Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH

TSUNAMI ACEH 2004

Disusun oleh :

Dewi Purnama Sari (2017 64 002)

Jurusan Ilmu Kelautan

Program Studi Ilmu Kelautan

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Universitas Pattimura

Ambon

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur Saya panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat taufiq
dan hidayah-Nya kepada saya, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini.

Makalah dengan judul “TSUNAMI ACEH 2004” ini saya susun untuk memenuhi tugas mata
kuliah Oseanografi Fisika. Saya menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan dan memerlukan banyak perbaikan. Untuk itu saya mengharapkan kritik dan saran
yang bersifat membangun untuk menyempurnakan makalah ini. Dan semoga makalah ini dapat
berguna dan bermanfaat bagi para pembaca.

Ambon, 21 Mei 2018

Dewi Purnama Sari


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……………………………………………………………………………...

DAFTAR ISI………………………………………………………………………………………..

BAB I PENDAHULUAN…………………………………………………………………………..

I.1 Latar Belakang……………………………………………………………………………...


I.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………………..
I.3 Tujuan………………………………………………………………………………………

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………………………….

II.1 Pengertian Tsunami…………………………………………………………………………………


II.2 Tsunami Aceh 2004…………………………………………………………………………………
II.3 Penyebab Terjadinya Tsunami Aceh 2004………………………………………………………….

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………………………….

III.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………..
BAB I

PRNDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu yang berarti “pelabuhan”, dan name yang berarti
“gelombang”, sehingga tsunami dapat di artikan sebagai “gelombang pelabuhan”. Istilah ini pertama
kali muncul di kalangan nelayan Jepang. Karena panjang gelombang tsunami sangat besar pada saat
berada di tengah laut, para nelayan tidak merasakan adanya gelombang ini. Namun setibanya kembali
ke pelabuhan, mereka mendapati wilayah di sekitar pelabuhan tersebut rusak parah. Karena itulah
mereka menyimpulkan bahwa gelombang tsunami hanya timbul di wilayah sekitar pelabuhan, dan
tidak di tengah lautan yang dalam. Tsunami secara umum dapat di artikan sebagai kejadian alam yang
di pengaruhi oleh adanya aktifitas yang terjadi di dasar laut. Aktifitas ini dapat berupa gempa laut,
letusan gunung berapi, hantaman meteor di laut, dan juga oleh tanah longsor di dasar laut.
Indonesia terletak pada dua jalur gempa di sunia yaitu : jalur Circum Pacifik dan jalur Himalaya-
Mediterania. Selain itu Indonesia berada pada 3 lempeng tektonik yaitu : Lempeng Pasifik, Indo -
Australia dan Eurasia. Dikawasan Indonesia banyak terdapat patahan aktif seperti : patahan
Semangko di Sumatra, Cimandiri di Jawa dan banyak patahan dan Sub patahan lainnya yang tersebar
di seluruh penjuru Indonesia. Oleh karena itu Indonesia rawan akan bencana tsunami. Tsunami yang
terjadi di Indonesia contohnya yaitu tsunami yang melanda daerah Nanggroe Aceh Darussalam
(NAD) pada tanggal 26 Desember 2004 yang merupakan gelombang tsunami yang dahsyat yang telah
menyebabkan korban meninggal lebih dari 200.000 jiwa. Gempa yang terjadi di NAD ini adalah
gempa terbesar yang terjadi selama 40 tahun terakhir (puspito, 2005).
Gempa yang terjadi di Pantai Barat Sumatra Utara yang berkekuatan 9 skala Richter (berdasarkan
United State Geological Survey, USGS). Menempatkan bencana internasiaonal ini sebagai gempa ke-
4 terdahsyat semenjak tahun 1900. Fokus gempa di perkirakan pada koordinat (3.298 LU, 95.779 LB)
atau sekitar 160 km dari pantai terdekat pulau Sumatra, pada kedalaman 10 km di bawah permukaan
laut. Ini adalah wilayah “lingkaran api” (ring if fire), yaitu rangkaian gunung berapi bawah tanah
yang aktif melintasi Selandia Baru, Papua Timur, Indonesia, Filipina. Jepang, pantai barat Amerika
Serikat, Amerika Tengah dan pantai barat Amerika Selatan.
Gempa dan tsunami ini di perkirakan terjadi akibat penurunan lempengan sebagai akibat
pergerakan kulit bumi. Teori Lapisan Tektonik menyatakan bahwa daratan di Bumi ini bergerak,
termasuk pulau-pulau kecil akibat dari pergerakan lapisan lithosphere. Panjang lempengan yang
bergerak itu sekitar 1200 km dan turun sejauh 15 meter. Ini membuat gelombang yang sangat dahsyat
(tsunami) dengan kecepatan sampai 800 km/jam.
I.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang di maksud dengan tsunami
2. Bagaimana tsunami di Aceh terjadi
3. Apa penyebab tsunami yang terjadi di Aceh

