Anda di halaman 1dari 16

CRITICAL BOOK

FISIKA MATEMATIKA I

DI SUSUN OLEH :

MUHAMMAD RIZKI AFIF BATUBARA


( 4161121016 )

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2017

i
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan RahmatNya sehingga penulis dapat menyelaesaikan tugas mata kuliah
FISIKA MATEMATIKA I ini yang berjudul “Critical Book”. Penulis berterima kasih kepada
Bapak dosen yang bersangkutan yang sudah memberikan bimbingannya.

Penulis juga menyadari bahwa tugas ini masih banyak kekurangan oleh karena
itu penulis minta maaf jika ada kesalahan dalam penulisan dan penulis juga
mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaan tugas ini.

Akhir kata penulis ucapkan terima kasih, semoga dapat bermanfaat dan bisa
menambah pengetahuan bagi pembaca.

Medan, 30 Oktober 2017

Muhammad Rizki Afif batubara

Penulis

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………........................................ ii

DAFTAR ISI……………...………………………………………………………... iii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………..………….. 4

Rasionalisasi Pentingnya CBR……..…………………………….….. 4

Tujuan Penulisan CBR………………………………………….…..….. 5

Manfaat CBR……………………………………………....………………. 5

BAB II RINGKASAN BUKU………….……....…………………………….... 6

Identitas Buku…………………………....……………....………………. 6

Ringkasan Buku..…………………….....……………....……….............. 7

BAB III PEMBAHASAN………………………………………………………… 13

Kelebihan dan Kekurangan Buku………...………………………... 13

BAB IV PENUTUP…………………………………........……………………… 15

Kesimpulan…...........................................……...………………………... 15

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………… 16

iii
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Memasuki tahun 2016 Perguruan Tinggi Khususnya keguruan menggunakan kurikulum baru
yaitu KKNI. Pada kurikulum ini mahasiswa baru terkususnya diberikan beberapa tugas pokok
pada stiap mata kuliah yang terdiri dari Tugas Rutin, Critical Book Report, Critical Journal
Review, Mini Riset, Rekayasa Ide, dan Project. Hal ini dilakukan karena sangat baik sebagai
pegangan ataupun modal para Mahasiswa untuk kedepanya terutama pada jurusan kependidikan.
Karenanya para dosen khususnya Dosen-Dosen Pendidikan Fisika memberikan 6 tugas ini
kepada seluruh Mahasiswa nya.

Dalam permasalahan Fisika, banyak gejala yang dipelajari terkait dengan dinamika yang
berulang-ulang atau periodik, seperti getaran atau osilasi. Contoh yang paling sederhana adalah
gerakan berulang pada gerak harmonik sederhana oleh pegas yang membentuk fungsi sinusoidal
jika kita gambarkan hubungan antara posisi dengan waktu. Di pihak lain, kadang kita dihadapkan
pula pada permasalahan yang terkait dengan struktur yang memiliki periodisitas, seperti
contohnya perambatan cahaya ketika melalui medium berlapis-lapis yang memiliki struktur
lapisan periodik.

Secara umum, gejala atau struktur periodik yang diamati tidak memiliki bentuk sesederhana
fungsi sinusiodal, bahkan seringkali tidak memiliki bentuk ungkapan analitik yang kita kenal.
Untuk menangani permasalahan yang terkait dengan sistem periodik tersebut, maka kita dapat
menggunakan uraian deret dengan fungsi-fungsi sinusoidal sebagai basisnya. Jika pada bab 1
kita telah berkenalan dengan uraian Taylor yang menjabarkan suatu fungsi berdasarkan deret
pangkat, maka pada bab ini kita akan membahas perumusan yang kurang lebih sama tetapi
diterapkan khusus pada fungsifungsi periodik yang secara umum tidak memiliki bentuk
ungkapan analitik.

Pada awalnya deret Fourier diperkenalkan oleh Joseph Fourier pada tahun 1807 untuk
memecahkan model masalah persamaan panas pada suatu lempeng logam (Fourier, 1878).
Meskipun motivasi awal adalah menyelesaikan model tersebut, namun kemudian deret Fourier
dikembangkan untuk menyelesaikan banyak permasalahan dalam matematika dan fisika seperti
penyelesaian persamaan diferensial biasa maupun parsial. Salah satu permasalahan yang menarik
pada deret Fourier adalah tentang kemonotonan koefisienkoefisien deret Fourier, yaitu monoton
turun dan konvergen ke nol karena merupakan salah satu syarat cukup agar deret tersebut
konvergen seragam.

