Anda di halaman 1dari 13

TUGAS TEORI AKUNTANSI “ KEWAJIBAN “

Dosen pengampu : Ni Ketut Mulyati, SE.M.Si

Oleh Kelompok VII

1. Ni Komang Yuliana Letisya 1702021763


2. Kadek Krisna Deviyanti 1702021820
3. I Gusti Putu Bayu Sanjaya Putra 1702021828
4. Gusti Ayu Kade Ratih 1902022435

Tahun Ajaran 2018/2019


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul “
Kewajiban “ ini tepat pada waktunya.
Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas Ni
Ketut Mulyati, SE.M.Si pada Mata Kuliah “ Teori Akuntansi “Selain itu, makalah ini juga
bertujuan untuk menambah wawasan tentang Kewajiban bagi para pembaca dan juga bagi
penulis.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Ni Kertut Mulyati SE.M.Si, selakuDosen
bidang study Teori akuntansi yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat menambah
pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang saya tekuni.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi sebagian
pengetahuannya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.
Saya menyadari, makalah yang saya tulis ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun akan saya nantikan demi kesempurnaan
makalah ini.

Denpasar, 30 September 2019

Penulis
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Seperti aset, kewajiban merupakan elemen neraca yang akan membentuk
informasi sematik berupa posisi keuangan bila dihubungkan dengan elemen yang lain
yaitu aset dan ekuitas atau pos-pos rinciannya.
Kewajiban merespresentasikan sebagian sumber dana dari aset badan usaha
berupa potensi jasa (manfaat) fisik dan non-fisik yang memampukannya untuk
menyediakan barang dan jasa.
Kewajiban dapat dipaksakan menurut hukum sebagai konsekuensi dari kontrak
mengingat atau atau peraturan perundangan. Tugas atau tanggung jawab untuk
bertindak atau melakukan sesuatu pengorbanan ekonomis yang harus dilakukan
perusahaan karena tindakan atau transaksi sebelumnya.
Pengorbanan ekonomis dapat berbentuk penyerahan utang, aktifa lain jasa-jasa,
atau melakukan pekerjaan tertentu.tindakan atau transaksi sebelumnya itu dapat
berupa uang, barang atau jasa, diakuinya suatu beban atau kerugian

1.2 Rumusan Masalah


Beberapa masalah yang akan dibahas pada makalah ini, yaitu:
1. Apa saja karakteristik dari kewajiban?
2. Bagaimana mengukur dan menentukan jumlah rupiah pada saat penanggungan,
peneusuran, dan pelunasan?
3. Apa saja atribut dalam penilaian kewajiban?
4. Apa saja kriteria pengakuan kewajiban?

1.3 Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini, yaitu:
1. Menyelesikan tugas kelompok dari mata kuliah “Teori Akuntansi”.
2. Untuk mengetahui karakteristik kewajiban.
3. Untuk mengetahui cara mengukur dan menentukan jumlah rupiah pada saat
penanggungan, peneusuran, dan pelunasan
4. Untuk mengetahui atribut dalam penilaian kewajiban.
5. Untuk mengetahui kriteria dari pengakuan kewajiban.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian
Menurut FASB (SFAC No. 6, Prg. 35) : Kewajiban adalah pengorbanan manfaat
ekonomik masa datang yang cukup pasti yang timbul dari keharusan sekarang suatu
kesatuan usaha untuk mentransfer aset atau menyediakan/ menyerahkan jasa kepada
kesatuan lain dimasa datang sebagai akibat transaksi atau kejadian masa lalu.
Menurut IASC : Liabilitas adalah kewajiban kini dari perusahaan yang timbul dari
peristiwa masa lalu, penyelesaian yang diharapkan dapat menghasilkan arus keluar
dari sumber daya peusahaan dalam mewujudkan manfaat ekonomi.
Menurut AASB (SAC No. 4) : Kewajiban adalah pengorbanan masa depan atas
potensi jasa atau manfaat ekonomi masa depan bahwa entitas saat ini wajib kepada
entitas lain sebagai akibat transaksi masa lalu atau peristiwa masa lalu lainnya.
Menurut APB : Kewajiban adalah kewajiban ekonomi perusahaan yang diakui dan
diukur sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Kewajiban juga
mencakup kredit tangguhan tertentu yang tidak kewajiban tapi yang diakui dan diukur
sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Menurut IFRS (PSAK 57) : Liabilitas adalah kewajiban kini dari perusahaan yang
timbul dari peristiwa masa lalu, penyelesaian yang diharapkan dapat menghasilkan
arus keluar dari sumber daya peusahaan dalam mewujudkan manfaat ekonomi.

