Anda di halaman 1dari 17

Mata Kuliah : Keperawatan Menjelang Ajal & Paliatif

Nama dosen : Dr. Samsul Alam S.Kep., Ns., S.KM., M.Kes

MODEL PELAYANAN PERAWATAN PALIATIF

DI SUSUN OLEH:

KELOMPOK II

NURMALA [142 2016 0002]

FASRIANTI [142 2016 0003]

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA

MAKASSAR

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala
limpahan Rahmat dan hidayah-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah ini. Semoga dengan adanya makalah ini kita dapat menambah pengetahuan
kita lebih jauh tentang “MODEL PELAYANAN PERAWATAN PALIATIF”.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang
kami miliki sangat kurang. Oleh kerena itu kami harapkan kepada para pembaca
untuk memberikan masukan-masukan atau saran yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Makassar, 08 Oktober 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ................................................................................................. i

Daftar Isi........................................................................................................... ii

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang ..................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ................................................................................ 1
C. Tujuan .................................................................................................. 1
Bab II Pembahasan
A. Model Pelayanan Keperawatan Paliatif ............................................... 2
B. Prinsip Pelayanan Keperawatan Paliatif .............................................. 4
C. Bekerja Secara Interprofesional Dalam Pelayanan Perawatan Paliatif..5
D. Memahami Peran Dalam Tim Paliatif ................................................. 7
Bab III Penutup
A. Kesimpulan .......................................................................................... 13
B. Saran ..................................................................................................... 13
Daftar Pustaka .................................................................................................. 14

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pelayanan perawatan paliatif pada pasien dengan penyakit kronis dan
stadium lanjut atau akhir dapat dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan atau
di rumah pasien. Beberapa model pelayanan perawatan paliatif yang biasa
dilakukan seperti perawatan di rumah, rawat inap maupun rawat jalan di rumah
sakit yang menyediakan layanan dan konsultasi, dan hal terseut telah dilakukan
lebih dari 30 tahun di negara yang telah menyediakan pelayanan perawatan
paliatif. Sekitar 50 negara di dunia telah menyediakan pelayanan perawatan
paliatif, terutama di negara maju seperti, Inggris, Amerika Serikat, Australia,
Belanda. Beberapa Negara di benua Eropa turut mengembangkan pelayanan
paliatif seperti Austria, Finlandia, Itali, Irlandia, Jerman, Perancis, Polandia,
Spanyol, Swiss, Slovakia, Swedia, dan Yunani. Sedangkan dibelahan dunia
yang lainnya beberapa Negara telah menyediakan dan mengintegrasikan
pelayanan perawatan paliatif dalam sistem pelayanan kesehatan seperti
Selandia baru, beberapa negara Asia (Jepang, India, Singapura, Korea dan
Cina), dan beberapa negara di Afrika dan Amerika Latin.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana model pelayanan keperawatan paliatif?
2. Bagaimana prinsip pelayanan keperawatan paliatif?
3. Bagaimana bekerja secara interprofesional dalam pelayanan perawatan
palitif?
4. Bagaimana peran tim medis dalam tim paliatif?
C. TUJUAN
1. Untuk mengetahui dan memahami model pelayanan keperawatan paliatif.
2. Untuk mengetahui dan memahami prinsif pelayanan keperawatan paliatif.
3. Untuk mengetahui dan memahami bekerja secara interprofesional dalam
pelayanan perawatan paliatif.
4. Untuk mengetahui dan memahami peran tim medis dalam tim paliatif.

