Anda di halaman 1dari 150

BAB I

TEKNIK RESERVOIR

Reservoir adalah suatu tempat terakumulasinya minyak dan gas bumi.


Pada umumnya reservoir minyak memiliki karakteristik yang berbeda-beda
tergantung dari komposisi, temperature dan tekanan pada tempat dimana terjadi
akumulasi hidrokarbon didalamnya. Suatu reservoir minyak biasanya mempunyai
tiga unsur utama yaitu adanya batuan reservoir, lapisan penutup dan perangkap.
Suatu wilayah atau tempat bisa disebut sebagai sebuah reservoir apabila
terdapat sumber dari hidrokarbon atau tempat terakumulasinya minyak dan gas
bumi.
Petroleum System adalah konsep yang menyatukan elemen berbeda dan
proses geologi minyak bumi. Aplikasi praktis dari sistem minyak bumi dapat
digunakan dalam eksplorasi, evaluasi sumber daya, dan penelitian. Sebuah sistem
petroleum meliputi lapisan batuan induk aktif dan semua minyak dan akumulasi
gas. Petroleum System terbagi menjadi 2 yaitu elemen dan proses.

Elemen Petroleum System adalah sebagai berikut :


1. Batuan Induk (Source Rock)
Merupakan batuan sedimen yang mengandung bahan organik
seperti sisa-sisa hewan dan tumbuhan yang telah mengalami proses
pematangan dengan waktu yang sangat lama sehingga menghasilkan
minyak dan gas bumi.

2. Batuan Penyimpan (Reservoir Rock)


Merupakan batuan sedimen yang mempunyai pori, sehingga
minyak dan gas bumi yang dihasilkan batuan induk dapat masuk dan
terakumulasi.

3. Perangkap (Trap)
Merupakan batuan yang berfungsi sebagai penghalang
bermigrasinya minyak dan gas bumi lebih jauh.

1
4. Batuan penutup (Cap Rock)
Merupakan batuan sedimen yang tidak dapat dilalui oleh cairan
(impermeable), sehingga minyak dan gas bumi terjebak dalam batuan
tersebut.

5. Jalur migrasi (Migration)


Merupakan jalan minyak dan gas bumi dari batuan induk sampai
terakumulasi pada perangkap.

Proses Petroleum System adalah sebagai berikut :


1. Pembentukan (Generation)
Tekanan dari batuan2 di atas batuan induk membuat temperatur
dan tekanan menjadi lebih besar dan dapat menyebabkan batuan induk
berubah dari material organik menjadi minyak atau gas bumi.

2. Migrasi atau perpindahan (Migration)


Senyawa hidrokarbon (minyak dan gas bumi) akan cenderung
berpindah dari batuan induk (source) ke batuan penyimpan (reservoir)
karena berat jenisnya yang ringan dibandingkan air.
3. Pengumpulan (Accumulation)
Sejumlah senyawa hidrokarbon yang lebih cepat berpindah dari
batuan induk ke batuan penyimpan akan membuat minyak dan gas bumi
terkumpul.

4. Penyimpanan (Preservation)
Minyak atau gas bumi tetap tersimpan di batuan penyimpan dan
tidak berubah oleh proses lainnya seperti biodegradation (berubah karena
ada mikroba-mikroba yang dapat merusak kualitas minyak).
5. Waktu (Timing)
Jebakan harus terbentuk sebelum atau selama minyak bumi berpindah
dari batuan induk ke batuan penyimpan.

2
1.1. Karakteristik Batuan Reservoir
Batuan adalah kumpulan dari mineral-mineral, komposisi kimia dan jenis
mineral yang menyusunnya akan menentukan jenis batuan yang terbentuk.
Batuan reservoir umumnya terdiri dari batuan sedimen, yang berupa
batupasir dan karbonat (sedimen klastik) serta batuan shale (sedimen non-klastik)
atau kadang-kadang vulkanik. Masing-masing batuan tersebut mempunyai
komposisi kimia yang berbeda, demikian juga dengan sifat fisiknya.
1.1.1. Komposisi Kimia Batuan Reservoir
a. Batuan Pasir
Batuan pasir merupakan reservoir yang paling penting dan paling
banyak dijumpai, 60 % daripada semua batuan reservoir adalah batupasir.
Porositas yang didapat di dalam batupasir ini hanya bersifat intergranular,
pori-pori terdapat diantara butir-butir dan khususnya terjadi secara primer,
jadi rongga-rongga terjadi pada waktu pengendapan. Namun tidak dapat
dipungkiri, bahwa setelah proses pengendapan tersebut dapat terjadi
berbagai modifikasi dari pada rongga-ronga, misalnya sementasi ataupun
pelarutan dari semen dan juga proses sekunder lainnya seperti peretakan.
b. Batuan Karbonat
Batuan karbonat yang dimaksud dalam bahasan ini adalah
limestone, dolomite, dan yang bersifat diantara keduanya. Istilah limestone
juga dipakai untuk batuan yang mempunyai fraksi karbonat melebihi unsur
non-karbonatnya. Pada limestone fraksi disusun terutama oleh mineral
calcite, sedangkan pada dolomite mineral penyusun utamanya adalah
mineral dolomite.
c. Batuan Shale
Batuan shale mempunyai butir yang halus dan mempunyai
permeabilitas kurang baik. Komposisi kimia batuan shale bervariasi sesuai
dengan ukuran butir. Fraksi yang kasar banyak mengandung silika,
sedangkan fraksi yang halus umumnya mengandung aluminium, besi,
potash dan air. Komposisi dasar shale adalah mineral clay.

3
1.1.2. Sifat Fisik Batuan Reservoir
Sifat-sifat batuan yang menjadi perhatian dalam setiap kegiatan eksploitasi
minyak dan gas bumi, diantaranya adalah :
a. Porositas
Porositas () menggambarkan persantase dari total ruang pori
batuan yang tersedia untuk ditempati oleh suatu fluida reservoir yaitu
minyak, gas dan air. Besar-kecilnya porositas suatu batuan akan
menentukan kapasitas penyimpanan fluida reservoir. Secara matematis
porositas dapat dinyatakan sebagai :
Vb  Vg Vp …………………………………...(1-1)
 
Vb Vb

Keterangan :
Vb = volume batuan total (bulk volume)
Vg = volume padatan batuan total (volume grain)
Vp = volume ruang pori-pori batuan.

Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :


 Porositas absolut, adalah perbandingan antara volume pori total
terhadap volume batuan total yang dinyatakan dalam persen, atau
secara matematik dapat ditulis sesuai persamaan sebagai berikut :
volume pori total
  100%
bulk volume …………………………(1-2)

 Porositas efektif, adalah perbandingan antara volume pori-pori


yang saling berhubungan terhadap volume batuan total (bulk
volume) yang dinyatakan dalam persen.
volume pori yang berhubunga n
  100%
bulk volume …………(1-3)

4
Connected or
Effective
Porosity

Total
Porosity

Isolated or
Non-Effec tive
Porosity

Gambar 1.1.Skema Perbandingan Porositas Efektif, Non-Efektif dan


Porositas Absolut Batuan

Berdasarkan waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga


diklasifikasikan menjadi dua, yaitu :
 Porositas primer, yaitu porositas yang terbentuk pada waktu yang
bersamaan dengan proses pengendapan berlangsung.
 Porositas sekunder, yaitu porositas batuan yang terbentuk setelah
proses pengendapan.

Porositas sekunder dapat diklasifikasikan menjadi tiga golongan,


yaitu :
 Porositas larutan, adalah ruang pori-pori yang terbentuk karena
adanya proses pelarutan batuan.
 Rekahan, celah, kekar, yaitu ruang pori-pori yang terbentuk karena
adanya kerusakan struktur batuan sebagai akibat dari variasi beban,
seperti : lipatan, sesar, atau patahan.
 Dolomitisasi, dalam proses ini batu gamping (CaCO3)
ditransformasikan menjadi dolomite (CaMg(CO3)2) atau
berdasarkan reaksi kimia berikut :
2CaCO3 + MgCl3 CaMg(CO3)2 + CaCl2

5
Besar-kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
 Sudut kemiringan batuan.
 Bentuk butiran.
 Distribusi (penyusunan) batuan.
 Lingkungan Pengendapan.
 Ukuran Butiran Batuan.
 Komposisi mineral pembentuk batuan.

Berikut ini adalah ukuran porositas yang sering digunakan sebagai


pegangan di lapangan:

Tabel 1.1. Ukuran Porositas di Lapangan

Porositas (%) Kualitas


0–5 Jelek sekali
5 – 10 Jelek
10 – 15 Sedang
15 – 20 Baik
> 20 Sangat bagus

b. Permeabilitas
Permeabilitas didefinisikan sebagai ukuran suatu ruang pori batuan
yang dapat dialiri atau dilewati fluida. Definisi kuantitatif permeabilitas
pertama-tama dikembangkan oleh Henry Darcy (1856) dalam hubungan
empiris dengan bentuk differensial sebagai berikut :
k dP
v x
 dL ……………………………...….(1-4)
Keterangan :
v = kecepatan aliran, cm/sec
 = viskositas fluida yang mengalir, cp
dP/dL = gradien tekanan dalam arah aliran, atm/cm
k = permeabilitas media berpori.

6
Tanda negatif pada Persamaan diatas menunjukkan bahwa bila
tekanan bertambah dalam satu arah, maka arah alirannya berlawanan
dengan arah pertambahan tekanan tersebut. Asumsi-asumsi yang
digunakan dalam Persamaan diatasadalah:
1. Alirannya stabil (steady state),
2. Fluida yang mengalir satu fasa,
3. Viskositas fluida yang mengalir konstan,
4. Kondisi aliran isothermal, dan
5. Formasinya homogen dan arah alirannya horizontal.
6. Fluidanya incompressible.
Dasar penentuan permeabilitas batuan adalah hasil percobaan yang
dilakukan oleh Henry Darcy. Dalam percobaan ini, Henry Darcy
menggunakan batupasir tidak kompak yang dialiri air, seperti terlihat pada
gambar 1.2. Batupasir silindris yang porous ini 100% dijenuhi cairan
dengan viskositas , dengan luas penampang A, dan panjangnya L.
Kemudian dengan memberikan tekanan masuk P1 pada salah satu
ujungnya maka terjadi aliran dengan laju sebesar Q, sedangkan P2 adalah
tekanan keluar. Dari percobaan dapat ditunjukkan bahwa Q..L/A.(P1-P2)
adalah konstan dan akan sama dengan harga permeabilitas batuan yang
tidak tergantung dari cairan, perbedaan tekanan dan dimensi batuan yang
digunakan. Dengan mengatur laju Q sedemikian rupa sehingga tidak
terjadi aliran turbulen, maka diperoleh harga permeabilitas absolut batuan.

Gambar 1.2. Diagram Percobaan Pengukuran Permeabilitas

7
Berdasarkan jumlah fasa yang mengalir dalam batuan reservoir,
permeabilitas dibedakan menjadi tiga, yaitu :
 Permeabilitas absolut, adalah yaitu dimana fluida yang mengalir
melalui media berpori tersebut hanya satu fasa, misalnya hanya
minyak atau gas saja.
 Permeabilitas efektif, yaitu permeabilitas batuan dimana fluida
yang mengalir lebih dari satu fasa, misalnya minyak dan air, air dan
gas, gas dan minyak atau ketiga-tiganya.
 Permeabilitas relatif, merupakan perbandingan antara permeabilitas
efektif dengan permeabilitas absolut.

Satuan permeabilitas dalam percobaan ini adalah :

Q (cm 3 / sec) .  (centipoise ) . L (cm)


k (darcy) 
A (sq.cm) . (P1  P2 ) (atm) …………(1-5)

Pada prakteknya di reservoir, jarang sekali terjadi aliran satu fasa,


akan tetapi dua atau bahkan tiga fasa. Oleh karena itu dikembangkan pula
konsep mengenai permeabilitas efektif dan permeabilitas relatif. Harga
permeabilitas efektif dinyatakan sebagai ko, kg, kw, dimana masing-masing
untuk minyak, gas, dan air. Sedangkan permeabilitas relatif untuk masing-
masing fluida reservoir dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut :
k kg k
k ro  o , k rg  , k rw  w .
k k k

Sedangkan besarnya harga permeabilitas efektif untuk minyak dan


air dinyatakan dengan persamaan :
Qo . o . L
ko 
A . (P1  P2 ) …………………………………(1-6)
Qw . w . L
kw 
A . (P1  P2 ) …………………………………(1-7)

8
Harga-harga ko dan kw pada Persamaan diatas jika diplot terhadap
So dan Sw akan diperoleh hubungan seperti yang ditunjukkan pada
Gambar berikut ini :

Gambar 1.3. Kurva Permeabilitas Efektif Untuk Sistem Minyak dan Air

Gambar diatas menunjukkanbahwa ko pada Sw = 0 dan pada So =


1 akan sama dengan k absolut, demikian juga untuk harga k absolutnya
(titik A dan B) . Ada tiga hal penting untuk kurva permeabilitas efektif
sistem minyak-air (Gambar 1.3.) , yaitu :
 ko akan turun dengan cepat jika Sw bertambah dari nol, demikian
juga kw akan turun dengan cepat jika Sw berkurang dari satu,
sehingga dapat dikatakan untuk So yang kecil akan mengurangi laju
aliran minyak karena ko-nya yang kecil, demikian pula untuk air.
 ko akan turun menjadi nol, dimana masih ada saturasi minyak
dalam batuan (titik C) atau disebut Residual Oil Saturation (Sor),
demikian juga untuk air yaitu (Swr).

c. Saturasi Fluida
Saturasi fluida batuan didefinisikan sebagai perbandingan antara
volume pori-pori batuan yang ditempati oleh suatu fluida tertentu dengan
volume pori-pori total pada suatu batuan berpori. Dalam batuan reservoir
minyak umumnya terdapat lebih dari satu macam fluida, kemungkinan

9
terdapat air, minyak, dan gas yang tersebar ke seluruh bagian reservoir.
Secara matematis, besarnya saturasi untuk masing-masing fluida dituliskan
dalam persamaan berikut :

 Saturasi minyak (So) adalah :


volume pori  pori yang diisi oleh min yak
So 
volume pori  pori total …………(1-8)

 Saturasi air (Sw) adalah :


volume pori  pori yang diisi oleh air
Sw 
volume pori  pori total ………..(1-9)

 Saturasi gas (Sg) adalah :


volume pori  pori yang diisi oleh gas
Sg 
volume pori  pori total ………..(1-10)

Jika pori-pori batuan diisi oleh gas-minyak-air maka berlaku hubungan :


S g + So + Sw = 1 ………………………………..(1-11)
Sedangkan jika pori-pori batuan hanya terisi minyak dan air, maka :
S o + Sw = 1 ………………………………..(1-12)
d. Wettabilitas
Wettabilitas didefinisikan sebagai suatu kemampuan batuan untuk
dibasahi oleh fasa fluida, jika diberikan dua fluida yang tak saling campur
(immisible). Pada bidang antar muka cairan dengan benda padat terjadi
gaya tarik-menarik antara cairan dengan benda padat (gaya adhesi), yang
merupakan faktor dari tegangan permukaan antara fluida dan batuan. Pada
umumnya reservoir bersifat water wet, sehingga air cenderung untuk
melekat pada permukaan batuan sedangkan minyak akan terletak diantara
fasa air. Jadi minyak tidak mempunyai gaya tarik-menarik dengan batuan
dan akan lebih mudah mengalir.

10
e. Tekanan Kapiler
Tekanan kapiler (Pc) didefinisikan sebagai perbedaan tekanan yang
ada antara permukaan dua fluida yang tidak tercampur (cairan-cairan atau
cairan-gas) sebagai akibat dari terjadinya pertemuan permukaan yang
memisahkan kedua fluida tersebut. Perbedaan tekanan dua fluida ini
adalah perbedaan tekanan antara fluida “non-wetting fasa” (Pnw) dengan
fluida “wetting fasa” (Pw).
Pc = Pnw – Pw ………………………………..(1-13)
Dimana:
Pc = Tekanan kapiler
Pnw = Tekanan non wetting fasa
Pw = Tekanan wetting fasa

Ukuran pori-pori batuan sering dihubungkan dengan besaran


permeabilitas. Batuan reservoir dengan permeabilitas yang besar akan
mempunyai tekanan kapiler yang rendah dan ketebalan zona transisi yang
tipis, seperti terlihat pada Grafik 1.4.

Gambar 1.4. Grafik h (Pc) Vs Water Saturation

11
Gambar 1.5. Grafik Pengaruh Permeabilitas terhadap Tekanan Kapiler

Reservoir minyak yang mepunyai API gravity rendah maka kontak


minyak-air akan mempunyai zona transisi yang panjang (fluida yang
berbeda). Dapat dilihat pada Grafik 1.5. di bawah ini.

Gambar 1.6. Grafik Pengaruh API Gravity Minyak terhadap Tekanan Kapiler

f. Kompressibilitas
Pada formasi batuan kedalaman tertentu terdapat dua gaya yang
bekerja padanya, yaitu gaya akibat beban batuan diatasnya (overburden)
dan gaya yang timbul akibat adanya fluida yang terkandung dalam pori-
pori batuan tersebut. Pada keadaan statik, kedua gaya berada dalam

12
keadaan setimbang. Bila tekanan reservoir berkurang akibat pengosongan
fluida, maka kesetimbangan gaya ini terganggu, akibatnya terjadi
penyesuaian dalam bentuk volume pori-pori, dan perubahan batuan.

1.2. Karakteristik Fluida Reservoir


Fluida reservoir yang terdapat dalam ruang pori-pori batuan reservoir pada
tekanan dan temperatur tertentu, secara alamiah merupakan campuran yang sangat
kompleks dalam susunan atau komposisi kimianya. Mengetahui sifat-sifat dari
fluida hidrokarbon untuk memperkirakan cadangan akumulasi hidrokarbon,
menentukan laju aliran minyak atau gas dari reservoir menuju dasar sumur,
mengontrol gerakan fluida dalam reservoir dan lain-lain.

1.2.1. Komposisi Kimia Fluida Reservoir


Fluida reservoir terdiri dari hidrokarbon dan air formasi. Hidrokarbon
terbentuk di alam, dapat berupa gas, zat cair ataupun zat padat. Sedangkan air
formasi merupakan air yang dijumpai bersama-sama dengan endapan minyak.
Sedangkan hidrokarbon sendiri, selain mengandung hidrogen (H) dan
karbon (C) juga mengandung unsur-unsur senyawa lain, terutama belerang,
nitrogen dan oksigen. Dalam sub bab ini akan dibicarakan mengenai komposisi
kimia dari ketiga kategori tersebut diatas.

A. Komposisi Kimia Hidrokarbon


Bentuk dari senyawa hidrokarbon merupakan senyawa alamiah, dapat berupa gas,
cair atau padatan tergantung dari komposisinya yang khusus serta tekanan dan temperatur
yang mempengaruhinya. Endapan hidrokarbon yang berbentuk cair dikenal sebagai
minyak bumi, sedangkan yang berbentuk gas dikenal sebagai gas bumi.
Hidrokarbon adalah senyawa yang terdiri dari atom karbon dan hidrogen.
Senyawa karbon dan hidrogen mempunyai banyak variasi, yang berdasarkan jenis
rantai ikatannya dibagi menjadi dua golongan, yaitu :
1. Golongan Asiklik (Parafin)
Hidrokarbon jenis ini mempunyai rantai ikatan antar atom yang
terbuka, terdiri dari :

13
 Golongan Hidrokarbon Jenuh
Seri homolog dari hidrokarbon ini mempunyai rumus umum
CnH2n+2 dan mempunyai ciri dimana atom-atom karbon diatur
menurut rantai terbuka dan masing-masing atom dihubungkan oleh
ikatan tunggal, dimana tiap-tiap valensi dari satu atom C
berhubungan dengan atom C disebelahnya.
 Golongan Hidrokarbon Tak Jenuh
Hidrokarbon ada yang mempunyai ikatan rangkap dua ataupun
rangkap tiga (triple), yang digunakan untuk mengikat dua atom C
yang berdekatan. Oleh karena itu, valensi yang semula tersedia
untuk mengikat atom hidrokarbon telah digunakan untuk mengikat
atom C yang berdekatan, dengan cara ikatan rangkap dua yang
mengikat dua atom C, maka hidrokarbon seperti ini disebut
hidrokarbon tak jenuh atau disebut juga sebagai keluarga alkena
(Inggris : alkene). Rumus umum seri diolefin adalah CnH2n-2.
Senyawa hidrokarbon tak jenuh juga ada yang mempunyai ikatan
rangkap tiga, yang sering disebut sebagai seri asetilen. Rumus
umumnya adalah CnH2n-2,

2. Golongan Siklik
Sedangkan hidrokarbon golongan siklik mempunyai rantai tertutup
(susunan cincin). Golongan ini terdiri dari :
 Golongan Naftena
Golongan naftena sering disebut golongan sikloparafin, atau
golongan sikloalkana, yang mempunyai nrumus umum CnH2n..
Golongan ini dicirikan oleh adanya atom C yang diatur menurut
rantai tertutup (berbentuk cincin) dan masing-masing atom
dihubungkan dengan ikatan tunggal.
 Golongan Aromatik
Pada deret ini hanya terdiri dari benzena dan senyawa-senyawa
hidrokarbon lainnya yang mengandung benzena. Rumus umum dari
golongan ini adalah CnH2n-6, dimana cincin benzena merupakan

14
bentuk segi enam dengan tiga ikatan tunggal dan tiga ikatan
rangkap dua secara berselang-seling.

B. Komposisi Kimia Non-Hidrokarbon


Selain mengandung unsur hidrogen dan karbon (HC), pada minyak bumi
juga terdapat komposisi unsur belerang, nitrogen, oksigen serta unsur lain dengan
prosentase yang sedikit.
1. Senyawa Belerang
Kadar belerang dalam minyak bumi bervariasi antara 4 % sampai
6% beratnya. Kandungan minyak bumi yang terdapat di Indonesia
merupakan minyak bumi yang mempunyai kadar belerang relatif rendah,
yaitu rata-rata 1 %. Distribusi belerang dalam fraksi-fraksi minyak bumi
akan bertambah sesuai dengan bertambahnya berat fraksi.

2. Senyawa Oksigen
Kadar oksigen dalam minyak bumi bervariasi antara 1 % sampai 2
% beratnya. Peningkatan kadar oksigen dalam minyak bumi dapat terjadi
karena kontak minyak bumi dan udara. Hal ini disebabkan adanya proses
oksidasi minyak bumi dengan oksigen dari udara.

3. Senyawa Nitrogen
Kadar nitrogen dalam minyak bumi pada umumnya rendah dan
bervariasi pada kisaran 0,1 % sampai 2 % beratnya. Senyawa nitrogen
terdapat dalam semua fraksi minyak bumi, dengan konsentrasi yang
semakin tinggi pada fraksi-fraksi yang mempunyai titik didih yang lebih
tinggi. Senyawa nitrogen yang sering terdapat dalam minyak bumi antara
lain adalah piridin, qinoloin, indol dan karbosol.

C. Komposisi Kimia Air Formasi


Air formasi atau disebut “connate water” mempunyai komposisi kimia
yang berbeda-beda antara reservoir yang satu dengan yang lainnya. Dibandingkan
dengan air laut, air formasi ini rata-rata memiliki kadar garam yang lebih tinggi,
sangat berhubungan dengan terjadinya penyumbatan pada formasi dan korosi

15
pada peralatan di bawah dan di atas permukaan.Air formasi tersebut terdiri dari
bahan-bahan mineral, misalnya kombinasi metal-metal alkali dan alkali tanah,
belerang, oksida besi, dan aluminium serta bahan-bahan organis seperti asam
nafta dan asam gemuk. Sedangkan komposisi ion-ion penyusun air formasi terdiri
dari kation-kation Ca, Mg, Fe, Ba, dan anion-anion chlorida, CO3, HCO3, dan
SO4.

1.2.1. Sifat Fisik Fluida Reservoir


Fluida reservoir terdiri dari fluida hidrokarbon dan air formasi.
Hidrokarbon sendiri terdiri dari fasa cair (minyak bumi) maupun fasa gas, yang
tergantung pada kondisi (tekanan dan temperatur) reservoir yang ditempati.
Perubahan kondisi reservoir akan mengakibatkan perubahan fasa serta sifat fisik
fluida reservoir.

A. Sifat Fisik Minyak


1. Densitas Minyak
Densitas didefinisikan sebagai perbandingan berat masa suatu
substansi dengan volume dari unit tersebut, sehingga densitas minyak (o)
merupakan perbandingan antara berat minyak (lb) terhadap volume
minyak (cuft). Densitas minyak biasanya dinyatakan dalam specific
gravity minyak (o), yang didefinisikan sebagai perbandingan densitas
minyak terhadap densitas air, yang secara matematis, dituliskan :
o
o 
w ………………………………………..(1-14)
Keterangan :
o = specific gravity minyak
o = densitas minyak, lb/cuft
w = densitas air, lb/cuft
Industri perminyakan seringkali menyatakan specific
gravityminyak dalam satuan oAPI, yang dinyatakan dengan persamaan
sebagai berikut :

16
141,5
o
API =  131,5
o ………………………………..(1-15)

2. Faktor Volume Formasi Minyak


Faktor volume formasi minyak (Bo) didefinisikan sebagai volume
minyak dalam barrel pada kondisi standar yang ditempati oleh satu stock
tank barrel minyak termasuk gas yang terlarut. Atau dengan kata lain
sebagai perbandingan antara volume minyak termasuk gas yang terlarut
pada kondisi reservoir dengan volume minyak pada kondisi standard (14,7
psi, 60 F). Satuan yang digunakan adalah bbl/stb. Perhitungan Bo secara
empiris (Standing) dinyatakan dengan persamaan :
Bo = 0.972 + (0.000147 . F 1.175) ………………..(1-16)
 g 
F  R s .   1.25 T

 o  ………………………..(1-17)
Keterangan :
Rs = kelarutan gas dalam minyak, scf/stb
o = specific gravity minyak, lb/cuft
g = specific gravity gas, lb/cuft
T = temperatur, oF.

Perubahan Bo terhadap tekanan untuk minyak mentah jenuh


ditunjukkan oleh Grafik 1.7. Tekanan reservoir awal adalah Pi dan harga
awal faktor volume formasi adalah Boi. Dengan turunnya tekanan reservoir
dibawah tekanan buble point, maka gas akan keluar dan Bo akan turun.
Formation - Volume Fac tor, Bo

Bob

Pb
1
0 Reservoir pressure, psia

Gambar 1.7. Hubungan antara Tekanan dan Faktor Volume Formasi Minyak (Bo).

17
Terdapat dua hal penting dari grafik diatas, yaitu :
a. Jika kondisi tekanan reservoir berada diatas Pb, maka Bo akan naik
dengan berkurangnya tekanan sampai mencapai Pb, sehingga
volume sistem cairan bertambah sebagai akibat terjadinya
pengembangan minyak.
b. Setelah Pb dicapai, maka harga Bo akan turun dengan berkurangnya
tekanan, disebabkan karena semakin banyak gas yang dibebaskan.

3. Kelarutan Gas dalam Minyak


Kelarutan gas (Rs) adalah banyaknya SCF gas yang terlarut dalam
satu STB minyak pada kondisi standar 14,7 psi dan 60 F, ketika minyak
dan gas masih berada dalam tekanan dan temperatur reservoir.

………..(1-18)

Pada grafik hubungan antara tekanan dan kelarutan gas dalam


minyak (Rs), bila temperatur dianggap tetap maka Rs akan naik bila
tekanan naik, kecuali jika tekanan gelembung telah terlewati, maka harga
Rs akan konstan untuk minyak tidak jenuh.

Gambar 1.8. Hubungan antara Tekanan dan Kelarutan Gas dalam Minyak.

18
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan gas
dalam minyak, diantaranya adalah sebagai berikut:
 Tekanan Reservoir
Bila temperatur dianggap tetap maka Rs akan naik bila tekanan
naik, kecuali jika tekanan gelembung telah terlewati, maka harga
Rs akan konstan untuk minyak tidak jenuh.
 Temperatur Reservoir
Jika tekanan dianggap tetap maka Rs akan turun jika temperatur
naik.
 Komposisi Minyak
Pada temperatur dan tekanan tertentu Rs akan naik dengan
turunnya berat jenis minyak atau naiknya 0API.

4. Kompressibilitas Minyak
Kompressibilitas minyak didefinisikan sebagai perubahan volume
minyak akibat adanya perubahan tekanan, secara matematis dapat
dituliskan sebagai berikut:
1  V 
Co    
V  P  ………………………………..(1-19)
Kompressibilitas minyak dibagi menjadi dua berdasarkan kondisi
kejenuhannya, yaitu :
a. Kompressibilitas minyak tak jenuh (undersaturated oil)
Besarnya harga kompressibilitas minyak tak jenuh ini tergantung
dari berat jenis, tekanan, dan temperatur. Dapat dinyatakan dengan
persamaan sebagai berikut:
C pr
Co 
Ppc
………………………………..(1-20)
dimana :
Co = kompressibilitas minyak, psi-1
Cpr = pseudo reduced compressibility
Ppc = pseudo critical pressure, psi

19
Untuk menentukan harga Cpr dilakukan dengan menggunakan
grafik 1.8. Sebelumnya menentukan harga Tpr dan Ppr dahulu, yaitu:
T
T pr 
T pc
………………………………..(1-21)
P
Ppr 
Ppc
………………………………..(1-22)
dimana :
P = tekanan waktu pengukuran, psia
Ppc = tekanan kritik semu, psia
T = temperatur waktu pengukuran, oF
Tpc = temperatur kritik semu, oF

b. Kompressibilitas minyak jenuh (saturated oil)


Harga kompressibilitas minyak jenuh umumnya lebih besar
dibandingkan harga kompressibilitas minyak tak jenuh. Penentuan
harga kompressibilitas ini dengan persamaan sebagai berikut :
1 dRs  dBo 
Co   Bg  
Bo dP  dRs  .……………………….(1-23)

Gambar 1.9. Grafik Hubungan Cpr vs Ppr dan Tpr untuk Minyak.

