Anda di halaman 1dari 11

ETIKA BISNIS

KESADARAN MORAL DAN PRO KONTRA ETIKA BISNIS

OLEH : KELOMPOK III


I Made Bayu Purnama Putra (03)
I Made Kusuma Artha (08)
I Nyoman Sugita (13)
Ni Putu Arik Rahma Sari Dewi (18)
Amelia Purnama Dewi (23)
Putu Devi Yudarningsih (28)
Ni Made Melati Widyarini (33)
I Komang Kompiang Gunawan (38)
I Wayan Adi Widyastika (43)

FAKULTAS EKONOMI, BISNIS dan PARIWISATA


UNIVERSITAS HINDU INDONESIA
TAHUN PELAJARAN 2019/2020
1.1.Kasus yang Berkaitan dengan Kesadaran Moral
1.1.1. Berita
BPOM Sita Kosmetik Ilegal Mengandung Obat Terlarang
REPUBLIKA.CO.ID, PURWOKERTO — Bahan kosmetik yang disita
BPOM Semarang di Purwokerto, Rabu (15/5), diperkirakan mengandung obat
terlarang. Kepala BPOM Semarang, Dra Zulaimah MSi Apt, menyebutkan
hasil uji laboratorium krim kecantikan yang disita dari satu satu rumah
produksi di Kompleks Perumahan Permata hijau tersebut, memang masih
belum selesai. ”Tapi dari daftar bahan baku yang sudah disita, kosmetik
tersebut kami perkirakan mengandung berbagai jenis obat-obat keras yang
peredarannya sangat kami batasi,” kata Zualimah, saat ditelepon dari
Purwokerto, Kamis (16/5). Bahan baku yang dipergunakan sebagai bahan
baku krim tersebut, antara lain berupa Bahan Kimia Obat (BKO) seperti obat-
obatan jenis antibiotik, deksametason, hingga hidrokuinon. ”Kami belum tahu,
apakah obat-obatan BKO tersebut, dimasukkan dalam krim kosmetik atau
tidak, karena masih dilakukan penelitian. Namun untuk bahan kimia
hidrokuinon, kami perkirakan menjadi salah satu bahan utama pembuatan
kosmetik,” jelasnya. Di Indonesia, kata Zulaimah, bahan aktif Hidrokuinon
sangat dibatasi penggunaannya.

Bahan aktif tersebut, hanya diizinkan digunakan dalam kadar yang sangat
sedikit, dalam bahan kosmetik pewarna rambut dan cat kuku atau kutek.
Untuk pewarna rambut, maksimal kadar hidrokuinon hanya 0,3 persen
sedangkan untuk cat kuku hanya 0,02 persen. ”Sedangkan untuk krim kulit,
sama sekali tidak boleh digunakan,” jelasnya. Ia mengakui, di masa lalu zat
aktif hidrokuinon ini memang banyak digunakan untuk bahan baku krim
pemutih atau pencerah hulit. Namun setelah banyak kasus warga yang
mengeluh terjadinya iritasi dan rasa terbakar pada kulit akibat pemakaian zat
hidrokuinon dalam krim pemutih ini, maka penggunaan hidrokuinon dibatasi.
”Pemakaian jangka panjang bisa menyebabkan pigmen kulit yang terpapar zat
ini menjadi mati. Bahkan, setelah sel pigmen mati, kulit bisa berubah menjadi
biru kehitam-hitaman,” ujarnya menjelaskan.
Sementara mengenai adanya obat antibiotik dan deksametason yang
ikut disita, Zulaimah menyebutkan masih belum tahu penggunaan obat ini.
Obat-obatan tersebut, mestinya merupakan obat oral atau yang dikonsumsi
dengan cara minum. Selain itu, penggunaannya juga dibatasi karena
merupakan golongan obat keras. ”Karena itu, kami masih belum tahu untuk
apa obat-obatan itu. Kita masih melakukan pengujian, apakah obat-obatan
tersebut digunakan sebagai campuran krim tersebut atau tidak,” katanya.