1
BAB II
PEMBAHASAN

A. MODEL PELAYANAN KEPERAWATAN PALIATIF


1. Perawatan di Rumah
Di beberapa Negara maju seperti Australia, Inggris, Amerika
Serikat, dan Belanda petugas kesehatan di pelayanan primer (puskesmas)
merupakan tim utama dalam penyediaan layanan terhadap pasien yang
mengalami sakit stadium akhir. Dokter memiliki peran dalam menentukan
rencana pengobatan pada pasien sedangkan perawat merencanakan
tindakan keperawatan berbasis kebutuhan dasar pasien. Beberapa tenaga
kesehatan lainya yang dapat berkontribusi dalam pelayanan perawat
paliatifseperti pekerja social media, fisioterapi, psikolog. Rohaniawan dan
relawan.
Model terbaru perawatan rumah yang di kembangkan di Inggris
dikenal dengan istilah rapid response team dan respite care team.
Tim cepat tanggap (rapid response team) seperti layanan gawat
darurat yang menyediakan layanan kondisi kritis, di mana dokter dan
perawat akan di panggil ke rumah pasien di saat pasien mengalami kondisi
kritis. Sedangkan respite care tim, merupakan tim yang menyediakan
layanan sebagai pengganti peran keluarga pasien dalam mengurusi pasien
di saat keluarga pasien beristritahat sejenak.
Tujuan dari pelayanan paliatif di rumah adalah untuk meyediakan
pelayanan yang lebih nyaman bagi pasien, sehingga pasien mampu
mempersiapkan diri menghadapi kematian yang pasti akan terjadi.
2. Pelayanan Rawat Inap
a. Rumah Hospital
St Cristopher merupakan rumah hospis pertama yang didirikan
di Inggris di tahun 1960an. Rumah hopis menyediakan tim perawatan
multi disiplin hal ini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan yang
begitu kompleks atau adanya perubahan kebutuhan dasar dari pasien

2
dengan kondisi dimana hidup terbatas akibat penyakit yang di derita,
serta kebutuhan keluarga pasien. Bebrapa bentuk layanan yang
diberikan di rumah hospis yaitu berupa pengontrolan gejala atau
keluhan, rehabilitasi, perawatan akhir kehidupan atau perawatan
menjelang ajal/kematian, dukungan rawat jalan, konseling keluarga,
perawatan sehari dan dukungan masa berduka.
b. Perawatan Paliatif di Rumah Sakit
Penyediaan layanan di perawatan paliatif di rumah sakit lebih
menguntungkan jika di bandingkan dengan layanan paliatif lainya.
Hal tersebut di akibatkan komposisi petugas di pelayanan perawatan
paliatif memiliki standar dan kualifikasi yang tinggi serta peluang
untuk melibatkan tenaga professional lainya seperti fisioterapi,
rohaniawan, pekerja social medic, okupasi terapi menjadi lebih
memungkinkan terutama di saat pasien dalam kondisi terminal.
Beberapa ruang perawatan paliatif di rumah sakit didesain
menyerupai suasana rumah dimana keluarga dan kerabat diijinkan
untuk tetap berada menemani pasien hingga malam.
c. Rumah Perawatan
Di Amerika Serikat beberapa rumah perawatan memiliki kerja
sama dengan program rumah hospis, dan kerja sama tersebut
dituangkan dalam sebuah kontrak kerjasama. Ansurasi kesehatan
bidang paliatif berkontribusi secara signifikan terhadap layanan
paliatif pada para pasien di rumah perawatan yang diidentifikasi
memiliki keterbatasan harapan hidup. Selain itu Asuransi kesehatan
tersebut juga menjadi pelayanan perawatan di rumah hospis, layanan
social, konsultasi melalui rumah hospis, pelayanan konselin atau
pastoral care (layanan kerohanian). Beberapa rumah perawatan
menyediakan unit perawatan khusus untuk pasien yang menjelang
ajal/kematian, akan tetapi kebanyakan fasilitas rumah perawatan
mengijinkan pasien untuk menjalani perawatan menjelang

3
ajal/kematian, di ruang perawatan, pemilihan ruang perawatan
biasanya berdasarkan pilihan pasien.