20
5. Viskositas Minyak
Viskositas didefinisikan sebagai ketahanan internal suatu fluida
untuk mengalir. Bila tekanan reservoir mula-mula lebih besar dari tekanan
gelembung (bubble point pressure), maka penurunan tekanan akan
memperkecil viskositas minyak (μo). Setelah mencapai Pb, penurunan
tekanan selanjutnya akan menaikkan harga viskositas minyak (μo) dan
dengan semakin naiknya temperatur reservoir akan menurunkan harga
viskositas minyak (μo). Hubungan antara tekanan dan viskositas minyak
dapat dilihat pada Grafik 1.9.

Gambar 1.10. Hubungan antara Tekanan dan Viscositas Minyak.

Secara matematis, besarnya viskositas dapat dinyatakan dengan persamaan


F y
 
A v ………………………………..(1-24)
Keterangan :
 = viskositas, gr/(cm.sec)
F = shear stress
A = luas bidang paralel terhadap aliran, cm2
y / v = gradient kecepatan, cm/(sec.cm).

B. Sifat Fisik Gas


Sifat fisik gas yang akan dibahas adalah spesific gravity, faktor volume
formasi gas, kompresibilitas gas, faktor kompressibilitas gas, viskositas gas.

21
1. Densitas Gas
Densitas atau berat jenis gas didefinisikan sebagai perbandingan antara
rapatan gas tersebut dengan rapatan suatu gas standar.
2. Faktor Volume Formasi Gas
Faktor volume formasi gas (Bg) didefinisikan sebagai besarnya
perbandingan volume gas pada kondisi tekanan dan temperatur reservoir
dengan volume gas pada kondisi standar (60 F, 14,7 psia).
3. Kompresibilitas Gas
Kompresibilitas gas didefinisikan sebagai perubahan volume gas yang
disebabkan oleh adanya perubahan tekanan yang mempengaruhinya.
4. Viskositas Gas
Viskositas merupakan ukuran tahanan gas terhadap aliran. Viscositas gas
akan berbanding lurus dengan temperatur dan berbanding terbalik dengan
berat molekulnya. Jadi bila berat molekulnya bertambah besar, maka
viscositasnya akan mengecil, sedangkan bila temperaturnya naik, maka
viscositasnya akan semakin besar.

Dalam viscositas sifat - sifat gas akan berlawanan dengan cairan. Untuk gas
sempurna, viscositasnya tidak tergantung pada tekanan. Bila tekanannya
dinaikkan, maka gas sempurna akan berubah menjadi gas tidak sempurna
dan sifat - sifatnya akan mendekati sifat - sifat cairan.

5. Faktor Deviasi Gas


Faktor deviasi gas didefinisikan sebagai perbandingan antara volume gas
pada tekanan tertentu dengan volume gas tersebut. Gas yang bersifat sebagai
gas nyata / real gas tidak memenuhi persamaan diatas, tetapi memberi
penyimpangan sebesar z (faktor deviasi), sehingga persamaan diatas
menjadi : P.V=z.n.R.T

22
C. Sifat Fisik Air Formasi
Sifat fisik minyak yang akan dibahas adalah densitas, viskositas, kelarutan
gas dalam air formasi, kompressibilitas air formasi dan faktor volume air formasi.
1. Densitas Air Formasi
Densitas air formasi yaitu densitas air formasi pada suatu kondisi tertentu
yaitu pada tekanan 14,7 psi dan temperatur 60 F.
2. Faktor Volume Formasi Air Formasi
Faktor volume air formasi (Bw) menunjukkan perubahan volume air formasi
dari kondisi reservoir ke kondisi permukaan.
3. Kelarutan Gas dalam Air Formasi
Standing dan Dodson telah menentukan kelarutan gas dalam air formasi
sebagai fungsi dari tekanan dan temperatur. Mereka menggunakan gas
dengan berat jenis 0,655 dan mengukur kelarutan gas ini dalam air murni
serta dua contoh air asin.
4. Kompressibilitas Air Formasi
Kompresibilitas air formasi didefinisikan sebagai perubahan volume yang
disebabkan oleh adanya perubahan tekanan yang mempengaruhinya.
5. Viskositas Air Formasi
Besarnya viskositas air formasi (w) tergantung pada tekanan, temperatur
dan salinitas yang dikandung air formasi tersebut.

1.3. Kondisi Reservoir


Kondisi reservoir meliputi tekanan reservoir dan temperatur reservoir,
yang ternyata sangat berpengaruh terhadap sifat fisik batuan maupun fluida
reservoir. Kondisi reservoir berhubungan dengan kedalamaan reservoir. Sehingga
untuk reservoir yang berbeda, kondisinya juga akan berbeda tergantung
kedalamannya.

1.3.l. Tekanan reservoir


Adanya tekanan reservoir yang disebabkan oleh gradien kedalaman, maka
akan menyebabkan terjadinya aliran fluida di dalam formasi ke dalam lubang

23
sumur yang mempunyai tekanan relatif rendah. Besarnya tekanan reservoir ini
akan berkurang dengan adanya kegiatan produksi. Tekanan reservoir pada
prinsipnya berasal dari :
i. Pendesakan oleh ekspansi gas (tudung gas) pada gas cap drive reservoir,
tenaga ini disebut dengan body force. Adanya pengaruh gravitasi karena
adanya perbedaan densitas antara minyak dan gas, maka gas dapat terpisah
dengan minyak sedangkan gas yang terpisah dengan minyak ini akan
berakumulasi pada tudung reservoir dan karena pengembangan ini maka gas
akan mendorong minyak kedalam sumur produksi
ii. Pendesakan oleh air formasi yang diakibatkan adanya beban formasi
diatasnya (overburden).
iii. Pengembangan gas berupa gas bebas pada reservoir solution gas drive
dimana perbedaannya dengan reservoir gas cap drive dimana gas yang
terjadi tidak terperangkap tetapi merata sepanjang pori - pori reservoir.
iv. Timbulnya tekanan akibat adanya gaya kapiler yang besarnya dipengaruhi
oleh tegangan permukaan dan sifat kebasahan batuan.
Tekanan awal reservoir adalah tekanan reservoir pada saat pertama kali
ditemukan. Tekanan dasar sumur pada sumur yang sedang berproduksi disebut
tekanan aliran (flowing) sumur. Kemudian jika sumur tersebut ditutup maka
selang waktu tertentu akan didapat tekanan statik sumur.

A. Tekanan Hidrostatis
Tekanan hidrostatis adalah tekanan yang diakibatkan oleh beban fluida
diatasnya Secara empiris dapat dituliskan sebagai berikut :
F
Ph 
A ............................................................................................................(1.25)

Ph  0.052  D ................................................................................................(1.26)

Keterangan :
Ph = tekanan, psi
F = gaya bekerja pada daerah satuan luas yang bersangkutan, lb

24
A = luas permukaan yang menerima gaya, inch2
γ = densitas fluida rata-rata, lb/gallon
D = tinggi kolam fluida, ft

B. Tekanan Overburden
Tekanan overburden adalah tekanan yang diderita oleh formasi akibat berat
batuan diatasnya. Besarnya gradien tekanan overburden yang normal biasanya
dianggap sebesar 1 psi/ft, yaitu diambil dengan menganggap berat jenis batuan
rata - rata 2,3 dari berat jenis air. Sedangkan besarnya gradien tekanan air adalah
0,433 psi/ft maka gradien tekanan overburden sebesar 2,3 x 0,433 psi/ft = 1 psi/ft.
Pertambahan tekanan tiap feet kedalaman disebut gradien tekanan. Data - data
tekanan reservoir, umumnya digunakan dalam hal - hal sebagai berikut :
i. Menentukan karakteristik reservoir, terutama yang menyangkut hubungan
antara jumlah produksi dengan penurunan tekanan reservoir.
ii. Bila digabungkan dengan data produksi, sifat - sifat fisik batuan dan fluida
reservoir, akan bermanfaat dalam penaksiran gas atau oil in place dan
recovery untuk berbagai jenis mekanisme pendorongan.
iii. Memperkirakan hubungan antar sumur - sumur yang letaknya berdekatan
dan bagaimana sistemnya.

C. Tekanan Rekah
Tekanan rekah adalah tekanan hidrostatis maksimum yang dapat ditahan
oleh formasi tanpa menyebabkan terjadinya pecah formasi tersebut. Besarnya
gadien tekanan rekah dipengaruhi oleh tekanan overburden, tekanan formasi dan
kondisi kekuatan batuan. Selain hasil log gradien tekanan rekah dapat ditentukan
dengan memakai prinsip “leak of test” yaitu memberikan tekanan sedikit - sedikit
sedemikian rupa sampai terlihat tanda - tanda formasi akan pecah, dengan
ditunjukkan kenaikan tekanan terus - menerus dan tiba - tiba menurun drastis.
Penentuan tekanan rekah dapat digunakan perhitungan diantaranya :

25
D. Tekanan Normal
Tekanan formasi normal adalah suatu tekanan formasi dimana tekanan
hidrostatik fluida formasi dalam keadaan normal sama dengan tekanan kolom
cairan yang ada dalam dasar formasi sampai permukaan. Bila isi dari kolom yang
terisi berbeda cairannya maka besarnya tekanan hidrostatis akan berbeda.
Gradien tekanan berhubungan dengan lingkungan pengendapan geologi.
Karena pada umumnya sedimen diendapakan pada lingkungan air garam, maka
banyak tempat di dunia ini mempunyai gradien tekanan antara 0,433 psi/ft sampai
0,465 psi/ft.

E. Tekanan Subnormal
Tekanan formasi subnormal adalah formasi yang mempunyai gradien
tekanan dibawah 0,433 psi/ft. Tekanan subnormal diakibatkan adanya rekahan -
rekahan batuan, atau adanya gaya diatrophisma (penekanan batuan dan isinya
oleh gaya pada kerak bumi).

F. Tekanan Abnormal
Tekanan abnormal adalah tekanan formasi yang mempunyai gradien
tekanan lebih besar dari harga 0,465 psi/ft. Tekanan abnormal tidak mempunyai
komunikasi tekanan secara bebas sehingga tekanannya tidak akan cepat
terdistribusi dan kembali menuju tekanan normalnya. Tekanan abnormal berkaitan
dengan sekat (seal) terbentuk dalam suatu periode sedimentasi, kompaksi atau
tersekatnya fluida didalam suatu lapisan yang dibatasi oleh lapisan yang
permeabilitasnya sangat rendah.

1.3.2. Temperatur Reservoir


Berdasarkan anggapan bahwa inti bumi berisi magma yang sangat panas,
maka dengan bertambahnya kedalaman temperaturnya akan naik. Besar kecilnya
kenaikan temperatur ini akan tergantung pada gradient temperaturnya yang biasa
disebut sebagai gradient geothermis. Besaran gradient geothermis ini bervariasi
dari satu tempat ke tempat lain, dimana harga rata - ratanya adalah 2°F/100 ft.

26
Variasi yang kecil dari gradient geothermis ini disebabkan oleh sifat
konduktivitas thermal beberapa jenis batuan.

1.4. Jenis - Jenis Reservoir


Jenis - jenis reservoir dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu :
berdasarkan perangkap reservoir, fasa fluida dan mekanisme pendorong.

1.4.1. Berdasarkan Perangkap Reservoir


Jenis reservoir berdasarkan perangkap reservoir dapat dibagi menjadi tiga,
yaitu perangkap struktur, perangkap stratigrafi dan perangkap kombinasi struktur
dan stratigrafi.

A. Perangkap Struktur
Unsur perangkap yang membentuk lapisan penyekat dalam lapisan reservoir
sehingga dapat menangkap minyak, disebabkan gejala tektonik atau struktur,
misalnya pelipatan dan patahan. Sebetulnya kedua unsur ini merupakan unsur
utama dalam pembentukan perangkap. Perangkap struktur sendiri terbagi menjadi
dua, yaitu perangkap lipatan dan juga perangkap patahan.
a. Perangkap Lipatan
Perangkap yang disebabkan perlipatan merupakan perangkap utama.
Perangkap lipatan disebabkan oleh struktur perlipatan (folding) dan
biasanya berbentuk antiklin.
b. Perangkap Patahan
Perangkap patahan adalah perangkap yang terbentuk oleh peristiwa patahan
pada batuan porous dan permeabel yang berada di bawah lapisan tidak
permeable, berfungsi sebagai unsur penyekat akumulasi hidrokarban.

B. Perangkap Stratigrafi
Prinsip perangkap stratigrafi ialah minyak dan gas terjebak dalam
perjalanannya ke atas, terhalang dari segala arah terutama dari bagian atas dan
pinggir, karena batuan reservoir menghilang atau berubah fasies menjadi batuan

27
lain atau batuan yang karakteristik reservoir menghilang sehingga merupakan
penghalang permeabilitasnya.

C. Perangkap Kombinasi
Perangkap reservoir kebanyakan merupakan kombinasi perangkap struktur
dan perangkap stratigrafi dimana setiap unsur struktur merupakan faktor bersama
dalam membatasi bergeraknya minyak dan gas.

1.4.2. Berdasarkan Fasa Fluida Hidrokarbon


Fasa merupakan bagian dari zat yang mempunyai sifat yang nyata, yang
memiliki sifat - sifat fisika dan kimia secara seragam dalam keseluruhan. Diagram
fasa adalah diagram tekanan dan temperatur yang merupakan fungsi komposisi
akumulasi hidrokarbon pada suatu reservoir.

a. Black oil
Black Oil terdiri dari variasi rantai hidrokarbon termasuk molekul -
molekul yang besar, berat dan tidak mudah menguap (nonvolatile). Diagram
fasa-nya mencakup rentang temperatur yang luas. Diagram fasa dari black
oil secara umum ditunjukkan pada Gambar 1.11.

Gambar 1.11. Diagram Fasa dari Black Oil.

Apabila diproduksikan maka minyak berat ini biasanya menghasilkan gas


oil ratio permukaan sebesar 500 scf/stb dengan gravity 30oAPI atau lebih.
Cairan produksi biasanya berwarna hitam dan lebih pekat lagi.

28
b. Volatile Oil
Volatile oil mengandung relatif lebih sedikit molekul - molekul berat
dan lebih banyak intermediates (yaitu etana sampai heksana) dibanding
black oil. Diagram fasa dari volatile oil secara umum ditunjukkan pada
Gambar 1.12.

Gambar 1.12. Diagram Fasa dari Volatile Oil.


Rentang harga temperatur yang tercakup lebih kecil daripada black
oil. Temperatur kritik-nya jauh lebih kecil daripada black oil, bahkan
mendekati temperatur reservoir. Apabila diproduksikan maka minyak ringan
ini biasanya menghasilkan gas oil ratio permukaan sebesar kurang lebih
8000 scf/stb dengan gravity sekitar 50oAPI. Cairan produksi biasanya
berwarna gelap.

c. Retrograde Gas
Diagram fasa untuk retrograde gas lebih kecil daripada untuk minyak
dan titik kritik-nya berada jauh di arah bawah dari lengkungan. Perubahan
tersebut merupakan akibat dari kandungan retrograde gas yang terdiri dari
lebih sedikit hidrokarbon berat daripada minyak.

29
Gambar 1.13. Diagram Fasa dari Retrograde Gas.

d. Wet Gas
Secara Normal reservoir gas basah akan mengandung komponen
(fraksi) berat lebih besar dibandingkan reservoir gas kering sehingga akan
menghasilkan diagram fasa yang lebih besar dan menggeser titik kritis pada
temperatur yang lebih tinggi, seperti ditunjukkan pada Gambar 1.14. Dalam
reservoir gas basah biasanya ditunjukkan oleh GOR antara 6000 sampai
10000 cuft/bbl dengan derajat gravity lebih besar dari 600 API.

Gambar 1.14. Diagram Fasa dari Wet Gas.

30
e. Dry Gas
Suatu reservoir gas kering akan mengandung fraksi ringan seperti
methana dan ethana dalam jumlah banyak serta sedikit fraksi yang lebih
berat. Jenis diagram fasa dari reservoir gas kering serta kondisi operasinya
dapat ditunjukkan dalam gambar Gambar 1.19. Istilah kering disini diartikan
bebas dari hidrokarbon cair kecuali air formasi.

Gambar 1.15. Diagram Fasa dari Dry Gas.

1.4.3. Berdasarkan Mekanisme Pendorong


Mekanisme pendorong adalah tenaga yang dimiliki oleh reservoir secara
alamiah yang digunakan untuk mendorong minyak selama produksi ke
permukaan.
Sumber energi alamiah yang digunakan untuk memindahkan minyak dan
gas dari reservoir ke lubang sumur meliputi energi gravitasi minyak yang bekerja
jarak vertikal dari kolom produktifnya, energi penekanan akibat dari pembebasan
gas yang terlarut dalam minyak atau air, energi sebagai akibat kompresi dari
minyak dan air dalam daerah produksi dari reservoirnya, energi kompresi air yang
berada di sekeliling zona produksi, energi yang berasal dari pengaruh tekanan
kapiler serta energi yang berasal dari kompresi batuannya sendiri. Berdasarkan
pengaruh yang paling dominan dari setiap sumber energi diatas, maka mekanisme

31
pendorong reservoir yang utama adalah water drive, gas cap drive, solution gas
drive, segregation drive dan combination drive.

A. Water Drive Reservoir


Untuk reservoir jenis water drive ini, energi pendesakan yang mendorong
minyak untuk mengalir adalah berasal dari air yang terperangkap bersama - sama
dengan minyak pada batuan reservoirnya.
Gas oil ratio untuk reservoir jenis ini relatif lebih konstan jika dibandingkan
dengan reservoir jenis lainnya. Hal ini disebabkan karena tekanan reservoir relatif
akan konstan karena dikontrol terus oleh pendesakan air yang hampir tidak
mengalami penurunan. Ditinjau dari cara pendesakannya Water Drive ini
dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :
a. Edge water drive, dimana pendesakan air sejajar dengan bidang perlapisan.
b. Bottom water drive, dimana arah gerakan bidang batas dari air-minyak
memotong arah bidang perlapisannya dan tebal lapisan yang mengandung
minyak relatif lebih kecil dibandingkan dengan aquifernya. Untuk jenis
bottom water drive pendesakannya oleh air dari bawah zona minyak.
c. Kombinasi edge water drive dengan bottom drive.

Gambar 1.16. Water Drive Reservoir.

Dapat disimpulkan suatu reservoir dengan tenaga pendorong air ini mempunyai
kelakuan seperti dibawah ini :
i. Penurunan tekanan reservoir terlihat agak lambat.
ii. GOR rendah dan relatif konstan.
iii. WOR naik dengan cepat dan kontinyu.

32
iv. Recovery-nya cukup tinggi yaitu sekitar 35 - 75%.
B. Gas Cap Drive Reservoir
Mekanisme yang terjadi pada gas cap reservoir ini adalah minyak pertama
kali diproduksikan, permukaan antara minyak dan gas akan turun, gas cap akan
berkembang ke bawah selama produksi berlangsung. Untuk jenis reservoir ini,
umumnya tekanan reservoir akan lebih konstan jika dibandingkan dengan solution
gas drive. Hal ini disebabkan bila volume gas cap drive telah demikian besar,
maka tekanan minyak akan jadi berkurang dan gas yang terlarut dalam minyak
akan melepaskan diri menuju ke gas cap, dengan demikian minyak akan
bertambah ringan, encer dan mudah untuk mengalir menuju lubang bor (Gambar
1.24). Dapat disimpulkan suatu reservoir dengan tenaga pendorong gas ini
mempunyai kelakuan seperti dibawah ini :
i. Tekanan reservoir akan turun dengan lambat dan berlangsung secara
kontinyu.
ii. GOR akan meningkat terus.
iii. Produksi air diabaikan.
iv. Perolehan minyak dapat mencapai 20 - 40 % dari total cadangan awal dalam
reservoir (initial oil in place).

Gambar 1.17. Gas Cap Drive Reservoir.

33
C. Solution Gas Drive Reservoir
Reservoir jenis ini disebut solution gas drive, depletion gas drive atau
internal gas drive, disebabkan oleh karena energi pendesak minyaknya adalah
terutama dari perubahan fasa pada hidrokarbon - hidrokarbon ringannya yang
semula merupakan fasa cair menjadi gas. Kemudian gas yang terbentuk ini ikut
mendesak minyak ke sumur produksinya pada saat penurunan tekanan reservoir
karena produksi tersebut (Gambar 1.26.).

Gambar 1.18. Solution Gas Drive Reservoir.

Dapat disimpulkan suatu reservoir solution gas drive mempunyai kelakuan seperti
dibawah ini :
i. Tekanan reservoir turun dengan cepat dan berlangsung secara kontinyu.
ii. Perbandingan gas-minyak (GOR) mula-mula cukup rendah, kemudian naik
sampai maksimum dan turun dengan tajam.
iii. Efisiensi perolehan minyak berkisar 5 - 30 %.
iv. Produksi air dianggap tidak ada.

D. Segregation Drive Reservoir


Segregation drive reservoir atau gravity drainage merupakan energi
pendorong minyak bumi yang berasal dari kecenderungan gas, minyak dan air
membuat suatu keadaan yang sesuai dengan massa jenisnya.

34
Besarnya gravity drainage dipengaruhi oleh gravity minyak, permeabilitas
zona produktif dan juga dari kemiringan dari formasinya. Faktor - faktor
kombinasi seperti misalnya, viskositas rendah, specific gravity rendah, mengalir
pada atau sepanjang zona dengan permeabilitas tinggi dengan kemiringan lapisan
cukup curam, ini semuanya akan menyebabkan perbesaran dalam pergerakan
minyak dalam struktur lapisannya.

Gambar 1.19. Gravitational Segregation Drive Reservoir.

Recovery yang mungkin diperoleh dari jenis reservoir gravity drainage ini
sangat bervariasi. Bila gravity drainage baik, atau bila laju produksi dibatasi
untuk mendapatkan keuntungan maksimal dari gaya gravity drainage ini maka
recovery yang didapat akan tinggi. Pernah tercatat bahwa recovery dari gravity
drainage ini melebihi 80% dari cadangan awal (IOIP). Pada reservoir dimana
bekerja juga solution gas drive ternyata recovery-nya menjadi lebih kecil (Gambar
1.29). Dapat disimpulkan suatu reservoir jenis ini mempunyai kelakuan :
i. Penurunan tekanan relatif cepat.
ii. GOR naik dengan cepat hingga maksimum kemudian turun secara kontinyu.
iii. Produksi air sangat kecil bahkan diabaikan.
iv. Recovery sekitar 20 - 60 %.

E. Combination Drive Reservoir


Tidak jarang dalam keadaan sebenarnya energi - energi pendorong ini
bekerja bersamaan dan simultan. Bila demikian, maka energi pendorong yang
bekerja pada reservoir itu merupakan kombinasi beberapa energi pendorong,

35
sehingga dikenal dengan nama combination drive reservoir. Dapat disimpulkan
suatu reservoir jenis ini mempunyai kelakuan seperti dibawah ini :
i. Penurunan tekanan relatif cukup cepat.
ii. WOR akan naik secara perlahan.
iii. Jika ada gas cap maka sumur - sumur yang terletak di struktur atas dari
reservoir tersebut akan mengalami peningkatan GOR dengan cepat.
iv. Faktor perolehan dari combination drive adalah lebih besar dibandingkan
dengan solution gas drive tetapi lebih kecil jika dibandingkan dengan gas
cap dan water drive.

Gambar 1.20. Combination Drive Reservoir.

1.5. Penentuan Cadangan


Cadangan adalah kuantitas (jumlah volume) minyak dan gas yang dapat
diperoleh atau diproduksikan secara komersial. Cadangan dapat ditindak lanjuti
untuk dihitung apabila telah memenuhi beberapa kriteria, antara lain adalah :
i. Telah diketemukan (discovered).
ii. Dapat diambil (recoverable).
iii. Memenuhi syarat komersialitas (commercial).
iv. Adanya sejumlah volume yang tersisa (remaining).

36
Apabila telah terjadi produksi, maka cadangan terbukti sering disebut
“estimed remaining reserves” atau cadangan terbukti yang tertinggal. Jumlah
produksi dan cadangan terbukti yang tertinggal disebut “estimated ultimate
recovery” atau cadangan ultimate, sedangkan jumlah total minyak didalam
reservoir disebut sebagai “Initial Oil In Place” (IOIP), hanya sebagian IOIP yang
bisa diproduksikan sehingga menjadi cadangan terbukti.
EUR = CUM + ERR.........................................................................................(1.27)
Pada bagian ini akan dibahas dua hal pokok yang berhubungan dengan
cadangan, yaitu metode yang digunakan untuk memperkirakan besarnya
cadangan.

1.5.1.Metode Analogi
Analogi / statistic metode biasa nya di gunakan untuk prospek belum dibor
dan untuk melengkapi metode volumetric dalam bidang atau tahap awal reservoir
dari pengembangan dan produksi. Analogi dilakukan apabila data minim
(misalnya sebelum eksplorasi). Perlu di ingat bahwa seminimum apapun datanya,
pembuat keputusan memerlukan angka cadangan dan keekonomian yang dapat di
tentukan dengan mengguanakan barrels per acre foot (BAF).

1.5.2.Metoda Volumetrik
Perkiraan cadangan hidrokarbon dengan menggunakan metoda volumetrik
merupakan salah satu metoda yang paling sederhana, dimana dilakukan sebelum
tahap pengembangan dan data - data yang dibutuhkan juga belum banyak, hanya
data - data geologi serta sebagian data - data batuan dan fluida reservoir.
Persamaan untuk menghitung initial oil in place adalah :
𝐼𝑂𝐼𝑃=(7758 x Ah x Ø x ( 1−Swi ))/Boi ..........................................................(1.28)

Sedangkan untuk initial gas in place adalah :


𝐼𝐺𝐼𝑃=(43560 x Ah x Ø ( 1−Swi ))/Bgi............................................................(1.29)
Keterangan :
A : Luas pengeringan .(Acres)

37
h : Ketebalan rata - rata formasi (feet).
ø : Porositas rata - rata ( % ).
Swi : Saurasi awal ( % ).
Bgi : Faktor formasi volume gas ( cuft/SCF ).
Boi : Faktor formasi volume minyak awal ( RB/STB ).

Dengan melihat persamaan di atas, maka data - data yang dibutuhkan untuk
melakukan perkiraan cadangan adalah A, h, Ø, Swi, Boi, dan Bgi. Data sifat - sifat
fisik batuan dan fluida reservoir diperoleh dari hasil laboratorium, sedangkan
untuk menentukan Vb diperlukan data - data geologi yang representatif.
Untuk menghitung bulk volume, harus dibuat peta isopach terlebih dahulu.
Peta isopach yaitu suatu peta yang menggambarkan garis - garis yang
menghubungkan titik - titik yang mempunyai ketebalan yang sama dari lapisan
produktif.

Gambar 1.21. Peta Isopach Reservoir.

Perhitungan volume batuan reservoir dengan menggunakan peta isopach


dibedakan menjadi dua persamaan, yaitu : Persamaan Pyramidal dan Persamaan
Trapezoidal.

38
A. Metoda Trapezoidal
Persyaratan utama dalam melakukan perhitungan dengan metoda ini adalah
perbandingan antara luas garis kontur yang berurutan harus lebih besar dari 0.5.
Secara matematik, persamaannya dapat ditulis sebagai berikut :

Vb = 2 (An + An+1)............................................................................................(1.30)

(Vb = volume batuan, acre-ft; An = luas yang dibatasi garis kontur isopach
terendah, acre; An+1 = luas yang dibatasi garis kontur isopach diatasnya, acre; h =
interval antara garis kontur isopach, ft).

B. Metoda Pyramidal
Persyaratan utama metoda ini adalah perbandingan antara luas garis kontur
yang berurutan harus kurang atau sama dengan 0.5. Persamaannya adalah :

Vb = 3 (An + An+1 + √𝐴𝑛 + 𝐴𝑛+1)....................................................................(1.31)

1.5.3.Metoda Material Balance


Metoda material balance dapat digunakan untuk memperkirakan besar
cadangan reservoir, dimana data - data produksi yang diperoleh sudah cukup
banyak. Prinsip dari metoda material balance ini didasarkan pada prinsip
kesetimbangan volumetrik yang menyatakan bahwa, apabila volume suatu
reservoir konstan, maka jumlah aljabar dari perubahan - perubahan volume
minyak, gas bebas dan air dalam reservoir harus sama dengan nol.
Persamaan umum material balance untuk menghitung cadangan adalah
sebagai berikut :
𝑁𝑝 +[𝐵𝑡 +(𝑅𝑝 − 𝑅𝑠𝑖 )]−(𝑊𝑒 − 𝑊𝑝 𝐵𝑤 )
N= 𝑚𝐵𝑡𝑖 .......................................................................(1.32)
𝐵𝑡 − 𝐵𝑡𝑖 + (𝐵𝑔 − 𝐵𝑔𝑖 )
𝐵𝑔𝑖

(Np = kumulatif produksi; B = faktor volume formasi; Rp = gas oil ratio,


SCF/STB; Rsi = kelarutan gas dalam minyak pada tekanan awal, SCF/STB; We =
water influx; WpBw = produksi air; subscript: t = total, i = pada tekanan awal).