2.2 Karakteristik Utama Kewajiban


2.2.1 Pengorbanan Manfaat Ekonomik
Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu objek harus memuat suatu
tugas atau tanggung jawab kepada pihak lain yang mengharuskan kesatuan
usaha untuk melunasi, menunaikan atau melaksanakan dengan cara
mengorbankan manfaat ekonomik yang cukup pasti dimasa datang.
Pengorbanan manfaat ekonomik diwujudkan dalam bentuk transfer atau
penggunaan aset kesatuan usaha.
Transfer manfaat ekonomik kepada pemilik (pemegang saham) tidak
termasuk dalam pengertian pengorbanan sumber ekonomik masa datang yang
membentuk kewajiban karena untuk menjadi kewajiban pengorbanan tersebut
harus bersifat memaksa dan bukan atas dasar kebijakan atau keleluasaan
manajemen untuk memutuskan baik dalam hal jumlah rupiah maupun dalam
saat transfer.
Secara umum, keharusan mengorbankan sumber ekonomik masa datang
tidak dapat menjadi kewajiban kalau keharusan tersebut bersifat terbuka atau
tidak pasti. Kesatuan usaha tidak mempunyai keharusan untuk mentransfer aset
ke pemilik kecuali dalam hal kesatuan usaha dilikuidasi. Walaupun secara
konseptual ekuitas juga merupakan kewajiban bagi perusahaan, pengorbanan
sumber ekonomiknya tidak cukup pasti baik dalam jumlah maupun saat
sehingga kewajiban harus dibedakan dan dilaporkan secara terpisah dengan
ekuitas.
2.2.2 Keharusan Sekarang
Untuk dapat disebut sebagai kewajiban, suatu pengorbanan ekonomik
masa datang harus timbul akibat keharusan sekarang. Pengertian “sekarang”
dalam hal ini mengacu pada 2 hal: waktu dan adanya.
Waktu yang dimaksud adalah tanggal pelaporan (neraca). Artinya : pada
tanggal neraca kalau perlu atau kalau dipaksakan secara yuridis, etis, atau
rasional pengorbanan sumber ekonomik harus dipenuhi karena keharusan itu
telah ada.
Keharusan kewajiban mencakupi keharusan kontraktual, keharusan
konstruktif atau bentukan, keharusan demi keadilan dan keharusan bergantung
atau bersyarat.
a. Keharusan Kontraktual
Keharusan yang timbul akibat perjanjian atau peraturan hukum yang di
dalam nya kewajiban bagi suatu kesatuan usaha di nyatakan secara eksplit
atau implicit dan mengikat. Contoh : utang pajak, utang bunga, utang
usaha, utang wesel, dan utang obligasi.
b. Keharusan Konstruktif
Keharusan yang timbul akibat kebijakan kesatuan usaha dalam rangka
menjalankan dan memajukan usahanya untuk memenuhi apa yang disebut
praktik usaha yang baik atau etika bisnis dan bukan untuk memenuhi
kewajiban yuridis.
Contoh : servis gratis sepeda motor yang dijanjikan oleh dealer sepeda
motor, pengembalian uang untuk barang yang ternyata cacat atau rusak,
dan tunjangan hari raya
c. Keharusan Demi Keadilan
Keharusan yang ada sekarang yang menimbulkan kewajiban bagi
perusahaan semata-mata karena panggilan etis atau moral karena peraturan
hukum atau praktik bisnis yang sehat.
Contoh : kewajiban memberikan donasi untuk badan amal tiap akhir tahun
dan kewajiban member hadiah kepada penduduk yang tinggal di sekitar
pabrik karena ketidaknyamanan yang ditimbulkannya.
d. Keharusan Bergantung atau bersyarat
Keharusan yang pemenuhannya tidak pasti karena bergantung pada
kejadian masa datang atau terpenuhinya syarat – syarat tertentu dimana
datang.