B. PRINSIP PELAYANAN KEPERAWATAN PALIATIF


1. Perilaku dalam Merawat
Perilaku caring meliputi kepekaan, simpati, dan iba. Hal tersebut
menunjukan sebagai bentuk perhatian terhadap pasien, simana perhatian
tersebut ditunjukan untuk semua aspek yang menyebabkan timbulnya
masalah keluhan pada pasien yang bukan hanya pada aspek medis saja.
Selain itu, pendekatan tersebut juga harus dapat menghargai pasien
sebagai individu yang unik, dan juga hal yang lainya seperti etnis,
kemampuan intelektual, agama dan kepercayaanya. Perilaku caring
merupakan hal yang mendasar dalam pelayanan pasien di perawatan
paliatif. Penetapan diagnosis dengan benar dan pemberian obat-obatan
yang sesuai pada kondisi pasien mungkin tidak akan efektif bila aspek
yang lain pada pasien di abaikan.
2. Komunikasi
Komunikasi yang baik dengan pasien dan keluarga adalah hal vital.
Komunikasi antara pasien dan perawat akan menjadi lebih terbuka bila
pasien menginginkan informasi yang lebih detail mengenai penyakitnya.
3. Perawat
Perawat paliatif yang baik yaitu mencangkup proses perencanaan
yang di susun secara teliti, cermat dan berate-hati. Dimana aspek-aspek
seperti pencegahan akan terjadinya kondisi kritis baik secara fisik
berdasarkan progress penyakit pasien maupun secara emosional, hal
tersebut sering terjadi pada kasuspenyakit kanker yang bersifat progresif.
Pelibatan pasien dan keluarga menjadi hal penting dalam proses perawatan
paliatif karena dapat membantu meminimalisir stress fisik dan emosional.
Selain itu juga membantu pasien atau keluarga untuk melakukan
pencegahan kejadian krisis selama masa perawatan di rumah.

4
C. BEKERJA SECARA INTERPROFESIONAL DALAM PELAYANAN
PERAWATAN PALIATIF
Beberapa terminology yang sering digunakan untuk menggambaarkan
makna bekerja bersama dalam satu tim yang terdiri dari berbagai latar belakang
disiplin ilmu yang interprofesional, interagency, dan multidisciplinary. Terma
tersebut kadang digunakan secara bertukaran, dimana secara harfiah dari terma
tersebut mengisyaratkan akan makna bekerja bersama. Namun, maksud utama
yang diinginkan adalah bagaimana para tenaga profesional dengan beragam
latar belakang tersebut dapat bekerja sama dalam sebuah tim (interprofesinal).
Hal ini akan berbeda dengan makna multidisiplin dimana mengacu pada
jumlah dari para tenaga profesional yang terlibat dalam pelayanan yang boleh
jadi mereka tidak bekerja secara tim.
Berdasarkan makna di atas maka dapat disimpulkan bahwa
interprofesional berarti bekerja dengan berbagai tenaga profesional dengan
mengedepankan kolaborasi dalam tim. Sedangkan multidisiplin tidak selalu
bermakna para tenaga profesional melakukan kolaborasi dalam melaksanakan
tugas dan fungsinya dalam proses perawatan pasien. Dimana diketahui bahwa
kolaborasi merupakan hal terpenting dalam proses pelayanan perawatan,
termasuk dalam perawatan paliatif. Seorang perawat memiliki tanggung jawab
secara profesional untuk memastikan dan bekerja secara kolaboratif dengan
tenaga profesional lainnya. Sehingga, kegagalan dalam memenuhi kebutuhan
dasar pasien boleh jadi karena kurangnya kolaborasi yang dilakukan oleh para
tenaga profesional yang berdampak terhadap layanan pada pasien yang
berujung pada kerugian terhadap pasien dan keluarganya.
Membangun tim yang baik dan berkualitas membutuhkan perangkat
nilai, nilai-nilai tersebut terperinci sebagai berikut:
1. Humor
Rasa humor atau humor selalu dihubungkan kondisi kesehatan yang baik,
sehingga saat ini menjadi bagian dari terapi karena humor dapat
mengurangi stres sekaligus meningkatkan kreatifitas. Humor di tempat
kerja dapat bermanfaat untuk meningkatkan produktifitas kerja, pelayanan