39
Persamaan umum material balance tersebut diatas, akan berubah tergantung
dari jenis mekanisme pendorong dari reservoirnya, dengan ketentuan sebagai
berikut :
i. Solution Gas Drive reservoir, m = 0, Wp = 0, We = 0.
ii. Water Drive reservoir, m = 0.
iii. Gas Cap Drive reservoir, We = 0.
iv. Combination Drive reservoir berlaku persamaan umum.

1.5.4. Metoda Decline Curve


Secara alamiah, laju produksi akan mengalami penurunan sejalan dengan
waktu. Decline curve merupakan suatu metoda yang menggambarkan penurunan
kondisi reservoir dan produksinya terhadap waktu. Pada prinsipnya, metoda
decline curve adalah membuat grafik hubungan antara laju produksi terhadap
waktu atau laju produksi terhadap produksi kumulatif, seperti yang terlihat pada
gmbar dibawah ini.

Gambar 1.22. Kurva Umum Decline Curve.

Bentuk kurva penurunan laju produksi dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
Exponential Decline, Hyperbolic Decline dan Harmonic Decline.
a. Exponential Decline Curve
Bentuk decline curve ini mempunyai harga laju penurunan produksi per
satuan waktu sebanding dengan laju produksinya.
b. Hyperbolic Decline Curve
Besarnya laju penurunan (decline rate) pada hyperbolic decline tidak
konstan, melainkan selalu berubah, dimana besarnya laju penurunan akan

40
menunjukkan suatu deret hitung dan harga b akan berkisar antara 0 (nol)
hingga 1 (satu).
c. Harmonic Decline Curve
Pada harmonic decline, penurunan laju produksi per satuan waktu berbanding
lurus terhadap laju produksinya. Bentuk kurva harmonic decline merupakan
bentuk khusus dari hyperbolic decline, yaitu untuk harga b = 1.

1.5.5.Simulasi Reservoir
Pengertian kata simulasi adalah proses pemanfaatan model buatan yang
dibuat untuk mewakili karakteristik reservoir, dengan tujuan untuk mempelajari,
mengetahui ataupun memperkirakan kelakuan dan kinerja aliran fluida pada
reservoir tersebut. Terdapat beberapa macam metode yang dapat digunakan dalam
pembuatan tiruan sistem tersebut, yang biasa disebut sebagai model. Jenis model
yang dapat digunakan pada simulasi adalah model analog, model fisik dan model
matematik. Secara umum simulasi reservoir digunakan sebagai acuan dalam
perencanaan manajemen reservoir, antara lain sebagai berikut :
i. Memperkirakan kinerja reservoir pada berbagai tahapan dan metode
produksi yang diterapkan : Sembur alam, Pressure maintenance, Reservoir
energy maintenance (secondary recovery), Enhanced oil recovery (EOR)
ii. Mempelajari pengaruh laju alir terhadap perolehan minyak dengan
menentukan laju alir maksimum (maximum efficient rate, MER).
iii. Menentukan jumlah dan lokasi sumur untuk mendapatkan perolehan minyak
yang optimum.
iv. Menentukan pola sumur injeksi dan produksi untuk mengoptimalkan pola
penyapuan.
v. Memperhitungkan adanya indikasi coning dalam menentukan interval
komplesi yang optimum serta pemilihan jenis sumur, vertikal atau
horizontal.

41
Jenis simulasi secara garis besar dibedakan menjadi 3, antara lain :
a. Black Oil Simulation
Black oil simulation digunakan untuk kondisi isothermal, aliran simultan
dari minyak, gas dan air yang berhubungan dengan viskositas, gaya
gravitasi dan gaya kapiler. Komposisi fasa dianggap konstan walau
kelarutan gas dalam minyak dan air ikut diperhitungkan. Hasil studi ini
biasanya digunakan untuk studi injeksi air dan juga untuk peramalan.
b. Thermal Simulation
Simulasi jenis ini digunakan untuk studi aliran fluida, perpindahan panas
maupun reaksi kimia. Biasanya digunakan untuk studi injeksi uap panas dan
pada proses perolehan minyak tahap lanjut (in situ combution).
c. Compotional Simulation
Simulasi reservoir ini digunakan untuk berbagai komposisi fasa hidrokarbon
yang berubah terhadap tekanan. Biasanya simulasi ini digunakan untuk studi
perilaku reservoir yang berisi volatile oil dan gas condensat.

42
BAB II
TEKNIK PEMBORAN

Pemboran adalah suatu kegiatan atau pekerjaan membuat lubang dengan


diameter dan kedalaman yang sudah ditentukan. Dalam pembuatan lubang untuk
mencapai kedalaman tertentu tersebut, yang harus diperhatikan adalah
mempertahankan ukuran diameter lubang. Pekerjaan terpenting yang lain adalah
membawa serpihan batuan (cutting) ke permukaan.

Kegiatan pemboran dalam dunia perminyakan meliputi :


 Penambahan kedalaman.
 Mempertahankan diameter lubang bor.
 Mengangkat hasil pemboran ke permukaan.

Dalam pemboran yang harus benar–benar diperhatikan adalah efisiensinya,


karena hal tersebut menyangkut faktor pembiayaan. Didalam pemboran terdapat
macam-macam pemboran, antara lain yaitu : Pemboran eksplorasi (wild cat),
Pemboran deliniasi, dan Pemboran pengembangan (infill drilling).
Untuk mendapatkan efisiensi yang besar dan hasil yang optimum, perlu
adanya perencanaan yang sangat matang dan cermat dalam suatu kegiatan
pemboran. Perencanaan yang dimaksud meliputi perencanaan peralatan pemboran
yang akan digunakan, perencanaan sistem lumpur dan hidrolikanya, perencanaan
casing, perencanaan penyemenan dan lain sebagainya.

2.1. Perencanaan Peralatan Pemboran


Menurut fungsinya, secara garis besar peralatan pemboran dapat dibagi
menjadi lima sistem peralatan utama, yaitu sistem tenaga, sistem angkat, system
putar, sistem sirkulasi dan system pencegah sembur liar (BOP System).

2.1.1. Sistem Tenaga (Power System)


Sistem tenaga dalam operasi pemboran terdiri dari power suplay
equipment, yang dihasilkan oleh mesin – mesin besar yang biasa dikenal dengan
nama “prime mover” dan distribution equipment yang berfungsi untuk
meneruskan tenaga yang diperlukan untuk mendukung jalannya kegiatan

43
pemboran. Hampir sebagian besar daya yang tersedia pada rig dikonsumsi oleh
hoisting system dan circulating system. Sistem lainnya hanya sedikit
mengkonsumsi daya yang tersedia. Untungnya, hoisting dan circulating system
memerlukan daya tidak secara bersamaan, sehingga mesin yang sama dapat
menyediakan daya untuk kedua sistem tersebut. Total daya yang umum
diperlukan dalam sebuah rig dari 1000 sampai 3000 Hp.

Gambar 2.1. Power System

2.1.2. Sistem Angkat (Hoisting System)


Sistem angkat (hoisting system) merupakan salah satu komponen utama
dari peralatan pemboran. Fungsi utama sistem ini adalah memberikan ruang kerja
yang cukup untuk pengangkatan dan penurunan rangkaian pipa bor dan peralatan
lainnya.

Peralatan pengangkatan terdiri dari :


a. Drawwork
Drawwork merupakan otak dari derrick, karena melalui
drawwork, seorang driller melakukan dan mengatur operasi
pemboran. Drawwork juga merupakan rumah atau tempat dari
gulungan drilling line. Desain dari pada drawwork tergantung dari
beban yang harus dilayani, biasanya didisain dengan horse power

44
(Hp) dan kedalaman pemboran, dimana kedalamannya harus
disesuaikan dengan drill pipe-nya.

Gambar 2.2. Skema Instalasi Drawwork


b. Overhead tools
Overhead tool merupakan rangkaian sekumpulan peralatan
yang terdiri dari crown block, traveling block, hook dan elevator.
c. Drilling line
Drilling line terdiri dari reveed drilling line, dead line, dead
line anchor dan storage and suplay. Drilling line digunakan untuk
menahan (menarik) beban pada hook. Drilling line terbuat dari baja
dan merupakan kumpulan kawat baja yang kecil dan diatur
sedemikian rupa hingga merupakan suatu lilitan. Lilitan ini terdiri
dari enam kumpulan dan satu bagian tengah yang disebut “core”
dan terbuat dari berbagai macam bahan seperti plastik dan textile.

2.1.3. Sistem Putar (Rotary System)


Fungsi utama dari sistem putar (rotary system) adalah untuk memutar
rangkaian pipa bor dan juga memberikan beratan di atas pahat untuk membor
suatu formasi. Rotary system terdiri dari tiga sub komponen, yaitu :
1. Rotary assembily
Peralatan putar berfungsi untuk :
a. Memutar rangkaian pipa bor selama operasi pemboran
berlangsung.

45
b. Menggantungkan rangkaian pipa bor yaitu dengan slip yang
dipasang (dimasukkan) pada rotary table ketika disambung atau
melepas bagian-bagian drill pipe.

Peralatan putar ditempatkan pada lantai bor di bawah crown block diatas
lubang, terdiri dari :
a. Meja putar (rotary table).
b. Top drive.
c. Masterbushing
d. Kelly bushing.
e. Rotary slip.

2. Rangkaian pipa pemboran.


Rangkaian pipa bor menghubungkan antara swivel dan mata bor, berfungsi
untuk :
a. Menaik turunkan mata bor.
b. Memberikan beban diatas pahat untuk penembusan (penetration).
c. Meneruskan putaran ke mata bor dan
d. Menyalurkan fluida pemboran yang bertekanan ke mata bor.

Rangkaian pipa bor, meliputi :


a. Swivel.
b. Kelly.
c. Drill Pipe.
d. HWDP.
e. Drill Collar.

3. Mata bor atau bit.


Mata bor merupakan peralatan yang langsung menyentuh formasi,
berfungsi untuk menghancurkan dan menembus formasi, dengan cara
memberi beban pada mata bor. Jenis-jenis mata bor terdiri dari :
a. Drag Bit
b. Roller-cone Bit
c. Diamond Bit

46
Sistem putar yang digunakan pada pemboran minyak terbagi menjadi dua,
yaitu :
1. Sistem Putaran Konvensional (menggunakan rotary table).
Digerakkan oleh power yang sama, yang digunakan pada sistem
angkat. Bisa digunakan bersama-sama atau sendiri-sendiri. Pada sistem
konvensional ini memerlukan alat yang disebut Kelly.
2. Sistem Putar Modern (Top Drive)
Merupakan sistem putar tetapi sudah tidak menggunakan rotary
table (meja putar) tetapi sudah mempunyai mesin penggerak sendiri yang
terpisah dengan sistem angkat. Pada sistem putar terdapat pipa putar yang
mentransmisikan putaran dari meja putar ke bit / pahat.

Gambar 2.3. Skema Sistem Putar Dengan Rotary Table

Gambar 2.4. Skema Sistem Putar Dengan Top Drive

47
2.1.4. Sistem Sirkulasi (Circulating System)
Sistem sirkulasi terdiri dari empat sub-komponen utama, yaitu :
1. Fluida Pemboran.
Fluida pemboran adalah merupakan suatu campuran cairan (liquid)
dari beberapa komponen yang terdiri dari : air (tawar atau asin), minyak,
tanah liat (clay), bahan-bahan kimia (chemical additif). Dilapangan fluida
pemboran dikenal sebagai ” lumpur ”. Dalam penentuan komposisinya
ditentukan oleh kondisi lubang bor dan jenis formasi yang di tembus mata
bor. Ada dua hal penting dalam penentuan komposisi lumpur pemboran,
yaitu :
a. Semakin ringan dan encer suatu lumpur pemboran, semakin besar
laju penembusan.
b. Semakin berat dan kental suatu lumpur pemboran, semakin mudah
untuk mengontrol kondisi di bawah permukaan, seperti masuknya
fluida formasi bertekanan tinggi (dikenal sebagai ” kick ”). Bila
keadaan ini tidak dapat diatasi akan menyebabkan terjadinya
semburan liar (blowout).

2. Tempat Persiapan
Ditempatkan pada sistem sirkulasi dimulai yaitu dekat pompa
Lumpur. Tempat persiapan meliputi :
a. Mud house.
b. Steel mud pits / tanks.
c. Mixing hopper.
d. Chemical mixing barrel.
e. Bulk mud storage bins.
f. Water tanks.
g. Reserve pit.

3. Peralatan Sirkulasi.
Peralatan sirkulasi merupakan komponen utama dalam sistem
sirkulasi, turun kerangkaian pipa bor dan naik ke annulus membawa

48
serbuk bor kepermukaan menuju conditioning area sebelum kembali ke
mud pits untuk sirkulasi kembali. Peralatan sirkulasi terdiri dari beberapa
komponen khusus :
a. Mud pit
b. Mud pump.
c. Pump dischangeandreturn lines.
d. Stand pipe.
e. Rotary house.

4. Conditioning Area.
Ditempatkan dekat rig. Area ini terdiri dari peralatan-perlatan
khusus yang digunakan untuk “clean up“ Lumpur pemboran setelah keluar
dari lubang bor. Fungsi utama peralatan-peralatan ini adalah untuk
membersihkan Lumpur bor dari serbuk bor (cutting) dan gas-gas yang
terbawa. Ada dua metode pokok untuk memisahkan cutting dan gas.
Pertama yaitu menggunakan prinsip gravitasi, dimana Lumpur dialirkan
melalui shale shaker dan setling tanks. Kedua yaitu secara mekanik,
dimana peralatan-peralatan khusus yang dipasang pada mud pitis dapat
memisahkan Lumpur dan gas. Peralatannya terdiri dari :
a. Settling tanks : merupakan bak terbuat dari baja digunakan untuk
menampung lumpur bor selama conditioning.
b. Reserve pits : merupakan kolam besar yang digunakan untuk
menmpung cutting dari dalam lubang bor dan kadang-kadang untuk
menampung kelebihan lumpur bor.
c. Mud-gas separator : merupakan suatu peralatan yang memisahkan
gas yang terlarut dalam lumpur bor dalam jumlah besar.
d. Shale shaker : merupakan peralatan yang memisahkan cuttings
yang besar dari lumpur bor.
e. Desander : merupakan peralatan yang memisahkan butir-butir pasir
dari lumpur.
f. Desilter : merupakan peralatan yang memisahkan partikel-partikel
cutting yang berukuran paling halus dari lumpur.

49
g. Degasser : merupakan peralatan yang secara kontinyu memisahkan
gas terlarut dari lumpur.

Gambar 2.5. Sistem Sirkulasi

2.1.5 Sistem Pencegah Semburan Liar (BOP System)


Sistem pencegahan sembur liar (blow out preventer) dipasang
untuk menahan tekanan dari lubang bor. Peralatan ini disediakan pada
operasi pemboran karena peramalan tekanan tidak selalu memungkinkan.
Apabila formasi mempunyai tekanan yang besar dan kolom lumpur tidak
dapat mengimbanginya maka akan terjadi “kick”, yaitu intrusi fluida
formasi yang bertekanan tinggi yang masuk ke dalam lubang bor. Kick
yang tidak terkendali dapat mengakibatkan terjadinya blow out. Jadi blow
out selalu diawali dengan adanya kick.
Blow Out Preventer (BOP) system berfungsi untuk menutup ruang
annular antara drill pipe dan casing bila terjadi gejala kick. Sistem
peralatan ini bekerja secara pneumatic (biasanya dipakai dengan
menggunakan udara dan gas) dan secara mekanik. BOP sistem terdiri dari
BOP stack, accumulator dan supporting system.

1. BOP Stack dan Accumulator.


Ditempatkan pada kepala casing atau kepala sumur langsung di
bawah rotary table pada lantai bor. BOP stack meliputi :

50
a. Annular preventer.
Ditempatkan paling atas dari susunan BOP stack. Annular
preventer berisi rubber packing element yang dapat menutup
lubang annulus baik lubang dalam keadaan kosong ataupun ada
rangkaian pipa bor.
b. Pipe ram preventer.
Digunakan untuk menutup lubang annulus baik lubang pada waktu
rangkaian pipa bor berada pada lubang bor.
c. Drilling spooil.
Terletak diantara preventers (pada casing head). Berfungsi sebagai
tempat pemasangan choke line (yang mensirkulasikan “kick” keluar
dari lubang bor). Ram preventer pada sisa-sisanya mempunyai
“cutlets” yang digunakan untuk maksud yang sama.
d. Blind ram preventer.
Digunakan untuk menutup lubang bor pada waktu rangkaian pipa
bor tidak berada pada lubang bor.
e. Casing head.
Merupakan alat tambahan pada bagian atas casing yang berfungsi
sebagai pondasi BOP stack.

Accumulator biasanya ditempatkan agak jauh dari rig dengan


pertimbangan keselamatan, fungsi utamanya adalah menutup dengan cepat
valve BOP stack pada saat terjadi bahaya. Bekerja dengan ” high pressure
hydroulic ”.

2. Supporting Sistem,
meliputi :
a. Choke manifold
Choke manifold merupakan suatu kumpulan fitting dengan
beberapa outlet yang dikendalikan secara manual dan atau
otomatis. Bekerja pada BOP stack dengan ”high pressure line”,
disebut ”choke line”. Bila dihidupkan, choke manifold membantu

51
menjaga back pressure dalam lubang bor untuk mencegah
terjadinya intrusi fluida formasi. Lumpur bor dapat dialirkan dari
BOP stack ke sejumlah valve (yang membatasi aliran dan langsung
ke reserve pits), mud-gas separator atau mud conditioning area
back pressure dijaga sampai lubang bor dapat di kontrol kembali.

b. Kill line.
Kill line bekerja pada BOP stack biasanya berlawanan, berlangsung
dengan choke manifold dan choke line. Lumpur berat dipompakan
melalui kill line ke dalam Lumpur bor sampai tekanan hidrostatik
Lumpur dapat mengimbangi tekanan formasi.

Gambar 2.6. Skema Penampang BOP

2.1.6. Macam-Macam Rig Pemboran


Rig pengeboran bisa berada di atas tanah (on shore) atau di atas laut/lepas
pantai (off shore) tergantung kebutuhan pemakaianya. Walaupun rig lepas pantai
dapat melakukan pengeboran hingga ke dasar laut untuk mencari mineral-mineral,
teknologi dan keekonomian tambang bawah laut belum dapat dilakukan secara
komersial. Jenis-jenis rig pengeboran ada beberapa diantaranya, yaitu:

52
Gambar 2.7 Rig Pengeboran

1. Land Rig
Merupakan rig yang beroperasi di daratan dan dibedakan atas rig
besar dan rig kecil. Pada rig kecil biasanya hanya digunakan untuk
pekerjaan sederhana seperti Well Service atau Work Over. Sementara itu,
untuk rig besar bisa digunakan untuk operasi pemboran, baik secara
vertikal maupun directional.

Gambar 2.8 Land Rig

2. Swamp Barge Rig


Merupakan jenis rig laut yang hanya pada kedalaman maksimum 7
meter. Dan sangat sering dipakai pada daerah rawa-rawa dan delta sungai.

53
Gambar 2.9. Swamp Barge Rig
3. Jackup Rig
Rig jenis ini menggunakan platform yang dapat mengapung dengan
menggunakan tiga atau empat kakinya. Pada operasi pengeboran
menggunakan rig jenis ini dapat mencapai kedalaman lima hingga 200
meter.

Gambar 2.10. Jack Up Rig

4. Semi-submersible Rig
Jenis rig yang sering disebut “semis” ini merupakan model rig yang
mengapung (Flooded atau Ballasted) yang menggunakan Hull atau
semacam kaki. Rig ini dapat didirikan dengan menggunakan tali mooring
dan jangkar agar posisinya tetap diatas permukaan laut.

54
Gambar 2.11. Semi-Submersible Rig
5. Drill Ship
Merupakan jenis rig yang bersifat mobile dan diletakan di atas
kapal laut, sehingga sangat cocok untuk pengeboran di laut dalam (dengan
kedalaman lebih dari 2800 meter).

Gambar 2.12. Drill Ship

2.2 Lumpur Pemboran


Peranan Lumpur Pemboran adalah salah satu faktor penunjang dalam
pemboran baik pemboran eksplorasi maupun pengembangan. Kontrol terhadap

55
sifat fisiknya merupakan pekerjaan yang rutin sewaktu operasi pemboran untuk
memperkecil kemungkinan terjadinya hole problem.

2.2.1. Fungsi Lumpur Pemboran


Pemilihan sistem lumpur berkenaan dengan sifat – sifat lumpur yang
cocok dengan penanggulangan problem yang ditemui dalam pemboran. Dalam
hal ini lumpur yang diharapkan dapat memenuhi fungsi – fungsi sebagai berikut :
 Sebagai Media Pengangkatan Cutting
 Membentuk mud cake yang tipis dan licin
 Menahan cutting saat sirkulasi berhenti
 Mendinginkan dan melumasi bit serta rangkaian pipa
 Media logging
 Mengimbangi tekanan formasi
 Membersihkan dasar lubang bor
 Media informasi
 Mencegah gugurnya dinding lubang bor

2.2.2. Jenis – Jenis Lumpur Pemboran


Penentuan jenis lumpur bor dalam suatu pemboran harus disesuaikan
dengan kebutuhan tergantung dari keadaan formasinya. Jenis lumpur yang tidak
sesuai akan menyebabkan problem pemboran. Dibawah ini akan diberikan
beberapa jenis lumpur pemboran berdasarkan fasa fluidanya, yaitu :
1. Water Base Mud
Bila bahan dasar dari lumpur adalah air maka lumpur tersebut
disebut dengan water base mud. Air yang digunakan dapat berupa air
tawar maupun air asin. Lumpur yang mempunyai bahan dasar air tawar
disebut fresh water mud, dan bila bahan dasarnya air asin disebut salt
water base mud.
a. Fresh Water Mud
Fresh Water Mud yaitu lumpur yang fasa cairnya adalah air
tawar dengan kadar garam yang kecil (kurang dari 10.000 ppm = 1

56
% berat garam), dapat dibedakan menjadi beberapa jenis antara
lain :
a. Spud mud
Spud Mud digunakan untuk formasi bagian atas
konduktor casing. Fungsi utamanya mengangkat cutting dan
membuka lubang di permukaan (formasi atas).
b. Natural mud
Natural Mud dibentuk dari pecahan-pecahan cutting
dari fasa cair. Sifat-sifatnya bervariasi tergantung dari
formasi yang dibor.
c. Bentonite – treated mud
Adalah lumpur yang dibuat dari campuran
bentonite, clay dan air. Lumpur ini banyak digunakan dalam
pemboran untuk menembus formasi yang bertekanan tinggi.
b. Salt Water Mud
Lumpur ini digunakan terutama untuk pemboran garam
massif (salt dome) atau salt stringer (lapisan-lapisan formasi
garam) dan kadang kadang bila ada aliran garam yang dibor.

2. Emulsion Mud
Lumpur jenis ini terbagi menjadi 2 yaitu :
a. Oil In Water Emulsion Mud
Pada lumpur ini minyak merupakan fasa tersebar (emulsi)
dan air sebagai fasa kontinyu. Sebagai dasar dapat digunakan baik
fresh maupun salt water mud. Sifat-sifat fisik yang dipengaruhi
emulsifikasi hanyalah berat lumpur, volume filtrat, tebal mud cake
dan pelumasan. Keuntungannya adalah bit bisa tahan lama,
penetrasi rate naik, pengurangan korosi pada drill string, perbaikan
pada sifat-sifat lumpur (viskositas dan tekanan pompa boleh/dapat
dikurangi), water loss turun, mud cake tipis dan mengurangi
balling (terlapisnya alat oleh padatan lumpur) pada drill string.

57
b. Water In Oil Emlsion Mud
Lumpur jenis ini berbahan dasar bentonite + 40 % air + 50 % solar
atau menggunakan crude oil + emulsifier + additive.
3. Oil Base Mud
Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinyu. Komposisi
diatur agar kadar airnya rendah (3 – 5%) volume. Reaktif lumpur ini tidak
sensitive terhadap kontaminan. Tetapi air adalah kontaminan karena
memberi efek negatif bagi kestabilan lumpur ini. Untuk mengontrol
viskositas, menaikkan gel strength, mengurangi efek kontaminasi air dan
mengurangi filtrate loss, perlu ditambahkan zat-zat kimia. Kegunaan
terbesar adalah pada saat komplesi dari work over sumur. Kegunaan lain
adalah untuk melepaskan drillpipe yang terjepit, sehingga mempermudah
pemasangan casing dan liner

2.2.3. Sifat Fisik Lumpur Pemboran


Komposisi dari Lumpur bor akan menentukan sifat-sifat serta
performance dari lumpur itu sendiri. Sistem pengontrolannya harus
dikoreksi terhadap formasi selama operasi pemboran berlangsung, hal ini
dimaksudkan agar Lumpur bor bekerja sesuai dengan harapan.
1. Densitas
Densitas atau berat jenis, didefinisikan sebagai berat lumpur per
satuan volume total lumpur. Densitas ini menyebabkan kemungkinan
untuk membantu dalam pengaturan tekanan-tekanan di lubang subsurface
formasi, Pengontrolan densitas lumpur dapat dilakukan dengan
menambahkan zat-zat aditif, yang bersifat menaikkan maupun
menurunkan densitas lumpur. Additif yang biasa digunakan untuk
memperbesar harga densitas antara lain : Barite ( SG 4.3), Limestone (SG
3.0) , Galena (SG 7.0), Bijih besi (SG 7.0). Sedangkan untuk memperkecil
atau mengurangi densitas lumpur bor. Pada umumnya additif yang dipakai
adalah minyak dan air.

58
2. Viskositas
Viskositas adalah sifat fisik yang mengontrol besarnya shear stress
akibat adanya pergeseran antar lapisan fluida. Viskositas dapat pula
didefinisikan sebagai perbandingan antara shear stress (tekanan
penggeser) dan shear rate (laju penggeseran). Tujuan dari pengenalan
viskositas lumpur ini adalah untuk :
a. Mengontrol tekanan sirkulasi yang hilang di annulus
b. Memberikan kapasitas daya angkat yang memadai.
c. Membantu mengontrol swab-pressure dan surge pressure.

 Penentuan Harga Shear Stress dan Shear Rate


Harga Shear stress dan Shear Rate yang masing-masing
dinyatakan dalam bentuk penyimpangan skala penunjuk (Dial
Reading) dan rpm motor pada Fann VG meter, harus diubah
menjadi shear stress dan shear rate dalam satuan dyne/cm2 dan
detik-1 agar diperoleh harga satuan viskositas dalam satuan cp.
Persamaannya sebagai berikut :
 = 5,007 x C …………………………………………(2-1)
 = 1,704 x RPM …………………………………………(2-2)

Dimana :
Penentuan Harga Viskositas Nyata (Apparent Viscosity)
 = shear sitress, dyne/cm2
 = shear riate, detik-1
C = dial reading, derajat
RPM = revolution per minute dari rotor

Untuk setiap harga shear rate dihitung berdasarkan hubungan :



Va = x100 …………………………………………(2-3)

59
(300 x C)
Va = …………………………………………(2-4)
RPM

 Penentuan Plastic Viscosity dan Yield Point


Untuk menentukan Plastic Viscosity (VP) dan Yield Point
(YP) dalam suatu lapangan, digunakan persamaan bingham plastic
sebagai berikut :
 600   300
Vp = ………………………………………...(2-5)
 600   300

Dengan menggunakan sebelumnya didapatkan :


VP = C600 – C300 …………………………………………(2-6)
YP = C600 – VP …………………………………………(2-7)
dimana :
Vp = plastic viscosity,cp
Yp = yield point Bingham, lb/100 ft2
C600 = dial reading pada 600 rpm, derajat
C300 = dial reading pada 300 rpm, derajat

Viskositas yang terlalu tinggi akan menyebabkan :


a. Penetration rate turun.
b. Pressure loss tinggi terlalu banyak gesekan.
c. Pressure surges yang berhubungan dengan Lost circulation dan
swabbing yang berhubungan dengan blow out.
d. Sukar melepaskan gas dan cutting dari lumpur dipermukaan.

Viskositas yang terlalu rendah menyebabkan :


a. Pengangkatan cutting tidak baik.
b. Material-material pemberat lumpur diendapkan.

60
Untuk mengencerkan lumpur dapat dilakukan dengan pengenceran
dengan air atau dengan penambahan thinner (zat-zat kimia), sedangkan
penambahan viskositas dapat dilakukan dengan penambahan zat-zat
padat/bentonite pada water base mud dan air atau asphalt pada oil base
mud.
3. Gel Strength
Pada saat lumpur bersirkulasi yang berperan adalah viskositas.
Sedangkan diwaktu sirkulasi berhenti yang memegang peranan adalah gel
strength. Lumpur akan mengagar atau menjadi gel apabila tidak terjadi
sirkulasi, hal ini disebabkan oleh gaya tarik-menarik antara partikel-
partikel padatan lumpur. Gaya mengagar inilah yang disebut gel strength.
Di waktu lumpur berhenti melakukan sirkulasi, lumpur harus mempunyai
gel strength yang dapat menahan cutting dan material pemberat lumpur
agar jangan turun.
Gel strength dapat diklasifikasikan menjadi dua macam, yaitu
progressive gel dan fragile gel. Tipe yang pertama adalah tipe gel strength
yang pada mulanya rendah tetapi semakin tinggi dengan bertambahnya
waktu, gel strengthnya meningkat terus menerus sampai mencapai angka
tertinggi. Tipe yang kedua adalah tipe gel strength yang pada kondisi
awalnya relatif sudah tinggi dan hanya mengalami kenaikkan yang sangat
sedikit saja seiring dengan bertambahnya waktu.

