Gunawan A


Nama Wahana : RSUD Prof.Dr.H. Anwar Makkatutu, Kab. Bantaeng
Topik : Combutsio Grade II A 27 %
Tanggal kasus : 23 Agustus 2019
Nama Pasien : An. AR (RM : 1794924)
Tanggal Presentasi : 29 Agustus 2019 Pendamping : dr. Hikmawaty K, MARS
Tempat Presentasi : Ruang Pertemuan RSUD Prof.Dr.H. Anwar Makkatutu
Obyek Presentasi : Anggota Komite Medik, Petugas Kesehatan & Dokter Internsip RSUD
Prof.Dr.H. Anwar Makkatutu, Kab. Bantaeng
◊ Keilmuan ◊ Ketrampilan ◊ Penyegaran ◊ Tinjauan Pustaka
◊ Diagnostik ◊ Manajemen ◊ Masalah ◊ Istimewa
◊ Neonatus ◊ Bayi ◊ Anak ◊ Remaja ◊ Dewasa ◊ Lansia ◊ Bumil
◊ Deskripsi :
 Keluhan utama : luka melepuh pada daerah perut, paha, lengan, alat kelamin
 Anamnesis terpimpin :
Masuk dengan keluhan luka melepuh pada daerah perut, lengan, paha dan alat kelamin
akibat terkena air panas pukul 12.30 (+/- 2 jam yang lalu). Riwayat tidak sadar (-),
muntah (-) sesak nafas (-).

◊ Tujuan :
Mengetahui kriteria penegakan diagnosis Combutsio dan penanganan
kegawatdaruratannya.
Bahan Bahasan ◊ Tinjauan Pustaka ◊ Riset ◊ Kasus ◊ Audit
Cara Membahas ◊ Diskusi ◊ Presentasi & Diskusi ◊ E-mail ◊ Pos
Data Pasien ◊ Nama : An.AR ◊ No. RM : 1794924
Nama RS : RSUD
Prof.Dr.H. Anwar Telp. : - Terdaftar sejak :
Makkatutu
Data Utama Untuk Bahasan Diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran Klinis : Pasien datang dalam keadaan sadar dengan keadaan
umum sakit sedang. Nadi : 119 kali per menit, Pernapasan: 48 kali per menit,
Suhu: 37,0 ⁰C.
Luka bakar gr II pada daerah kedua paha, lengan, perut, serta kelamin
2. Riwayat Pengobatan : tidak ada
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit : Pasien tidak pernah menderita penyakit seperti ini
sebelumnya
4. Riwayat Keluarga / Lingkungan : tidak ada
5. Riwayat pekerjaan : tidak ada

Daftar Pustaka :

1. Departemen/SMF bedah plastik rekonstruksi dan estetik. 2016. Mengenal Trauma


Inhalasi pada Penderita Luka Bakar.
2. Saputro, Iswinarno Doso. Kuliah klasik LUKA BAKAR.
3. Hospital care for children. 2016. Luka bakar.
4. Adinda Rudystina. 2018. Pertolongan Pertama Pada Luka Bakar.

Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis Combutsio
2. Tatalaksana pasien Combutsio dan mengatasi kegawatannya

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:


1. Subyektif:
 Keluhan utama : luka melepuh pada daerah perut, paha, lengan, alat kelamin
 Anamnesis terpimpin :
Masuk dengan keluhan luka melepuh pada daerah perut, lengan, paha dan alat
kelamin akibat terkena air panas pukul 12.30 (+/- 2 jam yang lalu). Riwayat tidak
sadar (-), muntah (-) sesak nafas (-).

Status generalis
Primary Survey
 Airway : Patent, clear
 Breathing : Complience dada simetris kiri-kanan. Jejas (-)
Suara napas
Bunyi Tambahan, Rh-/-, Wh-/-
 Circulation : HR: 119x/i
RR : 48 x/i
CRT < 2 detik
 Disability : GCS 15 E4M6V5
 Environment: T : 37,0 oc

Secondary survey

Status Lokalis
- Luka bakar grade II regio Abdomen,

- Luka bakar grade II regio brachi - antebrachi sinistra – palmar manus sinistra

- Luka Bakar gr II regio dorsal femoral Sinistra

- Luka Bakar gr II regio ventral cruris Sinistra

- Luka bakar gr II regio dorsum pedis Sinistra

- Luka bakar gr II regio ventral femoral dextra

- Luka bakar gr II regio genitalia (corpus-glans penis)

- BB : 8 kg

- PB : 70 cm
Persentase luka bakar gr II A:

