Anda di halaman 1dari 14

AKUNTANSI AKAD MUDHARABAH - PSAK 105

Makalah ini disusun untuk memenuhi syarat kelulusan mata kuliah


Akuntansi Syariah.

Dosen Pembimbing : Safira, SE, Ak, M.Si

Kelompok :

Asyifah Ramadhanti 43217010052


Muhammad Farel Akbar Alayubi 43217010115
Rini Triana Savitri 43217010194
Devlin Tantowi Afaera 43217010209

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


PROGRAM STUDI S1 AKUNTANSI
UNIVERSITAS MERCUBUANA
JAKARTA
2019/2020
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-
Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah yang berjudul Akuntansi
Akad Mudharabah – PSAK 105 ini tepat pada waktunya.

Adapun tujuan dari penulisan dari makalah ini adalah untuk memenuhi tugas
mata kuliah Akuntansi Syariah. Selain itu, makalah ini juga bertujuan untuk
menambah wawasan tentang Akuntansi Akad Mudharabah bagi para pembaca dan
juga bagi penulis.

Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Safira, SE, Ak, M.Si selaku dosen
mata kuliah Akuntansi Syariah yang telah memberikan tugas ini sehingga dapat
menambah pengetahuan dan wawasan sesuai dengan bidang studi yang kami tekuni.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membagi
sebagian pengetahuannya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Kami menyadari, makalah yang kami tulis ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun akan kami nantikan demi
kesempurnaan makalah ini.

Jakarta, 4 November 2019

Penulis
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Akad mudharabah merupakan salah satu produk pembiayaan yang disalurkan


oleh perbankan syari’ah. Seperti yang disebutkan dalam Undang-Undang No 21
Tahun 2008 Tentang Perbankan Syari’ah (selanjutnya disebut UUPS). Pasal 19 UUPS
menyebutkan, bahwa salah satu akad pembiayaan yang ada dalam perbankan
syari’ah adalah akad mudharabah. Selain itu bank Indonesia juga mengeluarkan
Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor, 10/16/PBI/2008 Tentang Prinsip Syari’ah
Dalam Kegiatan Penghimpunan Dana Dan Penyaluran Dana Serta Pelayanan Jasa
Bank Syari’ah, juga menyebutkan mudharabah adalah salah satu akad pembiayaan
yang ada didalam perbankan syari’ah.

Akad Mudharabah adalah akad antara pemilik modal dengan pengelola modal,
dengan ketentuan bahwa keuntungan diperoleh dua belah pihak sesuai dengan
kesepakatan. Didalam pembiayaan mudharabah pemilik dana (Shahibul Maal)
membiayai sepenuhnya suatu usaha tertentu. Sedangkan nasabah bertindak
sebagai pengelola usaha (Mudharib). Pada prinsipnya akad mudharabah
diperbolehkan dalam agama Islam, karena untuk saling membantu antara pemilik
modal dengan seorang yang pakar dalam mengelola uang. Dalam sejarah Islam
banyak pemilik modal yang tidak memiliki keahlian dalam mengelola uangnya.
Sementara itu banyak pula para pakar dalam perdagangan yang tidak memiliki
modal untuk berdagang. Oleh karena itu, atas dasar saling tolong menolong, Islam
memberikan kesempatan untuk saling berkerja sama antara pemilik modal dengan
orang yang terampil dalam mengelola dan memproduktifkan modal itu.

Akad mudharabah berbeda dengan akad pembiayaan yang ada pada perbankan
pada umumnya (perbankan konvensional). Perbankan konvensional pada umumya
menawarkan pembiayaan dengan menentukan suku bunga tertentu dan
pengembalian modal yang telah digunakan mudharib dalam jangka waktu tertentu.
Namun Akad mudharabah tidak menentukan suku bunga tertentu pada mudharib
yang menggunakan pembiayaan mudharabah, melainkan mewajibkan mudharib
memberikan bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh mudharib. Pembiayaan
mudharabah pada dasarnya diperuntukan untuk jenis usaha tertentu atau bisnis
tertentu. Oleh karena itu, kami sebagai pemakalah akan mencoba membahas
tentang mudharabah ini serta permasalahan yang ada didalamnya.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan Akad Mudharabah?