5
dan moral; mengurangi perasaan sakit atau stres; meningkatkan kreatifitas;
meningkatkan dan menguatkan kebersamaan diantara anggota tim,
sekaligus meningkat interaksi dan komunikasi. Sehingga humor memiliki
kekuatan untuk mengajarkan sesuatu, menginspirasi, dan memotivasi.
Akan tetapi perlu untuk selalu memperhatikan situasi kerja kapan saatnya
melakukan humor sehingga tidak terjadi kesalahpahaman diantara anggota
tim.
2. Mudah Untuk Berkomunikasi
Sangat penting untuk setiap anggota tim merasa lebih mudah
berkomunikasi dan diajak komunikasi. Sehingga mudah membangun
budaya diskusi sesama anggota tim terutam di saat menghadapi situasi
kritis dimana kondisi pasien memburuk.
3. Memahami Kebutuhan Orang Lain
Setiap anggota tim harus memiliki pandangan dan wawasan yang luas serta
sikap terbuka dengan hal-hal baru. Selain itu juga harus mampu memahami
kondisi setiap anggota tim karena setiap anggota kemungkinannya
memiliki keahlian atau keterampilan dan pengalaman yang berbeda.
Menawarkan bantuan, atau bimbingan dan dukungan sebelum diminta
merupakan keterampilan yang sangat penting dalam bekerja tim.
4. Percaya Diri Dan Saling Percaya
Percaya diri dan saling percaya merupakan hal yang sulit untuk dilakukan,
akan tetapi kedua hal tersebut menjadi dasar sebagai karakteristik individu
dalam kesuksesan kelompok atau tim. Setiap anggota harus menjadikan hal
tersebut sebagai prinsip dalam bekerja tim.
5. Menikmati Pekerjaan
Menikmati pekerjaan sekalipun dalam kondisi sulit seperti bekerja di area
paliatif yang menghadapi pasien menjelang ajal/kematian akan
menimbulkan kepuasan. Kepuasan tersebut membuat seseorang akan
merasa lebih nyaman.
6. Kepedulian

6
Kepedulian terhadap sesama anggota dan tim merupakan hal yang bersifat
dasar dalam membangun tim yang baik. Setiap anggota harus merasa
dirinya berharga dan peduli.
D. MEMAHAMI PERAN DALAM TIM PALIATIF
Secara umum tim perawatan paliatif, perawat merupakan tulan
punggung dalam pelayanan. Dokter, pekerja sosial medik, psikolog, rohaniawan,
dan relawan kemungkinannya dapat bekerja sebagai bagian yang terintegral
dengan anggota tim lainnnya. Berikut ini akan dijalaskan peran perawat, dokter,
pekerja sosial medik, fisioterapis, okupasi terapis, dietician nutrisionist dan
rohaniawan.
1. Peran Perawat
Beberapa bentuk peran perawat di area perawatan paliatif yang
didefinisikan sebagai satu dukungan untuk berbagai hal menurut Davies dan
Oberie (1990), yaitu:
a. Valuing, memiliki kemampuan untuk menghargai terhadap nilai dan
keyakinan seseorang.
b. Connecting, menunjukkan kemampuan untuk selalu dapat berinteraksi
dengan pasien dan keluarga, dan mencoba memahami pengalaman yang
dialami oleh mereka.
c. Empowering, memberdayakan pasien dan keluarga untuk mendapat
melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan mereka dan untuk mereka
sendiri sesuai dengan harapan yang mereka inginkan.
d. Doing for, selain memberikan pelayanan akan kebutuhan pasien secara
fisik, perawat juga harus memaksimalkan kemampuan pasien dan
keluarga untuk mengatasi masalah atau keluhan yang dialami oleh
pasien, seperti bagaimana pasien mampu mengatasi nyeri yang dirasakan
dengan mengelola nyeri secara mandiri melalui teknik relaksasi.
e. Finding meaning, dalam pelayanan perawatan paliatif mendorong pasien
untuk menemukan makna dari kondisi sakitnya atau kondisi kekiniannya
merupakan hal yang penting dalam membantu menentukan tata kelola
keluhan yang dirasakan oleh pasien. Sehingga dengan menemukan