4
B. Tujuan

1.Untuk memenuhi tugas mata kuliah Fisika Matematika I


2.Untuk mengulas isi buku pada materi Deret Fourier yang dikritikalisasi
3.Mencari dan mengetahui informasi yang ada dalam buku pada materi Deret Fourier tersebut.
4.Melatih diri untuk berfikir kritis dalam mencari informasi yang di berikan oleh setiap bab dari
buku.

C. Manfaat

1.Agar pembaca tanggap terhadap hal-hal penting yang ada didalam bab ini
2.Untuk memahami tentang mulai dari materi pada materi Deret Fourier hingga
pengaplikasiannya dalam Pembelajaran.
3.Melatih Kemampuan penulis dalam mengkritisi suatu buku pada materi Deret Fourier.

5
BAB II

RINGKASAN ISI BUKU

A. Identitas Buku

Buku Utama

1. Judul Buku : Matematika Terapan untuk para Insinyur dan Fisikawan


(terjemahan)
2. Penulis : Louis A. Pipes dan Lawrence R.Harvill
Penerbit : Gadjah Mada University Press
3. Tahun Terbit : 1991
4. Tebal : 646 Halaman
5. Kota : Yogyakarta
6. Bahasa : Indonesia

Buku Pembanding
1. Judul Buku : Kalkulus Lanjut
2. Penulis : Alit Bondan
3. Penerbit : Graha Ilmu
4. Tahun Terbit : 2007
5. Tebal : 160 Halaman
6. Kota : Yogyakarta
7. Bahasa : Indonesia

6
B. Ringkasan Isi Buku

Buku “Matematika Terapan untuk para Insinyur dan Fisikawan (terjemahan)” : 1991 oleh
Louis A. Pipes dan Lawrence R.Harvill
Fungsi Periodik

Fungsi f(x) dikatakan periodik dengan perioda P, jika untuk semua harga x berlaku: f (x + P) = f
(x) ; P adalah konstanta positif. Harga terkecil dari P > 0 disebut perioda terkecil atau sering
disebut perioda dari f(x). Contoh :

Fungsi sin x mempunyai perioda 2π; 4 π; 6 π; ...... karena sin (x+2 π) = sin (x+4 π) = sin (x+6
π) = ..........= sin x.

Periode dari sin nx atau cos nx ; dengan n bilangan bulat positif adalah 2 π /n.

Periode dari tan x adalah π.

Fungsi konstan mempunyai periode sembarang bilangan positif.

Fungsi f(x) dikatakan kontinu pada setiap segmen (piecewise continuous function), bila f(x)
hanya kontinu pada interval-interval tertentu dan diskontinu pada titik-titik yang banyaknya
berhingga. Harga f(x) di titik-titik diskontinu ditentukan dengan menghitung harga limit fungsi
f(x) untuk x mendekati titik diskontinu (ujung masing-masing interval).

Deret Fourier

Dalam beberapa permasalahan yang berhubungan dengan gelombang (gelombang suara, air,
bunyi, panas, dsb) ; pendekatan dengan deret Fourier yang suku-sukunya memuat sinus dan
cosinus sering digunakan. Dengan mengekspansikan ke dalam bentuk deret Fourier ; suatu
fungsi periodik bisa dinyatakan sebagai jumlahan dari beberapa fungsi harmonis, yaitu fungsi
dari sinus dan cosinus (fungsi sinusoidal).

Syarat /Kondisi Dirichlet Teorema : Jika, 1. f(x) terdefinisi dan bernilai tunggal, kecuali pada
beberapa titik yang banyaknya berhingga pada interval (-L:L). 2. f(x) periodik dengan perioda
2L. 3. f(x) dan f’(x) merupakan fungsi-fungsi yang kontinu pada setiap segmen pada interval
(L;L).

Deret fourier adalah deret yang digunakan dalam bidang rekayasa. Deret ini pertama kali
ditemukan oleh seorang ilmuan perancis Jean-Baptiste Joseph Fourier (1768-1830). Derat yang
selanjutnya dikenal sebagai deret fourier ini merupakan deret dalam bentuk sinusoidal (sinus dan
cosinus) yang digunakan untuk merepresentasikan fungsi-fungsi periodik secara umum. Selain
itu, deret ini juga sering dijadikan sebagai alat bantu dalam menyelasaikan persamaan
diferensial, baik persamaan diferensial biasa maupun persamaan diferensial parsial. Teori dasar
deret fourier cukup rumit. Meskipun demikian, aplikasinya cukup sederhana.

7
Deret fourier dapat dituliskan dengan persamaan sebagai berikut:

f(t) = A0 + A1 cos ωt + B1 sin ωt + … An cos nωt + Bn sin nωt

Salah satu aplikasi dari deret fourier adalah pada pemisahan perpaduan gelombang. Suatu
gelombang yang bergerak pada sutu medium bukan hanya gelombang yang berupa gelombang
tunggal namun merupakan perpaduan dari banyak gelombang. Dengan menggunakan deret
fourier maka perpaduan dari banyak panjang gelombang ini dapat dipisahkan kembali menjadi
gelombang-gelombang penyusunnya.

Selain adanya deret fourier, juga dikenal adanya transformasi fourier (Fourier Transform-FT).
Joseph Fourier mengemukakan bahwa sebuah fungsi periodik dapat direpresentasikan dengan
mengkombinasikan penjumlahan tak hingga dari fungsi sinus dan cosinus. Representasi fungsi
inilah yang kemudian dikenal sebagai Deret Fourier. Beberapa tahun setelah penemuan ini, deret
fourier dikembangkan menjadi bentuk yang lebih umum sehingga dapat diterapkan pada fungsi
yang non-periodik, bentuk yang lebih umum ini yang kemudian dikenal sebagai Transformasi
Fourier (FT).

Sejak penemuan ini, transformasi fourier menjadi metoda yang sangat cocok untuk menganalisis
fungsi atau sinyal1, karena transformasi fourier dapat mengubah fungsi atau sinyal dalam
domain waktu ke domain frekuensi. Biasanya sebuah fungsi digambarkan dalam domain waktu.
Artinya yang diukur dari fungsi tersebut adalah waktu. Dengan kata lain, jika kita gambarkan
fungsi tersebut pada sumbu simetri, maka sumbu x (sebagai variabel bebas) mewakili waktu, dan
sumbu y (sebagai variabel tak bebas) mewakili nilai pada waktu t tertentu, atau nilai amplitudo-
nya.

Nilai Rata-rata suatu Fungsi

Konsep nilai rata-rata suatu fungsi serupa dengan konsep rata-rata suatu kumpulan bilangan. Bila
terdapat sekumpulan bilangan, maka nilai rata-rat bilangan tersebut adalah diperoleh dengan
menjumlahkan bilangan-bilangan tersebut kemudian membaginya dengan banyaknya bilangan
yang dijumlahkan. Demikian halnya dengan rata-rata suatu fungsi f(x).

Cara yang sama dapat dilakukan untuk memperoleh koefisien an lainnya, yang secara umum
memberikan

an =1 πZ π −π

f(x)cosnx dx (6.10)

Selanjutnya bila fungsi f(x) tersebut di atas dikalikan dengan 1 2πsinx dan kemudian
mengintegralkannya pada interval [−π,π] maka akan diperoleh koefisien bn dengan cara yang
sama yaitu yang dapat dinyatakan dalam bentuk umum sebagai berikut

bn =1 πZ π –π f(x)sinnx dx (6.11)

8
Dengan cara seperti yang dijelaskan di atas, maka suatu fungsi periodik dapat diuraikan
(dieskpansikan) ke dalam suatu deret sinus cosinus yang dikenal sebagai deret Fourier.

Deret Fourier dalam Bentuk Kompleks

Dalam pembahasan tentang bilangan kompleks, telah diuraikan bahwa fungsi sinus dan cosinus
dapat dinyatakan dalam bentuk bilangan kompleks yaitu

sinnx = einx − e−inx 2i , cosnx =einx + e−inx

Dengan demikian berarti deret Fourier dapat pula dinyatakan dalam bentuk fungsi kompleks. f(x)
= c0 + c1eix + c−1e−ix + c2e2ix + c−2e−2ix + ...

Fungsi Genap dan Fungsi Ganjil

Suatu fungsi f(x) dikatakan sebagai fungsi genap jika f(−x) = f(x). Misalnya adalah f(x) = x2,
f(x) = cosx dan lain sebagainya. Sedangkan suatu fungsi f(x) dikatakan sebagai fungsi ganjil jika
f(−x) = −f(x). Contoh fungsi ganjil adalah f(x) = x, f(x) = sinx, f(x) = x3 dan lain sebagainya.
Secara grafis fungsi genap ditandai dengan kesimetrian terhadap sumbu vertikal sedangkan
fungsi ganjil ditandai dengan kesimetrian terhadap titik pusat koordinat.