I.3 Tujuan
1. Agar mengetahui apa itu tsunami
2. Agar mengetahui tsunami yang terjdi di Aceh
3. Agar mengetahui penyebab terjadinya tsunami di Aceh
BAB II

PEMBAHASAN

II.1 Pengertian Tsunami


Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu yang berarti “pelabuhan”, dan name yang berarti
“gelombang”, sehingga tsunami dapat di artikan sebagai “gelombang pelabuhan”. Istilah ini pertama
kali muncul di kalangan nelayan Jepang. Karena panjang gelombang tsunami sangat besar pada saat
berada di tengah laut, para nelayan tidak merasakan adanya gelombang ini. Namun setibanya kembali
ke pelabuhan, mereka mendapati wilayah di sekitar pelabuhan tersebut rusak parah. Karena itulah
mereka menyimpulkan bahwa gelombang tsunami hanya timbul di wilayah sekitar pelabuhan, dan
tidak di tengah lautan yang dalam.

Tsunami secara umum dapat di artikan sebagai kejadian alam yang di pengaruhi oleh adanya
aktifitas yang terjadi di dasar laut. Aktifitas ini dapat berupa gempa laut, letusan gunung berapi,
hantaman meteor di laut, dan juga oleh tanah longsor di dasar laut.
Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan tinggi dan dapat merambat lintas-samudra
dengan sedikit energy berkurang. Tsunami dapat menerjang wilayah yang berjarak ribuan kilometer
dari sumbernya, sehingga mungkin ada selisih waktu beberapa jam antara terciptanya gelombang ini
dengan bencana yang ditimbulaknnya di pantai. Waktu perambatan gelombang tsunami lebih lama
dari waktu yang diperlukan oleh gelombang seismic untuk mencapai tempat yang sama.
Periode tsunami dapat bervariasi, mulai dari 2 menit hingga lebih dari 1 jam. Panjang gelombangnya
sangat besar, antara 100-200 km. bandingkan dengan ombak laut biasa di pantai selancar (surfing)
yang mungkin hanya memiliki periode 10 detik dan panjang gelombang 150 meter. Karena itulah
pada saat masih di tengah laut, gelombang tsunami hampir tidak Nampak dan hanya terasa seperti
ayunan air biasa.
Kecepatan tsunami tergantung kepada kedalaman air. Di laut dalam dan terbuka, kecepatannya
mencapai 800-1000 km/jam. Ketinggian tsunami di lautan dalam hanya mencapai 30-60 cm, dengan
panjang gelombang mencapai ratusan kilometer, sehingga keberadaannya di laut dalam susah
dibedakan dengan gelombang biasa, bahkan tidak dirasakan oleh kapal-kapal yang sedang berlabuh di
tengah Samudra. Berbeda dengan gelombang karena angina, dimana hanya bagian permukaan atas
yang bergerak; gelombang tsunami mengalami pergerakan di seluruh bagian partikel air, mulai dari
permukaan sampai bagian dalam Samudra. Ketika tsunami memasuki perairan yang lebih dangkal,
ketinggian gelombangnya meningkat dan kecepatannya menurun drastis, meski demikian energinya
masih sangat kuat untuk menghanyutkan segala benda yang dilaluinya. Arus tsunami dengan
ketinggian 70 cm masih cukup kuat untuk menyeret dan menghanyutkan orang.
Energi dari gelombang tsunami merupakan fungsi perkalian antara tinggi gelombang dan
kecepatannya. Nilai energi ini selalu konstan, yang berarti tinggi gelombang berbanding terbalik
dengan kecepatan merambat gelombang. Oleh sebab itu, ketika gelombang mencapai darat, tingginya
meningkat sementara kecepatannya menurun. Saat memasuki wilayah dangkal, kecepatan gelombang
tsunami menurun sedangkan tingginya meningkat, dan dapat menciptakan gelombang mengerikan
yang sangat merusak.
II.2 Tsunami Aceh 2004
Indonesia terletak pada jalur gempa di dunia yaitu : jalur circum Pasifik dan jalur Himalaya –
Mediterania. Selain itu Indonesia berada pada 3 lempeng tektonik yaitu : Lempeng Pasifik, Indo -
Australia dan Eurasia. Dikawasan Indonesia banyak terdapat patahan aktif seperti : patahan
Semangko di Sumatra, Cimandiri di Jawa dan banyak patahan dan Sub patahan lainnya yang tersebar
di seluruh penjuru Indonesia.

