Anda di halaman 1dari 23

AKUNTANSI SYARIAH

AKAD-AKAD LAIN

Dosen:

Tina Kartini SE, M.Esy

Disusun oleh:

Yaya Suharya 1630611053

Elsa Regita Cahyani 1630611059

Moch Yusuf Guntara Maulidin 1630611065

PROGRAM STUDI AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SUKABUMI

2018
1. Akad Sharf
1. Pengertian Akad Sharf
Sharf menurut bahasa adalah penambahan, penukaran, penghindaran atau
transaksi jual beli. Secara istilah sharf adalah perjanjian jual beli suatu valuta dengan
valuta lainnya. Transaksi jual beli mata uang asing (valuta asing), dapat dilakukan baik
dengan sesama mata uang yang sejenis (misalnya rupiah dengan rupiah) maupun yang
tidak sejenis (misalnya rupiah dengan dolar atau sebaliknya). Pendapat lain mengatakan
bahwa Sharf adalah transaksi pertukaran antara emas dengan perak atau pertukaran
valuta asing, dimana mata uang asing dipertukarkan dengan mata uang domestik atau
dengan mata uang asing lainnya.

2. Sumber Hukum
1) Al- Qur’an
Allah berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 275 yang berbunyi:
Artinya: “ Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan
riba” (QS. Al Baqarah:275)
2) Al Hadist
Artinya: “juallah emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan
gandum, sya’ir dengan sya’ir, kurma dengan kurma , dan garam dengan
garam (dengan syarat harus) sama dan sejenis serta secara tunai. Jika
jenisnya berbeda ,jualah sekehendakmu jika dilakukan secara tunai.”(HR.
Muslim).
Menurut ajaran Islam uang hanya berfungsi sebagai alat tukar menukar dan
bukan merupakan komoditas. Tanpa didayagunakan atau diinvestasikan dengan sumber
daya lainnya, uang tidak dapat menghasilkan pendapatan atau keuntungan dengan
dirinya sendiri. Apabila uang dapat bertambah tanpa didayagunakan , maka tambahan
itu adalah riba.
Dengan demikian secara syariah transaksi valuta asing dibolehkan sepanjang
dilakukan secara tunai dan tidak digunakan dengan tujuan spekulasi. Bila penjualannya
tunai tapi jika tujuannya untuk berspekulasi, tetap tidak dibolehkan karena seperti sudah
dijelaskan bahwa uang bukanlah komoditas.
Jika tujuannya untuk tabungan atau keperluan transaksi misalnya ingin pergi
haji atau mempunyai anak yang kuliah di luar negri, boleh saja menyimpan dalam
bentuk valas. Sedangkan transaksi pertukaran valas tidak tunai tidak diperbolehkan
dengan alasan apa pun.
3. Rukun dan ketentuan syariah
1. Rukun transaksi sharf terdiri atas:
a) Pelaku, terdiri atas pembeli dan penjual
b) Objek akad berupa mata uang
c) Ijab kabul/ serah terima.
2. Syarat- syarat akad Sharf adalah sebagai berikut:
a) Pelaku, harus cakap hukum dan baligh
b) Objek akad
1. Nilai tukar atau kurs mata uang telah diketahui oleh kedua belah
pihak
2. Valuta yang diperjualbelikan telah dikuasai, baik oleh pembeli
maupun oleh penjual, sebelum keduanya terpisah. Penguasaan
bisa berbentuk material maupun hukum.
3. Apabila mata uang atau valuta yang diperjualbelikan itu dari
jenis yang sama, maka jual beli mata uang itu harus dilakukan
dengan kuantitas yang sama, sekalipun model dari mata uang itu
berbeda.
4. Dalam akad sharf tidak boleh ada hak khiyar syarat bagi
pembeli. Hak yang dimaksud khiyar syarat adalah hak pilih bagi
pembeli untuk dapat melanjutkan atau tidak melanjutkan jual
beli mata uang tersebut setelah akadnya selesai dan syarat
tersebut di perjanjikan ketika transaksi jual beli berlangsung.
Alasan tidak di perbolehkannya khiyar syarat adalah untuk
menghindari adanya ketidakpastian/ gharar.
5. Dalam akad sharf tidak boleh terdapat tenggang waktu antara
penyerahan mata uang yang saling dipertukarkan, karena sharf
dikatakan sah apabila penguasaan objek akad dilakukan secara
tunai atau dalam kurun waktu 2 x 24 jam (harus dilakukan
seketika itu juga dan tidak boleh di utang) dan perbuatan saling
menyerahkan itu harus telah berlangsung sebelum kedua belah
pihak yang melakukan jual beli valuta itu berpisah.
6. Ijab kabul: pernyataan dan ekspresi saling ridha di antar pihak-
pihak pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui
korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi
modern.

3. Cakupan Standar Akuntansi Akad Sharf


Dalam PSAK paragraf 145 tentang pendapatan sharf disebutkan bahwa selisih
antar kurs yang diperjanjikan dalam kontrak dan kurs tunai (mark to market) pada
tanggal penyerahan valuta di akui sebagai keuntungan/ kerugian pada saat
penyerahan/penerimaan dana. Pada paragraf 146 disebutkan bahwa selisih
penjabaran aktiva dan kewajiban valuta asing dalam rupiah (revaluasi) diakui
sebagai pendapatan atau beban.

4. Perlakuan Akuntansi Akad Sharf


1. Saat membeli valuta asing
Dr. Kas (Dolar) xxx
Cr. Kas (Rp) xxx
2. Saat di jual
Dr. Kas (Rp) xxx
Dr. Kerugian* xxx
Cr. Keuntungan** xxx
Cr. Kas (Dolar) xxx
*jika harga beli valas lebih besar dari pada harga jual
**jika harga beli valas lebih kecil dari pada harga jual
Untuk tujuan laporan keuangan di akhir periode, aset moneter (piutang dan
utang) dalam satuan valuta asing akan dijabarkan dalam satuan rupiah dengan
menggunakan nilai kurs tengah Bank Indonesia pada tanggal laporan keuangan. Jurnal
penyesuainnya adalah sebagai berikut:
 Jika nilai kurs tengah BI lebih kecil dari nilai kurs tanggal transaksi, jurnal
pecatatannya:
Dr. Kerugian xxx
Cr. Piutang (valas) xxx
Dr. Utang (valas) xxx
Cr. Keuntungan xxx
 Jika nilai kurs tengah BI lebih besar dari nilai kurs tanggal transaksi, jurnal
pencatatannya:
Dr. Piutang (valas) xxx
Cr. Keuntungan xxx
Dr. Kerugian xxx
Cr. Utang (valas) xxx
4. Akad Wadi’ah

1. Pengertian Akad Wadi’ah


Wadiah merupakan (deposit) barang atau dana kepada pihak lain yang bukan
pemiliknya, untuk tujuan keamanan. Wadiah adalah akad penitipan dari pihak yang
mempunyai uang/barangkepada pihak yang menerima titipan dengan catatan
kapanpun titipan diambil pihak penerima titipan ajib menyerahkan kembali
uang/barang titipan tersebut dan yang dititipi menjadi pinjaman pengembalian
barang titipan.
Dalam akad hendaknya dijelaskan tujuan wadiah, cara penyimpanan, lamanya
waktu penitipan biaya yang diberikan pada pemilik barang dan hal-hal lain yang
dianggap peting.
2. Jenis Akad Wadi’ah (PSAK 59)
a) Wadi’ah Amanah
yaitu wadiah dimana uang/barang yang dititipkan hanya boleh disimpan dan
tidak boleh didayagunakan. Sipenerima titipan tidak bertanggungjawab atas
kehilangan dan kerusakan yang terjadi pada barang titipan selama hal ini bukan
akibat dari kelalaian atau kecerobohan penerima titipan dalam memelihara
titipan tersebut. Contoh: titipan barang dipusat pembelanjaan.
b) Wadi’ah yadh Dhamanah
Yaitu wadiah dimana sipenerima titipan dapat memanfaatkan barang
titipan tersebut dengan seizing pemiliknya dan menjamin untuk mengembalikan
titipan tersebut secara utuh setiap saat, saat sipemilik menghendakinya. Hasil
dan pemanfaatan barang tidak wajib dibagihasilkan dengan pemberi titipan.
Namun penerima titipan boleh saja memberikan bonus dan tidak boleh
dijanjikan sebelumnya kepada pemilik barang. Contoh: tabungan dan giro tidak
berjangka dengan akad wadiah.
Akad ini menurut ulama yang diwakili oleh ibnu utsaimin menyatakan:
“para ahli piqih menjelaskan bahwa bahwa orang yang menitipkan (uang)
memberikan izin kepada yangdititip untuk menggunakan maka akad wadiah
berubah menjadi akad qardh” (Tarmizi,2013).

3. Sumber Hukum Akad Wadi’ah


Yaitu wadiah dimana sipenerima titipan dapat memanfaatkan barang titipan
tersebut dengan seizing pemiliknya dan menjamin untuk mengembalikan titipan
tersebut secara utuh setiap saat, saat sipemilik menghendakinya. Hasil dan
pemanfaatan barang tidak wajib dibagihasilkan dengan pemberi titipan. Namun
penerima titipan boleh saja memberikan bonus dan tidak boleh dijanjikan
sebelumnya kepada pemilik barang. Contoh: tabungan dan giro tidak berjangka
dengan akad wadiah.
Akad ini menurut ulama yang diwakili oleh ibnu utsaimin menyatakan:
“para ahli piqih menjelaskan bahwa bahwa orang yang menitipkan (uang)
memberikan izin kepada yangdititip untuk menggunakan maka akad wadiah
berubah menjadi akad qardh” (Tarmizi,2013).
a) Al-quran surat An-Nisa’ 4:5
Artinya: ”Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya.........”
b) As-Sunnah
Artinya: ”Tunaikanlah amanat itu kepada orang yang memberi amanat
kepadamu dan jangan kamu menghianati orang yang menghianatimu.” (HR
Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

4. Rukun dan Ketentuan Syariah


Rukun wadi’ah ada 4 yaitu sebagai berikut:
a) Pelaku yang terdiri atas pemilik barang/pihak yang menitip (muwaddi’) dan
pihak yang menyimpan (mustawda’).
b) Objek wadiah berupa barang yang dititipkan (wadiah)
c) Ijab kabul/serah terima.
Ketentuan syariah, yaitu sebagai berikut:
a) Pelaku harus cakap hukum, baligh serta mampu menjaga serta memelihara
barang titipan.
b) Objek wadi’ah, benda yang dititipkan tersebut jelas dan diakui spesifikasinya
oleh pemilik dan penyimpan.
c) Ijab kabul/ serah terima, adalah pernyataan dan ekspresi saling ridha/rela
diantara pihak-pihak pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui
korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi modern.

5. Cakupan Standar Akuntansi Akad Wadi’ah


Dalam PSAK paragraf 137 tentang pengakuan dan pengukuran dana wadi’ah
disebutkan bahwa dana wadi’ah diakui sebesar jumlah dan yang dititipkan pada saat
terjadinya transaksi. Penerimaan yang diperoleh atas pengelolaan dana titipan
diakui sebagai pendapatan bank dan bukan merupakan unsur keuntunganyang harus
dibagikan. Pada paragraf 138 disebutkan bahwa pengakuan bonus dalam transaksi
wadiah adalah sebagai berikut:
 Pemberian bonus kepada nasabah diakui sebagai beban pada saat terjadinya;
 Penerimaan bonus dari penempatan dana pada bank syariah lain diakui sebagai
pendapatan pada saat kas diterima; dan
 Penerimaan bonus dari penempatan dana syariah pada bank sentral diakui
sebagai pendapatan pada saat kas diterima; dan
 Penerimaan bonus dari penempatan dana pada bank non-syariah diakui sebagai
pendapatan dana qardhul hasan pada saat kas diterima.
6. Perlakuan Akuntansi Wadi’ah
Pencatatan akuntansi wadi’ah bagi pihak pemilik barang dan bagi pihak
penyimpan barang adalah sebagai berikut.
1. Bagi pihak pemilik barang
 Pada saat menyerahkan barang (menerima tanda terima penitipan barang)
dan membayar biaya penitipan (menerima tanda terima pembayaran).
Dr. Beban Wadi’ah xxx
Cr. Kas xxx
 Jika biaya penitipan belum dibayar
Dr. Beban Wadi’ah xxx
Cr. Utang xxx
 Pada saat mengambil barang dan membayar kekurangan biaya penitipan
Dr. Utang xxx
Cr. Kas xxx
2. Bagi pihak penyimpan barang
 Pada saat menerima barang (mengeluarkan tanda terima barang) dan
penerimaan pendapatan penitipan (membuat tanda terima pembayaran)
Dr. Kas xxx
Cr. Pendapatan Wadiah xxx
 Jika biaya penitipan belum dibayar
Dr. Piutang xxx
Cr. Piutang xxx
 Pada saat menyerahkan barang dan menerima pembayaran kekurangan
pendapatan penitipan (mengeluarkan tanda penyerahan barang)
Dr. Kas xxx
Cr. Piutang xxx

3. Akad Wakalah
1. Pengertian Akad Wakalah
Al Wakalah atau Al Wikalah atau At Tahwidh artinya penyerahan,
pendelegasian atau pemberian mandat. Wakalah adalah pemberian kuasa dari
pemberi kuasa (muwakkil) kepada penerima kuasa (wakil) untuk melaksanakan
suatu tugas (taukil) atas nama pemberi kuasa. Dalam praktik perbankan terjadi
apabila nasabah memberikan kuasa kepada bank untuk mewakili dirinya melakukan
pekerjaan jasa tertentu. Akad wakalah adalah pelimpahan kekuasaan oleh satu pihak
(muwakkil) kepada pihak lain (wakil) dalam hal-hal yang boleh di wakilkan.
Dalam fiqih berdasarkan ruang lingkupnya wakalah dibedakan menjadi tiga
macam yaitu:
1) Wakalah al mutlaqah, yaitu mewakilkan secara mutlak, tanpa batasan waktu dan
untuk segala urusan.
2) Wakalah al muqayyadah, yaitu penunjukan wakil untuk bertindak atas namanya
dalam urusan-urusan tertentu.
3) Wakalah al ammah yaitu perwakilan yang lebih luas dari al muqayyadah tetapi
lebih sederhana dari al mutlaqah.

2. Sumber Hukum Wakalah


a) Landasan Syariah
1. Al-Qur’an
Allah berfirman dalam surat Al-Kahfi (18) : 19:
Artinya : “Dan demikianlah Kami bangkitkan mereka agar saling bertanya
di antara mereka sendiri. Berkata salah seorang di antara mereka: ‘sudah
berapa lamakah kamu berada (disini)? Mereka menjawab: kita sudah
berada (disini) satu atau setengah hari. Berkata (yang lain lagi): Tuhan
kamu lebih mengetahui berapa lama kami berada disini. Maka suruhlah
salah seorang kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan
hendaklah ia lihat manakah makanan yang lebih baik, maka hendaklah ia
membawa makanan itu untukmu dan hendaklah ia berlaku lemah lembut,
dan janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seorangpun.”
2. As Sunnah
Artinya: “Rasulullah SAW mewakilkan kepada Abu Rafi’ dan seorang
Anshar untuk mengawinkan (qabul perkawinan Nabi dengan) Maimunah
r.a” (HR. Malik dalam al-Muwaththa’)
3. Ijma’
Wakalah dibolehkan bahkan sunnah, karena wakalah termasuk jenis ta’awun
(tolong menolong) atas dasar kebaikan dan taqwa, beradasarkan Al-Qur’an
dan Hadis.
b) Landasan Hukum Positif
Wakalah sebagai salah satu produk perbankan syariah di bidang jasa
telah mendapatkan dasar hukum dalam Undang-Undang No. 10 Tahun 1998
tentang perubahan atas Undang-Undang No. 7 Tahun 1992 tentang perbankan.
Dengan di undangkannya Undang-Undang NO. 21 Tahun 2008 tentang
Perbankan Syariah, wakalah mendapatkan dasar hukum yang lebih kokoh.
Dalam pasal 19 Undang-Undang Perbankan Syariah disebutkan bahwa kegiatan
usaha Bank Umum Syariah antara lain melakuka fungsi sebagai Wali Amanat
berdasarkan Akad Wakalah.

3. Rukun dan ketentuan syariah


Rukun wakalah ada tiga, yaitu:
1) Pelaku, terdiri dari pihak pemberi kuasa( muwakkil) dan pihak yang diberi kuasa
(wakil)
2) Objek akad berupa barang atau jasa
3) Ijab kabul/ serah terima
Syarat bagi pemberi kuasa, yaitu:
1) Pemilik sah yang dapat bertindak terhadap sesuatu yang dapat diwakilkan
2) Orang mukallaf atau anak mumayyiz dalam batas-batas tertentu,yakni dalam hal-
hal yang bermanfaat baginya, seperti mewakilkan untuk menerima hibah,
menerima sedekah dan lain sebagainya.
Syarat bagi pihak yang diberi kuasa, yaitu:
1) Harus cakap hokum
2) Dapat mengerjakan tugas yang diwakilkan kepadanya.
Syarat bagi objek yang dikuasakan (taukil), yaitu:
1) Diketahui dengan jelas oleh orang yang mewakili
2) Tidak bertentangan dengan syariah islam
3) Dapat diwakilkan menurut syariah islam
4) Manfaat barang atau jasa harus bisa dinilai
5) Kontrak dapat dilaksanakan

4. Berakhirnya Akad Wakalah


1) Salah seorang pelaku meninggal dunia atau hilang akala, karena jika ini terjadi
salah satu syarat wakalah tidak terpenuhi
2) Pekerjaan yang diwakilkan sudah selesai
3) Pemutusan oleh orang yang mewakilkan
4) Wakil mengundurkan diri
5) Orang yang mewakilkan sudah tidak memiliki status kepemilikan atas suatu yang
diwakilkan.
5. Cakupan Standar Akuntansi Akad Wakalah
Dalam PSAK paragraf 150 tentang imbalan dari kegiatan Bank Syariah berbasis
imbalan disebutkan bahwa pendapatan dan beban yang berkaitan dengan jangka
waktu diakui selama jangka waktu tersebut. Pendapatan dan beban yang tidak
berkaitan dengan jangka waktu diakui pada saat terjadinya transaksi dalam periode
yang bersangkutan.

6. Perlakuan Akuntansi Al Wakalah


 Bagi pihak yang mewakilkan/wakil/ penerima kuasa
1. Pada saat menerima imbalan tunai (tidak berkaitan dengan jangka
waktu).
Dr. Kas xxx
Cr. Pendapatan wakalah xxx
2. Pada saat membayar beban
Dr. Beban Wakalah xxx
Cr. Kas xxx
3. Pada saat diterima pendapatan untuk jangka waktu dua tahun di muka
Dr. Pendapatan wakalah diterima dimuka xxx
Cr. Pendapatan Wakalah xxx
 Bagi pihak yang meminta diwakilkan
1. Pada saat membayar ujr / komisi
Dr. Beban Wakalah xxx
Cr. Kas xxx
4. Akad Kafalah (jaminan)
1. Pengertian Akad Kafalah
Kafalah disebut juga dhaman (jaminan), hamalah (beban), dan za’amah
(tanggungan), (sayid sabiq,1997). Akad kafalah yaitu perjanjian pemberian jaminan
yang diberikan oleh penanggung (khafi’i) kepada pihak ketiga (makful lahu), untuk
memenuhi kewajiban pihak kedua atau pihak yang ditanggung (makful anhu/ashil)
Secara teknis akad kafalah merupakan perjanjian antara seseorangyang
memberikan penjaminan (penjaminan) kepada seseorang kreditor yang memberikan
utang kepada seorang debitor, dimana utang debitor akan dilunasi oleh penjaminan
apabila debitor tidak membayar utangnya. Contoh: akad kafalah garansi bank (bank
guarantee), stand by letter of credit, pembukaan L/C impor, akseptasi, endorsement
dan lain sebagainya.
Kafalah bisa atas sesuatu yang bersifat segera misalnya utang yang harus segera
dilunasi atau seuatu dimasa depan. Kafalah dapat juga bersyarat, misalnya kalau
kamu pinjamkan uang pada adiku maka aku akan jamin utangnya.
Kafalah merupakan salah satu jenis akad tabarru yang bertujuan saling tolong-
menolong. Namun penjamin dapat menerima imbalan sepanjang tidak
memberatkan. Apabila ada imbalan maka akad kafalah bersifat mengikat dan tidak
dapat dibatalkan secara sepihak.
2. Sumber Hukum
a) Al Qur’an
Artinya: ”Dan Dia (Allah) menjadikan Zakaria sebagai penjaminnya
(Maryam)” (QS.[3] : 37)

Artinya: “Dan bagi siapa yang dapat mengembalikannya akan memperoleh


bahan makanan (seberat) beban unta dan aku menjamin terhadapnya” (QS
[12]:72)
b) As Sunnah
Artinya: “Telah dihadapkan kepada Rasulullah SAW jenazah seorang laki-
laki untuk disolatkan Rasulullah SAW bertanya, ‘Apakah ia mempunyai
hutang?’ Sahabat menjawab, ‘tidak’. maka beliau menshalatkannya.
Kemudian dihadapkan lagi jenazah lain, Rasulullah pun bertanya, ‘apakah
ia mempunyai hutang?’ sahabat menjawab, ‘Ya’ Rasulullah berkata,
‘salatkanlah temanmu itu’ (beliau sendiri tidak mau mensalatkannya). Lalu
Abu Qatadah berkata, ‘Saya menjamin hutangnya, ya Rasulullah’. Maka
Rasulullah pun menshalatkan jenazah tersebut.” (HR. Bukhari dari Salamah
bin Akwa’)
3. Rukun dan Ketentuan Syariah
Rukun kafalah ada tiga, yaitu sebagai berikut:
1) Pelaku, yang terdiri atas pihak penjamin, pihak yang berhutang, dan pihak yang
berpiutang.
2) Objek akad berupa tanggungan pihak yang berutang berupa barang, jasa, maupun
pekerjaan.
3) Ijab kabul atau serah terima.
Ketentuan syariah yaitu sebagai berikut:
1) Pelaku
A. Pihak penjamin (kafiil)
- Baligh (dewasa ) dan berakal sehat
- Berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan hartanya
dan rela (ridha) dengan tanggungan kafalah tersebut.
B. Pihak orang berhutang (ashiil, ma’ful ‘anhu)
- Sanggup mnyerahkan tanggungannya (hutang) kepada penjamin
- Dikenal oleh penjamiN
C. Pihak orang yang berpiutang (ma’ful lahu)
- Diketahui identitasnya
- Dapat hadir pada waktu akad atau memberikan kuasa
- Berakal sehat
2) Objek penjaminan (ma’ful bihi)
A. Merupakan tanggungan pihak atau orang yang berhutang, baik berupa uang,
benda maupun pekerjaan.
B. Bisa dilaksanakan penjamin
C. Harus merupakan hutang pengikat yang tidak mungkin terhapus kecuali
setelah di bayar atau di bebaskan
D. Harus jelas nilai
E. Tidak bertentangan dengan syariah
3) Ijab kabul, adalah pernyataan dan ekspresi saling ridha atau rela diantara pihak
pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korepondensi atau
menggunakan cara-cara komunikasi modern.

4. Berakhirnya Akad Kafalah


1) Ketika hutang telah diselesaikan, baik oleh orang berhutang atau oleh penjamin
atau jika kreditur menghadiahkan atau membebaskan hutangya kepada orang
yang berhutang.
2) Kreditur melepaskan hutangnya kepada orang yang berhutang, tidak ada
penjamin. Maka penjamin juga bebas untuk tidak menjamin hutang tersebut.
Namun, jika kreditur melepaskan jaminan dari penjamin, bukan berarti orang
yang berhutang telah terlepas dari hutang tersebut.
3) Ketika hutang tersebut telah dialihkan. Dalam kasus ini baik orang yang
terhutang ataupun penjamin terlepas dari tuntutan hutang tersebut.
4) Ketika penjamin menyelesaikan ke pihak lain melalui proses arbitrase dengan
kreditur.
5) Kreditur dapat mengakhiri kontrak kafalah walaupun penjamin tidak
menyetujuinya.
5. Cakupan Standar Akuntansi Akad Kafalah
Dalam PSAK paragraf 150 tentang imbalan dari kegiatan Bank Syariah berbasis
imbalan disebutkan bahwa pendapatan dan beban yang berkaitan dengan jangka
waktu diakui selama jangka waktu tersebut. Pendapatan dan beban yang tidak
berkaitan dengan jangka waktu diakui pada saat terjadinya transaksi dalam periode
yang bersangkutan.
6. Perlakuan Akuntansi Al-Kafalah
 Bagi Pihak Penjamin
1. Pada saat menerima imbalan (tidak berkaitan dengan jangka waktu)
Dr. Kas xxx
Cr. Pendapatan Kafalah xxx
2. Pada saat membayar beban
Dr. Beban Kafalah xxx
Cr. Kas xxx
 Bagi pihak yang meminta jaminan
1. Pada saat membayar beban
Dr. Beban Kafalah xxx
Cr. Kas xxx
5. Qhardhul Hasan
1. Pengertian Qhardhul Hasan
Qadharul hasan adalah pinjaman tanpa dikenakan biaya (hanya wajib
membayar sebesar pokok utangnya). Pinjaman uang seperti inilah yang sesuai
denganketentuan syariah (tidak ada riba), karena kalau meminjamkan uang maka ia
tidak boleh memita pengembalian yang lebih besar dari pinjaman kalau
meminjamkan uang maka ia tidak boleh meminta pengembalian yang lebih besar
dari pinjaman yang diberika. Namun, sipeminjam boleh saja atas kehendaknya
sendiri memberikan kelebihan atas pokok pinjamannya.
Pinjaman qardh bertujuan untuk diberikan pada orang yang membutuhkan atau
tidak memiliki kemampuan financial, untuk tujuan social atau untuk kemanusiaan.
Cara pelunasan dan waktu pelunasan pinjaman ditetapkan bersama antara pemberi
dan penerima pinjaman.
Biaya administrasi, dalam jumlah yang terbatas, diperkenankan untuk
dibebankan kepada peminjam. Jika mengalami kerugian bukan karena kelalaiannya
maka kerugian tersebut dapat mengurangi jumlah pinjaman.
Walaupun sifat utang ini sangat lunak tidak berarti pihak yang berutang dapat
semaunya sendiri. Karena dalam islam, utang yang tidak dibayar akan menjadi
penghalang dia dihari akhir nanti walaupun ia gugur dalam jihad dimedan perang
yang pahalanya sudah dijamin bahkan rasul tidak bersedia menshalatkan jenazah
yang masih memiliki hutang.
2. Sumber Hukum
a) Al-Quran
Artinya: “Dan jika ia (orang yang berhutang itu) dalam kesulitan, berilah
tangguh sampai ia berkelapangan.....” (QS. Al-Baqarah [2]: 280
b) As Sunnah
Artinya: “Orang yang melepaskan seorang muslim dari kesulitannya di dunia,
Allah akan melepaskan kesulitannya di hari kiamat; dan Allah senantiasa
menolong hamba-Nya selama ia (suka) menolong saudaranya” (HR. Muslim)
3. Rukun dan Ketentuan Syariah
Rukun qhardhul hasan ada 3, yaitu :
a) Pelaku yang terdiri dari pembeli dan penerima pinjaman
b) Objek akad, berupa uang yang dipinjamkan
c) Ijab qabul/ serah terima
Ketentuan syariah, yaitu :
a) Pelaku, harus cakap hukum dan baliqh
b) Objek akad
- Jelas nilai pinjamannya dan waktu pelunasannya
- Peminjam diwajibkan membayar pokok pinjaman pada waktu yang telah
disepakati, tidak boleh diperjanjikan akan ada penambahan atas pokok
pinjamannya. Namun peminjam dibolehkan memberikan sumbangan
secara suka rela.
- Apabila memang peminjam mengalami kesulitan keuangan maka waktu
peminjaman dapat diperpanjang atau menghapuskan sebagian atau
seluruh kewajibannya. Namun jika peminjam lalai maka dapat dikenakan
denda.
c) Ijab qabul adalah pernyataan dan ekspresi saling ridha/rela diantara pihak-pihak
pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis melalui korespondensi atau
menggunakan cara-cara komunikasi modern.
Skema Qardhul Hasan

4. Cakupan Standar Akuntansi Pinjaman Qardh


Dalam PSAK 59 paragraf 142 dan PAPSI bagian III tentang pinjaman qardh
disebutkan bahwa pinjaman qardh diakui sebesar jumlah yang di pinjamkan pada
saat terjadiny. Pengenaan biaya administrasi di akui sebaga pendapatan operasi
lainnya. Sekiranya bank syariah menerima imbalan yang tidak di persyaratkan
sebelumnya, maka imbalan tersebut diakui sebagai pendapatan operasi lainnya
sebesar jumlah yang diterima.
5. Perlakuan Akuntansi Qhardhul Hasan
Pelaporan qhardhul hasan disajikan tersendiri dalam laporan sumber dan
penggunaan dana qhardhul hasan karena dana tersebut bukan aset perubahan. Oleh
sebab itu, seluruhnya dicatat dengan akun dana kebajikan dan dibuat buku besar
pembantu atas dana kebajikan berdasarkan jenis dana kebajikan yang diterima atau
yang dikeluarkan.
 Bagi Pemberi Pinjaman
1. Saat menerima dana sumbangan dari pihak eksternal, yaitu:
Dr. Dana Kebajikan-Kas xxx
Cr. Dana Kebajikan-Infak/sedekah/hasil wakaf xxx
2. Untuk penerimaan dana yang berasal dari denda dan pendapatan
nonhalal, yaitu :
Dr. Dana Kebajikan-Kas xxx
Cr. Dana Kebajikan-Denda/pendapatan Non-halal xxx
3. Untuk pengeluaran dalam rangka pengalokasian dana qhardhul hasan,
yaitu:
Dr. Dana Kebajikan-Dana Kebajikan Produktif xxx
Cr. Dana Kebajikan-Kas xxx
4. Untuk penerimaan saat pengembalian dari pinjaman untuk qardh hasan,
yaitu:
Dr. Dana Kebajikan-Kas xxx
Cr. Dana Kebajikan-Dana Kebajikan Produktif xxx
 Bagi Pihak yang Meminjam
1. Saat menerima uang pinjaman, yaitu:
Dr. Kas xxx
Cr. Utang xxx
2. Saat pelunasan, yaitu:
Dr. Utang xxx
Cr. Kas xxx
6. Hawalah / Al-hiwalah (pengalihan piutang)
1. Pengertian akad hawalah/al-hiwalah (pengalihan piutang)
Definisi secara harfiah artinya pengalihan, pemindahan perubahan warna kulit
atau memikul sesuatu diatas pundak. Objek yang dialihkan dapat berupa utang atau
piuatang. Jenis akad ini pada dasarnya adalah akad tabaruu yang bertujuan untuk
saling tolong menolong untuk menggapai ridho Allah.
Jika yang dialihkan utang maka akad hawalah merupakan akad pengalihan
utang dari satu pihak yang berutang kepada pihak lain yang wajib menanggung
(membayar) utangnya. Transaksi seperti ini dapat terjadi dengan adanya saling
mempercayai antara para pihak yang bertransaksi. Secara teknis, pihak yang
berutang (muhil) meminta pihak lain (muhal’alaih) untuk membayarkan terlebih
dahulu utangnya pada pihak lain (muhal). Setelah akad hawalah dilakukan pihak
yang berutang (muhil) akan membayar kepada pihak yang telah menanggung
utangnya (muhal;alaih) atau hak penagihan berpindah menjadi hak muhal’alaih.
Dalam hal ini pihak yang mengambil alih utang harus yakin pihak yang diambil alih
utangnya dapat memenuhi kewajibannya dikemudian hari.
Jika yang dialihkan piutang maka akad hawalah merupakan akad pengalihan
piutang dari satu pihak yang berpiutang kepada pihak lain yang berkewajiban
menagih piutangnya. Secara teknis, pihak yang berpiutang (muhil) meminta pihak
lain untuk mengambil alih (muhal’alaih) piutang yang dimilikinya, dengan
pengambil alihan ini pihak yang berpiutang akan menerima uang dari yang
mengambil alih piutang, sementara pihak yang berutang (muhal) akan membayar
pada pihak yang telah mengambil alih piutang. Dalam hal ini akad hawalah dapat
membantu likuiditas bagi pihak yang mempunyai piutang. Sebaliknya pihak
mengambil alih piutang harus berhati-hati pada kredibilitas dan kemampuan pihak
yang berutang selain juga harus melihat keabsahan transaksinya.
Pihak yang menerima pengalihan utang atau piutang (muhal’alaih) dapat
memperoleh imbalan atau feelujrah atas jasanya (berupa kesediaan dan
komitmennya) dan besarnya ujrah harus ditetapkan pada saat akad secara jelas,
tetap, dan pasti.
2. Jenis akad hiwalah
Ditinjau dari segi objek akad, hiwalah dapat dibagi menjadi dua:
 Apabila yang dipindahkan itu merupakan hak menagih piutang, maka
pemindahan itu disebut hiwalah alhaqq (pemindahan hak)/anjak piutang.
 Apabila yang dipindahkan itu kewajiban untuk membayar utang, maka
pemindahan itu disebut hilawah ad-dain (pemindahan utang)
Ditinjau dari sisi persyaratan, hiwalah terbagi dua:
 Hawalah al-muqayyadoh (pemindahan bersyarat) adalah hawalah dimana muhil
adalah pihak yang berutang sekaligus berpiutang kepada muhal’alaih.
 Hawalah al-muthlaqah (pemindahan mutlak) adalah hawalah dimana muhil
adalah pihak yang berutang, tetapi tidak berpiutang kepada muhal’alaih.

3. Sumber hukum
Dasar hukum hiwalah adalah hadis Nabi Muhammad SAW sebagai
berikut:
“menunda pembayaran bagi orang yang mampu adalah kezaliman, dan jika
salah seorang kamu dialihkan (dihiwalahkan) kepada orang yang kaya yang
mampu, maka turutlah (menerima pengalihan tersebut)”. (HR.Bukhari
Muslim)
4. Rukun dan ketentuan syariah
Rukun hiwalah ada tiga, yaitu:
1) Pelaku yang terdiri atas :
a. Pihak yang berutang atau berpiutang atau muhil
b. Pihak yang berpiutang atau berutang atau muhal
c. Pihak pengambil alih utang atau piutang atau muhal’alaih
2) Objek akad
a. Adanya utang, atau
b. Adanya piutang
3) Ijab Kabul / serah terima

Ketentuan syariah, yaitu:


1. Pelaku
a) Baligh (dewasa) dan berakal sehat.
b) Berhak penuh untuk melakukan tindakan hukum dalam urusan
hartanya dan rela (rida) dengan pengalihan utang piutang tersebut.
c) Diketahui identitasnya.
2. Objek penjaminan (makful bihi)
a) Bias dilaksanakan oleh pihak yang mengambil alih utang atau
piutang
b) Harus merupakan utang/piutang mengikat, yang tidak mungkin
hapus kecuali setelah dibayar atau dibebaskan.
c) Harus jelas nilai, jumlah dan spesifikasinya
d) Tidak bertentangan dengan syariah
3. Ijab Kabul, adalah pernyataan dan ekspresi saling rida/rela diantara
pihak-pihak pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui
korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi modern.
Untuk masyarakat yang ingin menghindari riba dengan mengalihkan utang yang
timbul dari transaksi nonsyariah yang telah berjalan menjadi transaksi yang sesuai
syariah.
Syariah nasional mengeluarkan fatwa terkait dengan pengalihan utang ini dan
memberikan berbagai alternatif, yaitu:
Alternatif 1
7. Lks (lembaga keuangan syariah) memberikan qard kepada nasabah. Dengan qardh
tersebut nasabah melunasi kredit (utang) nya. Dengan demikian asset yang dibeli
dengan kredittersebut menjadi milik nasabah secara penuh.
8. Nasabah menjual asset dimaksud (1) kepada LKS dan dengan hasil penjualan itu
nasabah melunasi qardhnya kepada LKS.
9. LKS menjual secara murabahah, asset yang telah menjadi miliknya, tersebut kepada
nasabah dengan cara pembayaran secara cicilan/diangsur.
Alternatif 2
1. LKS memberikan qardh kepada nasabah dengan qardh tersebut nasabah melunasi kredit
(utang) nya dan dengan demikian, asset yang dibeli dengan kredit tersebut menjadi
milik nasabah secara penuh.
2. Nasabah menjual asset dimaksud angka kepada LKS, dan dengan hasil penjualan
dengan al-ijrah al muntahiya bit tamlik.
Alternatif 3
1. LKS membeli sebagian asset nasabah dengan seijin LKK (lembaga keuangan
konvensional), sehingga dengan demikian terjadilah syirkah al-milk antara LKS dan
nasabah terhadap asset tersebut.
2. Bagian asset yang dibeli oleh LKS sebagaimana dimaksud angka 1 adalah bagian asset
yang senilai dengan utang (sisa cicilan) nasabah kepada LKK.
3. LKS menjual murabahah bagian asset yang menjadi miliknya tersebut kepada nasabah,
dengan pembayaran secara cicilan.
Alternatif 4
1. Dalam pengurusan untuk memperoleh kepemilikan penuh atas asset, nasabah dapat
melakukan akad ijarah dengan LKS.
2. Apabila diperlukan, LKS dapat membantu menalangi kewajiban nasabah dengan
menggunakan prinsip al-qardh.
3. Akad ijarah sebagaimana dimaksudkan angka 1 tidak boleh dipersyaratkan dengan
(harus terpisah dari) pemberian talangan sebagaimana dimaksudkan angka 2.
7. Akad Rahn (peminjaman dengan jaminan)
1. pengertian akad Rahn
Rahn secara harfiah adalah tetap, dan jaminan. Secara istilah rahn adalah
apa yang telah disebut dengan barang jaminan, agunan, cagar atau tanggungan.
Rahn yaitu menahan barang sebagai jaminan atas utang. Akad rahn juga
diartikan sebagai sebuah perjanjian pinjaman dengan jaminan atau dengan
melakukan penahanan harta milik si peminjam sebagai jaminan atas pinjaman
yang diterimanya. Barang gadai baru dapat diserahkan kembali kepada pihak
yang berutang apabila utangnya sudah lunas.
Akad Rahn bertujuan agar pemberi pinjaman lebih mempercayai pihak
yang berutang. Pemeliharaan dan penyimpanan barang gadaian pada
hakekatnya adalah kewajiban pihak yang menggadaikan (rahin), namun dapat
juga dilakukan oleh pihak yang menerima barang gadai (murtahin) dan
biayanya harus ditanggung rahin. Besarnya biaya ini tidak boleh ditentukan
berdasarkan jumlah pinjaman.
Apabila barang gadaian dapat diambil manfaatnya, misalnya mobil
maka pihak yang menerima barang gadaian boleh memanfaatkannya, misalnya
mobil maka pihak yang menerima barang gadaian berkewajiban memelihara
barang gadaian.
Untuk barang gadai berupa emas tentu tidak ada biaya pemeliharaan,
yang ada adalah biaya penyimpangan. Penentuan besarnya biaya penyimpangan
dilakukan dengan akad ijarah.
Pada saat jatuh tempo yang berutang berkewajiban untuk melunasi
utangnya. Apabila ia tidak dapat melunasinya aka barang gadaian dijual
kemudian hasil penjualan bersih digunakan untuk melunasi utang dan biaya
pemeliharaan yang terutang. Apabila ada kelebihan antara harga jual barang
gadaian dengan besarnya uang muka selisihnya diserahkan kepada yang
berutang tetapi apabila ada kekurangan maka yang berutang tetap harus
membayar sisa utangnya tersebut.
Dalam rahn barang gadaian tidak otomatis menjadi milik pihak yang
menerima gadai (pihak yang member pinjaman) sebagai pengganti piutangnya.
Dengan kata lain fungsi rahn ditangan murtahin(pemberi utang) hanya
berfungsi sebagai jaminan utang dari rahin (orang rahn yang berutang). Namun
barang gadaian tetap milik orang yang berutang.

Skema Rahn

Pemberi utang

Penerima barang/ Pemberi


murtahin barang/peminjam/
rahin

Keterangan:
1. pemberi pinjaman menyepakati akad rahn/rahntajlisi dengan peminjam
2. pemberi pinjaman menerima barang/surat berharga atas barang (jika fidusia)
3. penerima barang-barang mengembalikan barang yang dijaminkan ketika akad selesai

Rahn tajlisi
Selain akad rahn tahun 2008 MUI juga mengeluarkan fatwa tentang rahn tajlisi
(fidusia). Fatwa ini dikeluarkan dalam rangka mengurangi kendala yang timbul sehubungan
masalah jaminan khususnya dalam masalah pemeliharaan dan pemanfaatan jaminan.
Fidusia sendiri didefinisikan sebagai: [engalihan hak kepemilikan suatu benda atas
dasar kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan tersebut
tetap dalam kepercayaan dengan ketentuan bahwa benda yang hak kepemilikannya dialihkan
tersebut tetap dalam penguasaan pemilik benda. (UU. No.42/1999). Fidusia sendiri dapat
diterapkan untuk barang bergerak dan barang tidak bergera, bail berwujud maupun tidak
berwujud, sehingga menjadi lebih luas cakupannya. Jika perbankan syariah menggunakan akad
rahn yang ada, maka berarti yang melakukan penyimpangan jaminan adalah bank syariah,
tetapi dengan rahn tajlisi (fidusia) maka pihak yang menggadaikan dapat memanfaatkan barang
yang dijamin serta menanggung biaya pemeliharaan.
Agar sesuai dengan syariah, maka akad rahn tajlisi harus memenuhi hal-hal sebagai
berikut (1) biaya pemeliharaan harus ditanggung oleh pihak yang menggadaikan, namun
jumlah biaya pemeliharaan tidak boleh dihubungkan dengan besarnya pembiayaan, (2) pihak
penerima gadai dapat menyimpan bukti kepemilikan sedangkan barang yang digadaikan dapat
digunakan pihak yang menggadaikan dengan izin dari penerima gadai, (3) jika terjadi eksekusi
jaminan, maka dapat dijual oleh pihak penerima gadai tetapi harus denganizin dari pihak yang
menggadaikan jaminan, maka dapat dijual.
Berdasarkan persyaratan tersebut maka rahn tajlisi ini sama dengan rahn biasa, yang
membedakan hanya masalah pemanfaatan dan pemeliharaan saja. Oleh sebab itu dasar hukum
dan ketentuan syariah akan sama dengan akad rahn.
2. Dasar hukum
1. Al-Quran
“jika kamu dalam perjalanan (dalam bermuamalah (dan bermuamalah tidak
secara tunai), sedang kamu tidak memperoleh seorang penulis, maka
hendaklah barang tanggungan yang dipegang oleh yang berpiutang”. (QS
2:283)
2. As-sunah
“dari aisyah r.a bahwa rasullulah pernah membeli makanan dengan berutang
dari seorang yahudi dan Nabi menggadaikan sebuah baju besi kepadanya
“.(HR.Bukhari Nasa@i dan ibnu Majah)
“tidak terlepas kepemilikan barang gadai dari pemilik yang
menggadaikannya. Ia memperoleh manfaat menanggungrisikonya”. (HR.Al
syafi’I, aldaraquthni dan ibnu Majah dari Abu Hurairah)
“tunggangan (kendaraan) yang digadaikan boleh dianaiki dengan
menanggung biayanya dan binatang ternak yang digadaikan dapat diperah
susunya dengan menanggung biaya perawatan dan pemeliharaan”.
(HR.Jamaah kecuali Muslim dan Al Nasa’i).
3. Rukun dan ketentuan syariah
Rukun al-rahn ada empat:
1. Pelaku, terdiri atas: pihak yang menggadaikan (rahin) dan pihak yang
menerima gadai (martahin).
2. Objek akad berrupa barang yang digadaikan (marhun) dan utang (marhun
bih. Syarat utang adalah wajib dikembalikan oleh debitur kepada kreditor,
utang itu dapat dilunasi dengan agunan tersebut, dan utang itu harus jelas
(harus spesifik).
3. Ijab Kabul/serah terima.
Ketentuan syariah, yaitu:
1. Pelaku, harus cakap hukum dan baligh.
2. Obje yang digadaikan (marhun)
a. Barang gadai marhun(marhun)
1). Dapat dijual dan nilainya seimbang
2). Harus bernilai dan dapat dimanfaatkan
3). Harus jelas dan dapat ditentukan secara spesifik
4). Tidak terkait dengan orang lain (dalam hal kepemilikan)
b. utang (mahrun bih), nilai utang harus jelas demikian juga tanggal jatuh
temponya.
3. ijab Kabul adalah pernyataan dan ekspresisaling ridha/rela diantara pihak
pihak pelaku akad yang dilakukan secara variable, tertulis, melalui
korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi modern.
4. perlakuan akuntansi Rahn
Bagi pihak yang menerima gadai (murtahin)
Pada saat menyerahkan gadai tidak dijurnal tetapi membuat tanda terima
atas barang.
1. Pada saat menyerahkan uang pinjaman
Jurnal:
Dr.piutang xxx
Kr.kas xxx
2. Pada saat menerina uang untuk biaya pemeliharaan dan penyimpanan.
Jurnal:
Dr.kas xxx
Kr.pendapatan xxx
3. Pada saat mengeluarkan biaya untuk biaya pemeliharaan dan
penyimpangan.
Jurnal:
Dr.beban xxx
Kr.kas xxx
4. Pada saat pengeluaran uang pinjaman, barang gadai dikembalikan
dengan membuat tanda serah terima.
Jurnal:
Dr.kas xxx
Kr.piutang xxx
5. Jika pada saat jatuh tempo, utang tidak dapat dilunasi dan kemudian
barang gadai dijual oleh pihak yang menggadaikan.
Penjualan barang gadai, jika nilainya sama dengan piutang.
Jurnal:
Dr.kas xxx
Kr.piutang xxx
Jika kurang, maka piutangnya masih tersisa sejumlah selisih antara
nilai penjualan dengan saldo piutang.
5.Bagi pihak yang menggadaikan
Pada saat menyerahkan asset tidak dijurnal, tetapi menerima tanda terima
atas penyerahan asset serta membuat penjelasan atas catatan akuntansi atas
barang yang digadaikan
1. Pada saat menerima uang pinjaman
Jurnal:
Dr.kas xxx
Kr.piutang xxx
2. Bayar uang untuk biaya pemeliharaan dan penyimpanan
Jurnal:
Dr.beban xxx
Kr.kas xxx
3. Ketika dilakukan pelunasan atas utang
Jurnal:
Dr.utang xxx
Kr.kas xxx
4. Jika pada saat jatuh tempo, utang tidak dapat dilunasi sehingga barang
gadai dijual pada saat penjualan barang gadai
Jurnal:
Dr.kas xxx
Dr.akumulasi penyusutan (apabila asset tetap) xxx
Dr.kerugian (apabila rugi) xxx
Kr.keuntungan(apabila untung) xxx
Kr.aset xxx
Pelunasan atas barang yang dijual pihak yang menggadai
Jurnal:
Dr.utang xxx
Kr.aset xxx
Jika masih ada kekurangan pembayaran utang setelah penjualan
barang gadi tersebut, maka berarti pihak yag menggadaikan masih
memiliki sald utang kepada pihak yang menerima gadai.