4. Yield Point
Yield point adalah sifat mengagar yang menunjukkan besarnya
tekanan minimal yang yang harus diberikan kapada fluida agar fluida
tersebut dapat bergerak. Tekanan ini akibat dari gaya tarik-menarik antara
partikel-partikel di dalam lumpur. Yield point adalah parameter fluida
dinamik, sedangkan sifat menggagar (gel strength) adalah parameter
fluida static.
Yield Point di lapangan disebutkan dalam satuan lb/100ft2, dan
diukur dengan fann VG meter. Harga YP pada Fann VG meter adalah

61
pembacaan skala pada putaran 300 rpm dikurangi harga PV. Harga biasa
digunakan antara 3 sampai 15 lb/ft2. Untuk fluida Newtonian harga YP
adalah nol. Kenaikan Yp yang berlebihan adalah akibat flukolasi YP yang
tinggi baik untuk pembersihan lubang, tetapi akan menimbulkan
kehilangan tekanan yang besar.

5. Filtration Loss
Filtration loss adalah kehilangan sebagian dari fasa cair (filtrat)
lumpur masuk kedalam formasi permeabel. Pengukurannya dilakukan
dengan standar filter press, dimana lumpur ditempatkan pada silinder yang
dasarnya dipasang kertas saring, dan bagian atas tabung diberikan tekanan
udara/gas. Selanjutnya volume filtrat lumpur dan tebal mud cake dicatat.
Ketebalan mud cake biasanya diukur dalam satuan 1/32 inch.
Filtration loss yang terlalu besar berpengaruh jelek terhadap formasi
maupun lumpurnya sendiri, karena dapat menyebabkan terjadinya
formation damage (pengurangan permeabilitas efektif terhadap minyak /
gas) dan lumpur akan kehilangan banyak cairan. Mud cake sebaiknya tipis
agar tidak memperkecil lubang bor.

2.2.4. Komposisi Lumpur Pemboran


Secara umum lumpur pemboran terdiri dari 3 komponen atau fasa
pembentuk sebagai berikut :
1. Fasa cair (air atau minyak)
Fasa cair Lumpur pemboran pada umumnya dapat berupa
air, minyak, atau campuran air dan minyak. Air dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu air tawar dan air asin. Lumpur
pemboran menggunakan air karena mudah didapat, murah, mudah
dikontrol jika terdapat padatan-padatan (solid content) dan
merupakan fluida yang paling baik sebagai media penilaian formasi.
Istilah oil-base muds digunakan jika kandungan minyaknya lebih
besar dari 95%. Sedangkan emulsion muds mempunyai komposisi

62
minyak 50-70% (sebagai fasa kontinyu) dan air 30-50% (sebagai
fasa diskontinyu).
2. Fasa padat (reactive solids dan inert solids)
a. Reactive Solid
Reactive solid atau fasa padatan yang bereaksi dengan
sekelilingnya membentuk koloid yang merupakan suspensi yang
reaktif terdispersi dalam fasa kontinyu. Dalam hal ini clay akan
menghisap fasa cair air dan memperbaiki lumpur dengan
meningkatkan densitas, viskositas, gel strength serta mengurangi
fluid loss. Clay yang merupakan reactive solid dapat didefinisikan
sebagai padatan yang diameternya kurang lebih 2 mikron yang
mampu menyerap air sehingga mempunyai kemampuan swelling.
b. Inert Solid
Non-reactive solid merupakan zat padat yang tidak bereaksi
(inert solid). Non-reactive solid meliputi padatan-padatan dengan
berat jenis rendah (low-gravity) dan berat jenis tinggi (high-gravity).
Padatan low gravity meliputi : pasir, chert, limestone, dan dolomite,
berbagai macam shale, dan campuran dari berbagai macam mineral.
Padatan-padatan ini berasal dari formasi yang dibor dan terbawa oleh
lumpur, dan biasannya mempunnyai ukuran yang lebih besar dari 15
mikron, dan bersifat abrasif, sehingga dapat merusak peralatan
sirkulasi lumpur, seperti liner pompa, oleh karena padatan tersebut
harus segera dibuang.
3. Fasa Kimia (additive)
Didalam lumpur pemboran selain terdiri atas komponen
pokok lumpur, maka ada material tambahan yang berfungsi
mengontrol dan memperbaiki sifat-sifat lumpur agar sesuai dengan
keadaan formasi yang dihadapi selama operasi pemboran. Berikut ini
akan disebutkan beberapa bahan kimia tersebut, yaitu untuk tujuan :
menaikkan berat jenis lumpur, menaikkan viskositas, menurunkan
viskositas, menurunkan filtration loss dan lain-lain.

63
Tabel 2.1. Additif Lumpur Pemboran

Additif Fungsi Additif Nama

1. Barite
Weighting Agent
Menaikkan Densitas 2. Galena
(Material Pemberat)
3. Kalsium Karbonat
1. Wyoming Bentonite
Pengental Menaikkan Viskositas
2. Attapulgite
1. Kalsium Ligno Sulfat
Pengencer Menurunkan Viskositas
2. Fosfat
Menurunkan Filtration CMC
Fluid Loss Reducer
Loss
Mengatasi Loss 1. Milmica
Lost Circulation Material
Circulation 2. Kwik Seal
Corrosion Control Mengontrol korosi NO2
PH Adjuster Mengontrol PH NaOH
Mempercepat 1. Fluxit
Flucoolant
Pengendapan Serbuk Bor 2. Baroflac
1. Mogco Mul
Fas Kimia Untuk Emulsi 2. Trimulsi
Emulsifier
Minyak dan Air 3. Atlasol
4. Imco-Ceox

2.3 Well Control


Pemboran sumur merupakan suatu kegiatan yang menghabiskan biaya
yang sangat besar dan berteknologi tinggi, serta memiliki resiko yang besar.
Resiko yang terbesar adalah ketika sumur yang kita bor tidak terdapat apa-apa
(Dry hole), meskipun secara teknis pemboran berjalan lancar. Namun resiko yang
sangat membahayakan adalah ketika ada aliran fluida yang tidak terkontrol selama
proses pemboran berlangsung. Aliran ini akan terjadi jika tekanan pori dari
formasi (tekanan formasi) yang dibor lebih besar daripada tekanan hidrostatik
(tekanan lubang bor) yang diberikan oleh kolom lumpur di lubang sumur. Penting
bahwa tekanan lubang bor, yang disebabkan oleh kolom fluida, harus melebihi

64
tekanan formasi selama proses pemboran. Jika tekanan formasi lebih besar
daripada tekanan lubang sumur maka akan terjadi influx dari fluida formasi (kick)
masuk ke lubang sumur. Jika tidak ada aksi yang dilakukan untuk menghentikan
influx dari fluida formasi, kemudian semua lumpur akan terdorong keluar dari
lubang bor dan fluida formasi akan mengalir tak terkendali di permukaan. Ini
disebut Blowout. Aliran dari fluida formasi ini ke permukan dicegah oleh sistem
kontrol sekunder. Kontrol sekunder dicapai dengan menutup sumur pada
permukaan dengan valves, yang disebut dengan Blowout Preventer.
Mengontrol tekanan formasi, salah satunya dengan memastikan bahwa
tekanan lubang bor lebih besar dari pada tekanan formasi (kontrol primer) atau
dengan menutup BOP valves di permukaan (kontrol sekunder), umumnya disebut
dengan menjaga tekanan sumur dibawah kontrol atau simpelnya disebut well
control.

2.3.1. Sebab Terjadinya Kick


Kick adalah suatu kejadian dimana fluida formasi masuk ke dalam lubang
bor karena tekanan formasi lebih besar daripada tekanan lubang bor. Dalam
melakukan pemboran, maka tekanan hidrostatik lumpur harus lebih besar dari
pada tekanan formasi supaya tidak terjadi kick. Adapun sebab-sebab tekanan
hidrostaik lumpur tidak dapat mengimbangi tekanan formasi adalah :
1. Berat jenis Lumpur pemboran turun.
Dalam hal ini tekanan hidrotatis lumpur lebih kecil daripada
tekanan formasi.
Ph = 0.052 x w x TVD …………………………………(2-8)

dimana:
Ph = tekanan hidrotatis lumpur, psi
TVD = kedalaman lubang bor (True Vertical Depth), ft
w = berat lumpur, lbs/gal

65
Berat jenis lumpur turun diakibatkan bercampurnya fluida formasi
dengan lumpur bor. Masuknya fluida formasi ke dalam lubang bor akan
menyebabkan berat lumpur turun. Masuknya fluida lumpur pemboran
dapat disebabkan karena:
a. Swabbing Effect.
Swab effect terjadi apabila pencabutan rangkaian peralatan
pemboran terlalu cepat, sehingga antara rangkaian peralatan
pemboran dan dinding lubang bor akan sepeti piston. Ruang
dibawah pahat yang ditinggalkan oleh drill string menjadi kosong
dan fluida formasi akan terhisap ke dalam lubang sumur.

b. Menembus formasi gas.


Pada waktu menembus formasi gas, cutting yang dihasilkan
mengandung gas, walaupun pada mulanya tekanan hidrostatik
lumpur dapat menahan gas supaya tidak masuk ke dalam lubang
sumur, tetapi gas dapat masuk ke dalam lubang bersama cutting.
Gas keluar dari cutting masuk ke dalam lumpur, makin lama gas
makin banyak sehingga dapat menurunkan berat jenis dari lumpur
bor. Kalau hal ini terjadi, maka tekanan hidrostatik lumpur tidak
dapat lagi membendung masuknya gas ke dalam sumur secara lebih
besar.

2. Tinggi kolom lumpur turun


Bila formasi pecah atau ada rekahan-rekahan pada lapisan di dalam
lubang, maka lumpur bor akan masuk ke dalam lapisan yang pecah atau
rekah-rekah tersebut. Akibat turunnya tinggi kolom di annulus tersebut,
maka tekanan hidrostatik lumpur juga akan turun pula. Adapun yang
menyebabkan lumpur bor masuk ke dalam formasi yaitu:
a. Squeeze effect
Jika sewaktu menurunkan rangkaian peralatan pemboran (drill
string) terlalu cepat, maka lumpur yang berada di bawah rangkaian

66
(bit) terlambat naik ke annulus diatas bit. Ini menyebabkan lumpur
di bawah bit tertekan ke formasi, karena kondisi antara rangkaian
bor dengan lubang bor seperti sebuah piston. Squeeze effect dapat
mengakibatkan pecahnya formasi dan lumpur bor akan masuk ke
dalam formasi.
b. Berat jenis lumpur yang tinggi
Karena berat jenis lumpur yang digunakan tinggi, maka tekanan
hidrostatik lumpur menjadi besar. Bila menemui lapisan yang
tekanan rekahnya kecil, maka formasi akan rekah sehingga lumpur
dapat masuk ke dalam formasi.
c. Viskositas lumpur yang tinggi
Bila viskositas lumpur tinggi, maka disaat sirkulasi pressure loss di
annulus cukup tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan formasi pecah
bila formasinya tidak kuat.
d. Gel strength lumpur yang tinggi
Gel strength sangat penting disaat tidak ada sirkulasi, karena dapat
menahan cutting dan menjaga material pembawa lumpur tidak
menumpuk di dasar lubang. Jika gel strength terlalu tinggi, ketika
memulai sirkulasi kembali setelah berhenti memerlukan tenaga
pompa yang cukup besar. Bila formasi tidak sanggup menahan
tekanan pompa yang besar, maka formasi akan pecah.
e. Pemompaan yang mengejut
Pemompaan yang mengejut akan dapat menyebabkan formasi
pecah, bila formasi tidak kuat. Disaat bit menembus formasi yang
telah rekah akibat pemompaan yang mengejut, maka lumpur akan
mengisi rekahan dan celah tersebut, sehingga jika lumpur masuk ke
formasi cukup besar, permukaan lumpur di annulus akan turun dan
selanjutnya tekanan hidrostatik akan turun.

67
3. Hilang lumpur (mud loss)
Hilang lumpur pada saat tertentu terlalu besar, sehingga permukaan
lumpur dalam lubang bor turun, dan tekanan hidrotatis lumpur dapat
menjadi lebih kecil daripada tekanan formasi. Hilang lumpur ini dapat
terjadi karena porositas formasi terlalu besar, formasi yang bergua
(cavernous), mungkin pula karena ada rekahan di dalam formasi.

4. Abnormal pressure.
Adakalanya pemboran menembus formasi dengan tekanan sangat
tinggi, dan melebihi tekanan hidrotatis lumpur. Hal ini disebabkan karena
adanya kompaksi sediment yang tidak komplit, patahan, dan kubah garam.

2.3.2. Indikasi Adanya Kick


Jika kick terjadi dan tidak dideteksi, mungkin akan berkembang menjadi
blowout. Kru pemboran harus waspada dan mengetahui tanda bahaya bahwa
indikasi influx terjadi dibawah dari lubang bor. Untuk mengetahui apa saja yang
terjadi di lubang bor, kru pemboran bergatung pada indikator-indikator yang ada
di permukaan. Indikator dipermukaan mungkin benar mengindikasi adanya kick
namun juga kadang salah, tetapi kru pemboran tetap bersiap-siap mencegah
terjadinya kick. Beberapa indikasi terjadinya kick:

a. Laju alir meningkat


b. Volume Pit Meningkat
c. Adanya aliran ketika pompa dihentikan
d. Adanya penambahan volume ketika trip
e. Drilling break
f. Gas cut mud

2.3.3. Metode Penanggulangan Well Kick


Apabila terjadi kick, maka well killing adalah cara penangulangannya.
Adapun hal-hal yang perlu dilakukan bila terjadi kick adalah sebagai berikut :

68
1. Bila terjadi saat pemboran berlangsung :
a. Menghentikan pompa.
b. Mengangkat kelly di atas BOP.
c. Menutup BOP dengan semua choke terbuka (menghindarkan
adanya shock karena tekanan).
d. Menutup choke perlahan (bila tekanan permukaan memungkinkan).
e. Mencatat Pdp dan Pann.
f. Mencatat kenaikan lumpur di permukaan.
g. Menyiapkan untuk sirkulasi.
2. Bila terjadi selama pengangkatan pipa :
a. Memasang full opening valve di drill string, lalu tutup.
b. Memasang back pressure valve.
c. Membuka full opening valve.
d. Menutup BOP dengan choke terbuka.
e. Menutup choke perlahan, bila tekanan memungkinkan.
f. Mencatat Pdp dan Pann dan kenaikan lumpur.
g. Stripping dan kemudian siap untuk sirkulasi.

Setelah diketahui bahwa terjadi kick sumur harus segera ditutup. Setelah
semua persiapan cukup maka tahap selanjutnya adalah mematikan sumur. Pada
proses mematikan sumur ini dipakai prinsip bahwa tekanan pada dasar lubang bor
harus konstan. Dalam hal ini tekanan pada dasar lubang sumur sama dengan
tekanan formasi. Ada pula pendapat dipakai tekanan tambahan S (overbalance)
antara 100 – 150 psi terhadap formasi, Pada Pbh = Pf + S. dalam pembicaraan ini
selanjutnya dipakai Pbh = Pf. Dalam proses mematikan sumur ini diambil
beberapa asumsi :
 Pressure drop di annulus dianggap terlalu kecil dibandingkan dengan
pressure drop di dalam pipa bor, dan perubahan presure drop di annulus
juga dianggap terlalu kecil dan diabaikan.
 Lubang bor dianggap dalam keadaan baik, tidak runtuh atau membesar.

69
Untuk menaikkan berat jenis lumpur yang akan digunakan untuk
menanggulangi kick ada berbagai macam metode, antara lain :
1. Metode Driller
Cara ini sering disebut pula sebagai “Two-Circulation Method”.
Sirkulasi ke-1 : keluarkan cairan kick dari dalam lubang bor dengan
lumpur lama.
Sirkulasi ke-2 : lubang bor dianggap dalam keadaan baik, tidak runtuh atau
membesar.
Profil tekanan pada pipa bor pada casing dan drill pipe bahwa
tekanan pada drill pipe harus dijaga agar tetap konstan. Hal ini dapat
diperoleh dengan mengatur choke. Sementara itu cairan kick harus diberi
kesempatan untuk mengembang agar tekanan pada dasar lubang tidak
terlalu besar. Tetapi pengembangan cairan kick berarti pengurangan
volume lumpur, yang juga berarti pengurangan tekanan hidrostatis lumpur,
yang juga berarti kenaikan tekanan pada casing.

Pbh = Phl + Phi + Pc …………………………………(2-9)


dimana:
Pbh = tekanan pada dasar lubang.
Phl = tekanan hidrostatis lumpur.
Phi = tekanan hidrostatis cairan kick.
Pc = tekanan pada casing/choke manifold.

2. Wait and Weight Method


Cara ini sering juga disebut “One-Circulation Method” atau juga
“Engineer’s Method”. Intinya adalah :
a. “Wait” atau tunggu, selama membuat lumpur berat.
b. Sirkulasikan cairan kick keluar dari lubang bor dengan lumpur
berat.

Dalam hal ini perlu dicatat, bahwa tekanan di annulus berkurang


dibanding dengan driller’s method karena pada tahap kedua lumpur berat
telah masuk ke dalam annulus.

70
3. Metode Concurent
Cara ketiga adalah Metode Concurent. Dalam hal ini pemompaan
dilakukan dengan memompakan lumpur lama, tetapi sambil memompakan
lumpur tersebut, lumpur diperberat. Cara ini lebih cepat, tetapi ada dua
kegiatan yang harus dikerjakan pada saat bersamaan ialah dengan
memompakan lumpur dengan pola tertentu dan memperberat lumpur. Dua
pekerjaan ini dalam kenyataannya sulit dikerjakan secara bersamaan.

4. Cara Kombinasi
Ada cara lain yang pada dasarnya adalah gabungan atau variasi dari
cara-cara tersebut di atas. Misalnya, wait and weight method, dimana harus
menambah berat lumpur sekaligus, maka penambahan dilakukan secara
bertahap, sehingga pada sirkulasi yang pertama cairan kick dikeluarkan
dari dalam lubang bor dengan lumpur berat, tetapi sebelum seberat yang
diperlukan untuk mematikan sumur.
2.4. Casing Design
Casing di pasang setelah sumur bor sampai ke keda;aman tertentu,
casing terbuat dari pipa besi yang kokoh dan kuat
Ukuran dan jumlah casing yang di pasang tergantung :
a. Daerah yang bersangkutan
b. Kedalaman sumur
c. Karakteristik formasi

Perencanaan casing harus dapat menahan tekanan dan gaya yang bekeja
pada rangkaian casing supaya rangkaian casing tidak rusak.

2.4.1. Fungsi Casing


Secara umum fungsi dari casing adalah sebagai berikut :
a. Mencegah runtuhnya lubang bor
b. Mencegah kontaminasi air tawar oleh lumpur pemboran
c. Menutup zona bertekanan abnormal dan zone lost
d. Membuat diameter sumur tetap

71
e. Mencegah hubungan langsung antar formasi
f. Tempat kedudukan BOP dan peralatan produksi

2.4.2. Macam atau jenis casing


1. Conductor casing
Adalah casing dengan diameter terbesar dan berfungsi untuk
menutup formasi air tawar. Casing ini disemen sampai permukaan
2. Surface casing
Berfungsi untuk menutup zona yang bertekanan tinggi. Pada
surface casing ini juga, pertama kali dipasangkan peralatan pencegah
semburan liar (BOP).
3. Intermediate Casing
Dipakai bila terdapat beberapa formasi yang bertekanan tinggi,
weak zone, dan mudah runtuh
4. Prduction casing
Dipakai untuk laipsan produktif sampai ke surface dan di
semen sampai kepermukaan atau bertahap. komplesi/penyelesaian
sumurnya disebut open hole completion, sedangkan apabila
menembus lapisan produktif kemudian disemen dan diperforasi,
disebut dengan perforated competion.
5. Liner
Pada pokoknya Liner pada pokoknya mempunyai fungsi yang
sama dengan production casing tetapi tidak dipasang hingga ke
permukaan. Salah satu alasan mengapa dipergunakan liner adalah
alasan biaya, karena lebih pendek maka harganya lebih murah.

2.4.3. Spesifikasi Casing


Didasarkan pada :
- Diameter luar (OD)
- Grade
- Nominal weight atau punder

72
- Tipe Joint / thread / sambungan / ulir
- Range panjang
2.4.4. Grade Casing
Ada 2 standart yaitu standart API dan non API. Di tentukan
berdasarkan yield strenght minimum dari bahan casing, jadi perbedaan
grade casing dapat dilihat dari yield strength-nya
Yield Strength adalah besarnya tensile stress yang di perlkan untuk
menghasilkan total perpanjangan sebesar 0.5% dari panjang keseluruhan.

Gambar 2.13.Tabel Jenis grade casing dan yield strength API


Casing non API yaitu S-80, S-90 dan S-105 serta MN-80 (khusus
untuk H2S service)

2.4.5. Panjang Casing


Api membagi dalam 3 range yaitu :
 R1 : 16 – 25 ft
 R2 : 25 – 34 ft
 R3 : >34 ft

Gambar 2.14. Tabel Range panjang casing

73
2.4.6. Dimensi Casing
Didesain Oleh OD dan tebal dinding (nominal weight)

Gambar 2.15. Tabel Dimensi casing

2.4.7. Parameter yang mempengaruhi perencanaan casing (casing design)


a. Penentuan Pemilihan Ukuran/diameter Casing
b. Faktor Tekanan
c. Kedalaman Penempatan casing (Casing Setting Depth)

2.4.8. Susunan Casing


a. Untuk sumur yang bertekanan normal, perencanaan pemasangan
casing meliputi :
1. Conductor Casing
2. Surface Casing
3. Production Casing
4. Production Tubing
b. Untuk sumur yang bertekanan abnormal
1. Conductor Casing
2. Surface Casing
3. Protective Casing
4. Liner
5. Production Casing
6. Production Tubing

74
Gambar 2.16. Penempatan pemasangan casing

2.4.9. Kriteria perencanaan casing (Casing Design)


1. Kondisi lingkungan yang akan menentukan beban pada casing
2. Design Factor (angka keselamatan)
3. Anggapan bagaimana beban – beban ini bekerja
4. Raingkaian casing yang dipasang dapat berfungsi dengan baik
5. Biaya casing semurah mungkin.

2.5. Semen Pemboran

Penyemenan merupakan salah satu kegiatan operasi pemboran, dilakukan


setelah pemboran berakhir dengan tujuan merekatkan casing dengan formasi.

2.5.1. Fungsi Penyemenan

Cementing atau penyemenan adalah proses pendorongan bubur semen ke


dalam casing dan naik ke annulus yang kemudian didiamkan sampai semen

75
tersebut mengeras hingga mempunyai sifat melekat baik terhadap casing maupun
formasi. Fungsi semen pemboran dalam suatu pemboran dari sumur adalah :
i. Melindungi casing / liner dari tekanan yang datang dari bagian luar casing
yang dapat menimbulkan collapse.
ii. Mencegah migrasi fluida yang tidak diinginkan dari formasi ke formasi lain.
iii. Melindungi casing terhadap pengaruh cairan formasi yang bersifat korosif.
iv. Mengurangi kemungkinan terjadinya semburan liar atau blow out melalui
annulus, melindungi casing terhadap tekanan formasi.

Untuk memenuhi fungsi - fungsi tersebut di atas, maka semen pemboran harus
memenuhi beberapa syarat, yaitu :
i. Semen setelah ditempatkan harus mempunyai kekuatan atau strength yang
cukup besar dalam waktu tertentu.
ii. Semen memberikan daya ikat casing dengan formasi yang cukup atau baik.
iii. Semen tidak boleh terkontaminasi dengan kotoran (cairan formasi) maupun
cairan pendorong semen.
iv. Semen harus stabil atau tidak mudah berubah strength-nya setelah beberapa
waktu dari penempatannya.
v. Semen harus impermeable (permeabilitas nol).

2.5.2. Macam - macam Penyemenan

Prosedur untuk penyemenan dibagi menjadi dua, yaitu primary cementing


dan secondary cementing.

1. Primary Cementing
Primary cementing adalah proses penyemenan yang dilakukan segera
setelah casing dipasang. Tujuan dari primary cementing adalah,
i. Memisahkan lapisan yang akan diproduksi dengan lapisan – lapisan yang
lainnya.
ii. Mencegah terjadinya aliran fluida (air, minyak atau gas) dari satu lapisan ke
lapisan yang lain.

76
iii. Memberi kekuatan pada lapisan yang lemah.
iv. Melindungi casing dari korosi.
v. Melindungi casing terhadap tekanan dari luar.
vi. Memberi kekuatan pada casing.
vii. Mencegah terjadinya blow out dari annulus.

Primary cementing yang buruk dapat menyebabkan semen gagal


mengisolasi zona – zona yang diinginkan. Kegagalan ini memberi pengaruh –
pengaruh :

i. Stimulasi yang tidak efektif.


ii. Kesalahan dalam evaluasi reservoir.
iii. Adanya hubungan dengan fluida yang tidak diinginkan.
iv. Pengangkatan fluida yang berlebihan.
v. Akumulasi gas didalam annulus.

2. Secondary Cementing
Secondary cementing adalah penyemenan tahap kedua setelah primary
cementing dilaksanakan. Penyemenan tahap kedua ini bersifat memperbaiki dan
membantu penyemenan tahap pertama karena penyemenannya kurang sempurna.
Operasi ini banyak dilakukan dalam pekerjaan komplesi dan work over dengan
tujuan :
i. Untuk mengotrol produksi air atau gas yang berlebihan.
ii. Memperbaiki kebocoran casing.
iii. Untuk menyekat zona lost circulation.
iv. Untuk mencegah migrasi fluida lain kedalam zona yang diproduksikan.
v. Untuk mengisolasi zona - zona permanent completion.
vi. Untuk menutup perforasi lama.

77
2.5.3. Klasifikasi Semen Pemboran
Tabel 2.2. Klasifikasi Semen Berdasarkan API

Static
API Mixing Water Slurry Weight Well Depth
Temperatur
Classification (gal/sk) (lb/gal) (ft)
(0F)
A (portland) 5.2 15.6 0 to 6.000 80 to 170
B (portland) 5.2 15.6 0 to 6.000 80 to 170
C (high early) 6.3 14.8 0 to 6.000 80 to 170
D (retarded) 4.3 16.4 6.000 to 12.000 170 to 260
E (retarded) 4.3 16.4 6.000 to 14.000 170 to 290
F (retarded) 4.3 16.2 10.000 to 16.000 230 to 320
G (basic) 5.0 15.8 0 to 8.000 80 to 170
H (basic) 4.3 16.4 0 to 8.000 80 to 203

2.5.4. Komposisi dan Pembuatan Semen


Semen yang biasa dipergunakan dalam industri perminyakan adalah semen
Portland, dikembangkan oleh Joseph Aspdin tahun 1824. Disebut Portland karena
mula - mulanya bahannya didapat dari pulau Portland di Inggris. Semen Portland
ini termasuk semen hidrolis dalam arti akan mengeras bila bertemu atau
bercampur dengan air. Semen Portland mempunyai 4 komponen mineral utama,
yaitu :

Gambar 2.17. Empat Komponen Semen Portland

78
a. Tricalcium Silicate
Tricalcium silicate dinotasikan sebagai C3S. Komponen sekitar 40 % - 50 %
untuk semen yang lambat proses pengerasannya dan sekitar 60 % - 65 %
untuk semen yang cepat proses pengerasannya (high-early strength cement).
b. Dicalcium Silicate
Dicalcium silicate dinotasikan sebagai C2S. Kadar C2S dalam semen tidak
lebih dari 20 %.
c. Trilcalcium Aluminate
Tricalcium aluminate dinotasikan sebagai C3A. Walaupun kadarnya lebih
kecil dari komponen silikat, namun berpengaruh pada rheologi suspensi
semen dan membantu proses pengerasan awal pada semen.
d. Tetracalcium Aluminoferrite
Tetracalcium aluminoferrite dinotasikan sebagai C4AF. Komponen ini
hanya sedikit pengaruhnya pada strength semen.

Pembuatan Semen Portland melalui beberapa tahap sebagai berikut :


1. Proses Peleburan
2. Proses Pembakaran
3. Proses Pendinginan
4. Proses Penggilingan

2.5.5. Sifat Fisik Semen Pemboran


Sifat - sifat bubur semen yang dimaksud adalah sebagai berikut : density,
thickening time, strength, sifat filtrasi, permeabilitas semen, kualitas perforasi,
ketahanan korosi dan pengaruh tekanan serta temperature.
1. Densitas
Penambahan air dan additif akan berpengaruh pada density bubur semen.
Pada umumnya density bubur semen dibuat lebih besar dari density lumpur.
Density ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus :
Gbk  Gw  Ga
Dbs  ..........................................................(2.10)
Vbk  Vw  Va

79
Dimana :
Gbk : Berat bubuk semen, lb.
Gw : Berat air, lb.
Ga : Berat additif, lb.
Vbk : Volume bubuk semen, gal.
Vw : Volume air, gal.
Va : Volume additif, gal.

2. Thickening Time & Viskositas


Thickening Time (pumpability) adalah waktu yang dibutuhkan bubur semen
untuk mencapai konsistensi 100 poise. Viskositas pada semen disebut
konsistensi karena semen merupakan fluida yang Non-Newtonian dan ini
untuk membedakan terhadap istilah viskositas fluida Newtonian. Besarnya
thickening time yang diperlukan adalah tergantung dari kedalaman
penyemenan, volume bubur semen yang akan dipompakan serta jenis
penyemenan.

3. Filtration Loss
Filtration loss adalah peristiwa hilangnya cairan dalam suspensi semen ke
dalam formasi permeabel yang dilaluinya. Filtrat yang hilang tidak boleh
terlalu banyak, karena akan membuat suspensi semen kekurangan air yang
disebut dengan flash-set.