Yang ditandai dengan titik berwarna hijau adalah zona gempa bumi dangkal; titik berwarna coklat
menandai zona gempa bumi dalam; sementara segitiga merah adalah gunung berapi. Berdasarkan hal
ini terlihat bahwa titik-titik tersebut terkonsentrasi di daerah sepanjang pertemuan lempeng benua.
Dari persebaran gunung berapi, tampak bahwa Indonesia dikelilingi oleh begitu banyak gunung
berapi.
Indonesia dilihat dari kondisi geologis merupakan daerah rawan bencana khususnya gempa bumi
dan tsunami. Pasca meletusnya Gunung Krakatau yang menimbulkan tsunami besar di tahun 1883,
setidaknya telah terjadi 17 bencana tsunami besar di Indonesia selama hampir satu abad (1900-1996).
Berbagai daerah di Indonesia merupakan titik rawan bencana, terutama bencana gempa bumi,
tsunami, banjir dan letusan gunung berapi. Wilayah Indonesia di kepung oleh lempeng Eurasia,
lempeng ini akan bergeser patah menimbulkan gempa bumi. Selanjutnya jika terjadi tumbukan antar
lempeng tektonik dapat menghasilkan tsunami, seperti yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara dan
Pangandaran Jawa Barat. Korban yang meninggal mencapai kurang lebih 173.000 jiwa. 27 Mei 2006,
Yogyakarta dan sebagian Jawa Tengah diporak-porandakan gempa bumi dengan kekuatan 5,6 SR.
Di penghujung tahun 2004, tepatnya pada hari minggu, 26 Desember 2004, Indonesia dan
delapan Negara lainnya di kawasan Samudra India dilanda bencana tsunami sangat hebat. Tsunami
tersebut telah merenggut lebih dari seperempat juta jiwa pada beberapa Negara Asia dan Afrika yang
meliputi : Indonesia, Thailand, Myanmar, Bangladesh, Srilangka, India, Maladewa, Somalia dan
Kenya.

Gempa dan tsunami yang terjadi di Nangroe Aceh Darusalam (NAD) pada tanggal 26 Desember
merupakan gelombang tsunami yang dahsyat yang telah menyebabkan korban meninggal lebih dari
200.000 jiwa. Gempa yang terjadi di Nangroe Aceh Darusalam ini adalah gempa terbesar yang terjadi
selama 40 tahun terakhir (Puspito, 2005).
Gempa yang terjadi di Aceh ini berkekuatan 9 akala Richter (berdasarkan United State Geologi
Survey, USGS). Menempatkan bencana internasional ini sebagai gempa ke-4 terdahsyat semenjak
tahun 1900. Urutan pertama adalah di Chili tahun 1960 (9.5 skala Richter), kemudian Alaska tahun
1964, dan Alaska lagi tahun 1957 (9.1 skala Richter).
Fokus gempa diperkirakan pada koordinat (3.298 LU, 95.779 LB) atau sekitar 160 km dari pantai
terdekat pulau Sumatra, pada kedalaman 10 km di bawah permukaan laut. Ini adalah wilayah
“lingkaran api” (ring of fire), yaitu rangkaian gunung berapi bawah tanah yang aktif melintasi
Selandia Baru, Papua Timur, Indonesia, Filipina, Jepang, pantai Barat Amerika Serikat, Amerika
Tengah dan pantai Barat Amerika Selatan.
Tragedi tsunami akhir tahun 2004 tersebut telah meninggalkan kesedihan dan penderitaan luar
biasa bagi masyarakat provinsi Aceh dan Sumatra Utara khususnya dan bangsa Indonesia pada
umumnya. Merujuk data dari BNPB, 173.741 jiwa meninggal dan 116.368 orang dinyatakan hilang,
sedangkan di Sumatra Utara 240 orang tewas. Tsunami Aceh mengakibatkan ribuan rumah dan
bangunan rusak, dan menyebabkan hampir setengah juta orang jadi pengungsi.
Gambar sebelum dan sesudah gempa Aceh 2004

