Anda di halaman 1dari 9

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

POLITEKNIK KEUANGAN NEGARA STAN

TANGERANG SELATAN

MODUL KOMITMEN

SISTEM APLIKASI KEUANGAN TINGKAT INSTANSI

Disusun Oleh:

1. Bella Putri Hasianna (10)

2. Jens Naki (16)

3. Syahirul Alim (29)

Kelas 9-02 Diploma IV Akuntansi Alih Program (Non AKT)

Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah

Sistem Informasi Akuntansi Pemerintah

2019
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Reformasi bidang keuangan negara ditandai dengan terbitnya tiga
undang-undang bidang keuangan negara, yaitu Undang-Undang Nomor 17 Tahun
2003 tentang Keuangan Negara, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara, dan Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara. Berdasarkan
undang-undang tersebut, terdapat pemisahan fungsi dan kedudukan Menteri
Keuangan dan Menteri/ Pimpinan Lembaga dalam penyelenggaraan pengelolaan
keuangan negara. Kedudukan Menteri Keuangan sebagai Chief Financial Officer
(CFO) memegang kewenangan kebendaharaan, sedangkan setiap Menteri / Pimpinan
Lembaga sebagai Chief Operational Officer (COO) memegang kewenangan
administratif. Pemisahan fungsi tersebut dimaksudkan untuk membuat kejelasan dan
kepastian dalam pembagian wewenang dan tanggung jawab.
Pasal 7 Undang-Undang Perbendaharaan Negara menyebutkan bahwa Menteri
Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) berwenang diantaranya untuk
mengesahkan dokumen pelaksanaan anggaran, melakukan pengendalian pelaksanaan
anggaran negara, menetapkan sistem penerimaan dan pengeluaran kas negara,
mengusahakan dan mengatur dana yang diperlukan dalam pelaksanaan anggaran
negara, melakukan pembayaran berdasarkan permintaan pejabat Pengguna Anggaran
atas beban Rekening Kas Umum Negara dan menetapkan sistem akuntansi dan
pelaporan keuangan negara.
Kewenangan administratif yang dijalankan oleh Kementerian/lembaga meliputi
kewenangan untuk melakukan perikatan, melakukan pengujian dan pembebanan
tagihan, serta memerintahkan pembayaran atau menagih penerimaan. Di sisi lain,
Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) berwenang dalam hal
kebendaharaan yang bertindak sebagai kasir sekaligus sebagai pengelola keuangan
dalam arti yang seutuhnya. Dalam rangka menjalankan wewenangnya agar dapat
berjalan secara optimal, tentunya Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara
memerlukan suatu sistem yang memadai, yaitu sistem yang diantaranya mampu
menjaga keseimbangan antara pengeluaran dan penerimaan untuk mencegah cash
missmatch, mampu memberikan informasi yang memadai mengenai kebutuhan dana,
dan mampu mengontrol realisasi anggaran dengan alokasi dana yang ada demi
mewujudkan disiplin anggaran. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan suatu
mekanisme kontrol terhadap perikatan-perikatan yang akan mengakibatkan
pengeluaran negara. Suatu mekanisme dimana pengeluaran-pengeluaran yang akan
terjadi dimasa depan, baik itu dalam jangka pendek maupun jangka panjang dapat
diketahui dan dikelola oleh Menteri Keuangan selaku BUN. Manajemen komitmen
merupakan salah satu alat yang diharapkan mampu digunakan oleh BUN dan
Pengguna Anggaran dalam rangka menjalankan fungsi tersebut agar dapat
memperoleh hasil yang optimal.
Aplikasi SAKTI memberi harapan yang lebih baik pada sisi pengawasan dan
monitoring terhadap transaksi maupun tingkat kepatuhan yang dilakukan satuan kerja.
Beberapa pihak seperti Unit Eselon I maupun Kementerian/Lembaga dari
masing-masing 3 satuan kerja, KPPN/Kementerian Keuangan serta pihak auditor akan
semakin mudah dalam memperoleh data maupun informasi secara akurat dan cepat
serta dapat meminimalkan tingkat kesalahan manusia yang selama ini sering terjadi.

B. Dasar Hukum dan Best Practices

Dasar hukum dari pelaksanaan modul komitmen dalam aplikasi SAKTI adalah
sebagai berikut.

1. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara;


2. Undang-Undang Nnomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara;
3. Peraturan Presiden Nomor 16 Tahun 2018 tentang Pengadaan Barang dan Jasa
Pemerintah;
4. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 223/PMK.05/2015 tentang Pelaksanaan
Piloting Sistem Aplikasi Keuangan Tingkat Instansi.

Dalam World Bank Technical Paper No. 505 tentang Treasury Reference Model
digambarkan bahwa proses komitmen dalam praktiknya adalah sebagai berikut.

1. Unit pengeluaran atau spending unit memproses permintaan barang dan jasa;
2. Melakukan verifikasi kesesuaian pengeluaran dan ketersediaan anggaran dan
batas pengeluaran;
3. Setelah itu, unit pengeluaran akan memproses permintaan pengadaan sesuai
dengan prosedur yang ditentukan dan menempatkan pesanan pembelian pada
vendor;
4. Vendor harus terdaftar dalam database vendor, lalu unit pengeluaran akan
mendaftarkan komitmen dalam sistem dan memblokir jumlah yang sesuai dari
anggaran yang tersedia dan batas pengeluaran;
5. Transaksi komitmen diteruskan ke kementerian induk dan kantor regional
Perbendaharaan-Kementerian Keuangan yang akan memproses pembayaran
berdasarkan komitmen.

Praktik diatas merupakan proses komitmen dimana unit pengeluaran memproses


transaksi langsung melalui kantor perbendaharaan daerah. Apabila suatu negara tidak
memiliki kantor perbendaharaan regional maka unit pengeluaran akan meneruskan
terlebih dahulu transaksi komitmen ke kementerian induk yang akan kemudian
memproses pengirimannya ke kantor perbendaharaan.
BAB II

PEMBAHASAN

A. Modul Komitmen

1. Definisi dan Ruang Lingkup

Modul Komitmen adalah modul yang memuat informasi mengenai kebutuhan


dana dan alokasi dana yang ada, yang berfungsi sebagai perencanaan kas agar tidak
terjadi cash missmatch. Modul Komitmen mengelola dua hal utama, yaitu manajemen
supplier/penyedia barang jasa dan manajemen komitmen (kontrak). Supplier adalah
pihak yang berhak menerima pembayaran/ yang menjadi tujuan pembayaran dana
yang bersumber dari APBN. Manajemen supplier digunakan untuk merekam dan
mengelola data-data detil mengenai supplier, baik berupa satker, pihak ketiga,
pengguna dana, lender, dan pegawai, untuk kemudian didaftarkan ke SPAN. Tujuan
pengelolaan tersebut digunakan sebagai arah tujuan pembayaran tagihan,
meningkatkan validitas data supplier, evaluasi kinerja supplier, rekonsiliasi dengan
data customer, maupun dalam rangka memenuhi kebutuhan laporan manajerial terkait
supplier. Adapun manajemen kontrak digunakan untuk merekam dan mengelola
data-data kontrak yang bertujuan untuk perencanaan kas atas dasar perkiraan arus kas
yang menyertai pelunasan sebuah komitmen yang kemudian akan didaftarkan ke
SPAN. Dengan modul ini, satker bisa mengetahui kapan arus keluar uang akan terjadi,
sehingga satker bisa melakukan optimalisasi kas dengan lebih baik.

Fungsi utama dalam modul komitmen adalah sebagai berikut.

a. Fungsi Manajemen Supplier, antara lain perekaman data supplier (termasuk


mengunggah data pegawai), pembuatan ADK supplier, dan upload/rekam NRS
(Nomor Register Supplier);
b. Fungsi Manajemen Kontrak, antara lain meliputi perekaman data kontrak,
pembuatan ADK kontrak, upload/rekam CAN, perekaman Berita Acara Serah
Terima (BAST), perekaman BAST Non Kontraktual, dan monitoring kontrak
(Karwas Kontrak).