Petugas BPOM sebelumnya menyita ribuan kemasan krim pemutih


kulit di salah satu rumah di perumahan Permata Hijau yang merupakan
komplek perumahan elite di Kota Purwokerto. Di rumah yang diduga menjadi
rumah tempat pembuatan krim kosmetik, petugas dari BPOM juga
menemukan berbagai bahan baku pembuatan krim. Penggerebekan rumah
produksi krim kecantikan itu, dilakukan karena rumah produksi tersebut belum
memiliki izin produksi dari BPOM. Sementara penggunaan bahan baku
kosmetik harus mendapat pengawasan ketat, karena penggunaan bahan baku
yang tidak semestinya bisa membahayakan konsumen. Penggerebekan
dilakukan, setelah petugas BPOM mendapat banyak keluhan dari konsumen
yang mengaku kulitnya terasa terbakar dan mengalami iritasi setelah
menggunakan krim yang dibeli dari salon kecantikan. Setelah dilakukan
pengusutan, ternyata krim tersebut diperoleh dari rumah produksi di
Purwokerto. Zulaimah menyebutkan, krim pemutih hasil produksi warga
Purwokerto ini, dijual ke klinik klinik dan salon kecantikan di seluruh wilayah
Tanah Air. “Dari hasil catatan transaksi yang kita peroleh, krim pemutih itu
banyak dijual di Semarang, Banyumas, Bali, Jabodetabek dan terbesar di Jabar
hingga Bandung,” jelasnya. Ia menyebutkan, pemilik rumah produksi yang
berinisial S, sudah dalam pengawasan petugas BPOM. ”Mulai besok akan
kami periksa. Bukan tidak mungkin nantinya akan ada tersangkalain dalam
kasus ini,” jelasnya. Ditambahkannya, pelanggaran dalam bidang POM, sesuai
UU No 35 tahun 2009 bisa dikenai sanksi pidana maksimal 15 tahun atau
denda Rp 1,5 miliar.

1.1.2. Analisis Kasus


Istanto Oerip Ketua PII mengatakan bahwa Etika didefinisikan sebagai
penyelidikan terhadap alam dan ranah moralitas dimana istilah moralitas
dimaksudkan untuk merujuk pada ‘penghakiman’ akan standar dan aturan tata
laku moral. Etika juga bisa disebut sebagai studi filosofi perilaku manusia
dengan penekanan pada penentuan apa yang dianggap salah dan benar. Dari
definisi itu kita bisa mengembangkan sebuah konsep etika bisnis. Tentu
sebagian kita akan setuju bila standar etika yang tinggi membutuhkan individu
yang punya prinsip moral yang kokoh dalam melaksanakannya. Namun,
beberapa aspek khusus harus dipertimbangkan saat menerapkan prinsip etika
ke dalam bisnis.

Tujuan etika bisnis adalah menggugah kesadaran moral para pelaku


bisnis dalam menjalankan good business dan tidak melakukan ‘monkey
business’ atau dirty business. Etika bisnis mengajak para pelaku bisnis
mewujudkan citra dan manajemen bisnis yang etis agar bisnis itu pantas
dimasuki oleh semua orang yang mempercayai adanya dimensi etis dalam
dunia bisnis.

Pelanggaran etika bisa terjadi di mana saja, termasuk dalam dunia


bisnis. Untuk meraih keuntungan, masih banyak perusahaan yang melakukan
berbagai pelanggaran moral. Praktik curang ini bukan hanya merugikan
perusahaan lain, melainkan juga masyarakat dan negara. Praktik korupsi,
kolusi dan nepotisme (KKN) tumbuh subur di banyak perusahaan.

Pelanggaran Prinsip Etika Bisnis yang dilakukan oleh para pengusaha


kosmetik berbahaya yaitu pelanggaran terhadap undang-undang kesehatan dan
undang-undang perlidungan konsumen dimana perusahaan tidak memberikan
peringatan kepada konsumen mengenai kandungan yang ada didalam produk
mereka yang sangat berbahaya untuk kesehatan. Melakukan apa saja untuk
mendapatkan keuntungan pada dasarnya dapat dilakukan asalkan tidak
merugikan pihak manapun. Seharusnya para produsen kosmetik lebih
mementingkan keselamatan komnsumen diatas kepentingan perusahaan maka
tentunya perusahaan itu sendiri akan mendapatkan laba yang lebih besar atas
kepercayaan masyarakat terhadap produk tersebut.