2. Landasan Hukum Mudharabah?
3. Apa saja Jenis-jenis Akad Mudharabah serta Rukun dan Syaratnya?
4. Bagaimana alur transaksinya ?
5. Apa Manfaat dan Resiko dari akad Mudharabah?
6. Apa yang menyebabkan berakhirnya akad Mudharabah ?
7. Bagaimana prinsip dan perhitungan pembagian hasilnya ?
8. Bagaimana perlakuan akuntansi terhadap akad Mudharabah ?

C. Tujuan

1. Menjelaskan pengertian akad Mudharabah. v


2. Menjelaskan landasan hukum Mudharabah. v
3. Menjelaskan jenis akad Mudharabah serta rukun dan syaratnya. v
4. Menjelaskan alur transaksi mudharabah. v
5. Menjelaskan manfaat dan resiko dari akad Mudharabah. v
6. Menjelaskan penyebab berakhirnya akad Mudharabah. v
7. Menjelaskan prinsip dan perhitungan pembagian hasil pada akad Mudharabah.
8. Menjelaskan perlakuan akuntansi terhadap akad Mudharabah.
BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Akad Mudharabah

Akad Mudharabah merupakan akad yang ada dalam konsep ilmu syariah. Mudharabah
berasal dari kata Adharby fil ardhi yang memiliki arti berpergian dalam urusan dagang.
Qirad sendiri memiliki arti potongan yang mengambil dari kata Al Qardhu. Dimana sebuah
transaksi memang melakukan pemotongan sebagian hartanya untuk diperdagangkan dan
memperoleh sebagian keuntungan akad mudharabahnya.

Secara teknis, Mudharabah sebagai akad kerja sama usaha antara dua pihak di mana
pihak pertama pemilik modal (shahibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal,
sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha mudharabah dibagi
menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung
oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya
kerugian itu diakibatkan kecurangan atau kelalaian si pengelola maka si pengelola harus
bertanggung jawab atas kerugian tersebut.

B. Sumber Hukum Akad Mudharabah

Menurut Ijmak Ulama, mudharabah hukumnya jaiz (boleh). Hal ini dapatdiambil dari
kisah Rasulullah yang pernah melakukan mudharabah dengan SitiKhadijah. Siti Khadijah
bertindak sebagai pemilik dana dan Rasulullah sebagai pengelola dana. Lalu Rasulullah
membawa barang dagangannya ke negeri Syam.Dari kisah ini kita lihat akad mudharabah
telah terjadi pada masa Rasulullahsebelum diangkat menjadi Rasul. Mudharabah telah
dipraktikan secara luas olehorang-orang sebelum masa Islam dan beberapa sahabat Nabi
Muhammad SAW. Jenis bisnis ini sangat bermanfaat dan sangat selaras dengan prinsip
dasar ajaransyariah, oleh karena itu masih tetap ada di dalam sistem Islam.

1. Al-Quran

“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di mukabumi dan carilah
karunia Allah SWT.” (QS 62:10)

“.... Maka jika sebagian kamu mempercayai sebagian yang lain,hendaklah yang dipercayai
itu menunaikan amanatnya dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah Tuhannya....”(QS
2:283)
2. As-Sunah

Dari Shalih bin Suaib r.a bahwa Rasulullah SAW bersabda: ”tigahal yang didalamnya
terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh muqaradhah (mudharabah), dan
mencampuradukan dengan tepung untuk keperluan rumah bukan untuk dijual.” ( HR. Ibnu
Majah)

Sedangkan HR Thabrani dari Ibnu Abbas menyebut “Abbas bin Abdul Muthalib jika
menyerahkan harta sebagai mudharabah, ia mensyaratkan kepada pengelola dananya agar
tidak mengarungi lautan dan tidak menuruni lembah, serta tidak membeli hewan ternak.
Jika persyaratan itu dilanggar, ia (pengelola dana) harus menanggung tersikonya. Ketika
persyaratan yang ditetapkan Abbas didengar oleh Rasulullah SAW, beliau
membenarkannya.”

C. Jenis-jenis Akad Mudharabah

Menurut PSAK 105, kontrak mudharabah dapat dibagi atas tiga jenis, yaitu Mudharabah
Muqayyadah, Mudharabah Muthlaqah, dan Mudharabah Musytarakah.