2. Hubungan Modul Komitmen dengan Modul Lain

Interaksi antara modul komitmen dengan modul lainnya dapat dijelaskan sebagai
berikut:

a. Modul Komitmen - Modul Anggaran. Iteraksi terjadi dengan pemberian data


pagu anggaran suatu satker. Administrasi komitmen satker dilaksanakan dengan
mengacu pada pagu anggaran tersebut. Ketika satker melakukan proses
pengadaan barang dan/atau jasa melalui kontrak, rencana penggunaan anggaran
Satker tersebut akan diterima oleh modul penganggaran yang kemudian akan
mengunci anggaran satker untuk menjaga agar pengadaan dapat dibayar;
b. Modul Komitmen - Aplikasi GPP. Hubungan kedua modul ini dilakukan secara
satu arah dengan pemberian data pegawai dan data gaji yang selanjutnya diproses
pembayaran dengan modul pembayaran;
c. Modul Komitmen - Modul Aset Tetap/Persediaan: hubungan diawali dengan
pemberian informasi kontrak dan BAST dari modul aset tetap/persediaan.
Informasi kontrak tersebut menjadi dasar bagi operator modul aset
tetap/persediaan dalam melakukan administrasi pencatatan aset tetap/persediaan
yang dilakukan pengadaan oleh pemerintah;
d. Modul Komitmen - Modul Pembayaran. Interaksi dimulai dengan pemberian
informasi terkait supplier, kontrak dan BAST sebagai dasar dalam melakukan
proses pembayaran kegiatan pengadaan barang dan/atau jasa. Pembayaran atas
tagihan supplier baru dapat dilaksanakan ketika supplier telah memenuhi
persyaratan-persyaratan administrasi tertentu;
e. Modul Komitmen - Modul GLP. Hubungan kedua modul ini diawali dengan
pemberian peta jurnal dari modul GLP. Berdasarkan peta jurnal tersebut, operator
modul komitmen membuat jurnal akuntansi atas pengadaan barang dan/atau jasa;

Hubungan antara modul komitmen dengan modul lain dapat dilihat pada Gambar
di bawah ini.

Gambar 1. Hubungan Modul Komitmen dengan Modul Lain

3. Input, Proses, dan Output


Modul komitmen berhubungan dengan modul lain dalam SAKTI dan juga dengan
aplikasi di luar SAKTI. Data input modul komitmen dapat dilihat pada Tabel 1 di
bawah ini.

Tabel 1. Input Modul Komitmen

Modul/Aplikasi Input bagi Modul Komitmen


Aplikasi GPP Data Pegawai dan Data Gaji
Modul Anggaran Data Pagu Anggaran
Modul Pembayaran Informasi telah diproses pembayaran
Modul Aset Tetap/Persediaan Informasi bahwa barang telah di
detailkan/direkam
Modul GLP Peta Jurnal

Alur proses di dalam modul komitmen terdiri dari tiga kegiatan utama, yaitu
sebagai berikut.

a. Kegiatan perekaman data supplier yang belum ada di database. Jika data supplier
telah ada di dalam database, user bisa melakukan updating jika ada perubahan.
Data supplier ini akan menjadi input di dalam modul pembayaran untuk data
perekaman SPP.
b. Perekaman kontrak berdasarkan data supplier yang telah diinput. Perekaman
kontrak dilakuan saat kontrak disetujui dan siap dilaksanakan. Ketika kontrak
telah selesai dan barang/jasa telah diberikan, satker akan membuat BAST.
c. Perekaman BAST pada saat kontrak selesai. ADK BAST ini akan menjadi input
bagi modul pembayaran untuk perekaman SPP, juga menjadi input dalam Modul
Aset Tetap/Persediaan untuk perekaman detail aset.

Alur proses dalam modul komitmen dapat dilihat dalam Gambar 2 di bawah ini.

Gambar 2. Alur Proses yang Dilalui Modul Komitmen


Kemudian, data output Modul Komitmen yang menjadi data bagi modul lainnya
dapat dilihat pada tabel 2 berikut.

Tabel 2. Output pada Modul Komitmen

Modul/Aplikasi Output bagi Modul Komitmen


Modul Anggaran Locking Pagu Anggaran
Modul Pembayaran Informasi Supplier, Kontrak, dan BAST
Modul Aset Tetap/Persediaan Informasi Kontrak dan BAST
Modul GLP Jurnal Akuntansi

4. Prosedur Pengendalian (Control)

Pengendalian dapat dilakukan dengan membagi tugas pengguna (user) baik


untuk manajemen supplier maupun manajemen kontrak. Dalam mengelola data
supplier terdapatdua user yang terlibat yaitu operator modul komitmen dan approver.
Operator modul komitmen adalah pegawai yang diberi kewenangan oleh PPK untuk
melaksanakan fungsi teknis terkait manajemen supplier pada aplikasi SAKTI.
Kemudian, approver adalah pihak (PPK Satker) yang melakukan aktivitas persetujuan
atas pekerjaan yang disampaikan oleh pihak Operator dalam aplikasi SAKTI.