2.2.3 Akibat Transaksi atau Kejadian Masa Lalu


Sama seperti definisi aset, kriteria ini sebenarnya menyempurkan kriteria
keharusan sekarang dan sekaligus sebagai tes pertama pengakuan suatu pos
sebagai kewajiban tetapi tidak cukup untuk mengakui secara resmi dalam
system pembukuan. Untuk mengakui sebagai kewajiban, selain definisi,
kriteria yang lain seperti keterukuran, keberpautan, dan keterandalan juga harus
dipenuhi. Transaksi atau kejadian masa lalu adalah kriteria untuk memenuhi
definisi tetapi bukan kriteria untuk pengakuan. Jadi, adanya pengorbanan
manfaat ekonomik masa datang tidak cukup untuk mengakui suatu objek ke
dalam kewajiban kesatuan usaha untuk dilaporkan via statemen keuangan.

2.3 Karakteristik Pendukung (Tidak membatalkan objek sebagai kewajiban)


FASB menyebutkan beberapa karakteristik pendukung selain karakteristik yang
tersebut di atas, yaitu:
1) Keharusan membayar kas
Pelunasan kewajiban pada umumnya dilakukan dengan pembayaran kas.
Keharusan membayar kas pada waktu dan jumlah rupiah tertentu di masa datang
merupakan petunjuk yang kuat atau jelas mengenai adanya kewajiban. Akan
tetapi, untuk menjadi kewajiban, penyerahan aset ( kas ) bukan satu – satunya
kriteria tetapi meliputi pula penyerahan jasa. Esensi kewajiban lebih terletak pada
pengorbanan manfaat ekonomik masa datang dari pada terjadinya pengeluaran
kas.
2) Identitas terbayar jelas
Jika identitas terbayar sudah jelas, maka hal tersebut hanya sekedar
menguatkan bahwa kewajiban memang ada tetapi untuk menjadi kewajiban
identitas terbayar tidak harus dapat ditentukan pada saat keharusan terjadi.
Jadi yang penting adalah bahwa keharusan sekarang pengorbanan sumber
ekonomik di masa datang telah ada dan bukan siapa yang harus dilunasi atau
dibayar.
3) Berkekuatan hukum
Memang ada pada umumnya, keharusan suatu entitas untuk mengorbankan
manfaat ekonomik timbul akibat klaims yuridis yang mempunyai kekuatan
memaksa. Definisi kewajiban sebenarnya merupakan bayangan cermin aset