1. Mudharabah Muqayyadah

Mudharabah muqayyadah merupakan jenis akad dengan bentuk kerjasama antara


pemilik dana serta pengelola dana, dengan kondisi pemilik dana membatasi pengelola dana
untuk memilih tempat maupun transaksi dan juga objek investasinya. Dalam transaksi
mudharabah muqayyadah jika diibaratkan sebagai bank syariah, maka bersifat agen yang
menghubungkan antara shahibul maal (pemilik dana) serta mudharib (pengelola dana).
Imbalan yang diterima oleh bank sebagai agen dinamakan fee dan bersifat tetap tanpa
dipengaruhi oleh tingkat keuntungan yang dihasilkan oleh mudharib. Fee yang diterima
oleh bank dilaporkan dalam laporan laba rugi sebagai pendapatan operasi lainnya.
Mudharabah muqayyadah biasa disebut dengan mudharabah terikat (restricted
mudharabah).

Dalam praktik perbankan mudharabah Muqqayadah terdiri atas dua jenis yaitu
Mudharabah Muqqayadah Executing dan Mudharabah Muqqayadah Channeling. Pada
Mudharabah Muqqayadah executing, bank syariah sebagai pengelola menerima dana dan
dari pemilik dana dengan pembatasan dalam hal tempat, cara, dan atau objek investasi.
Akan tetapi, bank syariah memiliki kebebasan dalam melakukan seleksi terhadap calon
mudharib yang layak meneglola dana tersebut. Sementara itu, pada Mudharabah
Muqqayadah Channeling, bank syariah tidak memiliki kewenangan dalam menyeleksi calon
mudharib yang akan mengelola dana tersebut.

2. Mudharabah Muthlaqah

Mudharabah mutlaqah merupakan bentuk kerjasama yang dibangun antara pemilik


dana dan pengelola dana tanpa adanya pembatasan oleh pemilik dana dalam hal tempat
ataupun investasi objeknya. Dalam hal ini, pemilik dana memang memberikan kewenangan
penuh atas hartanya untuk dikelola oleh pengelola dana.

Kontrak mudharabah muthlaqah dalam perbankan syariah biasa digunakan untuk


tabungan ataupun pembiayaan lain-lain. Sifat mudharabah ini tidak terikat. Pada tabungan
mudharabah, penabung berperan sebagai pemilik dana, sedang bank sebagai pengelola
yang mengkontribusikan keahliannya dalam mengelola dana penabung. Sedangkan pada
investasi mudharabah, bank berperan sebagai pemilik dana yang menginvestasikan dana
yang ada padanya kepada pihak lain yang memerlukan dana untuk keperluan usahanya.

3. Mudharabah Musytarakah

Mudharabah Musytarakah adalah Bentuk mudharabah dimana pengelola dana


menyertakan modal dalam kerjasama investasi. Akad ini merupakan solusi sekiranya dalam
perjalanan usaha, pengelola dana memiliki modal yang dapat dikontribusikan dalam
investasi, sedang disisi lain, adanya penambahan modal ini akan dapat meningkatkan
kemajuan investasi. Akad ini pada dasarnya merupakan perpaduan antara akad
mudharabah dan akad musyarakah. Dalam mudharabah musytarakah, pengelola dana
berdasarkan akad (mudharabah) menyertakan juga dananya dalam investasi bersama
(berdasarkan akad musyarakah). Setelah penambahan dana oleh pengelola, pembagian
hasil usaha antara pengelola dana dan pemilik dana dalam mudharabah adalah sebesar
hasil usaha musyarakah setelah dikurangi porsi pemilik dana sebagai pemilik dana
musyarakah.

D. Rukun Transaksi Mudharabah

1. Transaktor (pemilik modal dan pelaksana usaha)

Dalam akad mudharabah, harus ada minimal dua pelaku. Pihak pertama bertindak
sebagai pemilik modal, dan pihak kedua bertindak sebagai pelaksana usaha. Sedangkan
untuk ketentuan syariahnya yaitu:
a) Pelaku harus cakap hukum dan baligh.
b) Dapat dilakukan sesama atau dengan non-muslim.
c) Pemilik dana tidak boleh ikut campur dalam pengelolaan usaha tetapi ia boleh
mengawasi.