7
makna dari suatu penderitaan atau sakit dapat memberikan kekuatan.
Sebagai contoh dalam perspektif Islam, sakit dapat dimaknai sebagai
salah jalan Allah untuk mengingatkan manusia akan pentingnya menjaga
kesehatan atau sakit dapat pula menjadi jalan untuk menggugurkan dosa-
dosa.
f. Preserving own integrity, menjaga dan mempertahankan integritas diri
merupakan hal yang terpenting untuk mempertahankan harga diri,
keyakinan diri serta semangat atau spirit sehingga mampu menjalankan
peran dan fungsi sebagai anggota tim secara selektif.
2. Peran Dokter
Peran seorang dokter sebagai bagian dari tim pelayanan perawatan
paliatif secara umum yaitu mengatasi keluhan atau masalah pasien yang
bersifat kompleks termasuk memahami kemungkinan penyebab yang
berkenaan dengan diagnosis dan prognosis pasien beserta isu yang
berhubungan keluarga. Dokter memiliki peran untuk memberikan
pengajaran pada para calon dokter, dokter muda, ataupun perawat mengenai
praktik terkini dalam perawatan paliatif. Dokter yang bekerja di area
perawatan paliatif harus memiliki kompetensi dalam hal memahami dengan
baik penyakit keganasan atau penyakit kronis lainnya yang sering ditemukan
pada pasien di area perawatan paliatif. Sebagai tambahan, seorang dokter
juga harus memiliki kualitas personal seperti kepedulian, keramahan,
kematangan atau kedewasaan, serta kepercayaan diri. Akan tetapi dalam
praktis dokter dapat memilih untuk menjalani peran sebagai tenaga
profesional yang turun langsing menangani pasien dengan melakukan
kunjungan ke ruang pasien atau rumah pasien, atau dapat juga menjalankan
peran sebagai konsulen.
3. Peran Pekerja Sosial Medik
Peran penting yang dimiliki oleh pekerja sosial medik dalam tim
interdisiplin yaitu melakukan pengkajian dan masukan terhadap masalah
psikologis, emosional dan sosial pasien dan keluarganya. Beberapa peran
pekerja sosial medik dalam tatanan pelayanan perawatan paliaf, yaitu:

8
a. Meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dan berespon terhadap
lingkungan.
b. Memberikan dorongan internal serta mengajarkan keterampilan koping
psikologis pada pasien secara individu maupun keluarga.
c. Melakukan deteksi dini terhadap adanya gejala psikopatologi.
d. Membantu meningkatkan keyakinan diri dalam sistem keluarga
termasuk pada pasien.
e. Menyediakan layanan pengontrolan keluhan secara spesifik terutama
terkait masalah psikologis, emosional dan sosial.
Selain hal tersebut di atas, pekerja sosial medik juga memiliki peran
dalam mengorganisasi pelayanan perawatan dan penempatan pasien. Peran
selanjutnya dapat berupa koordinasi pelayanan berduka dan evaluasi terhadap
pelayanan tersebut yang telah dilakukan oleh anggota tim. Peran lain yang
dimiliki oleh pekerja sosial medik di luar area klinis yaitu terlibat dalam
aktifitas pengajaran dalam tim, terutama berkenaan dengan isu komunikasi
dan keluarga.
4. Peran Fisioterapis
Peran seorang fisioterapi dalam pelayanan perawatan paliatif berbeda
dengan pelayanan rehabilitasi. Dimana intervensi fisioterapi pada pelayanan
rehabilitasi lebih mengutamakan pada upaya peningkatan kemampuan
fungsional pasien, sedangkan di pelayanan perawatan paliatif tujuan
fisioterapi adalah untuk meminimalisir sumber-sumber yang menyebabkan
kelemahan pada pasien. Seorang fisioterapi memiliki peran yang sangat
penting untuk mengatasi keluhan fisik dan non fisik pasien dengan
menggunakan intervensi nonfarmakologis, meningkatkan kemampuan
mobilitas dan mengelola masalah limphoedema pasien. Selain itu, seorang
fisioterapi juga dapat menjadi bagian dari proses pengelolaan pasien dengan
keluhan sesak atau dyspnea. Fisioterapi dapat mengajarkan pasien berupa
relaksasi, teknik pernapasan, dan memberikan bantuan pada pasien yang
mengalami kesulitan untuk mengelurkan dahak. Fisioterapis juga dapat
mengajarkan keterampilan ke pasien dan keluarganya mengenai cara