4. Water Cement Ratio (WCR)


Water cement ratio adalah perbandingan antara volume air dan semen yang
dicampurkan untuk mendapatkan sifat - sifat bubur semen yang diinginkan.
Batasannya diberikan dalam bentuk kadar maksimum dan minimum air.
Kadar air minimum adalah jumlah air yang dicampurkan tanpa
menyebabkan konsistensi suspensi semen lebih dari 30 Uc.

5. Waiting On Cement (WOC)


Waiting on cement atau waktu menunggu pengerasan semen adalah waktu
yang dihitung saat menunggu pengerasan suspensi semen setelah semen

80
selesai ditempatkan. WOC ditentukan oleh factor - faktor seperti tekanan
dan temperatur sumur, WCR, compressive strength dan additive - additif
yang dicampurkan ke dalam suspensi semen.

6. Permeabilitas
Permeabilitas diukur pada semen yang mengeras dan bermakna sama
dengan permeabilitas pada batuan formasi yang berarti sebagai kemampuan
untuk mengalirkan fluida. Semen diinginkan tidak mempunyai
permeabilitas. Karena jika semen mempunyai permeabilitas besar akan
menyebabkan terjadinya kontak fluida antara formasi dengan annulus dan
juga strength semen berkurang. Harga permeabilitas maksimum yang
direkomendasikan oleh API adalah tidak lebih dari 0,1 mD.

7. Compressive Strength & Shear Strength


Strength pada semen terbagi menjadi dua yaitu compressive strength dan
shear strength. Compressive strength didefinisikan sebagai kekuatan semen
dalam menahan tekanan - tekanan yang berasal dari formasi maupun dari
casing, sedangkan shear strength didefinisikan sebagai kekuatan semen
dalam menahan berat casing. Jadi compressive strength menahan tekanan -
tekanan dalam arah horisontal dan shear strength menahan tekanan -
tekanan pada arah vertikal.

2.5.6. Additif Penyemenan


Additif atau zat - zat tambahan adalah material - material yang
ditambahkan pada semen untuk memberikan variasi yang lebih luas pada sifat -
sifat bubur semen agar memenuhi persyaratan yang diinginkan dengan fungsi
ialah :
i. Mempercepat atau memperlambat thickening time.
ii. Memperbesar strength.
iii. Menaikkan atau menurunkan density dan volume bubur semen.
iv. Mencegah lost circulation dan mengurangi fluid loss.
v. Menaikkan sifat tahan lama (durability).

81
vi. Mencegah kontaminasi gas pada semen.

a. Accelelator
Adalah additif yang digunakan untuk mempercepat pengerasan bubur
semen. Contohnya adalah Calcium Chloride, Sodium Chloride, Gypsum,
Sodium Silicate dan Sea Water.
b. Retarder
Adalah additif yang digunakan untuk memperpanjang waktu pengerasan.
Contohnya adalah Lignosulfonate, Organic Acids, Modified Lignosulfonate,
Carboxy Methyl Hydroxy Ethyl Cellulose.
c. Extender
Adalah additif yang dapat mengurangi atau menurunkan density bubur
semen. Contohnya adalah Bentonite-Attapulgite, Gilsonite, Diatomaceous
Earth, Perlite dan Pozzolans.
d. Weighting Agents
Merupakan additif yang digunakan untuk memperbesar density bubur
semen. Contohnya adalah Hematite, Limenite, Barite dan pasir.
e. Dispersant
Adalah additif yang berfungsi untuk mengurangi viskositas suspensi semen.
Contohnya adalah Organic Acids, Lignosulfonate, Plymers dan Sodium
Chloride.
f. Fluid Loss Control Agents
Adalah additif yang berfungsi mencegah hilangnya fasa liquid semen ke
dalam formasi. Contohnya adalah polymer, CMHEC dan Latex.
g. Loss Circulation Control Agents
Seperti halnya dengan sirkulasi lumpur pemboran pada sirkulasi bubur
semen pada penyemenan bisa juga terjadi kehilangan bubur semen.
Sehingga di sini perlu ditambahkan additives untuk menghindari hal
tersebut. Gilsonite dianggap material yang paling baik untuk itu menangani
lost, selain itu juga dapat berfungsi sebagai extenders. Lost Circulation
Materials lainnya : Walnut Hulls, Cellophane Flakes dan Nylon Fibers.

82
h. Specially Additif
Ada bermacam - macam additif lainnya yang dikelompokkan sebagai
specially additif, diantaranya adalah silika, mud kill, radioactive tracers,
fibers, antifoam agent.

2.6. Masalah - masalah Pemboran


Problem pemboran dapat diklasifikasikan dalam empat bagian dasar,
yaitu: Problem Shale, Hilang Lumpur, Pipa Terjepit dan Well Kick

2.6.1. Shale Problem


Shale (serpih) adalah batuan sedimen yang terbentuk oleh deposisi dan
kompaksi sedimen untuk jangka waktu yang sangat lama. Serpih ini komposisi
utamanya adalah lempung (clay), lanau (silt), air dan sejumlah kecil quartz dan
feldspar.
Dalam pemboran, ada dua jenis serpih yang biasa dijumpai, yaitu serpih
yang tidak kompak (sering disebut lempung) dan serpih yang kompak. Problem
untuk formasi tidak kompak adalah runtuhnya formasi shale ke dalam lubang bor
yang membuat lubang bor membesar, pipa bor terjepit, penyemenan yang kurang
sempurna, bertambahnya kebutuhan lumpur dan kesulitan logging. Gejala yang
timbul yang sering tampak bila sedang mengalami masalah shale :
i. Serbuk bor bertambah.
ii. Ada banyak endapan serbuk bor di dalam lubang bor.
iii. Terjadi gumpalan pada pahat (bit bailing).
iv. Terjadi perubahan sifat - sifat lumpur, antara lain : berat lumpur bertambah,
viscositas lumpur naik dan bertambahnya air tapisan.

Beberapa penyebab dari masalah shale antara lain:


i. Erosi, karena kecepatan lumpur di annulus yang terlalu tinggi.
ii. Gesekan pipa bor terhadap dinding lubang bor.
iii. Adanya tekanan dari dalam formasi.
iv. Adanya air filtrasi atau lumpur yang masuk ke dalam formasi.

83
Beberapa usaha untuk menanggulangi Shale Problem, antara lain
penggunaan oil based mud telah terbukti berhasil mengurangi terjadinya
sloughing shale. Cara pencegahan yang lain adalah dengan meminimalkan waktu
dibiarkannya lubang yang mengandung serpih dalam keadaan tidak dicasing.
Kecepatan fluida yang tinggi di annulus harus dihindari untuk mengurangi
terjadinya erosi lubang dan sloughing shale secara mekanis.

2.6.2. Pipa Terjepit (Pipe Stuck)


Definisi pipa terjepit adalah keadaan dimana bagian dari pipa bor atau
setang bor (drill collar) terjepit (stuck) di dalam lubang bor. Penyebab terjepitnya
rangkaian pipa bor pada sumur pemboran adalah karena adanya differential
sticking maupun mechanical sticking. Masalah pipa terjepit ini biasanya
diklasifikasikan sebagai berikut :

A. Differential Pipe Sticking


Faktor - faktor yang menyebabkan differential pipe sticking adalah :
i. Beda tekanan hidrostatik dari kolom lumpur melebihi tekanan dari formasi
yang permeabel.
ii. Luas kontak antara rangkaian pipa dasar lubang bor dengan dinding lubang.

Gambar 2.18. Differential Pipe Sticking.

Beberapa metode yang umum digunakan sebagai penanggulangan differential


pipe sticking adalah sebagai berikut :

84
a. Pengurangan Tekanan Hidrostatik.
Metode yang biasanya dilakukan untuk mengurangi tekanan hidrostatik
lumpur adalah rangkain pipa-U (U-Tube) dengan bit sebagai penghubung.

Gambar 2.19. Konfigurasi Pipa U Sumur.

Tekanan hidrostatik dapat dikurangi dengan cara memompakan lumpur baru


dengan densitas yang lebih rendah, atau dengan memompakan sejumlah
kecil fluida yang mempunyai specific gravity (SG) rendah. Minyak solar
(diesel oil) dan air tawar adalah fluida yang biasanya digunakan karena SG-
nya rendah. Karena minyak solar mempunyai gradien tekanan yang lebih
rendah daripada lumpur, maka tekanan total di dalam drill pipe akan
menjadi lebih kecil daripada tekanan total di annulus dan karena itu akan
ada tekanan balik menuju drill pipe.
b. Perendaman dengan Fluida Organik
Fluida organik biasanya disemprotkan sepanjang daerah jepitan untuk
mengurangi ketebalan mud cake dan faktor gesekan. Campuran antara
minyak solar dan surfactant adalah fluida yang banyak digunakan karena
kemampuannya untuk membasahi sekeliling pipa yang terjepit dan
menciptakan lapisan tipis antara pipa dan mud cake. Prosedur umum yang
dilakukan adalah memompakan fluida organik ke dalam drill pipe dan
secara berangsur - angsur memompakan sejumlah kecil fluida organik tadi
ke annulus sampai seluruh daerah terjepit dapat terendam. Pipa sebaiknya
diusahakan untuk bergerak secara terus menerus selama operasi perendaman
dengan fluida organik ini.

85
c. Operasi Back-off
Operasi back-off mencakup pelepasan bagian pipa yang masih bebas dari
dalam lubang. Hal ini secara efektif berarti melepaskan rangkaian pemboran
pada atau di atas daerah jepitan dan pengangkatan bagian pipa yang masih
bebas dari dalam lubang. Bagian rangkaian pemboran yang masih tersisa
(fish), dapat diambil dengan menggunakan peralatan DST maupun peralatan
washover. Sebagai pilihannya adalah menutup lubang (plug back) dan
kemudian membelokannya (sidetrack).

B. Mechanical Sticking (Jepitan Mekanis)


Pipa dapat terjepit secara mekanis bila :
i. Keratan bor atau formasi yang mengalami sloughing menyumbat annulus
disekitar rangkaian bor.
ii. Rangkaian bor diturunkan terlalu cepat sehingga menghantam dasar lubang.

Metode yang biasanya dilakukan untuk membebaskan pipa yang terjepit


secara mekanis adalah dengan usaha menggerakkan pipa baik diputar ataupun
ditarik atau dengan mengaktifkan jar. Jika metode ini gagal, biasanya
disemprotkan fluida organik dan kemudian prosedur yang telah disebutkan tadi
diulangi. Jika usaha tersebut belum berhasil, maka pipa haru dilepaskan dengan
cara back off.

C. Key Seating
Selama pemboran, drill pipe selalu dijaga berada dalam keadaan tension
(tertarik) dan pada saat memasuki bagian dog leg (perubahan sudut kemiringan
lubang secara mendadak), drill pipe berusaha untuk menjadi lurus, sehingga
menimbulkan gaya lateral seperti ditunjukkan pada Gambar 2.30. Gaya lateral ini
mengakibatkan sambungan drill pipe (tool joint) menggerus formasi yang berada
pada busur dog leg, dan menimbulkan lubang baru sebagai akibat diputarnya
rangkaian pemboran. Lubang ini disebut sebagai “Key Seat”. Key-set ini hanya

86
dapat terbentuk jika formasi yang ditembus lunak dan berat yang tergantung
dibawah dog leg cukup besar untuk menimbulkan gaya lateral.

Gambar 2.20. Perkembangan Key Seat.

Untuk mengatasi key seat, lubang harus di-reaming dan jika digunakan jar,
maka dilakukan jar up (ke atas). Fluida organik dapat disemprotkan untuk
mengurangi gesekan sekitar key seat sehingga memungkinkan dilakukannya usaha
untuk menggerakkan pipa. Key seat ini dapat dicegah dengan membor lubang
lurus atau menghindari perubahan mendadak sudut kemiringan atau sudut arah
lubang pada sumur berarah.

2.6.3. Hilang Lumpur (Lost Circulation)


Hilang lumpur adalah peristiwa hilangnya lumpur pemboran masuk ke
dalam formasi. Hilang lumpur tejadi karena dua faktor, yakni : faktor mekanis dan
faktor formasi.

1. Faktor Mekanis
Hilang lumpur terjadi jika tekanan hidrostatik lumpur naik hingga melebihi
tekanan rekah formasi, yang akan mengakibatkan adanya crack (rekahan)
yang memungkinkan lumpur (fluida) mengalir ke dalamnya. Hilang lumpur
juga terjadi sebagai akibat gerakan pipa yang cepat akan menyebabkan
fluida memberikan tekanan tambahan (surging) pada annulus.

87
2. Faktor Formasi
Ditinjau dari segi formasinya, maka hilang lumpur dapat disebabkan oleh :
a. Coarseley Permeable Formation
Contoh dari jenis formasi ini adalah pasir dan gravel.
b. Cavernous Formation
Hilang lumpur ke dalam reef, gravel ataupun formasi yang mengandung
banyak gua - gua sudah dapat diduga sebelumnya. Gua - gua ini banyak
terdapat pada formasi batu kapur (limestone dan dolomite).
c. Fissures, Fracture, Faults
Ini merupakan celah - celah atau rekahan dalam formasi. Hal ini dapat
terjadi misalnya karena penekanan (pressure surge) pada waktu masuk
pahat, ataupun kenaikan tekanan karena drilling practice yang tidak benar,
misalnya tekanan pompa yang terlalu tinggi, lumpur terlalu kental, gel
strength terlalu besar. Dapat juga karena perlakuan yang kurang sesuai,
misalnya menjalankan pompa secara mengejut.

Untuk penanggulangan lost circulation sendiri terbagi menjadi dua cara, yaitu :
1. Teknik Penyumbatan
Dipakai bahan penyumbat seperti : lost circulation material (LCM) serta
bahan - bahan khusus. Lost circulation material dapat dibagi dalam 3 jenis,
yaitu :
a. Material Fibrous
Material fibrous terdiri dari kapas kasar, serat rami, serat kayu, leather
flock, fiber seal dan chip seal.
b. Material Flakes
Material flakes terdiri dari mika (halus dan kasar), vermiculite dan kwik seal
(kombinasi serabut dan keping - kepingan).
c. Material Granular
Material granular terdiri dari nut shells, nut plug, tuff plug, kulit kelapa
sawit dan lain sebagainya.

88
2. Teknik Penyemenan
Program penyemenan ini dapat dikerjakan disemua zona lost. Cara
mengatasi problem hilang lumpur dengan penyemenan menggunakan
prinsip keseimbangan kolom fluida.

2.6.4. Kick dan Blow Out


Semburan liar atau “Blow Out” ini adalah peristiwa mengalirnya fluida
formasi dari dalam sumur secara tidak terkendali ke permukaan. Kejadian ini
dimulai dengan adanya kick. Kick adalah suatu kejadian dimana fluida formasi
masuk ke dalam lubang bor karena tekanan formasi lebih besar daripada tekanan
lubang bor. Adapun sebab - sebab tekanan hidrostaik lumpur tidak dapat
mengimbangi tekanan formasi adalah :

1. Berat Jenis Lumpur Pemboran Turun.


Dalam hal ini tekanan hidrotatis lumpur lebih kecil daripada tekanan
formasi. Berat jenis lumpur turun diakibatkan bercampurnya fluida formasi
dengan lumpur bor. Masuknya fluida lumpur pemboran dapat disebabkan
karena :
a. Swabbing Effect.
Swab effect terjadi apabila pencabutan rangkaian peralatan pemboran terlalu
cepat, sehingga antara rangkaian peralatan pemboran dan dinding lubang
bor akan sepeti piston. Ruang dibawah pahat yang ditinggalkan oleh drill
string menjadi kosong dan fluida formasi akan terhisap ke dalam lubang
sumur.
b. Menembus Formasi Gas
Pada waktu menembus formasi gas, cutting yang dihasilkan mengandung
gas, walaupun pada mulanya tekanan hidrostatik lumpur dapat menahan gas
supaya tidak masuk ke dalam lubang sumur, tetapi gas dapat masuk ke
dalam lubang bersama cutting.

89
2. Tinggi Kolom Lumpur Turun
Bila formasi pecah atau ada rekahan - rekahan pada lapisan di dalam lubang,
maka lumpur bor akan masuk ke dalam lapisan yang pecah atau rekah -
rekah tersebut. Akibat turunnya tinggi kolom di annulus tersebut, maka
tekanan hidrostatik lumpur juga akan turun pula. Adapun yang
menyebabkan lumpur bor masuk ke dalam formasi yaitu :
a. Squeeze Effect
Jika sewaktu menurunkan rangkaian peralatan pemboran (drill string)
terlalu cepat, maka lumpur yang berada di bawah rangkaian (bit) terlambat
naik ke annulus diatas bit. Ini menyebabkan lumpur di bawah bit tertekan ke
formasi, karena kondisi antara rangkaian bor dengan lubang bor seperti
sebuah piston. Squeeze effect dapat mengakibatkan pecahnya formasi dan
lumpur bor akan masuk ke dalam formasi.
b. Berat Jenis Lumpur Yang Tinggi
Karena berat jenis lumpur yang digunakan tinggi, maka tekanan hidrostatik
lumpur menjadi besar. Bila menemui lapisan yang tekanan rekahnya kecil,
maka formasi akan rekah sehingga lumpur dapat masuk ke dalam formasi.
c. Viskositas Lumpur Yang Tinggi
Bila viskositas lumpur tinggi, maka disaat sirkulasi pressure loss di annulus
cukup tinggi. Hal ini dapat mengakibatkan formasi pecah bila formasinya
tidak kuat.
d. Gel Strength Lumpur Yang Tinggi
Jika gel strength terlalu tinggi, ketika memulai sirkulasi kembali setelah
berhenti memerlukan tenaga pompa yang cukup besar. Bila formasi tidak
sanggup menahan tekanan pompa yang besar, maka formasi akan pecah.
e. Pemompaan Yang Mengejut
Pemompaan yang mengejut akan dapat menyebabkan formasi pecah, bila
formasi tidak kuat. Disaat bit menembus formasi yang telah rekah akibat
pemompaan yang mengejut, maka lumpur akan mengisi rekahan dan celah
tersebut.
f. Hilang Lumpur

90
Hilang lumpur ini dapat terjadi karena porositas formasi terlalu besar,
formasi yang bergua (cavernous), mungkin pula karena ada rekahan di
dalam formasi.

3. Abnormal Pressure.
Adakalanya pemboran menembus formasi dengan tekanan sangat tinggi,
dan melebihi tekanan hidrotatis lumpur. Hal ini disebabkan karena adanya
kompaksi sediment yang tidak komplit, patahan dan kubah garam.

Beberapa indikasi terjadinya kick :


i. Laju alir meningkat.
ii. Volume Pit Meningkat.
iii. Adanya aliran ketika pompa dihentikan.
iv. Adanya penambahan volume ketika trip.
v. Gas cut mud.

2.7. Directional dan Horizontal Drilling

Tidak semua searah vertikal dengan lahan yang bisa di bor yang sejajar
dengan reservoir di bawah permukaan. Dengan ini di perkenalkanlah sebuah
metode pemboran yang bisa mengatasi permasalahan lahan permukaan pemboran
yang tidak dapat tepat di gunakan untuk didirikannya rig karena banyaknya faktor
yang menghalangi.

2.7.1. Pemboran Berarah (Directional Drilling)


Adalah metode pemboran yang mengarahkan lubang bor menurut suatu
lintasan tertentu ke sebuah titik target yang terletak tidak vertikal di bawah mulut
sumur. Pada dasarnya dikenal 3 macam pemboran berarah yaitu :
a. Shallow Deviation Type
Dikenal juga dengan tipe pembelokkan di tempat yang dangkal, dimana titik
belok (kick of point) terletak di kedalaman yang tidak begitu jauh dari
permukaan tanah.

91
b. Deep Deviation Type
Tipe pemboran berarah ini membelok di tempat yang dalam, dengan titik
pembelokan berada jauh dari permukaan tanah.
c. Return To Vertical Type
Tipe pembelokkan ke vertikal ini awalnya ada belokkan di tempat yang
dangkal, tetapi kemudian di kembalikan ke arah vertikal.

Gambar 2.21. Tipe Pemboran Berarah.


2.7.2. Horizontal Drilling
Dimana peboran horizontal ini di katakan hampir sejajar arah horizontal.
Adapun saat sekarang pemboran horizontal di klasifikasikan dalam tiga kategori
yang menggunakan build rate yang berbeda yaitu pemboran horizontal dengan
menggunakan short radius, medium radius, dan long radius.

Gambar 2.22. Jenis – jenis Pemboran horizontal drilling.

92
Jenis – jenis Pemboran horizontal drilling :
a. Long Radius
Long radius merupakan sistem yang standar digunakan pada lapangan
minyak untuk teknologi pengeboran direksional. Long radius mempunyai
biuld-rate 2° - 6°/100 ft (30 m) dan build radiusnya 1000ft - 3000ft, dengan
panjang horizontal section mencapai 5000 ft. Pemboran long radius
mempunyai tiga bagian (fase) mulai dari ujung kepala sumur sampai pada
bagian bawah. Fase 1 adalah pemboran vertikal sampai KOP (Kick
of Point). Fase 2 pemboran berarah dari KOP sampai titik target dan Fase 3
adalah pemboran yang mempunyai arah horizontal.
b. Medium Radius
Teknik pengeboran medium radius pada sumur horizontal telah
dikembangkan dengan memodifikasi dari pemboran yang konvensional dan
menghasilkan build rate antara 6o - 60°/100ft (30m). Teknik medium radius
mempunyai jari - jari kelengkungan antara 125 – 700 ft, dengan panjang
horizontal section mencapai 3000 ft (915 m) dan dengan diameter yang
sama pada sumur long radius.
c. Short Radius
Pada pemboran lateral Short Radius menghasilkan tingkat pembentukan
build rate antara 1,5 - 3°/ft, dengan panjang horizontal section mencapai
750 ft dan seterusnya pipa tubing sejajar dengan arah horizontal formasi
reservoirnya.

2.7.3.Faktor Penggunaan Directional dan Horizontal Drilling

1. Faktor Permukaan.
a. Formasi Produktif Terletak di bawah Paya - paya, Sungai.
Untuk reservoir hidrokarbon di bawah sungai, danau dan laut yang masih
dekat dengan daratan, jika dilakukan straight hole drilling atau vertical
drilling, lokasi permukaannya adalah air, artinya kita menggunakan
peralatan layaknya offshore drilling. Biasanya pemboran secara offshore
drilling dibutuhkan biaya yang sangat besar. Jika biaya pemboran berarah

93
dalam kasus ini lebih murah dibandingkan pemboran secara offshore
drilling, maka dilakukanlah pemboran berarah, dengan titik lokasi masih
didaratan.
b. Formasi Produktif Terletak di bawah Bangunan - bangunan, Perkotaan
Target Dibawah Perkotaan, Apabila dibuat lubang vertical dari permukaan
sampai ke target, harus dibuat lokasi pemboran. Harus ada pembebasan
tanah pada daerah perkotaan, perumahan dan lalu lintas yang ramai. Harga
tanah sangat mahal, bangunan perkotaan, perkantoran diatasnya harus
dimusnahkan. Alangkah besar biayanya. Bila lalu lintas yang ramai,
kegiatan transportasi ke lokasi sangat sulit. Membawa peralatan yang besar -
besar dan berat ke lokasi akan sulit dan mengganggu khalayak ramai. Untuk
itu tidak dilakukan straight hole drilling. Tetapi dicari lokasi yang murah di
luar daerah perkotaan yang mempunyai kegiatan yang tidak ramai. Lubang
diarahkan ke reservoir secara directional drilling.

2. Faktor Geologis
Pemboran berarah disini dilakukan untuk menghindari kesulitan apabila
dibor secara vertikal misalnya ;
a. Adanya Kubah Garam (salt dome).
Salt dome (kubah garam) adalah sebuah gundukan atau kolom garam dalam
jumlah besar yang terangkat ke permukaan bumi karena perbedaan massa
jenis batuan dengan massa jenis garam itu sendiri. Jika dilakukan pemboran
vertikal dari permukaan sampai ke target dengan menembus kubah garam,
banyak permasalahan yang harus dihadapi, seperti akan mengakibatkan loss
circulation karena kubah garam mempunyai porositas dan permeabilitas
yang sangat baik sehingga kolom lumpur akan berkurang dan akan memacu
terjadinya kick. Selain itu garam akan larut dan dinding lubang akan runtuh
karena sifat fisik kubah garam tidak kompak (massive) yang akibatnya pipa
akan terjepit (pipe stucking). Untuk itu kubah garam harus dihindari, dengan
melakukan directional drilling ataupun horizontal drilling.

94
b. Adanya Patahan.
Reservoir berada di bawah patahan, jika dilakukan vertical drilling yang
menembus patahan, hal ini dapat menimbulkan permasalahan pemboran
seperti saat pemboran berlangsung, bit dan drill string akan cenderung
mengikuti sela - sela patahan, selain itu akan terjadi loss circulation pada
saat menembus patahan tersebut, walaupun disaat pemboran permasalahan
tersebut dapat diatasi namun kemudian akan timbul permasalahan lagi
dimana lubang akan terpotong oleh patahan.

3. Faktor Teknis
a. Pemboran Sistem Gugusan Sumur (cluster system)
untuk menghemat luasnya lokasi pemboran. Misalnya di lepas pantai, di
permukaan dibuat beberapa sumur, kemudian di bawah permukaan lubang
sumur tersebut menyebar. Sistem ini juga dapat dilakukan pada pemboran di
daratan.
b. Mengatasi Semburan Liar (blow out) dengan Relief Well
Bila suatu sumur mengalami blow out dan terbakar, maka dibuat satu atau
dua sumur berarah menuju formasi yang menyebabkan terjadinya blow out
tersebut, dimana melalui sumur yang dibuat tadi dipompakan fluida untuk
mematikan sumur yang terbakar. Sumur ini disebut Relief Well.
c. Menghindari Garis Batas di Permukaan
Pemboran berarah akan dilakukan jika pada permukaan terdapat batas yang
tidak memungkinkan untuk menempatkan titik lokasi agar dapat dilakukan
pemboran vertikal. seperti tempat - tempat keramat, batas kepemilikan tanah
dan lainnya.
d. Menyimpang dari Garis Lurus
Pada suatu pemboran sumur, terkadang ada barang - barang yang jatuh, pipa
terjepit atau putus yang tidak dapat diangkat ke permukaan. Maka pada
umumnya lubang yang sudah dibor tersebut disemen, kemudian lubang
sumur dibelokkan dan diarahkan kembali menuju Reservoir yang akan
ditembus.

95
2.7.4. Alat - alat Pembuat Sudut (Deflection Tool)
Setelah kedalaman titik belok ditentukan, maka di gunakan alat pembelok
yaitu :
a. Badger Bit
Prinsip kerjanya adanya salah satu nozzle pada bit yang ukurannya lebih
besar dari lainnya, sehingga semburan lumpur yang lebih besar akan
membelokkan ke arah dimana ukuran nozzle lebih besar.
b. Spud Bit
Merupakan bit tanpa roller, seperti baji dan mempunyai nozzle. Cara
kerjanya sama dengan badger bit hanya disini di tambah dengan tumbukan.
c. Knockle joint
Adalah suatu drill string yang diperpanjang dengan sendi peluru,
memungkinkan putaran bersudut antara drill string dan bitnya.
d. Whipstock
Alat yang terbuat dari besi tuang yang berbentuk baji dengan saluran yang
melengkung tempat bergeraknya bit.
e. Turbodrill
Adalah down hole mud turbin, memutar bit tanpa harus memutar rangkaian
bor (drill string).
f. Dyna Drill
Dyna drill memutar bit tanpa harus memutar drill string. Adanya bent sub
pada dyna mengahasilkan lengkungan yang halus.

96
BAB III
TEKNIK PRODUKSI

Setelah proses pemboran dilakukan selanjutnya adalah proses produksi yaitu


suatu proses untuk mengangkat atau memproduksikan hidrokarbon dari reservoir
ke permukaan. Dari hasil perolehan minyak ini, diharapkan perusahaan minyak
akan mendapatkan keuntungan yang besar sebagai pengganti biaya eksplorasi
sebelumnya

3.1. Produktifitas Sumur (Well Productivity / Performance)


Well Completion adalah pekerjaan tahap akhir atau pekerjaan
penyempurnaan untuk mempersiapkan suatu sumur pemboran menjadi sumur
produksi. Untuk mendapatkan hasil produksi yang optimum dan mengatasi efek
negatif dari setiap lapisan produktif maka harus dilakukan pemilihan metode well
completion yang tepat dan ukuran peralatan yang sesuai untuk setiap sumur.
Produktifitas sumur dipengaruhi oleh beberapa faktor :

3.1.1. Productivity Index


Productivity Index (PI) secara umum didefinisikan sebagai perbandingan
laju produksi yang dihasilkan oleh suatu sumur pada suatu harga tekanan aliran
dasar sumur tertentu dengan perbedaan tekanan dasar sumur pada keadaan statis
(Ps) dan tekanan dasa sumur pada saat terjadi aliran (P wf) yang secara matematis
dapat dituliskan sebagai berikut :
q
PI  J  ..........................................................................................(3.1)
(Ps - Pwf)
Dimana :
PI = J = Produktivity Index, bbl/hari/psi
q = laju produksi aliran total, bbl/hari
Ps = Tekanan statis reservoir, psi
Pwf = Tekanan dasar sumur waktu ada aliran, psi

97
Secara teoritis persamaan pertama dapat didekati oleh persamaan radial dari
darcy untuk fluida homogen, incompressible dan horizontal. Dengan demikian
untuk aliran minyak saja berlaku hubungan :
7.082 x 10-3 x k x h
PI  ...................................................................................(3.2)
Bo x o x ln (re/rw)
Dimana :
PI = productivity index, bbl/hari/psi
k = permeabilitas batuan, mD
o = viscositas minyak, cp
Bo = faktor volume formasi minyak, bbl/STB
re = jari-jari pengurasan sumur, ft
rw = jari-jari sumur, ft

Pada beberapa sumur harga productivity index akan tetap konstan untuk laju
aliran yang bervariasi, tetapi pada sumur lainnya untuk laju aliran yang lebih
besar productivity index tidak lagi linier tetapi justru menurun, hal tersebut
disebabkan karena timbulnya aliran turbulensi sebagai akibat bertambahnya laju
produksi, berkurangnya permeabilitas terhadap minyak oleh karena terbentuknya
gas bebas sebagi akibat turunnya tekanan pada lubang bor, kemudian dengan
turunnya tekanan di bawah tekanan jenuh maka viskositas akan bertambah
(sebagai akibat terbebasnya gas dari larutan).
Dalam praktek di lapangan laju produksi minyak yang melewati batas
maksimum akan merugikan reservoir dikemudian hari, karena akan
mengakibatkan terjadinya water atau gas coning dan kerusakan formasi
(formation demage). Berdasarkan pengalamannya, Kermitz E Brown (1967) telah
mencoba memberikan batasan terhadap besarnya produktivitas sumur, yaitu
sebagai berikut:
i. PI rendah jika besarnya kurang dari 0,5.
ii. PI sedang jika besarnya berkisar antara 0,5 sampai 1,5.
iii. PI tinggi jika lebih dar 1,5.