2. Objek mudharabah atau modal dan kerja

Objek mudharabah merupakan konsekuensi logis dari tindakan yang dilakukan oleh
pelaku. Pemilik modal menyerahkan modalnya sebagai objek mudharabah, sedangkan
pelaksana usaha menyerahkan kerjanya sebagai objek mudharabah. Modal yang diserahkan
bisa berbentuk uang atau barang yang dirinci berapa nilai uangnya. Ketentuan :

a) Modal
 Modal yang diserahkan dapat berbentuk uang atau asset lainnya (dinilai sebesar nilai
wajar), harus jelas jumlah dan jenisnya.
 Modal harus tunai dan tidak hutang. tanpa badanya setoran modal, berarti pemilik
dana tidak memberikan kontribusi apapun padahal pengelolah dana harus bekerja.
 Modal harus diketahui dengan jelas jumlahnya sehingga dapat dibedakan dari
keuntungan.
 Pengelolah dana tidak diperkenankan untuk memudharabahkan kembali modal
mudharabah, dan apabila terjadi maka dianggap terjadi pelanggaran kecuali atas izin
pemilik dana.
 Pengelolah dana tidak diperbolehkan untuk meminjamkan modal kepada orang lain
dan apabila terjadi maka akan dianggap terjadi pelanggaran kecuali atas izin pemilik
dana.
 Pengelolah dana memiliki kebebasan untuk mengatur modal menurut kebijaksanaan
dan pemikirannya sendiri, selama tidak dilarang secara Syariah.

b) Kerja
 kontribiusi pengelolah dana dapat berbentuk keahlian, keterampilan, selling skill,
manajemen skill, dll.
 kerja adalah hak pengelolah dana dan tidak boleh terinterpensi oleh pemilik dana.
 pengelolah dana harus menjalankan usaha sesuai denga Syariah.
 pengelolah dana harus mematuhi semua ketetapan yang ada dalam kontrak.
 dalam hal pemilik dana tidak melakukan kewajiban atau melakukan pelanggaran
terhadap kesepakatan, pengelolah dana sudah menerima modal dan sudah bekerja
maka pengelolah dana berhak mendapatkan imbalan/ganti rugi/upah.

c) Persetujuan kedua belah pihak atau ijab qabul

Ijab dan kabul atau persetujuan kedua belah pihak dalam mudharabah yang merupakan
wujud dari prinsip sama-sama rela (an-taraddin minkum). Dalam hal ini, kedua belah pihak
harus secara rela bersepakat untuk mengikatkan diri dalam akad mudharabah. Si pemilik
dana setuju dengan perannya untuk mengontribusikan dana, sementara si pelaksana usaha
setuju dengan perannya untuk mengontribusikan kerja.

d) Nisbah keuntungan
 Nisbah adalah besaran yang digunakan untuk pembagian keuntungan, mencerminkan
imbalan yang berhak diterima oleh kedua pihak yang memudharabah atas keuntungan
yang mereka memperoleh. pengelolayh dana mendapatkan imbalan atas kerjanya,
sedangkan pemilik dana mendapatkan imbalan atas penyertaan modalnya. Nisbah
keuntungan harus diketahui dengan jelas oleh kedua pihak, inilah yang akan mencegah
perselisihan antara kedua belah pihak mengenai cara pembagian keuntungan.
 Perubahan nisbah harus berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak.
 Pemilik dana tidak boleh meminta pembagian keuntungan dengan menyatakan nilai
nominal tertentu karena dapat menimbulkan riba.

E. Manfaat dan Resiko Akad Mudharabah

 Manfaat dari mudharabah yaitu:


1) Bank akan menikmati peningkatan bagi hasil pada saat keuntungan usaha
nasabah meningkat.
2) Bank tidak berkewajiban membayar bagi hasil kepada nasabah pendanaan
secara tetap, tetapi disesuaikan dengan pendapatan atau hasil usaha bank
hingga bank tidak akan pernah mengalami negative spread.
3) Bank akan lebih selektif dan hati-hati (prudent) mencari usaha yang benar-
benar halah, aman, dan menguntungkan karena keuntungannya yang konkret
dan benar-benar terjadi itulah yang akan dibagikan.
4) Prinsip bagi hasil dalam mudharabah ini berbeda dengan prinsip bunga tetap
dimana bank akan menagih penerima pembiayaan (nasabah) satu jumlah
bunga tetap berapapun keuntungan yang dihasilkan nasabah, sekalipun merugi
dan terjadi krisis ekonomi.

 Sedangkan risiko dalam transaksi mudharabah. Terutama dalam penerapannya


dalam pembiayaan relatif tinggi, yaitu :
1) Side streaming yaitu nasabah menggunakan dana itu bukan seperti yang
disebutkan dalam kontrak
2) Lalai dan kesalahan yang disengaja
3) Penyembunyian keuntungan oleh nasabah bila nasabah tidak jujur

F. Alur Transaksi Mudharabah

Pertama, dimulai dari permohonan pembiayaan oleh nasabah dengan mengisi formulir
permohonan pembiayaan. Formulir tersebut diserahkan kepada bank syariah beserta
dokumen pendukung. Pihak bank selanjutnya melakukan evaluasi kelayakan pembiayaan
mudharabah yang diajukan nasabah dengan menggunakan analisis 5C (Character, Capacity,
Capital, Commitment, dan Colleteral). Analisis diikuti kemudian dengan verifikasi.
Kedua, bank mengontribusikan modalnya dan nasabah mulai mengelola usaha yang
disepakati berdasarakan kesepakatan dan kemampuan terbaiknya.

Ketiga, hasil usaha dievaluasi pada waktu yang ditentukan berdasarkan kesepakatan.

Keempat, bank dan nasabah menerima porsi bagi hasil masing-masing berdasarkan metode
perhitungan yang telah disepakati.

Kelima, bank menerima pengembalian modalnya dari nasabah.

G. Berakhirnya Akad Mudharabah

Akad mudharabah bisa saja berakhir dengan berbagai kejadian baik yang diharapkan
maupun tidak diharapkan. Sebenarnya lama kerja sama yang dibangun dalam akad ini tidak
tentu dan tidak memiliki batasan. Namun banyak pihak yang memilih menentukan jangka
waktu yang jelas agar usaha dan transaksi berjalan dengan jelas dan gamblang. Akad
mudharabah bisa berakhir jika :

 Salah satu pihak memutuskan untuk mengundurkan diri dari perjanjian, baik
dengan alasan diterima maupun tidak diterima. Karena akad ini haruslah terjadi
dengan kesediaan kedua belah pihak tanpa ada paksaan.
 Dalam hal mudharabah tersebut, dibatasi waktunya atau diberikan waktu jelasnya.
 Jika salah satu pihak meninggal dunia atau mengalami hilang akal. Sehingga
dianggap sebagai hilangnya kesepakatan.
 Pengelola dan tidak menjalankan amanahnya sebagai pengelola usaha untuk
mencapai tujuan sebagaimana dituangkan dalam akad tersebut.
 Modal yang dimiliki sudah habis atau tidak ada.

H. Prinsip dan Perhitungan Pembagian Hasil Akad Mudharabah

I. Perlakuan Akuntansi Terhadap Akad Mudharabah

1. Dana Mudharabah yang disalurkan oleh pemilik dana diakui sebagai investasi
mudharabah pada saat pembayaran kas atau penyerahan asset non-kas pada
pengelola dana.
2. Pengukuran investasi mudharabah:
a. Investasi mudharabh dalam bentuk kas diukur sejumlah yang dibayarkan.
b. Investasi mudharabah dalam bentuk asset non-kas diukur sebesar nilai wajar
asset non-kas pada saat penyerahan.

Investasi Mudharabah dalam bentuk Kas diukur sebesar jumlah yang dibayarkan.
Jurnal pada saat penyerahan kas :

Investasi Mudharabah xxx


Kas xxx

Investasi Mudharabah dalam bentuk asset non-kas diukur sebesar nilai wajar asset
non-kas pada saat penyerahan kemungkinannya ada 2 :

 Jika nilai wajar lebih tinggi dari nilai tercatatnya, maka selisihnya diakui sebagai
keuntungan tangguhan dan amortisasi sesuai jangka waktu akad mudharabah.

Jurnal pada saat penyerahan asset non-kas :


Investasi Mudharabah xxx
Keuntungan tangguhan xxx
Aset Non-kas xxx

Jurnal Amortisasi keuntungan tangguhan :


Keuntungan tangguhan xxx
Keuntungan xxx

 Jika nilai wajar lebih rendah dari nilai tercatatnya, maka selisihnya diakui
sebagai kerugian dan diakui psaat penyerahan asset non-kas.
Jurnal :
Investasi Mudharabah xxx
Kerugian xxx
Asset Non-kas Mudharabh xxx