Pemerintahan daerah Aceh lumpuh total, saat terjadi gempa bumi dan Tsunami Aceh,
kebetulan di Jakarta sendiri sedang di adakan acara Halal Bi Halal masyarakat Aceh pasca
menyambut lebaran Idul Fitri. Gempa Bumi yang terjadi pada jam 08:00 WIB dengan 9
Skala Richter Pada tanggal 26 Desember 2004, gempa Bumi dahsyat di Samudra Hindia,
lepas pantai barat Aceh. Tepat jam 09:00 WIB satu persatu masyarakat Aceh yang hadir di
Istora Jakarta panik karena hubungan telepon seluler ke Aceh putus total, mata mereka pada
berkaca-kaca.Wakil Presiden Jusuf Kalla yang hadir mengatakan,” Aceh dalam musibah
besar, saya baru dapat kabar terjadi gempa bumi di Aceh, banyak bangunan rusak semoga
tidak lebih parah dari gempa papua sebesar 6,4 SR. Kita ketahui beberapa saat menjelang
gempa bumi di Aceh telah terjadi gempa bumi pada 26 November 2004, Gempa sebesar 6,4
SR mengguncang Nabire, Papua tercatat 30 orang tewas.

II.3 Penyebab Terjadinya Tsunami Aceh 2004


Tsunami berarti gelombang laut yang disebabkan oleh gempa bumi, tanah longsor, atau
letusan gunung berapi yang terjadi di laut. Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan
ratusan kilometer per jam di lautan dalam dan dapat melanda daratan dengan ketinggian
gelombang mencapai 30 m atau lebih.
Proses terjadinya tsunami dikarenakan adanya gerakan vertikal pada kerak bumi yang
dapat menggakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba. Akibatnya terjadi gangguan
kesetimbangan air yang berada diatasnya hingga terjadi aliran energi air laut, dan ketika
sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.
Penyebab terjadinya tsunami disebabkan oleh letusan gunung berapi, gempa bumi,
longsor, maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% terjadinya tsunami adalah akibat
gempa bumi bawah laut.
a. Gempa bumi merupakan salah satu penyebab utama terjadinya gelombang tsunami.
Gempa ini biasanya terjadi karena adanya pergeseran lempeng yang terdapat di dasar
laut. Gempa tersebut disebut juga dengan gempa bumi tektonik.
Gempa tektonik adalah jenis gempa bumi khas yang berhubungan dengan
kerusakan kerak bumi. Jika gempa semacam ini terjadi di bawah laut, maka air yang
berada di atas bagian yang rusak akan pindah dari posisi keseimbangannya. Gelombang
terbentuk ketika kumpulan air yang pindah (yang terjadi karena pengaruh gravitasi)
mencoba mendapatkan kembali posisi kesetimbangannya. Jika dasar laut dengan area
yang luas terangkat atau turun, maka bisa terjadi tsunami.

Tsunami yang diakibatkan gempa dapat terjadi jika:

 Gempa besar dengan kekuatan gempa >6.3 SR,

 Lokasi pusat gempa dilaut pada kedalaman dangkal <40 Km, serta

 Terjadi deformasi vertikal dasar laut.


b. Meletusnya gunung berapi yang menyebabkan pergerakan air di laut/perairan sekitarnya
menjadi sangat tinggi.

c. Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung berapi dapat
mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami.

d. Benda kosmik atau meteor yang jatuh dari atas, juga dapat mengakibatkan tsunami.
Ukuran meteor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai
ratusan meter.