 Etika bisnis tidak akan dilanggar jika ada aturan dan sanksi. Kalau semua
tingkah laku salah dibiarkan, lama kelamaan akan menjadi kebiasaan.
Repotnya, norma yang salah ini akan menjadi budaya. Oleh karena itu bila
ada yang melanggar aturan diberikan sanksi untuk memberi pelajaran
kepada yang bersangkutan. Ada tiga sasaran dan ruang lingkup pokok
etika bisnis. Pertama, etika bisnis sebagai etika profesi membahas berbagai
prinsip, kondisi, dan masalah yang terkait dengan praktek bisnis yang baik
dan etis. Dengan kata lain, etika bisnis pertama-tama bertujuan untuk
menghimbau para pelaku bisnis untuk menjalankan bisnis secara baik dan
etis.
 menyadarkan masyarakat, khususnya konsumen, buruh, atau karyawan dan
masyarakat luas pemilik aset umum semacam lingkungan hidup, akan hak
dan kepentingan mereka yang tidak boleh dilanggar oleh praktik bisnis
siapapun juga. Pada tingkat ini, etika bisnis berfungsi menggugah
masyarakat bertindak menuntut para pelaku bisnis untuk berbisnis secara
baik demi terjaminnya hak dan kepentingan masyarakat tersebut.
 etika bisnis juga berbicara mengenai sistem ekonomi yang sangat
menentukan etis tidaknya suatu praktek bisnis. Dalam hal ini, etika bisnis
lebih bersifat makro atau lebih tepat disebut etika ekonomi. Dalam lingkup
makro semacam ini, etika bisnis bicara soal monopoli, oligopoli, kolusi,
dan praktik semacamnya yang akan sangat mempengaruhi, tidak saja sehat
tidaknya suatu ekonomi, melainkan juga baik tidaknya praktik bisnis
dalam sebuah negara.
1.2.Kasus yang Berkaitan dengan Pro dan Kontra dalam Etika Bisnis
1.2.1. Pro dan Kontra Kasus PT Indo Beras Unggul

Kasus beras produksi PT Indo Beras Unggul (IBU) menimbulkan polemik


panjang di masyarakat. Ada pihak yang setuju dengan langkah pemerintah dan
polisi membongkar permainan yang diduga dilakukan PT IBU. Namun ada
pula yang menilai pemerintah melakukan blunder dan mengada-ada dalam
kasus ini. Polisi menggerebek gudang beras milik PT IBU di Bekasi, Jawa
Barat. Dalam penggerebekan tersebut, polisi polisi menyita 1.100 ton beras
siap edar dalam kemasan berbagai merek antara lain Ayam Jago, Maknyuss,
Pandan Wangi, dan Rojo Lele. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman,
Kapolri Tito Karnavian, dan Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usahan
Syarkawi Rauf yang kemudian datang ke tempat penggerebekan lantas
menggelar jumpa pers menjelaskan indikasi pelanggaran yang dilakukan PT
IBU.

Setelah penggerebekan tersebut, pro dan kontra yang tajam muncul di


masyarakat. Polemik bertambah riuh karena beras merupakan pangan utama di
Indonesia sehingga semua orang merasa berkepentingan. Pro dan kontra
muncul di berbagai tahapan operasional PT IBU, dari hulu hingga hilir, mulai
pembelian gabah dari petani hingga pemasaran beras ke konsumen.

Berikut pro dan kontra yang muncul di masyarakat terkait kasus PT IBU;

1. Pembelian gabah petani

Harga acuan pembelian gabah panen di tingkat petani ditetapkan sebesar


Rp 3.700 per kg. Sementara itu, PT IBU dilaporkan membeli gabah dari petani
sebesar Rp 4.900 per kg. Artinya, PT IBU membeli gabah petani lebih tinggi
dibandingkan harga acuan. Pihak yang kontra terhadap pemerintah dan polisi
menilai apa yang dilakukan PT IBU justru bagus untuk petani. Dengan
menjual harga gabah lebih tinggi ke PT IBU, pendapatan petani tentu akan
lebih besar dan ujungnya akan meningkatkan kesejahteraan petani. Jadi, PT
IBU justru membantu program pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup
petani.
Manajemen PT IBU menambahkan, gabah seharga Rp 4.900 per kg yang
dibeli PT IBU memiliki kualitas yang lebih bagus dibandingkan gabah seharga
Rp 3.700. Selain itu, harga Rp 4.900 merupakan harga yang diterima di
gudang PT IBU. Dengan demikian harga Rp 4.900 per kg sudah
memperhitungkan biaya giling dan transportasi. Namun, bagi pemerintah,
polisi, dan sebagian pihak lainnya, strategi PT IBU membeli gabah lebih
mahal dari harga acuan justru merupakan bentuk kecurangan dan bisa
mengarah pada praktik monopoli.

Usaha-usaha penggilingan skala kecil atau mikro akan mati karena tidak
mendapat pasokan. Sebab, petani tentu lebih senang menjual gabahnya ke PT
IBU dengan harga Rp 4.900 per kg ketimbang ke usaha penggilingan kecil
yang hanya mampu membeli di sekitaran harga Rp 3.700 per kg. Usaha
penggilingan kecil yang sekarat kemudian diakuisisi oleh PT IBU sehingga
akhirnya PT IBU menguasai usaha penggilingan mulai dari skala mikro
hingga penggilingan besar. Dengan penguasaan stok gabah yang melimpah,
pihak yang pro pemerintah berpendapat akan mudah bagi PT IBU untuk
menetapkan harga termasuk di tingkat konsumen sekalipun. Pihak yang pro
pemerintah juga berpendapat, jika dikaji lebih dalam dan komprehensif,
pembelian harga gabah yang lebih mahal belum tentu mensejahterakan petani.
Tidak semua petani menyimpan hasil produksinya untuk makan sehari-hari.
Banyak petani yang ternyata lebih senang membeli beras di pasaran. Jika
harga gabah di tingkat petani naik, maka harga beras di tingkat konsumen juga
akan naik. Artinya, petani yang membeli beras di pasar juga akan terkena
imbasnya. Selain itu, naiknya harga gabah di tingkat petani akan mendorong
inflasi dan mengerek naik harga barang-barang kebutuhan lainnya. Pada
gilirannya, ini juga akan memukul petani karena biaya kebutuhan sehari-hari
menjadi melonjak.

2. Informasi gizi dan Angka Kecukupan Gizi (AKG)

PT IBU dan sebagian pihak menilai tidak ada yang salah dengan
pencantuman informasi gizi dan AKG pada kemasan beras produksi PT IBU.
Praktik ini justru bagus karena memberikan informasi kepada masyarakat
mengenai kandungan gizi produk yang akan dibeli. Namun, bagi pemerintah
dan polisi, praktik itu merupakan upaya penyesatan informasi. Praktik ini,
menurut polisi, tidak hanya dilakukan PT IBU, tetapi juga banyak produsen
beras lainnya.

Pemerintah dan polisi beranggapan, informasi gizi sebenarnya hanya untuk


makanan olahan yang langsung dikonsumsi. Sementara beras tergolong bukan
makanan olahan yang bisa langsung dikonsumsi oleh manusia. Untuk bisa
dikonsumsi, beras harus ditanak menjadi nasi terlebih dahulu. Pencantuman
informasi gizi pada kemasan beras dinilai polisi bisa menyesatkan konsumen
karena ketika ditanak menjadi nasi, kandungannya akan berubah.

3. Mutu SNI

Dalam kemasan beras merek Maknyuss, tertulis mutu Standar Nasional Indonesia
(SNI) produk tersebut adalah Mutu I. Sebagian pihak menilai kualitas beras
Maknyuss memang bagus sehingga wajar mendapat standar SNI mutu I. Namun
menurut polisi, berdasarkan hasil uji laboratorium, beras merek Maknyuss
sebenarnya tergolong SNI mutu III. Klasifikasi mutu beras didasarkan pada
sejumlah parameter antara lain warna beras, perentase broken, ada tidaknya
kotoran.

4. Harga beras di tingkat konsumen

PT IBU dan sebagian masyarakat menilai harga beras Maknyuss sebesar Rp


13.700 per kg dan harga beras Ayam Jago Rp 20.400 per kg merupakan harga
yang wajar dan sesuai dengan mekanisme pasar. Sebagian konsumen juga menilai
harga beras Maknyuss tidak tergolong mahal dan memang sesuai dengan
mutunya. Namun, pemerintah dan polisi menilai PT IBU menjual produk berasnya
terlalu tinggi di atas harga acuan yang ditetapkan sebesar Rp 9.500 per kg.
Ini membuat tata niaga beras tidak berkeadilan. Petani sebagai produsen beras
hanya mendapatkan untung kecil, sementara pedagang mendapatkan untung besar
dengan merekayasa sedemikian rupa. Kepala Bagian Penerangan Umum Polri
Komisaris Besar Martinus Sitompul menuturkan ada sejumlah pelanggaran yang
diduga dilakukan oleh PT Indo Beras Unggul (IBU). Ia mengatakan pelanggaran
dilakukan di sektor hulu dan hilir produsen beras Maknyuss dan Ayam Jago
tersebut.

2.2.2. Analisis Kasus


Pelanggaran Prinsip Etika Bisnis yang dilakukan oleh PT IBU yaitu telah
melanggar Undang-Undang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang
Pangan, hingga dugaan pencucian uang. “Intinya semuanya dilanggar,” kata
Martinus Sitompul di Mabes Polri, Rabu, 2 Agustus 2017, terkait
perkara beras ini. Martinuse jelaskan produk beras PT IBU tidak sesuai
dengan standard nasional Indonesia (SNI). Ia menyebutkan parameternya
sudah jelas. Beras Maknyuss dan Ayam Jago menggunakan SNI pada 2008
dengan menyebutkan tingkat premium. Padahal dalam SNI 2008 tidak
dikenal istilah premium.
Martinus melanjutkan SNI 2008 menggunakan mutu antara angka 1
sampai 5. Setelah diuji laboratorium produk beras PT IBU mutunya di bawah
nomor 2, sedangkan dalam sertifikat yang dimiliki PT IBU menyatakan mutu
nomor 1. “Pelanggaran, mutunya tidak sesuai dengan SNI,” kata
dia. Menurut Martinus, sebetulnya untuk produk beras tidak wajib
menggunakan SNI. Apabila menggunakan SNI maka harus mencantumkan
komponen sesuai ketentuan. Misalnya kadar air dan menir dalam kemasan
beras. “Dalam Ayam Jago dan Maknyuss, dia tidak mencantumkan kelas
mutu, jadi tidak tahu mutu kelas berapa,” kata dia. Martinus melanjutkan,
pelanggaran selanjutnya adalah memberikan informasi yang menyesatkan
sehingga melanggar Undang-Undang Pangan dan Konsumen. Ia
menyebutkan PT IBU sengaja menggunakan informasi nilai gizi berupa
angka kecukupan gizi (AKG).

Martinus menjelaskan AKG telah diatur oleh perturan Badan Pengawas


Obat dan Makanan. AKG hanya dicantumkan untuk produk olahan yang bisa
dikonsumsi manusia secara langsung. Dengan pencantuman AKG di produk
PT IBU maka berpotensi menyesatkan karena ketika beras diolah maka
angka kecukupan gizinya pasti berubah. Selain itu, AKG mengacu pada
acuan label gizi. “Jadi semuanya melanggar ketentuan, ini sangat berpotensi
menyesatkan konsumen,” kata Martinus. Sementara dari sisi hulu, Martinus
menyebutkan PT IBU telah melanggar aturan persaingan usaha. Yaitu telah
membeli harga beras awal Rp 4.900 dan menjual terlalu tinggi Rp 20.400.
Sehingga bisa mematikan usaha-usaha yang lain.
Untuk itu polisi menjerat dengan Pasal 144 juncto Pasal 100 ayat 2
Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan, Pasal 62 juncto
Pasal 8 ayat 1 huruf e,f,i dan atau Pasal 9 h Undang-Undang Nomor 8 Tahun
1999. Selain itu juga dijerat Pasal 3 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010
tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang serta
Pasal 382 Bis KUHP.
1.3 Kesimpulan

 Dalam kasus pertama yaitu Kasus yang berkaitan dengan kesadaran moral, sebuah
perusahaan kosmetik melanggar etika bisnis dengan memproduksi kosmetik yang
mengandung obat terlarang. Pelanggaran Prinsip Etika Bisnis yang dilakukan oleh
para pengusaha kosmetik berbahaya yaitu pelanggaran terhadap undang-undang
kesehatan dan undang-undang perlidungan konsumen dimana perusahaan tidak
memberikan peringatan kepada konsumen mengenai kandungan yang ada didalam
produk mereka yang sangat berbahaya untuk kesehatan. Disini perusahaan tersebut
tidak memiliki kesadaran moral akan bahaya yang dapat ditanggung oleh konsumen
nantinya.
 Pelanggaran Prinsip Etika Bisnis yang dilakukan oleh PT IBU yaitu telah melanggar
Undang-Undang Perlindungan Konsumen, Undang-Undang Pangan, hingga dugaan
pencucian uang Pelanggaran selanjutnya adalah memberikan informasi yang
menyesatkan sehingga melanggar Undang-Undang Pangan dan Konsumen.

1.4 Saran
Untuk pengusaha kosmetik dan PT IBU sebaiknya memperbaiki etika dalam
berbisnis. Harus transparan mengenai kandungan-kandungan apa saja yang
terkandung dalam produk yang mereka produksi agar tidak ada permasalahan dan
keresahan yang terjadi akibat informasi yang kurang atau salah bagi para konsumen
tentang produk atau makanan yang akan mereka pakai dan konsumsi.