f(x)dx, jika f(x) fungsi genap 0, jika f(x) fungsi ganjil

Tinjau suatu fungsi f(x) yang merupakan fungsi ganjil dan fungsi lain g(x) yang merupakan
fungsi genap. Misalkan perkalian kedua fungsi tersebut dinyatakan dengan h(x) = f(x)g(x).
Dengan menggunakan sifat fungsi ganjil dan fungsi genap dapatlah dinyatakan bahwa

h(−x) = f(−x)g(−x) = −f(x)g(x) = −h(x)

Hal tersebut menunjukkan bahwa hasil perkalian dua fungsi yang berbeda (yang satu fungsi
ganjil dan yang lain fungsi genap).

Transformasi Fourier

Deret Fourier sebagaimana yang diuraikan pada bagian terdahulu digunakan untuk mengekspansi
suatu fungsi periodik. Bagaimana halnya dengan fungsi nonperiodik? Fungsi nonperiodik dapat
dipandang sebagai fungsi periodik dengan periode tak hingga. Tinjau kembali persamaan 6.20
yang menunjukkan uraian deret fourier untuk fungsi yang periodik dengan interval [−l,l]. Jika
digunakan variabel baru ωn = nπ l , maka persamaan tersebut dapat dituliskan kembali sebagai

f(x) =a0 2+∞ X n= 1an cosωnx +∞ X n = 1bn sinωnx .

9
Buku “Kalkulus Lanjut” : 2007 oleh Alit Bondan

Fungsi Periodik

Definisi 1:

Sebuah fungsi f(x) dikatakan periodic dengan periode T > 0, jika berlaku:

f(x + T) = f(x) untuk semua x.

catatan:

(a) Jika T adalah periode terkecil, maka T disebut periode dasar, dan selang a < x < a + T ,
dimana a sebuah konstanta, disebut selang dasar fungsi periodik f(x). Untuk selanjutnya sebutan
periode dimaksudkan bagi periode dasar ini.

(b) Konstanta a pada selang dasar dapat dipilih sembarang, berharga nol atau negatif. Pilihan a =
- T/2 sering digunakan untuk memberikan selang dasar yang simetris terhadap x = 0, yakni
selang – T/2 < x < T/2.
Contoh fungsi periodik yang paling sederhana adalah fungsi sin x dan cos x, karena: sin (x
±2π) = sin x dan cos (x ±2π) = cos x Yang menunjukkan bahwa keduanya memiliki periode T
= 2π. Dalam hal ini x adalah variabel sudut dengan satuan radian atau derajad. Bila x bukan
merupakan variabel sudut, maka x harus dikalikan dengan suatu faktor alih p, sehingga α =px
berdimensi sudut. Jadi satuan p adalah: Satuan x radian = satuan p

Misalkan x berdimensi panjang, dengan satuan meter (m), maka satuan p = rad/m. Dengan
demikian pernyataan fungsi Sin dan Cos yang bersangkutan menjadi: sin x sin px ; cos x cos px

Jadi translasi sudut px = α sebesar satu periode T = 2π dapat dialihkan ke translasi variabel x
sejauh + T, dengan syarat: () 2 xT pxp ± =± π

Hubungan ini mengaitkan p dengan T melalui hubungan:

T =2πp

Yang memperlihatkan bahwa sin px dan cos px adalah periodik dengan

periode T. Khusus dalam hal T = 2π, maka p = 1

10
Deret Fourier

Andaikan f(x) adalah sebuah fungsi periodik dengan periode T yang terdefinisikan dalam selang

dasar a < x < a + T, yakni f(x) = f (x + T), maka fungsi f(x) dapat diuraikan dalam deret Fourier
sebagai berikut: sin) (cos 2 () 1 0 L nx b L nx a a fx n nn ππ ∑ ∞ = ++=

Dengan koefisien-koefisien a0, an, dan bn yang disebut sebagai koefisien- koefisien Fourier,
ditentukan oleh fungsi f(x) melalui hubungan integaral: ∫ ∫ ∫ dengan T = periode dan L = ½
periode.

Syarat Dirichlet

Persyaratan sebuah fungsi f(x) agar dapat dinyatakan dalam deret Forier

ditentukan oleh syarat Dirichlet berikut:

Jika:

(a) f(x) periodik dengan periode T

(b) Bernilai tunggal serta kontinu bagian demi bagian dalam selang dasarnya; a < x < a + T, dan

(c) ∫ + aT ax dx f (x) nilainya berhingga. Maka deret Fourier di ruas kanan konvergen ke nilai :

(1) f(x) di semua titik kekontinuan f(x) dan

(2) { } ())limlim( 2 1 00 −+ + fxfx di setiap titik ketakkontinuan x0

(pada daerah lompatan).