9
memindahkan pasien, mengangkat pasien, serta merekomendasikan alat
bantu berjalan yang cocok untuk memaksimalkan mobilitas pasien.
5. Peran Apoteker
Walker, Scarpaci & McPherson (2010) mengelompokkan peran
apoteker di area perawatan paliatif dalam lima kelompok. Secara detail
setiap kelompok dari peran apoteker akan di jelaskan berikut ini:
a. Penyediaan Layanan Obat-Obatan
1) Penyimpanan dan distribusi obat-obatan untuk kelompok pasien
paliatif.
2) Menyediakan obat-obatan generik sesuai dosis dan kebutuhan
pasien paliatif.
3) Mengatur obat-obatan yang akan diberikan sesuai dengan rute
pemberiannya, seperti obat-obatan yang akan diberikan melalui
NGT.
b. Mengoptimalkan Pemberian Obat
1) Mengevaluasi gejala atau keluhan pasien sebagai akibat dari efek
samping obat, dan memberikan rekomendasi mengenai obat yang
cocok dan sesuai dengan kondisi pasien.
2) Memberikan informasi detail mengenai konversi obat-obatan seperti
obat golongan opioid.
3) Membuat rekomendasi mengenai seberapa cepat obat opioid di
berikan ulang, dosis dinaikkan atau dosis diturunkan.
4) Merekomendasikan strategi penetapan dosis yang tepat ketika
mengganti obat dengan obat yang memiliki fungsi yang sama.
c. Pendidikan Dan Informasi Tentang Obat-Obatan
1) Mengajarkan kepada tim perawatan paliatif mengenai prinsi
farmakoterapi pada pasien paliatif.
2) Memberikan informasi kepada pasien dan penjaga pasien mengenai
penggunaan terapi komplementer dan alternatif serta melakukan
pemeriksaan mengenai risiko dan keuntungan penggunaan terapi
tersebut terhadap pasien.

10
3) Mengajarkan pasien, keluarga dan penjaga pasien mengenai cara
pemberian dan penggunaan obat yang tepat, seperti obat kategori
inhalasi dan nebulizer.
d. Keselamatan Pasien
1) Melakukan investasi terhadap kejadian atau kesalahan dalam
pengobatan seperti cara pemberian, dosis dan kontraindikasi serta
interaksi obat.
2) Melakukan analisis trend untuk merencanakan program pencegahan,
pembenahan dan pedoman pengobatan.
3) Mengembangkan strategi pendeteksian dini terhadap potensi
kesalahan yang berkenaan dengan pengobatan pasien.
e. Managemen Dan Administrasi Pelayanan Obat
1) Mengembangkan formula pengobatan sesuai dengan standar praktik
dan pembiayaan yang lebih efektif.
2) Mengembangkan protokol manajemen nyeri dan keluhan fisik
lainnya untuk mengoptimalkan penggunaan obat-obatan.
6. Peran Okupasi Terapis
Okupasi terapis yang memiliki peran utama untuk merancang atau
mendesain alat bantu sesuai dengan kondisi, sehingga pasien dapat tetap
beraktifitas di rumah. Jadi pendekatan yang dilakukan oleh okupasi terapis
dalam menyelesaikan masalah pasien yaitu dengan membantu menyediakan
alat yang sesuai dengan keadaan fisik pasien serta lingkungan tempat pasien
berada. Seorang okupasi terapis dapat melakukan pemeriksaan mengenai
kemampuan pasien untuk hidup secara mandiri, menyediakan alat bantu
serta mengajarkan cara penggunaannya sehingga pasien dapat beradaptasi
dengan lingkungan tempat tinggalnya dan mampu melakukan aktifitas harian
rutin seperti makan, minum, berpakaian, dan toileting. Selain itu, okupasi
terapis juga dapat menyarankan ke penyedia layanan untuk menyediakan
alat-alat pengaman atau alat bantu berjalan serta alat bantu berdiri di kamar
mandi dan toilet.
7. Peran Dietician Dan Nutrisionist