98
3.1.2. Inflow Performance Relationship
Inflow Performance Relationship (IPR) adalah suatu studi tentang
performance aliran fluida dari reservoir menuju lubang bor (sumur), dimana
performance ini akan tergantung kepada PI secara grafis.
Kurva IPR dapat berupa linier atau tidak tergantung pada jumlah fluida yang
mengalir. Untuk fulida satu fasa akan membentuk kurva yang linier dan untuk
fluida dua fasa kurva yang terbentuk akan lengkung (tidak linier), dan harga PI
berubah secara kontinyu untuk setiap harga Pwf. Perhitungan kinerja aliran fluida
dari formasi ke lubang sumur dapat dikelompokkan berdasarkan kriteria sebagai
berikut :

A. Aliran Satu Fasa


Metoda Gilbert
Pwf = Ps – (Q/PI) .....................................................................................(3.3)
Dimana Pwf adalah tekanan alir dasar sumur, Ps adalah tekanan statik
reservoir, q laju alir dan PI adalah Productivity Index.

Gambar 3.1. Kurva IPR 1 fasa

B. Aliran Dua Fasa


Persamaan Vogel
Untuk memudahkan perhitungan kinerja aliran fluida dua fasa dari formasi
ke lubang sumur, Vogel mengembangkan persamaan yaitu :
i. Reservoir bertenaga dorong gas terlarut.

99
ii. Harga skin disekitar lubang sama dengan nol.
iii. Tekanan reservoir dibawah tekanan saturasi.

Untuk memperoleh nilai laju produksi didapatkan persamaan sebagai


berikut :
𝑞𝑜 𝑃𝑤𝑓 𝑃𝑤𝑓 2
= 1 − 0.2 ( ) − 0.8 (( ) )....................................................(3.4)
𝑞𝑜𝑚𝑎𝑥 𝑃𝑟 𝑃𝑟

Pada kondisi ini kurva IPR terdiri dari dua bagian yaitu Pwf > Pb yang
membentuk kurva linier dan Pwf < Pb yang membentuk kurva tidak linier.
Pada bagian kurva yang linier, maka persamaan yang digunakan yaitu :
𝑞𝑜 = 𝐽 (𝑃𝑠 − 𝑃𝑤𝑓) ..................................................................................(3.5)

Pada bagian kurva yang tidak linier (Pwf < Pb), maka persamaan yang
digunakan yaitu, :
𝑃𝑤𝑓 𝑃𝑤𝑓 2
𝑞𝑜 = 𝑞𝑏 (𝑄𝑜𝑚𝑎𝑥 −𝑄𝑏 ) (1 − 0.2 ( ) 0.8 (( ) )).............................(3.6)
𝑃𝑟 𝑃𝑟

Dimana,
qb = laju alir oil pada tekanan saturasi
Pb = tekanan saturasi
Qb = J (Pb/1.8)
J = Index Productivity

Gambar 3.2. Kurva IPR 2 fasa

100
C. Aliran Tiga Fasa
Persamaan Wiggins
𝑞𝑜 𝑃𝑤𝑓 𝑃𝑤𝑓 2
= (1 − 0.52 ( ) 0.48 (( ) ))..............................................(3.7)
𝑞𝑜𝑚𝑎𝑥 𝑃𝑟 𝑃𝑟

𝑞𝑜 𝑃𝑤𝑓 𝑃𝑤𝑓 2
= (1 − 0.72 ( ) 0.28 (( ) )).............................................(3.8)
𝑞𝑤𝑚𝑎𝑥 𝑃𝑟 𝑃𝑟

3.1.3. Flow Efisiensi (FE)


Flow efisiensi didefinisikan sbagai perbandingan antara selisih tekanan
statik reservoir dengan tekanan alir reservoir jika di sekitar lubang tidak terjadi
perubahan permeabilitas (ideal drawdown).
FE = Ideal Drawdown / Actual Drawdown........................................................(3.9)
FE = (Ps – Pwf’) / (Ps – Pwf)
Dimana : Pwf‘ = Pwf + Δpskin

3.2. Aliran Multifasa pada Pipa


Aliran multifasa pada pipa didefinisikan sebagai pergerakan dari gas bebas
dan liquid dalam pipa secara bersamaan. Pada kondisi ini gas dan liquid
diibaratakan sebagai campuran yang homogeneus, atau liquid mungkin berbentuk
slug dengan gas yang mendorongnya dari belakang. Masalah aliran multifasa
dapat dibedakan menjadi 4 kategori, yaitu :
a. Vertikal Multiphase Flow.
b. Horizontal Multiphase Flow.
c. Inclined Multiphase Flow.
d. Directional Multiphase Flow.

Dalam perhitungan kehilangan tekanan aliran fluida dalam pipa vertikal


dapat dihitung dengan korelasi Hagedorn dan Brown. Sedangkan perhitungan
kehilangan tekanan aliran fluida dalam pipa horizontal dapat dihitung dengan
korelasi Beggs & Brill.

101
3.3. Sistem Analisa Nodal
Analisa nodal merupakan salah satu pendekatan sistem analisis untuk
menganalisa performa suatu sumur hidrokarbon berdasarkan kondisi sistem yang
ada pada sumur tersebut. Tujuan utama analisa nodal adalah untuk mendapatkan
laju produksi optimum dari sumur minyak dengan melakukan evaluasi secara
lengkap pada sistem sumur.
Nodal merupakan titik pertemuan antara 2 komponen, dimana titik
pertemuan tersebut secara fisik akan terjadi keseimbangan, dalam bentuk
keseimbangan massa ataupun keseimbangan tekanan.

Gambar 3.3. Sistem Kehilangan Tekanan di Dalam Sumur Secara Lengkap


(Brown, Kermit E., 1977).

Dalam sistem sumur produksi dapat ditemukan 4 titik nodal, yaitu :


a. Titik Nodal di Dasar Sumur
Titik nodal ini merupakan pertemuan antara komponen formasi produktif
dengan komponen tubing apabila komplesi sumur adalah open hole atau
titik pertemuan antara komponen tubing dengan komplesi apabila sumur
diperforasi / dipasangi gravel pack.
b. Titik Nodal di Kepala Sumur

102
Titik nodal ini merupakan titik pertemuan antara komponen tubing dan
komponen pipa salur dalam hal ini sumur tidak dilengkapi dengan jepitan
atau merupakan titik pertemuan antara komponen tubing dengan komponen
jepitan apabila sumur dilengkapi dengan jepitan.
c. Titik Nodal di Separator
Pada titik nodal ini mempertemukan komponen pipa salur dengan
komponen Separator.
d. Titik Nodal di “Upstream / Downstream” Jepitan.
Sesuai dengan letak jepitan, titik nodal ini dapat merupakan pertemuan
antara komponen jepitan dengan komponen tubing, apabila jepitan dipasang
di tubing sebagai safety valve atau merupakan pertemuan antara komponen
tubing dipermukaan dengan komponen jepitan, apabila jepitan dipasang di
kepala sumur.

3.4. Permasalahan Produksi


Pada prinsipnya problem produksi yang mengakibatkan tidak optimumnya
produksi minyak di suatu sumur dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok :

A. Menurunnya Produktivitas Formasi


1. Problem Kepasiran
Problem produksi ini biasanya berhubungan dengan formasi dangkal
berumur tersier yang umumnya batupasir berjenis lepas - lepas
(unconsolidated sand) dengan sementasi antar butiran kurang kuat. Sebab –
sebab dari terproduksinya pasir berhubungan dengan :
a. Tenaga pengerukan (drag force), yaitu tenaga yang terjadi oleh aliran fluida
dimana laju aliran dan visositasnya meningkat menjadi lebih tinggi.
b. Pengurangan kekuatan formasinya, hal ini sering dihubungkan dengan
produksi air, karena melarutkan material penyemen atau pengurangan gaya
kapiler dengan meningkatnya saturasi air.
c. Penurunan tekanan reservoir, dengan penurunan ini akan mengganggu sifat
penyemenan antar batuan.

103
2. Problem Coning
Terproduksinya air atau gas yang berlebihan tidak hanya menurunkan
produksi minyak, tetapi juga dapat mengakibatkan sumur ditutup atau
ditinggalkan sebelum waktunya. Selain itu terproduksinya air atau gas yang
berlebihan akan menyebabkan proses pengolahan selanjutnya menjadi lebih
sulit. Terproduksinya air atau gas berlebihan dapat disebabkan karena:
i. Pergerakan air atau posisi batas air–minyak telah mencapai lubang
perforasi.
ii. Pergerakan gas atau batas gas–minyak telah mencapai lubang perforasi.
iii. Terjadinya water fingering atau gas fingering
B. Menurunnya Laju Produksi
1. Problem Emulsi
Emulsi adalah campuran dua jenis cairan yang tidak dapat campur. Dalam
emulsi salah satu cairan dihamburkan dalam cairan lain berupa butiran -
butiran yang sangat kecil. Berdasarkan fasanya maka emulsi dibagi menjadi
dua yaitu :
a. Air dalam emulsi minyak (water in oil emulsion) jika minyak sebagai fasa
eksternal dan air menjadi fasa internal.
b. Minyak dalam emulsi air (oil in water emulsion) jika sebaliknya.

2. Problem Scale
Endapan scale adalah endapan mineral yang terbentuk pada bidang
permukaan yang bersentuhan dengan air formasi sewaktu minyak
diproduksikan ke permukaan. Timbulnya endapan scale tergantung dari
komposisi air yang diproduksikan. Sebab - sebab terjadinya endapan scale
antara lain :
a. Air Tak Kompatibel
Air tak kompatibel adalah bercampurnya dua jenis air yang tak dapat
campur akibat adanya kandungan dan sifat kimia ion - ion air formasi yang
berbeda. Jika dua macam air ini bercampur maka terjadi ion - ion yang
berlainan sifat dan membentuk kristal dan endapan baru.

104
b. Penurunan Tekanan
Adanya penurunan tekanan ini, maka gas CO2 jadi terlepas dari ion - ion
bikarbonat dan menyebabkan berubahnya kelarutan ion yang terkandung
dalam air formasi sehingga mempercepat terjadinya endapan scale.
c. Perubahan Temperatur
Sejalan dengan berubahnya temperatur (ada kenaikkan temperatur) terjadi
penguapan, sehingga terjadi perubahan kelarutan ion yang menyebabkan
terbentuknya endapan scale. Perubahan temperatur ini disebabkan oleh
penurunan tekanan.

d. Faktor - faktor Lainnya


Agitasi menyebabkan terjadinya turbulensi aliran, sehingga endapan scale
lebih cepat terbentuk. Semakin lama waktu kontak semakin besar pula
endapan scale yang terbentuk. Semakin besar pH larutan mempercepat
terbentuknya endapan scale.

3. Problem Korosi
Problem korosi timbul akibat adanya air yang berasosiasi dengan minyak
dan gas pada saat diproduksikan ke permukaan. Air bersifat asam atau
garam, atau keduanya dan kecenderungan mengkorosi logam yang
disentuhnya.

4. Problem parafin
Penyebab utama terbentuknya endapan parafin dan aspal adalah penurunan
tekanan karena kelarutan lilin dalam minyak mentah menurun saat
menurunnya temperatur. Adanya gerakan ekspansi gas pada lubang
perforasi dan di dasar sumur dapat menyebabkan terjadinya pendinginan
atau penurunan temperatur sampai di bawah titik cair parafin, sehingga
timbul parafin dan aspal. Terlepasnya gas dan hidrokarbon ringan dari
minyak mentah bisa menyebabkan penurunnan kelarutan lilin, sehingga
terbentuk endapan parafin dan aspal.

105
3.5. Metode Produksi
3.5.1. Sembur Alam (Natural Flow)
Sembur alam adalah memproduksikan sumur produksi secara alamia dengan
kemanpuan pressure reservoir untuk mendorong fluidanya hingga ke permukaan
tanpa menggunakan alat bantuan. Hal ini karenakan pressure reservoir yang masih
manpu mendorong fluida ke permukaan dengan pressure pada reservoir yang
cukup tinggi. Sumur produksi akan terus di produksikan secara alamia selama
tekananya masih mampu dan masih ekonomis dalam segi ke ekonomiannya.
Untuk menjaga sumur-sumur produksi tetap berproduksi dalam jangka
waktu semburan yang agak lama, maka pada alat christmas tree dipasang choke
yang mempunyai diameter jauh lebih kecil dari pada diameter tubing.

3.5.1.1.Peralatan Sembur Alam


Pada dasarnya Peralatan dari sembur alam dapat dibagi menjadi dua
komponen besar, yaitu peralatan di atas permukaan dan di bawah permukaan.

A. Peralatan di Atas Permukaan


Peralatan yang digunakan untuk produksi sembur alam untuk bagian
permukaan terdiri dari terdiri dari :
1. Wellhead
Adalah peralatan yang digunakan untuk mengontrol sumur dipermukaan.
Wellhead tersusun dari dua rangkaian didalamnya, yaitu casing head dan
tubing head. Casing head berfungsi sebagai tempat menggantungkan
rangakaian casing dan mencegah terjadinya kebocoran. Tubing head adalah
bagian dari wellhead untuk menyokong rangkaian tubing yang berada di
bawahnya dan untuk menutup ruangan yang terdapat diantara casing dan
tubing, sehingga aliran fluida dapat keluar melalui tubing.

2. Christmas Tree
Adalah kumpulan dari valve, fitting, choke dan manometer pengukur
tekanan sumur yang dipasang di atas tubing head yang dapat menahan
tekanan tinggi dari sumur dan menahan reaksi dari air formasi yang bersifat

106
korosif yang mengalir bersama - sama dengan minyak atau dapat menahan
pengikisan pasir yang terbawa ke permukaan. Pada dasarnya, Christmas
Tree terdiri dari komponen-komponen peralatan utama, yaitu :
a) Manometer Pengukur Tekanan
Adalah peralatan yang digunakan untuk mengukur besarnya tekanan pada
casing (Pc) dan tekanan pada tubing (Pt).
b) Master Gate (master valve)
Merupakan jenis valve yang digunakan untuk menutup sumur jika
diperlukan.
c) Choke
Choke atau bean ini berfungsi untuk menahan sebagian aliran dari sumur,
sehingga produksi minyak dan gas pada sumur dapat diatur sesuai yang
diinginkan atau diharapkan. Dalam prakteknya dikenal dua jenis choke,
yaitu :
i. Positive choke, Besar perbedaan tekanan aliran fluida sebelum dan sesudah
melewati choke pada dasarnya tergantung dari diameter choke yang
digunakan.
ii. Adjustable choke, diameternya dapat disetel sesuai dengan kebutuhan,
dengan jalan memutar handwheel yang terdapat di atasnya, tanpa harus
melepas untuk menggantinya.

B. Peralatan di Bawah Permukaan


Peralatan di bawah permukaan sumur sembur alam meliputi sekumpulan
peralatan di dalam sumur yang terdiri dari :

a. Tubing
Merupakan pipa vertikal di dalam sumur yang berfungsi untuk mengalirkan
fluida reservoir dari dasar sumur ke permukaan.
b. Packer
Berfungsi untuk menyekat annulus antara casing dan tubing serta
memberikan draw-down yang lebih besar.

107
c. Nipple
Merupakan alat yang berfungsi untuk menempatkan alat - alat kontrol aliran
di dalam tubing.
d. Sliding Sleeve Door
Digunakan untuk memproduksi hidrokarbon dari beberapa zona produktif
dengan menggunakan single tubing string.

e. Bottom Hole Choke


Disamping choke yang dipasang di permukaan, kadang - kadang juga
dibutuhkan choke yang dipasang di dalam sumur.
f. Blast Joint
Merupakan sambungan pada tubing yang memiliki dinding tebal, dipasang
tepat di depan formasi produktif yang untuk menahan semburan aliran
fluida formasi.
g. Flow Coupling
Alat ini memiliki bentuk sama dengan blast joint, pemasangnnya terletak di
atas dan di bawah nipple dan berfungsi untuk menahan turbulensi fluida
akibat adanya kontrol aliran yang dipasang pada nipple.

3.5.2. Metoda Sembur Buatan


Pengangkatan buatan adalah merupakan suatu usaha untuk membantu
mengangkat fluida dari sumur produksi ke permukaan dengan jalan memberikan
energi mekanis dari luar. Metoda pengangkatan buatan yang umum digunakan
adalah sebagai berukut ;

3.5.2.1.Gas Lift
Gas lift adalah suatu usaha pengangkatan fluida sumur dengan cara
menginjeksikan gas bertekanan tinggi. Sebagai media pengangkat ke dalam kolom
fluida melalui valve - valve yang dipasang pada tubing dengan kedalaman dan
spasi tertentu. Syarat - syarat suatu sumur yang harus dipenuhi agar dapat
diterapkan metoda gas lift antara lain :

108
i. Tersedianya gas yang memadai untuk injeksi, baik dari reservoir itu sendiri
maupun dari tempat lain.
ii. Fluid level masih tinggi.

Gas lift didefinisikan sebagai suatu proses atau metode untuk membantu
memproduksikan fluida dari lubang sumur dengan cara menginjeksikan gas yang
bertekanan tinggi ke dalam kolom fluidanya.
Pengangkatan fluida dengan cara gas lift didasarkan pada pengurangan
gradien tekanan fluida di dalam tubing, pengembangan dari gas yang diinjeksikan
serta pendorongan fluida oleh gas injeksi yang bertekanan tinggi. Ketiga faktor
dapat bekerja sendiri - sendiri atau merupakan kombinasi dari ketiganya.
Fluida yang berada di dalam annulus antara tubing dan casing ditekan
dengan gas injeksi, sehingga permukaan fluidanya akan turun di bawah valve,
selanjutnya valve ini (valve paling atas) akan membuka, sehingga gas injeksi akan
masuk ke dalam tubing. Dengan bercampurnya gas injeksi dengan fluida
reservoir, maka densitas minyak akan turun dan mengakibatkan gradien tekanan
minyak berkurang sehingga akan mempermudah fluida reservoir mengalir ke
permukaan. Ada dua cara pengangkatan buatan dengan metode gas lift, yaitu :
a. Continuous gas lift, yaitu gas diinjeksikan secara terus menerus ke dalam
annulus melalui valve yang dipasang pada tubing, maka gas akan masuk ke
dalam tubing. Metode ini digunakan pada sumur yang mempunyai
Productivity Index (PI) tinggi dan tekanan statis dasar sumur (Ps) tinggi,
relative terhadap kedalaman sumur, dimana PI tinggi besarnya adalah > 0.5
B/D/psi dan Ps tinggi artinya dapat mengangkat kolom cairan minimum
70% dari kedalaman sumur. Pada tipe sumur ini, laju produksi berkisar
antara 200 – 20000 B/D, melalui ukuran tubing yang normal.
b. Intermittent gas lift, yaitu gas diinjeksikan secara terputus - putus pada
selang waktu tertentu. Intermittent flow gas lift digunakan pada sumur -
sumur dengan volume fluida rendah atau sumur - sumur yang mempunyai
Productivity Index (PI) rendah dan Ps rendah, dimana PI rendah mampunyai
besar < 0.5 B/D/psi dan Ps rendah artinya kolom cairan yang terangkat

109
kurang dari 70%.
Pada dasarnya Peralatan dari gas lift dapat dibagi menjadi dua komponen
besar, yaitu peralatan di atas permukaan dan di bawah permukaan.

A. Peratan di Atas Permukaan


Peralatan di atas permukaan adalah semua peralatan yang diperlukan untuk
proses injeksi gas ke dalam sumur yang terletak di permukaan. Peralatan-
peralatan tersebut meliputi :

1. Well Head
alat ini berfungsi untuk menggantungkan tubing atau casing disamping itu
well head merupakan tempat dudukan x-mass tree.

2. X-mass Tree
Gas diinjeksikan ke dalam annulus sesudah melalui motor yang berfungsi
mengatur jumlah gas yang masuk ke dalam sumur dan tekanan gas injeksi
dijaga agar konstan.

Gambar 3.4. Wellhead dan X-mass Tree pada Gas Lift.

3. Stasiun Kompressor
Alat ini berfungsi untuk menaikan tekanan gas injeksi sesuai dengan
keperluan yang dihubungkan dengan manifold. Dari stasiun kompressor ini,

110
gas bertekanan tinggi dikirim ke sumur - sumur gas lift melalui stasiun
distribusi.

Gambar 3.5. Gas Kompressor.

4. Stasiun Distribusi
Dalam menyalurkan gas injeksi dari kompressor ke sumur terdapat beberapa
cara, antara lain :
a. Sistem Distribusi Langsung
Di dalam stasiun ini terdapat system manifold yang menuju ke sumur-
sumur secara langsung.
b. Sistem Distribusi dengan Pipa Induk
System ini lebih ekonomis karena panjang pipa dapat diperkecil, tetapi
adanya hubungan langsung antara satu sumur dengan sumur lainnya,
jika salah satu sumur sedang diinjeksikan gas maka sumur lain sumur
lain bisa terpengaruh.
c. Sistem Distribusi dengan Stasiun Distribusi
System ini sangat rasional dan banyak dipakai, gas dibawa dari pusat
kompressor ke stasiun distribusi kemudian dibagi ke sumur - sumur
dengan menggunakan pipa.

5. Peralatan Kontrol
Peralatan kontrol yang digunakan dalam operasi gas lift adalah :

111
a. Choke Control dan Regulator
Choke control adalah alat yang berfungsi untuk mengatur jumlah gas
yang diinjeksikan, sehingga dalam waktu tertentu (saat valve terbuka)
gas tersebut dapat mancapai suatu harga tekanan yang dibutuhkan.
Choke control ini dilengkapi pula dengan regulator yang berfungsi
untuk membatasi gas injeksi yang dibutuhkan.
b. Time Cycle Control
Alat ini berfungsi untuk mengontrol aliran gas injeksi dalam
intermittent gas lift untuk interval waktu tertentu. Time cycle control
dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan.

B. Peralatan di Bawah Permukaan


Peralatan di bawah permukaan dari metode gas lift tidak berbeda jauh
dengan peralatan pada sumur sembur alam, hanya pada gas lift ditambah dengan
valve (katup) gas lift. Dengan memiliki fungsi sebagai berikut :
i. Untuk mengosongkan sumur dari fluida workover atau kill fluid supaya
injeksi gas dapat mencapai titik optimum di dalam sumur.
ii. Mengatur aliran injeksi gas ke dalam tubing baik proses unloading maupun
proses pengangkatan fluida.

Industri gas lift telah mengkategorikan katup gas lift tergantung pada mana
yang paling sensitif berpengaruh terhadap proses membuka katup (valve), apakah
tekanan casing (Ps) yang disebabkan oleh kolom gas injeksi dalam casing atau
tekanan tubing (Pt) yang ditentukan oleh kolom fluida dalam tubing. Sensitivitas
ini ditentukan oleh konstruksi mekanik dari katup gas lift. Tekanan yang bekerja
pada bagian yang paling luas dari katup (valves) merupakan tekanan yang paling
dominan berpengaruh pada valve tersebut.
a. Mandrel
Merupakan suatu bagian dari rangkaian pipa produksi yang setiap satu
valve, memerlukan satu mandrel. Mandrel dapat dibedakan menjadi dua
macam yaitu conventional mandrel dan slide pocket mandrel. .

112
b. Standing Valve
Dipasang pada instalasi intermittent flow gas lift yang berfungsi sebagai
penahan fluida yang telah masuk ke dalam tubing agar tidak kembali lagi ke
formasi pada saat injeksi dihentikan. Gas lift valve dapat pula dibedakan
menjadi dua macam, yaitu : Standard gas lift valve dan Retrivable gas lift

3.5.2.2.Pompa Sucker Rod


Sucker rod pump merupakan salah satu metoda pengangkatan buatan,
dimana untuk mengangkat minyak ke permukaan digunakan pompa dengan
tangkai pompa (rod). Pompa ini digunakan pada sumur - sumur dengan viskositas
rendahmedium, tidak ada problem kepasiran, GOR tinggi, sumur - sumur lurus
dan fluid level tinggi.
Prinsip kerja dari pompa sucker rod dapat dijelaskan sebagai berikut : Gerak
rotasi dari prime mover diubah menjadi gerak naik turun oleh pumping unit
terutama oleh sistem pitman crank assembly. Kemudian gerak angguk (naik
turun) ini oleh horse head dijadikan gerak lurus naik turun untuk menggerakkan
plunger. Instalasi pumping unit di permukaan dihubungkan dengan pompa yang
ada dalam sumur oleh sucker rod sehingga gerak lurus naik turun dari horse head
dipindahkan ke plunger pompa dan plunger bergerak naik turun dalam barrel
pompa.
Pada saat up-stroke, plunger bergerak ke atas, di bawah plunger terjadi
penurunan tekanan. Karena tekanan dasar sumur lebih besar dari tekanan dalam
pompa maka akibatnya standing valve terbuka dan minyak masuk ke dalam
pompa. Pada saat down-stroke, standing valve tertutup karena tekanan dari
minyak dalam barrel pompa, sedangkan pada bagian atasnya, yaitu traveling valve
terbuka oleh tekanan minyak akibat dari turunnya plunger, selanjutnya minyak
akan masuk ke dalam tubing. Pada dasarnya Peralatan dari SRP dapat dibagi
menjadi dua komponen besar, yaitu peralatan di atas permukaan dan di bawah
permukaan.

113
A. Peralatan di Atas Permukaan
Komponen-komponen peralatan sucker rod di atas permukaan dan
fungsinya adalah sebagai berikut :

Gambar 3.6. SRP’s Surface Equipment.

a. Stuffing Box
Dipasang di atas kepala sumur (casing/tubing head) untuk mencegah atau
menahan minyak agar tidak ikut keluar bersama dengan naik turunnya
polished rod. Disamping itu juga berfungsi sebagai tempat kedudukan
polished rod.
b. Polished Rod
Merupakan bagian dari tangki atau string pompa yang terletak paling atas.
Fungsinya adalah untuk menghubungkan antara rangkaian sucker rod
dengan peralatan - peralatan di atas permukaan.
c. Carrier Bar
Merupakan alat yang berfungsi sebagai penyangga polished rod clamp dan
pada carrier bar ini dikaitkan dengan wire line hanger yang selanjutnya
dihubungkan dengan horse head.
d. Polished Rod Clamp
Komponen yang terletak di atas carrier bar yang berfungsi untuk
mengeraskan kaitan polished rod dengan komponen - komponen di atasnya
agar tidak dapat lepas selama operasi pemompaan minyak berlangsung.

114
e. Briddle
Merupakan nama lain dari wire line hanger, yaitu merupakan sepasang
kabel baja yang dihubungkan pada carrier bar, dengan demikian carrier bar
bergantung pada briddle dan briddle ini kemudian dihubungkan dengan
horse head.
f. Horse Head
Fungsinya meneruskan gesekan dari walking beam ke unit pompa di dalam
sumur melalui briddle, polished rod dan sucker rod string atau merupakan
kepala dari walking beam yang menyerupai bentuk kepala kuda.
g. Walking Beam
Merupakan tangkai horizontal di belakang horse head. Walking beam
berfungsi untuk mengubah gerak berputar dari prime mover menjadi gerak
naik turun dan meneruskan energi prime mover ke rangkaian pompa di
dalam sumur melalui polished rod dan sucker rod string.
h. Pitman
Merupakan sepasang tangkai yang menghubungkan antara crank pada
pitman bearing dengan ujung belakang dari walking beam pada tail bearing.
Fungsinya mengubah dan meneruskan gerak berputar menjadi gerak bolak -
balik naik turun dan pitman ini akan menggerakkan walking beam.
i. Crank
Merupakan sepasang tangkai yang menghubungkan crank shaft pada gear
reducer dengan counter balance. Besar kecilnya langkah atau stroke
pemompaan yang diinginkan dapat diatur dari sini dengan mengubah - ubah
letak ujung bawah pitman.
j. Gear Reducer
Merupakan transmisi yang berfungsi untuk mengubah kecepatan putar dari
prime mover. Gerak putaran dari prime mover diteruskan ke gear reducer
dengan menggunakan belt.
k. Crank Shaft
Merupakan poros dari crank. Gerakan berputar yang telah diperlambat oleh
gear reducer akan menggerakkan crank shaft dan crank.