2.4 Pengakuan, Pengukuran, Penilaian, dan Pengungkapan


2.4.1 Pengukuran
Pengakuan dilakukan setelah suatu kewajiban terukur dengan cukup pasti.
Penentuan kos kewajiban pada saat terjadi paralel dengan pengukuran asset.
Terjadinya kewajiban pada umumnya disertai dengan pemerolehan asset atau
timbulmnya biaya. Pemerolehan asset dapat berupa penguasaan barang
dagangannya atau asset nonmoneter lainnya yang terjadi dari transaksi
pembelian. Pemerolehan asset dapat juga berupa kas yang terjadi dari transaksi
peminjaman (penerbitan obligasi) atau penerimaan uang muka untuk barang
atau jasa. Oleh karena itu pengukur yang paling objektif untuk menentuka kos
kewajiban pada saat terjadinya adalah penghargaan sepakatan (meansured
considerations) dalam transaksi-transaksi tersebut dan bukan jumlah rupiah
pengorbanan ekonomik masa datang. Hal ini berlaku khususnya untuk
kewajiban jangka panjang.
Untuk kewajiban jangka pendek, kos penundaan dianggap tidak cukup
material sehingga jumlah rupiah kewajiban yang diakui akan sama denga
jumlah rupiah pengorbanan sumber ekonimik (kas) masa datang. Dengan kata
lain, untuk kewajiban jangka pendek, kos pendanaan (financing cost) atau kos
penundaan (bunga sebagai nilai waktu uang) dianggap material.
Penghargaan sepakatan suatu kewajiban merefleksi nilai setara tunai atau
nilai sekarang (current value) kewajiban yaitu jumlah rupiah pengorbanan
sumber ekonomik seandainya kewajiban dilunasi pada saat terjadinya. Dengan
demikian, bisnis pencatatan kewajiban adalah nilai setara tunai bukan nilai
nominal utang.
2.4.2 Pengakuan
Pada prinsipnya, kewajiban diakui pada saat keharusan telah mengikat
akibat transaksi yang sebelumnya telah terjadi. Mengikatnya suatu keharusan
harus dievaluasi atas dasar kaidah pengakuan (recognition rules). kriteria
pengakuan lebih berkaitan dengan pedoman umum dalam rangka memenuhi
karakteristik kualitatif informasi sehingga elemen statemen keuangan hanya
dapat diakui bila kriteria definisi, keberpautan, keterandalan, dan keterukuran
dipenuhi. Kriteria umum ini tidak operasional sehingga diperlukan kaidah
pengakuan sebagai penjabaran teknis kriteria pengakuan umum. Dalam hal
kewajiban, kaidah pengakuan berkaitan dengan saat atau apa yang menandai
bahwa kewajiban dapan diakui (dibukukan). Kriteria pengakuan kewajiban:
1) Ketersediaan dasar hukum
Kaidah ini terkait dengan kualitas keterandalan dan keberpautan informasi.
Faktur pembelian (invoice) dan tanda penerimaan barang (receiving
report) merupakan dasar hukum yang cukup meyakinkan untuk mengakui
kewajiban. Telah disebutkan bahwa ketersediaan dasar hukum yang
menimbulkan daya paksa hanya merupakan karateristik pendukung
definisi kewajiban. Jadi, kaidah ini tidak mutlak sehingga kewajiban juga
dapat diakui bila terdapat bukti substantif adanya keharusan konstruktif
atau demi keadilan.
2) Keterterapan konsep dasar
Kaidah ini merupakan penjabaran teknis kriteria keterandalan. Keadaan-
keadaan tertentu yang menjadikan konsep konservatisma terterapkan dapat
memicu pengakuan kewajiban. Implikasi dianutnya konsep konservatisma
adalah rugi dapat segera diakui tetapi tidak demikian dengan untung. Ini
berarti kewajiban dapat diakui segera sedangkan aset tidak.
3) Ketertentuan substansi ekonomik transaksi
Kaidah ini berkaitan dengan masalah relevansi informasi. Utang sewaguna
(lease obligations) dapat diakui pada saat transaksi meskipun tidak ada
transfer hak milik dalam transaksi sewaguna tersebut. Dalam hal ini,
kewajiban dapat atau bahkan harus diakui kalau secara substantif
sewaguna tersebut sebenarnya adalah pembelian angsuran (yaitu
memenuhi salah satu kriteria kapitalisasi).
4) Keterukuran nilai kewajiban
Keterukuran merupakan salah satu syarat untuk mencapai kualitas
keterandalan informasi. Definisi kewajiban mengandung kata cukup pasti
(probable) yang mengacu tidak hanya pada terjadinya pengorbanan sumber
ekonomik masa datang tetapi juga pada jumlah rupiahnya.
Kaidah Pengakuan Kewajiban
a. Pada saat penandatanganan kontrak bila pada saat itu hak dan kewajiban telah
mengikat. Dalam hal kontrak eksekutori, pengakuan menunggu sampai salah satu
pihak memanfaatkan/ menguasai manfaat yang diperjanjikan atau memenuhi
kewajibannya (to perform).
b. Bersamaan dengan pengakuan biaya bila barang dan jasa yang menjadi biaya
belum dicatat sebagai aset sebelumnya.
c. Bersamaan dengan pengakuan aset. Kewajiban timbul ketika hak untuk
menggunakan barang dan jasa diperoleh.
d. Pada akhirnya periode karena penggunaan asas akrual melalui proses
penyesuaian. Pengakuan ini menimbulkan pos utang atau kewajiban akrual
(accrued liabilities).
Kriteria Pengakuan Kewajiban Bergantung
a. Aset cukup pasti turun nilainya
b. Kewajiban cukup pasti timbul
c. Kejadian yang menjadikan kewajiban bergantung cukup pasti terjadi
d. Jumlah keharusan dapat diestimasikan dengan cukup layak