Fungsi Ganjil Dan Fungsi Genap

Perhitungan koefisien-koefisien Fourier sering kali dipermudah, jika fungsi f(x) yang diuraikan
memiliki sifat istimewa tertentu, yakni genap atau ganjil terhadap sumbu x = 0 (sumbu f(x)).
Keduanya didefinisikan sebagai berikut:

Definisi 2.

Sebuah fungsi f(x) adalah:

(a) genap, jika berlaku f(-x) = f(x)

(b) ganjil, jika berlaku f(-x) = - f(x) untuk semua x dalam daerah definisi f(x). Sebagai contoh,
fungsi x2 dan cos x adalah fungsi genap, karena (-x)2 = x2 dan cos (-x) = cos x. Sedangkan
fungsi x dan sin x adalah fungsi ganjil, karena (-x) = -(x) dan sin (-x) = - sin (x). Pada umumnya

11
fungsi pangkat genap dari x seperti (x2, x4, x6 , . . .) merupakan fungsi genap dan fungsi pangkat
ganjil dari x seperti (x, x3, x5, . . .) merupakan fungsi ganjil.

Deret Fourier Jangkauan Setengah

Dalam suatu persoalan fisika, fungsi f(x) mungkin hanya terdefinisikan dalam suatu selang
positif; 0 < x < L. Oleh karena itu seringkali perlu untuk memperluasnya ke seluruh sumbu x,
baik ke arah sumbu x positif maupun ke arah sumbu x negatif. Dalam hal ini ada 3 pilihan yang
dapat dilakukan sebagai berikut:

(1) Fungsi f(x) diperluas menjadi fungsi periodik tidak ganjil – tidak genap (seperti pada contoh
1) dengan periode T = L; dan selang dasarnya 0 < x < L, dengan L sembarang positif.

(2) Selang dasar 0 < x < L diperluas ke selang negatif secara simetris terhadap sumbu x = 0
menjadi – L < x < L, dan fungsi f(x) diperluas menjadi fungsi periodik dengan periode T = 2L.

Dalam hal ini kita mempunyai dua pilihan yakni memperluas fungsi f(x) sebagai fungsi genap
fc(x) atau fungsi ganjil fs(x).

Spektrum Fourier

Uraian Fourier suatu fungsi periodik f(x), pada dasarnya adalah uraian fungsi f(x) dalam
komponen-komponen harmoniknya, yakni berbagai komponen frekuensinya. Jika P merupakan
frekuensi harmonik dasarnya, maka frekuensi harmonik ke-n, Pn, diberikan oleh hubungan :
Pn = n.P , n = 1, 3, 5,……

Dengan

T= P π2 , dimana T merupakan periode dasarnya. Himpunan semua komponen frekuensi Pn =


n.P yang membentuk fungsi periodik f(x) ini disebut spektrum frekuensi atau spektrum fungsi
f(x) dan dikenal sebagai spektrum Fourier.

12
BAB III

PEMBAHASAN

 Kelebihan dan kekurangan Buku Utama


Kelebihan :
1. Buku ini dilengkapi dengan latar belakang permasalahan yang jelas dan padat terkait dengan
permasalahan yang terdapat disetiap babnya,sehingga pembaca menjadi tau mengenai
permasalahan yang dibahas pada setiap babnya.
2. Pada setiap permulaan bab pada buku ini penulis memberikan overview atau gambaran langsung
mengenai apa saja yang akan diterangkan pada setiap babnya dalam buku ini,sehingga dengan
begitu pembaca langsung dapat memahami maksud dan tujuan membaca materi pada buku
tersebut.
3. Pada setiap bab tidak lupa juga penulis memuat kata kunci yang penting-penting terkait dengan
materi yang ada dalam setiap babnya dalm bentuk Teks Box sehingga dengan begitu disamping
pembaca membaca mengenai teori pendukung yang lain pembaca juga dapat memahami materi
setiap babnya dari hanya membaca kata kunci dan penjelasannya dalam tekx box tersebut.