Dalam manajemen kontrak terdapat dua jenis user yang terlibat, yaitu operator
dan approver. Tugas operator yaitu merekam data kontrak, mencetak resume kontrak,
upload/rekam CAN (Commitment Application Number), merekam BAST, dan
monitoring Karwas Kontrak. Kemudian, tugas approver yaitu membuat ADK
kontrak/RFC (Request For Commitment), cetak resume kontrak, dan monitoring
Karwas Kontrak.

5. Pengembangan

Penerapan SAKTI sampai dengan saat ini masih pada tahapan piloting (termasuk
di dalamnya adalah unit vertikal Kementerian Keuangan) dan belum
diimplementasikan secara menyeluruh. Karena itu, perlu dilakukan evaluasi secara
menyeluruh dalam pelaksanaannya saat ini sehingga apabila ditemukan kelemahan,
keterbatasan, maupun kesalahan baik yang diakibatkan oleh human error, kegagalan
sistem, database, maupun kelemahan pengendalian internal dapat segera dilakukan
antisipasi dan perbaikan. Selain itu masih terdapat aplikasi yang belum diintegrasikan
misalnya aplikasi GPP. Dengan demikian, pada akhirnya penerapan SAKTI dapat
dilakukan secara menyeluruh dan terintegrasi secara akurat dan tepat.
BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Modul Komitmen adalah modul yang memuat informasi mengenai kebutuhan
dana dan alokasi dana yang ada, yang berfungsi sebagai perencanaan kas agar tidak
terjadi cash missmatch. Modul Komitmen mencakup dua fungsi utama, yaitu
Manajemen Supplier dan Manajemen Kontrak. Karena merupakan bagian yang tak
terpisahkan dalam Sistm Akuntansi Keuangan Tingkat Instansi (SAKTI), maka
Modul Komitmen erat hubungannya dengan modul-modul lainnya. Modul Komitmen
memberikan input dan output berupa data dan informasi masing-masing kepada
Aplikasi GPP, Modul Aset Tetap/Persediaan, Modul Pembayaran, Modul GLP, dan
Modul Anggaran.
Manajemen supplier digunakan untuk merekam dan mengelola data-data detil
mengenai supplier, baik berupa satker, pihak ketiga, pengguna dana, lender, dan
pegawai, untuk kemudian didaftarkan ke SPAN. Tujuan pengelolaan tersebut
digunakan sebagai arah tujuan pembayaran tagihan, meningkatkan validitas data
supplier, evaluasi kinerja supplier, rekonsiliasi dengan data customer, maupun dalam
rangka memenuhi kebutuhan laporan manajerial terkait supplier. Adapun manajemen
kontrak digunakan untuk merekam dan mengelola data-data kontrak yang bertujuan
untuk perencanaan kas atas dasar perkiraan arus kas yang menyertai pelunasan sebuah
komitmen yang kemudian akan didaftarkan ke SPAN.

B. Saran
Saran yang dapat diberikan oleh penulis adalah sebagai berikut.
1. Belum terdapat mekanisme Approved Vendor List (AVL) seperti halnya di
entitas sektor swasta. Mekanisme tersebut berguna untuk memberikan semacam
rating atau penilaian terhadap supplier-supplier yang mampu menyediakan
barang/jasa yang memenuhi standar kualitas yang ditetapkan dengan harga yang
bersaing sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas dalam
pelaksanaan komitmen dalam rangka penyelenggaran pemerintahan.
2. Hingga saat ini belum ada fungsi/fitur yang menyediakan informasi keabsahan
supplier melalui mekanisme validasi oleh validator maupun daftar
jenis/klasifikasi usaha supplier dalam modul komitmen. Karena itu, perlu
ditambahkan fitur terkait dua hal tersebut sehingga proses perekaman supplier
dalam manajemen supplier dapat lebih mudah dan akurat.