2.4.3 Penilaian
Jika pengukuran mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang pada
saat terjadinya, penilaian mengacu pada penentuan nilai keharusan sekarang
pada setiap saat terjadinya kewajiban sampai dilunasinya kewajiban. Makin
mendekati saat jatuh tempo, nilai kewajiban akan makin mendekati nilai
nominal.
Jadi, penilaian kewajiban pada saat tertentu adalah penentuan jumlah
rupiah yang harus dikorbankan seandainya pada saat tersebut kewajiban harus
dilunasi.
2.4.3.1 Atribut Penilaian Menurut FASB
1) Nilai pasar sekarang (current market value)
2) Nilai pelunasan neto (net settlement value)
3) Nilai diskunan aliran kas masa datang (discounted value of future
cash flows)
Basis (atribut)
Keterangan Contoh Pos Yang Berpaut
Penilaian
Kewajiban penerbit opsi
Berbagai kewajiban yang
sebelum jangka opsi habis dan
Harga pasar sekarang melibatkan komoditas dan
beberapa kewajiban pedagang
surat- surat berharga.
efek.
Berbagai kewajiban yang
melibatkan jumlah rupiahUtang usaha, utang garansi,
Nilai pelunasan neto yang cukup pasti tetap waktudan utang wesel jangka
pelunasannya tidak cukuppendek.
pasti.
Kewajiban moneter jangka
Nilai diskunan aliran kas panjang jumlah rupiahUtang obligasi, dan utang
masa datang maupun saat pembayaranwesel jangka panjang.
cukup pasti.

2.4.3.2 Penilaian Dalam Tahap Penelusuran


Penilaian kewajiban setiap saat dalam periode dari saat pengakuan
sampai pelunasan.
Penentuan jumlah rupiah pengorbanan ekonomik (keharusan
sekarang) setiap saat seandainya pada saat tersebut kewajiban harus
dilunasi. Penentuan niali pelunasan sekarang (NPS)

2.4.4 Pelunasan
Pelunasan adalah tindakan atau upaya yang sengaja dilakukan oleh
kesatuan usaha sehingga bebas dari kewajiban tersebut. Pelunasan biasanya
pemenuhan secara langsung kepada pihak yang berpiutang. Pelunasan
menjadikan kewajiban tersebut hapus, tiada atau lenyap secara langsung.
Beberapa kewajiban menjadi batal atau kesatuan usaha menjadi bebas dari
kewajiban lantaran penghapusan seluruhnya/sebagian, kompromi,
penimbulan/pengakuan kewajiban baru/pengganti, pengambilalihan kewajiban
oleh pihak lain atau restrukturisasi utang. FASB menentukan kriteria lenyapnya
suatu kewajiban sebagai berikut:
a. Debitor membayar/melunasi kreditor dan bebas dari semua keharusan yang
berkaitan dengan utang.
b. Debitor telah dibebaskan secara hukum dari statusnya sebagai penanggung
utang baik keputusan pengadilan maupun oleh kreditor dan dapat dipastikan
bahwa debitor tidak akan diharuskan melakukan pembayaran di masa
datang yang berkaitan dengan utang.
c. Debitor menaruh kas atau aset lainnya yang tidak dapat ditarik kembali
dalam suatu perwakilan yang semata-mata digunakan untuk pelunasan
pembayaran bunga serta pokok suatu pinjaman tertentu dan sangat kecil
kemungkinan bagi debitor untuk diharuskan lagi melakukan pembayaran di
masa datang yang berkaitan dengan pinjaman tersebut.