115
l. Counter Balance
Adalah sepasang pemberat yang berfungsi untuk mengubah gerakan
berputar dari prime mover menjadi gerakan bolak - balik naik turun.
m. Sampson Post
Sampson post merupakan kaki - kaki penyangga.
n. Saddle Bearing
Adalah tempat kedudukan dari walking beam pada sampson post bagian
atas.
o. Equalizer
Adalah bagian atas dari pitman yang dapat bergerak secara leluasa menurut
kebutuhan pada saat operasi pemompaan minyak berlangsung.
p. Brake
Berfungsi untuk mengerem gerakan pompa jika dibutuhkan.

B. Peralatan di Bawah Permukaan


Seperti telah dijelaskan bahwa, fungsi pompa adalah untuk menaikkan
fluida dari formasi ke dalam tubing dan mengangkatnya ke permukaan. Untuk
maksud tersebut suatu pompa harus terdiri empat komponen utama, yaitu:

a. Working Barrel
Merupakan tempat dimana plunger dapat bergerak naik turun sesuai dengan
langkah pemompaan dan menampung minyak yang terhisap oleh plunger
pada saat bergerak ke atas.
b. Plunger
Plunger ini berfungsi sebagai penghisap minyak dari formasi masuk ke
dalam barrel dan mengangkat minyak yang telah terakumulasi dalam barrel
ke permukaan melalui tubing.
c. Standing Valve
Merupakan suatu komponen katup yang terdapat di bagian bawah dari
working barrel yang berfungsi untuk mengalirkan minyak dari formasi
masuk ke working barrel dan hal ini terjadi pada saat plunger bergerak ke
atas, kemudian standing valve membuka. Disamping itu untuk menahan

116
minyak agar tidak dapat keluar dari working barrel pada saat plunger
bergerak ke bawah. Standing valve terdiri dari sebuah bola besi dan tempat
dudukannya.

Gambar 3.7. SRP’s Subsurface Equipment.


d. Travelling Valve
Travelling valve terdiri dari ball dan seat yang terletak pada bagian bawah
dari plunger dan akan ikut bergerak ke atas dan ke bawah mengikuti
gerakan dari gerak plunger-nya. Travelling valve ini berfungsi untuk
mengalirkan minyak dari working barrel masuk menuju plunger, hal seperti
ini terjadi pada saat plunger bergerak ke bawah. Selain itu akan menahan
keluarnya minyak dari plunger pada saat plunger bergerak ke atas (up-
stroke) sehingga minyak tersebut dapat diangkat ke tubing yang seterusnya
ke permukaan.
e. Gas Anchor
Komponen ini dipasang pada bagian bawah pompa, fungsinya adalah
memisahkan gas dari minyak agar gas tersebut tidak ikut masuk ke dalam
pompa bersama - sama dengan minyak, karena dengan adanya gas akan
mengurangi efisiensi pompa.

117
f. Tangkai Pompa
Tangki pompa atau sucker rod string terdiri dari :
i. Sucker Rod
Merupakan bagian dari unit pompa yang sangat penting, karena merupakan
penghubung antara plunger dengan peralatan - peralatan penggerak yang
ada di permukaan. Sedangkan fungsinya adalah melanjutkan gerak lurus
naik turun dari horse head ke plunger pompa dengan panjang sekitar 25 –
30 ft.
ii. Pony Rod
Merupakan sucker rod yang mempunyai ukuran panjang lebih pendek dari
pada sucker rod-nya sendiri. Fungsinya untuk melengkapi panjang dari
sucker rod apabila sucker rod tidak mencapai target yang dituju. Umumnya
memiliki ukuran panjang 2, 4, 6, 8, 10, dan 12 ft.
iii. Polished Rod
Adalah tangkai yang menghubungkan sucker rod string dalam carrier (wire
line hanger pada horse head) yang naik turun di dalam stuffing box.

Pada saat up-stroke (langkah pompa ke atas) fluida membebani plunger


yang menyebabkan travelling valve tertutup dan fluida akan mendorong dari
tubing ke permukaan. Gerakan plunger ini menyebabkan penurunan tekanan di
atas standing valve, maka standing valve terbuka dan fluida dari formasi masuk ke
dalam pompa.
Pada saat down-stroke (langkah pompa ke bawah), plunger akan turun dan
pada saat ini travelling valve akan terbuka dan standing valve akan tertutup
sehingga fluida akan bergerak dari plunger ke dalam tubing.

3.5.2.3.Electric Submersible Pump (ESP)


Electric submersible pump digunakan pada sumur - sumur yang dalam dan
dapat memberikan laju produksi yang besar. Selain untuk sumur produksi, ESP
juga dapat untuk proyek - proyek water flooding dan pressure maintenance,
dimana ESP dipasang pada sumur - sumur injeksi. Pada umumnya pompa jenis ini

118
digunakan pada sumur artificial lift dengan produksi besar dan GOR rendah.
Prinsip kerja electric submersible pump adalah berdasarkan pada prinsip
kerja pompa sentrifugal dengan sumbu putarnya tegak lurus. Pompa sentrifugal
adalah motor hidrolik dengan jalan memutar cairan yang melalui impeller pompa,
cairan masuk ke dalam impeller pompa menuju poros pompa, dikumpulkan oleh
diffuser kemudian akan dilempar ke luar.Peralatan pompa sentrifugal
dikelompokkan menjadi dua bagian yakni, yakni peralatan di atas permukaan dan
peralatan di bawah permukaan.

Gambar 3.8. ESP’s Equipment.

1. Peralatan di Atas Permukaan


Peralatan di atas permukaan terdiri dari :
a. Tubing Head
Adapun fungsi dari tubing head ini adalah sebagai penyokong dari
rangkaian tubing dan untuk menutup ruang antara casing dengan tubing.
b. Drum
Merupakan alat yang digunakan sebagai tempat untuk menggulung kabel
apabila pompa dicabut.

119
c. Junction Box
Diperlukan sebagai tempat menghubungkan kabel dari dalam sumur dengan
kabel dari switch board.
d. Switch Board
Berfungsi untuk mengontrol kerja pompa. Peralatan yang ada pada switch
board adalah :
i. Start stop panel, yang berfungsi untuk menghidupkan atau mematikan
motor.
ii. Breaker, sebagai pemutus aliran listrik saat dilakukan reparasi pompa.
iii. Sekering, merupakan pengaman jika terjadi hubungan singkat pada arus
listrik atau bila terjadi over voltage.
iv. Recording ammeter, sebagai pencatat besarnya arus yang digunakan motor.
e. Transformer
Berfungsi sebagai perubah tegangan primer yang tinggi menjadi tegangan
sekunder (yang rendah) yang dibutuhkan motor.

2. Peralatan di Bawah Permukaan


Peralatan di bawah permukaan merupak peralatan yang berada di dalam
lubang sumur yang akan di jelaskan di bawah ini :
a. Motor Listrik
Motor listrik pada jenis pompa reda adalah motor induksi sinkron dua katub,
tiga fasa, berbentuk sangkar mempunyai kecepatan 3500 rpm pada 60 Hz
dan 2915 rpm pada 50 Hz. Karena diameter motor terbatas untuk ukuran
casing tertentu, maka untuk mendapatkan daya kuda yang cukup, motor
dibuat panjang dan kadang - kadang dibuat double (tandem).
b. Protektor
Protektor ini dipasang di atas motor dan dibawah pompa. Fungsinya antara
lain, Memberikan ruangan untuk pengembangan/penyusutan minyak
pelumas, mencegah fluida masuk ke rumah motor.
c. Pompa
Setiap pompa terdiri dari beberapa tingkat (multistage) dimana masing -

120
masing terdiri dari impeller dan diffuser. Jumlah tingkat tergantung dari
head pengangkatannya.
d. Gas Separator (pump intake)
Pada sumur - sumur yang tidak banyak mengandung gas, cukup
menggunakan pump intake saja. Dalam hal ini gas separator berfungsi
antara lain, mencegah menurunnya head capacity yang dihasilkan pompa,
mencegah terjadinya fluktuasi beban pada motor, mengurangi adanya
surging pressure.
e. Kabel Listrik
Berfungsi sebagai penyalur aliran listrik dari permukaan ke motor.

3.5.2 4. HPU (Hydraulic Pumping Unit)


Hydraulic Pumping Unit (HPU) merupakan salah satu jenis dari sucker rod
pump. Sucker rod pump digunakan sebagai salah satu alternatif sistem artificial
lift. Penggunaan pompa ini dilakukan jika tidak tersedianya gas yang cukup di
lapangan.

3.5.2.5. Progressing Cavity Pump (PCP)


PCP merupakan suatu metode dari artificial lift system yang digunakan
untuk memompa minyak kepermukaan dengan memanfaatkan ulir dari pompa.
Prinsip kerja PCP juga tidak berbeda dari pompa ESP, dimana Sumber listrik
yang dialirkan ke rangkaian sucker rod ini memutar rangkaian sucker rod yang
tersambung dengan pompa dan motor pompa dimana motor berbentuk seperti ulir.
Ketika sucker rod mulai memutar maka rangkain PCP subsurface yang di
masukan kedalam sumur dengan menyesuaikan tinggi fluida. Lalu kemudian
fluida ikut bergerak naik ke permukaan dimana akibat dari gerakan putaran pompa
ulir tersebut.

Keuntungan penggunaan PCP, yakni:


i. PCP hanya memerlukan daya sebesar 30 % daya yang diperlukan oleh ESP
untuk sumur yang sama.

121
ii. Dapat mengangkat fluida yang berpasir.
iii. Bagian penggerak utama, termasuk motor terdapat di permukaan, sehingga
kemungkinan rusak karena kondisi sumur sangat kecil. Untuk perbaikan
pada rangkaian ini, perangkat perawat sumur tidak diperlukan.

Kelemahan penggunaan PCP :


i. Sumur produksi sebaiknya vertical well
ii. Kedalaman sumur maksimal 4000 ft
iii. Kapasitas produksi maksimum 2000 BFPD
iv. Tidak dapat dipergunakan untuk sumur yang aromatic dan mengandung H2S
yang tinggi.

3.6. Definisi dan Konsep Dasar EOR


Enhanced Oil Recovery (EOR) adalah suatu mekanisme yang digunakan
pada tahapan tertiary recovery untuk meningkatkan produksi minyak setelah
tahapan primary dan secondary recovery.
Perolehan minyak yang berasal dari injeksi tak tercampur, injeksi
tercampur, injeksi kimiawi dan injeksi thermal merupakan perolehan minyak
tahap lanjut, Metode Enhanced Oil Recovery (EOR) dapat digunakan pada awal
produksi suatu reservoir atau sebelum produksi secara alamiah.
Konsep dasar dari metode EOR ini sendiri ada tiga macam, yaitu:
a. Primary Recovery
Primary recovery merupakan suatu metode produksi fluida reservoir yang
disebabkan oleh ekspansi dari gas atau liquid di dalam reservoir itu sendiri
atau oleh karena influx air dari aquifer.
b. Secondary Recovery
Secondary recovery merupakan suatu metode produksi fluida reservoir yang
disebabkan oleh injeksi fluida kedalam reservoir dengan menggunakan
fluida yang sama dengan fluida reservoir.
c. Tertiary Recovery
Tertiary Recovery merupakan suatu metode produksi fluida reservoir yang
disebabkan oleh injeksi fluida atau hal lainnya ke dalam reservoir dimana

122
fluida yang diinjeksikan tersebut tidak sama dengan fluida reservoir, seperti
chemicals, steam atau solvent.

Secara garis besar ketiga recovery yang ada diatas dapat dikelompokkan
dalam bagian.

Gambar 3.9. Diagram Alir Metode-metode EOR untuk Peningkatan Recovery.

Besarnya cadangan di seluruh dunia yang dapat digolongkan sebagai


cadangan yang tidak dapat diproduksikan dengan metode primer adalah sebesar
2.0 triliun barrel.Tahap produksi primer hanya dapat memproduksi 1/3 dari OOIP,
dimana 2/3 dari OOIP tidak dapat diproduksi dengan teknologi konvensional.
Penerapan teknologi EOR diharapkan dapat memproduksi sekitar 20% - 30% dari
cadangan minyak sisa tersebut.

3.6.1. Faktor Utama Yang Mempengaruhi Efektivitas EOR


Ada beberapa faktor penting yang mempengaruhi efektivitas EOR, yaitu :
a. Kedalaman
Dari segi ekonomi adalah jika kedalaman reservoir kecil maka biaya
pemboran juga akan kecil, demikian pula jika dilakukan injeksi gas maka
biaya kompresor juga akan kecil.
b. Kemiringan
Faktor kemiringan mempunyai arti penting jika terdapat rapat massa antara
fluida pendesak dan fluida yang didesak cukup besar.
c. Heterogenitas Reservoir
Heterogenitas atau Ketidakseragaman reservoir adalah variasi sifat fisik dan
kimia penyusun batuan dan fluida reservoar.

123
3.6.2. Efisiensi Injeksi
a. Efisiensi Pendesakan
Efisiensi pendesakan adalah perbandingan antara volume hidrokarbon yang
dapat didesak dari pori - pori dengan volume hidrokarbon total dalam pori -
pori tersebut.
b. Efisiensi Penyapuan
Efisiensi penyapuan didefinisikan sebagai perbandingan antara luas daerah
hidrokarbon yang telah didesak di depan dengan luas daerah hidrokarbon
seluruh reservoir atau dengan luas daerah hidrokarbon yang terdapat pada
suatu pola.

Gambar 3.10. (a) Areal Sweep Effisiensi, (b) Vertical Sweep Effisiensi.
c. Efisiensi Penyapuan Areal
Efisiensi penyapuan areal didefinisikan sebagai perbandingan antara luasan
reservoir yang kontak dengan fluida pendesak terhadap luas areal total atau
fraksional dari reservoir yang tersapu oleh fluida injeksi.
luas areal hydrocarbo n yang telah ter sapu di depan front
EA 
luas areal hydrocarbo n seluruh reservoir
d. Efisiensi Penyapuan Vertikal
Efisiensi penyapuan vertikal adalah fraksi dari bagian vertikal pada
reservoir yang tersapu oleh fluida injeksi. Efisiensi penyapuan vertikal
dipengaruhi oleh gravitasi dan heterogenitas lapisan reservoir.

luas vertical hydrocarbo n yang telah ter sapu di depan front


EV 
luas vertical hydrocarbo n seluruh reservoir

124
e. Efisiensi Invasi
Efisiensi invasi adalah perbandingan antara volume hidrokarbon dalam pori
- pori yang telah didesak oleh fluida atau front terhadap volume hidrokarbon
yang masih tertinggal di belakang front.
volume hydrocarbo n yang telah didesak di depan front
Ei 
volume hydrocarbo n yang tertingga l di belakang front

Dua faktor utama yang mempengaruhi efisiensi invasi adalah sebagai berikut:
a. Perlapisan
Pengaruh perubahan sifat batuan ke arah vertikal dinyatakan dengan adanya
perlapisan dalam reservoir yang sifat batuannya berbeda terutama
permeabilitasnya. Pengaruh perlapisan terhadap bidang front atau zona
transisi adalah bidang front akan bergerak lebih cepat pada daerah dengan
permeabilitas yang tinggi, sehingga breakthrough air akan lebih dahulu
terjadi pada lapisan yang lebih permeabel.
b. Gravitasi
Pengaruh gravitasi ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
i. Fluida pendesak yang memiliki massa jenis lebih besar akan cenderung
menuju bagian bawah fluida yang didesaknya sehingga akan
menguntungkan dan menyebabkan efisiensi invasi yang relatif lebih besar.
ii. Fluida pendesak yang memiliki massa jenis lebih kecil akan cenderung
menuju bagian atas fluida yang didesaknya sehingga bentuk front yang
terjadi semakin tidak beraturan dan menyebabkan efisiensi invasi mengecil.

3.6.3. Metode-metode Enhanced Oil Recovery (EOR)

A. Injeksi Tak Tercampur (Immiscible Flood)


Pendesakan tak tercampur adalah menginjeksikan fluida yang mempunyai
sifat tidak mencampur (immicible) ke dalam reservoir yaitu medianya: injeksi air
dan injeksi gas.

125
1. Injeksi Air (Water flooding)
Injeksi air atau Water flooding merupakan metode perolehan tahap kedua
dengan menginjeksikan air ke dalam reservoir untuk mendapatkan
tambahan perolehan minyak yang bergerak dari reservoir menuju ke sumur
produksi setelah reservoir tersebut mendekati batas ekonomis produktif
melalui perolehan tahap pertama. Pertimbangan lain dilakukan injeksi air
adalah :
i. Saturasi minyak sisa (Sor) cukup besar.
ii. Recoverynya 30% _ 40% dari original oil in place (OOIP).
iii. Air murah dan mudah diperoleh.
iv. Mudah menyebar ke seluruh reservoir dan kolom air memberikan tekanan
yang cukup besar dan efisiensi penyapuan yang cukup tinggi.
v. Berat kolom air dalam sumur injeksi turut menekan, sehingga cukup banyak
mengurangi besarnya tekanan injeksi yang perlu diberikan di permukaan,
jika dibandingkan dengan injeksi gas, dari segi berat air sangat menolong.
vi. Efisiensi pendesakan air juga cukup baik, sehingga harga Sor sesudah
injeksi air = 30% cukup mudah didapat.

Pelaksanaan injeksi air membutuhkan persediaan air yang cukup besar.


Persediaan air dapat diperoleh dari air permukaan (danau, sungai, laut)
ataupun bawah permukaan. Syarat-syarat air untuk injeksi antara lain:
i. Tersedia dalam jumlah yang cukup selama masa injeksi.
ii. Tidak mengandung padatan-padatan yang tidak dapat larut.
iii. Stabil secara kimiawi dan tidak mudah bereaksi dengan elemen - elemen
yang terdapat dalam sistem injeksi dan reservoir.
2. Injeksi Gas
Prinsip proses injeksi gas tak tercampur dalam teknik produksi lanjut sama
dengan proses injeksi air (water flooding). Gas yang diinjeksikan biasanya
merupakan gas hidrokarbon.Injeksi gas dilakukan jika terdapat sumber gas
dalam jumlah yang besar dan cukup dekat letaknya termasuk gas yang

126
berasal dari ikutan produksi minyak. Beberapa alasan mendasar yang
menyebabkan tidak efisiennya gas sebagai fluida pendesak, antara lain:
a. Gas biasanya bersifat tidak membasahi batuan reservoir, sehingga gas akan
bergerak melalui pori - pori yang lebih besar dan bergerak lebih cepat dari
minyak.
b. Fluida gas mempunyai viskositas yang relatif jauh lebih kecil daripada
minyak, sehingga gas cenderung melewati minyak bukan mendesaknya.
c. Fluida gas merupakan fluida non-wetting dan menempati pori-pori yang
lebih besar dimana aliran paling mudah terjadi, sehingga permeabilitas
relatif gas akan naik secara drastis dan permeabilitas relatif minyak akan
turun secara drastis.

B. Injeksi Tercampur (Miscible Flood)


Injeksi tercampur didefinisikan sebagai pendesakan suatu fluida terhadap
minyak yang menghasilkan pencampuran antara fluida pendesak terhadap minyak
sehingga hasil campuran ini dapat keluar dari pori - pori dengan mudah sebagai
satu fluida. Injeksi tercampur ini dapat dilakukan dengan dua cara dalam
pemakaian fluida injeksinya, yaitu:
i. Menginjeksikan fluida (pelarut) yang langsung bercampur dengan minyak
(absolutely miscible). Jenis pelarut yang dapat bercampur ini antara lain:
alkohol, liquid petroleum gas (LPG) dan propana.
ii. Menginjeksikan fluida yang dapat bercampur dengan minyak pada tekanan,
temperatur dan komposisi kimia tertentu (thermodinamically miscible).
Jenis fluida tersebut antara lain: gas CO2, gas inert, gas yang diperkaya dan
gas kering pada tekanan tinggi.

C. Chemical Flood
Injeksi kimia pada prinsipnya adalah menambahkan zat kimia kedalam
reservoir dengan jalan injeksi dan bertujuan untuk mengubah sifat - sifat
fisik/kimia fluida reservoir dengan fluida pendesak. Sasaran utamanya adalah

127
untuk mengurangi tekanan kapiler atau menaikkan viscositas fluida pendesak agar
dapat memperbaiki efisiensi pendesakan (Ed) dan effisiensi penyapuan (Es).
Umumnya pendesakan kimia tidak dilakukan secara terpisah tetapi
merupakan suatu kombinasi pendesakan tertentu untuk mendapatkan kondisi yang
optimum. Jenis-jenis injeksi kimiawi yang akan dibicarakan dalam sub bab ini
adalah injeksi surfactant, injeksi polimer dan injeksi alkaline.

3.7. Kegiatan Optimasi Produksi


Setelah sumur produksi dengan range waktu yang lama, tentu saja akan
terjadi penurunan produksi yang disebabkan banyak faktor mulai dari : penurunan
tekanan reservoir, adanya problem dari fluida yang terproduksi atau pun dari
formasi. Namun dengan ini di harapkan agar tetap pada produksi yang optimum
banyak yang dapat di lakukan agar sumur mature bisa tetap eksis dalam
memproduksi fluida, adapun beberapa kegiatan yang di lakukan guna
meningkatkan rate produksi maupun tetap menjaga eksistising sumur, yaitu :
1. Work Over (kerja ulang)
adalah kegiatan atau pekerjaan pada sumur terkait dengan penambahan atau
meningkatkan produksi. Adapun tipe pekerjaan dari work over yang terkait
berupa :
a. Perforasi Pindah Lapisan
Pembuatan lubang menembus casing dan semen sehingga terjadi
komunikasi antara formasi dengan sumur yang mengakibatkan fluida
formasi dapat mengalir ke dalam sumur
b. Penggantian Lifting Methode
Pergantian lifting sumur ini dilakukan jika terjadi penurunan dari produksi
yang kita capai, misalnya saja pergantian dari sumur Gas Lift menjadi
Sumur ESP.
c. Perubahan Fungsi Sumur
Misal perubahan dari sumur produksi menjadi sumur injeksi. Pekerjaan ini
di lakukan saat dimana terjadinya penurunan produksi dari sumur produksi,
karena water cut meningkat atau pun kerena faktor lainnya.

128
d. Fishing
Operasi pemancingan adalah kegiatan memancing (fishing) barang - barang
yang terlepas dan tertinggal didalam lubang. Peralatan yang tertinggal
didalam lubang bor disebut “fish”. Fish yang tertinggal atau jatuh dalam
lubang bor harus diambil karena kalau tidak diambil akan mengganggu
kelancaran operasi pemboran selanjutnya.

2. Well Service
Mmerupakan suatu bagian yang bertugas menangani segala kegiatan yang
berhubungan dengan sumur. Kegiatan tersebut meliputi usaha agar sumur
siap berproduksi (initial completion) maupun usaha perbaikan sumur akibat
kerusakan saat berproduksi (Work Over). Adapun kegiatan perwatan sumur
yang di lakukan antara lain :
a. Penggantian Tubing.
b. Penggantian/Perbaikan Pompa ESP/Artificial Lift lainnya.

3. Stimulasi
Adalah merangsang sumur yang merupakan suatu proses perbaikan
terhadap sumur untuk meningkatkan harga permeabilitas formasi yang
mengalami kerusakan sehingga dapat memberikan laju produksi yang
besar. Stimulasi dilakukan pada sumur – sumur produksi yang mengalami
penurunan produksi yang disebabkan oleh adanya kerusakan formasi
(formation damage) disekitar lubang sumur dengan cara memperbaiki
permeabilitas batuan reservoir. Metode stimulasi dapat dibedakan menjadi:
a. Hydraulic Fracturing
Peretakan hidrolik didefinisikan sebagai suatu cara untuk meningkatkan
produktivitas lapisan penghasil hidrokarbon dengan jalan peretakan lapisan
tersebut secara hidrolis. Untuk melakukan peretakan digunakan cairan
peretak, yang dipompakan ke permukaan reservoir hingga melampaui batas
kekuatan batuan
b. Acidizing
Acidizing adalah salah satu proses perbaikan terhadap sumur untuk

129
menanggulangi atau mengurangi kerusakan formasi dalam upaya
peningkatan laju produksi dengan melarutkan sebagian batuan,
dengan demikian akan memperbesar saluran yang tersedia atau barangkali
lebih dari itu membuka saluran baru sebagai akibat adanya pelarutan atau
reaksi antara acid dengan batuan.
Stimulasi dengan acidizing dapat dilakukan dengan menggunakan tiga
metode yaitu :
i. Acid washing, adalah operasi yang direncan akan untuk menghilangkan
endapan scale yang dapat larut dalam larutan asam yang terdapat dalam
lubang sumur untuk membuka perforasi yang tersumbat.
ii. Acid fracturing, adalah penginjeksian asam kedalam formasi pada tekanan
yang cukup tinggi untuk merekahkan formasi atau membuka rekahan yang
sudah ada.
iii. Matriks acidizing, dilakukan dengan cara menginjeksikan larutan asam dan
additif tertentu secara langsung kedalam pori – pori batuan formasi
disekitar lubang sumur dengan tekanan penginjeksian dibawah tekanan
rekah formasi, dengan tujuan agar reaksi menyebar ke formasi secara
radial.

4. Well Intervention
Merupakan pekerjaan yang dilakukan untuk meningkatkan produktivitas
suatu sumur minyak dan gas atau memperpanjang umur produksi sampai
masa yang akan datang.

130
BAB IV
PENILAIAN FORMASI

4.1. Penilaian Formasi


Penilaian formasi adalah serangkaian kegiatan pencatatan atau pengukuran
data tentang sifat - sifat fisik batuan dan fluida formasi yang ditembus lubang bor.
Kegiatan ini dapat dilakukan baik ketika pemboran sedang berlangsung maupun
pada saat pemboran dihentikan sementara atau setelah mencapai target yang
dikehendaki.
Adapun metode - metode yang digunakan untuk penilaian formasi adalah :
log operasi pemboran, coring dan analisa core, well loging dan uji kandungan
lapisan. Tujuan dari penilaian formasi menurut Ellis & Singer (2008) adalah
sebagai berikut:
i. Menentukan Ada Tidaknya Hidrokarbon.
ii. Menentukan Dimana Tepatnya Hidrokarbon Tersebut Berada.
iii. Menentukan Berapa Banyak Kandungan Hidrokarbon Tersebut di Dalam
Formasi.
iv. Menentukan Apakah Hidrokarbon Tersebut Potensial Untuk di Produksi
atau Tidak.

4.1.1. Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Penilaian Formasi


Dalam melakukan penilaian formasi perlu memperhatikan adanya beberapa
faktor yang mempengaruhi factor - faktor itu antara lain, jenis lumpur pemboran
yang digunakan, sifat jenis dari batuan dan jenis fluida yang ada dalam reservoir
tersebut.

A. Jenis Fluida Pemboran


Salah satu kegunaan dari fluida pemboran adalah sebagai media logging dan
media informasi. Sebagai media informasi karena lumpur dapat membawa cutting
kepermukaan dan dari cutting tersebut dapat diketahui sifat - sifat fisik batuan
tersebut. Sebagai media logging, lumpur akan berfungsi untuk sarana mendukung

132
pelaksanaan logging tersebut. Dari beberapa peralatan logging yang biasa dipakai
maka yang paling banyak dipengaruhi oleh lumpur pemboran adalah log Listrik.
Lumpur pemboran dapat digolongkan menjadi dua jenis yaitu: lumpur yang
bersifat menghantarkan arus listrik (Konduktif) dan lumpur yang tidak dapat
menghantarkan arus listrik (Non-konduktif).
1. Fluida Pemboran Konduktif
Yang termasuk dalam fluida pemboran konduktif ini adalah lumpur
pemboran yang komponen dasarnya air atau sering disebut water base
muds. Water base mud ini dibedakan menjadi dua jenis yaitu lumpur dengan
komponen dasar air tawar (fresh water muds) dan lumpur dengan komponen
air asin (salt water muds).
a. Lumpur Air Tawar (fresh water muds)
Merupakan lumpur pemboran yang kadar garam (salinitas) yang kecil.
b. Lumpur Air Asin (Salt Water Muds)
Lumpur ini mempunyai kadar garam yang cukup tinggi.

2. Fluida Pemboran Non Konduktif


Fluida pemboran yang termasuk golongan ini adalah lumpur dengan
komponen dasar minyak (oil base muds dan oil base emulsion muds) dan
fluida pemboran komponen dasar gas atau udara (gaseous drilling fluids).
a. Oil Base Mud dan Oil Base Emulsion Muds.
Oil base muds mengandung minyak sebagai fasa yang kontinu dengan kadar
air yang rendah sedangkan oil base emulsion muds mempunyai kadar air
yang lebih tinggi.
b. Gaseous Dlilling Muds
Komponen dasar dari fluida pemboran ini adalah gas atau udara yang mana
keduanya tidak dapat menghantarkan listrik (non-konduktif), sehingga
fluida pemboran ini tidak dapat digunakan dalam media log listrik.

132
B. Sifat Jenis Batuan Reservoir
Sifat jenis batuan reservoir juga merupakan salah satu faktor yang perlu
diperhatikan khususnya dalah hal penilaian formasi yang menggunakan metode
Logging. Sifat Jenis batuan reservoir tersebut yang perlu diketahui antara lain :
1. Sifat Kelistrikan Batuan
Yang dimaksud sifat kelistrikan batuan adalah sifat - sifat dari batuan
apabila batuan tersebut diberi arus listrik. Sebagian besar batuan reservoir
pada umumnya adalah batuan sedimen yang bersifat non-konduktif yang
menenempati rongga pori - pori batuan tersebut, maka batuan tersebut
menjadi batuan konduktif.