Kekurangan :
1. Buku ini sangatlah bagus tetapi cakupannya materinya sangat luas jika membahas point-point
materinya,jadi ada kecenderungan yang membaca buku ini tidak fokus pada satu materi karena
penjabarannya yang terlalu melebar.
2. Pada setiap bab dalam buku ini juga penulis hanya berpatokan pada kekuatan materi
saja,sehingga aplikasi rangkaian listrik dalam pengajaran yang akan diterapkan nantinya tersebut
sulit untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
3. Bab yang dibahas dalam buku ini banyak memuat gambar dan tabel yang mendukung penjelasan
materinya,tetapi penjelasan pada setiap tabel dan gambar yang dalam materinya tidak cukup
spesifik dan detai jadi saya secara pribadi kurang memahami penjelasan dari gambar maupun
tabel yang ada pada setiap babnya karena tidak dijelaskan panduan pengerjaannya jika
diaplikasikan kedalam contoh soal dan latihannya.

13
 Kelebihan dan kekurangan Buku Pembanding

Kelebihan :
1. Pada buku ini penekanan materinya lebih umum pada rangkaian listrik sederhana hingga yang
kompleks,jadi pembaca cukup mudah memahami materinya karena pada dasarnya setiap materi
dipaparkan secara sederhana.
2. Setiap bab nya juga memiliki latar belakang masalah yang bermacam-macam seperti pada buku
utama,dan dengan latar belakang permsalahan ini penulis memaparkan solusi bagaiamana
memecahkan permasalahan soal maupun latihan yang ada pada setiap babnya
3. Penulis juga memberkan overview atau gambaran secara tidak langsung mengenai apa yang akan
dibahas pada materi di setiap babnya.
4. Disetiap pemaparan materinya diberikan juga banyak contoh soal dan latihan yang dapat menguji
pemahaman pembaca setalh membaca setiap materi yang ada didalam bab dalam buku ini.
5. Dan dalam setiap materi dalam buku ini penulis memaparkan rangkuman dari kesleurhan materi
yang dibahas,sehingga dengan adanya rangkuman ini sudah sangat membantu membaca dalam
menyimpulkan dan memahami materi yang mereka telah baca didalam buku ini.

Kekurangan :
1. Buku ini tidak secara jelas memuat panduan mengerjakan soal maupun latihannya sehingga
pembaca kurang jelas mengerti cara mengerjakan contoh soalnya
2. Pada setiap babnya penulis juga kurang banyak memaparkan pendapat para ahli sebagai penguat
dari materi yang ada.
3. Dan tidak kalah penting pada buku pembanding ini penulis kurang banyak memaparkan tabel atau
gambar atau bahkan knosep dan diagram pendukung setiap teori karena dengan hal-hal yang
simpel tersebut pembaca sudah sangat terbantu dalam memahami setiap bab dan materi yang ada
dalam buku ini.

14
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Setelah saya membaca dan mencoba memahami setiap pembahasan materi yang ada didalam
kedua buku ini ,saya dapat menyimpulkan bahwa pada dasarnya kedua buku ini merupakan buku
yang sangat bagus,baik dari segi materi dan pemaparan soalnya .Buku utama yang saya kritik
berjudul Matematika Terapan untuk para Insinyur dan Fisikawan (terjemahan) oleh penulis
Louis A. Pipes dan Lawrence R.Harvill lebih menekankan pembahasan yang terbilang terstruktur
dari dasar,sehingga dengan memahami konsep latar belakang masalah yang ada didalam setiap
ponit.point materi yang ada dalam buku utama ini pembaca sudah dapat mengerti materinya
maupun dalam pengerjaan soalnya.
Sedangkan pada buku pembanding saya gunakan buku yang berjudul Kalkulus Lanjut oleh
penulis Alit Bondan pada dasarnya buku ini juga membahas hal yang sama dan tidak berbeda
jauh dengan buku utama hanya saja buku ini lebih menekankan pendalaman materi Fisika
Matematika I dari yang sederhana hingga yang kompleks.

Saran

Adapun saran yang dapat saya berikan setelah saya membaca dan memahami serta
mencoba menemukan kelebihan dan kekurangan yang terdapat didalam kedua buku ini
yaitu,sebaiknya kedua buku ini lebih mendapat penyempurnaan dari segi panduan pengerjaan
soalnya agar baik pembaca maupun yang lain dapat lebih mudah dalam pengerjaannya dan
otomatis cepat memahami materi Fisika Matematika I ini.

15
Daftar Pustaka

Bondan, Alit.2007.Kalkulus Lanjut.Graha Ilmu : Yogyakarta

Pipes,A.Louis & Harvill,R.Lawrence.1991.Matematika Terapan untuk Para Insinyur dan


Fisikawan.Gadjah Mada University Press : Yogyajarta

16