Kriteria pelenyapan kewajiban menurut SFAS No. 76, prg. 3:


a. Transfer aset (finansial atau nonfinansial) sebagai pemenuhan tugas (duty)
atau keharusan
b. Dibebaskan secara yuridis
c. Pengambilalihan oleh pihak lain (obligor lain)
d. Pembentukan dana pelunasan sampai titik pembebasan substantif

2.4.5 Penyajian Pengungkapan


Secara umum, kewajiban disajikan dalam neraca berdasarkan urutan
kelancarannya sejalan dengan aset. PSAK No. 1 menggariskan bahwa aset
lancar disajikan menurut urutan likuiditas sedangkan kewajiban disajikan
menurut urutan jatuh tempo. Ini berarti kewajiban jangka pendek disajikan
lebih dahulu daripada kewajiban jangka panjang. Hal ini dimaksudkan untuk
memudahkan pembaca untuk mengevaluasi likuiditas perusahaan. PSAK No. 1
menentukan bahwa semua kewajiban yang tidak memenuhi kriteria sebagai
kewajiban jangka pendek diklasifikasikan sebagai kewajiban jangka panjang.
Kriteria tersebut adalah (a) diperkirakan akan diselesaikan dalam jangka waktu
siklus normal operasi perusahaan, atau (b) jatuh tempo dalam jangka waktu dua
belas bulan dari tanggal neraca.
 Penyajian Kewajiban Lancar, dalam praktek, kewajiban lancar biasanya
dicatat dalam catatan akuntansi dan dilaporkan dalam laporan keuangan
pada nilai penuh jatuh temponya. Karena singkatnya priode waktu yang
terlibat, yang sering kali kurang dari satu tahun. Akun kewajiban lancar
biasanya disajikan sebagai klasifikasi pertama dalam kelompok kewajiban
dan ekuitas pemegang saham di neraca. Dalam kelompok kewajiban lancar
akun-akun itu dapat dicantumkan menurut jatuh temponya, dalam jumlah
yang menurun, atau menurut prefensi likuiditasnya.
 Penyajian hutang jangka panjang, perusahaan yang mempunyai banyak
terbitan hutang jangka panjang dalam jumlah besar seringkali hanya
melaporkan satu akun dalam neraca dan mendukungnya dengan komentar
serta skedul dalam catatan yang menyertainya. Pengungkapan catatan
umumnya berisi dari kewajiban, tanggal jatuh tempo, suku bunga, provisi
penarikan, pembatasan yang dilakukan oleh kreditor, dan aktiva yang
disepakati atau digadaikan sebagai jaminan.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Kewajiban mempunyai tiga karakteristik utama yaitu pengorbanan manfaat
nekonomi masa datang, menjadi keharusan sekarang dan timbul akibat transaksi atau
kejadian masa lampau
Pengertian kewajiban merupakan bayangan cermin pengertian aset. Transaksi atau
kejadian masa lalu menimbulkan penguasaan sekarang perolehan manfaat ekonomik
masa datang untuk aset sedangkan untuk kewajiban hal tersebut menimbulkan
keharusan sekarang pengorbanan manfaat ekonomik masa datang
Daftar pustaka
Maryanti, Dwi. 2009. Pokok Bahasan Teori Akuntansi Kewajiban.
http://dwiermayanti.wordpress.com/pokok-bahasan-teori-akuntansi/kewajiban/.
(diakses pada tanggal 16 Maret 2016)
Puci. 2012. Tugas Teori Akuntansi Liabilitas.
http://mariberlajarbersama.blogspot.com/2012/11/tugas-teori-akuntansiliabilitas.html.
(diakses pada tanggal 16 Maret 2016)

Riahi, Ahmed. Teori Akuntansi 2, Ed 6. Salemba Empat.


Suwardjono. 2010. Teori akuntansi Perekayasaan Pelaporan Keuangan. BPFE. Yogyakarta.
Diposting oleh Yenni.Effendi di 11.59
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest