Anda di halaman 1dari 24

A.

PENDAHULUAN

Pendidikan merupakan komponen yang memiliki peran yang strategis bagi bangsa Indonesia dalam
mewujudkan tujuan yang telah dirumuskan. Salah satu tujuan bangsa Indonesia yang tertuang dalam
Pembukaan UUD 1945 pada alinia ke empat adalah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Untuk
mewujudkan hal tersebut dibutuhkan usaha yang terencana dan terprogram dengan jelas dalam agenda
pemerintahan yang berupa penyelenggaraan pendidikan.

Tujuan pendidikan Negara Indonesia yang tertuang dalam Undang-undang Republik Indonesia nomor 20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan
suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi
dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak
mulia serta keterampilan yang diperlukan diriya, masyarakat, bangsa dan negara. Agar kegiatan
pendidikan tersebut terencana dengan baik maka dibutuhkan kurikulum pendidikan.

Sekolah sebagai salah satu lembaga pendidikan yang diberikan tugas untuk mewujdkan tujuan
pendidikan nasional harus menjalankan perannya dengan baik. Dalam menjalankan peran sebagai
lembaga pendidikan ini, sekolah harus dikelola dengan baik agar dapat mewujudkan tujuan pendidikan
yang telah dirumuskan dengan optimal. Pengelolaan sekolah yang tidak profesional dapat menghambat
proses pendidikan yang sedang berlangsung dan dapat menghambat langkah sekolah dalam
menjalankan fungsinya sebagai lembaga pendidian formal.

Agar pengelolaan sekolah tersebut dapat berjalan dengan baik, dibutuhkan renccana strategis sebagai
suatu upaya/cara untuk mengendalikan organisasi (sekolah) secara efektif dan efisien, sampai kepada
kepada implementasi garis terdepan, sedemikian rupa sehingga tujuan dan sasarannya tercapai.
Perencanaan strategis merupakan landasan bagi sekolah dalam menjalankan proses pendidikan.
Komponen dalam perencanaan strategis paling tidak terdiri dari visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi
(cara mencapai tujuan dan sasaran). Perumusan terhadap visi, misi, tujuan, sasaran dan strategi
tersebut harus dilakukan pengelola sekolah, agar sekolah memiliki arah kebijakan yang dapat
menunjang tercapainya tujuan yang diharapkan.

Berdasarkan penjelasan diatas, penulis tertarik untuk menulis makalah tentang “merumuskan visi, misi,
tujuan dan program sekolah”

B. PEMBAHASAN

1. Pengertian dan Merumuskan Visi dan Misi


a. Pengertian Visi

Visi merupakan gambaran tentang masa depan (future) yang realistik dan ingin diwujudkan dalam kurun
waktu tertentu. Visi adalah pernyataan yang diucapkan atau ditulis hari ini, yang merupakan proses
manajemen saat ini yang menjangkau masa yang akan datang (Akdon, 2006:94).

Hax dan Majluf dalam Akdon (2006:95) menyatakan bahwa visi adalah pernyataan yang merupakan
sarana untuk:

1. Mengkomunikasikan alasan keberadaan organisasi dalam arti tujuan dan tugas pokok.

2. Memperlihatkan framework hubungan antara organisasi dengan stakeholders (sumber daya manusia
organisasi, konsumen/citizen, pihak lain yang terkait).

3. Menyatakan sasaran utama kinerja organisasi dalam arti pertumbuhan dan perkembangan.

Pernyataan visi, baik yang tertulis atau diucapkan perlu ditafsirkan dengan baik, tidak mengandung multi
makna sehingga dapat menjadi acuan yang mempersatukan semua pihak dalam sebuah organisasi
(sekolah).

Bagi sekolah Visi adalah imajinasi moral yang menggambarkan profil sekolah yang diinginkan di masa
datang. Imajinasi ke depan seperti itu akan selalu diwarnai oleh peluang dan tantangan yang diyakini
akan terjadi di masa datang. Dalam menentukan visi tersebut, sekolah harus memperhatikan
perkembangan dan tantangan masa depan.

b. Merumuskan Visi sekolah

Bagi suatu organisasi visi memiliki peranan yang penting dalam menentukan arah kebijakan dan
karakteristik organisasi tersebut. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan sebuah
visi menurut Bryson (2001:213) antara lain:

1. Visi harus dapat memberikan panduan/arahan dan motivasi.

2. Visi harus desebarkan di kalangan anggota organisasi (stakeholder)

3. Visi harus digunakan untuk menyebarluaskan keputusan dan tindakan organisasi yang penting.

Menurut Akdon (2006:96), terdapaat beberapa kriteri dalam merumuskan visi, antara lain:

1) Visi bukanlah fakta, tetapi gambaran pandangan ideal masa depan yang ingin diwujudkan.

2) Visi dapat memberikan arahan, mendorong anggota organisasi untuk menunjukkan kinerja yang baik.

3) Dapat menimbulkan inspirasi dan siap menghadapi tantangan

4) Menjembatani masa kini dan masa yang akan datang.


5) Gambaran yang realistik dan kredibel dengan masa depan yang menarik.

6) Sifatnya tidak statis dan tidak untuk selamanya.

Berdasarkan beberapa pendapat diatas, rumusan visi sekoalah yang baik seharusnya memberikan
isyarat:

1) Visi sekolah berorientasi ke masa depan, untuk jangka waktu yang lama.

2) Menunjukkan keyakinan masa depan yang jauh lebih baik, sesuai dengan norma dan harapan
masyarakat.

3) Visi sekolah harus mencerminkan standar keunggulan dan cita-cita yang ingin dicapai.

4) Visi sekolah harus mencerminkan dorongan yang kuat akan tumbuhnya inspirasi, semangat dan
komitmen bagi stakeholder.

5) Mampu menjadi dasar dan mendorong terjadinya perubahan dan pengembangan sekolah ke arah
yang lebih baik.

6) Menjadi dasar perumusan misi dan tujuan sekolah.

7) Dalam merumuskan visi harus disertai indikator pencapaian visi.

c. Pengertian Misi

Misi adalah pernyataan mengenai hal-hal yang harus dicapai organisasi bagi pihak-pihak yang
berkepentingan di masa datang (Akdon, 2006: 97). Pernyataan misi mencerminkan tentang penjelasan
produk atau pelayanan yang ditawarkan. Pernyataan misi harus:

1. Menunjukkan secara jelas mengenai apa yang hendak dicapai oleh organisasi dan bidang kegiatan
utama dari organisasi yang bersangkutan.

2. Secara eksplisit mengandung apa yang harus dilakukan untuk mencapainya.

3. Mengundang partisipasi masyarakat luas terhadap perkembangan bidang itama yang digeluti
organisasi (Akdon, 2006:98).

d. Merumuskan Misi Sekolah


Misi merupakan tindakan atau upaya untuk mewujudkan visi. Jadi misi merupakan penjabaran visi
dalam bentuk rumusan tugas, kewajiban, dan rancangan tindakan yang dijadikan arahan untuk
mewujudkan visi. Dengan kata lain, misi adalah bentuk layanan untuk memenuhi tuntutan yang
dituangkan dalam visi dengan berbagai indikatornya.

Ada beberapa kriteria dalam pembuatan misi, antara lain:

1) Penjelasan tentang produk atau pelayanan yang ditawarkan yang sangat diperlukan oleh masyarakat.

2) Harus jelas memiliki sasaran publik yang akan dilayani.

3) Kualitas produk dan pelayanan yang ditawarkan memiliki daya saing yang meyakinkan masyarakat.

4) Penjelasan aspirasi bisinis yang diinginkan pada masa mendatang juga bermanfaat dan
keuntungannya bagi masyarakat dengan produk dan pelayanan yang tersedia (Akdon, 2006:99).

Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan misi sekolah antara lain:

1. Pernyataan misi sekolah harus menunjukkan secara jelas mengenai apa yang hendak dicapai oleh
sekolah.

2. Rumusan misi sekolah selalu dalam bentuk kalimat yang menunjukkan “tindakan” dan bukan kalimat
yang menunjukkan “keadaan” sebagaimana pada rumusan visi.

3. Satu indikator visi dapat dirumuskan lebih dari satu rumusan misi. Antara indikator visi dengan
rumusan misi harus ada keterkaitan atau terdapat benang merahnya secara jelas.

4. Misi sekolah menggambarkan tentang produk atau pelayanan yang akan diberikan pada masyarakat
(siswa)

5. Kualitas produk atau layanan yang ditawarkan harus memiliki daya saing yang tinggi, namun
disesuaikan dengan kondisi sekolah.

2. Pengertian dan Merumuskan Tujuan dan Program

a. Tujuan (Goals)

Tujuan merupakan penjabaran dari pernyataan misi, tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau
dihasilkan dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Penetapan tujuan pada umumnya didasarkan
pada faktor-faktor kunci keberhasilan yang dilakukan setelah penetapan visi dan misi. Tujuan tidak harus
dinyatakan dalam bentuk kuantitatif, akan tetapi harus dapat menunjukkan kondisi yang ingin dicapaidi
masa mendatang (Akdon, 2006:143). Tujuan akan mengarahkan perumusan sasaran, kebijaksanaan,
program dan kegiatan dalam rangka merealisasikan misi, oleh karena itu tujuan harus dapat
menyediakan dasar yang kuat untuk menetapkan indikator.

Pencapaian tujuan dapat dijadikan indikator untuk menilai kinerja sebuah organisasi. Beberapa kriteria
tujuan antara lain:

1. Tujuan harus serasi dan mengklarifikasikan misi, visi dan nilai-nilai organisasi.

2. Pencapaian tujuan akan dapat memenuhi atau berkontribusi memenuhi misi, program dan sub
program organisasi.

3. Tujuan cenderung untuk esensial tidak berubah, kecuali terjadi pergeseran lingkungan, atau dalam hal
isu strategik hasil yang diinginkan.

4. Tujuan biasanya secara re;atif berjangka panjang

5. Tujuan menggambarkan hasil program

6. Tujuan menggambarkan arahan yang jelas dari organisasi.

7. Tujuan harus menantang, namun realistik dan dapat dicapai.

b. Merumuskan Tujuan Sekolah

Tujuan menggambarkan arahan yang jelas bagi sekolah. Perumusan tujuan akan strategi/perlakuan,
arah kebijakan dan program suatu sekolah. Oleh karena itu perumusan tujuan harus memberikan
ukuran lebih spesifik dan akuntabel. Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam merumuskan tujuan
sekolah, antara lain:

1) Tujuan sekolah harus memberikan ukuran yang spesifik dan akuntabel (dapat diukur)

2) Tujuan sekolah merupakan penjabaran dari misi, oleh karena itu tujuan harus selaras dengan visi dan
misi.

3) Tujuan sekolah menyatakan kegiatan khusus apa yang akan diselesaikan dan kapan diselesaikannya?

c. Pengertian Program

Program merupakan implementasi dari visi, misi dan tujuan. Program yang dimaksudkan dalam makalah
ini adalah program operasional. Program operasional didefinisikan sebagai kumpulan kegiatan yang
dihimpun dalam satu kelompok yang sama secara sendiri-sndiri atau bersama-sama untuk mencapai
tujuan dan sasaran (Kdon, 2006:135). Program merupakan kumpulan kegiatan nyata, sistematis dan
terpadu, dilaksanakan oleh satu instansi pemerintah atau lebih ataupun dalam rangka kerja sama
dengan masyarakat atau yang merupakan partisipasi aktif masyarakat guna mencapai tujuan dan
sasaran yang telah ditetapkan.

Wujud nyata sebuah organisasi adalah adanya program operasional yang akan dilaksanakan dalam
bentuk kegiatan. Beberapa ciri-ciri program operasional adalah:

1) Program kerja operasional didasarkan atas perumusan visi, misi, tujuan, sasaran dan kebijakan yang
telah ditetapkan.

2) Program kerja operasional pada dasarnya merupakan upaya untuk implementasi strategi organisasi.

3) Program kerja operasional merupakan proses penentuan jumlah dan jenis sumber daya yang
diperlukan dalam rangka pelaksanaan satu rencana.

4) Program operasional merupakan penjabaran riil tentang langkah-langkah yang diambil untuk
menjabarkan kebijakan.

5) Program operasional dapat bersifat jangka panjang dan menengah, atau bersifat tahunan.

6) Program kerja operasional tidak terlepas dari kebijakan yang telah ditetapkan sebelumnya.

d. Merumuskan Program Kerja Sekolah

Perumusan program kerja sekolah berdasarkan atas perumusan visi, misi, tujuan, sasaran, strategi dan
kebijakan yang telah ditetapkan. Dalam merumuskan program kerja sekolah, ada beberapa hal yang
perlu diperhatikan:

1) Program kerja sekolah merupakan implemantasi dari tujuan dan strategi sekolah, jadi dalam
merumuskannya harus seirama dengan tujuan dan strategi yang telah ditetapkan.

2) Dalam merumuskan program sekolah harus ditentukan siapa yang akan menjadi penanggungjawab
masing-masing program kerja sekolah dan kapan langkah tersebut selesai.

3. Peran visi, misi, tujuan dan program dalam menyusun perencanaan strategis sekolah

Perencanaan strategis adalah proses yang dilakukan suatu organisasi untuk menentukan strategi atau
arahan, serta mengambil keputusan untuk mengalokasikan sumber dayanya (termasuk modal dan
sumber daya manusia) untuk mencapai tujuan dari organisasi tersebut (Amrullah, 2010:4)

Akdon (2006:302) menyatakan bahwa, lengkah langkah perencanaan strategis terdiri dari:
a. Perumusan visi, misi dan nilai-nilai

b. Telaah lingkungan strategik, yang terdiri dari analisis lingkungan internal, analisis lingkungan
eksternal.

c. Analisis strategik dan kunci keberhasilan.

d. Rencana Strategis yang terdiri dari merumuskan tujuan, sasaran, strategi, kebijakan, program, kegiata
suatu organisasi

Langkah-langkah tersebut dapat dilihat dalam bagan berikut:

Gambar: Bagan Kerangka Perencanaan Strategis

Berdasarkan bagan diatas, dapat kita ketahui peran visi, misi, tujuan dan program dalam merumuskan
perencanaan strategis, antara lain:

a. Visi dan misi merupakan landasan awal dalam merumuskan perencanaan strategis. Visi memberikan
merupakan imajinasi/gambaran masa depan suatu organisasi, dia berperan sebagai pemberi arahan dan
motivasi anggota organisasi. Misi adalah penjabaran dari visi yang memberikan produk/pelayanan
kepada publik. Misi berperan untuk mengenalkan para anggota organisasi terhadap peran dan fungsi
mereka.

b. Tujuan merupakan penjabaran dari pernyataan misi, tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai atau
dihasilkan dalam jangka waktu yang telah ditentukan. Dalam perencanaan strategis, rumusan tujuan
akan mengarahkan perumusan sasaran, strategi, program dan kegiatan dalam merealisasikan misi.

Program merupakan kumpulan kegiatan nyata, sistematis dan terpadu, dilaksanakan oleh satu instansi
pemerintah atau lebih ataupun dalam rangka kerja sama dengan masyarakat atau yang merupakan
partisipasi aktif masyarakat guna mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan. Dalam
perencanaan strategis, program berfungsi untuk menjalankan kebijakan strategis yang akan dilakukan
dalam bentuk kegiatan-kegiatan nyata.

C. PENUTUP

1. Kesimpulan
Dari pemamparan yang telah disampaikan diatas dapat disimpulkan:

a. Dalam mewujudkan sekolah yang memiliki kualitas yang baik perlu direncanakan dan dilakukan
rekayasa. Dalam hal ini sekolah perlu merumuskan visi, misi, tujuan dan program sekolah yang
terintegrasi dalam perencanaan strategis sekolah. Dalam merumuskan visi, misi, tujuan dan program
tersebut harus menjawab tentang pertanyaan:

1) Bagaimana gambaran sekolah yang ingin diwujudkan di masa yang akan datang?

2) Produk/layanan apa yang akan diberikan dalam rangka mewujudkan misi?

3) Bagaimana kondisi yang akan diwujudkan sekolah di masa yang akan datang?

4) Langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan dalam mewujudkan kondisi sekolah di masa yang akan
datang?

b. Perencanaan strategis merupakan panduan bagi sekolah dalam menjalankan proses pendidikan dalam
tingkat satuan pendidikan masing-masing. Perumusan visi, misi, tujuan dan program sekolah yang
berkualitas akan menentukan gambaran masa depan sekolah yang di inginkan, karena visi, misi, tujuan
dan program yang terintegrasi dalam perencanaan strategis inilah yang akan menjadi acuan sekolah
dalam melakukan aktivitasnya sebagai lembaga pendidikan.

2. Saran

Untuk mewujudkan sekolah yang berkualitas, harus diawali dengan perencanaan strategis yang
berkualitas. Rumusan visi, misi, tujuan dan program yang merupakan bagian dari perencanaan strategis
harus berkualitas. Oleh karena itu perumusan ini hendaknya diketahui dan dipahami oleh segenap
stakeholder sekolah, agar mereka dapat mengetahui fungsi, peran dan tugas yang harus dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA

Amrullah. 2010. Perencanaan strategis. Makalah disampaikan pada perkuliahan Teknologi Pendidikan
UNSRI.

Akdon. 2006. Strategic Managemen for Educational Management. Bandung: Alfabeta.

Bryson, John M. 2001.Perencanaan Strategis bagi Organisasi sosial. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

http://heruizzuddin.blogspot.com/2010/04/merumuskan-visi-misi-tujuan-dan-program.html
VISI-MISI- TUJUAN-SASARAN SEKOLAH

Oleh :

Muhammad Fathurrohman

Praktisi Pendidikan di SMPN 2 Pagerwojo sekaligus Akademisi PPs S3 UIN Maliki Malang

Disampaikan pada Workshop Peningkatan Mutu Pendidikan di SMPN 2 Pagerwojo

2 APA AGENDA KITA? Konsep Visi? Cara Merumuskan Visi? Konsep Misi?

Cara Merumuskan Misi Sekolah?

Konsep Tujuan dan Sasaran Sekolah?

Cara Merumuskan Tujuan dan Sasaran Sekolah?

Konsep Strategi Utama Peningkatan Mutu Pendidikan?

Perumusan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran SMPN 2 Pagerwojo?

3 Visi

Visi dapat diartikan sebagai pandangan, keinginan, cita-cita, harapan dan impian tentang masa depan.

Secara istilah: Visi adalah tindakan, kekuatan, kecakapan atau kemampuan melihat dan memahami
untuk berimajinasi dalam mempersiapkan masa datang

4 Fungsi Visi

Mengkomunikasikan alasan keberadaan organisasi dalam arti tujuan dan tugas pokok.

Memperlihatkan framework hubungan antara organisasi dengan stakeholders (sumber daya manusia
organisasi, konsumen/citizen, pihak lain yang terkait)
Menyatakan sasaran utama kinerja organisasi dalam arti pertumbuhan dan perkembangan.

5 Syarat Visi

Menggambarkan kepercayaan-kepercayaan dan kebutuhan dan harapan stakeholder sekolah/madrasah.

Menggambarkan apa yang diinginkan pada masa yang akan datang.

Spesifik hanya khusus untuk sekolah/madrasah tertentu.

Mampu memberikan inspirasi.

Jangan mengasumsikan pada sistem yang sama pada saat ini.

Terbuka untuk dilakukan pengembangan sesuai dengan organisasi yang ada, metodologi, fasilitas, dan
proses pembelajaran.

6 Ruang lingkup

Kepercayaan sekolah/madrasah harus sesuai dengan visi organisasi dan berbagai pandangan dari
stakeholder.

Kepercayaan sekolah/madrasah merupakan statement dari nilai-nilai sekolah/madrasah.

Kepercayaan sekolah/madrasah merupakan deklarasi dari harapan sekolah/madrasah terhadap harapan


pada produk yang dihasilkan.

Kepercayaan sekolah/madrasah harus tepat dan dapat diimplementasikan.

7 Ruang Lingkup Visi

Kepercayaan sekolah/madrasah akan menjadi pedoman dalam melaksanakan berbagai kegiatan.

Kepercayaan sekolah/madrasah merefleksikan ilmu pengetahuan, filosofi, dan semua perbuatan yang
dilakukan sekolah/madrasah.

Kepercayaan sekolah/madrasah merupakan komponen kunci dari perencanaan strategis


8 Warning!

Ukuran ketercapaian visi tersebut masih sangat interpretatif karena masih bersifat kualitatif dan akan
diinterpretasikan dengan sangat beragam oleh seluruh komponen sekolah/madrasah. Maka untuk
mencegah penafsiran yang beragam harus ada KPI (Key Performance Indicators)

9 Contoh Visi

Terwujudnya insan cendekia yang beriman, bertaqwa, berakhlak mulia, mandiri, kompetitif,
berwawasan global, mampu mengembangkan ilmu pengetahuan teknologi dan pembaharuan pemikiran
keislaman serta bahasa dan seni

10 KPI

Mampu bertindak sesuai dengan akhlak mulia, mandiri dan berkompetisi

Mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Mampu melakukan pembaharuan pemikiran keislaman yang berbasis metodologis.

Mampu berbicara dengan bahasa asing dan mengembangkan lingkungan bahasa (bi’ah lughawiyah)

11 Misi Misi merupakan perwujudan yang lebih jauh dari visi.

Secara Istilah, misi adalah tujuan fundamental dan unik yang menunjukkan perbedaan suatu organisasi
dengan organisasi yang lain sejenis dan mengidentifikasi cakupan (scope) organisasinya

12 Syarat Misi
Menunjukkan secara jelas mengenai apa yang hendak dicapai oleh organisasi dan bidang kegiatan
utama dari organisasi yang bersangkutan.

Secara eksplisit mengandung apa yang harus dilakukan untuk mencapainya.

Mengundang partisipasi masyarakat luas terhadap bidang utama yang digeluti organisasi.

13 Hal yang harus diperhatikan

Misi harus mampu menggambarkan berbagai kepercayaan dan nilai-nilai yang dianut sekolah/madrasah.

Statement misi harus berorientasi ke masa depan dan mampu menggambarkan sekolah/madrasah pada
masa yang akan datang dengan berpijak pada apa yang telah ada.

14 Hal yang harus diperhatikan

Statement misi harus fokus pada pencapaian visi.

Statement misi bukan sesuatu yang umum, tetapi khusus berlaku untuk sekolah/madrasah tertentu.

Statement misi merupakan statement yang singkat dan padat tidak lebih dari dua kalimat.

15 Contoh Misi

Mengantarkan mahasiswa mampu berfikir kritis, metodologis, dinamis, mandiri dan peduli terhadap
lingkungan sosial yang berwawasan universal dan global.

Mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didasarkan pada hasil penelitian dan kajian
ilmiah yang berbasis akademik.

16 Lanjutan
Mengembangkan kemampuan berbahasa (terutama Bahasa Arab dan Inggris) baik lisan, tulisan maupun
terjemahan serta minat dan bakat secara maksimal bagi civitas akademika.

Memberdayakan lembaga dengan berbagai unitnya sehingga menjadi sumber belajar yang ideal.

17 Warning!

Untuk merumuskan misi, maka harus memperhatikan KPI yang dirumuskan dalam visi.

18 Formulasi Tujuan dan Sasaran

Tujuan dan sasaran merupakan arah atau keadaan yang akan diupayakan untuk dicapai
sekolah/madrasah dalam kurun waktu sedang dan pendek. Kurun waktu sedang itu berkisar antara 2-3
tahun sedangkan pendek paling lama 1 tahun.

19 Lanjutan

Tujuan dan sasaran harus bernaung di bawah visi sekolah/madrasah tersebut. Jika sekolah/madrasah
memiliki unit-unit atau bagian, maka tujuan dan sasaran dapat merupakan tujuan dan sasaran unit atau
bagian-bagian tersebut.

20 Rumus Formulasi Tujuan dan Sasaran

SMART (Specific, Measurable, Attainable, Responsible, Time Frame)

(spesifik, dapat diukur, berdasar sumber daya yang ada, ada penanggung jawab dan memiliki kerangka
waktu)

21 Contoh
Dapat dilihat dalam pedoman pembuatan Visi, Misi, Tujuan dan Sasaran sekolah

22 Tugas dan Aplikasi

Buat Formulasi visi, misi, beserta KPI lembaga anda!

Tentukan tujuan, dan sasaran Lembaga pendidikan anda dengan rinci! Model 1, 4 dan 8 Tahun

23 terimakasih

Tugas Kepala Sekolah dan Peran Kepala Sekolah

Uraian Tugas, Keputusan dan Informasi yang dibutuhkan oleh seorang Pengajar/ Pengelola Lembaga
Pendidikan

A. Kepala Sekolah

Kepala sekolah adalah guru yang mendapat tugas tambahan sebagai kepala sekolah. (Sudarman 2002:
145). Meskipun senabagi guru yang mendapat tugas tambahan kepala sekolah merupakan orang yang
paling betanggung jawab terhadap aflikasi prinsif-prinsif administrasi pendidikan yang inovatif di
sekolah.

Sebagai orang yang mendapat tugas tambahan berarti tugas pokok kepala sekolah tersebut adalah guru
yaitu sebagai tenaga pengajar dan pendidik,di sisni berarti dalam suatu sekolah seorang kepala sekolah
harus mempunyai tugas sebagai seorang guru yang melaksanakan atau memberikan pelajaran atau
mengajar bidang studi tertentu atau memberikan bimbingan. Berati kepala sekolah menduduki dua
fungsi yaitu sebagai tenaga kependidikan dan tenaga pendidik. Hal ini sesuai dikemukakan oleh
Sudarwan tentang jenis-jenis tenaga Kependidikan sebagai berikut:

tenaga pendidik terdiri atas pembimbing,penguji,pengajar dan pelatih


tenaga fungsional pendidikan,terdiri atas penilik,pengawas,peneliti dan pengembang di bidang
kependidikan, dan pustakawan

tenaga teknis kependidikan,terdiri atas laboran dan teknisi sumber belajar

tenaga pengelola satuan pendidikan,terdiri atas kepala sekolah,direktur,ketua,rector, dan pimpinan


satuan pendidikan luar sekolah.

tenaga lain yang mengurusi masalah-masalah manajerial atau administrative kependidikan.(2002: 18).

Pada pembahasan ini penulis meninjau kepala sekolah (presiden direktur sekolah) sebagai tenaga
pengelola satuan pendidikan (poin 4). Mengapa penulis mengambil istilah presden direktur sekolah?
Karena istilah ini lebih identik dengan kekuasaan seorang dalam menguasai suatu tempat. Di mana
wewenag,tangung jawab dan kebikajsanaan ada di tangan kepala sekolah,sekolah lain atau Negara lain
tak berhak ikut capur dalam urusan suatu sekolah yang menjadi hak otonomi sekolahnya

B. Kompetensi Kepala Sekolah

Para pakar pendidikan dan administrasi pendidikan cendrung sependapat bahwa kemajuan besar dalam
bidang pendidikan hanya mungkin dicapai jika administrasi pendidikan itu sendiri dikelola secara
inovatif.Hal ini sejalan dengan pendapat Sanusi dkk yang menyatakan bahwa Adminstrasi yang baik
mendudduki tempt yang sangat menentukan dalam struktur dan artikulasi system pendidikan (2002:
132).Siapa yang bertanggung jawab mengelola,merencakan dan melaksanakan administrasi tersebut di
suatu sekolah adalah di bawah kendali kepala sekolah.Untuk itu kepala sekolah harus memilki
kemampuan professional yang menurut Sanusi ada empat kemampuan profesional kepala sekolah
yaitu:

kemampuan untuk menjalankan tanggungjawab yang diserahkan kepadanya selaku unit kehadiran
murid.

Kemampuan untukmenerapkan keterampilan-keterampilan konseptual,manusiawi, dan teknis pada


kedudukan jenis ini.

Kemampuan untuk memotivasi para bawahan untuk bekerja sama secara sukarela dalam mencapai
maksud-maksud unit dan organisasi.

Kemamapuan untuk memahami implikasi-implikasi dari perubahan social, ekonomis,politik,dan


educational; arti yang mereka sumbangkan kepada unit; untuk memulai dan memimpin perubahan-
perubahan yang cocok di dalam unit didasarkan atas perubahan-perubahan social yang luas.(2002 :133)

Sedangkanmenurut PERMEN DINKNAS No 13 tahun 2007 tentang Satandar kepala sekolah/Madrasah


kepala sekolah harus memiliki kompetensi atau kemampuan yang meliputi demensi kompetensi
kepribadian,manajerial, kewirausahaan supervisi dan sosial. Secara lebih rinci penjelasan kelima
kompetensi tersebut dapat dilihat pada table di bawah ini:

Tabel 1. Kopetensi Kepala Sekolah


a. Mencipatakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah/madrasah.

b. Bekerja keras untuk mencapai keberhasilan sekolah/madrasah sebagai organisasai pembelajar


yang efektif.

c. Memilki motivasi yang kuat untuk sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya sebagai
pimpinan sekolah/madrasah.

d. Pantang menyerah dan selalu mencari solusi terbaik dalam menghadapi kendala yang dihadapi
sekolah/madrasah.

e. Memiliki naluri kewirausahaan dalam mengelola kegiatan produksi/jasa sekolah/madrasah


sebagai sumber belajar peserta didik.

4. Supervisi.

a. Merencanakan program supervise akademik dalam rangka peningkatan profesionalisme guru.

b. Melaksanakan supervise akademik terhadap guru dengan menggunakan pendekatan dan teknik
supervisi yang tepat.

c. Menindaklanjuti hasil supervise akademik terhadap guru dalam rangka peningkatan


profesionalisme guru.

5. Sosial

a. Bekerja sama dengan pihak lain untuk kepentingan sekolah/madrasah.

b. Berpartisifasi dalam kegiatan social kemasyarakatan.

c. Memiliki kepekaan social terhadap orang atau kelompok lain.

Disamping kompetenssi yang tersebut diatas yang harus dimilki oleh kepala sekolah, mereka juga harus
mampu mengakomodasi tiga jenis keterampilan baik secara perjenis maupun secara terintegrasi
tercermin dalam mekanisme kerja adminsitrasi sekolah sebagai proses social. Tiga keterampilan
tersebut menurut Katz (1995), yang dikutip oleh Sergiovani dkk(1987) meliputi:

Keterampilan teknis (technical skill)

Keterampilan melakukan hubungan-hubungan kemanusiaan (human skill).

Keterampilan konseptual (conceptual skill).

Seorang Kepala Sekolah pada hakekatnya adalah pemimpin yang menggerakkan, mempengaruhi,
memberi motivasi, serta mengarahkan orang di dalam organisasi atau lembaga pendidikan untuk
mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Mulyasa (2004:182) secara tersirat menegaskan
bahwa “tugas dan tanggung jawab Kepala Sekolah menyangkut keseluruhan kegiatan sekolah.” Seorang
Kepala Sekolah harus mampu memobilisir sumber daya sekolah meliputi teknis dan administrasi
pendidikan, lintas program dan lintas sektoral dengan mendayagunakan sumber-sumber yang ada di
sekolah agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara efektif dan efisien. Dengan demikian peran Kepala
Sekolah sangat penting dalam peningkatan mutu pendidikan.

Aspek kunci lain berkaitan dengan peran Kepala Sekolah dalam melaksanakan upaya perbaikan kualitas
pendidikan adalah dengan memberikan bimbingan kepada guru dalam memperbaiki mutu proses
belajar mengajar. Ukuran keberhasilan Kepala Sekolah dalam menjalankan peran dan tugasnya adalah
dengan mengukur kemampuan dia dalam menciptakan ”iklim pembelajaran”, dengan mempengaruhi,
mengajak, dan mendorong guru, siswa, dan staf lainnya untuk menjalankan tugasnya masing-masing
dengan sebaik-baiknya. Terciptanya iklim pembelajaran yang kondusif, tertib, lancar, dan efektif tidak
terlepas dari kapasitasnya sebagai pimpinan sekolah. Dengan demikian, pembinaan yang intensif dari
Kepala Sekolah dapat meningkatkan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah.

C. Fungsi dan Tugas Kepala Sekolah

Ada banyak pandangan yang mengkaji tentang peranan kepala sekolah dasar. Campbell, Corbally &
Nyshand (1983) mengemukakan tiga klasifikasi peranan kepala sekolah dasar, yaitu: (1) peranan yang
berkaitan dengan hubungan personal, mencakup kepala sekolah sebagai figurehead atau simbol
organisasi, leader atau pemimpin, dan liaison atau penghubung, (2) peranan yang berkaitan dengan
informasi, mencakup kepala sekolah sebagai pemonitor, disseminator, dan spokesman yang
menyebarkan informasi ke semua lingkungan organisasi, dan (3) peranan yang berkaitan dengan
pengambilan keputusan, yang mencakup kepala sekolah sebagai entrepreneur, disturbance handler,
penyedia segala sumber, dan negosiator.

Di sisi lain, Stoop & Johnson (1967) mengemukakan empat belas peranan kepala sekolah dasar, yaitu: (1)
kepala sekolah sebagai business manager, (2) kepala sekolah sebagai pengelola kantor, (3) kepala
sekolah sebagai administrator, (4) kepala sekolah sebagai pemimpin profesional, (5) kepala sekolah
sebagai organisator, (6) kepala sekolah sebagai motivator atau penggerak staf, (7) kepala sekolah
sebagai supervisor, (8) kepala sekolah sebagai konsultan kurikulum, (9) kepala sekolah sebagai pendidik,
(10) kepala sekolah sebagai psikolog, (11) kepala sekolah sebagai penguasa sekolah, (12) kepala sekolah
sebagai eksekutif yang baik, (13) kepala sekolah sebagai petugas hubungan sekolah dengan masyarakat,
dan (14) kepala sekolah sebagai pemimpin masyarakat.

Dari keempat belas peranan tersebut, dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu kepala sekolah sebagai
administrator pendidikan dan sebagai supervisor pendidikan. Business manager, pengelola kantor,
penguasa sekolah, organisator, pemimpin profesional, eksekutif yang baik, penggerak staf, petugas
hubungan sekolah masyarakat, dan pemimpin masyarakat termasuk tugas kepala sekolah sebagai
administrator sekolah. Konsultan kurikulum, pendidik, psikolog dan supervisor merupakan tugas kepala
sekolah sebagai supervisor pendidikan di sekolah.

Sergiovanni (1991) membedakan tugas kepala sekolah menjadi dua, yaitu tugas dari sisi administrative
process atau proses administrasi, dan tugas dari sisi task areas bidang garapan pendidikan. Tugas
merencanakan, mengorganisir, meng-koordinir, melakukan komunikasi, mempengaruhi, dan
mengadakan evaluasi merupakan komponen-komponen tugas proses. Program sekolah, siswa, personel,
dana, fasilitas fisik, dan hubungan dengan masyarakat merupakan komponen bidang garapan kepala
sekolah dasar.

Di sisi lain, sesuai dengan konsep dasar pengelolaan sekolah, Kimbrough & Burkett (1990)
mengemukakan enam bidang tugas kepala sekolah dasar, yaitu mengelola pengajaran dan kurikulum,
mengelola siswa, mengelola personalia, mengelola fasilitas dan lingkungan sekolah, mengelola
hubungan sekolah dan masyarakat, serta organisasi dan struktur sekolah.

Berdasarkan landasan teori tersebut, dapat digarisbawahi bahwa tugas-tugas kepala sekolah dasar
dapat diklasifikasi menjadi dua, yaitu tugas-tugas di bidang administrasi dan tugas-tugas di bidang
supervisi.

Tugas di bidang administrasi adalah tugas-tugas kepala sekolah yang berkaitan dengan pengelolaan
bidang garapan pendidikan di sekolah, yang meliputi pengelolaan pengajaran, kesiswaan, kepegawaian,
keuangan, sarana-prasarana, dan hubungan sekolah masyarakat. Dari keenam bidang tersebut, bisa
diklasifikasi menjadi dua, yaitu mengelola komponen organisasi sekolah yang berupa manusia, dan
komponen organisasi sekolah yang berupa benda.

Tugas di bidang supervisi adalah tugas-tugas kepala sekolah yang berkaitan dengan pembinaan guru
untuk perbaikan pengajaran. Supervisi merupakan suatu usaha memberikan bantuan kepada guru untuk
memperbaiki atau meningkatkan proses dan situasi belajar mengajar. Sasaran akhir dari kegiatan
supervisi adalah meningkatkan hasil belajar siswa.

Fungsi dan tugas kepala sekolah dapat diakronimkan menjadi emanslime (education,manager,
administrator,supervisor, leader, inovator, motivator dan entrepreneur). Peran tersebut dapat dilihat
secara lebih rinci sebagai berikut:

1. Peran sebagai educator, kepala sekolah berperan dalam pembentukan karakter yang didasari
nilai-nilai pendidik.

– Kemampuan mengajar/membimbing siswa

– Kemampuan membimbing guru

– Kemampuan mengembangkan guru

– Kemampuan mengikuti perkembangan di bidang pendidikan

2. Perang sebagai manager,kepala sekolah berperan dalam mengelola sumber daya untuk mencapai
tujuan institusi secara efektif dan efisien

– Kemampuan menyusun program

– Kemampuan menyusun organisasi sekolah

– Kemampuan menggerakkan guru


– Kemampuan mengoptimalkan sarana pendidikan

3. Perang sebagai administrator, kepala sekolah berperan dalam mengatur tata laksana sistem
administrasi di sekolah sehingga efektif dan efisien

– Kemampuan mengelola administrasi PBM/BK

– Kemampuan mengelola administrasi kesiswaan

– Kemampuan mengelola administrasi ketenagaan

– Kemampuan mengelola administrasi keuangan

– Kemampuan mengelola administrasi sarana prasarana

– Kemampuan mengelola administrasi persuratan

4. Peran sebagai supervisor, kepala sekolah berperan dalam upaya membantu mengembangkan
profesionalitas guru dan tenaga kependidikan lainnya.

– Kemampuan menyusun program supervisi pendidikan

– Kemampuan melaksanakan program supervisi

– Kemampuan memanfaatkan hasil supervisi

5. Peran sebagai leader, kepala sekolah berperan dalam mempengaruhi orang-orang untuk bekerja
sama dalam mencapai visi dan tujuan bersama.

– Memiliki kepribadian yang kuat

– Kemampuan memberikan layanan bersih, transparan, dan profesional

– Memahami kondisi warga sekolah

6. Peran sebagai innovator, kepala sekolah adalah pribadi yang dinamis dan kreatif yang tidak
terjebak dalam rutinitas

– Kemampuan melaksanakan reformasi (perubahan untuk lebih baik)

– Kemampuan melaksanakan kebijakan terkini di bidang pendidikan

7. Peran sebagai motivator, kepala sekolah harus mampu memberi dorongan sehingga seluruh
komponen pendidikan dapat berkembang secara profesional

– Kemampuan mengatur lingkungan kerja (fisik)

– Kemampuan mengatur suasana kerja/belajar


– Kemampuan memberi keputusan kepada warga sekolah

8. Peran sebagai entrepreneur, kepala sekolah berperan untuk melihat adanya peluang dan
memanfaatkan peluang untuk kepentingan sekolah

– Kemampuan menciptakan inovasi yang berguna bagi pengembangan sekolah

– Kemampuan bekerja keras untuk mencapai hasil yang efektif

– Kemampuan memotivasi yang kuat untuk mencapai sukses dalam melaksanakan tugas pokok dan
fungsi

D. Hubungan Manajemen Kepala Sekolah dengan Manajemen Kurikulum

Tugas dan peran kepala sekolah yang harus dimiliki berkenaan dengan manajemen kurikulum yaitu
berhubungan dengan kompetensi kepala sekolah dalam memahami sekolah sebagai sisten yang harus
dipimpin dan dikelola dengan baik,diantaranya adalah pengetahuan tentang manajemen itu sendiri.

Tugas dan peran kepala sekolah yang berkenaan dengan manajemen kurikulum terdapat pada
kompetensi manajerial, yaitu:

a. Menyusun perencanaan sekolah/madrasah untuk berbagai tingkatan perencanaan.

b. Mengembangkan organisasi sekolah/ madrasah sesuai dengan kebutuhan.

c. Memimpin sekolah/ madrasah dalam rangka mendayagunakan sumber daya sekolah/madrasah


secara optimal.

d. Mengelola perubahan dan pengembangan sekolah / madrasah menuju organisasi pembelajar


yang efektif.

e. Mencipatakan budaya dan ilkim sekolah/ madrasah yang kondusif dan inovatif bagi
pembelajaran peserta didik.

f. Mengelola guru dan staf dalam rangka pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal.

g. Mengelola sarana dan prasarana sekolah/madrasah dalam rangka penbdayagunaan secara


optimal.

h. Mengelola hubungan sekolah/ madrasah dan masyarakat dalam rangka pendirian dukungan
ide, sumber belajar dan pembinaan sekolah/ madrasah.

i. Mengelola peserta didik dalam ranagka penerimaan peserta didik baru, dan penempatan dan
pengembangan kapasitas peserta didik.

j. Mengelola pengembangan kuirkulum dan kegiatan pembelajaran sesuai dengan arah dan
tujuan pendidikan nasional.
k. Mengelola keuangan sekolah / madrasah sesuai dengan prinsif pengelolaan yang akuntabel,
transfaran dan efesien.

l. Mengelola ketatausahaan sekolah/ madrasah dalam mendukung pencapaian tujuan


sekolah/madrasah.

m. Mengelola unit layanan sekolah / madrasah dalam mendukung kegiatan pembelajaran


dan kegiatan peserta didik di sekolah/madrasah.

n. Mengelola system informasi sekolah/madrasah dalam mendukung penyusunan program dan


pengambilan keputusan.

o. Memamfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen


sekolah/madrasah.

q. Melakukan monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan program kegiiatan sekolah/madrasah


dengan prosedur yang tepat, serta merencanakan tindak lanjut.

Secara umum tugas dan peran kepala sekolah dalam manajemen kurikulum ini juga termasuk di
dalamnya kemampuan dalam system administrasi/pengelolaan sekolah. Jadi dalam hal ini Kepala
sekolah adalah pengelola lembaga pendidikan sesuai dengan jenjang pendidikannya masing-masing.
Namun demikian penegasan terhadap eksistensi seorang kepala sekolah sebagai manajer dalam suatu
lembaga pendidikan dapat dinilai dari kompetensi mengelola kelembagaan yang mencakup: menyusun
system administrasi kepala sekolah; mengembangkan kebijakan operasional sekolah; mengembangkan
pengaturan sekolah yang berkaitan kualifikasi, spesifikasi, prosedur kerja, pedoman kerja,petunjuk kerja
dsb; melakukan analisis kelembagaan untuk menghasilkan struktur organisasi yang efisien dan efektif;
mengambangkan unit-unit organisasi sekolah atas dasar fungsi.

Kepala sekolah juga harus paham betul bahwa dirinya bertugas sebagai manajer sekolah diantaranya
harus memehami betul tentang manajemen kurikulum. Maka seorang kepala sekolah dalam memahami
kurikulum sebagai jantungnya lembaga pendidikan harus benar-benar dikuasainya, dengan demikian
kepala sekolah dalam upaya mewujudkan kinerjanya dalam bidang ini harus mampu untuk memfasilitasi
sekolah untuk membentuk dan memberdayakan tim pengembang kurikulum terutama dengan
pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, di mana setiap satuan pendidikan harus mampu
mengembangkan kurikulum dengan kebutuhan dan kemampuannya masing-masing, memberdayakan
tenaga pendidikan sekolah agar mampu menyediakan dokumen-dokumen kurikulum yang relevan
dengan tuntutan dan kebutuhan siswa, orang tua siswa, dan masyarakat; memfasilitasi guru untuk
mengembangkan standar kompetensi setiap mata pelajaran yang diampunya; memfasilitasi guru untuk
menyusun silabus dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) setiap mata pelajaran ; memfasilitasi
guru untuk memilih sumber dan bahan ajar yang sesuai untuk setiap mata pelajaran; memfasilitasi guru
untuk memilih media dan alat pelajaran yang sesuai untuk setiap materi pelajaran, mengarahkan tenaga
pendidik dan kependidikan untuk menyusun rencana dan program pelaksanaan kuirikulum;
membimbing para guru untuk mengembangkan memperbaiki dan mengembangkan proses belajar
mengajar seperti pemberian motivasi guru untuk melakukan penelitian tindakan kelas (classroom action
research); mengarahkan tim pengembang kurikulum untuk mengupayakan kesesuaian kurikulum
dengan kebutuhan siswa dan kemamauan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (IPTEKS), tuntutan dan
kebutuhan masyarakat, dan kebutuhan stajeholders; menggali dan memobilisasi sumber daya
pendidikan; mengidentifikasi kebutuhan bagi pengembangan kurikulum local; mengevaluasi
pelaksanaan kurikulum di sekolahnya masing-masing, melakukan penelitian dan pengembangan
terhadap usaha untuk meningkatkan kualitas dan manajemen sekolah bermutu.

Tugas dan peran kepala sekolah dalam mewujudkan subkompetensi manajemen kurikulum ini dapat
direfleksi oleh dirinya dari isi program kurikulum yang didesain/dirancang dan dikembangkan mulai dari
tingkat perencanaan, pelaksanaan, sampai dengan evaaluasi kuirkulum itu sendiri misalnya dalam
bentuk evaluasi hasil pembelajaran, dan evaluasi terhadap sekolah secara keseluruhan.

Tugas dsan peran kepala sekolah lainhya yaitu pada sub mengelola guru dan staf dalam rangka
pendayagunaan sumber daya manusia secara optimal, maka itu dapat dilihat dari indicator-indikatornya
yang mecakup: mengidentifikasi karakteristik tenaga pendidik dsan kependidikan yang fektif;
merencanakan tenaga kependidikan sekolah (permintaan, pesediaan, dan kesenjangan); merekrut,
menyeleksi dan menempatkan serta mengorientasikan tenaga kependidikan baru; memamfaatkan dan
memelihara tenaga kependidikan; menilai kinerja tenaga guru dan kependidikan; memngembangkan
system pengupahan, reward dan punishment yang mampu menjamin kepastian dan keadilan;
melaksanakan dan mengambangkan system pembinaan karir; memotivasi tenaga pendidik dan
kependidikan; membina hubungan kerja yang harmonis; memelihara dikumen personel sekolah atau
mengelola administrasi personel sekolah; megelola komflik; melakukan analisis jabatan dan menyusun
uraian jabatan tenaga kependidikan; memiliki apresiasi, empati dan simpati terhadap tenaga pendidik
dan kependidikan.

Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukannya, Southern Regional Education Board(SREB) telah
mengidentifikasi 13 faktor kritis terkait dengan keberhasilan kepala sekolah dalam mengembangkan
prestasi belajar siswa. ketigabelas faktor tersebut adalah:

Menciptakan misi yang terfokus pada upaya peningkatan prestasi belajar siswa, melalui praktik
kurikulum dan pembelajaran yang memungkinkan terciptanya peningkatan prestasi belajar siswa.

Ekspektasi yang tinggi bagi semua siswa dalam mempelajari bahan pelajaran pada level yang lebih tinggi.

Menghargai dan mendorong implementasi praktik pembelajaran yang baik, sehingga dapat memotivasi
dan meningkatkan prestasi belajar siswa.

Memahami bagaimana memimpin organisasi sekolah, dimana seluruh guru dan staf dapat memahami
dan peduli terhadap siswanya.

Memanfaatkan data untuk memprakarsai upaya peningkatan prestasi belajar siswa dan praktik
pendidikan di sekolah maupun di kelas secara terus menerus.

Menjaga agar setiap orang dapat memfokuskan pada prestasi belajar siswa.
Menjadikan para orang tua sebagai mitra dan membangun kolaborasi untuk kepentingan pendidikan
siswa.

Memahami proses perubahan dan memiliki kepemimpinan untuk dapat mengelola dan memfasilitasi
perubahan tersebut secara efektif.

Memahami bagaimana orang dewasa belajar (baca: guru dan staf) serta mengetahui bagaimana upaya
meningkatkan perubahan yang bermakna sehingga terbentuk kualitas pengembangan profesi secara
berkelanjutan untuk kepentingan siswa.

Memanfaatkan dan mengelola waktu untuk mencapai tujuan dan sasaran peningkatan sekolah melalui
cara-cara yang inovatif.

Memperoleh dan memanfaatkan berbagai sumber daya secara bijak.

Mencari dan memperoleh dukungan dari pemerintah, tokoh masyarakat dan orang tua untuk berbagai
agenda peningkatan sekolah.

Belajar secara terus menerus dan bekerja sama dengan rekan sejawat untuk mengembangkan riset baru
dan berbagai praktik pendidikan yang telah terbukti

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala
Sekolah/Madrasah telah ditetapkan bahwa ada 5 (lima) dimensi kompetensi yaitu: Kepribadian,
Manajerial, Kewirausahaan, Supervisi dan Sosial.

Sejalan dengan semakin meningkatnya tuntutan masyarakat terhadap akuntabilitas sekolah, maka
meningkat pula tuntutan terhadap para kepala sekolah. Mereka diharapkan mampu melaksanakan
fungsinya baik sebagai manajer dan leader. Untuk meningkatkan kemampuan kepala sekolah dan tenaga
kependidikan yang lain, pemerintah Indonesia telah menunjukkan good will, dengan memperhatikan
kesejahteraan melalui beberapa langkah antara lain: pemberian gaji, kewenangan, dan otonomi yang
cukup untuk memperkuat peran manajerial mereka di sekolah. Dengan diterbitkannya instrumen
kebijakan baru, maka para kepala sekolah akan segeran mendapat kompensasi meningkat, dukungan
profesional, dan otonomi.

Keberhasilan kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya banyak ditentukan oleh kepemimpinan
kepala sekolah. Kepemimpinan merupakan faktor yang paling penting dalam menunjang tercapainya
tujuan organisasi sekolah. Keberhasilan kepala sekolah dalam mengelola kantor, mengelola sarana
prasarana sekolah, membina guru, atau mengelola kegiatan sekolah lainnya banyak ditentukan oleh
kepemimpinan kepala sekolah. Apabila kepala sekolah mampu menggerakkan, membimbing, dan
mengarahkan anggota secara tepat, segala kegiatan yang ada dalam organisasi sekolah akan bisa
terlaksana secara efektif. Sebaliknya, bila tidak bisa menggerakkan anggota secara efektif, tidak akan
bisa mencapai tujuan secara optimal.

Sebagai pemimpin pendidikan di sekolah, kepala sekolah memiliki tanggungjawab legal untuk
mengembangkan staf, kurikulum, dan pelaksanaan pendidikan di sekolahnya. Di sinilah, efektifitas
kepemimpinan kepala sekolah tergantung kepada kemampuan mereka bekerjasama dengan guru dan
staf, serta kemampuannya mengendalikan pengelolaan anggaran, pengembangan staf, scheduling,
pengembangan kurikulum, paedagogi, dan assessmen. Membekali kepala sekolah memiliki seperangkat
kemampuan ini dirasa sangat penting. Di samping itu untuk mewujudkan pengelolaan sekolah yang baik,
perlu adanya kepala sekolah yang memiliki kemampuan sesuai tuntutan tugasnya.

Dalam organisasi pendidikan yang menjadi pemimpin pendidikan adalah kepala sekolah. Sebagai
pemimpin pendidikan, kepala sekolah memiliki sejumlah tugas dan tanggung jawab yang cukup berat.
Untuk bisa menjalankan fungsinya secara optimal, kepala sekolah perlu menerapkan gaya
kepemimpinan yang tepat.

Peranan utama kepemimpinan kepala sekolah tersebut, nampak pada pernyataan-pernyataan yang
dikemukakan para ahli kepemimpinan. Knezevich yang dikutip Indrafachrudi (1983) mengemukakan
bahwa kepemimpinan adalah sumber energi utama ketercapaian tujuan suatu organisasi. Di sisi lain,
Owens (1991) juga menegaskan bahwa kualitas kepemimpinan merupakan sarana utama untuk
mencapai tujuan organisasi. Untuk itu, agar kepala sekolah bisa melaksanakan tugasnya secara efektif,
mutlak harus bisa menerapkan kepemimpinan yang baik.

Kepala sekolah adalah orang yang sangat menentukan dalam berjalannya suatu kegiatan organisasi
sekolah sesuai dengan rel yang diharapkan, peran dan tanggung jawabnya sangatlah berat, untuk itu
diperlukan kerjasama dengan stekholder-stekholder yang terlibat dalam dunia pendidikan, agar
mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai pimpinan sekolah, hendaknya kepala sekolah memiliki visi dan
misi yang menjadi pedoman dan arah dalam berpijak.

Dalam menunjang kemajuan pendidikan dalam segi sarana dan prasarana pemerintah melimpahkan
atau mengucurkan dana ke berbagai sekolah untuk dikelola oleh sekolah dan komite sekolah, akibat dari
ini mulai ada kecendrungan kepala sekolah lebih memikirkan proyek daripada tugas pokoknya sebagai
orang yang menjalankan keberhasilan pelaksanaan pendidikan. Untuk itu diharapkan agar kepala
sekolah jangan hilang langkah dan arah, tetap eksis pada visi dan misi yang ingin dicapai bersama.