Anda di halaman 1dari 22

TUGAS INDIVIDU

Membuat Susunan dan Aplikasi System Organisasi Managemen Organisasi IBI


Sebagai Payung Hukum Profesi Bidan dan Managemen Pelayanan Kebidanan di
Tempat Anda Bekerja

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Organisasi Manajemen Dalam Pelayanan

Kebidanan

NAMA : IZZATUSSADIYAH

NPM : 195401426305

UNIVERSITAS NASIONAL

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

JAKARTA 2019/2020
A. Susunan Sistem Organisasi IBI
Ikatan Bidan Indonesia memiliki visi Ikatan Bidan Indonesia mewujudkan Bidan
profesional berstandar Global. visi dijabarkan dalam misi meningkatkan kekuatan
organisasi, meningkatkan peran IBI dalam meningkatkan mutu pendidikan bidan,
meningkatkan peran IBI dalam meningkatkan mutu pelayanan, meningkatkan
kesejahteraan anggota, mewujudkan kerja sama dengan jejaring kerja.
Struktur organisasi IBI terdiri dari pengurus pusat IBI yang berada di Jakarta,
Pengurus Daerah berada di 33 Propinsi, Pengurus cabang di 495 kabupaten/kota, dan pengurus
ranting di 2045 kecamatan/unit kerja. Untuk pembinaan individu anggota di mulai dari
tingkat daerah (propinsi), cabang hingga ranting dengan pembinaan langsung melalui
pembentukan standar pelayanan bidan mandiri (Bidan DELIMA), dan pembinaan
tidak langsung misalnya dengan penulisan karya ilmiah dalam majalah Bidan serta
melakukan kegiatan ilmiah lainnya berupa seminar, lokakarya, dan pelatihan-pelatihan.

1. Pengembangan pendidikan dan pelatihan


Bidan melalui organisasi profesi mendukung pendirian Asossiasi Institusi
Pedidikan Kebidanan Indonesia menjaga mutu pendidikan, Pembentukan komite
pendidikan ( Komite Uji Kompetensi , komite Standar Profesi , Komite Standar
Pendidikan dan Pelayanan). Standarisasi Pendidikan Bidan, Akreditasi
Pendidikan Bidan, berbagai pelatihan seperti penanganan asfeksia dan metode kanguru, APN
dan APK, kontrasepsi update, ABPK dll , Seminar dan Lokakarya tentang KIA/
KB dan Kespro
2. Pengembangan pelayanan
a. Bidan Delima
Standarisasi pelayanan BPS. 15 propinsi, 196 kab/ kota, jumlah bidan delima
8397, jumlah fasilitator 1602 (dana dari USAID)
b. Pos Bakti Bidan
Bidan beserta masyarakat yang ada di lingkungan bidan meningkatkan kesejahteraan
ibu dan anak. Tahun 2009: Jumlah proposal 159. Yang mendapatkan awards :
MDGs 4 - 5 bidan
c. Pelayanan Tanggap Darurat, misalnya
 Relawan bidan 124 orang
 Pelayanan KIA/ KB di camp pengungsi
 Pelayanan KIA/ KB relokasi pengungsi
 Pelatihan Kespro dan KKG untuk IBI dan Poltekes NAD (Dana dari Ford
Foundation)
3. Pengabdian masyarakat, mobilisasi masyarakat dan Pemberdayaan masyarakat
Pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh bidan seperti melakukan Bulan Bakti
IBI
HUT IBI Pelayanan gratis (BPS), Pelayanan KIA/KB (IBI,Dinkes &
BKKBN), pelayaman ibu asuh Pelayanan gratis untuk ibu tidak mampu di BPS (10 % dari
jumlah pasien) dan kakak asuh magang bidan-bidan yunior Program Mellenium
Challenge corporation Indonesia/ Immunization program (MCCI/ IP) dengan
kegiatan pelatihan imunisasi, mobilisasi masyarakat, pelayanan imunisasi (lokasi :
7 propinsi, 67 kabupaten)
SUSUNAN PENGURUS PUSAT IKATAN BIDAN INDONESIA

PENGURUS HARIAN
Ketua Umum : Dr. Emi Nurjasmi, M.Kes
Sekretaris : Dr. Ade Jubaedah, SSiT, MM, MKM
Jenderal
Ketua I : Nunik Endang Sunarsih, SST, SH, MSc
Ketua II : Yetty Leoni Irawan, MSc
Bendahara : Heru Herdiawati, SST, SH, MH

BIDANG-BIDANG
Tata Usaha dan : Sri Setiyati
Rumah Tangga
Humas : Ida Ayu Citarasmi, SSiT, MKM
Advokasi dan : Laurensia Lawintono, MSc
Hub. Luar
Negeri

Organisasi : Sri Poerwaningsih, SST, SKM, M.Kes


Hukum : Herlyssa, SST, MKM
Penelitian dan : Dra. Maryanah, AmKeb, M.Kes
Pengembangan

Pendidikan : Dr. Indra Supradewi, MKM


Pelatihan : Tuti Sukaeti, SPd, SST, M. Kes
Pelayanan : Siti Romlah, MKM

Administrasi : Sri Martini


Keuangan
Fund Rising : Ratna Chairani, SST, M. Kes

Ketua Yayasan : Asniah, SST, M. Kes


Buah Delima

Majelis : Nur Ainy Madjid, SKM


Pertimbangan
Organisasi
Tuminah Wiratnoko, SIP, MM
Majelis : Aan Andanawaty, SST, MM. Kes
Pertimbangan Etik
Bidan

Tim Teknis Pengurus Pusat Ikatan Bidan Indonesia

Nama-nama Tim Teknis PPIBI

1. Grietje U. Masyitha, SST, SKM, M. Kes

2. Wasnidar, M. Kes

3. Sugiyati, SKM, MSi

4. Endang Sundari, SST

5. Fitriani, SST, MHKes

6. Bintang Petralina, SST, M. Keb

7. Erika Yulita, SST, M. Keb

8. Juli Oktalia, MA

9. Zulvi Wiyanti, SSiT, M.Kes

10. Mitra Kadarsih, M. Keb

11. Kusuma Dini, AmKeb, SKM, MKM

12. Herlina Mansur, MKM

13. Marlynda Happy NS, S.ST, MKM


SUSUNAN PENGURUS PUSAT IKATAN BIDAN INDONESIA

JAWA BARAT

PENGURUS HARIAN

Ketua : Hj.Mien Ratminah.,Am.Keb.,SKM

Wakil Ketua 1 : Hj.Titi Murdiyati.,AMK.,S.ST.,SH.,M.MKes

Wakil Ketua 2 : Eva Riantini .,Am.Keb.,S.Sos.,M.MKes

Sekertaris : Dra. Hj. Lyet Ratnasih, Dipl.Mid

BIDANG-BIDANG

Tata Usaha & Rumah Tangga : Lestari Hendrowati, S.ST

Tata Usaha & Rumah Tangga : Yayah, Am.Keb.,SKM

Humas & Advokasi : Ida Jamilah, Am.Keb.,SKM

Humas & Advokasi : Saurmian.,S.St.,M.MKes

Hukum : Dewi Purwaningsih, S.ST.,M.Kes

Penelitian dan Pengembangan : Yanti Herawati, M.Keb

Penelitian dan Pengembangan : SinarPertiwi, S.ST.,MHLth & Int Dev

Pendidikan : Desi Trisiani, SKM.,M.Kes

Ine Hermina ,Am.Keb.,SKM.,M.Kes

Pelayanan : Ade Ana Asmara.,S.ST.,MPH

Pelatihan : Suprapti.,S.ST
Setya Aryeni, S.ST.,SKM.,M.MKes

Pelayanan : Dewi, BSc

Administrasi Keuangan : Lili Lusiyanti, SKM.,M.MKes


SUSUNAN PENGURUS IKATAN BIDAN INDONESIA WILAYAH RANTING TIMUR
PONDOK GEDE KOTA BEKASI JAWA BARAT

PEMBINA
Bidan Hj. Nani S, Am.Keb, SKM.MKes
Bidan Sulasmi, SST

KETUA
Bidan Sri Herawati, Am.Keb

WAKIL KETUA
Bidan Ngadeyemi Amir Amir, Am.Keb

SEKERTARIS
HUMAS SIE MPA/MPE TIM TEKNIS
Bidan Lastria, Am.Keb
Bidan Novia Anyetty, Am.Keb Bidan Yuniar, Am.keb Bidan Siti Fajar
Bidan Rokhayati, Am.Keb
Sag Bidan Maryani Bidan Magdalena
Bidan Neneng Hasanah, Str.Keb Rumbo
Bidan Arny Raymiati, Am.Keb
BENDAHARA
Bidan Nina S, Am.Keb
Bidan Romauli

SIE PENDIDIKAN SIE LOGISTIK


SIE ORGANISASI
Bidan Elvi Eliyani, Am.Keb Bidan Siti Asiyah
Bidan Lilis, Am/Keb
Bidan Royan Chairiyah, S.SiT.Mkes Bidan Lisani
Bidan Nining. SST
Bidan Titin Nurhayati
MANAJEMEN PELAYANAN KEBIDANAN RUMAH SAKIT

1. Pengertian Manajemen
Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan
dalam menerapkan metode pemecahan masalah secarasistematis mulai
dari pengkajian, analisis data didagnosis kebidanan, perencanaan, pelaksanaan
dan evaluasi Menurut Buku 50 Tahun IBI 2007.
Menurut Depkes RI 2005 Manajemen Kebidanan adalah metode dan
pendekatan pemecahan masalah ibu dan anak yang khusus dilakukan oleh bidan
dalam memberikan asuhan kebidanan kepada individu, keluarga dan masyarakat.
Helen Varney (1997) Manajemen kebidanan adalah proses pemecahan
masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran
dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuan-penemuan, keteranpilan dalam
rangkaian tahapan yang logis untuk pengambilan suatu keputusan berfokus pada
klien.
Proses pelaksanaan pemberian pelayanan kebidanan untuk memberikan
asuhan kebidanan kepada klien dengan tujuan menciptakan kesejahteraan bagi
ibu dan anak,kepuasan pelanggan dan kepuasan bidan sebagai provider.
 Langkah-langkah dalam manajemen pelayanan kebidanan:
Langkah I : Pengumpulan Data
Pengumpulan Data Dasar adalah Pegumpulan informasi yang akurat dan
lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien.
Anamnesa
a. Biodata (Nama, umur, alamat, pekerjaan, agama, pendidikan)
b. Riwayat Menstruasi (menarche, siklus menstruasi, lamanya, banyaknya
darah yang keluar, aliran darah yang keluar,mentruasi terakhir.
c. Riwayat perkawinan (kawin brp kali, usia kawin pertama kali)
d. Riwayat Kesehatan (Gambaran penyakit lalu, riwayat penyakit keluarga,
riwayat kehamilan sekarang )
e. Riwayat Kehamilan, Persalinan & Nifas
1) Jumlah kehamilan dan kelahiran : G (gravid), P (para), A (abortus), H (hidup).
2) Riwayat persalinan yaitu jarak antara dua kelahiran, tempat melahirkan,
lamanya melahirkan, cara melahirkan.
3) Masalah/gangguan kesehatan yang timbul sewaktu hamil dan melahirkan,
missal : preeklampsi, infeksi, dll)
f. Bio-psiko-sosial spiritual
g. Pengetahuan Klien
h. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital
i. Pemeriksaan khusus (Inspeksi, Palpasi, Auskultasi, Perkusi)
j. Pemeriksaan penunjang (Laboratorium, catatan terbaru dan sebelumnya)

Langkah II : Interpretasi Data Dasar


Dengan melakukan identifikasi terhadap diagnosa atau masalah berdasarkan
interpretasi atas data-data yang telah dikumpulkan. Diagnosa kebidanan adalah
diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup praktek kebidanan
dan memenuhi Standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
Standar Nomenklatur Diagnosa Kebidanan :
a. Diakui dan telah disyahkan oleh profesi
b. Berhubungan langsung dengan praktek kebidanan
c. Memiliki ciri khas kebidanan
d. Didukung oleh clinical judgement dalam praktek kebidanan
e. Dapat diselesaikan dengan pendekatan manajemen kebidanan
Langkah III: Mengidentifkasi Diagnosa atau Masalah Potensial
Langkah ini berdasarkan diagnosis atau masalah yang sudah diidentifikasi.
Bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial, tidak hanya
merumuskan masalah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan
antisipasi agar masalah atau diagnosis potensial tidak terjadi. Merupakan langkah
yang bersifat antisipasi yang rasional atau logis.
Langkah IV: Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan
Mengidentifikasi dan menetapkan kebutuhan yang memerlukan penanganan
segera untuk Melakukan Konsultasi, Kolaborasi dengan Tenaga Kesehatan lain
berdasarkan kondisi Klien.

Langkah V: Merencanakan Asuhan


Merencanakan Asuhan yang menyeluruh semua keputusan yang
dikembangkan dalam asuhan menyeluruh ini harus rasional dan benar-benar valid
berdasarkan pengetahuan dan teori yang up to date serta sesuai dengan asumsi
tentang apa yang akan dilakukan klien.

Langkah VI: Pelaksanaan Langsung Asuhan dengan Efisien dan Aman.


Dalam situasi di mana bidan berkolaborasi dengan dokter untuk menangani
klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan
bagi klien adalah tetap bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan
bersama yang menyeluruh tersebut. Manajemen yang efisien akan menyangkut
waktu dan biaya serta meningkatkan mutu dan asuhan klien.

Langkah VII: Evaluasi.


Evaluasi ke efektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi : pemenuhan
kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar telah terpenuhi sesuai kebutuhan
sebagaimana telah diidentifikasi dalam diagnose dan masalah. Rencana tersebut dapat
dianggap efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaannya.

2. Langkah – langkah Manajemen Pelayanan Kebidanan dibagi 3 yaitu :


P1 ( Perencanaan )
P2 ( Pengorganisasian )
P3 (Penggerakan, Pelaksanaan, Pengawasan dan Pengendalian)
1) P1 ( PERENCANAAN )
Perencanaan adalah proses untuk merumuskan masalah kegiatan,
menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan
kegiatan yang paling pokok dan menyusun langkah-langkah untuk mencapai
tujuan yang telah ditetapkan ( landasan dasar ).
Contoh :
- Rencana Pelatighan untuk kader
- Jadwal Pelayanan ANC di Posyandu, Puskesmas
2) P2 ( PENGORGANISASIAN )
Pengorganisasian adalah suatu langkah untuk menetapkan
menggolong-golongkan, dan mengatur berbagai kegiatan, penetapan tugas-
tugas dan wewenang seseorang dan pendelegasian wewenang dalam rangka
pencapaian tujuan layanan kebidanan.
Inti dari pengorganisasian adalah merupakan alat untuk memadukan
atau sinkronisasi semua kegiatan yang berasfek personil, finansial, material
dan tata cara dalam rangka mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang telah
di tetapkan.
Contoh : P2 (Pelaksanaan )
- Puskesmas
- Puskesmas Pembantu
- Polindes dan Pembantu
- Balai Desa

3) P3 (Penggerakan dan Pelaksanaan, Pengawasan dan Pengendalian )


Penggerakan dan Pelaksanaan adalah suatu usaha untuk menciptakan
iklim kerja sama di antara pelaksanaan program pelayanan kebidanan
sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efisien.
Fungsi manajemen ini lebih menekankan bagaimana seseorang
manajer pelayanan kebidanan mengarahkan dan menggerakkan semua sumber
daya yang ada untuk mencapai tujuan pelayanan kebidanan yang telah di
sepakati.
Contoh :
- Pencatatan dan pelaporan ( SP2TP )
- Supervisi
- Stratifikasi
- Survey

3. Perencanaan dalam Manajemen Pelayanan Kebidanan


Seorang Bidan haruslah berfikir logikatik, anallitis, sistematik,teruji secara
empiris, memenuhi sifat pengetahuan umum yaitu : objektif, umum dan memiliki
metode ilmiah. Penerapan di dalam Manajemen Pelayanan Kebidanan.
Unsur- unsur dalam perencanaan Pelayanan Kebidanan meliputi :
1. IN – PUT
Merujuk pada sumber-sumber yang diperlukan untuk melaksanakan aktifitas
yang meliputi :
 Man : Tenaga yang di manfaatkan.
Contoh : Staf atau Bidan yang kompeten
 Money : Anggaran yang di butuhkan atau dana untuk program
 Material : Bakauataumateri ( sarana dan prasarana ) yang dibutuhkan
 Metode : Cara yang di pergunakan dalam bekerja atau prosedur kerja
 Minute / Time : Jangka waktu pelaksanaan kegiatan program
 Market : Pasar dan pemasaran atau sarana program
2. PROSES
Memonitor tugas atau kegiatan yang dilaksanakan. Meliputi Manajemen
Operasional dan Manajemen asuhan.
 Perencanaan ( P1 )
 Pengorganisasian ( P2 )
 Penggerakan dan pelaksanaan, Pengawasan dan Pengendalian ( P3 )

3. OUT – PUT
Cakupan Kegiatan Program :
 Jumlah kelompok masyarakat yang sudah menerima layanan
kebidanan (memerator), di bandingkan dengan jumlah kelompok masyarakat
yang menjadi sasaran program kebidanan. (Denominator)
 Pelayanan yang diberikan sesuai dengan standar pelayanan kebidanan (Mulai
dari KIE, Asuhan Kebidanan, dsb). Contoh : Untuk BPS : Out – Putnya
adalah
 Kesejahteraan ibu dan janin
 Kepuasan Pelanggan
 Kepuasan bidan sebagai provider

4. EFFECT
Perubahan pengetahuan, sikap, dan prilaku masyarakat yang diukur dengan
peran serta masyarakat untuk memanfaatkan pelayanan kebidanan yang ada di
sekitarnya ( Posyandu, BPS, Puskesmas dsb ) yang tersedia.

5. OUT – COME ( IMPACT )


Di pergunakan untuk menilai perubahan atau dampak ( impact ) suatu
program, perkembangan jangka panjang termasuk perubahan status kesehatan
masyarakat.
MANAJEMEN PELAYANAN KEBIDANAN DI RUMAH SAKIT DI ERA
PROGRAM PEMERINTAH/BPJS
1. Pemeriksaan Kehamilan
Pemeriksaan Kehamilan (Ante Natal Care) yang dibiayai oleh program
pemerintah/BPJS mengacu pada buku pedoman KIA, dimana selama hamil ibu
hamil diperiksa sebanyak 4 kali disertai konseling KB dengan frekuensi :
 1 kali pada triwulan pertama
 1 kali pada triwulan kedua
 2 kali pada triwulan ketiga
Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi di atas pada tiap-
tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini. Penyediaan obat- obatan, reagensia
dan bahan yang habis pakai diperuntukkan bagi pelayanan kehamilan, persalinan
dan nifas dan KB pasca salin serta komplikasi yang mencakup seluruh sasaran
ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir menjadi tanggung jawab Pemda atau
Dinas Kesehatan Kab/Kota.
Pada Jaminan Persalinan (Jampersal) dijamin penatalaksanaan komplikasi
kehamilan dirumah sakit antara lain :
a. Penatalaksanaan abortus imminen, abortus inkompletus dan missed
abortion
b. Penatalaksanaan mola hidatidosa
c. Penatalaksanaan hiperemesis gravidarum
d. Penanganan kehamilan Ektopik terganggu
e. Hipertensi dalam kehamilan, pre eklamsi dan eklamsia
f. Perdarahan pada masa kehamilan
g. Decompensatio cordis pada kehamilan
h. Pertumbuhan janin terhambat (PJT) : tinggi fundus tidak sesuai dengan
usia kehamilan.
i. Penyakit lain sebagai komplikasi kehamilan yang mengancam nyawa
2. Penatalaksanaan Persalinan
a. Persalinan per vaginam
1) Persalinan per vaginam normal
2) Persalinan per vaginam melalui induksi
3) Persalinan per vaginam dengan tindakan
4) Persalinan per vaginam dengan komplikasi
5) Persalinan per vaginam dengan kondisi bayi kembar
6) Persalinan per vaginam dengan induksi, dengan tindakan, dengan
komplikasi serta pada bayi kembar dilakukan di Puskesmas PONED
dan/atau RS.
b. Persalinan per abdominam
1) Seksio sesarea elektif (terencana), atas indikasi medis
2) Seksio sesarea segera (emergensi), atas indikasi medis
3) Seksio sesarea dengan komplikasi (perdarahan, robekan jalan lahir,
perlukaan jaringan sekitar rahim, dan sesarean histerektomi)
4) Penatalaksanaan komplikasi persalinan
5) Perdarahan
6) Eklampsia
7) Retensio plasenta
8) Penyulit pada persalinan
9) Infeksi
10) Penyakit lain yang mengancam keselamatan ibu bersalin
c. Penatalaksanaan bayi baru lahir
1) Perawatan esensial neonatus atau bayi baru lahir
2) Penatalaksanaan bayi baru lahir dengan komplikasi (asfiksia, BBLR,
infeksi, ikterus, kejang, RDS)
d. Lama hari inap minimal di fasilitas kesehatan
1) Persalinan normal dirawat inap minimal 1 (satu) hari
2) Persalinan per vaginam dengan tindakan dirawat inap minimal 2 hari
3) Persalinan dengan penyulit post section-caesaria dirawat inap
minimal 3hari
3. Pelayanan Nifas (Post Natal Care)
Pelayanan nifas sesuai standar yang dibiayai oleh program ini
ditujukan bagi ibu dan bayi baru lahir yang meliputi pelayanan ibu nifas,
pelayanan bayi baru lahir, dan pelayanan KB pasca salin. Pelayanan nifas
diintegrasikan antara pelayanan ibu nifas, bayi baru lahir dan pelayanan
KB pasca salin. Tata laksana asuhan PNC merupakan pelayanan ibu dan
bayi baru lahir sesuai dengan Buku Pedoman KIA. Pelayanan bayi baru
lahir dilakukan pada saat lahir dan kunjungan neo natal. Pelayanan ibu
nifas dan bayi baru lahir dilaksanakan 4 kali, masing-masing 1 kali pada :
a. Kunjungan pertama untuk Kf1 dan KN1 ( 6 jam s/d hari ke 2)
b. Kunjungan kedua untuk KN2 (hari ke 3 s/d hari ke 7
c. Kunjungan ketiga untuk Kf2 dan KN3 ( hari ke 8 s/d hari ke 28)
d. Kunjungan keempat untuk Kf3 ( hari ke 29 s/d hari ke 42)
Pada Jaminan Persalinan dijamin penatalaksanaan komplikasi nifas antara
lain:
 Perdarahan
 Sepsis
 Asfiksia
 Ikterus
 BBLR
 Kejang
 Abses/infeksi diakibatkan oleh komplikasi pemasangan alat
kontrasepsi
 Penyakit lain yang mengancam keselamatan ibu dan bayi baru lahir
sebagaikomplikasi persalinan.
4. Keluarga Berencana (KB)
a. Jenis pelayanan KB
 Kontrasepsi mantap ( Kontap)
 IUD, Implan
 Suntik
b. Tata laksana pelayanan KB dan ketersediaan alokon sebagai upaya
untuk pengendalian jumlah penduduk dan keterkaitannya dengan
Jampersal, maka pelayanan KB pada masa nifas perlu mendapatkan
perhatian. Tata laksana pelayanan KB mengacu pada Pedoman
Pelayanan KB dan KIA dan diarahkan pada Metode Kontrasepsi
Jangka Panjang (MKJP) atau Kontrasepsi Mantap (Kontap) sedangkan
ketersediaan alat dan obat kontrasepsi (alokon) KB ditempuh dengan
prosedur sebagai berikut :
1) Pelayanan KB di fasilitas kesehatan dasar :
 Alat dan obat kontrasepsi (alokon) disediakan oleh BKKBN
terdiri dari IUD, Implan dan suntik.
 Puskesmas membuat rencana kebutuhan alat dan obat kontrasepsi
yang diperlukan untuk pelayanan KB di Puskesmas maupun
dokter/bidan praktik mandiri yang ikut program Jampersal.
Selanjutnya daftar kebutuhan tersebut dikirimkan ke SKPD yang
mengelola program keluarga berencana di Kabupaten/Kota
setempat.
 Dokter dan bidan praktik mandiri yang ikut program Jampersal
membuat rencana kebutuhan alokon untuk pelayanan KB dan
kemudian diajukan permintaan ke Puskesmas yang ada di
wilayahnya.
 Rumah sakit setelah mendapatkan alokon dari SKPD
Kabupaten/Kota yang mengelola program KB selanjutnya
mendistribusikan alokon ke dokter rumah sakit yang ikut program
Jampersal sesuai usulannya.
 Besaran jasa pelayanan KB diklaimkan pada program Jampersal.
2) Pelayanan KB di fasilitas kesehatan lanjutan :
 Alat dan obat kontrasepsi (alokon) disediakan oleh BKKBN
 Rumah sakit yang melayani Jampersal membuat rencana
kebutuhan alat dan obat kontrasepsi yang diperlukan untuk
pelayanan KB di rumah sakit tersebut dan selanjutnya daftar
kebutuhan tersebut dikirimkan ke SKPD yang mengelola
program KB di Kabupaten/Kota setempat.
 Jasa pelayanan KB di pelayanan kesehatan lanjutan menjadi
bagian dari penerimaan menurut tarif INA CBG’s.

Manajemen Organisasi IBI Sebagai Payung Hukum Profesi Bidan

Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang kompetensinya memberikan


pelayanan kebidanan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan.
Pelayanan kebidanan diarahkan untuk mewujudkan kesehatan keluarga utamanya ibu
dan anak.

Bidan dapat berpraktik di rumah sakit, puskesmas, klinik dan unit-unit


pelayanan kesehatan lainnya. Jika bidan hendak melakukan praktik, maka yang
bersangkutan harus memiliki kualifikasi agar mendapatkan lisensi untuk praktik.
Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1464 tahun 2010 mengatur
tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan.Untuk menyelenggarakan praktik
mandiri, bidan wajib memiliki persyaratan khusus antara lain pendidikan minimal
Diploma III kebidanan, terdaftar melalui Surat Tanda Register (STR), memiliki Surat
Ijin Praktek Bidan (SIPB), mempunyai tempat praktik, yang secara sah dan legal
digunakan untuk menjalankan praktik kebidanan mandiri sesuai dengan kewenangan
dan kompetensi bidan. Praktik Bidan memiliki kewenangan yang meliputi pelayanan
kesehatan ibu, pelayanan kesehatan anak, dan pelayanan kesehatan reproduksi
perempuan dan keluarga berencana.
Ketika bidan dalam melakukan upaya kesehatan tidak sesuai kewenangannya,
maka berisiko terjadi penyimpangan kewenangan. Risiko tersebut dapat berupa
pelanggaran terhadap hak pasien. Pelanggaran hak pasien akan berakibat
terancamnya keselamatan pasien, dimana tidak adanya perlindungan hukum bagi
pasien. Oleh karena itu untuk mencegah agar tidak terjadi pelanggaran tersebut maka
bidan praktik mandiri perlu ditingkatkan mutu pelayanannya.
Dalam hal peningkatan mutu ini tentu diperlukan pengawasan oleh berbagai
pihak. Salah satu pihak tersebut yang paling utama yaitu organisasi profesi bidan
(Ikatan Bidan Indonesia) sebagai pembuat standart profesi bidan dan standart layanan
kebidanan professional.
Organisasi profesi Ikatan Bidan Indonesia (IBI) berfungsi sebagai pengontrol bagi
anggotanya dan bertujuan menjaga, mengendalikan mutu pelayanan dan pengabdian
profesi bidan. IBI melakukan upaya dengan mempertahankan dan menjaga mutu
profesionalisme guna memberi perlindungan bagi masyarakat sebagai penerima jasa
dan bidan sendiri sebagai pemberi jasa pelayanan. Dalam rangka melindungi
masyarakat terhadap pelayanan kebidanan yang berkualitas, IBI melakukan penilaian
kemampuan keilmuan dan ketrampilan (kompetensi). Disamping itu IBI juga menilai
kepatuhan setiap bidan terhadap kode etik profesi dan kesanggupan melakukan
praktik mandiri.
Bidan selaku profesi yang mengemban amanah akan kesehatan ibu dan anak,
mempunyai kedudukan yang bermutu professional dalam peningkatan pelayanan
kesehatan. Namun demikian peran dan fungsi organisasi profesi bidan belum mampu
mengontrol yang baik dalam praktik pelayanan kebidanan. Dalam praktiknya bidan
praktik mandiri belum sesuai dengan ketentuan yang berlaku, sehingga membutuhkan
pengawasan oleh organisasi profesi bidan (IBI) perlu dioptimalkan.
Contoh Kasus di RS X:

Seorang Ibu Primigravida dibawa oleh suaminya ke igd Rumah sakit X untuk
bersalin, pasien tsb belum pernah melakukan anc di rs . mengatakan sudah cukup
bulan. Bidan melakukan inform consent dan anamnesa sebelum melakukan tindakan.
Saat datang pasien mengatakan lebih dari 24 jam mengalami mules dan ibu merasa
keluar air air seperti BAK dan saat ditanya oleh petugas rs pasien tersebut pasien
pindahan dari daerah (imigan) tidak memiliki ansuransi kesehatan apaun.
Sebelumnya pasien hanya melakukan anc sekali di kampunya.

keadaan ibu nya sudah mulai lemas dan kelelahan karena sudah terlalu lama
merasakan mules dan tampak kesakitan. Saat diperiksa, ternyata pembukaan sudah
lengkap namun djj janin melemah 89x/menit, bidan pun segera melapor dr obgyn,
dan dari dokter obgyn pun pro SC. Bidan segera mempersiapkan ruang operasi untuk
melakukan tindakan SC Cyto. Saat disiapkan persiapan operasi suami pasien tidak
setuju untuk SC. Lalu suami pasien di berikan edukasi terus menerus oleh bidan jaga
bahwa pasien tersebut tidak bisa melahirkan normal dan segera harus dilakukan
section secaria. Pasien pun awalnya menolak dengan alesan inginya dr obgyn nya
wanita. tetapi Setelah di lakukan edukasi ulang kembali, dan akhirnya suaminya pun
setuju dilakukan SC dan menandatangani surat izin operasi (SIO).

menolong persalinan dengan SC. Ternyata terdapat 2 lilitan tali pusat. Bayi
pun terlahir tidak menagis kuat, keadaan kulit bayi membiru, tidak adanya reflek
iritabilitas/tornus otot lemah dan frekuensi denyut jantung 78x/menit. Langsung
dilakukannya resusitasi secara berkala pada bayi tsb. Namun nyawa bayi tidak
tertolong karena bayi mengalami asfixia berat dan hypoxia saat didalam kandungan.
Suami dan keluarganya pun tidak terima bahwa anaknya yg baru saja dilahirkan
sudah tiada. Suami pasien menggap ini kesalahan bidan rs.dan melaporkannya ke
hukum.
Untuk penyelesaian tindak pidana yang dilakukan oleh bidan yang telah masuk ke
pengadilan, semua tergantung kepada pertimbangan hakim yang menangani kasus
tersebut untuk menentukan apakah kasus yang ditanganinya termasuk kedalam
malpraktek atau tidak. Atau apakah si pelaku dapat dimintai pertanggung jawaban
secara pidana atau tidak.
Dalam kasus ini, keluarga tidak bisa menuntut bidan/dokter karena
sebelumnya persalinan ditangani. Telah dilakukannya inform concent dan telah
menjalankan pekerjaanya sesuai prosedur. Bidan tidak melanggar kode etik karena
langsung inisiatif memberikan edukasi, melakukan infoem consent dan segera
menyiapkan operasi sc untuk pasien tsb serta melaporkannya ke dokter obgyn untuk
kolaborasi. Namun keadaan bayi saat lahir mengalami axfiksia berat diakibatkan
lilitan talipusat dan lamanya pengambilan keputusan.
Maka penyelesaian atas hal tersebut dilakukan IBI sebagi paying pelindung
untuk melindungi teman sejawatnya karena telah melakukan pekerjaanya sesuai
dengan SPO yg telah ditetapkan. Sedangkan apabila seorang bidan tidak melakukan
tindakan sesuai SPO dan tidak melakukan inform concent . Maka IBI melalui MPA
dan MPEB wajib melakukan penilaian apakah bidan tersebut telah benar-benar
melakukan kesalahan. Apabila menurut penilaian MPA dan MPEB kesalahan atau
kelalaian tersebut terjadi bukan karena kesalahan atau kelalaian bidan, dan bidan
tersebut telah melakukan tugasnya sesuai dengan standar profesi, maka IBI melalui
MPA wajib memberikan bantuan hukum kepada bidan tersebut dalam menghadapi
tuntutan atau gugatan di pengadilan.