Tsunami yang terjadi di Aceh ini diperkirakan terjadi akibat adanya penurunan lempengan
sebagai akibat pergerakan kulit bumi. Teori Lapisan Tektonik menyatakan bahwa daratan di bumi ini
bergerak, termasuk pulau-pulau kecil akbat dari pergerakan lapisan lithosphere. Panjang lempengan
yang bergerak itu sekitar 1200 km dan turun sejauh 15 meter. Ini membuat gelombang dahsyat
(tsunami) dengan kecepatan sampai 800 km/jam.
Tsunami ini juga di timbulkan oleh gempa bumi berkekuatan 9.3 SR yang berpusat di 3.3 LU –
95.98 BT gempa tersebut telah menimbulkan getaran kuat dan patahan sepanjang kurang lebih 1200
km yang membentang dari Aceh sampai ke Andaman.
BAB III

PENUTUP

III.1 Kesimpulan

Istilah tsunami berasal dari bahasa Jepang. Tsu yang berarti “pelabuhan”, dan name yang berarti
“gelombang”, sehingga tsunami dapat di artikan sebagai “gelombang pelabuhan”. Secara umum
tsunami di artikan sebagai kejadian alam yang di pengaruhi oleh adanya aktifitas yang terjadi di dasar
laut. Aktifitas ini dapat berupa gempa laut, letusan gunung berapi, hantaman meteor di laut, dan juga
oleh tanah longsor di dasar laut.
tahun 2004, pada hari minggu, 26 Desember 2004, Indonesia dan delapan Negara lainnya di
kawasan Samudra India dilanda bencana tsunami sangat hebat. Tsunami tersebut telah merenggut
lebih dari seperempat juta jiwa pada beberapa Negara Asia dan Afrika yang meliputi : Indonesia,
Thailand, Myanmar, Bangladesh, Srilangka, India, Maladewa, Somalia dan Kenya.
Gempa dan tsunami yang terjadi di Nangroe Aceh Darusalam (NAD) pada tanggal 26 Desember
merupakan gelombang tsunami yang dahsyat yang telah menyebabkan korban meninggal lebih dari
200.000 jiwa. Gempa yang terjadi di Nangroe Aceh Darusalam ini adalah gempa terbesar yang terjadi
selama 40 tahun terakhir (Puspito, 2005).Gempa yang terjadi di Aceh ini berkekuatan 9 akala Richter
(berdasarkan United State Geologi Survey, USGS). Menempatkan bencana internasional ini sebagai
gempa ke-4 terdahsyat semenjak tahun 1900. Urutan pertama adalah di Chili tahun 1960 (9.5 skala
Richter), kemudian Alaska tahun 1964, dan Alaska lagi tahun 1957 (9.1 skala Richter). Fokus gempa
diperkirakan pada koordinat (3.298 LU, 95.779 LB) atau sekitar 160 km dari pantai terdekat pulau
Sumatra, pada kedalaman 10 km di bawah permukaan laut.
Tsunami yang terjadi di Aceh ini diperkirakan terjadi akibat adanya penurunan lempengan
sebagai akibat pergerakan kulit bumi. Teori Lapisan Tektonik menyatakan bahwa daratan di bumi ini
bergerak, termasuk pulau-pulau kecil akbat dari pergerakan lapisan lithosphere. Panjang lempengan
yang bergerak itu sekitar 1200 km dan turun sejauh 15 meter. Ini membuat gelombang dahsyat
(tsunami) dengan kecepatan sampai 800 km/jam. Tsunami ini juga di timbulkan oleh gempa bumi
berkekuatan 9.3 SR yang berpusat di 3.3 LU – 95.98 BT gempa tersebut telah menimbulkan getaran
kuat dan patahan sepanjang kurang lebih 1200 km yang membentang dari Aceh sampai ke Andaman.
DAFTAR PUSTAKA