11
Dietician dan nutrisionist yang dimaksud adalah tenaga profesional
yang memiliki kompetensi untuk menetapkan pola diet pasien. Pengetahuan
dan keterampilan yang dimiliki dietician memiliki andil yang berarti dalam
proses perawatan pasien yang membutuhkan pelayanan perawatan paliatif.
Seorang dietician dapat melakukan pengkajian terhadap pasien dan
memberikan masukan terhadap pasien dan keluarganya mengenai diet dan
masukan terhada pasien dan keluarganya mengenai diet dan makanan
tambahan atau supplement yang dibutuhkan oleh pasien sesuai dengan
perkembangan kondisi ataupun penyakitnya. Beberapa peran seorang
dietician yaitu melakukan skrining dan pengkajian kebutuhan nutrisi dan diet
pasien, merencanakan dan mengembangkan rencana perawatan, serta
melakukan dan memperkenalkan perubahan kebutuhan nutrisi pasien
berdasarkan perkembangan dan prognosisnya.
8. Peran Rohaniawan
Sekalipun rohaniawan terlihat sebagai anggota tim yang perannya
sebagai tenaga garis kedua dibandingkan dengan anggota tim utama lainnya.
Akan tetapi rohaniawan memiliki beberapa peran penting, dimana
rohaniawan merupakan profesional yang lebih kompeten untuk mengatasi
isu-isu yang berkenaan dengan spiritualitas dan religiusitas. Rohaniawan
dapat menjadi advokat pasien dengan tetap mempertimbangkan pendapat
atau pandangan pasien dan keluarga. Rohaniawan dapat menjalani perannya
secara aktif disaat dibutuhkan keputusan yang berkenaan dengan etik dan isu
lainnya yang berkenaan dengan akhir kehidupan. Memberikan konseling dan
berpartisipasi dalam tindak lanjut masa berduka merupakan aktifitas utama
rohaniawan di lingkungan klinis. Lebih lanjut rohaniawan juga memiliki
peran untuk membantu pasien menjalankan ibadah, berdoa terutama saat
kondisi menjelang ajal/kematian. Olehnya itu peran rohaniawan sangat
penting, termasuk dalam memberikan pengajaran terhadap tenaga
profesional lainnya seperti dokter dan perawat untuk dapat memahami dan
menghadapi pasien yang dapat kondisi sekarat atau meninggal.

12
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Perawatan paliatif bertujuan untuk memperbaiki kualitas hidup pasien
dan keluarga baik pelayanan di rumah maupun pelayanan di rumah sakit yang
di lakukan oleh dokter, perawat serta tenaga medis lainya secara profesional
dan bersifat care terhadap pasien untuk menghadapi masalah berhubungan
dengan penyakit yang dapat mengancam jiwa, melalui pencegahan dan
membantu meringankan penderitaan, identifikasi dini dan penilaian yang tertib
penanganan nyeri dan masalah lain baik fisik, psikososial dan spritual.
B. SARAN
Seperti kita ketahui bahwa pelayanan keperawatan paliatif sudah di
terapkan di luar negeri tetapi belum di terapkan di negara kita sendiri
(Indonesia) maka dari itu kita sebagai mahasiswa keperawatan indonesia mari
sama-sama memahami asuhan keperawatan paliatif dan mampu memahami
apa itu keperawatan paliatif agar bisa di terapkan di negara kita sendiri ( Negara
Indonesia).

13
DAFTAR PUSTAKA
Abu-Saad, H. H. (2008). Evidence-based palliative care: across the lifespan. John
Wiley & Sons.
Aitken, S. (2009). Community palliative care: the role of the clinical nurse
specialist. John Wiley & Sons.
Becker, R. (2015). Fundamental Aspects of Palliative Care Nursing 2nd Edition:
An Evidence-Based Handbook for Student Nurses (Vol.3). Andrews UK
Limited.
Brown, M. (Ed.). (2015). Palliative Care in Nursing and Healtcare. SAGE.
Bruera, E., & Yennurajalinggam, S. (2016). The palliative care team. Oxford
American Handbook of Hospice and Palliative Medicine and Supportive Care.
Oxford University Press. USA.
Cooper, J. (2006). Stepping into palliative care 1: Relationships and responses
(Vol.1). Radcliffe Publishing.
Ise, Y., Morita, T., Maehori, N., Kutsuwa, M., Shiokawa, M., & Kizawa, Y. (2010).
Role of the community pharmacy in palliative care: A nationwide survey in
Japan. Journal of Palliative Medicine, 13(6), 733-737.
Klarare, A., Hagelin, C, L., Furst, C. J., & Fossum, B. (2013). Team interactions
specialized palliative care teams: a qualitative study. Journal of Palliative
Medicine, 11(5), 677-681.
Preedy, V. R. (Ed.). (2011). Diet and Nutrition in palliative care. CRC Press.
Walker, K. A., Scarpaci, L., & McPherson, M. L. (2010). Fifty reasons to love your
palliative care pharmacist. American journal of Hospice and Palliative
Medicine.
Woodruff, R. (2004). Palliative medicine: symptomatic and supportive care for
patients with advanced cancer and AIDS fourth edition. Oxford University
Press, USA.

14