2. Sifat Keradioaktifan Batuan


Proses radioaktif merupakan suatu proses dimana suatu inti atom mengalami
penguraian (desintegrasi) secara spontan. Pada waktu pecahnya atom
tersebut akan selalu diikuti oleh emisi (radiasi) radioaktif, seperti sinar
Alpha (α), sinar Beta (β) dan sinar Gamma (γ). Adapun kekuatan radioaktif
ini tergantung pada kandungan jenis radioaktif tersebut, sehingga sifat
radioaktif ini tergantung dari jenis bahan radioaktif tersebut, sehingga sifat
radioaktif formasi akan tergantung pada kandungan jenis radioaktif batuan.
Ada tiga macam radiasi Radioaktif, yaitu:
a. Sinar Alpha (α)
Sinar Alpha ini terdiri dari partikel - pertikel yang bermuatan listrik dengan
muatan dua kali muatan elektron, tetapi tandanya berlawanan.
b. Sinar Beta (β)
Sinar Beta ini merupakan electron - elektron yang berkecepatan tinggi dan
dilepaskan dari inti atom suatu zat radioaktif.
c. Sinar Gamma (γ)
Gamma ini sejenis dengan sinar-X, tetapi panjang gelombangnya yang lebih
pendek dan keduanya merupakan radiasi elektromegnetik karena tidak
mempunyai massa. Sinar Gamma inilah yang digunakan pada penilaian
formasi (Gamma-Ray log).

133
Sifat radioaktif batuan dapat ditimbulkan oleh adanya kandungan zat
radioaktif dalam batuan tersebut, yang biasanya banyak terdapat pada
batuan sedimen terutama clay. Ada tiga seri unsure - unsur radioaktif yang
terdapat dialam, yaitu seri Uranium (U), seri Thorium (Th) dan seri
Actinium (K). dalam batuan sedimen terdapat tiga komponen utama
gamma-ray spectrum, yaitu Pothasium, uranium dan thorium.
Kandungan radioaktif pada batuan sedimentasi dapat dibagi menjadi 4
golongan, yaitu:
i. Radioaktif yang sangat rendah, meliputi anhidrit, salt, dan coal
ii. Radioaktif yang rendah, meliputi : pure limestone, dolomite dan sandstone.
iii. Medium radioaktif, meliputi : arkose, granite, shaly sand, shaly limestone
dan shaly dolomite.
iv. High radioaktif, meliputi : shale, vulkanik,dan bentonite.

3. Sifat Perambatan Suara Batuan


Sifat rambat bunyi ini merupakan sifat fisik batuan yang dapat membantu
dalam menentukan karakteristik reservoir minyak dan gas. Semua zat padat
termasuk batuan akan mengikuti Hukum Hooke yang mendeskripsikan
kelakuan elastik batuan / material.

C. Jenis Fluida Reservoir


Fluida yang terdapat dalam reservoir, yaitu air, minyak dan gas dapat
mempengaruhi dalam penilaian formasi terutama dalam metode logging
(kombinasi logging), yaitu dalam mengkombinasikan logging akan sangat
mempengaruhi penentuan ketebalan lapisan produktif, menentukan batas fluida,
yaitu batas Minyak-air (Water Oil Contact (WOC)), batas gas-minyak (Gas Oil
Contact (GOC)), dan pada reservoir gas juga perlu ditentukan batas gas-air (Gas
Water Contact (GWC)).

134
4.2. Metode Well Logging
Log adalah suatu grafik kedalaman dari satu set data yang menunjukkan
parameter yang diukur secara berkesinambungan di dalam sebuah sumur
(Harsono, 1997). Logging memberikan data berupa sifat – sifat batuan dan cairan
untuk mengevaluasi secara kuantitatif banyaknya hidrokarbon di lapisan pada
situasi dan kondisi sesungguhnya. Menurut Ellis & Singer (2008) membagi
metode yang digunakan untuk memperoleh data log menjadi dua macam, yaitu:
a. Wireline logging dilakukan setelah proses drilling menggunakan wireline
unit dengan menggunakan kabel setelah pengeboran dilaksanakan dan pipa
pengeboran telah diangkat
b. Logging while driiing adalah logging yang dilaksanakan bersamaan dengan
pemboran. Sensor dimasukkan kelubang sumur dengan peralatan didalam
drill colar. LWD pada dasarnya berguna untuk member informasi
(resistivitas, porositas dan gamma ray) sedini mungkin pada saat pemboran.

Adapun metode metode Logging yang akan dibahas disini adalah :


i. Log Listrik (Elektric Log).
ii. Log Radioaktif (Radioactive Log).
iii. Log Akustik (Sonic Log).

4.2.1.Log Listrik (Electric Log)


Adanya pori - pori yang terisi fluida yang dapat menghantarkan arus listrik
(air asin), atau terisi mineral clay, maka batuan sedimen tersebut dapat
menghantarkan arus listrik. Batuan yang banyak mengandung air formasi (asin)
akan mempunyai resistivity yang rendah, sedangkan apabila banyak mengandung
minyak, gas atau air tawar maka resistivitynya akan lebih tinggi daripada batuan
yang mengandung air asin. Umumnya log listrik dapat dibedakan menjadi dua
jenis:
a. Spontaneous Potential (SP) Log.
b. Resistivity Log.

135
A. Spontaneous Log (SP Log)
SP log merupakan pencatatan perbedaan potensial antara elektrode tetap di
permukaan dengan elektrode yang bergerak didalam lubang bor, terhadap
kedalaman lubang bor. Kurva yang terjadi dihasilkan dari sirkuit sederhana yang
terdiri dari dua buah elektroda dan sebuah galvanometer. Elektrode referensi (N)
ditanam dipermukaan dan elektroda satunya lagi (M) diturunkan kedalam lubang
sumur. Sebuah batrai dan sebuah potensiometer dipasang untuk menguatkan
potensial yang konstan pada kedua elektrode tersebut.

Gambar 4.1. Prinsip Kerja SP Log (Bowen, 2003).

Fungsi dari SP Log antara lain sebagai berikut :


a. Mengidentifikasi lapisan - lapisan porous dan permeabel.
b. Mencari batas - batas lapisan permeabel dan korelasi antar sumur
berdasrakan batas lapisan.
c. Korelasi lapisan.
d. Identifikasi air tawar dan air asin.
e. Mencari harga Rw.
f. Menetukan kandungan clay dalam lapisan.

Sebaiknya SP log diturunkan didalam kondisi water base mud, hal ini
karena SP log hanya dapat bekerja pada kondisi lumpur yang konduktif. SP log ini
juga tidak dapat digunakan di dalam lubang bor yang sudah dicasing.

136
Bentuk kurva SP log dengan berbagai kondisi batuan dan kandungan
didalamnya adalah sebagai berikut :
a. Pada lapisan shale, kurva lapisan konstan dan mengikuti suatu garis lurus
yang disebut dengan shale base line.
b. Pada lapisan permeable mengandung air asin, defleksi akan berkembang ke
arah kiri dari garis shale atau negatif.
c. Pada lapisan permeable mengandung hydrocarbon, defleksi akan
berkembang negatif.
d. Pada lapisan permeable mengandung air tawar, defleksinya positif (ke arah
kanan pada garis shale base line).

Persamaan yang digunakan dalam interpretasi kurva SP log yaitu :


460+𝑡 °𝐹 𝑅𝑚𝑓
𝑆𝑆𝑃 = −𝐾 log ...............................................................................(4.1)
537 𝑅𝑤

Dimana :
SSP = Static Spontaneous Potensial, mV
Rmf = Tahanan air filtrat lumpur, ohm-meter
K = Faktor Lithologi batuan, 70,7 pada temperatur ⁰F
Rw = Tahanan air formasi
t = temperatur formasi ⁰F

Gambar 4.2. Interpretasi SP Log (Darling, 2005).

137
B. Resistivity Log
Kurva yang berbentuk pada resistivity log adalah sebagai akibat dari
pengukuran tahanan listrik formasi dengan dua atau tiga elektroda yang
diturunkan kedalam lubang bor. Fungsi umum dari resistivity log, yaitu:
a. Menentukan kandungan fluida batuan reservoir.
b. Mengetahui nilai Rw :
i. Archie Eq.
ii. Indonesia Eq.
iii. Picket Plot, etc.
c. Menentukan zona permeable.
d. Menentukan kontak fluida (GOC, WOC, GWC).

Gambar 4.3. Prinsip Kerja Resistivity Log (Harsono, 1997).

Dewasa ini banyak sekali jenis - jenis dari resistivity log, diantaranya adalah :
a. Normal Log Device
Pada log resistivity yang lazim, arus dialirkan melalui elektrode tertentu (A),
menembus kedalam formasi dan voltage ini berguna dalam penentuan harga
resistivity formasinya.
b. Lateral Log
Lateral Log device ini mempunyai tiga elektrode yang dimaksudkan untuk
mendeteksi tahanan formasi yang tidak terinvasi oleh lumpur bor (Rt).

138
Normal Log dan lateral Log sering disebut konvensional resistivity log,
yang hanya dapat digunakan dalam lumpur jenis water base mud. Harga
tahanan yang dicatat oleh konvensional resistivity log adalah harga tahanan
semu bukan tahanan yang sebenarnya.
c. Induction Log
Pengukuran tahanan listrik batuan formasi dengan konvensional resistivity
log memerlukan adanya lumpur bor yang bersifat konduktif agar dapat
digunakan untuk menghantarkan arus listrik ke formasi. Akibatnya tidak
satupun peralatan tersebut yang dapat digunakan apabila lubang bor kosong,
terisi minyak, gas, oil base mud atau udara. Untuk mengatasi hal - hal
semacam ini, maka dikembangkan peralatan khusus yang dapat digunakan
tanpa terpengaruh oleh kondisi - kondisi tersebut diatas. Peralatan tersebut
adalah induction Log.
Tujuan utama dari induction log adalah menghasilkan suatu daerah
investigasi yang jauh didalam lapisan tipis untuk menentukan Rt dan kadang
- kadang untuk korelasi, tanpa memandang jenis lumpur yang digunakan.
d. Laterolog (Guard Log)
Laterol log digunakan untuk menghitung Rt, terutama pengukuran Rt
dengan induction log banyak mengalami kesalahan, disamping itu juga
dapat digunakan untuk korelasi batuan. Laterolog ini hanya dapat digunakan
dalam lumpur jenis water base mud.
e. Micro Resistivity Log
Micro resistivity log dirancang untuk memperoleh harga tahanan formasi
pada daerah flush zone (Rxo) dan sebagai indikator untuk mengetahui
adanya lapisan porous dan permeable yang ditandai dengan adanya mud
cake.

4.2.2.Log Radioaktif (Radioactive Log)


Hampir semua batuan sedimen mengandung jejak - jejak garam radioaktif,
sebagai akibatnya garam - garam ini dapat menimbulkan radiasi radioaktif secara
alamiah. Batuan sedimen dengan butiran halus lebih banyak mengandung unsur

139
radioaktif dibandingkan dengan yang berbutir kasar. Salah satu keuntungan log
radioaktif adalah bahwa log tersebut dapat digunakan pada sumur yang sudah
dicasing, tidak seperti pada log listrik yang hanya dapat digunakan pada sumur
yang belum dicasing. Jenis log Radioaktif yang biasa digunakan dilapangan
adalah :
a. Gamma Ray Log
b. Neutron Log
c. Density Log

A. Gamma Ray Log


Prinsip kerja dari gamma ray log adalah sonde dari log sinar gamma yang
terdiri dari beberapa detector yang mencatat emisi sinar gamma yang dipancarkan
oleh formasi, kemudian ditransmisikan kepermukaan dengan kabel sebagai impuls
listrik dan dicatat sebagai fungsi dari kedalaman. Fungsi Utama dari GR Log
adalah sebagai berikut:
i. Menentukan lapisan permeable.
ii. Mengidentifikasi lithologi, korelasi antar formasi.
iii. Menetukan volume serpih (Vsh).
iv. Menetukan lapisan shale dan non shale.
v. Mendeteksi adanya mineral radioaktif.

Gambar 4.4. Prinsip Kerja GR Log (Harsono, 1997).

140
Gamma ray log dapat digunakan untuk mengukur porositas, untuk korelasi
dan untuk mengontrol kedalaman lubang sumur untuk perforasi , Selain itu juga
untuk mengindikasi adanya lapisan shaly-sand pada intepretasi log listrik.

Gambar 4.5. Interpretasi GR Log (Bowen, 1997).

B. Neutron Log
Merupakan log yang dapat membaca hydrogen index yang terkandung
dalam batuan dengan cara menembakan neutron kedalam formasi, dimana
semakin tinggi hidrogen indeksnya maka neutron yang dipantulkan kembali
kedalam detektor dalam logging tools akan semakin sedikit (log neutron
menunjukan nilai yang rendah) dan sebaliknya. Fungsi utama dari neutron log
adalah sebagai berikut :
i. Untuk menentukan porositas total.
ii. Untuk mendeteksi adanya formasi gas dan identifikasi HC setelah
dikombinasikan porosity tool lainnya (Density Log).
iii. Untuk penentuan korelasi batuan.

Indeks hydrogen didefinisikan sebagai rasio dari konsentrasi atom hydrogen


setiap cm kubik batuan terhadap kandungan air murni pada suhu tertentu. Secara

141
sederhana, semakin berpori batuan semakin banyak kandungan hydrogen dan
semakin tinggi indeks hydrogen.
Pembacaan grafik kurva log neutron, berbeda dengan pembacaan kurva log
yang lain. Pada Log neutron nilai minimum ke maksimum dimulai dari kanan ke
kiri, dikarenakan semakin rendah indeks hidrogen tercatat semakin baik
porositasnya.

Gambar 4.6. Prinsip Kerja Neutron Log (Harsono, 2003).

Karena neutron log mengukur porositas batuan tanpa memandang apakah


pori-pori tersebut berisi hydrocarbon atau air, maka neutron log dapat
digolongkan sebagai porosity tool.

C. Density Log
Log density adalah kurva yang menunjukkan besarnya densitas bulk density
(RHOB) dari batuan yang ditembus oleh lubang bor. Log densitas digunakan
untuk mengukur densitas semu formasi menggunakan sumber radioaktif yang
ditembakkan ke formasi dengan sinar gamma yang tinggi dan mengukur jumlah
sinar gamma rendah yang kembali ke detektor. Fungsi utama dari density log
adalah sebagai berikut :
i. Untuk mengukur porositas batuan.
ii. Untuk mengidentifikasi mineral batuan.

142
iii. Untuk mengidentifikasi shaly sand dan lithologi batuan yang kompak.
iv. Identifikasi litologi.
v. Identifkasi HC (kombinasi dengan Neutron Log).

4.2.3.Log Akustik
A. Sonic Log
Sonic log dirancang untuk mengukur porositas batuan formasi dengan cara
mengukur interval transite time, yaitu waktu yang dibutuhkan oleh gelombang
suara untuk merambat dalam batuan formasi sejauh satu feet. Peralatan sonic log
menggunakan sebuah transmitter (pemancar gelombang suara) dan dua buah
receiver (penerima).Jarak antara keduanya adalah satu feet. Fungsi utama dari
sonic log adalah sebagai berikut :
i. Mendeteksi adanya fracture.
ii. Mengetahui elastisitas kontak batuan.
iii. Mengetahui porositas batuan.
iv. Membatu interpretasi “seismic record”, teruma untuk maksud kalibrasi
kedalaman formasi.

4.3. Open Hole Logging


Open hole logging dipakai untuk mengetahui keadaan formasi di bawah
permukaan. Logging dilakukan sebelum dilakukannya pemasangan casing pada
lubang bor. Atribut formasi yang umum yang mungkin diketahui yaitu:
1. Sifat dari fluida, termasuk densitas, gas oil ratio, API gravity, resistivitas air
dan kegaraman, suhu dan tekanan
2. Seting geologi, dimana termasuk kemiringan stratigrafi atau struktur,
karakteristik fasies, heterogenitas dan reservoir.

4.4. Casing Hole Logging


Case hole logging merupakan proses logging yang dilakukan setelah
dilakukan pemasangan casing pada lubang bor. Terdapat beberapa alasan
mengapa case hole logging dilakukan :

143
i. Sebagai pengukuran tambahan dari pengukuran yang dilakukan pada open
hole. Sangatlah penting untuk melakukan pengukuran tambahan ini
dikarenakan kondisi sumur yang memungkinkan ketidakakuratan data open
hole, atau adanya pengukuran yang tak semestinya pada beberapa zona saat
open hole.
ii. Untuk memonitor perubahan yang terjadi pada formasi yang terjadi pada
saat terakhir casing telah dipasang. Ketika perubahan ini terjadi, evaluasi
dan sebab perubahan ini mungkin diperlukan untuk merancang strategi
recovery daripada hidrokarbon.
iii. Untuk menyediakan kedalaman referensi antara pengukuran open hole dan
case hole.

4.5. Interpretasi Logging


Interpretasi logging ini dibagi menjadi interpretasi kualitatif dan interpretasi
kuantitatif. Interpretasi kualitatif dilakukan untuk mengidentifikasi lapisan porous
permeabel dan ada tidaknya fluida. Sedangkan interpretasi kuantitatif dilakukan
untuk menentukan harga Vclay, Φ, Rfluida, Sw dan permeability batuan.

4.5.1.Interpretasi Kualitatif
Interpretasi log kualitatif guna memperkirakan kemungkinan adanya lapisan
porous permeabel dan ada tidaknya fluida. Untuk memperoleh hasil yang lebih
akurat harus dilakukan pengamatan terhadap log yang kemudian satu sama
lainnya dibandingkan. Tujuan dari interpretasi kualitatif adalah identifikasi
lithologi dan fluida hidrokarbon yang meliputi identifikasi lapisan porous
permeabel, ketebalan dan batas lapisan, serta kandungan fluidanya.

A. Identifikasi Lapisan Porous Permeabel


Untuk identifikasi lapisan permeabel dapat diketahui dengan : defleksi SP,
separasi resistivity, separasi microlog, caliper log dan gamma ray log. Adapun
masing - masing log diatas dapat diketahui sebagai berikut :

144
a. Defleksi SP : bilamana lumpur pemboran mempunyai perbedaan salinitas
dengan air formasi (terutama untuk lumpur air tawar), lapisan permeabel
umumnya ditunjukkan dengan adanya penambahan defleksi negatif (kekiri)
dari shale base line.
b. Separasi resistivity : adanya invasi dan lapisan permeabel sering
ditunjukkan dengan adanya separasi antara kurva resistivity investigasi
rendah.
c. Separasi microlog : proses invasi pada lapisan permeabel akan
mengakibatkan terjadinya mud cake pada dinding lubang bor. Dua kurva
pembacaan akibat adanya mud cake oleh microlog menimbulkan separasi
pada lapisan permeabel dapat dideteksi oleh adanya separasi positif (micro
inverse lebih kecil daripada micro normal).
d. Caliper log : dalam kondisi lubang bor yang baik umumnya caliper log
dapat digunakan untuk mendeteksi adanya ketebalan mud cake, sehingga
dapat memberikan pendeteksian lapisan permeabel.
e. Gamma Ray log : formasi mengandung unsur - unsur radioaktif akan
memancarkan radioaktif dimana intensitasnya akan terekam pada defleksi
kurva gamma ray log, pada umumnya defleksi kurva yang membesar
menunjukkan intensitas yang besar adalah lapisan shale/clay, sedangkan
defleksi menunjukkan intensitas radioaktif rendah menunjukkan lapisan
permeabel.

B. Identifikasi Ketebalan dan Batas Lapisan


Ketebalan lapisan batuan dibedakan atas dua, yaitu ketebalan kotor (gross
thickness) dan ketebalan bersih (net thickness). Ketebalan kotor (gross thickeness)
merupakan tebal lapisan yang dihitung dari puncak lapisan sampai dasar lapisan
dari suatu lapisan batuan. Sedangkan ketebalan bersih (net thickness) merupakan
tebal lapisan yang dihitung atas ketebalan dari bagian - bagian permeabel dalam
suatu lapisan.

145
Jenis log yang dapat digunakan untuk menentukan ketebalan lapisan adalah:
SP log, kurva resistivity, kurva microresistivity, dan gamma ray log. Adapun dari
defleksi kurva log – log tersebut:
a. SP log, yang terpenting dapat membedakan lapisan shale dan lapisan
permeabel.
b. Kurva resistivity, alat yang terbaik adalah laterolog dan induction log.
c. Kurva microresistivity, pada kondisi lumpur yang baik dapat memberikan
hasil penyebaran yang vertikal.
d. GR log, log ini dapat membedakan adanya shale dan lapisan bukan shale,
disamping itu dapat digunakan pada kondisi lubang bor telah dicasing,
biasanya dikombinasikan dengan neutron log.

4.5.2.Interpretasi Kuantitatif
Didalam analisa logging secara kuantitatif dimaksudkan untuk menentukan
lithologi batuan, tahanan jenis air formasi (Rw), evaluasi shaliness, harga porositas
(Ф), saturasi air (Sw) dan permeabilitas (K).

Gambar 4.7. Skema Proses Interpretasi Kuantitatif.

A. Zonasi
Zonasi merupakan zona yang dipilih berdasarkan pengendapan pada lapisan
batuan. Zonasi ini dipilih melalui log gamma ray. Cara megetahuinya adalah dari
nilai gamma ray yang besar sampai nilai gamma ray yang kecil lalu kembali pada

146
nilai gamma ray yang besar, itu disebut sebagai satu kali pengendapan. Dari
sumur yang dilakukan logging dengan log gamma ray didapatkan sebelas layer.
Namun yang dinyatakan prospek hanya enam layer. Pemilihan enam layer ini
juga dipengaruhi oleh pengukuran dari log resistivity log, Density log dan
Neutron log. Pada layer yang prospek memiliki gamma ray log yang rendah dan
resistivity yang tinggi, dan pada density log dan neutron Log terdapat crossover
yang dapat diindikasikan mengandung hidrocarbon.

B. Cut-Off
Cut off merupakan perpotongan yang dicari pada log gamma ray. Log untuk
menentukan batas shalestone dan sandstone. Dimana jika nilai gamma ray nya
tinggi maka diindikasikan sebagai shalestone dengan warna hijau dan jika gamma
ray bernilai rendah maka diindikasikan sebagai sandstone dengan warna kuning.
Pencarian cut off yaitu menjumlahkan nilai GR max dan GR min pada log gamma
ray lalu dibagi dengan dua.
𝐶𝑢𝑡 𝑂𝑓𝑓 =
𝐺𝑟 𝑀𝑖𝑛+𝐺𝑟 𝑀𝑎𝑥
......................................................................................................(4.2)
2

C. V Shale
V shale perlu diketahui agar kita dapat mengetahui seberapa besar
kandungan shale yang terdapat pada batuan reservoir kita. Dimana nilai V Shale
ini mempengaruhi pada porositas kita, semakin besar V Shale maka porositas kita
semakin kecil. Kemudian dihitung dengan persamaan :
𝑉 𝑆ℎ𝑎𝑙𝑒 =
𝐺𝑟−𝐺𝑟 𝑚𝑖𝑛
......................................................................................................(4.3)
𝐺𝑟 𝑀𝑎𝑥−𝐺𝑟 𝑀𝑖𝑛

D. Porositas
Porositas harus ketahui agar kita tahu seberapa besar kemampuan batuan
untuk menyimpan fluida. Pada log untuk menghitung porositas kita harus

147
menentukan nilai Log RHOB dan NPHI. Setelah kita menentukan nilai RHOB,
selanjutnya kita menghitung Ø Density dengan persamaan:
Ø 𝐷𝑒𝑛𝑠𝑖𝑡𝑦 =
𝜌𝑚𝑎−𝑅𝐻𝑂𝐵
...........................................................................................................(4.4)
𝜌𝑚𝑎−𝜌𝑓

Untuk penentuan porositas neutron berdasarkan litologi dan kandungan


fluida maka nilai neutron dapat dicari dengan persamaan :
Øn = (1.02xNPHI)+0.0425.................................................................................(4.5)
Dimana :
NPHI = porositas yang terbaca pada kurva neutron log
0.425 = koreksi terhadap limestone formation

E. Saturasi Air
Saturasi air perlu diketahui untuk mengetahui pada zona interest berisi
minyak atau air, dengan mengetahui saturasi air maka bisa menentukan persentasi
air pada zona tersebut.
𝐵𝑉𝑊 𝑥 (1−𝑉𝑠ℎ)
𝑆𝑤 𝑖𝑟𝑟 = Ø 𝑒𝑓𝑓 𝑅𝐻𝑂𝐵
..........................................................................................(4.6)

F. Permeabilitas
Permeability batuan perlu diketahui agar kita tau seberapa besar
kemampuan batuan untuk mengalirkan fluida.
𝐾 𝑒𝑓𝑓 =
75 𝑥 Ø 𝑒𝑓𝑓 𝑅𝐻𝑂𝐵 3 2
( ) ...............................................................................................(4.7)
𝑆𝑤 𝑖𝑟𝑟

G. Metode Quick Look Logging


Metode quick look logging adalah metode cepat untuk menentukan jenis
litologi dan jenis fluida yang terkandung dalam batuan.

1. Zona Prospek Minyak


a. Pada kurva GR terlihat bahwa sinar gamma-nya rendah, terlihat defleksi
menjauhi shale base line. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah dengan

148
kurva yang mendekati minimum kemungkinan merupakan lapisan reservoir.
Lapisan reservoir adalah lapisan permeabel yang biasanya ditunjukkan oleh
rendahnya harga sinar gamma ray yang menunjukkan kandungan serpih
yang rendah.
b. Kurva resistivitas (LLD dan LLS) menunjukkan nilai resistivitas yang
semakin tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pada zona ini terdapat
kandungan fluida. Zona prospek minyak bumi memiliki resistivitas yang
sangat tinggi. Jika kurva LLD menunjukkan bentuk defleksi yang lebih
besar daripada kurva RHOB, maka zona tersebut dianggap sebagai zona
minyak bumi
c. Berdasarkan dua kurva tersebut (GR dan Resisitivitas) yang
memperlihatkan sinar gamma bernilai rendah dan resistivitas bernilai tinggi
maka kemungkinan terdapat kandungan sand pada formasi tersebut.
Berdasarkan litologinya yaitu sand, dapat diketahui bahwa zona ini
merupakan zona prospek hidrokarbon, sebab minyak dan gas selalu
bertumpuk dibebatuan pasir (sand).
d. Kurva log porositas yaitu log densitas (RHOB) dan log neutron (NPHI)
dapat mendeteksi adanya kandungan hidrokarbon atau air di suatu formasi.
Kedua kurva ini memperlihatkan bentukan kolom separasi (+) cross over
yang kecil, hal ini menandakan jenis fluida adalah minyak. Terlihat pada
kurva RHOB bentukan garis mengarah pada pengurangan porositasnya
(semakin kekanan) dan penambahan densitas (semakin ke kiri). Sedangkan
kurva log NPHI memperlihatkan hal yang sebaliknya, dimana terlihat kurva
mengarah pada pertambahan porositasnya (semakin ke kiri).

2. Zona Prospek Gas


a. Zona prospek gas memiliki cirri - ciri yang menyerupai minyak pada
beberapa kurva log. Namun harus dibedakan secara lebih teliti lagi
perbedaan dari keduanya di setiap kurva log. Di bawah ini penjelasan dari
zona prospek gas berdasarkan hasil interpretasi data wireline log.

149
b. Pada kurva GR terlihat bahwa sinar gamma-nya rendah, jauh dari shale base
line. Hal ini mengindikasikan bahwa daerah dengan kurva yang mendekati
minimum kemungkinan merupakan lapisan reservoir. Lapisan reservoir
adalah lapisan permeabel yang biasanya ditunjukkan oleh rendahnya harga
sinar gamma ray yang menunjukkan kandungan serpih yang rendah.
c. Kurva resistivitas (LLD dan LLS) menunjukkan nilai resistivitas yang
semakin tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pada zona ini terdapat
kandungan fluida.
d. Berdasarkan dua kurva tersebut (GR dan Resisitivitas) yang
memperlihatkan sinar gamma bernilai rendah dan resistivitas bernilai tinggi
maka kemungkinan terdapat kandungan sand pada formasi tersebut.
Berdasarkan litologinya yaitu sand, dapat diketahui bahwa zona ini
merupakan zona prospek hidrokarbon.
e. Kurva log porositas yaitu log densitas (RHOB) dan log neutron (NPHI)
dengan harga resistivitas yang tinggi maka zona itu merupakan zona gas.
Kedua kurva ini memperlihatkan bentukan kolom separasi (+) cross over
yang besar (membentuk seperti butterfly effect), hal ini menandakan jenis
fluida adalah gas dengan harga porositas neutron yang jauh lebih kecil dari
harga porositas densitas.

3. Zona Air Asin


Zona air asin pada data wireline log dapat dikenali dari log resistivitasnya
(kurva LLD dan kurva LLS). Log ini digunakan untuk mendeterminasi zona
hidrokarbon dan zona air. Zona air akan menunjukkan harga tahanan jenis formasi
yang lebih rendah daripada zona minyak. Dari log resistivitas yang diberikan
terlihat bahwa defleksinya melurus, sehingga dapat diinterpretasikan bahwa zona
ini merupakan zona saline water. Bila defleksinya membelok (resistivitasnya
semakin membesar) maka merupakan fresh water. Selain itu zona air juga dapat
dikenali bila tidak menunjukkan adanya separasi antara kurva log densitas
(RHOB) dengan kurva log neutron (NPHI). Kurva densitas (RHOB) lapisan
tersebut berada disebelah kanan kurva neutron. Saline water menunjukkan harga
kurva NPHI dan RHOB yang kecil.

150