Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM OTK I

Dosen Pembimbing :
Anang Takwanto, ST, MT

Disusun Oleh:

Abdillah Hilmi Adiprawira Radtra 1741420075


Anbarwita Rahminar 1741420103
Ardilya Cahyaningtiyas 1741420024
Dian Fitriah Maharani 1741420037
Shilma Ananta Nurismasari 1741420022

D4 TEKNOLOGI KIMIA INDUSTRI

POLITEKNIK NEGERI MALANG

TAHUN AJARAN 2017/2018


I. Judul Praktikum :
Aliran Fluida

II. Tujuan :
a. Dapat memahami dan mengerti prinsip pengukuran aliran fluida
b. Dapat mengenal beberapa alat jenis ukur kecepatan alir fluida
c. Dapat melakukan pengukuran kecepatan aliran fluida dengan menggunakan
masing-masing alat ukur kecepatan alir fluida.
d. Dapat menentukan koefisien masing-masing alat ukur kecepatan alir fluida.

III. Dasar Teori :

Fluida adalah suatu zat yang dapat mengalir bisa berupa cairan atau gas. Pemakaian
mekanika kepada medium kontinyu, baik benda padat maupun fluida adalah didasari pada
hukum gerak newton yang digabungkan dengan hukum gayayang sesuai. Fluida didefinisikan
oleh Chorlton (1967), sebagai zat yang mengalami perubahan bentuk bila mendapat tekanan,
meskipun tekanan tersebut sangat kecil. Fluida dapat dipandang sebagai struktur molekul atau
media kontinu, tetapi untuk memodelkan fluida secara matematis, maka fluida diasumsikan
sebagai media kontinu.

Dalam pengukuran fluida termasuk penentuan tekanan, kecepatan, debit, gradien


kecepatan, turbulensi dan viskositas. Terdapat banyak cara melaksanakan pengukuran-
pengukuran, misalnya: langsung, tak langsung, gravimetrik, volumetrik, elektronik,
elektromagnetik dan optik. Pengukuran debit secara langsung terdiri dari atas penentuan
volume atau berat fluida yang melalui suatu penampang dalam suatu selang waktu tertentu.
Metoda tak langsung bagi pengukuran debit memerlukan penentuan tinggi tekanan, perbedaan
tekanan atau kecepatan dibeberapa dititik pada suatu penampang dan dengan besaran
perhitungan debit. Metode pengukuran aliran yang paling teliti adalah penentuan gravimerik
atau penentuan volumetrik dengan berat atau volume diukur atau penentuan dengan
mempergunakan tangki yang dikalibrasikan untuk selang waktu yang diukur.
Pada prinsipnya besar aliran fluida dapat diukur melalui :

1. Kecepatan (velocity)
2. Berat (massanya)
3. Luas bidang yang dilaluinya
4. Volumenya

 Alat Ukur Laju Aliran Fluida

Jenis alat ukur aliran fluida yang paling banyak digunakan diantaranya alat ukur
lainnya adalah alat ukur fluida jenis laju aliran. Hal ini dikarenakan oleh konstruksinya yang
sederhana dan pemasangannya yang mudah. Alat ukur aliran fluida jenis ini dibagi empat jenis
yaitu:

- Venturi meter
- Nozzle
- Pitot tubes
- Flat orifice
1. Venturi meter

Venturi Meter ini merupakan alat primer dari pengukuran aliran yang berfungsi
untuk mendapatkan beda tekanan. Sedangkan alat untuk menunjukan besaran aliran fluida
yang diukur atau alat sekundernya adalah manometer pipa U. Venturi Meter memiliki
kerugian karena harganya mahal, memerlukan ruangan yang besar dan rasio diameter
throatnya dengan diameter pipa tidak dapat diubah.

Untuk sebuah venturi meter tertentu dan sistem manometer tertentu, kecepatan
aliran yang dapat diukur adalah tetap sehingga jika kecepatan aliran berubah maka
diameter throatnya dapat diperbesar untuk memberikan pembacaan yang akurat atau
diperkecil untuk mengakomodasi kecepatan aliran maksimum yang baru.

Untuk Venturi Meter ini dapat dibagi 4 bagian utama yaitu:

 Bagian Inlet : Bagian yang berbentuk lurus dengan diameter yang sama seperti
diameter pipa atau cerobong aliran. Lubang tekanan awal ditempatkan pada bagian ini.
 Inlet Cone: Bagian yang berbentuk seperti kerucut, yang berfungsi untuk menaikkan
tekanan fluida.
 Throat (leher): Bagian tempat pengambilan beda tekanan akhir bagian ini berbentuk
bulat datar. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengurangi atau menambah kecepatan
dari aliran yang keluar dari inlet cone.

Pada Venturi meter ini fluida masuk melalui bagian inlet dan diteruskan ke bagian
outlet cone. Pada bagian inlet ini ditempatkan titik pengambilan tekanan awal. Pada bagian
inlet cone fluida akan mengalami penurunan tekanan yang disebabkan oleh bagian inlet
cone yang berbentuk kerucut atau semakin mengecil kebagian throat. Kemudian fluida
masuk kebagian throat inilah tempat-tempat pengambilan tekanan akhir dimana throat ini
berbentuk bulat datar. Lalu fluida akan melewati bagian akhir dari venturi meter yaitu
outlet cone. Outlet cone ini berbentuk kerucut dimana bagian kecil berada pada throat, dan
pada Outlet cone ini tekanan kembali normal.

Jika aliran melalui venturi meter itu benar-benar tanpa gesekan, maka tekanan
fluida yang meninggalkan meter tentulah sama persis dengan fluida yang memasuki
meteran dan keberadaan meteran dalam jalur tersebut tidak akan menyebabkan kehilangan
tekanan yang bersifat permanen dalam tekanan. Penurunan tekanan pada inlet cone akan
dipulihkan dengan sempurna pada outlet cone. Gesekan tidak dapat ditiadakan dan juga
kehilangan tekanan yang permanen dalam sebuah meteran yang dirancangan dengan tepat.

Kelebihan dan Kekurangan Venturimeter

Kelebihan

o Mempunyai penurunan tekanan yang lebih kecil pada kapasitas yang sama.

o Dapat pengukur debit besar.


o Jauh dari kemungkinan tersumbat kotoran.

o Mengukur cairan yang mengandung endapan padatan (solid).

Kekurangan

o Lebih mahal harganya.

o Sulit dalam pemasangan karena panjang.

o Tidak tersedia pada ukuran pipa dibawah 6 inchi.

2. Pitot tubes

Nama pitot tubes datang dari konsensip


Henry de Pitot pada tahun 1732. Pitot
tubes mengukur besaran aliran fluida
dengan jalan menghasilkan beda tekanan
yang diberikan oleh kecepatan fluida itu
sendiri dapat dilihat pada Gambar diatas,
pitot tubes membutuhkan dua lubang
pengukuran tekanan untuk menghasilkan
suatu beda tekanan. Pada pitot tubes ini biasanya fluida yang digunakan adalah jenis cairan
dan gas. Pitot tubes terbuat dari stainless steel dan kuningan.

Kegunaan Pitot Tube

o Mengukur tekanan fluida pada wind tunnel.

o Menghitung profil kecepatan aliran pada pipa.

Aplikasi Pitot Tube

o Mengukur kecepatan pada pesawat (airspeed).

o Altimeter pesawat.

o Mengukur tekanan fluida pada wind tunnel (terowongan angin).

2.2.3.2. Kelebihan dan Kekurangan Pitot Tube


Kelebihan:

o Susunan sederhana.

o Relatif mudah dan murah.

o Tidak perlu adanya kalibrasi.

o Pressure drop aliran kecil.

Kekurangan:

Keakuratanrendah untuk beberapa aplikasi.

Pipa harus lurus dengan kecepatan aliran untuk mendapatkan hasil yang baik.

3. Flat orifice
Orifice adalah plat berlubang yang disisipkan pada
laluan aliran fluida yang diukur, juga merupakan alat
primer yang berfungsi untuk mendapatkan beda
tekanan antara aliran pada up stream dan down stream
dari orifice itu sendiri. Orifice merupakan salah satu
alat ukur yang digunakan di lapangan geothermal dan
umumnya orifice diletakkan sebelum separator.

Kelebihan dan Kekurangan Orifice Meter

Kelebihan:

o Konstruksinya sederhana

o Rancangannya mudah

o Harganya relatif murah

o Mudah dikalibrasi

• Mudah dirancang/didapat

• Tingkat ketelitian cukup baik

Kekurangan:
• Penurunan tekanan sedang-tinggi

 Prinsip Kerja Alat Ukur Laju aliran


1. Venturi meter

Prinsip Kerja Venturimeter tanpa manometer ini berdasar pada Asas Bernoulli yang
berbunyi: Pada pipa mendatar (horizontal), tekanan fluida yang paling besar adalah pada
bagian kelajuan alirnya paling kecil, dan tekanan paling kecil adalah pada bagian kelajuan
alirnya paling besar.

Venturi meter Fluida yang mengalir dalam pipa mempunyai massa jenis ρ. Kecepatan
fluida mengalir pada pipa sebelah kanan, maka tekanan pada pipa sebelah kiri lebih besar.
Perbedaan tekanan fluida di dua tempat tersebut diukur oleh manometer yang diisi dengan
fluida dengan massa jenis ρ’ dan manometer menunjukkan bahwa perbedaan ketinggian
permukaan fluida di kedua sisi adalah H. Dengan menggunakan persamaan kontinuitas dan
Persamaan Bernouli, diperoleh :Menghitung kelajuan cairan dalam pipa memakai
venturimeter tanpa manometer Persamaan Bernoulli adalah dan kontinuitas A1.v1 = A2.v2,
maka Cairan mengalir pada mendatar maka h1 = h2 sehingga,

P1 – P2 = ½ .ρ.(v22– v12)_____(1)

Maka pada tabung fluida diam, maka tekanan hidrostatisnya : P1 = ρ.g.hA

dan P2 = ρ.g.hB

maka P1 – P2 = ρ.g(hA –hB ) = ρ.g.h —– (2)


Keterangan:

v : kelajuan gas, satuan (m/s)

v1 : kecepatan fluida pada pipa yang besar satuannya (m/s)

h : beda tinggi air raksa, satuan (m)

A1 : luas penampang pipa yang besar satuannya (m2)

A2 : luas penampang pipa yang kecil (pipa manometer) satuannya (m2)

ρ : massa jenis gas, satuannya (Kg/m3)

ρ’ : massa jenis cairan pada manometer satuannya (Kg/m3)

2. Pitot tubes

Prinsip Kerja

Energi kinetik dikonversikan menjadi


static pressure head

Cara kerja pitot tube adalah:

o Pipa yang mengukur tekanan statis


terletak secara radial pada batang yang
dihubungkan ke manometer (pstat).

o Tekanan pada ujung pipa di mana fluida masuk merupakan tekanan stagnasi (p0).

o Kedua pengukuran tekanan tersebut dimasukkan dalam persamaan Bernoulli untuk


mengetahui kecepatan alirannya.

o Sulit untuk mendapat hasil pengukuran tekanan stagnasi secara nyata karena adanya friksi
pada pipa. Hasil pengukuran selalu lebih kecil dari kenyataan akibat faktor C (friksi
empirik).

3. Orifice Meter

Prinsip kerja Orifice Meter


Prinsip kerja dari orifice meter adalah:

• Fluida yang diukur alirannya dialirkan melalui plat orifice.

• Perbedaan atau selisih tekanan fluida yang melalui orifice antara up stream dan down
stream dicatat.

• Suhu dan tekanan fluida pada up stream dicatat untuk mengetahui densitasnya.

IV. Alat dan Bahan :


1. Alat :
- Fluid flow Measurement bench
- Pitot tube
- Venture meter : D1= 39mm dan D2=18mm
- Orifice meter : D1=39mm dan Do=22mm
- Rotameter
- Stopwatch
2. Bahan : - Air bersih
V. Skema Kerja :
a. Tahap Persiapan

Mempersiapkan alat dan bahan yang akan digunakan

Memastikan alat siap dipakai

b. Tahap Pengoperasian

Memasang pipa pada alat sesuai variabel yang ditentukan

Memastikan semua kran pada alat tertutup


Membuka valve pada alat sesuai variabel yang telah
ditentukan

Menyalakan tombol on pada alat dan mengamati volumetic


rate serta manometer

Membuka kran pada pipa hingga tekanan pada manometer


dan aliran fluida konstan

Mengulangi langkah diatas dengan variabel lain dan


mengganti pipa dengan jenis yang lain

c. Tahap penyelesaian

Menutup kran dan mematikan alat

VI. Data Pengamatan :


 Venturi Meter
Keadaan awal Keadaan akhir Q (m3/s)
Putaran Valve
H1 (Pa) ∆H (mmHg)
4.21% 17,465 131 0.00145

 Orifice Meter

Keadaan awal Keadaan akhir Q (m3/s)


Putaran Valve
H1 (Pa) ∆H (mmHg)
4.21 % 114523,59 131 1.45

 Pitot Tube
Keadaan awal Keadaan akhir Q (m3/s)
Putaran Valve
H1 (Pa) ∆H (mmHg)
4.21%
VII. Perhitungan Data :
 Venturi meter

H : 131 mmHg
P : H x  x g
: 131m x 12,6 kg/m3 x 9,8 m/s2
: 16175,88 Pa

𝐶𝑣 2 𝑥 ∆𝑃 0,5
V2 Teoritis : 𝑑2 4
𝑥( )
(1−( ) )0,5 𝜌
𝑑1

0,98 2 𝑥 16175,88 0,5


: 0,18 4 0,5
𝑥( )
(1−( ) ) 0,001
0,39

: 238,8484
V percobaan : v₂ ×A
: 238,8484 ×0,025
: 5,9621 m/s

 Orifice meter
H : 131 mmHg
P : H x  x g
: 131m x 12,6 kg/m3 x 9,8 m/s2
: 16175,88 Pa

𝐶𝑝 2 𝑥 ∆𝑃 0,5
V Teoritis : 𝑑2 4
𝑥( )
(1−( ) )0,5 𝜌
𝑑1

0,61 2 𝑥 16175,88 0,5


: 0,22 4 0,5
𝑥( )
(1−( ) ) 0,001
0,39

: 112,2954 m/s
V percobaan : V₂×A
: 112,2954 × 0,0379
: 4,2559 m/s

 Pitot Tube
H : 131 mmHg
P : H x  x g
: 131m x 12,6 kg/m3 x 9,8 m/s2
: 16175,88 Pa

2 𝑥 ∆𝑃
V Teoritis : 𝐶𝑝 𝑋 √
𝜌

2 𝑥 16175,88
:1𝑋√ 0,001

: 1798,6105 m/s
V percobaan : V₂×A
: 1798,6105 × 0,001256
: 2,259054 m/s

VIII. Pembahasan
Fluida adalah zat yang tidak dapat menahan perubahan bentuk (distrursi) secara
permanen. Fluida dapat berupa cairan atau gas pada suhu tertentu dan tekanan tertentu.
Setiap fluida mempunyai densitas atau rapat massa tertentu. Perilaku zat cair yang
mengalir sangat bergantung pada kenyataan apakah fluida itu berada di bawah
pengaruh bidang batas padat atau tidak. (Fauziah dkk, 2007).

Pada praktikum kali ini akan digunakan tiga macam pipa yaitu pitot tube, orifice
tube dan venturi tube. Pipa tersebut dimasukkan ke dalam serangkaian alat yang
digunakan untuk mengukur aliran fluida. Percobaan ini menggunakan air bersih yang
dialiran melalui pompa air. Setelah pipa telah terpasang pada alat dan semua kran
tertutup, langkah pertama yang dilakukan yaitu menghitung banyaknya putaran yang
diperlukan valve hingga bukaan maksimal, valve sendiri berfungsi untuk mengatur
volumetric rate pada alat yang akan digunakan dan didapatkan sebanyak 1 putaran.
Disini, variabel yang akan digunakan yaitu pada putaran valve sebesar 4,21% untuk
tiap alat pengukuran kecepatan fluida. Kemudian buka valve pada alat sesuai dengan
variabel yang telah ditentukan dan diikuti dengan menyalakan tombol on serta pastikan
bahwa alat telah tersambung dengan aliran listrik. Setelah itu amati volumetric rate
serta manometer. Apabila tekanan pada manometer dan aliran fluida sudah konstan,
kran pada pipa lalu dibuka secara perlahan dan bersamaan agar tidak terjadi kebocoran.
Amati kembali manometer dan catat hasilnya pada keadaaan telah konstan.

Pada judul percobaan ini untuk semua variabel dan jenis pipa lain yang digunakan
dilakukan degan metode yang sama. Untuk data pengamatan pada percobaan pertama
yaitu dengan pitot tube dapat dilihat pada data pengamatan pada. Dari hasil yang
diperoleh menunjukkan bahwa hubungan antara laju alir dengan perbedaan tekanan
adalah semakin besar laju alir maka perbedaan tekanan juga akan semakin besar. Laju
alir fluida dipengaruhi oleh besarnya bukaan pada valve. Semakin besar bukaan valve
maka semakin besar laju alir yang dihasilkan. Dari data pada tabel diketahui pula
bahwa ada penyimpangan yang cukup besar antara laju alir saat praktikum dan laju alir
perhitungan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh turbulensi yang terjadi pada saat fluida
dialirkan sehingga mempengaruhi pada laju alir dan perbedaan tekanan pada
manometer yang dihasilkan.
pada percobaan kedua yaitu dengan orifice tube, data pengamatan dapat dilihat
pada. Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hubungan antara laju alir dengan
perbedaan tekanan adalah semakin besar laju alir maka perbedaan tekanan juga akan
semakin besar. Laju alir fluida dipengaruhi oleh besarnya bukaan pada valve. Semakin
besar bukaan valve maka semakin besar laju alir yang dihasilkan. Dari data pada tabel
diketahui pula bahwa ada penyimpangan yang cukup besar antara laju alir saat
praktikum dan laju alir perhitungan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh turbulensi yang
terjadi pada saat fluida dialirkan sehingga mempengaruhi pada laju alir dan perbedaan
tekanan pada manometer yang dihasilkan.
pada percobaan ketiga yaitu dengan venturi tube, data pengamatan dapat dilihat
pada. Dari hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hubungan antara laju alir dengan
perbedaan tekanan adalah semakin besar laju alir maka perbedaan tekanan juga akan
semakin besar. Laju alir fluida dipengaruhi oleh besarnya bukaan pada valve. Semakin
besar bukaan valve maka semakin besar laju alir yang dihasilkan. Dari data pada tabel
diketahui pula bahwa ada penyimpangan yang cukup besar antara laju alir saat
praktikum dan laju alir perhitungan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh turbulensi yang
terjadi pada saat fluida dialirkan sehingga mempengaruhi pada laju alir dan perbedaan
tekanan pada manometer yang dihasilkan.
Tujuan dilakukannya praktikum ini adalah untuk mengerti dan memahami
pengukuran aliran fluida serta dapat melakukan pengukuran dengan berbagai alat ukur
kecepatan aliran fluida. Alat ukur yang kami gunakan adalah Venturi meter,Orrifice
meter dan Pitot Tube.variabel yang digunakan adalah putaran valve. Sebelum
melakukan putaran valve dilakukan kalibrasi terlebih dahulu untuk menentukan persen
putaran,sehingga didapat bahwa variable putaran untuk variable 1 4,21% (1 putaran).

Dari data yang didapatkan dari hasil pengamatan diperoleh ΔH yang dapat
dikonversimenjadi pressure drop dengan cara mengalikan densitas merkuri (Hg) dan
gravitasi. Selanjutnya kami dapat menentukan V teoritis dari keduanya. Dapat dilihat
bahwa semakin banyak putaran valve semakin tinggi kenaikan pressure drop.
Kenaikan pressure drop yang besar ini disebabkan karena aliran fluida dalam pipa
semakin turbulen yang dapat ditunjukkan dengan meningkatnya bilangan
Reynolds,dengan keadaan aliran yang turbulen tersebut partikel-partikel yang ada
dalam aliran bergerak acak dan tidak stabil sehinggan berpotensi membentuk vortex.
Dengan semakin bertambahnya vortex yang terjadi menyebabkan aliran fluida
kehilangan energy yang lebih banyak sehingga pressure drop semakin besar.

Untuk membandingkan V teoritis dan V percobaan perlu menghitung debit alir


yang keluar semisal pada alat ukur Venturi meter 2 putaran valve menghasilkan debit
alir 0.017 m3/s untuk alat ukur Orrifice meter 2 putaran valve menghasilkan 0.016
m3/s dan yang terakhir untuk alat Pitot Tube 2 putaran valve menghasilkan 0.015
m3/s. Dari praktikum dapat dilihat bahwa semakin besar debit aliran maka kecepatan
aliran fluida semakin meningkat. Semakin besar kecepatan aliran fluida maka fluida
menjadi semakin turbulen yang dapat ditunjukkan dengan bilangan reynold.