6,5 + 1 + 0,5 +1 + 3 + 6 + 2 + 4 + 3 = 27 %

2. Assesment:
Berdasakan anamnesa dan pemeriksaan fisis serta mekanisme trauma, maka
pasien didiagnosa dengan combutsio grade II A luas 27%. Derajat luka bakar dinilai
berdasarkan gambaran luka yang ditemukan. Luas luka bakar dihitung berdasarkan rule of
nine namun berbeda pada anak anak oleh karena proporsi kepala pada anak lebih besar
dibandingkan dewasa dan ekstremitas bawah pada anak memiliki proporsi yang lebih kecil
dibandingkan dewasa. Luas permukaan tangan pada pasien bisa mempresentasikan 1% dari
luas permukaan tubuh pasien. Penilaian derajat II A oleh karena luka bakar terlihat sebagian
berupa bulla dan sebagian sudah pecah, dasarnya berwarna hiperemis.

Diagnosis Luka Bakar

Luka bakar adalah luka atau kerusakan kulit bisa sampai otot maupun tulang, yang terjadi
karena kontak dengan sumber. Terdapat berbagai macam sumber yang dapat menyebabkan
luka bakar:

• Panas (suhu di atas 60°C), contoh: api, uap panas, benda panas
• Kimia, contoh: soda api, air aki
• Listrik, contoh: listrik rumah tangga, petir
• Radiasi, contoh: sinar matahari (ultraviolet), bahan radio aktif

Untuk diagnosis luka bakar dapat dinilai dari derajat kedalaman, luas luka bakar, cedera
penyerta

A. Derajat kedalaman luka bakar

1. Derajat I (derajat Erytema): Biasanya disebabkan sengatan matahari. Kerusakan yang


timbul hanya sampai epidermis . Secara klinis kulit kemerahan dan nyeri hebat.
2. Derajat II (derajat Bullosa): Kerusakan yang ditimbulkan pada derajat ini mencapai
dermis, yang ditandai dengan adanya lepuh (Bulla). Derajat II sendiri terbagi dalam 2
derajat, derajat IIA (dangkal) dan derajat IIB (dalam). Pada derajat IIA, luka bakar
masih bewarna kemerahan dan masih terasa nyeri hebat, proses penyembuhan ± 2
minggu tanpa timbul jaringan parut (bila tidak ada infeksi). Sedangkan pada derajat
IIB luka bakar bisa bewarna pucat namun rasa nyeri berkurang, proses penyembuhan
lebih lama lama sehingga apabila luas perlu skin graft.
3. Derajat III: Kerusakan yang timbul mencapai seluruh tebal kulit, otot dan tulang.
Secara klinis kulit nampak hitam dan kering (nekrosis) dan tidak didapatkan rasa
nyeri.

B. Luas luka bakar

Luas luka bakar apabila sedikit dapat digunakan rumus rule of palm yaitu mengukur luas
menggunakan telapak tangan pasien. Selain itu pada dewasa dapat ditentukan dengan rumus
Wallace atau yang biasa dikenal dengan rule of nine. Dibawah ini akan diberikan gambar
agar lebih mudah untuk mengingat..

Setelah dilakukan penilaian pada luka bakar diatas, kemudian luka bakar dapat
diklasifikasikan menurut keparahannya yaitu ringan, sedang, berat.
A. Luka bakar ringan, beberapa kriteria yang dapat digolongkan menjadi luka bakar ringan
yaitu:

 luka bakar derajat II < 15% pada orang dewasa


 luka bakar derajat II < 10% pada anak-anak
 luka bakar derajat III < 1%

B. Luka bakar sedang

 luka bakar derajat II 15-25% pada orang dewasa


 luka bakar derajat II 10-20% pada anak-anak
 luka bakar derajat III < 10%

C. Luka bakar berat

 luka bakar derajat II 25% atau lebih pada orang dewasa


 Luka bakar derajat II 20% atau lebih pada anak-anak
 Luka bakar derajat III 10% atau lebih
 Luka bakar yang mengenai tangan, wajah, telinga, mata, kaki dan genetalia/perineum.
 Luka bakar dengan cedera inhalasi (akan dijelaskan selanjutnya), listrik, disertai
trauma lain

Selain klasifikasi menurut keparahannya, luka bakar juga dapat diklasisifikasikan menurut
waktunya, yaitu:

1. Fase akut / fase syok / fase awal, terjadi dalam 48 jam pertama. Fase ini adalah ketika
pasien berada di tempat kejadian atau sudah ird. Problemnya dapat berupa gangguan
pernafasan, cairan serta luka itu sendiri. Sehingga butuh resusitasi yang adekuat
2. Fase subakut, terjadi pada 48 jam – 21 hari atau ketika pasien sudah dalam perawatan.
Saat fase ini pasien memiliki problem luka, infeksi dan sepsis.
3. Fase lanjut, setelah 21 hari hingga 1 tahun atau merupakan fase setelah pasien
dipulangkan atau berobat jalan. Problem yang dapat terjadi adalah parut dan
kontraktur.

Tatalaksana awal Luka Bakar

Pada tatalaksana ini akan lebih dijelaskan tatalaksana yang dapat dilakukan di fasilitas
kesehatan pertama. Untuk fasilitas kesehatan yang sangat terbatas alat dan obat, hentikan
proses kebakaran pada pasien dengan cara berguling-guling karena apabila pasien berlari
maka kobaran api akan menjadi lebih besar.

Cuci luka bakar dengan air mengalir selama 30 menit, kemudian bungkus luka dengan plastik
wrap dapat ditambahkan silver sulfadiazine pada luka apabila ada. Jangan diolesi dengan
kecap, odol, mentega, kopi. Kemudian segera rujuk.

Saat fase akut atau pasien baru saja datang di IRD, hal yang dapat dilakukan adalah seperti
penanganan kasus emergency pada umumnya yaitu resusitasi A yang berupa bebaskan jalan
nafas dan penyebab yang paling sering adalah trauma inhalasi, B dapat dilakukan
pemasangan oksigen, C, pasang IV line kalau perlu double sekaligus pemeriksaan
laboratorium serta lakukan resusitasi cairan.

Resusitasi cairan yang sering digunakan adalah rumus Baxter (akan dijelaskan selanjutnya)
sekaligus dilakukan monitoring urin. Kemudian diperlukan beberapa tatalaksana lain yaitu
cegah infeksi dengan cara berikan antibiotik silver sulfadiazine, beri anti nyeri yang adekuat
dan cek imunisasi TT apabila belum diimunisasi, beri ATS atau immunoglobulin tetanus.
Apabila luka bakar derajat sedang dapat segera dirujuk.

Perhitungan cairan digunakan rumus Baxter, yang Hasil tersebut dibagi 2, setengah jam
diberikan dalam 8 jam dan setengah nya lagi diberikan setelah 16 jam berikutnya.
Perhitungan jam ini dimulai sejak kejadian.

Dewasa: 4 cc x kg BB x luas luka bakar / 24 jam. Cairan yang digunakan adalah Ringer
Laktat. Dapat diberikan dextran 500–1000 ml setelah 18 jam

Anak: 2 cc x kg BB x luas Luka Bakar (%) + kebutuhan faali/24 jam. Cairan yang diberikan
adalah RL : Dextran = 17 : 3. Kebutuhan Faali dapat digunakan rumus Holliday segar, yaitu
Trauma inhalasi seringkali menyebabkan kematian dengan cepat. Trauma inhalasi harus
dicurigai apabila korban terperangkap dalam ruangan tertutup atau korban kehilangan
kesadaran selama kebakaran, terutama bila dalam lingkungan asap yang tebal. Trauma
inhalasi kemungkinan besar terjadi apabila terdapat luka bakar di daerah wajah dan leher,
bulu-bulu alis dan hidung yang terbakar, suara nafas bronkial, wheezing, rales, sianosis, dan
sputum yang mengandung bercak-bercak karbon.

Plan

Diagnosa kerja : Combutsio Grade II 27 %

Tatalaksana :
- Ivfd Asering :
- 6 jam I : 54 tpm / infus pump (tertinggal 2 jam dari kejadian)
- 16 jam berikutnya : 20 tpm / infus pump
- Ceftriaxon 160 mg / 12 jam / iv
- Paracetamol 800 mg / 8 jam / iv
- Rawat luka : Burnazin cream (silver sulfadiazin), tutup luka dengan has lembab
Pendidikan
Edukasi terhadap pasien dan keluarga untuk menjaga higienitas makanan dan juga
sanitasi lingkungan agar tidak mudahnya terjangkit penyakit infeksi abses hati.

Konsultasi
Perlu dilakukan konsultasi kepada dokter spesialis Bedah untuk mengetahui
penanganan Combutsio dan tanda-tanda kegawatdaruratan.

Peserta, Pendamping,

dr. Syahid Gunawan A dr. Hikmawaty K, MARS

Supervisor,

dr. Baso Endra, Sp.B, M.kes